Susahnya nyari Keju rasa Indonesia

hampir semua orang mungkin tahu kalo belanda itu identik dengan keju (selain perancis, italia dan swiss si hehe..). kalo di indonesia keju belanda yang lumayan dikenal disana adalah keju edam atau orang-orang juga suka bilang keju ayam (kayanya si karena bungkusnya ada gambar ayamnya:p). selain keju edam, pasti ada juga beberapa yang pernah dengar keju gouda. keju gouda ini merupakan keju yang paling banyak tersedia di belanda dan menjadi konsumsi sehari-hari penduduknya.

ketersediaan kedua jenis keju ini di indonesia terbilang agak jarang, terutama keju gouda. kalaupun ada pasti harga per-kilonya mahal (kadang ga masuk akal menurut saya) dan kualitasnya di bawah keju yang dijual disini. sebagian besar keju yang beredar indonesia adalah jenis cheddar. si cheddar ini pertama kali dibuat di kota kecil di inggris, tapi untuk produksi nya sudah di beberapa negara antara lain US, New Zealand, dan australia.

di indonesia, perusahaan yang identik dengan si keju cheddar ini (bahkan mungkin udah terlalu nge-blend sampe orang-orang kadang nyebut keju cheddar dengan sebutan perusahaan ini) adalah kraft. kraft foods punya tiga produk keju yang dipasarkan di indonesia, yaitu kraft singles (slices cheddar), kraft cheddar, dan kraft melt. anyway, saya bukan mau ngomongin ini si sebenernya hehe, cuma jadi penasaran aja kenapa disini (belanda) saya ga pernah nemuin si kraft cheddar ini.

kembali ke keju, sebenernya keju yang beredar di indonesia itu jauh banget kualitasnya dari keju-keju yang ada disini. bahkan teman saya (he’s a dutch who’s now living in jakarta) nyebut si keju cheddar ini “plastic cheese.” well, sometimes i guess it’s not merely about the quality, but also on what kind of taste (of cheese) we already get used to. di indonesia, kalo beli martabak keju, si abang pasti pakenya si cheddar ini. begitupun kalo kita beli roti, cake atau tart yang ada kejunya, ya udah tentu pake si cheddar juga. keju edam (atau gouda) biasanya cuma dipake untuk adonan dasar kue kering (bisa jadi karna teksturnya yang lumayan keras dan agak kering ya). makanya rasa keju yang kita ingat di kepala ya rasanya si cheddar yang sering kita makan itu.

nah, kenapa saya cerita ngalor ngidul begini? karna ada teman orang indonesia minta tolong ke saya untuk buatin cake keju ala indonesia, lengkap dengan si keju rasa indonesia alias si (white) cheddar yang jarangnya ga ketulungan. saya bilang ke dia untuk si keju cheddar putih ini susyah bangettt dapetnya. ga usah yang merek kraft deh, yang merek lain juga ga ada! saya dan suami juga udah beberapa kali keliling ke supermarket-supermarket (sampe ke whole sale supermarket macam sligro dan makro juga kita datengin) tapi ga pernah lihat si white cheddar ini. beberapa kali nemu cheddar tapi adanya yang red. kami pernah tetep maksa beli, tapi seperti yang kita duga ya rasanya ga sama dengan si cheddar-nya indonesia.

Kebetulan tadi sore saya perlu ke supermarket dekat rumah, karena ada beberapa item yang perlu saya beli untuk menu makan malam kami. Pas saya lewat di bagian keju-keju, ga disangka saya lihat ada white cheddar disitu! Saya tau itu cheddar dari kemasannya yang kurang lebih sama dengan red cheddar yang pernah saya beli sebelumnya. Duhh senengnya ga terkira nemu ini keju (walaupun belum tahu juga si rasanya sama dengan keju cheddarnya indonesia ato ga :p). Saya liat disitu cuma ada 2 pack, saya comot aja dua-duanya kali aja nanti akan perlu lagi hihi.

Berhubung keju sudah ditangan, berarti tinggal bikin si cake nya deh. Doakan ya supaya cake-nya sakses nanti 😉

Risoles Chicken Ragout

Here in Drunen (and maybe in other cities except den haag :p) it’s not that easy to find some typical indonesian savoury snacks that have a really good taste. That’s why whenever i feel like i want one, i have to be more creative (and diligent to search on internet) in order to satisfy myself (for snacking).

One day i was craving for risoles with ragout filling. I told my husband and he agreed that it was a good idea to make one because he also never tried them before (well actually most of the time he would just say that to my ideas or suggestions :D). Thus i decided to browse on the internet looking for recipe(s) that according to my eyes and logic would have a good result.

Luckily i found one recipe that look reasonably easy to follow and when we executed apparently it’s even better than we thought 😉

So here i am sharing that recipe for all the visitor(s) who maybe also looking for delicious risoles recipe!

Risoles with Chicken Ragout Filling

For the crepe/outer layer/pancake

Ingredients:
300 ml plain milk (UHT)
150 gr all purpose flour
1 tbsp butter/margarine – melt
1 pc egg
1 pc egg yolk
3/4 tbsp salt

Method:

1. Put the flour into a bowl, make a hole in the middle of the flour and then pour the milk bit by bit while stirring using mixer.

2. Add the egg (both egg and one egg yolk) into the dough and stir evenly, and then add the melted butter/margarine and salt into the bowl. Stir until all mixed evenly.

3. Preheat the non stick pan and using low heat, pour about a ladle of the dough into the pan, make a circle move to make the dough even and thin. Let the dough for a while until cooked. Then take the pancake out. Repeat until the dough finish. Set aside.

For the ragout

Ingredients:

250gr chicken fillet – boil with +/- 1000 ml of water (add a pinch of salt) until cooked, and then cut them into smal cubes (approx.1x1cm)/or just shred them as you want 🙂
2pcs of carrots (medium to large size), cut into small cubes and boil them in the leftover water from the chicken around 3 min from the time of the first boiling.
2 tbsp butter
1/2 pc of onion, chopped
100 gr flour
300 ml milk
250 ml leftover boiling water from the chicken (and carrots)
2 tbsp sugar
1/4 tsp nutmeg powder
1/2 tsp pepper
1/2 tsp maggi block (can be skipped)
Salt to taste
2 sprigs of celery, finely cut
1 sprig of spring onion, finely cut

Method:

Mix the milk and the leftover water, and then set aside.

Preheat the pan, with the butter saute the onion until it gets softened.

Throw in the chicken fillet, and saute until their color changed (a bit brownish).

Then, pour in the flour, mix evenly, and then pour the liquid (milk + leftover water) into the pan bit by bit while stirring until smooth so that no lump from the flour.
Throw in the carrots, keep on stirring and cook with medium heat. Then throw in the sugar, nutmeg powder, pepper, and salt (to taste. Note that you have to try them first then add salt when needed because the leftover water from chicken already been added with a bit of salt). Also add maggi block (optional), cook until the ragout got thickened and get bubbling. Reduce the heat to low, then add the chopped celery and spring onion, stir evenly and then turn off the heat. Let the ragout to cool down until it reaches room temperature before use.

For the coating:
1-2 pcs of eggs, whisk them together with 20-30 ml of milk (to loosened the egg)
breadcrumbs

finishing:
first take 1 pc of the crepe/pancake, spoon the ragout as much as you want (sufficient enough but not too overloaded), fold the crepe, dip it into the whisked egg, and then roll it inton the breadcrumbs until it is fully coated. Do it repeatedly for all the crepes.

Then, fry the risoles until the color of the risoled changed and look brown.
Serve with bird chillies or sambal =)

image

image

Driving and Getting the License in Holland.

Dari dulu selama tinggal di Indonesia saya memang ga begitu tertarik dengan yang namanya nyetir. Yah biar dibilang alm. bapak saya biasa-biasa aja tapi alhamdulillah kami masih ada mobil yang bisa dipake untuk wara wiri. Pernah beberapa kali saya belajar bareng alm. bapak dan kakak saya, tapi ujung-ujungnya males karena sekali waktu pas belajar itu mobilnya hampir nyusruk ke got (wkwk zonk banget yah). Dari situ bapak nyuruh saya ikut les nyetir aja kalo mau bisa nyetir. Beliau bilang supaya bisa sekalian urus sim (kayanya doi takut mobilnya beneran nyusrukkk hihi).

Anyway, saya juga setuju dengan usul beliau. Apalagi di rumah memang selain alm. bapak ga ada lagi yg bisa nyetir (kami tinggal berlima pada waktu itu: bapak ibu, saya, adik saya paling kecil, dan keponakan saya yang tinggal sejak bayi).

Yang bikin saya sedih, rencana ini belum terealisasi saat alm. bapak saya menghembuskan nafasnya yang terakhir (alm.bapak kembali ke Sang Khalik pada April 2013 yang lalu).

Sampai saya pindah kesini. Suami dan ibu mertua (saya suka panggil si mama “Oma”) sangat menyarankan supaya saya ikut kursus nyetir untuk dapat sim. Saya agak gak tega sebenarnya karena untuk dapat sim disini lumayan mahal (sebenernya si bukan ujiannya yang mahal, tapi jam kursus yang harus diambil yang bikin keki, ditambah ga ada jaminan kalo sekali tes langsung lulus). Tapi buat suami saya punya sim itu perlu untuk mobilitas saya (dan pastinya supaya ga gitu tergantung lagi sama dia hehe) dan whether now or later it will still be the same and I have to do it anyway.

Jadi, akhirnya di bulan April lalu saya ambil paket kursus nyetir berikut ujian prakteknya (just for info, untuk memperoleh SIM Belanda seseorang harus lulus ujian teori dan ujian praktek). Untuk ujian teorinya saya harus arrange sendiri (dan belajar sendiri hiks – sebelumnya saya sudah dibelikan buku khusus untuk belajar teori sama suami – pemaksaan indirect ini sik yah😛).

Pada awal-awal kursus, saya masih belajar nyetir pakai manual gears (alias pake kopling). Kenapa? Just because my husband wanted me to try driving in manual. Saya dari awal udah setengah hati sebenarnya, tapi ya tetep juga dilakonin. Ujung-ujungnya, di jadwal kursus yang ketiga si instruktur menyarankan untuk belajar pake automatic aja (HA!). Alesannya? Karena saya kan ambil paket, jadi cuma punya waktu (jumlah jam) terbatas. Bukannya ga mungkin bisa, tapi kalo saya belajarnya maksa pake manual ya bakal lebih panjang jam latihannya, dan kalo cuma sesuai paket tanpa tambah jam pake manual kemungkinan lulus pas ujian praktek akan kecil.

Untuk ujian teori, beruntung ada pilihan ujian dalam bahasa inggris, dan alhamdulillah saya lulus langsung di tes yg saya ambil pertama kali. Kalo kata suami, ujian teori ini memang sedikit tricky, bisa dibilang gampang-gampang susah. Bahkan temen saya-dia warga negara australia- yang sudah nyetir puluhan tahun di negara asalnya pas ambil ujian ini ga lulus. Cukup bisa dibanggakanlah kalo gitu yaaa bisa lulus di percobaan pertama kalo gitu 😁
Sayangnya untuk kursusnya sendiri hampir bisa dipastikan sangat jarang, terutama di kota kecil seperti tempat saya tinggal (perbandingannya mungkin 1 berbanding 10?) yang menawarkan kursus menggunakan bahasa inggris alias mau ga mau pake bahasa belanda (dibantu bahasa tubuh kali ya hihi). Tapi alhamdulillaah meski kadang ga paham banget yang diomongin instruktur saya masih bisa ngikutin apa yang diomongin instruktur (bahasa belanda saya masih belepotan bangeet, dan jauh dari oke kayanya sik hahah).
Teman-teman dan keluarga di indonesia sebagian besar berpikir kalo nyetir disini pasti lebih gampang dibanding nyetir di indonesia, karena toh jalanan disini jauh lebih bagus daripada jalanan di indonesia dan jumlah kendaraan yang beredar (terutama sepeda motor) di jalan ga sebanyak di indonesia. Dulu saya juga berpikir begitu. Tapi ternyata ga segampang itu saudara-saudara😁

Disini ga jarang alias banyak orang yang ga lulus ujian praktek langsung pada saat pertama kali ujian. Mau tau kenapa? Karena disini standar untuk mendapatkan sim lumayan tinggi. Kita bukan cuma harus bisa nyetir mobil, belok kanan belok kiri jalan lurus aja, tp juga harus bisa nyetir dalam artian:
how we drive would not hinder and danger other road users (other drivers, cyclists – which a lot here ~, as well as pedestrians).
you have to know what is your speed limit on a road you drive through, not driving too slow, have to give way to other drivers or cyclists whenever you drive on a road (unless you drive on main roads, or regulated otherwhise), you cannot just pass other cars on highway, cannot just stand on any lane you like, humpff and so many more.

All in all, its not as simple as other people thought. In short, you cannot compare the challenges that you have to deal here to the challenges of driving in indonesia.

Oh and i’ve mentioned that the cost to get a sim here is far away more expensive compare to Indonesia ya.
Karena disini memang sebelum ujian kita wajib ambil kursus nyetir itu ya, jadilah mahal tralala. Kayanya si kita memang ga bisa ujian praktek independen (at least saya ga pernah denger ada yang pernah ngelakuin ini siy hehe).

Kembali ke pengalaman kursus nyetir saya, kebetulan instruktur saya walaupun wanita tapi cukup keras, dan kalo saya sedikit salah dia langsung aja ngomong terang-terangan dan mungkin kalo kitanya sensitif akan tersinggung atau langsung ciut seketika. Untungnya bahasa belanda saya kan jelek ya jadi saya si ga begitu ambil pusing juga, toh ga ngerti juga apa yang diomong 😝 (hahaha tetep yaa beruntung walaupun sedikit terbatas). Tapi alhamdulillahnya selama kursus ga ada kejadian yang super banget walaupun ya ga juga sukses banget hehe. Setiap datang waktu kursus saya biasanya agak panas dingin (wkwkwk norak deh pokonya) dan selesai kursus badan udah kaya abis digebukin (padahal si tiap les juga cuma 2 jam yaaa), rasanya capeeek banget. Trus tiap pulang dari les rasanya ga akan berhasil ujian karena tiap les ga pernah ngalamin yang namanya instruktur ga teriak hahaha. Intinya setiap kursus ga pernah selalu mulus! Pastiii at least ada beberapa kali salah deh, either too late to break for a pedestrian or a cyclist, or too slow on driving. Oh ya perlu dicatat ya, disini kita dibilang lambat kalo kita nyetirnya sedikit dibawah speed limit. Jadi normal driving itu when you drive on the speed limit or at 5km/hour faster than the speed limit. But you cannot drive faster than that! Aand it is suggested that you don’t break a lot (or change gear alot) in order to achieve environmental friendly driving. Stress banget yaaa kawan😄

Setelah beberapa bulan kursus, akhirnya tanggal 31 Juli kemarin saya ikut ujian praktek. Atas saran instruktur (agar kans saya untuk lulus lebih besar, meskipun suami beranggapan kalo saya sebenarnya bisa lulus walau dengan ujian normal), saya ambil faalangstexamen. Bedanya ujian faalangst dengan ujian praktek biasa sebenarnya ga begitu banyak. Yang paling utama si supaya tingkat stress kita sedikit berkurang dan kita bisa sedikit relax, juga sebagian besar examinator atau penguji kita biasanya lebih friendly. Waktu yang disediakan untuk yang ambil ujian faalangst kurang lebih 70 menit (kalo diperlukan), dan kita boleh minta break seandainya di tengah ujian kita perlu. Waktu ujiannya (driving on the street) sendiri kurang lebih sama dengan ujian normal -sekitar 20-30 menit. Karena pada saat tussentijd tussen examen (ini semacam uji coba ujian lah) saya dinyatakan sudah cukup baik untuk bagian bijzondere manoeuvres (untuk parkir – parkeer opdracht dan putar balik arah – omkeer opdracht atau berhenti sesaat – stop opdracht), maka pada saat ujian saya tidak perlu mengulang lagi. Untuk rute ujian yang ditempuh biasanya mencakup jalan-jalan dengan variasi speed limit (inside city area dengan speed limit 30 atau 50 km/jam, outside city and trunk road dengan speed limit antara 60 sampai 100 km/jam, dan pastinya highway/toll road dengan kecepatan maksimal 120-130 km/jam).
Beruntung saya dapat examinator yang cukup friendly (ga sia-sia bayar sedikit lebih mahal). Si bapak ini nawarin mau pake gps atau dia kasih arah. Karena saya udah terbiasa les tanpa gps akhirnya saya pilih opsi kedua. Dan beruntungnya lagi, rute ujian kali ini pernah saya lewati beberapa kali pada saat les, jadi saya cukup paham manuver-manuver apa saja yang harus saya lakukan di rute tersebut (aihh matik bahasanya😝).

Selesai exam, kita kembali ke kantor CBR. Begitu duduk, bapak examinator bilang, “yak, saya ada berita bagus untuk kamu..coba tebak apa?”
ppb alias pura-pura bloon, saya bilang ga tau (ga mau berharap jugaaa, secara beberapa orang cerita banyak yang harus ambil ujian praktek nyetir ini lebih dari satu kali). Tapi alhamdulillah kali ini saya beneran dinyatakan luluuus :))) Hepiii banget ga perlu les lagi, ga perlu ujian lagi hahaha, secara kalo di total total, biaya yang suami udah keluarin untuk les plus ujian itu bisa buat pulang pergi ke indonesia untuk 6 orang (kalo lagi low season tapinya hihihi).

Kelulusan ini juga jadi kejutan yang sangat menyenangkan sebelum kami berangkat liburan! Pulang liburan jadinya bisa sedikit kurang stressnya :):):) .

Nahhh, setelah dapet sim, kita berburu mobil dong yaaa tentunya 😄
Siap-siap untuk postingan berikutnya yaaa.See you soon!

psst. seperti ini nih penampakan sim saya, dengan sedikit sensor supaya ga disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab 😁
image

About lipstick (GC Hydra Matte liquid lipstick)

Udah beberapa kali saya liat di facebook page nya temen, penasaran banget sama lipstick yang dipake dia karna teksturnya keren, ga glossy alias matte, dan warna nya ngeblend banget sama bibir nya (mungkin juga karna memang orangnya cantik ya :p)

Akhirnya nemu juga merek lipstick yang dia pake. Setelah itu langsung deh browsing (karna mereknya ga gitu kenal). Mereknya itu Gerard Cosmetics, brand amerika yang udah lumayan dikenal disana (mungkin juga disini, tapi saya kan gagap make up :D), cruelty free and it’s also glutten free (ga ngaruh juga si sama aku hihihi). Coba-coba cari di toko kosmetik online disini, tapi ternyata mereka ga available, jadi nyoba browsing lagi gimana cara beli nya disini. Kebetulan nemu link facebook nya mereka, dan ternyata di page mereka itu suka ada kode khusus promo. Satu promo yg bikin saya happy adalah kalo beli di website resmi mereka untuk ongkos kirimnya gratis worldwide. Iya ke seluruh negara gratis! Plusss harganya lumayan oke lohhh.

Awalnya pengen coba aja, jadi pesen deh satu paket yg isinya 1 hydra matte liquid lipstick (konon katanya kyle jenner pakai lipstick ini), 1 lipgloss, dan 1 lipstick. Saya lupa harganya, tapi untuk paket ini saya pakai kode promo discount 40%.
Eeeh, begitu selesai order, liat lagi promo yang lain: beli 3 lipstick harganya cuma US$ 25 saja! Akhirnya pesen lagi deh hahahaha..dasar wanita yaaa😁

Begitu paketnya datang, ga sabar langsung coba, terutama yang hydra matte itu. Saya pilih tipe serenity. Jenis warna lipstick ini nude tapi agak sedikit merona. Begitu nyoba, langsung jatuh cintaaa❤❤❤ bahkan lipstick saya yang lancome atau YSL kalah set deehhhhh hahaha. Terutama karna aplikasinya yang gampang juga kali ya. Oh dan warna nya yang sangat ngeblend sama bibir juga! Teksturnya itu keren banget, awalnya si lipstick itu kan liquid ya, tapi begitu diaplikasikan ke bibir ga lama langsung berefek matte loh. Duh keren lah pokonya.
Mudah-mudahan terus-terusan promo gratis ongkos kirim dehhh biar nanti bisa pesen lagi hihihi.

Untuk lipstick yg biasa juga lumayan ok kok. Variasi warnanya lumayan dan juga ringan di bibir (dan dompet tentunya😜).

image

image