Driving and Getting the License in Holland.

Dari dulu selama tinggal di Indonesia saya memang ga begitu tertarik dengan yang namanya nyetir. Yah biar dibilang alm. bapak saya biasa-biasa aja tapi alhamdulillah kami masih ada mobil yang bisa dipake untuk wara wiri. Pernah beberapa kali saya belajar bareng alm. bapak dan kakak saya, tapi ujung-ujungnya males karena sekali waktu pas belajar itu mobilnya hampir nyusruk ke got (wkwk zonk banget yah). Dari situ bapak nyuruh saya ikut les nyetir aja kalo mau bisa nyetir. Beliau bilang supaya bisa sekalian urus sim (kayanya doi takut mobilnya beneran nyusrukkk hihi).

Anyway, saya juga setuju dengan usul beliau. Apalagi di rumah memang selain alm. bapak ga ada lagi yg bisa nyetir (kami tinggal berlima pada waktu itu: bapak ibu, saya, adik saya paling kecil, dan keponakan saya yang tinggal sejak bayi).

Yang bikin saya sedih, rencana ini belum terealisasi saat alm. bapak saya menghembuskan nafasnya yang terakhir (alm.bapak kembali ke Sang Khalik pada April 2013 yang lalu).

Sampai saya pindah kesini. Suami dan ibu mertua (saya suka panggil si mama “Oma”) sangat menyarankan supaya saya ikut kursus nyetir untuk dapat sim. Saya agak gak tega sebenarnya karena untuk dapat sim disini lumayan mahal (sebenernya si bukan ujiannya yang mahal, tapi jam kursus yang harus diambil yang bikin keki, ditambah ga ada jaminan kalo sekali tes langsung lulus). Tapi buat suami saya punya sim itu perlu untuk mobilitas saya (dan pastinya supaya ga gitu tergantung lagi sama dia hehe) dan whether now or later it will still be the same and I have to do it anyway.

Jadi, akhirnya di bulan April lalu saya ambil paket kursus nyetir berikut ujian prakteknya (just for info, untuk memperoleh SIM Belanda seseorang harus lulus ujian teori dan ujian praktek). Untuk ujian teorinya saya harus arrange sendiri (dan belajar sendiri hiks – sebelumnya saya sudah dibelikan buku khusus untuk belajar teori sama suami – pemaksaan indirect ini sik yah😛).

Pada awal-awal kursus, saya masih belajar nyetir pakai manual gears (alias pake kopling). Kenapa? Just because my husband wanted me to try driving in manual. Saya dari awal udah setengah hati sebenarnya, tapi ya tetep juga dilakonin. Ujung-ujungnya, di jadwal kursus yang ketiga si instruktur menyarankan untuk belajar pake automatic aja (HA!). Alesannya? Karena saya kan ambil paket, jadi cuma punya waktu (jumlah jam) terbatas. Bukannya ga mungkin bisa, tapi kalo saya belajarnya maksa pake manual ya bakal lebih panjang jam latihannya, dan kalo cuma sesuai paket tanpa tambah jam pake manual kemungkinan lulus pas ujian praktek akan kecil.

Untuk ujian teori, beruntung ada pilihan ujian dalam bahasa inggris, dan alhamdulillah saya lulus langsung di tes yg saya ambil pertama kali. Kalo kata suami, ujian teori ini memang sedikit tricky, bisa dibilang gampang-gampang susah. Bahkan temen saya-dia warga negara australia- yang sudah nyetir puluhan tahun di negara asalnya pas ambil ujian ini ga lulus. Cukup bisa dibanggakanlah kalo gitu yaaa bisa lulus di percobaan pertama kalo gitu 😁
Sayangnya untuk kursusnya sendiri hampir bisa dipastikan sangat jarang, terutama di kota kecil seperti tempat saya tinggal (perbandingannya mungkin 1 berbanding 10?) yang menawarkan kursus menggunakan bahasa inggris alias mau ga mau pake bahasa belanda (dibantu bahasa tubuh kali ya hihi). Tapi alhamdulillaah meski kadang ga paham banget yang diomongin instruktur saya masih bisa ngikutin apa yang diomongin instruktur (bahasa belanda saya masih belepotan bangeet, dan jauh dari oke kayanya sik hahah).
Teman-teman dan keluarga di indonesia sebagian besar berpikir kalo nyetir disini pasti lebih gampang dibanding nyetir di indonesia, karena toh jalanan disini jauh lebih bagus daripada jalanan di indonesia dan jumlah kendaraan yang beredar (terutama sepeda motor) di jalan ga sebanyak di indonesia. Dulu saya juga berpikir begitu. Tapi ternyata ga segampang itu saudara-saudara😁

Disini ga jarang alias banyak orang yang ga lulus ujian praktek langsung pada saat pertama kali ujian. Mau tau kenapa? Karena disini standar untuk mendapatkan sim lumayan tinggi. Kita bukan cuma harus bisa nyetir mobil, belok kanan belok kiri jalan lurus aja, tp juga harus bisa nyetir dalam artian:
how we drive would not hinder and danger other road users (other drivers, cyclists – which a lot here ~, as well as pedestrians).
you have to know what is your speed limit on a road you drive through, not driving too slow, have to give way to other drivers or cyclists whenever you drive on a road (unless you drive on main roads, or regulated otherwhise), you cannot just pass other cars on highway, cannot just stand on any lane you like, humpff and so many more.

All in all, its not as simple as other people thought. In short, you cannot compare the challenges that you have to deal here to the challenges of driving in indonesia.

Oh and i’ve mentioned that the cost to get a sim here is far away more expensive compare to Indonesia ya.
Karena disini memang sebelum ujian kita wajib ambil kursus nyetir itu ya, jadilah mahal tralala. Kayanya si kita memang ga bisa ujian praktek independen (at least saya ga pernah denger ada yang pernah ngelakuin ini siy hehe).

Kembali ke pengalaman kursus nyetir saya, kebetulan instruktur saya walaupun wanita tapi cukup keras, dan kalo saya sedikit salah dia langsung aja ngomong terang-terangan dan mungkin kalo kitanya sensitif akan tersinggung atau langsung ciut seketika. Untungnya bahasa belanda saya kan jelek ya jadi saya si ga begitu ambil pusing juga, toh ga ngerti juga apa yang diomong 😝 (hahaha tetep yaa beruntung walaupun sedikit terbatas). Tapi alhamdulillahnya selama kursus ga ada kejadian yang super banget walaupun ya ga juga sukses banget hehe. Setiap datang waktu kursus saya biasanya agak panas dingin (wkwkwk norak deh pokonya) dan selesai kursus badan udah kaya abis digebukin (padahal si tiap les juga cuma 2 jam yaaa), rasanya capeeek banget. Trus tiap pulang dari les rasanya ga akan berhasil ujian karena tiap les ga pernah ngalamin yang namanya instruktur ga teriak hahaha. Intinya setiap kursus ga pernah selalu mulus! Pastiii at least ada beberapa kali salah deh, either too late to break for a pedestrian or a cyclist, or too slow on driving. Oh ya perlu dicatat ya, disini kita dibilang lambat kalo kita nyetirnya sedikit dibawah speed limit. Jadi normal driving itu when you drive on the speed limit or at 5km/hour faster than the speed limit. But you cannot drive faster than that! Aand it is suggested that you don’t break a lot (or change gear alot) in order to achieve environmental friendly driving. Stress banget yaaa kawan😄

Setelah beberapa bulan kursus, akhirnya tanggal 31 Juli kemarin saya ikut ujian praktek. Atas saran instruktur (agar kans saya untuk lulus lebih besar, meskipun suami beranggapan kalo saya sebenarnya bisa lulus walau dengan ujian normal), saya ambil faalangstexamen. Bedanya ujian faalangst dengan ujian praktek biasa sebenarnya ga begitu banyak. Yang paling utama si supaya tingkat stress kita sedikit berkurang dan kita bisa sedikit relax, juga sebagian besar examinator atau penguji kita biasanya lebih friendly. Waktu yang disediakan untuk yang ambil ujian faalangst kurang lebih 70 menit (kalo diperlukan), dan kita boleh minta break seandainya di tengah ujian kita perlu. Waktu ujiannya (driving on the street) sendiri kurang lebih sama dengan ujian normal -sekitar 20-30 menit. Karena pada saat tussentijd tussen examen (ini semacam uji coba ujian lah) saya dinyatakan sudah cukup baik untuk bagian bijzondere manoeuvres (untuk parkir – parkeer opdracht dan putar balik arah – omkeer opdracht atau berhenti sesaat – stop opdracht), maka pada saat ujian saya tidak perlu mengulang lagi. Untuk rute ujian yang ditempuh biasanya mencakup jalan-jalan dengan variasi speed limit (inside city area dengan speed limit 30 atau 50 km/jam, outside city and trunk road dengan speed limit antara 60 sampai 100 km/jam, dan pastinya highway/toll road dengan kecepatan maksimal 120-130 km/jam).
Beruntung saya dapat examinator yang cukup friendly (ga sia-sia bayar sedikit lebih mahal). Si bapak ini nawarin mau pake gps atau dia kasih arah. Karena saya udah terbiasa les tanpa gps akhirnya saya pilih opsi kedua. Dan beruntungnya lagi, rute ujian kali ini pernah saya lewati beberapa kali pada saat les, jadi saya cukup paham manuver-manuver apa saja yang harus saya lakukan di rute tersebut (aihh matik bahasanya😝).

Selesai exam, kita kembali ke kantor CBR. Begitu duduk, bapak examinator bilang, “yak, saya ada berita bagus untuk kamu..coba tebak apa?”
ppb alias pura-pura bloon, saya bilang ga tau (ga mau berharap jugaaa, secara beberapa orang cerita banyak yang harus ambil ujian praktek nyetir ini lebih dari satu kali). Tapi alhamdulillah kali ini saya beneran dinyatakan luluuus :))) Hepiii banget ga perlu les lagi, ga perlu ujian lagi hahaha, secara kalo di total total, biaya yang suami udah keluarin untuk les plus ujian itu bisa buat pulang pergi ke indonesia untuk 6 orang (kalo lagi low season tapinya hihihi).

Kelulusan ini juga jadi kejutan yang sangat menyenangkan sebelum kami berangkat liburan! Pulang liburan jadinya bisa sedikit kurang stressnya :):):) .

Nahhh, setelah dapet sim, kita berburu mobil dong yaaa tentunya 😄
Siap-siap untuk postingan berikutnya yaaa.See you soon!

psst. seperti ini nih penampakan sim saya, dengan sedikit sensor supaya ga disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab 😁
image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s