One Day Trip to Lake Como, Italy

DSC_6387.JPG

the steep steps which you can find quite often in Varenna

I went to Lake Como (Lago di Como), Italy last year in the mid September with my husband, to commemorate our 1st year wedding anniversary. We did not stay over there, but we went in one day by train from Milan. That was the best option for us, because we also could visit and enjoy Milan on one trip.

According to Wikipedia, Lake Como has been a popular retreat for aristocrats and wealthy people since Roman times, and a very popular tourist attraction with many artistic and cultural gems. Many famous people have or have had homes on the shores of Lake Como, such as Gianni Versace, Madonna and George Clooney. For Intermezzo, during that time of the year George Clooney had been rumored to have his wedding with Amal Alamuddin at his Villa in Lake Como (which did not happen, since they had their wedding in Venice, Italy :)).

lago_di_como

There are approximately 10-11 towns located along the Lake as you can see on the map above.  I think Bellagio is one of the cities that most people familiar with. On our trip, we had a chance to visit Varenna and Bellagio.

Actually, there are a lot of travel agent that offered one day trip from Milan to Lake Como. But after we did (well, I mostly :p) some research we decided to just do the trip by ourselves.

From our hotel, we use a subway/metro to Milan Central Station (Milan Centrale). Then from there, we took the train (regionale) with destination Varenna. The train runs every two hours from Milan Centrale. It takes approximately one hour to reach Varenna. The cost of the ticket at that moment was only €6 for one way (for 2nd class). For reference, you can check the train schedule and the ticket price on their official website.

I think you would enjoy the scenic view served by the ride – especially when the train has reached the lake area – as much as we do :). On the early hours of our trip the weather was quite gloomy. A bit drizzles and lots of clouds covering the sky. Luckily the weather was getting better and better afterwards. When we reached Varenna, there was a certain of excitement burst out. Even from there you can see how beautiful the surrounding is.

Varenna is small enough to be enjoyed only by foot. With staircases and steep paths, the historical centre of Varenna is nicely cozy and has bars with terraces and a pedestrian walk along the lake shore. The biggest draw of Varenna is simply to be able to stroll around by the lakeside or through the winding alleyways, enjoy the traditional Italian architecture and take in the serene atmosphere.

Varenna taken from Bar Il Molo.JPG

This scenic view was taken in the midday from Bar Il Molo, Varenna. You still can see the dark cloud in the sky here.

In between our walk, we decided to get our lunch at Bar Il Molo, where then we got served this stunning view along with a very nice homemade pizzas, fresh juice and a cup of Italian coffee. The price was still quite reasonable and the food were good. All those combined with the view, sitting there for a while was really worth it. In highlight, my husband really likes the coffee they served.

After lunch we continued our walks, heading towards the City Center (sort of), where the Church (with the high tower) located. Apparently on that day there were a group of old cars having a convoy (I’m sorry I don’t know the name of the Car Brand, but They look super nice!). Oh, and also we saw a couple having a (pre)wed shoot in front of the Church =)

After we were done with Varenna (well, more or less), we decided to go to other city around the Lake as well. We took the Ferry trip from Varenna to Bellagio – the city which located at the opposite of Varenna. The Ferry that we took itself is connecting three cities: Bellagio – Menaggio – Varenna. There are also some other routes offered. The fare for one way trip is €4.60. If you are using car, you can also go across the Lake using the Ferry. The ticket price for one transportation (the driver is inclusive) is €15. For the timetable and the price of the Ferry ticket, you can check directly to their website.

Bellagio is situated upon the cape of the land mass that divides Lake Como in two. Many celebrities are known to pass through Bellagio. Even the President of Mirage Resort got inspired and decided to build The Bellagio Hotel in Las Vegas after his visit to this town. The City has more hotels (as well as luxury villas) and restaurants to offer along the lakeside than Varenna. The size of the town is quite big.

Bellaggio.JPG

In my opinion Bellagio is a bit more touristic than Varenna. You can notice it right away from the number of souvenir stores available, and of course the price they have set for 🙂

Apart from that, Bellagio is as beautiful as Varenna. That typical small alley with some steep steps, the extravagant church on the higher area of the town (The Basilica of St. James – San Giacomo), and the beautiful view along the lakeside. What makes it special, unlike in Varenna, Bellagio provides some benches and walk path around the lake side, so that when you get tired of walking, you can just sit there and enjoying the sun and the view.

After we felt quite satisfied (and getting tired from the walk :p) we then returned to Varenna, and then back to Milan.

We were glad that we have decided to visit Lake Como. We know it would be worth it but what we have got were much more than what we expected. It’s definitely not going to be the last time we visit this area =)

 

Advertisements

A Sunday Kinda Love

Berharapnya si hari minggu bisa leha-leha, dan punya mood kaya lagunya Etta James yang beberapa minggu lalu di re-interpretasikan oleh salah satu kontestan the voice, Amy Vachal, tapiii apa daya seperti foto dibawah inilah yang saya dapat sodara-sodara hahaha

image

Enter a caption

Pekerjaan yang paling saya ga suka, nyetrika! Untung cuma sebukit mini, kalo ga bisa-bisa udahannya teler di kasur deh.

Bagusnya lagi, suami yang bebersih hehe, jadi siang semua udah selesai deh. Sore bisa masak asik bareng suami juga, daaan hasilnya adalah:

image

Tadaaa, mie ayam jamur plus pangsit goreng isi udang bikinan kami 😊😊😊

Sebagai penutup, saya kasih link lagu nya yaa, suka banget deh! Pas sama cuaca dan “christmasy” mood hehe

Would love to hear your Sunday also here 😉

Enjoyyy

Sekilas tentang Hak Merek: Edisi Tempe Mendoan

photo derived from http://www.harianresep.blogspot.nl[/caption%5D

Ngeliat gambar mendoan di atas kok saya jadi ngileeer yaaa.

Tapi yang pengen saya bahas di sini bukan bagaimana caranya membuat mendoan si (udah pada tau juga kali 😝). Beberapa waktu lalu ada teman-teman saya di facebook yang men-share link berita dari http://www.detik.com perihal seseorang bernama Pudji Wong yang telah mendaftarkan merek “Mendoan” ke kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (“DJKI”). Mungkin juga ada beberapa teman yang baca berita ini ya. Agak heboh karena di berita disebutkan bahwa orang lain ga boleh lagi memproduksi Mendoan tanpa seizin mas Pudji. Bahkan disebutkan kalo Pemerintah Kota Banyumas akan memprotes keputusan ini ke Kementerian Hukum dan HAM dan akan menempuh jalur hukum apabila diperlukan.*

Terakhir saya lihat di salah satu headline di detik.com disebutkan kalo mas Pudji Wong akhirnya akan menyerahkan merek Mendoan tersebut kepada Pemerintah Kota Banyuwangi.

Untung polemiknya ga berkepanjangan ya. Tapi, saya jadi pengen bahas sedikiiit tentang hak merek jadinya hehehhee. Gapapa serius dikit ya.

Khusus untuk merek Mendoan, ada yang pernah coba browse langsung ke laman DGIP kemudian search di e-status HKI (LADI KI) perihal merek Mendoan ini ga? kalo belum, boleh dicoba klik http://e-statushki.dgip.go.id/ deh, kemudian dicoba search dengan sebelumnya memilih kategori Merek dan memasukkan kata kunci “Mendoan”. Nanti bisa dilihat pemegang Hak Mereknya siapa, jenis dan lingkup perlindungannya mencakup apa saja, serta masa berlaku sertifikat tersebut.

Berdasarkan hasil pencarian saya, Merek “Mendoan” ini terdaftar untuk kelas 29. Teman-teman bisa lihat detail nya dari screenshot di bawah:

2015-11-11

Nah. Apa si yang dimaksud dengan Kelas 29?

OK. Sebelum masuk ke kelas-kelasan ini, kita sekilas bahas apa merek itu dulu ya.

Kalo berdasarkan Undang-Undang Merek Indonesia, Merek itu merupakan suatu tanda yang dapat berupa gambar, huruf-huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dipergunakan seseorang dalam kegiatan perdagangan dan jasa (Merek dagang dan Merek Jasa).

Jadi merek itu intinya dipergunakan sebagai unsur pembeda konsumen atau pengguna jasa atas suatu produk/jasa dari produk/jasa lainnya (biasanya yang sejenis).

Karena jenis barang/jasa yang bisa diperdagangkan/ditawarkan cukup banyak, maka untuk memudahkan dilakukanlah pengklasifikasian atas barang/jasa tersebut. Di tingkat internasional, sistem klasifikasi merek yang dikenal adalah Nice Classification. Sistem klasifikasi merek di Indonesia juga disusun berdasarkan sistem klasifikasi Nice. Jumlah Kelas Barang dan Jasa dalam sistem klasifikasi merek adalah sebanyak 45 kelas (Kelas 1 sampai dengan Kelas 34 mengatur tentang Barang, sementara Kelas 35 sampai dengan Kelas 45 adalah untuk Jasa).

Jadi, pembagian kelas-kelas ini mengatur batasan lingkup perlindungan yang diberikan atas suatu merek yang didaftarkan. Untuk satu kali permohonan pemohon dapat mencantumkan permohonan perlindungan atas satu merek di 3 kelas yang berbeda.

Sebagai contoh, merek “Universitas Trisakti” (asli saya random nih milihnya). Pada saat mendaftarkan merek universitas trisakti, pemohon dapat mencantumkan dalam satu permohonan pendaftaran Merek yang sama untuk Kelas 14 (karena menjual gantungan kunci dengan logo “universitas trisakti”), Kelas 25 (karena mereka menjual kaos dengan merek dan logo “universitas trisakti”), dan Kelas 41 (untuk jasa pendidikan). Seandainya pemohon merek “Universitas Trisakti” mau lingkup perlindungannya lebih luas lagi, maka mereka harus mengajukan permohonan lagi dengan mencantumkan Kelas Barang/Jasa yang berbeda dari permohonan pertama tersebut sesuai kehendak mereka.

Bagaimana mengetahui merek kita masuk di kelas mana? kalian bisa coba cek di link ini.

Sebenarnya si saya ngerti kenapa masih banyak mispersepsi terhadap isu-isu macam mendoan ini. Masalah utamanya adalah karena masih banyak orang yang masih ga gitu paham dengan beragamnya jenis Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri dan menganggap semuanya ya podo wae alias sama saja semuanya. Mereka ga begitu paham apa bedanya Paten, Merek dan Hak Cipta (ini baru HKI yang menurut saya masih lumayan dikenal di masyarakat ya, belum HKI-HKI lainnya yang lebih “ajaib” hehe).

Saya ga mau bahas panjang lebar jenis-jenis HKI yang lain di sini (Insyaallah di lain waktu dan postingan tersendiri ya :)). Tapi perlu diinfokan juga apa sebenarnya unsur pembeda utama antara kesemua HKI itu biar kita tidak salah kaprah.

Untuk sedikit lebih paham dan supaya kita ga salah menggunakan istilah, ada beberapa kata kunci yang bisa kita ingat:

untuk Paten yang dilindungi adalah (biasanya) suatu proses di bidang teknologi (atau yang terkait dengan scientific), memiliki unsur kebaruan (novelty) dan dapat diterapkan di (dunia) industri; untuk Hak Cipta yang dilindungi adalah suatu karya yang memiliki unsur orisinalitas yang telah diwujudkan dalam suatu bentuk nyata (jadi misalnya kita mau bikin lagu yang lirik dan musiknya masih di otak kita alias belum pernah kita tuangkan dalam bentuk coret-coretan atau rekaman. kalo masih cuma ada di otak kita lagu itu belum dilindungi oleh Hak Cipta, tapi begitu kita menuliskan lirik yang ada di kepala kita atau menuliskan not-not musiknya, maka lagu itu otomatis dilindungi oleh Hak Cipta).

Kembali lagi ke kasus Mendoan.
Dari faktanya, Pudji Wong merupakan pemegang Hak Merek “Mendoan” dan ruang lingkup perlindungannya adalah terbatas pada kelas 29. Sekedar mencoba supaya teman-teman bisa membedakan bagian mana yang termasuk lingkup Paten, yang mana lingkup Hak Cipta, dan yang mana lingkup Hak Mereknya, yuk kita coba masukkan kata-kata kunci di atas tadi.

Misalnya kita mengajukan permohonan Paten atas Mendoan, berarti yang dimintakan perlindungannya adalah proses pembuatan Mendoan itu sendiri. Mulai dari penggunaan tempe khusus, formula tertentu untuk lapisan kulitnya, cara menggorengnya, sampai pada cara pengemasannya. Tapi, apakah dalam proses pembuatan Mendoan ini ada unsur kebaruannya? kan jelas-jelas proses pembuatan Mendoan ini sudah diketahui turun-temurun dan sejauh ini sepertinya prosesnya masih sama ya 🙂
Jadi, si Mendoan ga mungkin mendapat perlindungan Paten. Yang artinya? Orang-orang yang mau memproduksi mendoan ya aman-aman aja, ga perlu minta izin dulu ke mas Pudji Wong. Karena bukan di situ perlindungan yang dia peroleh (dan bukan itu juga yang dia mintakan perlindungan 😊).

Kalo di lihat dari sisi Hak Cipta, logo yang dibuat mas Pudji seandainya bentuknya orisinil maka terlindungi oleh Hak Cipta.

Bahkan di lingkup Merek pun mas Pudji juga hanya memperoleh perlindungan di kelas 29 tadi. Artinya, Mas Pudji bisa memperjualbelikan produk-produk yang masuk dalam lingkup kelas 29 dengan menggunakan merek “Mendoan” (merek “Mendoan” hanya dapat dicantumkan pada produk-produk yang disebutkan dalam kelas 29). Kalo dia mau pake istilah “Mendoan” itu untuk jenis barang lain di luar kelas 29 bagaimana? ya boleh-boleh aja, tapi penggunaannya sendiri tidak ada perlindungan hukumnya (karena di luar kelas yang dia daftarkan).

Sekarang kita coba bahas sedikit mengenai rencana mas Pudji Wong untuk menyerahkan merek “Mendoan” kepada Pemerintah Kota Banyumas.

Ada dua cara yang bisa ditempuh: melalui pengalihan hak merek atau melalui lisensi. Bedanya? Kalo yang pertama mas Pudji Wong hak-haknya sama sekali putus alias dia sudah ga berhak lagi atas merek “Mendoan.” Cara mengalihkan hak merek setau saya seperti perjanjian/kontrak jual beli pada umumnya (sesuai dengan hukum perdata). Sementara untuk pilihan kedua, mas Pudji Wong tetap sebagai pemegang/pemilik merek Mendoan tersebut, tapi melalui perjanjian lisensi pemerintah kota Banyumas juga diperbolehkan untuk menggunakan merek Mendoan. Baik perubahan atas kepemilikan (akibat pengalihan hak merek) ataupun adanya perjanjian lisensi atas merek Mendoan ini wajib dilaporkan ke kantor DJKI.

Semoga sedikit cuap-cuap saya di sini bisa dipahami ya. Kalo mau tau lebih jelas tentang HKI teman-teman bisa klik di situs resmi DJKI atau situs WIPO.

Tentang Kehilangan.

Minggu lalu saya dapat kabar sedih dari seseorang yang cukup dekat dengan saya. Kami adalah sahabat (dengan beberapa lainnya) di masa SMA.

Annisa (kami biasa memanggil dia Caca) beserta anak-anaknya harus mengalami kehilangan besar di umurnya yang masih terbilang muda.  Suami kesayangan dan Ayah dari anak-anaknya telah dipanggil menghadap Sang Pencipta. Semuanya terjadi dengan sangat mendadak. Dari ceritanya, Almarhum hari itu sedang berada di rumah orang tuanya (sepulang dari mengajar). Caca pada saat itu sedang mengajar di tempat lain. Orang tua alm. suami nya sedang menunggu kedatangan adik alm. dari Natuna. Saat adiknya tiba, alm. hendak bangun dan pada saat itu juga dengan tarikan napas tiga kali almarhum berpulang. Memang, umur kita adalah mutlak rahasia Allah SWT. Kita ga pernah tahu siapa yang lebih dulu pergi dan kapan waktu kita di dunia ini akan berakhir.

Sungguh, saya kagum dengan ketegaran Caca. Sahabat-sahabat saya yang kebetulan bisa datang dan berkunjung ke rumahnya, sempat bilang kalo Caca terlihat tegar, tidak menitikkan air mata. Caca dan suami punya anak tiga orang. Pada saat suami meninggal, Caca sempat kawatir kalo dirinya saat ini juga sedang mengandung, karena sudah terlambat beberapa hari. Baru saja saya lihat di facebook nya kalo ternyata dia positif hamil.

Jalan hidup adalah benar-benar rahasia Allah ya.

Saya ga tau seandainya saya berada di posisi Caca, apakah saya akan sekuat dan setegar dia. Ga kebayang harus membesarkan anak-anak seorang diri (walaupun dengan bantuan keluarga, tentu berbeda sekali dengan kehadiran pasangan kita), harus menjalani masa-masa kehamilan seorang diri… hiks. Semoga Allah SWT selalu melindungi serta menjaga Caca dan anak-anaknya.

Banyak hikmah yang bisa diambil dibalik kesedihan ini. Caca berpesan kepada kami, untuk selalu menyayangi pasangan kita dan tunjukkan rasa kasih sayang kita dengan tindakan nyata, karena kita ga tau berapa lama kita bisa melakukannya dan kita ga tau siapa yang akan pergi lebih dulu.

Suami saya juga pernah mengalami kehilangan dalam hidupnya. Almarhumah istrinya meninggal di pangkuan dia setelah beberapa tahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Suami cerita, anak-anak yang pada saat itu juga masih kecil sempat nangis kencang, tapi kemudian setelah itu tenang. Dari cerita mertua (dan saudara ipar), disebutkan juga kalo Arthur sangat tegar menghadapi kehilangan ini. Dia tidak menangis.

Saya pernah tanya tentang hal ini ke dia. Apakah dia tidak sedih dengan kehilangan yang dia hadapi dulu. Dia bilang, tentu saja sedih. Tapi rasa sedih dia sudah jauh lama dimulai sejak almarhumah istrinya terdiagnosa penyakit ini. Selama tiga tahun terakhir dalam hidupnya, almarhumah harus berjuang melawan penyakit Non-Hodgkin Lymphoma, kanker yang menyerang sistem imun pada tubuh. Banyaknya perawatan dan bahkan sempat menjalani operasi sumsum tulang belakang ternyata tidak bisa mengembalikan kesehatan almarhumah. Kematian seperti menjadi penutup chapter-chapter kesedihan yang sudah mereka jalani bersama.

Menurut saya, baik kehilangan secara mendadak maupun kehilangan yang didahului dengan cobaan yang berkepanjangan adalah sama sedihnya. Mungkin orang bilang kalo yang meninggal itu sudah sakit lama orang-orang di sekitarnya akan lebih siap dibanding orang yang ditinggal secara mendadak. Tapi buat saya kehilangan itu biar bagaimana juga tetaplah kehilangan. Dan semua balik lagi kepada bagaimana kita menghadapi cobaan berat itu. Rasa ikhlas lah yang harus kita tanamkan dalam diri kita. karena semua yang ada di dunia, juga kita, adalah milik Allah. Semua akan kembali kepada-Nya, cepat atau lambat, sekarang atau nanti.

Menghadapi kehilangan dalam hidup sungguh mengajarkan kita untuk selalu bersyukur. Kehilangan mengajarkan kita untuk memandang hal-hal yang ada dalam hidup kita menjadi lebih berharga.

Bersyukur kita masih diberikan waktu untuk bernapas, menikmati segala karunia yang sudah diberikan Allah kepada kita. Rasa syukur untuk masih diberikan kesehatan, memiliki suami yang sehat dan sayang kepada kita, keluarga dan sahabat, masih diberi kesempatan untuk merasakan cahaya matahari, basahnya hujan, indahnya dunia… rasa syukur yang mungkin ga akan habisnya kalo disebutkan satu-persatu di sini.

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan tidak lupa untuk selalu bersyukur dalam hidup. (Aamiin)

Winter Break 2015 Ideas

image derived from http://rwldesign.com/

Ga terasa sekarang kita udah melewati tengah tahun dan sampai pada kuartal terakhir tahun 2015. Seperti biasa, di sini pada akhir tahun akan ada winter holiday. Walaupun ga selama summer holiday (yang biasanya kurang lebih selama 6 minggu), tapi cukup panjang untuk kita pergi ke tempat liburan yang agak jauh.

Autumn Break kemarin kami tidak pergi kemana-mana dan hanya keliling sekitar tempat kami saja. Selain waktunya yang cuma seminggu, suami juga ga ada jadwal liburnya. Lain halnya dengan winter nanti. Dia juga biasanya ikutan libur, sama seperti anak-anak.

Saya itu cinta banget sama yang namanya jalan-jalan. Dulu pas kerja juga saya lumayan sering dinas ke luar (keluar kota dan alhamdulillaah juga beberapa kali ke luar negara). Makanya kalo kelamaan ga jalan-jalan biasanya suka uring-uringan. Suami juga tau banget sama kesukaan saya yang satu ini dan dia ga pengen ngilangin ini dari saya, makanya dia ngusahain agar sebisa mungkin punya waktu sama-sama berdua aja untuk pergi ke satu tempat (ceritanya repeated hanimun lah hihi). Tahun pertama kami pergi berdua saja ke Cologne, Jerman pada saat Christmas Market, sementara tahun lalu kami pergi ke Milan – Lake Como, Italia. Nah, untuk tahun ini kami agak susah mutusin mau kemana. Selain itu juga mungkin karena Agustus kemarin kami sudah liburan ke Indonesia – dengan anak-anak tentunya.

Ditengah-tengah kebingungan gara-gara banyaknya pilihan, tiba-tiba suami dapet undangan untuk berkunjung ke California. Sebenarnya begitu dia terima undangan ini, otomatis yang ada di pikiran dia adalah ngajak saya ke sana. Saya sempat excited – tapi langsung ciut mikirin ribetnya ngurus visa US. Belum lagi waktu yang mepet (suami pengennya berangkat ke sana bulan November, sementara undangan di terima di akhir Oktober ). Saya sempat juga mau maksa urus karena salah satu teman dekat saya memang tinggal di sana juga. Tapi saya baru inget kalo teman saya ini 2 minggu bakalan pergi ke Jepang. Akhirnya saya mundur teratur deh – ga jadi ikut. Saya si ga nyesel-nyesel banget ga jadi ikut. Entah kenapa memang kalo sama US saya ga gitu “thrilled” (kecuali sama NY deng hehe).

Suami akhirnya berangkat sendiri senin kemarin. Tapi sebelum berangkat saya bargain supaya dia ga lama-lama stay-nya dia di sana. Dia setuju dan akhirnya waktu kunjungannya dikurangi sehari (wkwkwk egois banget ya saya – ini juga yang jadi alasan kenapa beberapa hari terakhir saya jadi produktif di WP ahahaha).

Anyway, kembali ke rencana winter break. Ada beberapa tempat yang mau banget saya kunjungi untuk liburan besok. Memang masih di sekitar Eropa aja. Selain karna waktunya yang ga seleluasa waktu summer, anak-anak saya itu bukan tipe traveler seperti saya. Brabant banget lah pokonya 😜. Untung masih mau kalo diajak mudik ke Indonesia. Tapi saya masih dilema. Rencananya saya mau liburan bareng anak-anak dan liburan berdua aja.

Untuk liburan bareng anak-anak, pilihan saya antara UK (London) dan Denmark (Billund). Sementara untuk liburan berdua pilihannya bejibun: antara Normandy, Nice, Salah satu kota di Spanyol (saya pengen banget kunjungan ke daerah Andalusia, especially Granada), Cinque Terre, Porto atau Lisbon – Portugal, Norway (musim dingin ke sana bukan ide yang bagus kayanya ya 😂), atau kota di sekitar Jerman dan Belgia. Tadi baru aja baca postingannya mbak Lorraine tentang Turin tiba-tiba jadi kepengen juga pergi ke sana (kabitaeuuun kalo kata orang Sunda teh).

Saya pengen banget ajak anak-anak ke London – UK. Sedikit terobsesi sebenarnya. Di sana banyak museum keren yang bisa dikunjungi secara gratis macam British Museum, National History Museum, Natural History Museum dan Science Museum (my son would definitely love them!). Selain itu, mama-nya pengen juga kunjungan ke Warner Bros Studio Harry Potter hahaha. Tapiii, berhubung paspor saya hijau, saya harus urus entry permit dulu. Memang bagi pemegang schengen residence permit ga perlu visa, tapi si entry permit ini kalo saya lihat dari website mereka sama aja ribet nya! Saya udah ngisi formulir nya setengah jalan tapi jadi maleees..moso semuanya ditanyain deh. Bikin sedih dan jadi males ngurusnya.

Makanya saya jadi kepikiran mungkin better kita jalan ke Denmark – tepatnya Billund – aja, pake mobil 😁. Udah tau dong ya kenapa saya milih Billund – karena Legoland pertama ada di sana. Oh darn..saya baru inget kalo selama winter mereka tutup😬
Yahhh mau tulis panjang lebar jadi batal deeehhh.

Any other ideas untuk tempat yang kids-friendly ga ya..saya bener-bener keabisan ide nih.

Ke Disneyland Paris udah pernah (mereka suka tapi mama papanya ngga – too bloody pricey!), Legoland Jerman juga udah (we liked it but again, legoland is not open during winter zz), Efteling mamanya bosaaaaaannnnn hahaha (entah udah berapa kali kesana, even on the first day of 2015 we spent our time there! Yes…it was cold, snowy, and wet).

Nah, kalo untuk yang liburan berdua ini sebenarnya saya lebih excited. Karna kita bisa explore tempat yang akan kita kunjungi tanpa harus denger complain dari anak-anak dan pertanyaan “kapan kita balik ke hotel?” berulang-ulang tiap 5 menit sekali 😂.

Saya berulang-ulang coba browsing di internet tentang yang mana yang lebih recommended untuk dikunjungi pada saat winter, tapi masih belum dapat hasil yang cukup memuaskan hati. Mudah-mudahan saja dalam waktu singkat sebelum liburannya tiba saya bisa putuskan mau pergi kemana.

Atau pergi ke Indonesia aja lagi ya? sendiri aja tapi 😝😝 (hubby would say no i think – suami posesip! hihihi)

Accepting Change(s)

“All changes, even the most longed for, have their melancholy; for what we leave behind us is a part of ourselves; we must die to one life before we can enter another.”
– Anatole France –

Perubahan dalam hidup memang bukan suatu hal yang mudah. Apalagi kalo perubahan yang kita hadapi cukup besar, hampir bisa diistilahkan seperti membalikkan telapak tangan. 180° of change, I guess that’s what they called it 🙂

The minute I decided to accept my husband’s proposal in mid 2013, I knew since then my life would never be the same again.

My husband is a Dutch and he lives in a small city in the Netherlands where he runs a family business together with his brother.
Before marrying me, he lost his (Indonesian) wife who suffered from cancer for couple of years (may she rest in peace). They had been together for ten years and already have two beautiful kids, a son and a daughter. It’s sad that in such a young age, they already have to experience a big loss in their life (they were 4 and 3 years old when their mom passed away). I was (and still am) amazed how they could manage to accept this big change very well.

We (I and my husband) knew that it’s not easy for the kids to accept a new person in their life. That’s why before we decided to get serious, we first asked the kids about me becoming their new mama. Well, you know that you wouldn’t be able to fake out with kids. They would sense it if you’re not being truth or not sincere with them. I’m glad they accepted me right away and they have becoming a great supporter for me since then.

Although I have been living here (in Tilburg to be precised) for study back in 2008/2009, that doesn’t mean that everything will be easy as it looks.
The situations are just not the same. Things that i have to face were also not the same.

Pada saat pertama kali datang ke Belanda tahun 2008 perubahan yang saya hadapi lebih kepada jauh dari keluarga (sebelum saya kuliah di sini, saya belum pernah jauh dari keluarga kecuali kalo lagi ada dinas keluar negeri atau luar kota) dan teman-teman dekat; makanan yang berbeda dengan apa yang ada di Indonesia (dulu mana mau saya nguprek di dapur hihi); dan tentu iklim yang jauh berbeda dengan iklim tropis di Indonesia. Satu tahun itu memang lama, tapi di otak saya semacam ada reminder kalo saya (hampir) pasti akan kembali ke Indonesia. Saya akan kembali ke kehidupan saya sebelumnya, kembali berkumpul dengan keluarga, bekerja seperti biasa, makan makanan indonesia (yang enak-enak itu :p) seperti biasa kembali dan tentu saja kembali merasakan hangatnya matahari dan basahnya hujan di iklim tropis.

Saya itu dari dulu memang pengen ngerasain hidup di luar Indonesia dan saya bersyukur Allah SWT mendengar doa saya dan memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di sini. It really was a dream come true for me. However, I never imagine that I would be married to one of the guys from here. Saya itu paling ga suka orang Belanda dan pada saat saya kuliah dulu saya malah dekat dengan cowo-cowo dari negara lain (Ha! look who’s marrying me right now ya :p). Anyway, this is not the main point of my posting here.

Sekembalinya dari sekolah di Belanda, saya kembali harus beradaptasi dengan keadaan di sekitar saya di Indonesia. Bahkan berat badan saya pada saat itu turun 4 kg karena perut harus adaptasi lagi dengan makanan indonesia yang enak-enak itu hihi. Pada awal-awal kepulangan, saya sempat berharap akan ada perubahan yang signifikan dalam pekerjaan. Tapi, dengan sistem yang lumayan rigid saya terjebak dalam pemikiran konvensional dimana wanita (single) dan (cukup) muda harus ditunda promosinya karena ada seseorang lain yang dirasa lebih perlu untuk di”angkat”(pria berkeluarga dan lebih lama masa kerjanya). Saya bersyukur karena selain keluarga, pekerjaan juga cukup menyibukkan saya dan pada akhirnya mempermudah proses adaptasi saya kembali ke rutinitas sehari-hari. Boring memang kadang-kadang. Tapi eventually I was enjoying my work again (and the free time I had). At that time I have accepted the changes that come and I was starting to walk along through the rhythm. And to be honest, looking back to those years, It was not that bad at all. During those years – because of my work – I have been traveled quite a few: visiting several cities in Indonesia, going abroad (even to South Africa!) and had returned to Holland (short visit) for several times, including met some of nice people from all over the world.

Pasca menikah di tahun 2013, saya kembali harus berhadapan dengan yang namanya perubahan. Memang si perubahannya gak seketika itu juga, but still I have to face it sooner or later. Banyak teman-teman (terutama kolega dari kantor) yang amazed dengan keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan (yang sudah hampir 10 tahun itu), kemudian pindah dan menetap di Belanda. Sebenarnya, persis beberapa bulan sebelum saya pindah, saya sudah dipersiapkan untuk promosi (alias naik jabatan). Tapi buat saya, hidup harus terus berjalan. Pada saat saya memutuskan untuk menikah sebelumnya, saya sudah paham konsekuensi yang harus saya ambil. Memilih mana yang paling baik untuk keluarga saya, bukan hanya untuk pribadi sendiri.

The Loss of my dad.
Dalam proses perubahan besar hidup ini, saya kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidup: ayah saya tercinta. Ayah wafat dalam waktu yang sangat singkat. Masih jelas dalam ingatan kami sekeluarga. Dari dulu harapan beliau adalah agar dimudahkan dalam menghadapi kematian dan tidak mau menyusahkan kami yang ditinggalkan. Dan itulah yang Allah berikan untuk beliau (doa kami selalu untukmu pak..).
Persis dua bulan sebelum kepindahan saya ke Belanda – bulan April tahun lalu tepatnya, ayah dipanggil sang Khalik. Sebenarnya pada saat itu MVV saya sudah di-approved dan saya boleh berangkat sesegera mungkin. Tapi entah kenapa berat rasanya untuk langsung berangkat pada saat itu. Memang saya punya beberapa pertimbangan (terutama urusan kantor yang cukup padat dan ga mungkin saya langsung pergi begitu aja ninggalin teman-teman kerja sendirian), jadi saya putuskan kalo saya akan berangkat pada pertengahan Juni saja. Apparently my decision was really a blessing in disguise. God always has ways to make things fall in the right places. Saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan ayah saya terakhir kalinya..sesuatu yang ga bisa digantikan walau dengan apapun juga. Saya juga bersyukur kalo beliau yang awal mulanya agak tidak rela saya berhenti dari pekerjaan saya dan pindah jauh dari keluarga, pada akhirnya menerima kondisi yang saya pilih dengan ikhlas.

Satu hal yang agak bikin saya jadi agak lebih berat untuk pindah setelah ayah saya pergi adalah mama saya dan satu keponakan yang sudah seperti anak sendiri bagi saya. Saya memang lebih dekat dengan mama dibanding dengan alm. ayah. Wajar sepertinya ya. Walaupun di rumah masih ada adik saya yang paling kecil, tetap aja saya khawatir. Bersyukurnya, mama selalu membesarkan hati saya, mencoba menenangkan dan selalu bilang ga usah terlalu mengkhawatirkan beliau – karena masih ada adik saya, juga kakak-kakak saya yang lebih dekat jarak tempat tinggalnya. Perkataan mama (yang intinya kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan suami kepada saya) sungguh menguatkan dan menyejukkan saya yang sedikit lebih sensitif dan gampang “mewek” dalam proses perpindahan ini.

The Migration.
Akhirnya hari itu datang juga. My journey coming (back again) to the Netherlands has begun. Suami saya pada saat itu memutuskan untuk tidak datang menjemput saya ke Indonesia. Selain kondisi yang tidak memungkinkan (anak-anak masih belum libur dan of course suami saya juga ga bisa begitu aja libur dari kerjaannya), kami pikir juga ga akan efektif juga seandainya dia datang. Malah kasian dia nya deh cuma dapet capeknya aja. Alhamdulillah saya juga memang sudah terbiasa pergi sendiri jadi dia juga ga begitu worried.
Tapi, emang dasar ya ga seru kalo pindahnya mulus-mulus aja ga ada bumbunya. Saya waktu itu naik Direct Flight-nya Garuda (CGK – AMS). Setelah take off tengah malam, penerbangan saya yang sudah hampir berada di atas Bangalore – India harus kembali ke base alias balik lagi ke Jakarta karena salah satu penumpang di flight kami mengalami serangan jantung (atau stroke – can’t really remember exactly) dan meninggal dunia dalam perjalanan. Yang jelas 3 jam penerbangan yang kami tempuh jadi sia-sia dan dengan total 6 jam perjalanan kembalilah kami ke Jakarta. Bersyukur mereka (Garuda) sangat bertanggung jawab dan seluruh penumpang diistirahatkan di hotel bintang 4 (kami stay di hotel dari jam 7 pagi sampai tengah hari) dan diberikan sarapan full buffet gratis.

Sesampainya di Belanda, saya dan suami langsung mengurus hal-hal yang bisa kami urus segera, misalnya untuk urusan lapor diri ke Gemeente (kantor camat :p), verblijf (residence permit) dan asuransi. Satu hal yang agak lucu adalah BurgerServiceNummer atau BSN saya (semacam Social Security Number di US) pada saat saya tinggal dulu di Belanda masih ada. Jadi, di list saya masih terdaftar dengan BSN tersebut sampai tahun 2012 (seingat saya ini terakhir kali saya berkunjung ke Belanda). Setelah itu keberadaan saya dianggap tidak diketahui sampai akhirnya saya pindah ke Drunen. Pada saat itu jadilah BSN saya diaktifkan kembali =). Mungkin juga ini yang membuat saya ga terima surat dari Gemeente untuk ikut ujian inburgering (ujian asimilasi) dalam waktu 3 tahun setelah kepindahan (saya tanya ke suami perlu tanya ga untuk masalah ini, dia dong bilangnya ga usah, karena seandainya memang perlu mereka pasti sudah kirim surat resmi ke saya, sementara sampai sekarang saya masih belum terima surat ini dari Gemeente). Anyway, mudah-mudahan saya beneran ga perlu ujian ini (meskipun saya tetap niat untuk ambil ujian NT2 as soon as possible).

Oh ya, meskipun saya pernah tinggal di sini tapi bukan berarti saya jadi jago bahasa belanda sodara-sodara (hihi). Dulu saya lebih sering pake bahasa inggris. Kuliah pun dengan bahasa inggris (karena kelas yang saya ambil adalah kelas internasional). Tapi beruntungnya, selama kuliah itu saya ikutan kursus Bahasa Belanda khusus untuk Asian Student selama 6 bulan dan juga sebelum saya pacaran dengan orang Belanda saya sudah ambil kursus Bahasa Belanda di Jakarta! hahaha kaya udah punya feeling aja yaaa :p
Saya ambil kursus di Erasmus Taal Centrum sampai Basis 3, jadi cukup lumayan lah untuk modal pada saat saya ujian inburgering di Indonesia. Juga untuk ngobrol (terpatah-patah) dengan anak-anak dan mertua 🙂 Suami saya cerita kalo dulu sewaktu almarhumah mamanya anak-anak masih ada anak-anak sangat fasih berbahasa indonesia. Tapi semenjak mamanya sudah tidak ada bahasa indonesia mereka sama sekali hilang. Beruntungnya lagi tingkat bahasa Belanda mereka juga masih dalam level yang masih mudah saya mengerti. Istilahnya mereka malah jadi partner saya untuk belajar bahasa Belanda. Saya juga ga malu kalo dikoreksi mereka, karena buat saya belajar itu ga mengenal umur dan bisa dari siapa saja.

Setelah pindah saya tidak serta merta ambil kursus bahasa lagi di sini, atau sibuk cari kerja atau juga sibuk cari-cari kenalan dan teman baru. Bisa dibilang saya benar-benar take things as easy as I could and not trying to go in a rush. Saya mau cope in terlebih dahulu dengan keluarga inti saya – especially the kids. Begitu pemikiran saya. Karena alasan utama saya pindah adalah mereka, bukan karena pengen cari kerja baru ataupun mencari teman dan kenalan baru. Memang si, it sounds very selfish and unfriendly. Tapi mau gimana lagi. Buat saya mereka adalah prioritas utama. If this circle has already run smoothly (or – again – I at least already know the rhythm) I know insyaallah all other thing(s) can easily fall to its right places. Bersyukurnya juga saya sudah ada beberapa kenalan dari jaman saya dulu tinggal di sini, jadi saya juga gak begitu sendiri-sendiri amat deh hehe.

Changing Role.

Yap, peran saya di sini memang berbeda sama sekali dengan sewaktu saya di Indonesia. Ini yang saya sebut perubahan 180 derajat hehe. Kalo dulu cuma ngurus diri sendiri, sekarang saya harus mikirin diri sendiri plus tiga kepala lainnya (dan kadang tambah satu lagi: mama mertua ;)). Walaupun saya mau banget kerja di sini tapi sekarang situasinya sudah berbeda dengan situasi sewaktu saya di Jakarta. I have time (and place) constraint here and with experiences and background that I have, it’s kinda difficult to find a perfect job for me (at least until now). Again, my husband was not forcing me on this one. But he also knows I sometime feel frustrated for not working and not optimizing what I have.

Begitupun dengan urusan rumah tangga. Suami ga pernah maksa saya untuk ngerjain semuanya sendiri. Bahkan dia lumayan membantu banget (kecuali untuk ironing – dia sebel banget kalo saya udah mulai minta dia nyetrika hakahak). Dia tau lah gimana saya di Jakarta hehe. Dulu mana mau saya ngurus segala nyuci baju, nyetrika, cuci piring, masak, beberes dan teman-teman sejenisnya. Oh NO deh. Apalagi untuk urusan ini kami punya mbak yang bantu mama di rumah (kecuali masak ya, untuk masak mama masih kerjain sendiri – walaupun masih tergantung mood juga wkwk). Lain banget dengan di sini. Kalo mau masakan indonesia yang enak dan rasanya kaya masakan mama, saya harus bikin sendiri (hiiiks) – dengan nanya resepnya via skype, telepon atau message service lainnya ke mama pastinya.

Kalo dulu awal-awal saya pindah suami masih sering masak dinner untuk kami, seiring waktu berjalan that role has been switched to me gradually. Sekarang perasaan si hampir tiap hari saya yang masak (warm meal) untuk dinner kami. Untuuung dia (masih) bangun lebih pagi dari saya hehehe.. jadi biasanya dia yang nyiapin bekal anak-anak dan juga sarapan untuk kami. ini yang namanya saling berbagi ya hehehe.

Mungkin saya belum sepenuhnya ikhlas menerima perubahan ini. Kadang saya masih rindu dengan hiruk pikuknya kehidupan saya sebelum menikah. Rindu suasana dan kesibukan di kantor (walau saya juga ga cinta-cinta banget sama kerjaan saya). Rindu keluarga terutama mama dan raka my nephew. Rindu kongkow bareng teman-teman di sana. Tapi pelan-pelan saya juga mulai menikmati peran saya di sini. Saya bersyukur banget masih dikasih kesempatan dalam hidup oleh Allah untuk merasakan dua dunia; menjadi wanita pekerja kantoran dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

Satu pelajaran penting yang bisa saya ambil di sini adalah untuk tidak menolak perubahan yang datang ke kita. Be responsible for what we have chosen and cherish for what you have now. There’s no use to regret. Just try to cope with what we are facing and just believe that God will never leave you alone. Bersahabatlah dengan perubahan(-perubahan) itu dan hal baik Insyaallah akan datang ke kita =)

I know it’s not easy, things are not always nice and it’s not always perfect, but I hope I will be able to make it. After all, people that I love (and those who love me) are here (and there) to support me no matter what. They know it’s not easy for me, and they wouldn’t want a million time making this process even harder for me. I am truly blessed for what I have, and I would not change it with anyone else.

“For after all, the best thing one can do when it is raining is let it rain.”
Henry Wadsworth Longfellow.

ps.
maaf ya teman-teman, bahasanya gado-gado begini. bukan maksud mau sok-sok’an, tapi kadang ada beberapa kisah yang essence nya (tuh kan gado-gado :p) cuma bisa berasa kalo uraiannya ditulis dalam bahasa tertentu. terima kasih untuk pengertiannya ya.

Dan maaf juga kalo postingan kali ini agak panjang. Abis yang tukang gangguinnya lagi ga di sini, jadi saya bisa leluasa typing deh. harusnya judulnya curhat kalli ya hihihi =)

Insomnia

image

insomnia

ɪnˈsɒmnɪə/

noun

noun: insomnia

habitual sleeplessness; inability to sleep.

synonyms:sleeplessness, wakefulness,restlessness; 

inability to sleep;

archaic watchfulness

“Anna was suffering from anxiety and insomnia”

Origin

early 17th century: from Latin, from insomnis‘sleepless’, from in- (expressing negation) + somnus‘sleep’.

(copied from google)

berhubung insomnia saya lagi kambuh, mending posting sesuatu di sini kali aja berguna (dikiit) ya hehe.

Tadi saya browsing apa yang bisa dilakukan sesama insomners (maksa hihi) untuk ngilangin or at least ngurangin insomnia. Saya nemu image tentang 10 home remedies for insomnia seperti di bawah ini:

image

note buat diri sendiri: cuma hot bath aja kayanya yang bisa di apply huhu, pisang sama susu ga doyan, selebihnya juga ya ga gitu suka-suka banggets hiks.

masa harus ngitung embek siii supaya bisa tidur😭 (which usually not working either).

Does anyone have better suggestion on handling insomnia?

image

p.s.
I’m at stage 3ish a.m. now😓