Accepting Change(s)

“All changes, even the most longed for, have their melancholy; for what we leave behind us is a part of ourselves; we must die to one life before we can enter another.”
– Anatole France –

Perubahan dalam hidup memang bukan suatu hal yang mudah. Apalagi kalo perubahan yang kita hadapi cukup besar, hampir bisa diistilahkan seperti membalikkan telapak tangan. 180° of change, I guess that’s what they called it 🙂

The minute I decided to accept my husband’s proposal in mid 2013, I knew since then my life would never be the same again.

My husband is a Dutch and he lives in a small city in the Netherlands where he runs a family business together with his brother.
Before marrying me, he lost his (Indonesian) wife who suffered from cancer for couple of years (may she rest in peace). They had been together for ten years and already have two beautiful kids, a son and a daughter. It’s sad that in such a young age, they already have to experience a big loss in their life (they were 4 and 3 years old when their mom passed away). I was (and still am) amazed how they could manage to accept this big change very well.

We (I and my husband) knew that it’s not easy for the kids to accept a new person in their life. That’s why before we decided to get serious, we first asked the kids about me becoming their new mama. Well, you know that you wouldn’t be able to fake out with kids. They would sense it if you’re not being truth or not sincere with them. I’m glad they accepted me right away and they have becoming a great supporter for me since then.

Although I have been living here (in Tilburg to be precised) for study back in 2008/2009, that doesn’t mean that everything will be easy as it looks.
The situations are just not the same. Things that i have to face were also not the same.

Pada saat pertama kali datang ke Belanda tahun 2008 perubahan yang saya hadapi lebih kepada jauh dari keluarga (sebelum saya kuliah di sini, saya belum pernah jauh dari keluarga kecuali kalo lagi ada dinas keluar negeri atau luar kota) dan teman-teman dekat; makanan yang berbeda dengan apa yang ada di Indonesia (dulu mana mau saya nguprek di dapur hihi); dan tentu iklim yang jauh berbeda dengan iklim tropis di Indonesia. Satu tahun itu memang lama, tapi di otak saya semacam ada reminder kalo saya (hampir) pasti akan kembali ke Indonesia. Saya akan kembali ke kehidupan saya sebelumnya, kembali berkumpul dengan keluarga, bekerja seperti biasa, makan makanan indonesia (yang enak-enak itu :p) seperti biasa kembali dan tentu saja kembali merasakan hangatnya matahari dan basahnya hujan di iklim tropis.

Saya itu dari dulu memang pengen ngerasain hidup di luar Indonesia dan saya bersyukur Allah SWT mendengar doa saya dan memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di sini. It really was a dream come true for me. However, I never imagine that I would be married to one of the guys from here. Saya itu paling ga suka orang Belanda dan pada saat saya kuliah dulu saya malah dekat dengan cowo-cowo dari negara lain (Ha! look who’s marrying me right now ya :p). Anyway, this is not the main point of my posting here.

Sekembalinya dari sekolah di Belanda, saya kembali harus beradaptasi dengan keadaan di sekitar saya di Indonesia. Bahkan berat badan saya pada saat itu turun 4 kg karena perut harus adaptasi lagi dengan makanan indonesia yang enak-enak itu hihi. Pada awal-awal kepulangan, saya sempat berharap akan ada perubahan yang signifikan dalam pekerjaan. Tapi, dengan sistem yang lumayan rigid saya terjebak dalam pemikiran konvensional dimana wanita (single) dan (cukup) muda harus ditunda promosinya karena ada seseorang lain yang dirasa lebih perlu untuk di”angkat”(pria berkeluarga dan lebih lama masa kerjanya). Saya bersyukur karena selain keluarga, pekerjaan juga cukup menyibukkan saya dan pada akhirnya mempermudah proses adaptasi saya kembali ke rutinitas sehari-hari. Boring memang kadang-kadang. Tapi eventually I was enjoying my work again (and the free time I had). At that time I have accepted the changes that come and I was starting to walk along through the rhythm. And to be honest, looking back to those years, It was not that bad at all. During those years – because of my work – I have been traveled quite a few: visiting several cities in Indonesia, going abroad (even to South Africa!) and had returned to Holland (short visit) for several times, including met some of nice people from all over the world.

Pasca menikah di tahun 2013, saya kembali harus berhadapan dengan yang namanya perubahan. Memang si perubahannya gak seketika itu juga, but still I have to face it sooner or later. Banyak teman-teman (terutama kolega dari kantor) yang amazed dengan keputusan saya untuk meninggalkan pekerjaan (yang sudah hampir 10 tahun itu), kemudian pindah dan menetap di Belanda. Sebenarnya, persis beberapa bulan sebelum saya pindah, saya sudah dipersiapkan untuk promosi (alias naik jabatan). Tapi buat saya, hidup harus terus berjalan. Pada saat saya memutuskan untuk menikah sebelumnya, saya sudah paham konsekuensi yang harus saya ambil. Memilih mana yang paling baik untuk keluarga saya, bukan hanya untuk pribadi sendiri.

The Loss of my dad.
Dalam proses perubahan besar hidup ini, saya kehilangan seseorang yang sangat penting dalam hidup: ayah saya tercinta. Ayah wafat dalam waktu yang sangat singkat. Masih jelas dalam ingatan kami sekeluarga. Dari dulu harapan beliau adalah agar dimudahkan dalam menghadapi kematian dan tidak mau menyusahkan kami yang ditinggalkan. Dan itulah yang Allah berikan untuk beliau (doa kami selalu untukmu pak..).
Persis dua bulan sebelum kepindahan saya ke Belanda – bulan April tahun lalu tepatnya, ayah dipanggil sang Khalik. Sebenarnya pada saat itu MVV saya sudah di-approved dan saya boleh berangkat sesegera mungkin. Tapi entah kenapa berat rasanya untuk langsung berangkat pada saat itu. Memang saya punya beberapa pertimbangan (terutama urusan kantor yang cukup padat dan ga mungkin saya langsung pergi begitu aja ninggalin teman-teman kerja sendirian), jadi saya putuskan kalo saya akan berangkat pada pertengahan Juni saja. Apparently my decision was really a blessing in disguise. God always has ways to make things fall in the right places. Saya masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan ayah saya terakhir kalinya..sesuatu yang ga bisa digantikan walau dengan apapun juga. Saya juga bersyukur kalo beliau yang awal mulanya agak tidak rela saya berhenti dari pekerjaan saya dan pindah jauh dari keluarga, pada akhirnya menerima kondisi yang saya pilih dengan ikhlas.

Satu hal yang agak bikin saya jadi agak lebih berat untuk pindah setelah ayah saya pergi adalah mama saya dan satu keponakan yang sudah seperti anak sendiri bagi saya. Saya memang lebih dekat dengan mama dibanding dengan alm. ayah. Wajar sepertinya ya. Walaupun di rumah masih ada adik saya yang paling kecil, tetap aja saya khawatir. Bersyukurnya, mama selalu membesarkan hati saya, mencoba menenangkan dan selalu bilang ga usah terlalu mengkhawatirkan beliau – karena masih ada adik saya, juga kakak-kakak saya yang lebih dekat jarak tempat tinggalnya. Perkataan mama (yang intinya kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan suami kepada saya) sungguh menguatkan dan menyejukkan saya yang sedikit lebih sensitif dan gampang “mewek” dalam proses perpindahan ini.

The Migration.
Akhirnya hari itu datang juga. My journey coming (back again) to the Netherlands has begun. Suami saya pada saat itu memutuskan untuk tidak datang menjemput saya ke Indonesia. Selain kondisi yang tidak memungkinkan (anak-anak masih belum libur dan of course suami saya juga ga bisa begitu aja libur dari kerjaannya), kami pikir juga ga akan efektif juga seandainya dia datang. Malah kasian dia nya deh cuma dapet capeknya aja. Alhamdulillah saya juga memang sudah terbiasa pergi sendiri jadi dia juga ga begitu worried.
Tapi, emang dasar ya ga seru kalo pindahnya mulus-mulus aja ga ada bumbunya. Saya waktu itu naik Direct Flight-nya Garuda (CGK – AMS). Setelah take off tengah malam, penerbangan saya yang sudah hampir berada di atas Bangalore – India harus kembali ke base alias balik lagi ke Jakarta karena salah satu penumpang di flight kami mengalami serangan jantung (atau stroke – can’t really remember exactly) dan meninggal dunia dalam perjalanan. Yang jelas 3 jam penerbangan yang kami tempuh jadi sia-sia dan dengan total 6 jam perjalanan kembalilah kami ke Jakarta. Bersyukur mereka (Garuda) sangat bertanggung jawab dan seluruh penumpang diistirahatkan di hotel bintang 4 (kami stay di hotel dari jam 7 pagi sampai tengah hari) dan diberikan sarapan full buffet gratis.

Sesampainya di Belanda, saya dan suami langsung mengurus hal-hal yang bisa kami urus segera, misalnya untuk urusan lapor diri ke Gemeente (kantor camat :p), verblijf (residence permit) dan asuransi. Satu hal yang agak lucu adalah BurgerServiceNummer atau BSN saya (semacam Social Security Number di US) pada saat saya tinggal dulu di Belanda masih ada. Jadi, di list saya masih terdaftar dengan BSN tersebut sampai tahun 2012 (seingat saya ini terakhir kali saya berkunjung ke Belanda). Setelah itu keberadaan saya dianggap tidak diketahui sampai akhirnya saya pindah ke Drunen. Pada saat itu jadilah BSN saya diaktifkan kembali =). Mungkin juga ini yang membuat saya ga terima surat dari Gemeente untuk ikut ujian inburgering (ujian asimilasi) dalam waktu 3 tahun setelah kepindahan (saya tanya ke suami perlu tanya ga untuk masalah ini, dia dong bilangnya ga usah, karena seandainya memang perlu mereka pasti sudah kirim surat resmi ke saya, sementara sampai sekarang saya masih belum terima surat ini dari Gemeente). Anyway, mudah-mudahan saya beneran ga perlu ujian ini (meskipun saya tetap niat untuk ambil ujian NT2 as soon as possible).

Oh ya, meskipun saya pernah tinggal di sini tapi bukan berarti saya jadi jago bahasa belanda sodara-sodara (hihi). Dulu saya lebih sering pake bahasa inggris. Kuliah pun dengan bahasa inggris (karena kelas yang saya ambil adalah kelas internasional). Tapi beruntungnya, selama kuliah itu saya ikutan kursus Bahasa Belanda khusus untuk Asian Student selama 6 bulan dan juga sebelum saya pacaran dengan orang Belanda saya sudah ambil kursus Bahasa Belanda di Jakarta! hahaha kaya udah punya feeling aja yaaa :p
Saya ambil kursus di Erasmus Taal Centrum sampai Basis 3, jadi cukup lumayan lah untuk modal pada saat saya ujian inburgering di Indonesia. Juga untuk ngobrol (terpatah-patah) dengan anak-anak dan mertua 🙂 Suami saya cerita kalo dulu sewaktu almarhumah mamanya anak-anak masih ada anak-anak sangat fasih berbahasa indonesia. Tapi semenjak mamanya sudah tidak ada bahasa indonesia mereka sama sekali hilang. Beruntungnya lagi tingkat bahasa Belanda mereka juga masih dalam level yang masih mudah saya mengerti. Istilahnya mereka malah jadi partner saya untuk belajar bahasa Belanda. Saya juga ga malu kalo dikoreksi mereka, karena buat saya belajar itu ga mengenal umur dan bisa dari siapa saja.

Setelah pindah saya tidak serta merta ambil kursus bahasa lagi di sini, atau sibuk cari kerja atau juga sibuk cari-cari kenalan dan teman baru. Bisa dibilang saya benar-benar take things as easy as I could and not trying to go in a rush. Saya mau cope in terlebih dahulu dengan keluarga inti saya – especially the kids. Begitu pemikiran saya. Karena alasan utama saya pindah adalah mereka, bukan karena pengen cari kerja baru ataupun mencari teman dan kenalan baru. Memang si, it sounds very selfish and unfriendly. Tapi mau gimana lagi. Buat saya mereka adalah prioritas utama. If this circle has already run smoothly (or – again – I at least already know the rhythm) I know insyaallah all other thing(s) can easily fall to its right places. Bersyukurnya juga saya sudah ada beberapa kenalan dari jaman saya dulu tinggal di sini, jadi saya juga gak begitu sendiri-sendiri amat deh hehe.

Changing Role.

Yap, peran saya di sini memang berbeda sama sekali dengan sewaktu saya di Indonesia. Ini yang saya sebut perubahan 180 derajat hehe. Kalo dulu cuma ngurus diri sendiri, sekarang saya harus mikirin diri sendiri plus tiga kepala lainnya (dan kadang tambah satu lagi: mama mertua ;)). Walaupun saya mau banget kerja di sini tapi sekarang situasinya sudah berbeda dengan situasi sewaktu saya di Jakarta. I have time (and place) constraint here and with experiences and background that I have, it’s kinda difficult to find a perfect job for me (at least until now). Again, my husband was not forcing me on this one. But he also knows I sometime feel frustrated for not working and not optimizing what I have.

Begitupun dengan urusan rumah tangga. Suami ga pernah maksa saya untuk ngerjain semuanya sendiri. Bahkan dia lumayan membantu banget (kecuali untuk ironing – dia sebel banget kalo saya udah mulai minta dia nyetrika hakahak). Dia tau lah gimana saya di Jakarta hehe. Dulu mana mau saya ngurus segala nyuci baju, nyetrika, cuci piring, masak, beberes dan teman-teman sejenisnya. Oh NO deh. Apalagi untuk urusan ini kami punya mbak yang bantu mama di rumah (kecuali masak ya, untuk masak mama masih kerjain sendiri – walaupun masih tergantung mood juga wkwk). Lain banget dengan di sini. Kalo mau masakan indonesia yang enak dan rasanya kaya masakan mama, saya harus bikin sendiri (hiiiks) – dengan nanya resepnya via skype, telepon atau message service lainnya ke mama pastinya.

Kalo dulu awal-awal saya pindah suami masih sering masak dinner untuk kami, seiring waktu berjalan that role has been switched to me gradually. Sekarang perasaan si hampir tiap hari saya yang masak (warm meal) untuk dinner kami. Untuuung dia (masih) bangun lebih pagi dari saya hehehe.. jadi biasanya dia yang nyiapin bekal anak-anak dan juga sarapan untuk kami. ini yang namanya saling berbagi ya hehehe.

Mungkin saya belum sepenuhnya ikhlas menerima perubahan ini. Kadang saya masih rindu dengan hiruk pikuknya kehidupan saya sebelum menikah. Rindu suasana dan kesibukan di kantor (walau saya juga ga cinta-cinta banget sama kerjaan saya). Rindu keluarga terutama mama dan raka my nephew. Rindu kongkow bareng teman-teman di sana. Tapi pelan-pelan saya juga mulai menikmati peran saya di sini. Saya bersyukur banget masih dikasih kesempatan dalam hidup oleh Allah untuk merasakan dua dunia; menjadi wanita pekerja kantoran dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.

Satu pelajaran penting yang bisa saya ambil di sini adalah untuk tidak menolak perubahan yang datang ke kita. Be responsible for what we have chosen and cherish for what you have now. There’s no use to regret. Just try to cope with what we are facing and just believe that God will never leave you alone. Bersahabatlah dengan perubahan(-perubahan) itu dan hal baik Insyaallah akan datang ke kita =)

I know it’s not easy, things are not always nice and it’s not always perfect, but I hope I will be able to make it. After all, people that I love (and those who love me) are here (and there) to support me no matter what. They know it’s not easy for me, and they wouldn’t want a million time making this process even harder for me. I am truly blessed for what I have, and I would not change it with anyone else.

“For after all, the best thing one can do when it is raining is let it rain.”
Henry Wadsworth Longfellow.

ps.
maaf ya teman-teman, bahasanya gado-gado begini. bukan maksud mau sok-sok’an, tapi kadang ada beberapa kisah yang essence nya (tuh kan gado-gado :p) cuma bisa berasa kalo uraiannya ditulis dalam bahasa tertentu. terima kasih untuk pengertiannya ya.

Dan maaf juga kalo postingan kali ini agak panjang. Abis yang tukang gangguinnya lagi ga di sini, jadi saya bisa leluasa typing deh. harusnya judulnya curhat kalli ya hihihi =)

Advertisements

8 thoughts on “Accepting Change(s)

  1. Turut berduka cita untuk Papa. Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik disisiNya. Waahh jadi tahu cerita seutuhnya Mbak Anis. Ternyata baru beberapa bulan pindah ya. Dan overall kisah kita ga beda2 jauh. Latar belakang yang biasa sibuk di Indonesia, sekarang harus berdamai dengan keadaan adaptasi perlahan dari awal. Aku memang minta sesegera mungkin untuk sekolah karena selain cari kegiatan, aku juga ga pernah sekolah bahasa Belanda sebelumnya. Jadi ga bisa bicara sama sekali. Suamiku menyebutnya jadi kayak cacat bahasa karena jadi susah berkomunikasi sama Mama Mertua. Sekarang juga mulai sebar2 lamaran kerja. Biar ga nganggur2 banget dirumah, lha ga ada yang diurus kalo siang. Jadi berasa sepi. Aku belum punya teman Indonesia yang sreg dihati. Masih asal kenal saja. Dasarnya memang aku susah berteman juga sih.
    Mbak, itu yang kirim surat ujian DUO bukan Gemeente. Soalnya aku dapatnya dari DUO. Dapat suratnya 2 bulan setelah sampai Belanda.

    Like

    • Aamin, terima kasih Den 🙂

      officially aku udah setahun lebih pindah den, kan pindahnya Juni tahun lalu hehe..makanya agak bingung juga kenapa sampe sekarang ga dapet surat dari DUO (ternyata bukan dari gemeente ya? aku kurang paham untuk ini soalnya hihi) sementara temenku yang juga baru datang tahun lalu udah terima surat juga (dia tinggalnya di Tilburg).

      untuk kendala bahasa, tetep aja kok sama hehe. terutama kalo family dari pihak partner kita ga begitu lancar bahasa inggris (atau bahasa indonesia), bakalan susah komunikasi. Trus sekarang udah better belum? udah mulai bisa komunikasi dengan mertua dong ya setelah ikut kursus 🙂

      Like

      • Oh iyaaa hahaha aku ga ngeh tahunnya. Kirain tahun ini, lah berarti duluan aku dong. Ternyata tahun kemaren hihi. Dari DUO persyaratannya dalam waktu 3 tahun sudah harus lulus ujian. Apa ga lebih baik dicek aja mbak? Sapa tahu mereka keselip. Takutnya mbendol dibelakang kalo kata orang jawa. Masalah tax aja mereka suka salah2 itung. Tau dari beberapa temanku yang dapat surat pengembalian pajak, eh dikemudian hari ternyata dikirimin surat lagi katanya salah itung dan disuruh balikin duitnya lagi haha. Padahal duitnya sudah habis dipakai temenku😆
        Sekarang sudah lumayan ngomongnya sama Mama. Kalau belanja2 juga sudah full dutch. Ngobrol sama teman2 suami juga sudah in dutch. Keluarga suami sebenarnya bisa bahasa inggris. Dulu sebelum aku sekolah, mereka pakai english. Sejak aku sekolah mereka langsung switch ke dutch. Kata mereka supaya aku sering praktek. Tapi lumayan sih jadinya kalo dipaksa gitu. Jadi belajar keras haha.

        Like

      • iya kayanya kamu duluan deh pindahnya. wong abis pindahan juni itu bulan oktober nya juga capcus lagi ke indo sebentar wkwk.

        kalo untuk batas waktu 3 tahun itu kita juga tau si den. aku si udah berkali-kali ngomong ke suami apa sebaiknya ditanya aja ke gemeente ato kemana kek yang in charge masalah ini, tapi suami bilang biarin aja kan bukan salah aku kalo aku ga terima suratnya wkwkwk. yowis aku manut wae sama dia, kalo di belakangnya nanti ada masalah biar dia yang handle, I did my best anyway :p

        masalah pajak mah di sini hits den. Dulu pas kuliah aku pernah dikirimin tagihan pajak (which is aneh karena aku kan student dan cuma temporary di sini). Tahun kemarin aku juga dikirimin tax report (yang tentu aja nihil yaaa, wong baru juga pindah hihi). Lebih parah lagi, suamiku beberapa bulan lalu dikirimin tagihan pajak 3-4 tahun yang lalu atas nama almh. istrinya. perhitungan pajak di sini memang agak rumit.

        Good job Den!;) iya emang harus dipaksa dipake belandanya biar makin lancar, kalo ga nanti stuck dan ga biasa. kamu sekarang udah di niveau berapa jadi nya? sebentar lagi ujian dong yaaa. aku pengen ikut NT2 examen tapi belum nemu waktu yang pas nih.

        Oh iya, kamu juga udah thorax control ke GGD beberapa kali berarti ya?

        Like

      • Aku lho mbak baru awal februari tahun ini datangnya 😆😆 baru 9 bulan disini. Baru 7 bulan sekolah. Pas tes masuk, mereka bilang aku langsung ke kelas B1 (NT2 programma 1) karena hasilnya bagus. Ya sudah aku masuk kelas B1. Awalnya kewalahan karena aku nol putul ga paham grammatica blass. Sempet putus asa minta turunin ke A2 aja. Tapi aku mikir, masak iya sih kalah sama bahasa Belanda. Egoku bilang, aku bisa naklukin professor masak sama bahasa Belanda angkat tangan haha, waktu itu sombongnya keluar. Sombong ke diri sendiri. Akhirnya belajar keras aku. Guruku disekolah bilang, untuk ukuran 9 bulan tinggal disini lumayan bagus perkembanganku, cepet nangkep. Tapi aku rasa karena banyak kata2 yang sama ya antara belanda, inggris dan indonesia, jadinya ga terlalu susah. Tapi grammaticanya masih bikin frustasi. Ik zal mijn best doen. Sekolahku Insya Allah berakhir pertengahan januari tahun depan. Langsung tes NT2 1.
        Aku sudah 2 kali mbak ke GGD. Kata mereka butuh 5 kali soalnya Indonesia high risk country. Yang aku bingungkan, bayar ga sih GGD? Kok ga pernah ada invoice datang sejak pemeriksaan pertama februari kemaren. Mbak sudah berapa kali periksa?

        Like

      • aku tersesat dengan waktu nih den hahaha, sama-sama baru lah ya intinya masih belajar teruusss 😉

        hebat banget ih kamu, baru belajar udah langsung B1!
        aku februari-april kemarin sempet ikut kursus level A2-B1, dosennya sebenernya juga nyaranin aku ambil level selanjutnya aja karna aku udah ngerti basic nya kata dia. Aku keukeuh ikut di level itu buat mantepin basic dulu karna udah lupa-lupa inget sama yang diajarin dulu. Aku suka sama cara si dosen ngajar dan karna tingkatnya masih sedikit lebih mudah aku jadi bisa ngikutin banget juga untuk grammar nya. tapi abis itu aku ga nerusin karna ya pada akhirnya agak berasa juga gap-nya sama temen-temen sekelas. ditambah juga tempat aku kursus ini ga officially bisa langsung NT2 examen. Makanya mikir mungkin Januari tahun depan mau ambil di Tilburg Uni aja yang udah jelas.

        Aku juga udah 2 kali den, tapi yang pertama karna aku oktober sempet foto thorax di RS untuk masalah molar aku jadinya pake foto itu (yang ternyata lebih ribet daripada dateng trus foto aja!). jadi officially baru sekali foto di GGD (sama dulu deng 2 kali pas kuliah di sini hehe).
        Besok tanggal 23 November aku harus ke sana lagi untuk kontrol (yang ke-3 berarti ya :)). aku juga ga gitu ngeh bayar ato ga hahaha, seinget aku cuma kasih surat panggilannya, dipanggil, foto trus pulang deh. bisa juga invoice nya masuk ke perhitungan annual health insurance kita si, makanya ga ditagih terpisah. kalo ga juga, ya alhamdulillah berarti memang gratis :p

        Like

  2. Thanks for sharing, Anis. So sorry for your loss. It must have been hard. I understand it is not always easy to be a stay home mom. You’re very gracious in accepting the changes in your life, and that helped you to be at peace.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s