Sekilas tentang Hak Merek: Edisi Tempe Mendoan

photo derived from http://www.harianresep.blogspot.nl[/caption%5D

Ngeliat gambar mendoan di atas kok saya jadi ngileeer yaaa.

Tapi yang pengen saya bahas di sini bukan bagaimana caranya membuat mendoan si (udah pada tau juga kali 😝). Beberapa waktu lalu ada teman-teman saya di facebook yang men-share link berita dari http://www.detik.com perihal seseorang bernama Pudji Wong yang telah mendaftarkan merek “Mendoan” ke kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (“DJKI”). Mungkin juga ada beberapa teman yang baca berita ini ya. Agak heboh karena di berita disebutkan bahwa orang lain ga boleh lagi memproduksi Mendoan tanpa seizin mas Pudji. Bahkan disebutkan kalo Pemerintah Kota Banyumas akan memprotes keputusan ini ke Kementerian Hukum dan HAM dan akan menempuh jalur hukum apabila diperlukan.*

Terakhir saya lihat di salah satu headline di detik.com disebutkan kalo mas Pudji Wong akhirnya akan menyerahkan merek Mendoan tersebut kepada Pemerintah Kota Banyuwangi.

Untung polemiknya ga berkepanjangan ya. Tapi, saya jadi pengen bahas sedikiiit tentang hak merek jadinya hehehhee. Gapapa serius dikit ya.

Khusus untuk merek Mendoan, ada yang pernah coba browse langsung ke laman DGIP kemudian search di e-status HKI (LADI KI) perihal merek Mendoan ini ga? kalo belum, boleh dicoba klik http://e-statushki.dgip.go.id/ deh, kemudian dicoba search dengan sebelumnya memilih kategori Merek dan memasukkan kata kunci “Mendoan”. Nanti bisa dilihat pemegang Hak Mereknya siapa, jenis dan lingkup perlindungannya mencakup apa saja, serta masa berlaku sertifikat tersebut.

Berdasarkan hasil pencarian saya, Merek “Mendoan” ini terdaftar untuk kelas 29. Teman-teman bisa lihat detail nya dari screenshot di bawah:

2015-11-11

Nah. Apa si yang dimaksud dengan Kelas 29?

OK. Sebelum masuk ke kelas-kelasan ini, kita sekilas bahas apa merek itu dulu ya.

Kalo berdasarkan Undang-Undang Merek Indonesia, Merek itu merupakan suatu tanda yang dapat berupa gambar, huruf-huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dipergunakan seseorang dalam kegiatan perdagangan dan jasa (Merek dagang dan Merek Jasa).

Jadi merek itu intinya dipergunakan sebagai unsur pembeda konsumen atau pengguna jasa atas suatu produk/jasa dari produk/jasa lainnya (biasanya yang sejenis).

Karena jenis barang/jasa yang bisa diperdagangkan/ditawarkan cukup banyak, maka untuk memudahkan dilakukanlah pengklasifikasian atas barang/jasa tersebut. Di tingkat internasional, sistem klasifikasi merek yang dikenal adalah Nice Classification. Sistem klasifikasi merek di Indonesia juga disusun berdasarkan sistem klasifikasi Nice. Jumlah Kelas Barang dan Jasa dalam sistem klasifikasi merek adalah sebanyak 45 kelas (Kelas 1 sampai dengan Kelas 34 mengatur tentang Barang, sementara Kelas 35 sampai dengan Kelas 45 adalah untuk Jasa).

Jadi, pembagian kelas-kelas ini mengatur batasan lingkup perlindungan yang diberikan atas suatu merek yang didaftarkan. Untuk satu kali permohonan pemohon dapat mencantumkan permohonan perlindungan atas satu merek di 3 kelas yang berbeda.

Sebagai contoh, merek “Universitas Trisakti” (asli saya random nih milihnya). Pada saat mendaftarkan merek universitas trisakti, pemohon dapat mencantumkan dalam satu permohonan pendaftaran Merek yang sama untuk Kelas 14 (karena menjual gantungan kunci dengan logo “universitas trisakti”), Kelas 25 (karena mereka menjual kaos dengan merek dan logo “universitas trisakti”), dan Kelas 41 (untuk jasa pendidikan). Seandainya pemohon merek “Universitas Trisakti” mau lingkup perlindungannya lebih luas lagi, maka mereka harus mengajukan permohonan lagi dengan mencantumkan Kelas Barang/Jasa yang berbeda dari permohonan pertama tersebut sesuai kehendak mereka.

Bagaimana mengetahui merek kita masuk di kelas mana? kalian bisa coba cek di link ini.

Sebenarnya si saya ngerti kenapa masih banyak mispersepsi terhadap isu-isu macam mendoan ini. Masalah utamanya adalah karena masih banyak orang yang masih ga gitu paham dengan beragamnya jenis Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri dan menganggap semuanya ya podo wae alias sama saja semuanya. Mereka ga begitu paham apa bedanya Paten, Merek dan Hak Cipta (ini baru HKI yang menurut saya masih lumayan dikenal di masyarakat ya, belum HKI-HKI lainnya yang lebih “ajaib” hehe).

Saya ga mau bahas panjang lebar jenis-jenis HKI yang lain di sini (Insyaallah di lain waktu dan postingan tersendiri ya :)). Tapi perlu diinfokan juga apa sebenarnya unsur pembeda utama antara kesemua HKI itu biar kita tidak salah kaprah.

Untuk sedikit lebih paham dan supaya kita ga salah menggunakan istilah, ada beberapa kata kunci yang bisa kita ingat:

untuk Paten yang dilindungi adalah (biasanya) suatu proses di bidang teknologi (atau yang terkait dengan scientific), memiliki unsur kebaruan (novelty) dan dapat diterapkan di (dunia) industri; untuk Hak Cipta yang dilindungi adalah suatu karya yang memiliki unsur orisinalitas yang telah diwujudkan dalam suatu bentuk nyata (jadi misalnya kita mau bikin lagu yang lirik dan musiknya masih di otak kita alias belum pernah kita tuangkan dalam bentuk coret-coretan atau rekaman. kalo masih cuma ada di otak kita lagu itu belum dilindungi oleh Hak Cipta, tapi begitu kita menuliskan lirik yang ada di kepala kita atau menuliskan not-not musiknya, maka lagu itu otomatis dilindungi oleh Hak Cipta).

Kembali lagi ke kasus Mendoan.
Dari faktanya, Pudji Wong merupakan pemegang Hak Merek “Mendoan” dan ruang lingkup perlindungannya adalah terbatas pada kelas 29. Sekedar mencoba supaya teman-teman bisa membedakan bagian mana yang termasuk lingkup Paten, yang mana lingkup Hak Cipta, dan yang mana lingkup Hak Mereknya, yuk kita coba masukkan kata-kata kunci di atas tadi.

Misalnya kita mengajukan permohonan Paten atas Mendoan, berarti yang dimintakan perlindungannya adalah proses pembuatan Mendoan itu sendiri. Mulai dari penggunaan tempe khusus, formula tertentu untuk lapisan kulitnya, cara menggorengnya, sampai pada cara pengemasannya. Tapi, apakah dalam proses pembuatan Mendoan ini ada unsur kebaruannya? kan jelas-jelas proses pembuatan Mendoan ini sudah diketahui turun-temurun dan sejauh ini sepertinya prosesnya masih sama ya 🙂
Jadi, si Mendoan ga mungkin mendapat perlindungan Paten. Yang artinya? Orang-orang yang mau memproduksi mendoan ya aman-aman aja, ga perlu minta izin dulu ke mas Pudji Wong. Karena bukan di situ perlindungan yang dia peroleh (dan bukan itu juga yang dia mintakan perlindungan 😊).

Kalo di lihat dari sisi Hak Cipta, logo yang dibuat mas Pudji seandainya bentuknya orisinil maka terlindungi oleh Hak Cipta.

Bahkan di lingkup Merek pun mas Pudji juga hanya memperoleh perlindungan di kelas 29 tadi. Artinya, Mas Pudji bisa memperjualbelikan produk-produk yang masuk dalam lingkup kelas 29 dengan menggunakan merek “Mendoan” (merek “Mendoan” hanya dapat dicantumkan pada produk-produk yang disebutkan dalam kelas 29). Kalo dia mau pake istilah “Mendoan” itu untuk jenis barang lain di luar kelas 29 bagaimana? ya boleh-boleh aja, tapi penggunaannya sendiri tidak ada perlindungan hukumnya (karena di luar kelas yang dia daftarkan).

Sekarang kita coba bahas sedikit mengenai rencana mas Pudji Wong untuk menyerahkan merek “Mendoan” kepada Pemerintah Kota Banyumas.

Ada dua cara yang bisa ditempuh: melalui pengalihan hak merek atau melalui lisensi. Bedanya? Kalo yang pertama mas Pudji Wong hak-haknya sama sekali putus alias dia sudah ga berhak lagi atas merek “Mendoan.” Cara mengalihkan hak merek setau saya seperti perjanjian/kontrak jual beli pada umumnya (sesuai dengan hukum perdata). Sementara untuk pilihan kedua, mas Pudji Wong tetap sebagai pemegang/pemilik merek Mendoan tersebut, tapi melalui perjanjian lisensi pemerintah kota Banyumas juga diperbolehkan untuk menggunakan merek Mendoan. Baik perubahan atas kepemilikan (akibat pengalihan hak merek) ataupun adanya perjanjian lisensi atas merek Mendoan ini wajib dilaporkan ke kantor DJKI.

Semoga sedikit cuap-cuap saya di sini bisa dipahami ya. Kalo mau tau lebih jelas tentang HKI teman-teman bisa klik di situs resmi DJKI atau situs WIPO.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s