Belajar Motret (lagi) Pt. 2: Dickens Festijn and Nature Sightseeing

“When words become unclear, I shall focus with photographs. When images become inadequate, I shall be content with silence.”
– Ansel Adams

Hellooo, jumpa lagi dengan postingan kedua edisi belajar motret hihi. Kali ini saya mencoba memanfaatkan momen yang kebetulan berlangsung pada saat itu. Tanggal 20 Desember lalu, di Drunen ada aktivitas yang tiap tahun selalu diadakan, yaitu Dickens Festijn. Terinspirasi dari kisah-kisah yang ditulis oleh Charles Dickens yang kental dengan nuansa natal nya, suasana di sekitar disulap menjadi suasana kota di Inggris yang ada pada abad ke-19. Para partisipan juga mengenakan kostum berdasarkan karakter dari cerita Dickens, seperti Scrooge, Oliver Twist, Mr. Pickwick, para orphans, dan para maids. Ada juga rombongan angsa, domba beserta anjing gembalanya, juga Santa beserta koets-nya. Pada masa itu juga digambarkan kemeriahan Christmas market dengan banyak stall yang menjual berbagai pernak-pernik khas natal seperti hadiah, makanan, minuman khas musim natal dan barang-barang lainnya.

Tahun ini adalah yang kesepuluh kalinya penyelenggaraan festival serupa di Drunen. Suami dan anak kami yang cowo ga suka dengan keramaian macam begini. Saya dan si meisje juga sebenernya biasa aja si, karena kebetulan tahun lalu juga sudah  pernah lihat jadi ga gimana-gimana banget lah. Apalagi konsep dan bahkan orang-orangnya juga tetep sama (kurang kreatif ya hihi), makanya pergi ke sana selain nganter mertua yang memang niat ke sana (nenek-nenek cari kesibukan :p) semata cuma mo nyoba nyari obyek yang kali aja bisa dipotret. Oh ya, sebelum kita keluar rumah si mas cowo pake drama nangis sesenggukan dulu dong hehe. Saya bilang ke dia kalo kita ke sana cuma sebentar aja, dan kalo mau anak-anak juga boleh coba-coba foto pake kamera gedenya. Akhirnya dia mau ikut juga (dan lumayan hepi karena memang ga lama kita stay di sananya =)).

Sebenernya lumayan banyak foto yang saya ambil di festival, walau pada saat kita di sana parade nya belum mulai. Cuma banyak yang ga fokus haha, karena saya ceritanya cuma bawa tele doang dong. Makanya cuma beberapa foto dari festival yang lumayan bagus dan cukup menarik aja yang saya attach disini.

DSC_0639

anyone know what character is he playing?

DSC_0640

the nose looks scary!

DSC_0668

the geese are waiting for their turn to walk on the parade =)

DSC_0672

the “queen” among the maids and the soldiers.

DSC_0647

what a jambul! almost like “jambul khatulistiwa”-nya Syahrini yes hehe

DSC_0653

this photo was taken by my son. not that bad eh 😉

Sebelum mutusin untuk ke festival memang kami agak labil hehe, mau nyari obyek motret di hutan dekat rumah (kurang lebih 6 menit nyetir) atau ke festival. Berhubung balik dari situ saya masih kurang puas dengan acara motret-motret-nya, kami putuskan untuk pergi juga lah ke hutan. Juragan mas cilik ga mau ikut, sementara si eneng mau ikut (dia memang lebih aktif dari abangnya, khususnya untuk urusan yang berhubungan dengan fisik =)). Untuk peralatan lenong kamera semua kami bawa. Cuma sayang karena kami ke sana sudah agak sore, cahaya yang kami dapat ga gitu banyak. Mana di hutan, jadilah proses pengambilan foto nya jauh lebih susahhh.

Rencana awal adalah kembali mencoba lensa makro. Saya pikir suasana hutan bakalan seperti waktu kami jalan ke sana pas musim gugur, ternyata oh ternyata suasananya berbedaaa. Para jejamuran liar sudah jarang bahkan hampir semua hilang, warna warni daun di pepohonan juga udah ga ada. Beruntung ada beberapa obyek yang lumayan menarik buat saya, seperti lumut bintang di bawah ini. Jarang-jarang musim dingin di hutan masih ada lumut yang seger begini loh. Juga ada beberapa pucuk daun yang mulai bersemi loh..sedih ya kalo mikir efek perubahan iklim global yang bikin ekosistem jadi agak anomali.

Anyway, di bawah adalah beberapa foto yang berhasil saya ambil dari hutan. Sebagian (kecil) saya menggunakan lensa makro, sebagian lainnya saya menggunakan lensa 50 mm – favorit saya untuk bikin foto dengan cahaya ala kadarnya 🙂

DSC_0684

Sterrenjesmos or Polytrichum commune (Common Haircap Moss). Di hutan tempat kami melintas masih lumayan banyak ditemui lumut jenis ini.

DSC_0692

nyoba lagi dengan lensa makro. ini kalo liat cahaya aslinya yang hampir bleh lumayan hepi lah hasil jepretannya masih bisa keliatan dikiiit ujung bunganya hihi

DSC_0707

untuk foto ini saya menggunakan lensa 50 mm (udah bete nyoba pake makro yang lumayan cuma sebiji dua biji dari berpuluh kali percobaan haaha). lumayan banyak dahan dari pohon yang tumbang dan melapuk seperti ini di sekitar hutan.

DSC_0704

we found sort of hair on the ground. we didn’t know what it was but my husband almost sure that it’s a deer hair :p

DSC_0711

for this photo and the next one, I tried to play with the depth of the aperture and focus. I use 50 mm lens for both photos.

DSC_0710

DSC_0738

This object look interesting for me, especially the green moss covering the top part of the tree branch. too bad at that time I had a very shaky hand (and a very low light), that’s why the result was a bit fuzzy 😦

DSC_0721

On the way back, I found this ladybug perched on the flower. Superb object for trying the macro lens (again)! 😉 after many times trying this was the best result I could get. still laaameee btw :s

DSC_0745

this photo was the only proper result I could get using tele lens. So freakin difficult to take (decent) photo(s) in the forest with a minimum lights and shaky hands 😦

Sehari sebelum kami berangkat ke London, kami sempat makan siang bareng di tempat oma (mama mertua) dan stay di sana sampe sore. Saya juga sempat bikin beberapa foto dari front yard-nya mama mertua. Tapi yah namanya juga winter ya, bunganya jadi agak begitulah..masih untung beberapa ada beberapa yang masih mekar walau ga banyak hehe.

Tiga foto pertama saya menggunakan extension tube 12 mm dan lensa 50 mm. Sementara dua foto berikutnya saya menggunakan lensa 50 mm tanpa extension tube.

DSC_0842

DSC_0846

DSC_0844

DSC_0857

DSC_0861

Btw, intermezzo dikit sebelum mengakhiri postingan kali ini.

Jadi sebelum kami meninggalkan hutan, si meisje sempet minta difoto dengan ranting yang dia comot dari hutan hehe..nah, sekalian aja saya akhiri postingan ini dengan foto favorit saya di bawah ini yaaa. fotonya diambil menggunakan lensa 50 mm dengan aperture saya pasang di f2.8 (ato 2.2 ya? – maap lupis :p).

Okeee, sampai ketemu di posting berikutnya!

DSC_0741

ps. semua foto adalah dokumentasi pribadi. maaf saya lagi males bikin watermark di foto-fotonya hehe, semoga ga akan disalahgunakan ya 🙂

Greetings from London

“If you’re curious, London’s an amazing place.” – David Bailey.

image

Hi everyone. Just a short note here, this is the last evening for us in London and tomorrow we will go back home to Netherlands. It has been a great holiday (and tiring). The kids cannot wait to see their room 🙂 (my husband and I also 😉). It’s true what they say, there’s no place like home.

Sorry for only write a bit here, however I am going to write more about London in a separate post soon.

Meanwhile, I wish you all an enjoyable holiday and also a great new year ahead!

ps. going to London reminds me of the changcuter’s song, Hijrah ke London hehe. Put the link here also so that you know which song I meant.

X

Mengurus UK Entry Permit (For Family of EEA Citizen)

Berhubung masih lumayan fresh, saya mau sharing pengalaman saya awal Desember kemarin mengurus entry permit ke Inggris (UK) bagi keluarga (yang berstatus sebagai warga negara Non-Uni Eropa) dari warga negara anggota EEA (European Economy Area).

Yang termasuk ke dalam EEA adalah negara-negara anggota European Union (28 negara), dan tiga negara yang tergabung dalam European Free Trade Association/EFTA (Islandia, Liechtenstein dan Norwegia). Sementara Swiss walaupun tidak tergabung dalam EEA, warga negaranya (Swiss Nationals) memiliki hak yang sama dengan warga negara anggota EEA.

image taken from http://www.dw.com

Sebenarnya peraturan ini agak aneh menurut saya, mengingat adanya aturan tentang freedom of movement yang merupakan salah satu prinsip dasar EU. Tapi bisa juga dilihat dari gambar di atas, kalo Irlandia dan Inggris tidak ambil bagian dalam perjanjian Schengen. Saya nemu artikel menarik dari BBC yang menjelaskan secara singkat tentang Schengen dan free movement. Selengkapnya bisa klik link ini.

Memang untuk warga negara EU-nya (atau lebih luas lagi, EEA plus Swiss) sendiri bebas keluar masuk wilayah Inggris (termasuk pindah dan kerja di sana tanpa perlu mengurus working permit lagi), tapi lain halnya dengan pasangan (atau anak atau orang tua) dari warga negara EEA dan Swiss yang statusnya bukan warga negara mereka (Non-EEA or Swiss citizen). Untuk bisa melewati perbatasan Inggris, mereka perlu ijin masuk (entry permit) yang sebelumnya sudah disetujui dan diberikan oleh pemerintah Inggris. Entry Permit ini pada dasarnya hampir sama dengan visa, hanya beberapa hal aja yang berbeda, plus kita tidak perlu bayar apa-apa alias gratis. Ribetnya? sama juga kaya ngurus visa hehe, walaupun sedikit lebih longgar dari sisi kelengkapan dokumen yang diperlukan. Jadi bagi mereka yang mungkin perlu mengurus visa UK juga bisa lihat prosesnya di sini.

O ya, kita bisa mengurus entry permit ini sendiri tanpa perlu bantuan agen ya. Lamanya juga ga begitu jauh beda (dengan kalo diurusin agen). Jadi kalo masih ada jarak waktu yang lumayan (kita bisa apply 3 bulan sebelum waktu keberangkatan) saya saranin untuk urus sendiri aja. Lumayan juga untuk nambah pengetahuan dan pengalaman 🙂

Lamanya pengurusan mulai dari pertama kali aplikasi di-submit secara online hingga visa/entry permit sampai di tangan adalah sekitar 2-3 minggu. Lumayan lama ya hehe. Di tahun 2012 saya juga pernah mengurus visa UK, bukan di Belanda tapi di Jakarta. Seingat saya proses pengurusannya lebih cepat, tapi mungkin juga karena keperluannya untuk urusan kantor pemerintahan. Fyi, pengajuan visa/entry permit UK bukan di Kedutaan atau Konsulat Inggris ya, melainkan di agen tertentu (sebagian besar VFS Global) yang ditunjuk secara khusus oleh pemerintah Inggris. Untuk Indonesia, proses pengurusan visa dikelola oleh VFS Global – Indonesia, sementara di Belanda dikelola oleh TLS Contact. Intinya mereka bertindak sebagai perantara antara pemerintah Inggris dan para pemohon.

Saya sempet baca di website resmi mereka, kalo biaya untuk standard visit visa adalah £85. Sekali lagi, kalo untuk entry permit kita ga perlu bayar sama sekali alias gratis ya.

Pertama-tama, yang harus kita lakukan adalah membuat akun (registrasi) dan mengisi aplikasi secara online di website UK Visas & Immigration. Walaupun per 2014 mereka hanya menerima aplikasi secara online, tapi mereka masih menyediakan link untuk form aplikasi yang bisa kita print di website-nya (you can click this link). Ini lumayan buat corat-coret kalo kita masih belum yakin dan mau tau apa aja yang harus kita isi di aplikasi online mereka. Juga untuk pedoman pengisiannya agak lebih jelas daripada yang di online. Fyi, dari satu akun yang sama, kita bisa membuat aplikasi untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Informasi yang harus kita berikan di sini lumayan banyak, mulai dari data pribadi seperti nama lengkap tanggal lahir alamat, riwayat pekerjaan, perjalanan luar negeri yang pernah dilakukan, data lengkap warga negara EEA (kayanya kalo untuk visa ga ada bagian ini), asuransi, estimasi biaya perjalanan dan jumlah uang yang akan kita bawa sampai apa saja yang akan kita lakukan selama di Inggris.

Satu hal yang buat saya agak ganggu adalah pertanyaan mereka yang terlalu detail tentang hubungan WN Non-EEA (saya) dengan WN EEA nya (suami saya). Mereka sampai nanya kapan pertama kali ketemu (HARUS diisi sampai tanggal-tanggalnya), bagaimana kita berkomunikasi, status kami sebelumnya, daaan kapan terakhir kita ketemu lohhh (peres ya mau tau banget semuanya wkwk). Buat saya ini terlalu personal dan ga berhubungan dengan apakah kita eligible untuk diberikan ijin atau tidak. Tapi kalo ga diisi kita ga bisa submit aplikasi kita karena dianggap belum lengkap (sigh). Jadinya walaupun berat hati saya isi juga seluruh data yang diminta.

Setelah selesai mengisi aplikasi (dan menandatangani secara digital), langkah selanjutnya adalah menentukan jadwal wawancara dan pengambilan data biometrik di lokasi yang sudah ditentukan. Untuk Entry Permit kemarin, saya melakukan wawancara dan biometrik di UK Visa Application Center di Amsterdam Sloterdijk (alamat lengkapnya: Regus Amsterdam Sloterdijk, Teleport Towers, Kingsfordweg 151 1043GR Amsterdam). Kalo di Jakarta, dulu pas saya mengurus visa untuk urusan kantor VFS Global masih berlokasi di Plaza Asia – Sudirman Jakarta. Sekarang mereka sudah pindah ke lokasi yang menurut saya lebih nyaman (kerasa lebih luas dan lega, dan kalo perlu nunggu lama bisa ngopi atau makan di lokasi yang sama hehe) yaitu di Kuningan City (mal persis disamping the Manhattan Hotel). Oh ya, jangan lupa di-print form konfirmasi jadwal wawancara yang dikirim via email ya (bisa juga diakses dari page kita).

Sekarang, dokumen-dokumen yang perlu kita persiapkan:

  • paspor (yang pada saat kita apply masih memiliki masa berlaku minimal 6 bulan dari tanggal expired)
  • pasfoto berwarna terbaru (yang dibuat paling lama satu bulan dari saat mendaftar) ukuran 45 mm x 35 mm. Jangan lupa latar belakangnya berwarna terang (biasanya putih) dan komposisinya sesuai dengan aturan ini ya.
  • fotocopy resident permit (verblijf) kita di negara anggota EEA atau Swiss.
  • bukti hubungan kita dengan warga negara EEA atau Swiss yang bersangkutan, misalnya marriage certificate, civil partnership certificate, birth certificate atau bukti lainnya (apabila belum menikah) yang menyatakan kalo keduanya sudah tinggal bersama selama 2 tahun. One important note on this point: semua sertifikat yang dipergunakan sebagai bukti harus dalam Bahasa Inggris atau Welsh (di website disebutkan in English and Welsh). Jadi kalo sertifikat atau buktinya dalam bahasa lain harus diterjemahkan secara resmi terlebih dahulu ya.
  • bukti identitas atau paspor dari warga negara EEA atau Swiss yang bersangkutan.
  • paspor-paspor kita sebelumnya (apabila ada), terutama yang ada label visa UK yang pernah diberikan sebelumnya (apabila pernah ke UK).
  • di website mereka disebutkan kalo juga harus dilampirkan bukti “ketergantungan (dependency)” kalo kita adalah tanggungan (dependent) dari warga negara EEA atau Swiss bersangkutan.
  • formulir aplikasi online yang sudah di-print, dibubuhi tanggal aplikasi dan tanda tangan.

Saya tidak melampirkan sama sekali bukti finansial saya (baik rekening tabungan saya dan suami ataupun slip gaji suami, soalnya dia kan ga punya slip gaji hehe), juga tidak menyertakan itinerary perjalanan saya (bukti tiket pesawat atau kereta, ataupun tempat saya akan menginap selama di Inggris – walaupun di aplikasi tetep ditanya juga hehe).

Pada saat tiba jadwal wawancara, pastikan jangan telat datang ya! usahakan sudah tiba di lokasi wawancara minimal 15 menit sebelumnya. Kalo telat kita ga bisa proses aplikasi kita pada hari itu dan harus bikin janji lagi soalnya, dan biasanya jadwal paling cepat yang bisa kita pilih sekitar seminggu setelah har itu (atau bahkan lebih kalo kondisinya kaya di Indonesia ya). Proses wawancara dan pengambilan data biometrik berjalan cukup efektif dan efisien. Petugas akan memanggil para pemohon sesuai jadwal appointment secara sekaligus (semacam dirangkum untuk pemohon yang memilih waktu yang sama atau satu jam sebelum dan setelah – tergantung jumlah pemohon pada saat itu kayanya). Kemudian petugas langsung memproses dokumen pemohon satu-persatu, sambil kita diminta untuk mengisi formulir yang akan dipakai untuk mengembalika paspor dan dokumen pendukung pemohon. Pada dasarnya wawancara tidak dilakukan sama sekali si, petugas yang akan mengambil data biometrik kita juga bertindak sebagai pewawancara. Untuk data biometrik, pertama kita harus mengucapkan nama kita di depan kamera, kemudian sidik jari seluruh jari tangan, dan terakhir foto wajah (foto ini nantinya yang akan terpampang di label entry permit ya, so make sure hari itu jangan begitu acak-acakan ya! hehe).

Setelah wawancara dan  biometrik, posisi kita adalah menunggu. Petugas biometrik akan menginfokan ke kita kalo hasilnya akan dikirim paling cepat dua minggu dan paling lambat tiga minggu dari saat itu. Dan itu memang benar adanya. Kalo ngarep hasilnya bisa selesai lebih cepat siap-siap kecewa deh hehe. Saya kemarin wawancara tanggal 1 Desember, dan dokumen sampai di rumah tanggal 16 Desember (paspor yang sudah ditempel entry permit beserta dokumen yang saya lampirkan waktu itu – sertifikat menikah (versi multilingual) dan paspor dinas dengan visa UK didalamnya).

Masa berlaku entry permit adalah 6 bulan (dari tanggal di-issued) dan bisa dipergunakan berulang kali (multiple entry) sampai masa berlakunya habis.

Jadi begitulah proses mengurus si entry permit ini.Mudah-mudahan postingan ini bisa sedikit membantu. As I said, kayanya untuk permohonan visa dokumen yang diperlukan ga begitu jauh beda, cuma memang ada beberapa dokumen tambahan lain yang harus dilampirkan sepertinya. Mungkin untuk lebih lengkapnya bisa dicek di link ini.

sekarang saya mau urus suami dulu ya, kasian lagi flu berat dia =).

Good evening peeps!

Photographing Heusden (Belajar Motret Pt. 1)

il_fullxfull-637433632_ljxp

picture taken from www.etsy.com

“In a world and a life that moves so fast, photography just makes the sound go out and it makes you stop and take a pause. Photography calms me.”
– Drew Barrymore

Weekend kemarin saya dan suami berkunjung ke kota Heusden. Tujuan utama kami adalah agar saya bisa sedikit belajar fotografi (baca: motret :p). Cuma sharing knowledge aja sebenernya si dari suami ke saya, karena kebetulan ternyata dia lumayan berpengalaman megang kamera pro (at least daripada saya :p) .

Saya dari dulu memang suka dengan yang namanya fotografi (motret deh hehe, ga enak ngomong fotografi terlalu canggih kesannya :D). Tapi sampe sekarang (well, minggu lalu) belum sempet kesampaian untuk punya kamera pro (DSLR) yang bisa captured scene lebih mantap. Makanya setiap saya beli handphone yang pertama dilihat adalah kualitas kamera nya hehe. Dulu pernah pake Sony Ericsson yang kameranya 8mp (seri C905 kalo ga salah, ini udah keren banget deh jaman dulu hihi). Sekarang saya juga masih setia pake hp keluaran Sony tapi yang seri Xperia Z (Sony-nya udah cerai sama Ericsson ya hehe).

Beberapa waktu lalu saya bilang ke suami kalo saya mau beli kamera DSLR karna saya mau belajar bikin foto yang bagus. Eh ternyata suami ngomong kalo dia (well, his family company si sebenernya) punya kamera DSLR lengkap dengan semua aksesorisnya. Memang kameranya itu tipe lama, tapi masih bagus kalo untuk belajar motret aja. Kamera yang mereka punya adalah Nikon seri D70. Perusahaan beli kamera untuk kepentingan dokumentasi mesin-mesin produksi mereka. Kamera ini dibeli di tahun 2003 (pas seri ini baru aja di-launching). Gila ya! udah lebih dari 10 tahun ternyata. Bahkan suami bilang pas beli mata uang yang dipake masih Gulden hahaha (eh…2003 masih pake Gulden kan ya? seinget saya Euro mulai diperkenalkan per tahun 2002. Tapi bisa juga suami saya yang pelupis hehehe. Anyway).

Kondisi kameranya itu masih bagus loh, mungkin juga karena jarang dipake. Memang untuk pixelnya ga seberapa kalo dibandingkan dengan kamera jaman sekarang (maksimal 6 sekian megapixel – lah kamera di hp saya malahan lebih besar, 20 megapixel), tapi ternyata hasil jepretannya bagus juga kok. Thanks to the (big) lens. Nikon D70 ini di jamannya termasuk salah satu kamera DSLR yang lumayan affordable (dibandingkan dengan kamera pro lainnya yang waktu itu harganya masih selangittt) dengan spesifikasi yang cukup oke. Waktu beli, kameranya itu satu set lengkap beserta lensa 50mm, tele lens, macro lens, flash, dan tripod dari kayu. komplit banget kan! saya hepi dong ngedengernya hehe. Akhirnya punya kesempatan untuk belajar moto beneran deh. Makanya semangat nyari obyek yang masih lumayan gampang untuk difoto hihi.

Oh iya, a glimpse of info about Heusden (I write them in English, who knows maybe someone who doesn’t speak Bahasa would also love to know it :))

Heusden is a fortress town in Heusden Municipality (Gemeente Heusden) located on Bergsche Maas (a canal that was constructed in 1904 to be a branch of the Maas River). The town is surprisingly (for me) a worth-seeing. It has many historic places and nice old buildings.

But don’t get confused with Oudheusden (Old Heusden). They are two different cities, although close to each other (and both in the same Municipality). It’s a bit strange but actually the Old Heusden is the newer one than Heusden (at least from the look). The surrounding in Old Heusden is more modern compare to Heusden. They have built new houses there. While in Heusden, the surrounding is more interesting – more appropriate if they called Heusden as Old Heusden because they look old =). 

keychain disney

foto pertama using Nikon D70 (dari beberapa kali percobaan yang ‘busuk’ hasilnya hahhaha). A bit low on the light, since I took it indoor – and in the evening

orchids

testing foto kedua. kebetulan anggrek di rumah masih pada berbunga. foto diambil siang hari. exposure cahayanya masih kurang bagus, tapi lumayan bisa fokus ke bunganya hehe.

Pada saat kami ke Heusden, cuaca sedang mendung mendayu. Makanya pencahayaan di foto agak kurang dan terlihat gloomy. Sempet hujan rintik tapi Alhamdulillah ga makin deras. Karena memang niat pengen nyoba kamera beserta kelengkapannya, makanya kami tetep jalan terus hehehe. Dan di bawah ini adalah beberapa hasilnya.

Heusden1

first walk from the parking place. I used the default lens, and picked “p” for the photo program for almost all my photos (hubby said that’s a bit better than picking “auto” program :p)

Heusden2

this fort-look building is actually a glass design store.

Heusden3

This is a part of Heusden Stadshaven. Took the photo with the default lens.

Tele1

I used the tele lens to take this picture (almost maximum distance). I am glad that my hands are steady enough to make it less fuzzy 😉

Tele2

I used tele lens as well for this photo. I think I should’ve taken the object a bit closer.

Tele3

I also captured this one with tele lens. I didn’t realise until I saw on the result that the old guy on the boat was smiling =)

Tele4

Also taken with tele lens. Although the exposure was not perfect but I like this one. I didn’t know that I even could see the bird’s feet underwater!

Tele5

the last one taken with tele lens. my focus was on the blue flag in front. this photo also makes me happy, it looks alive =)

50mm2

this photo was taken using 50mm lens. love it!

50mm3

also taken with 50mm lens. hubby said when you use 50mm, you will get a result just like what you see with your eyes.

50mm4

foto ini juga diambil menggunakan lensa 50 mm. yang agak susah dari lensa 50mm adalah jangkauan fotonya yang cukup terbatas. 

50mm5

also taken with 50mm lens. I think the idea was quite good, but maybe if it was taken by a professional the result would be so much better ya :p

Heusden4

yang ini kembali lagi ke default lens. walaupun jangkauannya lebih luas tapi di sini minim cahaya jadi agak susah dapet exposure yang pas (makanya kelihatan lebih gelap).

Heusden5

foto ini sedikit lebih terang, thanks to the green grass that popped out from the dark hehe

Kami ga sempat nyoba lensa makro di Heusden karena sudah keburu hujan juga. Makanya mumpung tadi siang ada sedikit cahaya saya coba-coba aja sendiri motret pake lensa makro hehe. Hasilnya? bisa dilihat di bawah ini. Kebetulan bunga anggrek di rumah masih mekar dengan ceria, jadi bisa deh dijadikan sebagai obyek foto saya =)

DSC_0596

using macro lens is heel erg moeilijk! terutama karena kamera saya kalo ga nemu fokus ga bisa dipencet saya harus tahan-tahan supaya ga goyang dan dapet hasil yang lumayan tajam kaya foto ini. tapi pencahayaannya di sini kurang bagus ya 😦

DSC_0606.JPG

foto terakhir untuk postingan kali ini (juga percobaan terakhir hari ini hehe). masih harus ngulik lagi supaya hasil makro nya lebih tajam dan kece. yang ini lumayan ok untuk lighting-nya, tapi masih ga gitu pas fokusnya.

Emang bener apa yang dikatakan bapak Martin Parr, photography is the simplest thing in the world, but it is incredibly complicated to make it really work.

Saya masih harus terus belajar dan terus motret supaya hasil foto saya akan semakin tajam dan fokus. Jangan bosen kalo ke depannya saya posting banyak foto ya 🙂 *sambil mikir gimana ngatasin kendala kapasitas storage di WP yang terbatas wkwk*

December, Winter, Holland Tradition, Holiday!

“How did it get so late so soon? Its night before its afternoon. December is here before its June. My goodnes how the time has flewn. How did it get so late so soon?”
– Dr. Seuss

Christmas-Desktop-Wallpaper

Agak terlambat memang si ya untuk nulis ini, but I will do it anyway. Better late than not writing at all kaan :p

Why do I wanna write this? because I feel that December is quite special. No no, there are no special days per se on this month, but still. It’s just special – for no reason hehe. Mungkin karena Desember adalah bulan terakhir dalam satu tahun kali ya.

Kebalikan dari bagian selatan bumi dimana Desember adalah bulan pertama dari musim panas dan siang hari lebih lama daripada malam, di belahan dunia ini siang hari lebih singkat dari malam. The weather is colder (meskipun minggu lalu kita masih dikasih a “warm” winterhere in Holland for the past week we still have 10 degrees of Celsius outside! It’s the warmest November/December since long years ago) and wetter. And, sometimes when you’re lucky then you will get the chance to experience the snow =)

December also regarded as a holiday season. Di sini, walaupun tidak sepanjang liburan musim panas, anak-anak (yang sudah sekolah) dan para pekerja (hampir sebagian besar) mendapatkan jatah liburan musim dingin (yang biasanya dimulai pada minggu ketiga Desember dan berakhir di minggu pertama Januari)Enak ya!

Selain itu, tentu saja di bulan Desember suasana Natal mulai berasa di mana-mana. I don’t celebrate Christmas, but that doesn’t make me not liking the festive =) It’s a season to be merry, that’s what they said. And I couldn’t agree more to that.

In relation to that, saya mau cerita tentang perayaan Sinterklaas yang menjadi salah satu tradisi yang dinanti-nantikan (terutama anak-anak) di Belanda (dan di Belgia, serta di beberapa negara koloni Belanda). Perayaannya sendiri hampir sama dengan Christmas sebenernya, tapi dengan sentuhan yang sedikit berbeda. Kalo di negara lain perayaan Christmas (in Dutch it is called “Kerst”) lebih meriah pada tanggal 25 Desember, sementara di Belanda Sinterklaas yang dirayakan setiap tanggal 6 Desember (perayaannya sendiri sudah dimulai sejak tanggal 5 Desember di malam hari – they called it as “Pakjesavond) mungkin bisa dikatakan lebih “seru”. Untuk tanggal 25 Desember umat Kristiani di sini tetap merayakan Natal/Kerst, tapi perayaannya sendiri lebih pada sisi religiusnya.

anp-4157272

Perayaan Sinterklaas biasanya sudah dimulai kurang lebih dari tiga minggu sebelumnya (sekitar pertengahan November). Diceritakan kalo Sinterklaas melakukan perjalanan dari Spanyol untuk berkunjung ke Belanda dengan menggunakan kapal uap (steam boat – stoomboot). Sinterklaas biasanya ditemani dengan asistennya, para piet hitam (zwarte pieten). Sinterklaas juga membawa satu buku besar berwarna merah, disebut “the book of Sinterklaas“. Isi buku tersebut adalah daftar anak-anak apakah mereka telah berbuat baik atau nakal selama setahun terakhir.

Nah, bagaimana si sebenernya sejarah Sinterklaas ini?

Kalo mau browse lumayan banyak cerita yang bisa kita temuin (in English and in Dutch). Tradisi Sinterklaas di Belanda sudah dimulai sejak abad ke-19. Ada beberapa yang menyebutkan kalo Sinterklaas (Saint Nicholas/Sint-Nicolaas) ini adalah “cikal bakal” atau the source of popular icon of Christmas icon Santa Claus. Ada juga yang menyebutkan kalo Sinterklaas dan Santa Claus adalah sama, tapi waktu perayaannya saja yang berbeda. Salah satu sumber menyebutkan kalo seorang guru di Amsterdam bernama Jan Schenkman berpengaruh besar bagaimana Sinterklaas dirayakan di Belanda sekarang ini (melalui buku hasil karyanya yang membahas tentang Sinterklaas).

Eh tapi penampilan mereka berdua cukup berbeda ya. Walaupun Sinterklaas juga digambarkan berambut putih, memiliki kumis dan jenggot putih lebat dan panjang (dan bergelombang), tapi figur orangnya sendiri cukup berbeda satu sama lainnya. Kalo Santa Claus (di sini anak-anak manggil Santa Claus askerstman“) difigurkan dengan perut “besar”, sementara Sinterklaas figurnya cukup slender. Selain itu, kostum yang dikenakan juga berbeda. Kostum Sinterklaas lebih mirip dengan kostum para Catholic Bishop.

Dari sisi history yang lumayan serius, diceritakan kalo Sinterklaas (Saint Nicholas) adalah seorang Uskup (Bishop) yang cukup disegani di gereja Katolik. Beliau hidup di abad ke-4 dan tinggal di satu kota bernama Myra (sekarang ini Turki). Salah satu cerita kebaikan yang pernah dilakukan oleh Sinterklaas adalah tentang penyelamatan tiga gadis miskin dari prostitusi.

Pada jaman tersebut keluarga dari seorang gadis harus membayar kepada seorang pria untuk dapat dinikahi (kaya di Padang ya hihi). Kalo si gadis tidak mampu membayar, maka dia akan dijual untuk prostitusi. Bishop Nicolaas mendengar masalah ini dan kemudian secara diam-diam pada satu malam beliau memberikan uang yang beliau wariskan dari orang tuanya. Di beberapa versi disebutkan kalo sang Uskup melempar uang tersebut ke dalam sepatu para gadis itu. Sementara di versi lain uang tersebut diberikan di dalam dompet yang kemudian dimasukkan ke dalam sepatu mereka. Karena cerita inilah makanya ada kebiasaan dari Sinterklaas untuk melempar permen atau coklat berbentuk uang.

Saya baca dari beberapa sumber kalo perayaan Sint Nicolaas (Saint Nicholas) yang diperingati setiap tanggal 6 Desember adalah bertepatan dengan hari ulang tahun beliau. Tapi ada juga yang mengatakan kalo tanggal 6 Desember adalah tanggal wafatnya.

Biasanya setelah Sinterklaas tiba di Belanda, di kota-kota akan ada intocht-Sinterklaas (karnaval Sinterklaas). Sinterklaas (biasanya dengan mengendarai kuda putih atau kereta kuda/koets) beserta para piet hitamnya akan berkeliling dan para Pietnya akan membagi-bagikan “pepernoten/kruidnoten” dan permen ke anak-anak kecil. Dan sejak Sinterklaas tiba di Belanda, anak-anak akan memulai tradisi Schoen Zetten.

image-5461763

Secara harfiah schoen zetten berarti menaruh/meletakkan (salah satu) sepatu. Jadi sebelum anak-anak tidur, mereka akan menaruh salah satu sepatunya di depan pintu (atau di depan perapian), fill the shoe with something in (usually their own drawings or other items for Sinterklaas’ horse like carrots, hay, or sugar cubes), dan menyanyikan lagu Sinterklaas (anak-anak kami biasanya menyanyikan lagu Sinterklaas Kapoentje) agar Sinterklaas dan Pietnya bisa mendengar dan akan memasukkan small present (or some sweets) in change to what they have prepared for the Sinterklaas (and the horse) ke dalam sepatu mereka =)

Tradisi ini disebutkan sudah ada sejak abad ke-15, walaupun dengan kondisi yang berbeda. Dulu, pada tanggal 5 Desember malam anak-anak yang kurang beruntung akan menaruh sepatu mereka di gereja, dan biasanya warga yang memiliki rejeki lebih akan memasukkan sesuatu ke dalam sepatu-sepatu tersebut. Keesokan harinya (6 Desember – bertepatan dengan perayaan Saint Nicholas) pihak gereja akan membagi donasi tersebut kepada mereka yang kekurangan.

Anak-anak di rumah (especially our daughter) lumayan bersemangat untuk tradisi satu ini. hampir setiap malam sebelum selesai beraktivitas pasti sibuk membuat sesuatu untuk dimasukkan ke dalam sepatu mereka. Whether it’s a drawing, atau hasil prakarya (gunting tempel), bahkan wortel dan air untuk sang kuda pernah disiapkan untuk Sinterklaas dan kudanya haha. Kami di rumah punya setumpuk hasil karya mereka, yang agak sayang kalo dibuang begitu aja. Di posting lain akan saya tunjukkan hasil karya schoen zetten mereka di tahun ini ya =)

Tanggal 5 Desember adalah hari terakhir Sinterklaas beserta para Piet Hitam berada di Belanda sebelum kembali ke Spanyol keesokan harinya. Pada malam hari sebelum kepulangannya Sinterklaas diceritakan membagi-bagikan kado kepada anak-anak yang sudah berperilaku baik (tidak nakal). Tradisi ini dinamakan Pakjes Avond. Orang dewasa juga kadang merayakannya dengan saling bertukar kado. Walaupun anak-anak menganggap kalo kado-kado yang mereka dapat dari Sinterklaas, tapi mereka akan memberikan cadeau list kepada orang tua (dan oma-opa) mereka (bahkan kadang ikut membeli bersama si kado itu hihi).

The Feast of Saint Nicholas

lukisan karya Jan Steen berjudul Het Sint-Nicolaasfeest. Saat ini lukisan tersebut berada di Rijksmuseum – Amsterdam. foto diambil dari http://www.wikipedia.org

Beberapa makanan khas (delicacies) yang biasanya cuma ada pada masa-masa perayaan Sinterklaas ini, few to mention are: chocolate letters, chocolate coins (and other sort of forms), marzipan, banketletters (pastry berbentuk huruf, kadang di tengah-tengahnya diisi dengan almond paste – yum!), pepernoten, kruidnoten, taaitaai, dan schuimpjes/meringues.

Nah, selain kemeriahan Sinterklaas ada juga beberapa hal lain yang saya suka dan baru ada di bulan Desember. Salah satu nya adalah Oliebollen.

5_oliebollen1

Literally means “balls of oil” atau bola-bola minyak, this Dutch type of doughnuts is a standard tradition to be served only during the end of the year. Yap, Oliebollen ini cuma ada setiap akhir tahun saja. Lewat dari New Year biasanya si Oliebollenkraam (stall/sort of the truck where you can get this balls) menghilang dari peredaran. Saya suka banget sama si gorengan ini. Kalo di Indonesia mungkin hampir seperti tape goreng ya, tapi tanpa rasa asem-asem greges dari si tape hehe. Bikinnya sebenernya gampang si, tapi lebih seru kalo beli aja di foodtrucknya. Oliebollen ini biasanya disajikan dengan taburan gula bubuk (semacam bertabur salju gitu ya hihi). Ada yang polos, ada juga yang dicampur dengan kismis. Saya si suka dua-duanya (pencinta kismis =)).

Satu lagi yang saya tunggu-tunggu di bulan ini: Winter Sale (hihi, woman!). ga sabar pengen beli coat incaran saya di Zara :p. Ga gitu mahal siiik tapi kalo beli pake diskon kan bisa mengurangi rasa bersalah saya yang hobinya numpuk coat di rumah.

1255228305_2_3_1

ini nih coat yang saya mau =) warna mosterd nya menggoda banget! picture taken from http://www.zara.com

Oh ya, for the upcoming holiday finally we decided to go to London. Kami sudah booked tiket beserta hotelnya, tapi belum urus untuk lain-lainnya, karena saya masih menunggu entry permit ke UK untuk disetujui. I hope it will be approved. But ada sedikit concern nih. Kami kan rencana berangkat tanggal 24 Desember, berarti tanggal 25 Desember nanti kami akan berada di London. Sementara liat info dari website resmi transportasi di London, pada tanggal 25 Desember nanti transportasi publik tidak akan beroperasi (wkwkwkk). Trus kita mau jalan-jalan naik apa dooong hahaha. Kepikirannya si paling ambil hop on hop off bus tour (e ciee, turis banget) aja yang salah satu providernya masih jalan (walau harganya tiga kali lipat dari yang biasa hiks).

Trus juga, tanggal 24, 25 dan 26 Desember sebagian besar tourist attracrions (terutama museum-museum mereka yang keren itu) tutup cin. Sedih ya, tapi untungnya (lagi) Tower of London dan London Eye tanggal 26 Desember buka hehe (yang terakhir adalah pesenan anak kami yg cewe, minta naik ini).

On my own note, there is one special thing in December that related with my ritual. Everyday as a moslem we are obliged to do the morning prayer (shubuh prayer). With the later sun rising time, I can do the prayer a bit later and have some more time to sleep in the morning :p
It can only happen in December in this Northern Hemisphere of the world hehe (well, also in November and January, but December still the best. Shubuh mostly begins at 6.30ish! Almost impossible to happen in Indonesia 😜).

Some Dutch Songs that Lingered (on My Mind)

As a non native Dutch speaker, sometimes it is hard for me to enjoy a song sang in Dutch. Either the words are too strange or just the melody doesn’t click to my ear. However, I found nowadays (thanks to music channel – ziggo xite on my TV wkwk) Dutch songs can also be interesting hahaha.

During my study in Tilburg, my Dutch friend – Bram – used to make a joke about a Dutch singer Marco Borsato. His name sounded like Italian eh, but he is a Dutch (well, I guess he also has some Italian blood) and he is VERY FAMOUS here. Back then when I did my Dutch Course in Jakarta, there was a competition there at the Netherlands Embassy where the theme was to cover one of the song of Marco Borsato. That means we must listen to Marco Borsato’s songs in the class. First impression: DISLIKE. hahaha. It sounds weeeird, too much melancholy. Actually he is not that bad (good even – for his genre I guess), but it’s just not for me.

When my friends and I went to the funeral of Bram’s mother in Middelburg, we also followed the ceremony in the church where the family shared their memories and they played some music in between. During the ceremony, they played this one song and I fell in love with it. The song is in English, but the singer is a Dutch. It’s just so fit with the situation there, and without realising the tears were just dropped from my eyes. I guess it was the first time I think that Dutch singers are not that bad after all =)

So, the first song I wanna share here is this song. The title is “Sweet Goodbyes”, by Krezip.

Then, after I moved here I got more often hearing Dutch songs. Of course as I said before, because of the TV Channel, as well as music played on the radio (my morning wake up alarm is radio on and every time I drive I have my radio on. I’m just too old school for this :)).

Well, some of them I like, some of them not. It’s normal I guess ya. Just a matter of taste also. Some songs that still lingering in my brain. Wanna hear them also?

First one, is Nielson’s song, “Sexy als Ik Dans”. The song has a catchy melody and makes you wanna dance. Even the King (King Willem) and his family couldn’t just stand and moved their body when they watched the singer singing the song live on Koningsdag =)

Another song by Nelson titled Hier met Jou is also quite nice, I think.

The next song is “Parijs” by Kenny B. I looove this song hahaha. Again, the music is so nice. This Surinamese blood singer was previously a soldier and a peace negotiator (according to Wikipedia NL). The song itself tells a story about someone who has a business trip in Paris and then met a nice lady. Well, sort of hahaha (the latter is just my interpretation).

And then there is this one song. It’s a weird one, also the video clip (absurd and the people in the video looked like got possessed or “high”). The title of the song is “Drank & Drugs” by Lil Kleine and Ronnie Flex. It’s a Dutch Rap. The lyrics are quite explicit an d rough, talking about alcohol and drugs (including MDMA/Ecstasy -XTC). The rhythm is just hit the right spot for me I guess (especially when the song was a total hit and played quite often). I am not going to put the video directly here, but if you wanna see it you can click this link =)

I still have another one to be posted here. So, during my Dutch Course class here in February-March this year I had to bring one Dutch song to be played in the class and then I have to share and re-telling to the class about the singer, the main idea of the song, and some questions related to it. I remembered this one particular song that usually sang by my friend’s dad. I didn’t know the exact title at that time but in Indonesia they call it as “Nasi Goreng” song. After I did some searching on Google, then I found out that the title was “Geef Mij Maar Nasi Goreng”, sang by Wieteke van Dort. She sang it in Keroncong style and thick Javanese accent. Btw, she is famous for her role as Tante Lien and had a kind of talkshow back then in National TV called “The Late Late Lien Show”. The main idea of the show centered at Tante Lien where she usually host a cozy gathering (called Koempoelan) at her home in which she and her guests snack on Indo food and reminisce about life back in the good old days (tempo doeloe) of the Dutch Indies Companies (Hindia – Belanda).

She was born in Surabaya and spent her childhood until teenager there. When she was thirteen years old, the Van Dort family went on vacation to The Netherlands. At that time Indonesia declared its Independence and began to nationalize the ownership of things owned by foreigners (Dutch mostly I think). Because of the Nationalization, the van Dort family lost everything they have back in Indonesia. They then decided to settled in Den Haag (The Hague).

As for the song, it pictured how she missed her living in Indonesia, especially for the food. It was so different in taste and varieties (the food here to her was “smaakloos” or tasteless – at least compared to Indonesian food). I guess it was also because at the time she wrote this song there were not that much Indonesian living here, thus not much options to get some Asian (Indonesian) food around. Luckily nowadays things are changed (to a good direction!) and now we can get Asian (Indonesian) food and ingredients easily in almost every city in Holland 🙂

So, I leave you all with the old song of Tante Lien here, the Nasi Goreng song. Enjoy! =)

 

ps. sorry I didn’t attach Armin or Tiesto here. Anyway, they didn’t have that many Dutch song I guess hehe.

“What’s in My Bag” Challenge

image

So, I have seen some of my friends doing this challenge and posted them on Path and Facebook. And when I got tagged by my friend, I was curious how this challenge first came up and then decided to browse it. Although I couldn’t find what I was looking for, but I found some interesting stuff about the challenge. Quite a lot of people also made videos about this challenge and posted them on youtube😁. I also found nice photos posted by people for this challenge comes on PurseBop.com. You can see them on this link.

As for me, although the tag was not on this site, I decided to just do it here =). The idea of this challenge is you have to tell what are things you usually bring in your bag (everyday). So here we go now.

First, about the bag itself.
I am now using coach the mini borough bag in pebbled leather (camel) for my everyday bag (and very occasionally when i need to bring more and bigger size stuff, then I will use my esprit city bag in ash brown). The reason why now I use a small bag is basically because of what my husband said about my habit with big bags. Before I use this bag, I always use big bags (my favorite one was the double-sided shopper bag in Tosca shade/Tosca-White Stripes that I bought in Batam). But then when I use big bags I tend to put everything in to carry along and then complained to my husband that my bag is too heavy😂. And, every time I wanted to get something from the bag, I need quite some time to find what i was looking for. That’s why my husband once commented “It’s almost like a sink hole, your bag ya, because everything that comes in you never know when you gonna find them again” :p

Anyway, now we check the stuff inside my bag 😁

Wallet – the most important thing in my bag. I just recently switched my guess wallet with MK passport size wallet. This wallet’s size is reasonably good: not too small, yet not too big.

And my wallet contains: some banknotes and coins (gladly😁), my driving license (rijbewijs), residence permit card (verblijf), OV Chipkart (I use the anonymous one), bank card, Insurance card, member card of Jeroen Bosch Ziekenhuis, KTP, ATM and credit cards issued by Indonesian bank, my passphoto, plasters, some receipts, subway loyalty card (full stamp!), and some zegels from emte (supermarket). Quite a lot eh 😉

Handphone – currently I am using Sony Xperia Z (and Z1 Compact). It is important for me to use 2 phones because I am still retaining my Indonesian cell number for practicallity, and of course the other one I use for NL number. Although they are not the latest or the hippest (trendiest!?) phone in this time but I have no complain for them. That’s why I am still using them 🙂

Car key and House key – these two keys are also important for me. Well, I didn’t bring the car key in my bag all the time, but today I was driving so that’s why the key was in my bag.

To make these keys special and can easily be grabbed, I have put a nice and cute key chain on each of them. For the car key I put the Lilo & Stitch key chain which I bought at Universal Studios in Singapore. Meanwhile for the house key I put Ratatouille key chain, bought at Disneyland Paris.

Sunglasses – this one particular item also sometimes being left in the car (or house). Its a vogue sunglasses, I bought it back in Indonesia. What I like about this sunnies is that it fits my face size perfectly (at least from my own point of view hehe). I have a small face (or narrow?) and its not that easy to find sunnies with small(er) size. usually when I buy sunnies they would be all over my face (excuse ha!). Anyway, I am just glad I found them. And it really helped me when driving with lots of lights from the sun coming against your eyes.

Miniature Nina Ricci “Nina” – this is one of my favorite perfumes. Actually the color of the original filling of the mini Nina was red. But I already finished them, and then I refill the miniature with the same fragrance (I also have the normal version at home). It’s just that apparently they didn’t give any color on the filling of the big one because they use a colored bottle 😂.

Blink contact lenses drop – although most of the time I (luckily) didn’t need to use this, but as a regular user of contact lenses I have to have some spare of this drop in my bag. It really helped me when my eyes got iritated.

Earphone – I use the earphone only when I am on the train (or bus – on a long ride), alone, to listen some music during the trip. The earphone is actually can be used as a handsfree (sometimes earphones don’t have microphone on it ya). I can’t really recall the brand, but I think it’s a Japan or Korea Brand. I bought the earphone at Best Electronic (?) at Senayan City – Jakarta. It’s not that cheap (and not that expensive), but it’s quite durable.

Toothpick – I always keep a toothpick for emergency in my bag! You never know when you gonna need them right? The toothpicks need to be individually packed so that it will be kept hygienic. That’s why sometime I took more than one toothpicks when I ate at a restaurant hahaha (typical Indo some people said – when it’s free, just take more)

Lipsticks (and lipgloss) – at this moment I am (still) in love with GC (Gerard Cosmetics US) lipstick and their hydra-matte, that’s why these two were laying in my bag. For lipstick I use “rodeo drive” and the hydra-matte I am using “serenity” shade. Usually, I also brought a lip gloss in my bag (I use blistex daily lip conditioner), but apparently today I left it on my dressing table.

Pen – just in case I need to fill in something hehe.
One interesting fact: I brought this pen from Japan back in 2009 on an intention to be given to my colleague as a souvenir. It came along in a package together with a postcard. However, I didn’t know why but it just didn’t give this one to anyone. It slipped and just had been staying in my closet for all these time. And when my mom and I cleaned up my closet then we found this. It is a very nice pen, and although it has been a while the pen is still in a good shape.

Sambal sachet 😝 – typical Indonesian, cannot live without sambal 😁 well sambal ABC is not my favorite sambal to be frank (it’s on my second rank deh hehehe). It’s sambal cap Belibis that I like most. Unfortunately the last time I went to Indonesia I couldn’t find the one in sachets (here in Holland is almost all the time not available, even the one in a bottle). Thus I just bought sambal ABC.

Coins – these I got as a change after I went shopping. Sometimes I just too lazy to put them in my wallet and just leave them like that in the bag.

Candy – small but also necessary 😊 I usually put strepsils (or chewing gums) in my bag, but this time I only have one piece of ricola original in the bag.

Paracetamol – also necessary for a person who cannot stand headache like me, especially when it occurred out of nowhere and you are in the middle of a trip. You cannot see it here since I forgot to take it out from the bag haha.

I guess that was it, all the stuff in my bag. Actually I still have some other things that usually also exist in my bag: pocket tissue and wet tissue, and freshcare (Indonesian would know this haha) . What a coincidence that at this moment I ran out both of the tissue and the freshcare. Thus I didn’t put them on the list.

And, now I challenge you (yes, you !) to tell me what’s in your everyday bag =)

Have a nice day people!