December, Winter, Holland Tradition, Holiday!

“How did it get so late so soon? Its night before its afternoon. December is here before its June. My goodnes how the time has flewn. How did it get so late so soon?”
– Dr. Seuss

Christmas-Desktop-Wallpaper

Agak terlambat memang si ya untuk nulis ini, but I will do it anyway. Better late than not writing at all kaan :p

Why do I wanna write this? because I feel that December is quite special. No no, there are no special days per se on this month, but still. It’s just special – for no reason hehe. Mungkin karena Desember adalah bulan terakhir dalam satu tahun kali ya.

Kebalikan dari bagian selatan bumi dimana Desember adalah bulan pertama dari musim panas dan siang hari lebih lama daripada malam, di belahan dunia ini siang hari lebih singkat dari malam. The weather is colder (meskipun minggu lalu kita masih dikasih a “warm” winterhere in Holland for the past week we still have 10 degrees of Celsius outside! It’s the warmest November/December since long years ago) and wetter. And, sometimes when you’re lucky then you will get the chance to experience the snow =)

December also regarded as a holiday season. Di sini, walaupun tidak sepanjang liburan musim panas, anak-anak (yang sudah sekolah) dan para pekerja (hampir sebagian besar) mendapatkan jatah liburan musim dingin (yang biasanya dimulai pada minggu ketiga Desember dan berakhir di minggu pertama Januari)Enak ya!

Selain itu, tentu saja di bulan Desember suasana Natal mulai berasa di mana-mana. I don’t celebrate Christmas, but that doesn’t make me not liking the festive =) It’s a season to be merry, that’s what they said. And I couldn’t agree more to that.

In relation to that, saya mau cerita tentang perayaan Sinterklaas yang menjadi salah satu tradisi yang dinanti-nantikan (terutama anak-anak) di Belanda (dan di Belgia, serta di beberapa negara koloni Belanda). Perayaannya sendiri hampir sama dengan Christmas sebenernya, tapi dengan sentuhan yang sedikit berbeda. Kalo di negara lain perayaan Christmas (in Dutch it is called “Kerst”) lebih meriah pada tanggal 25 Desember, sementara di Belanda Sinterklaas yang dirayakan setiap tanggal 6 Desember (perayaannya sendiri sudah dimulai sejak tanggal 5 Desember di malam hari – they called it as “Pakjesavond) mungkin bisa dikatakan lebih “seru”. Untuk tanggal 25 Desember umat Kristiani di sini tetap merayakan Natal/Kerst, tapi perayaannya sendiri lebih pada sisi religiusnya.

anp-4157272

Perayaan Sinterklaas biasanya sudah dimulai kurang lebih dari tiga minggu sebelumnya (sekitar pertengahan November). Diceritakan kalo Sinterklaas melakukan perjalanan dari Spanyol untuk berkunjung ke Belanda dengan menggunakan kapal uap (steam boat – stoomboot). Sinterklaas biasanya ditemani dengan asistennya, para piet hitam (zwarte pieten). Sinterklaas juga membawa satu buku besar berwarna merah, disebut “the book of Sinterklaas“. Isi buku tersebut adalah daftar anak-anak apakah mereka telah berbuat baik atau nakal selama setahun terakhir.

Nah, bagaimana si sebenernya sejarah Sinterklaas ini?

Kalo mau browse lumayan banyak cerita yang bisa kita temuin (in English and in Dutch). Tradisi Sinterklaas di Belanda sudah dimulai sejak abad ke-19. Ada beberapa yang menyebutkan kalo Sinterklaas (Saint Nicholas/Sint-Nicolaas) ini adalah “cikal bakal” atau the source of popular icon of Christmas icon Santa Claus. Ada juga yang menyebutkan kalo Sinterklaas dan Santa Claus adalah sama, tapi waktu perayaannya saja yang berbeda. Salah satu sumber menyebutkan kalo seorang guru di Amsterdam bernama Jan Schenkman berpengaruh besar bagaimana Sinterklaas dirayakan di Belanda sekarang ini (melalui buku hasil karyanya yang membahas tentang Sinterklaas).

Eh tapi penampilan mereka berdua cukup berbeda ya. Walaupun Sinterklaas juga digambarkan berambut putih, memiliki kumis dan jenggot putih lebat dan panjang (dan bergelombang), tapi figur orangnya sendiri cukup berbeda satu sama lainnya. Kalo Santa Claus (di sini anak-anak manggil Santa Claus askerstman“) difigurkan dengan perut “besar”, sementara Sinterklaas figurnya cukup slender. Selain itu, kostum yang dikenakan juga berbeda. Kostum Sinterklaas lebih mirip dengan kostum para Catholic Bishop.

Dari sisi history yang lumayan serius, diceritakan kalo Sinterklaas (Saint Nicholas) adalah seorang Uskup (Bishop) yang cukup disegani di gereja Katolik. Beliau hidup di abad ke-4 dan tinggal di satu kota bernama Myra (sekarang ini Turki). Salah satu cerita kebaikan yang pernah dilakukan oleh Sinterklaas adalah tentang penyelamatan tiga gadis miskin dari prostitusi.

Pada jaman tersebut keluarga dari seorang gadis harus membayar kepada seorang pria untuk dapat dinikahi (kaya di Padang ya hihi). Kalo si gadis tidak mampu membayar, maka dia akan dijual untuk prostitusi. Bishop Nicolaas mendengar masalah ini dan kemudian secara diam-diam pada satu malam beliau memberikan uang yang beliau wariskan dari orang tuanya. Di beberapa versi disebutkan kalo sang Uskup melempar uang tersebut ke dalam sepatu para gadis itu. Sementara di versi lain uang tersebut diberikan di dalam dompet yang kemudian dimasukkan ke dalam sepatu mereka. Karena cerita inilah makanya ada kebiasaan dari Sinterklaas untuk melempar permen atau coklat berbentuk uang.

Saya baca dari beberapa sumber kalo perayaan Sint Nicolaas (Saint Nicholas) yang diperingati setiap tanggal 6 Desember adalah bertepatan dengan hari ulang tahun beliau. Tapi ada juga yang mengatakan kalo tanggal 6 Desember adalah tanggal wafatnya.

Biasanya setelah Sinterklaas tiba di Belanda, di kota-kota akan ada intocht-Sinterklaas (karnaval Sinterklaas). Sinterklaas (biasanya dengan mengendarai kuda putih atau kereta kuda/koets) beserta para piet hitamnya akan berkeliling dan para Pietnya akan membagi-bagikan “pepernoten/kruidnoten” dan permen ke anak-anak kecil. Dan sejak Sinterklaas tiba di Belanda, anak-anak akan memulai tradisi Schoen Zetten.

image-5461763

Secara harfiah schoen zetten berarti menaruh/meletakkan (salah satu) sepatu. Jadi sebelum anak-anak tidur, mereka akan menaruh salah satu sepatunya di depan pintu (atau di depan perapian), fill the shoe with something in (usually their own drawings or other items for Sinterklaas’ horse like carrots, hay, or sugar cubes), dan menyanyikan lagu Sinterklaas (anak-anak kami biasanya menyanyikan lagu Sinterklaas Kapoentje) agar Sinterklaas dan Pietnya bisa mendengar dan akan memasukkan small present (or some sweets) in change to what they have prepared for the Sinterklaas (and the horse) ke dalam sepatu mereka =)

Tradisi ini disebutkan sudah ada sejak abad ke-15, walaupun dengan kondisi yang berbeda. Dulu, pada tanggal 5 Desember malam anak-anak yang kurang beruntung akan menaruh sepatu mereka di gereja, dan biasanya warga yang memiliki rejeki lebih akan memasukkan sesuatu ke dalam sepatu-sepatu tersebut. Keesokan harinya (6 Desember – bertepatan dengan perayaan Saint Nicholas) pihak gereja akan membagi donasi tersebut kepada mereka yang kekurangan.

Anak-anak di rumah (especially our daughter) lumayan bersemangat untuk tradisi satu ini. hampir setiap malam sebelum selesai beraktivitas pasti sibuk membuat sesuatu untuk dimasukkan ke dalam sepatu mereka. Whether it’s a drawing, atau hasil prakarya (gunting tempel), bahkan wortel dan air untuk sang kuda pernah disiapkan untuk Sinterklaas dan kudanya haha. Kami di rumah punya setumpuk hasil karya mereka, yang agak sayang kalo dibuang begitu aja. Di posting lain akan saya tunjukkan hasil karya schoen zetten mereka di tahun ini ya =)

Tanggal 5 Desember adalah hari terakhir Sinterklaas beserta para Piet Hitam berada di Belanda sebelum kembali ke Spanyol keesokan harinya. Pada malam hari sebelum kepulangannya Sinterklaas diceritakan membagi-bagikan kado kepada anak-anak yang sudah berperilaku baik (tidak nakal). Tradisi ini dinamakan Pakjes Avond. Orang dewasa juga kadang merayakannya dengan saling bertukar kado. Walaupun anak-anak menganggap kalo kado-kado yang mereka dapat dari Sinterklaas, tapi mereka akan memberikan cadeau list kepada orang tua (dan oma-opa) mereka (bahkan kadang ikut membeli bersama si kado itu hihi).

The Feast of Saint Nicholas

lukisan karya Jan Steen berjudul Het Sint-Nicolaasfeest. Saat ini lukisan tersebut berada di Rijksmuseum – Amsterdam. foto diambil dari http://www.wikipedia.org

Beberapa makanan khas (delicacies) yang biasanya cuma ada pada masa-masa perayaan Sinterklaas ini, few to mention are: chocolate letters, chocolate coins (and other sort of forms), marzipan, banketletters (pastry berbentuk huruf, kadang di tengah-tengahnya diisi dengan almond paste – yum!), pepernoten, kruidnoten, taaitaai, dan schuimpjes/meringues.

Nah, selain kemeriahan Sinterklaas ada juga beberapa hal lain yang saya suka dan baru ada di bulan Desember. Salah satu nya adalah Oliebollen.

5_oliebollen1

Literally means “balls of oil” atau bola-bola minyak, this Dutch type of doughnuts is a standard tradition to be served only during the end of the year. Yap, Oliebollen ini cuma ada setiap akhir tahun saja. Lewat dari New Year biasanya si Oliebollenkraam (stall/sort of the truck where you can get this balls) menghilang dari peredaran. Saya suka banget sama si gorengan ini. Kalo di Indonesia mungkin hampir seperti tape goreng ya, tapi tanpa rasa asem-asem greges dari si tape hehe. Bikinnya sebenernya gampang si, tapi lebih seru kalo beli aja di foodtrucknya. Oliebollen ini biasanya disajikan dengan taburan gula bubuk (semacam bertabur salju gitu ya hihi). Ada yang polos, ada juga yang dicampur dengan kismis. Saya si suka dua-duanya (pencinta kismis =)).

Satu lagi yang saya tunggu-tunggu di bulan ini: Winter Sale (hihi, woman!). ga sabar pengen beli coat incaran saya di Zara :p. Ga gitu mahal siiik tapi kalo beli pake diskon kan bisa mengurangi rasa bersalah saya yang hobinya numpuk coat di rumah.

1255228305_2_3_1

ini nih coat yang saya mau =) warna mosterd nya menggoda banget! picture taken from http://www.zara.com

Oh ya, for the upcoming holiday finally we decided to go to London. Kami sudah booked tiket beserta hotelnya, tapi belum urus untuk lain-lainnya, karena saya masih menunggu entry permit ke UK untuk disetujui. I hope it will be approved. But ada sedikit concern nih. Kami kan rencana berangkat tanggal 24 Desember, berarti tanggal 25 Desember nanti kami akan berada di London. Sementara liat info dari website resmi transportasi di London, pada tanggal 25 Desember nanti transportasi publik tidak akan beroperasi (wkwkwkk). Trus kita mau jalan-jalan naik apa dooong hahaha. Kepikirannya si paling ambil hop on hop off bus tour (e ciee, turis banget) aja yang salah satu providernya masih jalan (walau harganya tiga kali lipat dari yang biasa hiks).

Trus juga, tanggal 24, 25 dan 26 Desember sebagian besar tourist attracrions (terutama museum-museum mereka yang keren itu) tutup cin. Sedih ya, tapi untungnya (lagi) Tower of London dan London Eye tanggal 26 Desember buka hehe (yang terakhir adalah pesenan anak kami yg cewe, minta naik ini).

On my own note, there is one special thing in December that related with my ritual. Everyday as a moslem we are obliged to do the morning prayer (shubuh prayer). With the later sun rising time, I can do the prayer a bit later and have some more time to sleep in the morning :p
It can only happen in December in this Northern Hemisphere of the world hehe (well, also in November and January, but December still the best. Shubuh mostly begins at 6.30ish! Almost impossible to happen in Indonesia 😜).

Advertisements

2 thoughts on “December, Winter, Holland Tradition, Holiday!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s