Tentang Motherhood.

Biology is the least of what makes someone a mother.
~Oprah Winfrey

DSC_0013

Sejak dulu bahkan sebelum menikah saya selalu suka dengan anak-anak. Mungkin karena saya dibesarkan di keluarga besar makanya udah lumayan biasa kalo dikelilingi anak-anak ya. Saya punya banyak keponakan (4 dari abang saya yang pertama, 3 dari kakak kedua, dan 2 dari abang ketiga) dan sepupu (ini sih ga usah disebut deh, banyak aja pokoknya :p). Salah satu keponakan saya pun sejak bayi sudah tinggal bareng kami, jauh dari orang tuanya. Saya udah anggap dia seperti anak saya sendiri deh pokonya. Orang lain juga kadang suka ngomong kalo keponakan ini si anaknya saya :p. Kalo yang lain bilang dia itu cucu kesayangannya kakek. Ya gimana ga sayang ya..secara udah tinggal bareng dari usia 3 bulan :). Dia terlihat sangat kehilangan sewaktu almarhum bapak saya berpulang.

Sampe saya pindah ke sini pun yang agak memberatkan buat saya adalah jauh dari mama dan keponakan saya yang satu ini. Jiwa keibuan saya ke dia terlalu kuat kayanya hehe.

Begitu menikah, Alhamdulillah saya langsung dikaruniai dua orang anak, satu sebentar lagi bujang dan satu sebentar lagi gadis =). Dulu ga pernah terlintas di pikiran kalo saya akan diberi tanggung jawab (bersama dengan suami tentunya) untuk merawat dan membesarkan dua orang anak sekaligus secara instan. Beruntungnya saya, kedua anak ini punya dasar didikan yang baik dari suami saya dan almarhumah istrinya.

Saya mulai masuk ke kehidupan anak-anak sejak mereka berumur 5 dan 4 tahun. Gimana saya ga jatuh hati (bukan cuma sama papanya, sama anak-anak juga), mereka termasuk anak-anak yang ga neko-neko lah. Anak-anak ini harus kehilangan mamanya di usia yang sangat muda (di umur 4 dan 3 tahun), makanya tingkah laku mereka terlihat sedikit dewasa (mungkin dari pengalaman mereka yang harus berhadapan dengan mamanya yang sakit (berat) cukup lama jadi mau ga mau di usia yang sangat muda mereka harus belajar untuk hidup sedikit lebih mandiri). Tapi attitude mereka tetap sopan dan manis.

Saya juga bersyukur kami cukup diberikan kemudahan dalam beradaptasi satu sama lainnya, dalam waktu yang lumayan singkat. Memang perubahan ini ga mudah sama sekali buat saya, tapi sudah pasti juga gak mudah buat anak-anak. Seseorang yang sebelumnya ga pernah hadir dalam hidup mereka tiba-tiba menjadi ibu buat mereka.

Sejak awal kami ga pernah memaksakan keadaan ke anak-anak, juga dalam hal panggilan mereka buat saya. Dulu pertama kali ketemu, mereka manggil saya Anis. Begitu menikah, sang abang berinisiatif untuk memanggil saya mama Anis. Saya udah cukup bahagia dengan panggilan ini, dan lebih bahagia lagi karna ga lama kemudian anak-anak tanpa diminta manggil saya cukup dengan “mama” saja 🙂

Satu hal yang saya selalu coba pegang teguh dalam berinteraksi dengan anak-anak (juga dengan orang lain tentunya) adalah untuk selalu menjadi diri sendiri. Percaya deh, anak-anak itu paling sensitif dengan namanya kepura-puraan dan kasih sayang palsu. Kalo kita ga tulus ke mereka, jangan harap kita akan dapat feedback seperti yang kita inginkan.

Saya juga ga pernah mau menempatkan diri saya sebagai pengganti almarhumah mama mereka. Walau kami sama-sama berdarah Indonesia (almarhumah juga dari Indonesia :)), kami adalah dua identitas yang berbeda. Tapi hal ini bukan berarti saya ga bisa menjadi mama mereka. Intinya, mereka punya dua mama: mama yang melahirkan mereka (mereka membahasakannya sebagai “oude mama“), dan mama yang mengurus mereka sekarang (saya). Supaya mereka selalu ingat mama yang melahirkan mereka, setiap tahunnya saya mencoba mengingatkan anak-anak (dan suami) untuk sesekali berkunjung ke makam almarhumah. Mungkin kalo untuk ke suami kadang berat ya (egonya wanita nih..hiks), tapi kalo untuk anak-anak Insyaallah saya ikhlas.

Tapi benar apa yang dikatakan Oprah dengan kutipannya di atas. Saya sedikit paham, karna walaupun saya tidak melahirkan mereka hal ini ga menghentikan saya untuk menjadi seorang mama. Buat saya mereka juga anak-anak saya sekarang. Mereka sakit, saya ikut merasakan sakit mereka. Pada saat mereka bahagia, sayapun ikut bahagia. Begitu mereka cerita dengan bangganya tentang achievement mereka, sayapun ikut bangga. Intinya, saya sedang menikmati indahnya menjadi ibu dan ikut merasakan susah senangnya dalam mengurus anak-anak (yang sudah bukan balita lagi :p).

Tapi ada satu hal yang bikin saya agak sedih. Papanya cerita kalo dulu anak-anak cukup fasih berbahasa Indonesia. Almarhumah selalu mencoba berbicara dengan mereka menggunakan bahasa ibu mereka – bahasa Indonesia, sementara dengan papa mereka berbicara menggunakan bahasa Belanda. Tapi setelah mamanya ga ada, mereka kehilangan counter part mereka untuk berbicara dalam bahasa Indonesia, ditambah lagi mereka sudah mulai bersekolah yang otomatis mengharuskan mereka untuk berbicara dalam bahasa Belanda. Lingkungan mereka juga semua berbahasa Belanda, dan anak-anak biar bagaimanapun juga masih sangat gampang untuk lupa sesuatu yang tidak dipraktekkan setiap hari. Jadilah mereka lupa sama sekali dengan bahasanya. Pada saat pertama kali ketemu saya itu kayanya mereka masih sedikit paham (walau ngomong udah agak susah dan cenderung ga bisa), tapi begitu ketemu selanjutnya mereka benar-benar blas lupa dong. Saya sempat beberapa kali mencoba untuk mengajarkan mereka lagi. Tapi saya pikir, mereka sekarang ini pun sedang belajar dasar-dasar dari bahasa Belanda dan saya takut kalo saya paksa mereka untuk belajar bahasa Indonesia juga bisa jadi malah akan membingungkan mereka. Mungkin akan lebih baik kalo mereka sudah agak besar dan bisa handle things lebih banyak saya akan mulai mengajarkan mereka lagi. Kalo kata orang si, kalo dulunya pernah bisa Insyaallah akan lebih gampang untuk belajar kembali. Semoga ya 🙂

Saya juga mau sedikit sharing di sini, Insyaallah dalam waktu beberapa bulan ke depan, keluarga kecil kami akan bertambah anggotanya. Suami saya ngerti banget kalo sebagai wanita normal memang saya berkeinginan juga merasakan apa yang dirasakan wanita lainnya. Memang menambah momongan mungkin bukan prioritas utama kami (terutama untuk suami, kalo saya mah emang pengen hehe), tapi kami tetap berharap akan diberikan kepercayaan kembali dari Allah, dan alhamdulillah Allah memberikan berkah-Nya kepada kami (Insyaallah). Alhamdulillah juga anak-anak kali ini terlihat lebih siap dan excited (dibandingkan pada saat saya hamil molar dulu dan sempat memberitahukan mereka kalo mamanya hamil – padahal ternyata ngga :S).

Mungkin masih terlalu dini untuk disebutkan di sini, tapi saya berharap semoga selalu diberikan karunia kesehatan, normal dan kelancaran sampai nanti waktunya (aamiin). Doakan saya ya teman-teman 🙂

Resep Spaghetti with Meatballs and Sauteed Vegetables

Catatan: Resep si bola-bola daging ini saya modifikasi dari resep burger patty-nya Jamie Oliver. Untuk resep aslinya silakan klik link ini ya =)

Meatballs atau bola-bola daging ini adalah salah satu menu favoritnya anak-anak. Biasanya si bola-bola kami pasangkan dengan spaghetti dan saus tomat (serta sauteed vegetables untuk mama-papa ;)). Rasanya? dijamin ketagihan deh! It’s quite easy to make and very yummy (Davin yang picky eater aja kalo makan pake ini bisa ekstra porsinya hehe).

Yuk disimak bahan-bahan yang diperlukan dan cara membuatnya.

Bahan-bahan:

+ 300-400 gram spaghetti atau pasta jenis lainnya, masak sesuai petunjuk pada kemasan (biasanya sekitar 7-10 menit, jangan lupa tambahkan sejumput garam dan olive oil ke dalam air rebusan pasta ya)

Untuk Bola-bola Daging:
+ 500 gram daging sapi cincang
1 butir telur ukuran besar
1/2 buah bawang bombay ukuran sedang (kalo kecil 1 buah), dicincang dan ditumis hingga harum, dinginkan
+ 4 genggam tepung panir
+ 1 genggam keju parmesan parut
1 sendok teh garam
1 sendok teh (atau lebih sesuai selera) lada hitam
Minyak goreng secukupnya

Untuk Sauteed Vegetables:
Wortel, kupas dan potong memanjang
Brokoli, potong sesuai selera
Jamur Kastanyet/Chestnut Mushroom (Kastanje Champignon), potong sesuai selera
1/2 pc bawang bombay, potong memanjang
1 pc bawang putih, iris tipis
Mentega secukupnya
Garam secukupnya
Lada Hitam secukupnya
Gula pasir secukupnya

Untuk Saus Tomat:
1/2 buah bawang bombay, cincang halus
1 buah bawang putih, cincang halus
1 pc canned diced tomatoes (tomat potong kalengan, atau jenis lainnya sesuai selera)
+ 6-8 buah tomat cherry mini, belah dua
1 batang flat parsley, cincang kasar (atau kalau tidak ada, bisa pakai parsley biasa)
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya
Lada hitam secukupnya
1 pc maggi block (optional)
+ 1/4 sendok teh oregano
+ 1/2 sendok teh basil paste (kalo ada, kalo tidak ada boleh di skip atau gunakan fresh basil leaves-cincang halus)
Extra Virgin Olive Oil secukupnya untuk menumis (kalo tidak ada boleh pake minyak lain atau mentega)

Metode:
Untuk bola-bola daging/meatballs: Campur seluruh bahan ke dalam mangkuk, aduk (menggunakan tangan) hingga seluruh bahan tercampur rata. Apabila adonan bola-bola daging masih terlalu basah (atau lembek) dan susah untuk membentuk bola-bola, tambahkan tepung panir secukupnya hingga tekstur adonan terasa pas. Kemudian, bentuk adonan tersebut menjadi bola-bola (ukuran sesuai selera, tapi sebaiknya jangan terlalu kecil supaya bagian dalam si bola daging setelah digoreng masih terasa moist).

Setelah selesai, simpan bola-bola daging tersebut ke dalam kulkas untuk beberapa saat (minimal 15 menit). Panaskan minyak goreng dengan api sedang (pastikan bola-bola daging pada saat digoreng akan terendam ke dalam minyak). Goreng bola-bola daging hingga berwarna kecoklatan (jangan menggunakan api besar, karena bola-bola akan gosong sementara bagian dalamnya belum matang dengan sempurna).

Untuk sauteed vegetables: panaskan mentega secukupnya dalam wajan, masukkan jamur dan tumis beberapa saat. Kemudian masukkan bawang bombay dan bawang putih. Tumis sebentar, lalu masukkan wortel dan brokoli. Tambahkan garam, gula pasir (jangan terlalu banyak), dan lada hitam secukupnya ke dalam tumisan. Tambahkan sedikit air bila diperlukan. Masak hingga wortel dan brokoli matang.

Untuk Saus Tomat: panaskan olive oil secukupnya (+ 2 sendok makan) dalam wajan menggunakan api sedang. Setelah cukup panas, masukkan bawang bombay dan bawang putih. Tumis beberapa saat, kemudian masukkan tomat cherry yang telah dipotong-potong. Aduk-aduk agar bawang tidak hangus. Tuang tomat kalengan ke dalam wajan, kecilkan api sedikit, tambahkan seluruh bumbu ke dalam wajan (termasuk parsley), jangan lupa cicipi. Masak dengan api kecil hingga tomat cherry lunak, tingkat keasaman dari tomat berkurang dan tekstur saus mengental sesuai dengan tingkat kekentalan yang kita inginkan. Matikan api. Saus siap dihidangkan.

Nah..gampang kan bikinnya? 😉
Oh ya, untuk saus tomatnya sendiri, kalo malas bikin sendiri bisa juga beli saus tomat yang siap santap (di supermarket cukup banyak yang jual kok :)). Untuk yang suka pedas bisa juga dalam sausnya ditambahkan cabai bubuk (crushed chili).

Daan tadaaa…spaghetti meatballs with tomato sauce and sauteed vegetables siap disantap =)

meatballs4

Selamat mencoba fellas! Mudah-mudahan kalian akan suka seperti kami ya 🙂

Nostalgia ala Facebook

“and, oh! what beautiful years were these..
when our hearts clung each to each;
when life was filled and our senses thrilled..
in the first paint dawn of speech,
thus life by life and love by love,
we passed through the cycles strange.
and breath by breath and death by death,
we followed the chain of change..”

~ L. Smith.

Udah lama banget ternyata saya ga liat page facebook sendiri, trus tiba-tiba ada notifikasi komen temen saya di salah satu notes yang saya pernah buat dulu. Akhirnya saya jadi baca-baca notes cupu yang dulu pernah saya buat deh hahahhaa. Ya ampun dulu saya amazing banget ih 😂

Saya nulis notes ini terutama si pas saya kuliah di sini. Maklum, kadang bosen ngerjain tugas ato tesis, trus di-tag temen buat ngerjain notes yang isinya lucu-lucuan, ya saya milih yang terakhir dong hehe.
Ada juga beberapa yang “agak” serius, isinya lebih kepada curahan hati anak cupu yang lagi kangen seseorang, atau kangen suasana pas kuliah di sini (salah satu note-nya yang serius dibikin tahun 2010, setahun persis setelah saya balik ke Indonesia, isinya adalah quotation yang saya tulis di awal postingan ini :)).

Salah satu note yang saya buat itu di-publish persis hari ini 7 tahun yang lalu (yes..1 Februari 2009). Judulnya? 25 Random Things About Me :p
Mau tau isinya? monggo dibaca di bawah ya hehe.

Capture1Capture2

kalo dipikir-pikir, some of these random things are actually still quite relevant with my current situation. Kecuali yang bagian mimpi jadi istri diplomat (bacanya malu ih hahaha, bukan jadi istri diplomat tapi jadinya istri juragan mesin :p), nonton sports-nya makin kurang sekarang, berat badan sekarang Alhamdulillah ga kurang lagi (mudah-mudahan ga berlebih juga ya Allah!), bagian ga bisa nyetir (I can drive now, yay!), mudik (akhirnya kesampaian walau jarak mudiknya lebih “parah” dari kampung halaman alm.bapak hahhaha), dan secuil icemint itu (sudah lamaaa banget saya ciggy free, so pasti yang ini udah gak relevan lagi ya hehe).

Poin terakhir adalah favorit saya =). Mudah-mudahan saya selalu ingat untuk selalu bersyukur kepada Allah dan dijauhkan dari sifat kufur nikmat, aamiin.