The Happiest Countries in the World

30202269-01

 

Mumpung bulan Maret belum berakhir, saya mau share postingan saya yang ini. Pada tanggal 16 Maret kemarin di Roma, beberapa hari menjelang perayaan United Nations (UN) World Happiness Day yang jatuh pada tanggal 20 Maret, UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) kembali meluncurkan The World Happiness Report untuk tahun 2016. Report-nya sendiri berisi peringkat negara-negara di dunia berdasarkan tingkat kebahagiaan di negara tersebut. Juga didalamnya terdapat beberapa tulisan dari para pakar, data dan analisa terkait dengan happiness.

Laporan ini bukan yang pertama kali dibuat. Di tahun-tahun sebelumnya The World Happiness Report juga pernah di-publish (tiga kali, tahun ini adalah yang keempat). Peringkat kebahagiaan negara-negara ini didasarkan pada survey yang diselenggarakan di 157 negara selama 3 tahun (2013-2015) dengan enam variabel utama: Pendapatan perkapita dari negara tersebut (GDP), healthy life expectancy, dukungan sosial (terutama terkait dengan adanya seseorang yang bisa diandalkan), kebebasan untuk memilih dalam hidup, tingkat kepercayaan (corruption free di pemerintahan dan dunia bisnis), dan tingkat kedermawanan (generousity). Dalam laporan tahun ini para researchers juga melihat dari sisi lain dalam menentukan tingkatan kebahagiaan ini. Mereka tidak hanya melihat dari bagaimana orang-orang tersebut bahagia, tapi juga bagaimana kebahagiaan tersebut terdistribusi secara merata (atau tidak) di seluruh individu (di negara tersebut). Dengan kata lain, mereka juga melihat bagaimana ketidakmerataan (kebahagiaan) mempengaruhi tingkat kesejahteraan di tingkat nasional.

Para peneliti menyimpulkan bahwa negara-negara yang tingkat kebahagiaannya berada di peringkat atas memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih merata hampir di seluruh penduduknya. Mereka juga menyimpulkan bahwa seseorang lebih bahagia apabila berada di dalam masyarakat yang memiliki tingkat kebahagiaan lebih merata.

Survey kebahagiaan ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem Cantril Ladder.

“Please imagine a ladder, with steps numbered from 0 at the bottom to 10 at the top. The top of the ladder represents the best possible life for you and the bottom of the ladder represents the worst possible life for you. On which step of the ladder would you say you personally feel you stand at this time?”
*the Cantril ladder question, text derived from World Happiness Report 2016 – Volume I.

Dibilang penting banget juga ngga si, tapi sebenernya report ini lumayan berguna buat pemerintah, organisasi, komunitas atau pihak lain untuk mengambil kebijakan yang bisa meningkatkan kebahagiaan warganya atau kebijakan yang bisa mendukung kehidupan yang lebih baik (ideal banget ya hehe).

Untuk tahun 2016 ini Denmark kembali menempati peringkat teratas dari 157 Negara. Kembali karena di tahun 2013 dan 2014 Denmark juga berada di peringkat pertama dari negara-negara dengan tingkat “kebahagiaan” tertinggi. Di tahun 2015 Swiss adalah negara yang berada di peringkat teratas, sementara Denmark menduduki peringkat ke-3.

Bagaimana dengan Belanda? Cukup lumayan lah hehe, masih masuk sepuluh besar (peringkat ke-7), sementara Amerika Serikat (AS) berada di peringkat ke-13, Inggris di peringkat ke-23 dan Perancis di peringkat ke-32.

Ada satu komen yang cukup menarik yang saya baca di salah satu artikel terkait dengan peringkat kebahagiaan ini di Reuters. Profesor Jeffrey Sachs (Head of SDSN dan penasehat khusus Sekjen PBB) yang merupakan warga AS menyebutkan bahwa walaupun tingkat kekayaan AS jauh meningkat selama 50 tahun terakhir, namun hal ini tidak membuat (masyarakatnya) menjadi lebih bahagia. Beliau berpendapat bahwa masyarakat yang hanya mengejar uang (seperti yang terjadi di AS) telah melakukan suatu kesalahan. tingkat sosial dan kepercayaan termasuk dengan pemerintah menjadi semakin berkurang.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-79. It’s not that bad lah ya kalo dilihat dari 156 negara (we are quite in the middle). Tapi kalo saya lihat peringkat Singapura yang berada di peringkat 22, Thailand di peringkat 33, dan Malaysia di peringkat 47, saya jadi agak syedih karna kita lumayan jauh dari mereka. Untungnya tingkat kebahagiaan kita masih diatas Filipina, Laos, Vietnam, Myanmar, bahkan Portugal. Yang lumayan nolong peringkat Indonesia dari enam variabel yang disurvey adalah tingkat kedermawanan kita yang cukup besar.

Sementara, tiga negara dengan peringkat kebahagiaan paling buruk adalah Togo, Suriah dan Burundi. Burundi yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia (dengan tingkat GDP yang rendah), dengan tingkat korupsi yang tinggi, kurangnya akses pendidikan dan kesehatan (banyak warganya yang terjangkit AIDS dan HIV), serta akibat dari perang saudara (civil wars) yang terus berkecamuk di negara ini unfortunately menjadikan negara ini (dengan warga) yang paling kurang bahagia di dunia. Mungkin dulu Suriah termasuk salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan yang cukup tinggi, tapi sekarang karena kondisi di dalam negara nya yang saat ini lagi sangat ga kondusif para masyarakatnya menjadi less happy 😦

Untuk list lengkapnya bisa dilihat berikut.

ranking of happines1-1ranking of happines2-1ranking of happines3-1

Trus sebenarnya apa yang bikin Denmark the happiest country in the world? Boleh kan yaa kita mimpi, kali aja bisa belajar dari Denmark dan ke depannya Indonesia akan lebih banyak diisi oleh orang-orang bahagia dibanding sekarang dan bisa menduduki at least 10 besar di list negara paling bahagia 🙂

Mengutip dari website resminya Visit Denmark, ada beberapa hal yang (mungkin) menjadikan Denmark sebagai negara paling bahagia di dunia.

Danish work-life balance
Di Denmark jam kerja normal per minggu adalah 37 jam dan para pekerja di Denmark mendapatkan (setidaknya) 5 minggu waktu libur setiap tahunnya (coba bandingin dengan jatah cuti normal (PNS) di Indonesia yang cuma 12 hari per tahun! dohhh).

Dengan banyaknya “waktu bebas” yang dimiliki para penduduknya, makin gampang juga buat mereka untuk lebih menikmati hidup. Bahkan dibilang kalo leisure time merupakan bagian penting dari kebudayaan para penduduk Denmark. Pulang kerja tepat waktu, bersepeda atau menggunakan transportasi umum, jemput anak dan makan bareng keluarga adalah bentuk kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga di Denmark.

Leisure time and the Danish art of ‘hygge’
Masyarakat Denmark senang menghabiskan waktunya bersama-sama dengan keluarga dan teman-teman. Istilah “hygge” berarti nyaman, atau cozy, menggambarkan kalo orang Denmark senang berkumpul dalam lingkup yang nyaman dan intim, alias ga formal. “Hygge” di musim semi dan musim panas (atau musim lain selama matahari bersinar) biasanya lebih kepada kumpul-kumpul di taman, pantai, atau cafe-cafe. Intinya kumpul-kumpul santai lah ya hehe. Bandingin sama masyarakat Indonesia sekarang-sekarang ini yang (walau ga semuanya, tapi menurut saya sebagian besar) kalo mau kumpul harus hits lah dandanannya, pokonya ga mau kalah sama temen lainnya.

Ekspektasi yang “tidak berlebihan”
Nah poin yang ini menurut saya cukup menarik. Penulis di situs menyamakan kehidupan masyarakat Denmark dengan kehidupan para Hobbit di Lord of the Ring hehe. Mereka tidak terlalu ambisius dan tidak suka menyombongkan diri. Bisa jadi hal ini dilatarbelakangi dari the Janteloven (Jante-law) yang pada intinya menyebutkan kalo kamu tidaklah lebih baik dari yang lain (you’re no better than anybody else). Ga ada seorangpun yang akan men-judge kita atas pilihan hidup, karir atau kurangnya ambisi kita buat itu. Kalo kita bahagia dengan apa yang kita lakukan, maka nikmatilah. Kira-kira begitulah intinya 🙂

Dengan ekspektasi yang tidak terlalu besar, tentu lebih gampang buat para warga Denmark untuk mencapai kebahagiaan. “Simplicity” dan “small” merupakan kata kunci mereka. Mereka benar-benar menikmati hal-hal sederhana dan juga hidup yang simpel (bisa kita lihat dari desain khas Denmark dan dekorasi rumahnya yang simpel).

Sistem Kesejahteraan di Denmark
Denmark dianggap sebagai salah satu negara yang paling egaliter di dunia, dimana baik pria maupun wanita di sana (kebanyakan) sama-sama memiliki karir. Pajak di Denmark termasuk tinggi, tapi masyarakat memperoleh fasilitas kesehatan gratis dari pemerintah (akses bebas ke rumah sakit dan juga biaya operasi). Sekolah-sekolah dan universitas juga gratis, bahkan para mahasiswa juga mendapatkan “uang saku” bulanan. Banyak skema yang membantu para pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan para penggangguran juga diberikan insentif (atau bantuan lain). Pengeluaran pemerintah Denmark yang ditujukan untuk anak-anak dan para manula juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jadi bisa dikatakan kalo sistem kesejahteraan di Denmark memberikan rasa aman bagi masyarakat(nya) sehingga mereka lebih tenang dan percaya bahwa walaupun mereka sakit atau ga punya pekerjaan pun, sistem yang ada akan mendukung mereka.

(Tingkat) Kepercayaan dan Keamanan
Kepercayaan juga merupakan salah satu faktor dari deskripsi orang Denmark atas kebahagiaan. Kepercayaan pada pemerintah, tempat kerja, TK dan sekolah yang (akan) “mengurus” anak-anak mereka, percaya kalo mereka aman dengan tingkat kriminal dan korupsi yang rendah, kepolisian yang dapat diandalkan dan juga lingkungan yang ramah. Para orang tua (khususnya ibu) bisa meninggalkan bayinya di stroller di luar cafe tanpa rasa khawatir, dan orang mungkin saja meninggalkan rumahnya tidak terkunci.

 

Beberapa poin di atas in a way juga saya rasakan di Belanda. Hanya saja dari sisi tingkatannya memang sedikit di bawah Denmark. Jadi wajar kalo Belanda tidak berada di peringkat teratas walau masih masuk di sepuluh besar.

Di Belanda banyak orang-orang yang lebih memilih bersepeda, berkendara umum atau jalan kaki daripada naik mobil sendiri. Setau saya, para istri yang tidak bekerja juga berhak atas tunjangan tiap bulannya (besarannya  kalo ga salah sekitar 250 Euro). Anak-anak juga memperoleh tunjangan yang diberikan kepada orang tuanya sampai umur tertentu (dalam setahun dibagi menjadi beberapa termin), biaya pokok sekolah juga gratis (atau student loan ya? ada yang bisa share info tentang ini?) sampai tingkat universitas (dalam prakteknya orang tua masih perlu membayar beberapa keperluan untuk anak lainnya, walau tidak banyak).

Dari tingkat keamanan, Belanda masih termasuk negara dengan tingkat keamanan yang lumayan. Mungkin sedikit lebih tinggi di kota besar seperti Amsterdam, tapi kita bisa lihat dari banyaknya penjara yang kekurangan penghuni sampai harus ditutup atau menyewakannya untuk menampung narapidana dari negara lain 😀

Agak sedikit dibawah dari sistem di Denmark, dengan sistem wajib asuransi bagi para warganya, tergantung dari skema asuransi yang dipilih, masyarakat Belanda bisa mengakses rumah sakit secara gratis (well, ga gratis juga karna kita tetep harus bayar premi ya hehe). Terkait dengan asuransi – khususnya untuk kesehatan, kita bisa memilih sampai sejauh mana coverage yang kita inginkan. Di lain waktu Insyaa Allah saya akan coba sharing khususnya untuk sistem asuransi dan kesehatan di Belanda ya 🙂

Oh ya, saya juga nemu di situsnya Elle.uk yang membahas secara ringan kenapa Denmark adalah negara paling bahagia di dunia. Beberapa memang serius, tapi ada juga yang seru-seruan kaya orang-orang Denmark itu cakep-cakep, mereka sangat well-dressed, di sana ada yang namanya “open sandwich” – what they call as Smørrebrød, atau desain interior mereka keren-keren.

 

Terkait dengan International day of Happiness tahun ini, saya nemu satu poster yang menarik. Kayanya poster ini terinspirasi dari banyaknya makanan yang terbuang sia-sia, sementara di sisi lain masih banyak yang kelaparan. Anyway, saya akhiri postingan kali ini dengan poster tersebut ya, and may you have a happy day (everyday) kawan 🙂

cdtdalbvaaayiia

Reminiscing the Trip To Alsace Region, France

Alsace is the Germanic region of France. It is a region lying on the west bank of the river Rhine, between the Rhine and the Vosges mountains. To the north and east it shares a border with Germany; to the south with German-speaking Switzerland, and to the west with Lorraine and Franche Comté.

From 1982 until January 2016, Alsace was the smallest of 22 administrative regions in metropolitan France, consisting of the Bas-Rhin and Haut-Rhin departments. Territorial reform passed by the French legislature in 2014 resulted in the merger of the Alsace administrative region with Champagne-Ardenne and Lorraine to form Alsace-Champagne-Ardenne-Lorraine.

Historically speaking, Alsace was part of the German-speaking area of central Europe, and to this day a large proportion of the population, of all generations, speak or understand Alsacian, a dialectal form of German closely resembling the German spoken in Switzerland.

In the last two centuries, Alsace has passed from Germany to France and back , and back again; consequently, it is a region that was not part of France at the time of the makings of the modern-day nation, and has held on to a number of institutional differences, particularly concerning religious affairs. For example, Good Friday is a public holiday in Alsace, but not in the rest of France; and in Alsace, priests are paid by the state.
*information partly derived from wikipedia and about-france.com.*

Back in 2011, right after a work-related thing I have done in Durban, South Africa, I decided to continue my trip and have a bit of a break, went to Europe for couple of days to meet my friend who lives in Brussels instead of going back straight to my homeland, Indonesia. Although it was not recent, I think the experience is still worth to share here. However I’m sorry if the post is a bit too long, it’s just that so many things I can share from the region. I hope you will enjoy it anyway 🙂

It was in October, and the weather was pretty decent and not too cold at that time (although at one point we had a 0°c in the middle of the night). We have made a plan to make a short getaway to a place where we both never been visited before. We wanted to do the trip by car, because we thought that would be more convenient for us, thus we sorted out few options where we could go with reasonable amount of driving time yet still interesting for us to visit. Both of us like nature, some kind of gothic-medieval architectures, and castle thingy stuff. After some research, we then decided to go visit Alsace area, with a stop by at Luxembourg.

The driving duration from Brussels to Alsace (Strasbourg) is around 5 hours non stop. We went from Brussels in the evening around 6-7 p.m after my friend finished his work. It was a rush hour thus we got a bit of a traffic in order to get out from the city center. The driving time from Brussels to Luxembourg itself is around 2,5 hours. A bit out of the topic, Luxembourg is also an interesting place to visit. But in order to make this post a bit less longer (which already long due to the photos) I will share it some other time in another post 🙂

Three biggest cities in Alsace region are Strasbourg, Mulhouse, and Colmar. Strasbourg and Colmar are quite known for their beautiful old town and its historical places. The distance between both cities is quite reasonable and for those reasons we then decided to visit both the cities. Of course with the visit to the famous Chateau Du Haut-Koenigsbourg (the Chateau is located in between).

Strasbourg

Strasbourg is the capital of Alsace region. Situated on the banks of the river Rhine, Strasbourg is known for its historical and cultural sights, as well as its specific, picturesque ambiance. Strasbourg is also known as a capital of Europe – with the Council of Europe and the Eurocorps, as well as the European Parliament and the European Ombudsman of the European Union located there. The city is also the seat of the Central Commission for Navigation on the Rhine and the International Institute of Human Rights.

From the first time we arrived, we got instantly amazed with how beautiful the surrounding was. After checked in at the hotel, we then right away started to explore the surrounding.

CIMG2379-1

Typical buildings you find in Strasbourg, especially around the city center. It’s very lovely with those colorful flowers isn’t it?

CIMG2381-1

A hospital in the city center.

We also had a chance to visit Strasbourg Cathedral or the Cathedral of Our Lady of Strasbourg (French: Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg, or Cathédrale de Strasbourg, German: Liebfrauenmünster zu Straßburg or Straßburger Münster), also known as Strasbourg Minster. It is a Roman Catholic cathedral with some part of the cathedral still in Romanesque architecture. However the cathedral also widely considered to be among the finest examples of high, or late, Gothic architecture.

The Cathedral, as any other cathedrals I have visited, has a very beautiful architecture and surrounding. The main hall in my opinion was almost similar to the Kolner Dom in Cologne, Germany. In this Cathedral there is an astronomical clock which has been built since 1843 (this was the third one built since the first clock built in 14th century). Its main features, besides the automata, are a perpetual calendar (including a computus), an orrery (planetary dial), a display of the real position of the Sun and the Moon, and solar and lunar eclipses (wikipedia).

It was pity that I couldn’t capture any decent pictures to be displayed here. It was mainly because when we got there it was already almost dark. I posted here some of the images I got from wikimedia to give a little glimpse of the Cathedral.

CIMG2407-1

During our visit, there were an exhibition about Climate with some displays as above at the plaza around city center. I found one of them that interest me, mainly because of “Indonesia” word in it 😀

On the second day we continued our city exploration to the Petite France district which famous for their black (or dark brown) and white timber-framed buildings.

Petite France forms part of the UNESCO World Heritage Site of Grande Île (an old quarter that exemplifies medieval cities), designated in 1988. It is located at the western end of the Grande Île (it is literally means “large island” which derived from the fact that it is surrounded on one side by the main channel of the River Ill and on the other side by the Canal du Faux-Rempart). Here in Petite France, the River Ill splits up into a number of channels that cascade through an area that was, in the Middle Ages, home to the city’s tanners, millers and fishermen, and is now one of Strasbourg’s main tourist attractions.(wikipedia).

CIMG2432-1

CIMG2418-1

The Maison des Tanneurs, Petite France.

CIMG2421-1

Place Benjamin-Zix, Petite France

CIMG2424-1

Half-timbered houses and the Ill river bank as the background with younger version me 😉

There were still lots of things to be seen here in Strasbourg actually, but after having lunch we decided to just go heading to our next destination. It was a very nice visit, and for sure I would love to go here again some other time 🙂

Chateau Du Haut-Koenigsbourg

Our second destination of our trip (well, the third if you also count Luxembourg actually) was the Chatau Du Haut-Koenigsbourg. We started our trip after having a short lunch in Strasbourg. The scenery during the road trip was very stunning. We passed by a village that has a very beautiful corner and instantly we decided to stop and took some pictures there :p

The village was very quiet. I don’t think we met any living person there except some cars parked as seen in pictures.

CIMG2442-1

CIMG2444-1

CIMG2447-1

After driving passed the village, we again served with another amazing view. This time was a series of vineyards. It was so beautiful again we decided to just stopped by and took some pictures as well. It became even more magical because of the mist presented in the air. Correct me if I´m wrong, but I think these vineyards are parts of The Alsatian Vineyard Route.

CIMG2452-1

CIMG2454-1

The road we need to pass to reach the Chateau / the Castle was quite hilly. It reminded me a bit to the road around Lembang, Bandung. With pine trees on the surrounding as well as its winding road (just a tiny bit colder here hehe). The moment we reached the Castle, we had to park the car a bit further from the Castle. And then, when we walked to the Castle I got this magical view (again!) in front of my eyes. Its almost like surreal how it look ya. Those hills are vineyards by the way.

CIMG2458-1

Based on the information I read from several websites, the Chateau Du Haut-Koenigsbourg (or Haut-Koenigsbourg Castle) was built in a very specific manner, in a way, it was carved in into the rocks standing on the top of the mountain as to preserve its natural strategic and defensive position (at that time). On a glimpse, it was built somewhere around 1147 by Frédéric le Borgne, duke of Souabe and a member of the Hohenstaufens family who wanted to reinforce his power in Alsace by building a defence line made of castles placed all over the region. During the Thirty Years’ War (1618-1648) the Castle was conquered by the Swedish army and was burnt to the ground. After that, the Castle was left abandoned for more than 200 years until in 1865 bought by the nearby town of Sélestat. In 1871 Alsace became a part of Germany and the city of Sélestat offered the castle ruins to Kaiser Wilhelm II. The German Emperor decided to continue the restoration (which already being done partly by the city of Sélestat). After the Treaty of Versailles in 1919, the castle was once again in possession of France.

If you are interested to know more about the Castle including the complete history of it, you can check this link or their official website.

Pictures I attached here mostly (or all) were taken from inside the Castle. I didn’t put much photos of the inside parts of the Castle because I think the view we got from inside the Castle were more breathtaking and worth to share than the details of the rooms. It’s not that the inside not special, but I guess you will be able to picture how a Castle along with its rooms look like :).

chakoe

Aerial view of Château Du Haut Koenigsbourg (image from http://www.destination-haute-alsace.com)

CIMG2475-1

CIMG2477-1

CIMG2503-1

CIMG2507-1

CIMG2509-1

We were quite lucky during our visit the Castle was not that crowded with visitors. I guess it was a bit too cold for some people visiting the Castle at that time. But because of this I was able to take some picturesque scenes without any disturbance from other tourists :p

O ya, one thing to mention, in the entrance of the Castle you can find a miniature of the Castle, complete with some explanations (if I’m not mistaken).

Colmar

After we were done exploring the Castle, we continued our trip to our last destination – Colmar. The distance between the Castle and Colmar was not that far (around 26-30 kilometers). Although the view on the road was not as interesting as the trip from Strasbourg to the Castle, not that far from the Castle we found a nice scenery of a church located in the middle of a hill. It is actually a bit typical French (with their beautiful small villages spread across the hilly land – so different with the Netherlands who only has flat view hehe), but we stopped by anyway to capture some of the sight as well.

CIMG2523-1

CIMG2532-1

The moment we entered city of Colmar, I found one interesting thing there. They apparently also have their own Statue of Liberty =). The size is not that big, it’s more of the mini liberty, just like the one I saw in Odaiba, Japan.

Apparently according to Colmar Tourisme website, it was sculpted to commemorate the 100th death anniversary of the sculptor Auguste Batholdi, who was born in Colmar and created the “Liberty lightening the world” (The Statue of Liberty in New York). The Municipality of Colmar has placed the replica in the northern entrance to the town.

CIMG2542-1

the 12-meter high replica of the statue of liberty

Colmar has rather a lot of more recent development around the edges, but at the center you will see a lovely view of the old town with street after narrow street of half-timbered, half-painted houses (almost similar to the old town of Strasbourg).

If Strasbourg has Petite France, then Colmar has Petite Venise (The little Venice). This name probably came from the original line of the houses on both sides of the river, which serves the southeast of the city. (tourisme-colmar)

P1100585-1

The Tanner’s District is constituted from high wood framing houses and half timbered houses, mostly dating back to the 17th and 18th centuries. The houses were used by tanners who worked and lived there with their families. They were also used for drying out their skins on the upper floors, often with an openwork design. The tanner’s district was renovated between 1698 and 1974. The renovation gave back its beauty to this village in the heart of the city.

P1100582-1 colmar

P1100581-1 colmar

Musée d’Unterlinden (Unterlinden Museum)

CIMG2573-1 colmar

CIMG2570-1 colmar

CIMG2567-1

One of the most interesting buildings in Colmar: the Saint Martin Church. Built between 1235 and 1365 the Saint Martin’s collegiate church is an important example of Gothic architecture in Alsace. Because of a fire in the south tower in 1572 the framework and all the roofs were destroyed. The tower was replaced three years later by the original lantern bulb (a construction on the top of the dome which has the form of a lantern) which gives the Church its characteristic silhouette. The church has been restored several times. In 1982 during the most recent restoration, foundations of a church from the year 1000 and traces of extensions from the 11th and the 12th centuries were found (Colmar Tourisme).

CIMG2576-1
The Koïfhus or the former customs house. It is the older public local building and had from its creation a double function. The ground floor was used as a warehouse and as a place of taxation for imported and exported goods. The floor was used for the meetings of the deputies of the Décapole, the federation of the 10 imperial cities of Alsace, which was created in 1534. The Magistrate also met there. The revolution abolished commercial privileges and the building was used for other uses. Around 1840 a theatre took place there and in 1848 the first office of the discount bank. The Koïfhus was occupied by the Chamber of Commerce and Industry from 1870 to 1930 and by a catholic boy school and an Israelite school in the late 19th century. Today many manifestations and public activities take place here (Colmar Tourisme).

It’s pity that we couldn’t explore Colmar as much as Strasbourg. I guess we were already quite tired from the trip and with the driving hours back to Brussels taken into account, we decided that it was about time for us to go. I think it was also because most parts of Colmar were almost look alike what we saw in the old town of Strasbourg, we got less wow-ed with what Colmar offered to us. We didn’t regret it though (not at all!), because we still got some superb view of the city. I just have to revisit the city one more time and explore the city again more thoroughly 😉

 

Simple Bruschetta for Lunch

This is one of kids’ favorite menus for lunch. Bikinnya lumayan simpel dan ga ribet (terutama kalo di rumah ada oven yang selalu ready hehe), bahan-bahannya pun ga banyak.

Saya mau share resepnya di sini, kali aja ada yang suka juga dengan bruschetta, daripada beli yang frozen ya, ini Insyaallah lebih sehat deh hehe.

Simple Bruschetta

Ingredients:
Chiabatta bread or Baguette, half baked
Approx. 3 pcs large tomatoes (or more for medium one, can be adjusted), clean the middle parts and then chopped into small squares
2 pcs of garlic, make into paste
Approx. 1 tsp chopped flat parsley
1 tsp salt
1 tsp (or more) grinded black pepper
Approx. 5 – 7 tbsp virgin olive oil

Method:
Preheat the oven to 220°C, bake the bread until brown in accordance to the instruction on the package (usually approximately 10-12 min).

Meanwhile, prepare for the topping. Mix all ingredients into a bowl. Don’t forget to taste the salt.

When the bread is done, take out from the oven, cut them in small pieces (or jusy half, whatever you like 😉), spread the topping on to one side of the bread, until finished.

Change the oven into grill position to make the Bruschetta more crunchy (i usually put my oven into position 5, but then when i grill them i didn’t close the oven door).

Grill the bruschetta for around 5 minutes until it gets a bit of brown color (or until it reaches the color you want).

DSC_1893

Your bruschetta is ready to be served.
I hope you enjoy it as we do 🙂

Cheers,

Kebijakan Plastik Berbayar

Akhir-akhir ini saya liat di beberapa media (termasuk media sosial) di Indonesia lumayan banyak orang yang memperdebatkan kebijakan plastik berbayar yang baru aja diterapkan sebulan terakhir ini. Berhubung saya background-nya hukum, jadi yang pertama saya coba browse ya apa dasar pemberlakuan aturan ini hehe. Saya nemu kalo yang menjadi dasar kebijakan ini adalah Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Nomor: SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang Langkah Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern dan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Dalam Surat Edaran yang saya sebutkan pertama, sebagaimana saya kutip dari situs hukum online, dijelaskan bahwa salah satu arah kebijakan Pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong plastik, adalah penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Kebijakan kantong plastik berbayar merupakan salah satu strategi guna menekan laju timbunan sampah kantong plastik yang selama ini menjadi bahan pencemar bagi lingkungan hidup.

Pemberlakuan aturan ini secara serentak dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia per Februari kemarin (cukup banyak deh kalo ga salah, lebih dari 20-an kota). Masing-masing kota (melalui surat edaran Gubernur atau Walikota masing-masing) boleh menentukan besaran harga untuk per-plastiknya. Misalnya di DKI Jakarta, Gubernur Ahok menetapkan harga sebesar 200 Rupiah per kantong plastik. Sementara di Maluku, untuk satu kantong plastik dikenakan harga 5000 Rupiah.  Kalo dari yang Surat Edarannya sendiri, disebutkan untuk satu kantong plastik pembeli/konsumen harus membayar minimal sebesar 200 rupiah. Untuk besaran biaya plastik ini ke depannya akan ditinjau ulang (pertiga bulan) oleh Kementerian dan ada kemungkinan ada perubahan.

Tanggapan masyarakat untuk kebijakan baru ini lumayan beragam. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Saya kurang tau, apakah kebijakan plastik berbayar ini hanya berlaku di supermarket-supermarket saja atau juga di department store, pasar tradisional atau toko retail lainnya (ada yang bisa berbagi info mungkin?). Kalo dilihat dari kutipan hukum online, sasaran utama aturan ini adalah pasar modern. Tapi tetep ya, saya kurang tau juga sejauh mana penerapannya.

Mereka yang pro sebagian besar beralasan kalo plastik itu sangat tidak ramah lingkungan, dan susah untuk didaur ulang (butuh waktu lama), jadi alangkah baiknya kalo penggunaan plastik ini dikurangi atau bahkan dihilangkan. Sementara mereka yang kontra lebih memasalahkan kalo penyediaan wadah untuk barang belanjaan yang mereka beli adalah kewajiban dari penjual, dan mereka mempertanyakan penggunaan/pengalokasian duit 200 rupiah hasil penjualan plastik tersebut (kalo diperhitungkan total hasil penjualan plastik dari ratusan juta penduduk Indonesia yang bisa lumayan besar jumlahnya).

Di Belanda sendiri per Januari 2016 kebijakan plastik berbayar untuk toko-toko retail juga secara efektif mulai berlaku. Dari jaman saya kuliah dulu (tahun 2008-2009) kalo saya belanja di supermarket memang tidak pernah disediakan plastik gratis (kecuali kalo kita belanja di toko asia atau toko turki). Supermarket-supermarket tersebut menyediakan kardus-kardus bekas packaging produk untuk dipergunakan para pembeli/consumer mereka untuk membawa barang belanjaan. Atau kalo mau bisa juga beli tas plastik seharga 25 sen (dan sedikit lebih mahal lagi kalo mau yang lebih besar dan lebih tahan lama). Kebanyakan para pembeli membawa tas atau wadah sendiri dari rumah (kalo dulu berhubung flat saya deket banget sama supermarket, saya suka pake kardus atau ditenteng gitu aja hehe. Kalo sekarang berhubung kalo belanja agak banyak, kami pakai crate sebagai wadah belanjaan).

Trus apa yang berbeda dengan sekarang? Seperti yang saya bilang, di toko-toko retail lainnya (selain supermarket yang “in a way” memang sudah memberlakukan kebijakan ini). Misalnya di toko-toko baju yang menggunakan plastik sebagai wadah belanjaannya seperti H&M, Forever 21, atau C&A; toko retail seperti Kruidvat, Hema, atau Department Store seperti Bijenkorf, atau V&D (yang udah bangkrut :p). Nah sekarang kalo kita belanja di Toko Asia ataupun Toko Turki kita juga harus bayar untuk plastiknya. Kalo kita belanja di toko retail yang menggunakan paper bag seperti Zara atau primark kita ga dikenakan charge kok. Oh iya, untuk per plastic bag biasanya kita akan dikenakan charge 5 sampai 10 sen tergantung besarnya (sekitar 750 sampai 1500 rupiah).

Kebijakan plastik berbayar ini ternyata juga baru mulai diberlakukan di Inggris per 5 Oktober tahun lalu. Inggris adalah yang paling terakhir memberlakukan kebijakan ini di antara negara-negara Inggris Raya lainnya (Wales di tahun 2011, Skotlandia dan Irlandia Utara di tahun 2014). Untuk per kantong plastik, para consumer harus membayar 5 pence atau sekitar 1000 rupiah kalo mau menggunakan plastik sekali pakai ini. Kebijakan ini juga hanya diterapkan bagi para retailer yang memiliki jumlah pekerja full time sebanyak 250 orang atau lebih, yang ditentukan dari besarnya perusahaan tersebut (bukan dari cabangnya saja). Untuk usaha-usaha yang lebih kecil juga boleh men-charge kalo mau, atau juga memilih skema lainnya yang lebih praktis.

Saya juga baca di satu artikel di BBC UK mengenai alokasi uang dari hasil penjualan plastik tersebut. Jadi disebutkan kalo uang hasil penjualan plastik tentunya akan masuk ke kantong supermarket atau toko retail bersangkutan. Uang tersebut bukanlah pajak, jadi tidak akan diserahkan ke pemerintah. Para retailer boleh memilih apa yang akan dilakukan dengan perolehan uang tersebut, tapi diharapkan hasil penjualan plastik tersebut akan didonasikan untuk sesuatu yang baik. Para retailer ini harus melaporkan apa saja yang telah mereka lakukan dengan uang tersebut kepada pemerintah, dan nantinya pemerintah akan mempublikasikan informasi tersebut setiap tahunnya.

Selain kebijakan plastik berbayar, ada juga beberapa negara yang secara tegas melarang penggunaan plastik sekali pakai ini loh. Yang pertama kali menerapkan larangan ini adalah Bangladesh (di tahun 2002) setelah sampah plastik ini menghambat drainage system selama musim banjir di negara ini. Beberapa negara lain yang juga memberlakukan larangan ini adalah Afrika Selatan, Rwanda, Kenya, China, dan Italia. Sementara di Chicago, per Agustus 2015 larangan penggunaan plastik sekali pakai (yang tipis) mulai diberlakukan.

Sebenarnya, kenapa penggunaan kantong plastik sebagai wadah lebih populer dan banyak digunakan oleh para retailer bila dibandingkan penggunaan kantong kertas bisa kita lihat dari contoh perbandingan di bawah ini.

Bisa kita lihat dari segi cost-efficient (yang pastinya penting buat retailer) penggunaan plastik jauh lebih murah kalo dibandingkan dengan penggunaan paper bag. Bahkan untuk para consumer kantong plastik dianggap lebih durable bila dibandingkan dengan paper bag. Tapi begitu kita lihat dari sisi recyclable atau tidaknya, jelas-jelas plastik bukan sesuatu yang recycled-friendly bila dibandingkan dengan si kantong kertas.

Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk orang yang pro ataupun kontra dengan kebijakan ini. Istilahnya, kalo ada aturannya, ya kita ikuti, kalo ga setuju ya ga usah ngotot nolak juga, toh masih banyak solusi lain yang bisa kita jalanin. Intinya, penggunaan kantong plastik bukan satu-satunya solusi lah. Selain penggunaan paper bag, kita juga bisa menggunakan tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali, atau crate seperti yang kami pakai kalo perlu belanja banyak. Makanya di sini hampir semua orang yang pergi ke supermarket bawa kantong sendiri (atau tas, termasuk yang bersepeda dengan tas sepeda atau keranjang di depan sepedanya).

Tapi to be honest, saya termasuk orang yang pro paper bag. Memang dari segi daya tahan “agak” kalah sama plastik – walo saya juga beberapa kali ngalamin kantong plastik robekkk alias ga tahan juga menampung belanjaan -, tapi menurut saya kantong kertas terkesan lebih gimanaaa gitu, apalagi kalo desainnya lucu – ato dari toko retail yang bagus punya hehe (tapi kalo untuk wadah gorengan tetep aja dua-duanya ga oke ya hihi).

Jeleknya dengan Indonesia, kalo menurut saya pemerintah kita senengnya mengatur sesuatu setengah-setengah alias ga tuntas dan jelas. Mungkin itu sebabnya masyarakat ada yang kontra dengan kebijakan ini. Mereka yang kontra ini merasa kalo pemerintah malah membebankan sesuatu yang seharusnya bukan menjadi beban konsumen (walaupun 200 Rupiah, ini masalah prinsip bung! hihi). Coba kalo dijelaskan kaya di Inggris, akan dikemanakan si uang tersebut, atau apalah yang bisa lebih menjelaskan kenapa begini kenapa begitu, mungkin akan lebih banyak yang mendukung kebijakan ini.

Penggunaan plastik ini dalam kehidupan memang ga bisa dihindari ya. Paling banter ya mengurangi penggunaannya (makanya namanya “diet” kantong plastik hehehe). Saya sempat baca (dan lihat) kalo sebenernya ada beberapa plastik bisa didaur ulang. Nah, apa ga dimungkinkan ya kalo kita ganti aja semua kantong plastik yang beredar dengan kantong plastik yang bisa didaur ulang? just my pure curiosity 🙂

0223-city-plastic-bags

Now what do you think about this policy, is it a yay or a nay?