Kebijakan Plastik Berbayar

Akhir-akhir ini saya liat di beberapa media (termasuk media sosial) di Indonesia lumayan banyak orang yang memperdebatkan kebijakan plastik berbayar yang baru aja diterapkan sebulan terakhir ini. Berhubung saya background-nya hukum, jadi yang pertama saya coba browse ya apa dasar pemberlakuan aturan ini hehe. Saya nemu kalo yang menjadi dasar kebijakan ini adalah Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Nomor: SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang Langkah Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern dan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Dalam Surat Edaran yang saya sebutkan pertama, sebagaimana saya kutip dari situs hukum online, dijelaskan bahwa salah satu arah kebijakan Pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong plastik, adalah penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Kebijakan kantong plastik berbayar merupakan salah satu strategi guna menekan laju timbunan sampah kantong plastik yang selama ini menjadi bahan pencemar bagi lingkungan hidup.

Pemberlakuan aturan ini secara serentak dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia per Februari kemarin (cukup banyak deh kalo ga salah, lebih dari 20-an kota). Masing-masing kota (melalui surat edaran Gubernur atau Walikota masing-masing) boleh menentukan besaran harga untuk per-plastiknya. Misalnya di DKI Jakarta, Gubernur Ahok menetapkan harga sebesar 200 Rupiah per kantong plastik. Sementara di Maluku, untuk satu kantong plastik dikenakan harga 5000 Rupiah.  Kalo dari yang Surat Edarannya sendiri, disebutkan untuk satu kantong plastik pembeli/konsumen harus membayar minimal sebesar 200 rupiah. Untuk besaran biaya plastik ini ke depannya akan ditinjau ulang (pertiga bulan) oleh Kementerian dan ada kemungkinan ada perubahan.

Tanggapan masyarakat untuk kebijakan baru ini lumayan beragam. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Saya kurang tau, apakah kebijakan plastik berbayar ini hanya berlaku di supermarket-supermarket saja atau juga di department store, pasar tradisional atau toko retail lainnya (ada yang bisa berbagi info mungkin?). Kalo dilihat dari kutipan hukum online, sasaran utama aturan ini adalah pasar modern. Tapi tetep ya, saya kurang tau juga sejauh mana penerapannya.

Mereka yang pro sebagian besar beralasan kalo plastik itu sangat tidak ramah lingkungan, dan susah untuk didaur ulang (butuh waktu lama), jadi alangkah baiknya kalo penggunaan plastik ini dikurangi atau bahkan dihilangkan. Sementara mereka yang kontra lebih memasalahkan kalo penyediaan wadah untuk barang belanjaan yang mereka beli adalah kewajiban dari penjual, dan mereka mempertanyakan penggunaan/pengalokasian duit 200 rupiah hasil penjualan plastik tersebut (kalo diperhitungkan total hasil penjualan plastik dari ratusan juta penduduk Indonesia yang bisa lumayan besar jumlahnya).

Di Belanda sendiri per Januari 2016 kebijakan plastik berbayar untuk toko-toko retail juga secara efektif mulai berlaku. Dari jaman saya kuliah dulu (tahun 2008-2009) kalo saya belanja di supermarket memang tidak pernah disediakan plastik gratis (kecuali kalo kita belanja di toko asia atau toko turki). Supermarket-supermarket tersebut menyediakan kardus-kardus bekas packaging produk untuk dipergunakan para pembeli/consumer mereka untuk membawa barang belanjaan. Atau kalo mau bisa juga beli tas plastik seharga 25 sen (dan sedikit lebih mahal lagi kalo mau yang lebih besar dan lebih tahan lama). Kebanyakan para pembeli membawa tas atau wadah sendiri dari rumah (kalo dulu berhubung flat saya deket banget sama supermarket, saya suka pake kardus atau ditenteng gitu aja hehe. Kalo sekarang berhubung kalo belanja agak banyak, kami pakai crate sebagai wadah belanjaan).

Trus apa yang berbeda dengan sekarang? Seperti yang saya bilang, di toko-toko retail lainnya (selain supermarket yang “in a way” memang sudah memberlakukan kebijakan ini). Misalnya di toko-toko baju yang menggunakan plastik sebagai wadah belanjaannya seperti H&M, Forever 21, atau C&A; toko retail seperti Kruidvat, Hema, atau Department Store seperti Bijenkorf, atau V&D (yang udah bangkrut :p). Nah sekarang kalo kita belanja di Toko Asia ataupun Toko Turki kita juga harus bayar untuk plastiknya. Kalo kita belanja di toko retail yang menggunakan paper bag seperti Zara atau primark kita ga dikenakan charge kok. Oh iya, untuk per plastic bag biasanya kita akan dikenakan charge 5 sampai 10 sen tergantung besarnya (sekitar 750 sampai 1500 rupiah).

Kebijakan plastik berbayar ini ternyata juga baru mulai diberlakukan di Inggris per 5 Oktober tahun lalu. Inggris adalah yang paling terakhir memberlakukan kebijakan ini di antara negara-negara Inggris Raya lainnya (Wales di tahun 2011, Skotlandia dan Irlandia Utara di tahun 2014). Untuk per kantong plastik, para consumer harus membayar 5 pence atau sekitar 1000 rupiah kalo mau menggunakan plastik sekali pakai ini. Kebijakan ini juga hanya diterapkan bagi para retailer yang memiliki jumlah pekerja full time sebanyak 250 orang atau lebih, yang ditentukan dari besarnya perusahaan tersebut (bukan dari cabangnya saja). Untuk usaha-usaha yang lebih kecil juga boleh men-charge kalo mau, atau juga memilih skema lainnya yang lebih praktis.

Saya juga baca di satu artikel di BBC UK mengenai alokasi uang dari hasil penjualan plastik tersebut. Jadi disebutkan kalo uang hasil penjualan plastik tentunya akan masuk ke kantong supermarket atau toko retail bersangkutan. Uang tersebut bukanlah pajak, jadi tidak akan diserahkan ke pemerintah. Para retailer boleh memilih apa yang akan dilakukan dengan perolehan uang tersebut, tapi diharapkan hasil penjualan plastik tersebut akan didonasikan untuk sesuatu yang baik. Para retailer ini harus melaporkan apa saja yang telah mereka lakukan dengan uang tersebut kepada pemerintah, dan nantinya pemerintah akan mempublikasikan informasi tersebut setiap tahunnya.

Selain kebijakan plastik berbayar, ada juga beberapa negara yang secara tegas melarang penggunaan plastik sekali pakai ini loh. Yang pertama kali menerapkan larangan ini adalah Bangladesh (di tahun 2002) setelah sampah plastik ini menghambat drainage system selama musim banjir di negara ini. Beberapa negara lain yang juga memberlakukan larangan ini adalah Afrika Selatan, Rwanda, Kenya, China, dan Italia. Sementara di Chicago, per Agustus 2015 larangan penggunaan plastik sekali pakai (yang tipis) mulai diberlakukan.

Sebenarnya, kenapa penggunaan kantong plastik sebagai wadah lebih populer dan banyak digunakan oleh para retailer bila dibandingkan penggunaan kantong kertas bisa kita lihat dari contoh perbandingan di bawah ini.

Bisa kita lihat dari segi cost-efficient (yang pastinya penting buat retailer) penggunaan plastik jauh lebih murah kalo dibandingkan dengan penggunaan paper bag. Bahkan untuk para consumer kantong plastik dianggap lebih durable bila dibandingkan dengan paper bag. Tapi begitu kita lihat dari sisi recyclable atau tidaknya, jelas-jelas plastik bukan sesuatu yang recycled-friendly bila dibandingkan dengan si kantong kertas.

Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk orang yang pro ataupun kontra dengan kebijakan ini. Istilahnya, kalo ada aturannya, ya kita ikuti, kalo ga setuju ya ga usah ngotot nolak juga, toh masih banyak solusi lain yang bisa kita jalanin. Intinya, penggunaan kantong plastik bukan satu-satunya solusi lah. Selain penggunaan paper bag, kita juga bisa menggunakan tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali, atau crate seperti yang kami pakai kalo perlu belanja banyak. Makanya di sini hampir semua orang yang pergi ke supermarket bawa kantong sendiri (atau tas, termasuk yang bersepeda dengan tas sepeda atau keranjang di depan sepedanya).

Tapi to be honest, saya termasuk orang yang pro paper bag. Memang dari segi daya tahan “agak” kalah sama plastik – walo saya juga beberapa kali ngalamin kantong plastik robekkk alias ga tahan juga menampung belanjaan -, tapi menurut saya kantong kertas terkesan lebih gimanaaa gitu, apalagi kalo desainnya lucu – ato dari toko retail yang bagus punya hehe (tapi kalo untuk wadah gorengan tetep aja dua-duanya ga oke ya hihi).

Jeleknya dengan Indonesia, kalo menurut saya pemerintah kita senengnya mengatur sesuatu setengah-setengah alias ga tuntas dan jelas. Mungkin itu sebabnya masyarakat ada yang kontra dengan kebijakan ini. Mereka yang kontra ini merasa kalo pemerintah malah membebankan sesuatu yang seharusnya bukan menjadi beban konsumen (walaupun 200 Rupiah, ini masalah prinsip bung! hihi). Coba kalo dijelaskan kaya di Inggris, akan dikemanakan si uang tersebut, atau apalah yang bisa lebih menjelaskan kenapa begini kenapa begitu, mungkin akan lebih banyak yang mendukung kebijakan ini.

Penggunaan plastik ini dalam kehidupan memang ga bisa dihindari ya. Paling banter ya mengurangi penggunaannya (makanya namanya “diet” kantong plastik hehehe). Saya sempat baca (dan lihat) kalo sebenernya ada beberapa plastik bisa didaur ulang. Nah, apa ga dimungkinkan ya kalo kita ganti aja semua kantong plastik yang beredar dengan kantong plastik yang bisa didaur ulang? just my pure curiosity 🙂

0223-city-plastic-bags

Now what do you think about this policy, is it a yay or a nay?

Advertisements

4 thoughts on “Kebijakan Plastik Berbayar

  1. Aku yg pro hehehe. Emang bener kayak kamu bilang kita bisanya cuman diet tp kalau semua orang berdiet kan lumayan bgt ya utk bumi. Selama ini aku udah bawa tas sendiri kalau belanja tapi…..terkadang kalau lupa atau gak cukup yah tetep pake plastik 😁

    Like

      • Haha iya abis susah gak ada alternatif lain kalau udah gak cukup ya. Di Medan masih digratisin padahal Aceh aja udah memberlakukan plastik berbayar. Aku pengen cepet2 aturan itu masuk Medan.

        Like

      • Oww kirain di Medan udah lohh kak.
        Kalo di sini kaya belanja di supermarket si masih bisa pake kardus, tapi kalo belanja baju di dept. store kalo udah kaya gitu ga ada pilihan lain kaan, masa kita mau dobelin pake ke badan bisa dikira gila nanti wkwk

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s