How Old is Your Partner? (The Half Your Age Plus Seven Rule)

chart

“..This rules states that by dividing your own age by two and then adding seven you can find the socially-acceptable minimum age of anyone you want to date. The (lesser-applied) other side of the rule defines a maximum age boundary: Take your age, subtract 7, and double it. With some quick math, the rule provides a minimum and maximum partner age based on your actual age that, if you choose to follow it, you can use to guide your dating decisions.”

Ada yang pernah denger ga tentang aturan ini? Mungkin kalo dibandingkan, yang udah pernah denger lebih sedikit jumlahnya daripada yang belum pernah denger ya hehe. Sebelum nulis draft ini pun saya termasuk grup yang ga tau sama yang namanya the half your age plus seven rule ini.

Aturan ini adalah semacam aturan sosial yang bisa jadi patokan buat mereka yang baru mau mulai menjalin hubungan dengan seseorang (cowo ataupun cewe) tapi ragu apa jarak usia mereka kejauhan ato ga (kalo dilihat dari kepantasannya). Jadi menurut aturan ini, rumus untuk menentukan batas minimum usia pasangan adalah umur kita dibagi dua, kemudian ditambah 7. Sementara, untuk menentukan batas maksimum, rumus yang digunakan adalah umur kita dikurangi 7, kemudian dikali 2. Sebagai contoh, umur saya adalah 30 tahun. Umur pasangan saya 41 tahun. Apa pasangan saya termasuk dalam kategori socially acceptable atau ngga kalo diliat dari jarak usia kita?

kalo diliat dari sisi saya, karena pasangan saya lebih tua maka rumus yang dipake adalah yang kedua, maka usia maksimal pasangan saya adalah (30-7) x 2 = 46 tahun. Ini berarti pasangan saya masih masuk dalam kategori aman. Sementara kalo diliat dari sisi pasangan saya, maka usia minimum yang dianggap oke untuk dijadikan pasangan dia adalah (41:2) + 7 = 27,5 tahun (anggep aja 28 tahun). artinya saya juga masih masuk dalam kategori amannya dia.

Sebenernya postingan ini sendiri berawal dari keingintahuan saya, terutama ketika melihat akhir-akhir ini banyak pasangan yang kalo dari kasat mata keliatan jauh jarak usianya. Selain itu juga banyaknya reaksi dan jawaban orang-orang yang punya pasangan terutama orang asing (pasangan lokal juga walo mungkin ga gitu banyak) kalo dapet pertanyaan “beda berapa tahun dengan pasangannya”. Tau sendiri kan kalo di Indonesia orang-orangnya keponya parah banget, trus kalo pertanyaannya ini dijawab reaksinya biasanya suka judgmental. Makanya kebanyakan kalo saya liat dari jawaban atau reaksi dari orang-orang yang punya pasangan orang asing (well, sebagian besar perempuan tentunya), yang ditanya jadi bete karena orang menstereotipekan kalo cewe indonesia (asia) punya pasangan cowo orang asing pasti tu orang asingnya udah tua (bukan yang seumuranlah). Mereka mungkin ga sudi dibilang lakunya cuma sama yang tua juga ya hehe. Anyway.

Nah, dari sinilah saya jadi penasaran sampai seberapa jauh sebenernya jarak umur pasangan kita yang masih dianggap wajar atau normal (di mata masyarakat), dan mana yang dianggap ngga (kemudaan atau ketuaan gitu lah). Selain itu, tentu juga saya pengen tau apakah jarak umur antara saya dan suami masih termasuk “pantes” ato ga hehe. Btw sebelum ada yang nanya (ha!), suami saya umurnya 11 tahun lebih tua dari saya. Gapapa kok kalo mau komen ato mikir macem-macem hehe – whether it’s a good one or not 🙂

Sebelum ketemu sama suami, saya ga pernah punya pacar yang lumayan jauh jarak umurnya dari saya. Saya ga punya mantan berderet kok, tapi kebetulan beberapa mantan temen deket saya (tsah, sok laku hahahak) umurnya memang berjarak ga jauh-jauh dari umur saya. Satu mantan dari negara tetangganya Belanda yang kerjaannya bolak-balik putus sambung jaraknya itu 3 tahun dari saya. Satu mantan lainnya malah cuma beda 4 bulan aja sama saya. Dan yang dari Afsel bedanya 2 tahun di atas saya. Eh…ini kok jadi kaya defense saya ya hahahaha, kalo saya juga laku sama yang muda😂.

Dulu pas temen saya Titi nikah sama Aksan, saya dan temen-temen yang lain cukup kaget dan amazed, karena kita ngerasa jarak usia mereka kan cukup jauh (11 tahun – sama kaya yang saya alami sekarang hkhk). Mungkin juga karena waktu itu kami masih (lumayan) muda jadi begitu denger age gap sebesar itu langsung ngerasa waw (kalo ga salah pas mereka nikah Titi di usia 25-30an, sementara Aksan udah di usia 36-40an).

Lain dengan sahabat saya satunya lagi. Kebetulan kali ini sahabat saya usianya 6-7 tahun lebih tua dari suaminya. Seperti biasa ada aja orang yang iseng komentar, bilang kalo udah kaya tante-tante kawin sama keponakan aja. Gila ya komennya, tapi emang menurut saya mulutnya orang-orang indonesia kadang kelewat peres (cunihil, maaf saya ga tau bahasa bakunya apa :D) – yang ga penting dan bikin sakit hati orang tetep aja diomong.

Bicara mengenai usia kita sendiri, mungkin hal ini juga mempengaruhi pandangan kita sendiri terhadap age gap dengan pasangan. Sebelum usia saya masuk ke angka 30, having a relationship with someone over six years of gap from my age is really beyond my mind and I wouldn’t thought that it could happen to myself. Tapi pandangan ini berubah seiring usia bertambah. Pemikiran saya mungkin juga agak lebih mateng dan saya jadi lebih banyak berpikir tentang bagaimana suatu hubungan bisa berhasil dari berbagai aspek, bukan hanya dilihat dari jarak usia aja. Juga kalo menurut saya karena pilihan untuk memilih pasangan jadi semakin mengerucut kali ya (halah). Memiliki pasangan yang usianya sudah memasuki angka 40 pun pada saat kita udah masuk usia 30-an jadi ga gitu terasa aneh lagi (walau tetap ga menutup kemungkinan untuk punya pasangan yang lebih muda). Saya sendiri bersyukur memiliki keluarga yang ga pernah nge-push saya untuk segera menikah jadi sayanya juga ga gitu grasa grusu ngebet berat mau nikah. Biasa..kan kalo buat orang indonesia cewe diatas umur 30 belum nikah itu (hampir) masuk kategori perawan tua hehe.

Saya bukannya mau ngomong kalo punya suami lebih tua itu lebih baik dari yang seumuran atau lebih muda loh. Sebenernya yang harus digarisbawahi sebelum kita memulai suatu hubungan adalah sejauh mana orang itu mau berkomitmen dengan kita – terlepas dari apakah dia lebih muda, seumuran atau lebih tua. Ada orang yang umurnya sudah jauh dari cukup untuk punya hubungan serius, tapi ternyata berat bagi dia untuk berkomitmen ke satu orang. Banyak juga cowo yang usianya udah di angka 40-an (bahkan 50) tapi tetep ga siap untuk komit dan punya satu hubungan yang serius. Entah apa yang bikin mereka berat, mungkin memang belom ada yang sreg aja kali ya. Ada juga orang yang masih muda dan mungkin belum mapan tapi berani untuk berkomitmen dan siap untuk menanggung apa yang sebelumnya bukan tanggung jawab menjadi tanggung jawabnya dia (berkaca dari sahabat saya yang usia suaminya jauh lebih muda).

Balik lagi ke aturan half year your age plus seven rule, saya termasuk yang pro dengan aturan ini. Kalo menurut saya, sebebas apapun hak kita untuk memilih pasangan, jangan sampe kita melupakan logika kita sendiri. Mau dibilang semua hubungan didasari cinta terlepas dari jarak umur, tapi mbok ya sebelum memulai hubungan dilihat juga kepantasannya, dan menurut saya kalo kita pake rumus ini batasan age gap-nya masih terasa masuk akal. Saya ga nutup mata juga kalo pasti ada hubungan dengan beda usia yang sangat jauh yang dilandaskan pada cinta, tapi mungkin yang bener-bener tulus kaya gini tanpa embel-embel jumlahnya ga banyak (menurut saya loh).

Menurut saya yang namanya jodoh adalah rahasia Yang Di Atas. Mungkin orang berpikir kalo punya pasangan yang lebih tua akan lebih sebentar waktu untuk bersamanya, tapi mau berapapun usia pasangan kita, balik lagi berapa lama kita hidup di dunia juga Tuhan yang menentukan. Hubungan dengan yang lebih tua, seumuran, atau lebih muda, masing-masing pasti ada tantangannya. Selama komitmen yang kita bangun didasari dengan sesuatu yang baik, pasti ke depannya juga akan berjalan dengan baik, dan apa yang baik menurut kita belum tentu cukup baik menurut yang lain. Ah, intinya sih apapun pilihan seseorang kita harus menghargai pilihan orang itu.

So, bagaimana dengan kamu? no matter how much the gap between you and your partner is, I wish you (and your partner) to have a long and prosperous – happily ever after relationship ya =)