Menikmati Masakan Vietnam di Belanda

“The best way to lose weight is to close your mouth – something very difficult for a politician. Or watch your food – just watch it, don’t eat it.”Β – Ed Koch

Ga seperti restoran yang menjual masakan khas Indonesia, India atau Thailand (kalo restoran Cina sih jangan ditanya ya hehe), mencari restoran yang menyajikan masakan Vietnam yang cukup otentik dan enak di Belanda lumayan susah buat saya yang cetek banget pengetahuannya ini (terutama di sekitar tempat tinggal kami).

Walau kemungkinan besar banyak restoran Vietnam di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam atau Den Haag, saya baru pernah makan masakan Vietnam yang enak di Den Haag aja. Ada dua restoran Vietnam yang pernah saya kunjungi. Saya tau restoran yang pertama berdasarkan rekomendasi dari teman saya yang waktu itu masih bertugas di Kedutaan. Kebetulan kata dia ibu Dubes atau pejabat diplomatik lainnya kadang suka ngajak tamu mereka untuk makan di sana. Nama restoran yang pertama adalah “NGON”, kali aja ada temen-temen yang sedang jalan-jalan ke Den Haag dan pengen makan masakan Vietnam boleh coba makan di sana. Dari pengalaman saya, memang masakan Vietnam di resto ini enak. Kalo ga jauh mah mungkin saya bakal lebih sering berkunjung ke sana deh hehe. Biasanya kalo kami makan di sana kami pesen papaya salad, fresh cold (beef) spring roll, dan sudah pasti Pho-nya (saya suka pesen yang Pho Bo Tai atau Beef Pho). Kuah Pho-nya itu enak, jernih dan ga bikin eneg. Porsinya lumayan besar, jadi buat yang makannya ga banyak bisa share sama temen. Dessert-nya juga lumayan enak, terutama yang kaya kolak ubi (namanya Che Koai Mon). Lokasi resto Ngon ini agak ke belakang Den Haag Centrum, kalo ga salah nama daerahnya Groenmarkt.

ngon-vietnamees-restaurant

via city guide

ngon-vietnamees-restaurant1

Papaya Prawn Salad. Image via Tripadvisor

Restoran Vietnam lain yang pernah saya kunjungi di kota yang sama adalah “Little V”. Untuk lokasi Little V lebih di Centrum (kalo dibandingin sama Ngon), bersebelahan dengan rumah makan Indonesia “Si Des”. Kalo menurut saya, untuk makanan di Little V kurang umph, tapi resto ini menang ambience dan minumannya yang jauh lebih variatif dibandingkan Ngon. Buat yang pengen lamaan dan nyaman ngobrolnya, Little V menang deh. The food itself is not that bad, cuma emang kalo dibandingin Ngon sedikit dibawah untuk rasanya. O ya, kalo saya liat Little V ini punya cabang di Rotterdam.

Eksterior dari Little V. Image via delicioustravel

Sebagian interior dari Little V. Image via Travellust.

Menu yang pernah saya pesan di Little V. Foto dokumen pribadi.

Nah, karena tiba-tiba kangen masakan Vietnam (kalo kita bela-belain ke Den Haag cuma buat makan suami malesΒ hihi), minggu lalu saya dan suami browsing buat nyari restoran Vietnam di dekat-dekat tempat tinggal kami (kira-kira yang ga lebih dari 20 KM jaraknya dari rumah kita lah wkwk). Thanks to Google, kebetulan kami nemuin satu restoran yang kalo diliat dari review-nya lumayan bagus (bintang 4 dari 5), nama restorannya “Vin Pearl”. Lokasinya bersahabat banget, karna terletak di Stationplein, bersebelahan dengan stasiun kereta dan terminal bus Den Bosch. Setelah kita liat dan menimbang kalo menunya cukup kids’ friendly (setidaknya buat anak-anak kami), lalu cus-lah kami ke sana. O ya, sebelumnya kami sudah buat reservasi terlebih dahulu buat amannya.

Pintu masuk Vin Pearl. Image via Dailydinner.

Kami reservasi untuk makan malam jam 17.30 (di rumah kami biasa makan malam paling lambat jam 18.00). Sesampainya kami di sana, cuma kami pelanggan yang dine-in di jam yang sama, dan sekitar sejam kemudian baru ada pelanggan lainnya. O ya, restoran ini juga menerima delivery order via thuisbezorg.nl, dan kayanya si yang order untuk delivery ini lumayan banyak karna pas kita di sana pelayannya lumayan sibuk bolak-balik. Untuk ukuran restoran asia, interiornya lumayan bagus dan ga corny (saya cuma ga suka musiknya). Pelayannya cukup sigap, menu-menu yang kami pesan juga lumayan cepat keluar dari dapurnya.

Sebagai appetizer, saya dan suami memesan fresh cold spring roll dan crispy pancake, sementara anak-anak memesan lumpia goreng isi ayam. Rasa dari kedua makanan yang kami pesan bikin fresh dan ga berat, sesuai dengan tujuan makanan pembuka. Untuk main dishes anak-anak pesen mie goreng (kebanyakan tauge kalo kata anak saya yang perempuan), suami pesen rolled minced beef dengan rice noodles, sementara saya pesen beef pho. Kedua main dishes yang suami dan saya pesan dua-duanya tidak mengecewakan. Menurut saya rasa kuah Pho-nya cukup balance – ga keasinan ga flaw juga ga bikin eneg rasanya. Yang lumayan menarik dan belum pernah kami coba adalah menunya suami. Jadi si minced beef-nya itu digulung pake piper leaves, sejenis daun sirih tapi rasanya agak beda dan ga tajam. Sementara si rice noodles-nya ga tau dikasih apa tapi warnanya jadi agak keunguan gitu dan rasanya gurih. Surprisingly good lah.

2017-06-11-11-20-49

Banh Xeo or crispy pancake with beef, beansprout and onion (foto dok. pribadi)

2017-06-11-11-35-00

Goi Cuon Tom or fresh cold spring roll with shrimp and veggies filling (foto dok. pribadi)

2017-06-11-11-39-11

Banh Hoi Bo La Lot, grilled minced beef rolled with piper leaves (foto dok.pribadi)

2017-06-11-11-42-09

Pho Bo Tai atau Beef Pho (foto dok. pribadi)

Sebagai penutup, kami nyoba salah satu menu dessert mereka, yaitu Vin Pearl Matcha Green Tea. Menurut kami rasa green tea-nya terlalu subtle alias ga terasa, yang menonjol adalah rasa susunya. Enak si tapi agak kurang sesuai ekspetasi saya.
All in all, restoran ini menurut saya lumayan otentik dan enak masakannya. Besar kemungkinan ini bukan terakhir kali saya akan makan di sana (dengan catatan restorannya ga tutup atau pailit ya hehe). Lumayan lah sebagai pelepas rindu kalo lagi kangen sama masakan Vietnam πŸ™‚

“Vietnamese food has probably been saved from the mass market because most people never master the sauces and condiments that must be added to the food, at the table, for its glories to become apparent. It’s too much trouble, and a lot of people don’t like asking for help, especially if the interaction involves some linguistic awkwardness.”Β – Tyler Cowen

Advertisements