First Stop: Hamburg, Jerman.

A Hamburg saying, referring to its anglophile nature, is “Wenn es in London anfängt zu regnen, spannen die Hamburger den Schirm auf.” … “When it starts raining in London, people in Hamburg open their umbrellas.”

The flying men. #latepost #street #performer #hamburg #germany #summer #holiday #august #2017

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam (dengan break sekali di rest area untuk makan siang), akhirnya kami sampai di hotel tempat kami menginap di Hamburg, Jerman. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi, dengan perkiraan kita akan sampe pas waktu check in di hotel. Hotel tempat kami menginap namanya Bundt’s Garten Restaurant. Hotel ini bukan pilihan awal saya si. Sebelumnya saya udah booking kamar di Novotel Hamburg untuk tanggal lain, tapi rencana awal kami berubah dan Novotel udah fully book. Saya harus cari akomodasi lain dan kebetulan waktu itu yang masih tersedia (dan cukup bagus review dan masuk akal harganya) adalah hotel ini. Kalo diliat dari kamarnya, bisa dibilang hotel ini termasuk hotel lama (feel-nya ga modern lah setidaknya).

Lokasi si hotel deket sama Hamburg airport, sementara untuk ke pusat kota sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Di sekeliling hotel ini banyak perkebunan apel. Salah satu nilai tambah untuk hotel ini adalah sarapannya enak! Selai dan jus yang disediakan fresh dan kayanya home made gitu, makanya jadi spesial.

Begitu sampai kami ga langsung ke city center tapi jalan-jalan di sekitar hotel, dan karena waktu yang agak tanggung, kami akhirnya makan malam di restoran di hotel aja. Makanan yang kami pesan cukup lumayan, walau juga ga begitu spesial. Suami waktu itu pesen bebek dengan persik dan saus cranberry, sementara saya pesen ikan (anak-anak standar kids menufries dan nugget). Cuma karna ketidaktauan kami sayang banget kentang yang ada di piring saya ternyata ada potongan ham-nya, yang berarti saya ga bisa makan. Untungnya si ikan (salmon dan white fish – lupa jenis apa) ga semuanya nempel, jadi masih ada beberapa bagian yang bisa saya makan. Sementara bebeknya suami aman.

Beautiful view on the road heading to the hotel.

The hotel.

The entrance of the hotel.

They have a midget golf here!

The interior in front of reception desk.

Apple tree field located accross to the hotel.

Pedestrian path.

Cute farmer house in the middle of nowhere.

The church close by to the hotel.

During the walk we spotted an airplane just took off from the airport 🙂

the fish menu.

the duck together with cranberry sauce and peaches. Other veggies and french fries were not in the picture bcos it came separately.

Di hari berikutnya kami baru menjelajah (halah) pusat kota Hamburg. Dengan pertimbangan dari segi kepraktisan, kami putuskan untuk memarkir mobil di sekitar pusat kota. Di malam sebelumnya kami sudah browsing kira-kira di mana kami bisa parkir dengan lokasi dan biaya paling efisien (tidak di pinggir jalan tapi di dalam gedung – dengan pertimbangan dari segi keamanan) dan kami putuskan untuk parkir di gedung pusat kebudayaan Jepang. Lokasinya cukup strategis dan biaya per harinya juga lumayan masuk akal.

Setelah memarkir mobil, kami menuju ke stasiun metro (u-bahn) untuk membeli Hamburg Pass. Walaupun beberapa tempat turistik di Hamburg lumayan saling berdekatan dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, buat kami yang bawa bayi dan dua anak kecil kadang lebih efisien kalo kita naik transportasi publik aja. Hamburg pass ini semacam tiket transportasi publik yang bisa dipergunakan untuk metro, bis dan kereta di sekitar Hamburg untuk jangka waktu tertentu (24 atau 72 jam). Saya kurang paham sebenernya untuk transportasi publik di Hamburg gimana walau setau saya di beberapa kota di Jerman transportasi publiknya gratis. Hamburg pass ini ada 2 jenis: yang single atau yang group. Kalo single masa berlaku 24 jam harganya €9,90 berlaku untuk satu orang, sementara untuk yang group masa berlaku 24 jam harganya €18,5 dan bisa dipergunakan untuk 5 orang dewasa. Untuk anak-anak sampai usia 12 tahun kalo mereka bareng dewasa ga perlu bayar alias gratis. Selain itu, kalo kita tunjukin si hamburg pass ini kita juga bisa dapet potongan harga di beberapa tempat. Fyi, selama kami mondar-mandir naik metro di sana ga ada yang meriksa tiket kami sama sekali lohh (dan mereka ga pake sistem gate di metro station-nya). Cuma emang kalo mau naik bis kita harus tunjukin si tiket ke supirnya si biar aman.

Stasiun metro terdekat dari tempat kami parkir adalah Rathaus station, di deket Rathaus/Town Hall-nya Hamburg. Sebelum ke stasiun kita sambil liat-liat juga di sekitar Rathaus square yang punya view bagus juga. Suasana di sekitar situ sewaktu kami ke sana ga gitu sibuk jadi kami masih bisa menikmati walau cuaca sedikit mendung. Dari Rathaus kami menuju ke stasiun yang jaraknya paling dekat dengan dermaga pelabuhan/pier karna kami berencana untuk ikut salah satu tour river cruise-nya. Alasannya si simpel, karna Hamburg adalah kota pelabuhan (kedua terbesar di Eropa setelah Rotterdam) dan memang lumayan banyak yang merekomendasikan untuk ikut tur ini. Lamanya tur adalah kurang lebih satu jam dan kita bisa milih untuk ikut di kapal yang menggunakan bahasa apa (kami ikut di kapal dengan tour guide berbahasa inggris).

Kami turun di stasiun St. Pauli dan kemudian jalan sedikit ke arah pier. Di sekitar sini baru mulai terasa turisnya (baca: rame cin! haha). Kayanya ini salah satu spot utama para turis ya, dan udah pasti mereka juga mau ikutan cruise-nya (ato setidaknya sightseeing di sekitar pier lah).

Selesai tur, kami menyempatkan diri untuk turun dan melihat the old elbe tunnel. Terowongan ini umurnya udah tua banget lohh, dibangun pada tahun 1911! Keren ya, di tahun segitu udah bikin konstruksi serumit ini dan bikinnya di bawah sungai (elbe) lagi. Untuk turun ke terowongan penyeberangan ini kita bisa lewat lift atau tangga (kalo kuat hahaha). Terowongan ini sendiri khusus diperuntukkan bagi para pejalan kaki dan pesepeda.

Puas melihat konstruksi si terowongan (ngga sis, kami ga nyebrang. Saya nyerah kalo disuruh nyebrang sambil gendong unyil hahah, begitu sampe di seberang langsung pengsan kayanya 😂), kami makan siang di Hard Rock Cafe yang lokasinya di sekitar pier juga. Pengunjung cafe-nya termasuk ramai tapi alhamdulillah kami cepet dapet tempat. Tapi abis pesen, makanannya lama banget datengnyaaa. Untungnya anak-anak ga complain dan sibuk main berdua (sementara si kecil sibuk teriak dan bikin repot papa mamanya). Setelah makan siang kami berencana untuk berkunjung ke Miniatur Wunderland yang katanya adalah tempat wisata dengan miniatur model kereta terbesar dan terlengkap di dunia (bener ga sih?). Awalnya saya pikir miniatur wunderland ini kaya madurodam gitu, jadi di luar atau outdoor attraction, tapi ternyata showcase-nya semua di dalam ruangan alias indoor. Begitu sampe di pintu masuk, loket tiket antriannya udah panjang, dan pas giliran kita ternyata mereka bilang tiket untuk jam kita dateng udah sold out dan mereka nawarin untuk dateng jam 18.30 – 20.30 atau jam 19.30. 21.30. Kami baru tau kalo mereka membatasi pengunjung dengan menjual tiket dengan slot jam kaya gini. Wajar si ya, kalo ga yang ada ga nyaman banget di dalam. Anyway, karna kami pikir jam 18.30 tanggung (karna pas waktunya makan malam dan kami sudah reservasi di salah satu restoran untuk jam 17.30), akhirnya kami pilih opsi yang jam 19.30 dan nanti kembali lagi ke sana setelah makan malam.

Berhubung ada jeda waktu dan kami (well, saya dan anak-anak si hehe) udah ngerasa cape, saya usul untuk cari taman aja biar si kecil bisa agak bebas bergerak (at least ga digendongan aja). Setelah ngulik sedikit di peta kami lihat taman terdekat adalah Alter Elb Park, dan ke sanalah kami berjalan kaki menuju dan beristirahat sebentar (lempengin pinggang sis 😂).

Rathaus alias Town Hall-nya Hamburg.

Sisi lain Rathaus/Town Hall Hamburg.

Pemandangan dari atas Landungsbrücken.

Pemandangan dari Landungsbrücken.

Another bridge of locks? Lokasi di Landungsbrücken keluar dari stasiun metro St. Pauli, deket pelabuhan.

Ferry cruise yang kita tumpangi.

Pasar ikannya Hamburg. Sepi karna udah siang, tukang ikannya udah pulang semua kayanya hehehe

“komplek”nya para sosialita Hamburg 😜

Salah satu condominium termahal di eropa. Bentuk gedungnya lucu ya.

Elbphilharmonie Hamburg.

Cranes at the port of Hamburg.

the old elbe tunnel yang melintas di bawah sungai Elbe. Untuk sampai ke ujung lainnya menempuh waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.

Makan siang kami di Hard Rock Hamburg.

Sisi lain kota Hamburg. Ternyata masih ada juga mereka yang tidur di bawah jembatan di sana.

Patung raksasa yang ada di Elb Park.

Setelah “ngadem” plus istirahat sebentar di taman, kami lanjut jalan lagi ke bus halte terdekat untuk pergi menuju restoran yang sudah kami pesan. Sebelum mutusin untuk makan di restoran ini kami juga menyempatkan untuk browsing sedikit dan kebetulan ketemu satu restoran india yang lumayan bagus review-nya dan lokasinya sendiri juga ga begitu “aneh” (makluuum, kita kan modal peta doang hihi). Setelah anak-anak oke, langsung kami reservasi di sana (takut penuh soalnya). Hasilnya? Ga nyesel deh makan di situ! Saya kan termasuk orang yang picky eater dan biasanya sama Indian cuisine ga gitu doyan-doyan amat, tapi sama yang ini duh beneran deh enak nyosss, terutama untuk para curry-nya.

These are our dinner menu at Ashoka Restaurant. Really recommended if you’re a fan of authentic Indian dish!

salah satu entrance-nya Dommarkt yang kami lewati waktu menuju restoran.

Selesai makan malam, kami kembali lagi ke miniatur wunderland (setelah sebelumnya sedikit diskusi dengan suami sebaiknya langsung bawa mobil aja dan parkir di tempat parkir terdekat di sekitar miniatur wunderland supaya kita ga perlu bolak-balik lagi). Begitu masuk ke lokasi, waduh saya agak stress euy. Ternyata udah jam segitu aja masih penuh! Mana kami bawa buggy/stroller, tiap mau maju dikit mentok sama kaki orang (ga tiap kali si cuma lumayan sering aja, ini hiperbolis sedikit hahah). Akhirnya kami mencar-mencar deh biar pada bisa lihat juga. Saya juga ikut keliling walau ga semuanya saya liat. Abis itu saya duduk aja sambil kasih mimik si bayi yang ga lama kemudian bobo (karna emang udah waktunya). Btw si Miniatur Wunderland ini buka sampe tengah malem booo. Poll banget nyari duitnya ya.

Setelah cukup puas lirak lirik si model train dan kawan-kawannya, akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Tipikal bangunan yang saya temuin di sekitar Hamburg. Menurut saya kesan industrialnya kental banget, ya ga si?

parts of Michaelis bridge. They put a very nice tiles here 😉 and look at the love padlocks on the left!

Salah satu spot karyawan di Miniatur Wunderland.

Kalo ga salah ini adalah miniatur dari salah satu event konser penggalangan dana. Kebayang ga itu miniatur orangnya ditaroin satu-satu secara manual. Kalo ga salah juga kita bisa ikut donasi dan nanti miniatur kita akan ditaro di situ 🙂

Miniaturnya the Spanish Step di Roma.

Kalo ini miniatur railtrack yang ada di Swiss (ato Austria ya? Lupa sodara-sodara maap :p)

Jumlah pengunjung Miniatur Wunderland dari berbagai negara.

Yay, we are on TV! 😄

All in all, Hamburg for us is not dissapointing at all. Walaupun ga semua spot kami datengin tapi kami cukup menikmati dan untuk ukuran satu hari kami sudah lihat lumayan banyak tempat menarik di Hamburg.

Selepas sarapan dan selesai packing, berangkatlah kami menuju pemberhentian berikutnya, yaitu Billund – the home of Lego 🙂

Pardon for mama’s messy hair 😅

Ps: berhubung anak-anak yang pegang kamera, sebagian besar foto saya motret pake hp jadinya. O iya, maaf juga kalo fotonya terlalu banyak yaa. Sengaja wkwkwk

Advertisements

Road-Tripping with the Kids.

“When traveling with someone, take large doses of patience and tolerance with your morning coffee.”
– Helen Hayes

Duh kayanya kutipan di atas cukup relevan terutama buat yang jalan bareng anak-anak ya ga siiik. Summer holiday tahun ini saya beserta suami dan anak-anak mengisi liburan dengan road trip ke beberapa kota di beberapa negara yang ga jauh dari Belanda. Setelah rencana awal buat mudik ke Indonesia ga jadi (karna saya udah pulang di bulan April bareng si bayi), buat nyenengin anak-anak (dan juga tentu menambah pengalaman kami) saya usul ke suami untuk jalan-jalan pake mobil alias road trip ke negara yang deket-deket aja. Suami setuju dan setelah berembuk akhirnya kami sepakat untuk menjelajah sedikit ke wilayah scandinavia. Alasan awalnya adalah Legoland yang berlokasi di Billund, Denmark. Anak-anak walaupun udah agak besar (dibanding tahun-tahun lalu) mereka masih suka dengan tempat-tempat kaya gini. Kebetulan juga kami sudah pernah berkunjung ke Legoland di Johor Bahru dan  Günzburg, Jerman, makanya saya kepikiran untuk nyoba juga yang ada di Billund. Tapi trus saya pikir kenapa ga sekalian aja ke Copenhagen dan Malmö – toh jaraknya ga jauh-jauh amat (dari Billund) dan kita udah setengah jalan jadi sayang juga kalo ga sekalian dikunjungi. Suami pun setuju, karena dia juga belum pernah ke kedua kota tersebut, jadi buat dia ini juga pengalaman pertama berkunjung ke sana.

Dengan pertimbangan jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke Billund (perjalanan non stop Belanda-Billund memakan waktu kurang lebih 8 sampai 9 jam), kami juga akhirnya menambah stop dan sekalian sight-seeing di Hamburg pada saat perjalanan pergi, dan menginap semalam di satu kota kecil di Jerman (Lütjenburg) pada saat perjalanan pulang. Jadi, untuk road trip kami kali ini rutenya adalah Rumah-Hamburg-Billund-Copenhagen-Malmö-Lütjenburg-Rumah. Lumayan panjang ya hihi.

Rute berangkat (viamichelin.com)

Rute pulang (viamichelin.com)

Rencana awalnya kan suami dan saya bakal gantian nyetir, tapi sayang banget mobil suami yang sudah dipesan ke dealer langganan dia dari jauh hari belum selesai, akhirnya si dealer pinjemin mobil dengan jenis yang sama tapi dengan persneling manual (saya kan supir gadungan, jadi saya ga bisa nyetir pake manual hahaha), alhasil suami deh yang harus nyetir sepanjang perjalanan.

Di tiap kota kami menghabiskan waktu 3 hari, kecuali di Lütjenburg yang memang tujuan utamanya supaya yang nyetir bisa istirahat aja. Buat ukuran berlima (termasuk bayi) dengan lama perjalanan selama 10 hari, bawaan kami bisa dibilang masih masuk akal (at least kalo dibandingin sama mobil-mobil lain yang papasan sama kita di jalan). Selain tentu buggy/stroller plus baby carrier (bawaan wajib), kami bawa satu koper ukuran besar, satu koper kabin, satu tas ransel, satu diaper bag, plus satu tas belanjaan berisi makanan dan minuman untuk anak-anak dan saya beserta suami selama di perjalanan. Agak susah memang kalo liburan dengan jumlah hari yang nanggung kaya gini, terutama buat nentuin berapa baju yang harus dibawa. Saya sendiri kalo untuk pergi-pergian kaya kemarin selalu mengusahakan untuk bawa baju ekstra – terutama underwear dan kaos kaki anak-anak (untuk saya dan suami juga). Selebihnya kami rileks aja, toh kita kan bukan berkunjung ke pedalaman jadi pasti ada supermarket atau toko yang jual barang kebutuhan kita in case kita lupa. Eh tapi ada satu barang yang khusus dibawa anak-anak di perjalanan kali ini, yaitu hagelslag alias meses 😂. Buat jaga-jaga kata mereka, kali aja ga ada yang mereka suka di menu sarapannya hahaha.

Alhamdulillaah perjalanan berjalan cukup lancar (dengan beberapa titik kemacetan di highway-nya Jerman, terutama pas perjalanan pulang), fabian juga lumayan tenang sepanjang jalan. Beruntung anaknya banyak tidur di jalan walau beberapa kali sempat nangis dan merengek sebentar.

Berdasarkan info dari suami, total kilometer yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2200 KM. Banyak ya haha. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak banget jembatan, termasuk Øresundbron yang menghubungkan Denmark dan Swedia, serta Storebælt bridge yang menghubungkan Zealand dan Funen (dengan Sprogø island di tengah-tengahnya) di Denmark. Kedua jembatan ini adalah jembatan berbayar. Biaya tol sekali jalan di Øresundbron adalah sebesar €56 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter dan di Storebælt bridge adalah DKK 240 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter.

Storebælt bridge dari kejauhan (foto dok. pribadi)

Øresundbron – aerial view (image via pfnphoto.com)

Sementara untuk perjalanan pulang dari Malmö kami memilih alternatif lain dengan menggunakan ferry untuk pulang (dengan menyeberang via Jerman). Kami nyebrang dua kali: dari Helsingborg – Swedia ke Helsingör – Denmark, dan Rødby – Puttgarden. Harga tiket ferry ini lumayan juga ternyata sis 😂. Buat yang Helsingborg-Helsingör sekali jalan harga tiketnya sekitar €55 (untuk jenis mobil pribadi yang panjangnya kurang dari 6 meter, durasi nyebrang sekitar 15 menit), sementara Rødby-Puttgarden harga one way ticket-nya adalah sekitar €107 (durasi nyebrang sekitar 45 menit). Jadi kesimpulannya sodara-sodara, kalo punya waktu banyak dan mau agak hemat, dari Denmark ke Jermannya ga usah nyebrang pake ferry tapi muter aja hehe. Ato ambil ferry yang dari Helsingborg – Swedia langsung ke Lübeck – Jerman (lama perjalanan di ferry-nya 8 jam-an tapi wkwk).

Kira-kira beginilah ferry yang kami tumpangi (image via scandlines.com)

Btw, sebelum trip (seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya) saya udah bikin semacam itinerary kasar (banget) dan cost estimation (iya, saya sedetail itu semenjak bekeluarga😂). Walaupun ga mengikat, tapi si itin dan cost estimation ini lumayan bikin perjalanan kami jadi cukup efektif loh, dan untuk estimasi pengeluaran ini bisa kami jadikan patokan kalo nanti di liburan-liburan mendatang kami mau road tripping lagi (ke negara lain deket-deket sini). Yang bikin hepi adalah estimasi saya lumayan tepat, cuma beda €0,01 sis! Dan so pasti jumlahnya jauh lebih kecil kalo dibandingin sama biaya mudik ke Indonesia sekeluarga. 

Anyway, sementara udah dulu yaa. Nanti di postingan selanjutnya insya allah kita cerita tentang Hamburg okeh. Tot zo!

Us ❤ . . . #latepost #family #holiday #copenhagen #littlemermaid #denmark #nofilter #instatravel

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on


“If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness and fears.”
– Cesare Pavese

Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan?