holiday · photography · travel · visited cities

First Stop: Hamburg, Jerman.

A Hamburg saying, referring to its anglophile nature, is “Wenn es in London anfängt zu regnen, spannen die Hamburger den Schirm auf.” … “When it starts raining in London, people in Hamburg open their umbrellas.”

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam (dengan break sekali di rest area untuk makan siang), akhirnya kami sampai di hotel tempat kami menginap di Hamburg, Jerman. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi, dengan perkiraan kita akan sampe pas waktu check in di hotel. Hotel tempat kami menginap namanya Bundt’s Garten Restaurant. Hotel ini bukan pilihan awal saya si. Sebelumnya saya udah booking kamar di Novotel Hamburg untuk tanggal lain, tapi rencana awal kami berubah dan Novotel udah fully book. Saya harus cari akomodasi lain dan kebetulan waktu itu yang masih tersedia (dan cukup bagus review dan masuk akal harganya) adalah hotel ini. Kalo diliat dari kamarnya, bisa dibilang hotel ini termasuk hotel lama (feel-nya ga modern lah setidaknya).

Lokasi si hotel deket sama Hamburg airport, sementara untuk ke pusat kota sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Di sekeliling hotel ini banyak perkebunan apel. Salah satu nilai tambah untuk hotel ini adalah sarapannya enak! Selai dan jus yang disediakan fresh dan kayanya home made gitu, makanya jadi spesial.

Begitu sampai kami ga langsung ke city center tapi jalan-jalan di sekitar hotel, dan karena waktu yang agak tanggung, kami akhirnya makan malam di restoran di hotel aja. Makanan yang kami pesan cukup lumayan, walau juga ga begitu spesial. Suami waktu itu pesen bebek dengan persik dan saus cranberry, sementara saya pesen ikan (anak-anak standar kids menufries dan nugget). Cuma karna ketidaktauan kami sayang banget kentang yang ada di piring saya ternyata ada potongan ham-nya, yang berarti saya ga bisa makan. Untungnya si ikan (salmon dan white fish – lupa jenis apa) ga semuanya nempel, jadi masih ada beberapa bagian yang bisa saya makan. Sementara bebeknya suami aman.

Beautiful view on the road heading to the hotel.
The hotel.
The entrance of the hotel.
They have a midget golf here!
The interior in front of reception desk.
Apple tree field located accross to the hotel.
Pedestrian path.

Cute farmer house in the middle of nowhere.

The church close by to the hotel.
During the walk we spotted an airplane just took off from the airport 🙂
the fish menu.
the duck together with cranberry sauce and peaches. Other veggies and french fries were not in the picture bcos it came separately.

Di hari berikutnya kami baru menjelajah (halah) pusat kota Hamburg. Dengan pertimbangan dari segi kepraktisan, kami putuskan untuk memarkir mobil di sekitar pusat kota. Di malam sebelumnya kami sudah browsing kira-kira di mana kami bisa parkir dengan lokasi dan biaya paling efisien (tidak di pinggir jalan tapi di dalam gedung – dengan pertimbangan dari segi keamanan) dan kami putuskan untuk parkir di gedung pusat kebudayaan Jepang. Lokasinya cukup strategis dan biaya per harinya juga lumayan masuk akal.

Setelah memarkir mobil, kami menuju ke stasiun metro (u-bahn) untuk membeli Hamburg Pass. Walaupun beberapa tempat turistik di Hamburg lumayan saling berdekatan dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, buat kami yang bawa bayi dan dua anak kecil kadang lebih efisien kalo kita naik transportasi publik aja. Hamburg pass ini semacam tiket transportasi publik yang bisa dipergunakan untuk metro, bis dan kereta di sekitar Hamburg untuk jangka waktu tertentu (24 atau 72 jam). Saya kurang paham sebenernya untuk transportasi publik di Hamburg gimana walau setau saya di beberapa kota di Jerman transportasi publiknya gratis. Hamburg pass ini ada 2 jenis: yang single atau yang group. Kalo single masa berlaku 24 jam harganya €9,90 berlaku untuk satu orang, sementara untuk yang group masa berlaku 24 jam harganya €18,5 dan bisa dipergunakan untuk 5 orang dewasa. Untuk anak-anak sampai usia 12 tahun kalo mereka bareng dewasa ga perlu bayar alias gratis. Selain itu, kalo kita tunjukin si hamburg pass ini kita juga bisa dapet potongan harga di beberapa tempat. Fyi, selama kami mondar-mandir naik metro di sana ga ada yang meriksa tiket kami sama sekali lohh (dan mereka ga pake sistem gate di metro station-nya). Cuma emang kalo mau naik bis kita harus tunjukin si tiket ke supirnya si biar aman.

Stasiun metro terdekat dari tempat kami parkir adalah Rathaus station, di deket Rathaus/Town Hall-nya Hamburg. Sebelum ke stasiun kita sambil liat-liat juga di sekitar Rathaus square yang punya view bagus juga. Suasana di sekitar situ sewaktu kami ke sana ga gitu sibuk jadi kami masih bisa menikmati walau cuaca sedikit mendung. Dari Rathaus kami menuju ke stasiun yang jaraknya paling dekat dengan dermaga pelabuhan/pier karna kami berencana untuk ikut salah satu tour river cruise-nya. Alasannya si simpel, karna Hamburg adalah kota pelabuhan (kedua terbesar di Eropa setelah Rotterdam) dan memang lumayan banyak yang merekomendasikan untuk ikut tur ini. Lamanya tur adalah kurang lebih satu jam dan kita bisa milih untuk ikut di kapal yang menggunakan bahasa apa (kami ikut di kapal dengan tour guide berbahasa inggris).

Kami turun di stasiun St. Pauli dan kemudian jalan sedikit ke arah pier. Di sekitar sini baru mulai terasa turisnya (baca: rame cin! haha). Kayanya ini salah satu spot utama para turis ya, dan udah pasti mereka juga mau ikutan cruise-nya (ato setidaknya sightseeing di sekitar pier lah).

Selesai tur, kami menyempatkan diri untuk turun dan melihat the old elbe tunnel. Terowongan ini umurnya udah tua banget lohh, dibangun pada tahun 1911! Keren ya, di tahun segitu udah bikin konstruksi serumit ini dan bikinnya di bawah sungai (elbe) lagi. Untuk turun ke terowongan penyeberangan ini kita bisa lewat lift atau tangga (kalo kuat hahaha). Terowongan ini sendiri khusus diperuntukkan bagi para pejalan kaki dan pesepeda.

Puas melihat konstruksi si terowongan (ngga sis, kami ga nyebrang. Saya nyerah kalo disuruh nyebrang sambil gendong unyil hahah, begitu sampe di seberang langsung pengsan kayanya 😂), kami makan siang di Hard Rock Cafe yang lokasinya di sekitar pier juga. Pengunjung cafe-nya termasuk ramai tapi alhamdulillah kami cepet dapet tempat. Tapi abis pesen, makanannya lama banget datengnyaaa. Untungnya anak-anak ga complain dan sibuk main berdua (sementara si kecil sibuk teriak dan bikin repot papa mamanya). Setelah makan siang kami berencana untuk berkunjung ke Miniatur Wunderland yang katanya adalah tempat wisata dengan miniatur model kereta terbesar dan terlengkap di dunia (bener ga sih?). Awalnya saya pikir miniatur wunderland ini kaya madurodam gitu, jadi di luar atau outdoor attraction, tapi ternyata showcase-nya semua di dalam ruangan alias indoor. Begitu sampe di pintu masuk, loket tiket antriannya udah panjang, dan pas giliran kita ternyata mereka bilang tiket untuk jam kita dateng udah sold out dan mereka nawarin untuk dateng jam 18.30 – 20.30 atau jam 19.30. 21.30. Kami baru tau kalo mereka membatasi pengunjung dengan menjual tiket dengan slot jam kaya gini. Wajar si ya, kalo ga yang ada ga nyaman banget di dalam. Anyway, karna kami pikir jam 18.30 tanggung (karna pas waktunya makan malam dan kami sudah reservasi di salah satu restoran untuk jam 17.30), akhirnya kami pilih opsi yang jam 19.30 dan nanti kembali lagi ke sana setelah makan malam.

Berhubung ada jeda waktu dan kami (well, saya dan anak-anak si hehe) udah ngerasa cape, saya usul untuk cari taman aja biar si kecil bisa agak bebas bergerak (at least ga digendongan aja). Setelah ngulik sedikit di peta kami lihat taman terdekat adalah Alter Elb Park, dan ke sanalah kami berjalan kaki menuju dan beristirahat sebentar (lempengin pinggang sis 😂).

Rathaus alias Town Hall-nya Hamburg.

Sisi lain Rathaus/Town Hall Hamburg.
Pemandangan dari atas Landungsbrücken.
Pemandangan dari Landungsbrücken.
Another bridge of locks? Lokasi di Landungsbrücken keluar dari stasiun metro St. Pauli, deket pelabuhan.
Ferry cruise yang kita tumpangi.
Pasar ikannya Hamburg. Sepi karna udah siang, tukang ikannya udah pulang semua kayanya hehehe
“komplek”nya para sosialita Hamburg 😜
Salah satu condominium termahal di eropa. Bentuk gedungnya lucu ya.
Elbphilharmonie Hamburg.
Cranes at the port of Hamburg.
the old elbe tunnel yang melintas di bawah sungai Elbe. Untuk sampai ke ujung lainnya menempuh waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.
Makan siang kami di Hard Rock Hamburg.
Sisi lain kota Hamburg. Ternyata masih ada juga mereka yang tidur di bawah jembatan di sana.
Patung raksasa yang ada di Elb Park.

Setelah “ngadem” plus istirahat sebentar di taman, kami lanjut jalan lagi ke bus halte terdekat untuk pergi menuju restoran yang sudah kami pesan. Sebelum mutusin untuk makan di restoran ini kami juga menyempatkan untuk browsing sedikit dan kebetulan ketemu satu restoran india yang lumayan bagus review-nya dan lokasinya sendiri juga ga begitu “aneh” (makluuum, kita kan modal peta doang hihi). Setelah anak-anak oke, langsung kami reservasi di sana (takut penuh soalnya). Hasilnya? Ga nyesel deh makan di situ! Saya kan termasuk orang yang picky eater dan biasanya sama Indian cuisine ga gitu doyan-doyan amat, tapi sama yang ini duh beneran deh enak nyosss, terutama untuk para curry-nya.

These are our dinner menu at Ashoka Restaurant. Really recommended if you’re a fan of authentic Indian dish!
salah satu entrance-nya Dommarkt yang kami lewati waktu menuju restoran.

Selesai makan malam, kami kembali lagi ke miniatur wunderland (setelah sebelumnya sedikit diskusi dengan suami sebaiknya langsung bawa mobil aja dan parkir di tempat parkir terdekat di sekitar miniatur wunderland supaya kita ga perlu bolak-balik lagi). Begitu masuk ke lokasi, waduh saya agak stress euy. Ternyata udah jam segitu aja masih penuh! Mana kami bawa buggy/stroller, tiap mau maju dikit mentok sama kaki orang (ga tiap kali si cuma lumayan sering aja, ini hiperbolis sedikit hahah). Akhirnya kami mencar-mencar deh biar pada bisa lihat juga. Saya juga ikut keliling walau ga semuanya saya liat. Abis itu saya duduk aja sambil kasih mimik si bayi yang ga lama kemudian bobo (karna emang udah waktunya). Btw si Miniatur Wunderland ini buka sampe tengah malem booo. Poll banget nyari duitnya ya.

Setelah cukup puas lirak lirik si model train dan kawan-kawannya, akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Tipikal bangunan yang saya temuin di sekitar Hamburg. Menurut saya kesan industrialnya kental banget, ya ga si?

parts of Michaelis bridge. They put a very nice tiles here 😉 and look at the love padlocks on the left!
Salah satu spot karyawan di Miniatur Wunderland.
Kalo ga salah ini adalah miniatur dari salah satu event konser penggalangan dana. Kebayang ga itu miniatur orangnya ditaroin satu-satu secara manual. Kalo ga salah juga kita bisa ikut donasi dan nanti miniatur kita akan ditaro di situ 🙂
Miniaturnya the Spanish Step di Roma.
Kalo ini miniatur railtrack yang ada di Swiss (ato Austria ya? Lupa sodara-sodara maap :p)
Jumlah pengunjung Miniatur Wunderland dari berbagai negara.
Yay, we are on TV! 😄

All in all, Hamburg for us is not dissapointing at all. Walaupun ga semua spot kami datengin tapi kami cukup menikmati dan untuk ukuran satu hari kami sudah lihat lumayan banyak tempat menarik di Hamburg.

Selepas sarapan dan selesai packing, berangkatlah kami menuju pemberhentian berikutnya, yaitu Billund – the home of Lego 🙂

Pardon for mama’s messy hair 😅

Ps: berhubung anak-anak yang pegang kamera, sebagian besar foto saya motret pake hp jadinya. O iya, maaf juga kalo fotonya terlalu banyak yaa. Sengaja wkwkwk

14 thoughts on “First Stop: Hamburg, Jerman.

      1. Anak2nya dibiasain aja buat nyoba berbagai makanan. Aku ada temen anaknya umur 5 tahun sama 8 tahun, orang Danish asli, dikasi makan Chinese food, pake tofu dan pedes2, masuk aja kok 😛

        Like

      2. iya mba Evaa anak-anak so far udah lumayan sii, kalo sama yang pedes pada oke-oke aja, cuma buat yang rempahnya terlalu tajem aku-nya yang kawatir hihi, apalagi kemaren kan pas di jalan, kalo pada sakit kitanya nanti kerepotan 😛

        Liked by 1 person

  1. 1. udah bosen lihat jembatan gembok, sekarang dimana2 ada, haha
    2. Itu Spanish stepnya keren BANGET..
    3. Wah makanan Indiannya pasti enak yah.. Kelihatan hihi.. Aku suka pesen yang chicken tandoori dan Iyan biasanya pesen yang lamb..

    Like

    1. 1. Emberrr, yang belum pernah liat yang versi jembatan penyebrangan di jakarta si, besok kalo pulang pasang dong nly, jadi pelopor gitu hahaha
      2. Iyaa, yang miniatur bagian italia ini keren emang mirip sama aslinya (austria sama swiss belom pernah liat aslinya soalnya wkwkwk), cuma masih belum selesai semua (Venice belum ada).
      3. Iya inly endesss pokonya, bau rempahnya ga tajem banget tapi rasanya tetep dalem (halah) hahaha

      Like

      1. 1. Jangan2 udah ada pelopor pasang di jembatan busway wkwkwk..
        3. Nah setuju kalau baunya gak terlalu nyengat itu, udah paling bener.. Jangan sampe terlalu bau, belum makan udah teler duluan ama baunya haha..

        Like

      2. 1. bukan couple yang masang gembok di jembatan busway kayanya nly tapi polisi – takut tiangnya dicolong wkwkwkwk
        3. tossss ah, makanya gw agak takut mau pergi ke india – salah satu alesannya ini, kuat ga ya sama aroma-nya hihi

        Like

  2. Jangan pasang gembok ah, merusak jembatan. Kalau mau deklarasi cinta ngomong aja, kasih bunga atau cokelat, jangan merusak properti negara… bikinnya susah tau haha. Di Paris aja sampe di remove semua gembok2 itu karena jembatannya mau roboh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s