3rd Stop: Copenhagen

If I were forced to sum up in one sentence what the Copenhagen interpretation says to me, it would be ‘Shut up and calculate!
– David Mermin

Perjalanan dari Billund ke Copenhagen memakan waktu sekitar 2 jam aja. Kami menyeberang melewati Jembatan lintas laut sepanjang 18 KM (Storebælt). Tarif sekali jalannya adalah DKK 240 atau sekitar €34.

Untuk urusan hotel, Copenhagen adalah kota terakhir yang saya booking. Bukannya apa-apa, kebanyakan harga yang nyangkut di search engine saya harganya selangit cin! (iya, bahkan lebih mahal dari di Billund walau pilihannya lebih banyak hiks). Kalo saya ga bawa rombongan si mungkin bisa dapet kamar dengan harga yang reasonable yaa, tapi berhubung bawa rombongan sirkus yah terima ajalah apa adanya (saya tutup mata dan dompet biar suami aja yang jerit wkwkwk). Sempet mikir untuk nyoba air bnb tapi ga berani dan kemudian dicoret dari pilihan. Akhirnya kami milih untuk menginap di hotel jaringan Scandic yang lokasinya ada di Sydhavnen. Harganya termasuk lumayan (kita ga sampe ngabisin ribuan euro untuk total menginap selama 3 hari 2 malam di sana), kamarnya besar dan family-friendly (ini yang jadi salah satu pertimbangan kami untuk milih hotel ini), sarapan dan parkir gratis (yay!), plus lokasinya walo ga di pusat kota banget tapi di depan hotel ada halte bus nongkrong dengan cantiknya hihi.

Full moon! I captured this photo from our hotel room.

The lobby of the hotel.

Sebelumnya saya membayangkan kalo Copenhagen itu sejuk di mata, eco-friendly dan orang-orangnya santai dan less busy. Tapi ternyata pada kenyataannya ga seindah yang ada di kepala saya. At least pas pertama kami masuk ke wilayah pusat kota dan sekitaran hotel kami. First impression-nya kurang greng lah. Bisa jadi karna pada saat kami ke sana banyak banget perbaikan jalan dan konstruksi bangunan yang belum beres sepenuhnya makanya jadi bikin kotanya agak keliatan kotor dan berantakan. Bisa jadi juga karna saya tinggalnya di kampung dan ga begitu suka keramaian (yang terlalu ramai) dan kesibukan (yang terlalu sibuk) makanya jadi agak shock ya hahaha (ini hiperbola). Tapi ini ga berarti saya ga suka Copenhagen loh. Di sana banyak banget tempat-tempat indahnya, plus mereka juga punya Mal besar macam di Jakarta (with a better view and surrounding of course).

Balik ke cerita kami. Begitu sampai hotel, resepsionis menyambut kami dengan ramah (keuntungan bawa bayi unyu begini ni hihi) dan check-in pun berjalan dengan lancar. Setelah urusan kamar beres, kamipun pergi keluar untuk lihat-lihat suasana sekitar sembari sekalian cari makan malam. Jarak dari hotel ke city center sendiri kurang lebih sekitar 3 KM. Ga gitu jauh sebenernya. Tapi berhubung waktu yang kurang memungkinkan, ditambah kami udah laper dan cape akhirnya begitu liat Copenhagen Mall kami langsung cus ke situ aja.

Mall-nya Copenhagen ini konsepnya menurut saya kurang lebih kaya Bintaro X-Change lah. Yang bikin keren adalah mall ini di belakangnya langsung dek trus laut gitu. Kalo bangunannya sendiri standar mall-mall kaya yang di Indonesia (kenapa Belanda ga punyaaa huhu). Kebanyakan restoran dan toko buka sampai jam 20.00 malam. Lain dengan Billund, di sini untuk pilihan makanan jauh lebih bervariasi. Cumaaa, kalo di Mall ini kebanyakan konsepnya all you can eat gitu. Mereka juga nyediain menu a la carté gitu si, tapi kalo dibandingin jauh lebih menguntungkan kalo ambil paket all you can eat-nya (wkwkwk ga mau rugi sis). Kalo saya perhatiin, harga all you can eat di setiap restoran di Mall ini sama semuanya. Harganya belum termasuk minum. Di tempat kami makan variasi makanannya lumayan banyak, mulai dari yang biasa aja kaya french fries dan pizza, sampe yang lumayan spesial kaya grilled chicken, bakmi goreng, curry, biryani sampe tacos juga ada. Bagian saladnya juga banyak pilihannya dan juga ada section buah dan pudding untuk dessert.

Setelah kenyang kami sedikit jalan-jalan di sekitar dek. Di deket situ ada beberapa orang yang lagi berenang dong. Gila banget ya, kami yang ga nyelup aja udah kedinginan lah mereka itu nyebur di air😂. Karna ga kuat anginnya itu juga makanya kami putusin untuk balik ke hotel aja.

Besoknya selepas sarapan kami langsung nunggu dengan manis di halte bis siap mengeksplorasi Copenhagen. Tujuan pertama adalah si patung little mermaid. Dari halte depan hotel kami harus ganti bis di Copenhagen Central Station. O iya, untuk beli tiket transport ini kalo ga mau bayar kontan (ga semua transportasi publik juga yang terima cash kalo ga salah) mereka punya aplikasi khusus yang biayanya langsung di-charge ke kartu kredit kita. Sekali tap untuk zone 1 sampai 3 kalo ga salah adalah sekitar DKK 24 atau sekitar €3. Untuk tiket transport segitu masih termasuk murah dan cukup masuk akal – kurang lebih sama kaya ongkos bis di Belanda. Untuk anak-anak sampai umur 12 tahun seperti di kebanyakan kota di Eropa ga perlu beli tiket alias gratis. Untuk tiketnya sendiri masa berlakunya adalah 1 jam. Lewat dari itu kita harus beli tiket baru lagi. Mereka juga nawarin semacam tourist card juga si, tapi harganya lumayan mahal dan menurut kami ga gitu guna karna hampir kebanyakan tempat-tempat wisata di Copenhagen ga begitu jauh jaraknya (kecuali si little mermaid ini, yang lokasinya lumayan agak ke ujung). Saya ga tau apa mereka nawarin dagkaart atau daily transport card kaya di Belanda ato ga karna kami ga nanya.

Bukan cuma si patung little mermaid yang menarik di area ini. Ada juga beberapa patung lain yang ga kalah bagusnya dan juga view dermaga dengan yacht yang lagi diparkir di sana. Cuma emang yang paling rame ya di sekitar putri duyung itu. Hampir kaya cendol, dan rombongan turis-turis ini lumayan sangar demi ngambil fotonya. Buat yang minat mereka juga ada boat tour di sekitar patung lengkap dengan guide-nya.

Setelah puas keliling di sekitar situ, kami pun lanjut jalan ke Kastellet yang lokasinya ga jauh dari little mermaid. Kastellet ini adalah kompleks benteng yang luas. Nah kalo liat Kastellet dan lingkungan di sekitarnya baru deh berasa sesuai ekspektasi saya. Pemandangan di sekitar sini juga bagus. Ada satu kincir angin nyempil di tengah2 kompleksnya.

Pemandangan di sekitar Kastellet

Setelah mengelilingi Kastellet, kami pun lanjut berjalan kaki sambil nyari-nyari tempat makan karna kebetulan udah waktunya makan siang. Salahnya kami adalah sehari sebelumnya kami ga sempet googling (atau nyari info via Yelp – ga kepikiran euy) tempat makan mana yang recommended khususnya yang menawarkan menu khasnya mereka (si Smørrebrod tea). Akhirnya ya kami sambil jalan sambil liat kedai makan terdekat dan lumayan menarik untuk dilihat menunya. Akhirnya kami mampir di semacam kedai gitu lah, dan beli si Smørrebrod untuk makan siang kami. Smørrebrod sebenernya sama kaya cold sandwich, cuma emang bentuknya terbuka. Saya sendiri bukan penyuka cold food makanya jadi kurang nikmatin lah makannya (maklum mulut kampyung wkwk). Anak-anak dan suami si nikmatin aja. Eh tapi mungkin juga ada yang jenis warm sandwich-nya kali ya – saya aja yang oon hahaha. Kalo diliat dari banyaknya yang beli (kebanyakan pada take away si), kayanya si kedai ini lumayan laku juga.
Selesai makan, kami lanjut lagi jalannya. Awalnya kami pengen ke Amalienborg – tempat tinggal keluarga kerajaan, tapi kita ga nemu-nemu si Amalienborg ini hahaha. Kayanya si kita salah belok (ternyata satu blok doang bedanya!), walo untungnya ketemu spot menarik lainnya juga, yaitu Rundetaarn alias Round Tower. Kami ga masuk ke dalamnya (karna anak-anak pada waktu itu udah mulai capek dan sedikit cranky karna cuaca yang agak menyengat). Akhirnya kami cuma duduk di sekitar situ sambil mendengarkan street musician yang lagi main piano sambil nyanyi (bagus banget!). Out of the blue dan ini jarang banget kejadian sama saya, ga sengaja pas di situ kami ketemu salah satu rombongan turis dari indonesia dong haha. Setelah menyapa sedikit, kami pun lanjut lagi jalan. Kami melewati shopping street yang terkenal di sana (Strøget) dan kemudian lanjut menuju ke Christiansborg Palace.

foto bagian atas via npr.org, 3 smørrebrod di bawah adalah yang kita beli untuk lunch.

Construction work di depan Frederiks Kirke atau the Marble Church.

Found this nice spot at one of the road we passed

Rundetaarn alias the Round Tower

Unique statue next to the tower.

Strøget area.

Strøget area.

Bicycles!

Nyebrang dari Strøget menuju Christiansborg Palace.

Lagi-lagi kami ga masuk ke dalam palace (resiko bawa anak-anak gini nih). Setelah puas liat sekitar kompleknya aja kami pun lanjut jalan lagi. Awalnya mau nyari Tivoli Garden – salah satu amusement park tertua di Eropa – yang lokasinya emang ga jauh dari Christiansborg Palace (salah satu atraksinya keliatan dari Palace!), tapi sebel banget udah jalan keliling kami ga nemu-nemu pintu masuk utamanya (kayanya kita salah milih belokan lagi hahaha). Udahlah berhubung pas kami ngelilingin Tivoli itu nyampe di Copenhagen central station, kami putusin buat istirahat sambil makan donat sebentar dan kemudian naik bus menuju Nyhavn (New Haven).

Christiansborg Palace.

Glyptotek yang kita lewatin pas lagi nyebrang ke arah Tivoli Garden

Salah satu atraksi di Tivoli Garden yang keliatan dari jalan.

Nyhavn

Kumpulan life vest atau jaket pelampung.

Restoran dan Bar ini juga eksis di Legoland Billund Miniland 😁

Perjalanan menuju Nyhavn ini ternyata makan waktu lebih lama dari yang saya kira. Macet cin! Plus, banyak banget turis di sana. Saking penuhnya buat moto bagus tanpa banyak orang jadi agak susah. Pemandangan di sekitar Nyhavn bagus, dan seperti kebanyakan tempat-tempat turistik lainnya harga makanan dan minuman di sana agak gak masuk akal (setidaknya kalo dibandingin sama harga di lokasi lainnya).

Karna anak-anak udah pada kecapean dan waktu pun udah lumayan sore, kami putuskan untuk kembali ke hotel aja dan makan malam di sana. Karna lokasi ke hotel lumayan jauh, kami balik ke hotel naik bus. Nah jalan di sekitar Nyhavn ini ampun macetnya. Kami sendiri harus nunggu bus hampir 1 jam karna busnya kejebak macet. Jadi saya juga ngerti kenapa orang-orang di sana lebih milih naik sepeda atau jalan kaki buat mobilitas mereka.  Btw makanan yang kami order di hotel surprisingly enak dan ga gitu mahal loh. Anak saya yang cowo di sana jatuh cinta sama minuman yang dia coba pertama kali di sana (Elder flowers). Jadi setiap dia pesen minum yang dicari itu hehe.

Trus berhubung saya masih penasaran sama Amalienborg dan pengen liat prosesi pergantian penjaganya, saya usul kalo sebelum kami nyebrang ke Malmö untuk mampir ke sana. Salah satu concern suami sebenernya adalah tempat parkir. Selain mereka nge-charge lumayan tinggi, sepanjang yang saya liat emang tempat parkir di pusat kota ga gitu banyak dan kalo adapun terlihat penuh. Setelah browsing sedikit dan kebetulan ada tempat parkir ga jauh dari Amalienborg, akhirnya kami putuskan buat mampir juga. Keesokan harinya setelah sarapan kami langsung beberes dan check-out dari hotel menuju lokasi parkir di sekitar Amalienborg.

Satu hal penting yang perlu di-mention, pas kami mau parkir mobil kebetulan tempatnya hampir penuh dan yang tersisa adalah tempat parkir di lantai 5 maka kamipun parkir di sana. Begitu kami mau keluar teng terereng ternyata ga ada lift buat turun dooong, adanya cuma tangga aja. Kalo kami ga bawa buggy si ini ga akan jadi masalah tinggal turun aja. Akhirnya kami turun lewat jalan mobil sambil minggir dan pas mau pulang cuma suami yang ke atas buat ambil mobil. Sempet-sempetnya pula pake drama hilang tiket parkir lah, untung mereka ga kasih denda dan suami cukup bayar biaya parkir sesuai durasi kami parkir di sana aja.

O ya, jadwal pergantian pasukan penjaga istana di Amalienborg kalo ga salah adalah pukul 12.00 siang. Prosesinya sendiri sudah dimulai sejak pukul 11.30 – 11.45 kayanya. Kayanya emang Copenhagen sekarang ini adalah salah satu destinasi utama para turis ya, ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang berkerumun buat liat prosesi pergantian penjaga ini. Dulu pas saya di Stockholm sempat juga lihat prosesi serupa tapi kerumunan orangnya jauh lebih sedikit dari yang ada di Amalienborg. Sayang proses pergantian penjaga yang kami saksikan kemarin “cuma” yang simpel. Kalo kata suami, ini berarti Raja dan Ratu lagi ga ada di istana, dan mungkin juga putri dan/atau pangeran lagi ga ada di sana, karna katanya kalo mereka lagi ada prosesnya bakal lebih meriah dan panjang. Tapi tetep prosesinya lumayan menarik untuk dilihat.

Pas bubaran

sedikit out of the topic, aya pernah liat di salah satu link video di facebook kalo Copenhagen (atau Denmark?) merupakan salah satu kota yang terkenal dengan “cyclist-friendly.” Banyak warganya yang untuk mobilitas lebih memilih menggunakan sepeda dan di sana juga untuk jalanannya ada jalur tersendiri yang khusus diperuntukkan bagi para pesepeda. Sebenernya situasi kaya gini ga jauh beda juga dengan di Belanda. Cuma karna kebetulan saya tinggal di kampung yang nota bene jauh lebih sepi, jadi saya ngerasa kalo situasi jalanan di Copenhagen agak chaos. Sebenernya kalo liat di Amsterdam city center-nya juga gitu ya (apalagi di sekitar central station deh). Para pesepeda ini juga cenderung kurang toleran dengan para pejalan kaki. Kalo kitanya ga hati-hati bisa jadi kita jadi salah satu korban tabrak lari (sepeda) hahaha. Ada satu perbedaan yang cukup menonjol dari para pesepeda yang saya liat sepanjang saya di Copenhagen kalo dibandingin dengan pesepeda di Belanda: Mereka rata-rata pada pake safety equipment loh! Mulai dari helm (ini paling banyak), sampai knee and elbow protector ada juga yang saya temuin. Kalo di Belanda? meh lah hampir semua ga ada yang pake itu wkwkwk.

Satu pelajaran yang bisa kami ambil dari kunjungan kami ke Copenhagen kemarin adalah, kalo mau dateng ke sana jangan pas musim liburan (terutama pas summer)! dan kalo emang terpaksa sebisa mungkin kunjungi tempat-tempat turistik kaya Little Mermaid dan Nyhavn pagi hari atau ngga usah sekalian (tapi dua-duanya menarik, bagus dan worth to visit si hahahhaa).

Setelah selesai menonton proses penggantian penjaga di Amalienborg, kamipun kembali menuju ke tempat parkir. Setelah urusan perparkiran beres berangkatlah kami menuju destinasi selanjutnya.

Advertisements

What’s in a Name?

What’s in a Name?
That which we call a rose by any other name would smell as sweet..
(Romeo & Juliet, W. Shakespeare).

Is that true?
a name is just a name..?
menurut gw..nama itu penting.
let me tell u…gw punya pengalaman gw bisa admire someone only bcoz of his/her name..!
ridiculous maybe, but it’s true..mmm..dua kali…noup..tiga kali (bayangin..!!tiga kali..) gw kepentok sama yang namanya which i think is very unique..
emang sii..cuma sekedar mengagumi..tapi coba klo nama tu tiga orang bukan itu..wuiihh..mungkiiin gw ga inget juga kali orangnya..ehehe…parah ya??
gini deh..ambil contoh mawar seperti yang Shakespeare bilang tadi..
lo bayangin kalo namanya bangkai (read: bunga bangkai) ..pasti belom apa2 lo ga akan mao nyium tu bunga kaaann…meski di bilang wangi?? ya iyyaaa laa haayy…orang kan dah ngbayangin bangkai sebelom nyium tu bunga..
well..all in all..menurut gw, nama itu bagian dari estetika seseorang..more or less..it gives us first impression..dari nama orang bisa jadi cantik loooh..(hihi..meskipun bwt ke depannya sei tetap ditentukan oleh personality-nya yaaa…but still..)

what ’bout my name?
sadly..my name is similar with one of bird species..had d same name with one of our boxer (huhu…opposite sex w/ me pulaa….), also d same with one of ‘dangdut’ singer..(wkwk…what a name huh…)…
the only person who said that i had a beautiful name is someone who is so far away from here..
well..at least ada yang bilang nama gw bagus, ya ga? =)
but u know..actually i had two nick name..one is like i told u above..
d other..mmm…dipake sama penjahat perang bo!!
hehe…my other nick name’s inong (bcoz I’m half Aceh)..kemaren pas Aceh lagi rusuh-rusuhnya..panggilan keren gw itu disalahgunakan mereka yang membentuk women’s troop..they called themselves as “inong bale”..beteeeee….

jadi..kesimpulannya, I disagree with mas Shakespeare said in Romeo n Juliet..
btw bisa ngbayangin ga klo nama Romeo diganti jadi Rhoma??
huahuaahaha……lucu tuh..pasti lo semua ngbayangin mas “romeo”-nya bejenggot plus bersorban…ya gaaa???
ngaku deeeh…ehehe…

 

wkwkwk tulisan di atas itu adalah salah satu postingan yang saya buat di blog saya di tahun 2007. Begitu saya baca lagi sekarang jadi mikir lagi, siapa aja ya tiga nama yang saya kagumi itu, dan siapa juga yang bilang kalo nama saya bagus :p

O iya, sedikit cerita dibalik darimana datangnya inspirasi nama saya yang ringkes dan kurang familiar ini (biasanya kan yang banyak Anisa ya, bukan Anis which is more like a male name). Jadi dulu pas mama saya melahirkan saya, ada satu suster yang baik dan perhatian banget sama mama, namanya Anis. Nah, terinspirasi dari situ dikasihlah nama anaknya seperti suster yang baik hati itu. Kalo yang Inong udah tau dong ya, karna bapak saya orang Aceh dipanggillah saya Inong. Ngga tau kenapa cuma saya yang dipanggil Inong, padahal ada 3 anak perempuan di keluarga saya.

Dulu saya selalu mikir, ih nama saya biasa amat si, kalah keren sama nama kakak-kakak dan adik saya. Tapi semakin ke sini saya ga gitu ambil pusing, dan mungkin juga karna nama ini yang membawa banyak berkah buat saya makanya saya bersyukur nama saya apa adanya (tsaaahhh hahhaha).

Beda sama jaman dulu yang kalo ngasih nama kebanyakan ga gitu rumit, kalo saya liat trend masa kini, para orang tua (at least di sekitaran yang saya kenal) kebanyakan nyari nama yang susaaaaaahhhh banget nyebutnya. Well ga semua si ya, tapi kebanyakan gituuu. Mungkin menurut mereka makin njlimet penyebutannya makin keren ya hehe. Saya gak men-judge koookk, asli. Cuma kadang saya ngerasa kasian sama anaknya.

Sebelum saya punya anak, saya sempet cita-cita kalo punya anak akan dinamain ini dan itu. Bukan yang ribet-ribet kok, nama yang saya cita-cita-in itu kebanyakan simpel tapi menurut saya punya arti yang indah. Entah kenapa tapi kebanyakan nama yang terlintas di kepala saya kebanyakan nama cewek (qadarallah dapetnya cowok :)). Salah dua nama yang saya suka adalah Nina (dari cerita seri bergambar jaman dulu) dan Sarah (dari Siti Sarah istri Nabi Ibrahim S.A). 

Kemarin pas saya dan suami nyari nama buat anak kita mikirnya ga gitu susah (walo ga gampang juga buat nemu yang pas). Pertimbangan pertama adalah huruf pertama si bayi harus beda dari nama-nama yang sudah ada di rumah. Ini penting supaya kalo ada korespondensi ga bingung dan rancu dengan yang lain. Saya dan suami dua-duanya berawalan A, tapi untung jenis kelamin beda jadi masih lumayan lah ga gitu bingung hihihi (plus suami punya nama depan lebih dari satu jadi biasanya singkatannya lebih panjang). Anak kami yang pertama berawalan D sementara anak kami yang kedua berawalan E. Nah berangkat dari situ kami putuskan (kalo bisa) nama untuk si bayi berawalan F (biar jadi D-E-F wkwkwk). Pertimbangan selanjutnya adalah dari sisi pengucapan. Kami mau supaya nama anak kami gampang diucapkan oleh keluarga Indonesia dan juga keluarga Belanda. Satu lagi yang juga jadi pertimbangan saya pribadi (suami sepertinya ga gitu ambil pusing) adalah arti dari nama yang akan kami berikan ke anak kami. Saya ga pengen nama anak saya punya makna yang kurang baik. Ga perlu extravagant yang penting pengertiannya baik dan positif – itu pertimbangan saya. Sementara satu syarat tambahan dari suami: kasih nama yang simpel dan ga ribet. Cukup kaya nama kakak-kakaknya yang cuma pake dua nama (nama depan dan nama keluarga), ga kaya bapaknya yang namanya udah kaya kereta api hahaha.

Sebelum kami tau jenis kelamin si bayi, saya dan anak-anak suka asal nyebut kira-kira nama apa yang dimulai dari huruf f yang bisa kita kasih ke si bayi. Banyak nama untuk perempuan yang kita sebut tapi herannya dari awal saya udah kaya kepincut sama nama “fabian” seandainya si jabang bayi nantinya adalah laki-laki (walo belum 100% yakin). Mungkin itu yang namanya qadar ya. Sebelum si bayi lahir saya nyoba cari arti dari nama”fabian” ini tapi kebetulan agak susah nemunya. Sepanjang pencarian saya alhamdulillah fabian memiliki arti yang cukup bagus. Begitu fabian lahir, ndilalah tantenya fabian kasih kartu ucapan dengan arti dari nama “fabian” donggg. Kartunya sendiri dalam bahasa Jerman (karna ternyata nama fabian ini banyak di Jerman). Beruntung papa-nya fabian bisa nerjemahin jadi saya ikut tau deh arti fabian ini apa menurut orang Jerman😊.

Sekian dulu postingan (geje) dari saya hihi. Besok insya Allah posting lanjutan liburan summer kemarin. Agak ribet milih foto-fotonya, secara yang motret anak-anak, banyakan hasilnya kalo ga blur ya mencong 😂

Traveling (on A Long Haul Flight) with A Baby.

“Asked to switch seats on the plane because I was sitting next to a crying baby. Apparently, that’s not allowed if the baby is yours.”
Ilana Wiles, blogger

So, last April I went to Indonesia together with my seven month-old baby to attend my little sister’s wedding. Although it was not the first time for us to travel together without my husband and our two other kids (when he was still 4 months old, we traveled to Paris but a friend joined us half the way), it was still quite worrying for me at first to do the trip.

Main thing that concerned me before doing the trip was of course what if my baby (fabian) gets cranky all the way. This trip is way much longer if we compared it to Paris trip. And anyone who had experience of getting irritated by crying baby(ies) in the plane would know what I mean I guess (I am one of them 😜 – can you imagine if its your baby who did that!). Another concern was the loo issue. I didn’t have anyone to assist me or asked for help (well, I can ask the flight attendant actually but only to a certain limit I think). Plus, my baby at that age (7 months) has already starting to recognize people and he didn’t want to be hold by a stranger.

Having these in mind, my husband and I had to think and manage the trip as efficient as possible to make it easier and less hassle for me.

First of course which flight will suit best for us: direct flight or the one with stopover. After taking some considerations, we then decided that it would be better for me and fabian to use direct flight instead of flights with transit. There are few options for me to take direct flight from Amsterdam to Jakarta (we chose to use Garuda Indonesia). The duration of the flight from Amsterdam to Jakarta was approximately 13 hours, and the return flight was approximately 14 hours. The flight departed in the evening, hoping that it would be easier for fabian to sleep along the way and to adapt with the time difference later on.

After we confirmed the booking, I immediately contact the customer service of Garuda via email to request for a baby bassinet. This is actually a big advantage for those who travel with children less than 1 year old (well, maybe maximum 1,5 years – depends on the size of your baby).

This is the bassinet we got on our flight. Btw, the type of the bassinet self could be different from one airline (or flight) to another.

After the ticket and the bassinet have been settled, then we have to decide whether I should bring the buggy along to Indonesia or not, and which way would be the easiest for me to bring fabian and his (including mine) “equipment” along the whole time. In the beginning I considered to bring the buggy and a backpack diaper bag with me. But at the last moment (during the check in queue lol), I decided to leave the buggy and instead just using a baby carrier and replaced the backpack with shoulder-carry diaper bag. The consideration for the latter was mainly for the practicality – if I use backpack it would be a bit difficult for me to reach its pocket(s) without needed to take the bag out of my back.

I also have read some articles which discussed about how to handle a baby during take off and landing (because of the loud sound of the engine). Some people suggested to use earplug or earphone to reduce the sound, while others suggested to breastfeed the baby during the take off (and landing). Luckily fabian was not that critical at that moment. During the take off and landing he was quite relax and (without me asking) he just went to breastfeed and getting ready to sleep. I guess picking the evening flight also helped then 🙂

All in all, we had quite a smooth trip I can say. My son were mostly sleeping during the flight, and since I couldn’t use my tv (entertainment on demand) on my seat (hindered by the bassinet), I decided to make use the wifi connection on board (not for free but the price is still reasonably ok). I could use internet connection nicely during the flight (at least on the first batch) and able to chat with people on the ground – in Indonesia and in the Netherlands.

Nevertheless, doing a long haul trip only with your baby is definitely a tiresome. Yes – it’s possible, but if you have an option, I would suggest to bring your partner (or someone else) along. That would be much better for your body! 😉

And finally, although already a lot of people discuss it and what I will write below probably not much, I would like to share some tips for those who “must” do a long haul flight with a baby (or toddler below two years old).

1. Book your flight early. If you have an option to fly in the evening, do pick that. Evening flight(s) mean your baby doesn’t have to adjust that much with the time frame during the take off and landing – which means would be less stress for them.

2. Don’t forget to contact the customer service of the airlines in case you need them to provide a bassinet for your baby. Fyi, the bassinet can only be used for baby with maximum weight of 9kg or maximum age of 2 years old. The airlines only can provide limited number of bassinet in one flight, thus make sure you contact the airlines the soonest after your booking is confirmed.

3. Travel as light as possible. If you think you don’t need the stroller/buggy that much, just bring your baby with a baby carrier. Make sure your carrier is easy to wear on and off without assistance needed (as reference, I used ergobaby 360 four position). Further, bring a diaper bag which sufficient enough to accommodate your baby stuff, travel documents and your stuff as well (you don’t have to bring separated bag). In short, things you bring to the cabin would only be the baby (with the baby carrier) and one diaper bag.

4. If possible, choose a diaper bag that has at least one or two mini bags (one for the clothing stuff and one for food stuff – the latter is optional) with some extra pockets on it. The minibag is handy to bring in case you need to change your baby’s diaper. The extra pocket with sufficient size (preferably one with zipper in front or in the back of the bag) is important so that you can put your travel documents there and you can easily easily access them when you need it.

Stuff you need to bring in the clothing minibag: diapers (2 pcs would be enough), 1 pack wet wipes (choose the small one or reduce the wipe half), 1 set spare clothes (make sure its a comfy one like a jumper for example – no need to bring jeans or any clothes that less handy and less comfy), one pc of diaper cloth and 2 pcs (disposable) body wipes (washandjes).

If you have two minibag, you can put these things in the food minibag: (food and) milk container (to bring some snacks, milk, and the cereal/porridge for your baby – you don’t have to bring alot! Just some small portions in case your baby need it), baby spoon, bottle feed (for the milk), a mug (if your baby also drinks water), wet napkin, tissues, and (disposable) bib 2 pcs. If you only have one minibag, do remember to bring a thermal bag for your baby’s milk, while the rest can also just dump into the bag.

Some other stuff you also need to bring is a spare clothes for yourself (one t-shirt would be sufficient enough – in case an “accident” happened you would be happy that you bring a spare shirt 😅), some (small) toys for your baby (teethers, tiny stuffed doll), phone/cable charger, and a (light-weight) novel (optional). Don’t forget also to bring medicine such as paracetamol or other medicines you usually used (always handy when you have them around), band-aid (pleisters), mini perfume (important!), travel size toothbrush and toothpaste, and telon/kayuputih oil (only applicable to indonesian I think haha).

5. Make sure you and your baby wear comfortable clothes yet warm enough to wear in a room with an airco. Put your high heels and the blings in the baggage, also your make up kit. You will only need a (vaseline) petroleum gel or a lipbalm (and a thin lipstick after landing) to be put on your lips during the flight.

6. In my experience, the airline also provides baby food (usually baby food in a jar) and a diaper (complete with the wet wipes) for our baby. But, you cannot count on that since there’s always a possibility that the flight attendant forget to give them to you (happened to me).

7. After you landing (also applicable during the flight), if you need a help do not hesitate to ask someone else to help you – especially when picking up your luggage(s) from the baggage belt.

8. And finally, don’t stress out. Just relax, enjoy it and consider the trip as something that will make the bond between you and your baby stronger (😁).

I hope this post could help those who will do the travel alone with her (or his) baby just like me😊

Happy traveling!