3rd Stop: Copenhagen

If I were forced to sum up in one sentence what the Copenhagen interpretation says to me, it would be ‘Shut up and calculate!
– David Mermin

Perjalanan dari Billund ke Copenhagen memakan waktu sekitar 2 jam aja. Kami menyeberang melewati Jembatan lintas laut sepanjang 18 KM (Storebælt). Tarif sekali jalannya adalah DKK 240 atau sekitar €34.

Untuk urusan hotel, Copenhagen adalah kota terakhir yang saya booking. Bukannya apa-apa, kebanyakan harga yang nyangkut di search engine saya harganya selangit cin! (iya, bahkan lebih mahal dari di Billund walau pilihannya lebih banyak hiks). Kalo saya ga bawa rombongan si mungkin bisa dapet kamar dengan harga yang reasonable yaa, tapi berhubung bawa rombongan sirkus yah terima ajalah apa adanya (saya tutup mata dan dompet biar suami aja yang jerit wkwkwk). Sempet mikir untuk nyoba air bnb tapi ga berani dan kemudian dicoret dari pilihan. Akhirnya kami milih untuk menginap di hotel jaringan Scandic yang lokasinya ada di Sydhavnen. Harganya termasuk lumayan (kita ga sampe ngabisin ribuan euro untuk total menginap selama 3 hari 2 malam di sana), kamarnya besar dan family-friendly (ini yang jadi salah satu pertimbangan kami untuk milih hotel ini), sarapan dan parkir gratis (yay!), plus lokasinya walo ga di pusat kota banget tapi di depan hotel ada halte bus nongkrong dengan cantiknya hihi.

Full moon! I captured this photo from our hotel room.

The lobby of the hotel.

Sebelumnya saya membayangkan kalo Copenhagen itu sejuk di mata, eco-friendly dan orang-orangnya santai dan less busy. Tapi ternyata pada kenyataannya ga seindah yang ada di kepala saya. At least pas pertama kami masuk ke wilayah pusat kota dan sekitaran hotel kami. First impression-nya kurang greng lah. Bisa jadi karna pada saat kami ke sana banyak banget perbaikan jalan dan konstruksi bangunan yang belum beres sepenuhnya makanya jadi bikin kotanya agak keliatan kotor dan berantakan. Bisa jadi juga karna saya tinggalnya di kampung dan ga begitu suka keramaian (yang terlalu ramai) dan kesibukan (yang terlalu sibuk) makanya jadi agak shock ya hahaha (ini hiperbola). Tapi ini ga berarti saya ga suka Copenhagen loh. Di sana banyak banget tempat-tempat indahnya, plus mereka juga punya Mal besar macam di Jakarta (with a better view and surrounding of course).

Balik ke cerita kami. Begitu sampai hotel, resepsionis menyambut kami dengan ramah (keuntungan bawa bayi unyu begini ni hihi) dan check-in pun berjalan dengan lancar. Setelah urusan kamar beres, kamipun pergi keluar untuk lihat-lihat suasana sekitar sembari sekalian cari makan malam. Jarak dari hotel ke city center sendiri kurang lebih sekitar 3 KM. Ga gitu jauh sebenernya. Tapi berhubung waktu yang kurang memungkinkan, ditambah kami udah laper dan cape akhirnya begitu liat Copenhagen Mall kami langsung cus ke situ aja.

Mall-nya Copenhagen ini konsepnya menurut saya kurang lebih kaya Bintaro X-Change lah. Yang bikin keren adalah mall ini di belakangnya langsung dek trus laut gitu. Kalo bangunannya sendiri standar mall-mall kaya yang di Indonesia (kenapa Belanda ga punyaaa huhu). Kebanyakan restoran dan toko buka sampai jam 20.00 malam. Lain dengan Billund, di sini untuk pilihan makanan jauh lebih bervariasi. Cumaaa, kalo di Mall ini kebanyakan konsepnya all you can eat gitu. Mereka juga nyediain menu a la carté gitu si, tapi kalo dibandingin jauh lebih menguntungkan kalo ambil paket all you can eat-nya (wkwkwk ga mau rugi sis). Kalo saya perhatiin, harga all you can eat di setiap restoran di Mall ini sama semuanya. Harganya belum termasuk minum. Di tempat kami makan variasi makanannya lumayan banyak, mulai dari yang biasa aja kaya french fries dan pizza, sampe yang lumayan spesial kaya grilled chicken, bakmi goreng, curry, biryani sampe tacos juga ada. Bagian saladnya juga banyak pilihannya dan juga ada section buah dan pudding untuk dessert.

Setelah kenyang kami sedikit jalan-jalan di sekitar dek. Di deket situ ada beberapa orang yang lagi berenang dong. Gila banget ya, kami yang ga nyelup aja udah kedinginan lah mereka itu nyebur di air😂. Karna ga kuat anginnya itu juga makanya kami putusin untuk balik ke hotel aja.

Besoknya selepas sarapan kami langsung nunggu dengan manis di halte bis siap mengeksplorasi Copenhagen. Tujuan pertama adalah si patung little mermaid. Dari halte depan hotel kami harus ganti bis di Copenhagen Central Station. O iya, untuk beli tiket transport ini kalo ga mau bayar kontan (ga semua transportasi publik juga yang terima cash kalo ga salah) mereka punya aplikasi khusus yang biayanya langsung di-charge ke kartu kredit kita. Sekali tap untuk zone 1 sampai 3 kalo ga salah adalah sekitar DKK 24 atau sekitar €3. Untuk tiket transport segitu masih termasuk murah dan cukup masuk akal – kurang lebih sama kaya ongkos bis di Belanda. Untuk anak-anak sampai umur 12 tahun seperti di kebanyakan kota di Eropa ga perlu beli tiket alias gratis. Untuk tiketnya sendiri masa berlakunya adalah 1 jam. Lewat dari itu kita harus beli tiket baru lagi. Mereka juga nawarin semacam tourist card juga si, tapi harganya lumayan mahal dan menurut kami ga gitu guna karna hampir kebanyakan tempat-tempat wisata di Copenhagen ga begitu jauh jaraknya (kecuali si little mermaid ini, yang lokasinya lumayan agak ke ujung). Saya ga tau apa mereka nawarin dagkaart atau daily transport card kaya di Belanda ato ga karna kami ga nanya.

Bukan cuma si patung little mermaid yang menarik di area ini. Ada juga beberapa patung lain yang ga kalah bagusnya dan juga view dermaga dengan yacht yang lagi diparkir di sana. Cuma emang yang paling rame ya di sekitar putri duyung itu. Hampir kaya cendol, dan rombongan turis-turis ini lumayan sangar demi ngambil fotonya. Buat yang minat mereka juga ada boat tour di sekitar patung lengkap dengan guide-nya.

Setelah puas keliling di sekitar situ, kami pun lanjut jalan ke Kastellet yang lokasinya ga jauh dari little mermaid. Kastellet ini adalah kompleks benteng yang luas. Nah kalo liat Kastellet dan lingkungan di sekitarnya baru deh berasa sesuai ekspektasi saya. Pemandangan di sekitar sini juga bagus. Ada satu kincir angin nyempil di tengah2 kompleksnya.

Pemandangan di sekitar Kastellet

Setelah mengelilingi Kastellet, kami pun lanjut berjalan kaki sambil nyari-nyari tempat makan karna kebetulan udah waktunya makan siang. Salahnya kami adalah sehari sebelumnya kami ga sempet googling (atau nyari info via Yelp – ga kepikiran euy) tempat makan mana yang recommended khususnya yang menawarkan menu khasnya mereka (si Smørrebrod tea). Akhirnya ya kami sambil jalan sambil liat kedai makan terdekat dan lumayan menarik untuk dilihat menunya. Akhirnya kami mampir di semacam kedai gitu lah, dan beli si Smørrebrod untuk makan siang kami. Smørrebrod sebenernya sama kaya cold sandwich, cuma emang bentuknya terbuka. Saya sendiri bukan penyuka cold food makanya jadi kurang nikmatin lah makannya (maklum mulut kampyung wkwk). Anak-anak dan suami si nikmatin aja. Eh tapi mungkin juga ada yang jenis warm sandwich-nya kali ya – saya aja yang oon hahaha. Kalo diliat dari banyaknya yang beli (kebanyakan pada take away si), kayanya si kedai ini lumayan laku juga.
Selesai makan, kami lanjut lagi jalannya. Awalnya kami pengen ke Amalienborg – tempat tinggal keluarga kerajaan, tapi kita ga nemu-nemu si Amalienborg ini hahaha. Kayanya si kita salah belok (ternyata satu blok doang bedanya!), walo untungnya ketemu spot menarik lainnya juga, yaitu Rundetaarn alias Round Tower. Kami ga masuk ke dalamnya (karna anak-anak pada waktu itu udah mulai capek dan sedikit cranky karna cuaca yang agak menyengat). Akhirnya kami cuma duduk di sekitar situ sambil mendengarkan street musician yang lagi main piano sambil nyanyi (bagus banget!). Out of the blue dan ini jarang banget kejadian sama saya, ga sengaja pas di situ kami ketemu salah satu rombongan turis dari indonesia dong haha. Setelah menyapa sedikit, kami pun lanjut lagi jalan. Kami melewati shopping street yang terkenal di sana (Strøget) dan kemudian lanjut menuju ke Christiansborg Palace.

foto bagian atas via npr.org, 3 smørrebrod di bawah adalah yang kita beli untuk lunch.

Construction work di depan Frederiks Kirke atau the Marble Church.

Found this nice spot at one of the road we passed

Rundetaarn alias the Round Tower

Unique statue next to the tower.

Strøget area.

Strøget area.

Bicycles!

Nyebrang dari Strøget menuju Christiansborg Palace.

Lagi-lagi kami ga masuk ke dalam palace (resiko bawa anak-anak gini nih). Setelah puas liat sekitar kompleknya aja kami pun lanjut jalan lagi. Awalnya mau nyari Tivoli Garden – salah satu amusement park tertua di Eropa – yang lokasinya emang ga jauh dari Christiansborg Palace (salah satu atraksinya keliatan dari Palace!), tapi sebel banget udah jalan keliling kami ga nemu-nemu pintu masuk utamanya (kayanya kita salah milih belokan lagi hahaha). Udahlah berhubung pas kami ngelilingin Tivoli itu nyampe di Copenhagen central station, kami putusin buat istirahat sambil makan donat sebentar dan kemudian naik bus menuju Nyhavn (New Haven).

Christiansborg Palace.

Glyptotek yang kita lewatin pas lagi nyebrang ke arah Tivoli Garden

Salah satu atraksi di Tivoli Garden yang keliatan dari jalan.

Nyhavn

Kumpulan life vest atau jaket pelampung.

Restoran dan Bar ini juga eksis di Legoland Billund Miniland 😁

Perjalanan menuju Nyhavn ini ternyata makan waktu lebih lama dari yang saya kira. Macet cin! Plus, banyak banget turis di sana. Saking penuhnya buat moto bagus tanpa banyak orang jadi agak susah. Pemandangan di sekitar Nyhavn bagus, dan seperti kebanyakan tempat-tempat turistik lainnya harga makanan dan minuman di sana agak gak masuk akal (setidaknya kalo dibandingin sama harga di lokasi lainnya).

Karna anak-anak udah pada kecapean dan waktu pun udah lumayan sore, kami putuskan untuk kembali ke hotel aja dan makan malam di sana. Karna lokasi ke hotel lumayan jauh, kami balik ke hotel naik bus. Nah jalan di sekitar Nyhavn ini ampun macetnya. Kami sendiri harus nunggu bus hampir 1 jam karna busnya kejebak macet. Jadi saya juga ngerti kenapa orang-orang di sana lebih milih naik sepeda atau jalan kaki buat mobilitas mereka.  Btw makanan yang kami order di hotel surprisingly enak dan ga gitu mahal loh. Anak saya yang cowo di sana jatuh cinta sama minuman yang dia coba pertama kali di sana (Elder flowers). Jadi setiap dia pesen minum yang dicari itu hehe.

Trus berhubung saya masih penasaran sama Amalienborg dan pengen liat prosesi pergantian penjaganya, saya usul kalo sebelum kami nyebrang ke Malmö untuk mampir ke sana. Salah satu concern suami sebenernya adalah tempat parkir. Selain mereka nge-charge lumayan tinggi, sepanjang yang saya liat emang tempat parkir di pusat kota ga gitu banyak dan kalo adapun terlihat penuh. Setelah browsing sedikit dan kebetulan ada tempat parkir ga jauh dari Amalienborg, akhirnya kami putuskan buat mampir juga. Keesokan harinya setelah sarapan kami langsung beberes dan check-out dari hotel menuju lokasi parkir di sekitar Amalienborg.

Satu hal penting yang perlu di-mention, pas kami mau parkir mobil kebetulan tempatnya hampir penuh dan yang tersisa adalah tempat parkir di lantai 5 maka kamipun parkir di sana. Begitu kami mau keluar teng terereng ternyata ga ada lift buat turun dooong, adanya cuma tangga aja. Kalo kami ga bawa buggy si ini ga akan jadi masalah tinggal turun aja. Akhirnya kami turun lewat jalan mobil sambil minggir dan pas mau pulang cuma suami yang ke atas buat ambil mobil. Sempet-sempetnya pula pake drama hilang tiket parkir lah, untung mereka ga kasih denda dan suami cukup bayar biaya parkir sesuai durasi kami parkir di sana aja.

O ya, jadwal pergantian pasukan penjaga istana di Amalienborg kalo ga salah adalah pukul 12.00 siang. Prosesinya sendiri sudah dimulai sejak pukul 11.30 – 11.45 kayanya. Kayanya emang Copenhagen sekarang ini adalah salah satu destinasi utama para turis ya, ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang berkerumun buat liat prosesi pergantian penjaga ini. Dulu pas saya di Stockholm sempat juga lihat prosesi serupa tapi kerumunan orangnya jauh lebih sedikit dari yang ada di Amalienborg. Sayang proses pergantian penjaga yang kami saksikan kemarin “cuma” yang simpel. Kalo kata suami, ini berarti Raja dan Ratu lagi ga ada di istana, dan mungkin juga putri dan/atau pangeran lagi ga ada di sana, karna katanya kalo mereka lagi ada prosesnya bakal lebih meriah dan panjang. Tapi tetep prosesinya lumayan menarik untuk dilihat.

Pas bubaran

sedikit out of the topic, aya pernah liat di salah satu link video di facebook kalo Copenhagen (atau Denmark?) merupakan salah satu kota yang terkenal dengan “cyclist-friendly.” Banyak warganya yang untuk mobilitas lebih memilih menggunakan sepeda dan di sana juga untuk jalanannya ada jalur tersendiri yang khusus diperuntukkan bagi para pesepeda. Sebenernya situasi kaya gini ga jauh beda juga dengan di Belanda. Cuma karna kebetulan saya tinggal di kampung yang nota bene jauh lebih sepi, jadi saya ngerasa kalo situasi jalanan di Copenhagen agak chaos. Sebenernya kalo liat di Amsterdam city center-nya juga gitu ya (apalagi di sekitar central station deh). Para pesepeda ini juga cenderung kurang toleran dengan para pejalan kaki. Kalo kitanya ga hati-hati bisa jadi kita jadi salah satu korban tabrak lari (sepeda) hahaha. Ada satu perbedaan yang cukup menonjol dari para pesepeda yang saya liat sepanjang saya di Copenhagen kalo dibandingin dengan pesepeda di Belanda: Mereka rata-rata pada pake safety equipment loh! Mulai dari helm (ini paling banyak), sampai knee and elbow protector ada juga yang saya temuin. Kalo di Belanda? meh lah hampir semua ga ada yang pake itu wkwkwk.

Satu pelajaran yang bisa kami ambil dari kunjungan kami ke Copenhagen kemarin adalah, kalo mau dateng ke sana jangan pas musim liburan (terutama pas summer)! dan kalo emang terpaksa sebisa mungkin kunjungi tempat-tempat turistik kaya Little Mermaid dan Nyhavn pagi hari atau ngga usah sekalian (tapi dua-duanya menarik, bagus dan worth to visit si hahahhaa).

Setelah selesai menonton proses penggantian penjaga di Amalienborg, kamipun kembali menuju ke tempat parkir. Setelah urusan perparkiran beres berangkatlah kami menuju destinasi selanjutnya.

Advertisements

6 thoughts on “3rd Stop: Copenhagen

  1. Jangankan yang naik sepeda, yang naik sepeda motor aja ga pake helm di sini haha. Aku juga sempet nanya lho ke suami kenapa yg pake sepeda motor kok ga pake helm. Aku lupa jawabannya apa. Tapi di sini anak2 kan ada ujian naik sepeda ya, pernah diceritain tetangga tapi samar2 lupa. Kayak dapat SIM bersepeda gitu kali ya. Yg aku tahu dan sering jumpai, orang2 sini kalau naik sepeda kenceng2 banget. Aku dulu awal2 lelet banget naik sepeda. Lama2 keikut kenceng juga haha sampe bisa ngepot2 belok tanpa harus ngerem dulu. Tapi kalo angin kenceng tetep sih marah2 karena berat 😆

    Like

    • Mungkin maksudnya SIM untuk bromfiets kali ya Den, setau aku kalo untuk sepeda biasa ga perlu ujian deh – asal bisa nangkring trus ngacir wkwkwk.
      Masalah kenceng, emberrr itu aku juga bingung tenaganya pada kuat-kuat banget, aku tiap sepedaan (yang mana jarang😂) pasti ketinggalan paling belakang, bahkan sama anak-anak hahaha. Hebat kamu Den kalo bisa kenceng sampe ngepot ih!

      Like

      • Bukan SIM untuk bromfiets. Ujian buat anak2 SD yang naik sepeda. Ada lho itu (entah apa seluruh Belanda ya ini), ponakan2 dan tetangga pernah cerita. Jadi mereka ada ujiannya gitu. Makanya aku dulu nanya suami, apa aku perlu ujian juga? Katanya ga perlu, itu untuk anak2 aja.
        Aku bisa naik sepeda ngebut itu gara2 suami sering ninggal aku kalo kami sepedahan bareng. Lama2 akhirnya keikut ritmenya dia, kenceng juga haha. Yg aku belum bisa itu naik sepeda sambil bawa payung atau naik sepeda sambil asyik ngobrol di Hp. Masih belum selihai itu 😅 takut nyusruk.

        Like

      • Mungkin ga seluruh Belanda kali ya Den, anak-anak sampe sekarang si belom ada yang disuruh ikut ujian naik sepeda (anakku yg pertama skrg 10 th). Tapi mereka pernah diminta bawa sepedanya untuk dicek kelengkapannya dan belajar verkeersregels biar mereka tau dasar-dasar aturan di jalan.

        Kalo sepedaan sambil payungan aku pernah Den, pas kuliah dulu karna terpaksa hahaha, tapi cuma sekali abis itu ogah lagi ribet 😂

        Like

  2. In all fairness, karena aku bersepeda, aku merasa turis itu nyebelin, suka nyebrang seenaknya ga liat kiri kanan, dan kadang suka berdiri di jalur sepeda, potret2 atau diem, atau ngobrol. Kita punya jalur sendiri lho untuk sepeda, ga bisa merangsek ke jalur pejalan kaki, atau jalur mobil, jadi siapa yang salah kalau hampir ketabrak? 🙂

    Yang lebih nyebelin lagi adalah turis yang ikut2an bersepeda (disini bisa sewa sepeda kan), terus dari negara yang mereka ga biasa bersepeda, udah pelan, terus sepedaannya ditengah jalur, disini sudah pastinya seperti mobil, kalau pelan jalur kanan, untuk menyalip jalur kiri, terus kalau jalur ditengah2 terus gimana dong? Kadang aku harus teriak ke mereka supaya minggir, ya situ sepeda buat jalan2, kita mau pulang ke rumah woy! 😛

    Iya Kopenhagen lagi ribet2nya bangun jalur metro baru, makanya semrawut, kalau kesini lagi dua tahun lagi sudah beres sih. Soal mobil, susah emang kalau yang pergi banyak orang, seperti keluarga si pacar yang dateng dari Swedia kapan hari, padahal sudah kuwanti2 jangan bawa mobil atau mobilnya diparkir di long-term parkir aja, karena ga bakalan bisa bawa mobil di kota, macet, dan sempit, belum harga parkir yang selangit

    Like

    • Kadang emang turis suka lebay juga si, sok-sok mau nge-blend tp ujung-ujungnya malah ngerepotin hihihi. Kayanya emang turis harusnya lebih aware dan menyesuaikan diri sama lingkungan sekitar tempat dia berkunjung juga biar ga ganggu penghuni lokal 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s