daily stuff · environment · personal

Masalah Sampah.

Judulnya bukan konotasi loh, ini saya beneran mau ngomongin masalah sampah wkwkwk.

Kenapa tiba-tiba mau ngomongin ini? Karna minggu kemarin saya baru aja beli tempat sampah dalam rangka memudahkan kami untuk menyortir berbagai macam sampah rumah tangga yang ada di rumah (halah).

Jadi kan di sini aturan mengenai sampah ini termasuk salah satu yang cukup ketat dan mendetail dalam hal penerapannya. Ada tiga (well, banyak) jenis sampah yang harus dipisahkan pembuangannya:

  1. Sampah organik – disebut GFT afval (Groente Fruit Tuin afval atau sampah sayuran, buah, dan kebun/tanaman). Sampah jenis ini harus dikumpulkan dan dibuang ke dalam kontainer hijau dan tiap dua minggu sekali diangkut oleh Gemeente (pemerintah kota setempat/City Hall/Kecamatan).
  2. Sampah PMD (Plastic Metalenverpakkingen en Drankenkartons afval atau sampah plastik, bungkus metal/alumunium dan sampah karton/kemasan dari minuman). Sampah PMD sebelum Oktober 2017 lalu harus dikumpulkan ke dalam plastik khusus yang bisa diperoleh dari Gemeente dan diangkut oleh Gemeente setiap 3 minggu sekali. Per Oktober 2017 dan seterusnya, sampah PMD dikumpulkan ke dalam kontainer abu-abu (yang sebelumnya dipakai untuk sampah reguler atau sampah selain GFT, PMD dan kertas) untuk kemudian diangkut oleh Gemeente setiap dua minggu sekali.
  3. Sampah kertas (Papier), termasuk kemasan-kemasan karton, kardus dan juga koran. Untuk sampah kertas biasanya Gemeente menjadwalkan pengangkutan sekali dalam tiap bulannya.
  4. Sampah reguler atau sampah lainnya yang ga masuk ke dalam kategori GFT, PMD dan kertas.
de-grijze-container-blijft-in-westerveld-foto-rtv-drenthe-archief
kontainer hijau dan kontainer abu-abu (foto via rtvdrenthe.nl)

Selain itu ada juga aturan khusus untuk beberapa jenis sampah tertentu:

  • untuk sampah barang pecah belah yang terbuat dari gelas/kaca harus dibuang ke tempat sampah khusus yang ada di lokasi-lokasi tertentu (ga boleh dibuang ke dalam sampah reguler!). Tempat sampah khusus gelas ini juga dipisahkan antara barang pecah belah dengan warna dasar putih/transparan, hijau, atau coklat.
  • Untuk sampah baterai, lampu dan minyak juga ada tempat pembuangan khusus untuk masing-masing jenis sampah tersebut (biasanya tersedia di supermarket tertentu).
  • Untuk sampah alat-alat elektronik berukuran besar (kaya tv atau mesin cuci) Gemeente menyediakan lokasi khusus untuk pembuangannya (disebut milieustraat). Di milieustraat ini kita juga bisa buang sampah pohon (batang pohon misalnya) atau sisa-sisa kayu bangunan atau lemari kayu bekas.
  • Untuk sampah tekstil kaya baju, sepatu, sprei, atau kaos kaki (yanh masih layak pakai) kita bisa membuangnya ke tempat sampah khusus yang juga lokasinya ada di tempat-tertentu. Barang-barang ini nantinya akan disortir dan kalo dianggap masih oke akan dijual di toko khusus barang bekas (kringloop).
  • Untuk sampah khusus bekas popok bayi mereka juga misahin loh wakakaka. Cuma karna alokasi kontainernya ga banyak dan terbatas biasanya bekas popok bayi ini dibuang ke tempat sampah reguler aja.

Ribet ya aturannya. Emang si Belanda termasuk salah satu negara yang udah maju untuk pengaturan sampahnya. Mereka bisa dibilang udah menerapkan zero waste alias semua sampah ini udah teralokasikan penggunaannya. Selain yang bisa didaur ulang, sampah-sampah yang ada dipergunakan sebagai sumber energi (sampahnya dibakar bok).

Sebelum Oktober 2017 kemarin kami termasuk yang malas menyortir sampah GFT, PMD dan reguler (untuk sampah yang lain udah berjalan). Bukannya apa-apa, selain suami ga mau ribet (dia yang tanggung jawab buat buang ke kontainer abu-abu wkwk), tempat sampah kami di dalam rumah yang berukuran besar (kapasitas 50 liter) ada satu dan karna tiap dua minggu sekali kontainer abu-abu akan diangkut oleh Gemeente jadi kami pikir tingkesnya aja . Temen saya yang tinggal di kota lain sempet heran dan nanya “emang boleh?” Karna dia pernah nyampur sampah GFT-nya ke dalam sampah reguler, tempat sampah dia dikasih stiker peringatan/warning dan kalo sampe dapet stiker merah sampah mereka ga akan diangkut dan mereka bakal kena denda (yang lumayan gede jumlahnya). Ga tau kenapa tapi alhamdulillah sepanjang saya di sini si belum ada drama kaya gitu kejadian sama kami haha.

Kemudian per 1 Oktober 2017, aturan ini berubah dong. Sampah reguler yang sebelumnya diangkut Gemeente dari rumah ke rumah (at least di dalam barisan tertentu) berubah menjadi kita-nya yang harus membawa sampah kita ke titik lokasi tempat sampah bawah tanah (tertentu yang sudah disediakan oleh gemeente. Suami bete dong secara sebenernya untuk urusan angkut-mengangkut sampah ini kan kita juga bayar tiap tahunnya. Biasanya dalam kontainer abu-abu itu kita bisa masukin 4-5 kantung plastik isi sampah berukuran 50-60 liter. Selain itu buat sampah yang berpotensi bau (kaya bekas popoknya fabian 😁) kita juga suka langsung lempar ke dalam kontainer abu-abu ini. Sementara sekarang karna kita yang harus jalan dan tempat sampah (bawah tanah) ini bukaannya ga besar, sekali gesek kartu (untuk buka si tempat sampahnya) cuma muat satu kantong plastik isi sampah berukuran 50 liter aja. Karna di tempat perusahaan suami ada dua kontainer jumbo (mereka diwajibkan punya) yang tiap tahun mereka bayar – satu khusus kertas satu lagi reguler, maka solusi suami adalah bawa si sampah ke kantor dan kemudian dibuang di kontainer sampah yang jumbo itu – toh mereka harus bayar mau penuh ato ga penuh tu tempat sampah.

Si kontainer abu-abu yang sebelumnya dipake untuk sampah reguler kemudian dialihgunakan oleh Gemeente untuk sampah PMD dan jadwal pengangkutan sampah PMD ini pun ditambah frekuensinya menjadi dua minggu sekali. Semenjak sampah PMD diperkenalkan sebenernya saya udah mulai misahin si sampah ini sedikit-sedikit. Cuma karna wadahnya kantong plastik saya suka bingung mau naro di mana itu kantong.  Yang ada pojokan tempat sampah itu jadi keliatan berantakan melulu. Belum lagi sekarang anak saya yang paling kecil kerjaannya ngangkut dan mainan sama bekas karton minuman yang saya kumpulin itu. Makanya saya masih suka lempar si sampah kotak minum tersebut ke tempat sampah reguler aja. Setelah aturan sampah berubah, kami pun mulai membiasakan untuk memisahkan sampah PMD ini. Cuma untuk sampah GFT karna belum nemu wadah khusus yang cocok kami masih membuang sisa-sisa makanan, sampah sayuran dan buah-buahan ke tempat sampah reguler aja. Karna bapaknya maunya nunggu sampe si sampah penuh, akhirnya kadang si sampah ini keburu bau (dari sampah sisa makanan pastinya).

Fyi, biaya buat urusan sampah ini ga murah sodara-sodara. Sebagai contoh bisa diliat di screenshot yang saya ambil dari website resmi Gemeente Heusden (tempat saya tinggal) untuk tahun 2017 dan 2018.

sumber http://www.heusden.nl

Biaya yang paling atas itu adalah biaya fix yang harus kita bayar tiap tahunnya. Di baris kedua dan ketiga adalah biaya (sewa) kontainer abu-abu (ukuran 240 liter dan 140 liter). Untuk kontainer hijau kita diberikan secara gratis. Sebelum Oktober 2017, untuk pengangkutan sampah reguler (yang menggunakan kontainer abu-abu) ini tiap kali diangkut kita dikenakan biaya (€8,33 per tiap kali angkut). Kemudian sejak 1 Oktober 2017 tiap penghuni diberikan kartu chip yang bisa dipergunakan untuk membuka kontainer sampah yang disediakan Gemeente dengan mengisi semacam pulsa/kredit dan tiap kali buka kontainer kredit akan dipotong (per 2017 biaya per gesek ini adalah €1,60, sementara mulai tahun ini naik menjadi €2,30). Tujuan utama mereka supaya para warganya lebih “rajin” buat misahin sampah sesuai jenisnya. Dan harus diakui strategi ini setidaknya berhasil di rumah kami hahaha (walau untuk sampah reguler kami tetap buang di kontainer sampah di kantor suami hehe).

Berangkat dari perubahan aturan ini (plus saya udah eneg liat sampah teronggok di pojokan – dan buat keamanan dan kehigienisan si unyil *cihhh) makanya di awal tahun ini kami mulai cari-cari kira-kira sistem mana yang cocok dan bisa kami terapkan di rumah. Karna jenis sampahnya banyak, otomatis kami pun perlu tempat sampah dengan wadah terpisah-pisah kann. Tapi saya pengennya walau untuk sampah ga jelek-jelek amat, plus karna dapur rumah kami cuma seuprit (rumahnya juga si wkwkwk) makanya maunya tempat sampah juga ga gede-gede amat.

Lumayan lama saya browsing urusan tempat sampah ini, tapi kok lama-lama saya jadi kezel. KENAPA HARGA TEMPAT SAMPAH AJA MAHAL BANGET! Emang ada si yang ga gitu mahal, tapi kalo mikir efisiensi dan estetika ga masuk kategori saya dan suami (lagian banyak maunya hahaha). Sekalinya ada yang space efficient dan stylish harganya masya allah bikin kantong (suami) menjerit. Brabantia termasuk salah satu leading brand buat alat-alat rumah tangga – termasuk urusan tempat sampahnya yang jaminan mutu mahalnya (kayanya karna tempat sampah mereka kebanyakan terbuat dari stainless steel). Makanya saya langsung tertarik begitu liat mereka ngeluarin varian baru yang lumayan ramah di kantong. Selain itu, suami lumayan suka sama sistem-nya, karna sebenernya kan kita cuma perlu wadah (cantik) yang gampang untuk dibawa, gampang dibersihin, dan ga ngambil space begitu banyak. Nama variannya adalah Brabantia Sort & Go. Bahan dasarnya dari plastik (bukan stainless steel) dan dari Brabantia-nya si tempat sampah dikasih 10 tahun garansi. Ada tiga jenis kapasitas, yang ukuran 6 liter, 12 liter dan 16 liter. Warnanya selain warna dasar (Abu-abu tua dan putih) ada juga warna mint blue dan kuning (lebih ke lime green menurut saya). Harga per tempat sampah bervariasi di kisaran €19 – €29. Awalnya kami beli 2, yang ukuran 6 liter (untuk sampah GFT) dan ukuran 16 liter (untuk sampah PMD) – dua-duanya warna mint blue. Begitu sampe dan dipake, kami lumayan puas dengan sistemnya. Selanjutnya kami pun beli lagi deh 2 pcs yang berukuran 16 liter untuk sampah gelas dan kertas (satu warna blue mint lagi dan satunya warna kuning – setelah keukeuh-keukeuhan sama suami wkwkwk). Sebenernya kalo dipikir-pikir total biaya yang kami (suami) keluarin buat beli tempat sampah ini ujung-ujungnya gede juga (hampir €100 buat tempat sampah doang!), cuma kami mikir ini juga kan judulnya kaya investasi jangka panjang (mudah-mudahan) dan insya allah cuma sekali beli ini aja (plus suami cocok cin, ini yang paling utama hihi).

page_1
begini penampakan si tempat sampah Sort & Go dari brabantia. lucu ya πŸ˜‰ (image via brabantiapress)

sort_go-small1

ps. no endorse ya ini, dan tulisan cuma berdasarkan pengalaman saya pribadi (di kota tempat saya tinggal), dan bisa jadi aturan di kota lain di Belanda agak beda.

7 thoughts on “Masalah Sampah.

  1. Urusan sampah ini memang menarik. Disini walo ngga pedulian gimana buangnya (boro boro milah sampah, enteng aja buang sampah di jalan) di rumah yang botol /kertas karton/ pouch plastik / kaleng emamg berusaha dipisahin buat dikasih ke pemulung.
    Yang suka masih males sisa raw food ini, suka main dicampur aja dengan sampah rumah tangga lain.padahal bisa jadi pupuk

    Liked by 1 person

  2. Wahhh rempong yaaaa.. di blenheim sini, didalam rumah cuma dibedain 2, sampah dapur dan sampah daur ulang.. nah yg daur ulang biasanya suka ada tulisannya di karton/ dibungkusannya. Gua campur jadi 1, tiap rabu diangkut, include sampah dapurnya. Tp truknya tentu beda, masing2 deh pokokhya. Tapi gua pernah ke tmpt recycle, disana pemilahannya juga detail banget. Kayak belinh aja, dipisah juga jadi yg bening, hijau sama apa gitu.. gua pernah nulis ini di blog lah tapi malah udah lupa detailnya kayak apa haha.. tapi kalau di telaah memang seru sih. Adiknya Iyan ada khusus sampah yg buat compose, jd mereka lebih terbagi lagi sampahnya..

    #panjang-yah-komennya πŸ˜‚πŸ˜‚

    Like

    1. Ahahaha masih kalah panjang sama komen gw di postingan bijo Inly hahahaha *tutupmuka*

      Kalo cuma 2 jenis mungkin lebih gampang yaaa, tapi kaya koran majalah selebaran gitu jadi buangnya di mana nly? Sebenernya bagus juga si kalo sampah dipisah-pisah gini, berasa less guilty sama bumi jadinya hahaha (belaguuuuπŸ˜‚)

      Like

      1. Hahaha..
        koran dan majalah masuk ke recycle bin.. di blenheim ada 1 bin khusus recycle yg gede.. nantinya di recycle center, mereka yg pisah2in.. tapi biasanya kalau buang koran majalah segala, udah gua plastikkin jadi 1, jadi lsg ditumpuk keatasnya recycle bin.. ga berserak di tengah2..

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s