holiday · Kids · travel

Summer Trip ke Cinque Terre.

Salah satu tempat yang menjadi destinasi kami sewaktu liburan musim panas kemarin adalah Cinque Terre yang berlokasi di regio Liguria, Italia. Udah pada tau pasti dong ya kalo Cinque Terre atau secara harfiah berarti “lima desa” adalah deretan lima desa di bagian barat laut Italia yang termasuk dalam daftar warisan dunia-nya UNESCO. Kelima desa ini adalah Monterosso al Mare, Vernazza, Corniglia, Manarola dan Riomaggiore.

Sebenernya agak gambling juga kami mutusin untuk mampir ke sana, karna selain tau bakal banyak naik-turun medannya (gak banget buat anak yang masih pake buggy deh), Italia juga terkenal dengan “hot summer” alias cuaca panas yang menyengat selama musim panas. Banyak orang Eropa yang menghindari untuk berkunjung ke Italia di bulan Juli-Agustus.

Saya kebetulan pernah menulis tentang rencana perjalanan summer kami di sini dan kebetulan banget Deny yang udah pernah ke Cinque Terre baca postingan itu trus kasih info yang berguna banget buat kami mengenai di mana sebaiknya kami menginap kalo kami beneran jadi ke Cinque Terre. Jadi rencana semulanya kan kami akan menginap di Monterosso al Mare – yang merupakan desa “terbesar dan paling feasible dari sisi konturnya (apasih πŸ˜‚)” dari kelima desa tersebut. Tapi saya sebel. Harga penginapan di sana bukan main tingginya. Bisa jadi karna selain memang hot destination (semua pada mau ke sana kayaknya deh!), waktu kami ke sana masih termasuk high season (apalagi di Italia baru mulai liburan musim panas di bulan Agustus). Beruntung banget Deny kasih saran kalo mendingan kami nginep di salah satu kota terdekat sebelum si Cinque Terre ini, yaitu La Spezia. Kata dia harga penginapannya jauh lebih masuk akal dan akses ke Cinque Terre-nya pun gampang.

Berdasarkan info ini saya pun mulai geser browsing tempat nginep ke sana, dan benar apa yang dikatakan Rudy eh Deny (jayus lagiπŸ˜‚ inget iklan ini gak? iya, saya udah tua -_-). Harga penginapannya jauhh lebih murah siiis! terutama kalo dibandingin sama penginapan-penginapan di lima desa itu ya. Dari sekian banyak yang masuk di list pencarian, akhirnya kami pilih satu apartemen yang kalo di foto keliatan kece banget, dan dari review score-nya nyaris 10.

Kami menuju ke La Spezia menggunakan kereta api cepatnya Italia “freccia bianca” dari stasiun Roma Termini. Kebetulan rutenya direct jadi kami ga perlu ganti-ganti kereta lagi sampe stasiun La Spezia. Jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih 3 jam, dengan pemandangan yang cukup bikin mata cerah (banyak pemandangan pinggir lautnyaaa).

Stasiun La Spezia sendiri termasuk kecil. Begitu sampai di sana, kami harus jalan kaki kurang lebih 500 meter ke tempat kami menginap (bisa juga naik taksi sih, tapi kalo liat petanya kayanya deket banget). Ternyata oh ternyata, lokasi yang keliatannya deket harus kami tempuh dengan naik turun dong hahaha. Dan kami waktu itu bawa bayi beserta buggy-nya, satu koper gede, satu koper kecil plus dua backpack. Emang ya, traveling dengan tiga anak dan traveling tanpa buntut itu jauh beda rasanya. Tapi yang jadi tantangan terberat itu sebenernya adalah cuaca yang masya Allah banget deh menyengatnya. Beruntung anak-anak saya bukan yang tukang ngeluh. Selain gembol si backpack, mereka juga kadang bantu kami narik/dorong si koper atau si bayi. Begitu sampe apartemennya tuh rasanya lega banget hahaha. Selain ada AC-nya (yay!), apartemennya lumayan sesuai dengan ekspektasi kami. Selain itu, si pemilik apartemennya pun ramah dan helpful ke kami.

Kami sampai di La Spezia udah lumayan sore dan kami putuskan buat langsung belanja kebutuhan untuk sarapan. Selesai belanja (dan sedikit liat-liat kotanya), kami kemudian pergi ke restoran yang direkomendasikan oleh si pemilik Apartemen untuk makan malam.

La Spezia sendiri menurut saya lumayan menarik, walau mungkin cukup sebagai tempat persinggahan aja (bukan sebagai destinasi utama). Lokasi kota ini termasuk strategis karna selain punya jalur khusus ke Cinque Terre di stasiun kereta apinya, dari pelabuhannya kita bisa mengunjungi beberapa destinasi wisata yang lebih dikenal orang macam Portofino atau tentu si Cinque Terre.

P1070877.JPG

Restoran yang kami kunjungi ini adalah semacam pizzeria/trattoria gitu. Sewaktu kami makan di sana ga gitu banyak yang makan di tempat, tapi saya lihat banyak yang order take away. Pilihan menunya ga gitu banyak, dengan tentu yang dominan adalah pizza dengan berbagai variasi topping. Pizza yang mereka sajikan ini menurut saya lumayan enak loh. Cuma saya baru paham kalo di sana restoran baru buka jam 19.00 wkwk. Mereka terbiasa makan malam lebih telat daripada orang-orang di Belanda kayanya (ato setidaknya kami haha).

Besok paginya setelah sarapan kami pun langsung pergi menuju stasiun kereta. Ada dua pilihan untuk pergi ke Cinque Terre, yaitu via kereta api atau menggunakan ferry. Menurut kami kereta api adalah cara yang paling praktis (karna memiliki jadwal keberangkatan yang lebih banyak) dan kami juga khawatir kalo anak-anak akan mabuk laut kalo kelamaan berada di kapal ferry. Oleh karna itu kami menggunakan kereta api untuk bolak balik ke La Spezia.

Desa terdekat dari stasiun La Spezia adalah Riomaggiore yang dengan kereta api ditempuh dalam waktu sekitar 9 menit. Untuk tiketnya sendiri kita bisa beli langsung di mesin tiket yang tersedia di stasiun atau beli secara online di situs resmi taman nasional Cinque Terre atau di situs kereta api resmi Italia.

Berdasarkan pada pengalaman kami kemarin, satu saran saya adalah sebaiknya sebelum pergi beli tiket dahulu secara online. Bukannya apa-apa, mesin tiket yang tersedia di stasiun sangat terbatas dan kalo pas rame kita harus antri lumayan lama sebelum dapet tiketnya yang ujung-ujungnya bisa bikin kita jadi ketinggalan kereta (bear in mind, kebanyakan yang ada di situ adalah turis dan mereka bisa jadi ga bisa bahasa Italia dan ga gitu paham sistem yang ada di mesin tiket itu).

Satu lagi, di situs resmi taman nasional Cinque Terre ditawarkan semacam pass/kartu akses yang memperbolehkan si pemegang kartu untuk masuk ke area taman nasional termasuk jalur hiking-nya, dan penggunaan wifi plus shuttle bus yang bisa mengantarkan sampai ke titik tertentu. Selain itu mereka juga menawarkan pass yang juga termasuk full access ke kereta api di jalur Levanto – Cinque Terre – La Spezia ini selama satu sampai tiga hari (tergantung jumlah hari berlaku yang kita pilih).

Kami sendiri sebelumnya mikir kalo akan gampang buat beli tiket di stasiun aja. Pertimbangannya? Karna kami pikir ga akan rame-rame banget mengingat suasana sewaktu kami sampe di stasiun sehari sebelumnya yang cukup sepi. Ternyata perkiraan kami meleset jauh. Sewaktu kami sampe sana ternyata di setiap mesin udah panjang banget antriannya. Antrian yang sama panjangnya juga keliatan di Cinque Terre information office-nya. Ditambah salah satu anak saya yang tiba-tiba mimisan (karna cuaca dan memang dia cukup sering mimisan), kami pun mulai spanning hahahaha. Stress karna selain ga punya tiket, udara panas, anak mimisan pula. Setelah beres sama mimisan, kami pun nyoba beli tiket secara online. Kami pilih yang kombinasi taman nasional plus kereta (Cinque Terre Rail Card) dengan alasan lebih kepada sisi praktisnya. Alhamdulillah setelah gagal beberapa kali akhirnya kami sukses membeli tiket pass ini.

Udah saya bilang kan yaa kalo di stasiun udah numpuk orang yang juga mau pergi ke Cinque Terre. Suasananya ini ngingetin saya sama suasana nunggu kereta api di stasiun Sudirman pas jam pulang kerja sodara-sodara. Ampe segitu padetnya. Sewaktu kereta dateng hampir semua pada berebutan naik. Udah hampir dipastikan kalo kita ga bakalan dapet seat lah pokonya. Berdiri sempurna aja udah alhamdulillah wkwkwk. Mana kami bawa si kecil beserta buggy πŸ˜‚. Beruntung kami masih lumayan dapet posisi berdiri yang enak dan kereta apinya walaupun dari luar keliatan memble dalemnya pake AC (macem KRL ekonomi AC gitulah).

Kami turun di desa pertama yaitu Riomaggiore. Kalo menurut saya Riomaggiore ini adalah desa yang terindah dari kelima desa. Well, a bit unfair mungkin ya, karna jujur saya ga singgah ke Vernazza dan Corniglia. Kami stay paling lama dan eksplor paling lama di Riomaggiore ini. Dengan kekuatan bulan (bapaknya dorong buntelan buggy plus bayi) kami sukses berkeliling mendaki bukit menuruni lembah sampe hampir sampe ke desa sebelah si Manarola. Berhubung kami takut nyasar (kami ga rencana hiking kali), kami pun lanjut jalan kembali menuju ke stasiun kereta Riomaggiore.

20180804_113313290710370-e1543844116995.jpg
Pertama sampe, saking haus akan kesegaran kami langsung beli strawberry di toko ini πŸ˜‚
P1070884
Riomaggiore

P1070901.JPG

P1070910
Gereja dilihat dari atas bukit.

Pemandangan si sekitar stasiun kereta dilihat dari kejauhan. Bagus ya!

Kami makan siang di salah satu restoran yang ada di sana. Nama restorannya Il Maggiore dan kalo saya liat review-nya di google termasuk jelek ratingnya. Kalo berdasarkan pengalaman sendiri menurut saya mereka oke-oke aja deh. Kami kebetulan ga pesen pizza-nya (yang rata-rata di-complain di review). Waktu itu suami pesen foccacia dan saya dan anak-anak pesen pasta. Untuk pastanya sendiri dua-duanya lumayan enak, tapi yang jadi highlight buat saya adalah si foccacia-nya. Simpel dan enak!

20180804_132413858931694.jpg
Fettucini mushroom
20180804_1324172108582837.jpg
Foccacia bread with mozarella and pesto sauce. Yum!

Sebelum lanjut jalan, karna saya penasaran sama seafoodnya yang memang jadi ciri khas di wilayah ini akhirnya saya pesen fried squid/calamari campur anchovies juga di tempat makan berikutnya dong hahaha. Dan rasanya memang top deh. Emang ya seafood itu kalo fresh cukup dimasak simpel, pasti enak.

Fried Calamari and Anchovies. Yum!

Kami sempet berpikiran kalo mungkin pas kami kembali ke stasiun di sana ga akan begitu rame seperti sebelumnya. Ternyata perkiraan kami salah. Sesampainya kami di stasiun ternyata kerumunan yang ada keliatan jauh lebih banyak dari sewaktu kami di La Spezia. Bisa jadi karna stasiunnya lebih kecil dan posisi peron yang sebagian ada di terowongan dan cuaca yang makin bikin mateng, jadi orang lebih terkonsentrasi berdiri di tempat tertentu.

Kebetulan kami ikut nunggu di bagian terowongan dan karna ga gitu banyak orang yang nunggu di situ, kami beruntung bisa dapet duduk begitu kereta dateng. Karna melihat kondisi yang gila-gilaan gini jumlah orangnya kami pun mutusin untuk skip turun di desa berikutnya dan lanjut terus sampa ke desa terakhir dari kelima desa yaitu Monterosso al Mare.

Begitu sampe di Monterosso al Mare, kami agak sedikit shock ngeliat jubelan orang di sepanjang pantai hahaha. Emang kan dari segi kontur Monterosso al Mare menang dalam urusan pantai. Bentuk pantainya lebih feasible dan memungkinkan buat orang-orang untuk bisa berjemur atau berenang di sana. Kalo di desa lain walau ada aja yang nekat, kondisi alamnya jauh lebih sulit untuk diakses atau untuk tempat berenang.

Cendol di Monterosso al Mare πŸ˜‚

Setelah melihat kondisi yang rame banget, ditambah cuaca yang makin nyengat panasnya, kami jadi agak males mo ke sekitar pantai. Akhirnya kami cuma jalan di sepanjang boulevard aja, sambil nyari lokasi dermaga dan tempat beli tiket ferry. Suami bilang supaya anak-anak juga nambah pengalaman kita akan naik ferry untuk hop on hop off dari Monterosso al Mare ke desa lain yang terdekat. Karena anak saya yang paling besar gampang mabuk, jadi kami putusin untuk berhenti di satu desa di tengah-tengah, kemudian lanjut lagi dengan kereta buat kembali ke La Spezia.

monterosso al mare 1.jpg

P1070976.jpg

P1070988

Suami awalnya usul untuk berhenti di Vernazza aja kemudian dari situ kita jalan ke stasiun kereta kemudian pulang ke apartemen. Saya mikir mending sekalian berhenti di Manarola karna dari situ udah ga gitu jauh lagi dari La Spezia dan desa ini konon punya view yang paling indah (banyak foto di internet kalo nyebut Cinque Terre yang keluar ya desa ini – salah satu foto desktop saya juga fotonya desa ini nih hehehe). Suami akhirnya ikut apa yang saya bilang dan kami pun naik ferry sampe ke Manarola.

Nyantai di pinggir dermaga sambil nunggu kapal berangkat.
P1080028.JPG
nemu krat nganggur, dia dorong trus masuk deh ke dalemnya wkwkwk

Bersyukur kami cuma sampe Manarola deh. Anak saya bener aja hampir ga kuat dan mulai agak mabok pas kami mau turun. Goyangannya emang agak lumayan (walau saya pernah naik ferry dengan gelombang jauh lebih parah). Pas kami mau turun dari kapal nih ya, antrian penumpang yang mau naik ke ferry udah mengular dong. Mana jalur keluar dari (mini) dermaganya sempit, sampe-sampe kami beberapa kali harus gantian jalannya. Pokonya karna kondisi begitu kami udah kehilangan semangat menjelajah lah dan akhirnya langsung menuju ke stasiun buat nunggu kereta kembali ke La Spezia.

Ada beberapa highlight yang perlu saya sebut juga dari perjalanan ke Cinque Terre kemarin. Yang pertama saya bersyukur ga jadi ambil penginapan di salah satu desa Cinque Terre. Saya liat banyak turis yang keliatan kepayahan dan ribet harus geret-geret koper sambil jalan menanjak dan menurun karna kontur desa-desa di Cinque Terre yang memang naik turun berbukit. Yang kedua yaitu alhamdulillah banyak keran air atau tap water yang tersebar di beberapa lokasi (hiking trail) di setiap desa yang kami kunjungi. Jadi walaupun panas terik menyengat ga usah khawatir dehidrasi karna kekurangan air deh. Makanya penting banget untuk bawa botol yang bisa diisi ulang. Yang terakhir, saya pikir saya udah nekad maksa pergi ke sana walau gambling dengan kondisi anak-anak dan si kecil yang masih perlu pake buggy. Tapi yaaa ternyata di sana banyak pengunjung yang juga bawa bayi dan toddler dooong. Okelah kalo toddler ya karna kan mereka ga gitu tergantung banget sama stroller, lah ini bayi loh. Bayi yang umurnya belum satu tahun, yang stroller-nya segede-gede apa tau. Ga kebayang deh orang tuanya susah payah harus gotong-gotong stroller, plus kasian banget si bayi yang mungkin kegerahan dan kepanasan karna cuaca yang nyengat. Yah, mungkin mereka memang niatnya mau latihan kekuatan kali ya makanya tetep pergi walo ada bayi πŸ˜€

p1080107-02297273757.jpeg
Corniglia taken from the ferry
Vernazza taken from the ferry

Well, overall it was still a nice (although tiring) visit for us. Bersyukur anak-anak ga ngeluh banyak sama keadaan (kebayang kan gimana tantangannya buat mereka). Mereka terlihat tetep menikmati perjalanan walo kondisinya kurang ideal. Tapi, seandainya kami tau kalo kondisinya akan serame kemarin mungkin kami akan skip Cinque Terre dan memilih untuk pergi ke lokasi lain aja. Bukannya ga suka sama Cinque Terre loh ya, cuma kami bukan keluarga yang begitu suka dengan keramaian. Mungkin di waktu yang akan datang kami akan pergi ke sana lagi, tapi yang jelas ga akan pergi di musim panas kaya kemarin lah 😁

6 thoughts on “Summer Trip ke Cinque Terre.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s