daily stuff · Holland · Kids · personal

Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

many-books-hd-wallpaper

“Do not train a child to learn by force or harshness; but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.”
~ Plato.

disclaimer: cerita di sini sebatas pengalaman pribadi dan pengetahuan saya yang masih seadanya, jadi mohon dimaafkan kalo kurang komprehensif ya. Akan lebih senang apabila ada temen-temen yang bisa ikut sharing info dan pengalaman seputar hal yang sama di sini 😊.

Walaupun sudah agak terlupakan karna muncul isu-isu baru, beberapa waktu yang lalu di Indonesia sempat heboh dengan isu usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang full day school bagi anak-anak. Banyak yang langsung menentang usulan ini (gak tau apakah mereka tau betul atau belum mengenai konsep yang diusulkan secara detail oleh bapak Menteri), walau ada sebagian kecil yang mendukung usulan ini (secara sembunyi-sembunyi sii – takut dikeroyok sama massa yang tidak pro kayanya wkwk) . Nah, berhubung anak-anak saya saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (plus berdasarkan pengalaman suami semasa kecil), saya mau share info seputar pendidikan dasar anak-anak di Belanda. Mungkin kalo di-browse di internet tulisan tentang ini udah lumayan banyak, tapi tetep saya mau nulis gapapa ya hahaha (maksa😝)

Di Belanda anak-anak mulai diwajibkan untuk sekolah pada saat mereka memasuki usia 4-5 tahun. Untuk anak-anak yang usianya lebih muda (2-3 tahun), walaupun belum diwajibkan tapi tetap diarahkan (dan dipantau) oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat kecamatan) dan Biro Konsultasi Kesehatan atau GGD untuk diikutsertakan ke peuterschool (semacam playgroup gitu) atau ke tempat penitipan anak (namanya kinderopvangen atau children daycare) dengan jumlah jam tertentu (kecuali ada kendala atau kondisi khusus yang tidak memungkinkan). Pemerintah pusat memberikan subsidi untuk keluarga yang menitipkan anak-anaknya di kinderopvangen atau peuterspeelzal, dengan syarat kedua orang tuanya bekerja. Subsidi ini berupa pengurangan biaya iuran perjam si anak. Sementara kalo salah satunya aja yang bekerja, biasanya dari pihak Gemeente (tidak semua Gemeente memberikan subsidi, hal ini tergantung pengaturan masing-masing) yang akan memberikan bantuan biaya yang besarannya ditentukan berdasarkan setoran pajak penghasilan orang tua per tahun.

Tingkat pertama pendidikan wajib (sekolah) di Belanda disebut Basisschool (Sekolah Dasar). Anak-anak duduk di tingkat dasar ini selama 8 tahun (tiap tingkatannya disebut “groep”). Untuk tahun pertama dan kedua (groep 1 dan 2) biasanya digabung menjadi satu. Mungkin kalo di Indonesia groep 1 dan 2 ini bisa disamakan dengan TK A dan B. Kalo menurut info dari suami, untuk anak-anak yang masih dibawah 6 tahun (4-5 tahun) jam wajib belajarnya masih sedikit jumlahnya. Mereka pada intinya lebih diarahkan untuk bisa beradaptasi pada perubahan dari yang sebelumnya bentuk belajarnya lebih ke bermain menjadi bener-bener belajar membaca dan menulis secara perlahan-lahan. Anak-anak masih cukup diberikan kelonggaran untuk tidak ikut sekolah terus-menerus selama jumlah jam belajar tersebut terpenuhi. Begitu anak memasuki usia 6 tahun, mereka sudah ga bisa lagi seenaknya libur alias harus ikut aturan kalender pendidikan di Belanda.

Setelah menyelesaikan Basisschool, mereka akan lanjut ke sekolah lanjutan yang biasanya disebut Middelbare school. Lamanya waktu belajar di tingkat middelbare school tergantung dengan pilihan dan kemampuan masing-masing anak. Mereka punya beberapa pilihan sekolah lanjutan: VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), VMBO (Voorbereidend Middelbaar Beroepsonderwijs), atau Praktijkonderwijs. Mereka biasanya diarahkan sesuai kemampuan (akademis) dan minat masing-masing anak. Di lain waktu saya akan sharing tentang pendidikan lanjutan ini dalam postingan selanjutnya.

Satu hal yang saya sadari di sini adalah kualitas dari tiap sekolah (termasuk para gurunya) di tiap kota – besar maupun kecil – bisa dibilang ga ada bedanya. Hal ini bisa jadi karna pemerintah Belanda cukup ketat dalam mengontrol kualitas para guru dan mereka juga rutin diberikan waktu khusus untuk mendalami kurikulum atau program mengajarnya (mereka nyebutnya “studiedag” yang berarti pada hari itu anak-anak libur dan guru-gurunya belajar lagi deh hehe). Kalo di Indonesia kita sering denger para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit, selama saya tinggal di sini (dan kuliah dulu) hampir ga pernah saya dengar yang kaya gitu. Kayanya si khususnya untuk basisschool ada semacam aturan (atau kebiasaan) kalo para orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang paling dekat lokasinya dengan rumah mereka. Hal ini wajar banget kan ya karna tentu dengan anak disekolahkan di lokasi yang dekat maka waktu mereka ga akan habis di jalan. Walaupun ada beberapa anak yang diantar ke sekolah dengan mobil, hampir sebagian besar anak- anak berangkat dengan sepeda atau berjalan kaki. Karna kebetulan lokasi rumah kami ga lebih dari 500 meter aja, anak-anak lebih senang berjalan kaki ke sekolah.
Waktu belajar basisschool untuk beberapa tahun terakhir adalah pukul 08.30 – 14.30, dengan waktu istirahat sebanyak dua kali (satu kali kleine/fruitpauze/small break selama kurang lebih 15 menit dan satu kali lunchpauze/lunch break selama kurang lebih 30 menit). Anak-anak wajib membawa bekal sendiri dari rumah (walau kadang pada event atau acara khusus sekolah menyediakan). Untungnya bekal makanan dan minuman di sini cukup simpel, jadi kami juga ga ribet-ribet amat tiap pagi harus masak atau bikin sesuatu yang spesial buat bekal mereka hehe. Bahkan anak- anak sejak 2 tahun lalu udah mulai nyiapin bekal makan siang mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam tas sekolah masing-masing (walaupun awalnya untuk minum dan buah mama atau papa masih harus bantu 😊).

Walaupun waktu mereka di sekolah lumayan panjang durasinya, hampir tidak pernah saya dengar kalo mereka lelah karena belajar di sekolah. Alhamdulillah sejauh ini kami lihat mereka cukup antusias dan senang mengikuti kegiatan di sekolah. Keduanya sempet merasa agak bosan sewaktu mereka duduk di grup 4 karena menurut mereka pelajaran yang diberikan gurunya agak terlalu mudah. Kami anggap wajar karena memang grup 4 menurut kami adalah semacam grup transisi. Untuk muatan ajaran dari segi kurikulum masih tidak jauh berbeda dengan grup 3, walau tentu aja pasti tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi. Bisa jadi karena kurikulum yang diberikan cukup ringan dan tidak membuat anak-anak merasa terbebani kali ya.

Sejak di Groep 6, anak-anak juga mulai mendapatkan pekerjaan rumah alias PR satu kali dalam seminggu (sebagai info tambahan, ga semua sekolah memberikan PR untuk para muridnya, hal ini tergantung pada kebijakan di tiap-tiap sekolah). Setiap siswa diminta untuk menyiapkan map/folder khusus untuk PR dan wajib dibawa setiap rabu. Bentuk PR-nya sendiri bervariasi. Kadang hitung-hitungan, kadang hafalan, kadang juga hanya disuruh membaca.

Dalam setahun, anak-anak memperoleh cukup banyak waktu libur. Hampir di tiap musim mereka punya waktu libur setidaknya satu minggu. Biasanya, di musim gugur anak-anak libur seminggu. Kemudian di musim dingin/akhir tahun mereka libur selama dua minggu (Kerstvakantie). Selama waktu carnaval (khusus di Belanda bagian selatan – sekitar Noord Brabant dan Limburg – kalo ga salah ya) mereka juga libur selama seminggu. Setelah itu di bulan April-Mei mereka akan libur lagi (Meivakantie) selama dua minggu. Dan terakhir di musim panas mereka mendapat jatah libur musim panas selama kurang lebih enam minggu. Libur-libur ini di luar libur studiedag dan libur resmi nasional lainnya seperti pinksterdag (pantekosta) atau hemelvaart (kenaikan Isa Almasih) loh ya. Lumayan jauh kalo dibandingin sama jumlah libur anak-anak sekolah di Indonesia – ya gak si?

Kurikulum dan program yang ditentukan oleh pemerintah di sini menurut saya cukup bagus, menarik dan variatif. Di setiap bulan atau di waktu-waktu tertentu biasanya mereka punya tema khusus yang dibahas atau dikerjakan oleh anak-anak. Selain itu pada perayaan-perayaan tertentu seperti Koningsdag (King’s day), Carnaval, Paskah, Sinterklaas atau Christmas biasanya mereka juga akan ikut serta memeriahkannya di sekolah. Biasanya hari-hari khusus tersebut juga dijadikan sebagai subyek atau tema belajar mereka.

Orang tua juga banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah. Kadang para orang tua diperlukan untuk masalah transportasi (kalo pas lagi ada jadwal ekskursi ke luar sekolah), atau membantu mengontrol rambut anak-anak dari kutu rambut (iya, di sini ada yang namanya luizenmoeder atau nit mother 😁), kadang mereka juga dateng ke sekolah untuk membacakan cerita (voorlezen).

Dari sekian banyak yang diajarkan di sekolah, berikut adalah beberapa program yang ditawarkan di sekolah anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mungkin bisa dijadikan masukan dalam menyusun kurikulum sekolah dasar di Indonesia (kali aja loooh hehehe).

Kanjer.

Kalo nyari pengertian bener-bener, kata “kanjer” (dibaca “kanyer”) ini susah dicari padanan katanya. Mungkin kanjer ini bisa diartikan sebagai (sesuatu yang) besar atau luar biasa, atau top, intinya sesuatu yang positif lah. Kalo dilekatkan ke seseorang, pengertiannya bisa jadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang baik budi pekertinya (khususnya dalam konteks hubungan sosial). Nah sekolahnya anak-anak kebetulan mengedepankan ini dalam pola pembelajarannya. Jadi biasanya (hampir) setiap minggu mereka ada waktu khusus untuk kegiatan dalam rangka pembentukan pribadi yang “kanjer”. Metodenya yang dipergunakan juga ga begitu rumit. Para murid diajarkan untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana menghargai orang lain – termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan yang lain, membangun kepercayaan atas diri sendiri juga terhadap orang lain, serta tindakan apa saja yang “kanjer” dan yang bukan. Kemudian guru beserta orang tua murid yang secara sukarela diminta untuk membantu akan mengilustrasikan tema yang diangkat ini ke dalam satu aktivitas yang tentu aja melibatkan para murid. Mereka kemudian akan memberikan nilai sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Selain itu mereka juga mendapat nilai dari teman-temannya dan juga guru dan wali murid yang membantu. Jadi kegiatan kanjer ini lebih seperti evaluasi mereka terhadap diri sendiri dan juga berperilaku terhadap orang lain terutama lingkungan sekitarnya.

Cultuurproject (proyek kebudayaan).

Melalui program ini, selama beberapa minggu para guru akan membahas tentang satu tema khusus yang terkait dengan kebudayaan kepada murid-muridnya. Tingkat kesulitan dan sejauh mana konten yang diberikan biasanya disesuaikan dengan tingkatannya. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu sekolah mereka mengangkat tema mengenai Mesir (Egypte). Jadi selama beberapa minggu para guru memberikan semacam pemaparan mengenai kebudayaan Mesir kepada muridnya, mengajarkan mereka menulis nama sendiri dalam huruf hieroglyph, bagaimana mummy dibuat, kemudian membuat berbagai macam prakarya bertemakan Mesir. Sementara di tahun lainnya mereka belajar tentang pelukis terkenal dari Belanda – Vincent van Gogh. Mereka belajar tentang riwayat hidup sang pelukis dan juga membuat prakarya yang terinspirasi dari karya-karyanya van Gogh. Tahun ajaran yang terakhir kemarin (2017 – draft ini udah bersemedi lama di WP saya ibu-ibu🤣) anak-anak belajar tentang tema “fairy tales” (sprookjes). Setelah selama beberapa minggu anak-anak belajar dan membuat prakarya, di pekan terakhir project sekolah akan mengadakan yang namanya “cultuuravond” atau malam kebudayaan di mana hasil prakarya anak-anak yang sudah dibuat dipamerkan di kelasnya masing-masing dan para orang tua (atau kakek, nenek dan para kerabat lain) diperbolehkan untuk berkunjung dan ikut melihat karya-karya mereka.

piramida dan mummy kucing hasil karya para murid grup 4

potret diri dalam bentuk lukisan dan nama murid dalam huruf hieroglyph.

De Week van De Lentekriebels.
Program lain yang menurut saya menarik adalah “De Week van De Lentekriebels.” Secara harfiah, lentekriebels berarti “spring fever” atau demam musim semi. Tapi de week van de lentekriebels di sini sedikit berbeda pengertiannya. Mungkin lebih kepada arti kiasan dari istilah ini sendiri ya. De week van de lentekriebels merupakan satu proyek mingguan yang diselenggarakan secara nasional (di seluruh basisschool/sekolah dasar di Belanda) dimana pada minggu ini para murid (anak-anak) mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk hubungan/relasi dan seksual (jenis kelamin). Anak-anak ini diberikan pengertian mengenai perkembangan seksual mereka, perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana seorang bayi lahir, penghargaan/respek terhadap pilihan dan perbedaan tiap individu, dan belajar untuk hidup bersama dengan suasana yang aman dan nyaman. Tiap grup diberikan penjelasan dengan bobot yang berbeda-beda, dan menggunakan bahasa dan contoh yang cukup menarik dan mudah untuk dimengerti.

Schoolfruit.

Di lain waktu (seperti 2 tahun ajaran sebelumnya), setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis selama kurang lebih 20 minggu sekolah menyediakan buah-buahan (dan kadang sayuran seperti paprika atau wortel) untuk diberikan kepada anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan program EU-Schoolfruit, yang bertujuan untuk menstimulasi anak-anak untuk lebih sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur. Intinya si supaya anak-anak mengkonsumsi sesuatu yang sehat. Selain itu juga biasanya akan diadakan semacam kompetisi di mana anak-anak harus membuat sesuatu sekreatif mungkin dari buah-buahan.

Sportsdag.

Setiap tahunnya, sekolah juga mengadakan yang namanya sportsdag. Di satu hari ini mereka (seluruh grup – mulai dari grup 1 sampai groep 8) ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga – sebagian besar cabang-cabang atletik – yang sudah diatur oleh para guru (dibantu orang tua murid juga). Dengan adanya kegiatan ini otomatis anak-anak harus berada di luar ruangan, berbaur dengan anak-anak dari groep dan kelas lainnya, dan juga aktif bergerak sampai waktu pulang tiba (biasanya dari jam 8.30 sampai dengan waktu pulang sekolah – yaitu sekitar jam 14.30).

Techniek

Yang saya suka juga dari kurikulum yang diajarkan di sekolah dasar di sini adalah banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan teknik. Teknik di sini mungkin bisa lebih diartikan ke praktik ya. Misalnya, kegiatan membuat mainan (binatang) dari kayu, melukis dengan menggunakan berbagai macam kanvas dan pewarna, membuat perahu dari karton susu bekas, membuat “puppet show” beserta panggungnya, atau membuat binatang dari buku bekas. Intinya bukan cuma belajar membaca dan berhitung, mereka juga diajarkan dan dilibatkan untuk membuat sesuatu yang menjadi hasil karya mereka sendiri.

Outdoor Learning dan Kunjungan ke Perpustakaan dan tempat-tempat khusus.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ajaran, selain anak-anak hampir setiap tahunnya memiliki jadwal belajar-mengajar di luar ruangan, atau juga dalam bentuk kunjungan kegiatan ke tempat-tempat tertentu seperti kunjungan ke Museum Sepatu dan Kulit yang kebetulan lokasinya ga begitu jauh dari lokasi sekolah, atau kunjungan ke kebun binatang khusus reptil, juga jalan-jalan ke hutan dan de Loonse en Drunense Duinen untuk belajar tentang alam.

Muziekproject.

Pada project ini anak-anak akan diperkenalkan kepada berbagai macam instrumen musik, seperti misalnya alat musik tiup, petik dan perkusi. Dua tahun lalu sewaktu anak gadis saya masih duduk di Groep 6 diperkenalkan dengan alat musik tiup, seperti terompet, saxophone, tuba dan klarinet. Mereka diperbolehkan untuk mencoba alat musik tersebut secara bergantian. Di waktu lain mereka diperkenalkan dengan sambuca, tamborine dan gendang.

Di tahun terakhir basisschool (atau group 8), anak-anak dari group 8 wajib ikut serta dalam drama musikal yang khusus dipersembahkan untuk para orang tua murid sebagai ungkapan terima kasih. Selain itu mereka juga akan melaksanakan kemping selama 3-5 hari. Tahun ini anak saya yang pertama akan sibuk dengan dua kegiatan tersebut (selain tentu dengan pemilihan sekolah selanjutnya dan juga ujian-ujian akhir tahun ajaran).

Ngomong-ngomong soal ujian, walau ada aja kontroversi, di sekolah anak saya juga tiap semesternya dilaksanakan yang namanya ujian. Ini sebenernya lebih kepada tes kemampuan si anak, sampai sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang sudah diajarkan oleh guru mereka. Ujiannya dikenal dengan nama CITO toets (kepanjangan dari Centraal Instituut voor Toets Ontwikkeling). Bentuk ujiannya sendiri cukup simpel, subyek yang diuji setau saya adalah kemampuan berhitung (rekenen), kemampuan membaca dan menganalisa (spelling en technisch lezen, dan begrijpen lezen; ).

Untuk group 8 sendiri juga ada yang namanya ujian akhir atau eindexamen. Pihak sekolah diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk memilih dari beberapa metode ujian akhir untuk diterapkan bagi para muridnya. Jadi selain dari hasil rapport mereka tiap tahun, hasil ujian akhir juga akan menjadi masukan bagi para guru/wali kelas untuk menentukan ke program/jurusan mana si murid bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat middelbare.

Catatan:

Tulisan ini ditulis pertama kali tahun 2015 😂. Berhubung belum yakin dan informasinya terasa kurang, ngendaplah dia sebagai draft selama beberapa tahun. Setelah disesuaikan sedikit sana sini, akhirnya berani juga posting hehe. Mohon maaf apabila informasinya terasa kurang atau ga update ya. Feel free to ask or sharing some thoughts on the comment section!☺

12 thoughts on “Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

  1. durasinya panjang tapi tidak merasa lelah??
    kereb bangettt
    ini berarti kalo gak kurikulumnya yang bagus, fasilitasnya ok, gurunya cemerlang, atau ketiga”nya mantep semua ya

    Like

    1. bener tiga-tiganya emang saling mendukung kayanya. Di sini basisschool atau sekolah dasar emang kalo saya liat kurikulumnya ga dibikin berat buat murid, gurunya rajin di-update dan fasilitas sekolah didukung sama pemerintah.

      Like

  2. Wah ini seperti yang kita bahas kemarin ya Nis… cuman ini lebih lengkap. Btw itu mulai dari groep 1 pulangnya jam 14:30? Berarti bawa bekalnya banyak ya, kan buat sarapan sama lunch…

    Like

    1. Kan sarapannya di rumah Beth 😁 mereka biasanya bawa buah plus minum buat kleinepauze dan roti plus minum buat makan siang.

      Kalo dulu anak2 grup 1-2 pas jam istirahat pulang ke rumah buat lunch, abis itu mereka balik lagi ke sekolah, cuma aturannya skrg berubah dan mereka lunch di sekolah (ada orang tua yang ngawasin gitu).

      Like

  3. Hai mom, apakah sekolah dasar di belanda (sekolah negri nya) semua guru nya berbahasa belanda? Bagaimana kalau ada anak yg baru bisa bahasa inggris aja? Apakah akan ada guru yg membantu? Terima kasih 🙂

    Like

    1. Halo mba Lovi, salam kenal ya 🙂
      Setau saya untuk sekolah dasar di sini memang hampir semua menggunakan bahasa Belanda utk kegiatan belajar-mengajar (kecuali sekolah khusus seperti Sekolah Indonesia di Den Haag atau sekolah yang warga di sekitar lingkungannya lebih beragam – biasanya di kota-kota besar).
      Kalo untuk anak yg belum bisa komunikasi dgn bahasa Belanda, setau saya tergantung kebijakan sekolah apakah si anak boleh masuk sekolah itu atau ga. Seandainya boleh, ada kemungkinan si anak akan dikasih ekstra les untuk kemampuan bahasanya, atau disarankan mengambil les bahasa di luar jam sekolah.
      Untungnya karna masih sekolah dasar, tingkat bahasa yang dipakai pun bukan yang level rumit dan kemungkinan besar anak-anak akan cepat belajar dan paham bahasa belanda.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s