personal · travel · visited cities

Cerita Satu Dekade: 2010-2011.

Tersentil (karna udah lama ga posting wkwk) dan terinspirasi dari tulisan Deny tentang cerita satu dekadenya, membuat saya kembali mengingat perjalanan hidup saya sepanjang sepuluh tahun ke belakang. Ternyata dalam kurun waktu sepuluh tahun ini banyak cerita dalam kehidupan saya. Awalnya saya pengen nulis semua dalam satu postingan, tapi begitu dipikir-pikir bakalan puanjang nanti, yang ada baru setengah baca abis itu bubar jalan wkwkwk. Jadilah saya putuskan untuk membuat tulisannya per-dua tahun aja. Segini aja udah panjang jadinya, maklum saya juga jarang posting kan, sekalian lah sekali nulis bisa jadi lima postingan hahaha. Sebelum tahun 2019 berakhir, semoga tulisan ini selesai dan siap diposting yaaa.

2010: the Year of Reunion.

Dulu semasa kuliah saya punya teman dekat yang berasal dari Thailand – nama panggilannya Gadie. Kami udah kaya biji lah, kemana-mana bareng, belajar sampe curhat segala macem. Walau sekarang frekuensi sudah sangat berkurang tapi kami masih tetap saling keep in touch (bukan kami yang berubah tapi lebih kepada lingkungan yang evolved, segala hal yang dulunya merekatkan kami pun sudah ga sama lagi kondisinya – gosh I miss her).

Gadie and I, 2010.

Selain dengan Gadie, kami juga dekat dengan beberapa mahasiswa Belanda (B1 dan B2) dan satu mahasiswa dari Indonesia yang juga satu jurusan dengan kami. Di awal 2010, setelah kuliah selesai duo B ini memutuskan untuk pergi traveling ke beberapa negara di Asia termasuk mengunjungi kami. Salah satu B pada waktu itu pacaran sama Gadie, dan saya bisa dibilang comblangnya lah (tukang nyomblangin orang padahal percintaan sendiri ya gitu lah hahaha). Anyway, walo mereka cuma ke Indonesia sebentar saya seneng banget bisa ketemu lagi sama mereka. Kami sempat pergi ke Klaten (tempat teman kami yang juga orang Indonesia) dan berkunjung ke Borobudur.

trying to reach the statue in the stupa 😁, Borobudur, 2010.

Kemudian di penghujung 2010 saya berkesempatan untuk pergi ke Thailand dua kali. Yang pertama untuk urusan pekerjaan (mewakili Dirjen loh πŸ˜…) sebagai salah satu undangan dalam pertemuan Ekonomi Kreatif Thailand (tatap muka langsung Perdana Menteri Thailand (waktu itu) yang ganteng wkwk). Kunjungan saya ke Thailand yang kedua adalah untuk liburan bareng temen dekat saya dan juga mengunjungi hometown-nya teman saya Gadie di Nakhon Si Thammarat.

Hua Hin, 2010.

Ngomongin temen dekat, selain selama masa kuliah di tahun sebelumnya, jujur saya ga pernah punya pengalaman yang namanya pacaran secara konvensional yang intensif ketemu. Biasanya yang jadi permasalahan itu adalah jarak tempat kita tinggal. Setelah 2009 patah hati dan proses finalisasi tesis dan nunggu jadwal sidang yang bikin saya stress dan kesepian (temen-temen saya juga mulai sibuk sendiri karna rata-rata dikejar deadline tesis wkwkwk), saya sempet bikin akun di dating site gitu hahaha (di OKCupid – merely bcos it’s free and at that time tinder not yet exist πŸ˜‚). Saya bikin akun bukan buat nyari pacar, tapi lebih nyari temen buat jalan bareng. Dari situs ini saya sempet kenalan sama beberapa cowo yang sampe sekarang kadang-kadang masih saling kontak.

Selain situs OKC ini, dulu di Facebook juga ada semacam aplikasi speeddate (ada yang tau kah?) dimana kita bisa ngobrol bareng dengan pengguna FB lainnya selama 2 menit – kalo ga salah ya (biasanya yang ga ada koneksinya sama kita), kalo sama-sama klik bisa lanjut dengan add profile yang bersangkutan. Nah dari speeddate ini juga saya kenal beberapa orang baru, termasuk yang jadi teman perjalanan saya ke Thailand ini (dan satu orang lagi yang saya comblangin dan akhirnya menikah dengan temen saya ;)).

Teman saya ini aslinya dari Afrika Selatan, tapi waktu pertama kali saya kenal di tahun 2009 dia lagi postdoc di University of Copenhagen. Orangnya baik, lucu, ga sombong dan yang pasti ga pervert. kami hampir setiap hari ngobrol lewat MSN Messenger (jadul amat ya wkwk). Di awal tahun 2010 setelah postdoc-nya selesai, dia kembali ke kota tempat tinggalnya di Port Elisabeth. Setelah ketemu langsung di tahun 2010, kami masih saling kontak walau lama-kelamaan frekuensinya makin berkurang. Sedih karna dia salah satu orang yang spesial buat saya, walau saya juga ngerti karna kondisi kami berdua yang memang semakin ga memungkinkan.

2011: the Year of Traveling.

my Thai friends and I, 2011.

Pasca kuliah dan kembali aktif sebagai PNS, tanpa saya sadari saya mengalami reverse culture shock (untungnya cuma sebentar dan ga parah-parah amat). Keadaan kantor yang bisa dibilang stagnan dan pandangan konvensional yang masih nganggap saya terlalu muda untuk diberi kepercayaan satu jabatan (belum berkeluarga pula!) bikin saya jenuh dengan keadaan dan sedikit apatis dengan perubahan. Makanya di otak saya itu yang ada cari-cari kesempatan apapun untuk bisa lari sejenak dari rutinitas kantor.

Dan memang Allah itu Maha Mendengar ya :). Setelah di awal tahun saya bisa liburan bareng Gadie dan teman-temannya, di satu pelatihan yang diadakan oleh WIPO dan SIDA (Kantor Paten Swedia), dari sejumlah pegawai yang mendaftar, saya dipilih oleh WIPO/SIDA untuk mewakili Indonesia. Waktu itu ada satu peserta lagi dari Indonesia, seorang Dosen dari Universitas Padjajaran Bandung. Beliau ini Profesor di bidang Ekonomi (sekarang si Ibu jadi Komisaris Utama di salah satu BUMN). Kami berangkat di bulan April untuk ikut pelatihan di Stockholm selama 3 minggu. Di sela-sela waktu pelatihan (weekend) saya sempat pergi kota tempat saya dulu kuliah di Belanda. Teman-teman saya yang masih ada di sana bikin surprise reunion party buat saya. Seneng banget rasanya masih dikasih kesempatan buat kumpul dan ketemu mereka lagi.

Stockholm, 2011.
with my bestie at Tilly Lib, 2011.

Oh ya, salah satu yang bikin pelatihan WIPO/SIDA ini spesial adalah pelatihan selalu dilaksanakan dalam dua tahap. Selain diselenggarakan di Swedia, enam bulan kemudian akan dilaksanakan pertemuan lanjutan di salah satu negara asal peserta. Waktu itu ada dua kemungkinan akan diadakan di mana, yaitu Cina atau Afrika Selatan. Dalam hati kecil saya berharap supaya pertemuan akan diadakan di Afsel, secara kalo pergi sendiri ke sana sangat kecil kemungkinannya. Alhamdulillah lagi-lagi doa saya didengar Tuhan 😊 kamipun berkumpul kembali di Durban.

Durban, SA, 2011.

Btw, ketika saya di Stockholm, saya kenalan sama satu cowo asal Yunani. Dia tinggal di Brussels dan kerja di European Comission. Dari perkenalan ini kami jadi lumayan dekat. Astaga, kalo dipikir-pikir saya itu “petualang” amat dulu ya hahahah, tiap tahun dekat sama cowo dari beda-beda negara πŸ˜‚

Sewaktu saya berangkat ke Durban, untuk jadwal penerbangan kembali ke Indonesia saya nekat ambil cuti, putar arah dan booking flight ditengah-tengah waktu transit (pake biaya sendiri) buat ketemu “pacar” Yunani saya πŸ˜‚. Penerbangan saya itu transit di Dubai, dan karna ga ada flight yang pas waktunya jadilah saya harus menginap semalam di sana. Beruntung saya dikenalkan seseorang oleh teman saya, jadi waktu saya di Dubai pun ga terlunta-lunta.

Hot Dubai, 2011.

Keesokannya saya terbang ke Brussels, kemudian saya dan si Y pergi liburan ke Luxembourg dan Strasbourg. Sayangnya setelah liburan bareng ini hubungan saya sama dia makin renggang dan ga jelas arahnya. Kami susah nyari waktu untuk ketemu lagi karna kesibukan masing-masing. Dia sempet berencana ke Indonesia, ujung-ujungnya batal karna kita ga bisa mencocokkan jadwal. Intinya long distance relationship is quite suck terutama kalo dua-duanya ga siap.

Strasbourg, 2011.

Oh well, secara singkat bisa dibilang walaupun percintaan tetep memble, kesempatan saya untuk traveling di tahun 2011 ini so far masih jadi rekor terbanyak lah. Bahkan sewaktu kuliah dulu juga kalah wkwk. Diluar tugas kedinasan dan trip di dalam negeri, dalam waktu satu tahun saya udah berkunjung ke delapan negara: Swedia, Afrika Selatan, UAE, Qatar (walau transit pindah pesawat doang hahaha), Belgia, Perancis, Luxembourg, dan Belanda. Masya Allah tabarakallah yaaa πŸ˜„

Cerita di dua tahun berikutnya lanjut di sini yaa πŸ™‚

Chateau du Haut Koenigsbourg, Alsace Region, 2011.