Challenges · Holland · life · marriage life · personal · pregnancy

Cerita Satu Dekade: 2016-2017.

Cerita satu dekadenya saya lanjut yaaa. Buat yang ketinggalan postingan sebelumnya, boleh klik ke tautan ini berturut-turut untuk yang pertama, kedua, dan ketiga šŸ™‚

Untuk tahun 2016 dan 2017 saya ga akan cerita panjang, karna kebetulan ada beberapa postingan yang sudah menceritakan apa saja yang terjadi sepanjang tahun-tahun ini.

2016: the Year We Became Five.

Begitu kami balik dari London, walaupun ga langsung banget, beberapa hari kemudian suami beli test pack untuk mengecek apa saya beneran hamil ato ga. Setelah positif, kami langsung bikin janji dengan dokter keluarga, dan karena saya ada history khusus sebelumnya maka saya dirujuk ke dokter spesialis kandungan (obgyn) untuk dilakukan pengecekan lebih lanjut. Alhamdulillah kehamilan kali ini terlihat langsung embrio/janin-nya, dan karena terlihat normal akhirnya saya dirujuk ke Bidan setempat untuk kontrol kehamilan selanjutnya.

Di bulan keempat kehamilan, saya sempat pulang ke Indonesia sendiri untuk mengadakan semacam syukuran 4 bulanan dan juga mengenang 2 tahun meninggalnya Bapak. Alhamdulillah semuanya lancar. Masuk bulan ketujuh (minggu ke-29), dikarenakan kedua orang tua punya riwayat Diabetes, saya diharuskan untuk tes darah untuk mengecek kadar gula darah. Saya harus minum cairan glukosa (rasanya hoekkk gak enak!). Setelah hasilnya keluar, ternyata saya terdiagnosa Gestational Diabetes atau diabetes semasa hamil. Saya pun kemudian dirujuk kembali ke Ginekolog, Spesialis penyakit dalam (Internis ya?), dan Dietist. Karena kadar gula darah saya hanya sedikit di ambang batas normal, saya ga perlu pake (suntik) insulin, cukup dengan diet asupan dan aktif bergerak. Saya harus cek darah setiap hari sebanyak tiga kali: pagi sebelum sarapan, siang 2 jam setelah makan, dan malam 2 jam setelah makan. Rempes ya hahaha. Kalo mau tau lebih lanjut bisa dibaca di postingan saya sebelumnya di sini.

Di akhir minggu ke-37 kehamilan, saya kembali di USG dan dokter memperkirakan kalo si jabang bayi beratnya sekitar 3,8kg – kalo makin lama ditunggu takutnya akan makin besar (sementara saya kecil, kebayang ga tuh bakal gimana lahirannya wkwkwk). Maksud hati cuma kontrol, apa daya sama si dokter ditembak langsung beberapa hari kemudian buat masuk Rumah Sakit dan melahirkan dengan proses Induksi (Inleiden). Hatiku langsung deg-deg syerrr. Awalnya dokter kasih tanggal 17 Agustus untuk proses induksi pertama (masukin balon), tapi karna mertua saya ulang tahun tanggal 18-nya, saya minta supaya diundur ke tanggal 19 Agustus. Sehari berikutnya alhamdulillah lahirlah anak kami, dengan berat badan lebih kecil dari perkiraan (lingkar kepala dan bahu normal, cuma perut si kecil dari dalam perut mamanya udah keliatan agak buncit hahaha). Cerita lengkap proses kelahiran saya bisa dibaca di tulisan saya yang ini ya.

Pasca melahirkan, alhamdulillah saya dan bayi dinyatakan bebas dari diabetes. Satu hal lagi, pihak rumah sakit menyimpan plasenta dari kehamilan ini (atas persetujuan saya dan suami) untuk keperluan penelitian dan salah satu hasil penelitian tersebut terdeteksi kalo kondisi diabetes semasa hamil dulu disebabkan karna riwayat kehamilan molar saya. Seminggu setelah melahirkan, mama saya ditemani keponakan datang ke sini untuk nengok cucu.

2017: the Year of Family Bonding.

Saya bingung mau cerita apa untuk tahun 2017 haha. Selain sibuk sama si kecil, di tahun 2017 ini mungkin beberapa hal yang bisa saya kasih highlight adalah liburan bareng keluarga ke beberapa negara, pernikahan adik saya yang paling kecil dan si kecil untuk pertama kali ke Indonesia. Cerita tentang pengalaman saya bareng si kecil selama di perjalanan mudik bisa dibaca selengkapnya di sini yaaa.

Hubungan saya dengan adik saya bisa dibilang lucu sebenarnya. Well, dari dulu kami itu udah kaya kucing sama anjing lah. Bagai Tom dan Jerry wkwkwk. Mungkin sewaktu tau saya mau punya adik, saya ga siap hahaha. Dari awal saya kaya ga terima gitu kalo saya bakal punya adik. Setelah keluar, dia-nya agresif pula, sementara saya anaknya penakut, kurus, sakit-sakitan. Makanya orang tua saya (terutama mama) ga tegaan sama saya. Dari situ adik saya suka iri dan jadi “jahat” sama saya. Sayangnya jadi keterusan sampe dewasa wkwkwk. Pokonya ada aja yang bikin kita berantem (padahal sepanjang hidup sebelum nikah kita itu satu kamar dongggg). Alhamdulillah semakin kami tambah usia tingkat toleransi dan kepengertian kami juga ikut bertambah hehe. Seperti pepatah bilang, posisi saya dan dia yang berjauhan jadi bikin hubungan sedikit lebih harum baunya (tsah).

Dulu adik saya punya pacar yang lumayan serius lebih duluan dari saya. Bahkan mereka udah punya tabungan bareng. Keluarga besar di satu kesempatan sempet ngomong kalo bisa-bisa saya akan dilangkahi (karna saya memang ga pernah ngajak cowo ke rumah – kan pernah trauma dulu wkwkwk). Saya yang memang waktu itu belom ada cowo yang serius jawab kalo saya mah ikhlas seandainya adik saya nikah duluan. Namanya jodoh kan di tangan Tuhan ya, masa saya harus halang-halangi. Ndilalah ternyata mereka ya ga jodoh dan akhirnya putus. Setelah adik saya putus dan saya kawin, adik saya belum kelihatan dekat sama cowo lagi. Sampai satu waktu (di akhir 2016) dia bilang kalo ada cowo dikenalin sama temennya mau serius dan nikah sama dia. Setelah awalnya maksa mau Nikah di awal tahun, akhirnya mereka sepakat untuk nikah di bulan April.

Karena banyak tanggal-tanggal penting jatuh di bulan April, saya pun memutuskan untuk mudik lebih awal. Saya cuma pergi berdua si kecil (yang masih ASI waktu itu) karena baik suami dan Kakak-kakaknya si kecil ga libur. Alhamdulillah pernikahan adik saya berjalan lancar. Selama mudik pun si kecil ga sakit atau rewel, walaupun ini pertama kali ke Indonesia (selain sewaktu masih di dalam perut hehe).

Sebagai pengganti rencana kami semula untuk mudik ke Indonesia, saya dan suami memutuskan untuk melakukan semacam road trip ke beberapa kota di wilayah Skandinavia. Rencana hampir ga jalan karena ternyata kendaraan suami yang seharusnya keluar di awal bulan, masih belom selesai dirakit. Beruntung kami dapat mobil pinjaman dari showroom (walaupun ga gratis dan persnelingnya manual), dan rencana road trip kami akhirnya kejadian juga. Anak-anak lumayan bagus mood-nya selama di perjalanan, dan si sulung yang sebelumnya kurang setuju (dia ga suka naik mobil) juga ikut menikmati liburan. Perjalanan Road Trip kami ini pernah saya tulis di sini dan cerita tentang kota-kota yang kami singgahi dalam beberapa postingan sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s