life · personal

Di Penghujung 2020.

Ada kalanya, dalam hidup kita lupa kalo Yang Maha Besar banyak memberi kita kenikmatan dalam hidup. Bahkan di tahun yang bisa dibilang adalah tahun terberat buat manusia setelah sekian lama dilimpahkan beribu-ribu kemudahan dan kenikmatan yang baru akhir-akhir ini disadari karna hilang, masih banyak yang patut disyukuri.

Buat saya sendiri, 2020 sampai saat ini bisa dibilang berjalan dengan baik. Walaupun ga semua berjalan sesuai dengan apa yg sudah direncanakan sebelumnya, banyak doa-doa saya dan hal baik yang tidak terduga justru dikabulkan tahun ini. Manusia, termasuk saya, bisa saja berencana, tapi akhirnya Sang Maha Penentu yang memutuskan apa yang terjadi di depan buat kita. Saya bersyukur sampai saat ini Tuhan masih melindungi keluarga saya. Kami sekeluarga masih diberikan nikmat sehat, masih bisa bernafas dengan bebas, masih bisa beraktifitas walau dengan penyesuaian. Begitu pun dengan keluarga besar saya di Indonesia. Disaat-saat kaya gini, dimana mobilitas kita semakin terbatas, mengetahui kalo keluarga besar yang jauh lokasinya dengan kita masih dilindungi Allah dan dalam keadaan sehat itu adalah sesuatu. Meski mungkin terdengar sepele, hal kecil kaya gini setidaknya membuat pikiran saya jadi sedikit lebih tenang.

Tahun 2020 juga bisa menjadi pengingat untuk diri saya kelak, bahwa bahkan dalam sesulit apapun cobaan yang diberikan Tuhan, banyak juga berkah yang saya terima dan ini menjadi bukti bahwa Tuhan tetap mengingat saya (dan sekian milyar manusia di bumi ini). Intinya dibalik kesulitan insya allah akan datang kemudahan.

Beberapa berita sedih dan kehilangan juga harus saya hadapi di tahun ini. Salah satunya adalah di awal tahun ketika Opa anak-anak yang tinggal di Kajen dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Seperti firasat, tahun lalu saya mengharuskan kami untuk pergi sowan ke Bapak dan saudara-saudara almarhumah mamanya anak saya yang pertama dan kedua di Kajen. Walaupun sebentar, setidaknya kami semua masih sempat silaturahmi. Ga nyangka kalo sekarang bahkan pergi ke negara tetangga aja sulit, apalagi ke Indonesia.

Di tahun ini, ada beberapa rencana yang sudah direncanakan jauh-jauh hari qadarallah harus berubah. Salah satunya adalah rencana mudik ke Indonesia awal April lalu. Sempat berpikir mau tetap berangkat (waktu itu Belanda dan Belgia sedikit lebih baik dari negara tetangganya), tapi akhirnya ga mungkin karena penerbangan dibatalkan.

Saya dan keluarga masih beruntung, walaupun gagal mudik ke Indonesia tahun ini, alhamdulillah kami masih bisa liburan sekeluarga ke beberapa negara. Kami yakin berangkat setelah melihat trend kasus Covid yang waktu itu rendah dan bisa dibilang cukup terkendali. Salah satu highlight perjalanan kami itu akhirnya saya melihat “ujung gunung” Titlis (ga sampe ke atas karna cuaca buruk) yang sebelumnya cuma denger cerita dari teman-teman kantor yang pernah ke sana. Nanti insya allah akan saya share gimana cerita liburan kala pandemi ini di postingan terpisah.

Sebelum covid ditetapkan sebagai pandemi, saya juga masih sempat pergi liburan bareng temen saya ke Valencia, Spanyol. Walo sempat was-was karna waktu itu di Belanda belum ada kasus tapi di Spanyol sudah mulai merebak di beberapa kota. Alhamdulillah kami bisa balik tepat waktu, karna ga lama setelah kami kembali ke Belanda, di Spanyol angka yang positif mulai melonjak drastis.

Little did we know, not long after this Valencia became one of the Covid-19 epicentrum in Europe šŸ˜”
Sempet kaget kenapa jeruk merona sebanyak itu gada yang metik, ternyata karna rasanya yg katanya asem dan pait.

Di saat banyak orang kehilangan pekerjaan, saya diberikan berkah dari Allah untuk akhirnya bisa kerja di kantoran. Ga cuma itu, jadwal dan lokasinya yang dekat dari rumah pun menambah berkah buat saya. Cuma satu yang sekarang jadi pikiran, anak-anak setelah liburan besok akan mulai aktifitas sekolah via daring. Saya pusing gimana sama yang bontot, secara opvang/daycare tutup, dia ga mungkin sekolah online tanpa dipandu karna suami tetep kerja, saya masih harus berangkat ke kantor (belum bisa wfh huhu), dan Oma udah sepuh. Mudah-mudahan akan segera ada solusinya.

Kalo pas jam makan siang dan cuaca bagus, saya sempatkan jalan keliling sekitar kantor, itung-itung olahraga sedikit sambil liat yang seger-segeršŸ˜

Highlight lain di tahun 2020 ini adalah berkat pandemi, saya jadi nambah pengetahuan masalah per-rotian dan dapur hahah. Segala roti sourdough, donat, roti sobek saya coba buat sendiri. Ada yang sukses, banyak juga yang gagal. Kue ulang tahun yang biasanya pesan sama orang lain pun saya coba buat sendiri.

Kue ulang tahun si bontot.
Special request dari anaknya yang minta pake frosting warna birušŸ˜…

Saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk sampai di usia 40. Semoga dengan bertambahnya usia saya, bertambah pula sabar saya, berkurang bawelnya sama anak-anak dan suami (susah ini kayanyašŸ¤£), tambah khusyuk ibadahnya, dan hidup tenang ga banyak drama.

Tumpeng perdana saya yang sedikit mirip menara pisa (miring maksudnyašŸ¤£)

Buat teman-teman yang sedang tertimpa musibah, jatuh bangun, atau diuji segalanya baik lahir maupun batin sepanjang tahun ini, hang in there, I know you are a survivor. Semoga kalian selalu tegar dan tetap berikhtiar. Don’t give up ya, insyaa allah badai akan segera berlalu. Doa saya sebelum kita memasuki tahun yang baru, semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bersyukur. Semoga Tuhan selalu melindungi kita, dan kita diberikan nikmat sehat selalu, ketenangan hati dan berkecukupan, Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s