Akhirnya Resign Juga.

“Even if you know what’s coming, you’re never prepared for how it feels.”
– Natalie Standiford
.

Per tanggal 22 September 2017 kemarin, masa cuti diluar tanggungan negara yang saya ambil sejak September 2014 lalu sudah habis masa berlakunya. Beberapa bulan sebelumnya ada kolega yang menghubungi saya menanyakan kelanjutan cuti saya, apakah mau diperpanjang satu tahun lagi (di Undang-undang Aparatur Sipil Negara yang baru ada kemungkinan untuk PNS yang sudah mengajukan masa cuti di luar tanggungan negara selama tiga tahun untuk memperpanjang masa cutinya selama satu tahun lagi) atau mengundurkan diri ato resign. Setelah konsultasi dengan suami dan juga ngobrol sama beberapa kolega, akhirnya saya putuskan untuk mengajukan surat pengunduran diri aja alias resign. Dulu kenapa saya ga langsung resign salah satu alasannya adalah supaya masa transisi dan proses pengunduran diri saya bisa lebih lancar. Selain itu saya juga sempet mikir kali aja saya bisa dipindahtugaskan di KBRI di sini di tengah masa cuti saya (wakaka ngarep amit ya).

Sedih sebenernya, karna saya udah kerja di sana hampir 10 tahun lamanya. Selain itu agak berat buat ninggalin temen-temen yang beberapa dari mereka buat saya udah kaya keluarga sendiri. Sewaktu saya mengajukan cuti di luar tanggungan negara, tim kerja saya waktu itu adalah salah satu yang paling kompak dan solid buat diajak kerja sama (sepanjang saya bekerja di sana). Padahal kami cuma bertiga, tapi ngurusin kerjaan yang udah kaya apaan tau alhamdulillah bisa diselesaikan semua. Selama 9 tahun 10 bulan “mengabdi” untuk negara, banyak kenangan suka dan duka yang saya dapet selama bekerja di Kementerian (Alhamdulillah lebih banyak sukanya hehe). Banyak juga yang mandang PNS dengan sebelah mata. Mereka pukul rata kalo PNS itu pasti identik dengan males, KKN, ga bisa kerja, dll yang jelek-jelek. PNS sendiri kebanyakan dianggap sebagai masyarakat kelas dua, ga keren, dan bukan pekerjaan populis di jaman saya (kecuali di kementerian-kementerian yang seksi kaya kemenkeu ato kemenlu ya). But that’s ok for me. Prinsip saya, baik buruknya seseorang sebenernya bukan tergantung pada tempat atau kerjaan apa yang kita punya. As long as you try to do your best, kerja gak setengah-setengah dan berpikir optimis dan positif, there’s always possibilities to change other people’s mind. FYI, saya jadi PNS tanpa bantuan dari siapapun (kecuali dari Allah dan doa orang tua) dan juga tanpa paksaan dari orang tua (walau almarhum bapak saya adalah PNS di kementerian lain).

Walau banyak yang memandang rendah PNS, tapi banyak juga yang bilang jadi PNS enak, karna kerjaan sedikit tapi duit tetep ngalir. Sayangnya pada kenyataannya ga kaya gitu. Lagian dikata kementerian punya kita ya. Saya masih inget, dulu di awal-awal tahun saya bekerja, gaji yang saya terima kecil banget. Boro-boro nutup ongkos, tiap akhir bulan saya (hampir pasti) minta ke bapak saya suntikan dana wkwkwk. Tapi bersyukur sampai terakhir saya kerja, walau dengan pemasukan yang gak seberapa (dibanding gaji temen-temen saya yang jadi lawyer, in house legal ato apalah lainnya yang lebih elit) alhamdulillah saya ga pernah yang namanya kekurangan. Saya-nya juga ga cupu-cupu amat dan ga ngerasa rendah diri walo sekeliling saya udah pada nerima gaji dua digit di depan nol yang berderet. Bersyukur juga mereka ga pernah under estimate saya dan ga memandang saya dengan sebelah mata.

Salah satu nilai plus dari jadi PNS itu adalah adanya kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan kuliah di luar negeri (selain dosen yang juga punya banyak peluang untuk ikut studi lanjutan). Alhamdulillah juga di masa kerja ini saya bisa melanjutkan kuliah di Belanda dengan beasiswa. Ini juga yang menjadi salah satu penyemangat dan pertimbangan kenapa saya mau jadi PNS dulu. Ada satu hal lagi yang juga bisa dihitung sebagai nilai plus (walau ini jatuhnya si untung-untungan, tergantung di mana kita ditempatkan) yaitu terbukanya kesempatan untuk menginjakkan kaki ke tempat-tempat yang gak kita bayangin deh. Kalo diitung, lagi-lagi saya termasuk yang cukup beruntung. Selama kerja di sana saya sempet dikirim ke beberapa negara juga ke beberapa kota di Indonesia. Yang paling berkesan? Banyakkk. Setiap kota ada kenangannya. Mungkin kalo disuruh milih salah satu kota yang saya kunjungi yang paling berkesan buat saya adalah waktu dinas ke Tana Toraja. Selain indah, saya ketemu dengan orang-orang baik di sana. Teman seperjalanan saya pun menyenangkan dan makanan yang kami santap sepanjang perjalanan dinas waktu itu (hampir) enak semua! Padahal kami harus menempuh perjalanan darat selama 8 jam dari Makassar dan ga semua ruas jalannya mulus, tapi alhamdulillah saya tetap bisa menikmati.

Gunung Nona – Enrekang, Sulawesi Selatan. Di depan: ibu Kasubdit, di belakang: bapak Direktur, di tengah: setap wkwkwk

Satu lagi yang juga cukup berkesan adalah sewaktu saya beserta dua orang temen saya diutus untuk mewakili Dirjen ke pertemuan yang mengangkat tema traditional knowledge and folklore di Bangkok. Di salah satu sesi talkshow, salah seorang narasumbernya yang merupakan owner perusahaan tas terkenal di Thailand memberikan hadiah kejutan buat mereka yang mengajukan pertanyaan, yang kebetulan saya salah satunya. Jadi begitu saya kembali di hotel, hadiah yang berupa tas sudah menanti saya di lobby (cantik banget – jadi salah satu tas favorit saya waktu itu, sayang sekarang udah ga ada hiks).

Ini foto saya beserta tas gratisannya pas lagi main ke bekse bergen tahun 2011😊 Mereknya NaRaYa, bisa dicek website resminya di http://www.naraya.com

Walo banyak enaknya ga berarti saya ga ngerasain yang ga enaknya juga loh ya. Bukan dari eksternal aja, justru tantangan lebih banyak dateng dari dalam. Saya harus bisa ngerjain segala macem alias multitasking dan bisa belajar sendiri (beruntung kalo pas kebetulan dapet atasan yang rajin dan bisa ngajarin kita, kalo ga ya wassalam deh). Walopun saya sarjana hukum, kerjaan saya waktu itu selain biasanya ikut drafting perjanjian tapi juga termasuk nerjemahin naskah, bikin rencana anggaran/budgeting, ikutan negosiasi, ngurusin kampanye, jadi juru sorot, tukang ketik naskah sampe jadi kaya event organizer dan lain-lain😂. Hikmahnya, saya jadi punya skill sedikit lebih banyak dari sebelumnya dan kenal orang lebih banyak sih.

Bareng temen-temen pas acara dharma wanita 😀

Bersama sesama peserta training di Durban – Afsel, satu dari Ukraina satunya lagi dari Uganda.

Kalo urusan sirik ato rekan kerja males, tukang gosip, ato penjilat mungkin ga cuma di lingkungan PNS aja tapi di perusahaan swasta ato lingkungan kerja manapun pasti ada ya (buat yang ngga punya, bersyukurlah kalian), jadi buat ini si saya maklum. Banyak juga yang kadang pengen dilihat atasan sampe kerjaan orang lain diaku-aku wkwk. Anyway, selain karna saya termasuk yang ga gitu peduli dengan omongan orang (iya, bahkan sampe baju yang saya pake pun sempet diomongin), biar gimana juga lingkungan birokrasi di Indonesia masih kental dengan yang namanya perbedaan gender dan senioritas. Saya pun sempet merasakan ini. Sempet beberapa kali masuk bursa promosi, beberapa kali itu pula saya tersingkir karna saya dianggap masih muda, belum menikah dan bukan kepala keluarga. Sekalinya kesempatan kembali dateng dan hampir pasti di tangan, eh sayanya harus cuti luar tanggungan beremigrasi buat ikut suami dan kemudian mengundurkan diri dengan teratur.

Yah inilah namanya qadar dari Allah. Kita cuma bisa berharap, berencana, tapi semua jalannya kembali kepada Allah yang menentukan. Saya bersyukur yang Allah kasih sebagai gantinya (dari pekerjaan saya kemarin) jauh lebih banyak dan berlimpah. Memang hidup kita di depan ga ada yang tau ya. Bisa jadi setelah saya bener-bener lepas dari pekerjaan kemarin, pintu lain akan terbuka lebar dan pekerjaan baru bisa segera nempel ke saya (Aamiin yang kenceng !)

Advertisements

Dua for my Children.*

In the name of Allah, the most Beneficent, the most Merciful

All praises are for Allah SWT, the most Compassionate, the most Forgiving.

Salutations and blessings be upon our Prophet Muhammad SAW, his family and companions.

Oh Allah, I submit myself to You.

I realize that parenting a child is a very difficult task and I turn to You in humility for Your help.

I implore You for Your wisdom and guidance.

Oh Allah, I know that our children are an amaanat from You, to care for and to raise in a manner that is pleasing to You.

Help me do that in the best way.

Teach me how to love in a way that You would have me love.

Help me where I need to be healed, improved, nurtured, and made whole.

Help me walk in righteousness and integrity so that You may always be pleased with me.

Allow me to be a God-fearing role model with all the communication, teaching, and nurturing skills that I may need.

Oh Allah, You know what our children need. Help and guide us in praying for our children.

Oh Allah, put a hedge of safety around our children. Protect their bodies, minds, and emotions from any kind of evil and harm.

Oh Allah, I pray that You protect them from accidents, diseases, injuries, and any other physical, mental, or emotional afflictions and abuse.

Oh Allah, I pray that You keep our children free from any addictions and vices.

Draw them close to You for protection from every ill and evil influence of our society, whether it’s apparent to us or not.

Oh Allah, grant them the best of company as their friends — people who will inspire them to love and worship and obey You.

Oh Allah, grant our children hidaaya and a heart that loves to obey You.

Shine Your light on any secret or unseen rebellion in their hearts and destroy it before it takes root.

Oh Allah, guide them away from any pride, selfishness, jealousy, hypocrisy, malice, and greed and make them uncomfortable with sins.

Penetrate their hearts with Your love and reverence today and always.

Oh Allah, make apparent to them the truth in any situation and let them not be misled by falsehood.

Oh Allah, grant our children the ability to make clear decisions and let them always be attracted to good things that are pure, noble, true, and just.

Oh Allah, guide them in making choices that please You.

Oh Allah, help them to taste the sweetness of walking with a humble spirit in obedience and submission to You.

Oh Allah, grant them the wisdom to choose their words carefully and bless them with a generous and caring spirit.

Oh Allah, I pray that they never stray from the path of deen and that You give them a future filled with Your best promises.

Oh Allah, always keep our children cleansed and pure from evil and shaytaan.

Oh Allah, keep them steadfast in establishing Salaah and help them revere the Glorious Quran as Your Word and Law and to read it with understanding daily. Let it be their source of light and guidance.

Oh Allah, let our daughters love wearing hijab and our sons the dress of a humble Muslim.

Let their dress be a representation of their Imaan and of their love and respect for Your commands.

Lead them to a position where they rely truly on Your power alone and fear You in the open and in secret.

Oh Allah, make them so strong in their deen that they never encounter doubt.

Oh Allah, do not allow any negative attitudes in the place of our children’s lives.

Oh Allah, guide our children in honouring and obeying You, Your Rasool (peace be upon him), and us as parents (when we are commanding that which is pleasing to You).

Make them the coolness of our eyes.

Oh Allah, fill our children with compassion and caring that will overflow to each member of our family.

Oh Allah, grant them piety.

Oh Allah, help them love, value, appreciate, and respect one another with good communication between them always.

Oh Allah, drive out any division between our children and bring them healing.

I pray there be no strain, breach, misunderstanding, arguing, fighting, or severing of ties.

Oh Allah, allow them to one day marry righteous, God-fearing, kind, hard-working, intelligent, beautiful, healthy spouses who get along with and respect and love (and genuinely enjoy) every member of our family and who lead our children (i.e. their spouses) even closer to You and Jannat ul Firdaus.

Oh Allah, please grant me the company of pious friends, relatives, extended community members, and teachers who will be inspirational role models for my children and will help me raise them to be the best of believers.

Oh Allah, please don’t let me become self-satisfied and arrogant in my parenting, but please don’t humble me or shame me through my children’s misdeeds either. Please let me always give credit for their good character to You and please don’t ever let me stop praying for them.

Oh Allah, please don’t let my children be “late” in meeting any of life’s milestones that are expected of them.

Oh Allah, protect my children from debt. Make them givers and not takers.

Oh Allah, grant my children noble professions with halal incomes that give them respect and dignity in Your Eyes and in the eyes of their fellow human beings.

Oh Allah, grant them worldly comfort so that my children can come to You through the Door of Gratitude and so that they are not forced to come to You through the Door of Patience. Please let them always be grateful…and patient.

Oh Allah, I pray for a close, loving, happy and fulfilling relationship with them for all the days of our lives and to be reunited with them in Jannat ul Firdaus.

                                                      آمِيْن يَارَبَّ الْعَالَمِينْ


*this dua was edited by Hina Khan-Mukhtar, who said, “This list of duas was not started by me but I edited it and added a few of my own and am now sharing…feel free to add your own and continue sharing.” (link to original post: click here).

My Year 2017 in Review.

Image via Pixabay

Year’s end is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us. ~ Hal Borland.

Bwahahaha judulnya ampun ya. Maafken saya emang ga gitu keren kalo mikir judul. Awalnya malah mau dikasih judul kaleidoskop wkwkwkk. Daripada ga nulis ah.

Berhubung 2017 sudah tutup buku tengah malam kemarin dan mumpung masih tanggal 1 (draft udah dibuat dari awal bulan padahal – sigh), saya mo refleksi diri sendiri dan mencoba meng-highlight hal-hal penting yang udah saya alami sepanjang tahun 2017 lalu. Saya mau bikin pake bullet aja rekapnya biar gampang dibaca ah hahaha. Mulai ya.

  • One and foremost, halaman belakang yang udah tahunan ga keurus (dan kaya hutan belantara) akhirnya tahun ini berhasil disulap jadi lebih cantik dan terawat. Halaman depan juga diberesin dikit biar keliatan lebih rapi (walo sekarang agak berantakan lagi wkwkwk – damn you autumn! Sisa sampah daunnya masih berserakan niiih 😭)
  • AKHIRNYA kursus dansa juga sama suami 😂. Setelah sekian lama berencana akhirnya kita mulai kursus ballroom dance (for beginners) per Oktober/November kemarin. Setidaknya dalam seminggu ada satu kali pergerakan bersama lah ya hehe.
  • Pulang ke Indonesia berdua si unyil sewaktu dia masih usia 7 bulan untuk menghadiri wedding adik saya. Karena ini juga akhirnya rencana mudik sekeluarga ke Indonesia jadi berubah dan kemudian banting stir liburannya ke negara sekitar sini aja.
  • Si bayi alhamdulillah tumbuh sehat, giginya udah ada 8 (menuju 10 karna sekarang si gusi lagi “mateng-matengnya”. Sekarang juga lagi seneng-senengnya jalan dan ngeledek mamanyaaa.
  • Walau belum selesai, akhirnya interior rumah (meh, interioooorr hahaha) sedikit-sedikit ada perubahan.
  • Bapaknya anak-anak akhirnya ganti kendaraan yang lebih gedean (untung bukan bis ato truk😂) setelah puluhan tahun setia sama mobil hijau kesayangannya. Nasib mobil hijaunya? Diobral seharga €300 aja cin. Sungguh ngeselin dengernya ya.
  • Anak-anak udah terdaftar untuk ambil kursus renang yang akan mulai bulan Januari tahun depan.
  • Jadi editor untuk bukunya temen. Walau belum pengalaman tapi seneng setidaknya ilmu saya masih bisa kepake dikit-dikit.
  • Huhu akhirnya saya resign juga dari PNS. Per 1 Oktober saya mengajukan surat pengunduran diri setelah sebelumnya cuti di luar tanggungan negara selama 3 tahun.
  • Laptop saya yang touchscreen gara-gara upgrade windows terakhir jadi ga kompatibel dan sekarang ga touchscreen lagi grrrr. SEBEL! Bagaimana nasib perketikan saya kalo begini caranyaaaa (lebhayy).
  • Alhamdulillah dikasih kesempatan ketemu langsung sama temen-temen blogger: Astrid (pas masih hamil) dan kunjungan singkat ke rumah Deny (juga pas lagi hamil hahaha).
  • Alhamdulillah tetep belom ada yang gol untuk dapet kerjaannya hehe. Well, saya belum gitu serius nyari sebenernya karna kadang masih berat kalo mikir si kecil. Mungkin karna itu juga Allah belum kasih rejekinya ke saya ya. Walopun belum gitu serius tiap kali terima surat cinta (tanda ditolak) saya tetep sedih tapi. Berasa kaya pengalaman saya kerja (plus ilmu saya) ga dihargai di sini. Makanya saya mikir kali tahun depan sekolah lagi aja. Entahlah, liat aja nanti.
  • Alhamdulillah umur bertambah, tapi sedih tahun ini entah kenapa berat badan juga ikut nambah 😭 biasanya BB saya stabil di kisaran 50-an (kecuali pas hamil bengkak jadi 60 kg), sekarang jarum timbangan ga mau mundur dari kisaran 52 – 53 kg. GLEK. Harus lebih banyak bergerak kalo ga mau makin nanjak nih!
  • Last but not least, alhamdulillah sepanjang 2017 kami diberikan sehat, nikmat rejeki yang tiada kira sehingga masih bisa menikmati hari ini 🙂

Mungkin ada yang kelupa, tapi kayanya segitu aja review-nya hehe. It has been a good year I must say. Alhamdulillaah. Semoga di tahun ini dan ke depannya kami (saya beserta keluarga dan kalian yang saya sayangi) diberikan oleh Allah berkah kesehatan, kebahagiaan, rejeki yang berkecukupan dan rasa bersyukur dan selalu ingat kepada yang Maha Memberi (aamiin).

Cheers!

Malmö, Sweden and Lütjenberg, Germany.

Malmö, Swedia.

Kota tujuan kami setelah Copenhagen dalam rangkaian liburan musim panas 2017 kemarin adalah Malmö, Swedia. Rencana awalnya kami cuma nginep semalam aja di sana, karna saya sama sekali blank sama Malmö walo dulu temen saya pernah cerita kalo Malmö bagus (saya kasih ide buat sekalian ke Malmö aja karna penasaran sama jembatan lintas laut yang menghubungi Copenhagen sama Malmö sebenernya haha). Jadilah saya dateng berkunjung ke sana tanpa ekspektasi dan rencana apa-apa kecuali keliling sekitar city center aja.

Perjalanan dari Copenhagen ke Malmö via jembatan Øresund cuma memakan waktu sekitar 45 menit aja dong. Kita pun bisa melihat kota Malmö dari atas jembatan. Begitu masuk ke wilayah Malmö, saya punya feeling kalo saya bakalan suka dengan kota ini. Kotanya ga sebesar dan sesibuk Copenhagen. Suasananya lebih “hijau” dan rimbun. Dan yang utama, ga banyak rombongan turis yang saya temui di sini hehe. Tranquil!

Kami menginap di Scandic Malmo City yang lokasinya kebetulan berseberangan dengan city center. Walaupun mereka ga menyediakan parkir secara gratis, saya tetep suka dengan konsep hotelnya yang memang family-friendly. Selain inclusive breakfast dan wifi, kamarnya pun besar, lengkap dengan kitchenette beserta cuttleries-nya dan meja makan beserta empat buah kursi. Bahkan mereka nyediain baby chair di kamar kami hehe.

Scandic Malmö City

Entrance-nya (lobby-nya kecil!)

Art work di sekitar restoran di hotel

Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami pun memutuskan untuk keliling di sekitar city center. O ya, pas kami check in resepsionisnya kasih info ke kami kalo mulai jumat malam sampai hari minggu di sana akan ada “Malmö Festival.” Festival ini kayanya lumayan gede karna saya liat persiapannya juga besar-besaran dan udah keliatan bahkan beberapa hari sebelumnya. Pas kami keliling di sana udah berdiri panggung besar di tengah-tengah atrium city center-nya, dan juga beberapa food truck dan wahana-wahana khas kermis/night fair udah nangkring dengan manisnya (walau belum pada beroperasi pas kami di sana). Sayang banget kami baru tau pas udah di sana karna kami cuma stay di sana sampe Jumat siang.

Boat for rent

Kami keliling sampe ke Malmö central station. Stasiun keretanya lumayan besar dan nyaman. Yang bikin stasiun ini cukup menarik menurut saya adalah adanya restaurant row yang lokasinya agak terpisah di bagian samping stasiun (well, masih di dalam stasiun tapi lokasinya di samping gitu). Variasi makanannya pun cukup banyak, mulai dari fast food macam Subway, Japanese food, Chinese, Italian, Vietnamese, Middle Eastern, sampai Bakery tersedia di sana.

Kereta yang melintas jembatan Øresund (kayanya 😁)

Platform stasiun

Restaurant row.

Locker/storage for rent di stasiun

Karna anak-anak sedari di Copenhagen ngidam subway, jadilah untuk makan malam mereka minta itu. Saya sama suami milih pesen masakan vietnam (Beef Pho) untuk makan malam. Untung rasanya lumayan ga mengecewakan. Setelah makan, sebelum balik ke hotel saya beserta anak-anak dan suami beli cake Tradisional dari Swedia – princestarta atau princess tart – sebagai dessert dan merayakan bareng ulang tahun saya yang kebetulan bertepatan pada hari itu.

Keesokan harinya selesai sarapan dan main di kids room, kami kembali menjelajahi kota Malmö. Di malam harinya saya nyempetin sedikit browsing apa saja yang menarik untuk dikunjungi di sana. Sepanjang kami di sana, kami tidak menggunakan transportasi publik dan memilih untuk jalan aja. Sebenernya jarak yang kita tempuh lumayan jauh tapi karna cuaca yang sangat bersahabat dan beberapa kali istirahat, anak-anak pun hampir ga kedengeran mengeluh sepanjang perjalanan. Mamanya cukup amazed haha.
Trus apa aja yang menarik di Malmö? Untuk kota yang ga gitu besar, lumayan banyak spot bagus dan menarik yang ada di sini.

Yang pertama, tentu aja pengalaman ga terlupakan melewati Øresund bridge yaaa hehe. Kalo udah sampe ke Kopenhagen menurut saya si sayang banget kalo ga mampir ke Malmö via jembatan ini. It’s really worth to visit lah menurut saya. Foto (dan video) ga cukup menggambarkan pemandangan dan kecanggihan yang bisa kita saksiin dari jembatan dan sekelilingnya ini (tsaah😂). Btw, dari jembatan ini kita juga bisa liat sekelumit Malmö dari kejauhan loh.

Chillin’ on the couch. Lucu ya!

Bronze statues at city center

Kemudian ada satu gedung yang menarik yaitu Turning Torso. Gedung ini merupakan salah satu gedung (skyscraper) tertinggi di wilayah Skandinavia yang selesai dibangun pada tahun 2002 dan digunakan sebagai tempat tinggal dan perkantoran. Bentuknya unik, menyerupai orang kalo lagi berputar (makanya disebut turning torso). Lokasinya ga jauh dari selat Øresund dan sekitar 2,5 KM dari Malmö Central Station. Trus ada lagi Old Light House yang lokasinya ada di tengah kota. Kalo ga salah mercu suarnya sendiri udah ga dipake lagi, tapi mereka tetap mempertahankan si mercu suar ini. O ya, di deket stasiun ada semacam art work yang sangat colorful yang disebut “Spectral Self Container.” Anak-anak sempet manjat itu art work dong (yang kayanya ga dilarang si, karna ada anak lain yang juga lagi nangkring di sana haha).

Spectral Self Container.

Old light house from distance.

Old light house at a closer look

The Turning Torso

View at harbour close by Ribersborg beach.

They also have floating houses like in Amsterdam 🙂

Lanjut, ga jauh dari city center-nya Malmö (kurang lebih 20 menit jalan kaki) kita pun akan sampai di pantai Ribersborg (Ribersborgsstranden). Di tengah-tengah si pantai dan jalan raya terbentang luas (sepanjang mata memandang) taman terbuka dengan view keren jembatan Øresund di kejauhan.

Øresund bridge captured from distance.

Btw, ga jauh dari Turning Torso, banyak perumahan-perumahan baru dan ada playground yang cukup besar dan lumayan lengkap permainannya. Mulai dari tempat khusus untuk para anjing, perosotan besar dengan bentuk yang unik, ayunan, sampai jembatan goyang juga ada.

Kompleks perumahan/apartemen di sekitar turning torso.

Ini perosotan loh, bentuknya lucu banget ya

Satu yang saya ngeh di Malmö ini adalah mereka punya banyak taman dan tempat terbuka. Mungkin karna kota ini juga belum begitu banyak penghuninya (juga turisnya) makanya bahkan di city center-nya sendiri saya ga liat banyak orang bertebaran di mana-mana (lalet kali wkwk). Satu lagi yang saya tangkep dari kota ini adalah orang-orangnya yang cenderung rileks dan lebih laid back kalo dibandingkan dengan orang-orang yang saya temuin di Copenhagen. Entah yaaa, ini cuma perasaan seorang turis yang berkunjung di sana beberapa hari doang loh hahaha, jadi bisa jadi feeling kaya gini berubah kalo saya disuruh tinggal di sana. Dari segi bahasa, mereka juga ga gitu masalah kayanya untuk ngomong dalam bahasa Inggris. Sapaan khas warga di sana kalo mau say hello (dan goodbye) adalah “Hej”. Unyu ya hahaha. Sayang banget kita ga bisa stay di sana pas festival berlangsung (kalo iya bisa makin panjang postingannya si tapi hihi). Mungkin pas festival baru banyak keliatan orang di sana 😜.

Some spots at Slottsträdgården/Slottsparken.

Nemu kincir angin lagi hehehe

Dapet shot keren di Kungsparken.

Signage untuk Malmö Festival

Food trucks

Hari berikutnya kami pun check out dan siap-siap untuk looong trip lagi. Karena kita mau ngerasain sesuatu yang berbeda dan baru untuk anak-anak, pas pulang kami putusin ga lewat Øresund bridge lagi tapi via Ferry untuk nyebrang dari Swedia ke Denmark dan dari Denmark ke Jerman. Btw, dari segi biaya dua pilihan rute ini ga beda jauh sebenernya (via Ferry sedikiiit lebih murah), sementara dari segi waktu kalo lewat Øresund bridge lumayan motong waktu sedikit lebih cepat. Btw ferry-nya ini sejenis Ro-Ro kaya yang dipake di Bakauheni-Merak itu loh, cuma emang lebih terawat dan sedikit lebih keren hehe.

Lütjenburg, Jerman.

Begitu sampe Jerman, kami langsung disambut sama macet. Ini lagi yang beda dari negara Skandinavia yang kita kunjungi sama Jerman bagian yang kita lewatin – Hamburg dan sekjtarnya (macet free vs macet everywhere). Dari pelabuhan (Puttgarden Harbour) ke kota Lütjenburg – tempat kami menginap – sebenernya ga begitu jauh (sekitar 55KM) dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit aja, tapi karna macetnya yang ga kira-kira kami baru sampe ke hotel tempat kami nginep setelah di perjalanan lebih dari 3 jam. Kata suami, sumber utama kemacetan di Jerman adalah road construction yang banyakan barengan dan ga cepet dituntaskan. Selain itu tentu aja banyaknya caravan melintas (maklum musim liburan).

Interior kamar kami.

Kami sama sekali ga kemana-mana di Lütjenburg karna memang niat dari awal adalah supaya yang nyetir bisa istirahat. Cuma karna kami perlu beli makanan makanya saya dan suami (beserta unyil) belanja di Lidl supermarkt yang untung lokasinya deket banget dari hotel.

Btw, kami nginep di hotel Das Ostseeblick. Saya reservasi kamar via booking.com. Harganya ga gitu murah sebenernya, tapi fasilitas yang ditawarin juga lumayan mewah si. Selain ada private walk track, mini golf dan outdoor playground, mereka juga ada kolam renang indoor (dan jacuzzi kalo ga salah). Interior-nya juga keren, bikin saya inget game design home wakakaka. Cumaaa mereka ga punya lift ciin, syedih! Kasian bener deh suami saya, harus ngangkat koper (untung cuma 1 walo gede) ke kamar kami. 

Interior reception – lounge area.

Kolam renang indoor-nya.

Lounge room di lantai 2.

Saya suka sama piring-piring ini 😆

Konon kata suami saya Lütjenburg dulu termasuk salah satu tujuan wisata yang lumayan hits. Kota ini memang deket sama garis pantai, cuma ga sekeren Lübeck yang punya situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dia agak menjorok ke dalam, makanya orang prefer ke kota lain di sekitar situ kali ya. Saya juga sebenernya nyari hotel di sekitar Lübeck, cuma karna pas summer makanya hotel di sekitar situ (yang familyfriendlyfull booked semua. Untung suami ga masalah, makanya jadilah kami stay di Lütjenburg.

Besokannya setelah sarapan santai (full service dan enak sarapannya!), kami pun check out dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Dengan beberapa titik kemacetan yang lumayan di wilayah Hamburg, alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah juga road trip pertama kami dengan si kecil bisa dibilang lulus dengan memuaskan hehe. Si unyil lumayan anteng sepanjang jalan dan anak-anak (hampir) sepanjang perjalanan juga enjoy dan menikmati. Road trip ini hampir dipastikan ga akan jadi road trip terakhir kami. Di lain kesempatan insya allah kami akan pergi lagi dengan rute yang berbeda.

Desember.

“December, being the last month of the year, cannot help but make us think of what is to come.”
― Fennel Hudson, A Meaningful Life – Fennel’s Journal – No. 1

Ga berasa tau-tau sekarang udah sampe aja ke bulan Desember. How time flies so fast ya.. perasaan baru kemarin kita masuk ke tahun 2017, sementara ga lama lagi kita akan sampe di tahun berikutnya (insya allah). Banyak hal yang terjadi di tahun 2017 ini. Ada beberapa kejadian yang ga disangka-sangka, tapi ada juga yang menjadi accomplishment saya (dan suami). Yang sedih-sedih ga usahlah diinget, paling penting adalah bersyukur untuk semuanya 🙂

Yang paling seru tentu hadirnya si kecil yang semakin hari semakin ngegemesin (dan kadang ngeselin haha). Bulan ini anak piyik satu itu akan memasuki usia 1 tahun 5 bulan. Hampir setahun setengah. Bahkan sampe sekarang ga pernah nyangka kalo tahun lalu saya melahirkan dia! Kalo kata mertua saya, he is really a present for us (“wat een cadeautje!” said her :)). Buat dia si kecil adalah kado karna kebetulan hari lahirnya cuma beda dua hari sama dia hehe, itu juga karna saya dulu minta nunda biar kita bisa celebrate ultahnya si Oma sebelum saya lahiran. Yang bikin saya lebih hepi (dan bersyukur) lagi adalah (alhamdulillah) akhirnya fabian mulai berani jalan sendiri dengan rute agak lebih jauh (ngga tiga empat langkah trus roboh 😂).

Semenjak minggu kemarin cuaca di sini udah mulai drop, Oliebollenkraam (Gebakkraam) udah mulai banyak (yay!), beberapa orang udah mulai pasang hiasan lampu di rumahnya, dan anak-anak masih excited dengan hadiah yang didapet pas pakjesavond 5 Desember kemarin. Eh, saya sama suami juga dapet kado dari Oma dong hahaha, lumayaaan buat beli lippenstift lagi sama bedak *lah😂

Gebakkraam di Makro.

Walaupun kami ga merayakan natal (dan tahun baru), kami juga senang karna bisa ikut merasakan ambience perayaannya di sini. Toko-toko dan cafebakery di centrum udah pada berhiaskan lampu dan juga memasang dekorasi bertemakan natal. Bahkan tempat saya dan suami kursus dansa udah netjes disulap jadi makin meriah sama dekorasi natal komplit dengan igloo dan boneka super besar si opa Santa. Heboh! Dan karna sekarang taman belakang kami udah lumayan bersih (dan ga kaya hutan lagi hahaha), saya dan anak-anak pengen ikutan pasang lampu-lampu cantik biar meriah hihi.

Beda sama tahun lalu, salju dateng lebih awal di penghujung tahun ini. Sejak beberapa hari yang lalu di sini udah turun salju. Lumayan banyak dan tebal walau temperaturnya sendiri ga melulu di bawah 0°C.

Anak-anak pun seneng banget main ke luar, termasuk si kecil. Sempet juga bikin snowman walau ga bertahan lama hihi.

Anak-anak dan suami biasanya mulai libur di jumat siang sebelum perayaan natal berlangsung. Berhubung tahun ini lumayan “waw” buat suami, untuk liburan kali ini kami ga punya rencana apa-apa. Well, rumah menjadi salah satu concern utama kami sekarang ini kayanya. Kami sekarang sedang coba mere-dekor rumah sis. Dan kalo udah urusan rumah bisa panjang dan ga abis-abislah urusannya. Mudah-mudahan Yang Kuasa merestui dan memudahkan proses yang sedang kami jalanin ya. Aamiin!

 

Resep Pepes Ikan Mackerel Asap

Dari sekian macam makanan yang saya suka, pepes ikan mas adalah salah satu masakan sunda favorit saya. Sayangnya selama saya tinggal di sini, ga pernah saya ketemu ikan mas segar dijual pasar ataupun toko/supermarket. Suatu hari (dua tahun yang lalu!) pas saya diundang makan di rumah temen, dia nyediain pepes di meja. Pas saya tanya dia bilang itu pepes ikan mackerel asap. Saya sebenernya kurang begitu suka sama ikan mackerel, tapi bentuk si pepes ini menggoda iman banget hahaha. Jadilah saya nyicip si pepes. Abis nyicip eh saya jadi suka. Ternyata rasanya pas buat saya! 😀 Sayapun minta resepnya ke temen saya. Ternyata kalo mau bikin ini ga susah-susah banget, apalagi karna ikan yang dipake adalah ikan asap yang sebenernya sudah setengah siap untuk dihidangkan.

Satu waktu saya pun bikin si pepes dan syukses hihi. Suami pun suka sama si pepes. Foto hasil eksekusi saya posting di Path dan kebetulan ada temen yang nanya resepnya jadi saya sekalian posting resepnya di sana. Setiap saya mau bikin, saya jadi suka nyontek di sana haha (saya ga hafal-hafal sama resepnya!). Saya ga gitu sering bikin si pepes ini karna selain agak males sama sampahnya daun pisangnya juga ga selalu ada di rumah. Lumayan lama ga bikin-bikin lagi sampai hari ini timbul kangennya sama si pepes hehe. Karna malu kalo nanya lagi sama si temen (plus dia-nya sekarang lagi liburan ke Indonesia), jadilah saya browsing si resep di Path. Karna udah lama banget kan postingannya, ampun deh saya musti scroll lumayan jauh. Saya pernah satu kali screenshot si resep ini cuma karna ganti hp saya ga tau itu screenshot ada di mana wkwkwk. Setelah ketemu resepnya, cepet-cepet deh saya screenshot lagi (pemalas 😜). Nah, biar ke depannya lebih gampang (nyontek/ nyari si resep ini – sekalian juga share kali aja ada yang mau coba bikin – saya putusin buat diposting aja di sini.

Buat yang mau coba, silakan diintip resepnya di screenshot yang saya taut di bawah ini yaa 🙂

Pepes Ikan Mackerel Asap

screenshot_20171126-1442361404514521.png

Mau liat hasilnya saya? Sok atuh ditengok 😄. Tau gak, anak saya yang masih umur 15 bulan ikutan ma’em si pepes ini juga loh, dan dia doyan (plus gak kepedesan hahaha).

Selamat mencoba ya gaes!

Tiga Tahun.

three-years-old-candle

image via 3dvision-blog

“Three simple rules in life: If you do not go after what you want, you’ll never have it. If you do not ask, the answer will always be no. If you do not step forward, you will always be in the same place.”
-Anonymous.

Kemarin saya dapet (achievement) message dari WordPress, ga berasa ternyata saya udah oret-oret di wordpress tiga tahun aja. Walaupun belum konsisten tapi kayanya kalo dibandingin sama yang dulu-dulu dari segi postingan jauh lebih produktif yang ini *tsahhh. Congrats to myself yang udah (mencoba) semangat buat nulis ala-ala biar kepala ga buntu-buntu banget hehe. Semoga ke depannya makin produktif dan kreatif nulisnya, dan mudah-mudahan tulisannya pun menarik dan bermanfaat buat yang baca. AAMIIN!