Cerita Tempe(h)

“Tempeh is sort of like the sexy, more-exotic-with-less-baggage hippie cousin of tofu who shows up at a family party and totally rocks your world. It’s crunchy texture is unique and while it’s not as prevalent as tofu, it’s very versatile and, due to its fermentation, is considered to be less health-controversial.”(source: Vegucated)

sliced_tempeh

image taken from http://www.wikimedia.org

Catatan: pembahasan tentang sejarah tempe (atau juga disebut tempeh) ini sebagian besar saya sadur dari publikasi yang dikeluarkan oleh Soy Info Center, Historical Bibliographies & Sourcebooks on Soy, Part C : Soyfoods – History of Tempeh and Tempeh Products (1815-2011) yang dikompilasi oleh William Shurtleff & Akiko Aoyagi. Untuk publikasi lengkapnya (dalam Bahasa Inggris) silahkan klik link ini.

Beberapa waktu lalu ada teman saya di facebook yang posting resep-resep dengan bahan olahan utama tempe. Postingannya itu juga disertai dengan komentar kira-kira seperti ini “Tempe adalah makanan asli Indonesia, tapi sayang Indonesia bukan pemiliknya (paten).”

Saya paham banget kalo masyarakat Indonesia, bahkan yang pinter sekalipun tapi ga pernah berhubungan langsung dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), masih banyak yang belum mengerti benar apa itu yang namanya Paten.Mungkin kalo saya ga kerja di kantor HKI juga saya ga paham si. Tapi dari postingan dan komen teman saya tersebut saya jadi pengen tau gimana sejarahnya dan juga paten yang terkait dengan si tempe.

Sebelum saya coba nyari-nyari info di internet, saya sebenarnya juga cuma tau sekelebat tentang kisah paten tempe yang didaftarkan di negara lain (dari teman-teman kantor yang lebih berpengalaman banyak yang menyebutkan Jepang). Jelas awal mula isu ini muncul beberapa tahun lalu adalah karena Malaysia yang (agak) besar mulut dan mengklaim (mungkin juga ngga, tapi orang Indonesia-nya aja yang terpancing ya) kalo beberapa produk dan kebudayaan asli Indonesia (seperti batik, reog ponorogo, termasuk tempe) berasal dari Malaysia.

Saking penasaran, akhirnya saya nyoba cari dokumen paten terkait dengan tempe via google patent search engine. Saya agak surprised dengan hasilnya, tapi bisa juga karena google patent search engine ini sumber dokumennya adalah yang sudah dipublikasi oleh USPTO (kantor paten dan mereknya Amerika Serikat). Paten yang nyangkut di hasil pencarian adalah paten tempe dengan pemegang hak patennya berasal dari Amerika Serikat. Inti klaimnya adalah mengenai cara memproduksi tempe. Patennya sendiri pertama kali didaftarkan di USPTO pada tahun 1962 dan diberikan pada tahun 1966. Nah, kenapa walaupun tempe sudah lama diproduksi sejak jaman dahulu kala di Indonesia tapi patennya tetap diberi?

Untuk suatu permohonan agar dapat diberi hak paten, harus memenuhi tiga syarat utama, yaitu kebaruan (novelty), langkah inventif (inventive step) dan dapat diterapkan di industri (industrial applicable).

Paten yang diajukan oleh dua peneliti dari Amerika Serikat ini ternyata memenuhi ketiga syarat tersebut dan memang lumayan berbeda dengan tempe yang diproduksi secara tradisional di Indonesia. Intinya si proses pembuatan tempe versi Paten ini lebih cepat dan lebih higienis, serta dalam hal produksi juga lebih efektif dan efisien. Kalo produksi tempe di Indonesia pada jaman dahulu kala dibuat dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya, sementara pada paten ini yang menjadi bahan pembungkus si tempe adalah plastik. Kalian tahu tempe yang menggunakan plastik (yang diberi lubang-lubang halus) – bukan daun pisang – yang sekarang ini lebih banyak dijual di pasaran? nah itu juga merupakan salah satu klaim yang dimohonkan oleh mereka.

Perlindungan paten sendiri berlangsung selama 20 tahun, dan setelah masa perlindungan berakhir maka paten menjadi kadaluarsa dan publik/masyarakat umum boleh menggunakan formula atau proses yang sebelumnya hanya ekslusif milik si pemegang paten. Kalo dihitung sejak Paten terkait tempe ini diberikan tahun 1966, berarti pada tahun 1986 masa perlindungannya sudah berakhir dan paten boleh digunakan oleh publik. Saya sendiri ga ngeh kapan pertama kali tempe dengan bungkus plastik mulai beredar di Indonesia hehe. Bisa jadi pada tahun-tahun tersebut ya.

Tapi, kenapa bisa sampe seorang (dua orang) Amerika ini kepikiran tentang tempe sampai sejauh ini? saya baru tahu juga setelah baca sejarah tempe dari soy info center ini kenapa si tempe bisa sampai mendunia begini hehe.

Sedikit mengenai sejarah Tempe, dalam beberapa referensi disebutkan bahwa tempe adalah produk kedelai yang berasal dari Indonesia, kemungkinan besar Jawa Tengah atau Jawa Timur, dan sudah ada sejak sekitar 1800-an. Tempe termasuk unik karena mungkin satu-satunya produk kedelai yang bukan berasal dari Cina atau Jepang, seperti kebanyakan produk kedelai lainnya.

Referensi pertama yang menyebutkan istilah tempeh ditemukan dalam manuskrip Serat Centini, yang ber-setting pada masa Sultan Agung berkuasa di tahun 1600-an. Dalam Serat Centini tersebut tertulis satu kalimat yang menyebutkan “bawang dan témpé mentah.” Jadi, besar kemungkinan kalo tempe ini sudah ada bahkan di tahun 1600-an. Sedangkan referensi untuk tempe yang dibuat oleh orang Eropa (Belanda) pertama kali diketemukan pada tahun 1875 dalam the Javaansch-Nederduitsch Handwoordenboek, ditulis oleh J.F.C. Gericke dan T. Roorda. Dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Eropa lainnya, penulisan “tempe” ditambah dengan huruf “h” pada akhir kata (menjadi tempeh), untuk menghindari salah pengucapan.

Di tahun 1900, seorang warga negara Belanda yang tinggal di pulau Jawa bernama Dr. P.A. Boorsma menerbitkan artikel dalam bahasa Belanda sebanyak 13 halaman yang membahas tentang (kacang) kedelai secara khusus dimana di salah satu bagiannya juga membahas tentang cara membuat “tempe kedeleh.” Boorsma menjelaskan bahwa kedelai dimasak setengah matang, kemudian direndam di dalam air selama 2-3 hari, kemudian dikeringkan dan dikukus, setelah itu disebar ke dalam satu wadah yang terbuat dari bambu dengan ketebalan setinggi kurang lebih 2 cm, dan kemudian ditutup seluruhnya dengan daun pisang. Si calon tempe ini kemudian diinokulasi dengan residu yang mengandung suatu “jamur” (ragi) yang diperoleh dari proses sebelumnya dan selanjutnya ditutup kembali dengan daun pisang. Dalam jangka waktu kurang lebih 2 hari terbentuklah si tempe yang kemudian dipotong-potong untuk kemudian dijual di pasaran.

Tulisan mengenai tempe yang ditulis pertama kali dalam bahasa Inggris pertama kali terbit pada tahun 1931 dalam buku karya J. J. Ochse “Vegetables of the Dutch East Indies” yang diterbitkan di Buitenzorg alias Bogor, Jawa Barat – Indonesia. Ochse yang juga (ternyata) berkewarganegaraan Belanda menjelaskan tentang proses pembuatan tempeh secara detail dan menyebutkan bahwa jamur yang dipergunakan adalah Rhizopus oryzae yang diperoleh dari tempe (yang dibuat) sebelumnya. Literatur berbahasa Inggris lain yang juga membahas tentang tempeh kembali muncul di tahun 1935 dalam karya tulisan I.H. Burkill berjudul A Dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula.

Satu hal yang cukup menarik, walaupun tempe sudah lama eksis dan dianggap penting dalam kuliner Indonesia, (hampir) seluruh studi/penelitian ilmiah atas tempe dari tahun 1895 sampai tahun 1960 dilakukan oleh orang-orang Non-Indonesia (dalam hal ini Eropa) yang tinggal di Indonesia. Ada beberapa alasan kenapa hal ini terjadi.

Pertama, pada jaman penjajahan Belanda dulu, sangat sedikit orang (asli) indonesia yang bisa mengenyam pendidikan tinggi sampai ke universitas dan dapat melakukan riset ilmiah atau kegiatan penelitian dalam bentuk apapun. Para ilmuwan dan ahli mikrobiologi yang jumlahnya sedikit ini pun tidak didorong untuk melakukan penelitian atas makanan/produk asli dari Indonesia.

Yang kedua, pada jaman pemerintahan kolonial Belanda, masyarakat yang dipengaruhi oleh Warga Belanda (yang tinggal di Indonesia) lebih memandang tinggi nilai-nilai dan gaya hidup dari barat dan memandang rendah nilai-nilai dan gaya hidup asli setempat. Makanan seperti tempeh – yang tidak dikenal di dunia barat dan merupakan makanan murah meriah para masyarakat biasa – dipandang sebagai sesuatu yang inferior, kelas rendah walaupun (tempeh) dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak ada ilmuwan Indonesia yang menganggap bahwa tempeh adalah sesuatu hal yang patut mendapatkan perhatian dan menjadi subyek penelitian bagi mereka.

Sayangnya lagi, sikap ini terus berjalan bahkan setelah kita merdeka. Bapak Presiden Republik Indonesia yang ke-1, Sukarno, dalam pidatonya kadang menyebutkan “jangan jadi bangsa tempeh” atau “jangan jadi ilmuwan tempeh”. Perkataan-perkataan ini mengkiaskan bahwa tempeh adalah sesuatu yang inferior (rendah) dan hanya dianggap sebagai (produk) kelas dua. Baru pada pertengahan 1960an pemikiran ini mulai berubah (maka dari itu mulai juga bermunculan para ilmuwan dari Indonesia yang melakukan riset (sebagian besar di luar negeri) atas tempeh). Dan yang menjadi alasan ketiga adalah kurangnya minat di luar Indonesia atas tempeh yang dapat menstimulasi ketertarikan di dalam negeri sendiri (di Indonesia).

Tempeh sendiri mulai diproduksi secara komersil di Eropa pada kisaran tahun 1946-1959. Perusahaan tempeh yang pertama dan yang terbesar di Eropa keduanya berlokasi di Belanda. Walaupun dua perusahaan yang berbeda, kedua perusahaan ini dikembangkan oleh mereka yang masih memiliki hubungan dengan Indonesia (baik sebagai imigran dari Indonesia, atau salah satu orang tuanya memiliki darah Indonesia).

Sementara di Amerika Serikat produksi tempeh secara komersil mulai berjalan pada tahun 1961 juga oleh para imigran dari Indonesia (dan kemudian di tahun 1975 oleh warga kulit putih). Penelitian lebih menyeluruh atas tempeh sendiri mulai berlangsung di tahun 1960-an di Cornell University (dibawah pengawasan Dr. Steinkraus) dan di USDA Northern Regional Research Center (di bawah pengawasan Dr. C.W. Hesseltine and Dr. H.L. Wang).

Berawal dari tahun 1958 ketika seorang wanita Indonesia yang juga aktif di bidang nutrisi bernama YAP Bwee Hwa memulai penelitian mengenai tempeh di New York. Beliau adalah warga Indonesia pertama yang melakukan penelitian atas tempeh di Amerika. Dengan membawa sampel dari Indonesia, Yap melakukan eksperimen dan studinya di the Graduate School of Nutrition, Cornell University, dan juga melakukan penelitian lebih lanjut atas pembuatan/produksi tempeh di Department of Food Science and Technology at the New York State Agricultural Experiment Station di bawah pengawasan Dr. Steinkraus.

Kemudian di tahun 1960 penelitian kedua atas tempeh di Amerika Serikat mulai dilaksanakan di the USDA Northern Regional Research Center (NRRC) dibawah pengawasan Dr. Clifford W. Hesseltine. Penelitian dipicu dari kedatangan seorang mahasiswa dari Insititut Teknologi Bandung bernama KO Swan Djien untuk belajar mengenai industri fermentasi. Hesseltine menyarankan beliau untuk mempelajari tempeh. Ko kemudian memperlihatkan kepada Hesseltine beserta anggota grup peneliti yang lain bagaimana proses pembuatan tempeh. Sejak saat itu tim peneliti yang tergabung dalam grup tersebut mulai mempelajari dan mengembangkan varian baru dari tempeh, juga teknik pemrosesannya.

Di tahun 1964 Hesseltine bersama-sama dengan Dr. Martinelli (seorang peneliti dari Brazil yang juga melakukan penelitian atas tempeh di NRRC) mengembangkan suatu metode baru untuk proses inkubasi tempeh di kantong plastik berlubang (yang kemudian didaftarkan (dan diberi) paten). Metode inilah yang akhirnya banyak digunakan oleh para produsen tempeh secara komersil, baik di Indonesia maupun di negara lain (seperti di AS dan Belanda).

Untuk temen-temen yang mau cek dokumen paten tentang metode pembuatan tempeh selengkapnya boleh klik link ini ya 🙂

Advertisements

#TBT: Tokyo, Japan – 2007.

“I’ve never really wanted to go to Japan. Simply because I don’t like eating fish. And I know that’s very popular out there in Africa.” ~ Britney Spears

I don’t know where Spears got her Geography lesson, but that quote is quite something eh😜 and it relates to the post I’m about to write here =)

Back then in 2007, during the first years of my work, my boss had appointed me to join in a three week training held by the Government of Japan through their agency, JICA (stands for Japan International Cooperation Agency). The training was held in Tokyo, Japan. I got quite excited because it was the first time for me traveling abroad. At that time, never across in my mind that I could go traveling outside Indonesia. Besides the cost, I also never been far from my family for such a long time.

The flight from Jakarta (Soekarno-Hatta Airport) to Tokyo took around 7 hours direct and non-stop. I went there with other two office colleagues (from different Division). We landed at Narita Airport early in the morning. Luckily the Agency had arranged the transportation for us (by taxi) from the airport to the place we were staying. The place where we stayed called JICA “Tokyo International Center” or TIC – Tokyo. From the TIC there are two metro stations that quite close by: Hatagaya and Yoyogi-Uehara station. The facilities at the TIC was quite complete. The place itself was almost like a dorm actually. The room was a bit compact, it has private bathroom inside (with a small bathtub), standard hotel room equipment such as bed (single size), wardrobe, TV, AC/heater. In the building they provide washing room, shared kitchen (including water cooker and ice block machines), karaoke room, lounge, dining room (which provide halal food as well), and computer room. A bit out of the topic, during the tsunami and big earth quake in Japan not so long ago, TIC was being used as one of the victim base-camp.

On a short note about the training, it was mainly about Intellectual Property System (IP System). The participants got a chance also to see how the Japan Patent Office handled the IP management system, including how they did the IP awareness campaign with young generation as their target and how the Japan Custom Office tackled the IP infringement.

For a first timer, and considering that during that time was the start of Ramadhan fasting moment, I think my visit at that time was not that bad. I had a chance to visit some Japanese’s landmarks such as the Imperial Palace, Tokyo Tower, Asakusa temple, City of Odaiba, Ueno park, Ginza as well as few other places. Oh, and just like typical (first timer) tourists do, I also took a ride on a hop on hop off bus there :p

Since this trip was completely arranged by the organization, I don’t think I have any tips or useful thing to share for a traveler here hehe. If I had another chance, I would love to visit Japan again someday, but preferably only for holiday =)

100_1685

The history of Customs in Japan explained in a beautiful painting

100_1687

(Miniature of) The Liberty Statue in Odaiba, Japan

100_1537

the view of Imperial Palace in Tokyo, Japan

100_1699

Team F1 – Panasonic in that year=)

100_1495

Plopped atop Tokyo’s Asahi Beer building is the famous kin no unchi, Japanese for “Golden Turd.” (Locals also call it the unchi biru, aka “poop building.”) The 300-ton stainless steel sculpture designed by French architect Philippe Stark was meant to look like foam rising from a beer mug (information derived from http://www.cnn.com)

100_1502

View from Ueno Park

In Ueno Park, there are some handprints and signature of very famous Japanese people who contributed to each field like sports and performing arts in Japan. I tried to look up on internet whose handprint this one below is, but I couldn’t find it. I guess I picked the wrong one hehe. There were few others also which has some info, for example the handprints of a former Judoka who won a gold medal with a world record in 1984 Los Angeles Olympic – YAMASHITA, Yasuhiro, and OH, Sadaharu – a former baseball player who held a world record of the total 868 home run and has not been broken by anymone else until now.

100_1503

does anyone know whose handprint is this? – taken at ueno park.

100_1528

the Swan swimming on the lake nearby Imperial Palace

100_1633

Lekker Shabu-shabu!

100_1663

Seeing these display of crepes which not (yet) available in Indonesia during that time made my eyes drooled :p

In Asakusa, there is an ancient Buddhist temple called Sensō-ji (Kinryū-zan Sensō-ji). It is Tokyo’s oldest temple, and one of its most significant. Formerly associated with the Tendai sect of Buddhism, it became independent after World War II. Adjacent to the temple is a Shinto shrine, called the Asakusa Shrine.

100_1488

The Hozōmon (“Treasure-House Gate”) is the inner of two large entrance gates that ultimately leads to the Sensō-ji (the outer being the Kaminarimon) in Asakusa, Tokyo. A two-story gate (nijūmon), the Hōzōmon’s second story houses many of the Sensō-ji’s treasures. The first story houses two statues, three lanterns and two large sandals. It stands 22.7 metres (74 ft) tall, 21 metres (69 ft) wide, and 8 metres (26 ft) deep. (Information taken from http://www.wikipedia.org)

100_1485

Nakamise dōri in Autumn

The Nakamise-dōri is a street on the approach to the temple. It is said to have come about in the early 18th century, when neighbors of Sensō-ji were granted permission to set up shops on the approach to the temple. However, in May 1885 the government of Tokyo ordered all shop owners to leave. In December of that same year the area was reconstructed in Western-style brick. During the 1923 Great Kantō earthquake many of the shops were destroyed, then rebuilt in 1925 using concrete, only to be destroyed again during the bombings of World War II.

The length of the street is approximately 250 meters and contains around 89 shops.

DSC00340

The Indonesian group who stayed in TIC during the time of my visit posed in front of an interesting art on the ceramic painting located in one of the gate at the Ueno Station

DSC00398

celebrating the Autumnal Equinox Day at the TIC =)

 

Sekilas tentang Hak Merek: Edisi Tempe Mendoan

photo derived from http://www.harianresep.blogspot.nl[/caption%5D

Ngeliat gambar mendoan di atas kok saya jadi ngileeer yaaa.

Tapi yang pengen saya bahas di sini bukan bagaimana caranya membuat mendoan si (udah pada tau juga kali 😝). Beberapa waktu lalu ada teman-teman saya di facebook yang men-share link berita dari http://www.detik.com perihal seseorang bernama Pudji Wong yang telah mendaftarkan merek “Mendoan” ke kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (“DJKI”). Mungkin juga ada beberapa teman yang baca berita ini ya. Agak heboh karena di berita disebutkan bahwa orang lain ga boleh lagi memproduksi Mendoan tanpa seizin mas Pudji. Bahkan disebutkan kalo Pemerintah Kota Banyumas akan memprotes keputusan ini ke Kementerian Hukum dan HAM dan akan menempuh jalur hukum apabila diperlukan.*

Terakhir saya lihat di salah satu headline di detik.com disebutkan kalo mas Pudji Wong akhirnya akan menyerahkan merek Mendoan tersebut kepada Pemerintah Kota Banyuwangi.

Untung polemiknya ga berkepanjangan ya. Tapi, saya jadi pengen bahas sedikiiit tentang hak merek jadinya hehehhee. Gapapa serius dikit ya.

Khusus untuk merek Mendoan, ada yang pernah coba browse langsung ke laman DGIP kemudian search di e-status HKI (LADI KI) perihal merek Mendoan ini ga? kalo belum, boleh dicoba klik http://e-statushki.dgip.go.id/ deh, kemudian dicoba search dengan sebelumnya memilih kategori Merek dan memasukkan kata kunci “Mendoan”. Nanti bisa dilihat pemegang Hak Mereknya siapa, jenis dan lingkup perlindungannya mencakup apa saja, serta masa berlaku sertifikat tersebut.

Berdasarkan hasil pencarian saya, Merek “Mendoan” ini terdaftar untuk kelas 29. Teman-teman bisa lihat detail nya dari screenshot di bawah:

2015-11-11

Nah. Apa si yang dimaksud dengan Kelas 29?

OK. Sebelum masuk ke kelas-kelasan ini, kita sekilas bahas apa merek itu dulu ya.

Kalo berdasarkan Undang-Undang Merek Indonesia, Merek itu merupakan suatu tanda yang dapat berupa gambar, huruf-huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dipergunakan seseorang dalam kegiatan perdagangan dan jasa (Merek dagang dan Merek Jasa).

Jadi merek itu intinya dipergunakan sebagai unsur pembeda konsumen atau pengguna jasa atas suatu produk/jasa dari produk/jasa lainnya (biasanya yang sejenis).

Karena jenis barang/jasa yang bisa diperdagangkan/ditawarkan cukup banyak, maka untuk memudahkan dilakukanlah pengklasifikasian atas barang/jasa tersebut. Di tingkat internasional, sistem klasifikasi merek yang dikenal adalah Nice Classification. Sistem klasifikasi merek di Indonesia juga disusun berdasarkan sistem klasifikasi Nice. Jumlah Kelas Barang dan Jasa dalam sistem klasifikasi merek adalah sebanyak 45 kelas (Kelas 1 sampai dengan Kelas 34 mengatur tentang Barang, sementara Kelas 35 sampai dengan Kelas 45 adalah untuk Jasa).

Jadi, pembagian kelas-kelas ini mengatur batasan lingkup perlindungan yang diberikan atas suatu merek yang didaftarkan. Untuk satu kali permohonan pemohon dapat mencantumkan permohonan perlindungan atas satu merek di 3 kelas yang berbeda.

Sebagai contoh, merek “Universitas Trisakti” (asli saya random nih milihnya). Pada saat mendaftarkan merek universitas trisakti, pemohon dapat mencantumkan dalam satu permohonan pendaftaran Merek yang sama untuk Kelas 14 (karena menjual gantungan kunci dengan logo “universitas trisakti”), Kelas 25 (karena mereka menjual kaos dengan merek dan logo “universitas trisakti”), dan Kelas 41 (untuk jasa pendidikan). Seandainya pemohon merek “Universitas Trisakti” mau lingkup perlindungannya lebih luas lagi, maka mereka harus mengajukan permohonan lagi dengan mencantumkan Kelas Barang/Jasa yang berbeda dari permohonan pertama tersebut sesuai kehendak mereka.

Bagaimana mengetahui merek kita masuk di kelas mana? kalian bisa coba cek di link ini.

Sebenarnya si saya ngerti kenapa masih banyak mispersepsi terhadap isu-isu macam mendoan ini. Masalah utamanya adalah karena masih banyak orang yang masih ga gitu paham dengan beragamnya jenis Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri dan menganggap semuanya ya podo wae alias sama saja semuanya. Mereka ga begitu paham apa bedanya Paten, Merek dan Hak Cipta (ini baru HKI yang menurut saya masih lumayan dikenal di masyarakat ya, belum HKI-HKI lainnya yang lebih “ajaib” hehe).

Saya ga mau bahas panjang lebar jenis-jenis HKI yang lain di sini (Insyaallah di lain waktu dan postingan tersendiri ya :)). Tapi perlu diinfokan juga apa sebenarnya unsur pembeda utama antara kesemua HKI itu biar kita tidak salah kaprah.

Untuk sedikit lebih paham dan supaya kita ga salah menggunakan istilah, ada beberapa kata kunci yang bisa kita ingat:

untuk Paten yang dilindungi adalah (biasanya) suatu proses di bidang teknologi (atau yang terkait dengan scientific), memiliki unsur kebaruan (novelty) dan dapat diterapkan di (dunia) industri; untuk Hak Cipta yang dilindungi adalah suatu karya yang memiliki unsur orisinalitas yang telah diwujudkan dalam suatu bentuk nyata (jadi misalnya kita mau bikin lagu yang lirik dan musiknya masih di otak kita alias belum pernah kita tuangkan dalam bentuk coret-coretan atau rekaman. kalo masih cuma ada di otak kita lagu itu belum dilindungi oleh Hak Cipta, tapi begitu kita menuliskan lirik yang ada di kepala kita atau menuliskan not-not musiknya, maka lagu itu otomatis dilindungi oleh Hak Cipta).

Kembali lagi ke kasus Mendoan.
Dari faktanya, Pudji Wong merupakan pemegang Hak Merek “Mendoan” dan ruang lingkup perlindungannya adalah terbatas pada kelas 29. Sekedar mencoba supaya teman-teman bisa membedakan bagian mana yang termasuk lingkup Paten, yang mana lingkup Hak Cipta, dan yang mana lingkup Hak Mereknya, yuk kita coba masukkan kata-kata kunci di atas tadi.

Misalnya kita mengajukan permohonan Paten atas Mendoan, berarti yang dimintakan perlindungannya adalah proses pembuatan Mendoan itu sendiri. Mulai dari penggunaan tempe khusus, formula tertentu untuk lapisan kulitnya, cara menggorengnya, sampai pada cara pengemasannya. Tapi, apakah dalam proses pembuatan Mendoan ini ada unsur kebaruannya? kan jelas-jelas proses pembuatan Mendoan ini sudah diketahui turun-temurun dan sejauh ini sepertinya prosesnya masih sama ya 🙂
Jadi, si Mendoan ga mungkin mendapat perlindungan Paten. Yang artinya? Orang-orang yang mau memproduksi mendoan ya aman-aman aja, ga perlu minta izin dulu ke mas Pudji Wong. Karena bukan di situ perlindungan yang dia peroleh (dan bukan itu juga yang dia mintakan perlindungan 😊).

Kalo di lihat dari sisi Hak Cipta, logo yang dibuat mas Pudji seandainya bentuknya orisinil maka terlindungi oleh Hak Cipta.

Bahkan di lingkup Merek pun mas Pudji juga hanya memperoleh perlindungan di kelas 29 tadi. Artinya, Mas Pudji bisa memperjualbelikan produk-produk yang masuk dalam lingkup kelas 29 dengan menggunakan merek “Mendoan” (merek “Mendoan” hanya dapat dicantumkan pada produk-produk yang disebutkan dalam kelas 29). Kalo dia mau pake istilah “Mendoan” itu untuk jenis barang lain di luar kelas 29 bagaimana? ya boleh-boleh aja, tapi penggunaannya sendiri tidak ada perlindungan hukumnya (karena di luar kelas yang dia daftarkan).

Sekarang kita coba bahas sedikit mengenai rencana mas Pudji Wong untuk menyerahkan merek “Mendoan” kepada Pemerintah Kota Banyumas.

Ada dua cara yang bisa ditempuh: melalui pengalihan hak merek atau melalui lisensi. Bedanya? Kalo yang pertama mas Pudji Wong hak-haknya sama sekali putus alias dia sudah ga berhak lagi atas merek “Mendoan.” Cara mengalihkan hak merek setau saya seperti perjanjian/kontrak jual beli pada umumnya (sesuai dengan hukum perdata). Sementara untuk pilihan kedua, mas Pudji Wong tetap sebagai pemegang/pemilik merek Mendoan tersebut, tapi melalui perjanjian lisensi pemerintah kota Banyumas juga diperbolehkan untuk menggunakan merek Mendoan. Baik perubahan atas kepemilikan (akibat pengalihan hak merek) ataupun adanya perjanjian lisensi atas merek Mendoan ini wajib dilaporkan ke kantor DJKI.

Semoga sedikit cuap-cuap saya di sini bisa dipahami ya. Kalo mau tau lebih jelas tentang HKI teman-teman bisa klik di situs resmi DJKI atau situs WIPO.