#TBT: Tokyo, Japan – 2007.

“I’ve never really wanted to go to Japan. Simply because I don’t like eating fish. And I know that’s very popular out there in Africa.” ~ Britney Spears

I don’t know where Spears got her Geography lesson, but that quote is quite something eh😜 and it relates to the post I’m about to write here =)

Back then in 2007, during the first years of my work, my boss had appointed me to join in a three week training held by the Government of Japan through their agency, JICA (stands for Japan International Cooperation Agency). The training was held in Tokyo, Japan. I got quite excited because it was the first time for me traveling abroad. At that time, never across in my mind that I could go traveling outside Indonesia. Besides the cost, I also never been far from my family for such a long time.

The flight from Jakarta (Soekarno-Hatta Airport) to Tokyo took around 7 hours direct and non-stop. I went there with other two office colleagues (from different Division). We landed at Narita Airport early in the morning. Luckily the Agency had arranged the transportation for us (by taxi) from the airport to the place we were staying. The place where we stayed called JICA “Tokyo International Center” or TIC – Tokyo. From the TIC there are two metro stations that quite close by: Hatagaya and Yoyogi-Uehara station. The facilities at the TIC was quite complete. The place itself was almost like a dorm actually. The room was a bit compact, it has private bathroom inside (with a small bathtub), standard hotel room equipment such as bed (single size), wardrobe, TV, AC/heater. In the building they provide washing room, shared kitchen (including water cooker and ice block machines), karaoke room, lounge, dining room (which provide halal food as well), and computer room. A bit out of the topic, during the tsunami and big earth quake in Japan not so long ago, TIC was being used as one of the victim base-camp.

On a short note about the training, it was mainly about Intellectual Property System (IP System). The participants got a chance also to see how the Japan Patent Office handled the IP management system, including how they did the IP awareness campaign with young generation as their target and how the Japan Custom Office tackled the IP infringement.

For a first timer, and considering that during that time was the start of Ramadhan fasting moment, I think my visit at that time was not that bad. I had a chance to visit some Japanese’s landmarks such as the Imperial Palace, Tokyo Tower, Asakusa temple, City of Odaiba, Ueno park, Ginza as well as few other places. Oh, and just like typical (first timer) tourists do, I also took a ride on a hop on hop off bus there :p

Since this trip was completely arranged by the organization, I don’t think I have any tips or useful thing to share for a traveler here hehe. If I had another chance, I would love to visit Japan again someday, but preferably only for holiday =)


The history of Customs in Japan explained in a beautiful painting


(Miniature of) The Liberty Statue in Odaiba, Japan


the view of Imperial Palace in Tokyo, Japan


Team F1 – Panasonic in that year=)


Plopped atop Tokyo’s Asahi Beer building is the famous kin no unchi, Japanese for “Golden Turd.” (Locals also call it the unchi biru, aka “poop building.”) The 300-ton stainless steel sculpture designed by French architect Philippe Stark was meant to look like foam rising from a beer mug (information derived from http://www.cnn.com)


View from Ueno Park

In Ueno Park, there are some handprints and signature of very famous Japanese people who contributed to each field like sports and performing arts in Japan. I tried to look up on internet whose handprint this one below is, but I couldn’t find it. I guess I picked the wrong one hehe. There were few others also which has some info, for example the handprints of a former Judoka who won a gold medal with a world record in 1984 Los Angeles Olympic – YAMASHITA, Yasuhiro, and OH, Sadaharu – a former baseball player who held a world record of the total 868 home run and has not been broken by anymone else until now.


does anyone know whose handprint is this? – taken at ueno park.


the Swan swimming on the lake nearby Imperial Palace


Lekker Shabu-shabu!


Seeing these display of crepes which not (yet) available in Indonesia during that time made my eyes drooled :p

In Asakusa, there is an ancient Buddhist temple called Sensō-ji (Kinryū-zan Sensō-ji). It is Tokyo’s oldest temple, and one of its most significant. Formerly associated with the Tendai sect of Buddhism, it became independent after World War II. Adjacent to the temple is a Shinto shrine, called the Asakusa Shrine.


The Hozōmon (“Treasure-House Gate”) is the inner of two large entrance gates that ultimately leads to the Sensō-ji (the outer being the Kaminarimon) in Asakusa, Tokyo. A two-story gate (nijūmon), the Hōzōmon’s second story houses many of the Sensō-ji’s treasures. The first story houses two statues, three lanterns and two large sandals. It stands 22.7 metres (74 ft) tall, 21 metres (69 ft) wide, and 8 metres (26 ft) deep. (Information taken from http://www.wikipedia.org)


Nakamise dōri in Autumn

The Nakamise-dōri is a street on the approach to the temple. It is said to have come about in the early 18th century, when neighbors of Sensō-ji were granted permission to set up shops on the approach to the temple. However, in May 1885 the government of Tokyo ordered all shop owners to leave. In December of that same year the area was reconstructed in Western-style brick. During the 1923 Great Kantō earthquake many of the shops were destroyed, then rebuilt in 1925 using concrete, only to be destroyed again during the bombings of World War II.

The length of the street is approximately 250 meters and contains around 89 shops.


The Indonesian group who stayed in TIC during the time of my visit posed in front of an interesting art on the ceramic painting located in one of the gate at the Ueno Station


celebrating the Autumnal Equinox Day at the TIC =)



Sekilas tentang Hak Merek: Edisi Tempe Mendoan

photo derived from http://www.harianresep.blogspot.nl[/caption%5D

Ngeliat gambar mendoan di atas kok saya jadi ngileeer yaaa.

Tapi yang pengen saya bahas di sini bukan bagaimana caranya membuat mendoan si (udah pada tau juga kali 😝). Beberapa waktu lalu ada teman-teman saya di facebook yang men-share link berita dari http://www.detik.com perihal seseorang bernama Pudji Wong yang telah mendaftarkan merek “Mendoan” ke kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (“DJKI”). Mungkin juga ada beberapa teman yang baca berita ini ya. Agak heboh karena di berita disebutkan bahwa orang lain ga boleh lagi memproduksi Mendoan tanpa seizin mas Pudji. Bahkan disebutkan kalo Pemerintah Kota Banyumas akan memprotes keputusan ini ke Kementerian Hukum dan HAM dan akan menempuh jalur hukum apabila diperlukan.*

Terakhir saya lihat di salah satu headline di detik.com disebutkan kalo mas Pudji Wong akhirnya akan menyerahkan merek Mendoan tersebut kepada Pemerintah Kota Banyuwangi.

Untung polemiknya ga berkepanjangan ya. Tapi, saya jadi pengen bahas sedikiiit tentang hak merek jadinya hehehhee. Gapapa serius dikit ya.

Khusus untuk merek Mendoan, ada yang pernah coba browse langsung ke laman DGIP kemudian search di e-status HKI (LADI KI) perihal merek Mendoan ini ga? kalo belum, boleh dicoba klik http://e-statushki.dgip.go.id/ deh, kemudian dicoba search dengan sebelumnya memilih kategori Merek dan memasukkan kata kunci “Mendoan”. Nanti bisa dilihat pemegang Hak Mereknya siapa, jenis dan lingkup perlindungannya mencakup apa saja, serta masa berlaku sertifikat tersebut.

Berdasarkan hasil pencarian saya, Merek “Mendoan” ini terdaftar untuk kelas 29. Teman-teman bisa lihat detail nya dari screenshot di bawah:


Nah. Apa si yang dimaksud dengan Kelas 29?

OK. Sebelum masuk ke kelas-kelasan ini, kita sekilas bahas apa merek itu dulu ya.

Kalo berdasarkan Undang-Undang Merek Indonesia, Merek itu merupakan suatu tanda yang dapat berupa gambar, huruf-huruf, angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dipergunakan seseorang dalam kegiatan perdagangan dan jasa (Merek dagang dan Merek Jasa).

Jadi merek itu intinya dipergunakan sebagai unsur pembeda konsumen atau pengguna jasa atas suatu produk/jasa dari produk/jasa lainnya (biasanya yang sejenis).

Karena jenis barang/jasa yang bisa diperdagangkan/ditawarkan cukup banyak, maka untuk memudahkan dilakukanlah pengklasifikasian atas barang/jasa tersebut. Di tingkat internasional, sistem klasifikasi merek yang dikenal adalah Nice Classification. Sistem klasifikasi merek di Indonesia juga disusun berdasarkan sistem klasifikasi Nice. Jumlah Kelas Barang dan Jasa dalam sistem klasifikasi merek adalah sebanyak 45 kelas (Kelas 1 sampai dengan Kelas 34 mengatur tentang Barang, sementara Kelas 35 sampai dengan Kelas 45 adalah untuk Jasa).

Jadi, pembagian kelas-kelas ini mengatur batasan lingkup perlindungan yang diberikan atas suatu merek yang didaftarkan. Untuk satu kali permohonan pemohon dapat mencantumkan permohonan perlindungan atas satu merek di 3 kelas yang berbeda.

Sebagai contoh, merek “Universitas Trisakti” (asli saya random nih milihnya). Pada saat mendaftarkan merek universitas trisakti, pemohon dapat mencantumkan dalam satu permohonan pendaftaran Merek yang sama untuk Kelas 14 (karena menjual gantungan kunci dengan logo “universitas trisakti”), Kelas 25 (karena mereka menjual kaos dengan merek dan logo “universitas trisakti”), dan Kelas 41 (untuk jasa pendidikan). Seandainya pemohon merek “Universitas Trisakti” mau lingkup perlindungannya lebih luas lagi, maka mereka harus mengajukan permohonan lagi dengan mencantumkan Kelas Barang/Jasa yang berbeda dari permohonan pertama tersebut sesuai kehendak mereka.

Bagaimana mengetahui merek kita masuk di kelas mana? kalian bisa coba cek di link ini.

Sebenarnya si saya ngerti kenapa masih banyak mispersepsi terhadap isu-isu macam mendoan ini. Masalah utamanya adalah karena masih banyak orang yang masih ga gitu paham dengan beragamnya jenis Hak Kekayaan Intelektual itu sendiri dan menganggap semuanya ya podo wae alias sama saja semuanya. Mereka ga begitu paham apa bedanya Paten, Merek dan Hak Cipta (ini baru HKI yang menurut saya masih lumayan dikenal di masyarakat ya, belum HKI-HKI lainnya yang lebih “ajaib” hehe).

Saya ga mau bahas panjang lebar jenis-jenis HKI yang lain di sini (Insyaallah di lain waktu dan postingan tersendiri ya :)). Tapi perlu diinfokan juga apa sebenarnya unsur pembeda utama antara kesemua HKI itu biar kita tidak salah kaprah.

Untuk sedikit lebih paham dan supaya kita ga salah menggunakan istilah, ada beberapa kata kunci yang bisa kita ingat:

untuk Paten yang dilindungi adalah (biasanya) suatu proses di bidang teknologi (atau yang terkait dengan scientific), memiliki unsur kebaruan (novelty) dan dapat diterapkan di (dunia) industri; untuk Hak Cipta yang dilindungi adalah suatu karya yang memiliki unsur orisinalitas yang telah diwujudkan dalam suatu bentuk nyata (jadi misalnya kita mau bikin lagu yang lirik dan musiknya masih di otak kita alias belum pernah kita tuangkan dalam bentuk coret-coretan atau rekaman. kalo masih cuma ada di otak kita lagu itu belum dilindungi oleh Hak Cipta, tapi begitu kita menuliskan lirik yang ada di kepala kita atau menuliskan not-not musiknya, maka lagu itu otomatis dilindungi oleh Hak Cipta).

Kembali lagi ke kasus Mendoan.
Dari faktanya, Pudji Wong merupakan pemegang Hak Merek “Mendoan” dan ruang lingkup perlindungannya adalah terbatas pada kelas 29. Sekedar mencoba supaya teman-teman bisa membedakan bagian mana yang termasuk lingkup Paten, yang mana lingkup Hak Cipta, dan yang mana lingkup Hak Mereknya, yuk kita coba masukkan kata-kata kunci di atas tadi.

Misalnya kita mengajukan permohonan Paten atas Mendoan, berarti yang dimintakan perlindungannya adalah proses pembuatan Mendoan itu sendiri. Mulai dari penggunaan tempe khusus, formula tertentu untuk lapisan kulitnya, cara menggorengnya, sampai pada cara pengemasannya. Tapi, apakah dalam proses pembuatan Mendoan ini ada unsur kebaruannya? kan jelas-jelas proses pembuatan Mendoan ini sudah diketahui turun-temurun dan sejauh ini sepertinya prosesnya masih sama ya 🙂
Jadi, si Mendoan ga mungkin mendapat perlindungan Paten. Yang artinya? Orang-orang yang mau memproduksi mendoan ya aman-aman aja, ga perlu minta izin dulu ke mas Pudji Wong. Karena bukan di situ perlindungan yang dia peroleh (dan bukan itu juga yang dia mintakan perlindungan 😊).

Kalo di lihat dari sisi Hak Cipta, logo yang dibuat mas Pudji seandainya bentuknya orisinil maka terlindungi oleh Hak Cipta.

Bahkan di lingkup Merek pun mas Pudji juga hanya memperoleh perlindungan di kelas 29 tadi. Artinya, Mas Pudji bisa memperjualbelikan produk-produk yang masuk dalam lingkup kelas 29 dengan menggunakan merek “Mendoan” (merek “Mendoan” hanya dapat dicantumkan pada produk-produk yang disebutkan dalam kelas 29). Kalo dia mau pake istilah “Mendoan” itu untuk jenis barang lain di luar kelas 29 bagaimana? ya boleh-boleh aja, tapi penggunaannya sendiri tidak ada perlindungan hukumnya (karena di luar kelas yang dia daftarkan).

Sekarang kita coba bahas sedikit mengenai rencana mas Pudji Wong untuk menyerahkan merek “Mendoan” kepada Pemerintah Kota Banyumas.

Ada dua cara yang bisa ditempuh: melalui pengalihan hak merek atau melalui lisensi. Bedanya? Kalo yang pertama mas Pudji Wong hak-haknya sama sekali putus alias dia sudah ga berhak lagi atas merek “Mendoan.” Cara mengalihkan hak merek setau saya seperti perjanjian/kontrak jual beli pada umumnya (sesuai dengan hukum perdata). Sementara untuk pilihan kedua, mas Pudji Wong tetap sebagai pemegang/pemilik merek Mendoan tersebut, tapi melalui perjanjian lisensi pemerintah kota Banyumas juga diperbolehkan untuk menggunakan merek Mendoan. Baik perubahan atas kepemilikan (akibat pengalihan hak merek) ataupun adanya perjanjian lisensi atas merek Mendoan ini wajib dilaporkan ke kantor DJKI.

Semoga sedikit cuap-cuap saya di sini bisa dipahami ya. Kalo mau tau lebih jelas tentang HKI teman-teman bisa klik di situs resmi DJKI atau situs WIPO.