Buggy Andalan saat Traveling dengan si Kecil

Disclaimer:
Tulisan ini sama sekali bukan endorse-an ya. Ini murni pengalaman saya pribadi dan ga ada embel-embel promosi (tapi kalo yang kebetulan saya sebut berminat mengendorse saya dengan senang hatii menerima loh hahaha). Pengalaman saya dengan yang lain pun belum tentu sama, jadi mon maap kalo ga sesuai sama pengharapan ya sis.

Jadi critanya nih saya mau berbagi pengalaman kepada ibu-ibu (dan bapak-bapak) yang kali aja mau traveling dengan anaknya, trus bingung stroller atau buggy apa yang harus dibawa/disewa. Kebetulan udah beberapa kali saya traveling dengan si kecil sejak dia masih bayi, baik cuma berdua ataupun bareng-bareng dengan suami dan kakak-kakaknya.

Kami sendiri udah dua kali ganti buggy buat si kecil. Yang pertama adalah Quinny Zapp xtra 2, dan yang terakhir adalah Good Baby atau GB Pockit. Dari segi harga, kedua buggy ini ga begitu jauh beda dan ada di kisaran harga yang sama. Saya beli GB Pockit setelah sebelumnya pake yang Quinny untuk anak saya. Si Quinny saya jual dengan alesan kurang compact dan berat sodara-sodara. Dari segi kenyamanan si quinny ini lebih oke sebenernya, cuma waktu itu saya dihadapkan pada pilihan harus nyari buggy yang lebih ringkes dan gampang dilipat-buka tanpa bantuan orang lain (saya harus mudik cuma berdua sama si bayi). Satu syarat lain yang harus terpenuhi adalah bukan stroller umbrella karna saya ga suka kalo pas dilipet masih bulky gitu juga hahaha (dohh rempong amaaat emak ini ya).

Dari beberapa buggy yang udah pernah saya coba dan naksir (sempet mikir mau beli Recaro easylife dan GB Qbit), akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada GB Pockit. Bukan yang plus ya ibu-ibu, tapi yang reguler. Bedanya GB Pockit yang plus dan tidak plus adalah kalo plus bagian sandarannya bisa diluruskan sampai hampir datar (untuk posisi tidur), sementara yang tidak plus sandarannya fixed alias ga bisa di-recline (dan harganya sedikit lebih murah). Dulu nih ya padahal saya ga suka banget sama bentuk si pockit yang menurut saya aneh dan ga kece ini. Ditambah lagi harganya juga lumayan kan. Keliatannya ga sebanding lah sama si buggy yang keliatan rapuh gitu.

Tapi ya ibu-ibu, setelah dua kali saya bawa si buggy pas traveling yang lumayan menantang medannya, saya bisa dibilang puasss sama performa dese haha. Selain beratnya yang cuma sekitar 5 kg (jauhh lebih ringan dibandingkan buggy lain yang tersedia pas saya beli), walaupun keliatan ringkih ternyata si buggy termasuk kuat loh. Trus untuk melipat dan membukanya juga gampang dan cepat. Posisi terlipat juga kecil, yang tentunya jadi bikin lebih gampang buat nyimpennya ya (handy banget pas kita traveling by train). Satu lagi, keranjang di bawah dudukan buggy ini juga lumayan gede dan bisa nampung maksimal 5kg barang si kecil atau barang belanjaan kita.

Cuma emang sayang sun canopy si pockit ini basa-basi banget. Jauh sama yang Quinny punya. Ga kepake lah kalo kita pas di tengah-tengah sinar matahari atau pas lagi hujan. Dari segi diameter ban juga saya kurang suka karna kecil (walau pada prakteknya masih sufficient-lah). Selebihnya beneran rekomen deh, terutama kalo buggy bukan alat utama si kecil dan cuma sebagai “tempat ngaso” ya. O ya, satu alesan kenapa saya lebih milih yang pockit biasa dan bukan yang plus adalah karna menurut saya yang plus bentuknya keliatan berantakan kaya orang make baju yang ga pas gitu wkwkwk. Sebel saya liatnya. Plus anak saya termasuk yang ga rewel kalo kebetulan ketiduran (di buggy), dalam posisi duduk pun gapapa, makanya saya pikir ya udah lah yang biasa aja, toh kita ga mau si kecil kebiasaan tidur di buggy juga hehe. Dan terbukti dari sepanjang perjalanan summer kemarin, mau sepanas apapun, se-uncomfortable dan serempong apa juga si kecil kalo emang udah maunya tidur ya dia mah tidur aja, ga pake cranky ato ngeluh buggy-nya ga enak (daripada gendong sepanjang dese tidur kan ya boook, guna bener lah si buggy ini).

Advertisements

Tantrum.

“Tantrums are not bad behavior. Tantrums are an expression of emotion that became too much for the child to bear. No punishment is required. What your child needs is compassion and safe, loving arms to unload in.”

– Rebecca Eanes.

Our little one is now sleeping quietly in his room. Well, this condition is totally the opposite with what we have before. During dinner time he just threw a tantrum to us. Although I think he has done it before, but this time was the hardest one we needed to go through (up to now πŸ˜‚). We didn’t know what the main reason why it happened. It took around 1,5 hours before it really stopped.

The issue that triggered the tantrum was actually quite simple: I asked him to eat his bread. He woke up from his nap a bit late and he asked for a bread for dinner. After I made the bread for him, he then refused to eat it and started to pull the safety belt on his chair and screaming at once. My husband and I didn’t agree with this kind of behaviour. We then asked him again to eat his bread. But then the drama began 😁. He cried, whined, yelled, screamed at us and yet still refused to eat his bread. If I were the only one there, I don’t think I would be able to handle it by myself and just gave up to the situation I guess. Luckily my husband was also there. He said that it’s a perfect timing (and condition) to teach him that this kind of behaviour is not acceptable (in this house). There is a fine line between being persistent and listening to your parents. In this matter, the situation that we as parents asked him to do is something that is good for him, thus he needed to listen to us. On the other hand, I guess he wanted to show it to us that he also has power to decide what he wanted to do and what not.

He sat on his chair at that time, so the action was not involving laying on the floor, kicking, hitting or rolling over on somethingπŸ˜†. However it was still quite something. One thing that amazed me was that although he cried and screamed loudly, he didn’t throw the bread away to the floor (or to the air). He only tried to give the bread to us (many times lol) – which didn’t work. My husband said that he knew that if he throw the bread away then he would also loose his power to his will. What we did during the tantrum were just sitting by his side, watching what he’s doing and make sure that he knew that we disagree with his action. We didn’t do any physical action to him, no screaming or yelling back, no other activities in between (such as busy with the mobile phone or whatever), we just focused on him. There were sometimes a doubt on me that what we did to him wouldn’t work. 1,5 hour is not a short time when you have to hear a little creature crying and screaming! In my mind I wanted to just say “ok we’re done, just let him be hungry tonight as long as the screaming stops”. But my husband said that we just need to be patience and also show our persistence to him. Eventually he would feel tired and realized that the only solution to his issue is to do what we asked.

Apparently what my husband said was right. Not long after the last pause (which he took several times – crying and screaming took lots of energies you know! 🀣), at one time he started to listen to us. At first he was like giving answer to what we have said to him, and then slowly started to pick up the bread, and then started to bite it. The first time he did that, I was amazed. Persistence did work. Although in the end he didn’t finish the bread, at least he knew that when it comes to mama and papa – don’t play around. After the drama was done, we then gave him a big hug and a kiss – an important gesture to show him that despite what has happened, we still care and love him. And also we’re proud that he stands to his own will :).

He’s 18 months old btw. Too early to throw a tantrum to us kiddo! Well, good thing is that I hope it will end earlier as well. Otherwise it will be a looong and rocky journey for mama (and papa and brother and sister πŸ˜‚).

Mencari Mainan (Edukatif) untuk Anak Usia 1 s/d 3 Tahun.

β€œToys have taken over my family room. I watch Mary Poppins, and no matter how many spoonfuls of sugar I eat, action figures won’t march into a bin with the snap of my fingers.”
― Barbara Brooke

*disclaimer: tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saja, maaf kalo ada kekurangan yaa.

Sewaktu anak saya yang nomor tiga hampir memasuki usia 1 tahun, saya sempat agak bingung mau kasih mainan apa yang pas untuk dia. Pengennya mainan yang saya kasih itu selain aman juga menstimulasi motorik dan perkembangan otaknya. Setelah beberapa kali browsing dan tanya-tanya, ada beberapa mainan yang jadi rekomendasi untuk anak-anak seusia dia.

Yang saya perhatiin, memang si kecil ini musikalnya cukup jalan. Selain itu daya konsentrasinya lumayan kuat. Berdasarkan pengamatan saya ini makanya saya membelikan (dan dikasih hehe) beberapa mainan yang alhamdulillah lumayan sering dimainkan sampe sekarang. Lumayan banyak juga variannya loh ternyata, dan mainan-mainan ini juga sebenernya masih bisa terus dimainkan sampai si kecil agak besar (sampai kira-kira umur 5 tahun kali ya).

incollage_20171218_1341543181898759236.jpg

Hadiah si kecil di ultahnya yang ke-1

Jenis yang pertama, mainan susun/tumpuk.

Anak saya seneng banget main ini. Kebetulan dulu pas lahiran dia dapet kado mainan ini, jadi begitu mulai ngerti langsung kita kasih ke dia. Selain itu di kamar mandi juga ada mainan serupa punya kakak-kakaknya yang biasanya masih mereka pake kalo mereka lagi di bathtub. Awalnya kami bantu menyusun si bekers (cups) ini sampe tinggi, kemudian biasanya dia yang ngerombak. Lama-lama dia mulai bisa bangun tower sendiri (dengan sedikit bantuan dari mama atau papa), atau bahkan ikut bantu beresin si bekers dengan susunan sesuka hati dia haha.

Mainan ini kalo ga salah harganya sekitar €10 atau kurang lebih IDR 150.000. Anak saya kebetulan dapet gratis, hadiah dari tetangga hehe.

Sewaktu si kecil ulang tahun yang pertama kemarin, dia dapet hadiah Lego Duplo dari Oom dan tantenya. Kami sendiri memang ga ada niat untuk beliin dia Duplo secara yang bekas kakak-kakaknya masih ada banyak bangettt (mama pelit wkwk). Walaupun masih belum bisa tapi dia keliatan tertarik dengan si Duplo pieces ini. Lama-kelamaan dia kadang mulai bisa menggabungkan satu blok dengan blok lainnya (sekarang anak saya berumur 1 tahun 5 bulan). Satu hal yang pasti si, dia suka banget numpahin si blok dari kardusnya kemudian satu-satu dimasukin lagi ke kardus hahaha. Kalo ini mamanya sebenernya yang ngajarin, biar ga berceceran di mana-mana Duplo bloknya.

Jenis mainan lain yang Fabian suka adalah puzzle dan sorting blocks (balok-balok berbentuk yang dicemplungin ke lubang sesuai bentuknya – saya ga tau bahasa Indonesianya apa).

Berawal dari Oma yang membawakan puzzle kayu simpel (4pcs) ke rumah kami untuk dimainkan oleh si kecil. Awalnya dia cuma liat-liat aja trus tiap piece-nya diisep (dan digigit) sama dia. Sekarang dia paling suka naro bagian puzzle terakhir ke tempatnya (walau masih harus diarahin tp mamanya bangga banget deh anak seusia dia bisa main ginian hehe). Sementara kalo untuk yang balok-balok bentuk awalnya susah banget untuk dia masukin ke lubang yang sesuai bentuknya. Biarpun kita udah bilangin yang mana yang sesuai dia seringnya ga peduli dan terus nyoba di satu lubang yang dia coba. Kadang dia terlalu persisten sampe kesel karna baloknya ga masuk-masuk wkwk. Senangnya sekarang si anak udah mulai ngerti dan udah bisa masukin si baloknya ini ke lubang yang sesuai dengan bentuknya (walau kadang masih perlu kita kasih tau yang mana yang sesuai dengan bentuk baloknya).

Kemudian mainan lain yang juga disukai anak saya adalah hammering block (palu dan paku).

Mainan ini saya beli di Ikea seharga €6.99 atau sekitar 100 ribuan. Lumayan kan hehe. (Image via Ikea)

Mainan ini bagus untuk perkembangan motorik anak dan juga untuk ketepatan atau presisi. Awalnya anak saya ini bisanya cuma asal pukul aja, tapi sekarang dia bisa mukul si paku-pakuannya dengan palu sampai rata loh 😊. Setelah baris selesai, dia akan putar balik blok-nya kemudian mulai memukul si paku lagi – begitu terus sampe bosen wakakaka. Kakak-kakak dan temen mereka pun masih suka sama mainan ini, kadang kalo pas main di rumah kami mereka ikutan main πŸ˜„

Selanjutnya, buku interaktif dengan bunyi-bunyian/musik dan bentuk-bentuk tertentu.

Buku ini lucu banget! Hadiah dari tantenya, ada bagian yg bisa ditarik trus nanti gerak-gerak kaya dansa 😁

Sejak usia dini (6 bulan) fabian sudah kami coba kenalkan kepada buku (atau setidaknya lembaran bergambar yang berbentuk seperti buku :)). Buku bacaan kakak-kakaknya yang lama pun lumayan banyak jadi sempat juga suami saya beberapa kali mendongeng untuk dia (beserta kakak-kakak). Kadang juga kakaknya yang membacakan. Ada satu aktivitas yang dia suka lakukan dengan buku yaitu membolak-balikkan lembaran bukunya haha. Kalo dulu cuma bolak balikin aja, akhir-akhir ini sambil kaya orang lagi baca (dengan bahasa dia sendiri πŸ˜…). Satu hal yang bikin saya cukup bangga sama dia adalah walopun si buku dibolak-balik, sampe sekarang belum ada satu buku pun yang dia robek halamannya πŸ™‚

Jenis berikutnya adalah alat musik (Mini Piano, Suling dan Xylophone)

Alasan utama dulu saya membelikan alat musik adalah karna saya suka musik dan saya pengen punya anak yang bisa mainin setidaknya satu alat musik (klise amat ya hahaha). Kalo awalnya si kecil cuma asal pencet ato pukul, sekarang dia akan ikutan joget ato bergaya kaya komposer gitu tangannya sambil mondar mandir ke kakak-kakaknya hahaha. Dia juga sekarang mulai memilah musik mana yang dia suka dan konstan yang dimainkan lagu itu-itu aja. Dan mau tau lagu apa yang selalu dia pilih? Pachelbel – Canon in D ciin πŸ˜‚ (cuma short version si, tapi kan yaaa kaya yang udah ngerti aja, yang dipencet itu lagi itu lagi :p)

Terakhir saya dapet masukan dari temen saya yang juga punya toddler adalah alat musik tiup alias suling. Dia bilang meniup suling ini bagus untuk melatih otot dan pita suaranya, yang ujungnya tentu bagus untuk si anak latihan bicara.

Selain itu anak saya juga suka bermain dengan Bola (dalam ukuran apapun).

1183998

bola pertamanya si kecil sewaktu berumur 6 bulan =)

Kayanya hampir semua anak-anak suka dengan bola deh. Begitupun dengan anak saya yang satu ini. Dia suka banget main dengan bola (walau akhir-akhir ini sedikit berkurang), apalagi kalo mainnya juga dengan kakak-kakaknya. Sambil teriak-teriak trus nyomot si bola trus dilempar ke mana aja sesuka dia. Beberapa kali dia juga udah mulai bisa menggiring bola sepak dengan kakinya loh! Apakah ini pertanda dia akan menjadi pesepakbola? Hahaha mama puciiing deh.

Bath Toys

Semenjak anak saya udah mulai mandi di bathtub dewasa (ngga di bak mandi dia lagi), saya mulailah mengeluarkan simpanan mainan temen mandi dia yang dibelikan neneknya satu setengah tahun lalu pas dia baru lahir. Waktu kami sedang ke toko baju anak, si nenek liat ada bebek-bebekan karet dan bebek yang kaya gambar di atas. Si nenek trus bilang “beli ini buat fabian nanti ya kalo udah agak gedean bisa buat temen main pas mandi”. Saya mah mana kepikiran (namanya juga baru lahiran ya gak haha), tapi ternyata sekarang si bebek jadi salah satu temen setia dia kalo lagi mandi. Si bebek ini kalo kepalanya diisi air sendok/kincir yang ada di depannya akan berputar. Jadi lumayan interaktif lah.

Dan terakhir adalah toddler wagon/activity walker.

mula-toddle-truck-green-birch__0352919_pe547783_s51908638154.jpg

toddler wagon dari IKEA ini dijual seharga EUR 24,99 atau sekitar 400 ribu rupiah (image via IKEA)

Toddler wagon ini berguna banget buat si anak belajar jalan. Sewaktu anak saya pas berusia satu tahun dia belum bisa jalan. Bahkan melangkah pun baru sedikit-sedikit. Toddler wagon dari IKEA yang kami belikan untuk dia ini lumayan untuk dia melatih keberanian dan latihan otot kakinya. Selain pegangan dan rodanya bisa disetel sesuai kebutuhan, si wagon ini pun bisa menjadi wadah mainan dia untuk dibawa kemana-mana. Karena kami biasakan untuk tetep nyoba akhirnya dia berani juga untuk dorong si wagon ini. Kadang tanpa dia sadari dia jalan tanpa menopang si wagon (wong keretanya sama dia diangkat karna ga sabaran anaknya wkwkwk) dan akhirnya lama-kelamaan dia berani jalan sendiri tanpa pegangan lagi πŸ™‚

Kebetulan sebelum saya membelikan dia toddler wagon di rumah Oma sudah ada activity walker dari Chicco (ga tau punya siapa dulunya, yang pasti ga baru). Anak saya suka banget main dengan ini, karna dia bisa masukin bola-bola kecil ke dalam lubangnya trus keluar suara gitu. Selain itu juga di bagian sampingnya kalo ditarik akan keluar musik. Dengan activity walker ini juga dia pertama kali berani berdiri πŸ™‚

full1354089418.jpg

Chicco activity walker versi masih gres πŸ™‚

Banyak juga ternyata ya jenis mainan yang bisa mendukung perkembangan motorik dan otak anak! Mungkin masih banyak lagi mainan (atau mungkin alat apapun itu) yang bisa menstimulasi otak dan otot motorik , tapi menurut saya yang paling penting adalah mendorong anak kita dan juga membiarkan si anak untuk mencoba sesuatu yang baru (dengan pengawasan kita tentunya).

Satu hal yang pasti, selain hobi main di luar (outdoor), si kecil kalo saya perhatiin cenderung sosial, makanya dia paling hepi kalo kakak-kakaknya juga ikutan main dengan dia.

Tapi perlu diinget juga, no matter how many toys your children have, the most important thing for them is your attention and love. Semua mainan ini mungkin bisa mendukung anak untuk belajar sesuatu yang baru, tapi balik lagi sumber paling utama pembelajaran (dan kebahagiaan) mereka adalah orang tua, kakak dan orang-orang di sekitarnya πŸ™‚

β€œToys can be anything; children can play all morning with a stone and a plastic bucket. It is about how imaginative conductive and how many applicative possibilities toys offer.”
― Iben Dissing Sandahl,

Traveling (on A Long Haul Flight) with A Baby.

β€œAsked to switch seats on the plane because I was sitting next to a crying baby. Apparently, that’s not allowed if the baby is yours.”
Ilana Wiles, blogger

So, last April I went to Indonesia together with my seven month-old baby to attend my little sister’s wedding. Although it was not the first time for us to travel together without my husband and our two other kids (when he was still 4 months old, we traveled to Paris but a friend joined us half the way), it was still quite worrying for me at first to do the trip.

Main thing that concerned me before doing the trip was of course what if my baby (fabian) gets cranky all the way. This trip is way much longer if we compared it to Paris trip. And anyone who had experience of getting irritated by crying baby(ies) in the plane would know what I mean I guess (I am one of them 😜 – can you imagine if its your baby who did that!). Another concern was the loo issue. I didn’t have anyone to assist me or asked for help (well, I can ask the flight attendant actually but only to a certain limit I think). Plus, my baby at that age (7 months) has already starting to recognize people and he didn’t want to be hold by a stranger.

Having these in mind, my husband and I had to think and manage the trip as efficient as possible to make it easier and less hassle for me.

First of course which flight will suit best for us: direct flight or the one with stopover. After taking some considerations, we then decided that it would be better for me and fabian to use direct flight instead of flights with transit. There are few options for me to take direct flight from Amsterdam to Jakarta (we chose to use Garuda Indonesia). The duration of the flight from Amsterdam to Jakarta was approximately 13 hours, and the return flight was approximately 14 hours. The flight departed in the evening, hoping that it would be easier for fabian to sleep along the way and to adapt with the time difference later on.

After we confirmed the booking, I immediately contact the customer service of Garuda via email to request for a baby bassinet. This is actually a big advantage for those who travel with children less than 1 year old (well, maybe maximum 1,5 years – depends on the size of your baby).

This is the bassinet we got on our flight. Btw, the type of the bassinet self could be different from one airline (or flight) to another.

After the ticket and the bassinet have been settled, then we have to decide whether I should bring the buggy along to Indonesia or not, and which way would be the easiest for me to bring fabian and his (including mine) “equipment” along the whole time. In the beginning I considered to bring the buggy and a backpack diaper bag with me. But at the last moment (during the check in queue lol), I decided to leave the buggy and instead just using a baby carrier and replaced the backpack with shoulder-carry diaper bag. The consideration for the latter was mainly for the practicality – if I use backpack it would be a bit difficult for me to reach its pocket(s) without needed to take the bag out of my back.

I also have read some articles which discussed about how to handle a baby during take off and landing (because of the loud sound of the engine). Some people suggested to use earplug or earphone to reduce the sound, while others suggested to breastfeed the baby during the take off (and landing). Luckily fabian was not that critical at that moment. During the take off and landing he was quite relax and (without me asking) he just went to breastfeed and getting ready to sleep. I guess picking the evening flight also helped then πŸ™‚

All in all, we had quite a smooth trip I can say. My son were mostly sleeping during the flight, and since I couldn’t use my tv (entertainment on demand) on my seat (hindered by the bassinet), I decided to make use the wifi connection on board (not for free but the price is still reasonably ok). I could use internet connection nicely during the flight (at least on the first batch) and able to chat with people on the ground – in Indonesia and in the Netherlands.

Nevertheless, doing a long haul trip only with your baby is definitely a tiresome. Yes – it’s possible, but if you have an option, I would suggest to bring your partner (or someone else) along. That would be much better for your body! πŸ˜‰

And finally, although already a lot of people discuss it and what I will write below probably not much, I would like to share some tips for those who “must” do a long haul flight with a baby (or toddler below two years old).

1. Book your flight early. If you have an option to fly in the evening, do pick that. Evening flight(s) mean your baby doesn’t have to adjust that much with the time frame during the take off and landing – which means would be less stress for them.

2. Don’t forget to contact the customer service of the airlines in case you need them to provide a bassinet for your baby. Fyi, the bassinet can only be used for baby with maximum weight of 9kg or maximum age of 2 years old. The airlines only can provide limited number of bassinet in one flight, thus make sure you contact the airlines the soonest after your booking is confirmed.

3. Travel as light as possible. If you think you don’t need the stroller/buggy that much, just bring your baby with a baby carrier. Make sure your carrier is easy to wear on and off without assistance needed (as reference, I used ergobaby 360 four position). Further, bring a diaper bag which sufficient enough to accommodate your baby stuff, travel documents and your stuff as well (you don’t have to bring separated bag). In short, things you bring to the cabin would only be the baby (with the baby carrier) and one diaper bag.

4. If possible, choose a diaper bag that has at least one or two mini bags (one for the clothing stuff and one for food stuff – the latter is optional) with some extra pockets on it. The minibag is handy to bring in case you need to change your baby’s diaper. The extra pocket with sufficient size (preferably one with zipper in front or in the back of the bag) is important so that you can put your travel documents there and you can easily easily access them when you need it.

Stuff you need to bring in the clothing minibag: diapers (2 pcs would be enough), 1 pack wet wipes (choose the small one or reduce the wipe half), 1 set spare clothes (make sure its a comfy one like a jumper for example – no need to bring jeans or any clothes that less handy and less comfy), one pc of diaper cloth and 2 pcs (disposable) body wipes (washandjes).

If you have two minibag, you can put these things in the food minibag: (food and) milk container (to bring some snacks, milk, and the cereal/porridge for your baby – you don’t have to bring alot! Just some small portions in case your baby need it), baby spoon, bottle feed (for the milk), a mug (if your baby also drinks water), wet napkin, tissues, and (disposable) bib 2 pcs. If you only have one minibag, do remember to bring a thermal bag for your baby’s milk, while the rest can also just dump into the bag.

Some other stuff you also need to bring is a spare clothes for yourself (one t-shirt would be sufficient enough – in case an “accident” happened you would be happy that you bring a spare shirt πŸ˜…), some (small) toys for your baby (teethers, tiny stuffed doll), phone/cable charger, and a (light-weight) novel (optional). Don’t forget also to bring medicine such as paracetamol or other medicines you usually used (always handy when you have them around), band-aid (pleisters), mini perfume (important!), travel size toothbrush and toothpaste, and telon/kayuputih oil (only applicable to indonesian I think haha).

5. Make sure you and your baby wear comfortable clothes yet warm enough to wear in a room with an airco. Put your high heels and the blings in the baggage, also your make up kit. You will only need a (vaseline) petroleum gel or a lipbalm (and a thin lipstick after landing) to be put on your lips during the flight.

6. In my experience, the airline also provides baby food (usually baby food in a jar) and a diaper (complete with the wet wipes) for our baby. But, you cannot count on that since there’s always a possibility that the flight attendant forget to give them to you (happened to me).

7. After you landing (also applicable during the flight), if you need a help do not hesitate to ask someone else to help you – especially when picking up your luggage(s) from the baggage belt.

8. And finally, don’t stress out. Just relax, enjoy it and consider the trip as something that will make the bond between you and your baby stronger (😁).

I hope this post could help those who will do the travel alone with her (or his) baby just like me😊

Happy traveling!

Sleep Training for Baby

“Sleep when your baby sleeps. Everyone knows this classic tip, but I say why stop there? Scream when your baby screams. Take Benadryl when your baby takes Benadryl. And walk around pantless when your baby walks around pantless.” – Tina Fey

Oke, tiba-tiba pengen nulis tema ini karna (selain pas pertama kali bikin draft insomnia saya lagi kambuh😭) saya pengen berbagi pengalaman saya (yang bagai debu di padang pasir – halah) tentang gimana saya ngatur waktu tidur bayi saya sejak baru lahir sampe sekarang si bayi sebentar lagi masuk ke usia 11 bulan.

Semenjak hamil, banyak orang-orang terdekat (dan yang ga gitu dekat wkwk) bilang ke saya buat siap-siap (setelah si bayi lahir) untuk begadang, badan pegel-pegel, tangan mati rasa, mata berkantung, dan lain-lain yang kalo dibayangin berat amat rasanya punya bayi. Saya waktu itu si dengerin aja dan positive thinking. Mudah-mudahan pada waktunya bayi saya akan bisa diajak kerja sama.

Kemudian tibalah waktunya si bayi terlahir ke dunia (tsah). Malam itu juga saya dan bayi langsung pulang dan bermalam di rumah. Kami pulang udah lewat tengah malam dan waktu itu ada suster yang ngecek kebutuhan kami. Malam pertama saya udah ga gitu inget lagi berapa kali bayi saya kebangun, karena yang saya inget malem itu saya kontraksi parah sampe menggigil (di sini udah kaya gitu cuma disuruh minum paracetamol aja sis). Anyway, lima hari pertama ASI saya belum keluar. Sejak kami di rumah sakit begitu si bayi lahir langsung proses inisiasi ASI, jadi walaupun belum keluar dia tetep menyusui tiap 3 jam sekali. Tiga hari pertama mungkin buat fabian ASI saya masih cukup aman buat asupan makanannya, tapi per hari ketiga berat badannya masih tetap turun dan hampir mencapai 10% dari berat badan lahir, makanya suster kraamzorg langsung inisiatif untuk menelepon bidan kami dan kemudian menyarankan untuk sementara dibantu dengan susu formula (cair) disamping menyusui sendiri. ASI saya sendiri sampe hari ke-8 baru bener-bener lancar keluar.

O ya, sejak malam pertama fabian sudah kami coba taro di kamar sendiri, tapi masih pake bassinet, jadi kalo dia nangis kita bisa pindahin ke kamar kami. Di bulan-bulan pertama karena fabian masih harus menyusui tiap 3 jam sekali, maka dia harus saya bangunin beberapa kali di malam hari. Biasanya jam dia mimik pada malam hari adalah sekitar jam 18.30-19.00, kemudian 21.00-21.30, lalu jam 23.30-00, setelah itu jam 03.00-03.30, dan terakhir jam 06.00-07.00. Ini skema yang dikasi sama suster kraamzorg saya, tapi pada kenyataannya kadang agak meleset walo ga jauh-jauh amat. Biar gimana juga karna saya ga menggunakan sufor alias mengandalkan ASI aja, otomatis harus diperhitungkan juga permintaan si bayi alias based on demand.

Buat ibu-ibu baru kaya saya, pemberian ASI pake skema waktu ini sangat menolong, terutama buat mengontrol demand si bayi dan juga untuk menentukan lamanya pemberian ASI yang pada akhirnya berimbas kepada waktu istirahat si ibu (dan anak serta pasangan kita tentunya ya). Skema ini besar kemungkinan bisa berjalan kalo si bayi tidur terpisah dari ibu dan bapak. Emang berat buat kebanyakan ibu-ibu untuk pisah langsung dengan bayinya. Saya juga gitu bu. Rasa kawatir pasti ada. Tapi satu hal yang saya percaya, kalo Allah pasti akan selalu melindungi anak saya, meskipun kami ga tidur bareng dia. Itu yang bikin saya kuat. Selain itu, beruntung saya punya suami yang terus kasih support ke saya, dan terus kasih pengertian kalo hal ini akan baik untuk kami (baik orang tua maupun si anak) terutama untuk ke depannya.

Tidur misah dengan bayi itu agak perjuangan buat saya sebenernya, karena kan lagi enak-enaknya tidur trus tiba-tiba denger ada suara nangis kita kaget kan. Iya kalo langsung bangun, lah kalo ngga, kan kasian bayinya nangis lama. Selain itu, sedihnya kalo full ASI adalah saya ga bisa gantian sama suami saya πŸ˜‚ otomatis saya yang harus bangun buat nyusuin kaaan, walo tetep suami bangun buat gantiin popok (jadi dia harusss bangun juga, biasanya dia pertama gantiin popoknya, kemudian baru saya nyusuin deh).

Oke, kembali ke per-tidur-an. Walau menurut kami fabian terbilang bayi yang gak rewel dan gak rajin nangis (Thank God he’s not a cry baby), pasti ada hari-hari dimana dia juga nangis dan gelisah dalam tidurnya. Biasanya kalo udah kaya gitu kami bawa dia ke kamar kami dan boleh bobo bareng kami. Skema pemberian ASI seperti yang di atas saya jalankan selama kurang lebih 2 sampai 3 bulan, kemudian setelah itu saya mulai membiasakan fabian dengan skema baru dengan menghilangkan beberapa jadwal menyusuinya. Dari beberapa jadwal ASI di atas, yang saya hilangkan adalah menyusui pada jam 21.00 dan 00.00. Untuk yang pertengahan pagi (03.00) lumayan lama baru saya bisa skip (pas 9 bulan kemarin fabian baru bisa memulai long sleep habit).

Pada saat bayi masih berusia 0 sampai 3 atau 4 bulan (bahkan 6 bulan) terdapat kemungkinan terjadinya kram perut pada bayi (buikkraam atau kadang suka disebut kolik). Hal ini normal sebenernya, karna organ bayi dalam hal ini usus dan lambung sedang berkembang dan menyesuaikan asupan yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Nah biasanya kalo lagi terjadi si bayi akan rewel dan susah tidur (ga usah bayi, orang dewasa kalo lagi sakit perut juga ga bisa tidur yekan). Ga usah panik ya ibu-ibu, sebisa mungkin si bayi kita susuin aja (ato kalo yang biasa pake pacifier alias empeng boleh dikasih). Kalo menurut artikel-artikel yang saya baca di sini, gerakan menyedot itu membantu mengurangi rasa tidak nyaman di perut dan usus mereka. Selain itu, kita bisa juga mengompres bagian perut mereka dengan kruik (botol yang diisi air panas/hangat). Kalo buat orang Indonesia, biasanya suka juga dibalur pake minyak telon atau minyak kayu putih, atau minyak yang dicampur dengan irisan bawang merah.

Ciri-ciri yang cukup jelas menurut kami untuk membedakan apakah si bayi mengalami kram perut (atau rasa sakit lainnya) adalah biasanya si bayi pada saat menangis akan menghentak-hentakkan kakinya (kaya menendang) dan tiap kali dikasih ASI anaknya nangis. At least itu yang kami sadari pada saat fabian ga bisa tidur. Solusinya ya kami biarkan dia bobo bareng kami, sambil terus saya coba kasih mimik aja. Alhamdulillah sakitnya ga bertahan lama, sehingga dia bisa balik lagi ke sleeping habit-nya seperti biasa.

Setelah fabian menginjak umur 4 bulan kalo ga salah, kebiasaan menyusuinya agak bergeser untuk waktunya. Biasanya dia bangun sekitar jam 02.30-3.00, waktu bangun dia bergeser sedikit menjadi ke jam 4.00-5.00. Pergeseran waktu ini lumayan banget buat saya, karna jadi saya bisa punya durasi waktu yang agak lebih lama untuk tidur di malam hari (jam 4 atau 5 masih lumayan lah ya dibanding waktu tidur terpenggal ditengah wkwk).

Ada satu hal juga si yang menjadi guilty pleasure buat saya. Yah namanya juga ibu yaa, pada saat anak nangis pengen deket bareng mamanya pasti ada rasa gimanaaa gitu deh. Plus, kadang rasa males juga muncul hehe. Makanya, kadang setelah menyusui yang pagi itu saya suka biarin aja fabian bobo bareng kami. Jadi pola tidur fabian selama beberapa bulan menjadi pukul 20.00-21.00 mulai bobo di kamar sendiri, trus jam 04.00-05.00 bangun mimik dan lanjut bobo di kamar kami sampe jam 07.00 pagi (ini waktu kami semua memulai aktivitas di rumah). Biasanya begitu semua bangun, fabian juga ikut bangun. Kadang kalo masih tidur saya ga ganggu dan dia tetep di kamar kami, kadang saya pindahin ke kamar dia.

Nah, setelah fabian udah terbiasa bobo di kamar sendiri, timbul tantangan baru buat kami sepulangnya saya dan fabian dari Indonesia. Fabian ga mau tidur terpisah dengan saya dong. Kami berdua ke Indonesia pada saat fabian berumur 7-8 bulan. Selama kami di Indonesia hampir setiap malam fabian bobo bareng saya (awalnya saya mau sewa baby cot tapi akhirnya batal karna ga nemu rental yang pas). Mungkin dia merasa nyaman (namanya juga bayi ya ga) dan di usia-usia sekian memang katanya bayi mulai mengenal orang, terutama orang-orang terdekatnya. Jadilah dia merasa saya satu-satunya yang familiar dan dia merasa aman dengan saya. Begitu kembali ke rumah, di malam pertama dia sama sekali ga mau bobo sendiri di kamarnya loh. Setiap kami bawa ke sana dia langsung kebangun dan nangis kejer sekejer-kejernya. Satu-satunya cara ya dia sementara kami biarkan bobo bareng di kamar kami.

Menurut artikel yang pernah saya baca, bayi yang memasuki usia 8-12 bulan akan mengalami yang namanya separation anxiety, literally means ketakutan/kekawatiran untuk berpisah. Biasanya hal ini terjadi antara bayi dengan mamanya, dimana setiap si mama bergerak menjauh, si bayi langsung nangis karna merasa ketakutan akan ditinggal. Inilah yang terjadi pada fabian sebulan yang lalu. Biasanya pada fase ini bayi akan jadi clingy dan nagging ke mamanya. Selain itu, pada usia segini bayi juga lagi mengalami fase pertumbuhan gigi, yang otomatis semakin memperkeruh suasana kaan hahhaa. Kita sebagai ibu harus kuat ya ibu-ibu. Kesabaran kita diuji banget dan lagi-lagi yang paling penting adalah adanya support dari suami dan orang-orang terdekat. Setiap malam kami coba terus untuk kembali membiasakan fabian bobo di kamarnya sendiri. Selain itu kami juga coba biasakan untuk menghilangkan waktu menyusui tengah malamnya. Salah satu upaya yang kami coba adalah dengan menata ulang letak kasur dan furniture di kamarnya, serta menempatkan beberapa boneka dan mainan kesukaan fabian di kasurnya.

Did it work? Alhamdulillah trik ini lumayan berhasil buat kami. Kurang lebih seminggu setelah kami pulang dari Indonesia, akhirnya fabian mau bobo di kamarnya lagi. Pada awalnya dia masih kejer kalo kebangun tengah malam, tapi alhamdulillah sekarang udah ngga lagi. Bahkan persis ketika dia masuk ke usia 9 bulan jadwal mimik tengah malemnya yang jam 3.00 pagi berhenti dengan sendirinya alias udah ngga lagi (yay to long sleep!). Di hari pertama saya agak kawatir si, takutnya saya dan suami kebablasan dan ga denger kalo dia nangis. Tapi malam berikutnya begitu juga, jadi kami simpulkan kalo memang fabian sudah mulai punya sleeping habit baru.

Ada satu hal lucu yang kami notice akhir-akhir ini. Berhubung waktu subuh di Juni – Juli agak ekstrim, saya dan suami otomatis harus bangun lebih pagi, walau kemudian biasanya kita tidur lagi. Kadang nih ya kalo saya ga bisa tidur lagi, saya suka denger fabian nyoba manggil minta diambil haha. Bukan nangis loh ini, karna dia kaya teriak gitu, tapi abis itu berenti kaya dengerin ada orang yang denger ga nih wkwkwk. Mungkin juga dia ketiduran lagi. Trus nanti pas jam 7 anak-anak kan biasanya bangun dan turun dari kamar mereka tu, nah pas saat itu fabian pasti ikut teriak lagi hahaha. Ga mau ketinggalan lah pokonya. Ini lucu banget lah pokonya. Selama kita ga melongok kamarnya sebenernya dia ga akan nangis, tapi begitu dia liat salah satu dari kita, lihatlah tampangnya yang meringis minta diambil kaya foto di atas πŸ˜† manalah kita tega ga angkat si unyil satu itu yaaa 😊

 

All in all,  dari yang saya alami sampe sekarang, boleh dibilang tidur terpisah dengan anak yang dimulai sejak dini lumayan banyak memberikan manfaat kepada saya dan si bayi (juga suami tentunya). Bukannya mau bilang kalo bayi bobo bareng orang tua ga baik loh, tapi menurut saya dengan tidur terpisah kualitas tidur kami jadi masih lumayan tetep terjaga. Saya tau kalo tiap anak berbeda dan masing-masing ibu punya cara tersendiri untuk ngatur pola tidur anaknya. Intinya sebenarnya kan apa yang terbaik bagi orang tua dan anak ya ga. Jadi, apapun bentuk dan caranya paling penting adalah sang Ibu dan anak (tentu juga anggota keluarga lainnya) menikmati semua proses yang dijalankan bersama πŸ™‚

“Just because a baby cries, I discovered, doesn’t mean there’s always something wrong. Sometimes babies wake up for no real reason. They just want to check if they’re doing it right. “This is Sleeping, right?” “Exactly.” “I just lie here?” “That’s right.” “Okay.” Then back to sleep they go.” – Paul Reiser