Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

many-books-hd-wallpaper

β€œDo not train a child to learn by force or harshness; but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.”
~ Plato.

disclaimer: cerita di sini sebatas pengalaman pribadi dan pengetahuan saya yang masih seadanya, jadi mohon dimaafkan kalo kurang komprehensif ya. Akan lebih senang apabila ada temen-temen yang bisa ikut sharing info dan pengalaman seputar hal yang sama di sini 😊.

Walaupun sudah agak terlupakan karna muncul isu-isu baru, beberapa waktu yang lalu di Indonesia sempat heboh dengan isu usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang full day school bagi anak-anak. Banyak yang langsung menentang usulan ini (gak tau apakah mereka tau betul atau belum mengenai konsep yang diusulkan secara detail oleh bapak Menteri), walau ada sebagian kecil yang mendukung usulan ini (secara sembunyi-sembunyi sii – takut dikeroyok sama massa yang tidak pro kayanya wkwk) . Nah, berhubung anak-anak saya saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (plus berdasarkan pengalaman suami semasa kecil), saya mau share info seputar pendidikan dasar anak-anak di Belanda. Mungkin kalo di-browse di internet tulisan tentang ini udah lumayan banyak, tapi tetep saya mau nulis gapapa ya hahaha (maksa😝)

Di Belanda anak-anak mulai diwajibkan untuk sekolah pada saat mereka memasuki usia 4-5 tahun. Untuk anak-anak yang usianya lebih muda (2-3 tahun), walaupun belum diwajibkan tapi tetap diarahkan (dan dipantau) oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat kecamatan) dan Biro Konsultasi Kesehatan atau GGD untuk diikutsertakan ke peuterschool (semacam playgroup gitu) atau ke tempat penitipan anak (namanya kinderopvangen atau children daycare) dengan jumlah jam tertentu (kecuali ada kendala atau kondisi khusus yang tidak memungkinkan). Pemerintah pusat memberikan subsidi untuk keluarga yang menitipkan anak-anaknya di kinderopvangen atau peuterspeelzal, dengan syarat kedua orang tuanya bekerja. Subsidi ini berupa pengurangan biaya iuran perjam si anak. Sementara kalo salah satunya aja yang bekerja, biasanya dari pihak Gemeente (tidak semua Gemeente memberikan subsidi, hal ini tergantung pengaturan masing-masing) yang akan memberikan bantuan biaya yang besarannya ditentukan berdasarkan setoran pajak penghasilan orang tua per tahun.

Tingkat pertama pendidikan wajib (sekolah) di Belanda disebut Basisschool (Sekolah Dasar). Anak-anak duduk di tingkat dasar ini selama 8 tahun (tiap tingkatannya disebut “groep”). Untuk tahun pertama dan kedua (groep 1 dan 2) biasanya digabung menjadi satu. Mungkin kalo di Indonesia groep 1 dan 2 ini bisa disamakan dengan TK A dan B. Kalo menurut info dari suami, untuk anak-anak yang masih dibawah 6 tahun (4-5 tahun) jam wajib belajarnya masih sedikit jumlahnya. Mereka pada intinya lebih diarahkan untuk bisa beradaptasi pada perubahan dari yang sebelumnya bentuk belajarnya lebih ke bermain menjadi bener-bener belajar membaca dan menulis secara perlahan-lahan. Anak-anak masih cukup diberikan kelonggaran untuk tidak ikut sekolah terus-menerus selama jumlah jam belajar tersebut terpenuhi. Begitu anak memasuki usia 6 tahun, mereka sudah ga bisa lagi seenaknya libur alias harus ikut aturan kalender pendidikan di Belanda.

Setelah menyelesaikan Basisschool, mereka akan lanjut ke sekolah lanjutan yang biasanya disebut Middelbare school. Lamanya waktu belajar di tingkat middelbare school tergantung dengan pilihan dan kemampuan masing-masing anak. Mereka punya beberapa pilihan sekolah lanjutan: VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), VMBO (Voorbereidend Middelbaar Beroepsonderwijs), atau Praktijkonderwijs. Mereka biasanya diarahkan sesuai kemampuan (akademis) dan minat masing-masing anak. Di lain waktu saya akan sharing tentang pendidikan lanjutan ini dalam postingan selanjutnya.

Satu hal yang saya sadari di sini adalah kualitas dari tiap sekolah (termasuk para gurunya) di tiap kota – besar maupun kecil – bisa dibilang ga ada bedanya. Hal ini bisa jadi karna pemerintah Belanda cukup ketat dalam mengontrol kualitas para guru dan mereka juga rutin diberikan waktu khusus untuk mendalami kurikulum atau program mengajarnya (mereka nyebutnya “studiedag” yang berarti pada hari itu anak-anak libur dan guru-gurunya belajar lagi deh hehe). Kalo di Indonesia kita sering denger para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit, selama saya tinggal di sini (dan kuliah dulu) hampir ga pernah saya dengar yang kaya gitu. Kayanya si khususnya untuk basisschool ada semacam aturan (atau kebiasaan) kalo para orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang paling dekat lokasinya dengan rumah mereka. Hal ini wajar banget kan ya karna tentu dengan anak disekolahkan di lokasi yang dekat maka waktu mereka ga akan habis di jalan. Walaupun ada beberapa anak yang diantar ke sekolah dengan mobil, hampir sebagian besar anak- anak berangkat dengan sepeda atau berjalan kaki. Karna kebetulan lokasi rumah kami ga lebih dari 500 meter aja, anak-anak lebih senang berjalan kaki ke sekolah.
Waktu belajar basisschool untuk beberapa tahun terakhir adalah pukul 08.30 – 14.30, dengan waktu istirahat sebanyak dua kali (satu kali kleine/fruitpauze/small break selama kurang lebih 15 menit dan satu kali lunchpauze/lunch break selama kurang lebih 30 menit). Anak-anak wajib membawa bekal sendiri dari rumah (walau kadang pada event atau acara khusus sekolah menyediakan). Untungnya bekal makanan dan minuman di sini cukup simpel, jadi kami juga ga ribet-ribet amat tiap pagi harus masak atau bikin sesuatu yang spesial buat bekal mereka hehe. Bahkan anak- anak sejak 2 tahun lalu udah mulai nyiapin bekal makan siang mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam tas sekolah masing-masing (walaupun awalnya untuk minum dan buah mama atau papa masih harus bantu 😊).

Walaupun waktu mereka di sekolah lumayan panjang durasinya, hampir tidak pernah saya dengar kalo mereka lelah karena belajar di sekolah. Alhamdulillah sejauh ini kami lihat mereka cukup antusias dan senang mengikuti kegiatan di sekolah. Keduanya sempet merasa agak bosan sewaktu mereka duduk di grup 4 karena menurut mereka pelajaran yang diberikan gurunya agak terlalu mudah. Kami anggap wajar karena memang grup 4 menurut kami adalah semacam grup transisi. Untuk muatan ajaran dari segi kurikulum masih tidak jauh berbeda dengan grup 3, walau tentu aja pasti tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi. Bisa jadi karena kurikulum yang diberikan cukup ringan dan tidak membuat anak-anak merasa terbebani kali ya.

Sejak di Groep 6, anak-anak juga mulai mendapatkan pekerjaan rumah alias PR satu kali dalam seminggu (sebagai info tambahan, ga semua sekolah memberikan PR untuk para muridnya, hal ini tergantung pada kebijakan di tiap-tiap sekolah). Setiap siswa diminta untuk menyiapkan map/folder khusus untuk PR dan wajib dibawa setiap rabu. Bentuk PR-nya sendiri bervariasi. Kadang hitung-hitungan, kadang hafalan, kadang juga hanya disuruh membaca.

Dalam setahun, anak-anak memperoleh cukup banyak waktu libur. Hampir di tiap musim mereka punya waktu libur setidaknya satu minggu. Biasanya, di musim gugur anak-anak libur seminggu. Kemudian di musim dingin/akhir tahun mereka libur selama dua minggu (Kerstvakantie). Selama waktu carnaval (khusus di Belanda bagian selatan – sekitar Noord Brabant dan Limburg – kalo ga salah ya) mereka juga libur selama seminggu. Setelah itu di bulan April-Mei mereka akan libur lagi (Meivakantie) selama dua minggu. Dan terakhir di musim panas mereka mendapat jatah libur musim panas selama kurang lebih enam minggu. Libur-libur ini di luar libur studiedag dan libur resmi nasional lainnya seperti pinksterdag (pantekosta) atau hemelvaart (kenaikan Isa Almasih) loh ya. Lumayan jauh kalo dibandingin sama jumlah libur anak-anak sekolah di Indonesia – ya gak si?

Kurikulum dan program yang ditentukan oleh pemerintah di sini menurut saya cukup bagus, menarik dan variatif. Di setiap bulan atau di waktu-waktu tertentu biasanya mereka punya tema khusus yang dibahas atau dikerjakan oleh anak-anak. Selain itu pada perayaan-perayaan tertentu seperti Koningsdag (King’s day), Carnaval, Paskah, Sinterklaas atau Christmas biasanya mereka juga akan ikut serta memeriahkannya di sekolah. Biasanya hari-hari khusus tersebut juga dijadikan sebagai subyek atau tema belajar mereka.

Orang tua juga banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah. Kadang para orang tua diperlukan untuk masalah transportasi (kalo pas lagi ada jadwal ekskursi ke luar sekolah), atau membantu mengontrol rambut anak-anak dari kutu rambut (iya, di sini ada yang namanya luizenmoeder atau nit mother 😁), kadang mereka juga dateng ke sekolah untuk membacakan cerita (voorlezen).

Dari sekian banyak yang diajarkan di sekolah, berikut adalah beberapa program yang ditawarkan di sekolah anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mungkin bisa dijadikan masukan dalam menyusun kurikulum sekolah dasar di Indonesia (kali aja loooh hehehe).

Kanjer.

Kalo nyari pengertian bener-bener, kata “kanjer” (dibaca “kanyer”) ini susah dicari padanan katanya. Mungkin kanjer ini bisa diartikan sebagai (sesuatu yang) besar atau luar biasa, atau top, intinya sesuatu yang positif lah. Kalo dilekatkan ke seseorang, pengertiannya bisa jadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang baik budi pekertinya (khususnya dalam konteks hubungan sosial). Nah sekolahnya anak-anak kebetulan mengedepankan ini dalam pola pembelajarannya. Jadi biasanya (hampir) setiap minggu mereka ada waktu khusus untuk kegiatan dalam rangka pembentukan pribadi yang “kanjer”. Metodenya yang dipergunakan juga ga begitu rumit. Para murid diajarkan untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana menghargai orang lain – termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan yang lain, membangun kepercayaan atas diri sendiri juga terhadap orang lain, serta tindakan apa saja yang “kanjer” dan yang bukan. Kemudian guru beserta orang tua murid yang secara sukarela diminta untuk membantu akan mengilustrasikan tema yang diangkat ini ke dalam satu aktivitas yang tentu aja melibatkan para murid. Mereka kemudian akan memberikan nilai sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Selain itu mereka juga mendapat nilai dari teman-temannya dan juga guru dan wali murid yang membantu. Jadi kegiatan kanjer ini lebih seperti evaluasi mereka terhadap diri sendiri dan juga berperilaku terhadap orang lain terutama lingkungan sekitarnya.

Cultuurproject (proyek kebudayaan).

Melalui program ini, selama beberapa minggu para guru akan membahas tentang satu tema khusus yang terkait dengan kebudayaan kepada murid-muridnya. Tingkat kesulitan dan sejauh mana konten yang diberikan biasanya disesuaikan dengan tingkatannya. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu sekolah mereka mengangkat tema mengenai Mesir (Egypte). Jadi selama beberapa minggu para guru memberikan semacam pemaparan mengenai kebudayaan Mesir kepada muridnya, mengajarkan mereka menulis nama sendiri dalam huruf hieroglyph, bagaimana mummy dibuat, kemudian membuat berbagai macam prakarya bertemakan Mesir. Sementara di tahun lainnya mereka belajar tentang pelukis terkenal dari Belanda – Vincent van Gogh. Mereka belajar tentang riwayat hidup sang pelukis dan juga membuat prakarya yang terinspirasi dari karya-karyanya van Gogh. Tahun ajaran yang terakhir kemarin (2017 – draft ini udah bersemedi lama di WP saya ibu-ibu🀣) anak-anak belajar tentang tema “fairy tales” (sprookjes). Setelah selama beberapa minggu anak-anak belajar dan membuat prakarya, di pekan terakhir project sekolah akan mengadakan yang namanya “cultuuravond” atau malam kebudayaan di mana hasil prakarya anak-anak yang sudah dibuat dipamerkan di kelasnya masing-masing dan para orang tua (atau kakek, nenek dan para kerabat lain) diperbolehkan untuk berkunjung dan ikut melihat karya-karya mereka.

piramida dan mummy kucing hasil karya para murid grup 4

potret diri dalam bentuk lukisan dan nama murid dalam huruf hieroglyph.

De Week van De Lentekriebels.
Program lain yang menurut saya menarik adalah “De Week van De Lentekriebels.” Secara harfiah, lentekriebels berarti “spring fever” atau demam musim semi. Tapi de week van de lentekriebels di sini sedikit berbeda pengertiannya. Mungkin lebih kepada arti kiasan dari istilah ini sendiri ya. De week van de lentekriebels merupakan satu proyek mingguan yang diselenggarakan secara nasional (di seluruh basisschool/sekolah dasar di Belanda) dimana pada minggu ini para murid (anak-anak) mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk hubungan/relasi dan seksual (jenis kelamin). Anak-anak ini diberikan pengertian mengenai perkembangan seksual mereka, perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana seorang bayi lahir, penghargaan/respek terhadap pilihan dan perbedaan tiap individu, dan belajar untuk hidup bersama dengan suasana yang aman dan nyaman. Tiap grup diberikan penjelasan dengan bobot yang berbeda-beda, dan menggunakan bahasa dan contoh yang cukup menarik dan mudah untuk dimengerti.

Schoolfruit.

Di lain waktu (seperti 2 tahun ajaran sebelumnya), setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis selama kurang lebih 20 minggu sekolah menyediakan buah-buahan (dan kadang sayuran seperti paprika atau wortel) untuk diberikan kepada anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan program EU-Schoolfruit, yang bertujuan untuk menstimulasi anak-anak untuk lebih sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur. Intinya si supaya anak-anak mengkonsumsi sesuatu yang sehat. Selain itu juga biasanya akan diadakan semacam kompetisi di mana anak-anak harus membuat sesuatu sekreatif mungkin dari buah-buahan.

Sportsdag.

Setiap tahunnya, sekolah juga mengadakan yang namanya sportsdag. Di satu hari ini mereka (seluruh grup – mulai dari grup 1 sampai groep 8) ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga – sebagian besar cabang-cabang atletik – yang sudah diatur oleh para guru (dibantu orang tua murid juga). Dengan adanya kegiatan ini otomatis anak-anak harus berada di luar ruangan, berbaur dengan anak-anak dari groep dan kelas lainnya, dan juga aktif bergerak sampai waktu pulang tiba (biasanya dari jam 8.30 sampai dengan waktu pulang sekolah – yaitu sekitar jam 14.30).

Techniek

Yang saya suka juga dari kurikulum yang diajarkan di sekolah dasar di sini adalah banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan teknik. Teknik di sini mungkin bisa lebih diartikan ke praktik ya. Misalnya, kegiatan membuat mainan (binatang) dari kayu, melukis dengan menggunakan berbagai macam kanvas dan pewarna, membuat perahu dari karton susu bekas, membuat “puppet show” beserta panggungnya, atau membuat binatang dari buku bekas. Intinya bukan cuma belajar membaca dan berhitung, mereka juga diajarkan dan dilibatkan untuk membuat sesuatu yang menjadi hasil karya mereka sendiri.

Outdoor Learning dan Kunjungan ke Perpustakaan dan tempat-tempat khusus.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ajaran, selain anak-anak hampir setiap tahunnya memiliki jadwal belajar-mengajar di luar ruangan, atau juga dalam bentuk kunjungan kegiatan ke tempat-tempat tertentu seperti kunjungan ke Museum Sepatu dan Kulit yang kebetulan lokasinya ga begitu jauh dari lokasi sekolah, atau kunjungan ke kebun binatang khusus reptil, juga jalan-jalan ke hutan dan de Loonse en Drunense Duinen untuk belajar tentang alam.

Muziekproject.

Pada project ini anak-anak akan diperkenalkan kepada berbagai macam instrumen musik, seperti misalnya alat musik tiup, petik dan perkusi. Dua tahun lalu sewaktu anak gadis saya masih duduk di Groep 6 diperkenalkan dengan alat musik tiup, seperti terompet, saxophone, tuba dan klarinet. Mereka diperbolehkan untuk mencoba alat musik tersebut secara bergantian. Di waktu lain mereka diperkenalkan dengan sambuca, tamborine dan gendang.

Di tahun terakhir basisschool (atau group 8), anak-anak dari group 8 wajib ikut serta dalam drama musikal yang khusus dipersembahkan untuk para orang tua murid sebagai ungkapan terima kasih. Selain itu mereka juga akan melaksanakan kemping selama 3-5 hari. Tahun ini anak saya yang pertama akan sibuk dengan dua kegiatan tersebut (selain tentu dengan pemilihan sekolah selanjutnya dan juga ujian-ujian akhir tahun ajaran).

Ngomong-ngomong soal ujian, walau ada aja kontroversi, di sekolah anak saya juga tiap semesternya dilaksanakan yang namanya ujian. Ini sebenernya lebih kepada tes kemampuan si anak, sampai sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang sudah diajarkan oleh guru mereka. Ujiannya dikenal dengan nama CITO toets (kepanjangan dari Centraal Instituut voor Toets Ontwikkeling). Bentuk ujiannya sendiri cukup simpel, subyek yang diuji setau saya adalah kemampuan berhitung (rekenen), kemampuan membaca dan menganalisa (spelling en technisch lezen, dan begrijpen lezen; ).

Untuk group 8 sendiri juga ada yang namanya ujian akhir atau eindexamen. Pihak sekolah diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk memilih dari beberapa metode ujian akhir untuk diterapkan bagi para muridnya. Jadi selain dari hasil rapport mereka tiap tahun, hasil ujian akhir juga akan menjadi masukan bagi para guru/wali kelas untuk menentukan ke program/jurusan mana si murid bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat middelbare.

Catatan:

Tulisan ini ditulis pertama kali tahun 2015 πŸ˜‚. Berhubung belum yakin dan informasinya terasa kurang, ngendaplah dia sebagai draft selama beberapa tahun. Setelah disesuaikan sedikit sana sini, akhirnya berani juga posting hehe. Mohon maaf apabila informasinya terasa kurang atau ga update ya. Feel free to ask or sharing some thoughts on the comment section!☺

Advertisements

Beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Belanda

Rute penerbangan dari Amsterdam ke Batavia jaman dahulu kala. Lamanya perjalanan bisa sampe 2-3 bulan! (lokasi: Aviodrome, Lelystad).

Setelah beberapa tahun menetap dan lumayan sering berkomunikasi dengan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari (ya iyeala secara anak-anak ngomongnya pake boso LondoπŸ˜…), saya baru sadar kalo ternyata lumayan banyak kata-kata yang saya kenal dalam bahasa Indonesia mirip-mirip dengan bahasa Belanda loh. Kadang penulisannya yang beda tapi pelafalannya sama, atau sebaliknya, tulisannya sama tapi pelafalan berbeda. Kalo tulisan mungkin bahasa Belanda lebih banyak yang mirip dengan ejaan lama sebelum ada EYD ya.

Pelafalan alfabet dalam bahasa Belanda juga hampir semua hurufnya sama dengan bahasa Indonesia loh. Ada beberapa huruf yang dilafalkan secara beda. Huruf “G” dalam bahasa Belanda diucapkan seperti orang yang sakit tenggorokannya hahhaha “kh(Γ©)”, trus “J” yang dilafalkan “yΓ©”, “Q” dilafalkan “ku’h” (short u), huruf “Y” yang diucapkan “Γ©y” (kadang disebut igrek😁). Saya agak ragu tapi kayanya huruf “U” juga kedengerannya beda deh.

Saya mau list kata-kata apa aja yang saya ingat di sini, supaya nanti kalo pas kebetulan lagi berkunjung ke sini jadi pede (lah hubungannya apa ya🀣).

  • Jas; dalam bahasa Belanda dibaca “yas” (“a” pendek), sementara dalam bahasa Indonesia adalah “jas” (kurang lebih artinya sama, yaitu jaket).
  • Koetsir; dalam bahasa Belanda dibaca “kutsir” (“i” pendek), kata ini sama dengan “kusir” (atau supirnya delman🀣) dalam bahasa Indonesia.
  • Velg; ini udah pada tau lah yaa apa artinya 😁.
  • Knalpoot; dalam bahasa Indonesia dibaca knalpot.
  • Gratis; yak, arti dalam bahasa Belanda dan Indonesia sama, cuma kalo dalam bahasa Belanda pelafalannya “khratis” hahaha.
  • Korting; atau diskon. Saya baru tau ternyata istilah ini datengnya dari bahasa Belanda wkwk.
  • Spekkoek; kue spekuk alias lapis legit. Bedanya kalo kue spekuk di sini pasti berempah, beda dengan lapis legit yang ada di Indonesia.
  • Tas; baik dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia dibaca sama dan bermakna sama.
  • Horloge; artinya jam tangan, dibaca kurang lebih “horloosje”, mirip dengan kata “arloji” dalam bahasa Indonesia 😁
  • Vulpen; kurang lebih dibaca “voulpen”, mirip sama kata “pulpen” dalam bahasa Indonesia.
  • Potlood; alias pensil. Kalo bahasa orang dulu pensil suka disebut potlot kaaan hihi.
  • Beha; (dibaca “bΓ©ha) artinya BH atau bra. Cukup jelas kan πŸ˜‚.
  • Versnelling; bahasa Indonesianya adalah persneling kalo ga salah ya? Ituloh, yang buat ganti gigi di mobil.
  • Rotonde; kalo dalam bahasa Inggris disebut “round about”, saya ga tau istilah bahasa Indonesia lainnya (bundaran kayanya ya), cuma seingat saya kalo lewat bundaran mama saya suka bilang rotonde wkwkwk.
  • Te laat; dibaca telaaat alias telat alias terlambat! Hahaha.
  • Klaar; artinya selesai, macem orang betawi ngomong “kalo dia udah turun tangan, pasti kelar urusannya”
  • Precies; artinya sama dengan kata “persis” dalam bahasa Indonesia.
  • Slot; berarti “mengunci”, mirip sama istilah “selot” yang suka dipake sama orang tua jaman dulu (setidaknya ortu saya haha) kalo nanya “pintu udah diselot belom?” 🀣.
  • Kasteel; atau kastil.
  • Kantoor; dalam bahasa Indonesia penulisannya aja yang beda (kantor), artinya sama.
  • Kapot; alias rusak 😁.
  • Kapper; saya suka denger kalo di indonesia yang tukang potong rambut suka dipanggil kaper kan ya?
  • Tegel; dibaca “tΓ©khel” yang berarti ubin. Di indonesia juga dipake kan ya kata “tegel” ini?
  • Gordijn; dibaca “khordain” atawa gorden ibu-ibu πŸ˜‚.
  • Straf; berarti dihukum/hukuman. Kalo bahasa Indonesianya suka dieja “setrap” haha (kayanya si bahasa lokal aja ini hihi).

Duh kayanya kalo saya mau terusin bakalan panjang banget ini tulisan hahaha. Sementara udah dulu yaa, kalo ada yang mau nambahin boleh loooh ditulis di kolom komen 😊

Screen Time buat Anak.

The fear of β€˜screen time’ is so deeply ingrained in our collective imagination that an irrational opposition between outdoor play and media consumption is taken for granted.”*

Mama and the kids during the previous summer holiday☺

Semenjak menikah dan harus ngurus dua orang anak (sekarang tiga), pertanyaan “am I being a good mom” lumayan sering menggelitik di otak saya. Bukannya apa-apa, saya yang sebelumnya ga punya buntut begitu menikah (alhamdulillah) dikasih kepercayaan (oleh Allah) bareng dengan suami membesarkan dua anak yang masih piyik sekaligus. Waktu itu sebelum mantap untuk say yes to get married kadang terlintas dalam pikiran, apa saya mampu, apa mereka akan bahagia dengan kehadiran saya, is everything going to be ok, dan lain lain yang intinya saya meragukan kemampuan saya sendiri. Bersyukur saya dapet full support dari suami (masih calon waktu itu mah) dan keluarga, dan dukungan terpenting datang dari kedua anak yang nantinya akan sekarang manggil saya mama.

Perkara meragukan diri sendiri ini juga muncul kalo saya abis baca postingan atau artikel orang tentang sesuatu yang berhubungan dengan bagaimana membesarkan anak yang baik, masalah orang tua yang terlalu sering sharing tentang anak-anaknya di dunia maya atau apa yang sebaiknya ga dilakukan oleh para orang tua, yah yang macem begitulah. Seperti masalah anak-anak dan akses ke TV dan internet (termasuk penggunaan gadget) yang suka juga disebut “screen time”. Banyak yang saya baca (juga yang cerita) kalo mereka yang punya anak kecil kebanyakan ga ngebolehin anak-anaknya nonton TV dan melarang penggunaan PC, tablet atau smartphone karna khawatir dengan konten yang ada. Sementara saya beserta suami? Di rumah ini saya dan suami termasuk yang lumayan longgar untuk hal ini.

Sejak saya hadir di rumah, selain rutinitas yang sudah berjalan, anak-anak setiap harinya kami biasakan untuk disiplin khususnya dengan waktu (well, dari sebelumnya juga udah si, cuma emang pas saya hadir sayanya yang paling cerewet hehe).

Jadi begini gambaran sehari-hari mereka. Untuk bangun pagi, setiap harinya (kecuali hari libur) anak-anak bangun jam 7 pagi. Setelah sikat gigi dan cuci muka, mereka kemudian sarapan, nyiapin bekal sekolah sendiri, main PC/tablet sambil nunggu waktu berangkat sekolah jam 8.15 (mereka ke sekolah jalan kaki). Sekolah dimulai jam 8.30 pagi dan selesai jam 14.30 siang. Sepulang dari sekolah mereka saya haruskan untuk istirahat sebentar. Jam 15.00 sore mereka baru boleh main dengan komputer atau tablet (karna sebelumnya sempet ribut gara-gara siapa yang boleh pake apa, jadi saya atur aja pemakaian PC dan tablet tiap sehari sekali gantian. Misal hari ini yang satu pake PC, besok dia harus pake tablet, begitu seterusnya). Biasanya kami makan malam sekitar jam 17.30 sore. Kalo udah waktunya makan malam, maka waktu main mereka pun berhenti. Setelah makan malam biasanya kalo cuaca pas bagus (dan langit masih terang) mereka akan keluar main sebentar. Kalo ngga, mereka akan nonton TV (mereka ga mau banget lewatin jeugdjournaal!). Kemudian jam 19.15 mereka naik ke atas untuk siap-siap mandi (kecuali kalo pas besoknya libur, mereka boleh stay sampe jam 19.30). Kalo pas mereka mandi di bathtub, kami batesin maksimal jam 20.15 udah di kamar mama papa. Kalo dulu sebelum tidur papanya suka bacain cerita, sekarang biasanya kalo ga nonton tv ya ngobrol atau main dan becanda sebentar. Kalo besoknya hari sekolah, mereka harus ke kamar masing-masing pas jam 20.30. Sementara kalo pas weekend, mereka boleh stay sampai jam 21.00. Begitu seterusnya rutinitas mereka.

Mengenai aksesibilitas mereka cukup kami bebaskan dan beri kepercayaan. Kebebasan di sini tentu aja bukan asal blas ya, karna sebelum kami memberikan kepercayaan kepada mereka, kami juga kasih tau mengenai segala konsekuensi, mana yang menurut kami baik atau buruk buat mereka, bahaya apa saja yang bisa mereka temuin (khususnya di dunia maya), intinya si sebelum dilempar ke “medan perang” kami cukupi dulu ransumnya mereka hehe.

Aturan mengenai screen time anak-anak ini ga plek saya dan suami doang yang bikin loh ya. Sebelum kami terapkan kami juga ajak anak-anak untuk diskusi bareng dan tanya apakah mereka keberatan atau tidak. Jadi yang kami jalani sekarang juga berdasarkan kesepakatan dengan anak-anak).

Sementara untuk weekend aturan main ini jadi agak sedikit berbeda. Untuk sabtu mereka boleh main sampai jam 12 siang, setelah itu stop dan hari minggu adalah hari gadget free dimana mereka ga boleh main sama sekali baik dengan PC, tablet, ataupun dengan game console. Mereka masih boleh nonton TV si, tapi tetep dengan catatan ga sepanjang hari manteng terus juga.

Despite a gadget freak, luckily both are also a bookworm πŸ™‚

Walopun masih jauh dari ideal, setidaknya saya lihat kalo mereka masih cukup seimbang aktivitas indoor dan outdoor-nya. Kalopun disuruh stop atau dimintakan tolong mereka akan dengerin dan nurut kok (walo mungkin pas disuruh nanya “waroom” alias kenapa trus bisa jadi setelahnya ada yang kecewa trus menitikkan air mata wkwk).

Lalu bagaimana dengan si bungsu?

Untuk si kecil aturan mainnya jelas berbeda. Yah gimana juga usia-nya beda jauh ya. Ada satu momen yang bikin kebiasaan si kecil berubah cukup signifikan untuk hal ini, yaitu pada saat kami berdua mudik lebaran idul fitri Juni yang lalu. Kalo sebelumnya di rumah dia paling cuma sebentar nonton kids programa di TV lokal Belanda (atau via youtube) dengan durasi yang ga gitu lama, begitu di Indonesia dia jadi suka nonton (youtube) lewat handphone zz. Saya ga bisa salahin dia juga si, karna mungkin pada saat itu nonton video atau mendengar sesuatu yang dia kenal bikin stress-nya dia berkurang. Cuma jadinya begitu kembali ke Belanda saya jadi extra effort harus langsung koreksi kebiasaan dia ini. Trus berhasilkah jadi gak sama sekali pegang Hp? Sayangnya ngga sodara-sodara, tapi saya bersyukur karna kontrol masih tetap kami (saya dan suami) yang pegang. Anak ini btw untuk jam tidurnya sama kaka kakak-kakaknya ya, cuma dia ga ikut mandi bareng hehe, sempit kata kakak-kakaknya 😁

Biasanya di malam hari sebelum dia minum susu dan gosok gigi, saya bolehin dia nonton video selama 10-15 menit maksimal. Saya tentuin sampe angka berapa di jam, jadi begitu memang waktunya si kecil ngerti dan langsung matiin layar Hp-nya. Begitu juga dengan nonton TV/video. Tiap mau nonton saya kasih tau sampe kapan, kalo udah waktunya TV harus mati. Kadang dia ga terima si (trus ngambek menjurus tantrum wkwk), tapi dia ngerti aturan yang saya buat dan lama-kelamaan diterima juga dan lebih sering diturutin daripada ngganya hehe.

Terlalu kiyut untuk ga difoto (dasar emak!πŸ˜‚), walo setelahnya saya marahin karna nontonnya ga dalam posisi duduk.

Sepanjang liburan kemarin walo bawa gadget mereka ga bisa tiap hari akses. Begitu dapet akses dan dibolehin sama mama-papa, langsung deh tiga-tiganya sibuk sendiri.

Ada beberapa aturan tentang screen time ini yang juga kami terapkan dalam keluarga kami.

Setiap waktu makan, di meja makan no gadget and TV (walo kadang suka kelupaan matiin TV jadi blas tetep ketonton).

Kalo pergi ke restoran, kami hampir ga pernah kasih/bawa hp atau tablet supaya mereka sibuk. Walo sering dapet muka bosen ato pertanyaan redundan (wanneer gaan we naar huis alias kapan pulang?πŸ˜‚), tapi mereka biasanya suka cari kesibukan sendiri. Kalo dulu buat antisipasi si bungsu tantrum ato gelisah ga betah saya suka bawa puzzle atau buku kecil buat dia main. Ini lumayan ampuh buat dia. Terakhir karna si anak makin “complicated” saya jadinya suka “bribe” dia dengan toetje/dessert kesukaan dia (coklat atau es krim). Bersyukur juga si selama ini pengalaman kami makan di luar bareng anak-anak terbilang aman dari “kejutan yang mencekam” πŸ˜†.

Jadi begitulah cara kami mengatur screen time-nya anak-anak. Walau mungkin jauh dari ideal, setidaknya aturan ini berjalan dengan baik di rumah kami. Saya juga ngerti dan paham banget ga akan mungkin mengurangi waktu interaksi mereka dengan gadget dan TV secara drastis, wong bapaknya tiap hari pasti di depan laptop atau Hp-nya juga (saya juga lumayan lengket sama hp sis, walo ga gitu sering nempel sama TV dan laptop hehe). Makanya membekali mereka dengan pengetahuan dan self defense di dunia maya jadi kunci gimana juga mereka nantinya akan bersikap atau menanggapi segala sesuatu yang ada di di dunia Internet.

ps. maaf kalo jadinya kepanjangan ya 😁

*Jordan Shapiro, Research Says Screen Time Can Be Good for your Kids, published on Forbes website, 17 July 2013. Full article can be read via this link.

Harapan vs Kenyataan

Idealnya:
Tiap malem saya bisa istirahat tidur nyenyak tanpa ada gangguan apapun sampe pagi alarm berbunyi.
Yang terjadi:
Ada aja gangguan menghampiri. Satu waktu anak yang paling besar ga bisa tidur karna denger suara nyamuk non-stop, di waktu lain tiba-tiba tengah malam dateng si anak gadis laporan kalo dia mimpi buruk sampe sedikit ngompol. Nah yang akhir-akhir ini lagi sering-seringnya adalah si bungsu turun dari kasur sendiri, gelap gulita jam 3 pagi ngucluk ke kamar kami. Anak ini kan ga breastfeed lagi trus dia minta tidur di kasur besar ya, jadi mudah-mudahan cuma penyesuaian aja. Kadang pake drama nangis kalo ga bisa buka pintu kamar kami trus ujung-ujungnya minta temenin di kamarnya, kadang tau-tau udah di samping saya aja berdiri sambil manggil-manggil mama (ini horor banget ya hahahaha).

Harapan saya:
Semua anak-anak kami – terutama si bungsu – pemakan segala alias ga pilih-pilih. Apa yang kita kasih/masak dia ikut makan. Masakan Belanda oke, masakan Indonesia juga ga masalah. Sayuran suka, daging, ikan, ayam oke, tiap waktunya makan piringnya bersih alias habis makannya.
Kenyataannya:
Selain yang gadis, anak laki saya dua-duanya super selektip makannya 😭. Yang udah gede ga banyak varian sayuran yang dia suka. Dia cuma doyan brokoli (jadi hampir tiap hari masak brokoli sis wkwkwk). Lain lagi sama si kecil. Sekarang apa-apa semua mau sendiri yang ngerjain. Dese baru 2 tahun padahal, kebayang kan gimana rempongnya si mama (saya!) yang amatir tapi sok protektif ini wakakaka.

Perkara makan, sebenernya dia ga susah-susah amat. Roti tawar gandum dan pizza adalah favoritnya dia. Dimakannya kadang pake mentega/margarin dan meses atau choco flakes, kadang pake mentega dan gula pasir, kadang pake keju lembaran. Harus utuh loh ya rotinya, ga perlu dipotong kecil-kecil, kalo iya yang ada dia ngambek trus marah dan ga mau dimakan si roti. Akhir-akhir ini dia lagi hobi-hobinya moles mentega sendiri. Kadang si pisaunya dijilat-jilat bahkan sebelum bersentuhan dengan margarinnya hahaha. Oh iya, dia juga suka makan roti dicelup ke kuah steamboat bikinan mamanya🀣.

Selain roti ada juga si beberapa makanan yang dia suka. Salmon asap, mackerel asap, seaweed (wakame), kentang goreng, lumpia, ketimun, salami dan champignon adalah beberapa yang dia juga doyan. Sisanya? Entahlah, udah beberapa kali nyoba masih dapet reaksi negatif jadi saya ga maksa juga.

Satu hal yang pasti si, alhamdulillah si kecil hobi makan buah (walau ga semuanya). Favoritnya dia adalah jeruk, mangga, strawberry dan raspberry.

Harapan saya:
Mau makan seberapa banyak, badan tetep kaya dulu pas di masa penghujung 20an awal 30, berat badan dan timbangan tetep stabil (HAHAHA diketawain pasti ini).
Kenyataannya:
Badanku sekarang tak begitu hiks. Berasa banget metabolisme tubuh semakin berkurang kecepatannya. Kalo dulu mau makan apa aja ga jadi lemak, sekarang perasaan baru juga liat masakan enak begitu nimbang udah nambah setengah kilo ajaπŸ˜….

Idealnya:
At least seminggu tiga kali olah raga, either jogging/jalan keliling komplek, ikut yoga atau fitness atau apalah, sepedaan kemana-mana.
Yang terjadi:
Boro-boro tiga kali seminggu, sekali-sekali aja juga bisa diitung deh buat joggingnya wkwkwk. Yoga ga suka, mau fitness juga kadang udah ga kebagian waktunya karna ada si kecil (ngeleees 😜). Sepedaan? Jujur saya males ngeluarin si sepeda dari gudang, makanya mending jalan deh, ato ga naik mobil hahaha (padahal saya ga suka nyetir). HARUS diubah kebiasaannya nih.

Kepengennya:
Kalo pas ulang tahun dikasih kejutan, anak-anak dan suami suami berubah romantis dikit, nyediain breakfast in bed (norak ya 😁), dikasih bunga, hari rileks buat mama.
Kenyataannya:
Tetep spesial si, walo yang saya harapkan ga terjadi hahaha. Setidaknya ada perhatian lebih dari suami dan anak-anak, walo ga ada kejutan samsek. Terima nasib ajaahhh 😁.

Kepengennya:
Suami bisa tag team buat urusan nyetrika, aktivitas rumah tangga yang paling saya ga suka.
Aslinya:
Dia mah mending pake baju kusut daripada harus nyetrika πŸ˜‚. Pernah ni ya pas saya lagi di Indonesia, mertua dateng dong spesial buat bantuin dia untuk urusan ini hahaha. Pa tu de rah.

Idealnya:
Anak-anak ga suka main gadget, si bungsu ga nonton yupup (youtube maksudnya πŸ˜†).
Yang terjadi adalah:
Mereka masih hobi dengan per-gadget-an dan kawan-kawan. Beruntungnya mereka ga masalah saya kasih batasan waktu dan sehari tanpa internet (kecuali si kecil yang kadang masih suka nggerutu). Lagian ngarepinnya berlebihan ya jahaha, ortunya juga demen sama gadget πŸ˜‹.

Pengennya:
Setiap ada ide nulis trus langsung bisa menumpahkannya ke tulisan di blog yang beberapa saat kemudian (at least dalam waktu sehari) langsung bisa di-publish.
Kenyataannya:
Banyak banget postingan yang mentok di tengah jalan trus mandek di draft doang hahahha. Seperti yang ini contohnya, pengennya satu hari beres trus publish. Ujung-ujungnya udah lewat seminggu belom diturunin juga wkwkwk.

Ah ngomongin harapan mah mungkin ga akan abis-abis ya. Tapi terlepas dari harapan-harapan saya itu, alhamdulillah pada kenyataannya Allah masih kasih berkah banyak banget buat saya. Hidup kalo terlalu ngoyo kurang nikmat juga kan ya hehe. Jadiii syukurilah apa yang kita punyaaaa :))

Ekspektasi saya atas Monterosso al Mare, Cinque Terre, Italy (image via youtube)

Kenyataan. CENDOL gan! πŸ˜‚ (image dok.pribadi)

Jadiii, ada yang mau sharing pengalaman tentang harapan dan kenyataan dengan saya?

Not A Summer Person.

I hate summer, to be honest. I hate dressing. I hate the heat. I hate sweaty people getting aggressively close to you when you’re walking down the street.

~ Johnny Weir.

via pinterest

Call me lame, or whatever, but I think I’m one of those people who are not really excited when the summer comes. There are lots of reasons why I don’t really like summer, some of them because:

  • Sometimes the weather can be very hot and gives “prick” to my skin. Although I was born and once lived in a tropical country, that doesn’t mean that it easier for me to cope up with the heat. Different with the situation in Indonesia, I feel that the sun here is so aggresive to your skin. To make it worse, I am not a fan of body lotion (nor sunblock on whatever form), but if I didn’t use them I know my skin would suffer a lot from the sun.
  • I (we) cannot keep the food for too long whether outside or inside the fridge. During cooler period (winter or spring and autumn when the sun lay a bit low), we normally can keep some leftover food or sauces in the fridge for a week or so. Now since the weather is getting warm, even the jam – which we kept in the fridge with a close lid – got a bit contaminated and got a “schimmel” (mold/fungus) on top of it! This also happened with breads that we kept outside the fridge. Within 3 days then the bread really need to be checked before you consume it. Same thing with fruits. They become withered also within few days. It really makes us feel that we are wasting our money only to throw things away – not fair 😦
  • I have quite hyper sensitive nose when it comes to smelly people. Since “warmth” is a good friend of them then spotting someone who affected by the “sun, sweat, and onion” is so easy to be done when the season comes. And to make it more crazy, before the lesson in our dancing class, there is always a zumba class – which means: extra SWEAT in the room, people! πŸ˜‚
  • The high season of everything which resulting overpriced tickets (and accomodation, and anything related to your holiday/vacation) everywhere! I have 2 kids who still sit in the basisschool (elementary level) and my husband’s holidays are attached to what they called as “bouwvak” (working days and holidays for workers in certain region in a year). Plus one toddler who is about to reach his second milestone within months (welcome to full price flight ticket next year son – sniff), can you imagine how much cash we need if we decide to go to mudik in the summer? Plus, in order to make the holiday not only about visiting family but also a real “holiday” that means we need to prepare extra cash for extra trip we want to do at the destination country.
  • Bicyclists here are going crazy whenever the weather is nice. I mean, you can literally see them almost in every corner of the street. I don’t mind at all with that, but the thing is that cyclists here are mostly so reckless and don’t care with other people (or vehicles) around them on the street. To make it worse, most of them act as if they have nine lives – just like a cat – and almost none of them wear safety equipment (such as helmet). For example, they go cycling side by side whether on a main road or on the small one (uncool!), using mobile phone while cycling, do not giving any sign when they want to go to certain directions, and other things that make my mind goes like “ok…whaa?”.
  • The garbage – especially the organic one – also goes rotten and creates bad smell faster during summer. And usually this will lead to more insects and flies and bugs around the backyard/house (which I don’t like!). Luckily the mosquitos here are not as barbaric as ones in Indonesia 😁
  • Unlike past years, this year I had an issue with what they called as “hooikoorts” or hay fever. Usually the fever started to come during the spring, and when you have bad luck it will lasts until summer. The cause of the hay fever is mostly the pollen (from flowers or grass). In my case, most likely it caused by the grass, since everytime I water my grass in the backyard I started to sneeze and had runny nose.

Well, summer is not that bad actually. You can do fun things as well during summer, picnic and BBQ for instance 😊 also, daylight is longer during summer, which means you feel that you have more time to do more things in a day 😁

Bunga-bunga di Rumah.

Last batch of tulips in our backyard πŸ’œ

Semenjak kebun belakang rumah kami sudah selesai dirapikan, saya jadi seneng eksperimen sama tanaman. Well lebih ke bunga-bunga sih ya, karna pada dasarnya saya memang suka bunga. Ada juga kepengen nanam sayur-sayuran sebenernya, cuma masih belum begitu pede untuk eksekusinya hehe. Bunga yang saya pilih hampir sebagian besar yang minim perawatan hahaha. Maklum, saya agak pemalas orangnya (ngaku hihi).

Saya baru tau kalo posisi rumah juga menentukan bunga mana yang sebaiknya ditanam loh haha. Maklum bukan tukang kebun (temen aja sampe amazed denger saya bercocok tanam πŸ˜‚) jadinya bener-bener awam sama beginian. Posisi depan rumah saya menghadap ke selatan, yang otomatis hampir setiap saat ga kena sinar matahari langsung, sementara kebun belakang menghadap utara. Dulu sebelum halaman belakang direnovasi, di sederetan pinggir pagar yang berbatasan dengan tetangga ada kurang lebih 6 pohon sejenis pohon pinus (conifer) yang ukurannya udah terlalu besar dan makan tempat. Selain itu ada beberapa bunga mawar liar dan bunga hydrangea yang udah cukup besar volumenya. Di dekat gudang juga ada pohon blackberry liar (yang buahnya asyem bangett) dan beberapa bunga crocus liar.

Beberapa jenis bunga yang sudah tereksekusi (alias ditanam) dan alhamdulillah sukses sampe berbunga dan kemudian layu antara lain:

Tulip.

Bunga ini periode tanamnya kalo di sini adalah sekitar pertengahan bulan Oktober sampai awal bulan November (periode akhir musim gugur), dan mulai keluar tunas di sekitar bulan april dan berbunga biasanya di akhir Maret dan April (awal musim semi). Bentuk bibitnya berupa bulbs (dalam bahasa Belanda berarti bollen atau umbi). Kalo pas lagi di periode Oktober-November harganya bisa murah banget (kecuali kalo beli di bandara dan yang jenis khusus ya). Cara nanemnya termasuk gampang, cukup ditanam di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 5-8 cm, dan supaya nanti pas bunganya mekar terlihat cantik sebaiknya si tulip ini ditanam secara berkelompok atau bergerombol. Setelah si umbi ditanam kita ga perlu ngapa-ngapain lagi deh, tinggal tunggu waktunya mereka mulai bersemi dan berbunga.

Tulip jenis ini tingginya lumayan dan berbunga sedikit lebih telat dari jenis yang lain.

First batch of tulips in our backyard.

When all tulips on the row are blossoming ❀

Hydrangea atau Hortensia.

Picture was taken end of spring last year.

Kalo bunga ini kebetulan saya nanemnya di pot dan diletakkan di depan rumah. Kebetulan bunga hortensia ini bisa tumbuh dan berkembang di tempat teduh dan ga begitu perlu sinar matahari langsung. Penting juga si bunga dapat cukup air tapi juga gak terlalu banyak (yang mengalir alias akarnya tidak terendam). Pot yang bisa dipergunakan adalah yang ada lubang di bagian bawahnya, supaya air dari pot bisa mengalir.

Bunga hortensia yang dulu saya beli adalah yang sudah berbunga penuh, dengan beberapa yang masih belum berwarna (alias masih hijau). Belinya bisa di supermarket, bisa juga di toko khusus tanaman. Harganya bervariasi tergantung banyaknya bunga dan jenisnya juga. Si bunga mulai berkembang di sekitar April (musim semi) dan bertahan lumayan lama, kalo beruntung bisa sampe sekitar September (awal musim gugur). Setelah itu biasanya si bunga mulai berubah dan menjadi kering. Kalo si bunga sudah jelek sebaiknya dipotong. Sisanya cukup dibiarkan aja di pot (tapi jangan sampe ada air berlebih di pot). Biasanya di akhir musim dingin si bunga yang sebelumnya keliatan menyedihkan akan mulai bertunas lagi.

They just start to blossom again this year 😊

Picture was also taken end of spring last year.

Cannot wait to see them in full blossom again!

Daffodils atau Narcissen.

Saya sebenernya tau nama si bunga ini daffodils gara-gara Inly hahaha. Di sini kan disebutnya Narcissen makanya saya ga ngeh kalo mereka adalah satu jenis bunga yang sama. Daffodils ini juga banyak jenisnya, yang paling banyak dan sering ditemui adalah yang berwarna kuning. Kebetulan si daffodils kuning ini saya ga punya di kebun sendiri tapi di kebunnya mama mertua. Saya sendiri dapet daffodils warna putih dari charity event-nya anak-anak untuk sekolah. Lumayan banget lah buat nambah koleksi bunga di kebun kami hehe. Kami dapet si bunga di sekitar bulan April dan sudah dalam bentuk umbi bertunas alias siap pindah ke tanah atau pot besar. Anak-anak pun ikut bantu nanem dan merawat si calon bunga hehe.

Lavender.

Bunga ini memang salah satu jenis yang pengen saya tanem kalo kebun udah beres. Selain wangi, bunga ini juga tahan dingin dan ga gitu sulit ngerawatnya. Saya beli si lavender sudah berbunga di pot-pot kecil. Setelah keliatan merana dan kering selama musim dingin, sekarang si lavender udah berbunga lagi dan tambah banyak.

Rombongan lavender di ujung terdepan halaman kami 😁

Look at the bee!

Lily of the Valley.

Saya nanam bunga ini adalah hasil provokasi dari temen saya hahaha. Jadi sewaktu nikah dulu princess Kate Middleton pake lily of the valley sebagai wedding bouquet-nya. Selain itu wanginya juga cukup kenceng kata temen. Makanya saya jadi penasaran hehe. Saya beli si lily of the valley ini dalam bentuk akar yang sudah muncul tunasnya sedikit. Karena juga penasaran dengan yang warna pink-nya, jadilah walau agak mahal tetep saya beli juga lily pink-nya. Alhamdulillah yang lily of the valley warna putihnya udah sempet berbunga, sementara yang pink saya sempet kawatir karna tunasnya ga ada yang keluar. Makanya begitu kemarin liat ada pucuk tunas yang keliatan saya jadi hepi hehehehe. Mudah-mudahan aja nanti sampe berbunga ya.

Fresias.

Barisan fresia

Setelah masa berbunga tulip sudah selesai, saya pun mulai cari-cari bunga mana yang bisa mewarnai kebun kami (halah). Temen saya nyaranin untuk nanam fresia aja, karna selain bagus juga harum. Akhirnya saya nanem fresia ini dan milih warna putih dan biru di ruang dekat sepanjang pagar. Saya baru tanem bunga ini di akhir-awal mei, beli bulbs-nya secara online (fresia termasuk bunga yang cukup murah) dan sekarang daun-daunnya udah mulai bermunculan hehe.

Calla Lily.

Pucuk daun si calla lily.

Calla lily in progress.

Sama kaya fresia, calla lily ini juga saya tanem atas saran temen saya. Waktu tanamnya juga berbarengan dengan fresia, cuma untuk harga bulbs-nya agak lebih mahal dari fresia. So far si hampir semua calla-nya udah keluar daunnya, cuma masih ada satu spot yang masih belum keliatan sibuk hehe. Mudah-mudahan aja si bonggol gak mati ya.

Gladiols.

Daun-daun bunga gladiol yang sudah mulai meninggi πŸ˜‰

Bunga ini saya beli semata karna lagi diskon pas nemu hahahaha. Saya ga gitu penasaran sama gladiol, walau sebenernya bunga ini bagus juga. Kata temen saya bunga ini adalah favoritnya para nenek-nenek wkwkwk. Sama kaya fresia, bunga ini juga harus ditanam di bulan Mei. Sewaktu saya nanem fresia, karna udah kebanyakan nanem fresia jadinya nunda nanem gladiolnya. Ujung-ujungnya mertua saya yang nanem karna dia ga sabaran orangnya hahaha. Sekarang gladiolnya juga sudah mulai keluar daunnya.

Allium.

Saya beli bulbs bunga ini barengan dengan tulip. Waktu nanemnya juga bareng, cuma saya ga beli banyak dan nanem si allium di pot. Begitu daunnya pada keluar saya masih mikir kalo bunga yang saya tanam tulip, tapi lama-kelamaan bingung kok daunnya beda dan lama banget berbunganya hahaha. Begitu si kuncup bunga keluar saya baru sadar kalo bunga ini bukan tulip (duhh bentuknya beda banget kalii). Dari sepuluh bulbs yang ditanam, yang jadi bunga ada empat. Saya juga baru tau namanya adalah Allium setelah saya kasih liat foto si bunga ke temen saya πŸ˜‚. Kata dia allium ini termasuk ke dalam genus bawang-bawangan. Pantes aja kalo si bunga dicium, bukannya wangi harum khas bunga, ini lebih ke wangi bawang hahaha.

Semoga postingan ini bisa bikin seger mata ya.

Menu Andalan di Rumah.

“Food tastes better when you eat it with your family.”

Anak-anak saya itu bisa dibilang termasuk yang gampang-gampang susah makannya. Beruntung walaupun lahir di Belanda lidah mereka cukup biasa dengan masakan dengan bumbu yang lumayan kuat. Semakin besar mereka pun makin tahan dengan pedas. Kalo suami si jangan ditanya hehe. Bahkan dia lebih tahan pedes daripada saya loh. Masakan favoritnya suami? tumis kangkung dan tempe goreng (tepung) sist hahaha.

Walaupun berani nyoba sesuatu yang baru, ada beberapa masakan yang sering jadi menu makan malam kami (pagi dan siang hampir selalu roti yang jadi menu kami). Kalo saya bikin masakan ini hampir bisa dipastikan anak-anak akan lahap makannya. Kalo liat anak dan suami makan lahap kan kitanya jadi hepi ya gak hehe. Berasa ga sia-sia gituu masakinnya. Biasanya setiap kali makan pasti akan ditemenin sama sayuran, entah itu simple salad (ketimun, daun selada, tomat dan paprika) atau sauteed veggies (brokoli, wortel, champignon, buncis dan bawang bombay). Anak-anak juga hobi makan bakwan haha. Si bakwan menjadi salah satu trik supaya anak kami yang pertama makan sayur selain brokoli, ketimun dan daun selada.

Nasi Goreng.

Anak-anak seneng banget kalo saya bikin nasi goreng. Biasanya saya bikin nasi goreng kalo kebetulan ada sisa nasi (walau sering juga khusus masak nasi untuk bikin nasi goreng). Bumbunya gampang dan semuanya cukup diiris aja. Selain kadang saya masukkan potongan wortel, saya juga suka masukkan potongan sosis atau salami. Trik utamanya adalah penggunaan mentega yang bikin si nasi goreng jadi lebih gurih. Biasanya kami makan si nasi goreng bareng dengan bakwan goreng. Cocok lah ini! 😁

dsc_17411415929717.jpg

kalo nasi goreng ini bumbunya pake sisa sambal di rumah hahaha :))

Soto Ayam dan Soto Betawi.

Kalo untuk kedua soto ini anak-anak paling suka sama kuahnya. Beberapa tahun lalu mana mau mereka makan soto (mulut mereka masih cukup standar dan ga mau banget nyoba sesuatu yang baru), tapi saya bersyukur semakin ke sini mereka pun jadi semakin terbiasa dan bilang kalo soto itu enak hehe. Kalo buat saya dan suami isi si soto kan lengkap ya, kalo buat anak-anak biasanya saya cuma masukin daging dan irisan kol (untuk soto ayam) atau kentang (untuk soto betawi).

Sate Ayam.

Bikin sate ayam versi saya gampang aja bumbunya hihi. Setelah dipotong kecil-kecil, biasanya saya marinade si daging dengan bumbu kacang khusus untuk sate yang siap pakai (merek belanda yang paling lumayan rasanya untuk bumbu sate adalah wijko) dicampur dengan sedikit minyak zaitun, kecap manis, garam dan perasan jeruk nipis/lemon. Setelah itu tusuk-tusuk trus masukin oven deh. Biasanya saya mulai di posisi biasa kemudian setelah agak kering saya ganti ke posisi grill. Panggang sampe si daging matang agak kecoklatan, abis itu santap deh.

Ikan Salmon.

Satu kali pas kami lagi pergi ke IKEA, saya iseng beli saus instan campuran lemon dan dill (citroen en dill) untuk dipasangkan dengan ikan salmon. Cara memasaknya sendiri juga tertulis di bungkusnya. Gampangnya hampir kebangetan sebenernya hahaha. Cukup beli ikan salmon filet yang sudah dipotong per porsi (dengan atau tanpa kulit), letakkan di dalam wadah tahan panas, kemudian tuang si saus ke atas si ikan, sebisa mungkin seluruh ikan terlumuri saus. Biasanya sebelum saus dituang saya suka taburi si ikan dengan garam dan bubuk lada hitam. Setelah itu diamkan si ikan yang sudah berlumuran saus selama kurang lebih setengah jam (kalo mepet juga gapapa sebenernya tanpa didiamkan dan langsung dimasak). Panaskan oven 180oC, masukkan ikan ke dalam oven, masak selama 20-25 menit, kemudian keluarkan dari oven (ini penting supaya si ikan ga overcooked. Abis itu disantap deh si ikan. Anak-anak kalo udah tau saya bakal masak ini langsung excited banget dan mereka hampir pasti akan minta lebih dari porsi biasa mereka πŸ˜€ Makanya sekarang kami pun siap saus ini selalu di rumah.

dsc_00381111194072.jpg

ikan salmon ini saya pan seared pake minyak zaitun, sementara sausnya adalah lemon butter dan dill. Setelah ketemu saus siap pakai dari IKEA saya udah lama ga bikin ini lagi :))

Steak dan Pasta.

Masak steak dan pasta versi saya ga ribet bikinnya hahaha. Selain saya suka pake saus pasta siap pakai (versi yang fresh tapi), si steak pun ga aneh-aneh marinade-nya: cukup ditaburi garam, lada hitam dan minyak zaitun aja (kalo kebetulan lagi inget kadang suka saya olesin rosemary sedikit buat aroma). Abis itu si steak dipanggang di grilled pan sampe tingkat kematangan sesuai keinginan (sambil masak si pasta di api lain). Semua beres tinggal hap sampe ludes deh haha.

dsc_4646114790850.jpg

bagian dari sapi yang paling sering kami konsumsi adalah entrecote/sirloin dan round (kogelbiefstuk).

Spaghetti Bolognaise/Meatball.

Kalo dulu saya masih rajin bikin saus tomatnya sendiri, makin ke sini saya jadi makin males dan lebih sering pake basis saus pasta siap pakai wkwkwk. Tapi si saus ini biasanya saya sesuaikan rasanya dengan menambah sedikit garam atau gula. Kalo lagi pengen saus bolognaise, biasanya saya masak daging cincangnya dulu (dicampur garam, gula pasir, sedikit penyedap dan pala bubuk) kemudian dicampur dengan basis saus tomat yang siap pakai. Kalo lagi sedikit rajin, saya akan bikin si bola-bola daging sebagai temen makan pastanya hehe.

dsc_00411372120651.jpg

Semur Daging (dan Kentang).

Semur daging akhir-akhir ini juga menjadi salah satu masakan favoritnya anak-anak. Cuma memang kalo mau si daging sampe empuk banget saya harus masak agak lebih awal (atau pake panci tekan/pressure cooker). Biasanya saya suka campur kentang juga ke dalam si semur. Bumbunya bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karna semua tinggal diblender trus ditumis sampe harum. Susahnya karna lumayan banyak campurannya. Kalo mau tau resep semur daging versi saya, bumbu-bumbunya adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, sedikit ketumbar, sedikit bubuk lada hitam, sejumput bubuk pala, sejumput bubuk cengkeh, dan cabe merah 1 buah dibuang bijinya. Jangan lupa kecap manis (cap bango andalan saya hehe) dan garam tentunya. Setelah bumbu ditumis hingga harum dan matang, langsung masukkan potongan daging ke dalam bumbu, tuang kecap manis ke dalam wajan kemudian aduk rata. Tambahkan air secukupnya, masak dengan api kecil hingga daging empuk dan kuah mengental. Kalo mau pake kentang, biasanya saya suka goreng terlebih dahulu, kemudian sesaat sebelum api dimatikan masukkan kentang ke dalam semur. Biasanya kami makan semur dengan nasi putih hangat dan sayuran yang sudah direbus/dikukus.

Sayur Kembang Kol.

Sayur kembang kol ini adalah salah satu sayur favorit saya dan almarhum bapak saya. Biasanya makannya bareng ayam goreng ato sambel goreng teri. Duh sedap banget deh. Suatu kali saya dan suami mempersilakan anak-anak untuk nyoba. Saya sendiri pesimis mereka bakal suka, tapi ternyata pada suka dongg. Saya jadi hepi karna nambah lagi repertoir masakan kami wkwkwk. Buat yang mau nyoba masak sayur kembang kol ini gampang kok masaknya. Semua bumbu cukup diiris (bawang merah 1 pc, bawang putih 1-2 pcs, cabe merah (tanpa biji kalo ga mau pedes) 1-2 pcs, kemudian batang sereh 1-2 pcs. Kadang saya tambahkan daun salam selembar, tapi di skip pun ga apa apa. Sebagai bahan campuran boleh ditambah tahu yang sudah dipotong dadu dan digoreng, dan kentang yang juga sudah dipotong dadu dan digoreng. Semua bumbu ditumis sampe harum, trus masukin si kembang kol, tambah garam dan gula sedikit, kemudian tuang + 250ml santan, masukin campuran sayur lainnya, trus masak sampe kembang kol empuk. Setelah empuk si sayur siap disantap deh 😊.

Chicken Schnitzel.

Bikin chicken schitzel sebenernya gampang-gampang ribet. Paling bete itu pas proses coating-nya plus udahannya (piring kotor bekas coating plus minyaknya itu loh!). Selebihnya si ga gitu susah ya. Setelah si ayam filet dipukul-pukul sampe gepeng, taburkan garam dan lada di dua sisi. Kalo ga suka amis boleh juga dilumuri jeruk nipis/jeruk lemon sedikit. Setelah itu diamkan selama kurang lebih satu jam. Untuk lapisan luarnya, biasanya saya pake tepung panir/roti. Lapisan pertama saya pake tepung terigu yang sudah diberi garam dan lada sedikit. Kemudian si ayam dicelupkan ke kocokan telur yang sudah dicampur dengan susu cair sedikit, kemudian potongan ayamnya digulingkan ke tepung panir/roti yang sebelumnya sudah dicampur dengan sedikit parutan keju parmesan, garam, gula pasir, lada dan oregano. Kalo ga pede dengan sekali coating, boleh sekali lagi dicelup ke dalam kocokan telur dan kemudian digulingkan lagi di tepung panir. Setelah itu goreng sampe kecoklatan deh. Hasilnya (hampir) pasti bikin anak-anak (dan bapaknya) hepi hehe.

Martabak Telor.

Nah kalo untuk yang ini agak ribet prosesnya. Tapi karna saya suka martabak, makanya buat saya sesekali bikin ini ga masalah. Walau jauh dari martabak telor abang-abang, tapi untuk urusan rasa alhamdulillah lumayan lah hehe. Dulu awalnya karna saya mau ngakalin anak saya yang pertama yang ga suka wortel sama sekali. Makanya biasanya adonan martabak telornya saya campur dengan wortel yang dipotong kecil-kecil. Selain wortel, campuran lain yang saya masukkan ke dalam adonan martabak ini adalah daun bawang yang sudah dipotong-potong, daging cincang campur bawang bombay yang sudah dimasak sebelumnya, telur orak-arik yang sudah dimasak setengah matang, dan dua atau tiga butir telur mentah. Kemudian adonan ini dikocok sampe tercampur rata. Untuk bumbunya saya cuma tambahkan garam, gula pasir dan lada hitam (juga sedikit penyedap/maggi block kalo pas lagi inget wkwk). Untuk kulitnya saya cukup pake kulit pangsit/spring roll siap pakai (frozen). Karena saya ga pake kulit yang selebar tampah kaya tukang martabak, alhasil saya harus melipat si martabak satu persatu. Kenapa saya bilang ribet ya inilah. Tapi kalo dikerjain si ya selesai juga. Apalagi kalo pas liat yang makan pada semangat, worth it deh prakarya melipat ini jadinya.

This slideshow requires JavaScript.

Mungkin ada masakan lain yang terlupa sama saya, tapi kalo saya masak masakan di atas ini hampir ga pernah mengecewakan lah hasilnya.

Masakan-masakan di atas ada di meja makan kami kalo pas saya lagi rajin ato ada waktu buat masak. Kalo pas lagi males ato ga sempet masak ya kami makan di luar aja haha, ato ga pesen online via thuisbezorg wkwkwk.