Harapan vs Kenyataan

Idealnya:
Tiap malem saya bisa istirahat tidur nyenyak tanpa ada gangguan apapun sampe pagi alarm berbunyi.
Yang terjadi:
Ada aja gangguan menghampiri. Satu waktu anak yang paling besar ga bisa tidur karna denger suara nyamuk non-stop, di waktu lain tiba-tiba tengah malam dateng si anak gadis laporan kalo dia mimpi buruk sampe sedikit ngompol. Nah yang akhir-akhir ini lagi sering-seringnya adalah si bungsu turun dari kasur sendiri, gelap gulita jam 3 pagi ngucluk ke kamar kami. Anak ini kan ga breastfeed lagi trus dia minta tidur di kasur besar ya, jadi mudah-mudahan cuma penyesuaian aja. Kadang pake drama nangis kalo ga bisa buka pintu kamar kami trus ujung-ujungnya minta temenin di kamarnya, kadang tau-tau udah di samping saya aja berdiri sambil manggil-manggil mama (ini horor banget ya hahahaha).

Harapan saya:
Semua anak-anak kami – terutama si bungsu – pemakan segala alias ga pilih-pilih. Apa yang kita kasih/masak dia ikut makan. Masakan Belanda oke, masakan Indonesia juga ga masalah. Sayuran suka, daging, ikan, ayam oke, tiap waktunya makan piringnya bersih alias habis makannya.
Kenyataannya:
Selain yang gadis, anak laki saya dua-duanya super selektip makannya 😭. Yang udah gede ga banyak varian sayuran yang dia suka. Dia cuma doyan brokoli (jadi hampir tiap hari masak brokoli sis wkwkwk). Lain lagi sama si kecil. Sekarang apa-apa semua mau sendiri yang ngerjain. Dese baru 2 tahun padahal, kebayang kan gimana rempongnya si mama (saya!) yang amatir tapi sok protektif ini wakakaka.

Perkara makan, sebenernya dia ga susah-susah amat. Roti tawar gandum dan pizza adalah favoritnya dia. Dimakannya kadang pake mentega/margarin dan meses atau choco flakes, kadang pake mentega dan gula pasir, kadang pake keju lembaran. Harus utuh loh ya rotinya, ga perlu dipotong kecil-kecil, kalo iya yang ada dia ngambek trus marah dan ga mau dimakan si roti. Akhir-akhir ini dia lagi hobi-hobinya moles mentega sendiri. Kadang si pisaunya dijilat-jilat bahkan sebelum bersentuhan dengan margarinnya hahaha. Oh iya, dia juga suka makan roti dicelup ke kuah steamboat bikinan mamanya🀣.

Selain roti ada juga si beberapa makanan yang dia suka. Salmon asap, mackerel asap, seaweed (wakame), kentang goreng, lumpia, ketimun, salami dan champignon adalah beberapa yang dia juga doyan. Sisanya? Entahlah, udah beberapa kali nyoba masih dapet reaksi negatif jadi saya ga maksa juga.

Satu hal yang pasti si, alhamdulillah si kecil hobi makan buah (walau ga semuanya). Favoritnya dia adalah jeruk, mangga, strawberry dan raspberry.

Harapan saya:
Mau makan seberapa banyak, badan tetep kaya dulu pas di masa penghujung 20an awal 30, berat badan dan timbangan tetep stabil (HAHAHA diketawain pasti ini).
Kenyataannya:
Badanku sekarang tak begitu hiks. Berasa banget metabolisme tubuh semakin berkurang kecepatannya. Kalo dulu mau makan apa aja ga jadi lemak, sekarang perasaan baru juga liat masakan enak begitu nimbang udah nambah setengah kilo ajaπŸ˜….

Idealnya:
At least seminggu tiga kali olah raga, either jogging/jalan keliling komplek, ikut yoga atau fitness atau apalah, sepedaan kemana-mana.
Yang terjadi:
Boro-boro tiga kali seminggu, sekali-sekali aja juga bisa diitung deh buat joggingnya wkwkwk. Yoga ga suka, mau fitness juga kadang udah ga kebagian waktunya karna ada si kecil (ngeleees 😜). Sepedaan? Jujur saya males ngeluarin si sepeda dari gudang, makanya mending jalan deh, ato ga naik mobil hahaha (padahal saya ga suka nyetir). HARUS diubah kebiasaannya nih.

Kepengennya:
Kalo pas ulang tahun dikasih kejutan, anak-anak dan suami suami berubah romantis dikit, nyediain breakfast in bed (norak ya 😁), dikasih bunga, hari rileks buat mama.
Kenyataannya:
Tetep spesial si, walo yang saya harapkan ga terjadi hahaha. Setidaknya ada perhatian lebih dari suami dan anak-anak, walo ga ada kejutan samsek. Terima nasib ajaahhh 😁.

Kepengennya:
Suami bisa tag team buat urusan nyetrika, aktivitas rumah tangga yang paling saya ga suka.
Aslinya:
Dia mah mending pake baju kusut daripada harus nyetrika πŸ˜‚. Pernah ni ya pas saya lagi di Indonesia, mertua dateng dong spesial buat bantuin dia untuk urusan ini hahaha. Pa tu de rah.

Idealnya:
Anak-anak ga suka main gadget, si bungsu ga nonton yupup (youtube maksudnya πŸ˜†).
Yang terjadi adalah:
Mereka masih hobi dengan per-gadget-an dan kawan-kawan. Beruntungnya mereka ga masalah saya kasih batasan waktu dan sehari tanpa internet (kecuali si kecil yang kadang masih suka nggerutu). Lagian ngarepinnya berlebihan ya jahaha, ortunya juga demen sama gadget πŸ˜‹.

Pengennya:
Setiap ada ide nulis trus langsung bisa menumpahkannya ke tulisan di blog yang beberapa saat kemudian (at least dalam waktu sehari) langsung bisa di-publish.
Kenyataannya:
Banyak banget postingan yang mentok di tengah jalan trus mandek di draft doang hahahha. Seperti yang ini contohnya, pengennya satu hari beres trus publish. Ujung-ujungnya udah lewat seminggu belom diturunin juga wkwkwk.

Ah ngomongin harapan mah mungkin ga akan abis-abis ya. Tapi terlepas dari harapan-harapan saya itu, alhamdulillah pada kenyataannya Allah masih kasih berkah banyak banget buat saya. Hidup kalo terlalu ngoyo kurang nikmat juga kan ya hehe. Jadiii syukurilah apa yang kita punyaaaa :))

Ekspektasi saya atas Monterosso al Mare, Cinque Terre, Italy (image via youtube)

Kenyataan. CENDOL gan! πŸ˜‚ (image dok.pribadi)

Jadiii, ada yang mau sharing pengalaman tentang harapan dan kenyataan dengan saya?

Advertisements

Not A Summer Person.

I hate summer, to be honest. I hate dressing. I hate the heat. I hate sweaty people getting aggressively close to you when you’re walking down the street.

~ Johnny Weir.

via pinterest

Call me lame, or whatever, but I think I’m one of those people who are not really excited when the summer comes. There are lots of reasons why I don’t really like summer, some of them because:

  • Sometimes the weather can be very hot and gives “prick” to my skin. Although I was born and once lived in a tropical country, that doesn’t mean that it easier for me to cope up with the heat. Different with the situation in Indonesia, I feel that the sun here is so aggresive to your skin. To make it worse, I am not a fan of body lotion (nor sunblock on whatever form), but if I didn’t use them I know my skin would suffer a lot from the sun.
  • I (we) cannot keep the food for too long whether outside or inside the fridge. During cooler period (winter or spring and autumn when the sun lay a bit low), we normally can keep some leftover food or sauces in the fridge for a week or so. Now since the weather is getting warm, even the jam – which we kept in the fridge with a close lid – got a bit contaminated and got a “schimmel” (mold/fungus) on top of it! This also happened with breads that we kept outside the fridge. Within 3 days then the bread really need to be checked before you consume it. Same thing with fruits. They become withered also within few days. It really makes us feel that we are wasting our money only to throw things away – not fair 😦
  • I have quite hyper sensitive nose when it comes to smelly people. Since “warmth” is a good friend of them then spotting someone who affected by the “sun, sweat, and onion” is so easy to be done when the season comes. And to make it more crazy, before the lesson in our dancing class, there is always a zumba class – which means: extra SWEAT in the room, people! πŸ˜‚
  • The high season of everything which resulting overpriced tickets (and accomodation, and anything related to your holiday/vacation) everywhere! I have 2 kids who still sit in the basisschool (elementary level) and my husband’s holidays are attached to what they called as “bouwvak” (working days and holidays for workers in certain region in a year). Plus one toddler who is about to reach his second milestone within months (welcome to full price flight ticket next year son – sniff), can you imagine how much cash we need if we decide to go to mudik in the summer? Plus, in order to make the holiday not only about visiting family but also a real “holiday” that means we need to prepare extra cash for extra trip we want to do at the destination country.
  • Bicyclists here are going crazy whenever the weather is nice. I mean, you can literally see them almost in every corner of the street. I don’t mind at all with that, but the thing is that cyclists here are mostly so reckless and don’t care with other people (or vehicles) around them on the street. To make it worse, most of them act as if they have nine lives – just like a cat – and almost none of them wear safety equipment (such as helmet). For example, they go cycling side by side whether on a main road or on the small one (uncool!), using mobile phone while cycling, do not giving any sign when they want to go to certain directions, and other things that make my mind goes like “ok…whaa?”.
  • The garbage – especially the organic one – also goes rotten and creates bad smell faster during summer. And usually this will lead to more insects and flies and bugs around the backyard/house (which I don’t like!). Luckily the mosquitos here are not as barbaric as ones in Indonesia 😁
  • Unlike past years, this year I had an issue with what they called as “hooikoorts” or hay fever. Usually the fever started to come during the spring, and when you have bad luck it will lasts until summer. The cause of the hay fever is mostly the pollen (from flowers or grass). In my case, most likely it caused by the grass, since everytime I water my grass in the backyard I started to sneeze and had runny nose.

Well, summer is not that bad actually. You can do fun things as well during summer, picnic and BBQ for instance 😊 also, daylight is longer during summer, which means you feel that you have more time to do more things in a day 😁

Bunga-bunga di Rumah.

Last batch of tulips in our backyard πŸ’œ

Semenjak kebun belakang rumah kami sudah selesai dirapikan, saya jadi seneng eksperimen sama tanaman. Well lebih ke bunga-bunga sih ya, karna pada dasarnya saya memang suka bunga. Ada juga kepengen nanam sayur-sayuran sebenernya, cuma masih belum begitu pede untuk eksekusinya hehe. Bunga yang saya pilih hampir sebagian besar yang minim perawatan hahaha. Maklum, saya agak pemalas orangnya (ngaku hihi).

Saya baru tau kalo posisi rumah juga menentukan bunga mana yang sebaiknya ditanam loh haha. Maklum bukan tukang kebun (temen aja sampe amazed denger saya bercocok tanam πŸ˜‚) jadinya bener-bener awam sama beginian. Posisi depan rumah saya menghadap ke selatan, yang otomatis hampir setiap saat ga kena sinar matahari langsung, sementara kebun belakang menghadap utara. Dulu sebelum halaman belakang direnovasi, di sederetan pinggir pagar yang berbatasan dengan tetangga ada kurang lebih 6 pohon sejenis pohon pinus (conifer) yang ukurannya udah terlalu besar dan makan tempat. Selain itu ada beberapa bunga mawar liar dan bunga hydrangea yang udah cukup besar volumenya. Di dekat gudang juga ada pohon blackberry liar (yang buahnya asyem bangett) dan beberapa bunga crocus liar.

Beberapa jenis bunga yang sudah tereksekusi (alias ditanam) dan alhamdulillah sukses sampe berbunga dan kemudian layu antara lain:

Tulip.

Bunga ini periode tanamnya kalo di sini adalah sekitar pertengahan bulan Oktober sampai awal bulan November (periode akhir musim gugur), dan mulai keluar tunas di sekitar bulan april dan berbunga biasanya di akhir Maret dan April (awal musim semi). Bentuk bibitnya berupa bulbs (dalam bahasa Belanda berarti bollen atau umbi). Kalo pas lagi di periode Oktober-November harganya bisa murah banget (kecuali kalo beli di bandara dan yang jenis khusus ya). Cara nanemnya termasuk gampang, cukup ditanam di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 5-8 cm, dan supaya nanti pas bunganya mekar terlihat cantik sebaiknya si tulip ini ditanam secara berkelompok atau bergerombol. Setelah si umbi ditanam kita ga perlu ngapa-ngapain lagi deh, tinggal tunggu waktunya mereka mulai bersemi dan berbunga.

Tulip jenis ini tingginya lumayan dan berbunga sedikit lebih telat dari jenis yang lain.

First batch of tulips in our backyard.

When all tulips on the row are blossoming ❀

Hydrangea atau Hortensia.

Picture was taken end of spring last year.

Kalo bunga ini kebetulan saya nanemnya di pot dan diletakkan di depan rumah. Kebetulan bunga hortensia ini bisa tumbuh dan berkembang di tempat teduh dan ga begitu perlu sinar matahari langsung. Penting juga si bunga dapat cukup air tapi juga gak terlalu banyak (yang mengalir alias akarnya tidak terendam). Pot yang bisa dipergunakan adalah yang ada lubang di bagian bawahnya, supaya air dari pot bisa mengalir.

Bunga hortensia yang dulu saya beli adalah yang sudah berbunga penuh, dengan beberapa yang masih belum berwarna (alias masih hijau). Belinya bisa di supermarket, bisa juga di toko khusus tanaman. Harganya bervariasi tergantung banyaknya bunga dan jenisnya juga. Si bunga mulai berkembang di sekitar April (musim semi) dan bertahan lumayan lama, kalo beruntung bisa sampe sekitar September (awal musim gugur). Setelah itu biasanya si bunga mulai berubah dan menjadi kering. Kalo si bunga sudah jelek sebaiknya dipotong. Sisanya cukup dibiarkan aja di pot (tapi jangan sampe ada air berlebih di pot). Biasanya di akhir musim dingin si bunga yang sebelumnya keliatan menyedihkan akan mulai bertunas lagi.

They just start to blossom again this year 😊

Picture was also taken end of spring last year.

Cannot wait to see them in full blossom again!

Daffodils atau Narcissen.

Saya sebenernya tau nama si bunga ini daffodils gara-gara Inly hahaha. Di sini kan disebutnya Narcissen makanya saya ga ngeh kalo mereka adalah satu jenis bunga yang sama. Daffodils ini juga banyak jenisnya, yang paling banyak dan sering ditemui adalah yang berwarna kuning. Kebetulan si daffodils kuning ini saya ga punya di kebun sendiri tapi di kebunnya mama mertua. Saya sendiri dapet daffodils warna putih dari charity event-nya anak-anak untuk sekolah. Lumayan banget lah buat nambah koleksi bunga di kebun kami hehe. Kami dapet si bunga di sekitar bulan April dan sudah dalam bentuk umbi bertunas alias siap pindah ke tanah atau pot besar. Anak-anak pun ikut bantu nanem dan merawat si calon bunga hehe.

Lavender.

Bunga ini memang salah satu jenis yang pengen saya tanem kalo kebun udah beres. Selain wangi, bunga ini juga tahan dingin dan ga gitu sulit ngerawatnya. Saya beli si lavender sudah berbunga di pot-pot kecil. Setelah keliatan merana dan kering selama musim dingin, sekarang si lavender udah berbunga lagi dan tambah banyak.

Rombongan lavender di ujung terdepan halaman kami 😁

Look at the bee!

Lily of the Valley.

Saya nanam bunga ini adalah hasil provokasi dari temen saya hahaha. Jadi sewaktu nikah dulu princess Kate Middleton pake lily of the valley sebagai wedding bouquet-nya. Selain itu wanginya juga cukup kenceng kata temen. Makanya saya jadi penasaran hehe. Saya beli si lily of the valley ini dalam bentuk akar yang sudah muncul tunasnya sedikit. Karena juga penasaran dengan yang warna pink-nya, jadilah walau agak mahal tetep saya beli juga lily pink-nya. Alhamdulillah yang lily of the valley warna putihnya udah sempet berbunga, sementara yang pink saya sempet kawatir karna tunasnya ga ada yang keluar. Makanya begitu kemarin liat ada pucuk tunas yang keliatan saya jadi hepi hehehehe. Mudah-mudahan aja nanti sampe berbunga ya.

Fresias.

Barisan fresia

Setelah masa berbunga tulip sudah selesai, saya pun mulai cari-cari bunga mana yang bisa mewarnai kebun kami (halah). Temen saya nyaranin untuk nanam fresia aja, karna selain bagus juga harum. Akhirnya saya nanem fresia ini dan milih warna putih dan biru di ruang dekat sepanjang pagar. Saya baru tanem bunga ini di akhir-awal mei, beli bulbs-nya secara online (fresia termasuk bunga yang cukup murah) dan sekarang daun-daunnya udah mulai bermunculan hehe.

Calla Lily.

Pucuk daun si calla lily.

Calla lily in progress.

Sama kaya fresia, calla lily ini juga saya tanem atas saran temen saya. Waktu tanamnya juga berbarengan dengan fresia, cuma untuk harga bulbs-nya agak lebih mahal dari fresia. So far si hampir semua calla-nya udah keluar daunnya, cuma masih ada satu spot yang masih belum keliatan sibuk hehe. Mudah-mudahan aja si bonggol gak mati ya.

Gladiols.

Daun-daun bunga gladiol yang sudah mulai meninggi πŸ˜‰

Bunga ini saya beli semata karna lagi diskon pas nemu hahahaha. Saya ga gitu penasaran sama gladiol, walau sebenernya bunga ini bagus juga. Kata temen saya bunga ini adalah favoritnya para nenek-nenek wkwkwk. Sama kaya fresia, bunga ini juga harus ditanam di bulan Mei. Sewaktu saya nanem fresia, karna udah kebanyakan nanem fresia jadinya nunda nanem gladiolnya. Ujung-ujungnya mertua saya yang nanem karna dia ga sabaran orangnya hahaha. Sekarang gladiolnya juga sudah mulai keluar daunnya.

Allium.

Saya beli bulbs bunga ini barengan dengan tulip. Waktu nanemnya juga bareng, cuma saya ga beli banyak dan nanem si allium di pot. Begitu daunnya pada keluar saya masih mikir kalo bunga yang saya tanam tulip, tapi lama-kelamaan bingung kok daunnya beda dan lama banget berbunganya hahaha. Begitu si kuncup bunga keluar saya baru sadar kalo bunga ini bukan tulip (duhh bentuknya beda banget kalii). Dari sepuluh bulbs yang ditanam, yang jadi bunga ada empat. Saya juga baru tau namanya adalah Allium setelah saya kasih liat foto si bunga ke temen saya πŸ˜‚. Kata dia allium ini termasuk ke dalam genus bawang-bawangan. Pantes aja kalo si bunga dicium, bukannya wangi harum khas bunga, ini lebih ke wangi bawang hahaha.

Semoga postingan ini bisa bikin seger mata ya.

Menu Andalan di Rumah.

“Food tastes better when you eat it with your family.”

Anak-anak saya itu bisa dibilang termasuk yang gampang-gampang susah makannya. Beruntung walaupun lahir di Belanda lidah mereka cukup biasa dengan masakan dengan bumbu yang lumayan kuat. Semakin besar mereka pun makin tahan dengan pedas. Kalo suami si jangan ditanya hehe. Bahkan dia lebih tahan pedes daripada saya loh. Masakan favoritnya suami? tumis kangkung dan tempe goreng (tepung) sist hahaha.

Walaupun berani nyoba sesuatu yang baru, ada beberapa masakan yang sering jadi menu makan malam kami (pagi dan siang hampir selalu roti yang jadi menu kami). Kalo saya bikin masakan ini hampir bisa dipastikan anak-anak akan lahap makannya. Kalo liat anak dan suami makan lahap kan kitanya jadi hepi ya gak hehe. Berasa ga sia-sia gituu masakinnya. Biasanya setiap kali makan pasti akan ditemenin sama sayuran, entah itu simple salad (ketimun, daun selada, tomat dan paprika) atau sauteed veggies (brokoli, wortel, champignon, buncis dan bawang bombay). Anak-anak juga hobi makan bakwan haha. Si bakwan menjadi salah satu trik supaya anak kami yang pertama makan sayur selain brokoli, ketimun dan daun selada.

Nasi Goreng.

Anak-anak seneng banget kalo saya bikin nasi goreng. Biasanya saya bikin nasi goreng kalo kebetulan ada sisa nasi (walau sering juga khusus masak nasi untuk bikin nasi goreng). Bumbunya gampang dan semuanya cukup diiris aja. Selain kadang saya masukkan potongan wortel, saya juga suka masukkan potongan sosis atau salami. Trik utamanya adalah penggunaan mentega yang bikin si nasi goreng jadi lebih gurih. Biasanya kami makan si nasi goreng bareng dengan bakwan goreng. Cocok lah ini! 😁

dsc_17411415929717.jpg

kalo nasi goreng ini bumbunya pake sisa sambal di rumah hahaha :))

Soto Ayam dan Soto Betawi.

Kalo untuk kedua soto ini anak-anak paling suka sama kuahnya. Beberapa tahun lalu mana mau mereka makan soto (mulut mereka masih cukup standar dan ga mau banget nyoba sesuatu yang baru), tapi saya bersyukur semakin ke sini mereka pun jadi semakin terbiasa dan bilang kalo soto itu enak hehe. Kalo buat saya dan suami isi si soto kan lengkap ya, kalo buat anak-anak biasanya saya cuma masukin daging dan irisan kol (untuk soto ayam) atau kentang (untuk soto betawi).

Sate Ayam.

Bikin sate ayam versi saya gampang aja bumbunya hihi. Setelah dipotong kecil-kecil, biasanya saya marinade si daging dengan bumbu kacang khusus untuk sate yang siap pakai (merek belanda yang paling lumayan rasanya untuk bumbu sate adalah wijko) dicampur dengan sedikit minyak zaitun, kecap manis, garam dan perasan jeruk nipis/lemon. Setelah itu tusuk-tusuk trus masukin oven deh. Biasanya saya mulai di posisi biasa kemudian setelah agak kering saya ganti ke posisi grill. Panggang sampe si daging matang agak kecoklatan, abis itu santap deh.

Ikan Salmon.

Satu kali pas kami lagi pergi ke IKEA, saya iseng beli saus instan campuran lemon dan dill (citroen en dill) untuk dipasangkan dengan ikan salmon. Cara memasaknya sendiri juga tertulis di bungkusnya. Gampangnya hampir kebangetan sebenernya hahaha. Cukup beli ikan salmon filet yang sudah dipotong per porsi (dengan atau tanpa kulit), letakkan di dalam wadah tahan panas, kemudian tuang si saus ke atas si ikan, sebisa mungkin seluruh ikan terlumuri saus. Biasanya sebelum saus dituang saya suka taburi si ikan dengan garam dan bubuk lada hitam. Setelah itu diamkan si ikan yang sudah berlumuran saus selama kurang lebih setengah jam (kalo mepet juga gapapa sebenernya tanpa didiamkan dan langsung dimasak). Panaskan oven 180oC, masukkan ikan ke dalam oven, masak selama 20-25 menit, kemudian keluarkan dari oven (ini penting supaya si ikan ga overcooked. Abis itu disantap deh si ikan. Anak-anak kalo udah tau saya bakal masak ini langsung excited banget dan mereka hampir pasti akan minta lebih dari porsi biasa mereka πŸ˜€ Makanya sekarang kami pun siap saus ini selalu di rumah.

dsc_00381111194072.jpg

ikan salmon ini saya pan seared pake minyak zaitun, sementara sausnya adalah lemon butter dan dill. Setelah ketemu saus siap pakai dari IKEA saya udah lama ga bikin ini lagi :))

Steak dan Pasta.

Masak steak dan pasta versi saya ga ribet bikinnya hahaha. Selain saya suka pake saus pasta siap pakai (versi yang fresh tapi), si steak pun ga aneh-aneh marinade-nya: cukup ditaburi garam, lada hitam dan minyak zaitun aja (kalo kebetulan lagi inget kadang suka saya olesin rosemary sedikit buat aroma). Abis itu si steak dipanggang di grilled pan sampe tingkat kematangan sesuai keinginan (sambil masak si pasta di api lain). Semua beres tinggal hap sampe ludes deh haha.

dsc_4646114790850.jpg

bagian dari sapi yang paling sering kami konsumsi adalah entrecote/sirloin dan round (kogelbiefstuk).

Spaghetti Bolognaise/Meatball.

Kalo dulu saya masih rajin bikin saus tomatnya sendiri, makin ke sini saya jadi makin males dan lebih sering pake basis saus pasta siap pakai wkwkwk. Tapi si saus ini biasanya saya sesuaikan rasanya dengan menambah sedikit garam atau gula. Kalo lagi pengen saus bolognaise, biasanya saya masak daging cincangnya dulu (dicampur garam, gula pasir, sedikit penyedap dan pala bubuk) kemudian dicampur dengan basis saus tomat yang siap pakai. Kalo lagi sedikit rajin, saya akan bikin si bola-bola daging sebagai temen makan pastanya hehe.

dsc_00411372120651.jpg

Semur Daging (dan Kentang).

Semur daging akhir-akhir ini juga menjadi salah satu masakan favoritnya anak-anak. Cuma memang kalo mau si daging sampe empuk banget saya harus masak agak lebih awal (atau pake panci tekan/pressure cooker). Biasanya saya suka campur kentang juga ke dalam si semur. Bumbunya bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karna semua tinggal diblender trus ditumis sampe harum. Susahnya karna lumayan banyak campurannya. Kalo mau tau resep semur daging versi saya, bumbu-bumbunya adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, sedikit ketumbar, sedikit bubuk lada hitam, sejumput bubuk pala, sejumput bubuk cengkeh, dan cabe merah 1 buah dibuang bijinya. Jangan lupa kecap manis (cap bango andalan saya hehe) dan garam tentunya. Setelah bumbu ditumis hingga harum dan matang, langsung masukkan potongan daging ke dalam bumbu, tuang kecap manis ke dalam wajan kemudian aduk rata. Tambahkan air secukupnya, masak dengan api kecil hingga daging empuk dan kuah mengental. Kalo mau pake kentang, biasanya saya suka goreng terlebih dahulu, kemudian sesaat sebelum api dimatikan masukkan kentang ke dalam semur. Biasanya kami makan semur dengan nasi putih hangat dan sayuran yang sudah direbus/dikukus.

Sayur Kembang Kol.

Sayur kembang kol ini adalah salah satu sayur favorit saya dan almarhum bapak saya. Biasanya makannya bareng ayam goreng ato sambel goreng teri. Duh sedap banget deh. Suatu kali saya dan suami mempersilakan anak-anak untuk nyoba. Saya sendiri pesimis mereka bakal suka, tapi ternyata pada suka dongg. Saya jadi hepi karna nambah lagi repertoir masakan kami wkwkwk. Buat yang mau nyoba masak sayur kembang kol ini gampang kok masaknya. Semua bumbu cukup diiris (bawang merah 1 pc, bawang putih 1-2 pcs, cabe merah (tanpa biji kalo ga mau pedes) 1-2 pcs, kemudian batang sereh 1-2 pcs. Kadang saya tambahkan daun salam selembar, tapi di skip pun ga apa apa. Sebagai bahan campuran boleh ditambah tahu yang sudah dipotong dadu dan digoreng, dan kentang yang juga sudah dipotong dadu dan digoreng. Semua bumbu ditumis sampe harum, trus masukin si kembang kol, tambah garam dan gula sedikit, kemudian tuang + 250ml santan, masukin campuran sayur lainnya, trus masak sampe kembang kol empuk. Setelah empuk si sayur siap disantap deh 😊.

Chicken Schnitzel.

Bikin chicken schitzel sebenernya gampang-gampang ribet. Paling bete itu pas proses coating-nya plus udahannya (piring kotor bekas coating plus minyaknya itu loh!). Selebihnya si ga gitu susah ya. Setelah si ayam filet dipukul-pukul sampe gepeng, taburkan garam dan lada di dua sisi. Kalo ga suka amis boleh juga dilumuri jeruk nipis/jeruk lemon sedikit. Setelah itu diamkan selama kurang lebih satu jam. Untuk lapisan luarnya, biasanya saya pake tepung panir/roti. Lapisan pertama saya pake tepung terigu yang sudah diberi garam dan lada sedikit. Kemudian si ayam dicelupkan ke kocokan telur yang sudah dicampur dengan susu cair sedikit, kemudian potongan ayamnya digulingkan ke tepung panir/roti yang sebelumnya sudah dicampur dengan sedikit parutan keju parmesan, garam, gula pasir, lada dan oregano. Kalo ga pede dengan sekali coating, boleh sekali lagi dicelup ke dalam kocokan telur dan kemudian digulingkan lagi di tepung panir. Setelah itu goreng sampe kecoklatan deh. Hasilnya (hampir) pasti bikin anak-anak (dan bapaknya) hepi hehe.

Martabak Telor.

Nah kalo untuk yang ini agak ribet prosesnya. Tapi karna saya suka martabak, makanya buat saya sesekali bikin ini ga masalah. Walau jauh dari martabak telor abang-abang, tapi untuk urusan rasa alhamdulillah lumayan lah hehe. Dulu awalnya karna saya mau ngakalin anak saya yang pertama yang ga suka wortel sama sekali. Makanya biasanya adonan martabak telornya saya campur dengan wortel yang dipotong kecil-kecil. Selain wortel, campuran lain yang saya masukkan ke dalam adonan martabak ini adalah daun bawang yang sudah dipotong-potong, daging cincang campur bawang bombay yang sudah dimasak sebelumnya, telur orak-arik yang sudah dimasak setengah matang, dan dua atau tiga butir telur mentah. Kemudian adonan ini dikocok sampe tercampur rata. Untuk bumbunya saya cuma tambahkan garam, gula pasir dan lada hitam (juga sedikit penyedap/maggi block kalo pas lagi inget wkwk). Untuk kulitnya saya cukup pake kulit pangsit/spring roll siap pakai (frozen). Karena saya ga pake kulit yang selebar tampah kaya tukang martabak, alhasil saya harus melipat si martabak satu persatu. Kenapa saya bilang ribet ya inilah. Tapi kalo dikerjain si ya selesai juga. Apalagi kalo pas liat yang makan pada semangat, worth it deh prakarya melipat ini jadinya.

This slideshow requires JavaScript.

Mungkin ada masakan lain yang terlupa sama saya, tapi kalo saya masak masakan di atas ini hampir ga pernah mengecewakan lah hasilnya.

Masakan-masakan di atas ada di meja makan kami kalo pas saya lagi rajin ato ada waktu buat masak. Kalo pas lagi males ato ga sempet masak ya kami makan di luar aja haha, ato ga pesen online via thuisbezorg wkwkwk.

Kado dan Ulang Tahun.

Saya baru keinget kalo pernah nulis di komennya Kak Noni di salah satu postingannya yang tentang pengalaman ngasi kado untuk orang-orang tersayang yaa hihi. Nah ini dia (halah, jadi inget rubrik ini di satu koran jadulπŸ˜‚) postingannya πŸ™‚ Sebenernya kali ada nyerong-nyerongnya, tapi gapapa lah ya biar panjang postingannya wkwkwk.

Walopun punya suami yang ga begitu peduli sama yang namanya perayaan – baik ulang tahun maupun anniversary – bukan berarti saya begitu juga loh. Saya itu orangnya kalo udah perhatian, beneran perhatian tauk. Kalo kata suami saya kadang saya suka kelewat baek sama orang. Abis gimana dong, saya kan emang begitu orangnya (ecieeeeee).

Dari sekian banyak orang yang saya kasih perhatian, tentu aja yang ada di peringkat teratas adalah keluarga inti saya: suami, anak-anak, orang tua saya dan suami.

Keluarga saya sebenernya juga bukan yang suka merayakan ulang tahun. Seinget saya, sekali-kalinya ulang tahun saya dirayakan dengan ngundang temen-temen tetangga itu pas saya ulang tahun ke-5. Waktu itu pake acara tiup lilin, potong kue, bikin nasi kuning, gitu-gitu deh. Ngundangnya anak-anak tetangga aja, jumlahnya sekitar 20 orang. Buat saya itu udah rame banget! Hampir kebanyakan kado yang saya dapet adalah perlengkapan untuk sekolah macam buku tulis dan tempat pensil beserta isinya, tapi kayanya pas buka kado itu hati bahagia dan deg-degan hahaha, penasaran sama apa yang bakal didapet.

Beda jauh sama pengalaman saya dulu, anak-anak di rumah kami setiap ulang tahun selalu udah punya daftar kado yang dipengenin wkwk. Biasanya beli kadonya pun bareng sama mereka. Jadi hampir ga ada unsur kejutannya lagi lah. Untuk urusan berapa besaran maksimalnya sebelum mereka bikin wish list pun mereka paham berapa yang pantes dan terlalu mahal untuk sebuah kado (walo kadang si sulung ngeyel tapi kemudian maklum kalo kado yang dipilihnya kemahalan hehe). Sisi positifnya adalah mereka (hampir) udah pasti suka sama apa yang mereka dapet, karna mereka milih sendiri kadonya kan ya. Dan sampe sekarang pun setiap waktunya buka kado tiba mereka masih tetep excited sama apa yang mereka dapetin (karna kan kadonya walo udah dibeli jauh hari tetep ga boleh dibuka sebelum hari H).

Trus untuk urusan perpestaan, di sini juga cukup simpel. Biasanya pas hari mereka ulang tahun, mereka akan bawa sesuatu yang spesial untuk dibagikan ke temen-temen di kelasnya. Umumnya si berupa (cup)cake, donat, chips, atau permen. Selain traktatie (traktiran istilahnya lah), mereka juga akan ngadain semacam private party gitu. Mereka akan ngundang temen-temen terdekatnya dan kemudian merayakannya bareng-bareng. Ga tau kalo anak-anak lain, tapi kebetulan kedua anak saya (yang kecil belum bisa ngundang-ngundang cin😜) tiap acara pestanya ngundang sekitar 4 atau 5 orang temen mereka, plus 1 orang teman dari yang ga ulang tahun (buat nemenin main – so sweet ya). Mama papa si seneng-seneng aja, selain ga ribet ngurusnya pun lebih irit kalo ga banyak yang diundang kan wkwkwk. Nah biasanya lagi, setelah kirim undangan, temen-temennya si anak bakal nanya mau dikadoin apa. Jadi walopun belum tentu sesuai, mereka bisa kasi hint kira-kira apa yang dipengenin. Kalo dulu banyak yang kasih kado pernak pernik atau mainan, semakin besar anak-anak semakin sering dapet voucher atau kado uang dari temennya. Walo kadonya ga sebanding sama yang dikeluarin (emak perhitungaaan πŸ˜‚) tapi kami pun hepi karna anak-anak hepi bisa melakukan sesuatu yang seru bareng temen-temennya.

Lain anak, lain pula dengan suami. Dia mah setiap ditanya mau kado apa ga pernah kasih jawaban yang bener hahaha. Maksudnya setiap ditanya dia bilang ga perlu apa-apa jadi ga usah kasi kado apa-apa. Kan kita jadi kezel ya. Namanya sama suami masa kita cuekin aja siii. Mau beli kado yang mahal sekarang ga mampu karna ga punya gaji kan ya (dulu jugaπŸ˜‚). Well, karna ga pernah kasih hint apa-apa, akhirnya saya yang harus sedikit kreatif mikir kira-kira kado apa yang pas untuk dikasih ke dia. Bersyukurnya adalah dia pasti seneng sama apa (aja) yang kita kasih (murahan ya sis hahaha – dia bilang yang penting bukan materinya tapi perhatiannya). Dari pertama kali ketemu ada beberapa kado yang pernah saya kasih ke dia. Kalo pas saya liat penampilan dia perlu di-upgrade sedikit (baca: bajunya udah mulai lepek!), jadilah saya beberapa kali ngadoin dia pakaian: mulai dari kaos kaki, celana panjang, ikat pinggang, kemeja, sampai celana dalam. Tapi saya ga berani kasih kado dia sepatu atau jaket. Udah pasti ga bakal dipake deh! Selain orangnya emang ga suka gonta-ganti, dia udah punya itu dua item yang nyaman buat dia (for daily use, THE WHOLE SEASON). Jadi daripada kuciwa, mending saya mingkem aja.

Pernah satu kali saya kadoin dia tas laptop. Itupun karna tas laptop dia yang lama salah satu kancingnya lepas. Sebelnya laptop dia itu segede gaban dan berat kaya batu bata, jadi susah nyari tas yang pas. Yah, mau ngadoin laptop-nya sekalian saya kan ga mampu (lagian belom tentu cucok kan ciiin, sayang euro-nya! πŸ˜…), makanya beliin tas laptop-nya aja cukuplah. Untung muat walo agak ketat itu tas. Kalo ga yang ada saya mewek deh. Untungnya lagi sekarang dia udah ganti laptopnya sama yang agak ringanan, kalo ngga kasian banget si tas wkwk. Lain waktu saya pernah juga kasih dia kado dompet. Lagi-lagi karna saya liat dompetnya udah buluk bener hahaha. Saya waktu itu pesen di Amazon (Jerman, karna di Belanda ga adaaa), tapi karna bayarnya harus pake kartu kredit dengan terpaksa minta kartunya suami (artinya: sama aja boong hahahha, dia bayar kadonya sendiriπŸ˜‚).

Cerita seru lagi masalah perkadoan suami ini adalah pas dua tahun lalu. Jadi dia kan pas lagi ada kerjaan di California. Saya kepengen bikin surprise buat dia dengan cara beli jam tangan via Amazon US. Dia itu alergi stainless steel dan kalo pake leather straps agak bahaya untuk pekerjaan dia makanya dia cuma bisa pake jam tangan titanium. Awalnya saya cari-cari via website, tapi kemudian sebel karna harganya ngehe banget kalo saya beli dari website eropa. Satu-satunya yang saya pikir masih masuk akal (dan kantong) ya itulah, ditawarin sama Amazon amerika. Kebetulan salah satu sahabat saya kan emang tinggal di sana dan pas banget suami lagi bisnis trip jadinya saya pesen ke suami kalo sempet ketemu ato ga dateng ke rumahnya dia (suami pergi ke Santa Barbara sementara sahabat saya itu tinggalnya di West Covina – sekitar 2 jam nyetir kata dia). Lah namanya kunjungannya buat kerja, yang ada suami akhirnya ga sempet mampir doongg. Niat ngasi kejutan akhirnya saya jadi terkejut sendiri hahahaha. Mana jam tangan udah dibeliii. Awalnya saya bilang ke temen buat balikin aja jamnya ke Amazon, tapi emang ya alhamdulillah masih rejeki (jamnya dan juga tentu punya sahabat yang baik) dia bilang nanti dikirim aja ke Belanda. Sayapun hepi-hepi gimanaa gitu. Walaupun nyampenya lebih lama dan akhirnya ga jadi kejutan lagi, tapi saya seneng karna suami seneng sama jamnya.

Btw ngasih kado untuk orang tua juga gampang-gampang susah ya. Karna biar gimanapun juga orang tua cenderung ga butuh sesuatu yang berbau materi. Mereka sebenernya lebih butuh perhatian dan kasih sayang kita dibanding kado. Walopun begitu saya (juga saudara kandung saya) tetep suka kasih sesuatu ke almarhum bapak dan mama kami. Biasanya kami patungan buat beli kado untuk mereka. Bukan barang-barang mahal si, tapi kami berusaha supaya mereka sedikit hepi dan nunjukin kalo kami masih perhatian sama mereka (hiks jadi pengen mewek).

Beberapa kado yang pernah kami kasih ke almarhum bapak yang masih saya inget adalah peralatan memancing lengkap dan kado jam tangan di ulang tahun terakhir almarhum. Kado yang terakhir bahkan belum sempet dipake sama beliau semasa hidupnya (beneran mewek). Almarhum bapak berpulang ke pangkuan-Nya sebulan setelah hari ulang tahun beliau.

Sementara kalo untuk mama biasanya kami suka kasih beliau kado sesuatu yang ada hubungannya sama rumah tangga, macem tempat nyimpen beras, pisau set, mixer, gitu-gitu lah. Untuk tahun lalu karna kurang koordinasi di antara anak-anaknya akhirnya kami ga jadi kasi kado bareng untuk mama. Karna kebetulan emang pengen beliin mama saya jilbab bergo kesukaan beliau, akhirnya saya utek-utek sendiri dan pesen online beberapa jilbab untuk mama dengan harapan jilbabnya bagus dan mama suka. Alhamdulillah begitu sampe barangnya sesuai keinginan dan mama juga suka dengan jilbabnya.

Pengalaman saya ngasi kado ke mama mertua juga lumayan ribet. Selain karna dia emang udah punya (hampir) semuanya, dia juga bukan orang yang boros dan ga suka gonta ganti barang (berbanding terbalik sama sayaπŸ˜‚). Dari sekian tahun saya kenal beliau, beberapa kado yang pernah saya (dan suami) kasih ke mama mertua antara lain syal (batik sutera dari Indonesia – perasaan ga pernah dia pake wkwkwk), coklat biji kopi + kurma medjoul (kesukaan dia), flip cover untuk hp-nya (beliau hepi banget dikasi ini, karna persis apa yang dia butuhin), dan tahun lalu frame beserta foto beliau. Ada satu lagi kado spesial dari kami yang bikin dia hepi, yaitu si kecil fabian. Kenapa? Karna fabian lahir dua hari setelah Oma ulang tahun. Waktu itu memang dokter minta saya buat masuk rumah sakit untuk mulai proses persalinan pada tanggal 17 Agustus. Cuma saya sengaja minta dokter mundurin dan masuk rumah sakit sehari setelah hari ulang tahun Oma karna saya ga mau lewatin ulang tahunnya beliau. Makanya buat dia kelahiran si kecil adalah kado besar yang ga terhingga nilainya πŸ™‚

Kue ulang tahun untuk Oma, spesial bikinan saya dan suami πŸ™‚

Panjang-panjang nulis tentang kado buat orang lain, trus kalo buat saya gimana? Alhamdulillah saya juga masih dikelilingi dengan orang-orang yang kasih perhatian ke saya. Ada beberapa kado yang berkesan buat saya (karna memang punya arti yang dalem dan dari orang-orang yang saya sayang). Trus biasanya pas ulang tahun saya bakalan dapet karya ciptaan anak-anak. Biasanya berbentuk gambar atau prakarya gitu deh. Walo bentuknya kadang ga jelas, tapi saya hepi banget nerimanya. Apalagi biasanya di pagi pas hari ulang tahun mereka bakal dateng ke kamar, trus ngucapin selamat ulang tahun kemudian kasih peluk sama cium untuk mamanya. Gimana ga meleleh cobaaaa.

Kalo suami gimana? Dia mah ga usah ditanya hahahaha. Kalo liat postingan orang-orang yang suka dapet kiriman bunga ato surprise dari pasangannya, saya cukup nangis aja di pojokan kalo ngarep digituin 😭. Emang begitulah nasip punya suami ga romantis hiks. Tapi gapapa si, karna alhamdulillah walo ga romantis saya masih dapet kado yang keren-keren dari dia hahaha. Dulu pertama kali ulang tahun pas saya udah sama dia, karna pas banget saya baru kehilangan hp (yang umurnya baru sebulan) dia pun kasih saya kado hp baru. Pernah juga sekali pas saya ulang tahun dia spesial bikinin kue ulang tahun buat saya. Trus pas ulang tahun sebelum saya lahiran satu setengah tahun yang lalu dia beliin saya kamera. Umm selain itu saya ga gitu inget si kado apalagi yang lainnya hahaha. Duh maap ya suami, bukannya saya ga berbakti, tapi saya emang lupa. Kebanyakan kalo bentuknya barang emang suami ga nunggu hari spesial, tergantung kebutuhan dan permintaan saya aja. Ada satu tapi yang saya selalu dapet dari dia setiap hari ulang tahun saya tiba: ucapan selamat ulang tahun pas bangun tidur plus satu kecupan dari dia :).

Tapi emang bener kata suami dan para orang tua. Ulang tahun (atau perayaan apapun) sebenernya yang paling esensi adalah kebersamaan dan juga perhatian dari orang-orang di sekitar kita (selain kesehatan tentunya). Hari pun akan jadi terasa lebih spesial. Walau mungkin akan terasa lebih spesial lagi kalo kita juga dapet sesuatu yang pas dengan apa yang kita idam-idamkan ya gaaaak :)))

Radio.

Image via tucsonweekly.com

TV gives everyone an image, but radio gives birth to a million images in a million brains.

~ Peggy Noonan

Adakah temen-temen yang masih suka dengerin radio? Well call me old fashion, tapi saya sampe sekarang masih dengerin radio loh hehe. Mungkin ga sesering dulu, tapi ada beberapa momen yang rasanya kalo ga ada radio ga asik hahahha.

Setiap saya lagi nyetir misalnya, radio hampir selalu nyala (player di mobil saya cuma bisa pake cd player bo wkwk, maklumlah mobil jadul hihi). Selain itu, kalo saya mau nyetrika (halah emak-emak banget yak πŸ˜‚) saya lebih suka kalo ditemenin sama radio.

Dulu pas jaman SMP – SMA hampir tiap hari pasti deh dengerin radio. Biasanya saya dengerin radio di pagi hari (paginya pagi banget yes, secara saya harus berangkat sekolah pagi banget dan biasanya saya nebeng sama bapak saya hihi) dan sore. Pas saya mulai kerja, ada satu senior di bagian saya tiap dateng pasti deh nyalain radio. Dulu salah satu stasiun yang paling sering saya dengerin adalah Prambors (RasisoniaπŸ˜…). Kayanya kalo ga dengerin Prambors ga keren deh rasanya hahaha. Beberapa penyiar waktu itu yang saya masih lumayan inget ada Muthia Kasim dan Ferdy Hasan juga Becky Tumewu Fla Priscilla, Venna Annisa, dan Cici Panda (semuanya setelah agak tuaan hijrah ke stasiun lain dengan pangsa pasar usia yang lebih “dewasa” kaya Female FM dan Delta FM dan juga merambah ke televisi). Acara di Prambors yang masih lumayan saya inget adalah Morning Show-nya Angga-Irfan, sempet beberapa kali ganti MC/DJ, pasangan terakhir yang menurut saya bagus chemistry-nya adalah Arie Daginkz dan Desta. Setelah era Prambors mulai banyak bermunculan radio lain dengan genre dan konsep yang hampir sama. Pas radio HardRock FM baru mengudara, saya lumayan sering dengerin siaran Good Morning Hard Rocker Show dengan Farhan sebagai penyiarnya (kalo ga salah duet bareng Indy Barends). Setelah Farhan pindah stasiun, Indy ganti pasangan dengan Indra Bekti. Satu lagi stasiun radio lain yang saya suka dengerin siarannya adalah acaranya Ronal-Tike (RoTi) Sarapan Pagi di JakFM.

Seiring bertambah umur, saya pun ngerasa kalo lagu-lagu dan konsep siarannya Prambors jadi kurang cocok sama saya (maklum, makin tua perasaan saya jadi lebih suka dengerin lagu-lagu standar yang familiar dan ga terlalu hingar bingar hihi). Dengan genre usia yang lebih tinggi (baca: tua), saya jadi lebih sering dengerin radio Delta FM dan Female FM. Sempet juga dengerin Gen FM tapi buat selera saya pribadi ngga tau kenapa kurang ngena di hati (halah). O iya, saya juga kadang suka denger siaran radio Sonora hahahha. Penyiarnya ga ada satu pun yang saya tau, tapi cara mereka announce hampir semua mirip suaranya Maria Oentoe (cuma orang jadul yang tau kayanya nih πŸ˜‚). Suaranya semua mendesah mendayu dan lembuuut banget, berasa kaya lagi dininabobo deh hahaha.

Pas kuliah di sini dulu saya lebih sering denger player dari laptop atau di handphone. Selain ga punya radio (kalo ga salah di tahun 2008 buat streaming radio Indonesia juga masih ga bisa atau jelek deh), saya juga belom familiar sama siaran radio Belanda (well, selain DJ-nya ngomong bahasa Belanda (dulu mana ngerti 🀣), kadang mereka juga nyelipin lagu Belanda. Paling saya dengerin radio kalo pas saya numpang mobilnya temen ato (mantan) pacar hehe. Stasiun radio yang saya kenal dan lumayan muterin lagu-lagu yang familiar buat saya dulu cuma Sky FM (bisa jadi berasa familiar karna di Indonesia ada stasiun radio dengan nama yang sama ha!).

Kalo sekarang buat saya (hampir) ga masalah lagi buat denger penyiar berbahasa Belanda 😁. Selain udah agak terbiasa dan kurang lebih ngerti dengan apa yang mereka omongin, lagu-lagu yang mereka puter pun jadi lebih banyak yang berasal dari Top 40 (atau bahkan top 2000 songs of all time). Plus kayanya kuping saya mulai bisa nerima lagu-lagu Belanda walo ga semuanya hihihi. Beberapa radio yang saya sering denger di sini ada Sky FM (paling sering muter lagu-lagu Pop jaman sekarang), Q Music (kurang lebih sama konsepnya kaya Sky FM), kemudian Veronica (kalo yang ini dibanding dua stasiun yang saya sebut duluan lebih sering muterin lagu-lagu hits yang agak lawas).

Salah satu yang saya suka dari siaran radio di sini adalah kayanya hampir setiap jam mereka akan nyampein berita singkat tentang apa yang terjadi (di Belanda dan juga di dunia luar), situasi jalanan, dan juga cuaca hari ini. Di Indonesia siarannya juga suka nyelipin berita atau info-info tertentu kaya gini si yaa, tapi dulu saya mana perhatian wkwkwk. Saya agak pemalas buat baca berita (apalagi yang dalam bahasa Belanda) makanya saya seneng setidaknya kalo pas denger radio gini sekalian juga dapet informasi.

Oh ya satu lagi, saya juga suka sama radio karna ada unsur kejutannya hahaha. Maksudnya kita kadang ga tau bakal diputerin lagu apa sama si penyiar. Emang si kadang kita dapet lagu yang ga kita suka, tapi kaya hidup yang juga ga selalu mulus, mau ga mau ya hadapi dan lewati aja (ih dalem ya πŸ˜…). Cuma enaknya sama radio kita bisa ganti channel lain dan nyari yang kita suka (eh, sama hidup juga gitu kayanya y hihihi).

Masalah Sampah.

Judulnya bukan konotasi loh, ini saya beneran mau ngomongin masalah sampah wkwkwk.

Kenapa tiba-tiba mau ngomongin ini? Karna minggu kemarin saya baru aja beli tempat sampah dalam rangka memudahkan kami untuk menyortir berbagai macam sampah rumah tangga yang ada di rumah (halah).

Jadi kan di sini aturan mengenai sampah ini termasuk salah satu yang cukup ketat dan mendetail dalam hal penerapannya. Ada tiga (well, banyak) jenis sampah yang harus dipisahkan pembuangannya:

  1. Sampah organik – disebut GFT afval (Groente Fruit Tuin afval atau sampah sayuran, buah, dan kebun/tanaman). Sampah jenis ini harus dikumpulkan dan dibuang ke dalam kontainer hijau dan tiap dua minggu sekali diangkut oleh Gemeente (pemerintah kota setempat/City Hall/Kecamatan).
  2. Sampah PMD (Plastic Metalenverpakkingen en Drankenkartons afval atau sampah plastik, bungkus metal/alumunium dan sampah karton/kemasan dari minuman). Sampah PMD sebelum Oktober 2017 lalu harus dikumpulkan ke dalam plastik khusus yang bisa diperoleh dari Gemeente dan diangkut oleh Gemeente setiap 3 minggu sekali. Per Oktober 2017 dan seterusnya, sampah PMD dikumpulkan ke dalam kontainer abu-abu (yang sebelumnya dipakai untuk sampah reguler atau sampah selain GFT, PMD dan kertas) untuk kemudian diangkut oleh Gemeente setiap dua minggu sekali.
  3. Sampah kertas (Papier), termasuk kemasan-kemasan karton, kardus dan juga koran. Untuk sampah kertas biasanya Gemeente menjadwalkan pengangkutan sekali dalam tiap bulannya.
  4. Sampah reguler atau sampah lainnya yang ga masuk ke dalam kategori GFT, PMD dan kertas.
de-grijze-container-blijft-in-westerveld-foto-rtv-drenthe-archief

kontainer hijau dan kontainer abu-abu (foto via rtvdrenthe.nl)

Selain itu ada juga aturan khusus untuk beberapa jenis sampah tertentu:

  • untuk sampah barang pecah belah yang terbuat dari gelas/kaca harus dibuang ke tempat sampah khusus yang ada di lokasi-lokasi tertentu (ga boleh dibuang ke dalam sampah reguler!). Tempat sampah khusus gelas ini juga dipisahkan antara barang pecah belah dengan warna dasar putih/transparan, hijau, atau coklat.
  • Untuk sampah baterai, lampu dan minyak juga ada tempat pembuangan khusus untuk masing-masing jenis sampah tersebut (biasanya tersedia di supermarket tertentu).
  • Untuk sampah alat-alat elektronik berukuran besar (kaya tv atau mesin cuci) Gemeente menyediakan lokasi khusus untuk pembuangannya (disebut milieustraat). Di milieustraat ini kita juga bisa buang sampah pohon (batang pohon misalnya) atau sisa-sisa kayu bangunan atau lemari kayu bekas.
  • Untuk sampah tekstil kaya baju, sepatu, sprei, atau kaos kaki (yanh masih layak pakai) kita bisa membuangnya ke tempat sampah khusus yang juga lokasinya ada di tempat-tertentu. Barang-barang ini nantinya akan disortir dan kalo dianggap masih oke akan dijual di toko khusus barang bekas (kringloop).
  • Untuk sampah khusus bekas popok bayi mereka juga misahin loh wakakaka. Cuma karna alokasi kontainernya ga banyak dan terbatas biasanya bekas popok bayi ini dibuang ke tempat sampah reguler aja.

Ribet ya aturannya. Emang si Belanda termasuk salah satu negara yang udah maju untuk pengaturan sampahnya. Mereka bisa dibilang udah menerapkan zero waste alias semua sampah ini udah teralokasikan penggunaannya. Selain yang bisa didaur ulang, sampah-sampah yang ada dipergunakan sebagai sumber energi (sampahnya dibakar bok).

Sebelum Oktober 2017 kemarin kami termasuk yang malas menyortir sampah GFT, PMD dan reguler (untuk sampah yang lain udah berjalan). Bukannya apa-apa, selain suami ga mau ribet (dia yang tanggung jawab buat buang ke kontainer abu-abu wkwk), tempat sampah kami di dalam rumah yang berukuran besar (kapasitas 50 liter) ada satu dan karna tiap dua minggu sekali kontainer abu-abu akan diangkut oleh Gemeente jadi kami pikir tingkesnya aja . Temen saya yang tinggal di kota lain sempet heran dan nanya “emang boleh?” Karna dia pernah nyampur sampah GFT-nya ke dalam sampah reguler, tempat sampah dia dikasih stiker peringatan/warning dan kalo sampe dapet stiker merah sampah mereka ga akan diangkut dan mereka bakal kena denda (yang lumayan gede jumlahnya). Ga tau kenapa tapi alhamdulillah sepanjang saya di sini si belum ada drama kaya gitu kejadian sama kami haha.

Kemudian per 1 Oktober 2017, aturan ini berubah dong. Sampah reguler yang sebelumnya diangkut Gemeente dari rumah ke rumah (at least di dalam barisan tertentu) berubah menjadi kita-nya yang harus membawa sampah kita ke titik lokasi tempat sampah bawah tanah (tertentu yang sudah disediakan oleh gemeente. Suami bete dong secara sebenernya untuk urusan angkut-mengangkut sampah ini kan kita juga bayar tiap tahunnya. Biasanya dalam kontainer abu-abu itu kita bisa masukin 4-5 kantung plastik isi sampah berukuran 50-60 liter. Selain itu buat sampah yang berpotensi bau (kaya bekas popoknya fabian 😁) kita juga suka langsung lempar ke dalam kontainer abu-abu ini. Sementara sekarang karna kita yang harus jalan dan tempat sampah (bawah tanah) ini bukaannya ga besar, sekali gesek kartu (untuk buka si tempat sampahnya) cuma muat satu kantong plastik isi sampah berukuran 50 liter aja. Karna di tempat perusahaan suami ada dua kontainer jumbo (mereka diwajibkan punya) yang tiap tahun mereka bayar – satu khusus kertas satu lagi reguler, maka solusi suami adalah bawa si sampah ke kantor dan kemudian dibuang di kontainer sampah yang jumbo itu – toh mereka harus bayar mau penuh ato ga penuh tu tempat sampah.

Si kontainer abu-abu yang sebelumnya dipake untuk sampah reguler kemudian dialihgunakan oleh Gemeente untuk sampah PMD dan jadwal pengangkutan sampah PMD ini pun ditambah frekuensinya menjadi dua minggu sekali. Semenjak sampah PMD diperkenalkan sebenernya saya udah mulai misahin si sampah ini sedikit-sedikit. Cuma karna wadahnya kantong plastik saya suka bingung mau naro di mana itu kantong.  Yang ada pojokan tempat sampah itu jadi keliatan berantakan melulu. Belum lagi sekarang anak saya yang paling kecil kerjaannya ngangkut dan mainan sama bekas karton minuman yang saya kumpulin itu. Makanya saya masih suka lempar si sampah kotak minum tersebut ke tempat sampah reguler aja. Setelah aturan sampah berubah, kami pun mulai membiasakan untuk memisahkan sampah PMD ini. Cuma untuk sampah GFT karna belum nemu wadah khusus yang cocok kami masih membuang sisa-sisa makanan, sampah sayuran dan buah-buahan ke tempat sampah reguler aja. Karna bapaknya maunya nunggu sampe si sampah penuh, akhirnya kadang si sampah ini keburu bau (dari sampah sisa makanan pastinya).

Fyi, biaya buat urusan sampah ini ga murah sodara-sodara. Sebagai contoh bisa diliat di screenshot yang saya ambil dari website resmi Gemeente Heusden (tempat saya tinggal) untuk tahun 2017 dan 2018.

Biaya yang paling atas itu adalah biaya fix yang harus kita bayar tiap tahunnya. Di baris kedua dan ketiga adalah biaya (sewa) kontainer abu-abu (ukuran 240 liter dan 140 liter). Untuk kontainer hijau kita diberikan secara gratis. Sebelum Oktober 2017, untuk pengangkutan sampah reguler (yang menggunakan kontainer abu-abu) ini tiap kali diangkut kita dikenakan biaya (€8,33 per tiap kali angkut). Kemudian sejak 1 Oktober 2017 tiap penghuni diberikan kartu chip yang bisa dipergunakan untuk membuka kontainer sampah yang disediakan Gemeente dengan mengisi semacam pulsa/kredit dan tiap kali buka kontainer kredit akan dipotong (per 2017 biaya per gesek ini adalah €1,60, sementara mulai tahun ini naik menjadi €2,30). Tujuan utama mereka supaya para warganya lebih “rajin” buat misahin sampah sesuai jenisnya. Dan harus diakui strategi ini setidaknya berhasil di rumah kami hahaha (walau untuk sampah reguler kami tetap buang di kontainer sampah di kantor suami hehe).

Berangkat dari perubahan aturan ini (plus saya udah eneg liat sampah teronggok di pojokan – dan buat keamanan dan kehigienisan si unyil *cihhh) makanya di awal tahun ini kami mulai cari-cari kira-kira sistem mana yang cocok dan bisa kami terapkan di rumah. Karna jenis sampahnya banyak, otomatis kami pun perlu tempat sampah dengan wadah terpisah-pisah kann. Tapi saya pengennya walau untuk sampah ga jelek-jelek amat, plus karna dapur rumah kami cuma seuprit (rumahnya juga si wkwkwk) makanya maunya tempat sampah juga ga gede-gede amat.

Lumayan lama saya browsing urusan tempat sampah ini, tapi kok lama-lama saya jadi kezel. KENAPA HARGA TEMPAT SAMPAH AJA MAHAL BANGET! Emang ada si yang ga gitu mahal, tapi kalo mikir efisiensi dan estetika ga masuk kategori saya dan suami (lagian banyak maunya hahaha). Sekalinya ada yang space efficient dan stylish harganya masya allah bikin kantong (suami) menjerit. Brabantia termasuk salah satu leading brand buat alat-alat rumah tangga – termasuk urusan tempat sampahnya yang jaminan mutu mahalnya (kayanya karna tempat sampah mereka kebanyakan terbuat dari stainless steel). Makanya saya langsung tertarik begitu liat mereka ngeluarin varian baru yang lumayan ramah di kantong. Selain itu, suami lumayan suka sama sistem-nya, karna sebenernya kan kita cuma perlu wadah (cantik) yang gampang untuk dibawa, gampang dibersihin, dan ga ngambil space begitu banyak. Nama variannya adalah Brabantia Sort & Go. Bahan dasarnya dari plastik (bukan stainless steel) dan dari Brabantia-nya si tempat sampah dikasih 10 tahun garansi. Ada tiga jenis kapasitas, yang ukuran 6 liter, 12 liter dan 16 liter. Warnanya selain warna dasar (Abu-abu tua dan putih) ada juga warna mint blue dan kuning (lebih ke lime green menurut saya). Harga per tempat sampah bervariasi di kisaran €19 – €29. Awalnya kami beli 2, yang ukuran 6 liter (untuk sampah GFT) dan ukuran 16 liter (untuk sampah PMD) – dua-duanya warna mint blue. Begitu sampe dan dipake, kami lumayan puas dengan sistemnya. Selanjutnya kami pun beli lagi deh 2 pcs yang berukuran 16 liter untuk sampah gelas dan kertas (satu warna blue mint lagi dan satunya warna kuning – setelah keukeuh-keukeuhan sama suami wkwkwk). Sebenernya kalo dipikir-pikir total biaya yang kami (suami) keluarin buat beli tempat sampah ini ujung-ujungnya gede juga (hampir €100 buat tempat sampah doang!), cuma kami mikir ini juga kan judulnya kaya investasi jangka panjang (mudah-mudahan) dan insya allah cuma sekali beli ini aja (plus suami cocok cin, ini yang paling utama hihi).

page_1

begini penampakan si tempat sampah Sort & Go dari brabantia. lucu ya πŸ˜‰ (image via brabantiapress)

sort_go-small1

ps. no endorse ya ini, dan tulisan cuma berdasarkan pengalaman saya pribadi (di kota tempat saya tinggal), dan bisa jadi aturan di kota lain di Belanda agak beda.