Menikmati Masakan Vietnam di Belanda

“The best way to lose weight is to close your mouth – something very difficult for a politician. Or watch your food – just watch it, don’t eat it.” – Ed Koch

Ga seperti restoran yang menjual masakan khas Indonesia, India atau Thailand (kalo restoran Cina sih jangan ditanya ya hehe), mencari restoran yang menyajikan masakan Vietnam yang cukup otentik dan enak di Belanda lumayan susah buat saya yang cetek banget pengetahuannya ini (terutama di sekitar tempat tinggal kami).

Walau kemungkinan besar banyak restoran Vietnam di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam atau Den Haag, saya baru pernah makan masakan Vietnam yang enak di Den Haag aja. Ada dua restoran Vietnam yang pernah saya kunjungi. Saya tau restoran yang pertama berdasarkan rekomendasi dari teman saya yang waktu itu masih bertugas di Kedutaan. Kebetulan kata dia ibu Dubes atau pejabat diplomatik lainnya kadang suka ngajak tamu mereka untuk makan di sana. Nama restoran yang pertama adalah “NGON”, kali aja ada temen-temen yang sedang jalan-jalan ke Den Haag dan pengen makan masakan Vietnam boleh coba makan di sana. Dari pengalaman saya, memang masakan Vietnam di resto ini enak. Kalo ga jauh mah mungkin saya bakal lebih sering berkunjung ke sana deh hehe. Biasanya kalo kami makan di sana kami pesen papaya salad, fresh cold (beef) spring roll, dan sudah pasti Pho-nya (saya suka pesen yang Pho Bo Tai atau Beef Pho). Kuah Pho-nya itu enak, jernih dan ga bikin eneg. Porsinya lumayan besar, jadi buat yang makannya ga banyak bisa share sama temen. Dessert-nya juga lumayan enak, terutama yang kaya kolak ubi (namanya Che Koai Mon). Lokasi resto Ngon ini agak ke belakang Den Haag Centrum, kalo ga salah nama daerahnya Groenmarkt.

ngon-vietnamees-restaurant

via city guide

ngon-vietnamees-restaurant1

Papaya Prawn Salad. Image via Tripadvisor

Restoran Vietnam lain yang pernah saya kunjungi di kota yang sama adalah “Little V”. Untuk lokasi Little V lebih di Centrum (kalo dibandingin sama Ngon), bersebelahan dengan rumah makan Indonesia “Si Des”. Kalo menurut saya, untuk makanan di Little V kurang umph, tapi resto ini menang ambience dan minumannya yang jauh lebih variatif dibandingkan Ngon. Buat yang pengen lamaan dan nyaman ngobrolnya, Little V menang deh. The food itself is not that bad, cuma emang kalo dibandingin Ngon sedikit dibawah untuk rasanya. O ya, kalo saya liat Little V ini punya cabang di Rotterdam.

Eksterior dari Little V. Image via delicioustravel

Sebagian interior dari Little V. Image via Travellust.

Menu yang pernah saya pesan di Little V. Foto dokumen pribadi.

Nah, karena tiba-tiba kangen masakan Vietnam (kalo kita bela-belain ke Den Haag cuma buat makan suami males hihi), minggu lalu saya dan suami browsing buat nyari restoran Vietnam di dekat-dekat tempat tinggal kami (kira-kira yang ga lebih dari 20 KM jaraknya dari rumah kita lah wkwk). Thanks to Google, kebetulan kami nemuin satu restoran yang kalo diliat dari review-nya lumayan bagus (bintang 4 dari 5), nama restorannya “Vin Pearl”. Lokasinya bersahabat banget, karna terletak di Stationplein, bersebelahan dengan stasiun kereta dan terminal bus Den Bosch. Setelah kita liat dan menimbang kalo menunya cukup kids’ friendly (setidaknya buat anak-anak kami), lalu cus-lah kami ke sana. O ya, sebelumnya kami sudah buat reservasi terlebih dahulu buat amannya.

Pintu masuk Vin Pearl. Image via Dailydinner.

Kami reservasi untuk makan malam jam 17.30 (di rumah kami biasa makan malam paling lambat jam 18.00). Sesampainya kami di sana, cuma kami pelanggan yang dine-in di jam yang sama, dan sekitar sejam kemudian baru ada pelanggan lainnya. O ya, restoran ini juga menerima delivery order via thuisbezorg.nl, dan kayanya si yang order untuk delivery ini lumayan banyak karna pas kita di sana pelayannya lumayan sibuk bolak-balik. Untuk ukuran restoran asia, interiornya lumayan bagus dan ga corny (saya cuma ga suka musiknya). Pelayannya cukup sigap, menu-menu yang kami pesan juga lumayan cepat keluar dari dapurnya.

Sebagai appetizer, saya dan suami memesan fresh cold spring roll dan crispy pancake, sementara anak-anak memesan lumpia goreng isi ayam. Rasa dari kedua makanan yang kami pesan bikin fresh dan ga berat, sesuai dengan tujuan makanan pembuka. Untuk main dishes anak-anak pesen mie goreng (kebanyakan tauge kalo kata anak saya yang perempuan), suami pesen rolled minced beef dengan rice noodles, sementara saya pesen beef pho. Kedua main dishes yang suami dan saya pesan dua-duanya tidak mengecewakan. Menurut saya rasa kuah Pho-nya cukup balance – ga keasinan ga flaw juga ga bikin eneg rasanya. Yang lumayan menarik dan belum pernah kami coba adalah menunya suami. Jadi si minced beef-nya itu digulung pake piper leaves, sejenis daun sirih tapi rasanya agak beda dan ga tajam. Sementara si rice noodles-nya ga tau dikasih apa tapi warnanya jadi agak keunguan gitu dan rasanya gurih. Surprisingly good lah.

2017-06-11-11-20-49

Banh Xeo or crispy pancake with beef, beansprout and onion (foto dok. pribadi)

2017-06-11-11-35-00

Goi Cuon Tom or fresh cold spring roll with shrimp and veggies filling (foto dok. pribadi)

2017-06-11-11-39-11

Banh Hoi Bo La Lot, grilled minced beef rolled with piper leaves (foto dok.pribadi)

2017-06-11-11-42-09

Pho Bo Tai atau Beef Pho (foto dok. pribadi)

Sebagai penutup, kami nyoba salah satu menu dessert mereka, yaitu Vin Pearl Matcha Green Tea. Menurut kami rasa green tea-nya terlalu subtle alias ga terasa, yang menonjol adalah rasa susunya. Enak si tapi agak kurang sesuai ekspetasi saya.
All in all, restoran ini menurut saya lumayan otentik dan enak masakannya. Besar kemungkinan ini bukan terakhir kali saya akan makan di sana (dengan catatan restorannya ga tutup atau pailit ya hehe). Lumayan lah sebagai pelepas rindu kalo lagi kangen sama masakan Vietnam 🙂

“Vietnamese food has probably been saved from the mass market because most people never master the sauces and condiments that must be added to the food, at the table, for its glories to become apparent. It’s too much trouble, and a lot of people don’t like asking for help, especially if the interaction involves some linguistic awkwardness.” – Tyler Cowen

Resep Rainbow Cake

Draft tulisan ini sebenernya udah lama banget ngendap di blog saya. Setahun yang lalu, anak kami yang perempuan request dibuatkan rainbow cake untuk ulang tahunnya dan kami mengiyakan permintaannya. Selain penasaran, kami juga memang suka eksperimen dengan baking walaupun ga sering-sering amat hehe. Di Belanda juga Rainbow Cake ga gitu tenar dan sampe sekarang pun saya belum nemuin toko yang jual rainbow cake ready to eat di sini. Mungkin ada ya kalo kita order khusus, tapi biasanya kalo order harganya mahal dan belum tentu rasanya sesuai dengan selera kami (belagu ya :D). Anyway, akhirnya saya mutusin buat browsing resepnya aja di internet.

Saya nemu resep rainbow cake di internet cukup banyak, tapi hampir sebagian besar resep yang saya temuin measurement-nya pake US system (pake ukuran cup, bukan metric/gram). Selain itu kalo saya liat dari perbandingannya kadang agak gimana gitu (biasanya sebelum nyoba satu resep saya liat dulu apakah resepnya masuk akal, mudah diikuti dan ingredients nya ga aneh-aneh hehe). Saya akhirnya nemu satu resep yang buat saya (dan suami) cukup make sense, kelihatannya mudah diikuti dan ukurannya pake metric system. Alhamdulillah setelah pertama nyoba bikin satu resep dan cukup oke hasilnya, pas bikin si kue komplit pada hari ulang tahun si eneng kuenya berhasil dibuat dengan sukses. Makanya saya mau share resepnya di sini, kali aja ada temen-temen yang mau coba juga (sekalian buat contekan saya juga kalo pas mau bikin lagi hihi).

Saya coba untuk menuliskan resepnya di sini dalam bahasa Indonesia. Kalo ada yang mau lihat resep aslinya yang dalam bahasa Inggris boleh klik linknya di sini ya. Selamat Mencoba =)

Rainbow Cake

Ps. Untuk membuat Rainbow Cake enam lapis (enam warna) resep cake dibawah ini dibuat sebanyak dua kali ya.

Bahan-bahan (untuk Cake):

225gr mentega, simpan dalam suhu kamar
225gr gula pasir halus
1 sendok teh (5ml) ekstrak vanila
4 butir telur ukuran L, dalam suhu kamar
225gr tepung terigu, ayak
Pewarna makanan (Food colouring) – merah, orange, kuning, hijau, biru dan ungu. Kami menggunakan Wilton Gel Food Colouring.

Bahan Icing (Cream Cheese Frosting):

100gr mentega, lembutkan (simpan dalam suhu kamar)
1 sendok teh ekstrak vanila
Kira-kira 125gr gula halus, ayak (dan sedikit ekstra bila diperlukan)
4 x 250gr cream cheese (saya cuma pake 3 x 250gr aja, karena anak-anak lebih prefer basic/vanilla butter cream daripada cream cheese frosting).

Cara Membuat Cake:

  1. Panaskan oven sampai 180 derajat celsius
  2. Siapkan loyang bulat (tipis) ukuran 20 cm, alasi dengan kertas kue (baked paper) dan olesi dengan mentega/margarin.
  3. Kocok mentega (yang sudah lembut teksturnya – karna disimpan di suhu kamar) dan gula pasir menggunakan mixer sampai rata dan halus serta warnanya berubah menjadi sedikit putih (pucat). Lama pengocokan kurang lebih 5-10 menit.
  4. Masukkan ekstrak vanilla dan telur satu per satu (pastikan telur tercampur rata sebelum yang berikutnya ditambahkan ke adonan). Matikan mixer.
  5. Tambahkan tepung terigu menggunakan spatula dan dengan menggunakan teknik folding (diaduk dari bawah ke atas) sedikit demi sedikit sampai habis.
  6. Bagi rata adonan menjadi tiga bagian (pastikan beratnya terbagi dengan rata ya). Tambahkan pewarna makanan pada masing-masing adonan. Sebaiknya pewarna ditambahkan sedikit demi sedikit sampai adonan mencapai warna yang diinginkan. Biasanya (berdasarkan pengalaman saya) pada saat matang kue akan berwarna lebih terang dari adonan yang belum dipanggang.
  7. Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah disiapkan sebelumnya, panggang di oven selama kurang lebih 15-20 menit. Gunakan tusuk gigi untuk mengecek apakah kue sudah matang sepenuhnya atau belum.
  8. Setelah matang, keluarkan kue dari oven, dinginkan selama beberapa menit untuk memudahkan proses pemindahan dari loyang.

Ulangi kembali resep ini untuk membuat cake dengan tiga warna lainnya.

Cara membuat Cream Cheese Icing/Frosting:

Kocok mentega dan ekstrak vanila sampai mentega berwarna pucat dan tekstur menjadi halus. Tambahkan gula halus, aduk/kocok sampai rata. Kemudian tambahkan cream cheese dan aduk sampai tercampur rata dan tekstur icing menjadi halus. Cicipi adonan icing dan apabila terasa kurang manis bisa ditambahkan gula halus lagi (sebaiknya sedikit-sedikit) sampai rasa manisnya sesuai selera.

*untuk vanilla butter cream resep bisa nyontek dari link ini 😉

Kalo untuk menyusun adonannya temen-temen pasti udah pada tau ya hehe. Biasanya untuk Rainbow Cake susunan warnanya dari tumpukan paling bawah sampai ke atas adalah: ungu, biru, hijau, kuning, orange, merah. Boleh juga ditumpuk dengan susunan warna lain sesuai selera kok. Untuk Rainbow Cake yang classic biasanya bagian luarnya hanya dengan olesan cream cheese icing atau vanilla butter cream saja, tapi kalo mau dibuat lebih menarik bisa juga dilapisi dengan fondant/marzipan, atau diberi sedikit sugar sprinkles, atau bisa juga ditutup dengan M&Ms. Untuk tahun lalu saya kerajinan (dan kebetulan belum ada bayi jadi masih lumayan ada waktu senggang) jadinya Rainbow Cake-nya saya tutup pake M&Ms. Hasilnya keren si, tapi ngerjainnya itu loh, perlu kesabaran dan kitanya kudu telaten, plus susah motongnya! :D. Belajar dari tahun lalu akhirnya untuk tahun ini kami cuma kasih M&Ms di bagian atas cake nya aja, sementara untuk sekelilingnya kami pake marzipan. Lumayan lah kalo buat cake anak-anak hehe. Kalo buat dewasa sih prefer kasih sugar sprinkles aja dehhh biar kesannya rustic gitu (asik).

Anyway, semoga yang mau nyoba bikin sukses ya, saya sertakan sedikit foto cake-nya dari hasil karya saya tahun lalu  dan tahun ini, mudah-mudahan memicu temen-temen buat nyoba. Goodluck!

mtf_peokr_1251

the cake from our first attempt, using one recipe

dsc_2896-001

and this is the cake we made this year =)

Burger (patty) a la Jamie Oliver

mtf_MIzxw_823.jpg

This version of homemade burger is one of our little family’s favorites. I got the recipe from Jamie Oliver’s website. So far I got no complain from my husband and the kids, thus its a good sign and quite a proof that this patty is kid’s friendly 🙂

For those who want to make it at home as well, you can check directly on the website (click here), or check my own (simpler) version of the recipe here below.

Burger Patty a la Jamie Oliver

Ingredients:

  • 300-400 gr minced beef
  • half of large/medium size onion (or red onion) or one piece of onion if it’s not that big, peeled, chopped and then sauted with a bit of olive oil until softened and fragranced, cool it down
  • 1 pc egg (preferably size L)
  • 3-4 handful of breadcrumbs
  • 1 handful of (freshly) grated parmesan cheese
  • 1 teaspoon of salt
  • 1 heaped teaspoon of ground black pepper (we put the pepper quite a lot since both of the kids really like pepper taste :))

To serve the burger:

  • Italian buns if available (or regular large burger buns)
  • Salad leaves
  • Sliced cheese (cheddar or any other cheese you like)
  • Gherkin/Pickled cucumber
  • Cucumber
  • Tomato
  • Mayonaise
  • Ketchup
  • Chilli sauce

Method:

Mix all the burger patty ingredients (including the cooled down sauted onion) in a bowl. Mixed them really well with your hands. If you think the burger mix is still too wet (or soft), you can add a bit more of breadcrumbs (don’t add too much, otherwise the patty will become too dry). Then divide the mixture into approximately 6-8 equal balls for burgers.

Wet your hands and roll the balls into burger-shaped patties about 2 cm thick (or any size you like :)). Place your burgers on the oiled baking tray and pat with a little olive oil. Cover them with cling film and put the tray into the fridge for at least an hour, or until the patties firm up (I usually just leave them for a while – around half an hour is also ok). If you want to cook the patty on a grill or oven, don’t forget to preheat them first (when you start doing the mix).

If using a frying pan (or griddle pan), put it on a high heat now and let it get really hot. Add a bit of olive oil and then throw the burger patty into the pan. According to Jamie, however you decide to cook your burgers, they’ll want around 3 or 4 minutes per side – you may have to cook them in batches if your pan isn’t big enough. When the burgers are cooked to your liking and it’s all looking really good, take them out from the pan.

In between the time, if you are using the half-baked (italian) buns like we do here (it’s much nicer than the ready-to-eat buns btw :p), while you cook the patty you can start to bake the buns in the oven (in accordance to the instruction on its package – usually will take around 8-10 minutes).

After the buns are nicely baked, halve them and then add all the complimentary items as many as you like. Don’t forget to put your burger patty, and now your homemade burger is ready to serve 😉

Long Haul Flight, Mudik dan Hamil (2).

DSC_2224

Kamboja yang sedang mekar di rumah mama. Such a beauty 🙂

“You can kiss your family and friends good-bye and put miles between you, but at the same time you carry them with you in your heart, your mind, your stomach, because you do not just live in a world but a world lives in you.”
― Frederick Buechner

Memang ya, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan (hampir) selalu memberikan a certain kind of feeling. It will always be a part of you. Rasa nyaman, homey, terutama kalo keluarga dan sahabat yang kita miliki masih bisa kita temui dan ada di sekeliling kita, best feeling deh pokonya.

Sesampai di rumah, seneng banget akhirnya bisa ketemu mama, kakak adik dan keponakan. Saya langsung teler tapi hihi, secara perjalanan dari bandara ke rumah mama hampir sama aja lamanya kaya terbang dari jakarta ke aceh! tapi alhamdulillah kami tiba dengan selamat. Pengen cerita-cerita akhirnya ditunda besoknya supaya saya lebih fresh. Bersyukur banget, saya yang biasanya jetlag – terutama masalah jam tidur – kalo balik dari eropa, kemarin hampir ga gitu berasa.

Hari pertama sarapan, so pasti pake nasi uduk langganan hahaha. Jadi ada ibu-ibu yang jual nasi uduk di deket rumah, rasanya itu pas banget sama lidah saya. Bukan yang jenis nasi uduk betawi, tapi kalo yang ini lauknya pake telur dadar iris dan tempe kering plus sambal goreng dan kerupuk. Simpel tapi enak banget. Setelah sarapan, saya dan kakak-adik olah raga ke taman kota BSD. Cuma jalan santai aja si ikutin track, tapi lumayan lah daripada ga olah raga sama sekali yah. Abis itu jajan deh hahaha :p

Sebelum mudik, saya udah bikin semacam itinerary kasar (kali ini di otak aja tapi :p) kira-kira apa atau siapa aja yang mau saya lakukan/temui selama di Indonesia. Kali ini karna berangkat sendiri jadi lebih santai dan ga banyak rencana. Cuma karna ada beberapa prioritas dan yang akan saya temui ini agak sibuk jadwalnya jadilah kami harus bikin rencana sebelum saya tiba. Minggu pertama praktis hanya kumpul di Bogor bareng sahabat saya sewaktu kuliah dan persiapan acara syukuran/pengajian 4 bulanan kehamilan saya di rumah (pas acara sebenernya udah lewat 4 bulan si hehe). Tanggal yang kami pilih untuk syukuran/pengajian bersamaan dengan 2 tahun meninggalnya almarhum bapak, jadi pas saat acara juga sekaligus mendoakan almarhum bapak. Rencana awal cuma pengen ngundang tetangga sekitar aja, tapi akhirnya kita putuskan untuk ngundang keluarga juga (adik-adik mama dan almarhum bapak beserta anak-anaknya).

Untuk selebihnya saya tidak bikin rencana apa-apa lagi. Kalo biasanya setiap liburan bareng suami dan anak-anak kita pergi keluar kota supaya anak-anak ga gitu bosen, kali ini saya cuma stay di rumah aja. Sempet juga pengen ajak mama dan lainnya untuk weekend getaway karna kebetulan persis sebelum jadwal flight pulang mama saya berulang tahun. Tapi akhirnya gagal karna keponakan saya terkena demam berdarah dan harus dirawat 😦

Di minggu pertama saya dan sahabat saya (kami berlima, cuma sayang yang satu (Inge) pindah ke LA dan kita ga bisa dapet tanggal mudik yang sama – pas dia pulang seminggu kemudian saya baru mudik huhu) rencana untuk stay di Bogor. Sahabat-sahabat saya ini sampe ambil cuti dong supaya bisa nemenin saya hari Seninnya. Salah satu sahabat saya, Erina, dari lahir memang tinggal di Bogor, dan sebelum saya dan Inge pindah kami sering menghabiskan waktu bareng-bareng nginep di sana. Tapi sayangnya lagi, salah satu sahabat saya, Lia, mendadak ga bisa ambil cuti hari Seninnya karna ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. Akhirnya cuma saya dan sahabat saya satunya lagi, Melissa, yang nginep di tempat Erina. Bicara tentang teman dan sahabat, mungkin di lain waktu saya akan cerita tentang mereka di postingan terpisah hehe.

Back to the story, jadi seperti biasa tujuan utama kalo berkunjung ke Bogor adalah wisata kuliner dong haha (selain tentu nengokin Erina dan keluarga). Enaknya punya sahabat yang orang lokal itu kita jadi bisa tau tempat mana yang rekomen untuk dikunjungi, dan biasanya tempat-tempatnya itu bukan yang orang banyak tau ato terkenal karna omongan mulut ke mulut.

Rumah makan pertama yang kami kunjungi untuk makan siang adalah Restoran Yama Masu di Sentul City (Ruko Plaza Niaga 1). Resto ini menyajikan masakan Jepang yang cukup otentik (ini penting secara Erina agak rewel sama masakan Jepang karna dia setengah jepang hehe). Koki resto ini menurut info dari Erina dulu kerja di restoran Sakura yang ada di lebak bulus (resto Jepang favorit kami sebelumnya, tapi range harganya lumayan tinggi). Buat kami ini recommended deh, rasanya memang enakk dan harganya lumayan ga gila. Malah Erina suka request menu modifikasi alias yang ga ada di menu dan sama mereka dibikinin dong. Kemarin pas kami ke sana saya pesen set menu (teishoku) yang isinya beef teriyaki, rice, miso soup, side dish dan japanese pickles. Selain itu kami juga pesen side dish edamame, salmon salad, dan chuka kurage (jelly fish). Sayang banget ga nyoba sushinya karna yakin ga bakalan kemakan kalo pesen – porsinya gede ternyata! Temen-temen yang lain ada yang pesan ramen (Lia), nasi goreng salmon untuk O (Erina’s son), Chicken Katsu Curry (Erina’s hubby), Chicken katsu teishoku (Melissa’s), dan menu modifikasi untuk Erina (something with sushi rice and a lot of toppings on top).

Selesai makan kami meluncur ke rumah Erina. Well, ga langsung ke sana si tapi mampir dulu beli martabak hehehe. Kalo biasanya kami beli martabak di daerah tajur (martabak air mancur), kali ini kami beli martabak pecenongan. Untuk rasanya juga kali ini beda. Biasanya kami pasti pesen martabak keju-nangka dan coklat nutella, kali ini kami pesen martabak rasa Black Oreo-Cheese, Red Velvet-Cheese, dan mini Nutella. Dan so pasti martabak telornya hahhaha (kalap bener ya:p). Ujung-ujungnya si sebenernya ga dimakan langsung juga. Akhirnya ini martabak(s) kami makan pas sarapan besoknya. Di jalan kami juga sempet beli duku (senengnyaaa karna lagi musim). Sampai di rumah Erina dukunya langsung diserbu donggg, terutama sama anak-anak. Ga nyangka mereka suka duku (dan bisa makannya!).

Untuk makan malam, tadinya kami rencana mau makan di rumah makan jawa timuran (seafood), tapi karna udah kemaleman trus kehabisan jadinya kami putar haluan dan makan di Lemon Grass, resto yang lagi ngehits banget di Bogor. Dimana-mana di social media banyak banget yang posting foto dan rekomen resto ini. Kalo kata Erina, ini resto ga pernah sepi (kalo liat dari parkirannya yang penuh melulu). Mau weekdays ato weekend sama aja, makanya Erina yang orang bogor pun belum pernah kesana.

Kami sampai di Lemon Grass udah jam 9 malem, tempat masih lumayan full, tapi beruntung pas kami sampe ada spot yang muat untuk kami semua (walau di bagian smoking area). Kalo menurut saya, tempat ini memang ditujukan untuk nongkrong, bukan untuk bener-bener makan. Suasananya enak, interiornya keren, tapi kalo untuk makan beneran agak susah. Bangkunya banyakan lebih untuk santai. Untuk makanannya sendiri not that bad kok. Lumayan enak malah, cuma untuk harga yaa harga cafe lah ya, agak lebih tinggi dari rumah makan biasa. But again, all in all its not that bad.

pixlr_20160411230925760

cornucopia of food I had on the first day in Bogor 😀

pixlr_20160411232529107

Us 🙂

Keesokan harinya, tadinya kami rencana mau cari-cari makanan yang seru di pasar pagi Sentul (makanan tradisional kaya nasi kuning ambon, panada, gorengan dan lain-lain), tapi kita bangun kesiangan dong hahaha. Ya udahlah jadinya kita makan apa yang ada di tempat Erina aja, abis itu kita meluncur ke baby shop sebentar, mampir ke roti unyil venus, beli asinan bogor dan menuju rumah makan favorit kami lainnya, Warung Ngariung (ngetik namanya aja udah bikin saya ngeces niih hahhaha). Tiap ke Bogor sebenernya pengennya ke sini, tapi karna lokasi dan rame tiap weekend makanya kami ga bisa juga selalu ke sini. Untungnya pas kami ke sana kan hari Senin, jadi aman hehe. Menu favorit kami di sini Ayam bakar bekakak dan sambal dadaknya. Duh ini dua enaknya bikin stress soalnya jadi maunya nambah nasi terus hahahha. Selain menu ini, gurame goreng terbangnya juga enak, sayur asemnya juga, tempe mendoannya, dan sambal-sambal lainnya (sambal mangga juga rekomen). Pokonya selera saya banget lah. Mulut kampung banget ya hihi. Dan udah segitu banyaknya kami makan, kami cuma perlu bayar ga sampai setengahnya dari billing order kami di Lemon Grass! makanya cinta banget sama rumah makan ini 😀

pixlr

Our meals at Warung Ngariung. Slurp!

Selesai makan siang kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Melissa pake gojek trus naik kereta dari stasiun bogor ke stasiun terdekat dengan Rawamangun, sementara saya pake Uber dari rumah Erina ke rumah mama saya. Berhubung pertama kali pake Uber, saya bisa pake voucher potongan harga dari Erina’s hubby, dan you know what, saya dong ga perlu bayaaar alias di charge nol!. Karna kasian (dan surprised banget wkwk) akhirnya saya kasih tip lebih aja ke pak supirnya.

Di hari minggunya, kami mengadakan syukuran dan pengajian di rumah. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Banyak doa-doa dan wejangan yang diberikan dari keluarga dan tetangga. Yang bikin seru ya tebak-tebakan jenis kelamin dari rasa rujak hehe. Hampir semua yang nebak sesuai dengan hasil USG loh! hebat ya 😀

IMG-20160417-WA0001

Mom and I.

Di minggu kedua saya lumayan banyak ketemu dengan teman-teman. Mulai dari Bas si nederlander temen kuliah di Tilburg yang sekarang kerja di Jakarta, geng di kantor, geng jaman kuliah, geng masa SMA, geng dari SMP, sampe geng komplek hahahha. Seru! Ampun ya, saya gangster banget ternyata :p Alhamdulillah mereka masih perhatian dan nyempetin untuk ketemu di sela-sela kesibukan mereka. Walau cuma sebentar tapi buat saya itu berarti.

Untuk hari-hari selebihnya semasa saya di sana saya habiskan bareng mama dan keponakan. Kakak dan adik saya kan kerja, jadi ga bisa juga diajak kumpul sering-sering. Belum lagi kakak saya yang harus ekstra jaga anaknya yang dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah sebelum saya pulang kondisi keponakan sudah membaik, dan waktu saya tiba di Belanda dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Di hari saya harus kembali terbang ke Belanda, mama saya berulang tahun. Karena situasi dan kondisi akhirnya kami tidak ada acara khusus untuk merayakan. Tapi saya dan adik saya bikin surprise dengan memesan cake spesial untuk mama. Ga pake tiup lilin ataupun potong kue, yang paling penting berdoa semoga mama selalu diberikan berkah kebahagiaan, kesehatan, kesabaran dan ketenangan dalam hidupnya. Alhamdulillah saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dan kumpul dengan mama, semoga mama diberikan kesehatan dan Insya Allah mudah-mudahan nanti bisa kunjungan ke Belanda pada saat saya melahirkan nanti. Aamiin.

collageTR.jpg

Geng semasa SMA, sayang ga semuanya bisa kumpul. Btw tau ga nama gengnya apa? TR alias Tim Rumpi dong wkwk. Namanya ini yang kasih bukan kami, tapi temen-temen cowo yang mungkin tiap kumpul bareng suka rumpi yah hihi. 

collageKomplek.jpg

temen-temen masa kecil di komplek. syari’ah semua ya kecuali saya :p semoga segera menyusul, aamiin.

13043403_10153700038449405_1958056048051220126_n

kalo yang ini geng jaman SMP dulu. Nama gengnya lebih parah dong, Zombie kemudian ganti nama jadi Da PinkPeppers hahahhaa (duh) 

collageG13

Geng susah seneng selama kuliah S1 dulu di UI. Dijulukin G13 karna jumlah kita ada 13 orang.

collageOFFICE

Kalo yang ini temen-temen seperjuangan di kantor HKI. 

DSC_2237(1)

Blackforest Cake yang kami beli untuk mama 🙂

collageFAM

Parts of mi familia. Too bad I forgot to take any photo with the whole fam grrr.

Sedikit mengenai perjalanan kembali ke Belanda, menurut saya untuk trip yang ini alhamdulillah lebih lancar dan terasa lebih smooth dibanding waktu berangkat. Selain kayanya karna persiapan saya yang udah lebih mateng (berdasarkan pengalaman sebelumnya), juga karna faktor penerbangan yang cukup tenang alias sedikit turbulensi deh. Saya bisa tidur dengan nyenyak di leg pertama (sebelum terbang saya nenggak paracetamol :D), waktu transit yang lebih masuk akal (ga terasa terburu-buru), dan saya sendiri yang mungkin udah bisa cope up dengan kondisi yang ada. Sesampai di Schiphol trus ngeliat suami dan anak-anak duh senengnyaaa. Anak-anak langsung minta peluk, bapaknya cuma kebagian koper ajah :p

Satu yang bikin saya ngerasa jetlag adalah bahasa, sepanjang jalan menuju tempat parkir (sampe rumah) anak-anak langsung cerita segala macam nyerocos pake bahasa belanda (mereka seneng cerita ke kami, dan memang kami biasakan untuk selalu bercerita). Rasanya aneh setelah dua minggu penuh cuma denger orang lain ngomong dan ngoceh pake bahasa indo doang sis. Untungnya ga lama-lama jadi langsung tune in deh sama apa yang diceritain sama mereka hehe.

Cuma…sepulang dari Indonesia perasaan kok saya makin berat bawa badan dan perutnya semakin keliatan buncitnya. Usut punya usut (tsaah) ternyata selama dua minggu liburan itu saya naik 2 kilo dooong hahaha. Oh ya, juga selama di Indonesia itu beberapa kali kaki saya bengkak hiks. Pola makan yang ga beraturan (yaiyalaaah, banyak makanan enak di sana!), plus cuaca dan banyak jalan kayanya yang jadi penyebabnya. Begitu saya di Belanda, alhamdulillah kaki kembali normal (ga bengkak lagi). Kalo makan si ya otomatis menyesuaikan ya. Tapi perut tetep makin buncit ahahaha. Alhamdulillaah lah ya, mudah-mudahan si dedek bayi sehat terus dan ga nyusahin mamanya 🙂 (aamiin).

Seperti Barbara Bush bilang, cherish your human connections – your relationships with friends and family. Dan satu lagi, enjoy life while you live 🙂 Sekian dulu cerita mudiknya ya kawan-kawan. Lain waktu nanti saya mau cerita tentang kehamilan saya boleh yaa :).

ps. all photos were taken with mobile phones, or received via WA, thus sorry for the lousy result 🙂