2nd Stop: Billund, Denmark.

“If there was no Lego in Billund, there will almost be no Billund… Lego is Billund, and Billund is Lego.” Jorgen Vig Knudstorp

#tidur bersama #opa (ceeitanya😂) #kids #siblings #zomer #vakantie #legoland #billund #denmark #2017 #nofilter

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

Kami berangkat menuju Billund dari Hamburg sekitar jam 11 siang. Di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk makan siang di rest area yang kebetulan pas kami lewati pada saat jam makan siang. Salah satu kelemahan cara kita ini adalah makanan yang kita dapet akhirnya ya apa adanya deh.

Setelah menyetir selama kurang lebih 3 jam lebih, akhirnya kami sampai juga di Billund, Denmark. Udah pada tau kan yaa, tujuan utama kami ke sini adalah Legoland hehe. Kalo dulu pas di Legoland Günzburg kami menginap di Legoland Resort-nya, kali ini kami menginap di Bed & Breakfast Gregersminde (well, actually we didn’t get breakfast, that’s just how they call it 😛) yang lokasinya ga jauh dari Legoland. Saya sempat kepikir untuk stay di Legoland Resort-nya juga si, tapi begitu saya cek harganya langsunglah saya mundur teratur. Udah ini tempat turis kumpul, pun letaknya di Denmark – which is known as one of the expensive countries to live!. Untung aja saya masih bisa booking si B&B ini, secara sebelumnya setiap saya nyari tempat buat stay dengan harga yang agak masuk akal (dengan lokasi yang ga begitu jauh plus kondisi yang cukup nyaman) mesti semuanya either fully book ato ga harganya bikin saya urut dada hahaha.

Tempat kami stay ini lumayan melebihi ekspektasi kami. Saya pikir lokasinya bakalan agak ke dalem di tengah hutan dan kabinnya banyak kaya di tempat-tempat outdoor camping dengan holiday hut gitu. Tapi ternyata si B&B ini cuma ada satu kabin yang terpisah, selain itu mereka ada kamar yang lokasinya di rumah utama dan beberapa kabin model rumah susun gitu. Mereka nyediain sepeda yang bisa kita pakai gratis, tempat parkir kendaraannya juga lumayan. Selain itu di sana ada juga playground dan lapangan futsal.

Kabin kami sendiri bisa dibilang compact, efisien dan lengkap. Kamarnya ada 2 (satu kamar dengan double bed dan satu kamar dengan bunk bed). Di kabin juga tersedia dapur beserta peralatan makan dan kelengkapan memasak lainnya (bahkan bread toaster dan coffee maker juga ada), kamar mandi (shower) lengkap dengan hair dryer, plus sesuai request kami juga disediakan baby cot dan baby chair.

Billund  sebenernya kota yang ga begitu besar – tapi juga ga kecil. Seperti yang saya kutip di atas, kalo Lego ga pertama kali dibuat di sini, mungkin orang-orang ga akan kenal dengan Billund. Sepanjang perjalanan menuju Billund yang kami lewati hampir ga ada gangguan dan bebas dari macet (jauh beda dengan jalan menuju Hamburg – baru nginjek gas ehh di depan ada perbaikan jalan lagi yang berarti ngantri lagi wkwk). Trus, entah kaminya yang bego atau emang ini kenyataan ya, tapi menurut kami city center-nya Billund itu kecil banget! perasaan kampung tempat kami tinggal lebih lengkap dan lebih gede deh wkwk. Suami bahkan nyeletuk, “Kayanya Legoland jauh lebih besar dan rame kalo dibandingkan sama Centrum Billund-nya sendiri deh.” Jadi center of crowd-nya Billund ya si Legoland ini lah (dan Billund Airport yang lokasinya berseberangan dengan Legoland).

Ada satu lagi yang lumayan mencolok yang kita liat di centrum-nya. Hampir sebagian besar restoran yang kita temuin di sana menawarkan menu yang sama: pizza, pasta and grill. Apa ini trik mereka untuk ngurangin persaingan ato kurang kreatif saya kurang tau deh hihi. Tapi kalo dari pengalaman kami makan di salah satu restorannya si rasanya cukup enak (kami waktu itu cuma pesan beberapa jenis pizza dan salad aja).

Keesokannya setelah sarapan (di kabin – kami belanja di supermarket yang lokasinya selemparan batu dari tempat kami nginep) kami berangkat menuju Legoland. Lokasinya cuma 5 menit dengan mobil dari tempat kami menginap. Legoland sendiri menyediakan tempat parkir di beberapa lokasi, dengan lokasi paling dekat ada di seberang legolandnya. Harga tiket masuk Legoland bisa dibilang masih lumayan masuk akal kalo dibandingin sama Disneyland. Kebetulan saya nemu promo yang cakep banget di Groupon, dimana buat family ticket (open date, maksimal 2 dewasa dan 2 anak) harganya sekitar 40% lebih murah dari harga aslinya.

Main entrance Legoland Billund.

Legoland Billund bisa dibilang ga jauh beda dengan legoland-legoland lain yang udah pernah kami kunjungi (baru yang di Johor Bahru Malaysia sama di Günzburg Jerman aja si hahaha). Tapi ada satu yang bikin mereka beda: miniland-nya. Di sini mereka punya miniatur dari gedung-gedung tertinggi di dunia, plus miniatur kota-kota di Denmark dan beberapa kota besar di Eropa. Sebenernya saya motret lumayan banyak miniatur land-nya, tapi saya cuma upload beberapa aja di sini hehe.

Ga seperti Disneyland dan Efteling, Legoland ga sepanjang tahun buka. Mulai bulan November sampai bulan Maret di tahun berikutnya mereka tutup dan baru buka kembali di bulan April. Ga kaya Disneyland yang ga membolehkan pengunjungnya untuk bawa makanan dan minuman dari luar, legoland punya konsep “terbuka” alias pengunjungnya boleh bawa makanan dan minuman sendiri (di efteling juga sama). Di sana sendiri lumayan banyak pilihan makanan yang bisa kita pilih (mulai dari kebab, wok to go, dan makanan standar seperti burger, fries and steak). Rasanya (dan porsinya) juga sangat bikin kenyang dan harganya cukup masuk akal.

Setelah anak-anak puas main (plus sudah hampir waktunya park tutup), kami kembali ke tempat kami menginap. Sewaktu kami jalan menuju ke tempat parkir di langit sedang menyembul segaris pelangi. Cantik!

Lego version of Nyhavn, Copenhagen.

Lego version of the White House.

The Clock Tower Mecca, Shanghai Tower China, and Burj Al-Khalifa UAE.

The rainbow!

Besok paginya anak-anak setelah sarapan main di playground dan trampolin di B&B, dan setelah makan siang kamipun berangkat menuju ke Kopenhagen.

Advertisements

First Stop: Hamburg, Jerman.

A Hamburg saying, referring to its anglophile nature, is “Wenn es in London anfängt zu regnen, spannen die Hamburger den Schirm auf.” … “When it starts raining in London, people in Hamburg open their umbrellas.”

The flying men. #latepost #street #performer #hamburg #germany #summer #holiday #august #2017

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam (dengan break sekali di rest area untuk makan siang), akhirnya kami sampai di hotel tempat kami menginap di Hamburg, Jerman. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi, dengan perkiraan kita akan sampe pas waktu check in di hotel. Hotel tempat kami menginap namanya Bundt’s Garten Restaurant. Hotel ini bukan pilihan awal saya si. Sebelumnya saya udah booking kamar di Novotel Hamburg untuk tanggal lain, tapi rencana awal kami berubah dan Novotel udah fully book. Saya harus cari akomodasi lain dan kebetulan waktu itu yang masih tersedia (dan cukup bagus review dan masuk akal harganya) adalah hotel ini. Kalo diliat dari kamarnya, bisa dibilang hotel ini termasuk hotel lama (feel-nya ga modern lah setidaknya).

Lokasi si hotel deket sama Hamburg airport, sementara untuk ke pusat kota sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Di sekeliling hotel ini banyak perkebunan apel. Salah satu nilai tambah untuk hotel ini adalah sarapannya enak! Selai dan jus yang disediakan fresh dan kayanya home made gitu, makanya jadi spesial.

Begitu sampai kami ga langsung ke city center tapi jalan-jalan di sekitar hotel, dan karena waktu yang agak tanggung, kami akhirnya makan malam di restoran di hotel aja. Makanan yang kami pesan cukup lumayan, walau juga ga begitu spesial. Suami waktu itu pesen bebek dengan persik dan saus cranberry, sementara saya pesen ikan (anak-anak standar kids menufries dan nugget). Cuma karna ketidaktauan kami sayang banget kentang yang ada di piring saya ternyata ada potongan ham-nya, yang berarti saya ga bisa makan. Untungnya si ikan (salmon dan white fish – lupa jenis apa) ga semuanya nempel, jadi masih ada beberapa bagian yang bisa saya makan. Sementara bebeknya suami aman.

Beautiful view on the road heading to the hotel.

The hotel.

The entrance of the hotel.

They have a midget golf here!

The interior in front of reception desk.

Apple tree field located accross to the hotel.

Pedestrian path.

Cute farmer house in the middle of nowhere.

The church close by to the hotel.

During the walk we spotted an airplane just took off from the airport 🙂

the fish menu.

the duck together with cranberry sauce and peaches. Other veggies and french fries were not in the picture bcos it came separately.

Di hari berikutnya kami baru menjelajah (halah) pusat kota Hamburg. Dengan pertimbangan dari segi kepraktisan, kami putuskan untuk memarkir mobil di sekitar pusat kota. Di malam sebelumnya kami sudah browsing kira-kira di mana kami bisa parkir dengan lokasi dan biaya paling efisien (tidak di pinggir jalan tapi di dalam gedung – dengan pertimbangan dari segi keamanan) dan kami putuskan untuk parkir di gedung pusat kebudayaan Jepang. Lokasinya cukup strategis dan biaya per harinya juga lumayan masuk akal.

Setelah memarkir mobil, kami menuju ke stasiun metro (u-bahn) untuk membeli Hamburg Pass. Walaupun beberapa tempat turistik di Hamburg lumayan saling berdekatan dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, buat kami yang bawa bayi dan dua anak kecil kadang lebih efisien kalo kita naik transportasi publik aja. Hamburg pass ini semacam tiket transportasi publik yang bisa dipergunakan untuk metro, bis dan kereta di sekitar Hamburg untuk jangka waktu tertentu (24 atau 72 jam). Saya kurang paham sebenernya untuk transportasi publik di Hamburg gimana walau setau saya di beberapa kota di Jerman transportasi publiknya gratis. Hamburg pass ini ada 2 jenis: yang single atau yang group. Kalo single masa berlaku 24 jam harganya €9,90 berlaku untuk satu orang, sementara untuk yang group masa berlaku 24 jam harganya €18,5 dan bisa dipergunakan untuk 5 orang dewasa. Untuk anak-anak sampai usia 12 tahun kalo mereka bareng dewasa ga perlu bayar alias gratis. Selain itu, kalo kita tunjukin si hamburg pass ini kita juga bisa dapet potongan harga di beberapa tempat. Fyi, selama kami mondar-mandir naik metro di sana ga ada yang meriksa tiket kami sama sekali lohh (dan mereka ga pake sistem gate di metro station-nya). Cuma emang kalo mau naik bis kita harus tunjukin si tiket ke supirnya si biar aman.

Stasiun metro terdekat dari tempat kami parkir adalah Rathaus station, di deket Rathaus/Town Hall-nya Hamburg. Sebelum ke stasiun kita sambil liat-liat juga di sekitar Rathaus square yang punya view bagus juga. Suasana di sekitar situ sewaktu kami ke sana ga gitu sibuk jadi kami masih bisa menikmati walau cuaca sedikit mendung. Dari Rathaus kami menuju ke stasiun yang jaraknya paling dekat dengan dermaga pelabuhan/pier karna kami berencana untuk ikut salah satu tour river cruise-nya. Alasannya si simpel, karna Hamburg adalah kota pelabuhan (kedua terbesar di Eropa setelah Rotterdam) dan memang lumayan banyak yang merekomendasikan untuk ikut tur ini. Lamanya tur adalah kurang lebih satu jam dan kita bisa milih untuk ikut di kapal yang menggunakan bahasa apa (kami ikut di kapal dengan tour guide berbahasa inggris).

Kami turun di stasiun St. Pauli dan kemudian jalan sedikit ke arah pier. Di sekitar sini baru mulai terasa turisnya (baca: rame cin! haha). Kayanya ini salah satu spot utama para turis ya, dan udah pasti mereka juga mau ikutan cruise-nya (ato setidaknya sightseeing di sekitar pier lah).

Selesai tur, kami menyempatkan diri untuk turun dan melihat the old elbe tunnel. Terowongan ini umurnya udah tua banget lohh, dibangun pada tahun 1911! Keren ya, di tahun segitu udah bikin konstruksi serumit ini dan bikinnya di bawah sungai (elbe) lagi. Untuk turun ke terowongan penyeberangan ini kita bisa lewat lift atau tangga (kalo kuat hahaha). Terowongan ini sendiri khusus diperuntukkan bagi para pejalan kaki dan pesepeda.

Puas melihat konstruksi si terowongan (ngga sis, kami ga nyebrang. Saya nyerah kalo disuruh nyebrang sambil gendong unyil hahah, begitu sampe di seberang langsung pengsan kayanya 😂), kami makan siang di Hard Rock Cafe yang lokasinya di sekitar pier juga. Pengunjung cafe-nya termasuk ramai tapi alhamdulillah kami cepet dapet tempat. Tapi abis pesen, makanannya lama banget datengnyaaa. Untungnya anak-anak ga complain dan sibuk main berdua (sementara si kecil sibuk teriak dan bikin repot papa mamanya). Setelah makan siang kami berencana untuk berkunjung ke Miniatur Wunderland yang katanya adalah tempat wisata dengan miniatur model kereta terbesar dan terlengkap di dunia (bener ga sih?). Awalnya saya pikir miniatur wunderland ini kaya madurodam gitu, jadi di luar atau outdoor attraction, tapi ternyata showcase-nya semua di dalam ruangan alias indoor. Begitu sampe di pintu masuk, loket tiket antriannya udah panjang, dan pas giliran kita ternyata mereka bilang tiket untuk jam kita dateng udah sold out dan mereka nawarin untuk dateng jam 18.30 – 20.30 atau jam 19.30. 21.30. Kami baru tau kalo mereka membatasi pengunjung dengan menjual tiket dengan slot jam kaya gini. Wajar si ya, kalo ga yang ada ga nyaman banget di dalam. Anyway, karna kami pikir jam 18.30 tanggung (karna pas waktunya makan malam dan kami sudah reservasi di salah satu restoran untuk jam 17.30), akhirnya kami pilih opsi yang jam 19.30 dan nanti kembali lagi ke sana setelah makan malam.

Berhubung ada jeda waktu dan kami (well, saya dan anak-anak si hehe) udah ngerasa cape, saya usul untuk cari taman aja biar si kecil bisa agak bebas bergerak (at least ga digendongan aja). Setelah ngulik sedikit di peta kami lihat taman terdekat adalah Alter Elb Park, dan ke sanalah kami berjalan kaki menuju dan beristirahat sebentar (lempengin pinggang sis 😂).

Rathaus alias Town Hall-nya Hamburg.

Sisi lain Rathaus/Town Hall Hamburg.

Pemandangan dari atas Landungsbrücken.

Pemandangan dari Landungsbrücken.

Another bridge of locks? Lokasi di Landungsbrücken keluar dari stasiun metro St. Pauli, deket pelabuhan.

Ferry cruise yang kita tumpangi.

Pasar ikannya Hamburg. Sepi karna udah siang, tukang ikannya udah pulang semua kayanya hehehe

“komplek”nya para sosialita Hamburg 😜

Salah satu condominium termahal di eropa. Bentuk gedungnya lucu ya.

Elbphilharmonie Hamburg.

Cranes at the port of Hamburg.

the old elbe tunnel yang melintas di bawah sungai Elbe. Untuk sampai ke ujung lainnya menempuh waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.

Makan siang kami di Hard Rock Hamburg.

Sisi lain kota Hamburg. Ternyata masih ada juga mereka yang tidur di bawah jembatan di sana.

Patung raksasa yang ada di Elb Park.

Setelah “ngadem” plus istirahat sebentar di taman, kami lanjut jalan lagi ke bus halte terdekat untuk pergi menuju restoran yang sudah kami pesan. Sebelum mutusin untuk makan di restoran ini kami juga menyempatkan untuk browsing sedikit dan kebetulan ketemu satu restoran india yang lumayan bagus review-nya dan lokasinya sendiri juga ga begitu “aneh” (makluuum, kita kan modal peta doang hihi). Setelah anak-anak oke, langsung kami reservasi di sana (takut penuh soalnya). Hasilnya? Ga nyesel deh makan di situ! Saya kan termasuk orang yang picky eater dan biasanya sama Indian cuisine ga gitu doyan-doyan amat, tapi sama yang ini duh beneran deh enak nyosss, terutama untuk para curry-nya.

These are our dinner menu at Ashoka Restaurant. Really recommended if you’re a fan of authentic Indian dish!

salah satu entrance-nya Dommarkt yang kami lewati waktu menuju restoran.

Selesai makan malam, kami kembali lagi ke miniatur wunderland (setelah sebelumnya sedikit diskusi dengan suami sebaiknya langsung bawa mobil aja dan parkir di tempat parkir terdekat di sekitar miniatur wunderland supaya kita ga perlu bolak-balik lagi). Begitu masuk ke lokasi, waduh saya agak stress euy. Ternyata udah jam segitu aja masih penuh! Mana kami bawa buggy/stroller, tiap mau maju dikit mentok sama kaki orang (ga tiap kali si cuma lumayan sering aja, ini hiperbolis sedikit hahah). Akhirnya kami mencar-mencar deh biar pada bisa lihat juga. Saya juga ikut keliling walau ga semuanya saya liat. Abis itu saya duduk aja sambil kasih mimik si bayi yang ga lama kemudian bobo (karna emang udah waktunya). Btw si Miniatur Wunderland ini buka sampe tengah malem booo. Poll banget nyari duitnya ya.

Setelah cukup puas lirak lirik si model train dan kawan-kawannya, akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Tipikal bangunan yang saya temuin di sekitar Hamburg. Menurut saya kesan industrialnya kental banget, ya ga si?

parts of Michaelis bridge. They put a very nice tiles here 😉 and look at the love padlocks on the left!

Salah satu spot karyawan di Miniatur Wunderland.

Kalo ga salah ini adalah miniatur dari salah satu event konser penggalangan dana. Kebayang ga itu miniatur orangnya ditaroin satu-satu secara manual. Kalo ga salah juga kita bisa ikut donasi dan nanti miniatur kita akan ditaro di situ 🙂

Miniaturnya the Spanish Step di Roma.

Kalo ini miniatur railtrack yang ada di Swiss (ato Austria ya? Lupa sodara-sodara maap :p)

Jumlah pengunjung Miniatur Wunderland dari berbagai negara.

Yay, we are on TV! 😄

All in all, Hamburg for us is not dissapointing at all. Walaupun ga semua spot kami datengin tapi kami cukup menikmati dan untuk ukuran satu hari kami sudah lihat lumayan banyak tempat menarik di Hamburg.

Selepas sarapan dan selesai packing, berangkatlah kami menuju pemberhentian berikutnya, yaitu Billund – the home of Lego 🙂

Pardon for mama’s messy hair 😅

Ps: berhubung anak-anak yang pegang kamera, sebagian besar foto saya motret pake hp jadinya. O iya, maaf juga kalo fotonya terlalu banyak yaa. Sengaja wkwkwk

Road-Tripping with the Kids.

“When traveling with someone, take large doses of patience and tolerance with your morning coffee.”
– Helen Hayes

Duh kayanya kutipan di atas cukup relevan terutama buat yang jalan bareng anak-anak ya ga siiik. Summer holiday tahun ini saya beserta suami dan anak-anak mengisi liburan dengan road trip ke beberapa kota di beberapa negara yang ga jauh dari Belanda. Setelah rencana awal buat mudik ke Indonesia ga jadi (karna saya udah pulang di bulan April bareng si bayi), buat nyenengin anak-anak (dan juga tentu menambah pengalaman kami) saya usul ke suami untuk jalan-jalan pake mobil alias road trip ke negara yang deket-deket aja. Suami setuju dan setelah berembuk akhirnya kami sepakat untuk menjelajah sedikit ke wilayah scandinavia. Alasan awalnya adalah Legoland yang berlokasi di Billund, Denmark. Anak-anak walaupun udah agak besar (dibanding tahun-tahun lalu) mereka masih suka dengan tempat-tempat kaya gini. Kebetulan juga kami sudah pernah berkunjung ke Legoland di Johor Bahru dan  Günzburg, Jerman, makanya saya kepikiran untuk nyoba juga yang ada di Billund. Tapi trus saya pikir kenapa ga sekalian aja ke Copenhagen dan Malmö – toh jaraknya ga jauh-jauh amat (dari Billund) dan kita udah setengah jalan jadi sayang juga kalo ga sekalian dikunjungi. Suami pun setuju, karena dia juga belum pernah ke kedua kota tersebut, jadi buat dia ini juga pengalaman pertama berkunjung ke sana.

Dengan pertimbangan jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke Billund (perjalanan non stop Belanda-Billund memakan waktu kurang lebih 8 sampai 9 jam), kami juga akhirnya menambah stop dan sekalian sight-seeing di Hamburg pada saat perjalanan pergi, dan menginap semalam di satu kota kecil di Jerman (Lütjenburg) pada saat perjalanan pulang. Jadi, untuk road trip kami kali ini rutenya adalah Rumah-Hamburg-Billund-Copenhagen-Malmö-Lütjenburg-Rumah. Lumayan panjang ya hihi.

Rute berangkat (viamichelin.com)

Rute pulang (viamichelin.com)

Rencana awalnya kan suami dan saya bakal gantian nyetir, tapi sayang banget mobil suami yang sudah dipesan ke dealer langganan dia dari jauh hari belum selesai, akhirnya si dealer pinjemin mobil dengan jenis yang sama tapi dengan persneling manual (saya kan supir gadungan, jadi saya ga bisa nyetir pake manual hahaha), alhasil suami deh yang harus nyetir sepanjang perjalanan.

Di tiap kota kami menghabiskan waktu 3 hari, kecuali di Lütjenburg yang memang tujuan utamanya supaya yang nyetir bisa istirahat aja. Buat ukuran berlima (termasuk bayi) dengan lama perjalanan selama 10 hari, bawaan kami bisa dibilang masih masuk akal (at least kalo dibandingin sama mobil-mobil lain yang papasan sama kita di jalan). Selain tentu buggy/stroller plus baby carrier (bawaan wajib), kami bawa satu koper ukuran besar, satu koper kabin, satu tas ransel, satu diaper bag, plus satu tas belanjaan berisi makanan dan minuman untuk anak-anak dan saya beserta suami selama di perjalanan. Agak susah memang kalo liburan dengan jumlah hari yang nanggung kaya gini, terutama buat nentuin berapa baju yang harus dibawa. Saya sendiri kalo untuk pergi-pergian kaya kemarin selalu mengusahakan untuk bawa baju ekstra – terutama underwear dan kaos kaki anak-anak (untuk saya dan suami juga). Selebihnya kami rileks aja, toh kita kan bukan berkunjung ke pedalaman jadi pasti ada supermarket atau toko yang jual barang kebutuhan kita in case kita lupa. Eh tapi ada satu barang yang khusus dibawa anak-anak di perjalanan kali ini, yaitu hagelslag alias meses 😂. Buat jaga-jaga kata mereka, kali aja ga ada yang mereka suka di menu sarapannya hahaha.

Alhamdulillaah perjalanan berjalan cukup lancar (dengan beberapa titik kemacetan di highway-nya Jerman, terutama pas perjalanan pulang), fabian juga lumayan tenang sepanjang jalan. Beruntung anaknya banyak tidur di jalan walau beberapa kali sempat nangis dan merengek sebentar.

Berdasarkan info dari suami, total kilometer yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2200 KM. Banyak ya haha. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak banget jembatan, termasuk Øresundbron yang menghubungkan Denmark dan Swedia, serta Storebælt bridge yang menghubungkan Zealand dan Funen (dengan Sprogø island di tengah-tengahnya) di Denmark. Kedua jembatan ini adalah jembatan berbayar. Biaya tol sekali jalan di Øresundbron adalah sebesar €56 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter dan di Storebælt bridge adalah DKK 240 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter.

Storebælt bridge dari kejauhan (foto dok. pribadi)

Øresundbron – aerial view (image via pfnphoto.com)

Sementara untuk perjalanan pulang dari Malmö kami memilih alternatif lain dengan menggunakan ferry untuk pulang (dengan menyeberang via Jerman). Kami nyebrang dua kali: dari Helsingborg – Swedia ke Helsingör – Denmark, dan Rødby – Puttgarden. Harga tiket ferry ini lumayan juga ternyata sis 😂. Buat yang Helsingborg-Helsingör sekali jalan harga tiketnya sekitar €55 (untuk jenis mobil pribadi yang panjangnya kurang dari 6 meter, durasi nyebrang sekitar 15 menit), sementara Rødby-Puttgarden harga one way ticket-nya adalah sekitar €107 (durasi nyebrang sekitar 45 menit). Jadi kesimpulannya sodara-sodara, kalo punya waktu banyak dan mau agak hemat, dari Denmark ke Jermannya ga usah nyebrang pake ferry tapi muter aja hehe. Ato ambil ferry yang dari Helsingborg – Swedia langsung ke Lübeck – Jerman (lama perjalanan di ferry-nya 8 jam-an tapi wkwk).

Kira-kira beginilah ferry yang kami tumpangi (image via scandlines.com)

Btw, sebelum trip (seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya) saya udah bikin semacam itinerary kasar (banget) dan cost estimation (iya, saya sedetail itu semenjak bekeluarga😂). Walaupun ga mengikat, tapi si itin dan cost estimation ini lumayan bikin perjalanan kami jadi cukup efektif loh, dan untuk estimasi pengeluaran ini bisa kami jadikan patokan kalo nanti di liburan-liburan mendatang kami mau road tripping lagi (ke negara lain deket-deket sini). Yang bikin hepi adalah estimasi saya lumayan tepat, cuma beda €0,01 sis! Dan so pasti jumlahnya jauh lebih kecil kalo dibandingin sama biaya mudik ke Indonesia sekeluarga. 

Anyway, sementara udah dulu yaa. Nanti di postingan selanjutnya insya allah kita cerita tentang Hamburg okeh. Tot zo!

Us ❤ . . . #latepost #family #holiday #copenhagen #littlemermaid #denmark #nofilter #instatravel

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on


“If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness and fears.”
– Cesare Pavese

Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinet😅).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again 😊

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post 😉)

Throwback Time: Holiday in London.

bigben2

“Nothing is certain in London but expense.” – William Shenstone.

Pengennya si nulis lebih cepet biar ga basi-basi banget gitu ceritanya hehe, tapi apa daya baru sekarang deh bisa kesampaian. Well, better late than never ya =)

We went visiting London last year, during Christmas holiday (on December 24th and return to Holland on December 29th). At first we were a little bit worried actually, because based on some info I have read on internet, during Christmas holiday – especially on the 25th of December – (almost) all London transportation does not operate. This means that there’s a possibility that we could be abandoned and only able to spend the whole holiday in the hotel. That would be sooo zzz. Luckily after spending some time searching again on internet (and a little bit of gambling), we could find a good solution to solve the issue.

We departed from Eindhoven Airport. There are several budget/low cost airlines depart from this airport to London. This is handy for us since the airport is closer to our place. We took a flight offered by Ryan Air and the duration from Holland to London (London Stansted) took around an hour and five minutes. We have arranged for car park close to the airport (we used valet parking from Eazzypark for 2 nights and found a nice offer from Groupon) and from London Stansted Airport to the hotel we used Airport Coach/ Bus Shuttle from Terravision (around an hour drive). We ordered the tickets via internet (the price of one way trip from the Stansted Airport to Liverpool Street (in front of the Liverpool station) is £6 for adult and £3 for child between 5 – 12 years). From Liverpool Street (the distance is approximately 1,2 km) to the hotel we took a short drive by taxi.

During in London we stayed at the Premier Inn London Aldgate. The closest tube station from the hotel is Aldgate East (around 300-500 m), and it is located not very far from the Tower Hill (approx. 1 km). Thus, although it’s not really in the center, the hotel has a nice location to travel around. Plus, they also had family room options, so it’s a very good bargain for us to stay there for the holiday.

We didn’t make any plan to go for sightseeing right away after we arrived. Despite the arrival time we also didn’t want to make the kids feel stressed out and not enjoying the holiday. In the evening we walked a bit to fast food restaurant nearby (KFC – food that taste “friendly” and familiar for the kids) and bought meals there for our dinner. Again we didn’t want to make things too complicated for the kids. Btw, KFC here had other sort of menus than one in Holland, where they also offered rice.

On the second day of the trip (25th), we have booked hop on hop off tour bus. Yes…We were really becoming a tourist on that day :p. It’s not that bad actually, but this was mainly because we didn’t have that many options. Either you walk, or you go with this bus. As I said before, all public transports were not operating on that day (well except Taxis, with double tariff – even triple I think – than normal, and you have to order them in advance). In normal days, there are 3 companies operating hop on hop off tour bus, but on the 25th there were only one operated: one from Golden Tours. The ticket price was twice than normal (around £35 for adult and £15 for child). Crazy, I know..but we didn’t have many options as I told you before, so yeah. The closest bus stop from our hotel was at the Tower Hill. So we walked first from the hotel to the bus stop. The weather on this day was not that friendly. In the beginning it was only cloudy, but the minute we sat in the bus it began to rain. Well, you cannot expect much from London weather during winter eh. Anyway, we stopped at several point of interests, and took some photos from the bus.

Oh, have I told you that most of stores and restaurants were also closed on Christmas day? well there you go. But as far as I know, some pubs and restaurants at Leicester Square or Trafalgar Square were open. We had our lunch also at one of restaurants there. The kids were quite enjoying the day although they got wet and received extra cold from the rain. In the evening we had the Christmas Dinner at the restaurant in the Hotel. The food was not that bad, but also not that special.

famketels1

hello from us =)

bigben3

a closer look to the famous Big Ben.

westminster abbey1

The queue to enter Westminster Abbey. LONG!

StPauls Church

St. Paul Church. Looks grande =)

DSC_1261-1

The Shard on a distance.

On the next day (the 26th), the initial plan was to visit the London Eye. There were not so many options to be done on the 2nd day of Christmas in London, because most of attractions or public interests such as museums or historical places were still closed for public. However that didn’t happen. Before we went to London, I actually have suggested my husband to buy the ticket in advance via internet. However, he thought that we could just buy on the spot, because he didn’t want to be attached on one date only (the ticket date is fixed and cannot be changed). I agreed to this and thus we went to the London Eye and went to get the ticket there. When we reached the London Eye, the queue on the ticket booth was already looong, and when we reached the booth the officer told us that apparently we couldn’t buy family ticket (valid for 2 adults and 2 children) there and instead they only offered us the individual ticket. The price difference between family ticket and individual ticket was quite significant, and because of this we then decided to just go back the next day and buy the ticket online.

What did we do then on that day? After having a quick lunch at Subway nearby to the London Eye (my kids and husband are a fan of Subway btw hehe), we then went to watch Starwars VII at Leicester Square. After the movie we just strolling around the China Town, Trafalgar Square and of course Leicester Square :D. Btw, I didn’t recommend to watch movies at cinemas in London. It’s freaking expensive! For the four of us we had to pay like almost £100 for 3D movie. That’s crazily expensive even if you compare to the price in Holland (apalagi dibanding sama harga di Indonesia ya..jauh!). Before we went back to the hotel we took dinner at a Chinese Restaurant in the surrounding of Leicester Square.

O ya, on the second day of Christmas the public transports were already available, but with a holiday schedule (longer waiting time). The advantage of using public transport in London is that for any children up to 16 years who travel with adult(s) are free of charge. There are several options if you happen to be a tourist here: pay per trip, using travel card (with some options of validity period), or using Oyster Card (refillable). We used Oyster Card for transportation instead of Travel card, because we think that its the most efficient one for us. I still have my old Oyster with some credits in (from my previous visit in 2012 for work), thus we only need to buy another one for my husband. It was handy indeed 😉

chinatown1

The Gate to Chinatown.

leicester square1

Leicester Square.

trafalgar square

The front part of the National Gallery, located in front of Trafalgar Square.

DSC_1096

Super tall Christmas tree at the Trafalgar Square.

On the 27th, we went back again to the London Eye, this time with the entrance tickets in hand ;). It was nice to see some parts of London from above. The London Eye is similar with the Singapore Flyer, only the size is a bit smaller. The technology they use here is also the same, and made by the same engineer (if I’m not mistaken). The duration for one round (standard ticket) is approximately 30 minutes. It’s pity that during our turn the weather was again not that friendly for us: quite gloomy with some drizzles pouring down a bit. But anyway, it still nice for the kids (and my husband and I) to have the experience 🙂

A short info, I just checked the official London Eye website, apparently the family ticket has no longer being offered. The standard ticket for adult if you buy online is around £21 and for a child is around £16-17 (if you buy on the spot the price is around £28 for adult and £20ish for child).

Afterwards, we then went by the subway (they called it as “tube”) to the Tower of London. We had prepared our tickets and bought them via internet before we flew to London. The Tower is quite big, but still can be visited within a day. One of the interesting part of the Tower is of course the Crown Jewels Room where the Royalty kept the royal regalia, including jewels, plate, and symbols of royalty such as the crown, sceptre, and sword there. No guests are allowed to take any picture inside (due to security reason I guess).

DSC_1398-1

The Emblem of King George VI, Royal Fortress of The Tower of London

DSC_1403-1

One side of the Tower of London.

DSC_1302-1

A raven seen at the Tower of London. Why does the Tower of London have ravens? A guide told that the ravens are part of an old superstition that, if the ravens leave, the tower will fall down, and there will no longer be a king or queen.

DSC_1199-1

The White Tower

guards tower of london

The Guards and the canon in front of the Crown Jewel Room.

DSC_1253.JPG

You have to queue for quite some time to enter the Crown Jewel Room.

DSC_1386-1

The Tower Bridge in a closer look.

After the visit, we went back to hotel. For our dinner, my husband and I went for a walk to grab a take away of Fish and Chips at a restaurant nearby. We tried the very typical english(y) meal at its own original place for the sake of curiousity (and hunger of course =)). I did a bit of research on internet to find a recommended fish and chips resto around our location and I found this one resto called Poppie’s. The taste was quite good although it’s not exceeded my expectation.

poppies-fish-chips

Nice interesting box eh (ignore the oily part :p)

On the 28th, finally major musea were open for public. London I think is famous for their museum, and as some of you might already know, the entrance to most of musea in London are free of charge (unlike other attractions where you have to pay like crazy). That is why I think many people (tourists as well as the Londoners) like to come there. O ya, most parks (gardens) here are also free to visit, but then I would suggest to come preferably NOT in the winter season (find a time with the least chance of raining :p).

One of the most acknowledged museum here is of course the British Museum, located in Bloomsburry area (if I’m not mistaken). Another famous one(s) among them are the Science Museum, The Natural History Museum, and the Victoria & Albert Museum of Art and Design (V&A Museum). The nice thing with these three museums are that they located closely one to each other (at Exhibition Road – South Kensington). We actually planned to go to the British Museum after we visit the three museums, but by the end of the day we couldn’t make it. O ya, be prepare for a long queue, especially when you want to enter the Science Museum and The Natural History Museum. But probably it was also because of holidays then the museums were quite full.

street musician

A street musician we found in the tunnel from the Underground stop (South Kensington) heading to Museum area.

The first museum we visited was the Science Museum. According to wikipedia, the Science Museum was founded in 1857 and today has become one of the city’s major tourist attractions, attracting 3.3 million visitors annually.

The museum also has several areas dedicated to children where they can explore and play. On the ground level you’ll find a sensory exploration area that’s fun for younger kids and a few floors up there are also area for older kids where they can experiment, play and discover.

DSC_1417-1

part of Making the Modern World Gallery inside the Science Museum, ground floor.

DSC_1411

I see Indonesia here 😉

After the Science Museum, due to the intimidating queue at the entrance of the Natural History Museum, we then went to the V&A Museum located across the street of the Science Museum. It was a very short visit, because the kids were complaining and the museum was not as they expected. In their mind, the museum was a place where they would find toys and other interesting stuff related to toys and playing. Apparently it was more serious than what they have thought. We only strolled around on the ground floor, took a bit of photos and then decided to just go to one of the oldest toy store in the world, Hamleys, located at the Oxford Street. But again, the store was so crowded it gave us a headache even to just look around. The kids also were not too excited because of this. So we just did a round from first floor to the last (it has five storeys) and then went back to South Kensington to try our luck of getting into the Natural History Museum.

ceiling V&A museum

The ceiling at the entrance of V&A Museum

O ya, at V&A Museum you can find various art pieces from (almost) all over the world, with many kind of forms such as statues, calligraphy, books, or even a carved tusk.

V&A1

One of interesting piece of art found at V&A Museum

hamleys-toy-store-355729

The very busy Toy Shop. I think during holidays the situation is always like these. image via http://www.express.co.uk

DSC_1520

Lego version of the Imperial State Crown.

DSC_1523-1

Lego version of the Queen, together with her dog. This lego can be found at Hamleys – Oxford Street.

DSC_1524-1

Typical of coffee shop you can find around London.

When we got back to museum area, the queue in front of the Natural History Museum was not as long as the first time we arrived. And since the kids didn’t mind to wait in line, we decided to join the queue. If you are a Dino fan I think you will like this museum. It has alot of things related to Dinos. They have a special section for displaying all the dinos and “the living” T-Rex. Even in front of the entrance of the museum you will be welcomed by a giant dino skeleton :p. Bear in mind that you have to queue again inside to enter this special section. Beside dinos, this museum also have many other interesting displays, including animals from around the world (they have a stuffed dodo!), also various kind of stones from the earth. The building itself is very extravagant (typical old big buildings in the UK). You can really see that this museum has been there for quite a while.

DSC_1532-1

Interesting dinosaurs skeleton you can see at front part of the Natural History Museum.

DSC_1586-1

Super nice and extravagant exterior of the Natural History Museum.

DSC_1587-1

Merry go Round in front of the Natural History Museum.

We stayed at the Museum until closed (around 7 p.m. if I’m not mistaken). And then we went to Leicester Square again to look out for dinner. Since it’s weekend, most of the restaurants were quite full. Luckily we could get a table at Pizza Express (without reservation) although we had to wait for 30 minutes at the bar to be seated. This Pizza Express Resto is the same like one in Indonesia (previously called as Pizza Marzano – and then changed name into Pizza Express). We liked all the food here, as well as the drinks. And before we were done, they gave chocolate praline for each of us. Lekker klein toetje voor ons 🙂

Finally we went back to Holland on the next day. We had our breakfast at the hotel, took a taxi to the Liverpool Street, and then went to the Stansted Airport by the same shuttle service as before. All in all it was quite a nice holiday for us (although for some days we had quite lousy weather). Just too bad we didn’t have a chance to visit Harry Potter Studio (all were fully booked!), the Stonehenge, the British Museum or other touristic things in the surrounding. I guess we just have to visit UK one more time in the future. And moreover, preferably combine the visit to other cities around London as well.

The Kid’s-Friendly NEMO Science Museum, Amsterdam

Sebulan lalu, sewaktu anak-anak sedang liburan musim gugur kami memutuskan untuk berkunjung ke NEMO Museum yang berlokasi di Amsterdam. Sebenernya rencana pergi ke NEMO ini udah cukup lama, sejak mereka sedang liburan musim panas, dan kebetulan waktu itu sedang ada offer dari emté buy 1 get 1 untuk entrance-nya (semacam itulah kira-kira). Tapi apa mau dikata, rencana berubah karna ternyata saya harus melahirkan lebih awal. Anyway bersyukur anak-anak cukup mengerti dengan kondisi kami saat itu dan ga merengek ato jadi bete karna ketunda perginya.

NEMO di sini beda sama yang ada di film ya hehe. Ini bukan akuarium, bukan juga museum tentang ikan. Jadi NEMO itu kepanjangan dari New Metropolis (correct me if I’m wrong), ini semacam pusat sains dan teknologi dimana kita bisa ikut terlibat dan ikut nyoba hal-hal yang berbau sains dan teknologi di “proof garden” mereka ini. Selain bentuk gedungnya yang unik, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana juga cukup seru.

Harga tiket masuk ke Museum ini adalah sebesar €15 per orang (untuk pengunjung usia 4 tahun keatas). Buat yang punya student card harga tiketnya adalah €7,5. Sementara untuk mereka yang punya kartu khusus seperti IAMsterdam card atau Museumkaart entrance-nya gratis. Kebetulan kami memang udah lama rencana mau buat museumkaart dan anak-anak juga sekarang sudah cukup besar untuk bisa menikmati museum-museum yang jumlahnya buanyak banget di sini, maka akhirnya kami sekalian daftar di sana.

Museumkaart ini lumayan banyak benefit-nya dan tentu handy buat yang suka dengan museum. Fyi, museumkaart bisa digunakan untuk akses masuk ke sekitar 400 musea yang tersebar di seluruh Belanda (beberapa museum yang termasuk dalam list antara lain Anne Frank Stichting, Rijksmuseum Amsterdam, Van Gogh Museum, Museum Het Rembrandthuis, NEMO, Space Expo, Openlucht Museum di Arnhem, dan masih banyak lagi lainnya). Untuk info lebih lanjut tentang museumkaart bisa klik link ini ya (the link is in Dutch, tapi cukup gampang untuk diikuti kok, ato ga cukup aktifkan google translate seandainya berminat hehe).

Sekarang kembali ke NEMO. Museum ini terdiri dari 5 lantai plus satu lantai di bawah untuk tempat penitipan jas, ticket box dan beberapa display yang cukup menarik (ada jam raksasa di bawah ini hehe). Di depan museum ada semacam fountain ato kolam gitu beserta ember-ember membentuk kincir dan berputar.

nemo_museum_entrance

the entrance (image via http://www.mikimedia.org)

Di setiap lantai tema yang diangkat  berbeda-beda. Oh ya, satu hal lain di luar konteks museumnya sendiri yang bikin tempat ini nyaman untuk dikunjungi adalah adanya cafe corner di setiap lantai (kalo restroom si hampir pasti lah ya). Jadi kalo udah cape jalan, bisa istirahat sebentar sambil jajan-jajan hehe.

Lantai 1 museum ini bertemakan “Fenomena”. Di lantai ini kita bisa belajar mengenai bagaimana sains bekerja. Kita bisa ikut melihat (dan merasakan) bagaimana cahaya, suara dan listrik statis bekerja, juga bagaimana menghasilkannya. Beberapa aktivitas yang cukup diminati di lantai ini termasuk the plasma ball (yang kalo kita sentuh trus kita terhubung dengan electricity light), giant bubble forming (balon yang dibuat pake sabun/busa tapi dalam versi raksasa), belajar tentang suara dengan menggunakan dua audiophone raksasa yang ditempatkan jauh terpisah, belajar tentang cahaya melalui cermin dua refleksi, dan juga aktivitas yang menggunakan magnet. Di lantai ini juga setiap harinya di atrium hall yang juga terletak di lantai ini ada special event yang biasanya juga melibatkan para pengunjung. Pada waktu kami berkunjung kami sempat ikut menyaksikan apa yang mereka sebut “chain reaction”, semacam domino effect tapi menggunakan peralatan yang tidak biasa seperti bola, kursi, bahkan balon dan roket mini.

dsc_3253-2

The plasma ball (photo: private collection)

nemogroup

The Chain Reaction (image via http://www.bilimgezi.com)

Lantai 2 bertemakan “Technium”. Sesuai namanya, di lantai ini lebih kepada aktivitas (dan display) yang terkait dengan teknologi. Kalo kata website-nya, dengan teknologi maka kita bisa memperbaiki dan membentuk dunia. Di lantai ini ada ruang khusus yang disebut “the maker space” dimana anak-anak bisa ikut merancang, membuat, mengetes dan memperbaiki produk teknik sederhana yang bisa mereka bawa pulang sebagai souvenir. Di lantai ini juga terdapat erasmus bridge mini dan satu section khusus untuk mengetahui tentang pengelolaan air dan bagaimana cara mencegah banjir di Belanda. Selain itu ada juga mesin logistik dengan permainan interaktif mengirim barang ke seluruh dunia. Ada juga spinning wheel raksasa dengan pecahan segitiga dimana kita bisa membentuk sesuatu sambil belajar matematika. Sebenernya masih banyak lagi yang menarik di lantai ini, tapi saya bingung mau jelasinnya haha. Menurut saya aktivitas di lantai ini adalah yang paling menarik di antara lantai-lantai lainnya (walaupun juga gak kalah menariknya).

dsc_3263

The mini Erasmus Bridge (photo: private collection)

nemo-site-header-974x584

The world of form (image via http://www.studiolouter.nl)

DD332727

The Optical Illusion (image via studiolouter.nl)

water-world-nemo-amsterdam

Part from the water world (image via http://www.mikestravelguide.com)

dsc_3261-2

You can find this useful information in one of the restrooms :p (photo from private collection)

Di lantai 3 tema yang diangkat adalah “Elementa”. Di sini kita bisa belajar tentang hal-hal yang terkait dengan elemen yang ada di jagad raya ini. Di lantai ini ada juga ruang teater dimana kita bisa ikut nonton semacam 3D documentary movie tentang ruang angkasa. Durasinya kurang lebih selama 15 menit dan jumlah kursi yang tersedia cukup banyak (sebenernya saya agak ragu apakah teater ini adanya di lantai 2 ato 3 si haha, maafkan ya kalo ternyata saya salah kasih info :D). Selain itu, di lantai ini anak-anak bisa ikut belajar dan bereksperimen di ruang laboratorium yang khusus dibuat dan terbuka untuk pengunjung. Jangan khawatir, di sana lumayan banyak lab guide-nya kok, jadi kalo kitanya ga tau mau ngapain mereka akan bantu.

dsc_3275-2

Our young scientists 😉 (photo from private collection)

dsc_3274-2

The view of Amsterdam taken from inside the Museum (photo: private collection)

Lantai selanjutnya yaitu lantai 4 bertemakan “Humania”. Di sini pengunjung belajar tentang siapa diri kita, perubahan yang terjadi pada anak-anak yang beranjak remaja, bagaimana otak kita bekerja, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, rupa wajah, motorik, dan emosi. Selain itu di lantai ini juga ada ruang khusus yang berisi display perkembangan sains dan teknologi beserta proyeksi masa depan khususnya di Belanda.

wlanl_-_petertf_-_brein_boom

Image via wikipedia

dsc_3278-2

Berbagai macam jenis lampu dari Philips – salah satu sponsor Museum ini (photo: private collection)

Lantai teratas mengangkat tema “Energetica”. Di lantai ini di dalam gedung sendiri adalah restoran dengan konsep cafetaria. Sementara untuk proof activities nya sendiri berlokasi di luar gedung, tepatnya di rooftop square. Rooftop square ini sebenernya bisa diakses secara gratis loh. Jadi dari lantai 5 rooftop ini ada tangga menuju ke bawah sampai ke trotoar jalan dan semua orang bisa naik tanpa perlu tiket (mereka baru akan mengecek tiket di dalam gedung dekat lift dan tangga turun). Rooftop square ini keren banget menurut saya (lebih keren dari rooftop view di SkyLounge Hilton Hotel). Mereka mengkombinasikan sains dan teknologi (terutama yang berkaitan dengan energi di sekitar kita seperti angin, air dan surya) dengan sesuatu yang bikin kita betah stay di sana. Selain ada panorama spot (kamu bisa bikin foto panorama pemandangan kota Amsterdam yang keren di spot ini), ada juga sundial yang berinteraksi dengan bayangan tubuh kita, kursi-kursi dengan solar panel, dan spot untuk bermain dengan air di water fountain dan water wheel.

nemo-energetica-2

The Sundial with your shadow as the face (image via http://www.energy-floors.com)

dsc_3279-2

(photo: private collection)

dsc_3281-2

The moving sculptures (photo: private collection)

dsc_3285-2

The scheepvaartmuseum seen from the rooftop (photo: private collection)

dsc_3286-2

(photo: private collection)

dsc_3287

(photo: private collection)

dsc_3288-2

(photo: private collection)

Overall, museum ini sangat layak untuk dikunjungi baik untuk dewasa maupun anak-anak. Cuma aja perlu diinget kalo weekend biasanya museum ini lumayan padat. Hal ini bisa sedikit diakali dengan datang lebih awal kali ya hehe. Satu tip lagi buat yang mau berkunjung ke sini pake kendaraan pribadi (mobil). Udah pada tau dong ya kalo parkir di Amsterdam itu lumayan mahal tarifnya. Dari situs NEMO saya baca kalo mereka memberikan potongan harga buat biaya parkir kalo kita parkir di tempat parkir tertentu. Tapi sebaiknya si menurut saya mobil diparkir di P+R Parking Area Amsterdam Arena (apalagi kalo kita mau jalan-jalan di sekitar Amsterdam central juga), dan dari situ cukup naik Metro ke Amsterdam Central Station (atau bisa juga turun di Niewmarkt station). Dari Amsterdam Central Station kita tinggal jalan sedikit (sekitar 1 KM lah). Tarif parkir di sini sekitar €8 dan ini udah termasuk maksimal 7 tiket GVB (tiket buat tram, bus dan metro) yang bisa dipake seharian (1 jam dari aktivasi tiket pada saat pertama kali tap untuk rute pergi/keluar dari tempat parkir, dan ketentuan yang sama untuk tiket kembali ke tempat parkir). Tiket ini jangan dibuang, karna akan diperlukan pada saat kita bayar parkir nantinya.

Okeee, sekian dulu cerita kali ini ya, sampai jumpa di postingan lainnya :p

ps.
mohon maaf ya, berhubung saya agak repot sama bayi dan anak-anak yang tiap waktu minta mamanya ikut liat aktivitas mereka, saya cuma bisa ambil foto beberapa kali. Selebihnya saya ambil dari berbagai sumber di internet kurang lebih sebagai referensi temen-temen aja.