Malmö, Sweden and Lütjenberg, Germany.

Malmö, Swedia.

Kota tujuan kami setelah Copenhagen dalam rangkaian liburan musim panas 2017 kemarin adalah Malmö, Swedia. Rencana awalnya kami cuma nginep semalam aja di sana, karna saya sama sekali blank sama Malmö walo dulu temen saya pernah cerita kalo Malmö bagus (saya kasih ide buat sekalian ke Malmö aja karna penasaran sama jembatan lintas laut yang menghubungi Copenhagen sama Malmö sebenernya haha). Jadilah saya dateng berkunjung ke sana tanpa ekspektasi dan rencana apa-apa kecuali keliling sekitar city center aja.

Perjalanan dari Copenhagen ke Malmö via jembatan Øresund cuma memakan waktu sekitar 45 menit aja dong. Kita pun bisa melihat kota Malmö dari atas jembatan. Begitu masuk ke wilayah Malmö, saya punya feeling kalo saya bakalan suka dengan kota ini. Kotanya ga sebesar dan sesibuk Copenhagen. Suasananya lebih “hijau” dan rimbun. Dan yang utama, ga banyak rombongan turis yang saya temui di sini hehe. Tranquil!

Kami menginap di Scandic Malmo City yang lokasinya kebetulan berseberangan dengan city center. Walaupun mereka ga menyediakan parkir secara gratis, saya tetep suka dengan konsep hotelnya yang memang family-friendly. Selain inclusive breakfast dan wifi, kamarnya pun besar, lengkap dengan kitchenette beserta cuttleries-nya dan meja makan beserta empat buah kursi. Bahkan mereka nyediain baby chair di kamar kami hehe.

Scandic Malmö City

Entrance-nya (lobby-nya kecil!)

Art work di sekitar restoran di hotel

Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami pun memutuskan untuk keliling di sekitar city center. O ya, pas kami check in resepsionisnya kasih info ke kami kalo mulai jumat malam sampai hari minggu di sana akan ada “Malmö Festival.” Festival ini kayanya lumayan gede karna saya liat persiapannya juga besar-besaran dan udah keliatan bahkan beberapa hari sebelumnya. Pas kami keliling di sana udah berdiri panggung besar di tengah-tengah atrium city center-nya, dan juga beberapa food truck dan wahana-wahana khas kermis/night fair udah nangkring dengan manisnya (walau belum pada beroperasi pas kami di sana). Sayang banget kami baru tau pas udah di sana karna kami cuma stay di sana sampe Jumat siang.

Boat for rent

Kami keliling sampe ke Malmö central station. Stasiun keretanya lumayan besar dan nyaman. Yang bikin stasiun ini cukup menarik menurut saya adalah adanya restaurant row yang lokasinya agak terpisah di bagian samping stasiun (well, masih di dalam stasiun tapi lokasinya di samping gitu). Variasi makanannya pun cukup banyak, mulai dari fast food macam Subway, Japanese food, Chinese, Italian, Vietnamese, Middle Eastern, sampai Bakery tersedia di sana.

Kereta yang melintas jembatan Øresund (kayanya 😁)

Platform stasiun

Restaurant row.

Locker/storage for rent di stasiun

Karna anak-anak sedari di Copenhagen ngidam subway, jadilah untuk makan malam mereka minta itu. Saya sama suami milih pesen masakan vietnam (Beef Pho) untuk makan malam. Untung rasanya lumayan ga mengecewakan. Setelah makan, sebelum balik ke hotel saya beserta anak-anak dan suami beli cake Tradisional dari Swedia – princestarta atau princess tart – sebagai dessert dan merayakan bareng ulang tahun saya yang kebetulan bertepatan pada hari itu.

Keesokan harinya selesai sarapan dan main di kids room, kami kembali menjelajahi kota Malmö. Di malam harinya saya nyempetin sedikit browsing apa saja yang menarik untuk dikunjungi di sana. Sepanjang kami di sana, kami tidak menggunakan transportasi publik dan memilih untuk jalan aja. Sebenernya jarak yang kita tempuh lumayan jauh tapi karna cuaca yang sangat bersahabat dan beberapa kali istirahat, anak-anak pun hampir ga kedengeran mengeluh sepanjang perjalanan. Mamanya cukup amazed haha.
Trus apa aja yang menarik di Malmö? Untuk kota yang ga gitu besar, lumayan banyak spot bagus dan menarik yang ada di sini.

Yang pertama, tentu aja pengalaman ga terlupakan melewati Øresund bridge yaaa hehe. Kalo udah sampe ke Kopenhagen menurut saya si sayang banget kalo ga mampir ke Malmö via jembatan ini. It’s really worth to visit lah menurut saya. Foto (dan video) ga cukup menggambarkan pemandangan dan kecanggihan yang bisa kita saksiin dari jembatan dan sekelilingnya ini (tsaah😂). Btw, dari jembatan ini kita juga bisa liat sekelumit Malmö dari kejauhan loh.

Chillin’ on the couch. Lucu ya!

Bronze statues at city center

Kemudian ada satu gedung yang menarik yaitu Turning Torso. Gedung ini merupakan salah satu gedung (skyscraper) tertinggi di wilayah Skandinavia yang selesai dibangun pada tahun 2002 dan digunakan sebagai tempat tinggal dan perkantoran. Bentuknya unik, menyerupai orang kalo lagi berputar (makanya disebut turning torso). Lokasinya ga jauh dari selat Øresund dan sekitar 2,5 KM dari Malmö Central Station. Trus ada lagi Old Light House yang lokasinya ada di tengah kota. Kalo ga salah mercu suarnya sendiri udah ga dipake lagi, tapi mereka tetap mempertahankan si mercu suar ini. O ya, di deket stasiun ada semacam art work yang sangat colorful yang disebut “Spectral Self Container.” Anak-anak sempet manjat itu art work dong (yang kayanya ga dilarang si, karna ada anak lain yang juga lagi nangkring di sana haha).

Spectral Self Container.

Old light house from distance.

Old light house at a closer look

The Turning Torso

View at harbour close by Ribersborg beach.

They also have floating houses like in Amsterdam 🙂

Lanjut, ga jauh dari city center-nya Malmö (kurang lebih 20 menit jalan kaki) kita pun akan sampai di pantai Ribersborg (Ribersborgsstranden). Di tengah-tengah si pantai dan jalan raya terbentang luas (sepanjang mata memandang) taman terbuka dengan view keren jembatan Øresund di kejauhan.

Øresund bridge captured from distance.

Btw, ga jauh dari Turning Torso, banyak perumahan-perumahan baru dan ada playground yang cukup besar dan lumayan lengkap permainannya. Mulai dari tempat khusus untuk para anjing, perosotan besar dengan bentuk yang unik, ayunan, sampai jembatan goyang juga ada.

Kompleks perumahan/apartemen di sekitar turning torso.

Ini perosotan loh, bentuknya lucu banget ya

Satu yang saya ngeh di Malmö ini adalah mereka punya banyak taman dan tempat terbuka. Mungkin karna kota ini juga belum begitu banyak penghuninya (juga turisnya) makanya bahkan di city center-nya sendiri saya ga liat banyak orang bertebaran di mana-mana (lalet kali wkwk). Satu lagi yang saya tangkep dari kota ini adalah orang-orangnya yang cenderung rileks dan lebih laid back kalo dibandingkan dengan orang-orang yang saya temuin di Copenhagen. Entah yaaa, ini cuma perasaan seorang turis yang berkunjung di sana beberapa hari doang loh hahaha, jadi bisa jadi feeling kaya gini berubah kalo saya disuruh tinggal di sana. Dari segi bahasa, mereka juga ga gitu masalah kayanya untuk ngomong dalam bahasa Inggris. Sapaan khas warga di sana kalo mau say hello (dan goodbye) adalah “Hej”. Unyu ya hahaha. Sayang banget kita ga bisa stay di sana pas festival berlangsung (kalo iya bisa makin panjang postingannya si tapi hihi). Mungkin pas festival baru banyak keliatan orang di sana 😜.

Some spots at Slottsträdgården/Slottsparken.

Nemu kincir angin lagi hehehe

Dapet shot keren di Kungsparken.

Signage untuk Malmö Festival

Food trucks

Hari berikutnya kami pun check out dan siap-siap untuk looong trip lagi. Karena kita mau ngerasain sesuatu yang berbeda dan baru untuk anak-anak, pas pulang kami putusin ga lewat Øresund bridge lagi tapi via Ferry untuk nyebrang dari Swedia ke Denmark dan dari Denmark ke Jerman. Btw, dari segi biaya dua pilihan rute ini ga beda jauh sebenernya (via Ferry sedikiiit lebih murah), sementara dari segi waktu kalo lewat Øresund bridge lumayan motong waktu sedikit lebih cepat. Btw ferry-nya ini sejenis Ro-Ro kaya yang dipake di Bakauheni-Merak itu loh, cuma emang lebih terawat dan sedikit lebih keren hehe.

Lütjenburg, Jerman.

Begitu sampe Jerman, kami langsung disambut sama macet. Ini lagi yang beda dari negara Skandinavia yang kita kunjungi sama Jerman bagian yang kita lewatin – Hamburg dan sekjtarnya (macet free vs macet everywhere). Dari pelabuhan (Puttgarden Harbour) ke kota Lütjenburg – tempat kami menginap – sebenernya ga begitu jauh (sekitar 55KM) dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit aja, tapi karna macetnya yang ga kira-kira kami baru sampe ke hotel tempat kami nginep setelah di perjalanan lebih dari 3 jam. Kata suami, sumber utama kemacetan di Jerman adalah road construction yang banyakan barengan dan ga cepet dituntaskan. Selain itu tentu aja banyaknya caravan melintas (maklum musim liburan).

Interior kamar kami.

Kami sama sekali ga kemana-mana di Lütjenburg karna memang niat dari awal adalah supaya yang nyetir bisa istirahat. Cuma karna kami perlu beli makanan makanya saya dan suami (beserta unyil) belanja di Lidl supermarkt yang untung lokasinya deket banget dari hotel.

Btw, kami nginep di hotel Das Ostseeblick. Saya reservasi kamar via booking.com. Harganya ga gitu murah sebenernya, tapi fasilitas yang ditawarin juga lumayan mewah si. Selain ada private walk track, mini golf dan outdoor playground, mereka juga ada kolam renang indoor (dan jacuzzi kalo ga salah). Interior-nya juga keren, bikin saya inget game design home wakakaka. Cumaaa mereka ga punya lift ciin, syedih! Kasian bener deh suami saya, harus ngangkat koper (untung cuma 1 walo gede) ke kamar kami. 

Interior reception – lounge area.

Kolam renang indoor-nya.

Lounge room di lantai 2.

Saya suka sama piring-piring ini 😆

Konon kata suami saya Lütjenburg dulu termasuk salah satu tujuan wisata yang lumayan hits. Kota ini memang deket sama garis pantai, cuma ga sekeren Lübeck yang punya situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dia agak menjorok ke dalam, makanya orang prefer ke kota lain di sekitar situ kali ya. Saya juga sebenernya nyari hotel di sekitar Lübeck, cuma karna pas summer makanya hotel di sekitar situ (yang familyfriendlyfull booked semua. Untung suami ga masalah, makanya jadilah kami stay di Lütjenburg.

Besokannya setelah sarapan santai (full service dan enak sarapannya!), kami pun check out dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Dengan beberapa titik kemacetan yang lumayan di wilayah Hamburg, alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah juga road trip pertama kami dengan si kecil bisa dibilang lulus dengan memuaskan hehe. Si unyil lumayan anteng sepanjang jalan dan anak-anak (hampir) sepanjang perjalanan juga enjoy dan menikmati. Road trip ini hampir dipastikan ga akan jadi road trip terakhir kami. Di lain kesempatan insya allah kami akan pergi lagi dengan rute yang berbeda.

Advertisements

3rd Stop: Copenhagen

If I were forced to sum up in one sentence what the Copenhagen interpretation says to me, it would be ‘Shut up and calculate!
– David Mermin

Perjalanan dari Billund ke Copenhagen memakan waktu sekitar 2 jam aja. Kami menyeberang melewati Jembatan lintas laut sepanjang 18 KM (Storebælt). Tarif sekali jalannya adalah DKK 240 atau sekitar €34.

Untuk urusan hotel, Copenhagen adalah kota terakhir yang saya booking. Bukannya apa-apa, kebanyakan harga yang nyangkut di search engine saya harganya selangit cin! (iya, bahkan lebih mahal dari di Billund walau pilihannya lebih banyak hiks). Kalo saya ga bawa rombongan si mungkin bisa dapet kamar dengan harga yang reasonable yaa, tapi berhubung bawa rombongan sirkus yah terima ajalah apa adanya (saya tutup mata dan dompet biar suami aja yang jerit wkwkwk). Sempet mikir untuk nyoba air bnb tapi ga berani dan kemudian dicoret dari pilihan. Akhirnya kami milih untuk menginap di hotel jaringan Scandic yang lokasinya ada di Sydhavnen. Harganya termasuk lumayan (kita ga sampe ngabisin ribuan euro untuk total menginap selama 3 hari 2 malam di sana), kamarnya besar dan family-friendly (ini yang jadi salah satu pertimbangan kami untuk milih hotel ini), sarapan dan parkir gratis (yay!), plus lokasinya walo ga di pusat kota banget tapi di depan hotel ada halte bus nongkrong dengan cantiknya hihi.

Full moon! I captured this photo from our hotel room.

The lobby of the hotel.

Sebelumnya saya membayangkan kalo Copenhagen itu sejuk di mata, eco-friendly dan orang-orangnya santai dan less busy. Tapi ternyata pada kenyataannya ga seindah yang ada di kepala saya. At least pas pertama kami masuk ke wilayah pusat kota dan sekitaran hotel kami. First impression-nya kurang greng lah. Bisa jadi karna pada saat kami ke sana banyak banget perbaikan jalan dan konstruksi bangunan yang belum beres sepenuhnya makanya jadi bikin kotanya agak keliatan kotor dan berantakan. Bisa jadi juga karna saya tinggalnya di kampung dan ga begitu suka keramaian (yang terlalu ramai) dan kesibukan (yang terlalu sibuk) makanya jadi agak shock ya hahaha (ini hiperbola). Tapi ini ga berarti saya ga suka Copenhagen loh. Di sana banyak banget tempat-tempat indahnya, plus mereka juga punya Mal besar macam di Jakarta (with a better view and surrounding of course).

Balik ke cerita kami. Begitu sampai hotel, resepsionis menyambut kami dengan ramah (keuntungan bawa bayi unyu begini ni hihi) dan check-in pun berjalan dengan lancar. Setelah urusan kamar beres, kamipun pergi keluar untuk lihat-lihat suasana sekitar sembari sekalian cari makan malam. Jarak dari hotel ke city center sendiri kurang lebih sekitar 3 KM. Ga gitu jauh sebenernya. Tapi berhubung waktu yang kurang memungkinkan, ditambah kami udah laper dan cape akhirnya begitu liat Copenhagen Mall kami langsung cus ke situ aja.

Mall-nya Copenhagen ini konsepnya menurut saya kurang lebih kaya Bintaro X-Change lah. Yang bikin keren adalah mall ini di belakangnya langsung dek trus laut gitu. Kalo bangunannya sendiri standar mall-mall kaya yang di Indonesia (kenapa Belanda ga punyaaa huhu). Kebanyakan restoran dan toko buka sampai jam 20.00 malam. Lain dengan Billund, di sini untuk pilihan makanan jauh lebih bervariasi. Cumaaa, kalo di Mall ini kebanyakan konsepnya all you can eat gitu. Mereka juga nyediain menu a la carté gitu si, tapi kalo dibandingin jauh lebih menguntungkan kalo ambil paket all you can eat-nya (wkwkwk ga mau rugi sis). Kalo saya perhatiin, harga all you can eat di setiap restoran di Mall ini sama semuanya. Harganya belum termasuk minum. Di tempat kami makan variasi makanannya lumayan banyak, mulai dari yang biasa aja kaya french fries dan pizza, sampe yang lumayan spesial kaya grilled chicken, bakmi goreng, curry, biryani sampe tacos juga ada. Bagian saladnya juga banyak pilihannya dan juga ada section buah dan pudding untuk dessert.

Setelah kenyang kami sedikit jalan-jalan di sekitar dek. Di deket situ ada beberapa orang yang lagi berenang dong. Gila banget ya, kami yang ga nyelup aja udah kedinginan lah mereka itu nyebur di air😂. Karna ga kuat anginnya itu juga makanya kami putusin untuk balik ke hotel aja.

Besoknya selepas sarapan kami langsung nunggu dengan manis di halte bis siap mengeksplorasi Copenhagen. Tujuan pertama adalah si patung little mermaid. Dari halte depan hotel kami harus ganti bis di Copenhagen Central Station. O iya, untuk beli tiket transport ini kalo ga mau bayar kontan (ga semua transportasi publik juga yang terima cash kalo ga salah) mereka punya aplikasi khusus yang biayanya langsung di-charge ke kartu kredit kita. Sekali tap untuk zone 1 sampai 3 kalo ga salah adalah sekitar DKK 24 atau sekitar €3. Untuk tiket transport segitu masih termasuk murah dan cukup masuk akal – kurang lebih sama kaya ongkos bis di Belanda. Untuk anak-anak sampai umur 12 tahun seperti di kebanyakan kota di Eropa ga perlu beli tiket alias gratis. Untuk tiketnya sendiri masa berlakunya adalah 1 jam. Lewat dari itu kita harus beli tiket baru lagi. Mereka juga nawarin semacam tourist card juga si, tapi harganya lumayan mahal dan menurut kami ga gitu guna karna hampir kebanyakan tempat-tempat wisata di Copenhagen ga begitu jauh jaraknya (kecuali si little mermaid ini, yang lokasinya lumayan agak ke ujung). Saya ga tau apa mereka nawarin dagkaart atau daily transport card kaya di Belanda ato ga karna kami ga nanya.

Bukan cuma si patung little mermaid yang menarik di area ini. Ada juga beberapa patung lain yang ga kalah bagusnya dan juga view dermaga dengan yacht yang lagi diparkir di sana. Cuma emang yang paling rame ya di sekitar putri duyung itu. Hampir kaya cendol, dan rombongan turis-turis ini lumayan sangar demi ngambil fotonya. Buat yang minat mereka juga ada boat tour di sekitar patung lengkap dengan guide-nya.

Setelah puas keliling di sekitar situ, kami pun lanjut jalan ke Kastellet yang lokasinya ga jauh dari little mermaid. Kastellet ini adalah kompleks benteng yang luas. Nah kalo liat Kastellet dan lingkungan di sekitarnya baru deh berasa sesuai ekspektasi saya. Pemandangan di sekitar sini juga bagus. Ada satu kincir angin nyempil di tengah2 kompleksnya.

Pemandangan di sekitar Kastellet

Setelah mengelilingi Kastellet, kami pun lanjut berjalan kaki sambil nyari-nyari tempat makan karna kebetulan udah waktunya makan siang. Salahnya kami adalah sehari sebelumnya kami ga sempet googling (atau nyari info via Yelp – ga kepikiran euy) tempat makan mana yang recommended khususnya yang menawarkan menu khasnya mereka (si Smørrebrod tea). Akhirnya ya kami sambil jalan sambil liat kedai makan terdekat dan lumayan menarik untuk dilihat menunya. Akhirnya kami mampir di semacam kedai gitu lah, dan beli si Smørrebrod untuk makan siang kami. Smørrebrod sebenernya sama kaya cold sandwich, cuma emang bentuknya terbuka. Saya sendiri bukan penyuka cold food makanya jadi kurang nikmatin lah makannya (maklum mulut kampyung wkwk). Anak-anak dan suami si nikmatin aja. Eh tapi mungkin juga ada yang jenis warm sandwich-nya kali ya – saya aja yang oon hahaha. Kalo diliat dari banyaknya yang beli (kebanyakan pada take away si), kayanya si kedai ini lumayan laku juga.
Selesai makan, kami lanjut lagi jalannya. Awalnya kami pengen ke Amalienborg – tempat tinggal keluarga kerajaan, tapi kita ga nemu-nemu si Amalienborg ini hahaha. Kayanya si kita salah belok (ternyata satu blok doang bedanya!), walo untungnya ketemu spot menarik lainnya juga, yaitu Rundetaarn alias Round Tower. Kami ga masuk ke dalamnya (karna anak-anak pada waktu itu udah mulai capek dan sedikit cranky karna cuaca yang agak menyengat). Akhirnya kami cuma duduk di sekitar situ sambil mendengarkan street musician yang lagi main piano sambil nyanyi (bagus banget!). Out of the blue dan ini jarang banget kejadian sama saya, ga sengaja pas di situ kami ketemu salah satu rombongan turis dari indonesia dong haha. Setelah menyapa sedikit, kami pun lanjut lagi jalan. Kami melewati shopping street yang terkenal di sana (Strøget) dan kemudian lanjut menuju ke Christiansborg Palace.

foto bagian atas via npr.org, 3 smørrebrod di bawah adalah yang kita beli untuk lunch.

Construction work di depan Frederiks Kirke atau the Marble Church.

Found this nice spot at one of the road we passed

Rundetaarn alias the Round Tower

Unique statue next to the tower.

Strøget area.

Strøget area.

Bicycles!

Nyebrang dari Strøget menuju Christiansborg Palace.

Lagi-lagi kami ga masuk ke dalam palace (resiko bawa anak-anak gini nih). Setelah puas liat sekitar kompleknya aja kami pun lanjut jalan lagi. Awalnya mau nyari Tivoli Garden – salah satu amusement park tertua di Eropa – yang lokasinya emang ga jauh dari Christiansborg Palace (salah satu atraksinya keliatan dari Palace!), tapi sebel banget udah jalan keliling kami ga nemu-nemu pintu masuk utamanya (kayanya kita salah milih belokan lagi hahaha). Udahlah berhubung pas kami ngelilingin Tivoli itu nyampe di Copenhagen central station, kami putusin buat istirahat sambil makan donat sebentar dan kemudian naik bus menuju Nyhavn (New Haven).

Christiansborg Palace.

Glyptotek yang kita lewatin pas lagi nyebrang ke arah Tivoli Garden

Salah satu atraksi di Tivoli Garden yang keliatan dari jalan.

Nyhavn

Kumpulan life vest atau jaket pelampung.

Restoran dan Bar ini juga eksis di Legoland Billund Miniland 😁

Perjalanan menuju Nyhavn ini ternyata makan waktu lebih lama dari yang saya kira. Macet cin! Plus, banyak banget turis di sana. Saking penuhnya buat moto bagus tanpa banyak orang jadi agak susah. Pemandangan di sekitar Nyhavn bagus, dan seperti kebanyakan tempat-tempat turistik lainnya harga makanan dan minuman di sana agak gak masuk akal (setidaknya kalo dibandingin sama harga di lokasi lainnya).

Karna anak-anak udah pada kecapean dan waktu pun udah lumayan sore, kami putuskan untuk kembali ke hotel aja dan makan malam di sana. Karna lokasi ke hotel lumayan jauh, kami balik ke hotel naik bus. Nah jalan di sekitar Nyhavn ini ampun macetnya. Kami sendiri harus nunggu bus hampir 1 jam karna busnya kejebak macet. Jadi saya juga ngerti kenapa orang-orang di sana lebih milih naik sepeda atau jalan kaki buat mobilitas mereka.  Btw makanan yang kami order di hotel surprisingly enak dan ga gitu mahal loh. Anak saya yang cowo di sana jatuh cinta sama minuman yang dia coba pertama kali di sana (Elder flowers). Jadi setiap dia pesen minum yang dicari itu hehe.

Trus berhubung saya masih penasaran sama Amalienborg dan pengen liat prosesi pergantian penjaganya, saya usul kalo sebelum kami nyebrang ke Malmö untuk mampir ke sana. Salah satu concern suami sebenernya adalah tempat parkir. Selain mereka nge-charge lumayan tinggi, sepanjang yang saya liat emang tempat parkir di pusat kota ga gitu banyak dan kalo adapun terlihat penuh. Setelah browsing sedikit dan kebetulan ada tempat parkir ga jauh dari Amalienborg, akhirnya kami putuskan buat mampir juga. Keesokan harinya setelah sarapan kami langsung beberes dan check-out dari hotel menuju lokasi parkir di sekitar Amalienborg.

Satu hal penting yang perlu di-mention, pas kami mau parkir mobil kebetulan tempatnya hampir penuh dan yang tersisa adalah tempat parkir di lantai 5 maka kamipun parkir di sana. Begitu kami mau keluar teng terereng ternyata ga ada lift buat turun dooong, adanya cuma tangga aja. Kalo kami ga bawa buggy si ini ga akan jadi masalah tinggal turun aja. Akhirnya kami turun lewat jalan mobil sambil minggir dan pas mau pulang cuma suami yang ke atas buat ambil mobil. Sempet-sempetnya pula pake drama hilang tiket parkir lah, untung mereka ga kasih denda dan suami cukup bayar biaya parkir sesuai durasi kami parkir di sana aja.

O ya, jadwal pergantian pasukan penjaga istana di Amalienborg kalo ga salah adalah pukul 12.00 siang. Prosesinya sendiri sudah dimulai sejak pukul 11.30 – 11.45 kayanya. Kayanya emang Copenhagen sekarang ini adalah salah satu destinasi utama para turis ya, ini bisa dilihat dari banyaknya orang yang berkerumun buat liat prosesi pergantian penjaga ini. Dulu pas saya di Stockholm sempat juga lihat prosesi serupa tapi kerumunan orangnya jauh lebih sedikit dari yang ada di Amalienborg. Sayang proses pergantian penjaga yang kami saksikan kemarin “cuma” yang simpel. Kalo kata suami, ini berarti Raja dan Ratu lagi ga ada di istana, dan mungkin juga putri dan/atau pangeran lagi ga ada di sana, karna katanya kalo mereka lagi ada prosesnya bakal lebih meriah dan panjang. Tapi tetep prosesinya lumayan menarik untuk dilihat.

Pas bubaran

sedikit out of the topic, aya pernah liat di salah satu link video di facebook kalo Copenhagen (atau Denmark?) merupakan salah satu kota yang terkenal dengan “cyclist-friendly.” Banyak warganya yang untuk mobilitas lebih memilih menggunakan sepeda dan di sana juga untuk jalanannya ada jalur tersendiri yang khusus diperuntukkan bagi para pesepeda. Sebenernya situasi kaya gini ga jauh beda juga dengan di Belanda. Cuma karna kebetulan saya tinggal di kampung yang nota bene jauh lebih sepi, jadi saya ngerasa kalo situasi jalanan di Copenhagen agak chaos. Sebenernya kalo liat di Amsterdam city center-nya juga gitu ya (apalagi di sekitar central station deh). Para pesepeda ini juga cenderung kurang toleran dengan para pejalan kaki. Kalo kitanya ga hati-hati bisa jadi kita jadi salah satu korban tabrak lari (sepeda) hahaha. Ada satu perbedaan yang cukup menonjol dari para pesepeda yang saya liat sepanjang saya di Copenhagen kalo dibandingin dengan pesepeda di Belanda: Mereka rata-rata pada pake safety equipment loh! Mulai dari helm (ini paling banyak), sampai knee and elbow protector ada juga yang saya temuin. Kalo di Belanda? meh lah hampir semua ga ada yang pake itu wkwkwk.

Satu pelajaran yang bisa kami ambil dari kunjungan kami ke Copenhagen kemarin adalah, kalo mau dateng ke sana jangan pas musim liburan (terutama pas summer)! dan kalo emang terpaksa sebisa mungkin kunjungi tempat-tempat turistik kaya Little Mermaid dan Nyhavn pagi hari atau ngga usah sekalian (tapi dua-duanya menarik, bagus dan worth to visit si hahahhaa).

Setelah selesai menonton proses penggantian penjaga di Amalienborg, kamipun kembali menuju ke tempat parkir. Setelah urusan perparkiran beres berangkatlah kami menuju destinasi selanjutnya.

2nd Stop: Billund, Denmark.

“If there was no Lego in Billund, there will almost be no Billund… Lego is Billund, and Billund is Lego.” Jorgen Vig Knudstorp

Kami berangkat menuju Billund dari Hamburg sekitar jam 11 siang. Di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk makan siang di rest area yang kebetulan pas kami lewati pada saat jam makan siang. Salah satu kelemahan cara kita ini adalah makanan yang kita dapet akhirnya ya apa adanya deh.

Setelah menyetir selama kurang lebih 3 jam lebih, akhirnya kami sampai juga di Billund, Denmark. Udah pada tau kan yaa, tujuan utama kami ke sini adalah Legoland hehe. Kalo dulu pas di Legoland Günzburg kami menginap di Legoland Resort-nya, kali ini kami menginap di Bed & Breakfast Gregersminde (well, actually we didn’t get breakfast, that’s just how they call it 😛) yang lokasinya ga jauh dari Legoland. Saya sempat kepikir untuk stay di Legoland Resort-nya juga si, tapi begitu saya cek harganya langsunglah saya mundur teratur. Udah ini tempat turis kumpul, pun letaknya di Denmark – which is known as one of the expensive countries to live!. Untung aja saya masih bisa booking si B&B ini, secara sebelumnya setiap saya nyari tempat buat stay dengan harga yang agak masuk akal (dengan lokasi yang ga begitu jauh plus kondisi yang cukup nyaman) mesti semuanya either fully book ato ga harganya bikin saya urut dada hahaha.

Tempat kami stay ini lumayan melebihi ekspektasi kami. Saya pikir lokasinya bakalan agak ke dalem di tengah hutan dan kabinnya banyak kaya di tempat-tempat outdoor camping dengan holiday hut gitu. Tapi ternyata si B&B ini cuma ada satu kabin yang terpisah, selain itu mereka ada kamar yang lokasinya di rumah utama dan beberapa kabin model rumah susun gitu. Mereka nyediain sepeda yang bisa kita pakai gratis, tempat parkir kendaraannya juga lumayan. Selain itu di sana ada juga playground dan lapangan futsal.

Kabin kami sendiri bisa dibilang compact, efisien dan lengkap. Kamarnya ada 2 (satu kamar dengan double bed dan satu kamar dengan bunk bed). Di kabin juga tersedia dapur beserta peralatan makan dan kelengkapan memasak lainnya (bahkan bread toaster dan coffee maker juga ada), kamar mandi (shower) lengkap dengan hair dryer, plus sesuai request kami juga disediakan baby cot dan baby chair.

Billund  sebenernya kota yang ga begitu besar – tapi juga ga kecil. Seperti yang saya kutip di atas, kalo Lego ga pertama kali dibuat di sini, mungkin orang-orang ga akan kenal dengan Billund. Sepanjang perjalanan menuju Billund yang kami lewati hampir ga ada gangguan dan bebas dari macet (jauh beda dengan jalan menuju Hamburg – baru nginjek gas ehh di depan ada perbaikan jalan lagi yang berarti ngantri lagi wkwk). Trus, entah kaminya yang bego atau emang ini kenyataan ya, tapi menurut kami city center-nya Billund itu kecil banget! perasaan kampung tempat kami tinggal lebih lengkap dan lebih gede deh wkwk. Suami bahkan nyeletuk, “Kayanya Legoland jauh lebih besar dan rame kalo dibandingkan sama Centrum Billund-nya sendiri deh.” Jadi center of crowd-nya Billund ya si Legoland ini lah (dan Billund Airport yang lokasinya berseberangan dengan Legoland).

Ada satu lagi yang lumayan mencolok yang kita liat di centrum-nya. Hampir sebagian besar restoran yang kita temuin di sana menawarkan menu yang sama: pizza, pasta and grill. Apa ini trik mereka untuk ngurangin persaingan ato kurang kreatif saya kurang tau deh hihi. Tapi kalo dari pengalaman kami makan di salah satu restorannya si rasanya cukup enak (kami waktu itu cuma pesan beberapa jenis pizza dan salad aja).

Keesokannya setelah sarapan (di kabin – kami belanja di supermarket yang lokasinya selemparan batu dari tempat kami nginep) kami berangkat menuju Legoland. Lokasinya cuma 5 menit dengan mobil dari tempat kami menginap. Legoland sendiri menyediakan tempat parkir di beberapa lokasi, dengan lokasi paling dekat ada di seberang legolandnya. Harga tiket masuk Legoland bisa dibilang masih lumayan masuk akal kalo dibandingin sama Disneyland. Kebetulan saya nemu promo yang cakep banget di Groupon, dimana buat family ticket (open date, maksimal 2 dewasa dan 2 anak) harganya sekitar 40% lebih murah dari harga aslinya.

Main entrance Legoland Billund.

Legoland Billund bisa dibilang ga jauh beda dengan legoland-legoland lain yang udah pernah kami kunjungi (baru yang di Johor Bahru Malaysia sama di Günzburg Jerman aja si hahaha). Tapi ada satu yang bikin mereka beda: miniland-nya. Di sini mereka punya miniatur dari gedung-gedung tertinggi di dunia, plus miniatur kota-kota di Denmark dan beberapa kota besar di Eropa. Sebenernya saya motret lumayan banyak miniatur land-nya, tapi saya cuma upload beberapa aja di sini hehe.

Ga seperti Disneyland dan Efteling, Legoland ga sepanjang tahun buka. Mulai bulan November sampai bulan Maret di tahun berikutnya mereka tutup dan baru buka kembali di bulan April. Ga kaya Disneyland yang ga membolehkan pengunjungnya untuk bawa makanan dan minuman dari luar, legoland punya konsep “terbuka” alias pengunjungnya boleh bawa makanan dan minuman sendiri (di efteling juga sama). Di sana sendiri lumayan banyak pilihan makanan yang bisa kita pilih (mulai dari kebab, wok to go, dan makanan standar seperti burger, fries and steak). Rasanya (dan porsinya) juga sangat bikin kenyang dan harganya cukup masuk akal.

Setelah anak-anak puas main (plus sudah hampir waktunya park tutup), kami kembali ke tempat kami menginap. Sewaktu kami jalan menuju ke tempat parkir di langit sedang menyembul segaris pelangi. Cantik!

Lego version of Nyhavn, Copenhagen.

Lego version of the White House.

The Clock Tower Mecca, Shanghai Tower China, and Burj Al-Khalifa UAE.

The rainbow!

Besok paginya anak-anak setelah sarapan main di playground dan trampolin di B&B, dan setelah makan siang kamipun berangkat menuju ke Kopenhagen.

First Stop: Hamburg, Jerman.

A Hamburg saying, referring to its anglophile nature, is “Wenn es in London anfängt zu regnen, spannen die Hamburger den Schirm auf.” … “When it starts raining in London, people in Hamburg open their umbrellas.”

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam (dengan break sekali di rest area untuk makan siang), akhirnya kami sampai di hotel tempat kami menginap di Hamburg, Jerman. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi, dengan perkiraan kita akan sampe pas waktu check in di hotel. Hotel tempat kami menginap namanya Bundt’s Garten Restaurant. Hotel ini bukan pilihan awal saya si. Sebelumnya saya udah booking kamar di Novotel Hamburg untuk tanggal lain, tapi rencana awal kami berubah dan Novotel udah fully book. Saya harus cari akomodasi lain dan kebetulan waktu itu yang masih tersedia (dan cukup bagus review dan masuk akal harganya) adalah hotel ini. Kalo diliat dari kamarnya, bisa dibilang hotel ini termasuk hotel lama (feel-nya ga modern lah setidaknya).

Lokasi si hotel deket sama Hamburg airport, sementara untuk ke pusat kota sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Di sekeliling hotel ini banyak perkebunan apel. Salah satu nilai tambah untuk hotel ini adalah sarapannya enak! Selai dan jus yang disediakan fresh dan kayanya home made gitu, makanya jadi spesial.

Begitu sampai kami ga langsung ke city center tapi jalan-jalan di sekitar hotel, dan karena waktu yang agak tanggung, kami akhirnya makan malam di restoran di hotel aja. Makanan yang kami pesan cukup lumayan, walau juga ga begitu spesial. Suami waktu itu pesen bebek dengan persik dan saus cranberry, sementara saya pesen ikan (anak-anak standar kids menufries dan nugget). Cuma karna ketidaktauan kami sayang banget kentang yang ada di piring saya ternyata ada potongan ham-nya, yang berarti saya ga bisa makan. Untungnya si ikan (salmon dan white fish – lupa jenis apa) ga semuanya nempel, jadi masih ada beberapa bagian yang bisa saya makan. Sementara bebeknya suami aman.

Beautiful view on the road heading to the hotel.

The hotel.

The entrance of the hotel.

They have a midget golf here!

The interior in front of reception desk.

Apple tree field located accross to the hotel.

Pedestrian path.

Cute farmer house in the middle of nowhere.

The church close by to the hotel.

During the walk we spotted an airplane just took off from the airport 🙂

the fish menu.

the duck together with cranberry sauce and peaches. Other veggies and french fries were not in the picture bcos it came separately.

Di hari berikutnya kami baru menjelajah (halah) pusat kota Hamburg. Dengan pertimbangan dari segi kepraktisan, kami putuskan untuk memarkir mobil di sekitar pusat kota. Di malam sebelumnya kami sudah browsing kira-kira di mana kami bisa parkir dengan lokasi dan biaya paling efisien (tidak di pinggir jalan tapi di dalam gedung – dengan pertimbangan dari segi keamanan) dan kami putuskan untuk parkir di gedung pusat kebudayaan Jepang. Lokasinya cukup strategis dan biaya per harinya juga lumayan masuk akal.

Setelah memarkir mobil, kami menuju ke stasiun metro (u-bahn) untuk membeli Hamburg Pass. Walaupun beberapa tempat turistik di Hamburg lumayan saling berdekatan dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, buat kami yang bawa bayi dan dua anak kecil kadang lebih efisien kalo kita naik transportasi publik aja. Hamburg pass ini semacam tiket transportasi publik yang bisa dipergunakan untuk metro, bis dan kereta di sekitar Hamburg untuk jangka waktu tertentu (24 atau 72 jam). Saya kurang paham sebenernya untuk transportasi publik di Hamburg gimana walau setau saya di beberapa kota di Jerman transportasi publiknya gratis. Hamburg pass ini ada 2 jenis: yang single atau yang group. Kalo single masa berlaku 24 jam harganya €9,90 berlaku untuk satu orang, sementara untuk yang group masa berlaku 24 jam harganya €18,5 dan bisa dipergunakan untuk 5 orang dewasa. Untuk anak-anak sampai usia 12 tahun kalo mereka bareng dewasa ga perlu bayar alias gratis. Selain itu, kalo kita tunjukin si hamburg pass ini kita juga bisa dapet potongan harga di beberapa tempat. Fyi, selama kami mondar-mandir naik metro di sana ga ada yang meriksa tiket kami sama sekali lohh (dan mereka ga pake sistem gate di metro station-nya). Cuma emang kalo mau naik bis kita harus tunjukin si tiket ke supirnya si biar aman.

Stasiun metro terdekat dari tempat kami parkir adalah Rathaus station, di deket Rathaus/Town Hall-nya Hamburg. Sebelum ke stasiun kita sambil liat-liat juga di sekitar Rathaus square yang punya view bagus juga. Suasana di sekitar situ sewaktu kami ke sana ga gitu sibuk jadi kami masih bisa menikmati walau cuaca sedikit mendung. Dari Rathaus kami menuju ke stasiun yang jaraknya paling dekat dengan dermaga pelabuhan/pier karna kami berencana untuk ikut salah satu tour river cruise-nya. Alasannya si simpel, karna Hamburg adalah kota pelabuhan (kedua terbesar di Eropa setelah Rotterdam) dan memang lumayan banyak yang merekomendasikan untuk ikut tur ini. Lamanya tur adalah kurang lebih satu jam dan kita bisa milih untuk ikut di kapal yang menggunakan bahasa apa (kami ikut di kapal dengan tour guide berbahasa inggris).

Kami turun di stasiun St. Pauli dan kemudian jalan sedikit ke arah pier. Di sekitar sini baru mulai terasa turisnya (baca: rame cin! haha). Kayanya ini salah satu spot utama para turis ya, dan udah pasti mereka juga mau ikutan cruise-nya (ato setidaknya sightseeing di sekitar pier lah).

Selesai tur, kami menyempatkan diri untuk turun dan melihat the old elbe tunnel. Terowongan ini umurnya udah tua banget lohh, dibangun pada tahun 1911! Keren ya, di tahun segitu udah bikin konstruksi serumit ini dan bikinnya di bawah sungai (elbe) lagi. Untuk turun ke terowongan penyeberangan ini kita bisa lewat lift atau tangga (kalo kuat hahaha). Terowongan ini sendiri khusus diperuntukkan bagi para pejalan kaki dan pesepeda.

Puas melihat konstruksi si terowongan (ngga sis, kami ga nyebrang. Saya nyerah kalo disuruh nyebrang sambil gendong unyil hahah, begitu sampe di seberang langsung pengsan kayanya 😂), kami makan siang di Hard Rock Cafe yang lokasinya di sekitar pier juga. Pengunjung cafe-nya termasuk ramai tapi alhamdulillah kami cepet dapet tempat. Tapi abis pesen, makanannya lama banget datengnyaaa. Untungnya anak-anak ga complain dan sibuk main berdua (sementara si kecil sibuk teriak dan bikin repot papa mamanya). Setelah makan siang kami berencana untuk berkunjung ke Miniatur Wunderland yang katanya adalah tempat wisata dengan miniatur model kereta terbesar dan terlengkap di dunia (bener ga sih?). Awalnya saya pikir miniatur wunderland ini kaya madurodam gitu, jadi di luar atau outdoor attraction, tapi ternyata showcase-nya semua di dalam ruangan alias indoor. Begitu sampe di pintu masuk, loket tiket antriannya udah panjang, dan pas giliran kita ternyata mereka bilang tiket untuk jam kita dateng udah sold out dan mereka nawarin untuk dateng jam 18.30 – 20.30 atau jam 19.30. 21.30. Kami baru tau kalo mereka membatasi pengunjung dengan menjual tiket dengan slot jam kaya gini. Wajar si ya, kalo ga yang ada ga nyaman banget di dalam. Anyway, karna kami pikir jam 18.30 tanggung (karna pas waktunya makan malam dan kami sudah reservasi di salah satu restoran untuk jam 17.30), akhirnya kami pilih opsi yang jam 19.30 dan nanti kembali lagi ke sana setelah makan malam.

Berhubung ada jeda waktu dan kami (well, saya dan anak-anak si hehe) udah ngerasa cape, saya usul untuk cari taman aja biar si kecil bisa agak bebas bergerak (at least ga digendongan aja). Setelah ngulik sedikit di peta kami lihat taman terdekat adalah Alter Elb Park, dan ke sanalah kami berjalan kaki menuju dan beristirahat sebentar (lempengin pinggang sis 😂).

Rathaus alias Town Hall-nya Hamburg.

Sisi lain Rathaus/Town Hall Hamburg.

Pemandangan dari atas Landungsbrücken.

Pemandangan dari Landungsbrücken.

Another bridge of locks? Lokasi di Landungsbrücken keluar dari stasiun metro St. Pauli, deket pelabuhan.

Ferry cruise yang kita tumpangi.

Pasar ikannya Hamburg. Sepi karna udah siang, tukang ikannya udah pulang semua kayanya hehehe

“komplek”nya para sosialita Hamburg 😜

Salah satu condominium termahal di eropa. Bentuk gedungnya lucu ya.

Elbphilharmonie Hamburg.

Cranes at the port of Hamburg.

the old elbe tunnel yang melintas di bawah sungai Elbe. Untuk sampai ke ujung lainnya menempuh waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.

Makan siang kami di Hard Rock Hamburg.

Sisi lain kota Hamburg. Ternyata masih ada juga mereka yang tidur di bawah jembatan di sana.

Patung raksasa yang ada di Elb Park.

Setelah “ngadem” plus istirahat sebentar di taman, kami lanjut jalan lagi ke bus halte terdekat untuk pergi menuju restoran yang sudah kami pesan. Sebelum mutusin untuk makan di restoran ini kami juga menyempatkan untuk browsing sedikit dan kebetulan ketemu satu restoran india yang lumayan bagus review-nya dan lokasinya sendiri juga ga begitu “aneh” (makluuum, kita kan modal peta doang hihi). Setelah anak-anak oke, langsung kami reservasi di sana (takut penuh soalnya). Hasilnya? Ga nyesel deh makan di situ! Saya kan termasuk orang yang picky eater dan biasanya sama Indian cuisine ga gitu doyan-doyan amat, tapi sama yang ini duh beneran deh enak nyosss, terutama untuk para curry-nya.

These are our dinner menu at Ashoka Restaurant. Really recommended if you’re a fan of authentic Indian dish!

salah satu entrance-nya Dommarkt yang kami lewati waktu menuju restoran.

Selesai makan malam, kami kembali lagi ke miniatur wunderland (setelah sebelumnya sedikit diskusi dengan suami sebaiknya langsung bawa mobil aja dan parkir di tempat parkir terdekat di sekitar miniatur wunderland supaya kita ga perlu bolak-balik lagi). Begitu masuk ke lokasi, waduh saya agak stress euy. Ternyata udah jam segitu aja masih penuh! Mana kami bawa buggy/stroller, tiap mau maju dikit mentok sama kaki orang (ga tiap kali si cuma lumayan sering aja, ini hiperbolis sedikit hahah). Akhirnya kami mencar-mencar deh biar pada bisa lihat juga. Saya juga ikut keliling walau ga semuanya saya liat. Abis itu saya duduk aja sambil kasih mimik si bayi yang ga lama kemudian bobo (karna emang udah waktunya). Btw si Miniatur Wunderland ini buka sampe tengah malem booo. Poll banget nyari duitnya ya.

Setelah cukup puas lirak lirik si model train dan kawan-kawannya, akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Tipikal bangunan yang saya temuin di sekitar Hamburg. Menurut saya kesan industrialnya kental banget, ya ga si?

parts of Michaelis bridge. They put a very nice tiles here 😉 and look at the love padlocks on the left!

Salah satu spot karyawan di Miniatur Wunderland.

Kalo ga salah ini adalah miniatur dari salah satu event konser penggalangan dana. Kebayang ga itu miniatur orangnya ditaroin satu-satu secara manual. Kalo ga salah juga kita bisa ikut donasi dan nanti miniatur kita akan ditaro di situ 🙂

Miniaturnya the Spanish Step di Roma.

Kalo ini miniatur railtrack yang ada di Swiss (ato Austria ya? Lupa sodara-sodara maap :p)

Jumlah pengunjung Miniatur Wunderland dari berbagai negara.

Yay, we are on TV! 😄

All in all, Hamburg for us is not dissapointing at all. Walaupun ga semua spot kami datengin tapi kami cukup menikmati dan untuk ukuran satu hari kami sudah lihat lumayan banyak tempat menarik di Hamburg.

Selepas sarapan dan selesai packing, berangkatlah kami menuju pemberhentian berikutnya, yaitu Billund – the home of Lego 🙂

Pardon for mama’s messy hair 😅

Ps: berhubung anak-anak yang pegang kamera, sebagian besar foto saya motret pake hp jadinya. O iya, maaf juga kalo fotonya terlalu banyak yaa. Sengaja wkwkwk

Road-Tripping with the Kids.

“When traveling with someone, take large doses of patience and tolerance with your morning coffee.”
– Helen Hayes

Duh kayanya kutipan di atas cukup relevan terutama buat yang jalan bareng anak-anak ya ga siiik. Summer holiday tahun ini saya beserta suami dan anak-anak mengisi liburan dengan road trip ke beberapa kota di beberapa negara yang ga jauh dari Belanda. Setelah rencana awal buat mudik ke Indonesia ga jadi (karna saya udah pulang di bulan April bareng si bayi), buat nyenengin anak-anak (dan juga tentu menambah pengalaman kami) saya usul ke suami untuk jalan-jalan pake mobil alias road trip ke negara yang deket-deket aja. Suami setuju dan setelah berembuk akhirnya kami sepakat untuk menjelajah sedikit ke wilayah scandinavia. Alasan awalnya adalah Legoland yang berlokasi di Billund, Denmark. Anak-anak walaupun udah agak besar (dibanding tahun-tahun lalu) mereka masih suka dengan tempat-tempat kaya gini. Kebetulan juga kami sudah pernah berkunjung ke Legoland di Johor Bahru dan  Günzburg, Jerman, makanya saya kepikiran untuk nyoba juga yang ada di Billund. Tapi trus saya pikir kenapa ga sekalian aja ke Copenhagen dan Malmö – toh jaraknya ga jauh-jauh amat (dari Billund) dan kita udah setengah jalan jadi sayang juga kalo ga sekalian dikunjungi. Suami pun setuju, karena dia juga belum pernah ke kedua kota tersebut, jadi buat dia ini juga pengalaman pertama berkunjung ke sana.

Dengan pertimbangan jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke Billund (perjalanan non stop Belanda-Billund memakan waktu kurang lebih 8 sampai 9 jam), kami juga akhirnya menambah stop dan sekalian sight-seeing di Hamburg pada saat perjalanan pergi, dan menginap semalam di satu kota kecil di Jerman (Lütjenburg) pada saat perjalanan pulang. Jadi, untuk road trip kami kali ini rutenya adalah Rumah-Hamburg-Billund-Copenhagen-Malmö-Lütjenburg-Rumah. Lumayan panjang ya hihi.

Rute berangkat (viamichelin.com)

Rute pulang (viamichelin.com)

Rencana awalnya kan suami dan saya bakal gantian nyetir, tapi sayang banget mobil suami yang sudah dipesan ke dealer langganan dia dari jauh hari belum selesai, akhirnya si dealer pinjemin mobil dengan jenis yang sama tapi dengan persneling manual (saya kan supir gadungan, jadi saya ga bisa nyetir pake manual hahaha), alhasil suami deh yang harus nyetir sepanjang perjalanan.

Di tiap kota kami menghabiskan waktu 3 hari, kecuali di Lütjenburg yang memang tujuan utamanya supaya yang nyetir bisa istirahat aja. Buat ukuran berlima (termasuk bayi) dengan lama perjalanan selama 10 hari, bawaan kami bisa dibilang masih masuk akal (at least kalo dibandingin sama mobil-mobil lain yang papasan sama kita di jalan). Selain tentu buggy/stroller plus baby carrier (bawaan wajib), kami bawa satu koper ukuran besar, satu koper kabin, satu tas ransel, satu diaper bag, plus satu tas belanjaan berisi makanan dan minuman untuk anak-anak dan saya beserta suami selama di perjalanan. Agak susah memang kalo liburan dengan jumlah hari yang nanggung kaya gini, terutama buat nentuin berapa baju yang harus dibawa. Saya sendiri kalo untuk pergi-pergian kaya kemarin selalu mengusahakan untuk bawa baju ekstra – terutama underwear dan kaos kaki anak-anak (untuk saya dan suami juga). Selebihnya kami rileks aja, toh kita kan bukan berkunjung ke pedalaman jadi pasti ada supermarket atau toko yang jual barang kebutuhan kita in case kita lupa. Eh tapi ada satu barang yang khusus dibawa anak-anak di perjalanan kali ini, yaitu hagelslag alias meses 😂. Buat jaga-jaga kata mereka, kali aja ga ada yang mereka suka di menu sarapannya hahaha.

Alhamdulillaah perjalanan berjalan cukup lancar (dengan beberapa titik kemacetan di highway-nya Jerman, terutama pas perjalanan pulang), fabian juga lumayan tenang sepanjang jalan. Beruntung anaknya banyak tidur di jalan walau beberapa kali sempat nangis dan merengek sebentar.

Berdasarkan info dari suami, total kilometer yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2200 KM. Banyak ya haha. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak banget jembatan, termasuk Øresundbron yang menghubungkan Denmark dan Swedia, serta Storebælt bridge yang menghubungkan Zealand dan Funen (dengan Sprogø island di tengah-tengahnya) di Denmark. Kedua jembatan ini adalah jembatan berbayar. Biaya tol sekali jalan di Øresundbron adalah sebesar €56 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter dan di Storebælt bridge adalah DKK 240 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter.

Storebælt bridge dari kejauhan (foto dok. pribadi)

Øresundbron – aerial view (image via pfnphoto.com)

Sementara untuk perjalanan pulang dari Malmö kami memilih alternatif lain dengan menggunakan ferry untuk pulang (dengan menyeberang via Jerman). Kami nyebrang dua kali: dari Helsingborg – Swedia ke Helsingör – Denmark, dan Rødby – Puttgarden. Harga tiket ferry ini lumayan juga ternyata sis 😂. Buat yang Helsingborg-Helsingör sekali jalan harga tiketnya sekitar €55 (untuk jenis mobil pribadi yang panjangnya kurang dari 6 meter, durasi nyebrang sekitar 15 menit), sementara Rødby-Puttgarden harga one way ticket-nya adalah sekitar €107 (durasi nyebrang sekitar 45 menit). Jadi kesimpulannya sodara-sodara, kalo punya waktu banyak dan mau agak hemat, dari Denmark ke Jermannya ga usah nyebrang pake ferry tapi muter aja hehe. Ato ambil ferry yang dari Helsingborg – Swedia langsung ke Lübeck – Jerman (lama perjalanan di ferry-nya 8 jam-an tapi wkwk).

Kira-kira beginilah ferry yang kami tumpangi (image via scandlines.com)

Btw, sebelum trip (seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya) saya udah bikin semacam itinerary kasar (banget) dan cost estimation (iya, saya sedetail itu semenjak bekeluarga😂). Walaupun ga mengikat, tapi si itin dan cost estimation ini lumayan bikin perjalanan kami jadi cukup efektif loh, dan untuk estimasi pengeluaran ini bisa kami jadikan patokan kalo nanti di liburan-liburan mendatang kami mau road tripping lagi (ke negara lain deket-deket sini). Yang bikin hepi adalah estimasi saya lumayan tepat, cuma beda €0,01 sis! Dan so pasti jumlahnya jauh lebih kecil kalo dibandingin sama biaya mudik ke Indonesia sekeluarga. 

Anyway, sementara udah dulu yaa. Nanti di postingan selanjutnya insya allah kita cerita tentang Hamburg okeh. Tot zo!


“If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness and fears.”
– Cesare Pavese

Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinet😅).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again 😊

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post 😉)