Road-Tripping with the Kids.

“When traveling with someone, take large doses of patience and tolerance with your morning coffee.”
– Helen Hayes

Duh kayanya kutipan di atas cukup relevan terutama buat yang jalan bareng anak-anak ya ga siiik. Summer holiday tahun ini saya beserta suami dan anak-anak mengisi liburan dengan road trip ke beberapa kota di beberapa negara yang ga jauh dari Belanda. Setelah rencana awal buat mudik ke Indonesia ga jadi (karna saya udah pulang di bulan April bareng si bayi), buat nyenengin anak-anak (dan juga tentu menambah pengalaman kami) saya usul ke suami untuk jalan-jalan pake mobil alias road trip ke negara yang deket-deket aja. Suami setuju dan setelah berembuk akhirnya kami sepakat untuk menjelajah sedikit ke wilayah scandinavia. Alasan awalnya adalah Legoland yang berlokasi di Billund, Denmark. Anak-anak walaupun udah agak besar (dibanding tahun-tahun lalu) mereka masih suka dengan tempat-tempat kaya gini. Kebetulan juga kami sudah pernah berkunjung ke Legoland di Johor Bahru dan  Günzburg, Jerman, makanya saya kepikiran untuk nyoba juga yang ada di Billund. Tapi trus saya pikir kenapa ga sekalian aja ke Copenhagen dan Malmö – toh jaraknya ga jauh-jauh amat (dari Billund) dan kita udah setengah jalan jadi sayang juga kalo ga sekalian dikunjungi. Suami pun setuju, karena dia juga belum pernah ke kedua kota tersebut, jadi buat dia ini juga pengalaman pertama berkunjung ke sana.

Dengan pertimbangan jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke Billund (perjalanan non stop Belanda-Billund memakan waktu kurang lebih 8 sampai 9 jam), kami juga akhirnya menambah stop dan sekalian sight-seeing di Hamburg pada saat perjalanan pergi, dan menginap semalam di satu kota kecil di Jerman (Lütjenburg) pada saat perjalanan pulang. Jadi, untuk road trip kami kali ini rutenya adalah Rumah-Hamburg-Billund-Copenhagen-Malmö-Lütjenburg-Rumah. Lumayan panjang ya hihi.

Rute berangkat (viamichelin.com)

Rute pulang (viamichelin.com)

Rencana awalnya kan suami dan saya bakal gantian nyetir, tapi sayang banget mobil suami yang sudah dipesan ke dealer langganan dia dari jauh hari belum selesai, akhirnya si dealer pinjemin mobil dengan jenis yang sama tapi dengan persneling manual (saya kan supir gadungan, jadi saya ga bisa nyetir pake manual hahaha), alhasil suami deh yang harus nyetir sepanjang perjalanan.

Di tiap kota kami menghabiskan waktu 3 hari, kecuali di Lütjenburg yang memang tujuan utamanya supaya yang nyetir bisa istirahat aja. Buat ukuran berlima (termasuk bayi) dengan lama perjalanan selama 10 hari, bawaan kami bisa dibilang masih masuk akal (at least kalo dibandingin sama mobil-mobil lain yang papasan sama kita di jalan). Selain tentu buggy/stroller plus baby carrier (bawaan wajib), kami bawa satu koper ukuran besar, satu koper kabin, satu tas ransel, satu diaper bag, plus satu tas belanjaan berisi makanan dan minuman untuk anak-anak dan saya beserta suami selama di perjalanan. Agak susah memang kalo liburan dengan jumlah hari yang nanggung kaya gini, terutama buat nentuin berapa baju yang harus dibawa. Saya sendiri kalo untuk pergi-pergian kaya kemarin selalu mengusahakan untuk bawa baju ekstra – terutama underwear dan kaos kaki anak-anak (untuk saya dan suami juga). Selebihnya kami rileks aja, toh kita kan bukan berkunjung ke pedalaman jadi pasti ada supermarket atau toko yang jual barang kebutuhan kita in case kita lupa. Eh tapi ada satu barang yang khusus dibawa anak-anak di perjalanan kali ini, yaitu hagelslag alias meses 😂. Buat jaga-jaga kata mereka, kali aja ga ada yang mereka suka di menu sarapannya hahaha.

Alhamdulillaah perjalanan berjalan cukup lancar (dengan beberapa titik kemacetan di highway-nya Jerman, terutama pas perjalanan pulang), fabian juga lumayan tenang sepanjang jalan. Beruntung anaknya banyak tidur di jalan walau beberapa kali sempat nangis dan merengek sebentar.

Berdasarkan info dari suami, total kilometer yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2200 KM. Banyak ya haha. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak banget jembatan, termasuk Øresundbron yang menghubungkan Denmark dan Swedia, serta Storebælt bridge yang menghubungkan Zealand dan Funen (dengan Sprogø island di tengah-tengahnya) di Denmark. Kedua jembatan ini adalah jembatan berbayar. Biaya tol sekali jalan di Øresundbron adalah sebesar €56 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter dan di Storebælt bridge adalah DKK 240 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter.

Storebælt bridge dari kejauhan (foto dok. pribadi)

Øresundbron – aerial view (image via pfnphoto.com)

Sementara untuk perjalanan pulang dari Malmö kami memilih alternatif lain dengan menggunakan ferry untuk pulang (dengan menyeberang via Jerman). Kami nyebrang dua kali: dari Helsingborg – Swedia ke Helsingör – Denmark, dan Rødby – Puttgarden. Harga tiket ferry ini lumayan juga ternyata sis 😂. Buat yang Helsingborg-Helsingör sekali jalan harga tiketnya sekitar €55 (untuk jenis mobil pribadi yang panjangnya kurang dari 6 meter, durasi nyebrang sekitar 15 menit), sementara Rødby-Puttgarden harga one way ticket-nya adalah sekitar €107 (durasi nyebrang sekitar 45 menit). Jadi kesimpulannya sodara-sodara, kalo punya waktu banyak dan mau agak hemat, dari Denmark ke Jermannya ga usah nyebrang pake ferry tapi muter aja hehe. Ato ambil ferry yang dari Helsingborg – Swedia langsung ke Lübeck – Jerman (lama perjalanan di ferry-nya 8 jam-an tapi wkwk).

Kira-kira beginilah ferry yang kami tumpangi (image via scandlines.com)

Btw, sebelum trip (seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya) saya udah bikin semacam itinerary kasar (banget) dan cost estimation (iya, saya sedetail itu semenjak bekeluarga😂). Walaupun ga mengikat, tapi si itin dan cost estimation ini lumayan bikin perjalanan kami jadi cukup efektif loh, dan untuk estimasi pengeluaran ini bisa kami jadikan patokan kalo nanti di liburan-liburan mendatang kami mau road tripping lagi (ke negara lain deket-deket sini). Yang bikin hepi adalah estimasi saya lumayan tepat, cuma beda €0,01 sis! Dan so pasti jumlahnya jauh lebih kecil kalo dibandingin sama biaya mudik ke Indonesia sekeluarga. 

Anyway, sementara udah dulu yaa. Nanti di postingan selanjutnya insya allah kita cerita tentang Hamburg okeh. Tot zo!

Us ❤ . . . #latepost #family #holiday #copenhagen #littlemermaid #denmark #nofilter #instatravel

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on


“If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness and fears.”
– Cesare Pavese

Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinet😅).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again 😊

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post 😉)

Throwback Time: Holiday in London.

bigben2

“Nothing is certain in London but expense.” – William Shenstone.

Pengennya si nulis lebih cepet biar ga basi-basi banget gitu ceritanya hehe, tapi apa daya baru sekarang deh bisa kesampaian. Well, better late than never ya =)

We went visiting London last year, during Christmas holiday (on December 24th and return to Holland on December 29th). At first we were a little bit worried actually, because based on some info I have read on internet, during Christmas holiday – especially on the 25th of December – (almost) all London transportation does not operate. This means that there’s a possibility that we could be abandoned and only able to spend the whole holiday in the hotel. That would be sooo zzz. Luckily after spending some time searching again on internet (and a little bit of gambling), we could find a good solution to solve the issue.

We departed from Eindhoven Airport. There are several budget/low cost airlines depart from this airport to London. This is handy for us since the airport is closer to our place. We took a flight offered by Ryan Air and the duration from Holland to London (London Stansted) took around an hour and five minutes. We have arranged for car park close to the airport (we used valet parking from Eazzypark for 2 nights and found a nice offer from Groupon) and from London Stansted Airport to the hotel we used Airport Coach/ Bus Shuttle from Terravision (around an hour drive). We ordered the tickets via internet (the price of one way trip from the Stansted Airport to Liverpool Street (in front of the Liverpool station) is £6 for adult and £3 for child between 5 – 12 years). From Liverpool Street (the distance is approximately 1,2 km) to the hotel we took a short drive by taxi.

During in London we stayed at the Premier Inn London Aldgate. The closest tube station from the hotel is Aldgate East (around 300-500 m), and it is located not very far from the Tower Hill (approx. 1 km). Thus, although it’s not really in the center, the hotel has a nice location to travel around. Plus, they also had family room options, so it’s a very good bargain for us to stay there for the holiday.

We didn’t make any plan to go for sightseeing right away after we arrived. Despite the arrival time we also didn’t want to make the kids feel stressed out and not enjoying the holiday. In the evening we walked a bit to fast food restaurant nearby (KFC – food that taste “friendly” and familiar for the kids) and bought meals there for our dinner. Again we didn’t want to make things too complicated for the kids. Btw, KFC here had other sort of menus than one in Holland, where they also offered rice.

On the second day of the trip (25th), we have booked hop on hop off tour bus. Yes…We were really becoming a tourist on that day :p. It’s not that bad actually, but this was mainly because we didn’t have that many options. Either you walk, or you go with this bus. As I said before, all public transports were not operating on that day (well except Taxis, with double tariff – even triple I think – than normal, and you have to order them in advance). In normal days, there are 3 companies operating hop on hop off tour bus, but on the 25th there were only one operated: one from Golden Tours. The ticket price was twice than normal (around £35 for adult and £15 for child). Crazy, I know..but we didn’t have many options as I told you before, so yeah. The closest bus stop from our hotel was at the Tower Hill. So we walked first from the hotel to the bus stop. The weather on this day was not that friendly. In the beginning it was only cloudy, but the minute we sat in the bus it began to rain. Well, you cannot expect much from London weather during winter eh. Anyway, we stopped at several point of interests, and took some photos from the bus.

Oh, have I told you that most of stores and restaurants were also closed on Christmas day? well there you go. But as far as I know, some pubs and restaurants at Leicester Square or Trafalgar Square were open. We had our lunch also at one of restaurants there. The kids were quite enjoying the day although they got wet and received extra cold from the rain. In the evening we had the Christmas Dinner at the restaurant in the Hotel. The food was not that bad, but also not that special.

famketels1

hello from us =)

bigben3

a closer look to the famous Big Ben.

westminster abbey1

The queue to enter Westminster Abbey. LONG!

StPauls Church

St. Paul Church. Looks grande =)

DSC_1261-1

The Shard on a distance.

On the next day (the 26th), the initial plan was to visit the London Eye. There were not so many options to be done on the 2nd day of Christmas in London, because most of attractions or public interests such as museums or historical places were still closed for public. However that didn’t happen. Before we went to London, I actually have suggested my husband to buy the ticket in advance via internet. However, he thought that we could just buy on the spot, because he didn’t want to be attached on one date only (the ticket date is fixed and cannot be changed). I agreed to this and thus we went to the London Eye and went to get the ticket there. When we reached the London Eye, the queue on the ticket booth was already looong, and when we reached the booth the officer told us that apparently we couldn’t buy family ticket (valid for 2 adults and 2 children) there and instead they only offered us the individual ticket. The price difference between family ticket and individual ticket was quite significant, and because of this we then decided to just go back the next day and buy the ticket online.

What did we do then on that day? After having a quick lunch at Subway nearby to the London Eye (my kids and husband are a fan of Subway btw hehe), we then went to watch Starwars VII at Leicester Square. After the movie we just strolling around the China Town, Trafalgar Square and of course Leicester Square :D. Btw, I didn’t recommend to watch movies at cinemas in London. It’s freaking expensive! For the four of us we had to pay like almost £100 for 3D movie. That’s crazily expensive even if you compare to the price in Holland (apalagi dibanding sama harga di Indonesia ya..jauh!). Before we went back to the hotel we took dinner at a Chinese Restaurant in the surrounding of Leicester Square.

O ya, on the second day of Christmas the public transports were already available, but with a holiday schedule (longer waiting time). The advantage of using public transport in London is that for any children up to 16 years who travel with adult(s) are free of charge. There are several options if you happen to be a tourist here: pay per trip, using travel card (with some options of validity period), or using Oyster Card (refillable). We used Oyster Card for transportation instead of Travel card, because we think that its the most efficient one for us. I still have my old Oyster with some credits in (from my previous visit in 2012 for work), thus we only need to buy another one for my husband. It was handy indeed 😉

chinatown1

The Gate to Chinatown.

leicester square1

Leicester Square.

trafalgar square

The front part of the National Gallery, located in front of Trafalgar Square.

DSC_1096

Super tall Christmas tree at the Trafalgar Square.

On the 27th, we went back again to the London Eye, this time with the entrance tickets in hand ;). It was nice to see some parts of London from above. The London Eye is similar with the Singapore Flyer, only the size is a bit smaller. The technology they use here is also the same, and made by the same engineer (if I’m not mistaken). The duration for one round (standard ticket) is approximately 30 minutes. It’s pity that during our turn the weather was again not that friendly for us: quite gloomy with some drizzles pouring down a bit. But anyway, it still nice for the kids (and my husband and I) to have the experience 🙂

A short info, I just checked the official London Eye website, apparently the family ticket has no longer being offered. The standard ticket for adult if you buy online is around £21 and for a child is around £16-17 (if you buy on the spot the price is around £28 for adult and £20ish for child).

Afterwards, we then went by the subway (they called it as “tube”) to the Tower of London. We had prepared our tickets and bought them via internet before we flew to London. The Tower is quite big, but still can be visited within a day. One of the interesting part of the Tower is of course the Crown Jewels Room where the Royalty kept the royal regalia, including jewels, plate, and symbols of royalty such as the crown, sceptre, and sword there. No guests are allowed to take any picture inside (due to security reason I guess).

DSC_1398-1

The Emblem of King George VI, Royal Fortress of The Tower of London

DSC_1403-1

One side of the Tower of London.

DSC_1302-1

A raven seen at the Tower of London. Why does the Tower of London have ravens? A guide told that the ravens are part of an old superstition that, if the ravens leave, the tower will fall down, and there will no longer be a king or queen.

DSC_1199-1

The White Tower

guards tower of london

The Guards and the canon in front of the Crown Jewel Room.

DSC_1253.JPG

You have to queue for quite some time to enter the Crown Jewel Room.

DSC_1386-1

The Tower Bridge in a closer look.

After the visit, we went back to hotel. For our dinner, my husband and I went for a walk to grab a take away of Fish and Chips at a restaurant nearby. We tried the very typical english(y) meal at its own original place for the sake of curiousity (and hunger of course =)). I did a bit of research on internet to find a recommended fish and chips resto around our location and I found this one resto called Poppie’s. The taste was quite good although it’s not exceeded my expectation.

poppies-fish-chips

Nice interesting box eh (ignore the oily part :p)

On the 28th, finally major musea were open for public. London I think is famous for their museum, and as some of you might already know, the entrance to most of musea in London are free of charge (unlike other attractions where you have to pay like crazy). That is why I think many people (tourists as well as the Londoners) like to come there. O ya, most parks (gardens) here are also free to visit, but then I would suggest to come preferably NOT in the winter season (find a time with the least chance of raining :p).

One of the most acknowledged museum here is of course the British Museum, located in Bloomsburry area (if I’m not mistaken). Another famous one(s) among them are the Science Museum, The Natural History Museum, and the Victoria & Albert Museum of Art and Design (V&A Museum). The nice thing with these three museums are that they located closely one to each other (at Exhibition Road – South Kensington). We actually planned to go to the British Museum after we visit the three museums, but by the end of the day we couldn’t make it. O ya, be prepare for a long queue, especially when you want to enter the Science Museum and The Natural History Museum. But probably it was also because of holidays then the museums were quite full.

street musician

A street musician we found in the tunnel from the Underground stop (South Kensington) heading to Museum area.

The first museum we visited was the Science Museum. According to wikipedia, the Science Museum was founded in 1857 and today has become one of the city’s major tourist attractions, attracting 3.3 million visitors annually.

The museum also has several areas dedicated to children where they can explore and play. On the ground level you’ll find a sensory exploration area that’s fun for younger kids and a few floors up there are also area for older kids where they can experiment, play and discover.

DSC_1417-1

part of Making the Modern World Gallery inside the Science Museum, ground floor.

DSC_1411

I see Indonesia here 😉

After the Science Museum, due to the intimidating queue at the entrance of the Natural History Museum, we then went to the V&A Museum located across the street of the Science Museum. It was a very short visit, because the kids were complaining and the museum was not as they expected. In their mind, the museum was a place where they would find toys and other interesting stuff related to toys and playing. Apparently it was more serious than what they have thought. We only strolled around on the ground floor, took a bit of photos and then decided to just go to one of the oldest toy store in the world, Hamleys, located at the Oxford Street. But again, the store was so crowded it gave us a headache even to just look around. The kids also were not too excited because of this. So we just did a round from first floor to the last (it has five storeys) and then went back to South Kensington to try our luck of getting into the Natural History Museum.

ceiling V&A museum

The ceiling at the entrance of V&A Museum

O ya, at V&A Museum you can find various art pieces from (almost) all over the world, with many kind of forms such as statues, calligraphy, books, or even a carved tusk.

V&A1

One of interesting piece of art found at V&A Museum

hamleys-toy-store-355729

The very busy Toy Shop. I think during holidays the situation is always like these. image via http://www.express.co.uk

DSC_1520

Lego version of the Imperial State Crown.

DSC_1523-1

Lego version of the Queen, together with her dog. This lego can be found at Hamleys – Oxford Street.

DSC_1524-1

Typical of coffee shop you can find around London.

When we got back to museum area, the queue in front of the Natural History Museum was not as long as the first time we arrived. And since the kids didn’t mind to wait in line, we decided to join the queue. If you are a Dino fan I think you will like this museum. It has alot of things related to Dinos. They have a special section for displaying all the dinos and “the living” T-Rex. Even in front of the entrance of the museum you will be welcomed by a giant dino skeleton :p. Bear in mind that you have to queue again inside to enter this special section. Beside dinos, this museum also have many other interesting displays, including animals from around the world (they have a stuffed dodo!), also various kind of stones from the earth. The building itself is very extravagant (typical old big buildings in the UK). You can really see that this museum has been there for quite a while.

DSC_1532-1

Interesting dinosaurs skeleton you can see at front part of the Natural History Museum.

DSC_1586-1

Super nice and extravagant exterior of the Natural History Museum.

DSC_1587-1

Merry go Round in front of the Natural History Museum.

We stayed at the Museum until closed (around 7 p.m. if I’m not mistaken). And then we went to Leicester Square again to look out for dinner. Since it’s weekend, most of the restaurants were quite full. Luckily we could get a table at Pizza Express (without reservation) although we had to wait for 30 minutes at the bar to be seated. This Pizza Express Resto is the same like one in Indonesia (previously called as Pizza Marzano – and then changed name into Pizza Express). We liked all the food here, as well as the drinks. And before we were done, they gave chocolate praline for each of us. Lekker klein toetje voor ons 🙂

Finally we went back to Holland on the next day. We had our breakfast at the hotel, took a taxi to the Liverpool Street, and then went to the Stansted Airport by the same shuttle service as before. All in all it was quite a nice holiday for us (although for some days we had quite lousy weather). Just too bad we didn’t have a chance to visit Harry Potter Studio (all were fully booked!), the Stonehenge, the British Museum or other touristic things in the surrounding. I guess we just have to visit UK one more time in the future. And moreover, preferably combine the visit to other cities around London as well.

The Kid’s-Friendly NEMO Science Museum, Amsterdam

Sebulan lalu, sewaktu anak-anak sedang liburan musim gugur kami memutuskan untuk berkunjung ke NEMO Museum yang berlokasi di Amsterdam. Sebenernya rencana pergi ke NEMO ini udah cukup lama, sejak mereka sedang liburan musim panas, dan kebetulan waktu itu sedang ada offer dari emté buy 1 get 1 untuk entrance-nya (semacam itulah kira-kira). Tapi apa mau dikata, rencana berubah karna ternyata saya harus melahirkan lebih awal. Anyway bersyukur anak-anak cukup mengerti dengan kondisi kami saat itu dan ga merengek ato jadi bete karna ketunda perginya.

NEMO di sini beda sama yang ada di film ya hehe. Ini bukan akuarium, bukan juga museum tentang ikan. Jadi NEMO itu kepanjangan dari New Metropolis (correct me if I’m wrong), ini semacam pusat sains dan teknologi dimana kita bisa ikut terlibat dan ikut nyoba hal-hal yang berbau sains dan teknologi di “proof garden” mereka ini. Selain bentuk gedungnya yang unik, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana juga cukup seru.

Harga tiket masuk ke Museum ini adalah sebesar €15 per orang (untuk pengunjung usia 4 tahun keatas). Buat yang punya student card harga tiketnya adalah €7,5. Sementara untuk mereka yang punya kartu khusus seperti IAMsterdam card atau Museumkaart entrance-nya gratis. Kebetulan kami memang udah lama rencana mau buat museumkaart dan anak-anak juga sekarang sudah cukup besar untuk bisa menikmati museum-museum yang jumlahnya buanyak banget di sini, maka akhirnya kami sekalian daftar di sana.

Museumkaart ini lumayan banyak benefit-nya dan tentu handy buat yang suka dengan museum. Fyi, museumkaart bisa digunakan untuk akses masuk ke sekitar 400 musea yang tersebar di seluruh Belanda (beberapa museum yang termasuk dalam list antara lain Anne Frank Stichting, Rijksmuseum Amsterdam, Van Gogh Museum, Museum Het Rembrandthuis, NEMO, Space Expo, Openlucht Museum di Arnhem, dan masih banyak lagi lainnya). Untuk info lebih lanjut tentang museumkaart bisa klik link ini ya (the link is in Dutch, tapi cukup gampang untuk diikuti kok, ato ga cukup aktifkan google translate seandainya berminat hehe).

Sekarang kembali ke NEMO. Museum ini terdiri dari 5 lantai plus satu lantai di bawah untuk tempat penitipan jas, ticket box dan beberapa display yang cukup menarik (ada jam raksasa di bawah ini hehe). Di depan museum ada semacam fountain ato kolam gitu beserta ember-ember membentuk kincir dan berputar.

nemo_museum_entrance

the entrance (image via http://www.mikimedia.org)

Di setiap lantai tema yang diangkat  berbeda-beda. Oh ya, satu hal lain di luar konteks museumnya sendiri yang bikin tempat ini nyaman untuk dikunjungi adalah adanya cafe corner di setiap lantai (kalo restroom si hampir pasti lah ya). Jadi kalo udah cape jalan, bisa istirahat sebentar sambil jajan-jajan hehe.

Lantai 1 museum ini bertemakan “Fenomena”. Di lantai ini kita bisa belajar mengenai bagaimana sains bekerja. Kita bisa ikut melihat (dan merasakan) bagaimana cahaya, suara dan listrik statis bekerja, juga bagaimana menghasilkannya. Beberapa aktivitas yang cukup diminati di lantai ini termasuk the plasma ball (yang kalo kita sentuh trus kita terhubung dengan electricity light), giant bubble forming (balon yang dibuat pake sabun/busa tapi dalam versi raksasa), belajar tentang suara dengan menggunakan dua audiophone raksasa yang ditempatkan jauh terpisah, belajar tentang cahaya melalui cermin dua refleksi, dan juga aktivitas yang menggunakan magnet. Di lantai ini juga setiap harinya di atrium hall yang juga terletak di lantai ini ada special event yang biasanya juga melibatkan para pengunjung. Pada waktu kami berkunjung kami sempat ikut menyaksikan apa yang mereka sebut “chain reaction”, semacam domino effect tapi menggunakan peralatan yang tidak biasa seperti bola, kursi, bahkan balon dan roket mini.

dsc_3253-2

The plasma ball (photo: private collection)

nemogroup

The Chain Reaction (image via http://www.bilimgezi.com)

Lantai 2 bertemakan “Technium”. Sesuai namanya, di lantai ini lebih kepada aktivitas (dan display) yang terkait dengan teknologi. Kalo kata website-nya, dengan teknologi maka kita bisa memperbaiki dan membentuk dunia. Di lantai ini ada ruang khusus yang disebut “the maker space” dimana anak-anak bisa ikut merancang, membuat, mengetes dan memperbaiki produk teknik sederhana yang bisa mereka bawa pulang sebagai souvenir. Di lantai ini juga terdapat erasmus bridge mini dan satu section khusus untuk mengetahui tentang pengelolaan air dan bagaimana cara mencegah banjir di Belanda. Selain itu ada juga mesin logistik dengan permainan interaktif mengirim barang ke seluruh dunia. Ada juga spinning wheel raksasa dengan pecahan segitiga dimana kita bisa membentuk sesuatu sambil belajar matematika. Sebenernya masih banyak lagi yang menarik di lantai ini, tapi saya bingung mau jelasinnya haha. Menurut saya aktivitas di lantai ini adalah yang paling menarik di antara lantai-lantai lainnya (walaupun juga gak kalah menariknya).

dsc_3263

The mini Erasmus Bridge (photo: private collection)

nemo-site-header-974x584

The world of form (image via http://www.studiolouter.nl)

DD332727

The Optical Illusion (image via studiolouter.nl)

water-world-nemo-amsterdam

Part from the water world (image via http://www.mikestravelguide.com)

dsc_3261-2

You can find this useful information in one of the restrooms :p (photo from private collection)

Di lantai 3 tema yang diangkat adalah “Elementa”. Di sini kita bisa belajar tentang hal-hal yang terkait dengan elemen yang ada di jagad raya ini. Di lantai ini ada juga ruang teater dimana kita bisa ikut nonton semacam 3D documentary movie tentang ruang angkasa. Durasinya kurang lebih selama 15 menit dan jumlah kursi yang tersedia cukup banyak (sebenernya saya agak ragu apakah teater ini adanya di lantai 2 ato 3 si haha, maafkan ya kalo ternyata saya salah kasih info :D). Selain itu, di lantai ini anak-anak bisa ikut belajar dan bereksperimen di ruang laboratorium yang khusus dibuat dan terbuka untuk pengunjung. Jangan khawatir, di sana lumayan banyak lab guide-nya kok, jadi kalo kitanya ga tau mau ngapain mereka akan bantu.

dsc_3275-2

Our young scientists 😉 (photo from private collection)

dsc_3274-2

The view of Amsterdam taken from inside the Museum (photo: private collection)

Lantai selanjutnya yaitu lantai 4 bertemakan “Humania”. Di sini pengunjung belajar tentang siapa diri kita, perubahan yang terjadi pada anak-anak yang beranjak remaja, bagaimana otak kita bekerja, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, rupa wajah, motorik, dan emosi. Selain itu di lantai ini juga ada ruang khusus yang berisi display perkembangan sains dan teknologi beserta proyeksi masa depan khususnya di Belanda.

wlanl_-_petertf_-_brein_boom

Image via wikipedia

dsc_3278-2

Berbagai macam jenis lampu dari Philips – salah satu sponsor Museum ini (photo: private collection)

Lantai teratas mengangkat tema “Energetica”. Di lantai ini di dalam gedung sendiri adalah restoran dengan konsep cafetaria. Sementara untuk proof activities nya sendiri berlokasi di luar gedung, tepatnya di rooftop square. Rooftop square ini sebenernya bisa diakses secara gratis loh. Jadi dari lantai 5 rooftop ini ada tangga menuju ke bawah sampai ke trotoar jalan dan semua orang bisa naik tanpa perlu tiket (mereka baru akan mengecek tiket di dalam gedung dekat lift dan tangga turun). Rooftop square ini keren banget menurut saya (lebih keren dari rooftop view di SkyLounge Hilton Hotel). Mereka mengkombinasikan sains dan teknologi (terutama yang berkaitan dengan energi di sekitar kita seperti angin, air dan surya) dengan sesuatu yang bikin kita betah stay di sana. Selain ada panorama spot (kamu bisa bikin foto panorama pemandangan kota Amsterdam yang keren di spot ini), ada juga sundial yang berinteraksi dengan bayangan tubuh kita, kursi-kursi dengan solar panel, dan spot untuk bermain dengan air di water fountain dan water wheel.

nemo-energetica-2

The Sundial with your shadow as the face (image via http://www.energy-floors.com)

dsc_3279-2

(photo: private collection)

dsc_3281-2

The moving sculptures (photo: private collection)

dsc_3285-2

The scheepvaartmuseum seen from the rooftop (photo: private collection)

dsc_3286-2

(photo: private collection)

dsc_3287

(photo: private collection)

dsc_3288-2

(photo: private collection)

Overall, museum ini sangat layak untuk dikunjungi baik untuk dewasa maupun anak-anak. Cuma aja perlu diinget kalo weekend biasanya museum ini lumayan padat. Hal ini bisa sedikit diakali dengan datang lebih awal kali ya hehe. Satu tip lagi buat yang mau berkunjung ke sini pake kendaraan pribadi (mobil). Udah pada tau dong ya kalo parkir di Amsterdam itu lumayan mahal tarifnya. Dari situs NEMO saya baca kalo mereka memberikan potongan harga buat biaya parkir kalo kita parkir di tempat parkir tertentu. Tapi sebaiknya si menurut saya mobil diparkir di P+R Parking Area Amsterdam Arena (apalagi kalo kita mau jalan-jalan di sekitar Amsterdam central juga), dan dari situ cukup naik Metro ke Amsterdam Central Station (atau bisa juga turun di Niewmarkt station). Dari Amsterdam Central Station kita tinggal jalan sedikit (sekitar 1 KM lah). Tarif parkir di sini sekitar €8 dan ini udah termasuk maksimal 7 tiket GVB (tiket buat tram, bus dan metro) yang bisa dipake seharian (1 jam dari aktivasi tiket pada saat pertama kali tap untuk rute pergi/keluar dari tempat parkir, dan ketentuan yang sama untuk tiket kembali ke tempat parkir). Tiket ini jangan dibuang, karna akan diperlukan pada saat kita bayar parkir nantinya.

Okeee, sekian dulu cerita kali ini ya, sampai jumpa di postingan lainnya :p

ps.
mohon maaf ya, berhubung saya agak repot sama bayi dan anak-anak yang tiap waktu minta mamanya ikut liat aktivitas mereka, saya cuma bisa ambil foto beberapa kali. Selebihnya saya ambil dari berbagai sumber di internet kurang lebih sebagai referensi temen-temen aja.

Long Haul Flight, Mudik dan Hamil (2).

DSC_2224

Kamboja yang sedang mekar di rumah mama. Such a beauty 🙂

“You can kiss your family and friends good-bye and put miles between you, but at the same time you carry them with you in your heart, your mind, your stomach, because you do not just live in a world but a world lives in you.”
― Frederick Buechner

Memang ya, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan (hampir) selalu memberikan a certain kind of feeling. It will always be a part of you. Rasa nyaman, homey, terutama kalo keluarga dan sahabat yang kita miliki masih bisa kita temui dan ada di sekeliling kita, best feeling deh pokonya.

Sesampai di rumah, seneng banget akhirnya bisa ketemu mama, kakak adik dan keponakan. Saya langsung teler tapi hihi, secara perjalanan dari bandara ke rumah mama hampir sama aja lamanya kaya terbang dari jakarta ke aceh! tapi alhamdulillah kami tiba dengan selamat. Pengen cerita-cerita akhirnya ditunda besoknya supaya saya lebih fresh. Bersyukur banget, saya yang biasanya jetlag – terutama masalah jam tidur – kalo balik dari eropa, kemarin hampir ga gitu berasa.

Hari pertama sarapan, so pasti pake nasi uduk langganan hahaha. Jadi ada ibu-ibu yang jual nasi uduk di deket rumah, rasanya itu pas banget sama lidah saya. Bukan yang jenis nasi uduk betawi, tapi kalo yang ini lauknya pake telur dadar iris dan tempe kering plus sambal goreng dan kerupuk. Simpel tapi enak banget. Setelah sarapan, saya dan kakak-adik olah raga ke taman kota BSD. Cuma jalan santai aja si ikutin track, tapi lumayan lah daripada ga olah raga sama sekali yah. Abis itu jajan deh hahaha :p

Sebelum mudik, saya udah bikin semacam itinerary kasar (kali ini di otak aja tapi :p) kira-kira apa atau siapa aja yang mau saya lakukan/temui selama di Indonesia. Kali ini karna berangkat sendiri jadi lebih santai dan ga banyak rencana. Cuma karna ada beberapa prioritas dan yang akan saya temui ini agak sibuk jadwalnya jadilah kami harus bikin rencana sebelum saya tiba. Minggu pertama praktis hanya kumpul di Bogor bareng sahabat saya sewaktu kuliah dan persiapan acara syukuran/pengajian 4 bulanan kehamilan saya di rumah (pas acara sebenernya udah lewat 4 bulan si hehe). Tanggal yang kami pilih untuk syukuran/pengajian bersamaan dengan 2 tahun meninggalnya almarhum bapak, jadi pas saat acara juga sekaligus mendoakan almarhum bapak. Rencana awal cuma pengen ngundang tetangga sekitar aja, tapi akhirnya kita putuskan untuk ngundang keluarga juga (adik-adik mama dan almarhum bapak beserta anak-anaknya).

Untuk selebihnya saya tidak bikin rencana apa-apa lagi. Kalo biasanya setiap liburan bareng suami dan anak-anak kita pergi keluar kota supaya anak-anak ga gitu bosen, kali ini saya cuma stay di rumah aja. Sempet juga pengen ajak mama dan lainnya untuk weekend getaway karna kebetulan persis sebelum jadwal flight pulang mama saya berulang tahun. Tapi akhirnya gagal karna keponakan saya terkena demam berdarah dan harus dirawat 😦

Di minggu pertama saya dan sahabat saya (kami berlima, cuma sayang yang satu (Inge) pindah ke LA dan kita ga bisa dapet tanggal mudik yang sama – pas dia pulang seminggu kemudian saya baru mudik huhu) rencana untuk stay di Bogor. Sahabat-sahabat saya ini sampe ambil cuti dong supaya bisa nemenin saya hari Seninnya. Salah satu sahabat saya, Erina, dari lahir memang tinggal di Bogor, dan sebelum saya dan Inge pindah kami sering menghabiskan waktu bareng-bareng nginep di sana. Tapi sayangnya lagi, salah satu sahabat saya, Lia, mendadak ga bisa ambil cuti hari Seninnya karna ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. Akhirnya cuma saya dan sahabat saya satunya lagi, Melissa, yang nginep di tempat Erina. Bicara tentang teman dan sahabat, mungkin di lain waktu saya akan cerita tentang mereka di postingan terpisah hehe.

Back to the story, jadi seperti biasa tujuan utama kalo berkunjung ke Bogor adalah wisata kuliner dong haha (selain tentu nengokin Erina dan keluarga). Enaknya punya sahabat yang orang lokal itu kita jadi bisa tau tempat mana yang rekomen untuk dikunjungi, dan biasanya tempat-tempatnya itu bukan yang orang banyak tau ato terkenal karna omongan mulut ke mulut.

Rumah makan pertama yang kami kunjungi untuk makan siang adalah Restoran Yama Masu di Sentul City (Ruko Plaza Niaga 1). Resto ini menyajikan masakan Jepang yang cukup otentik (ini penting secara Erina agak rewel sama masakan Jepang karna dia setengah jepang hehe). Koki resto ini menurut info dari Erina dulu kerja di restoran Sakura yang ada di lebak bulus (resto Jepang favorit kami sebelumnya, tapi range harganya lumayan tinggi). Buat kami ini recommended deh, rasanya memang enakk dan harganya lumayan ga gila. Malah Erina suka request menu modifikasi alias yang ga ada di menu dan sama mereka dibikinin dong. Kemarin pas kami ke sana saya pesen set menu (teishoku) yang isinya beef teriyaki, rice, miso soup, side dish dan japanese pickles. Selain itu kami juga pesen side dish edamame, salmon salad, dan chuka kurage (jelly fish). Sayang banget ga nyoba sushinya karna yakin ga bakalan kemakan kalo pesen – porsinya gede ternyata! Temen-temen yang lain ada yang pesan ramen (Lia), nasi goreng salmon untuk O (Erina’s son), Chicken Katsu Curry (Erina’s hubby), Chicken katsu teishoku (Melissa’s), dan menu modifikasi untuk Erina (something with sushi rice and a lot of toppings on top).

Selesai makan kami meluncur ke rumah Erina. Well, ga langsung ke sana si tapi mampir dulu beli martabak hehehe. Kalo biasanya kami beli martabak di daerah tajur (martabak air mancur), kali ini kami beli martabak pecenongan. Untuk rasanya juga kali ini beda. Biasanya kami pasti pesen martabak keju-nangka dan coklat nutella, kali ini kami pesen martabak rasa Black Oreo-Cheese, Red Velvet-Cheese, dan mini Nutella. Dan so pasti martabak telornya hahhaha (kalap bener ya:p). Ujung-ujungnya si sebenernya ga dimakan langsung juga. Akhirnya ini martabak(s) kami makan pas sarapan besoknya. Di jalan kami juga sempet beli duku (senengnyaaa karna lagi musim). Sampai di rumah Erina dukunya langsung diserbu donggg, terutama sama anak-anak. Ga nyangka mereka suka duku (dan bisa makannya!).

Untuk makan malam, tadinya kami rencana mau makan di rumah makan jawa timuran (seafood), tapi karna udah kemaleman trus kehabisan jadinya kami putar haluan dan makan di Lemon Grass, resto yang lagi ngehits banget di Bogor. Dimana-mana di social media banyak banget yang posting foto dan rekomen resto ini. Kalo kata Erina, ini resto ga pernah sepi (kalo liat dari parkirannya yang penuh melulu). Mau weekdays ato weekend sama aja, makanya Erina yang orang bogor pun belum pernah kesana.

Kami sampai di Lemon Grass udah jam 9 malem, tempat masih lumayan full, tapi beruntung pas kami sampe ada spot yang muat untuk kami semua (walau di bagian smoking area). Kalo menurut saya, tempat ini memang ditujukan untuk nongkrong, bukan untuk bener-bener makan. Suasananya enak, interiornya keren, tapi kalo untuk makan beneran agak susah. Bangkunya banyakan lebih untuk santai. Untuk makanannya sendiri not that bad kok. Lumayan enak malah, cuma untuk harga yaa harga cafe lah ya, agak lebih tinggi dari rumah makan biasa. But again, all in all its not that bad.

pixlr_20160411230925760

cornucopia of food I had on the first day in Bogor 😀

pixlr_20160411232529107

Us 🙂

Keesokan harinya, tadinya kami rencana mau cari-cari makanan yang seru di pasar pagi Sentul (makanan tradisional kaya nasi kuning ambon, panada, gorengan dan lain-lain), tapi kita bangun kesiangan dong hahaha. Ya udahlah jadinya kita makan apa yang ada di tempat Erina aja, abis itu kita meluncur ke baby shop sebentar, mampir ke roti unyil venus, beli asinan bogor dan menuju rumah makan favorit kami lainnya, Warung Ngariung (ngetik namanya aja udah bikin saya ngeces niih hahhaha). Tiap ke Bogor sebenernya pengennya ke sini, tapi karna lokasi dan rame tiap weekend makanya kami ga bisa juga selalu ke sini. Untungnya pas kami ke sana kan hari Senin, jadi aman hehe. Menu favorit kami di sini Ayam bakar bekakak dan sambal dadaknya. Duh ini dua enaknya bikin stress soalnya jadi maunya nambah nasi terus hahahha. Selain menu ini, gurame goreng terbangnya juga enak, sayur asemnya juga, tempe mendoannya, dan sambal-sambal lainnya (sambal mangga juga rekomen). Pokonya selera saya banget lah. Mulut kampung banget ya hihi. Dan udah segitu banyaknya kami makan, kami cuma perlu bayar ga sampai setengahnya dari billing order kami di Lemon Grass! makanya cinta banget sama rumah makan ini 😀

pixlr

Our meals at Warung Ngariung. Slurp!

Selesai makan siang kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Melissa pake gojek trus naik kereta dari stasiun bogor ke stasiun terdekat dengan Rawamangun, sementara saya pake Uber dari rumah Erina ke rumah mama saya. Berhubung pertama kali pake Uber, saya bisa pake voucher potongan harga dari Erina’s hubby, dan you know what, saya dong ga perlu bayaaar alias di charge nol!. Karna kasian (dan surprised banget wkwk) akhirnya saya kasih tip lebih aja ke pak supirnya.

Di hari minggunya, kami mengadakan syukuran dan pengajian di rumah. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Banyak doa-doa dan wejangan yang diberikan dari keluarga dan tetangga. Yang bikin seru ya tebak-tebakan jenis kelamin dari rasa rujak hehe. Hampir semua yang nebak sesuai dengan hasil USG loh! hebat ya 😀

IMG-20160417-WA0001

Mom and I.

Di minggu kedua saya lumayan banyak ketemu dengan teman-teman. Mulai dari Bas si nederlander temen kuliah di Tilburg yang sekarang kerja di Jakarta, geng di kantor, geng jaman kuliah, geng masa SMA, geng dari SMP, sampe geng komplek hahahha. Seru! Ampun ya, saya gangster banget ternyata :p Alhamdulillah mereka masih perhatian dan nyempetin untuk ketemu di sela-sela kesibukan mereka. Walau cuma sebentar tapi buat saya itu berarti.

Untuk hari-hari selebihnya semasa saya di sana saya habiskan bareng mama dan keponakan. Kakak dan adik saya kan kerja, jadi ga bisa juga diajak kumpul sering-sering. Belum lagi kakak saya yang harus ekstra jaga anaknya yang dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah sebelum saya pulang kondisi keponakan sudah membaik, dan waktu saya tiba di Belanda dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Di hari saya harus kembali terbang ke Belanda, mama saya berulang tahun. Karena situasi dan kondisi akhirnya kami tidak ada acara khusus untuk merayakan. Tapi saya dan adik saya bikin surprise dengan memesan cake spesial untuk mama. Ga pake tiup lilin ataupun potong kue, yang paling penting berdoa semoga mama selalu diberikan berkah kebahagiaan, kesehatan, kesabaran dan ketenangan dalam hidupnya. Alhamdulillah saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dan kumpul dengan mama, semoga mama diberikan kesehatan dan Insya Allah mudah-mudahan nanti bisa kunjungan ke Belanda pada saat saya melahirkan nanti. Aamiin.

collageTR.jpg

Geng semasa SMA, sayang ga semuanya bisa kumpul. Btw tau ga nama gengnya apa? TR alias Tim Rumpi dong wkwk. Namanya ini yang kasih bukan kami, tapi temen-temen cowo yang mungkin tiap kumpul bareng suka rumpi yah hihi. 

collageKomplek.jpg

temen-temen masa kecil di komplek. syari’ah semua ya kecuali saya :p semoga segera menyusul, aamiin.

13043403_10153700038449405_1958056048051220126_n

kalo yang ini geng jaman SMP dulu. Nama gengnya lebih parah dong, Zombie kemudian ganti nama jadi Da PinkPeppers hahahhaa (duh) 

collageG13

Geng susah seneng selama kuliah S1 dulu di UI. Dijulukin G13 karna jumlah kita ada 13 orang.

collageOFFICE

Kalo yang ini temen-temen seperjuangan di kantor HKI. 

DSC_2237(1)

Blackforest Cake yang kami beli untuk mama 🙂

collageFAM

Parts of mi familia. Too bad I forgot to take any photo with the whole fam grrr.

Sedikit mengenai perjalanan kembali ke Belanda, menurut saya untuk trip yang ini alhamdulillah lebih lancar dan terasa lebih smooth dibanding waktu berangkat. Selain kayanya karna persiapan saya yang udah lebih mateng (berdasarkan pengalaman sebelumnya), juga karna faktor penerbangan yang cukup tenang alias sedikit turbulensi deh. Saya bisa tidur dengan nyenyak di leg pertama (sebelum terbang saya nenggak paracetamol :D), waktu transit yang lebih masuk akal (ga terasa terburu-buru), dan saya sendiri yang mungkin udah bisa cope up dengan kondisi yang ada. Sesampai di Schiphol trus ngeliat suami dan anak-anak duh senengnyaaa. Anak-anak langsung minta peluk, bapaknya cuma kebagian koper ajah :p

Satu yang bikin saya ngerasa jetlag adalah bahasa, sepanjang jalan menuju tempat parkir (sampe rumah) anak-anak langsung cerita segala macam nyerocos pake bahasa belanda (mereka seneng cerita ke kami, dan memang kami biasakan untuk selalu bercerita). Rasanya aneh setelah dua minggu penuh cuma denger orang lain ngomong dan ngoceh pake bahasa indo doang sis. Untungnya ga lama-lama jadi langsung tune in deh sama apa yang diceritain sama mereka hehe.

Cuma…sepulang dari Indonesia perasaan kok saya makin berat bawa badan dan perutnya semakin keliatan buncitnya. Usut punya usut (tsaah) ternyata selama dua minggu liburan itu saya naik 2 kilo dooong hahaha. Oh ya, juga selama di Indonesia itu beberapa kali kaki saya bengkak hiks. Pola makan yang ga beraturan (yaiyalaaah, banyak makanan enak di sana!), plus cuaca dan banyak jalan kayanya yang jadi penyebabnya. Begitu saya di Belanda, alhamdulillah kaki kembali normal (ga bengkak lagi). Kalo makan si ya otomatis menyesuaikan ya. Tapi perut tetep makin buncit ahahaha. Alhamdulillaah lah ya, mudah-mudahan si dedek bayi sehat terus dan ga nyusahin mamanya 🙂 (aamiin).

Seperti Barbara Bush bilang, cherish your human connections – your relationships with friends and family. Dan satu lagi, enjoy life while you live 🙂 Sekian dulu cerita mudiknya ya kawan-kawan. Lain waktu nanti saya mau cerita tentang kehamilan saya boleh yaa :).

ps. all photos were taken with mobile phones, or received via WA, thus sorry for the lousy result 🙂

Long Haul Flight, Mudik dan Hamil (1).

“Life takes you to unexpected places. Love brings you home.”
~ Melissa McClone.

ps.
Draft ini pertama kali saya buat di sela-sela waktu penerbangan Amsterdam – Doha karna udah matgay alias gatau mo ngapain lagi hehe. Dan saya lanjutin nulisnya (ngetiknya) pas jetlag melanda. Ato pas terserang insomnia dadakan selama di Indonesia. Diselesaikan setelah saya kembali ke rumah di Belanda. Panjang amat sejarahnya ya wkwkwk.

Jadi ceritanya setelah saya dan suami tau kalo saya (alhamdulillah) mengandung, di kepala saya udah kebayang langsung, berarti juli-agustus besok kami ga bakal bisa mudik ke indonesia secara di bulan tersebut saya (Insya Allah) sedang hamil tua. So pasti udah ga bisa terbang jauh dong ya, sementara hati agak sedih kalo taun ini ga pulang ke indonesia.

Selang beberapa waktu (biar ga keliatan banget ngebetnya hahaha) saya konsultasi ke suami, gimana kalo kira-kira kita pulang pas anak-anak libur akhir april – awal mei aja. Memang waktunya ga banyak si, cuma dua minggu, tapi lumayan menurut saya. Selain itu, kalo diitung dari usia kandungan masih memungkinkan juga untuk terbang. Sayangnya ternyata suami ga ikutan libur kaya anak-anak, daaan anak-anak so pasti ga mau ikut kalo cuma sama saya doang ato sama papa aja (penonton kuciwa :((). Mereka prefer tinggal di rumah daripada harus pergi jauh. Saya bilang ke suami kalo saya aja sendiri yang berangkat kira-kira gimana. Alhamdulillah suami ga keberatan, cuma kita harus atur untuk urusan anak-anak terutama dengan oma, karna suami udah pasti ga bisa full taking care mereka terutama selama jam kerja. Saya kan mikirnya kalo libur lebih gampang ya, ternyata oma minta kalo bisa pas anak-anak masih masuk sekolah aja, jadi dia juga cuma perlu jemput mereka dan ga perlu jaga mereka sepanjang waktu.

Akhirnya setelah konsultasi jadwal, ketemu deh tanggal berangkat dan pulang yang kurang lebih pas buat semua. Saya sempet cek beberapa flight yang kira-kira akan paling convenient buat saya. Suami sempet nyaranin ambil direct flight aja biar lebih cepet, tapi saya kok ya jiper juga 13 jam ga keluar dari pesawat. Mungkin juga karna pernah ada pengalaman kurang mengenakkan (udah terbang sampe atas india harus return to base alias balik ke jakarta karna ada salah satu penumpang yang sakit – dan kemudian meninggal hiks). Akhirnya saya putusin buat cari flight yg paling pendek dan masuk akal waktu transitnya. Kalo saya pergi ada temennya si ga masalah deh transit agak lama. Anyway, setelah nyari-nyari di semua website maskapai yang saya inget, akhirnya ketemu formula yang lumayan enak dan waktu transit yg singkat tapi ga grasa grusu: berangkat via Brussels dan pulang via Amsterdam Schiphol. Waktu transit di Doha kalo berangkat dari Brussels setengah jam lebih lama kalo dibandingin berangkat dari Amsterdam Schiphol, sementara jarak dari rumah ke bandara baik ke Schiphol atau Brussels Zaventem ga beda jauh.

Tiket udah di-booking, persiapan penjemputan di Jakarta udah di atur, ndilalah terjadi musibah (suicide) bombing di bandara Zaventem Brussels, beberapa minggu sebelum jadwal terbang yang saya pilih. Awalnya saya tenang-tenang aja, karna saya pikir masih lumayan ada waktu lah untuk mereka buka lagi bandaranya. Hampir setiap hari saya cek via customer service (CS) Qatar Airways kapan kira-kira bandara akan dibuka. Sampai akhirnya saya lihat di airport update status kalo flight saya dibatalkan (dang). Begitu saya telepon ke CS mereka, diinformasikan kalo saya harus ubah jadwal penerbangan. Yang bikin saya agak stress adalah flight dari Amsterdam untuk tanggal yang sama udah fully booked semua. Either saya harus terbang dari Frankfurt atau Paris (dikira jaraknya selemparan batu apa ya, huh!), atau saya pilih terbang di hari lain. dan info ini baru saya dapet 2 hari sebelum berangkat. Kezel! Suami nyaranin kalo saya berangkat sehari kemudian aja, dengan pertimbangan agar saya ga terlalu stress dan keburu-buru untuk packing. Sementara saya lebih prefer sehari lebih awal karna jauh hari sebelumnya saya udah bikin rencana sehari sesudah saya sampai Jakarta. Dilema, tapi akhirnya suami ok buat saya berangkat sehari lebih awal (fiuhh). Jadilah saya berangkat dari Amsterdam sehari lebih awal dari jadwal semula.

Lamanya penerbangan Amsterdam-Doha sekitar 7 jam. Pesawatnya penuhh (saya dapet pesawat jenis Triple 7 alias 777-300ER kalo ga salah), dan selama perjalanan lumayan banyak guncangan alias turbulence (jarang-jarang flight batch ini saya alami banyak turbulence. Biasanya lumayan smooth). Tapi alhamdulillah kehamilan ga mengganggu perjalanan. I tried to take it as easy as I can. Cuma perut sedikit agak tegang aja kalo udah mulai goyang hehe.

O ya, pas berangkat ini umur kehamilan saya adalah 19 minggu (menuju 5 bulan), sebelum keberangkatan saya dan suami kontrol dulu dan dari hasil USG janin alhamdulillah terlihat sehat dan normal. Dari Bidan tempat saya kontrol juga tidak ada masalah dan kehamilan dengan usia kandungan sekian minggu cukup aman untuk melakukan perjalanan jauh. Cuma ya itu, berhubung terbangnya di kelas ekonomi, jadi ya ruang untuk kaki bergerak cukup terbatas. Mungkin lain ceritanya kalo terbang di kelas bisnis. Bisa jadi akan lebih nyaman ya hehe. Anyway, not complaining here!

Sesampai di Doha, saya harus sesegera mungkin pindah pesawat. Waktu transit di Doha cuma sekitar 1 jam, jadi saya harus jalan cepat begitu pintu pesawat dibuka. Di sini kaki saya mulai agak terasa sakit, terutama bagian telapak kaki sebelah kiri. Mungkin karna harus jalan cepet-cepet ya, ditambah posisi duduk saya selama di pesawat, mungkin juga karna terlalu lama ditekuk ya. Begitu saya sampai di gate, boarding sudah berjalan. Untung ga perlu sampe last call baru sampe. Saya bukan tipe orang yang suka dateng di waktu-waktu akhir soalnya, bikin stress!

Di batch kedua (Doha – Jakarta) lama perjalanan adalah sekitar 9 jam. Couple hours longer than the first one. Lebih sedih lagi karna jenis pesawat yang saya dapet adalah Airbus seri A330 kalo ga salah. Space untuk kaki sedikit lebih tight daripada boeing jenis triple 7 (atau boeing Dreamliner ataupun Airbus seri A380) – kaki saya ga bisa dilurusinnn, ditambah di samping saya satu keluarga dengan 3 anak yang salah satunya ga berenti nangis ato ngambek hiks. Beruntung flight kali ini lebih smooth daripada batch sebelumnya. Alhamdulillah saya survived dan selamat sampai Jakarta :p

Sebenernya saya bukan tipe orang yang pengen ngerepotin orang dan suka minta dijemput segala. Dari dulu tiap pulang dari manapun saya biasanya pake damri aja ke tempat terdekat dengan rumah trus naik taksi (ato janjian sama alm. bapak di titik terdekat kita bisa bareng semisal pas hari kerja), ato kalo lagi tajir ya naik taksi dari bandara hahahha. Untuk kali ini, berhubung saya lagi tidak dalam kondisi normal, mintalah saya dijemput sama kakak saya hehe. Saya pun ga berani angkat koper gede dari baggage belt – yang bisa diselesaikan dengan nyewa porter. Buat jemput sebelumnya abang dan kakak saya sudah available jadi saya pikir aman lah ya. Ndilalahnya, berhubung saya sampenya bukan sabtu seperti semula tapi jumat sore (pas jam macret2nya!) si abang saya kejebak macet donggg ga sampe-sampe ke bandara. Saya secara kebetulan landing lebih cepat setengah jam. Begitupun dengan bagasi yang biasanya bisa lebih dari setengah jam nunggu ini paling cuma 5 menit terus nongol tu bagasi. Alhamdulillah kakak saya ternyata udah sampe (bela-belain mau ikut jemput bumil katanya walopun harus naik Damri dari kantornya 😀 lop yu pul sis!). Awalnya kami rencana nunggu si abang sampai, tapi karna liat situasinya yang bikin keki (abang saya itu masih di tol dalam kota dongss zz), akhirnya kami putusin untuk naik taksi aja dari bandara dan biar dia putar balik aja daripada makan waktu lebih lama lagi. Lamanya perjalanan dari bandara ke rumah mama di Pamulang? yukkk 2,5 – 3 jam ajah cin.

Sebelum nyambung ke posting berikutnya, saya mau share beberapa tips buat ibu hamil sebelum memutuskan untuk traveling jarak jauh menggunakan pesawat (long haul flight – penerbangan 6 sampai 12 jam dan ultra long haul flight – penerbangan lebih dari 12 jam):

  • Yang paling utama tentunya pastikan kalo kondisi kita (ibu hamil beserta cabang bayinya) sehat dan tidak ada keluhan khusus. Konsultasikan terlebih dahulu kondisi kesehatan kita dengan dokter atau bidan yang menangani kita selama kehamilan. Jangan lupa minta surat rekomendasi dari dokter atau bidan karena sebagian besar mensyaratkan ini (terutama untuk usia kehamilan tertentu).
  • Cari dan pilih jadwal penerbangan yang paling nyaman (terutama dalam memutuskan apakah akan ambil flight yang direct – dengan konsekuensi kita akan lebih lama berada di dalam pesawat dalam satu kali perjalanan, atau ambil flight dengan transit – dengan resiko seating di flight berikutnya tidak senyaman atau malah lebih nyaman dari flight sebelumnya hehe. Menggunakan direct flight tentu ada untungnya – terutama dari segi durasi secara keseluruhan. Kalo dengan transit durasi perjalanan Amsterdam – Jakarta paling cepat sekitar 15-16 jam, sementara dengan direct flight bisa ditempuh dengan waktu sekitar 13-14 jam. Berdasarkan pengalaman saya, sebaiknya pilih flight dengan transit, jadi kita ada waktu untuk sedikit meluruskan kaki dan bergerak lebih leluasa sebelum kembali ke dalam pesawat. Seandainya memilih jadwal dengan transit usahakan pilih jadwal yang punya waktu transit yang cukup – tidak terlalu lama tapi juga tidak terlalu cepat (sekitar 1,5 jam – 3 jam adalah yang paling ideal). Waktu transit yang mepet akan bikin kita sedikit stress karena takut ketinggalan pesawat berikutnya. Lebih nyaman lagi kalo kita bisa duduk di kelas yang lebih tinggi dari ekonomi si, tapi ya kita harus keluar uang ekstra yang kadang bisa lebih dari dua kali lipat dari harga tiket ekonomi (emak-emak pelit hahak!).
  • Usahakan agar barang bawaan kita (koper dan pernak-perniknya) bisa seefisien mungkin. Ga usah mikirin oleh-oleh buat yang akan dikunjungi, toh mereka juga (Insya Allah) pasti akan ngerti dan ga akan mau ngerepotin ibu hamil ya hehe. Secara umum, bawaan bisa berupa 1 koper ukuran besar (untuk dimasukkan ke bagasi), 1 koper kecil (ukuran kabin, untuk dibawa ke dalam pesawat), dan 1 tas serba guna (lebih baik menggunakan ransel dengan ukuran kecil-medium untuk memudahkan membawanya). Jangan lupa minta bantuan seseorang (bisa petugas atau suami/partner kita) untuk mengangkat koper besar ke timbangan di check-in/desk counter ya. Kalo ada servis porter bisa juga dimanfaatkan (seperti di bandara Soekarno Hatta Cengkareng).
  • Pakai pakaian dan sepatu senyaman mungkin (tapi bukan piyama ya hehe). Untuk sepatu, saya ga punya saran salah satu jenis sepatu tok, karna balik lagi semua tergantung kenyamanan masing-masing orang ya. Yang pasti jangan pake high heels (matik ajalah kalo mau terbang pake high heels cin :p). Sebelum saya hamil, hampir di setiap penerbangan saya selalu pake loafer karna gampang untuk slip on dan slip off. Biasanya selama di pesawat sepatu akan saya lepas dan saya gunakan kaos kaki yang agak tebal. Untuk penerbangan kemarin saya pake sepatu sport/sneakers karna saya pikir mungkin akan lebih nyaman digunakan untuk jalan. Untuk pakaian, kalo ga mau ribet ga usah pake jaket yang super tebel atau yang riweuh banyak pernak-perniknya. Juga untuk celana, saya ga anjurkan buat pake jeans (lebih baik gunakan legging) dan disarankan untuk pake baju yang agak longgar – terutama di bagian perut. Kalo takut dingin selama di pesawat, lebih baik pake baju berlapis atau minta selimut ekstra ke pramugari aja.
  • Kalo maskapainya punya fasilitas online check-in, jangan lupa untuk dipergunakan. Selain menghemat waktu antri di bandara, kita juga bisa memilih seating position yang kita inginkan (terutama kalo kita melakukan online check-in cukup awal). Biasanya maskapai sudah membuka online check-in 48 atau 24 jam sebelum waktu terbang. Jangan lupa pilih seat di lorong/aisle, supaya ruang gerak kita lebih gampang.
  • Selama di pesawat, jangan lupa banyak minum air putih dan banyak jalan/bergerak. Ga usah nunggu haus, kalo liat mbak/mas flight attendant-nya bawa minuman comot aja langsung hehe. Usahakan juga makan ya (ga perlu dihabiskan seluruhnya) walaupun mungkin menunya tidak sesuai selera kita. Untuk jaga-jaga bisa juga kita bawa sedikit cemilan ekstra di tas kita. Untuk berdiri dan meluruskan kaki pun ga perlu nunggu sampai kita mau pipis aja hihi, kalo badan udah terasa pegal sebaiknya segera berdiri atau mondar-mandir aja di lorong. Kalo saya kemarin suka jalan ke pantry, minta minum trus berdiri deh di situ. Paling susah memang kalo kondisi cuaca ga kondusif dan kita diharuskan duduk di tempat aja. Turbulensi juga bikin badan kita jadi lebih tegang dan stress.
  • Kalo ada keluarga, kerabat atau teman yang bisa dimintakan bantuan, jangan sungkan untuk minta tolong jemput di Bandara ya. Mungkin kadang sungkan tapi dengan kondisi kita yang agak khusus boleh lah sesekali ngerepotin orang hehe.

Untuk sementara kurang lebih segitu dulu tipsnya ya. Nanti di batch kedua saya mau sharing cerita mudik seru-serunya dan juga tips lain terkait mudik yah 😉

Welcome to Jakarta ya Nak! =)

share

pardon moi for the blurred image (taken by my lil sis at Taman Kota BSD)