Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

Advertisements

Resep Spekkoek (Lapis Legit)

Spekkoek atau biasa disebut Lapis Legit (Spekuk) adalah salah satu kue favorit keluarga kami. Resep yang saya share di sini resep andalan suami kalo pas bikin kue ini hehe, saya sendiri ga pernah bikin spekkoek atau lapis legit sendiri. Yang saya suka dari resep ini adalah kuenya ga begitu manis, rasa rempahnya berasa tapi ga begitu kenceng, dan lembut banget.

Buat mbak Irny yang sempet nanya di IG (dan kali aja ada temen lain yang mau nyoba juga) monggo diliat resepnya di bawah ini yaaa =)

SPEKKOEK
Untuk 2 kg (2 loyang)

Bahan:
350gr kuning telur (+ 20 butir)
7 butir telur (@50 gr per butir)
650gr mentega (bisa juga 325gr mentega – 325gr margarin, atau diganti margarin seluruhnya)
370gr gula pasir halus
1/2 sdt garam
40gr susu cair (UHT tawar)
200gr tepung terigu

Bumbu spekkoek:
10gr kayu manis bubuk
3gr pala bubuk
3gr cardamom (kapulaga) bubuk
3gr cengkeh halus ( bubuk cengkeh)

Buat variasi bisa juga di tambahkan 60 gr almond yg sudah di gerus halus (atau tepung almond siap pakai)

Cara membuat:

Panaskan oven di suhu sekitar 180°C. Siapkan 2 loyang bulat ukuran diameter 24 cm, bagian bawahnya dialasi dengan kertas roti kemudian olesi dengan mentega/margarin secara tipis dan merata.

Kocok telur dan gula halus sampai kaku dan lembut, tambahkan susu cair sambil dikocok sampai rata. Ayak tepung terigu dan bumbu spekkoek beserta garam di atas adonan telur sambil diaduk rata.

Dalam wadah terpisah, kocok mentega sampai lembut. Kemudian tuang adonan telur ke dalam kocokan mentega sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.

Tuang sekitar 2 sendok makan adonan ke dalam loyang (tergantung besar kecilnya loyang) ratakan dan masukkan ke dalam oven dg api atas selama kurang lebih 5 menit (sampai berwarna kecoklatan). Tiap kali adonan sudah terlihat coklat tambahkan lagi 1 atau 2 sendok makan adonan di atas adonan yg sudah berwarna coklat. Kemudian masukkan lagi ke dalam oven dan tunggu sampai adonan berwarna kecoklatan. Lakukan terus sampai adonan habis (tiap lapisan perlu waktu kurang lebih 5 menit untuk mendapatkan warna kecoklatan).

Catatan:
Spekkoek harus dipanggang dalam oven dengan api atas saja agar nantinya terbentuk lapisan-lapisan tipis (kalo pake oven gas/listrik, untuk lapisan kedua dan seterusnya oven di-set pada posisi grill 5).
Membuat spekkoek perlu kesabaran saat memanggangnya dan harus selalu dicek setiap lima menit apakah sudah berwarna coklat atau belum. Kalo kita mau buat lapisan terlihat lebih tebal, pada saat penambahan adonan di tiap lapisannya bisa ditambahkan agak banyak (mungkin sekitar 3-5 sendok makan) dan waktu pemanggangan tiap lapisan otomatis jadi agak lebih lama dari 5 menit.

Selamat mencoba yaa!

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinet😅).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again 😊

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post 😉)

Thank you 2016, Welcome 2017!

“Year’s end is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us.”
Hal Borland

Beberapa saat lagi di tempat kami tahun akan berganti.
Tahun 2016 banyak cerita yang udah kita lalui. Kalau mau dihitung ga tau deh berapa banyak berkah yang udah Allah kasih kepada kami. Ga ada hentinya kami bersyukur kepada Allah SWT untuk segala yang terjadi. Semoga kami selalu ingat untuk bersyukur, atas nikmat dan segala yang sudah dilimpahkan kepada kami.

Dari dulu walaupun ga bener-bener strict dan bikin target, saya suka bikin semacam mental list di kepala saya apa aja yang udah saya capai selama setahun, yang saya mau capai untuk setahun ke depan. Selain bagus sebagai pengingat, hal ini juga bisa menjadi semacam dorongan buat saya dan apa yang saya kerjain ke depan jadi bisa lebih terarah.

Saya mau share sedikit beberapa highlight buat saya di tahun 2016 ini. Banyakan yang indah-indah si hehe, saya ga suka (dan ga mau) begitu mendayu-dayu dengan sesuatu yang bikin saya sedih atau kecewa. intinya bersyukur dan move on, ya ga? 😀

  • Yang paling utama tentunya kehadiran anggota baru di keluarga kami. Alhamdulillah walaupun sedikit berjuang di akhir-akhir masa kehamilan, semua dilalui dengan lancar. Lahiran lancar (health system dan penanganan yang superb buat saya dan suami – bener-bener pengalaman yang bikin kami puas dan grateful deh pokonya), bayi sehat sempurna, masa recovery yang cukup sebentar, anak-anak dan suami juga oma di sini sayang dan ga henti-hentinya memberikan support, bener-bener Alhamdulillah lah pokonya (big time).
  • Seneng bisa pulang ke Indonesia di tengah masa kehamilan, didoain sama semuanya, ketemu mama, abang, kakak, adik dan keponakan, juga sempet ketemu sama temen-temen kesayangan.
  • Alhamdulillah mama dan echa juga bisa nengokin kami di sini selama sebulan ga lama setelah saya melahirkan, jadi bisa sharing cerita, dapet bala bantuan dan bikin rumah jadi makin rame.
  • Seneng denger temen-temen deket saya juga di tahun ini barengan hamil (dan nyusul hamil! hihi). Ada Neneng Mbem yang lebih dulu melahirkan dan akhirnya jadi sering berbagi info buat saya perihal macem-macem yang berhubungan dengan persiapan melahirkan dan anything about baby, jeung R yang cuma beda 5 hari aja waktu bersalinnya sama saya, mbak I yang awal Januari kemarin akhirnya officially menikah dan kemudian November kemarin melahirkan baby boy juga, my sistas Inge dan Lia yang sekarang expecting dan masih berjuang sampai waktunya nanti bersalin (sehat terus ya ayang-ayang!), Mami F di Berkel-Enschot yang semua orang bilang agak gak mungkin pun sekarang lagi expecting! juga temen-temen lain yang saya kenal di sekeliling saya yang mungkin saya lupa atau ga kesebut di sini, saya ikut seneng deh pokonya.
  • Beberapa temen deket saya mampir ke Belanda dan kita sempet jalan bareng. This is priceless for me. Yang pertama, saya ketemuan dengan sahabat saya semasa SMA di sini. Kebetulan emang dia tiap tahunnya bolak-balik Jakarta – Madrid karena suaminya kerja di Madrid. Dia liburan ke sini bareng suami dan dua anaknya, dan alhamdulillah saya sempet nemenin mereka buat jalan-jalan ke Volendam dan Zaanse Schans (waktu itu saya bela-belain nyetir dengan perut besar demi ketemu lah haha). Yang kedua, saya beserta baby F dan bareng sahabat saya semasa SMP yang kebetulan ada business trip ke Roma punya kesempatan buat liburan singkat ke Paris (thanks to hubby yang pengertian ;)), dan kemudian dia nginep di tempat kami. Really glad we can make it happen.
  • Beberapa temen saya yang udah saya kenal lama dan tinggal di Belanda harus kembali ke tanah air, satu karna Phd-nya udah selesai, dan yang satunya lagi karna masa tugasnya di kedutaan sudah selesai. Yang Phd dulu kami kuliah bareng S2 di sini (dia lulus cum laude, saya CUMa lulus aja wkwkwk), sementara yang diplomat kami kuliah bareng S1 di FHUI dulu. Sedih tapi senang si sebetulnya hehe, karna dua-duanya pulang karena sesuatu yang positif, bukan negatif. Semoga kita masih dikasih kesempatan (kesehatan dan juga rejeki) untuk ketemu lagi ya temen-temen.
  • Renovasi rumah yang walaupun berjalan lama tapi sedikit-sedikit menuju ke arah yang lebih baik. Terutama sebelum Fabian lahir, kami harus ngebut bikin kamar buat anak-anak (sekalian juga merapikan tempat cuci dan setrika) di atas. Thank God it was finished on time, karena ternyata persis seminggu setelah kamar Fabian selesai, saya dijadwalkan untuk lahiran wkwk. Saya bersyukur juga rumah mama di Indonesia bisa ikutan direnovasi (dan dicat ulang!). Walau mungkin masih banyak yang harus dibetulin (maklum rumah tua) tapi setidaknya sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik lagi hehe.
  • On sosmed point of view (halah), seneng punya temen baru (dan bacaan dikala senggang) lewat blog ini =) terima kasih sudah mengisi waktu-waktu saya dengan cerita serunya yaa (maapin tapi kadang abis baca trus mau komen udah nulis tapi abis itu suka lupa mencet send hahahaha). Begitupun dengan instagram. Saya jadi semangat untuk posting di situ hehe. Saya pun kembali aktif posting di facebook (via path atau instagram), walaupun ya ga seberapa.
  • Banyak berita heboh yang dateng dari Indonesia, dari kopi sianida, pilkada DKI, cerita-cerita lama berbau SARA, mewabahnya sinetron india (apa turki ya? lupa :p), sistem kurikulum yang katanya mau berubah, masalah dwi kewarganegaraan dan menteri instan, dan terakhir heboh pilot mabuk. Sedih juga dengan banyaknya musibah yang terjadi (khususnya yang dibuat oleh manusia) yang dimulai dari bombing di mana-mana, juga perang di Syria.
  • masih banyak lagi yang maunya ditulis di sini, tapi nanti kepanjangan tau-tau tahun barunya lewat lagi hahaha. sementara udah sampe sini aja lah highlightnya ya guys. udah banyak juga ini buat setahun!

Harapan di tahun ke depan, semoga saya bisa mengelola waktu dengan lebih baik lagi, lebih rajin ibadahnya, semakin sabar dan bisa handle segala urusan rumah tangga dan juga anak-anak serta suami. Semoga juga di waktu ke depan saya bisa lebih baik lagi bahasa belandanya, saya pengen ikut (dan lulus) NT2 examen supaya bisa dapet kerja yang sesuai dengan pendidikan saya dan mungkin jadi lebih gampang ke depannya (aamiin). Semoga suami dan anak-anak beserta keluarga besar saya dan suami selalu diberikan berkah sehat, kebahagiaan, kesuksesan di dunia (dan akhirat). Semoga kami semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, pribadi yang tidak lupa bersyukur, rendah hati (bukan rendah diri), dan ramah serta menyenangkan (at least ga bikin kesel orang hehe).

Satu lagi, semoga adik saya diberikan kemudahan untuk mewujudkan keinginannya untuk menikah dengan pria pilihannya. semoga juga tahun depan kami bisa berkumpul semuanya di Jakarta. AAMIIN =)

Sekali lagi, selamat tahun baru semuanya! I leave with another one nice quote taken from brainyquote.com:
Let our New Year’s resolution be this: we will be there for one another as fellow members of humanity, in the finest sense of the word. ~ Goran Persson

The Kid’s-Friendly NEMO Science Museum, Amsterdam

Sebulan lalu, sewaktu anak-anak sedang liburan musim gugur kami memutuskan untuk berkunjung ke NEMO Museum yang berlokasi di Amsterdam. Sebenernya rencana pergi ke NEMO ini udah cukup lama, sejak mereka sedang liburan musim panas, dan kebetulan waktu itu sedang ada offer dari emté buy 1 get 1 untuk entrance-nya (semacam itulah kira-kira). Tapi apa mau dikata, rencana berubah karna ternyata saya harus melahirkan lebih awal. Anyway bersyukur anak-anak cukup mengerti dengan kondisi kami saat itu dan ga merengek ato jadi bete karna ketunda perginya.

NEMO di sini beda sama yang ada di film ya hehe. Ini bukan akuarium, bukan juga museum tentang ikan. Jadi NEMO itu kepanjangan dari New Metropolis (correct me if I’m wrong), ini semacam pusat sains dan teknologi dimana kita bisa ikut terlibat dan ikut nyoba hal-hal yang berbau sains dan teknologi di “proof garden” mereka ini. Selain bentuk gedungnya yang unik, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana juga cukup seru.

Harga tiket masuk ke Museum ini adalah sebesar €15 per orang (untuk pengunjung usia 4 tahun keatas). Buat yang punya student card harga tiketnya adalah €7,5. Sementara untuk mereka yang punya kartu khusus seperti IAMsterdam card atau Museumkaart entrance-nya gratis. Kebetulan kami memang udah lama rencana mau buat museumkaart dan anak-anak juga sekarang sudah cukup besar untuk bisa menikmati museum-museum yang jumlahnya buanyak banget di sini, maka akhirnya kami sekalian daftar di sana.

Museumkaart ini lumayan banyak benefit-nya dan tentu handy buat yang suka dengan museum. Fyi, museumkaart bisa digunakan untuk akses masuk ke sekitar 400 musea yang tersebar di seluruh Belanda (beberapa museum yang termasuk dalam list antara lain Anne Frank Stichting, Rijksmuseum Amsterdam, Van Gogh Museum, Museum Het Rembrandthuis, NEMO, Space Expo, Openlucht Museum di Arnhem, dan masih banyak lagi lainnya). Untuk info lebih lanjut tentang museumkaart bisa klik link ini ya (the link is in Dutch, tapi cukup gampang untuk diikuti kok, ato ga cukup aktifkan google translate seandainya berminat hehe).

Sekarang kembali ke NEMO. Museum ini terdiri dari 5 lantai plus satu lantai di bawah untuk tempat penitipan jas, ticket box dan beberapa display yang cukup menarik (ada jam raksasa di bawah ini hehe). Di depan museum ada semacam fountain ato kolam gitu beserta ember-ember membentuk kincir dan berputar.

nemo_museum_entrance

the entrance (image via http://www.mikimedia.org)

Di setiap lantai tema yang diangkat  berbeda-beda. Oh ya, satu hal lain di luar konteks museumnya sendiri yang bikin tempat ini nyaman untuk dikunjungi adalah adanya cafe corner di setiap lantai (kalo restroom si hampir pasti lah ya). Jadi kalo udah cape jalan, bisa istirahat sebentar sambil jajan-jajan hehe.

Lantai 1 museum ini bertemakan “Fenomena”. Di lantai ini kita bisa belajar mengenai bagaimana sains bekerja. Kita bisa ikut melihat (dan merasakan) bagaimana cahaya, suara dan listrik statis bekerja, juga bagaimana menghasilkannya. Beberapa aktivitas yang cukup diminati di lantai ini termasuk the plasma ball (yang kalo kita sentuh trus kita terhubung dengan electricity light), giant bubble forming (balon yang dibuat pake sabun/busa tapi dalam versi raksasa), belajar tentang suara dengan menggunakan dua audiophone raksasa yang ditempatkan jauh terpisah, belajar tentang cahaya melalui cermin dua refleksi, dan juga aktivitas yang menggunakan magnet. Di lantai ini juga setiap harinya di atrium hall yang juga terletak di lantai ini ada special event yang biasanya juga melibatkan para pengunjung. Pada waktu kami berkunjung kami sempat ikut menyaksikan apa yang mereka sebut “chain reaction”, semacam domino effect tapi menggunakan peralatan yang tidak biasa seperti bola, kursi, bahkan balon dan roket mini.

dsc_3253-2

The plasma ball (photo: private collection)

nemogroup

The Chain Reaction (image via http://www.bilimgezi.com)

Lantai 2 bertemakan “Technium”. Sesuai namanya, di lantai ini lebih kepada aktivitas (dan display) yang terkait dengan teknologi. Kalo kata website-nya, dengan teknologi maka kita bisa memperbaiki dan membentuk dunia. Di lantai ini ada ruang khusus yang disebut “the maker space” dimana anak-anak bisa ikut merancang, membuat, mengetes dan memperbaiki produk teknik sederhana yang bisa mereka bawa pulang sebagai souvenir. Di lantai ini juga terdapat erasmus bridge mini dan satu section khusus untuk mengetahui tentang pengelolaan air dan bagaimana cara mencegah banjir di Belanda. Selain itu ada juga mesin logistik dengan permainan interaktif mengirim barang ke seluruh dunia. Ada juga spinning wheel raksasa dengan pecahan segitiga dimana kita bisa membentuk sesuatu sambil belajar matematika. Sebenernya masih banyak lagi yang menarik di lantai ini, tapi saya bingung mau jelasinnya haha. Menurut saya aktivitas di lantai ini adalah yang paling menarik di antara lantai-lantai lainnya (walaupun juga gak kalah menariknya).

dsc_3263

The mini Erasmus Bridge (photo: private collection)

nemo-site-header-974x584

The world of form (image via http://www.studiolouter.nl)

DD332727

The Optical Illusion (image via studiolouter.nl)

water-world-nemo-amsterdam

Part from the water world (image via http://www.mikestravelguide.com)

dsc_3261-2

You can find this useful information in one of the restrooms :p (photo from private collection)

Di lantai 3 tema yang diangkat adalah “Elementa”. Di sini kita bisa belajar tentang hal-hal yang terkait dengan elemen yang ada di jagad raya ini. Di lantai ini ada juga ruang teater dimana kita bisa ikut nonton semacam 3D documentary movie tentang ruang angkasa. Durasinya kurang lebih selama 15 menit dan jumlah kursi yang tersedia cukup banyak (sebenernya saya agak ragu apakah teater ini adanya di lantai 2 ato 3 si haha, maafkan ya kalo ternyata saya salah kasih info :D). Selain itu, di lantai ini anak-anak bisa ikut belajar dan bereksperimen di ruang laboratorium yang khusus dibuat dan terbuka untuk pengunjung. Jangan khawatir, di sana lumayan banyak lab guide-nya kok, jadi kalo kitanya ga tau mau ngapain mereka akan bantu.

dsc_3275-2

Our young scientists 😉 (photo from private collection)

dsc_3274-2

The view of Amsterdam taken from inside the Museum (photo: private collection)

Lantai selanjutnya yaitu lantai 4 bertemakan “Humania”. Di sini pengunjung belajar tentang siapa diri kita, perubahan yang terjadi pada anak-anak yang beranjak remaja, bagaimana otak kita bekerja, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, rupa wajah, motorik, dan emosi. Selain itu di lantai ini juga ada ruang khusus yang berisi display perkembangan sains dan teknologi beserta proyeksi masa depan khususnya di Belanda.

wlanl_-_petertf_-_brein_boom

Image via wikipedia

dsc_3278-2

Berbagai macam jenis lampu dari Philips – salah satu sponsor Museum ini (photo: private collection)

Lantai teratas mengangkat tema “Energetica”. Di lantai ini di dalam gedung sendiri adalah restoran dengan konsep cafetaria. Sementara untuk proof activities nya sendiri berlokasi di luar gedung, tepatnya di rooftop square. Rooftop square ini sebenernya bisa diakses secara gratis loh. Jadi dari lantai 5 rooftop ini ada tangga menuju ke bawah sampai ke trotoar jalan dan semua orang bisa naik tanpa perlu tiket (mereka baru akan mengecek tiket di dalam gedung dekat lift dan tangga turun). Rooftop square ini keren banget menurut saya (lebih keren dari rooftop view di SkyLounge Hilton Hotel). Mereka mengkombinasikan sains dan teknologi (terutama yang berkaitan dengan energi di sekitar kita seperti angin, air dan surya) dengan sesuatu yang bikin kita betah stay di sana. Selain ada panorama spot (kamu bisa bikin foto panorama pemandangan kota Amsterdam yang keren di spot ini), ada juga sundial yang berinteraksi dengan bayangan tubuh kita, kursi-kursi dengan solar panel, dan spot untuk bermain dengan air di water fountain dan water wheel.

nemo-energetica-2

The Sundial with your shadow as the face (image via http://www.energy-floors.com)

dsc_3279-2

(photo: private collection)

dsc_3281-2

The moving sculptures (photo: private collection)

dsc_3285-2

The scheepvaartmuseum seen from the rooftop (photo: private collection)

dsc_3286-2

(photo: private collection)

dsc_3287

(photo: private collection)

dsc_3288-2

(photo: private collection)

Overall, museum ini sangat layak untuk dikunjungi baik untuk dewasa maupun anak-anak. Cuma aja perlu diinget kalo weekend biasanya museum ini lumayan padat. Hal ini bisa sedikit diakali dengan datang lebih awal kali ya hehe. Satu tip lagi buat yang mau berkunjung ke sini pake kendaraan pribadi (mobil). Udah pada tau dong ya kalo parkir di Amsterdam itu lumayan mahal tarifnya. Dari situs NEMO saya baca kalo mereka memberikan potongan harga buat biaya parkir kalo kita parkir di tempat parkir tertentu. Tapi sebaiknya si menurut saya mobil diparkir di P+R Parking Area Amsterdam Arena (apalagi kalo kita mau jalan-jalan di sekitar Amsterdam central juga), dan dari situ cukup naik Metro ke Amsterdam Central Station (atau bisa juga turun di Niewmarkt station). Dari Amsterdam Central Station kita tinggal jalan sedikit (sekitar 1 KM lah). Tarif parkir di sini sekitar €8 dan ini udah termasuk maksimal 7 tiket GVB (tiket buat tram, bus dan metro) yang bisa dipake seharian (1 jam dari aktivasi tiket pada saat pertama kali tap untuk rute pergi/keluar dari tempat parkir, dan ketentuan yang sama untuk tiket kembali ke tempat parkir). Tiket ini jangan dibuang, karna akan diperlukan pada saat kita bayar parkir nantinya.

Okeee, sekian dulu cerita kali ini ya, sampai jumpa di postingan lainnya :p

ps.
mohon maaf ya, berhubung saya agak repot sama bayi dan anak-anak yang tiap waktu minta mamanya ikut liat aktivitas mereka, saya cuma bisa ambil foto beberapa kali. Selebihnya saya ambil dari berbagai sumber di internet kurang lebih sebagai referensi temen-temen aja.

‘t Kwekkeltje Rosmalen

Back then when the kids were still in group 2, they had a school trip to a public founded playground called ‘t Kwekkeltje. It is located in Rosmalen, a city close by to our place (around 15-20 KM). They really enjoyed it they asked me if we can go there by ourselves during their autumn break.
Finally on the last day of their holiday we managed to go there. It was my first time visiting the place. The entrance to the playground is completely free. It has quite big space and you can play with many things (sand, water, climbing, what kids not to like huh). My husband said that usually this place is completely packed, especially when the weather is nice. But luckily on that day we had quite reasonable crowd: not too full, although not that empty either. The weather was just like typical autumn weather: a bit gloomy and cold. Other than that, everything was just fine. Our youngest one also didn’t complain much although it was quite cold for someone at his age. We only put double layers of clothes and an extra blanket to cover him while sitting at maxi cosi car seat (we didn’t bring his bassinet).

The kids were reaaally enjoyed it! The minute we arrived they went directly to the tree house and just disappeared from our sight. After that, they went to the sling where they can sit on and then let it run from one side to the other. Afterwards they started to make a stream for water in the zandbak (sandbox). We forgot to ask them to just wear their boots instead of daily shoes (and old clothes instead of netjes one). I don’t really care actually as long as they’re having fun. But still..looking at them I couldn’t stop but think “sniff..must double time washing for their clothes. And not to forget to ask kids to clean up their shoes before going inside.

Now, back to the playground topic. So, as I mentioned above, this playground is completely free. Its a self-funding park – so to say. Some people gave donation to build some of its attractions. Other than that, they also have a kind of spaarpot (piggybank) not so far from the entrance/exit door where all the visitors can put in a bit of their money (or a lot if you are a coin collector for example :p). The place has several public WC (two if i’m not mistake), and one special for handicap and baby changing room. There is also a small room next to the entrance, for the volunteer(s) to get some warm when the day is cold (I guess). The playground can also be booked for special occasion like birthday party or school trip, by advanced reservation. They only will charged €1,5 per child for those kind of occasion (for maintenance cost I think). I find this place is quite good, considering the fact that its a self funding park. They took care of it quite well. Only kids said that the restroom was quite smelly. Oh ya, they didn’t provide any toilet paper or whatsoever there, so in case someone wanna go there it would be handier if they also bring their own toilet paper (and wet tissue when necessary). Also there are no food stall or cafe that sells consignment around, so it is better to bring at least a bottle of water and some snacks if you bring your kid(s) there.

If you wanna know more about this playground, you can check their personal website on this web address.

For the rest I will leave you with some photos of the playground which I took by my phone.
See ya on my next post!

the entrance (and exit)

list of the sponsors and donors of the playground.

bicycle parking space.

the restroom.

special restroom and baby changing room.

a part of the tree house.

a special bridge that can be used as a seesaw.

the other side of the tree house

climbing stuff.

the sling (I dunno how its called hehe)

water parkour

rabbit hole.

sandbox

the kids were busy with the digging

waterpump.

the spaarpot where you can put in some coins inside.

Melahirkan di Belanda (Inleiden Bevalling/Labor Induction)

tumblr_m7neoyyeas1r1s7izo1_1280

“The power and intensity of your contractions cannot be stronger than you, because it is you.”
~ Unknown

Ga berasa (well, berasa si actually :p), it’s been almost two months after I gave birth to a child to this world. Pada tanggal 20 Agustus pukul 16.11, saya diberikan kekuatan untuk menjalani proses melahirkan secara normal (atau yang juga disebut “vaginal delivery”) dengan bantuan induksi dan dengan selamat serta sehat walafiat mengantarkan seorang bayi kecil laki-laki untuk melihat dunia pertama kalinya. Proses persalinan melalui proses induksi di Belanda dikenal dengan istilah “inleiden bevalling”.

Belanda yang merupakan negara pro proses persalinan senormal mungkin (cenderung pro vaginal delivery) dan sebisa mungkin tidak melalui proses C-Section membuat saya harus melalui proses persalinan normal walaupun dengan bantuan induksi. Makanya dari mulai pembukaan sampai saya melahirkan memakan waktu cukup lama. Prosesnya sendiri sudah dimulai sejak 19 Agustus malam. Kenapa dokter memutuskan kalo saya harus melahirkan dengan bantuan induksi?

Di postingan saya sebelumnya saya pernah cerita kalo di usia kehamilan 28 minggu saya didiagnosa diabetes semasa hamil (Gestational Diabetes). Dengan adanya diabetes ini berarti ada kemungkinan bayi dalam kandungan saya pada saat lahir akan jauh lebih besar dari ukuran bayi rata-rata (lebih dari 4 kg) dan tentu aja akan lebih sulit buat saya untuk melahirkan secara normal. Pada saat saya kontrol ke dokter di minggu ke-33 kehamilan, saya sudah diinfokan bahwa ada kemungkinan proses kelahiran/persalinan akan dipercepat dan dilaksanakan di minggu ke-38 apabila ada indikasi kalo si baby beratnya bertendensi melebihi berat rata-rata bayi dengan usia kehamilan yang sama.

Selama beberapa bulan terakhir kehamilan (sejak ketauan ada diabetes semasa hamil itu tentunya hehe) saya menjalani diet untuk mengontrol asupan gula pada tubuh. Selain itu, saya juga diharuskan untuk mengecek tingkat gula darah dua hari setiap minggunya dan dalam satu hari sebanyak 4 kali (kadar gula sebelum makan/puasa, dua jam setelah sarapan, setelah makan siang dan setelah makan malam). Walaupun pas kontrol di minggu ke-33 berat badan si bayi aman, ternyata pas kontrol terakhir di minggu ke-37, dari hasil USG diperkirakan sang baby beratnya udah mencapai 3,8 kg. Memang sii, ukuran lingkar kepala, panjang bayi, ukuran tulang dan lainnya masih sesuai dengan berat badan bayi rata-rata, tapi perutnya katanya agak overweight alias diatas rata-rata wkwk. Singkat kata, berdasarkan hasil USG ini si dokter merujuk saya untuk melahirkan secepatnya. Dokter kemudian menyodorkan brosur tentang inleiden kepada saya dan suami, dengan maksud supaya kami paham apa yang akan saya jalani nanti. Sebelum disodori brosur inleiden saya sempet mikir, ini mereka mau mempercepat proses persalinan saya pake cara apa ya, sempet kepikiran si bakalan di induksi (walau mikirnya cuma disuntik aja hihi). Sempet juga mikir mungkin melalui c-section, tapi sampai terakhir kontrol dokter ga pernah mention tindakan lewat operasi.

Inleiden secara harfiah sebenernya berarti “memulai” (atau dalam bahasa inggrisnya “initiate”). Ada beberapa macam induksi yang bisa dijalankan untuk membantu persalinan: Foley Balloon Catheter Induction, Amniotomy/Rupturing the membrane (breaking the water – memecahkan kantung ketuban), dan melalui Intravenous (IV) Medication (by using a synthetic version of Oxytocin Hormone called Pitocin). Untuk proses persalinan saya kebetulan saya merasakan ketiga-tiganya hehe. Sedap ya :p

Pada waktu kontrol tersebut sang dokter menjelaskan kalo untuk proses persalinan saya nantinya akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama, untuk memicu pembukaan (ontsluiting – dilation) – sampai bukaan tiga (3 cm) – akan dipasangkan balon ke dalam serviks (mulut rahim). Lamanya proses ini (mulai dari balon dimasukkan hingga mencapai bukaan 3) bisa memakan waktu 8 – 24 jam dan ada kemungkinan kalo pemasangan balon tidak berhasil memicu pembukaan. Kemudian apabila bukaan sesuai rencana, kantung ketuban saya akan dipecahkan, kemudian akan dilihat apakah saya akan mengalami kontraksi alami atau tidak. Kalo tidak ada tanda-tanda, baru akan dilakukan induksi dengan pitocin/oxytocin secara in-vitro melalui infus. Kalo ga sukses juga? mereka kayanya cukup confident kalo tindakan ini akan berjalan sesuai rencana sampai sang bayi lahir walaupun pada saat kontrol itu saya ga ada tanda-tanda mau lahiran hehe.

Oh iya, pada saat saya denger kalo saya harus jalanin proses ballooning, saya langsung inget cerita temen saya di Indonesia yang punya pengalaman kurang menyenangkan dengan proses ballooning wkwk. Awalnya saya ga ngerti kan ya inleiden itu apaan. Begitu tau saya akan dipasang balon saya agak kawatir juga kalo prosesnya akan sakit. Tapi dokter menjelaskan kalo pemasangan balon ini ga sakit (at least berdasarkan pengalaman dia dengan sebagian besar pasiennya yang juga menjalankan proses ballooning). Si dokter juga nunjukin alat apa yang nanti akan dipergunakan buat masukin si balon. Setelah melihat alatnya dan mendengar penjelasan dokter saya pun agak berkurang kawatirnya hehe.

Dokter kemudian menentukan jadwal persalinan sesegera mungkin. Mereka ga mau ambil resiko sang bayi akan semakin besar dan akan semakin mempersulit saya untuk melahirkan secara normal kayanya. Awalnya si dokter mau menjadwalkan agar pemasangan balon dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus malam (which was the next day after the control – or one day after I found out that I need to give birth (for real) with induction). Saya bargain ke si dokter karna tanggal 18 Agustusnya Oma (ibu mertua) ulang tahun ke-75. Adik suami beserta keluarganya sedang pergi liburan, kan ga lucu kalo kita juga ga ada di tempat untuk celebrate the day with her. Akhirnya kami sepakat untuk memulai proses persalinan pada tanggal 19 Agustus malam.

Rumah sakit tempat saya akan melakukan proses persalinan namanya Jeroen Bosch Ziekenhuis (JBZ). Tanggal 19 Agustus sore kami disuruh telepon dulu ke rumah sakit untuk konfirmasi kalo semua sudah siap. Malamnya kami (saya dan suami) berangkat ke JBZ. Jarak tempuh dari rumah ke rumah sakit sekitar 15 menit. Sesampai di JBZ saya langsung diarahkan ke kamar inap untuk bersalin. Mereka menyebutnya kraamsuite. Saya cukup beruntung karena di rumah sakit ini untuk bagian persalinan ini kamar inapnya masing-masing alias satu kamar hanya dihuni oleh satu orang. Fasilitasnya juga lengkap, selain perlengkapan medis di kamar tersedia coffee machine, microwave, kulkas, bahkan ada juga sofa bed untuk suami atau orang yang akan nemenin (walau tingkat kenyamanannya kata suami so so lah). Proses persalinan juga dilaksanakan di kamar (kecuali kalo diperlukan tindakan operasi), tapi kondisi si pasien sendiri tetap dikontrol dari ruang jaga suster. Sepanjang proses persalinan saya di-handle (dengan sangat baik) oleh bidan (verlooskundige) dan para suster (verpleegkundige). Saya sempet mikir kalo persalinan saya akan dibantu oleh ginekolog. Ternyata di sini (lagi-lagi) kalo persalinan normal yang akan menangani adalah para bidan, sementara ginekolog lebih kepada penanganan kasus yang lebih kompleks. Tapi setiap waktu selalu ada ginekolog yang standby dan visit ke pasien. Mereka tetap ready seandainya diperlukan tindakan khusus (seperti c-section misalnya) atau ada kejadian luar biasa pada pasien dimana bidan tidak punya kapasitas untuk bertindak.

Kraamsuite di JBZ

 

Bidan yang menangani saya adalah bidan in-house yang sedang jaga pada waktu itu, bukan bidan dari Rond (tempat saya kontrol kehamilan sebelum akhirnya dioper ke rumah sakit). Kebetulan pas di hari saya (akan) melahirkan ada dua orang bidan yang standby, salah satunya sedang proses belajar tapi sudah tinggal koas (?) istilahnya kali ya.

Malam hari sekitar pukul 10 malam akhirnya balon dipasangkan ke mulut rahim saya. Ternyata pada saat dicek, sebelum pemasangan balon kondisi saya waktu itu sudah bukaan 1,5 (cm). Trus bagaimanakah rasanya dipasang balon? Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar dan ga semenakutkan yang dibayangkan. Jauh malah. Mungkin juga karna saya cukup rileks pada saat pemasangan, jadinya yang orang bilang sakit saya ga rasakan. Cuma sedikit kurang nyaman aja, tapi menurut saya ini wajar ya secara ada sesuatu benda asing masuk ke tubuh kita. Oh iya, pada saat saya masuk kamar detak jantung bayi dan ritme kontraksi langsung dimonitor. Trus pada saat balon (beserta kateter) sudah masuk, selang kateter ditempelkan di paha saya. Selesai dipasang bidan bilang tinggal tunggu aja. Kalo serviks mencapai bukaan 3 balon akan lepas sendiri. Waktu itu saya udah mulai merasakan kontraksi (walo saya baru tau kalo kontraksi awal-awal mah ga ada apa-apanya dibanding nanti pas waktunya dorong😝). Bidan bilang seandainya diperlukan saya boleh minum paracetamol 1000mg (dan pil tidur kalo ga salah seandainya kita mau dan merasa perlu) untuk mengurangi rasa sakit (kontraksi) supaya saya bisa istirahat dan tidur. Saya mutusin untuk minum paracetamol aja dan kemudian nyoba untuk istirahat (baca: tidur) sebisa mungkin. Sepanjang malam itu saya sebenernya ga bisa tidur nyenyak-nyenyak banget (karna kontraksi). Tapi lumayanlah untuk menabung tenaga buat pas waktunya melahirkan nanti.

p1000052

alat-alat (“cocor bebek” dan “tang”), kateter beserta balon yang dipake untuk membantu proses persalinan

Keesokan harinya (20 Agustus) sekitar jam 8 pagi, bidan jaga beserta suster dateng untuk mengecek si balon dan pembukaan. Alhamdulillah semua berjalan sesuai ekspektasi. Mulut rahim sudah mencapai bukaan 3 cm. Setelah balon beserta kateter dilepas, masuklah kita ke tahap berikutnya: amniotomy alias breaking the water. Sang bidan minta ijin buat mecahin kantung ketuban saya, biar saya ga kaget. Mecahinnya itu pake alat semacam tongkat dengan hook diujungnya. Pas kantung ketuban pecah rasanya hangat-hangat gimanaa gitu. Air ketuban saya ternyata lumayan banyak jadi sedikit lama sampe si air berhenti keluar (at least ga keluar banyak lagi). Setelah kantung ketuban dipecahkan biasanya kontraksi akan semakin kenceng. Makanya dari tim diputuskan untuk dilihat dulu apakah kontraksi saya polanya makin kenceng ato ga. Satu jam kemudian, karna kontraksi dan pembukaan tidak bertambah akhirnya diputuskan untuk dilakukan induksi hormon pitocyn/oxitocyn melalui infus (pemberiannya dicampur dengan cairan infus). Tingkat pemberian hormon pitocyn/oxitocyn dimulai dari paling rendah dan kemudian tiap 30 menit – 1 jam ditambah tingkat kekuatannya. Mungkin juga kalo menurut saya selain untuk mengurangi tingkat penggunaan obat, pemberian secara bertahap ini juga bertujuan supaya si pasien (ibu yang akan melahirkan) tidak kaget/shock dengan kontraksi yang harus dihadapi kali ya. Oh iya, pas air ketuban dipecahkan detak jantung bayi dimonitor tidak lagi lewat perut saya tapi langsung lewat alat yang ditempelkan ke kepalanya.

Bidan sempet nanya ke saya apakah nanti pada waktunya harus melahirkan (pas proses pushing) saya mau bantuan obat penghilang rasa sakit (epidural) atau ga perlu. Saya tanya ke suami, dia nyerahin opsi ini ke saya, tapi dia bilang keuntungan kalo saya melahirkan tanpa penghilang (well, pengurang) rasa sakit adalah saya setidaknya masih pegang kontrol atas badan saya (dan juga rasa sakitnya heee). Saya sendiri juga memang ga pernah kepikiran mau minta suntik epidural, secara buat nyuntik si epi ini juga kan sakit ya ga si 😁. Jadi saya ga pake epidural untuk menghilangkan rasa sakit selama proses persalinan ini.
Kembali ke induksi, dari pertama induksi via infus diberikan intensitas kontraksi yang saya rasakan sebenernya makin kenceng. Tapi jarak antar kontraksinya sendiri dibilang masih belum cukup untuk memicu pembukaan di jalan lahir (dalam jangka waktu 10 menit minimal 4 kali kontraksi). Makanya dari pertama diberikan hormon pukul 9-an sampe setelah makan siang sekitar jam 2 siang pembukaan saya masih stuck di bukaan 5-6. Ehhh tapi disela-sela kontraksi itu saya masih bisa pake kuteks sendiri, becanda sama suami dan ngobrol via whatsapp sama temen dan keluarga di Indonesia donggg hahaha. Agak amazed juga sebenernya :p. Setelah makan siang bidan kembali mengecek perkembangan. Pada saat itu bidan agak ragu apakah perlu ditambah level hormonnya atau tetap menunggu (waktu itu jarak kontraksi saya 3 kali dalam 10 menit). Akhirnya diputuskan untuk ditingkatkan sekali lagi untuk kemudian dilihat lagi perkembangannya.

p1000057

Setelah ditambah yang terakhir ini, o owww saya langsung ga berkutik deh: kontraksinya udah kaya ga ada jedanya sama sekaliii. Perasaan nih ya, baru selesai gelombang kontraksi satu, ga lama kemudian dateng gelombang baru. Rasanya wuih banget deh. Saya cuma bisa istighfar, mengucap nama Allah sambil pegangan sama suami. Tangan suami sampe biru saking kencengnya saya teken (untuk ga pake kuku hihi). Saya pikir ini udah paling pol sakitnya, tapi begitu bilang ke suami dia bilang saya belum sampe ke level paling atas, karna pada saat itu saya masih belum ngerasain dorongan (pushing/persen). Saya sempet bingung mau sakit kaya gimana lagi, sampe pada satu waktu ada semacam dorongan kaya mau BAB (tapi aneh rasanya. Kalo kata temen cowo saya yang orang belanda – rasanya kaya mau BAB segede pepaya – which in a way bener juga hahaha). Saya kasih tau ke suami pas saya ngerasain dorongan ini, dan minta untuk dipanggilkan bidan atau suster supaya saya dicek lagi. Begitu bidan dateng saya sempet-sempetnya dong ke kamar mandi dulu buat pipis. Ga tahan abisnya, dan saya ga mau pipis di tempat haha.

Pada saat dicek pertama bidan (yang koas) sempet agak ragu dengan bukaan saya, apakah udah komplit dan bisa mulai pushing atau ga, tapi setelah dicek lagi akhirnya keduanya yakin dan langsung bilang: yak, bukaan udah komplit, kamu boleh dorong kalo kontraksi dateng. Pada saat percobaan pertama kali saya untuk mendorong, suami bilang dia sempet liat kepala si bayi. Tapi karna saya kurang kuat dorongnya, kepala bayi masuk lagi. Pada percobaan yang ketiga kalo ga salah akhirnya kepala sang bayi keluar. Saya masih harus mendorong sekali lagi untuk bahunya, setelah itu saya denger suara bayi nangis. Bidan kemudian langsung menaruh bayi ke dada saya, sambil nyuruh saya untuk push lagi untuk mengeluarkan plasenta (beserta kantungnya). Setelah plasenta keluar baru plong rasanya, dan perut terasa lumayan kosong hehe. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Saya tidak kehilangan darah secara berlebihan dan juga tidak mengalami robek dalam – hanya sedikit rupture di bagian labia kanan dan bawah. Bidan menjahit sedikit supaya bentuknya kembali seperti semula, dan benang jahitannya akan lepas dengan sendirinya.

All in all, saya bersyukur diberikan pengalaman indah oleh Allah dalam menjalani proses dari hamil sampai melahirkan ini. Buat saya, mengalami yang namanya diabetes semasa hamil bener-bener menjadi a kind of blessing in disguise. Selalu ada hikmah dibalik satu kejadian. Kalo saya ga tau saya ada GDM, berat badan saya pada saat hamil mungkin akan bertambah lebih banyak (dan pastinya saya akan lebih susah untuk mengembalikannya ke berat badan semula). Selain itu, saya juga ga akan menjalani proses persalinan dengan persiapan seperti yang saya alami kemarin. Walaupun orang bilang melahirkan/kontraksi tanpa induksi jauh lebih ringan sakitnya daripada melahirkan/kontraksi dengan induksi, there was no regret at all dan sekali lagi bersyukur dengan apa yang sudah saya jalani. Alhamdulillah bayi saya lahir dengan selamat, sehat dan normal tidak kurang suatu apapun.

Sesuai dengan aturan di sini, setelah kondisi saya dan bayi dicek oleh ginekolog dan bidan dan dianggap oke alias ga perlu tindakan khusus, saya bisa langsung pulang malam itu juga (setelah saya udah pipis tapi). Sedih amat ya wakakka, berasa diusir gitu. But a rule is a rule, kami juga harus ikut aturan ini. Suhu badan saya sempet sedikit agak tinggi dari suhu normal, makanya kami diminta untuk tinggal beberapa jam lebih lama untuk kemudian dicek lagi suhu badan saya. Setelah dianggap normal, kamipun diperbolehkan untuk pulang.

Maaf kalo ceritanya agak panjang ya. Untuk sementara sampai di sini dulu, cerita pra dan pasca melahirkan nanti akan saya share di postingan lainnya, dan saya akhiri postingan kali ini dengan foto pertama saya bersama si bujang 😉

 The first moment with my boy after he came to this world :’)