Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

many-books-hd-wallpaper

β€œDo not train a child to learn by force or harshness; but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.”
~ Plato.

disclaimer: cerita di sini sebatas pengalaman pribadi dan pengetahuan saya yang masih seadanya, jadi mohon dimaafkan kalo kurang komprehensif ya. Akan lebih senang apabila ada temen-temen yang bisa ikut sharing info dan pengalaman seputar hal yang sama di sini 😊.

Walaupun sudah agak terlupakan karna muncul isu-isu baru, beberapa waktu yang lalu di Indonesia sempat heboh dengan isu usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang full day school bagi anak-anak. Banyak yang langsung menentang usulan ini (gak tau apakah mereka tau betul atau belum mengenai konsep yang diusulkan secara detail oleh bapak Menteri), walau ada sebagian kecil yang mendukung usulan ini (secara sembunyi-sembunyi sii – takut dikeroyok sama massa yang tidak pro kayanya wkwk) . Nah, berhubung anak-anak saya saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (plus berdasarkan pengalaman suami semasa kecil), saya mau share info seputar pendidikan dasar anak-anak di Belanda. Mungkin kalo di-browse di internet tulisan tentang ini udah lumayan banyak, tapi tetep saya mau nulis gapapa ya hahaha (maksa😝)

Di Belanda anak-anak mulai diwajibkan untuk sekolah pada saat mereka memasuki usia 4-5 tahun. Untuk anak-anak yang usianya lebih muda (2-3 tahun), walaupun belum diwajibkan tapi tetap diarahkan (dan dipantau) oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat kecamatan) dan Biro Konsultasi Kesehatan atau GGD untuk diikutsertakan ke peuterschool (semacam playgroup gitu) atau ke tempat penitipan anak (namanya kinderopvangen atau children daycare) dengan jumlah jam tertentu (kecuali ada kendala atau kondisi khusus yang tidak memungkinkan). Pemerintah pusat memberikan subsidi untuk keluarga yang menitipkan anak-anaknya di kinderopvangen atau peuterspeelzal, dengan syarat kedua orang tuanya bekerja. Subsidi ini berupa pengurangan biaya iuran perjam si anak. Sementara kalo salah satunya aja yang bekerja, biasanya dari pihak Gemeente (tidak semua Gemeente memberikan subsidi, hal ini tergantung pengaturan masing-masing) yang akan memberikan bantuan biaya yang besarannya ditentukan berdasarkan setoran pajak penghasilan orang tua per tahun.

Tingkat pertama pendidikan wajib (sekolah) di Belanda disebut Basisschool (Sekolah Dasar). Anak-anak duduk di tingkat dasar ini selama 8 tahun (tiap tingkatannya disebut “groep”). Untuk tahun pertama dan kedua (groep 1 dan 2) biasanya digabung menjadi satu. Mungkin kalo di Indonesia groep 1 dan 2 ini bisa disamakan dengan TK A dan B. Kalo menurut info dari suami, untuk anak-anak yang masih dibawah 6 tahun (4-5 tahun) jam wajib belajarnya masih sedikit jumlahnya. Mereka pada intinya lebih diarahkan untuk bisa beradaptasi pada perubahan dari yang sebelumnya bentuk belajarnya lebih ke bermain menjadi bener-bener belajar membaca dan menulis secara perlahan-lahan. Anak-anak masih cukup diberikan kelonggaran untuk tidak ikut sekolah terus-menerus selama jumlah jam belajar tersebut terpenuhi. Begitu anak memasuki usia 6 tahun, mereka sudah ga bisa lagi seenaknya libur alias harus ikut aturan kalender pendidikan di Belanda.

Setelah menyelesaikan Basisschool, mereka akan lanjut ke sekolah lanjutan yang biasanya disebut Middelbare school. Lamanya waktu belajar di tingkat middelbare school tergantung dengan pilihan dan kemampuan masing-masing anak. Mereka punya beberapa pilihan sekolah lanjutan: VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), VMBO (Voorbereidend Middelbaar Beroepsonderwijs), atau Praktijkonderwijs. Mereka biasanya diarahkan sesuai kemampuan (akademis) dan minat masing-masing anak. Di lain waktu saya akan sharing tentang pendidikan lanjutan ini dalam postingan selanjutnya.

Satu hal yang saya sadari di sini adalah kualitas dari tiap sekolah (termasuk para gurunya) di tiap kota – besar maupun kecil – bisa dibilang ga ada bedanya. Hal ini bisa jadi karna pemerintah Belanda cukup ketat dalam mengontrol kualitas para guru dan mereka juga rutin diberikan waktu khusus untuk mendalami kurikulum atau program mengajarnya (mereka nyebutnya “studiedag” yang berarti pada hari itu anak-anak libur dan guru-gurunya belajar lagi deh hehe). Kalo di Indonesia kita sering denger para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit, selama saya tinggal di sini (dan kuliah dulu) hampir ga pernah saya dengar yang kaya gitu. Kayanya si khususnya untuk basisschool ada semacam aturan (atau kebiasaan) kalo para orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang paling dekat lokasinya dengan rumah mereka. Hal ini wajar banget kan ya karna tentu dengan anak disekolahkan di lokasi yang dekat maka waktu mereka ga akan habis di jalan. Walaupun ada beberapa anak yang diantar ke sekolah dengan mobil, hampir sebagian besar anak- anak berangkat dengan sepeda atau berjalan kaki. Karna kebetulan lokasi rumah kami ga lebih dari 500 meter aja, anak-anak lebih senang berjalan kaki ke sekolah.
Waktu belajar basisschool untuk beberapa tahun terakhir adalah pukul 08.30 – 14.30, dengan waktu istirahat sebanyak dua kali (satu kali kleine/fruitpauze/small break selama kurang lebih 15 menit dan satu kali lunchpauze/lunch break selama kurang lebih 30 menit). Anak-anak wajib membawa bekal sendiri dari rumah (walau kadang pada event atau acara khusus sekolah menyediakan). Untungnya bekal makanan dan minuman di sini cukup simpel, jadi kami juga ga ribet-ribet amat tiap pagi harus masak atau bikin sesuatu yang spesial buat bekal mereka hehe. Bahkan anak- anak sejak 2 tahun lalu udah mulai nyiapin bekal makan siang mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam tas sekolah masing-masing (walaupun awalnya untuk minum dan buah mama atau papa masih harus bantu 😊).

Walaupun waktu mereka di sekolah lumayan panjang durasinya, hampir tidak pernah saya dengar kalo mereka lelah karena belajar di sekolah. Alhamdulillah sejauh ini kami lihat mereka cukup antusias dan senang mengikuti kegiatan di sekolah. Keduanya sempet merasa agak bosan sewaktu mereka duduk di grup 4 karena menurut mereka pelajaran yang diberikan gurunya agak terlalu mudah. Kami anggap wajar karena memang grup 4 menurut kami adalah semacam grup transisi. Untuk muatan ajaran dari segi kurikulum masih tidak jauh berbeda dengan grup 3, walau tentu aja pasti tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi. Bisa jadi karena kurikulum yang diberikan cukup ringan dan tidak membuat anak-anak merasa terbebani kali ya.

Sejak di Groep 6, anak-anak juga mulai mendapatkan pekerjaan rumah alias PR satu kali dalam seminggu (sebagai info tambahan, ga semua sekolah memberikan PR untuk para muridnya, hal ini tergantung pada kebijakan di tiap-tiap sekolah). Setiap siswa diminta untuk menyiapkan map/folder khusus untuk PR dan wajib dibawa setiap rabu. Bentuk PR-nya sendiri bervariasi. Kadang hitung-hitungan, kadang hafalan, kadang juga hanya disuruh membaca.

Dalam setahun, anak-anak memperoleh cukup banyak waktu libur. Hampir di tiap musim mereka punya waktu libur setidaknya satu minggu. Biasanya, di musim gugur anak-anak libur seminggu. Kemudian di musim dingin/akhir tahun mereka libur selama dua minggu (Kerstvakantie). Selama waktu carnaval (khusus di Belanda bagian selatan – sekitar Noord Brabant dan Limburg – kalo ga salah ya) mereka juga libur selama seminggu. Setelah itu di bulan April-Mei mereka akan libur lagi (Meivakantie) selama dua minggu. Dan terakhir di musim panas mereka mendapat jatah libur musim panas selama kurang lebih enam minggu. Libur-libur ini di luar libur studiedag dan libur resmi nasional lainnya seperti pinksterdag (pantekosta) atau hemelvaart (kenaikan Isa Almasih) loh ya. Lumayan jauh kalo dibandingin sama jumlah libur anak-anak sekolah di Indonesia – ya gak si?

Kurikulum dan program yang ditentukan oleh pemerintah di sini menurut saya cukup bagus, menarik dan variatif. Di setiap bulan atau di waktu-waktu tertentu biasanya mereka punya tema khusus yang dibahas atau dikerjakan oleh anak-anak. Selain itu pada perayaan-perayaan tertentu seperti Koningsdag (King’s day), Carnaval, Paskah, Sinterklaas atau Christmas biasanya mereka juga akan ikut serta memeriahkannya di sekolah. Biasanya hari-hari khusus tersebut juga dijadikan sebagai subyek atau tema belajar mereka.

Orang tua juga banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah. Kadang para orang tua diperlukan untuk masalah transportasi (kalo pas lagi ada jadwal ekskursi ke luar sekolah), atau membantu mengontrol rambut anak-anak dari kutu rambut (iya, di sini ada yang namanya luizenmoeder atau nit mother 😁), kadang mereka juga dateng ke sekolah untuk membacakan cerita (voorlezen).

Dari sekian banyak yang diajarkan di sekolah, berikut adalah beberapa program yang ditawarkan di sekolah anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mungkin bisa dijadikan masukan dalam menyusun kurikulum sekolah dasar di Indonesia (kali aja loooh hehehe).

Kanjer.

Kalo nyari pengertian bener-bener, kata “kanjer” (dibaca “kanyer”) ini susah dicari padanan katanya. Mungkin kanjer ini bisa diartikan sebagai (sesuatu yang) besar atau luar biasa, atau top, intinya sesuatu yang positif lah. Kalo dilekatkan ke seseorang, pengertiannya bisa jadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang baik budi pekertinya (khususnya dalam konteks hubungan sosial). Nah sekolahnya anak-anak kebetulan mengedepankan ini dalam pola pembelajarannya. Jadi biasanya (hampir) setiap minggu mereka ada waktu khusus untuk kegiatan dalam rangka pembentukan pribadi yang “kanjer”. Metodenya yang dipergunakan juga ga begitu rumit. Para murid diajarkan untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana menghargai orang lain – termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan yang lain, membangun kepercayaan atas diri sendiri juga terhadap orang lain, serta tindakan apa saja yang “kanjer” dan yang bukan. Kemudian guru beserta orang tua murid yang secara sukarela diminta untuk membantu akan mengilustrasikan tema yang diangkat ini ke dalam satu aktivitas yang tentu aja melibatkan para murid. Mereka kemudian akan memberikan nilai sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Selain itu mereka juga mendapat nilai dari teman-temannya dan juga guru dan wali murid yang membantu. Jadi kegiatan kanjer ini lebih seperti evaluasi mereka terhadap diri sendiri dan juga berperilaku terhadap orang lain terutama lingkungan sekitarnya.

Cultuurproject (proyek kebudayaan).

Melalui program ini, selama beberapa minggu para guru akan membahas tentang satu tema khusus yang terkait dengan kebudayaan kepada murid-muridnya. Tingkat kesulitan dan sejauh mana konten yang diberikan biasanya disesuaikan dengan tingkatannya. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu sekolah mereka mengangkat tema mengenai Mesir (Egypte). Jadi selama beberapa minggu para guru memberikan semacam pemaparan mengenai kebudayaan Mesir kepada muridnya, mengajarkan mereka menulis nama sendiri dalam huruf hieroglyph, bagaimana mummy dibuat, kemudian membuat berbagai macam prakarya bertemakan Mesir. Sementara di tahun lainnya mereka belajar tentang pelukis terkenal dari Belanda – Vincent van Gogh. Mereka belajar tentang riwayat hidup sang pelukis dan juga membuat prakarya yang terinspirasi dari karya-karyanya van Gogh. Tahun ajaran yang terakhir kemarin (2017 – draft ini udah bersemedi lama di WP saya ibu-ibu🀣) anak-anak belajar tentang tema “fairy tales” (sprookjes). Setelah selama beberapa minggu anak-anak belajar dan membuat prakarya, di pekan terakhir project sekolah akan mengadakan yang namanya “cultuuravond” atau malam kebudayaan di mana hasil prakarya anak-anak yang sudah dibuat dipamerkan di kelasnya masing-masing dan para orang tua (atau kakek, nenek dan para kerabat lain) diperbolehkan untuk berkunjung dan ikut melihat karya-karya mereka.

piramida dan mummy kucing hasil karya para murid grup 4

potret diri dalam bentuk lukisan dan nama murid dalam huruf hieroglyph.

De Week van De Lentekriebels.
Program lain yang menurut saya menarik adalah “De Week van De Lentekriebels.” Secara harfiah, lentekriebels berarti “spring fever” atau demam musim semi. Tapi de week van de lentekriebels di sini sedikit berbeda pengertiannya. Mungkin lebih kepada arti kiasan dari istilah ini sendiri ya. De week van de lentekriebels merupakan satu proyek mingguan yang diselenggarakan secara nasional (di seluruh basisschool/sekolah dasar di Belanda) dimana pada minggu ini para murid (anak-anak) mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk hubungan/relasi dan seksual (jenis kelamin). Anak-anak ini diberikan pengertian mengenai perkembangan seksual mereka, perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana seorang bayi lahir, penghargaan/respek terhadap pilihan dan perbedaan tiap individu, dan belajar untuk hidup bersama dengan suasana yang aman dan nyaman. Tiap grup diberikan penjelasan dengan bobot yang berbeda-beda, dan menggunakan bahasa dan contoh yang cukup menarik dan mudah untuk dimengerti.

Schoolfruit.

Di lain waktu (seperti 2 tahun ajaran sebelumnya), setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis selama kurang lebih 20 minggu sekolah menyediakan buah-buahan (dan kadang sayuran seperti paprika atau wortel) untuk diberikan kepada anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan program EU-Schoolfruit, yang bertujuan untuk menstimulasi anak-anak untuk lebih sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur. Intinya si supaya anak-anak mengkonsumsi sesuatu yang sehat. Selain itu juga biasanya akan diadakan semacam kompetisi di mana anak-anak harus membuat sesuatu sekreatif mungkin dari buah-buahan.

Sportsdag.

Setiap tahunnya, sekolah juga mengadakan yang namanya sportsdag. Di satu hari ini mereka (seluruh grup – mulai dari grup 1 sampai groep 8) ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga – sebagian besar cabang-cabang atletik – yang sudah diatur oleh para guru (dibantu orang tua murid juga). Dengan adanya kegiatan ini otomatis anak-anak harus berada di luar ruangan, berbaur dengan anak-anak dari groep dan kelas lainnya, dan juga aktif bergerak sampai waktu pulang tiba (biasanya dari jam 8.30 sampai dengan waktu pulang sekolah – yaitu sekitar jam 14.30).

Techniek

Yang saya suka juga dari kurikulum yang diajarkan di sekolah dasar di sini adalah banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan teknik. Teknik di sini mungkin bisa lebih diartikan ke praktik ya. Misalnya, kegiatan membuat mainan (binatang) dari kayu, melukis dengan menggunakan berbagai macam kanvas dan pewarna, membuat perahu dari karton susu bekas, membuat “puppet show” beserta panggungnya, atau membuat binatang dari buku bekas. Intinya bukan cuma belajar membaca dan berhitung, mereka juga diajarkan dan dilibatkan untuk membuat sesuatu yang menjadi hasil karya mereka sendiri.

Outdoor Learning dan Kunjungan ke Perpustakaan dan tempat-tempat khusus.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ajaran, selain anak-anak hampir setiap tahunnya memiliki jadwal belajar-mengajar di luar ruangan, atau juga dalam bentuk kunjungan kegiatan ke tempat-tempat tertentu seperti kunjungan ke Museum Sepatu dan Kulit yang kebetulan lokasinya ga begitu jauh dari lokasi sekolah, atau kunjungan ke kebun binatang khusus reptil, juga jalan-jalan ke hutan dan de Loonse en Drunense Duinen untuk belajar tentang alam.

Muziekproject.

Pada project ini anak-anak akan diperkenalkan kepada berbagai macam instrumen musik, seperti misalnya alat musik tiup, petik dan perkusi. Dua tahun lalu sewaktu anak gadis saya masih duduk di Groep 6 diperkenalkan dengan alat musik tiup, seperti terompet, saxophone, tuba dan klarinet. Mereka diperbolehkan untuk mencoba alat musik tersebut secara bergantian. Di waktu lain mereka diperkenalkan dengan sambuca, tamborine dan gendang.

Di tahun terakhir basisschool (atau group 8), anak-anak dari group 8 wajib ikut serta dalam drama musikal yang khusus dipersembahkan untuk para orang tua murid sebagai ungkapan terima kasih. Selain itu mereka juga akan melaksanakan kemping selama 3-5 hari. Tahun ini anak saya yang pertama akan sibuk dengan dua kegiatan tersebut (selain tentu dengan pemilihan sekolah selanjutnya dan juga ujian-ujian akhir tahun ajaran).

Ngomong-ngomong soal ujian, walau ada aja kontroversi, di sekolah anak saya juga tiap semesternya dilaksanakan yang namanya ujian. Ini sebenernya lebih kepada tes kemampuan si anak, sampai sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang sudah diajarkan oleh guru mereka. Ujiannya dikenal dengan nama CITO toets (kepanjangan dari Centraal Instituut voor Toets Ontwikkeling). Bentuk ujiannya sendiri cukup simpel, subyek yang diuji setau saya adalah kemampuan berhitung (rekenen), kemampuan membaca dan menganalisa (spelling en technisch lezen, dan begrijpen lezen; ).

Untuk group 8 sendiri juga ada yang namanya ujian akhir atau eindexamen. Pihak sekolah diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk memilih dari beberapa metode ujian akhir untuk diterapkan bagi para muridnya. Jadi selain dari hasil rapport mereka tiap tahun, hasil ujian akhir juga akan menjadi masukan bagi para guru/wali kelas untuk menentukan ke program/jurusan mana si murid bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat middelbare.

Catatan:

Tulisan ini ditulis pertama kali tahun 2015 πŸ˜‚. Berhubung belum yakin dan informasinya terasa kurang, ngendaplah dia sebagai draft selama beberapa tahun. Setelah disesuaikan sedikit sana sini, akhirnya berani juga posting hehe. Mohon maaf apabila informasinya terasa kurang atau ga update ya. Feel free to ask or sharing some thoughts on the comment section!☺

Advertisements

Kalo Orang Belanda Ulang Tahun*. .

  • Hampir bisa dipastikan bukan cuma yang ulang tahun aja yang dapet ucapan selamat, tapi juga orang-orang yang deket sama dia, termasuk mereka yang mungkin ga saling kenal tapi kebetulan barengan. Jadi misalnya nih, saya ulang tahun, trus mertua saya ngucapin selamat (ulang tahun) ke saya, plus ngucapin selamat ke suami juga anak-anak. Kalo yang kaya gini si ga gitu aneh ya. Cuma jadi bikin kagok kalo pas kita dateng diundang ke tempat orang lain. Kagok karna kita kudu ngucapin selamat ke semua orang yang dateng ke pesta ulang tahun itu wkwk.
  • Kado yang didapet akan langsung dibuka di depan orang yang ngasih. Kalo buat kita ini kadang kan berasa ga enak ya, takutnya yang ngasih kesinggung kalo kita ga suka kadonya (atau ga enak hati takut ketauan harganya hahaha). Kalo di sini biasa kaya gitu sis. Maksudnya mereka ga gitu masalah sama yang “shallow“kaya gini hehe. Mereka bahkan kadang kasih kita bon kado-nya supaya kalo memang kurang berkenan atau kitanya dapet dobel (atau udah punya) bisa kita tuker ke tokonya dengan barang lain.
  • O ya, selain buka kado di depan mata, yang berulang tahun juga biasanya bikin semacam wish list gitu kira-kira apa yang mereka mau sebagai hadiah. Ini handy sih menurut saya. Selain kita jadi tau kalo kado kita pasti disukai yang ulang tahun, kita juga bisa kira-kira yang mana yang pas dengan kantong kita (atau kalo perlu patungan dengan yang lain).
  • Jangan banyak berharap pulang ke rumah dengan perut kenyang. Kecuali orang Indonesia/Asia, ulang tahun di sini kalo bukan umur-umur tertentu biasanya ga dirayakan secara besar-besaran. Besar-besaran di sini dalam arti ngasih makan berat trus ngundang sekian puluh orang gitu lah. Kalo kamu ulang tahun trus mau ngundang-ngundang, biasanya cuma buat orang-orang terdekat aja. Seandainya mereka ngadain pesta ulang tahun, hampir bisa dipastikan kalo makanan yang disediain bukan makanan berat alias makanan ringan misalnya kaya chips, temen ngemil pas minum/kacang-kacangan (mereka nyebutnya “borrelnootjes), keju yang dipotong kubus, dan crackers beserta spread-nya. Paling ultimate kalo tamunya dikasih potongan kue ultahnya juga. Buat minum biasanya mereka nyediain kopi, teh, jus-jus atau minuman kemasan dan bersoda gitu, dan tentu saja beer.
  • Jangan heran kalo yang ulang tahun cowo suka dipanggil “jarige job” atau kalo cewe dipanggil “jarige jet”; dan pas ulang tahun ke-50 tiba-tiba yang ulang tahun namanya jadi “Sarah” atau “Abraham” πŸ˜‚. Kadang mereka naro boneka trus ditempelin muka yang ulang tahun dan dihias kaya opa-opa atau oma-oma. Banyak juga yang pasang dekor lebih gila lagi, nempelin poster-poster lucu yang intinya ngerjain yang ulang tahun di sepanjang depan rumahnya.
  • Khusus buat anak-anak, biasanya selain tentu dengan keluarga inti, mereka akan merayakan ulang tahunnya juga di sekolah. Jangan ngebayangin yang mewah-mewah ya. Ngerayain di sini sebenernya cuma dalam artian mereka boleh kasih traktiran yang bisa berupa “snoepjes” alias sesuatu yang manis kaya cupcake dan permen atau yang bentuknya kecil seperti chips atau pop corn. Kalo sekarang suka ada juga yang bikin traktiran buah atau sayuran biar lebih sehat 😁

Saya nemu chart ini di twitter, kurang lebih begitulah alurnya kalo kita dateng ke pesta ulang tahun orang BelandaπŸ˜†

Image via twitter/rspruijt

*berdasarkan pengalaman pribadi aja yaa, belum tentu orang Belanda merayakan ulang tahunnya kaya gini hehe.

Schoen zetten, Sinterklaas, dan Pakjesavond

Hampir tiga tahun lalu saya pernah nulis sedikit cerita tentang Sinterklaas di sini. Kali ini saya mau share tentang apa aja yang anak-anak buat selama periode Sinterklaas kali ini. Jadi walaupun kami gak merayakan beneran, tapi di rumah kami juga tetep heboh dan semangat kalo Desember mulai mendekat. Buat saya (dan suami serta anak-anak), Sinterklaas beserta pernak-perniknya lebih kepada tradisi yang ada di Belanda, bukan dari segi religi.

Mengulang sedikit, kalo dalam ceritanya anak-anak, Sinterklaas beserta para asistennya (Piet Hitam) datang dari Spanyol ke Belanda menggunakan kapal uap. Mereka dateng ke sini untuk bagi-bagi kado buat anak-anak yang selama setahun udah bersikap baik alias gak nakal. Kalo mereka nakal ga akan dapet kado dari Sinterklaas. Sinterklaas beserta rombongannya tiba di Belanda di sekitar awal bulan Nopember. Biasanya akan ada intocht atau pawai Sinterklaas di tiap kota yang menandai kedatangan si Sinterklaas ini. Pas pawai kemarin kami kecepetan ke centrum-nya. Ujung-ujungnya karna kelamaan nunggu trus si kecil udah masuk waktu tidur akhirnya kita pulang ke rumah persis pas pawai baru mulai 😁

Nunggu pawai sambil foto-foto πŸ˜‚

Begitu Sinterklaas ada di Belanda, dimulai deh tradisi schoen zetten. Anak-anak akan bikin semacam prakarya yang kemudian ditaro di sepatu mereka yang diletakkan di depan pintu (atau di depan perapian kalo di rumah ada) dengan harapan besoknya si prakarya akan berganti (ditukar dengal) hadiah (kecil). Kadang mereka juga memasukkan wortel, gula atau jerami ke dalam sepatu untuk kudanya Sinterklaas – Amerigo.

Di rumah kami kegiatan schoen zetten ini udah berlangsung sejak dua minggu yang lalu. Anak saya yang paling besar awalnya udah males untuk bikin-bikin sesuatu buat schoen zetten, sementara adik-adiknya masih semangat bikin. Rencana mereka semula adalah sehari bikin sehari ngga, tapi karna seneng dapet kado walo cuma yang kecil-kecil aja akhirnya berubah jadi setiap hari. Tinggal mama papanya yang pusing ngumpulin pernik-pernik kado buat ditaro ke dalem sepatu buat dituker sama prakarya mereka hahaha.

Yang paling seru sebenernya adalah anak saya yang paling kecil. Kalo tahun sebelumnya kakaknya yang cewek tiap kali ikut bikin gambar buat ditaro di sepatu si kecil (dan juga jadi bisa buka kado dua kali – punyanya dia dan punya adiknya πŸ˜‚), kali ini untuk pertama kalinya si kecil bikin prakarya sendiri (yang hampir sebagian besar coret-coretan doang wkwkwk), ikut masukin si prakarya ke sepatu, ikut ambil si kado dari sepatu dan kemudian buka kadonya sendiri.

Di sekolah mereka juga mengangkat tema Sinterklaas untuk aktivitas di sekolah. Misalnya group peuterspeelzal si kecil. Minggu kemarin mereka membuat prakarya wortel dan sepatu, sementara minggu ini mereka sibuk membuat zak Sinterklaas beserta gambar kado yang dipengen (semacam wishlist lah ya).

Kalo kakak-kakaknya si kecil kemarin diminta untuk membuat yang namanya “surprise”. Intinya si anak diminta untuk membuat semacam display/packaging yang extravagant (ukuran jumbo) berdasarkan petunjuk (hint) yang dikasih oleh nantinya yang akan nerima. Mereka diacak dan ga tau siapa bikin buat siapa. Kadonya sendiri si sebenernya cuma kado kecil (tahun ini harga maksimal untuk kado aslinya adalah €3). Jadi seru karna mereka ga tau apa yang akan mereka dapat hehe.

Het worteltje in het schoentje voor Amerigo (wortel di dalam sepatu untuk Amerigo) – prakarya fabian di sekolah

De zak van Sinterklaas – karungnya Sinterklaas (gambar kadonya dipilih sendiri oleh si kecil πŸ˜‚)

Kalo ini adalah hasil prakarya anqak-anak untuk schoen zetten

Schoen zetten ini akan berakhir pada tanggal 4 Desember malem, karna tanggal 5 Desember ceritanya adalah malam terakhirnya Sinterklaas di Belanda dan pada malam itu Sinterklaas akan bagi-bagi kado untuk anak-anak yang selama setahun udah berperilaku baik. Malam ini disebut juga dengan Pakjesavond ato secara harfiah berarti “malam kado”. Biasanya sebelum pakjesavond anak-anak akan bikin semacam wishlist kira-kira apa aja yang mereka pengen pas pakjesavond nanti. Makanya kado-kado yang mereka dapet biasanya adalah mainan atau barang yang udah lama diidam-idamkan oleh si anak. Trus apakah anak-anak percaya kalo kadonya dapet dari Sinterklaas? Ngga lah ya hehehe. Mereka paham kalo yang beliin kado adalah mama papa sama omanya. Cuma kadang mereka belaga gak tau aja 😁 Kalo si kecil manalah dia ngerti, satu yang dia ngerti adalah dapet kado! Mau isinya satu buah krayon atau mobil-mobilan punyanya dia juga udah hepi hehe.

Btw kalo di rumah kami ga matok harus tanggal 5 Desember malem untuk ngadain pakjesavond. Biasanya kami sesuaikan aja dengan waktunya Oma dan Papa mereka (kalo saya kan hampir dipastikan bakalan ada di rumah 😁). Pernah juga pakjesavond tapi ngelaksanainnya pagi atau siang hehe, pernah juga malam sebelumnya, dan juga pernah karna deket dengan wiken kita ngadainnya pas wiken. Yang utama kalo buat anak-anak (terutama yang paling besar) adalah bisa secepatnya main dengan kadonya. Jadi buat mereka lebih cepat lebih baik hahaha (walo mereka juga ga mau kalo ga deket tanggal pakjesavond). Untuk tahun ini, karna si Oma udah dipantek sama keluarga adiknya suami saya pas tanggal 5 Nopember malam dan anak-anak prefer kalo pas bapaknya juga ada di rumah (tapi mereka juga mau main cepet-cepet sama kadonya πŸ˜…), jadi kami atur kalo anak-anak boleh buka satu kado pas rabu tanggal 5 besok, dan sisanya tanggal 6 malam supaya bisa kumpul bareng-bareng.

Jadi begitulah kira-kira cerita saya kali ini, semoga menghibur ya (apasih πŸ˜‹). Mohon maap kalo tulisannya ga sesuai aturan, saya lagi agak males ngedit (udah syukuur tulisan ini bisa terbit hahaha, secara draft saya udah numpuk akibat ribet sama ngeditnya plus mentok mulu di tengah jalan!)

Bunga-bunga di Rumah.

Last batch of tulips in our backyard πŸ’œ

Semenjak kebun belakang rumah kami sudah selesai dirapikan, saya jadi seneng eksperimen sama tanaman. Well lebih ke bunga-bunga sih ya, karna pada dasarnya saya memang suka bunga. Ada juga kepengen nanam sayur-sayuran sebenernya, cuma masih belum begitu pede untuk eksekusinya hehe. Bunga yang saya pilih hampir sebagian besar yang minim perawatan hahaha. Maklum, saya agak pemalas orangnya (ngaku hihi).

Saya baru tau kalo posisi rumah juga menentukan bunga mana yang sebaiknya ditanam loh haha. Maklum bukan tukang kebun (temen aja sampe amazed denger saya bercocok tanam πŸ˜‚) jadinya bener-bener awam sama beginian. Posisi depan rumah saya menghadap ke selatan, yang otomatis hampir setiap saat ga kena sinar matahari langsung, sementara kebun belakang menghadap utara. Dulu sebelum halaman belakang direnovasi, di sederetan pinggir pagar yang berbatasan dengan tetangga ada kurang lebih 6 pohon sejenis pohon pinus (conifer) yang ukurannya udah terlalu besar dan makan tempat. Selain itu ada beberapa bunga mawar liar dan bunga hydrangea yang udah cukup besar volumenya. Di dekat gudang juga ada pohon blackberry liar (yang buahnya asyem bangett) dan beberapa bunga crocus liar.

Beberapa jenis bunga yang sudah tereksekusi (alias ditanam) dan alhamdulillah sukses sampe berbunga dan kemudian layu antara lain:

Tulip.

Bunga ini periode tanamnya kalo di sini adalah sekitar pertengahan bulan Oktober sampai awal bulan November (periode akhir musim gugur), dan mulai keluar tunas di sekitar bulan april dan berbunga biasanya di akhir Maret dan April (awal musim semi). Bentuk bibitnya berupa bulbs (dalam bahasa Belanda berarti bollen atau umbi). Kalo pas lagi di periode Oktober-November harganya bisa murah banget (kecuali kalo beli di bandara dan yang jenis khusus ya). Cara nanemnya termasuk gampang, cukup ditanam di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 5-8 cm, dan supaya nanti pas bunganya mekar terlihat cantik sebaiknya si tulip ini ditanam secara berkelompok atau bergerombol. Setelah si umbi ditanam kita ga perlu ngapa-ngapain lagi deh, tinggal tunggu waktunya mereka mulai bersemi dan berbunga.

Tulip jenis ini tingginya lumayan dan berbunga sedikit lebih telat dari jenis yang lain.

First batch of tulips in our backyard.

When all tulips on the row are blossoming ❀

Hydrangea atau Hortensia.

Picture was taken end of spring last year.

Kalo bunga ini kebetulan saya nanemnya di pot dan diletakkan di depan rumah. Kebetulan bunga hortensia ini bisa tumbuh dan berkembang di tempat teduh dan ga begitu perlu sinar matahari langsung. Penting juga si bunga dapat cukup air tapi juga gak terlalu banyak (yang mengalir alias akarnya tidak terendam). Pot yang bisa dipergunakan adalah yang ada lubang di bagian bawahnya, supaya air dari pot bisa mengalir.

Bunga hortensia yang dulu saya beli adalah yang sudah berbunga penuh, dengan beberapa yang masih belum berwarna (alias masih hijau). Belinya bisa di supermarket, bisa juga di toko khusus tanaman. Harganya bervariasi tergantung banyaknya bunga dan jenisnya juga. Si bunga mulai berkembang di sekitar April (musim semi) dan bertahan lumayan lama, kalo beruntung bisa sampe sekitar September (awal musim gugur). Setelah itu biasanya si bunga mulai berubah dan menjadi kering. Kalo si bunga sudah jelek sebaiknya dipotong. Sisanya cukup dibiarkan aja di pot (tapi jangan sampe ada air berlebih di pot). Biasanya di akhir musim dingin si bunga yang sebelumnya keliatan menyedihkan akan mulai bertunas lagi.

They just start to blossom again this year 😊

Picture was also taken end of spring last year.

Cannot wait to see them in full blossom again!

Daffodils atau Narcissen.

Saya sebenernya tau nama si bunga ini daffodils gara-gara Inly hahaha. Di sini kan disebutnya Narcissen makanya saya ga ngeh kalo mereka adalah satu jenis bunga yang sama. Daffodils ini juga banyak jenisnya, yang paling banyak dan sering ditemui adalah yang berwarna kuning. Kebetulan si daffodils kuning ini saya ga punya di kebun sendiri tapi di kebunnya mama mertua. Saya sendiri dapet daffodils warna putih dari charity event-nya anak-anak untuk sekolah. Lumayan banget lah buat nambah koleksi bunga di kebun kami hehe. Kami dapet si bunga di sekitar bulan April dan sudah dalam bentuk umbi bertunas alias siap pindah ke tanah atau pot besar. Anak-anak pun ikut bantu nanem dan merawat si calon bunga hehe.

Lavender.

Bunga ini memang salah satu jenis yang pengen saya tanem kalo kebun udah beres. Selain wangi, bunga ini juga tahan dingin dan ga gitu sulit ngerawatnya. Saya beli si lavender sudah berbunga di pot-pot kecil. Setelah keliatan merana dan kering selama musim dingin, sekarang si lavender udah berbunga lagi dan tambah banyak.

Rombongan lavender di ujung terdepan halaman kami 😁

Look at the bee!

Lily of the Valley.

Saya nanam bunga ini adalah hasil provokasi dari temen saya hahaha. Jadi sewaktu nikah dulu princess Kate Middleton pake lily of the valley sebagai wedding bouquet-nya. Selain itu wanginya juga cukup kenceng kata temen. Makanya saya jadi penasaran hehe. Saya beli si lily of the valley ini dalam bentuk akar yang sudah muncul tunasnya sedikit. Karena juga penasaran dengan yang warna pink-nya, jadilah walau agak mahal tetep saya beli juga lily pink-nya. Alhamdulillah yang lily of the valley warna putihnya udah sempet berbunga, sementara yang pink saya sempet kawatir karna tunasnya ga ada yang keluar. Makanya begitu kemarin liat ada pucuk tunas yang keliatan saya jadi hepi hehehehe. Mudah-mudahan aja nanti sampe berbunga ya.

Fresias.

Barisan fresia

Setelah masa berbunga tulip sudah selesai, saya pun mulai cari-cari bunga mana yang bisa mewarnai kebun kami (halah). Temen saya nyaranin untuk nanam fresia aja, karna selain bagus juga harum. Akhirnya saya nanem fresia ini dan milih warna putih dan biru di ruang dekat sepanjang pagar. Saya baru tanem bunga ini di akhir-awal mei, beli bulbs-nya secara online (fresia termasuk bunga yang cukup murah) dan sekarang daun-daunnya udah mulai bermunculan hehe.

Calla Lily.

Pucuk daun si calla lily.

Calla lily in progress.

Sama kaya fresia, calla lily ini juga saya tanem atas saran temen saya. Waktu tanamnya juga berbarengan dengan fresia, cuma untuk harga bulbs-nya agak lebih mahal dari fresia. So far si hampir semua calla-nya udah keluar daunnya, cuma masih ada satu spot yang masih belum keliatan sibuk hehe. Mudah-mudahan aja si bonggol gak mati ya.

Gladiols.

Daun-daun bunga gladiol yang sudah mulai meninggi πŸ˜‰

Bunga ini saya beli semata karna lagi diskon pas nemu hahahaha. Saya ga gitu penasaran sama gladiol, walau sebenernya bunga ini bagus juga. Kata temen saya bunga ini adalah favoritnya para nenek-nenek wkwkwk. Sama kaya fresia, bunga ini juga harus ditanam di bulan Mei. Sewaktu saya nanem fresia, karna udah kebanyakan nanem fresia jadinya nunda nanem gladiolnya. Ujung-ujungnya mertua saya yang nanem karna dia ga sabaran orangnya hahaha. Sekarang gladiolnya juga sudah mulai keluar daunnya.

Allium.

Saya beli bulbs bunga ini barengan dengan tulip. Waktu nanemnya juga bareng, cuma saya ga beli banyak dan nanem si allium di pot. Begitu daunnya pada keluar saya masih mikir kalo bunga yang saya tanam tulip, tapi lama-kelamaan bingung kok daunnya beda dan lama banget berbunganya hahaha. Begitu si kuncup bunga keluar saya baru sadar kalo bunga ini bukan tulip (duhh bentuknya beda banget kalii). Dari sepuluh bulbs yang ditanam, yang jadi bunga ada empat. Saya juga baru tau namanya adalah Allium setelah saya kasih liat foto si bunga ke temen saya πŸ˜‚. Kata dia allium ini termasuk ke dalam genus bawang-bawangan. Pantes aja kalo si bunga dicium, bukannya wangi harum khas bunga, ini lebih ke wangi bawang hahaha.

Semoga postingan ini bisa bikin seger mata ya.

Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieeeπŸ˜‚).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya πŸ™‚

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian πŸ˜‰

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

Resep Spekkoek (Lapis Legit)

Spekkoek atau biasa disebut Lapis Legit (Spekuk) adalah salah satu kue favorit keluarga kami. Resep yang saya share di sini resep andalan suami kalo pas bikin kue ini hehe, saya sendiri ga pernah bikin spekkoek atau lapis legit sendiri. Yang saya suka dari resep ini adalah kuenya ga begitu manis, rasa rempahnya berasa tapi ga begitu kenceng, dan lembut banget.

Buat mbak Irny yang sempet nanya di IG (dan kali aja ada temen lain yang mau nyoba juga) monggo diliat resepnya di bawah ini yaaa =)

SPEKKOEK
Untuk 2 kg (2 loyang)

Bahan:
350gr kuning telur (+ 20 butir)
7 butir telur (@50 gr per butir)
650gr mentega (bisa juga 325gr mentega – 325gr margarin, atau diganti margarin seluruhnya)
370gr gula pasir halus
1/2 sdt garam
40gr susu cair (UHT tawar)
200gr tepung terigu

Bumbu spekkoek:
10gr kayu manis bubuk
3gr pala bubuk
3gr cardamom (kapulaga) bubuk
3gr cengkeh halus ( bubuk cengkeh)

Buat variasi bisa juga di tambahkan 60 gr almond yg sudah di gerus halus (atau tepung almond siap pakai)

Cara membuat:

Panaskan oven di suhu sekitar 180Β°C. Siapkan 2 loyang bulat ukuran diameter 24 cm, bagian bawahnya dialasi dengan kertas roti kemudian olesi dengan mentega/margarin secara tipis dan merata.

Kocok telur dan gula halus sampai kaku dan lembut, tambahkan susu cair sambil dikocok sampai rata. Ayak tepung terigu dan bumbu spekkoek beserta garam di atas adonan telur sambil diaduk rata.

Dalam wadah terpisah, kocok mentega sampai lembut. Kemudian tuang adonan telur ke dalam kocokan mentega sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.

Tuang sekitar 2 sendok makan adonan ke dalam loyang (tergantung besar kecilnya loyang) ratakan dan masukkan ke dalam oven dg api atas selama kurang lebih 5 menit (sampai berwarna kecoklatan). Tiap kali adonan sudah terlihat coklat tambahkan lagi 1 atau 2 sendok makan adonan di atas adonan yg sudah berwarna coklat. Kemudian masukkan lagi ke dalam oven dan tunggu sampai adonan berwarna kecoklatan. Lakukan terus sampai adonan habis (tiap lapisan perlu waktu kurang lebih 5 menit untuk mendapatkan warna kecoklatan).

Catatan:
Spekkoek harus dipanggang dalam oven dengan api atas saja agar nantinya terbentuk lapisan-lapisan tipis (kalo pake oven gas/listrik, untuk lapisan kedua dan seterusnya oven di-set pada posisi grill 5).
Membuat spekkoek perlu kesabaran saat memanggangnya dan harus selalu dicek setiap lima menit apakah sudah berwarna coklat atau belum. Kalo kita mau buat lapisan terlihat lebih tebal, pada saat penambahan adonan di tiap lapisannya bisa ditambahkan agak banyak (mungkin sekitar 3-5 sendok makan) dan waktu pemanggangan tiap lapisan otomatis jadi agak lebih lama dari 5 menit.

Selamat mencoba yaa!

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinetπŸ˜…).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again 😊

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post πŸ˜‰)