Cerita Tempe(h)

“Tempeh is sort of like the sexy, more-exotic-with-less-baggage hippie cousin of tofu who shows up at a family party and totally rocks your world. It’s crunchy texture is unique and while it’s not as prevalent as tofu, it’s very versatile and, due to its fermentation, is considered to be less health-controversial.”(source: Vegucated)

sliced_tempeh

image taken from http://www.wikimedia.org

Catatan: pembahasan tentang sejarah tempe (atau juga disebut tempeh) ini sebagian besar saya sadur dari publikasi yang dikeluarkan oleh Soy Info Center, Historical Bibliographies & Sourcebooks on Soy, Part C : Soyfoods – History of Tempeh and Tempeh Products (1815-2011) yang dikompilasi oleh William Shurtleff & Akiko Aoyagi. Untuk publikasi lengkapnya (dalam Bahasa Inggris) silahkan klik link ini.

Beberapa waktu lalu ada teman saya di facebook yang posting resep-resep dengan bahan olahan utama tempe. Postingannya itu juga disertai dengan komentar kira-kira seperti ini “Tempe adalah makanan asli Indonesia, tapi sayang Indonesia bukan pemiliknya (paten).”

Saya paham banget kalo masyarakat Indonesia, bahkan yang pinter sekalipun tapi ga pernah berhubungan langsung dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), masih banyak yang belum mengerti benar apa itu yang namanya Paten.Mungkin kalo saya ga kerja di kantor HKI juga saya ga paham si. Tapi dari postingan dan komen teman saya tersebut saya jadi pengen tau gimana sejarahnya dan juga paten yang terkait dengan si tempe.

Sebelum saya coba nyari-nyari info di internet, saya sebenarnya juga cuma tau sekelebat tentang kisah paten tempe yang didaftarkan di negara lain (dari teman-teman kantor yang lebih berpengalaman banyak yang menyebutkan Jepang). Jelas awal mula isu ini muncul beberapa tahun lalu adalah karena Malaysia yang (agak) besar mulut dan mengklaim (mungkin juga ngga, tapi orang Indonesia-nya aja yang terpancing ya) kalo beberapa produk dan kebudayaan asli Indonesia (seperti batik, reog ponorogo, termasuk tempe) berasal dari Malaysia.

Saking penasaran, akhirnya saya nyoba cari dokumen paten terkait dengan tempe via google patent search engine. Saya agak surprised dengan hasilnya, tapi bisa juga karena google patent search engine ini sumber dokumennya adalah yang sudah dipublikasi oleh USPTO (kantor paten dan mereknya Amerika Serikat). Paten yang nyangkut di hasil pencarian adalah paten tempe dengan pemegang hak patennya berasal dari Amerika Serikat. Inti klaimnya adalah mengenai cara memproduksi tempe. Patennya sendiri pertama kali didaftarkan di USPTO pada tahun 1962 dan diberikan pada tahun 1966. Nah, kenapa walaupun tempe sudah lama diproduksi sejak jaman dahulu kala di Indonesia tapi patennya tetap diberi?

Untuk suatu permohonan agar dapat diberi hak paten, harus memenuhi tiga syarat utama, yaitu kebaruan (novelty), langkah inventif (inventive step) dan dapat diterapkan di industri (industrial applicable).

Paten yang diajukan oleh dua peneliti dari Amerika Serikat ini ternyata memenuhi ketiga syarat tersebut dan memang lumayan berbeda dengan tempe yang diproduksi secara tradisional di Indonesia. Intinya si proses pembuatan tempe versi Paten ini lebih cepat dan lebih higienis, serta dalam hal produksi juga lebih efektif dan efisien. Kalo produksi tempe di Indonesia pada jaman dahulu kala dibuat dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya, sementara pada paten ini yang menjadi bahan pembungkus si tempe adalah plastik. Kalian tahu tempe yang menggunakan plastik (yang diberi lubang-lubang halus) – bukan daun pisang – yang sekarang ini lebih banyak dijual di pasaran? nah itu juga merupakan salah satu klaim yang dimohonkan oleh mereka.

Perlindungan paten sendiri berlangsung selama 20 tahun, dan setelah masa perlindungan berakhir maka paten menjadi kadaluarsa dan publik/masyarakat umum boleh menggunakan formula atau proses yang sebelumnya hanya ekslusif milik si pemegang paten. Kalo dihitung sejak Paten terkait tempe ini diberikan tahun 1966, berarti pada tahun 1986 masa perlindungannya sudah berakhir dan paten boleh digunakan oleh publik. Saya sendiri ga ngeh kapan pertama kali tempe dengan bungkus plastik mulai beredar di Indonesia hehe. Bisa jadi pada tahun-tahun tersebut ya.

Tapi, kenapa bisa sampe seorang (dua orang) Amerika ini kepikiran tentang tempe sampai sejauh ini? saya baru tahu juga setelah baca sejarah tempe dari soy info center ini kenapa si tempe bisa sampai mendunia begini hehe.

Sedikit mengenai sejarah Tempe, dalam beberapa referensi disebutkan bahwa tempe adalah produk kedelai yang berasal dari Indonesia, kemungkinan besar Jawa Tengah atau Jawa Timur, dan sudah ada sejak sekitar 1800-an. Tempe termasuk unik karena mungkin satu-satunya produk kedelai yang bukan berasal dari Cina atau Jepang, seperti kebanyakan produk kedelai lainnya.

Referensi pertama yang menyebutkan istilah tempeh ditemukan dalam manuskrip Serat Centini, yang ber-setting pada masa Sultan Agung berkuasa di tahun 1600-an. Dalam Serat Centini tersebut tertulis satu kalimat yang menyebutkan “bawang dan témpé mentah.” Jadi, besar kemungkinan kalo tempe ini sudah ada bahkan di tahun 1600-an. Sedangkan referensi untuk tempe yang dibuat oleh orang Eropa (Belanda) pertama kali diketemukan pada tahun 1875 dalam the Javaansch-Nederduitsch Handwoordenboek, ditulis oleh J.F.C. Gericke dan T. Roorda. Dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Eropa lainnya, penulisan “tempe” ditambah dengan huruf “h” pada akhir kata (menjadi tempeh), untuk menghindari salah pengucapan.

Di tahun 1900, seorang warga negara Belanda yang tinggal di pulau Jawa bernama Dr. P.A. Boorsma menerbitkan artikel dalam bahasa Belanda sebanyak 13 halaman yang membahas tentang (kacang) kedelai secara khusus dimana di salah satu bagiannya juga membahas tentang cara membuat “tempe kedeleh.” Boorsma menjelaskan bahwa kedelai dimasak setengah matang, kemudian direndam di dalam air selama 2-3 hari, kemudian dikeringkan dan dikukus, setelah itu disebar ke dalam satu wadah yang terbuat dari bambu dengan ketebalan setinggi kurang lebih 2 cm, dan kemudian ditutup seluruhnya dengan daun pisang. Si calon tempe ini kemudian diinokulasi dengan residu yang mengandung suatu “jamur” (ragi) yang diperoleh dari proses sebelumnya dan selanjutnya ditutup kembali dengan daun pisang. Dalam jangka waktu kurang lebih 2 hari terbentuklah si tempe yang kemudian dipotong-potong untuk kemudian dijual di pasaran.

Tulisan mengenai tempe yang ditulis pertama kali dalam bahasa Inggris pertama kali terbit pada tahun 1931 dalam buku karya J. J. Ochse “Vegetables of the Dutch East Indies” yang diterbitkan di Buitenzorg alias Bogor, Jawa Barat – Indonesia. Ochse yang juga (ternyata) berkewarganegaraan Belanda menjelaskan tentang proses pembuatan tempeh secara detail dan menyebutkan bahwa jamur yang dipergunakan adalah Rhizopus oryzae yang diperoleh dari tempe (yang dibuat) sebelumnya. Literatur berbahasa Inggris lain yang juga membahas tentang tempeh kembali muncul di tahun 1935 dalam karya tulisan I.H. Burkill berjudul A Dictionary of the Economic Products of the Malay Peninsula.

Satu hal yang cukup menarik, walaupun tempe sudah lama eksis dan dianggap penting dalam kuliner Indonesia, (hampir) seluruh studi/penelitian ilmiah atas tempe dari tahun 1895 sampai tahun 1960 dilakukan oleh orang-orang Non-Indonesia (dalam hal ini Eropa) yang tinggal di Indonesia. Ada beberapa alasan kenapa hal ini terjadi.

Pertama, pada jaman penjajahan Belanda dulu, sangat sedikit orang (asli) indonesia yang bisa mengenyam pendidikan tinggi sampai ke universitas dan dapat melakukan riset ilmiah atau kegiatan penelitian dalam bentuk apapun. Para ilmuwan dan ahli mikrobiologi yang jumlahnya sedikit ini pun tidak didorong untuk melakukan penelitian atas makanan/produk asli dari Indonesia.

Yang kedua, pada jaman pemerintahan kolonial Belanda, masyarakat yang dipengaruhi oleh Warga Belanda (yang tinggal di Indonesia) lebih memandang tinggi nilai-nilai dan gaya hidup dari barat dan memandang rendah nilai-nilai dan gaya hidup asli setempat. Makanan seperti tempeh – yang tidak dikenal di dunia barat dan merupakan makanan murah meriah para masyarakat biasa – dipandang sebagai sesuatu yang inferior, kelas rendah walaupun (tempeh) dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat. Tidak ada ilmuwan Indonesia yang menganggap bahwa tempeh adalah sesuatu hal yang patut mendapatkan perhatian dan menjadi subyek penelitian bagi mereka.

Sayangnya lagi, sikap ini terus berjalan bahkan setelah kita merdeka. Bapak Presiden Republik Indonesia yang ke-1, Sukarno, dalam pidatonya kadang menyebutkan “jangan jadi bangsa tempeh” atau “jangan jadi ilmuwan tempeh”. Perkataan-perkataan ini mengkiaskan bahwa tempeh adalah sesuatu yang inferior (rendah) dan hanya dianggap sebagai (produk) kelas dua. Baru pada pertengahan 1960an pemikiran ini mulai berubah (maka dari itu mulai juga bermunculan para ilmuwan dari Indonesia yang melakukan riset (sebagian besar di luar negeri) atas tempeh). Dan yang menjadi alasan ketiga adalah kurangnya minat di luar Indonesia atas tempeh yang dapat menstimulasi ketertarikan di dalam negeri sendiri (di Indonesia).

Tempeh sendiri mulai diproduksi secara komersil di Eropa pada kisaran tahun 1946-1959. Perusahaan tempeh yang pertama dan yang terbesar di Eropa keduanya berlokasi di Belanda. Walaupun dua perusahaan yang berbeda, kedua perusahaan ini dikembangkan oleh mereka yang masih memiliki hubungan dengan Indonesia (baik sebagai imigran dari Indonesia, atau salah satu orang tuanya memiliki darah Indonesia).

Sementara di Amerika Serikat produksi tempeh secara komersil mulai berjalan pada tahun 1961 juga oleh para imigran dari Indonesia (dan kemudian di tahun 1975 oleh warga kulit putih). Penelitian lebih menyeluruh atas tempeh sendiri mulai berlangsung di tahun 1960-an di Cornell University (dibawah pengawasan Dr. Steinkraus) dan di USDA Northern Regional Research Center (di bawah pengawasan Dr. C.W. Hesseltine and Dr. H.L. Wang).

Berawal dari tahun 1958 ketika seorang wanita Indonesia yang juga aktif di bidang nutrisi bernama YAP Bwee Hwa memulai penelitian mengenai tempeh di New York. Beliau adalah warga Indonesia pertama yang melakukan penelitian atas tempeh di Amerika. Dengan membawa sampel dari Indonesia, Yap melakukan eksperimen dan studinya di the Graduate School of Nutrition, Cornell University, dan juga melakukan penelitian lebih lanjut atas pembuatan/produksi tempeh di Department of Food Science and Technology at the New York State Agricultural Experiment Station di bawah pengawasan Dr. Steinkraus.

Kemudian di tahun 1960 penelitian kedua atas tempeh di Amerika Serikat mulai dilaksanakan di the USDA Northern Regional Research Center (NRRC) dibawah pengawasan Dr. Clifford W. Hesseltine. Penelitian dipicu dari kedatangan seorang mahasiswa dari Insititut Teknologi Bandung bernama KO Swan Djien untuk belajar mengenai industri fermentasi. Hesseltine menyarankan beliau untuk mempelajari tempeh. Ko kemudian memperlihatkan kepada Hesseltine beserta anggota grup peneliti yang lain bagaimana proses pembuatan tempeh. Sejak saat itu tim peneliti yang tergabung dalam grup tersebut mulai mempelajari dan mengembangkan varian baru dari tempeh, juga teknik pemrosesannya.

Di tahun 1964 Hesseltine bersama-sama dengan Dr. Martinelli (seorang peneliti dari Brazil yang juga melakukan penelitian atas tempeh di NRRC) mengembangkan suatu metode baru untuk proses inkubasi tempeh di kantong plastik berlubang (yang kemudian didaftarkan (dan diberi) paten). Metode inilah yang akhirnya banyak digunakan oleh para produsen tempeh secara komersil, baik di Indonesia maupun di negara lain (seperti di AS dan Belanda).

Untuk temen-temen yang mau cek dokumen paten tentang metode pembuatan tempeh selengkapnya boleh klik link ini ya 🙂

Advertisements

Resep Pepes Ikan Mackerel Asap

Dari sekian macam makanan yang saya suka, pepes ikan mas adalah salah satu masakan sunda favorit saya. Sayangnya selama saya tinggal di sini, ga pernah saya ketemu ikan mas segar dijual pasar ataupun toko/supermarket. Suatu hari (dua tahun yang lalu!) pas saya diundang makan di rumah temen, dia nyediain pepes di meja. Pas saya tanya dia bilang itu pepes ikan mackerel asap. Saya sebenernya kurang begitu suka sama ikan mackerel, tapi bentuk si pepes ini menggoda iman banget hahaha. Jadilah saya nyicip si pepes. Abis nyicip eh saya jadi suka. Ternyata rasanya pas buat saya! 😀 Sayapun minta resepnya ke temen saya. Ternyata kalo mau bikin ini ga susah-susah banget, apalagi karna ikan yang dipake adalah ikan asap yang sebenernya sudah setengah siap untuk dihidangkan.

Satu waktu saya pun bikin si pepes dan syukses hihi. Suami pun suka sama si pepes. Foto hasil eksekusi saya posting di Path dan kebetulan ada temen yang nanya resepnya jadi saya sekalian posting resepnya di sana. Setiap saya mau bikin, saya jadi suka nyontek di sana haha (saya ga hafal-hafal sama resepnya!). Saya ga gitu sering bikin si pepes ini karna selain agak males sama sampahnya daun pisangnya juga ga selalu ada di rumah. Lumayan lama ga bikin-bikin lagi sampai hari ini timbul kangennya sama si pepes hehe. Karna malu kalo nanya lagi sama si temen (plus dia-nya sekarang lagi liburan ke Indonesia), jadilah saya browsing si resep di Path. Karna udah lama banget kan postingannya, ampun deh saya musti scroll lumayan jauh. Saya pernah satu kali screenshot si resep ini cuma karna ganti hp saya ga tau itu screenshot ada di mana wkwkwk. Setelah ketemu resepnya, cepet-cepet deh saya screenshot lagi (pemalas 😜). Nah, biar ke depannya lebih gampang (nyontek/ nyari si resep ini – sekalian juga share kali aja ada yang mau coba bikin – saya putusin buat diposting aja di sini.

Buat yang mau coba, silakan diintip resepnya di screenshot yang saya taut di bawah ini yaa 🙂

Pepes Ikan Mackerel Asap

screenshot_20171126-1442361404514521.png

Mau liat hasilnya saya? Sok atuh ditengok 😄. Tau gak, anak saya yang masih umur 15 bulan ikutan ma’em si pepes ini juga loh, dan dia doyan (plus gak kepedesan hahaha).

Selamat mencoba ya gaes!

Resep Spekkoek (Lapis Legit)

Spekkoek atau biasa disebut Lapis Legit (Spekuk) adalah salah satu kue favorit keluarga kami. Resep yang saya share di sini resep andalan suami kalo pas bikin kue ini hehe, saya sendiri ga pernah bikin spekkoek atau lapis legit sendiri. Yang saya suka dari resep ini adalah kuenya ga begitu manis, rasa rempahnya berasa tapi ga begitu kenceng, dan lembut banget.

Buat mbak Irny yang sempet nanya di IG (dan kali aja ada temen lain yang mau nyoba juga) monggo diliat resepnya di bawah ini yaaa =)

SPEKKOEK
Untuk 2 kg (2 loyang)

Bahan:
350gr kuning telur (+ 20 butir)
7 butir telur (@50 gr per butir)
650gr mentega (bisa juga 325gr mentega – 325gr margarin, atau diganti margarin seluruhnya)
370gr gula pasir halus
1/2 sdt garam
40gr susu cair (UHT tawar)
200gr tepung terigu

Bumbu spekkoek:
10gr kayu manis bubuk
3gr pala bubuk
3gr cardamom (kapulaga) bubuk
3gr cengkeh halus ( bubuk cengkeh)

Buat variasi bisa juga di tambahkan 60 gr almond yg sudah di gerus halus (atau tepung almond siap pakai)

Cara membuat:

Panaskan oven di suhu sekitar 180°C. Siapkan 2 loyang bulat ukuran diameter 24 cm, bagian bawahnya dialasi dengan kertas roti kemudian olesi dengan mentega/margarin secara tipis dan merata.

Kocok telur dan gula halus sampai kaku dan lembut, tambahkan susu cair sambil dikocok sampai rata. Ayak tepung terigu dan bumbu spekkoek beserta garam di atas adonan telur sambil diaduk rata.

Dalam wadah terpisah, kocok mentega sampai lembut. Kemudian tuang adonan telur ke dalam kocokan mentega sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.

Tuang sekitar 2 sendok makan adonan ke dalam loyang (tergantung besar kecilnya loyang) ratakan dan masukkan ke dalam oven dg api atas selama kurang lebih 5 menit (sampai berwarna kecoklatan). Tiap kali adonan sudah terlihat coklat tambahkan lagi 1 atau 2 sendok makan adonan di atas adonan yg sudah berwarna coklat. Kemudian masukkan lagi ke dalam oven dan tunggu sampai adonan berwarna kecoklatan. Lakukan terus sampai adonan habis (tiap lapisan perlu waktu kurang lebih 5 menit untuk mendapatkan warna kecoklatan).

Catatan:
Spekkoek harus dipanggang dalam oven dengan api atas saja agar nantinya terbentuk lapisan-lapisan tipis (kalo pake oven gas/listrik, untuk lapisan kedua dan seterusnya oven di-set pada posisi grill 5).
Membuat spekkoek perlu kesabaran saat memanggangnya dan harus selalu dicek setiap lima menit apakah sudah berwarna coklat atau belum. Kalo kita mau buat lapisan terlihat lebih tebal, pada saat penambahan adonan di tiap lapisannya bisa ditambahkan agak banyak (mungkin sekitar 3-5 sendok makan) dan waktu pemanggangan tiap lapisan otomatis jadi agak lebih lama dari 5 menit.

Selamat mencoba yaa!

Cerita Lebaran.

“Eid is the combination of 3 meaningful words: E: Embrace with open heart I: Inspire with impressive attitude, D: Distribute pleasure to all.”

islamic-design-for-eid-mubarak-festival_1017-8724

image via freepik

I know I know, I still own lots of post for my movie challenge, tapi – as my defense – draft ini udah ngendap lama banget di WP saya, ya sejak lebaran idul fitri tahun lalu to be precised :D. Sampe harus edit opening-nya ini secara udah ga relevan lagi sama waktu postingnya wkwk. Anyway, berhubung hari ini juga pas idul fitri (walo tahunnya beda), saya mau lanjutin tulisannya ya. Kilas balik ceritanya hehe.

Seperti yang kita tau, lebaran kalo untuk orang Indonesia identik dengan kumpul bareng keluarga, terutama orang tua dan para sesepuh. Makanya tradisi mudik walau seberat, semumet apapun tetap dijalanin juga bahkan mungkin dinanti-nantikan. Kalo menurut saya, yang paling heboh dan seru untuk urusan mudik itu adalah mereka yang mudik ke daerah Jawa (baik Jawa Barat, Jawa Tengah, Timur, atopun Yogya). Sayang saya termasuk orang yang ga pernah ngerasain “serunya” mudik ini. Almarhum Bapak kampung halamannya di Aceh yang tentu kalo mau mudik ke sana lebih susah dan agak capek kali kalo via darat. Sementara Mama kampung halamannya di Bogor, itu si kedeketan ya buat dibilang mudik hihi. Waktu Kakek Nenek masih ada si kita tiap lebaran pasti ke sana. Saya pernah loh bercita-cita dapet suami orang Jawa biar bisa ikut ngerasain mudik hahaha (cita-cita yang aneh ya😝).

Tahun 2016 lalu pas perayaan Idul Adha di bulan September, mama dan satu keponakan saya (Echa) kebetulan sedang berkunjung ke sini dalam rangka nengokin cucu (dan sepupu) yang baru lahir :). Seneng banget rasanya ada yang nemenin (dan masakin hahaha). Suami sebenernya biasanya ikut ambil day off buat merayakan idul fitri, tapi rasanya tetep beda ya karna biar gimana juga bukan kultur di sini (khususnya untuk orang Belanda) untuk merayakan “suikerfeest” (idul fitri) dan “offerfeest” (idul adha). Saya sebenernya pengen nganter mereka sholat ied, tapi mama bilang ga usah karena kasian si bayi nanti malah ribet. Ya udah deh jadinya kami di rumah aja, makan lontong sayur bikinan sendiri hihi.

Berlebaran jauh dari orang tua dan di tempat dimana umat muslim bukan mayoritas penduduknya itu beda rasanya. Kaya ada sesuatu yang kurang aja. Tahun ini sebenernya bukan lebaran yang pertama saya jauh dari orang tua. Sepanjang hidup saya sampai hari ini, ada beberapa lebaran yang buat saya cukup terkenang di ingatan. Sebagian besar yang paling terkenang adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Tapi ada juga beberapa perayaan Idul Adha yang meninggalkan bekas di otak saya.

Idul Fitri tahun 2008 adalah pertama kalinya saya berlebaran jauh dari orang tua, karna beberapa minggu sebelumnya (pas puasa) saya baru aja berangkat ke Belanda untuk lanjut studi. Sedih banget deh rasanya. Udah sendiri (yaa ada temen-temen yang lain juga siii, tapi kan beda dengan ortu yaa), ga ada menu-menu khas lebaran, berasa kaya hari biasa aja lah pokonya. Satu hal yang bikin saya inget lebaran waktu itu juga karna ada kejadian yang agak-agak lucu dan bikin ngenes. Waktu itu persis tanggal 1 Syawal, saya dan beberapa temen udah rencana untuk sholat Ied di Mesjid Maroko yang ga jauh dari tempat kami tinggal. Pagi itu cuacanya agak memble, hujan walau ga deras. Kami ceritanya ke sana naik sepeda. Singkat cerita pergilah kami ke Mesjid, naik sepeda sambil akrobat pegang payung satu tangan haha. Begitu sampai di Mesjidnya, kami agak bingung. Kenapa bingung? karna kami ga liat ada wanita satupun di situ donggg. Usut punya usut ternyata emang di mesjid itu para wanitanya ga ikutan sholat di mesjid wkwk, terutama untuk sholat sunnah kaya sholat Ied gini. Yasudahlah akhirnya kita putar balik dan kembali ke rumah sambil ngikik. Kalo tau kaya gitu kan kita mungkin udah jalan ke Den Haag ya, sholat di sana sekalian halal bihalal juga di kedutaan (atau cari mesjid lain yang ada jemaah wanitanya).

Lebaran lain yang saya inget adalah pada saat perayaan Idul Adha di tahun 2010 sewaktu mama saya sedang di Mekkah untuk berhaji. Otomatis waktu itu mama berlebaran di sana. Yang bikin sedih lagi, kakak saya sehari sebelumnya baru aja operasi pengangkatan rahim. Jadilah di rumah ga ada yang masak masakan khas lebaran (saya mana pernah dulu masak hehe). Tapi karna kepepet akhirnya saya masak loh 😂 saya bikin rendang berdasarkan petunjuk dari kakak saya. Pencapaian banget ini bisa bikin rendang waktu itu (sekarang kan udah naik dikit bisanya – bisa bikin soto! wkwkwk). Setelah sholat Ied, instead of keliling komplek untum bersilaturahmi, saya, bapak dan keponakan pergi ke rumah sakit buat nengokin kakak. Yah…alhamdulillah semua tetep berjalan lancar ya.

Salah satu lebaran lain yang buat saya lumayan membekas adalah lebaran idul fitri tahun 2014. Sedih banget rasanya, karena selain pertama kali berlebaran jauh dari keluarga setelah menikah dan pindah, tahun itu juga pertama kali keluarga kami berlebaran tanpa kehadiran Ayah kami. Tentu mama saya adalah salah satu yang paling merasa kehilangan. Di tahun-tahun sebelumnya, biasanya setelah sholat ied kami semua berkumpul di rumah, menunggu bapak pulang dari mesjid Istiqlal, begitu sampai langsung kami minta maaf ke mama dan bapak (juga kakak adik), kemudian menyantap masakan mama deh. Biasanya setelah itu kami langsung berangkat keliling untuk bersilaturahmi dengan tetangga komplek, kemudian berkunjung ke rumah saudara-saudara bapak dan mama. Di tahun 2014 itu, ndilalah saya juga kan sudah pindah for good ke sini. Belum lagi pas banget kakak saya yang perempuan berlebaran di Kalimantan Utara – tempat mertuanya. Supaya mama ga begitu merasa kesepian, kami gantian mencoba menghiburnya. Keluarga abang saya menginap di tempat mama dari malam terakhir Ramadhan, kemudian saya mengatur trip ke Yogya buat mama beserta adik saya yang bontot dan tante saya (adiknya mama). Kebetulan salah satu adik mama yang lain tinggal di Yogya, jadinya sekalian juga silaturrahim. Alhamdulillah mama merasa sedikit terhibur dan agak sibuk jadi waktu untuk bersedih lumayan berkurang.

Di tahun 2016 lalu, pada saat idul fitri satu hal yang saya inget banget adalah saya sholat Ied sendiri di mesjid An Nuur Waalwijk dengan perut besar ha! Eh, itu berarti saya ga sendiri ya ga si, saya berdua dengan bayi saya yang masih di dalam perut! 😀 Trus ya, walopun perut udah buncit saya masih sempet-sempetin masak masakan khas lebaran loh! Mulai dari rendang, opor ayam, sayur pepaya, sampe si lontongnya juga. Biar bener-bener ngerasain lebaran maksud hati hehe.

Untuk tahun 2017 ini, kebetulan perayaan idul fitri di Belanda jatuh di hari Minggu. Lumayan gampang buat saya karna berarti suami dan anak-anak ada di rumah. Sayang banget tahun ini saya ga bisa ikutan sholat Ied karna bertepatan dengan masa haid saya. Selain itu beberapa hari sebelumnya kondisi saya agak drop karna cuaca yang lumayan panas, jadi saya yang tadinya mau masak ini itu batal hehe. Cuma sempet bikin kue putri salju aja, itu juga sekalian karna ada beberapa pesanan dari temen. 

Beberapa hari sebelumnya anak-anak sudah merencanakan untuk pergi ke kebun binatang di Rhenen (nama zoo-nya Ouwehands), dengan tujuan pengen liat panda yang sekarang ini ada di kebun binatang Ouwehands. Tapi kita mikir lagi, kemungkinan besar suasananya bakal kaya cendol (alias banyak orang dempet-dempetan! BUKAN GUE BANGET), makanya akhirnya kami putar haluan dan memutuskan untuk pergi ke Burger’s Zoo di Arnhem saja. 

Burger’s Zoo ini adalah salah satu favorit tujuan jalan-jalan kami. Beruntung cuaca cukup bersahabat, walau di sini juga rame banget ternyata (cendoool wakaka). Sebelum pulang kami menyempatkan sebentar untuk melihat-lihat Arnhem Centrum dan sekitarnya. Kami tutup hari raya tahun ini dengan makan di restoran indonesia.

Bagaimana dengan lebaran teman-teman? Adakah lebaran yang paling berkesan buat kalian?

I wish you a very happy and peaceful Eid. May Allah accept our good deeds, forgive our transgressions and ease the suffering of all peoples around the Globe!

Resep Lontong Isi/Arem-arem a la Mama dan Bakwan Sayur Goreng

IMG_20170529_101437_453

Beberapa waktu yang lalu, out of nowhere, tiba-tiba saya mimpiin lontong isi-nya mama saya. Mimpinya aneh banget ya hihi. Tapi lontong mama saya itu memang ga ada duanya deh (buat saya dan kakak-kakak-adik saya at least hehe).

Lontongnya itu gurih, karena biasanya mama pakai santan. Kali disebutnya arem-arem ya karena pake santan hehe (sampe sekarang saya ga tau bedanya arem-arem sama lontong sebenernya si hihi, kami nyebutnya selalu lontong isi aja). Trus isinya suka dikasih ranjau – cabe rawit. Kalo kegigit cabe rawitnya, buat orang yang ga kuat pedes kaya saya ini bisa langsung kelojotan trus kelabakan cari minum deh haha.

Mumpung saya lagi mood dan juga karena sekarang lagi bulan Ramadhan (khas banget kan lontong pake bakwan goreng untuk menu berbuka puasa haha), jadilah akhirnya dua hari yang lalu saya putuskan (ciee) buat bikin lontong isi. Untuk resepnya saya langsung kontak mama buat bikin contekan haha. Bersyukur mama sekarang udah lebih jago nge-type di whatsapp dan line, jadi saya bisa cepet dapet resepnya 😉

Supaya ga hilang resepnya (dan ga perlu ganggu mama lagi), saya mau tulis resepnya di sini hehe. Yang agak krusial sebenernya bumbu untuk isinya, karena untuk ini agak susah untuk dapetin rasa yang pas dan cocok kalo udah nyoba lontongnya mama.

Buat temen-temen, siapa tau abis liat postingan ini ada yang terinspirasi dan mau coba bikin buat menu tajil hari ini (ato beli juga boleh hahaha).

Yuk monggo diliat resepnya 🙂

Bahan-bahan:

Untuk lontongnya:
– 350gr beras putih
– 300ml air putih
– 100ml santan
– Daun pisang secukupnya (cukup untuk sekitar 12 – 15 lontong)
– Garam secukupnya (kurang lebih 1 sdt)

Cara membuat:
campur semua bahan ke dalam panci, masak hingga mendidih, kemudian kecilkan apinya. Setelah airnya mulai surut, aduk nasi sambil diketruk (saya bingung bahasa indonesianya apa hahaha, maksudnya supaya si nasi ini jadi lebih rapet, nyatu dan tidak mencar). Matikan api, tapi sesekali tetap diaduk dan diketruk nasinya.

Untuk isinya:
– 1 buah kentang ukuran besar, kupas dan potong dadu kecil
– 2 buah wortel ukuran sedang, kupas dan potong dadu kecil
– 250 gr fillet ayam (boleh bagian dada atau paha)
– Daun seledri dan daun bawang masing-masing satu batang (atau sesuai selera)
– Gula pasir secukupnya (+ 1 sdm atau sesuai selera)
– Bubuk penyedap secukupnya (maggi block atau royco)
– Garam secukupnya
– Lada hitam secukupnya
– Minyak goreng untuk menumis bumbu

Bumbu untuk isinya (haluskan):
– 3 butir bawang putih
– 1 butir kemiri
– 1/2 sdt bubuk kunyit (atau 1 cm kunyit segar, bakar sebentar)
– 1 sdt garam
– 1/2 sdt lada putih bubuk

Cara membuat:
Pertama rebus fillet ayam dengan 1500ml air, 1 sdt garam, 1/2 sdt lada, 1/4 biji pala bubuk, 2 cm jahe. Rebus hingga daging matang, kemudian potong dadu. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus sampai wangi, kemudian masukkan potongan kentang dan wortel, aduk rata, kemudian tambahkan ayam yang sudah dipotong dadu tadi. Tambahkan bumbu-bumbu lainnya (gula, garam kalo masih diperlukan, bumbu penyedap (kalo pake) dan lada hitam bubuk). Terakhir masukkan daun seledri dan daun bawang, kemudian kecilkan apinya. Cicipi dan tambahkan garam atau gula hingga rasanya sesuai selera. Masak hingga kentang dan wortel matang. Isi siap dipergunakan (bisa juga dipake untuk isi risol kampung, cuma tinggal ditambah bihun :)).

Untuk membuat lontongnya, siapkan daun pisang (jangan terlalu kecil, tapi jangan terlalu besar juga ya), kemudian ambil kira-kira satu sendok makan munjung adonan lontong, pipihkan merata di daun. ambil kurang lebih satu sendok teh munjung adonan isi, kalo suka pedes bisa ditambahkan cabe rawit di tengah isi ini, kemudian gulung lontong (usahakan supaya isinya tidak terlihat dan ada di tengah-tengah), tekuk kedua sisi daun. Lakukan hingga semua adonan lontong habis.

Siapkan panci untuk mengukus lontong. Setelah air di dalam panci mendidih, letakkan lontong yang sudah kita buat tadi ke dalam panci kukusan. Kukus lontong selama kurang lebih 30 – 45 menit (atau 1 jam kalo ngerasa belum yakin mateng, cuma pastiin air kukusan ga habis sama sekali ya 😝). 

Lontong siap disajikaaan.

O ya, di sini saya juga tambahin bonus resep bakwan goreng ala Anis ya hihi, secara ini bakwan goreng gampang banget (tinggal aduk trus goreng dehh).

Resepnya yang utama yaitu tepung terigu dan sayur iris siap masak (kalo di sini saya suka pake bami/nasi pakket yang banyak dijual di supermarket. Kalo ga ada yang siap pakai, boleh sayurnya dipilih sesuai selera – kalo saya minimal ada wortel, tauge, kol dan daun bawang – seledri). Kemudian untuk bumbu-bumbunya: 1 sdt kunyit bubuk, 1 sdt garam (atau lebih, sesuai selera), 1 sdt gula, 1/2 sdt bubuk penyedap rasa (saya biasanya pake maggi block), 1 sdt bawang putih bubuk, 1 sdt ketumbar bubuk, dan 1/2 sdt lada halus. Aduk semua jadi satu, trus goreng deh sesuai selera sampai adonannya habis.

Makin lengkap kalo makan lontong dan bakwannya disiram pake sambel kacang!

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinet😅).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again 😊

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post 😉)

Long Haul Flight, Mudik dan Hamil (2).

DSC_2224

Kamboja yang sedang mekar di rumah mama. Such a beauty 🙂

“You can kiss your family and friends good-bye and put miles between you, but at the same time you carry them with you in your heart, your mind, your stomach, because you do not just live in a world but a world lives in you.”
― Frederick Buechner

Memang ya, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan (hampir) selalu memberikan a certain kind of feeling. It will always be a part of you. Rasa nyaman, homey, terutama kalo keluarga dan sahabat yang kita miliki masih bisa kita temui dan ada di sekeliling kita, best feeling deh pokonya.

Sesampai di rumah, seneng banget akhirnya bisa ketemu mama, kakak adik dan keponakan. Saya langsung teler tapi hihi, secara perjalanan dari bandara ke rumah mama hampir sama aja lamanya kaya terbang dari jakarta ke aceh! tapi alhamdulillah kami tiba dengan selamat. Pengen cerita-cerita akhirnya ditunda besoknya supaya saya lebih fresh. Bersyukur banget, saya yang biasanya jetlag – terutama masalah jam tidur – kalo balik dari eropa, kemarin hampir ga gitu berasa.

Hari pertama sarapan, so pasti pake nasi uduk langganan hahaha. Jadi ada ibu-ibu yang jual nasi uduk di deket rumah, rasanya itu pas banget sama lidah saya. Bukan yang jenis nasi uduk betawi, tapi kalo yang ini lauknya pake telur dadar iris dan tempe kering plus sambal goreng dan kerupuk. Simpel tapi enak banget. Setelah sarapan, saya dan kakak-adik olah raga ke taman kota BSD. Cuma jalan santai aja si ikutin track, tapi lumayan lah daripada ga olah raga sama sekali yah. Abis itu jajan deh hahaha :p

Sebelum mudik, saya udah bikin semacam itinerary kasar (kali ini di otak aja tapi :p) kira-kira apa atau siapa aja yang mau saya lakukan/temui selama di Indonesia. Kali ini karna berangkat sendiri jadi lebih santai dan ga banyak rencana. Cuma karna ada beberapa prioritas dan yang akan saya temui ini agak sibuk jadwalnya jadilah kami harus bikin rencana sebelum saya tiba. Minggu pertama praktis hanya kumpul di Bogor bareng sahabat saya sewaktu kuliah dan persiapan acara syukuran/pengajian 4 bulanan kehamilan saya di rumah (pas acara sebenernya udah lewat 4 bulan si hehe). Tanggal yang kami pilih untuk syukuran/pengajian bersamaan dengan 2 tahun meninggalnya almarhum bapak, jadi pas saat acara juga sekaligus mendoakan almarhum bapak. Rencana awal cuma pengen ngundang tetangga sekitar aja, tapi akhirnya kita putuskan untuk ngundang keluarga juga (adik-adik mama dan almarhum bapak beserta anak-anaknya).

Untuk selebihnya saya tidak bikin rencana apa-apa lagi. Kalo biasanya setiap liburan bareng suami dan anak-anak kita pergi keluar kota supaya anak-anak ga gitu bosen, kali ini saya cuma stay di rumah aja. Sempet juga pengen ajak mama dan lainnya untuk weekend getaway karna kebetulan persis sebelum jadwal flight pulang mama saya berulang tahun. Tapi akhirnya gagal karna keponakan saya terkena demam berdarah dan harus dirawat 😦

Di minggu pertama saya dan sahabat saya (kami berlima, cuma sayang yang satu (Inge) pindah ke LA dan kita ga bisa dapet tanggal mudik yang sama – pas dia pulang seminggu kemudian saya baru mudik huhu) rencana untuk stay di Bogor. Sahabat-sahabat saya ini sampe ambil cuti dong supaya bisa nemenin saya hari Seninnya. Salah satu sahabat saya, Erina, dari lahir memang tinggal di Bogor, dan sebelum saya dan Inge pindah kami sering menghabiskan waktu bareng-bareng nginep di sana. Tapi sayangnya lagi, salah satu sahabat saya, Lia, mendadak ga bisa ambil cuti hari Seninnya karna ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. Akhirnya cuma saya dan sahabat saya satunya lagi, Melissa, yang nginep di tempat Erina. Bicara tentang teman dan sahabat, mungkin di lain waktu saya akan cerita tentang mereka di postingan terpisah hehe.

Back to the story, jadi seperti biasa tujuan utama kalo berkunjung ke Bogor adalah wisata kuliner dong haha (selain tentu nengokin Erina dan keluarga). Enaknya punya sahabat yang orang lokal itu kita jadi bisa tau tempat mana yang rekomen untuk dikunjungi, dan biasanya tempat-tempatnya itu bukan yang orang banyak tau ato terkenal karna omongan mulut ke mulut.

Rumah makan pertama yang kami kunjungi untuk makan siang adalah Restoran Yama Masu di Sentul City (Ruko Plaza Niaga 1). Resto ini menyajikan masakan Jepang yang cukup otentik (ini penting secara Erina agak rewel sama masakan Jepang karna dia setengah jepang hehe). Koki resto ini menurut info dari Erina dulu kerja di restoran Sakura yang ada di lebak bulus (resto Jepang favorit kami sebelumnya, tapi range harganya lumayan tinggi). Buat kami ini recommended deh, rasanya memang enakk dan harganya lumayan ga gila. Malah Erina suka request menu modifikasi alias yang ga ada di menu dan sama mereka dibikinin dong. Kemarin pas kami ke sana saya pesen set menu (teishoku) yang isinya beef teriyaki, rice, miso soup, side dish dan japanese pickles. Selain itu kami juga pesen side dish edamame, salmon salad, dan chuka kurage (jelly fish). Sayang banget ga nyoba sushinya karna yakin ga bakalan kemakan kalo pesen – porsinya gede ternyata! Temen-temen yang lain ada yang pesan ramen (Lia), nasi goreng salmon untuk O (Erina’s son), Chicken Katsu Curry (Erina’s hubby), Chicken katsu teishoku (Melissa’s), dan menu modifikasi untuk Erina (something with sushi rice and a lot of toppings on top).

Selesai makan kami meluncur ke rumah Erina. Well, ga langsung ke sana si tapi mampir dulu beli martabak hehehe. Kalo biasanya kami beli martabak di daerah tajur (martabak air mancur), kali ini kami beli martabak pecenongan. Untuk rasanya juga kali ini beda. Biasanya kami pasti pesen martabak keju-nangka dan coklat nutella, kali ini kami pesen martabak rasa Black Oreo-Cheese, Red Velvet-Cheese, dan mini Nutella. Dan so pasti martabak telornya hahhaha (kalap bener ya:p). Ujung-ujungnya si sebenernya ga dimakan langsung juga. Akhirnya ini martabak(s) kami makan pas sarapan besoknya. Di jalan kami juga sempet beli duku (senengnyaaa karna lagi musim). Sampai di rumah Erina dukunya langsung diserbu donggg, terutama sama anak-anak. Ga nyangka mereka suka duku (dan bisa makannya!).

Untuk makan malam, tadinya kami rencana mau makan di rumah makan jawa timuran (seafood), tapi karna udah kemaleman trus kehabisan jadinya kami putar haluan dan makan di Lemon Grass, resto yang lagi ngehits banget di Bogor. Dimana-mana di social media banyak banget yang posting foto dan rekomen resto ini. Kalo kata Erina, ini resto ga pernah sepi (kalo liat dari parkirannya yang penuh melulu). Mau weekdays ato weekend sama aja, makanya Erina yang orang bogor pun belum pernah kesana.

Kami sampai di Lemon Grass udah jam 9 malem, tempat masih lumayan full, tapi beruntung pas kami sampe ada spot yang muat untuk kami semua (walau di bagian smoking area). Kalo menurut saya, tempat ini memang ditujukan untuk nongkrong, bukan untuk bener-bener makan. Suasananya enak, interiornya keren, tapi kalo untuk makan beneran agak susah. Bangkunya banyakan lebih untuk santai. Untuk makanannya sendiri not that bad kok. Lumayan enak malah, cuma untuk harga yaa harga cafe lah ya, agak lebih tinggi dari rumah makan biasa. But again, all in all its not that bad.

pixlr_20160411230925760

cornucopia of food I had on the first day in Bogor 😀

pixlr_20160411232529107

Us 🙂

Keesokan harinya, tadinya kami rencana mau cari-cari makanan yang seru di pasar pagi Sentul (makanan tradisional kaya nasi kuning ambon, panada, gorengan dan lain-lain), tapi kita bangun kesiangan dong hahaha. Ya udahlah jadinya kita makan apa yang ada di tempat Erina aja, abis itu kita meluncur ke baby shop sebentar, mampir ke roti unyil venus, beli asinan bogor dan menuju rumah makan favorit kami lainnya, Warung Ngariung (ngetik namanya aja udah bikin saya ngeces niih hahhaha). Tiap ke Bogor sebenernya pengennya ke sini, tapi karna lokasi dan rame tiap weekend makanya kami ga bisa juga selalu ke sini. Untungnya pas kami ke sana kan hari Senin, jadi aman hehe. Menu favorit kami di sini Ayam bakar bekakak dan sambal dadaknya. Duh ini dua enaknya bikin stress soalnya jadi maunya nambah nasi terus hahahha. Selain menu ini, gurame goreng terbangnya juga enak, sayur asemnya juga, tempe mendoannya, dan sambal-sambal lainnya (sambal mangga juga rekomen). Pokonya selera saya banget lah. Mulut kampung banget ya hihi. Dan udah segitu banyaknya kami makan, kami cuma perlu bayar ga sampai setengahnya dari billing order kami di Lemon Grass! makanya cinta banget sama rumah makan ini 😀

pixlr

Our meals at Warung Ngariung. Slurp!

Selesai makan siang kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Melissa pake gojek trus naik kereta dari stasiun bogor ke stasiun terdekat dengan Rawamangun, sementara saya pake Uber dari rumah Erina ke rumah mama saya. Berhubung pertama kali pake Uber, saya bisa pake voucher potongan harga dari Erina’s hubby, dan you know what, saya dong ga perlu bayaaar alias di charge nol!. Karna kasian (dan surprised banget wkwk) akhirnya saya kasih tip lebih aja ke pak supirnya.

Di hari minggunya, kami mengadakan syukuran dan pengajian di rumah. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Banyak doa-doa dan wejangan yang diberikan dari keluarga dan tetangga. Yang bikin seru ya tebak-tebakan jenis kelamin dari rasa rujak hehe. Hampir semua yang nebak sesuai dengan hasil USG loh! hebat ya 😀

IMG-20160417-WA0001

Mom and I.

Di minggu kedua saya lumayan banyak ketemu dengan teman-teman. Mulai dari Bas si nederlander temen kuliah di Tilburg yang sekarang kerja di Jakarta, geng di kantor, geng jaman kuliah, geng masa SMA, geng dari SMP, sampe geng komplek hahahha. Seru! Ampun ya, saya gangster banget ternyata :p Alhamdulillah mereka masih perhatian dan nyempetin untuk ketemu di sela-sela kesibukan mereka. Walau cuma sebentar tapi buat saya itu berarti.

Untuk hari-hari selebihnya semasa saya di sana saya habiskan bareng mama dan keponakan. Kakak dan adik saya kan kerja, jadi ga bisa juga diajak kumpul sering-sering. Belum lagi kakak saya yang harus ekstra jaga anaknya yang dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah sebelum saya pulang kondisi keponakan sudah membaik, dan waktu saya tiba di Belanda dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Di hari saya harus kembali terbang ke Belanda, mama saya berulang tahun. Karena situasi dan kondisi akhirnya kami tidak ada acara khusus untuk merayakan. Tapi saya dan adik saya bikin surprise dengan memesan cake spesial untuk mama. Ga pake tiup lilin ataupun potong kue, yang paling penting berdoa semoga mama selalu diberikan berkah kebahagiaan, kesehatan, kesabaran dan ketenangan dalam hidupnya. Alhamdulillah saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dan kumpul dengan mama, semoga mama diberikan kesehatan dan Insya Allah mudah-mudahan nanti bisa kunjungan ke Belanda pada saat saya melahirkan nanti. Aamiin.

collageTR.jpg

Geng semasa SMA, sayang ga semuanya bisa kumpul. Btw tau ga nama gengnya apa? TR alias Tim Rumpi dong wkwk. Namanya ini yang kasih bukan kami, tapi temen-temen cowo yang mungkin tiap kumpul bareng suka rumpi yah hihi. 

collageKomplek.jpg

temen-temen masa kecil di komplek. syari’ah semua ya kecuali saya :p semoga segera menyusul, aamiin.

13043403_10153700038449405_1958056048051220126_n

kalo yang ini geng jaman SMP dulu. Nama gengnya lebih parah dong, Zombie kemudian ganti nama jadi Da PinkPeppers hahahhaa (duh) 

collageG13

Geng susah seneng selama kuliah S1 dulu di UI. Dijulukin G13 karna jumlah kita ada 13 orang.

collageOFFICE

Kalo yang ini temen-temen seperjuangan di kantor HKI. 

DSC_2237(1)

Blackforest Cake yang kami beli untuk mama 🙂

collageFAM

Parts of mi familia. Too bad I forgot to take any photo with the whole fam grrr.

Sedikit mengenai perjalanan kembali ke Belanda, menurut saya untuk trip yang ini alhamdulillah lebih lancar dan terasa lebih smooth dibanding waktu berangkat. Selain kayanya karna persiapan saya yang udah lebih mateng (berdasarkan pengalaman sebelumnya), juga karna faktor penerbangan yang cukup tenang alias sedikit turbulensi deh. Saya bisa tidur dengan nyenyak di leg pertama (sebelum terbang saya nenggak paracetamol :D), waktu transit yang lebih masuk akal (ga terasa terburu-buru), dan saya sendiri yang mungkin udah bisa cope up dengan kondisi yang ada. Sesampai di Schiphol trus ngeliat suami dan anak-anak duh senengnyaaa. Anak-anak langsung minta peluk, bapaknya cuma kebagian koper ajah :p

Satu yang bikin saya ngerasa jetlag adalah bahasa, sepanjang jalan menuju tempat parkir (sampe rumah) anak-anak langsung cerita segala macam nyerocos pake bahasa belanda (mereka seneng cerita ke kami, dan memang kami biasakan untuk selalu bercerita). Rasanya aneh setelah dua minggu penuh cuma denger orang lain ngomong dan ngoceh pake bahasa indo doang sis. Untungnya ga lama-lama jadi langsung tune in deh sama apa yang diceritain sama mereka hehe.

Cuma…sepulang dari Indonesia perasaan kok saya makin berat bawa badan dan perutnya semakin keliatan buncitnya. Usut punya usut (tsaah) ternyata selama dua minggu liburan itu saya naik 2 kilo dooong hahaha. Oh ya, juga selama di Indonesia itu beberapa kali kaki saya bengkak hiks. Pola makan yang ga beraturan (yaiyalaaah, banyak makanan enak di sana!), plus cuaca dan banyak jalan kayanya yang jadi penyebabnya. Begitu saya di Belanda, alhamdulillah kaki kembali normal (ga bengkak lagi). Kalo makan si ya otomatis menyesuaikan ya. Tapi perut tetep makin buncit ahahaha. Alhamdulillaah lah ya, mudah-mudahan si dedek bayi sehat terus dan ga nyusahin mamanya 🙂 (aamiin).

Seperti Barbara Bush bilang, cherish your human connections – your relationships with friends and family. Dan satu lagi, enjoy life while you live 🙂 Sekian dulu cerita mudiknya ya kawan-kawan. Lain waktu nanti saya mau cerita tentang kehamilan saya boleh yaa :).

ps. all photos were taken with mobile phones, or received via WA, thus sorry for the lousy result 🙂