Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

many-books-hd-wallpaper

β€œDo not train a child to learn by force or harshness; but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.”
~ Plato.

disclaimer: cerita di sini sebatas pengalaman pribadi dan pengetahuan saya yang masih seadanya, jadi mohon dimaafkan kalo kurang komprehensif ya. Akan lebih senang apabila ada temen-temen yang bisa ikut sharing info dan pengalaman seputar hal yang sama di sini 😊.

Walaupun sudah agak terlupakan karna muncul isu-isu baru, beberapa waktu yang lalu di Indonesia sempat heboh dengan isu usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang full day school bagi anak-anak. Banyak yang langsung menentang usulan ini (gak tau apakah mereka tau betul atau belum mengenai konsep yang diusulkan secara detail oleh bapak Menteri), walau ada sebagian kecil yang mendukung usulan ini (secara sembunyi-sembunyi sii – takut dikeroyok sama massa yang tidak pro kayanya wkwk) . Nah, berhubung anak-anak saya saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (plus berdasarkan pengalaman suami semasa kecil), saya mau share info seputar pendidikan dasar anak-anak di Belanda. Mungkin kalo di-browse di internet tulisan tentang ini udah lumayan banyak, tapi tetep saya mau nulis gapapa ya hahaha (maksa😝)

Di Belanda anak-anak mulai diwajibkan untuk sekolah pada saat mereka memasuki usia 4-5 tahun. Untuk anak-anak yang usianya lebih muda (2-3 tahun), walaupun belum diwajibkan tapi tetap diarahkan (dan dipantau) oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat kecamatan) dan Biro Konsultasi Kesehatan atau GGD untuk diikutsertakan ke peuterschool (semacam playgroup gitu) atau ke tempat penitipan anak (namanya kinderopvangen atau children daycare) dengan jumlah jam tertentu (kecuali ada kendala atau kondisi khusus yang tidak memungkinkan). Pemerintah pusat memberikan subsidi untuk keluarga yang menitipkan anak-anaknya di kinderopvangen atau peuterspeelzal, dengan syarat kedua orang tuanya bekerja. Subsidi ini berupa pengurangan biaya iuran perjam si anak. Sementara kalo salah satunya aja yang bekerja, biasanya dari pihak Gemeente (tidak semua Gemeente memberikan subsidi, hal ini tergantung pengaturan masing-masing) yang akan memberikan bantuan biaya yang besarannya ditentukan berdasarkan setoran pajak penghasilan orang tua per tahun.

Tingkat pertama pendidikan wajib (sekolah) di Belanda disebut Basisschool (Sekolah Dasar). Anak-anak duduk di tingkat dasar ini selama 8 tahun (tiap tingkatannya disebut “groep”). Untuk tahun pertama dan kedua (groep 1 dan 2) biasanya digabung menjadi satu. Mungkin kalo di Indonesia groep 1 dan 2 ini bisa disamakan dengan TK A dan B. Kalo menurut info dari suami, untuk anak-anak yang masih dibawah 6 tahun (4-5 tahun) jam wajib belajarnya masih sedikit jumlahnya. Mereka pada intinya lebih diarahkan untuk bisa beradaptasi pada perubahan dari yang sebelumnya bentuk belajarnya lebih ke bermain menjadi bener-bener belajar membaca dan menulis secara perlahan-lahan. Anak-anak masih cukup diberikan kelonggaran untuk tidak ikut sekolah terus-menerus selama jumlah jam belajar tersebut terpenuhi. Begitu anak memasuki usia 6 tahun, mereka sudah ga bisa lagi seenaknya libur alias harus ikut aturan kalender pendidikan di Belanda.

Setelah menyelesaikan Basisschool, mereka akan lanjut ke sekolah lanjutan yang biasanya disebut Middelbare school. Lamanya waktu belajar di tingkat middelbare school tergantung dengan pilihan dan kemampuan masing-masing anak. Mereka punya beberapa pilihan sekolah lanjutan: VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), VMBO (Voorbereidend Middelbaar Beroepsonderwijs), atau Praktijkonderwijs. Mereka biasanya diarahkan sesuai kemampuan (akademis) dan minat masing-masing anak. Di lain waktu saya akan sharing tentang pendidikan lanjutan ini dalam postingan selanjutnya.

Satu hal yang saya sadari di sini adalah kualitas dari tiap sekolah (termasuk para gurunya) di tiap kota – besar maupun kecil – bisa dibilang ga ada bedanya. Hal ini bisa jadi karna pemerintah Belanda cukup ketat dalam mengontrol kualitas para guru dan mereka juga rutin diberikan waktu khusus untuk mendalami kurikulum atau program mengajarnya (mereka nyebutnya “studiedag” yang berarti pada hari itu anak-anak libur dan guru-gurunya belajar lagi deh hehe). Kalo di Indonesia kita sering denger para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit, selama saya tinggal di sini (dan kuliah dulu) hampir ga pernah saya dengar yang kaya gitu. Kayanya si khususnya untuk basisschool ada semacam aturan (atau kebiasaan) kalo para orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang paling dekat lokasinya dengan rumah mereka. Hal ini wajar banget kan ya karna tentu dengan anak disekolahkan di lokasi yang dekat maka waktu mereka ga akan habis di jalan. Walaupun ada beberapa anak yang diantar ke sekolah dengan mobil, hampir sebagian besar anak- anak berangkat dengan sepeda atau berjalan kaki. Karna kebetulan lokasi rumah kami ga lebih dari 500 meter aja, anak-anak lebih senang berjalan kaki ke sekolah.
Waktu belajar basisschool untuk beberapa tahun terakhir adalah pukul 08.30 – 14.30, dengan waktu istirahat sebanyak dua kali (satu kali kleine/fruitpauze/small break selama kurang lebih 15 menit dan satu kali lunchpauze/lunch break selama kurang lebih 30 menit). Anak-anak wajib membawa bekal sendiri dari rumah (walau kadang pada event atau acara khusus sekolah menyediakan). Untungnya bekal makanan dan minuman di sini cukup simpel, jadi kami juga ga ribet-ribet amat tiap pagi harus masak atau bikin sesuatu yang spesial buat bekal mereka hehe. Bahkan anak- anak sejak 2 tahun lalu udah mulai nyiapin bekal makan siang mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam tas sekolah masing-masing (walaupun awalnya untuk minum dan buah mama atau papa masih harus bantu 😊).

Walaupun waktu mereka di sekolah lumayan panjang durasinya, hampir tidak pernah saya dengar kalo mereka lelah karena belajar di sekolah. Alhamdulillah sejauh ini kami lihat mereka cukup antusias dan senang mengikuti kegiatan di sekolah. Keduanya sempet merasa agak bosan sewaktu mereka duduk di grup 4 karena menurut mereka pelajaran yang diberikan gurunya agak terlalu mudah. Kami anggap wajar karena memang grup 4 menurut kami adalah semacam grup transisi. Untuk muatan ajaran dari segi kurikulum masih tidak jauh berbeda dengan grup 3, walau tentu aja pasti tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi. Bisa jadi karena kurikulum yang diberikan cukup ringan dan tidak membuat anak-anak merasa terbebani kali ya.

Sejak di Groep 6, anak-anak juga mulai mendapatkan pekerjaan rumah alias PR satu kali dalam seminggu (sebagai info tambahan, ga semua sekolah memberikan PR untuk para muridnya, hal ini tergantung pada kebijakan di tiap-tiap sekolah). Setiap siswa diminta untuk menyiapkan map/folder khusus untuk PR dan wajib dibawa setiap rabu. Bentuk PR-nya sendiri bervariasi. Kadang hitung-hitungan, kadang hafalan, kadang juga hanya disuruh membaca.

Dalam setahun, anak-anak memperoleh cukup banyak waktu libur. Hampir di tiap musim mereka punya waktu libur setidaknya satu minggu. Biasanya, di musim gugur anak-anak libur seminggu. Kemudian di musim dingin/akhir tahun mereka libur selama dua minggu (Kerstvakantie). Selama waktu carnaval (khusus di Belanda bagian selatan – sekitar Noord Brabant dan Limburg – kalo ga salah ya) mereka juga libur selama seminggu. Setelah itu di bulan April-Mei mereka akan libur lagi (Meivakantie) selama dua minggu. Dan terakhir di musim panas mereka mendapat jatah libur musim panas selama kurang lebih enam minggu. Libur-libur ini di luar libur studiedag dan libur resmi nasional lainnya seperti pinksterdag (pantekosta) atau hemelvaart (kenaikan Isa Almasih) loh ya. Lumayan jauh kalo dibandingin sama jumlah libur anak-anak sekolah di Indonesia – ya gak si?

Kurikulum dan program yang ditentukan oleh pemerintah di sini menurut saya cukup bagus, menarik dan variatif. Di setiap bulan atau di waktu-waktu tertentu biasanya mereka punya tema khusus yang dibahas atau dikerjakan oleh anak-anak. Selain itu pada perayaan-perayaan tertentu seperti Koningsdag (King’s day), Carnaval, Paskah, Sinterklaas atau Christmas biasanya mereka juga akan ikut serta memeriahkannya di sekolah. Biasanya hari-hari khusus tersebut juga dijadikan sebagai subyek atau tema belajar mereka.

Orang tua juga banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah. Kadang para orang tua diperlukan untuk masalah transportasi (kalo pas lagi ada jadwal ekskursi ke luar sekolah), atau membantu mengontrol rambut anak-anak dari kutu rambut (iya, di sini ada yang namanya luizenmoeder atau nit mother 😁), kadang mereka juga dateng ke sekolah untuk membacakan cerita (voorlezen).

Dari sekian banyak yang diajarkan di sekolah, berikut adalah beberapa program yang ditawarkan di sekolah anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mungkin bisa dijadikan masukan dalam menyusun kurikulum sekolah dasar di Indonesia (kali aja loooh hehehe).

Kanjer.

Kalo nyari pengertian bener-bener, kata “kanjer” (dibaca “kanyer”) ini susah dicari padanan katanya. Mungkin kanjer ini bisa diartikan sebagai (sesuatu yang) besar atau luar biasa, atau top, intinya sesuatu yang positif lah. Kalo dilekatkan ke seseorang, pengertiannya bisa jadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang baik budi pekertinya (khususnya dalam konteks hubungan sosial). Nah sekolahnya anak-anak kebetulan mengedepankan ini dalam pola pembelajarannya. Jadi biasanya (hampir) setiap minggu mereka ada waktu khusus untuk kegiatan dalam rangka pembentukan pribadi yang “kanjer”. Metodenya yang dipergunakan juga ga begitu rumit. Para murid diajarkan untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana menghargai orang lain – termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan yang lain, membangun kepercayaan atas diri sendiri juga terhadap orang lain, serta tindakan apa saja yang “kanjer” dan yang bukan. Kemudian guru beserta orang tua murid yang secara sukarela diminta untuk membantu akan mengilustrasikan tema yang diangkat ini ke dalam satu aktivitas yang tentu aja melibatkan para murid. Mereka kemudian akan memberikan nilai sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Selain itu mereka juga mendapat nilai dari teman-temannya dan juga guru dan wali murid yang membantu. Jadi kegiatan kanjer ini lebih seperti evaluasi mereka terhadap diri sendiri dan juga berperilaku terhadap orang lain terutama lingkungan sekitarnya.

Cultuurproject (proyek kebudayaan).

Melalui program ini, selama beberapa minggu para guru akan membahas tentang satu tema khusus yang terkait dengan kebudayaan kepada murid-muridnya. Tingkat kesulitan dan sejauh mana konten yang diberikan biasanya disesuaikan dengan tingkatannya. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu sekolah mereka mengangkat tema mengenai Mesir (Egypte). Jadi selama beberapa minggu para guru memberikan semacam pemaparan mengenai kebudayaan Mesir kepada muridnya, mengajarkan mereka menulis nama sendiri dalam huruf hieroglyph, bagaimana mummy dibuat, kemudian membuat berbagai macam prakarya bertemakan Mesir. Sementara di tahun lainnya mereka belajar tentang pelukis terkenal dari Belanda – Vincent van Gogh. Mereka belajar tentang riwayat hidup sang pelukis dan juga membuat prakarya yang terinspirasi dari karya-karyanya van Gogh. Tahun ajaran yang terakhir kemarin (2017 – draft ini udah bersemedi lama di WP saya ibu-ibu🀣) anak-anak belajar tentang tema “fairy tales” (sprookjes). Setelah selama beberapa minggu anak-anak belajar dan membuat prakarya, di pekan terakhir project sekolah akan mengadakan yang namanya “cultuuravond” atau malam kebudayaan di mana hasil prakarya anak-anak yang sudah dibuat dipamerkan di kelasnya masing-masing dan para orang tua (atau kakek, nenek dan para kerabat lain) diperbolehkan untuk berkunjung dan ikut melihat karya-karya mereka.

piramida dan mummy kucing hasil karya para murid grup 4

potret diri dalam bentuk lukisan dan nama murid dalam huruf hieroglyph.

De Week van De Lentekriebels.
Program lain yang menurut saya menarik adalah “De Week van De Lentekriebels.” Secara harfiah, lentekriebels berarti “spring fever” atau demam musim semi. Tapi de week van de lentekriebels di sini sedikit berbeda pengertiannya. Mungkin lebih kepada arti kiasan dari istilah ini sendiri ya. De week van de lentekriebels merupakan satu proyek mingguan yang diselenggarakan secara nasional (di seluruh basisschool/sekolah dasar di Belanda) dimana pada minggu ini para murid (anak-anak) mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk hubungan/relasi dan seksual (jenis kelamin). Anak-anak ini diberikan pengertian mengenai perkembangan seksual mereka, perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana seorang bayi lahir, penghargaan/respek terhadap pilihan dan perbedaan tiap individu, dan belajar untuk hidup bersama dengan suasana yang aman dan nyaman. Tiap grup diberikan penjelasan dengan bobot yang berbeda-beda, dan menggunakan bahasa dan contoh yang cukup menarik dan mudah untuk dimengerti.

Schoolfruit.

Di lain waktu (seperti 2 tahun ajaran sebelumnya), setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis selama kurang lebih 20 minggu sekolah menyediakan buah-buahan (dan kadang sayuran seperti paprika atau wortel) untuk diberikan kepada anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan program EU-Schoolfruit, yang bertujuan untuk menstimulasi anak-anak untuk lebih sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur. Intinya si supaya anak-anak mengkonsumsi sesuatu yang sehat. Selain itu juga biasanya akan diadakan semacam kompetisi di mana anak-anak harus membuat sesuatu sekreatif mungkin dari buah-buahan.

Sportsdag.

Setiap tahunnya, sekolah juga mengadakan yang namanya sportsdag. Di satu hari ini mereka (seluruh grup – mulai dari grup 1 sampai groep 8) ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga – sebagian besar cabang-cabang atletik – yang sudah diatur oleh para guru (dibantu orang tua murid juga). Dengan adanya kegiatan ini otomatis anak-anak harus berada di luar ruangan, berbaur dengan anak-anak dari groep dan kelas lainnya, dan juga aktif bergerak sampai waktu pulang tiba (biasanya dari jam 8.30 sampai dengan waktu pulang sekolah – yaitu sekitar jam 14.30).

Techniek

Yang saya suka juga dari kurikulum yang diajarkan di sekolah dasar di sini adalah banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan teknik. Teknik di sini mungkin bisa lebih diartikan ke praktik ya. Misalnya, kegiatan membuat mainan (binatang) dari kayu, melukis dengan menggunakan berbagai macam kanvas dan pewarna, membuat perahu dari karton susu bekas, membuat “puppet show” beserta panggungnya, atau membuat binatang dari buku bekas. Intinya bukan cuma belajar membaca dan berhitung, mereka juga diajarkan dan dilibatkan untuk membuat sesuatu yang menjadi hasil karya mereka sendiri.

Outdoor Learning dan Kunjungan ke Perpustakaan dan tempat-tempat khusus.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ajaran, selain anak-anak hampir setiap tahunnya memiliki jadwal belajar-mengajar di luar ruangan, atau juga dalam bentuk kunjungan kegiatan ke tempat-tempat tertentu seperti kunjungan ke Museum Sepatu dan Kulit yang kebetulan lokasinya ga begitu jauh dari lokasi sekolah, atau kunjungan ke kebun binatang khusus reptil, juga jalan-jalan ke hutan dan de Loonse en Drunense Duinen untuk belajar tentang alam.

Muziekproject.

Pada project ini anak-anak akan diperkenalkan kepada berbagai macam instrumen musik, seperti misalnya alat musik tiup, petik dan perkusi. Dua tahun lalu sewaktu anak gadis saya masih duduk di Groep 6 diperkenalkan dengan alat musik tiup, seperti terompet, saxophone, tuba dan klarinet. Mereka diperbolehkan untuk mencoba alat musik tersebut secara bergantian. Di waktu lain mereka diperkenalkan dengan sambuca, tamborine dan gendang.

Di tahun terakhir basisschool (atau group 8), anak-anak dari group 8 wajib ikut serta dalam drama musikal yang khusus dipersembahkan untuk para orang tua murid sebagai ungkapan terima kasih. Selain itu mereka juga akan melaksanakan kemping selama 3-5 hari. Tahun ini anak saya yang pertama akan sibuk dengan dua kegiatan tersebut (selain tentu dengan pemilihan sekolah selanjutnya dan juga ujian-ujian akhir tahun ajaran).

Ngomong-ngomong soal ujian, walau ada aja kontroversi, di sekolah anak saya juga tiap semesternya dilaksanakan yang namanya ujian. Ini sebenernya lebih kepada tes kemampuan si anak, sampai sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang sudah diajarkan oleh guru mereka. Ujiannya dikenal dengan nama CITO toets (kepanjangan dari Centraal Instituut voor Toets Ontwikkeling). Bentuk ujiannya sendiri cukup simpel, subyek yang diuji setau saya adalah kemampuan berhitung (rekenen), kemampuan membaca dan menganalisa (spelling en technisch lezen, dan begrijpen lezen; ).

Untuk group 8 sendiri juga ada yang namanya ujian akhir atau eindexamen. Pihak sekolah diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk memilih dari beberapa metode ujian akhir untuk diterapkan bagi para muridnya. Jadi selain dari hasil rapport mereka tiap tahun, hasil ujian akhir juga akan menjadi masukan bagi para guru/wali kelas untuk menentukan ke program/jurusan mana si murid bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat middelbare.

Catatan:

Tulisan ini ditulis pertama kali tahun 2015 πŸ˜‚. Berhubung belum yakin dan informasinya terasa kurang, ngendaplah dia sebagai draft selama beberapa tahun. Setelah disesuaikan sedikit sana sini, akhirnya berani juga posting hehe. Mohon maaf apabila informasinya terasa kurang atau ga update ya. Feel free to ask or sharing some thoughts on the comment section!☺

Advertisements

Cerita Malam Tahun Baru.

Image via pixabay.

Youth is when you’re allowed to stay up late on New Year’s Eve. Middle age is when you’re forced to.
~ Bill Vaughan.

Sepanjang tiga puluhan tahun dalam hidup saya, walo sebagian besar pergantian tahun ini terlewati dengan suksesnya (baca: tidur πŸ˜‚), ada lah beberapa kali saya ikut merayakan lucu-lucuan dengan teman dan keluarga. Macem-macem perayaan tahun baru yang pernah saya alami yang saya inget antara lain:

  • Keliling ikutan para tetangga komplek pawai ke bunderan HI (walo ga sampe karna keburu kejebat macet!)
  • Ngerayain bareng temen SMA di sekitar bintaro (ada petasan nyasar ke kolong mobil temen saya haha)
  • Bakar-bakaran (ayam, jagung) bareng keluarga di rumah
  • Bakar-bakaran ayam beserta kawannya bareng tetangga komplek di rumah tetangga
  • Itikaf (ato muhasabah ya) di Mesjid Raya Pondok Indah bareng temen
  • Nginep di UGD karna kena DBD
  • Tahun baruan bareng temen kuliah di rumah temen di Sentul (bareng keluarga dia dan temen-temen adeknya)
  • Tahun baruan di Pisa, Italia bareng temen (sambil parno takut dilemparin kembang api sama warga setempat)
  • Tahun baruan di Singapura (walo cuma di kamar hotel doang wkwkwk)
  • Tahun baruan di Kuta, Bali bareng pacar waktu itu (dan kena apes karna jidat ketimpuk sisa petasan dooong)

Nah untuk malam tahun baru selebihnya ya itulah, either saya kebablasan tidur, ato ga nonton tipi ikut countdown di rumah aja hihi.

Pas pindah ke Belanda pun saya dan suami ga pernah bener-bener spesial ngerayain tahun baru. Ga pernah kita secara khusus pergi ke satu tempat ato event buat ngerayain tahun baru. Paling kita cuma beli champagne (pasca hamil saya ga bisa minum lagi, alergi!) dan snack-snack gitu aja. Trus pas pukul 00:00 kita toast, trus buka jendela deh liat pemandangan petasan dan kembang api di sekililing kita. Lumayanlah ga pake dingin, aman dan gratis hihi (emak pelitπŸ˜‚).

Pergantian malam tahun baru kemarin anak-anak spesial request buat nonton The Nun bareng dong πŸ˜‚. Baru tahun ini mereka kami perbolehkan begadang sampai jam 12 malam. Sebelum-sebelumnya paling mereka kami bolehin untuk stay satu jam lebih lama dari waktu tidur mereka (si kecil mah tetep tidur sesuai waktunya). Kami mulai nonton agak telat setelah saya dan suami beres bikin kue. Anak-anak malah becanda dan ngakak-ngakak dong pas liat hantunya the Nun zz. Mungkin juga karna udah banyak meme-nya ya, tapi menurut saya emang The Conjuring jauh lebih horor dari the Nun.

Salah satu ciri khasnya malam tahun baru di sini: olie/krentebollen πŸ™‚

Btw balik ke quote yang saya tulis di atas, bener banget ya kalo stay late until midnight itu buat anak-anak sangat menyenangkan (walo banyakan ga sukses alias bablas ketiduran haha). Dulu pas masih kecil saya seneng banget kalo nyokap sama alm. bokap ngebolehin kita begadang ikut nunggu detik-detik pergantian tahun. Biasanya kita ketiduran di depan TV si haha, tapi tetep aja rasanya excited banget. Trus ujung-ujungnya kebangun pas jam 2 pagi cuma buat pindah lokasi tidur abis itu lanjut zz sampe pagi hahaha.

Recipe: Chicken Schnitzel – Kids’ Favorite

Having three children at home sometimes makes my cooking life a bit more complicated. Sometimes one kid will this, yet the other one prefer that, and the other other one will something else. Luckily, they all are agreed to this one particular food. It didn’t come easy. Before I found this recipe (which I will write down here), I’ve tried several formulas I found on internet. From the original one to one made by famous chefs. The result was mostly not that satisfying. Either its too “herb-y” or not fit to their taste.

One day I decided to make some modification on a recipe and added some things while ommit others. The result? They like it alot πŸ™‚ Usually I combined the schnitzel with mashed peas (Gordon Ramsay’s recipe) and potato fries or mashed potatos.

Without further a do, here is the recipe.

Chicken Schnitzel (3-5 portion)

Ingredients:

  • + 300gr chicken fillet (I prefer thigh but breast is also OK)
  • + 30gr all purpose flour
  • + 100gr (or more when needed) Bread crumbs (fine version, not the one used for tempura)
  • 2pcs eggs
  • 2 tbsp milk
  • Salt
  • Pepper
  • Chilli powder (optional)
  • Lemon (optional)
  • + 20gr Parmesan cheese
  • + 1 tsp oregano

Method:

  1. Cut the chicken fillet into 4, and then pound the chicken (using a meat pounder) until the thickness of the meat is even – approx. 0,5-1cm thick (I usually use a double cling wrap and put the meat in between to make it less messy and easier to season afterwards).
  2. Season the pounded meat with enough salt and pepper on both side, and optionally, drizzle the meat with a bit of lemon/lime juice. Set aside for at least 30 minutes before we start on doing the coating.
  3. For the coating, prepare three deep board or bowls. First one is for the flour (added with salt, pepper and chilli powder (optional)), the second one is for the battered egg (mixed with the milk), and the third one is the crumb coating (mixed with the grated parmesan cheese, oregano, salt, pepper, and chilli powder).
  4. Preheat the oil in a pan using medium heat. And then prepare the schnitzel accordingly.
  5. Pat the prepared (chicken) meat using kitchen towel/paper. Then coat the meat with accordingly: the flour, the battered egg, the crumb, back again to the egg, and then lastly to crumb coating. Optionally, if you prefer less thick coating you can skip the redundan coating (the extra coating with the egg and the crumb). But do check whether the whole meat is completely coated or not! This is important to make sure that the meat won’t dry out (overcooked) when we fry them in the pan. Also don’t forget to pat the crumb (a bit) so that they would stick to the meat.
  6. Fry the chicken in the frying pan (I used a large diameter pan because then I can put two pieces of the coated meat on one time frying, thus more sufficient 😁). Make sure the meat is covered with the oil (at least on one side), and look carefully on the contacted side. When it already look brown, flip it and then press the cutlet with your spatula (especially in the middle side – to make sure that the cutlet receive the heat evenly). When necessary, you can repeat this process again (flipping the cutlet) until you reach the golden brown you desired.
  7. When the cutlet has reached the desired color, take it out from the pan, and drain the schnitzel using a paper towel (when I’m too lazy or in a hurry, I skip this one 😁)
  8. Your chicken schnitzel is ready to be served.

As for Gordon Ramsay’s mashed peas recipe, it’s really as simple as one two three. Melt the butter in a pan, throw and the diced red onion until cooked (regular onion would do as well), put in the (defrosted) peas, mash them with your spatula, add salt and pepper to taste, your mashed peas is done and also ready to be served πŸ™‚

This is how they looked on my plate (the waffle fries are kant-en-klaar a.k.a ready to fry🀣)

Goodluck and have a nice day people!

Summer Trip ke Cinque Terre.

Salah satu tempat yang menjadi destinasi kami sewaktu liburan musim panas kemarin adalah Cinque Terre yang berlokasi di regio Liguria, Italia. Udah pada tau pasti dong ya kalo Cinque Terre atau secara harfiah berarti “lima desa” adalah deretan lima desa di bagian barat laut Italia yang termasuk dalam daftar warisan dunia-nya UNESCO. Kelima desa ini adalah Monterosso al Mare, Vernazza, Corniglia, Manarola dan Riomaggiore.

Sebenernya agak gambling juga kami mutusin untuk mampir ke sana, karna selain tau bakal banyak naik-turun medannya (gak banget buat anak yang masih pake buggy deh), Italia juga terkenal dengan “hot summer” alias cuaca panas yang menyengat selama musim panas. Banyak orang Eropa yang menghindari untuk berkunjung ke Italia di bulan Juli-Agustus.

Saya kebetulan pernah menulis tentang rencana perjalanan summer kami di sini dan kebetulan banget Deny yang udah pernah ke Cinque Terre baca postingan itu trus kasih info yang berguna banget buat kami mengenai di mana sebaiknya kami menginap kalo kami beneran jadi ke Cinque Terre. Jadi rencana semulanya kan kami akan menginap di Monterosso al Mare – yang merupakan desa “terbesar dan paling feasible dari sisi konturnya (apasih πŸ˜‚)” dari kelima desa tersebut. Tapi saya sebel. Harga penginapan di sana bukan main tingginya. Bisa jadi karna selain memang hot destination (semua pada mau ke sana kayaknya deh!), waktu kami ke sana masih termasuk high season (apalagi di Italia baru mulai liburan musim panas di bulan Agustus). Beruntung banget Deny kasih saran kalo mendingan kami nginep di salah satu kota terdekat sebelum si Cinque Terre ini, yaitu La Spezia. Kata dia harga penginapannya jauh lebih masuk akal dan akses ke Cinque Terre-nya pun gampang.

Berdasarkan info ini saya pun mulai geser browsing tempat nginep ke sana, dan benar apa yang dikatakan Rudy eh Deny (jayus lagiπŸ˜‚ inget iklan ini gak? iya, saya udah tua -_-). Harga penginapannya jauhh lebih murah siiis! terutama kalo dibandingin sama penginapan-penginapan di lima desa itu ya. Dari sekian banyak yang masuk di list pencarian, akhirnya kami pilih satu apartemen yang kalo di foto keliatan kece banget, dan dari review score-nya nyaris 10.

Kami menuju ke La Spezia menggunakan kereta api cepatnya Italia “freccia bianca” dari stasiun Roma Termini. Kebetulan rutenya direct jadi kami ga perlu ganti-ganti kereta lagi sampe stasiun La Spezia. Jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih 3 jam, dengan pemandangan yang cukup bikin mata cerah (banyak pemandangan pinggir lautnyaaa).

Stasiun La Spezia sendiri termasuk kecil. Begitu sampai di sana, kami harus jalan kaki kurang lebih 500 meter ke tempat kami menginap (bisa juga naik taksi sih, tapi kalo liat petanya kayanya deket banget). Ternyata oh ternyata, lokasi yang keliatannya deket harus kami tempuh dengan naik turun dong hahaha. Dan kami waktu itu bawa bayi beserta buggy-nya, satu koper gede, satu koper kecil plus dua backpack. Emang ya, traveling dengan tiga anak dan traveling tanpa buntut itu jauh beda rasanya. Tapi yang jadi tantangan terberat itu sebenernya adalah cuaca yang masya Allah banget deh menyengatnya. Beruntung anak-anak saya bukan yang tukang ngeluh. Selain gembol si backpack, mereka juga kadang bantu kami narik/dorong si koper atau si bayi. Begitu sampe apartemennya tuh rasanya lega banget hahaha. Selain ada AC-nya (yay!), apartemennya lumayan sesuai dengan ekspektasi kami. Selain itu, si pemilik apartemennya pun ramah dan helpful ke kami.

Kami sampai di La Spezia udah lumayan sore dan kami putuskan buat langsung belanja kebutuhan untuk sarapan. Selesai belanja (dan sedikit liat-liat kotanya), kami kemudian pergi ke restoran yang direkomendasikan oleh si pemilik Apartemen untuk makan malam.

La Spezia sendiri menurut saya lumayan menarik, walau mungkin cukup sebagai tempat persinggahan aja (bukan sebagai destinasi utama). Lokasi kota ini termasuk strategis karna selain punya jalur khusus ke Cinque Terre di stasiun kereta apinya, dari pelabuhannya kita bisa mengunjungi beberapa destinasi wisata yang lebih dikenal orang macam Portofino atau tentu si Cinque Terre.

P1070877.JPG

Restoran yang kami kunjungi ini adalah semacam pizzeria/trattoria gitu. Sewaktu kami makan di sana ga gitu banyak yang makan di tempat, tapi saya lihat banyak yang order take away. Pilihan menunya ga gitu banyak, dengan tentu yang dominan adalah pizza dengan berbagai variasi topping. Pizza yang mereka sajikan ini menurut saya lumayan enak loh. Cuma saya baru paham kalo di sana restoran baru buka jam 19.00 wkwk. Mereka terbiasa makan malam lebih telat daripada orang-orang di Belanda kayanya (ato setidaknya kami haha).

Besok paginya setelah sarapan kami pun langsung pergi menuju stasiun kereta. Ada dua pilihan untuk pergi ke Cinque Terre, yaitu via kereta api atau menggunakan ferry. Menurut kami kereta api adalah cara yang paling praktis (karna memiliki jadwal keberangkatan yang lebih banyak) dan kami juga khawatir kalo anak-anak akan mabuk laut kalo kelamaan berada di kapal ferry. Oleh karna itu kami menggunakan kereta api untuk bolak balik ke La Spezia.

Desa terdekat dari stasiun La Spezia adalah Riomaggiore yang dengan kereta api ditempuh dalam waktu sekitar 9 menit. Untuk tiketnya sendiri kita bisa beli langsung di mesin tiket yang tersedia di stasiun atau beli secara online di situs resmi taman nasional Cinque Terre atau di situs kereta api resmi Italia.

Berdasarkan pada pengalaman kami kemarin, satu saran saya adalah sebaiknya sebelum pergi beli tiket dahulu secara online. Bukannya apa-apa, mesin tiket yang tersedia di stasiun sangat terbatas dan kalo pas rame kita harus antri lumayan lama sebelum dapet tiketnya yang ujung-ujungnya bisa bikin kita jadi ketinggalan kereta (bear in mind, kebanyakan yang ada di situ adalah turis dan mereka bisa jadi ga bisa bahasa Italia dan ga gitu paham sistem yang ada di mesin tiket itu).

Satu lagi, di situs resmi taman nasional Cinque Terre ditawarkan semacam pass/kartu akses yang memperbolehkan si pemegang kartu untuk masuk ke area taman nasional termasuk jalur hiking-nya, dan penggunaan wifi plus shuttle bus yang bisa mengantarkan sampai ke titik tertentu. Selain itu mereka juga menawarkan pass yang juga termasuk full access ke kereta api di jalur Levanto – Cinque Terre – La Spezia ini selama satu sampai tiga hari (tergantung jumlah hari berlaku yang kita pilih).

Kami sendiri sebelumnya mikir kalo akan gampang buat beli tiket di stasiun aja. Pertimbangannya? Karna kami pikir ga akan rame-rame banget mengingat suasana sewaktu kami sampe di stasiun sehari sebelumnya yang cukup sepi. Ternyata perkiraan kami meleset jauh. Sewaktu kami sampe sana ternyata di setiap mesin udah panjang banget antriannya. Antrian yang sama panjangnya juga keliatan di Cinque Terre information office-nya. Ditambah salah satu anak saya yang tiba-tiba mimisan (karna cuaca dan memang dia cukup sering mimisan), kami pun mulai spanning hahahaha. Stress karna selain ga punya tiket, udara panas, anak mimisan pula. Setelah beres sama mimisan, kami pun nyoba beli tiket secara online. Kami pilih yang kombinasi taman nasional plus kereta (Cinque Terre Rail Card) dengan alasan lebih kepada sisi praktisnya. Alhamdulillah setelah gagal beberapa kali akhirnya kami sukses membeli tiket pass ini.

Udah saya bilang kan yaa kalo di stasiun udah numpuk orang yang juga mau pergi ke Cinque Terre. Suasananya ini ngingetin saya sama suasana nunggu kereta api di stasiun Sudirman pas jam pulang kerja sodara-sodara. Ampe segitu padetnya. Sewaktu kereta dateng hampir semua pada berebutan naik. Udah hampir dipastikan kalo kita ga bakalan dapet seat lah pokonya. Berdiri sempurna aja udah alhamdulillah wkwkwk. Mana kami bawa si kecil beserta buggy πŸ˜‚. Beruntung kami masih lumayan dapet posisi berdiri yang enak dan kereta apinya walaupun dari luar keliatan memble dalemnya pake AC (macem KRL ekonomi AC gitulah).

Kami turun di desa pertama yaitu Riomaggiore. Kalo menurut saya Riomaggiore ini adalah desa yang terindah dari kelima desa. Well, a bit unfair mungkin ya, karna jujur saya ga singgah ke Vernazza dan Corniglia. Kami stay paling lama dan eksplor paling lama di Riomaggiore ini. Dengan kekuatan bulan (bapaknya dorong buntelan buggy plus bayi) kami sukses berkeliling mendaki bukit menuruni lembah sampe hampir sampe ke desa sebelah si Manarola. Berhubung kami takut nyasar (kami ga rencana hiking kali), kami pun lanjut jalan kembali menuju ke stasiun kereta Riomaggiore.

20180804_113313290710370-e1543844116995.jpg

Pertama sampe, saking haus akan kesegaran kami langsung beli strawberry di toko ini πŸ˜‚

P1070884

Riomaggiore

P1070901.JPG

P1070910

Gereja dilihat dari atas bukit.

Pemandangan si sekitar stasiun kereta dilihat dari kejauhan. Bagus ya!

Kami makan siang di salah satu restoran yang ada di sana. Nama restorannya Il Maggiore dan kalo saya liat review-nya di google termasuk jelek ratingnya. Kalo berdasarkan pengalaman sendiri menurut saya mereka oke-oke aja deh. Kami kebetulan ga pesen pizza-nya (yang rata-rata di-complain di review). Waktu itu suami pesen foccacia dan saya dan anak-anak pesen pasta. Untuk pastanya sendiri dua-duanya lumayan enak, tapi yang jadi highlight buat saya adalah si foccacia-nya. Simpel dan enak!

20180804_132413858931694.jpg

Fettucini mushroom

20180804_1324172108582837.jpg

Foccacia bread with mozarella and pesto sauce. Yum!

Sebelum lanjut jalan, karna saya penasaran sama seafoodnya yang memang jadi ciri khas di wilayah ini akhirnya saya pesen fried squid/calamari campur anchovies juga di tempat makan berikutnya dong hahaha. Dan rasanya memang top deh. Emang ya seafood itu kalo fresh cukup dimasak simpel, pasti enak.

Fried Calamari and Anchovies. Yum!

Kami sempet berpikiran kalo mungkin pas kami kembali ke stasiun di sana ga akan begitu rame seperti sebelumnya. Ternyata perkiraan kami salah. Sesampainya kami di stasiun ternyata kerumunan yang ada keliatan jauh lebih banyak dari sewaktu kami di La Spezia. Bisa jadi karna stasiunnya lebih kecil dan posisi peron yang sebagian ada di terowongan dan cuaca yang makin bikin mateng, jadi orang lebih terkonsentrasi berdiri di tempat tertentu.

Kebetulan kami ikut nunggu di bagian terowongan dan karna ga gitu banyak orang yang nunggu di situ, kami beruntung bisa dapet duduk begitu kereta dateng. Karna melihat kondisi yang gila-gilaan gini jumlah orangnya kami pun mutusin untuk skip turun di desa berikutnya dan lanjut terus sampa ke desa terakhir dari kelima desa yaitu Monterosso al Mare.

Begitu sampe di Monterosso al Mare, kami agak sedikit shock ngeliat jubelan orang di sepanjang pantai hahaha. Emang kan dari segi kontur Monterosso al Mare menang dalam urusan pantai. Bentuk pantainya lebih feasible dan memungkinkan buat orang-orang untuk bisa berjemur atau berenang di sana. Kalo di desa lain walau ada aja yang nekat, kondisi alamnya jauh lebih sulit untuk diakses atau untuk tempat berenang.

Cendol di Monterosso al Mare πŸ˜‚

Setelah melihat kondisi yang rame banget, ditambah cuaca yang makin nyengat panasnya, kami jadi agak males mo ke sekitar pantai. Akhirnya kami cuma jalan di sepanjang boulevard aja, sambil nyari lokasi dermaga dan tempat beli tiket ferry. Suami bilang supaya anak-anak juga nambah pengalaman kita akan naik ferry untuk hop on hop off dari Monterosso al Mare ke desa lain yang terdekat. Karena anak saya yang paling besar gampang mabuk, jadi kami putusin untuk berhenti di satu desa di tengah-tengah, kemudian lanjut lagi dengan kereta buat kembali ke La Spezia.

monterosso al mare 1.jpg

P1070976.jpg

P1070988

Suami awalnya usul untuk berhenti di Vernazza aja kemudian dari situ kita jalan ke stasiun kereta kemudian pulang ke apartemen. Saya mikir mending sekalian berhenti di Manarola karna dari situ udah ga gitu jauh lagi dari La Spezia dan desa ini konon punya view yang paling indah (banyak foto di internet kalo nyebut Cinque Terre yang keluar ya desa ini – salah satu foto desktop saya juga fotonya desa ini nih hehehe). Suami akhirnya ikut apa yang saya bilang dan kami pun naik ferry sampe ke Manarola.

Nyantai di pinggir dermaga sambil nunggu kapal berangkat.
P1080028.JPG

nemu krat nganggur, dia dorong trus masuk deh ke dalemnya wkwkwk

Bersyukur kami cuma sampe Manarola deh. Anak saya bener aja hampir ga kuat dan mulai agak mabok pas kami mau turun. Goyangannya emang agak lumayan (walau saya pernah naik ferry dengan gelombang jauh lebih parah). Pas kami mau turun dari kapal nih ya, antrian penumpang yang mau naik ke ferry udah mengular dong. Mana jalur keluar dari (mini) dermaganya sempit, sampe-sampe kami beberapa kali harus gantian jalannya. Pokonya karna kondisi begitu kami udah kehilangan semangat menjelajah lah dan akhirnya langsung menuju ke stasiun buat nunggu kereta kembali ke La Spezia.

Ada beberapa highlight yang perlu saya sebut juga dari perjalanan ke Cinque Terre kemarin. Yang pertama saya bersyukur ga jadi ambil penginapan di salah satu desa Cinque Terre. Saya liat banyak turis yang keliatan kepayahan dan ribet harus geret-geret koper sambil jalan menanjak dan menurun karna kontur desa-desa di Cinque Terre yang memang naik turun berbukit. Yang kedua yaitu alhamdulillah banyak keran air atau tap water yang tersebar di beberapa lokasi (hiking trail) di setiap desa yang kami kunjungi. Jadi walaupun panas terik menyengat ga usah khawatir dehidrasi karna kekurangan air deh. Makanya penting banget untuk bawa botol yang bisa diisi ulang. Yang terakhir, saya pikir saya udah nekad maksa pergi ke sana walau gambling dengan kondisi anak-anak dan si kecil yang masih perlu pake buggy. Tapi yaaa ternyata di sana banyak pengunjung yang juga bawa bayi dan toddler dooong. Okelah kalo toddler ya karna kan mereka ga gitu tergantung banget sama stroller, lah ini bayi loh. Bayi yang umurnya belum satu tahun, yang stroller-nya segede-gede apa tau. Ga kebayang deh orang tuanya susah payah harus gotong-gotong stroller, plus kasian banget si bayi yang mungkin kegerahan dan kepanasan karna cuaca yang nyengat. Yah, mungkin mereka memang niatnya mau latihan kekuatan kali ya makanya tetep pergi walo ada bayi πŸ˜€

p1080107-02297273757.jpeg

Corniglia taken from the ferry

Vernazza taken from the ferry

Well, overall it was still a nice (although tiring) visit for us. Bersyukur anak-anak ga ngeluh banyak sama keadaan (kebayang kan gimana tantangannya buat mereka). Mereka terlihat tetep menikmati perjalanan walo kondisinya kurang ideal. Tapi, seandainya kami tau kalo kondisinya akan serame kemarin mungkin kami akan skip Cinque Terre dan memilih untuk pergi ke lokasi lain aja. Bukannya ga suka sama Cinque Terre loh ya, cuma kami bukan keluarga yang begitu suka dengan keramaian. Mungkin di waktu yang akan datang kami akan pergi ke sana lagi, tapi yang jelas ga akan pergi di musim panas kaya kemarin lah 😁

Schoen zetten, Sinterklaas, dan Pakjesavond

Hampir tiga tahun lalu saya pernah nulis sedikit cerita tentang Sinterklaas di sini. Kali ini saya mau share tentang apa aja yang anak-anak buat selama periode Sinterklaas kali ini. Jadi walaupun kami gak merayakan beneran, tapi di rumah kami juga tetep heboh dan semangat kalo Desember mulai mendekat. Buat saya (dan suami serta anak-anak), Sinterklaas beserta pernak-perniknya lebih kepada tradisi yang ada di Belanda, bukan dari segi religi.

Mengulang sedikit, kalo dalam ceritanya anak-anak, Sinterklaas beserta para asistennya (Piet Hitam) datang dari Spanyol ke Belanda menggunakan kapal uap. Mereka dateng ke sini untuk bagi-bagi kado buat anak-anak yang selama setahun udah bersikap baik alias gak nakal. Kalo mereka nakal ga akan dapet kado dari Sinterklaas. Sinterklaas beserta rombongannya tiba di Belanda di sekitar awal bulan Nopember. Biasanya akan ada intocht atau pawai Sinterklaas di tiap kota yang menandai kedatangan si Sinterklaas ini. Pas pawai kemarin kami kecepetan ke centrum-nya. Ujung-ujungnya karna kelamaan nunggu trus si kecil udah masuk waktu tidur akhirnya kita pulang ke rumah persis pas pawai baru mulai 😁

Nunggu pawai sambil foto-foto πŸ˜‚

Begitu Sinterklaas ada di Belanda, dimulai deh tradisi schoen zetten. Anak-anak akan bikin semacam prakarya yang kemudian ditaro di sepatu mereka yang diletakkan di depan pintu (atau di depan perapian kalo di rumah ada) dengan harapan besoknya si prakarya akan berganti (ditukar dengal) hadiah (kecil). Kadang mereka juga memasukkan wortel, gula atau jerami ke dalam sepatu untuk kudanya Sinterklaas – Amerigo.

Di rumah kami kegiatan schoen zetten ini udah berlangsung sejak dua minggu yang lalu. Anak saya yang paling besar awalnya udah males untuk bikin-bikin sesuatu buat schoen zetten, sementara adik-adiknya masih semangat bikin. Rencana mereka semula adalah sehari bikin sehari ngga, tapi karna seneng dapet kado walo cuma yang kecil-kecil aja akhirnya berubah jadi setiap hari. Tinggal mama papanya yang pusing ngumpulin pernik-pernik kado buat ditaro ke dalem sepatu buat dituker sama prakarya mereka hahaha.

Yang paling seru sebenernya adalah anak saya yang paling kecil. Kalo tahun sebelumnya kakaknya yang cewek tiap kali ikut bikin gambar buat ditaro di sepatu si kecil (dan juga jadi bisa buka kado dua kali – punyanya dia dan punya adiknya πŸ˜‚), kali ini untuk pertama kalinya si kecil bikin prakarya sendiri (yang hampir sebagian besar coret-coretan doang wkwkwk), ikut masukin si prakarya ke sepatu, ikut ambil si kado dari sepatu dan kemudian buka kadonya sendiri.

Di sekolah mereka juga mengangkat tema Sinterklaas untuk aktivitas di sekolah. Misalnya group peuterspeelzal si kecil. Minggu kemarin mereka membuat prakarya wortel dan sepatu, sementara minggu ini mereka sibuk membuat zak Sinterklaas beserta gambar kado yang dipengen (semacam wishlist lah ya).

Kalo kakak-kakaknya si kecil kemarin diminta untuk membuat yang namanya “surprise”. Intinya si anak diminta untuk membuat semacam display/packaging yang extravagant (ukuran jumbo) berdasarkan petunjuk (hint) yang dikasih oleh nantinya yang akan nerima. Mereka diacak dan ga tau siapa bikin buat siapa. Kadonya sendiri si sebenernya cuma kado kecil (tahun ini harga maksimal untuk kado aslinya adalah €3). Jadi seru karna mereka ga tau apa yang akan mereka dapat hehe.

Het worteltje in het schoentje voor Amerigo (wortel di dalam sepatu untuk Amerigo) – prakarya fabian di sekolah

De zak van Sinterklaas – karungnya Sinterklaas (gambar kadonya dipilih sendiri oleh si kecil πŸ˜‚)

Kalo ini adalah hasil prakarya anqak-anak untuk schoen zetten

Schoen zetten ini akan berakhir pada tanggal 4 Desember malem, karna tanggal 5 Desember ceritanya adalah malam terakhirnya Sinterklaas di Belanda dan pada malam itu Sinterklaas akan bagi-bagi kado untuk anak-anak yang selama setahun udah berperilaku baik. Malam ini disebut juga dengan Pakjesavond ato secara harfiah berarti “malam kado”. Biasanya sebelum pakjesavond anak-anak akan bikin semacam wishlist kira-kira apa aja yang mereka pengen pas pakjesavond nanti. Makanya kado-kado yang mereka dapet biasanya adalah mainan atau barang yang udah lama diidam-idamkan oleh si anak. Trus apakah anak-anak percaya kalo kadonya dapet dari Sinterklaas? Ngga lah ya hehehe. Mereka paham kalo yang beliin kado adalah mama papa sama omanya. Cuma kadang mereka belaga gak tau aja 😁 Kalo si kecil manalah dia ngerti, satu yang dia ngerti adalah dapet kado! Mau isinya satu buah krayon atau mobil-mobilan punyanya dia juga udah hepi hehe.

Btw kalo di rumah kami ga matok harus tanggal 5 Desember malem untuk ngadain pakjesavond. Biasanya kami sesuaikan aja dengan waktunya Oma dan Papa mereka (kalo saya kan hampir dipastikan bakalan ada di rumah 😁). Pernah juga pakjesavond tapi ngelaksanainnya pagi atau siang hehe, pernah juga malam sebelumnya, dan juga pernah karna deket dengan wiken kita ngadainnya pas wiken. Yang utama kalo buat anak-anak (terutama yang paling besar) adalah bisa secepatnya main dengan kadonya. Jadi buat mereka lebih cepat lebih baik hahaha (walo mereka juga ga mau kalo ga deket tanggal pakjesavond). Untuk tahun ini, karna si Oma udah dipantek sama keluarga adiknya suami saya pas tanggal 5 Nopember malam dan anak-anak prefer kalo pas bapaknya juga ada di rumah (tapi mereka juga mau main cepet-cepet sama kadonya πŸ˜…), jadi kami atur kalo anak-anak boleh buka satu kado pas rabu tanggal 5 besok, dan sisanya tanggal 6 malam supaya bisa kumpul bareng-bareng.

Jadi begitulah kira-kira cerita saya kali ini, semoga menghibur ya (apasih πŸ˜‹). Mohon maap kalo tulisannya ga sesuai aturan, saya lagi agak males ngedit (udah syukuur tulisan ini bisa terbit hahaha, secara draft saya udah numpuk akibat ribet sama ngeditnya plus mentok mulu di tengah jalan!)

Hari Pertama si Kecil ke Peuterspeelzal (Playgroup).

My little one’s first masterpiece 😁

Udah dari beberapa bulan yang lalu, tepatnya setelah anak saya yang paling kecil genap berusia 2 tahun, saya mulai sibuk cari-cari tempat untuk dia bersekolah. Walau mungkin di beberapa kota sedikit beda, tapi pada umumnya anak-anak di Belanda sudah boleh mulai sekolah setelah berusia 2 tahun. Mereka bisa ikut gabung di “Peuterspeelzal“. Peuterspeelzal ini bisa disamakan tingkatannya dengan playgroup. Jadi bukan sekolah beneran yang serius banget gitu hehe.

Kebetulan di lingkungan saya ini ada beberapa peuterspeelzal yang bisa saya pilih. Ada dua yang jaraknya kurang lebih 400 meter dari rumah kami, yang satu bergabung dengan Kinderopvang/Child Care (namanya De Carousel) dan salah satunya gabung dengan sekolah anak-anak saya lainnya (nama tempatnya De Vennerakkers). Kalo dari pengalaman temen-temen saya yang anaknya udah lebih dulu sekolah, biasanya kita (orang tua) harus daftar cepet-cepet (minimal setahun sebelumnya) supaya bisa masuk dalam waiting list-nya si sekolah. Bahkan ada orang tua yang udah daftarin anaknya sebelum tu anak lahir loh. Lah saya jadi agak jiper dong karna saya ga ikut-ikut daftarin si kecil dari jauh hari. Saya pikir ya liat aja dulu gimana kira-kira nanti perkembangannya.

Singkat kata saya pikir perlu lah dia ikut sekolah, pertimbangan saya yang utama adalah untuk mengembangkan kemampuan dia dalam bersosialisasi dan berbagi. Perkara dia ga bisa mulai langsung saya pikir pun ga masalah, karna anaknya toh juga baru 2 tahun (walo banyak juga yang nanya di sini kapan Fabian mulai sekolah).

Dari dua tempat yang terdekat dengan rumah, saya putusin untuk nyoba daftar di de Carousel. Pertimbangannya adalah takut yang satunya udah penuh (secara lokasinya gabung dengan sekolah dasar dan kebetulan juga waktu saya nyari info gimana daftar di situ ga nemu-nemu). Setelah sempet ga dapet kabar di satu waktu mereka telepon kami dan kasi info kalo untuk hari yang kami pilih ga bisa dan kalo kami setuju dipindah ke hari lain bisa tapi itupun belum tau kapan mulainya. Intinya kami harus nunggu kabar dari mereka.

Karna ga ada kepastian sayapun langsung coba browsing lagi kali aja ada pilihan tempat lain, dan ndilalah saya ketemu juga si website-nya Peuterspeelzal yang satunya lagi. Saya pun langsung coba daftar aja, mikir ya udah kalo mereka masih ada spot kosong alhamdulillah, kalo harus masuk waiting list pun kami gapapa.

Btw kalo di Belanda untuk biaya Peuterspeelzal ini ada beberapa cara yang intinya tergantung dengan kondisi kita/orang tua si anak. Kalo kedua orang tua si anak bekerja (dan memenuhi syarat-syarat lainnya), untuk iurannya dapet subsidi atau “toeslag” dari Pemerintah pusat Belanda (perhitungan biaya per jam-nya jadi lebih murah). Sementara kalo orang tuanya cuma salah satu yang kerja, maka biayanya ditanggung oleh orang tua. Si orang tua ini bisa juga dapet pengurangan biaya dan sebagian biayanya akan ditanggung oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat Kecamatan (kayanya 😁)). Tapi besaran biaya yang ditanggung ini juga bisa beda-beda per orang tua. Saya juga kurang tau gimana perhitungannya tapi intinya semakin besar pendapatan pertahun si orang tua, makin besar juga biaya yang harus dibayarkan pribadi. Untuk selisihnya Gemeente akan menanggungnya (kayanya dengan sistem reimbursement atau langsung dikurangi per bulan).

Untuk kondisinya kami, karna saya ga kerja otomatis kami ga masuk kualifikasi penerima subsidi/toeslag maka kami pun (mau ga mau) harus pilih biaya tanpa subsidi dari Pemerintah pusat. Untuk dapet bantuan dari Gemeente setempat kami harus menyerahkan pernyataan bahwa kami tidak memenuhi kualifikasi penerima subsidi (karna salah satu atau kedua orang tua ga kerja) dan harus melampirkan laporan pendapatan tahun sebelumnya.

Nah balik lagi ke cerita anak saya. Singkat kata ternyata emang udah jalannya juga kali ya. Dua hari setelah daftar di de Vennerakkers, saya dapet telepon kalo anak saya bisa mulai sekolah per tanggal yang saya isi di registrasi. Jadi persis seminggu setelah daftar (ini cepet banget loh itungannya!) anak saya udah bisa sekolah. Di hari rabu-nya kedua juf/guru yang in charge di kelas yang anak saya nantinya gabung dateng ke rumah kami sekalian untuk kasih beberapa info tentang Peuterspeelzal ini kepada kami, plus beberapa hal yang harus disiapkan untuk fabian di hari pertamanya. Begitu tau kalo udah definitif si bungsu minggu berikutnya mulai sekolah, saya-nya jadi deg-degan dong hahaha. Seneng campur deg-deg nyes lebih tepatnya. Maklum, pengalaman pertama sis hehe.

Sebelum masuk ke hari H-nya, hampir tiap hari saya coba ngobrol ke si kecil kalo dia Senin besok akan mulai sekolah, dan saya jelaskan juga kondisinya nanti kaya gimana, kalo nanti mama akan pergi sebentar, trus nanti dia sama ibu guru dan temen-temen lain, dan nanti mama akan dateng lagi jemput dia. Kalo pas diajak ngobrol anaknya itu kaya mikir beneran, makanya saya jadi rajin ngomongin segala kondisi yang kira-kira akan terjadi di depan, dan supaya dia jadi lebih siap.

Pas hari H kemarin tiba, suami saya juga ikut nemenin berangkat bareng (walau kemudian cuma sebentar di sana kemudian cus buat kerja). Anak saya seneng banget (jarang-jarang kan ya bisa sama Papa pergi ke sekolah). Begitu di ruang kelas, anaknya langsung ngibrit sendiri menuju ke tumpukan mobil-mobilan dong. Gak pake takut ato apalah, langsung main sendiri hahaha. Oke, first impression lulus ya. Impresi berikutnya adalah pas perpisahan dengan mama/papa. Jadi sebelum pisah, ibu guru akan memutar lagu perpisahan dan anak-anak diminta dansa bareng dalam bentuk lingkaran. Kemudian satu-satu mereka diminta untuk say goodbye (kasih peluk atau cium atau wave/melambai) ke mama/papa. Di bagian ini lumayan banyak anak-anak yang ga kuat trus nangis karna harus pisah sama mama/papanya. Trus anak saya? Dengan pede-nya say goodbye trus dadah-dadah aja gitu sama saya, kemudian sibuk sendiri lagi. Karna takut mungkin dia belum sadar kalo saya pergi, jadilah saya coba intip dari jendela. Pas saya intip itu ternyata anak saya aman alias ga keliatan takut atau kawatir ato lagi nangis dong. Duh hati saya lega liatnya, walo tetep kawatir akan dapet telepon dari sekolah karna tau-tau si fabian nangis atau apalah.

Perasaan tuh nunggu sampai waktunya jemput lamaaa banget. Padahal mah cuma tiga jam ajaaah. Di sela-sela waktu itu ternyata gurunya fabian sempet kirim foto ke suami saya. Di foto keliatan kalo dia lagi sibuk konsentrasi sama satu mainan. Dalam hati saya, alhamdulillah anaknya so far masih keliatan anteng. Aman dan kemudian saya berdoa semoga berlanjut sampe waktunya dijemput nanti hehe.

Pas waktu saya jemput, anaknya pun ga nangis dong! HoreeeπŸ˜„ trus dapet kabar dari gurunya kalo fabian untuk hari pertamanya did good! Ga nangis, buah yang dibawa dimakan sampe habis, cuma minumnya ga banyak, dan karna fabian pup di sekolah, ibu guru harus gantiin popoknya (udah diwanti-wanti sama saya tapi apa daya, anaknya belum dapet feel buat potty training-nya kayanya). Not bad for a 2-year-3-month-old-kid eh! Bahkan sepanjang jalan menuju rumah pun dia masih terlihat happy dan seperti biasa, menyebutkan nomor tiap rumah yang kami lewati sepanjang jalanπŸ˜…

I’m super proud of you boy. Hoping that you have more of happy and joyful days at school to come!

Our little brave one 😊

Screen Time buat Anak.

The fear of β€˜screen time’ is so deeply ingrained in our collective imagination that an irrational opposition between outdoor play and media consumption is taken for granted.”*

Mama and the kids during the previous summer holiday☺

Semenjak menikah dan harus ngurus dua orang anak (sekarang tiga), pertanyaan “am I being a good mom” lumayan sering menggelitik di otak saya. Bukannya apa-apa, saya yang sebelumnya ga punya buntut begitu menikah (alhamdulillah) dikasih kepercayaan (oleh Allah) bareng dengan suami membesarkan dua anak yang masih piyik sekaligus. Waktu itu sebelum mantap untuk say yes to get married kadang terlintas dalam pikiran, apa saya mampu, apa mereka akan bahagia dengan kehadiran saya, is everything going to be ok, dan lain lain yang intinya saya meragukan kemampuan saya sendiri. Bersyukur saya dapet full support dari suami (masih calon waktu itu mah) dan keluarga, dan dukungan terpenting datang dari kedua anak yang nantinya akan sekarang manggil saya mama.

Perkara meragukan diri sendiri ini juga muncul kalo saya abis baca postingan atau artikel orang tentang sesuatu yang berhubungan dengan bagaimana membesarkan anak yang baik, masalah orang tua yang terlalu sering sharing tentang anak-anaknya di dunia maya atau apa yang sebaiknya ga dilakukan oleh para orang tua, yah yang macem begitulah. Seperti masalah anak-anak dan akses ke TV dan internet (termasuk penggunaan gadget) yang suka juga disebut “screen time”. Banyak yang saya baca (juga yang cerita) kalo mereka yang punya anak kecil kebanyakan ga ngebolehin anak-anaknya nonton TV dan melarang penggunaan PC, tablet atau smartphone karna khawatir dengan konten yang ada. Sementara saya beserta suami? Di rumah ini saya dan suami termasuk yang lumayan longgar untuk hal ini.

Sejak saya hadir di rumah, selain rutinitas yang sudah berjalan, anak-anak setiap harinya kami biasakan untuk disiplin khususnya dengan waktu (well, dari sebelumnya juga udah si, cuma emang pas saya hadir sayanya yang paling cerewet hehe).

Jadi begini gambaran sehari-hari mereka. Untuk bangun pagi, setiap harinya (kecuali hari libur) anak-anak bangun jam 7 pagi. Setelah sikat gigi dan cuci muka, mereka kemudian sarapan, nyiapin bekal sekolah sendiri, main PC/tablet sambil nunggu waktu berangkat sekolah jam 8.15 (mereka ke sekolah jalan kaki). Sekolah dimulai jam 8.30 pagi dan selesai jam 14.30 siang. Sepulang dari sekolah mereka saya haruskan untuk istirahat sebentar. Jam 15.00 sore mereka baru boleh main dengan komputer atau tablet (karna sebelumnya sempet ribut gara-gara siapa yang boleh pake apa, jadi saya atur aja pemakaian PC dan tablet tiap sehari sekali gantian. Misal hari ini yang satu pake PC, besok dia harus pake tablet, begitu seterusnya). Biasanya kami makan malam sekitar jam 17.30 sore. Kalo udah waktunya makan malam, maka waktu main mereka pun berhenti. Setelah makan malam biasanya kalo cuaca pas bagus (dan langit masih terang) mereka akan keluar main sebentar. Kalo ngga, mereka akan nonton TV (mereka ga mau banget lewatin jeugdjournaal!). Kemudian jam 19.15 mereka naik ke atas untuk siap-siap mandi (kecuali kalo pas besoknya libur, mereka boleh stay sampe jam 19.30). Kalo pas mereka mandi di bathtub, kami batesin maksimal jam 20.15 udah di kamar mama papa. Kalo dulu sebelum tidur papanya suka bacain cerita, sekarang biasanya kalo ga nonton tv ya ngobrol atau main dan becanda sebentar. Kalo besoknya hari sekolah, mereka harus ke kamar masing-masing pas jam 20.30. Sementara kalo pas weekend, mereka boleh stay sampai jam 21.00. Begitu seterusnya rutinitas mereka.

Mengenai aksesibilitas mereka cukup kami bebaskan dan beri kepercayaan. Kebebasan di sini tentu aja bukan asal blas ya, karna sebelum kami memberikan kepercayaan kepada mereka, kami juga kasih tau mengenai segala konsekuensi, mana yang menurut kami baik atau buruk buat mereka, bahaya apa saja yang bisa mereka temuin (khususnya di dunia maya), intinya si sebelum dilempar ke “medan perang” kami cukupi dulu ransumnya mereka hehe.

Aturan mengenai screen time anak-anak ini ga plek saya dan suami doang yang bikin loh ya. Sebelum kami terapkan kami juga ajak anak-anak untuk diskusi bareng dan tanya apakah mereka keberatan atau tidak. Jadi yang kami jalani sekarang juga berdasarkan kesepakatan dengan anak-anak).

Sementara untuk weekend aturan main ini jadi agak sedikit berbeda. Untuk sabtu mereka boleh main sampai jam 12 siang, setelah itu stop dan hari minggu adalah hari gadget free dimana mereka ga boleh main sama sekali baik dengan PC, tablet, ataupun dengan game console. Mereka masih boleh nonton TV si, tapi tetep dengan catatan ga sepanjang hari manteng terus juga.

Despite a gadget freak, luckily both are also a bookworm πŸ™‚

Walopun masih jauh dari ideal, setidaknya saya lihat kalo mereka masih cukup seimbang aktivitas indoor dan outdoor-nya. Kalopun disuruh stop atau dimintakan tolong mereka akan dengerin dan nurut kok (walo mungkin pas disuruh nanya “waroom” alias kenapa trus bisa jadi setelahnya ada yang kecewa trus menitikkan air mata wkwk).

Lalu bagaimana dengan si bungsu?

Untuk si kecil aturan mainnya jelas berbeda. Yah gimana juga usia-nya beda jauh ya. Ada satu momen yang bikin kebiasaan si kecil berubah cukup signifikan untuk hal ini, yaitu pada saat kami berdua mudik lebaran idul fitri Juni yang lalu. Kalo sebelumnya di rumah dia paling cuma sebentar nonton kids programa di TV lokal Belanda (atau via youtube) dengan durasi yang ga gitu lama, begitu di Indonesia dia jadi suka nonton (youtube) lewat handphone zz. Saya ga bisa salahin dia juga si, karna mungkin pada saat itu nonton video atau mendengar sesuatu yang dia kenal bikin stress-nya dia berkurang. Cuma jadinya begitu kembali ke Belanda saya jadi extra effort harus langsung koreksi kebiasaan dia ini. Trus berhasilkah jadi gak sama sekali pegang Hp? Sayangnya ngga sodara-sodara, tapi saya bersyukur karna kontrol masih tetap kami (saya dan suami) yang pegang. Anak ini btw untuk jam tidurnya sama kaka kakak-kakaknya ya, cuma dia ga ikut mandi bareng hehe, sempit kata kakak-kakaknya 😁

Biasanya di malam hari sebelum dia minum susu dan gosok gigi, saya bolehin dia nonton video selama 10-15 menit maksimal. Saya tentuin sampe angka berapa di jam, jadi begitu memang waktunya si kecil ngerti dan langsung matiin layar Hp-nya. Begitu juga dengan nonton TV/video. Tiap mau nonton saya kasih tau sampe kapan, kalo udah waktunya TV harus mati. Kadang dia ga terima si (trus ngambek menjurus tantrum wkwk), tapi dia ngerti aturan yang saya buat dan lama-kelamaan diterima juga dan lebih sering diturutin daripada ngganya hehe.

Terlalu kiyut untuk ga difoto (dasar emak!πŸ˜‚), walo setelahnya saya marahin karna nontonnya ga dalam posisi duduk.

Sepanjang liburan kemarin walo bawa gadget mereka ga bisa tiap hari akses. Begitu dapet akses dan dibolehin sama mama-papa, langsung deh tiga-tiganya sibuk sendiri.

Ada beberapa aturan tentang screen time ini yang juga kami terapkan dalam keluarga kami.

Setiap waktu makan, di meja makan no gadget and TV (walo kadang suka kelupaan matiin TV jadi blas tetep ketonton).

Kalo pergi ke restoran, kami hampir ga pernah kasih/bawa hp atau tablet supaya mereka sibuk. Walo sering dapet muka bosen ato pertanyaan redundan (wanneer gaan we naar huis alias kapan pulang?πŸ˜‚), tapi mereka biasanya suka cari kesibukan sendiri. Kalo dulu buat antisipasi si bungsu tantrum ato gelisah ga betah saya suka bawa puzzle atau buku kecil buat dia main. Ini lumayan ampuh buat dia. Terakhir karna si anak makin “complicated” saya jadinya suka “bribe” dia dengan toetje/dessert kesukaan dia (coklat atau es krim). Bersyukur juga si selama ini pengalaman kami makan di luar bareng anak-anak terbilang aman dari “kejutan yang mencekam” πŸ˜†.

Jadi begitulah cara kami mengatur screen time-nya anak-anak. Walau mungkin jauh dari ideal, setidaknya aturan ini berjalan dengan baik di rumah kami. Saya juga ngerti dan paham banget ga akan mungkin mengurangi waktu interaksi mereka dengan gadget dan TV secara drastis, wong bapaknya tiap hari pasti di depan laptop atau Hp-nya juga (saya juga lumayan lengket sama hp sis, walo ga gitu sering nempel sama TV dan laptop hehe). Makanya membekali mereka dengan pengetahuan dan self defense di dunia maya jadi kunci gimana juga mereka nantinya akan bersikap atau menanggapi segala sesuatu yang ada di di dunia Internet.

ps. maaf kalo jadinya kepanjangan ya 😁

*Jordan Shapiro, Research Says Screen Time Can Be Good for your Kids, published on Forbes website, 17 July 2013. Full article can be read via this link.