Bunga-bunga di Rumah.

Last batch of tulips in our backyard ๐Ÿ’œ

Semenjak kebun belakang rumah kami sudah selesai dirapikan, saya jadi seneng eksperimen sama tanaman. Well lebih ke bunga-bunga sih ya, karna pada dasarnya saya memang suka bunga. Ada juga kepengen nanam sayur-sayuran sebenernya, cuma masih belum begitu pede untuk eksekusinya hehe. Bunga yang saya pilih hampir sebagian besar yang minim perawatan hahaha. Maklum, saya agak pemalas orangnya (ngaku hihi).

Saya baru tau kalo posisi rumah juga menentukan bunga mana yang sebaiknya ditanam loh haha. Maklum bukan tukang kebun (temen aja sampe amazed denger saya bercocok tanam ๐Ÿ˜‚) jadinya bener-bener awam sama beginian. Posisi depan rumah saya menghadap ke selatan, yang otomatis hampir setiap saat ga kena sinar matahari langsung, sementara kebun belakang menghadap utara. Dulu sebelum halaman belakang direnovasi, di sederetan pinggir pagar yang berbatasan dengan tetangga ada kurang lebih 6 pohon sejenis pohon pinus (conifer) yang ukurannya udah terlalu besar dan makan tempat. Selain itu ada beberapa bunga mawar liar dan bunga hydrangea yang udah cukup besar volumenya. Di dekat gudang juga ada pohon blackberry liar (yang buahnya asyem bangett) dan beberapa bunga crocus liar.

Beberapa jenis bunga yang sudah tereksekusi (alias ditanam) dan alhamdulillah sukses sampe berbunga dan kemudian layu antara lain:

Tulip.

Bunga ini periode tanamnya kalo di sini adalah sekitar pertengahan bulan Oktober sampai awal bulan November (periode akhir musim gugur), dan mulai keluar tunas di sekitar bulan april dan berbunga biasanya di akhir Maret dan April (awal musim semi). Bentuk bibitnya berupa bulbs (dalam bahasa Belanda berarti bollen atau umbi). Kalo pas lagi di periode Oktober-November harganya bisa murah banget (kecuali kalo beli di bandara dan yang jenis khusus ya). Cara nanemnya termasuk gampang, cukup ditanam di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 5-8 cm, dan supaya nanti pas bunganya mekar terlihat cantik sebaiknya si tulip ini ditanam secara berkelompok atau bergerombol. Setelah si umbi ditanam kita ga perlu ngapa-ngapain lagi deh, tinggal tunggu waktunya mereka mulai bersemi dan berbunga.

Tulip jenis ini tingginya lumayan dan berbunga sedikit lebih telat dari jenis yang lain.

First batch of tulips in our backyard.

When all tulips on the row are blossoming โค

Hydrangea atau Hortensia.

Picture was taken end of spring last year.

Kalo bunga ini kebetulan saya nanemnya di pot dan diletakkan di depan rumah. Kebetulan bunga hortensia ini bisa tumbuh dan berkembang di tempat teduh dan ga begitu perlu sinar matahari langsung. Penting juga si bunga dapat cukup air tapi juga gak terlalu banyak (yang mengalir alias akarnya tidak terendam). Pot yang bisa dipergunakan adalah yang ada lubang di bagian bawahnya, supaya air dari pot bisa mengalir.

Bunga hortensia yang dulu saya beli adalah yang sudah berbunga penuh, dengan beberapa yang masih belum berwarna (alias masih hijau). Belinya bisa di supermarket, bisa juga di toko khusus tanaman. Harganya bervariasi tergantung banyaknya bunga dan jenisnya juga. Si bunga mulai berkembang di sekitar April (musim semi) dan bertahan lumayan lama, kalo beruntung bisa sampe sekitar September (awal musim gugur). Setelah itu biasanya si bunga mulai berubah dan menjadi kering. Kalo si bunga sudah jelek sebaiknya dipotong. Sisanya cukup dibiarkan aja di pot (tapi jangan sampe ada air berlebih di pot). Biasanya di akhir musim dingin si bunga yang sebelumnya keliatan menyedihkan akan mulai bertunas lagi.

They just start to blossom again this year ๐Ÿ˜Š

Picture was also taken end of spring last year.

Cannot wait to see them in full blossom again!

Daffodils atau Narcissen.

Saya sebenernya tau nama si bunga ini daffodils gara-gara Inly hahaha. Di sini kan disebutnya Narcissen makanya saya ga ngeh kalo mereka adalah satu jenis bunga yang sama. Daffodils ini juga banyak jenisnya, yang paling banyak dan sering ditemui adalah yang berwarna kuning. Kebetulan si daffodils kuning ini saya ga punya di kebun sendiri tapi di kebunnya mama mertua. Saya sendiri dapet daffodils warna putih dari charity event-nya anak-anak untuk sekolah. Lumayan banget lah buat nambah koleksi bunga di kebun kami hehe. Kami dapet si bunga di sekitar bulan April dan sudah dalam bentuk umbi bertunas alias siap pindah ke tanah atau pot besar. Anak-anak pun ikut bantu nanem dan merawat si calon bunga hehe.

Lavender.

Bunga ini memang salah satu jenis yang pengen saya tanem kalo kebun udah beres. Selain wangi, bunga ini juga tahan dingin dan ga gitu sulit ngerawatnya. Saya beli si lavender sudah berbunga di pot-pot kecil. Setelah keliatan merana dan kering selama musim dingin, sekarang si lavender udah berbunga lagi dan tambah banyak.

Rombongan lavender di ujung terdepan halaman kami ๐Ÿ˜

Look at the bee!

Lily of the Valley.

Saya nanam bunga ini adalah hasil provokasi dari temen saya hahaha. Jadi sewaktu nikah dulu princess Kate Middleton pake lily of the valley sebagai wedding bouquet-nya. Selain itu wanginya juga cukup kenceng kata temen. Makanya saya jadi penasaran hehe. Saya beli si lily of the valley ini dalam bentuk akar yang sudah muncul tunasnya sedikit. Karena juga penasaran dengan yang warna pink-nya, jadilah walau agak mahal tetep saya beli juga lily pink-nya. Alhamdulillah yang lily of the valley warna putihnya udah sempet berbunga, sementara yang pink saya sempet kawatir karna tunasnya ga ada yang keluar. Makanya begitu kemarin liat ada pucuk tunas yang keliatan saya jadi hepi hehehehe. Mudah-mudahan aja nanti sampe berbunga ya.

Fresias.

Barisan fresia

Setelah masa berbunga tulip sudah selesai, saya pun mulai cari-cari bunga mana yang bisa mewarnai kebun kami (halah). Temen saya nyaranin untuk nanam fresia aja, karna selain bagus juga harum. Akhirnya saya nanem fresia ini dan milih warna putih dan biru di ruang dekat sepanjang pagar. Saya baru tanem bunga ini di akhir-awal mei, beli bulbs-nya secara online (fresia termasuk bunga yang cukup murah) dan sekarang daun-daunnya udah mulai bermunculan hehe.

Calla Lily.

Pucuk daun si calla lily.

Calla lily in progress.

Sama kaya fresia, calla lily ini juga saya tanem atas saran temen saya. Waktu tanamnya juga berbarengan dengan fresia, cuma untuk harga bulbs-nya agak lebih mahal dari fresia. So far si hampir semua calla-nya udah keluar daunnya, cuma masih ada satu spot yang masih belum keliatan sibuk hehe. Mudah-mudahan aja si bonggol gak mati ya.

Gladiols.

Daun-daun bunga gladiol yang sudah mulai meninggi ๐Ÿ˜‰

Bunga ini saya beli semata karna lagi diskon pas nemu hahahaha. Saya ga gitu penasaran sama gladiol, walau sebenernya bunga ini bagus juga. Kata temen saya bunga ini adalah favoritnya para nenek-nenek wkwkwk. Sama kaya fresia, bunga ini juga harus ditanam di bulan Mei. Sewaktu saya nanem fresia, karna udah kebanyakan nanem fresia jadinya nunda nanem gladiolnya. Ujung-ujungnya mertua saya yang nanem karna dia ga sabaran orangnya hahaha. Sekarang gladiolnya juga sudah mulai keluar daunnya.

Allium.

Saya beli bulbs bunga ini barengan dengan tulip. Waktu nanemnya juga bareng, cuma saya ga beli banyak dan nanem si allium di pot. Begitu daunnya pada keluar saya masih mikir kalo bunga yang saya tanam tulip, tapi lama-kelamaan bingung kok daunnya beda dan lama banget berbunganya hahaha. Begitu si kuncup bunga keluar saya baru sadar kalo bunga ini bukan tulip (duhh bentuknya beda banget kalii). Dari sepuluh bulbs yang ditanam, yang jadi bunga ada empat. Saya juga baru tau namanya adalah Allium setelah saya kasih liat foto si bunga ke temen saya ๐Ÿ˜‚. Kata dia allium ini termasuk ke dalam genus bawang-bawangan. Pantes aja kalo si bunga dicium, bukannya wangi harum khas bunga, ini lebih ke wangi bawang hahaha.

Semoga postingan ini bisa bikin seger mata ya.

Advertisements

Belajar Motret Pt. 3: A Spring Fling!

“It is spring time now! While the world looks for a new war to fight, you look for a cherry blossom to watch! Let the stupid seeks the violence; you seek the elegance!”
Mehmet Murat Ildan.

Enjoying the perks of Spring that had just begun, I decided to start using my camera again. The cherry blossoms tree next to our house was really intriguing for me to capture some of their beauty. Actually, there are three cherry blossoms trees planted on that (void) spot. However, (almost every year) one of those trees blossomed earlier than the two others. And you know, usually the first one intrigued you the most ๐Ÿ™‚ When you walk by, you can hear the bees humming and smell the subtle scent of the flowers. It’s just nice to know that spring is really around. Its not like I don’t like winter (I like all season – each one has its own thing for me), but just that I think I need more warm temperature now (although you can never predict how weather will go here). The thought of spring makes it a bit warmer at least haha. Anyway.

Also, this weekend I just bought bouquet of tulips at Lidl. It was so cheap: I (well, my hubby :p) only had to pay 4 Euro for 20 pcs of tulips (2 bouquets). Too bad tulips cannot last that long (usually only lasts around 3 – 4 days, unless you are lucky they can stand for a week). While they’re still quite fresh, I made some pictures of them as well. Oh, and I found one wild flower (the yellow one) in front of our backyard (jungle :p) door – then I also decided to make some photos of it.

Here are some of results of the photos I have captured. Only the better ones though hehe (duh). To most, I used the Nikon D70 with tele lens (from Sigma). I added 20mm macro on the default lens when I took photos of the yellow flower (anyone knows the flower’s name btw?), and I used the default lens only for some photos. I also added extra flash (blitz) to get a bit of extra light.

Before I leave you with the pictures, here’s a nice line I found from a Japanese poet, Ikkyuย which I wanna share with you too ๐Ÿ™‚

Look at the cherry blossoms!
Their color and scent fall with them,
Are gone forever,
Yet mindless
The spring comes again.

Enjoy the flowers all, I hope you like them as much as I do!

DSC_2307-1

I put the tulips on the dining table. I chose the orange one because it makes a good contrast with the wall (and it matches the place-mats :p). The painting above was made by my mother in law btw, love it a lot!

DSC_2310-1

I use tele lens for this photo.

DSC_2316-1

Using Macro 20 mm

DSC_2318-1

Using Macro 20 mm

DSC_2320-1

Using Macro 20 mm

DSC_2333-1.JPG

The surrounding. The other two cherry blossoms trees that not yet blossoms are closer to our house. It’s on the left of the photo. I use default lens for this one.

DSC_2339-1

The morning sunlight has made the flowers look yellow-ish on this photo. Luckily by the time I took the photo, the sky was quite clear hence made a nice contrast with the flowers ( not long afterwards it went dark and gloomy).

DSC_2367-1

This photo was captured using tele lens.

DSC_2345-1

Using tele lens.

DSC_2346-1

This photo was also using tele lens. You still can see drops of dew all over the grass here, so pretty ๐Ÿ™‚ (took the photos in the morning after bringing the kids to school btw).

DSC_2348-1

The white-ish cherry blossoms.

DSC_2351-1

Lovely branches combined with flowers.

DSC_2358-1

Trying to capture the bee.

DSC_2364-2

Pink-ish part of the cherry blossoms.

DSC_2349-2

again, using tele lens ๐Ÿ™‚ย 

DSC_2350-2

the flowers crowd :p

DSC_2363-2

Say hello to the busy bee!

Belajar Motret (lagi) Pt. 2: Dickens Festijn and Nature Sightseeing

โ€œWhen words become unclear, I shall focus with photographs. When images become inadequate, I shall be content with silence.โ€
– Ansel Adams

Hellooo, jumpa lagi dengan postingan kedua edisi belajar motret hihi. Kali ini saya mencoba memanfaatkan momen yang kebetulan berlangsung pada saat itu. Tanggal 20 Desember lalu, di Drunen ada aktivitas yang tiap tahun selalu diadakan, yaitu Dickens Festijn. Terinspirasi dari kisah-kisah yang ditulis oleh Charles Dickens yang kental dengan nuansa natal nya, suasana di sekitar disulap menjadi suasana kota di Inggris yang ada pada abad ke-19. Para partisipan juga mengenakan kostum berdasarkan karakter dari cerita Dickens, seperti Scrooge, Oliver Twist, Mr. Pickwick, para orphans, dan para maids. Ada juga rombongan angsa, domba beserta anjing gembalanya, juga Santa beserta koets-nya. Pada masa itu juga digambarkan kemeriahan Christmas market dengan banyak stall yang menjual berbagai pernak-pernik khas natal seperti hadiah, makanan, minuman khas musim natal dan barang-barang lainnya.

Tahun ini adalah yang kesepuluh kalinya penyelenggaraan festival serupa di Drunen. Suami dan anak kami yang cowo ga suka dengan keramaian macam begini. Saya dan si meisje juga sebenernya biasa aja si, karena kebetulan tahun lalu juga sudah ย pernah lihat jadi ga gimana-gimana banget lah. Apalagi konsep dan bahkan orang-orangnya juga tetep sama (kurang kreatif ya hihi), makanya pergi ke sana selain nganter mertua yang memang niat ke sana (nenek-nenek cari kesibukan :p) semata cuma mo nyoba nyari obyek yang kali aja bisa dipotret. Oh ya, sebelum kita keluar rumah si mas cowo pake drama nangis sesenggukan dulu dong hehe. Saya bilang ke dia kalo kita ke sana cuma sebentar aja, dan kalo mau anak-anak juga boleh coba-coba foto pake kamera gedenya. Akhirnya dia mau ikut juga (dan lumayan hepi karena memang ga lama kita stay di sananya =)).

Sebenernya lumayan banyak foto yang saya ambil di festival, walau pada saat kita di sana parade nya belum mulai. Cuma banyak yang ga fokus haha, karena saya ceritanya cuma bawa tele doang dong. Makanya cuma beberapa foto dari festival yang lumayan bagus dan cukup menarik aja yang saya attach disini.

DSC_0639

anyone know what character is he playing?

DSC_0640

the nose looks scary!

DSC_0668

the geese are waiting for their turn to walk on the parade =)

DSC_0672

the “queen” among the maids and the soldiers.

DSC_0647

what a jambul! almost likeย “jambul khatulistiwa”-nya Syahrini yes hehe

DSC_0653

this photo was taken by my son. not that bad eh ๐Ÿ˜‰

Sebelum mutusin untuk ke festival memang kami agak labil hehe, mau nyari obyek motret di hutan dekat rumah (kurang lebih 6 menit nyetir) atau ke festival. Berhubung balik dari situย saya masih kurang puas dengan acara motret-motret-nya, kami putuskan untuk pergi juga lah ke hutan. Juragan mas cilik ga mau ikut, sementara si eneng mau ikut (dia memang lebih aktif dari abangnya, khususnya untuk urusan yang berhubungan dengan fisik =)). Untuk peralatan lenong kamera semua kami bawa. Cuma sayang karena kami ke sana sudah agak sore, cahaya yang kami dapat ga gitu banyak. Mana di hutan, jadilah proses pengambilan foto nya jauh lebih susahhh.

Rencana awal adalah kembali mencoba lensa makro. Saya pikir suasana hutan bakalan seperti waktu kami jalan ke sana pas musim gugur, ternyata oh ternyata suasananya berbedaaa. Para jejamuran liar sudah jarang bahkan hampir semua hilang, warna warni daun di pepohonan juga udah ga ada. Beruntung ada beberapa obyek yang lumayan menarik buat saya, seperti lumut bintang di bawah ini. Jarang-jarang musim dingin di hutan masih ada lumut yang seger begini loh. Juga ada beberapa pucuk daun yang mulai bersemi loh..sedih ya kalo mikir efek perubahan iklim global yang bikin ekosistem jadi agak anomali.

Anyway, di bawah adalah beberapa foto yang berhasil saya ambil dari hutan. Sebagian (kecil) saya menggunakan lensa makro, sebagian lainnya saya menggunakan lensa 50 mm – favorit saya untuk bikin foto dengan cahaya ala kadarnya ๐Ÿ™‚

DSC_0684

Sterrenjesmos or Polytrichum commune (Common Haircap Moss). Di hutan tempat kami melintas masih lumayan banyak ditemui lumut jenis ini.

DSC_0692

nyoba lagi dengan lensa makro. ini kalo liat cahaya aslinya yang hampir bleh lumayan hepi lah hasil jepretannya masih bisa keliatan dikiiit ujung bunganya hihi

DSC_0707

untuk foto ini saya menggunakan lensa 50 mm (udah bete nyoba pake makro yang lumayan cuma sebiji dua biji dari berpuluh kali percobaan haaha). lumayan banyak dahan dari pohon yang tumbang dan melapuk seperti ini di sekitar hutan.

DSC_0704

we found sort of hair on the ground. we didn’t know what it was but my husband almost sure that it’s a deer hair :p

DSC_0711

for this photo and the next one, I tried to play with the depth of the aperture and focus. I use 50 mm lens for both photos.

DSC_0710

DSC_0738

This object look interesting for me, especially the green moss covering the top part of the tree branch. too bad at that time I had a very shaky hand (and a very low light), that’s why the result was a bit fuzzy ๐Ÿ˜ฆ

DSC_0721

On the way back, I found this ladybug perched on the flower. Superb object for trying the macro lens (again)! ๐Ÿ˜‰ after many times trying this was the best result I could get. still laaameee btw :s

DSC_0745

this photo was the only proper result I could get usingย tele lens. So freakin difficult to take (decent) photo(s) in the forest with a minimum lights and shaky hands ๐Ÿ˜ฆ

Sehari sebelum kami berangkat ke London, kami sempat makan siang bareng di tempat oma (mama mertua) dan stay di sana sampe sore. Saya juga sempat bikin beberapa foto dari front yard-nya mama mertua. Tapi yah namanya juga winter ya, bunganya jadi agak begitulah..masih untung beberapa ada beberapa yang masih mekar walau ga banyak hehe.

Tiga foto pertama saya menggunakan extension tube 12 mm dan lensa 50 mm. Sementara dua foto berikutnya saya menggunakan lensa 50 mm tanpa extension tube.

DSC_0842

DSC_0846

DSC_0844

DSC_0857

DSC_0861

Btw, intermezzo dikit sebelum mengakhiri postingan kali ini.

Jadi sebelum kami meninggalkan hutan, si meisjeย sempet minta difoto dengan ranting yang dia comot dari hutan hehe..nah, sekalian aja saya akhiri postingan ini dengan foto favorit saya di bawah ini yaaa. fotonya diambil menggunakan lensa 50 mm dengan aperture saya pasang di f2.8 (ato 2.2 ya? – maap lupis :p).

Okeee, sampai ketemu di posting berikutnya!

DSC_0741

ps. semua foto adalah dokumentasi pribadi. maaf saya lagi males bikin watermark di foto-fotonya hehe, semoga ga akan disalahgunakan ya ๐Ÿ™‚