Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

many-books-hd-wallpaper

β€œDo not train a child to learn by force or harshness; but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.”
~ Plato.

disclaimer: cerita di sini sebatas pengalaman pribadi dan pengetahuan saya yang masih seadanya, jadi mohon dimaafkan kalo kurang komprehensif ya. Akan lebih senang apabila ada temen-temen yang bisa ikut sharing info dan pengalaman seputar hal yang sama di sini 😊.

Walaupun sudah agak terlupakan karna muncul isu-isu baru, beberapa waktu yang lalu di Indonesia sempat heboh dengan isu usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang full day school bagi anak-anak. Banyak yang langsung menentang usulan ini (gak tau apakah mereka tau betul atau belum mengenai konsep yang diusulkan secara detail oleh bapak Menteri), walau ada sebagian kecil yang mendukung usulan ini (secara sembunyi-sembunyi sii – takut dikeroyok sama massa yang tidak pro kayanya wkwk) . Nah, berhubung anak-anak saya saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (plus berdasarkan pengalaman suami semasa kecil), saya mau share info seputar pendidikan dasar anak-anak di Belanda. Mungkin kalo di-browse di internet tulisan tentang ini udah lumayan banyak, tapi tetep saya mau nulis gapapa ya hahaha (maksa😝)

Di Belanda anak-anak mulai diwajibkan untuk sekolah pada saat mereka memasuki usia 4-5 tahun. Untuk anak-anak yang usianya lebih muda (2-3 tahun), walaupun belum diwajibkan tapi tetap diarahkan (dan dipantau) oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat kecamatan) dan Biro Konsultasi Kesehatan atau GGD untuk diikutsertakan ke peuterschool (semacam playgroup gitu) atau ke tempat penitipan anak (namanya kinderopvangen atau children daycare) dengan jumlah jam tertentu (kecuali ada kendala atau kondisi khusus yang tidak memungkinkan). Pemerintah pusat memberikan subsidi untuk keluarga yang menitipkan anak-anaknya di kinderopvangen atau peuterspeelzal, dengan syarat kedua orang tuanya bekerja. Subsidi ini berupa pengurangan biaya iuran perjam si anak. Sementara kalo salah satunya aja yang bekerja, biasanya dari pihak Gemeente (tidak semua Gemeente memberikan subsidi, hal ini tergantung pengaturan masing-masing) yang akan memberikan bantuan biaya yang besarannya ditentukan berdasarkan setoran pajak penghasilan orang tua per tahun.

Tingkat pertama pendidikan wajib (sekolah) di Belanda disebut Basisschool (Sekolah Dasar). Anak-anak duduk di tingkat dasar ini selama 8 tahun (tiap tingkatannya disebut “groep”). Untuk tahun pertama dan kedua (groep 1 dan 2) biasanya digabung menjadi satu. Mungkin kalo di Indonesia groep 1 dan 2 ini bisa disamakan dengan TK A dan B. Kalo menurut info dari suami, untuk anak-anak yang masih dibawah 6 tahun (4-5 tahun) jam wajib belajarnya masih sedikit jumlahnya. Mereka pada intinya lebih diarahkan untuk bisa beradaptasi pada perubahan dari yang sebelumnya bentuk belajarnya lebih ke bermain menjadi bener-bener belajar membaca dan menulis secara perlahan-lahan. Anak-anak masih cukup diberikan kelonggaran untuk tidak ikut sekolah terus-menerus selama jumlah jam belajar tersebut terpenuhi. Begitu anak memasuki usia 6 tahun, mereka sudah ga bisa lagi seenaknya libur alias harus ikut aturan kalender pendidikan di Belanda.

Setelah menyelesaikan Basisschool, mereka akan lanjut ke sekolah lanjutan yang biasanya disebut Middelbare school. Lamanya waktu belajar di tingkat middelbare school tergantung dengan pilihan dan kemampuan masing-masing anak. Mereka punya beberapa pilihan sekolah lanjutan: VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), VMBO (Voorbereidend Middelbaar Beroepsonderwijs), atau Praktijkonderwijs. Mereka biasanya diarahkan sesuai kemampuan (akademis) dan minat masing-masing anak. Di lain waktu saya akan sharing tentang pendidikan lanjutan ini dalam postingan selanjutnya.

Satu hal yang saya sadari di sini adalah kualitas dari tiap sekolah (termasuk para gurunya) di tiap kota – besar maupun kecil – bisa dibilang ga ada bedanya. Hal ini bisa jadi karna pemerintah Belanda cukup ketat dalam mengontrol kualitas para guru dan mereka juga rutin diberikan waktu khusus untuk mendalami kurikulum atau program mengajarnya (mereka nyebutnya “studiedag” yang berarti pada hari itu anak-anak libur dan guru-gurunya belajar lagi deh hehe). Kalo di Indonesia kita sering denger para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit, selama saya tinggal di sini (dan kuliah dulu) hampir ga pernah saya dengar yang kaya gitu. Kayanya si khususnya untuk basisschool ada semacam aturan (atau kebiasaan) kalo para orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang paling dekat lokasinya dengan rumah mereka. Hal ini wajar banget kan ya karna tentu dengan anak disekolahkan di lokasi yang dekat maka waktu mereka ga akan habis di jalan. Walaupun ada beberapa anak yang diantar ke sekolah dengan mobil, hampir sebagian besar anak- anak berangkat dengan sepeda atau berjalan kaki. Karna kebetulan lokasi rumah kami ga lebih dari 500 meter aja, anak-anak lebih senang berjalan kaki ke sekolah.
Waktu belajar basisschool untuk beberapa tahun terakhir adalah pukul 08.30 – 14.30, dengan waktu istirahat sebanyak dua kali (satu kali kleine/fruitpauze/small break selama kurang lebih 15 menit dan satu kali lunchpauze/lunch break selama kurang lebih 30 menit). Anak-anak wajib membawa bekal sendiri dari rumah (walau kadang pada event atau acara khusus sekolah menyediakan). Untungnya bekal makanan dan minuman di sini cukup simpel, jadi kami juga ga ribet-ribet amat tiap pagi harus masak atau bikin sesuatu yang spesial buat bekal mereka hehe. Bahkan anak- anak sejak 2 tahun lalu udah mulai nyiapin bekal makan siang mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam tas sekolah masing-masing (walaupun awalnya untuk minum dan buah mama atau papa masih harus bantu 😊).

Walaupun waktu mereka di sekolah lumayan panjang durasinya, hampir tidak pernah saya dengar kalo mereka lelah karena belajar di sekolah. Alhamdulillah sejauh ini kami lihat mereka cukup antusias dan senang mengikuti kegiatan di sekolah. Keduanya sempet merasa agak bosan sewaktu mereka duduk di grup 4 karena menurut mereka pelajaran yang diberikan gurunya agak terlalu mudah. Kami anggap wajar karena memang grup 4 menurut kami adalah semacam grup transisi. Untuk muatan ajaran dari segi kurikulum masih tidak jauh berbeda dengan grup 3, walau tentu aja pasti tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi. Bisa jadi karena kurikulum yang diberikan cukup ringan dan tidak membuat anak-anak merasa terbebani kali ya.

Sejak di Groep 6, anak-anak juga mulai mendapatkan pekerjaan rumah alias PR satu kali dalam seminggu (sebagai info tambahan, ga semua sekolah memberikan PR untuk para muridnya, hal ini tergantung pada kebijakan di tiap-tiap sekolah). Setiap siswa diminta untuk menyiapkan map/folder khusus untuk PR dan wajib dibawa setiap rabu. Bentuk PR-nya sendiri bervariasi. Kadang hitung-hitungan, kadang hafalan, kadang juga hanya disuruh membaca.

Dalam setahun, anak-anak memperoleh cukup banyak waktu libur. Hampir di tiap musim mereka punya waktu libur setidaknya satu minggu. Biasanya, di musim gugur anak-anak libur seminggu. Kemudian di musim dingin/akhir tahun mereka libur selama dua minggu (Kerstvakantie). Selama waktu carnaval (khusus di Belanda bagian selatan – sekitar Noord Brabant dan Limburg – kalo ga salah ya) mereka juga libur selama seminggu. Setelah itu di bulan April-Mei mereka akan libur lagi (Meivakantie) selama dua minggu. Dan terakhir di musim panas mereka mendapat jatah libur musim panas selama kurang lebih enam minggu. Libur-libur ini di luar libur studiedag dan libur resmi nasional lainnya seperti pinksterdag (pantekosta) atau hemelvaart (kenaikan Isa Almasih) loh ya. Lumayan jauh kalo dibandingin sama jumlah libur anak-anak sekolah di Indonesia – ya gak si?

Kurikulum dan program yang ditentukan oleh pemerintah di sini menurut saya cukup bagus, menarik dan variatif. Di setiap bulan atau di waktu-waktu tertentu biasanya mereka punya tema khusus yang dibahas atau dikerjakan oleh anak-anak. Selain itu pada perayaan-perayaan tertentu seperti Koningsdag (King’s day), Carnaval, Paskah, Sinterklaas atau Christmas biasanya mereka juga akan ikut serta memeriahkannya di sekolah. Biasanya hari-hari khusus tersebut juga dijadikan sebagai subyek atau tema belajar mereka.

Orang tua juga banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah. Kadang para orang tua diperlukan untuk masalah transportasi (kalo pas lagi ada jadwal ekskursi ke luar sekolah), atau membantu mengontrol rambut anak-anak dari kutu rambut (iya, di sini ada yang namanya luizenmoeder atau nit mother 😁), kadang mereka juga dateng ke sekolah untuk membacakan cerita (voorlezen).

Dari sekian banyak yang diajarkan di sekolah, berikut adalah beberapa program yang ditawarkan di sekolah anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mungkin bisa dijadikan masukan dalam menyusun kurikulum sekolah dasar di Indonesia (kali aja loooh hehehe).

Kanjer.

Kalo nyari pengertian bener-bener, kata “kanjer” (dibaca “kanyer”) ini susah dicari padanan katanya. Mungkin kanjer ini bisa diartikan sebagai (sesuatu yang) besar atau luar biasa, atau top, intinya sesuatu yang positif lah. Kalo dilekatkan ke seseorang, pengertiannya bisa jadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang baik budi pekertinya (khususnya dalam konteks hubungan sosial). Nah sekolahnya anak-anak kebetulan mengedepankan ini dalam pola pembelajarannya. Jadi biasanya (hampir) setiap minggu mereka ada waktu khusus untuk kegiatan dalam rangka pembentukan pribadi yang “kanjer”. Metodenya yang dipergunakan juga ga begitu rumit. Para murid diajarkan untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana menghargai orang lain – termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan yang lain, membangun kepercayaan atas diri sendiri juga terhadap orang lain, serta tindakan apa saja yang “kanjer” dan yang bukan. Kemudian guru beserta orang tua murid yang secara sukarela diminta untuk membantu akan mengilustrasikan tema yang diangkat ini ke dalam satu aktivitas yang tentu aja melibatkan para murid. Mereka kemudian akan memberikan nilai sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Selain itu mereka juga mendapat nilai dari teman-temannya dan juga guru dan wali murid yang membantu. Jadi kegiatan kanjer ini lebih seperti evaluasi mereka terhadap diri sendiri dan juga berperilaku terhadap orang lain terutama lingkungan sekitarnya.

Cultuurproject (proyek kebudayaan).

Melalui program ini, selama beberapa minggu para guru akan membahas tentang satu tema khusus yang terkait dengan kebudayaan kepada murid-muridnya. Tingkat kesulitan dan sejauh mana konten yang diberikan biasanya disesuaikan dengan tingkatannya. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu sekolah mereka mengangkat tema mengenai Mesir (Egypte). Jadi selama beberapa minggu para guru memberikan semacam pemaparan mengenai kebudayaan Mesir kepada muridnya, mengajarkan mereka menulis nama sendiri dalam huruf hieroglyph, bagaimana mummy dibuat, kemudian membuat berbagai macam prakarya bertemakan Mesir. Sementara di tahun lainnya mereka belajar tentang pelukis terkenal dari Belanda – Vincent van Gogh. Mereka belajar tentang riwayat hidup sang pelukis dan juga membuat prakarya yang terinspirasi dari karya-karyanya van Gogh. Tahun ajaran yang terakhir kemarin (2017 – draft ini udah bersemedi lama di WP saya ibu-ibu🀣) anak-anak belajar tentang tema “fairy tales” (sprookjes). Setelah selama beberapa minggu anak-anak belajar dan membuat prakarya, di pekan terakhir project sekolah akan mengadakan yang namanya “cultuuravond” atau malam kebudayaan di mana hasil prakarya anak-anak yang sudah dibuat dipamerkan di kelasnya masing-masing dan para orang tua (atau kakek, nenek dan para kerabat lain) diperbolehkan untuk berkunjung dan ikut melihat karya-karya mereka.

piramida dan mummy kucing hasil karya para murid grup 4

potret diri dalam bentuk lukisan dan nama murid dalam huruf hieroglyph.

De Week van De Lentekriebels.
Program lain yang menurut saya menarik adalah “De Week van De Lentekriebels.” Secara harfiah, lentekriebels berarti “spring fever” atau demam musim semi. Tapi de week van de lentekriebels di sini sedikit berbeda pengertiannya. Mungkin lebih kepada arti kiasan dari istilah ini sendiri ya. De week van de lentekriebels merupakan satu proyek mingguan yang diselenggarakan secara nasional (di seluruh basisschool/sekolah dasar di Belanda) dimana pada minggu ini para murid (anak-anak) mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk hubungan/relasi dan seksual (jenis kelamin). Anak-anak ini diberikan pengertian mengenai perkembangan seksual mereka, perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana seorang bayi lahir, penghargaan/respek terhadap pilihan dan perbedaan tiap individu, dan belajar untuk hidup bersama dengan suasana yang aman dan nyaman. Tiap grup diberikan penjelasan dengan bobot yang berbeda-beda, dan menggunakan bahasa dan contoh yang cukup menarik dan mudah untuk dimengerti.

Schoolfruit.

Di lain waktu (seperti 2 tahun ajaran sebelumnya), setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis selama kurang lebih 20 minggu sekolah menyediakan buah-buahan (dan kadang sayuran seperti paprika atau wortel) untuk diberikan kepada anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan program EU-Schoolfruit, yang bertujuan untuk menstimulasi anak-anak untuk lebih sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur. Intinya si supaya anak-anak mengkonsumsi sesuatu yang sehat. Selain itu juga biasanya akan diadakan semacam kompetisi di mana anak-anak harus membuat sesuatu sekreatif mungkin dari buah-buahan.

Sportsdag.

Setiap tahunnya, sekolah juga mengadakan yang namanya sportsdag. Di satu hari ini mereka (seluruh grup – mulai dari grup 1 sampai groep 8) ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga – sebagian besar cabang-cabang atletik – yang sudah diatur oleh para guru (dibantu orang tua murid juga). Dengan adanya kegiatan ini otomatis anak-anak harus berada di luar ruangan, berbaur dengan anak-anak dari groep dan kelas lainnya, dan juga aktif bergerak sampai waktu pulang tiba (biasanya dari jam 8.30 sampai dengan waktu pulang sekolah – yaitu sekitar jam 14.30).

Techniek

Yang saya suka juga dari kurikulum yang diajarkan di sekolah dasar di sini adalah banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan teknik. Teknik di sini mungkin bisa lebih diartikan ke praktik ya. Misalnya, kegiatan membuat mainan (binatang) dari kayu, melukis dengan menggunakan berbagai macam kanvas dan pewarna, membuat perahu dari karton susu bekas, membuat “puppet show” beserta panggungnya, atau membuat binatang dari buku bekas. Intinya bukan cuma belajar membaca dan berhitung, mereka juga diajarkan dan dilibatkan untuk membuat sesuatu yang menjadi hasil karya mereka sendiri.

Outdoor Learning dan Kunjungan ke Perpustakaan dan tempat-tempat khusus.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ajaran, selain anak-anak hampir setiap tahunnya memiliki jadwal belajar-mengajar di luar ruangan, atau juga dalam bentuk kunjungan kegiatan ke tempat-tempat tertentu seperti kunjungan ke Museum Sepatu dan Kulit yang kebetulan lokasinya ga begitu jauh dari lokasi sekolah, atau kunjungan ke kebun binatang khusus reptil, juga jalan-jalan ke hutan dan de Loonse en Drunense Duinen untuk belajar tentang alam.

Muziekproject.

Pada project ini anak-anak akan diperkenalkan kepada berbagai macam instrumen musik, seperti misalnya alat musik tiup, petik dan perkusi. Dua tahun lalu sewaktu anak gadis saya masih duduk di Groep 6 diperkenalkan dengan alat musik tiup, seperti terompet, saxophone, tuba dan klarinet. Mereka diperbolehkan untuk mencoba alat musik tersebut secara bergantian. Di waktu lain mereka diperkenalkan dengan sambuca, tamborine dan gendang.

Di tahun terakhir basisschool (atau group 8), anak-anak dari group 8 wajib ikut serta dalam drama musikal yang khusus dipersembahkan untuk para orang tua murid sebagai ungkapan terima kasih. Selain itu mereka juga akan melaksanakan kemping selama 3-5 hari. Tahun ini anak saya yang pertama akan sibuk dengan dua kegiatan tersebut (selain tentu dengan pemilihan sekolah selanjutnya dan juga ujian-ujian akhir tahun ajaran).

Ngomong-ngomong soal ujian, walau ada aja kontroversi, di sekolah anak saya juga tiap semesternya dilaksanakan yang namanya ujian. Ini sebenernya lebih kepada tes kemampuan si anak, sampai sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang sudah diajarkan oleh guru mereka. Ujiannya dikenal dengan nama CITO toets (kepanjangan dari Centraal Instituut voor Toets Ontwikkeling). Bentuk ujiannya sendiri cukup simpel, subyek yang diuji setau saya adalah kemampuan berhitung (rekenen), kemampuan membaca dan menganalisa (spelling en technisch lezen, dan begrijpen lezen; ).

Untuk group 8 sendiri juga ada yang namanya ujian akhir atau eindexamen. Pihak sekolah diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk memilih dari beberapa metode ujian akhir untuk diterapkan bagi para muridnya. Jadi selain dari hasil rapport mereka tiap tahun, hasil ujian akhir juga akan menjadi masukan bagi para guru/wali kelas untuk menentukan ke program/jurusan mana si murid bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat middelbare.

Catatan:

Tulisan ini ditulis pertama kali tahun 2015 πŸ˜‚. Berhubung belum yakin dan informasinya terasa kurang, ngendaplah dia sebagai draft selama beberapa tahun. Setelah disesuaikan sedikit sana sini, akhirnya berani juga posting hehe. Mohon maaf apabila informasinya terasa kurang atau ga update ya. Feel free to ask or sharing some thoughts on the comment section!☺

Advertisements

Beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Belanda

Rute penerbangan dari Amsterdam ke Batavia jaman dahulu kala. Lamanya perjalanan bisa sampe 2-3 bulan! (lokasi: Aviodrome, Lelystad).

Setelah beberapa tahun menetap dan lumayan sering berkomunikasi dengan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari (ya iyeala secara anak-anak ngomongnya pake boso LondoπŸ˜…), saya baru sadar kalo ternyata lumayan banyak kata-kata yang saya kenal dalam bahasa Indonesia mirip-mirip dengan bahasa Belanda loh. Kadang penulisannya yang beda tapi pelafalannya sama, atau sebaliknya, tulisannya sama tapi pelafalan berbeda. Kalo tulisan mungkin bahasa Belanda lebih banyak yang mirip dengan ejaan lama sebelum ada EYD ya.

Pelafalan alfabet dalam bahasa Belanda juga hampir semua hurufnya sama dengan bahasa Indonesia loh. Ada beberapa huruf yang dilafalkan secara beda. Huruf “G” dalam bahasa Belanda diucapkan seperti orang yang sakit tenggorokannya hahhaha “kh(Γ©)”, trus “J” yang dilafalkan “yΓ©”, “Q” dilafalkan “ku’h” (short u), huruf “Y” yang diucapkan “Γ©y” (kadang disebut igrek😁). Saya agak ragu tapi kayanya huruf “U” juga kedengerannya beda deh.

Saya mau list kata-kata apa aja yang saya ingat di sini, supaya nanti kalo pas kebetulan lagi berkunjung ke sini jadi pede (lah hubungannya apa ya🀣).

  • Jas; dalam bahasa Belanda dibaca “yas” (“a” pendek), sementara dalam bahasa Indonesia adalah “jas” (kurang lebih artinya sama, yaitu jaket).
  • Koetsir; dalam bahasa Belanda dibaca “kutsir” (“i” pendek), kata ini sama dengan “kusir” (atau supirnya delman🀣) dalam bahasa Indonesia.
  • Velg; ini udah pada tau lah yaa apa artinya 😁.
  • Knalpoot; dalam bahasa Indonesia dibaca knalpot.
  • Gratis; yak, arti dalam bahasa Belanda dan Indonesia sama, cuma kalo dalam bahasa Belanda pelafalannya “khratis” hahaha.
  • Korting; atau diskon. Saya baru tau ternyata istilah ini datengnya dari bahasa Belanda wkwk.
  • Spekkoek; kue spekuk alias lapis legit. Bedanya kalo kue spekuk di sini pasti berempah, beda dengan lapis legit yang ada di Indonesia.
  • Tas; baik dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia dibaca sama dan bermakna sama.
  • Horloge; artinya jam tangan, dibaca kurang lebih “horloosje”, mirip dengan kata “arloji” dalam bahasa Indonesia 😁
  • Vulpen; kurang lebih dibaca “voulpen”, mirip sama kata “pulpen” dalam bahasa Indonesia.
  • Potlood; alias pensil. Kalo bahasa orang dulu pensil suka disebut potlot kaaan hihi.
  • Beha; (dibaca “bΓ©ha) artinya BH atau bra. Cukup jelas kan πŸ˜‚.
  • Versnelling; bahasa Indonesianya adalah persneling kalo ga salah ya? Ituloh, yang buat ganti gigi di mobil.
  • Rotonde; kalo dalam bahasa Inggris disebut “round about”, saya ga tau istilah bahasa Indonesia lainnya (bundaran kayanya ya), cuma seingat saya kalo lewat bundaran mama saya suka bilang rotonde wkwkwk.
  • Te laat; dibaca telaaat alias telat alias terlambat! Hahaha.
  • Klaar; artinya selesai, macem orang betawi ngomong “kalo dia udah turun tangan, pasti kelar urusannya”
  • Precies; artinya sama dengan kata “persis” dalam bahasa Indonesia.
  • Slot; berarti “mengunci”, mirip sama istilah “selot” yang suka dipake sama orang tua jaman dulu (setidaknya ortu saya haha) kalo nanya “pintu udah diselot belom?” 🀣.
  • Kasteel; atau kastil.
  • Kantoor; dalam bahasa Indonesia penulisannya aja yang beda (kantor), artinya sama.
  • Kapot; alias rusak 😁.
  • Kapper; saya suka denger kalo di indonesia yang tukang potong rambut suka dipanggil kaper kan ya?
  • Tegel; dibaca “tΓ©khel” yang berarti ubin. Di indonesia juga dipake kan ya kata “tegel” ini?
  • Gordijn; dibaca “khordain” atawa gorden ibu-ibu πŸ˜‚.
  • Straf; berarti dihukum/hukuman. Kalo bahasa Indonesianya suka dieja “setrap” haha (kayanya si bahasa lokal aja ini hihi).

Duh kayanya kalo saya mau terusin bakalan panjang banget ini tulisan hahaha. Sementara udah dulu yaa, kalo ada yang mau nambahin boleh loooh ditulis di kolom komen 😊

Kalo Orang Belanda Ulang Tahun*. .

  • Hampir bisa dipastikan bukan cuma yang ulang tahun aja yang dapet ucapan selamat, tapi juga orang-orang yang deket sama dia, termasuk mereka yang mungkin ga saling kenal tapi kebetulan barengan. Jadi misalnya nih, saya ulang tahun, trus mertua saya ngucapin selamat (ulang tahun) ke saya, plus ngucapin selamat ke suami juga anak-anak. Kalo yang kaya gini si ga gitu aneh ya. Cuma jadi bikin kagok kalo pas kita dateng diundang ke tempat orang lain. Kagok karna kita kudu ngucapin selamat ke semua orang yang dateng ke pesta ulang tahun itu wkwk.
  • Kado yang didapet akan langsung dibuka di depan orang yang ngasih. Kalo buat kita ini kadang kan berasa ga enak ya, takutnya yang ngasih kesinggung kalo kita ga suka kadonya (atau ga enak hati takut ketauan harganya hahaha). Kalo di sini biasa kaya gitu sis. Maksudnya mereka ga gitu masalah sama yang “shallow“kaya gini hehe. Mereka bahkan kadang kasih kita bon kado-nya supaya kalo memang kurang berkenan atau kitanya dapet dobel (atau udah punya) bisa kita tuker ke tokonya dengan barang lain.
  • O ya, selain buka kado di depan mata, yang berulang tahun juga biasanya bikin semacam wish list gitu kira-kira apa yang mereka mau sebagai hadiah. Ini handy sih menurut saya. Selain kita jadi tau kalo kado kita pasti disukai yang ulang tahun, kita juga bisa kira-kira yang mana yang pas dengan kantong kita (atau kalo perlu patungan dengan yang lain).
  • Jangan banyak berharap pulang ke rumah dengan perut kenyang. Kecuali orang Indonesia/Asia, ulang tahun di sini kalo bukan umur-umur tertentu biasanya ga dirayakan secara besar-besaran. Besar-besaran di sini dalam arti ngasih makan berat trus ngundang sekian puluh orang gitu lah. Kalo kamu ulang tahun trus mau ngundang-ngundang, biasanya cuma buat orang-orang terdekat aja. Seandainya mereka ngadain pesta ulang tahun, hampir bisa dipastikan kalo makanan yang disediain bukan makanan berat alias makanan ringan misalnya kaya chips, temen ngemil pas minum/kacang-kacangan (mereka nyebutnya “borrelnootjes), keju yang dipotong kubus, dan crackers beserta spread-nya. Paling ultimate kalo tamunya dikasih potongan kue ultahnya juga. Buat minum biasanya mereka nyediain kopi, teh, jus-jus atau minuman kemasan dan bersoda gitu, dan tentu saja beer.
  • Jangan heran kalo yang ulang tahun cowo suka dipanggil “jarige job” atau kalo cewe dipanggil “jarige jet”; dan pas ulang tahun ke-50 tiba-tiba yang ulang tahun namanya jadi “Sarah” atau “Abraham” πŸ˜‚. Kadang mereka naro boneka trus ditempelin muka yang ulang tahun dan dihias kaya opa-opa atau oma-oma. Banyak juga yang pasang dekor lebih gila lagi, nempelin poster-poster lucu yang intinya ngerjain yang ulang tahun di sepanjang depan rumahnya.
  • Khusus buat anak-anak, biasanya selain tentu dengan keluarga inti, mereka akan merayakan ulang tahunnya juga di sekolah. Jangan ngebayangin yang mewah-mewah ya. Ngerayain di sini sebenernya cuma dalam artian mereka boleh kasih traktiran yang bisa berupa “snoepjes” alias sesuatu yang manis kaya cupcake dan permen atau yang bentuknya kecil seperti chips atau pop corn. Kalo sekarang suka ada juga yang bikin traktiran buah atau sayuran biar lebih sehat 😁

Saya nemu chart ini di twitter, kurang lebih begitulah alurnya kalo kita dateng ke pesta ulang tahun orang BelandaπŸ˜†

Image via twitter/rspruijt

*berdasarkan pengalaman pribadi aja yaa, belum tentu orang Belanda merayakan ulang tahunnya kaya gini hehe.

Cerita Malam Tahun Baru.

Image via pixabay.

Youth is when you’re allowed to stay up late on New Year’s Eve. Middle age is when you’re forced to.
~ Bill Vaughan.

Sepanjang tiga puluhan tahun dalam hidup saya, walo sebagian besar pergantian tahun ini terlewati dengan suksesnya (baca: tidur πŸ˜‚), ada lah beberapa kali saya ikut merayakan lucu-lucuan dengan teman dan keluarga. Macem-macem perayaan tahun baru yang pernah saya alami yang saya inget antara lain:

  • Keliling ikutan para tetangga komplek pawai ke bunderan HI (walo ga sampe karna keburu kejebat macet!)
  • Ngerayain bareng temen SMA di sekitar bintaro (ada petasan nyasar ke kolong mobil temen saya haha)
  • Bakar-bakaran (ayam, jagung) bareng keluarga di rumah
  • Bakar-bakaran ayam beserta kawannya bareng tetangga komplek di rumah tetangga
  • Itikaf (ato muhasabah ya) di Mesjid Raya Pondok Indah bareng temen
  • Nginep di UGD karna kena DBD
  • Tahun baruan bareng temen kuliah di rumah temen di Sentul (bareng keluarga dia dan temen-temen adeknya)
  • Tahun baruan di Pisa, Italia bareng temen (sambil parno takut dilemparin kembang api sama warga setempat)
  • Tahun baruan di Singapura (walo cuma di kamar hotel doang wkwkwk)
  • Tahun baruan di Kuta, Bali bareng pacar waktu itu (dan kena apes karna jidat ketimpuk sisa petasan dooong)

Nah untuk malam tahun baru selebihnya ya itulah, either saya kebablasan tidur, ato ga nonton tipi ikut countdown di rumah aja hihi.

Pas pindah ke Belanda pun saya dan suami ga pernah bener-bener spesial ngerayain tahun baru. Ga pernah kita secara khusus pergi ke satu tempat ato event buat ngerayain tahun baru. Paling kita cuma beli champagne (pasca hamil saya ga bisa minum lagi, alergi!) dan snack-snack gitu aja. Trus pas pukul 00:00 kita toast, trus buka jendela deh liat pemandangan petasan dan kembang api di sekililing kita. Lumayanlah ga pake dingin, aman dan gratis hihi (emak pelitπŸ˜‚).

Pergantian malam tahun baru kemarin anak-anak spesial request buat nonton The Nun bareng dong πŸ˜‚. Baru tahun ini mereka kami perbolehkan begadang sampai jam 12 malam. Sebelum-sebelumnya paling mereka kami bolehin untuk stay satu jam lebih lama dari waktu tidur mereka (si kecil mah tetep tidur sesuai waktunya). Kami mulai nonton agak telat setelah saya dan suami beres bikin kue. Anak-anak malah becanda dan ngakak-ngakak dong pas liat hantunya the Nun zz. Mungkin juga karna udah banyak meme-nya ya, tapi menurut saya emang The Conjuring jauh lebih horor dari the Nun.

Salah satu ciri khasnya malam tahun baru di sini: olie/krentebollen πŸ™‚

Btw balik ke quote yang saya tulis di atas, bener banget ya kalo stay late until midnight itu buat anak-anak sangat menyenangkan (walo banyakan ga sukses alias bablas ketiduran haha). Dulu pas masih kecil saya seneng banget kalo nyokap sama alm. bokap ngebolehin kita begadang ikut nunggu detik-detik pergantian tahun. Biasanya kita ketiduran di depan TV si haha, tapi tetep aja rasanya excited banget. Trus ujung-ujungnya kebangun pas jam 2 pagi cuma buat pindah lokasi tidur abis itu lanjut zz sampe pagi hahaha.

Best Nine 2018.

As a sum up before we wrap 2018 up within few hours, I would like to share with you, nine of my best moments that happened in 2018. Well, at least ones that I remember 😊

*all are in no particular order. I write them based on my memory πŸ˜…

  • A quite succesful summer trip with three kids (one of them are toddlerπŸ˜…) by train to several cities/countries (Berlin, Prague, Vienna, Rome, Cinque Terre, Bergamo). Although the weather was quite challenging but no big drama happened and everyone was healthy enough (once or twice one of us had minor sickness) to enjoy the holiday!

  • Having a chance to celebrate Idul Fitri in Indonesia with my mum and siblings (also friends and relatives). Although I went to Indonesia not for long and only with the youngest, we still could manage some good family trip, meet up some close friends and enjoying the eid celebration that I’ve been missing for couple of years.
  • One of my best friend came to visit me together with her family and stayed with us for few days. I don’t know how to describe it, but having someone you’re close to back from the hometown to see how you’re doing here makes your heart warm I guess :). My husband know them well as well and he knows how they meant for me so he didn’t mind them to stay either. Plus, you won’t feel any burden when the guests are self-conscious and voluntarily help you at home (you know what I meanπŸ˜‰). And as a bonus, they brought us quite a lot of stuff that only exist in Indonesia 😁.
  • Having an escape trip to Split, Croatia with my husband 😊. My mom in law was so sweet she’s willing to take care of our kids (especially our 2 year old son) on a weekend. The city self had been served us very well. The food was amazing, as well as the view and the ambience – they were superb, it was surprisingly better than we expected. A recommended place to visit I must say.
  • This year our toddler has shown positive development on his motoric skills, from getting better in walking and talking, to eating or finishing puzzles by himself. You really can see how a year can make things so different. I cannot believe how things changed so quickly (alhamdulillah wa syukurillah). And this November he just started his school period. Well, its just a playgroup (they called it here “peuterspeelzal”), he’s just Two after all! It was a bit of unplanned actually. At first I just wanna try the system by registering him on a playgroup closeby home (lazy mama 😜). The reason was because some friends here said that usually it takes like minimum 6 month before your kid can start to join in a class (due to high demand). But that not happened with Fabian. We were quite lucky I guess, because we only had to wait like a week (or two, not quite remember 😁) before he can start to join the group. First week was a success, but then the week after there were some dramas happened. The reason he became cranky on that week apparently because he was sick (stomach flu). Luckily afterwards things were doing OK. No soap opera when I leave or pick him up at school. Big achievement of the year 😊

View this post on Instagram

Despite the flu and the rain (almost the whole day), he still managed and willing to go to school today. At first everything was OK. When we arrived at school, he went to his favorite corner and forgot about me being there 😁. But, after the goodbye dance and the waved, suddenly he cried and didn't want to let me go. What a drama 🀣 The teachers asked me to just go and leave him there. I left him with the teachers while he cried but I couldn't resist not to peek. From the window I could see that at first he still resisted and just stood next to the door while crying. Thank God it didn't take long until he stopped crying and grabbed the teacher's hand to join the others. When I picked him up, the teacher told me that at one time after playing outside, he suddenly cried and was looking for me (again πŸ˜…). Luckily it was only a short one and afterwards she said everything was fine. On the way back home I asked him about the cry and try to give him explanation about the situation as well as his behaviour. He seemed to understand and regretting what he did today. Well, we just see what will happen next wednesday πŸ˜‚ Akh ja, just like what his dad say, "het is een gewoon jongetje". He's just a little normal boy like others, things like this are normal in this period of time πŸ™‚ Ps. The first two photos were on the way to school, the next three were on the way back home, and the last one was his interpretation of autumn in watercolor 🀣 . . . #latepost #toddler #son #peuterspeelzaal #schooltime #2y3m #loveofmylife #nofilters #instadaily

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

  • Alhamdulillah everyone received a bless from Allah SWT to reach and experiencing a new milestone (: age) this year. In January was my first son; in April was my mom; and then in August were me, mom in law and the youngest. September was the time of my daughter, which also happened to be our 5th wedding anniversary (yay to us!); and then lastly in November was my husband’s turn to have his birthday.
  • Our backyard has been positively busy this year. The tulips were blossoming during the Spring time. And then during the summer time we got overwhelmed by so many courgette/zucchini and cucumber delivered from plants our kids have planted in the backyard. And recently, my husband found the pizza oven that fits to his dream πŸ™‚ Although in my opinion the oven is way too expensive, but since he is seldom buying things crazily for his hobby (well, close to none actually), I didn’t mind him having the oven 😁.

View this post on Instagram

I have zero experience on gardening. Last year we renovated our backyard and I was thinking, why not plant some tulips there. At first I was worried they wouldn't make it, but I decided to just give it a go. Few months later, I am grateful they came out beautifully cheering up our backyard. lafff ❀ ps. The planting time of the #tulip bulbs around end of October – early November and they came out fully #blossomed in the beginning of April and if we're lucky enough they would last until around of June ☺ Dulu sewaktu masih tinggal sama orang tua di Indonesia, saya ga pernah ngelakuin yang namanya berkebun. Tahun lalu sewaktu kebun belakang rumah kami direnovasi, saya nekad nyoba-nyoba nanem bunga tulip juga. Sebenernya kawatir pada gagal alias mati tapi saya tetep nyoba aja. Beberapa bulan kemudian, alhamdulillah mereka mekar dengan indahnya di taman kami. ps. Waktu tanam tulip adalah sekitar akhir oktober-awal nopember, dan sekitar awal April mereka akan mekar sepenuhnya. Kalo beruntung mereka akan tetap cantik sampai sekitar Juni ☺ . . . @uploadkompakan @kompakerspekanbaru #uploadkompakan #uk_kompak2ndanniversary #tulips

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

  • I received quite an amount from my pension arrangement in Indonesia. As some of you may know, I resigned from my work last year after my unpaid leave period has finished. At first I thought that I wouldn’t get anything from my pension arrangement (Taspen, THT) since I didn’t qualify the required period to receive pension (only 3 months less sniff). But some of my ex office colleagues said that I still could retrieve the certain pension (one time only, not monthly. They called it THT? Or Taspen if I’m not mistaken). After browsing a bit on the internet, I decided to just give it a go. Nothing to lose and I was there at that time anyway. After completing all the documents needed, I went to the appointed bank, submitted the documents, and then waited until the bank transferred the money to my account. Its as simple as that πŸ™‚ it may be small to others, but for me it was quite a lot, especially when you thought you wouldn’t get anything from 9 years and 9 months of working πŸ˜‚. Next time I will try to write down the process on a separate post (in Bahasa), who knows maybe it could help someone who has the same situation as mine πŸ˜‰
  • And last but not least, it came to my mind that best of this year were coming from those small uncountable and unexpected things which happened in my life that give colors to my day. Even the feeling of satisfaction after ironing a pile of clothes (although afterwards came the upset feeling thinking that I have to do this all over again πŸ˜‚). Or the happines on discovering rambutan and manggis at your local supermarket and those fruits have made you got blinded (diamonds are less worth it for me if you put them side by side – at least here πŸ˜‚)

Rambutan an manggis is in da house yo!

I hope 2018 did good to you, and if it’s not, just take a deep breath and shake all those “less exciting” things off from you. Believe me, through this whole year my life was not that perfect either. There will always be rains in our life, but not to forget also rainbows that come afterwards. It’s not worth it if we only concentrate on those less-happy things than to our abundant bless. We can take them as a lesson in life and let’s hope that all will be better for the upcoming years.

All the best of luck for us in 2019!

Bahagia Receh Hari Ini

  • Badan berasa lebih enak setelah kemarin seharian loyo, kepala pusing dan mual (thanks to virus flu yang kembali menyerang). Alhamdulillaah.
  • Belanja ke supermarket bareng si kecil tanpa pake drama panjang, tumben-tumbenan bayar belanjaan juga ga banyak seperti biasanya (iyalah wong cuma dikit belanjanya πŸ˜…).
  • Ngopi bareng si kecil sebentar, lagi-lagi ga pake drama (hampiiir tapi udah keburu kopi abis jadi batal dramanya hahaha). Diajak foto bareng juga mau padahal biasanya kabur wkwkwk.
  • Ketemu mamanya temen anak saya yang baru aja kehilangan ayahnya, setelah lama ketunda akhirnya bisa nyampein duka cita secara langsung.
  • Video call sama mama di Indonesia, ngobrol bareng sama si kecil yang walau lagi sibuk main tetep nyempetin say hi assalamualaikuum ke neneknya, ga pake jual mahal segala.
  • Sewaktu nyetir ke supermarket tadi ga sadar kalo bensin ternyata udah tiris (maklum biasanya suami yang isiin, saya terima beres aja 🀣), tiba-tiba di tengah jalan si mobil kasih tanda, karna kawatir saya langsung kontak suami. Kata dia begitu ada warning si bensin masih bisa buat 60 KM wkwkwk. Alhamdulillaah masih bisa pulang ke rumah (padahal cuma 2-3 KM doang supermarketnya, tapi dengan cuaca kaya hari ini udah pasti lebih handy kalo belanja pake mobil 😊)

Sekian recehan saya hari ini. Semoga banyak receh-receh bahagia lainnya yang akan saya terima hari ini, aamiin πŸ™‚

Semoga Jum’at kalian juga penuh berkah ya!

Hasil wefie tadi pagi :))

Schoen zetten, Sinterklaas, dan Pakjesavond

Hampir tiga tahun lalu saya pernah nulis sedikit cerita tentang Sinterklaas di sini. Kali ini saya mau share tentang apa aja yang anak-anak buat selama periode Sinterklaas kali ini. Jadi walaupun kami gak merayakan beneran, tapi di rumah kami juga tetep heboh dan semangat kalo Desember mulai mendekat. Buat saya (dan suami serta anak-anak), Sinterklaas beserta pernak-perniknya lebih kepada tradisi yang ada di Belanda, bukan dari segi religi.

Mengulang sedikit, kalo dalam ceritanya anak-anak, Sinterklaas beserta para asistennya (Piet Hitam) datang dari Spanyol ke Belanda menggunakan kapal uap. Mereka dateng ke sini untuk bagi-bagi kado buat anak-anak yang selama setahun udah bersikap baik alias gak nakal. Kalo mereka nakal ga akan dapet kado dari Sinterklaas. Sinterklaas beserta rombongannya tiba di Belanda di sekitar awal bulan Nopember. Biasanya akan ada intocht atau pawai Sinterklaas di tiap kota yang menandai kedatangan si Sinterklaas ini. Pas pawai kemarin kami kecepetan ke centrum-nya. Ujung-ujungnya karna kelamaan nunggu trus si kecil udah masuk waktu tidur akhirnya kita pulang ke rumah persis pas pawai baru mulai 😁

Nunggu pawai sambil foto-foto πŸ˜‚

Begitu Sinterklaas ada di Belanda, dimulai deh tradisi schoen zetten. Anak-anak akan bikin semacam prakarya yang kemudian ditaro di sepatu mereka yang diletakkan di depan pintu (atau di depan perapian kalo di rumah ada) dengan harapan besoknya si prakarya akan berganti (ditukar dengal) hadiah (kecil). Kadang mereka juga memasukkan wortel, gula atau jerami ke dalam sepatu untuk kudanya Sinterklaas – Amerigo.

Di rumah kami kegiatan schoen zetten ini udah berlangsung sejak dua minggu yang lalu. Anak saya yang paling besar awalnya udah males untuk bikin-bikin sesuatu buat schoen zetten, sementara adik-adiknya masih semangat bikin. Rencana mereka semula adalah sehari bikin sehari ngga, tapi karna seneng dapet kado walo cuma yang kecil-kecil aja akhirnya berubah jadi setiap hari. Tinggal mama papanya yang pusing ngumpulin pernik-pernik kado buat ditaro ke dalem sepatu buat dituker sama prakarya mereka hahaha.

Yang paling seru sebenernya adalah anak saya yang paling kecil. Kalo tahun sebelumnya kakaknya yang cewek tiap kali ikut bikin gambar buat ditaro di sepatu si kecil (dan juga jadi bisa buka kado dua kali – punyanya dia dan punya adiknya πŸ˜‚), kali ini untuk pertama kalinya si kecil bikin prakarya sendiri (yang hampir sebagian besar coret-coretan doang wkwkwk), ikut masukin si prakarya ke sepatu, ikut ambil si kado dari sepatu dan kemudian buka kadonya sendiri.

Di sekolah mereka juga mengangkat tema Sinterklaas untuk aktivitas di sekolah. Misalnya group peuterspeelzal si kecil. Minggu kemarin mereka membuat prakarya wortel dan sepatu, sementara minggu ini mereka sibuk membuat zak Sinterklaas beserta gambar kado yang dipengen (semacam wishlist lah ya).

Kalo kakak-kakaknya si kecil kemarin diminta untuk membuat yang namanya “surprise”. Intinya si anak diminta untuk membuat semacam display/packaging yang extravagant (ukuran jumbo) berdasarkan petunjuk (hint) yang dikasih oleh nantinya yang akan nerima. Mereka diacak dan ga tau siapa bikin buat siapa. Kadonya sendiri si sebenernya cuma kado kecil (tahun ini harga maksimal untuk kado aslinya adalah €3). Jadi seru karna mereka ga tau apa yang akan mereka dapat hehe.

Het worteltje in het schoentje voor Amerigo (wortel di dalam sepatu untuk Amerigo) – prakarya fabian di sekolah

De zak van Sinterklaas – karungnya Sinterklaas (gambar kadonya dipilih sendiri oleh si kecil πŸ˜‚)

Kalo ini adalah hasil prakarya anqak-anak untuk schoen zetten

Schoen zetten ini akan berakhir pada tanggal 4 Desember malem, karna tanggal 5 Desember ceritanya adalah malam terakhirnya Sinterklaas di Belanda dan pada malam itu Sinterklaas akan bagi-bagi kado untuk anak-anak yang selama setahun udah berperilaku baik. Malam ini disebut juga dengan Pakjesavond ato secara harfiah berarti “malam kado”. Biasanya sebelum pakjesavond anak-anak akan bikin semacam wishlist kira-kira apa aja yang mereka pengen pas pakjesavond nanti. Makanya kado-kado yang mereka dapet biasanya adalah mainan atau barang yang udah lama diidam-idamkan oleh si anak. Trus apakah anak-anak percaya kalo kadonya dapet dari Sinterklaas? Ngga lah ya hehehe. Mereka paham kalo yang beliin kado adalah mama papa sama omanya. Cuma kadang mereka belaga gak tau aja 😁 Kalo si kecil manalah dia ngerti, satu yang dia ngerti adalah dapet kado! Mau isinya satu buah krayon atau mobil-mobilan punyanya dia juga udah hepi hehe.

Btw kalo di rumah kami ga matok harus tanggal 5 Desember malem untuk ngadain pakjesavond. Biasanya kami sesuaikan aja dengan waktunya Oma dan Papa mereka (kalo saya kan hampir dipastikan bakalan ada di rumah 😁). Pernah juga pakjesavond tapi ngelaksanainnya pagi atau siang hehe, pernah juga malam sebelumnya, dan juga pernah karna deket dengan wiken kita ngadainnya pas wiken. Yang utama kalo buat anak-anak (terutama yang paling besar) adalah bisa secepatnya main dengan kadonya. Jadi buat mereka lebih cepat lebih baik hahaha (walo mereka juga ga mau kalo ga deket tanggal pakjesavond). Untuk tahun ini, karna si Oma udah dipantek sama keluarga adiknya suami saya pas tanggal 5 Nopember malam dan anak-anak prefer kalo pas bapaknya juga ada di rumah (tapi mereka juga mau main cepet-cepet sama kadonya πŸ˜…), jadi kami atur kalo anak-anak boleh buka satu kado pas rabu tanggal 5 besok, dan sisanya tanggal 6 malam supaya bisa kumpul bareng-bareng.

Jadi begitulah kira-kira cerita saya kali ini, semoga menghibur ya (apasih πŸ˜‹). Mohon maap kalo tulisannya ga sesuai aturan, saya lagi agak males ngedit (udah syukuur tulisan ini bisa terbit hahaha, secara draft saya udah numpuk akibat ribet sama ngeditnya plus mentok mulu di tengah jalan!)