Akhirnya Resign Juga.

“Even if you know what’s coming, you’re never prepared for how it feels.”
– Natalie Standiford
.

Per tanggal 22 September 2017 kemarin, masa cuti diluar tanggungan negara yang saya ambil sejak September 2014 lalu sudah habis masa berlakunya. Beberapa bulan sebelumnya ada kolega yang menghubungi saya menanyakan kelanjutan cuti saya, apakah mau diperpanjang satu tahun lagi (di Undang-undang Aparatur Sipil Negara yang baru ada kemungkinan untuk PNS yang sudah mengajukan masa cuti di luar tanggungan negara selama tiga tahun untuk memperpanjang masa cutinya selama satu tahun lagi) atau mengundurkan diri ato resign. Setelah konsultasi dengan suami dan juga ngobrol sama beberapa kolega, akhirnya saya putuskan untuk mengajukan surat pengunduran diri aja alias resign. Dulu kenapa saya ga langsung resign salah satu alasannya adalah supaya masa transisi dan proses pengunduran diri saya bisa lebih lancar. Selain itu saya juga sempet mikir kali aja saya bisa dipindahtugaskan di KBRI di sini di tengah masa cuti saya (wakaka ngarep amit ya).

Sedih sebenernya, karna saya udah kerja di sana hampir 10 tahun lamanya. Selain itu agak berat buat ninggalin temen-temen yang beberapa dari mereka buat saya udah kaya keluarga sendiri. Sewaktu saya mengajukan cuti di luar tanggungan negara, tim kerja saya waktu itu adalah salah satu yang paling kompak dan solid buat diajak kerja sama (sepanjang saya bekerja di sana). Padahal kami cuma bertiga, tapi ngurusin kerjaan yang udah kaya apaan tau alhamdulillah bisa diselesaikan semua. Selama 9 tahun 10 bulan “mengabdi” untuk negara, banyak kenangan suka dan duka yang saya dapet selama bekerja di Kementerian (Alhamdulillah lebih banyak sukanya hehe). Banyak juga yang mandang PNS dengan sebelah mata. Mereka pukul rata kalo PNS itu pasti identik dengan males, KKN, ga bisa kerja, dll yang jelek-jelek. PNS sendiri kebanyakan dianggap sebagai masyarakat kelas dua, ga keren, dan bukan pekerjaan populis di jaman saya (kecuali di kementerian-kementerian yang seksi kaya kemenkeu ato kemenlu ya). But that’s ok for me. Prinsip saya, baik buruknya seseorang sebenernya bukan tergantung pada tempat atau kerjaan apa yang kita punya. As long as you try to do your best, kerja gak setengah-setengah dan berpikir optimis dan positif, there’s always possibilities to change other people’s mind. FYI, saya jadi PNS tanpa bantuan dari siapapun (kecuali dari Allah dan doa orang tua) dan juga tanpa paksaan dari orang tua (walau almarhum bapak saya adalah PNS di kementerian lain).

Walau banyak yang memandang rendah PNS, tapi banyak juga yang bilang jadi PNS enak, karna kerjaan sedikit tapi duit tetep ngalir. Sayangnya pada kenyataannya ga kaya gitu. Lagian dikata kementerian punya kita ya. Saya masih inget, dulu di awal-awal tahun saya bekerja, gaji yang saya terima kecil banget. Boro-boro nutup ongkos, tiap akhir bulan saya (hampir pasti) minta ke bapak saya suntikan dana wkwkwk. Tapi bersyukur sampai terakhir saya kerja, walau dengan pemasukan yang gak seberapa (dibanding gaji temen-temen saya yang jadi lawyer, in house legal ato apalah lainnya yang lebih elit) alhamdulillah saya ga pernah yang namanya kekurangan. Saya-nya juga ga cupu-cupu amat dan ga ngerasa rendah diri walo sekeliling saya udah pada nerima gaji dua digit di depan nol yang berderet. Bersyukur juga mereka ga pernah under estimate saya dan ga memandang saya dengan sebelah mata.

Salah satu nilai plus dari jadi PNS itu adalah adanya kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan kuliah di luar negeri (selain dosen yang juga punya banyak peluang untuk ikut studi lanjutan). Alhamdulillah juga di masa kerja ini saya bisa melanjutkan kuliah di Belanda dengan beasiswa. Ini juga yang menjadi salah satu penyemangat dan pertimbangan kenapa saya mau jadi PNS dulu. Ada satu hal lagi yang juga bisa dihitung sebagai nilai plus (walau ini jatuhnya si untung-untungan, tergantung di mana kita ditempatkan) yaitu terbukanya kesempatan untuk menginjakkan kaki ke tempat-tempat yang gak kita bayangin deh. Kalo diitung, lagi-lagi saya termasuk yang cukup beruntung. Selama kerja di sana saya sempet dikirim ke beberapa negara juga ke beberapa kota di Indonesia. Yang paling berkesan? Banyakkk. Setiap kota ada kenangannya. Mungkin kalo disuruh milih salah satu kota yang saya kunjungi yang paling berkesan buat saya adalah waktu dinas ke Tana Toraja. Selain indah, saya ketemu dengan orang-orang baik di sana. Teman seperjalanan saya pun menyenangkan dan makanan yang kami santap sepanjang perjalanan dinas waktu itu (hampir) enak semua! Padahal kami harus menempuh perjalanan darat selama 8 jam dari Makassar dan ga semua ruas jalannya mulus, tapi alhamdulillah saya tetap bisa menikmati.

Gunung Nona – Enrekang, Sulawesi Selatan. Di depan: ibu Kasubdit, di belakang: bapak Direktur, di tengah: setap wkwkwk

Satu lagi yang juga cukup berkesan adalah sewaktu saya beserta dua orang temen saya diutus untuk mewakili Dirjen ke pertemuan yang mengangkat tema traditional knowledge and folklore di Bangkok. Di salah satu sesi talkshow, salah seorang narasumbernya yang merupakan owner perusahaan tas terkenal di Thailand memberikan hadiah kejutan buat mereka yang mengajukan pertanyaan, yang kebetulan saya salah satunya. Jadi begitu saya kembali di hotel, hadiah yang berupa tas sudah menanti saya di lobby (cantik banget – jadi salah satu tas favorit saya waktu itu, sayang sekarang udah ga ada hiks).

Ini foto saya beserta tas gratisannya pas lagi main ke bekse bergen tahun 2011😊 Mereknya NaRaYa, bisa dicek website resminya di http://www.naraya.com

Walo banyak enaknya ga berarti saya ga ngerasain yang ga enaknya juga loh ya. Bukan dari eksternal aja, justru tantangan lebih banyak dateng dari dalam. Saya harus bisa ngerjain segala macem alias multitasking dan bisa belajar sendiri (beruntung kalo pas kebetulan dapet atasan yang rajin dan bisa ngajarin kita, kalo ga ya wassalam deh). Walopun saya sarjana hukum, kerjaan saya waktu itu selain biasanya ikut drafting perjanjian tapi juga termasuk nerjemahin naskah, bikin rencana anggaran/budgeting, ikutan negosiasi, ngurusin kampanye, jadi juru sorot, tukang ketik naskah sampe jadi kaya event organizer dan lain-lain😂. Hikmahnya, saya jadi punya skill sedikit lebih banyak dari sebelumnya dan kenal orang lebih banyak sih.

Bareng temen-temen pas acara dharma wanita 😀

Bersama sesama peserta training di Durban – Afsel, satu dari Ukraina satunya lagi dari Uganda.

Kalo urusan sirik ato rekan kerja males, tukang gosip, ato penjilat mungkin ga cuma di lingkungan PNS aja tapi di perusahaan swasta ato lingkungan kerja manapun pasti ada ya (buat yang ngga punya, bersyukurlah kalian), jadi buat ini si saya maklum. Banyak juga yang kadang pengen dilihat atasan sampe kerjaan orang lain diaku-aku wkwk. Anyway, selain karna saya termasuk yang ga gitu peduli dengan omongan orang (iya, bahkan sampe baju yang saya pake pun sempet diomongin), biar gimana juga lingkungan birokrasi di Indonesia masih kental dengan yang namanya perbedaan gender dan senioritas. Saya pun sempet merasakan ini. Sempet beberapa kali masuk bursa promosi, beberapa kali itu pula saya tersingkir karna saya dianggap masih muda, belum menikah dan bukan kepala keluarga. Sekalinya kesempatan kembali dateng dan hampir pasti di tangan, eh sayanya harus cuti luar tanggungan beremigrasi buat ikut suami dan kemudian mengundurkan diri dengan teratur.

Yah inilah namanya qadar dari Allah. Kita cuma bisa berharap, berencana, tapi semua jalannya kembali kepada Allah yang menentukan. Saya bersyukur yang Allah kasih sebagai gantinya (dari pekerjaan saya kemarin) jauh lebih banyak dan berlimpah. Memang hidup kita di depan ga ada yang tau ya. Bisa jadi setelah saya bener-bener lepas dari pekerjaan kemarin, pintu lain akan terbuka lebar dan pekerjaan baru bisa segera nempel ke saya (Aamiin yang kenceng !)

Advertisements

Dua for my Children.*

In the name of Allah, the most Beneficent, the most Merciful

All praises are for Allah SWT, the most Compassionate, the most Forgiving.

Salutations and blessings be upon our Prophet Muhammad SAW, his family and companions.

Oh Allah, I submit myself to You.

I realize that parenting a child is a very difficult task and I turn to You in humility for Your help.

I implore You for Your wisdom and guidance.

Oh Allah, I know that our children are an amaanat from You, to care for and to raise in a manner that is pleasing to You.

Help me do that in the best way.

Teach me how to love in a way that You would have me love.

Help me where I need to be healed, improved, nurtured, and made whole.

Help me walk in righteousness and integrity so that You may always be pleased with me.

Allow me to be a God-fearing role model with all the communication, teaching, and nurturing skills that I may need.

Oh Allah, You know what our children need. Help and guide us in praying for our children.

Oh Allah, put a hedge of safety around our children. Protect their bodies, minds, and emotions from any kind of evil and harm.

Oh Allah, I pray that You protect them from accidents, diseases, injuries, and any other physical, mental, or emotional afflictions and abuse.

Oh Allah, I pray that You keep our children free from any addictions and vices.

Draw them close to You for protection from every ill and evil influence of our society, whether it’s apparent to us or not.

Oh Allah, grant them the best of company as their friends — people who will inspire them to love and worship and obey You.

Oh Allah, grant our children hidaaya and a heart that loves to obey You.

Shine Your light on any secret or unseen rebellion in their hearts and destroy it before it takes root.

Oh Allah, guide them away from any pride, selfishness, jealousy, hypocrisy, malice, and greed and make them uncomfortable with sins.

Penetrate their hearts with Your love and reverence today and always.

Oh Allah, make apparent to them the truth in any situation and let them not be misled by falsehood.

Oh Allah, grant our children the ability to make clear decisions and let them always be attracted to good things that are pure, noble, true, and just.

Oh Allah, guide them in making choices that please You.

Oh Allah, help them to taste the sweetness of walking with a humble spirit in obedience and submission to You.

Oh Allah, grant them the wisdom to choose their words carefully and bless them with a generous and caring spirit.

Oh Allah, I pray that they never stray from the path of deen and that You give them a future filled with Your best promises.

Oh Allah, always keep our children cleansed and pure from evil and shaytaan.

Oh Allah, keep them steadfast in establishing Salaah and help them revere the Glorious Quran as Your Word and Law and to read it with understanding daily. Let it be their source of light and guidance.

Oh Allah, let our daughters love wearing hijab and our sons the dress of a humble Muslim.

Let their dress be a representation of their Imaan and of their love and respect for Your commands.

Lead them to a position where they rely truly on Your power alone and fear You in the open and in secret.

Oh Allah, make them so strong in their deen that they never encounter doubt.

Oh Allah, do not allow any negative attitudes in the place of our children’s lives.

Oh Allah, guide our children in honouring and obeying You, Your Rasool (peace be upon him), and us as parents (when we are commanding that which is pleasing to You).

Make them the coolness of our eyes.

Oh Allah, fill our children with compassion and caring that will overflow to each member of our family.

Oh Allah, grant them piety.

Oh Allah, help them love, value, appreciate, and respect one another with good communication between them always.

Oh Allah, drive out any division between our children and bring them healing.

I pray there be no strain, breach, misunderstanding, arguing, fighting, or severing of ties.

Oh Allah, allow them to one day marry righteous, God-fearing, kind, hard-working, intelligent, beautiful, healthy spouses who get along with and respect and love (and genuinely enjoy) every member of our family and who lead our children (i.e. their spouses) even closer to You and Jannat ul Firdaus.

Oh Allah, please grant me the company of pious friends, relatives, extended community members, and teachers who will be inspirational role models for my children and will help me raise them to be the best of believers.

Oh Allah, please don’t let me become self-satisfied and arrogant in my parenting, but please don’t humble me or shame me through my children’s misdeeds either. Please let me always give credit for their good character to You and please don’t ever let me stop praying for them.

Oh Allah, please don’t let my children be “late” in meeting any of life’s milestones that are expected of them.

Oh Allah, protect my children from debt. Make them givers and not takers.

Oh Allah, grant my children noble professions with halal incomes that give them respect and dignity in Your Eyes and in the eyes of their fellow human beings.

Oh Allah, grant them worldly comfort so that my children can come to You through the Door of Gratitude and so that they are not forced to come to You through the Door of Patience. Please let them always be grateful…and patient.

Oh Allah, I pray for a close, loving, happy and fulfilling relationship with them for all the days of our lives and to be reunited with them in Jannat ul Firdaus.

                                                      آمِيْن يَارَبَّ الْعَالَمِينْ


*this dua was edited by Hina Khan-Mukhtar, who said, “This list of duas was not started by me but I edited it and added a few of my own and am now sharing…feel free to add your own and continue sharing.” (link to original post: click here).

My Year 2017 in Review.

Image via Pixabay

Year’s end is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us. ~ Hal Borland.

Bwahahaha judulnya ampun ya. Maafken saya emang ga gitu keren kalo mikir judul. Awalnya malah mau dikasih judul kaleidoskop wkwkwkk. Daripada ga nulis ah.

Berhubung 2017 sudah tutup buku tengah malam kemarin dan mumpung masih tanggal 1 (draft udah dibuat dari awal bulan padahal – sigh), saya mo refleksi diri sendiri dan mencoba meng-highlight hal-hal penting yang udah saya alami sepanjang tahun 2017 lalu. Saya mau bikin pake bullet aja rekapnya biar gampang dibaca ah hahaha. Mulai ya.

  • One and foremost, halaman belakang yang udah tahunan ga keurus (dan kaya hutan belantara) akhirnya tahun ini berhasil disulap jadi lebih cantik dan terawat. Halaman depan juga diberesin dikit biar keliatan lebih rapi (walo sekarang agak berantakan lagi wkwkwk – damn you autumn! Sisa sampah daunnya masih berserakan niiih 😭)
  • AKHIRNYA kursus dansa juga sama suami 😂. Setelah sekian lama berencana akhirnya kita mulai kursus ballroom dance (for beginners) per Oktober/November kemarin. Setidaknya dalam seminggu ada satu kali pergerakan bersama lah ya hehe.
  • Pulang ke Indonesia berdua si unyil sewaktu dia masih usia 7 bulan untuk menghadiri wedding adik saya. Karena ini juga akhirnya rencana mudik sekeluarga ke Indonesia jadi berubah dan kemudian banting stir liburannya ke negara sekitar sini aja.
  • Si bayi alhamdulillah tumbuh sehat, giginya udah ada 8 (menuju 10 karna sekarang si gusi lagi “mateng-matengnya”. Sekarang juga lagi seneng-senengnya jalan dan ngeledek mamanyaaa.
  • Walau belum selesai, akhirnya interior rumah (meh, interioooorr hahaha) sedikit-sedikit ada perubahan.
  • Bapaknya anak-anak akhirnya ganti kendaraan yang lebih gedean (untung bukan bis ato truk😂) setelah puluhan tahun setia sama mobil hijau kesayangannya. Nasib mobil hijaunya? Diobral seharga €300 aja cin. Sungguh ngeselin dengernya ya.
  • Anak-anak udah terdaftar untuk ambil kursus renang yang akan mulai bulan Januari tahun depan.
  • Jadi editor untuk bukunya temen. Walau belum pengalaman tapi seneng setidaknya ilmu saya masih bisa kepake dikit-dikit.
  • Huhu akhirnya saya resign juga dari PNS. Per 1 Oktober saya mengajukan surat pengunduran diri setelah sebelumnya cuti di luar tanggungan negara selama 3 tahun.
  • Laptop saya yang touchscreen gara-gara upgrade windows terakhir jadi ga kompatibel dan sekarang ga touchscreen lagi grrrr. SEBEL! Bagaimana nasib perketikan saya kalo begini caranyaaaa (lebhayy).
  • Alhamdulillah dikasih kesempatan ketemu langsung sama temen-temen blogger: Astrid (pas masih hamil) dan kunjungan singkat ke rumah Deny (juga pas lagi hamil hahaha).
  • Alhamdulillah tetep belom ada yang gol untuk dapet kerjaannya hehe. Well, saya belum gitu serius nyari sebenernya karna kadang masih berat kalo mikir si kecil. Mungkin karna itu juga Allah belum kasih rejekinya ke saya ya. Walopun belum gitu serius tiap kali terima surat cinta (tanda ditolak) saya tetep sedih tapi. Berasa kaya pengalaman saya kerja (plus ilmu saya) ga dihargai di sini. Makanya saya mikir kali tahun depan sekolah lagi aja. Entahlah, liat aja nanti.
  • Alhamdulillah umur bertambah, tapi sedih tahun ini entah kenapa berat badan juga ikut nambah 😭 biasanya BB saya stabil di kisaran 50-an (kecuali pas hamil bengkak jadi 60 kg), sekarang jarum timbangan ga mau mundur dari kisaran 52 – 53 kg. GLEK. Harus lebih banyak bergerak kalo ga mau makin nanjak nih!
  • Last but not least, alhamdulillah sepanjang 2017 kami diberikan sehat, nikmat rejeki yang tiada kira sehingga masih bisa menikmati hari ini 🙂

Mungkin ada yang kelupa, tapi kayanya segitu aja review-nya hehe. It has been a good year I must say. Alhamdulillaah. Semoga di tahun ini dan ke depannya kami (saya beserta keluarga dan kalian yang saya sayangi) diberikan oleh Allah berkah kesehatan, kebahagiaan, rejeki yang berkecukupan dan rasa bersyukur dan selalu ingat kepada yang Maha Memberi (aamiin).

Cheers!

Desember.

“December, being the last month of the year, cannot help but make us think of what is to come.”
― Fennel Hudson, A Meaningful Life – Fennel’s Journal – No. 1

Ga berasa tau-tau sekarang udah sampe aja ke bulan Desember. How time flies so fast ya.. perasaan baru kemarin kita masuk ke tahun 2017, sementara ga lama lagi kita akan sampe di tahun berikutnya (insya allah). Banyak hal yang terjadi di tahun 2017 ini. Ada beberapa kejadian yang ga disangka-sangka, tapi ada juga yang menjadi accomplishment saya (dan suami). Yang sedih-sedih ga usahlah diinget, paling penting adalah bersyukur untuk semuanya 🙂

Yang paling seru tentu hadirnya si kecil yang semakin hari semakin ngegemesin (dan kadang ngeselin haha). Bulan ini anak piyik satu itu akan memasuki usia 1 tahun 5 bulan. Hampir setahun setengah. Bahkan sampe sekarang ga pernah nyangka kalo tahun lalu saya melahirkan dia! Kalo kata mertua saya, he is really a present for us (“wat een cadeautje!” said her :)). Buat dia si kecil adalah kado karna kebetulan hari lahirnya cuma beda dua hari sama dia hehe, itu juga karna saya dulu minta nunda biar kita bisa celebrate ultahnya si Oma sebelum saya lahiran. Yang bikin saya lebih hepi (dan bersyukur) lagi adalah (alhamdulillah) akhirnya fabian mulai berani jalan sendiri dengan rute agak lebih jauh (ngga tiga empat langkah trus roboh 😂).

Semenjak minggu kemarin cuaca di sini udah mulai drop, Oliebollenkraam (Gebakkraam) udah mulai banyak (yay!), beberapa orang udah mulai pasang hiasan lampu di rumahnya, dan anak-anak masih excited dengan hadiah yang didapet pas pakjesavond 5 Desember kemarin. Eh, saya sama suami juga dapet kado dari Oma dong hahaha, lumayaaan buat beli lippenstift lagi sama bedak *lah😂

Gebakkraam di Makro.

Walaupun kami ga merayakan natal (dan tahun baru), kami juga senang karna bisa ikut merasakan ambience perayaannya di sini. Toko-toko dan cafebakery di centrum udah pada berhiaskan lampu dan juga memasang dekorasi bertemakan natal. Bahkan tempat saya dan suami kursus dansa udah netjes disulap jadi makin meriah sama dekorasi natal komplit dengan igloo dan boneka super besar si opa Santa. Heboh! Dan karna sekarang taman belakang kami udah lumayan bersih (dan ga kaya hutan lagi hahaha), saya dan anak-anak pengen ikutan pasang lampu-lampu cantik biar meriah hihi.

Beda sama tahun lalu, salju dateng lebih awal di penghujung tahun ini. Sejak beberapa hari yang lalu di sini udah turun salju. Lumayan banyak dan tebal walau temperaturnya sendiri ga melulu di bawah 0°C.

Anak-anak pun seneng banget main ke luar, termasuk si kecil. Sempet juga bikin snowman walau ga bertahan lama hihi.

Anak-anak dan suami biasanya mulai libur di jumat siang sebelum perayaan natal berlangsung. Berhubung tahun ini lumayan “waw” buat suami, untuk liburan kali ini kami ga punya rencana apa-apa. Well, rumah menjadi salah satu concern utama kami sekarang ini kayanya. Kami sekarang sedang coba mere-dekor rumah sis. Dan kalo udah urusan rumah bisa panjang dan ga abis-abislah urusannya. Mudah-mudahan Yang Kuasa merestui dan memudahkan proses yang sedang kami jalanin ya. Aamiin!

 

Tiga Tahun.

three-years-old-candle

image via 3dvision-blog

“Three simple rules in life: If you do not go after what you want, you’ll never have it. If you do not ask, the answer will always be no. If you do not step forward, you will always be in the same place.”
-Anonymous.

Kemarin saya dapet (achievement) message dari WordPress, ga berasa ternyata saya udah oret-oret di wordpress tiga tahun aja. Walaupun belum konsisten tapi kayanya kalo dibandingin sama yang dulu-dulu dari segi postingan jauh lebih produktif yang ini *tsahhh. Congrats to myself yang udah (mencoba) semangat buat nulis ala-ala biar kepala ga buntu-buntu banget hehe. Semoga ke depannya makin produktif dan kreatif nulisnya, dan mudah-mudahan tulisannya pun menarik dan bermanfaat buat yang baca. AAMIIN!

What’s in a Name?

What’s in a Name?
That which we call a rose by any other name would smell as sweet..
(Romeo & Juliet, W. Shakespeare).

Is that true?
a name is just a name..?
menurut gw..nama itu penting.
let me tell u…gw punya pengalaman gw bisa admire someone only bcoz of his/her name..!
ridiculous maybe, but it’s true..mmm..dua kali…noup..tiga kali (bayangin..!!tiga kali..) gw kepentok sama yang namanya which i think is very unique..
emang sii..cuma sekedar mengagumi..tapi coba klo nama tu tiga orang bukan itu..wuiihh..mungkiiin gw ga inget juga kali orangnya..ehehe…parah ya??
gini deh..ambil contoh mawar seperti yang Shakespeare bilang tadi..
lo bayangin kalo namanya bangkai (read: bunga bangkai) ..pasti belom apa2 lo ga akan mao nyium tu bunga kaaann…meski di bilang wangi?? ya iyyaaa laa haayy…orang kan dah ngbayangin bangkai sebelom nyium tu bunga..
well..all in all..menurut gw, nama itu bagian dari estetika seseorang..more or less..it gives us first impression..dari nama orang bisa jadi cantik loooh..(hihi..meskipun bwt ke depannya sei tetap ditentukan oleh personality-nya yaaa…but still..)

what ’bout my name?
sadly..my name is similar with one of bird species..had d same name with one of our boxer (huhu…opposite sex w/ me pulaa….), also d same with one of ‘dangdut’ singer..(wkwk…what a name huh…)…
the only person who said that i had a beautiful name is someone who is so far away from here..
well..at least ada yang bilang nama gw bagus, ya ga? =)
but u know..actually i had two nick name..one is like i told u above..
d other..mmm…dipake sama penjahat perang bo!!
hehe…my other nick name’s inong (bcoz I’m half Aceh)..kemaren pas Aceh lagi rusuh-rusuhnya..panggilan keren gw itu disalahgunakan mereka yang membentuk women’s troop..they called themselves as “inong bale”..beteeeee….

jadi..kesimpulannya, I disagree with mas Shakespeare said in Romeo n Juliet..
btw bisa ngbayangin ga klo nama Romeo diganti jadi Rhoma??
huahuaahaha……lucu tuh..pasti lo semua ngbayangin mas “romeo”-nya bejenggot plus bersorban…ya gaaa???
ngaku deeeh…ehehe…

 

wkwkwk tulisan di atas itu adalah salah satu postingan yang saya buat di blog saya di tahun 2007. Begitu saya baca lagi sekarang jadi mikir lagi, siapa aja ya tiga nama yang saya kagumi itu, dan siapa juga yang bilang kalo nama saya bagus :p

O iya, sedikit cerita dibalik darimana datangnya inspirasi nama saya yang ringkes dan kurang familiar ini (biasanya kan yang banyak Anisa ya, bukan Anis which is more like a male name). Jadi dulu pas mama saya melahirkan saya, ada satu suster yang baik dan perhatian banget sama mama, namanya Anis. Nah, terinspirasi dari situ dikasihlah nama anaknya seperti suster yang baik hati itu. Kalo yang Inong udah tau dong ya, karna bapak saya orang Aceh dipanggillah saya Inong. Ngga tau kenapa cuma saya yang dipanggil Inong, padahal ada 3 anak perempuan di keluarga saya.

Dulu saya selalu mikir, ih nama saya biasa amat si, kalah keren sama nama kakak-kakak dan adik saya. Tapi semakin ke sini saya ga gitu ambil pusing, dan mungkin juga karna nama ini yang membawa banyak berkah buat saya makanya saya bersyukur nama saya apa adanya (tsaaahhh hahhaha).

Beda sama jaman dulu yang kalo ngasih nama kebanyakan ga gitu rumit, kalo saya liat trend masa kini, para orang tua (at least di sekitaran yang saya kenal) kebanyakan nyari nama yang susaaaaaahhhh banget nyebutnya. Well ga semua si ya, tapi kebanyakan gituuu. Mungkin menurut mereka makin njlimet penyebutannya makin keren ya hehe. Saya gak men-judge koookk, asli. Cuma kadang saya ngerasa kasian sama anaknya.

Sebelum saya punya anak, saya sempet cita-cita kalo punya anak akan dinamain ini dan itu. Bukan yang ribet-ribet kok, nama yang saya cita-cita-in itu kebanyakan simpel tapi menurut saya punya arti yang indah. Entah kenapa tapi kebanyakan nama yang terlintas di kepala saya kebanyakan nama cewek (qadarallah dapetnya cowok :)). Salah dua nama yang saya suka adalah Nina (dari cerita seri bergambar jaman dulu) dan Sarah (dari Siti Sarah istri Nabi Ibrahim S.A). 

Kemarin pas saya dan suami nyari nama buat anak kita mikirnya ga gitu susah (walo ga gampang juga buat nemu yang pas). Pertimbangan pertama adalah huruf pertama si bayi harus beda dari nama-nama yang sudah ada di rumah. Ini penting supaya kalo ada korespondensi ga bingung dan rancu dengan yang lain. Saya dan suami dua-duanya berawalan A, tapi untung jenis kelamin beda jadi masih lumayan lah ga gitu bingung hihihi (plus suami punya nama depan lebih dari satu jadi biasanya singkatannya lebih panjang). Anak kami yang pertama berawalan D sementara anak kami yang kedua berawalan E. Nah berangkat dari situ kami putuskan (kalo bisa) nama untuk si bayi berawalan F (biar jadi D-E-F wkwkwk). Pertimbangan selanjutnya adalah dari sisi pengucapan. Kami mau supaya nama anak kami gampang diucapkan oleh keluarga Indonesia dan juga keluarga Belanda. Satu lagi yang juga jadi pertimbangan saya pribadi (suami sepertinya ga gitu ambil pusing) adalah arti dari nama yang akan kami berikan ke anak kami. Saya ga pengen nama anak saya punya makna yang kurang baik. Ga perlu extravagant yang penting pengertiannya baik dan positif – itu pertimbangan saya. Sementara satu syarat tambahan dari suami: kasih nama yang simpel dan ga ribet. Cukup kaya nama kakak-kakaknya yang cuma pake dua nama (nama depan dan nama keluarga), ga kaya bapaknya yang namanya udah kaya kereta api hahaha.

Sebelum kami tau jenis kelamin si bayi, saya dan anak-anak suka asal nyebut kira-kira nama apa yang dimulai dari huruf f yang bisa kita kasih ke si bayi. Banyak nama untuk perempuan yang kita sebut tapi herannya dari awal saya udah kaya kepincut sama nama “fabian” seandainya si jabang bayi nantinya adalah laki-laki (walo belum 100% yakin). Mungkin itu yang namanya qadar ya. Sebelum si bayi lahir saya nyoba cari arti dari nama”fabian” ini tapi kebetulan agak susah nemunya. Sepanjang pencarian saya alhamdulillah fabian memiliki arti yang cukup bagus. Begitu fabian lahir, ndilalah tantenya fabian kasih kartu ucapan dengan arti dari nama “fabian” donggg. Kartunya sendiri dalam bahasa Jerman (karna ternyata nama fabian ini banyak di Jerman). Beruntung papa-nya fabian bisa nerjemahin jadi saya ikut tau deh arti fabian ini apa menurut orang Jerman😊.

Sekian dulu postingan (geje) dari saya hihi. Besok insya Allah posting lanjutan liburan summer kemarin. Agak ribet milih foto-fotonya, secara yang motret anak-anak, banyakan hasilnya kalo ga blur ya mencong 😂

Traveling (on A Long Haul Flight) with A Baby.

“Asked to switch seats on the plane because I was sitting next to a crying baby. Apparently, that’s not allowed if the baby is yours.”
Ilana Wiles, blogger

So, last April I went to Indonesia together with my seven month-old baby to attend my little sister’s wedding. Although it was not the first time for us to travel together without my husband and our two other kids (when he was still 4 months old, we traveled to Paris but a friend joined us half the way), it was still quite worrying for me at first to do the trip.

Main thing that concerned me before doing the trip was of course what if my baby (fabian) gets cranky all the way. This trip is way much longer if we compared it to Paris trip. And anyone who had experience of getting irritated by crying baby(ies) in the plane would know what I mean I guess (I am one of them 😜 – can you imagine if its your baby who did that!). Another concern was the loo issue. I didn’t have anyone to assist me or asked for help (well, I can ask the flight attendant actually but only to a certain limit I think). Plus, my baby at that age (7 months) has already starting to recognize people and he didn’t want to be hold by a stranger.

Having these in mind, my husband and I had to think and manage the trip as efficient as possible to make it easier and less hassle for me.

First of course which flight will suit best for us: direct flight or the one with stopover. After taking some considerations, we then decided that it would be better for me and fabian to use direct flight instead of flights with transit. There are few options for me to take direct flight from Amsterdam to Jakarta (we chose to use Garuda Indonesia). The duration of the flight from Amsterdam to Jakarta was approximately 13 hours, and the return flight was approximately 14 hours. The flight departed in the evening, hoping that it would be easier for fabian to sleep along the way and to adapt with the time difference later on.

After we confirmed the booking, I immediately contact the customer service of Garuda via email to request for a baby bassinet. This is actually a big advantage for those who travel with children less than 1 year old (well, maybe maximum 1,5 years – depends on the size of your baby).

This is the bassinet we got on our flight. Btw, the type of the bassinet self could be different from one airline (or flight) to another.

After the ticket and the bassinet have been settled, then we have to decide whether I should bring the buggy along to Indonesia or not, and which way would be the easiest for me to bring fabian and his (including mine) “equipment” along the whole time. In the beginning I considered to bring the buggy and a backpack diaper bag with me. But at the last moment (during the check in queue lol), I decided to leave the buggy and instead just using a baby carrier and replaced the backpack with shoulder-carry diaper bag. The consideration for the latter was mainly for the practicality – if I use backpack it would be a bit difficult for me to reach its pocket(s) without needed to take the bag out of my back.

I also have read some articles which discussed about how to handle a baby during take off and landing (because of the loud sound of the engine). Some people suggested to use earplug or earphone to reduce the sound, while others suggested to breastfeed the baby during the take off (and landing). Luckily fabian was not that critical at that moment. During the take off and landing he was quite relax and (without me asking) he just went to breastfeed and getting ready to sleep. I guess picking the evening flight also helped then 🙂

All in all, we had quite a smooth trip I can say. My son were mostly sleeping during the flight, and since I couldn’t use my tv (entertainment on demand) on my seat (hindered by the bassinet), I decided to make use the wifi connection on board (not for free but the price is still reasonably ok). I could use internet connection nicely during the flight (at least on the first batch) and able to chat with people on the ground – in Indonesia and in the Netherlands.

Nevertheless, doing a long haul trip only with your baby is definitely a tiresome. Yes – it’s possible, but if you have an option, I would suggest to bring your partner (or someone else) along. That would be much better for your body! 😉

And finally, although already a lot of people discuss it and what I will write below probably not much, I would like to share some tips for those who “must” do a long haul flight with a baby (or toddler below two years old).

1. Book your flight early. If you have an option to fly in the evening, do pick that. Evening flight(s) mean your baby doesn’t have to adjust that much with the time frame during the take off and landing – which means would be less stress for them.

2. Don’t forget to contact the customer service of the airlines in case you need them to provide a bassinet for your baby. Fyi, the bassinet can only be used for baby with maximum weight of 9kg or maximum age of 2 years old. The airlines only can provide limited number of bassinet in one flight, thus make sure you contact the airlines the soonest after your booking is confirmed.

3. Travel as light as possible. If you think you don’t need the stroller/buggy that much, just bring your baby with a baby carrier. Make sure your carrier is easy to wear on and off without assistance needed (as reference, I used ergobaby 360 four position). Further, bring a diaper bag which sufficient enough to accommodate your baby stuff, travel documents and your stuff as well (you don’t have to bring separated bag). In short, things you bring to the cabin would only be the baby (with the baby carrier) and one diaper bag.

4. If possible, choose a diaper bag that has at least one or two mini bags (one for the clothing stuff and one for food stuff – the latter is optional) with some extra pockets on it. The minibag is handy to bring in case you need to change your baby’s diaper. The extra pocket with sufficient size (preferably one with zipper in front or in the back of the bag) is important so that you can put your travel documents there and you can easily easily access them when you need it.

Stuff you need to bring in the clothing minibag: diapers (2 pcs would be enough), 1 pack wet wipes (choose the small one or reduce the wipe half), 1 set spare clothes (make sure its a comfy one like a jumper for example – no need to bring jeans or any clothes that less handy and less comfy), one pc of diaper cloth and 2 pcs (disposable) body wipes (washandjes).

If you have two minibag, you can put these things in the food minibag: (food and) milk container (to bring some snacks, milk, and the cereal/porridge for your baby – you don’t have to bring alot! Just some small portions in case your baby need it), baby spoon, bottle feed (for the milk), a mug (if your baby also drinks water), wet napkin, tissues, and (disposable) bib 2 pcs. If you only have one minibag, do remember to bring a thermal bag for your baby’s milk, while the rest can also just dump into the bag.

Some other stuff you also need to bring is a spare clothes for yourself (one t-shirt would be sufficient enough – in case an “accident” happened you would be happy that you bring a spare shirt 😅), some (small) toys for your baby (teethers, tiny stuffed doll), phone/cable charger, and a (light-weight) novel (optional). Don’t forget also to bring medicine such as paracetamol or other medicines you usually used (always handy when you have them around), band-aid (pleisters), mini perfume (important!), travel size toothbrush and toothpaste, and telon/kayuputih oil (only applicable to indonesian I think haha).

5. Make sure you and your baby wear comfortable clothes yet warm enough to wear in a room with an airco. Put your high heels and the blings in the baggage, also your make up kit. You will only need a (vaseline) petroleum gel or a lipbalm (and a thin lipstick after landing) to be put on your lips during the flight.

6. In my experience, the airline also provides baby food (usually baby food in a jar) and a diaper (complete with the wet wipes) for our baby. But, you cannot count on that since there’s always a possibility that the flight attendant forget to give them to you (happened to me).

7. After you landing (also applicable during the flight), if you need a help do not hesitate to ask someone else to help you – especially when picking up your luggage(s) from the baggage belt.

8. And finally, don’t stress out. Just relax, enjoy it and consider the trip as something that will make the bond between you and your baby stronger (😁).

I hope this post could help those who will do the travel alone with her (or his) baby just like me😊

Happy traveling!