What’s in a Name?

What’s in a Name?
That which we call a rose by any other name would smell as sweet..
(Romeo & Juliet, W. Shakespeare).

Is that true?
a name is just a name..?
menurut gw..nama itu penting.
let me tell u…gw punya pengalaman gw bisa admire someone only bcoz of his/her name..!
ridiculous maybe, but it’s true..mmm..dua kali…noup..tiga kali (bayangin..!!tiga kali..) gw kepentok sama yang namanya which i think is very unique..
emang sii..cuma sekedar mengagumi..tapi coba klo nama tu tiga orang bukan itu..wuiihh..mungkiiin gw ga inget juga kali orangnya..ehehe…parah ya??
gini deh..ambil contoh mawar seperti yang Shakespeare bilang tadi..
lo bayangin kalo namanya bangkai (read: bunga bangkai) ..pasti belom apa2 lo ga akan mao nyium tu bunga kaaann…meski di bilang wangi?? ya iyyaaa laa haayy…orang kan dah ngbayangin bangkai sebelom nyium tu bunga..
well..all in all..menurut gw, nama itu bagian dari estetika seseorang..more or less..it gives us first impression..dari nama orang bisa jadi cantik loooh..(hihi..meskipun bwt ke depannya sei tetap ditentukan oleh personality-nya yaaa…but still..)

what ’bout my name?
sadly..my name is similar with one of bird species..had d same name with one of our boxer (huhu…opposite sex w/ me pulaa….), also d same with one of ‘dangdut’ singer..(wkwk…what a name huh…)…
the only person who said that i had a beautiful name is someone who is so far away from here..
well..at least ada yang bilang nama gw bagus, ya ga? =)
but u know..actually i had two nick name..one is like i told u above..
d other..mmm…dipake sama penjahat perang bo!!
hehe…my other nick name’s inong (bcoz I’m half Aceh)..kemaren pas Aceh lagi rusuh-rusuhnya..panggilan keren gw itu disalahgunakan mereka yang membentuk women’s troop..they called themselves as “inong bale”..beteeeee….

jadi..kesimpulannya, I disagree with mas Shakespeare said in Romeo n Juliet..
btw bisa ngbayangin ga klo nama Romeo diganti jadi Rhoma??
huahuaahaha……lucu tuh..pasti lo semua ngbayangin mas “romeo”-nya bejenggot plus bersorban…ya gaaa???
ngaku deeeh…ehehe…

 

wkwkwk tulisan di atas itu adalah salah satu postingan yang saya buat di blog saya di tahun 2007. Begitu saya baca lagi sekarang jadi mikir lagi, siapa aja ya tiga nama yang saya kagumi itu, dan siapa juga yang bilang kalo nama saya bagus :p

O iya, sedikit cerita dibalik darimana datangnya inspirasi nama saya yang ringkes dan kurang familiar ini (biasanya kan yang banyak Anisa ya, bukan Anis which is more like a male name). Jadi dulu pas mama saya melahirkan saya, ada satu suster yang baik dan perhatian banget sama mama, namanya Anis. Nah, terinspirasi dari situ dikasihlah nama anaknya seperti suster yang baik hati itu. Kalo yang Inong udah tau dong ya, karna bapak saya orang Aceh dipanggillah saya Inong. Ngga tau kenapa cuma saya yang dipanggil Inong, padahal ada 3 anak perempuan di keluarga saya.

Dulu saya selalu mikir, ih nama saya biasa amat si, kalah keren sama nama kakak-kakak dan adik saya. Tapi semakin ke sini saya ga gitu ambil pusing, dan mungkin juga karna nama ini yang membawa banyak berkah buat saya makanya saya bersyukur nama saya apa adanya (tsaaahhh hahhaha).

Beda sama jaman dulu yang kalo ngasih nama kebanyakan ga gitu rumit, kalo saya liat trend masa kini, para orang tua (at least di sekitaran yang saya kenal) kebanyakan nyari nama yang susaaaaaahhhh banget nyebutnya. Well ga semua si ya, tapi kebanyakan gituuu. Mungkin menurut mereka makin njlimet penyebutannya makin keren ya hehe. Saya gak men-judge koookk, asli. Cuma kadang saya ngerasa kasian sama anaknya.

Sebelum saya punya anak, saya sempet cita-cita kalo punya anak akan dinamain ini dan itu. Bukan yang ribet-ribet kok, nama yang saya cita-cita-in itu kebanyakan simpel tapi menurut saya punya arti yang indah. Entah kenapa tapi kebanyakan nama yang terlintas di kepala saya kebanyakan nama cewek (qadarallah dapetnya cowok :)). Salah dua nama yang saya suka adalah Nina (dari cerita seri bergambar jaman dulu) dan Sarah (dari Siti Sarah istri Nabi Ibrahim S.A). 

Kemarin pas saya dan suami nyari nama buat anak kita mikirnya ga gitu susah (walo ga gampang juga buat nemu yang pas). Pertimbangan pertama adalah huruf pertama si bayi harus beda dari nama-nama yang sudah ada di rumah. Ini penting supaya kalo ada korespondensi ga bingung dan rancu dengan yang lain. Saya dan suami dua-duanya berawalan A, tapi untung jenis kelamin beda jadi masih lumayan lah ga gitu bingung hihihi (plus suami punya nama depan lebih dari satu jadi biasanya singkatannya lebih panjang). Anak kami yang pertama berawalan D sementara anak kami yang kedua berawalan E. Nah berangkat dari situ kami putuskan (kalo bisa) nama untuk si bayi berawalan F (biar jadi D-E-F wkwkwk). Pertimbangan selanjutnya adalah dari sisi pengucapan. Kami mau supaya nama anak kami gampang diucapkan oleh keluarga Indonesia dan juga keluarga Belanda. Satu lagi yang juga jadi pertimbangan saya pribadi (suami sepertinya ga gitu ambil pusing) adalah arti dari nama yang akan kami berikan ke anak kami. Saya ga pengen nama anak saya punya makna yang kurang baik. Ga perlu extravagant yang penting pengertiannya baik dan positif – itu pertimbangan saya. Sementara satu syarat tambahan dari suami: kasih nama yang simpel dan ga ribet. Cukup kaya nama kakak-kakaknya yang cuma pake dua nama (nama depan dan nama keluarga), ga kaya bapaknya yang namanya udah kaya kereta api hahaha.

Sebelum kami tau jenis kelamin si bayi, saya dan anak-anak suka asal nyebut kira-kira nama apa yang dimulai dari huruf f yang bisa kita kasih ke si bayi. Banyak nama untuk perempuan yang kita sebut tapi herannya dari awal saya udah kaya kepincut sama nama “fabian” seandainya si jabang bayi nantinya adalah laki-laki (walo belum 100% yakin). Mungkin itu yang namanya qadar ya. Sebelum si bayi lahir saya nyoba cari arti dari nama”fabian” ini tapi kebetulan agak susah nemunya. Sepanjang pencarian saya alhamdulillah fabian memiliki arti yang cukup bagus. Begitu fabian lahir, ndilalah tantenya fabian kasih kartu ucapan dengan arti dari nama “fabian” donggg. Kartunya sendiri dalam bahasa Jerman (karna ternyata nama fabian ini banyak di Jerman). Beruntung papa-nya fabian bisa nerjemahin jadi saya ikut tau deh arti fabian ini apa menurut orang Jerman😊.

Sekian dulu postingan (geje) dari saya hihi. Besok insya Allah posting lanjutan liburan summer kemarin. Agak ribet milih foto-fotonya, secara yang motret anak-anak, banyakan hasilnya kalo ga blur ya mencong πŸ˜‚

Advertisements

Traveling (on A Long Haul Flight) with A Baby.

β€œAsked to switch seats on the plane because I was sitting next to a crying baby. Apparently, that’s not allowed if the baby is yours.”
Ilana Wiles, blogger

So, last April I went to Indonesia together with my seven month-old baby to attend my little sister’s wedding. Although it was not the first time for us to travel together without my husband and our two other kids (when he was still 4 months old, we traveled to Paris but a friend joined us half the way), it was still quite worrying for me at first to do the trip.

Main thing that concerned me before doing the trip was of course what if my baby (fabian) gets cranky all the way. This trip is way much longer if we compared it to Paris trip. And anyone who had experience of getting irritated by crying baby(ies) in the plane would know what I mean I guess (I am one of them 😜 – can you imagine if its your baby who did that!). Another concern was the loo issue. I didn’t have anyone to assist me or asked for help (well, I can ask the flight attendant actually but only to a certain limit I think). Plus, my baby at that age (7 months) has already starting to recognize people and he didn’t want to be hold by a stranger.

Having these in mind, my husband and I had to think and manage the trip as efficient as possible to make it easier and less hassle for me.

First of course which flight will suit best for us: direct flight or the one with stopover. After taking some considerations, we then decided that it would be better for me and fabian to use direct flight instead of flights with transit. There are few options for me to take direct flight from Amsterdam to Jakarta (we chose to use Garuda Indonesia). The duration of the flight from Amsterdam to Jakarta was approximately 13 hours, and the return flight was approximately 14 hours. The flight departed in the evening, hoping that it would be easier for fabian to sleep along the way and to adapt with the time difference later on.

After we confirmed the booking, I immediately contact the customer service of Garuda via email to request for a baby bassinet. This is actually a big advantage for those who travel with children less than 1 year old (well, maybe maximum 1,5 years – depends on the size of your baby).

This is the bassinet we got on our flight. Btw, the type of the bassinet self could be different from one airline (or flight) to another.

After the ticket and the bassinet have been settled, then we have to decide whether I should bring the buggy along to Indonesia or not, and which way would be the easiest for me to bring fabian and his (including mine) “equipment” along the whole time. In the beginning I considered to bring the buggy and a backpack diaper bag with me. But at the last moment (during the check in queue lol), I decided to leave the buggy and instead just using a baby carrier and replaced the backpack with shoulder-carry diaper bag. The consideration for the latter was mainly for the practicality – if I use backpack it would be a bit difficult for me to reach its pocket(s) without needed to take the bag out of my back.

I also have read some articles which discussed about how to handle a baby during take off and landing (because of the loud sound of the engine). Some people suggested to use earplug or earphone to reduce the sound, while others suggested to breastfeed the baby during the take off (and landing). Luckily fabian was not that critical at that moment. During the take off and landing he was quite relax and (without me asking) he just went to breastfeed and getting ready to sleep. I guess picking the evening flight also helped then πŸ™‚

All in all, we had quite a smooth trip I can say. My son were mostly sleeping during the flight, and since I couldn’t use my tv (entertainment on demand) on my seat (hindered by the bassinet), I decided to make use the wifi connection on board (not for free but the price is still reasonably ok). I could use internet connection nicely during the flight (at least on the first batch) and able to chat with people on the ground – in Indonesia and in the Netherlands.

Nevertheless, doing a long haul trip only with your baby is definitely a tiresome. Yes – it’s possible, but if you have an option, I would suggest to bring your partner (or someone else) along. That would be much better for your body! πŸ˜‰

And finally, although already a lot of people discuss it and what I will write below probably not much, I would like to share some tips for those who “must” do a long haul flight with a baby (or toddler below two years old).

1. Book your flight early. If you have an option to fly in the evening, do pick that. Evening flight(s) mean your baby doesn’t have to adjust that much with the time frame during the take off and landing – which means would be less stress for them.

2. Don’t forget to contact the customer service of the airlines in case you need them to provide a bassinet for your baby. Fyi, the bassinet can only be used for baby with maximum weight of 9kg or maximum age of 2 years old. The airlines only can provide limited number of bassinet in one flight, thus make sure you contact the airlines the soonest after your booking is confirmed.

3. Travel as light as possible. If you think you don’t need the stroller/buggy that much, just bring your baby with a baby carrier. Make sure your carrier is easy to wear on and off without assistance needed (as reference, I used ergobaby 360 four position). Further, bring a diaper bag which sufficient enough to accommodate your baby stuff, travel documents and your stuff as well (you don’t have to bring separated bag). In short, things you bring to the cabin would only be the baby (with the baby carrier) and one diaper bag.

4. If possible, choose a diaper bag that has at least one or two mini bags (one for the clothing stuff and one for food stuff – the latter is optional) with some extra pockets on it. The minibag is handy to bring in case you need to change your baby’s diaper. The extra pocket with sufficient size (preferably one with zipper in front or in the back of the bag) is important so that you can put your travel documents there and you can easily easily access them when you need it.

Stuff you need to bring in the clothing minibag: diapers (2 pcs would be enough), 1 pack wet wipes (choose the small one or reduce the wipe half), 1 set spare clothes (make sure its a comfy one like a jumper for example – no need to bring jeans or any clothes that less handy and less comfy), one pc of diaper cloth and 2 pcs (disposable) body wipes (washandjes).

If you have two minibag, you can put these things in the food minibag: (food and) milk container (to bring some snacks, milk, and the cereal/porridge for your baby – you don’t have to bring alot! Just some small portions in case your baby need it), baby spoon, bottle feed (for the milk), a mug (if your baby also drinks water), wet napkin, tissues, and (disposable) bib 2 pcs. If you only have one minibag, do remember to bring a thermal bag for your baby’s milk, while the rest can also just dump into the bag.

Some other stuff you also need to bring is a spare clothes for yourself (one t-shirt would be sufficient enough – in case an “accident” happened you would be happy that you bring a spare shirt πŸ˜…), some (small) toys for your baby (teethers, tiny stuffed doll), phone/cable charger, and a (light-weight) novel (optional). Don’t forget also to bring medicine such as paracetamol or other medicines you usually used (always handy when you have them around), band-aid (pleisters), mini perfume (important!), travel size toothbrush and toothpaste, and telon/kayuputih oil (only applicable to indonesian I think haha).

5. Make sure you and your baby wear comfortable clothes yet warm enough to wear in a room with an airco. Put your high heels and the blings in the baggage, also your make up kit. You will only need a (vaseline) petroleum gel or a lipbalm (and a thin lipstick after landing) to be put on your lips during the flight.

6. In my experience, the airline also provides baby food (usually baby food in a jar) and a diaper (complete with the wet wipes) for our baby. But, you cannot count on that since there’s always a possibility that the flight attendant forget to give them to you (happened to me).

7. After you landing (also applicable during the flight), if you need a help do not hesitate to ask someone else to help you – especially when picking up your luggage(s) from the baggage belt.

8. And finally, don’t stress out. Just relax, enjoy it and consider the trip as something that will make the bond between you and your baby stronger (😁).

I hope this post could help those who will do the travel alone with her (or his) baby just like me😊

Happy traveling!

Sleep Training for Baby

“Sleep when your baby sleeps. Everyone knows this classic tip, but I say why stop there? Scream when your baby screams. Take Benadryl when your baby takes Benadryl. And walk around pantless when your baby walks around pantless.” – Tina Fey

Oke, tiba-tiba pengen nulis tema ini karna (selain pas pertama kali bikin draft insomnia saya lagi kambuh😭) saya pengen berbagi pengalaman saya (yang bagai debu di padang pasir – halah) tentang gimana saya ngatur waktu tidur bayi saya sejak baru lahir sampe sekarang si bayi sebentar lagi masuk ke usia 11 bulan.

Semenjak hamil, banyak orang-orang terdekat (dan yang ga gitu dekat wkwk) bilang ke saya buat siap-siap (setelah si bayi lahir) untuk begadang, badan pegel-pegel, tangan mati rasa, mata berkantung, dan lain-lain yang kalo dibayangin berat amat rasanya punya bayi. Saya waktu itu si dengerin aja dan positive thinking. Mudah-mudahan pada waktunya bayi saya akan bisa diajak kerja sama.

Kemudian tibalah waktunya si bayi terlahir ke dunia (tsah). Malam itu juga saya dan bayi langsung pulang dan bermalam di rumah. Kami pulang udah lewat tengah malam dan waktu itu ada suster yang ngecek kebutuhan kami. Malam pertama saya udah ga gitu inget lagi berapa kali bayi saya kebangun, karena yang saya inget malem itu saya kontraksi parah sampe menggigil (di sini udah kaya gitu cuma disuruh minum paracetamol aja sis). Anyway, lima hari pertama ASI saya belum keluar. Sejak kami di rumah sakit begitu si bayi lahir langsung proses inisiasi ASI, jadi walaupun belum keluar dia tetep menyusui tiap 3 jam sekali. Tiga hari pertama mungkin buat fabian ASI saya masih cukup aman buat asupan makanannya, tapi per hari ketiga berat badannya masih tetap turun dan hampir mencapai 10% dari berat badan lahir, makanya suster kraamzorg langsung inisiatif untuk menelepon bidan kami dan kemudian menyarankan untuk sementara dibantu dengan susu formula (cair) disamping menyusui sendiri. ASI saya sendiri sampe hari ke-8 baru bener-bener lancar keluar.

O ya, sejak malam pertama fabian sudah kami coba taro di kamar sendiri, tapi masih pake bassinet, jadi kalo dia nangis kita bisa pindahin ke kamar kami. Di bulan-bulan pertama karena fabian masih harus menyusui tiap 3 jam sekali, maka dia harus saya bangunin beberapa kali di malam hari. Biasanya jam dia mimik pada malam hari adalah sekitar jam 18.30-19.00, kemudian 21.00-21.30, lalu jam 23.30-00, setelah itu jam 03.00-03.30, dan terakhir jam 06.00-07.00. Ini skema yang dikasi sama suster kraamzorg saya, tapi pada kenyataannya kadang agak meleset walo ga jauh-jauh amat. Biar gimana juga karna saya ga menggunakan sufor alias mengandalkan ASI aja, otomatis harus diperhitungkan juga permintaan si bayi alias based on demand.

Buat ibu-ibu baru kaya saya, pemberian ASI pake skema waktu ini sangat menolong, terutama buat mengontrol demand si bayi dan juga untuk menentukan lamanya pemberian ASI yang pada akhirnya berimbas kepada waktu istirahat si ibu (dan anak serta pasangan kita tentunya ya). Skema ini besar kemungkinan bisa berjalan kalo si bayi tidur terpisah dari ibu dan bapak. Emang berat buat kebanyakan ibu-ibu untuk pisah langsung dengan bayinya. Saya juga gitu bu. Rasa kawatir pasti ada. Tapi satu hal yang saya percaya, kalo Allah pasti akan selalu melindungi anak saya, meskipun kami ga tidur bareng dia. Itu yang bikin saya kuat. Selain itu, beruntung saya punya suami yang terus kasih support ke saya, dan terus kasih pengertian kalo hal ini akan baik untuk kami (baik orang tua maupun si anak) terutama untuk ke depannya.

Tidur misah dengan bayi itu agak perjuangan buat saya sebenernya, karena kan lagi enak-enaknya tidur trus tiba-tiba denger ada suara nangis kita kaget kan. Iya kalo langsung bangun, lah kalo ngga, kan kasian bayinya nangis lama. Selain itu, sedihnya kalo full ASI adalah saya ga bisa gantian sama suami saya πŸ˜‚ otomatis saya yang harus bangun buat nyusuin kaaan, walo tetep suami bangun buat gantiin popok (jadi dia harusss bangun juga, biasanya dia pertama gantiin popoknya, kemudian baru saya nyusuin deh).

Oke, kembali ke per-tidur-an. Walau menurut kami fabian terbilang bayi yang gak rewel dan gak rajin nangis (Thank God he’s not a cry baby), pasti ada hari-hari dimana dia juga nangis dan gelisah dalam tidurnya. Biasanya kalo udah kaya gitu kami bawa dia ke kamar kami dan boleh bobo bareng kami. Skema pemberian ASI seperti yang di atas saya jalankan selama kurang lebih 2 sampai 3 bulan, kemudian setelah itu saya mulai membiasakan fabian dengan skema baru dengan menghilangkan beberapa jadwal menyusuinya. Dari beberapa jadwal ASI di atas, yang saya hilangkan adalah menyusui pada jam 21.00 dan 00.00. Untuk yang pertengahan pagi (03.00) lumayan lama baru saya bisa skip (pas 9 bulan kemarin fabian baru bisa memulai long sleep habit).

Pada saat bayi masih berusia 0 sampai 3 atau 4 bulan (bahkan 6 bulan) terdapat kemungkinan terjadinya kram perut pada bayi (buikkraam atau kadang suka disebut kolik). Hal ini normal sebenernya, karna organ bayi dalam hal ini usus dan lambung sedang berkembang dan menyesuaikan asupan yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Nah biasanya kalo lagi terjadi si bayi akan rewel dan susah tidur (ga usah bayi, orang dewasa kalo lagi sakit perut juga ga bisa tidur yekan). Ga usah panik ya ibu-ibu, sebisa mungkin si bayi kita susuin aja (ato kalo yang biasa pake pacifier alias empeng boleh dikasih). Kalo menurut artikel-artikel yang saya baca di sini, gerakan menyedot itu membantu mengurangi rasa tidak nyaman di perut dan usus mereka. Selain itu, kita bisa juga mengompres bagian perut mereka dengan kruik (botol yang diisi air panas/hangat). Kalo buat orang Indonesia, biasanya suka juga dibalur pake minyak telon atau minyak kayu putih, atau minyak yang dicampur dengan irisan bawang merah.

Ciri-ciri yang cukup jelas menurut kami untuk membedakan apakah si bayi mengalami kram perut (atau rasa sakit lainnya) adalah biasanya si bayi pada saat menangis akan menghentak-hentakkan kakinya (kaya menendang) dan tiap kali dikasih ASI anaknya nangis. At least itu yang kami sadari pada saat fabian ga bisa tidur. Solusinya ya kami biarkan dia bobo bareng kami, sambil terus saya coba kasih mimik aja. Alhamdulillah sakitnya ga bertahan lama, sehingga dia bisa balik lagi ke sleeping habit-nya seperti biasa.

Setelah fabian menginjak umur 4 bulan kalo ga salah, kebiasaan menyusuinya agak bergeser untuk waktunya. Biasanya dia bangun sekitar jam 02.30-3.00, waktu bangun dia bergeser sedikit menjadi ke jam 4.00-5.00. Pergeseran waktu ini lumayan banget buat saya, karna jadi saya bisa punya durasi waktu yang agak lebih lama untuk tidur di malam hari (jam 4 atau 5 masih lumayan lah ya dibanding waktu tidur terpenggal ditengah wkwk).

Ada satu hal juga si yang menjadi guilty pleasure buat saya. Yah namanya juga ibu yaa, pada saat anak nangis pengen deket bareng mamanya pasti ada rasa gimanaaa gitu deh. Plus, kadang rasa males juga muncul hehe. Makanya, kadang setelah menyusui yang pagi itu saya suka biarin aja fabian bobo bareng kami. Jadi pola tidur fabian selama beberapa bulan menjadi pukul 20.00-21.00 mulai bobo di kamar sendiri, trus jam 04.00-05.00 bangun mimik dan lanjut bobo di kamar kami sampe jam 07.00 pagi (ini waktu kami semua memulai aktivitas di rumah). Biasanya begitu semua bangun, fabian juga ikut bangun. Kadang kalo masih tidur saya ga ganggu dan dia tetep di kamar kami, kadang saya pindahin ke kamar dia.

Nah, setelah fabian udah terbiasa bobo di kamar sendiri, timbul tantangan baru buat kami sepulangnya saya dan fabian dari Indonesia. Fabian ga mau tidur terpisah dengan saya dong. Kami berdua ke Indonesia pada saat fabian berumur 7-8 bulan. Selama kami di Indonesia hampir setiap malam fabian bobo bareng saya (awalnya saya mau sewa baby cot tapi akhirnya batal karna ga nemu rental yang pas). Mungkin dia merasa nyaman (namanya juga bayi ya ga) dan di usia-usia sekian memang katanya bayi mulai mengenal orang, terutama orang-orang terdekatnya. Jadilah dia merasa saya satu-satunya yang familiar dan dia merasa aman dengan saya. Begitu kembali ke rumah, di malam pertama dia sama sekali ga mau bobo sendiri di kamarnya loh. Setiap kami bawa ke sana dia langsung kebangun dan nangis kejer sekejer-kejernya. Satu-satunya cara ya dia sementara kami biarkan bobo bareng di kamar kami.

Menurut artikel yang pernah saya baca, bayi yang memasuki usia 8-12 bulan akan mengalami yang namanya separation anxiety, literally means ketakutan/kekawatiran untuk berpisah. Biasanya hal ini terjadi antara bayi dengan mamanya, dimana setiap si mama bergerak menjauh, si bayi langsung nangis karna merasa ketakutan akan ditinggal. Inilah yang terjadi pada fabian sebulan yang lalu. Biasanya pada fase ini bayi akan jadi clingy dan nagging ke mamanya. Selain itu, pada usia segini bayi juga lagi mengalami fase pertumbuhan gigi, yang otomatis semakin memperkeruh suasana kaan hahhaa. Kita sebagai ibu harus kuat ya ibu-ibu. Kesabaran kita diuji banget dan lagi-lagi yang paling penting adalah adanya support dari suami dan orang-orang terdekat. Setiap malam kami coba terus untuk kembali membiasakan fabian bobo di kamarnya sendiri. Selain itu kami juga coba biasakan untuk menghilangkan waktu menyusui tengah malamnya. Salah satu upaya yang kami coba adalah dengan menata ulang letak kasur dan furniture di kamarnya, serta menempatkan beberapa boneka dan mainan kesukaan fabian di kasurnya.

Did it work? Alhamdulillah trik ini lumayan berhasil buat kami. Kurang lebih seminggu setelah kami pulang dari Indonesia, akhirnya fabian mau bobo di kamarnya lagi. Pada awalnya dia masih kejer kalo kebangun tengah malam, tapi alhamdulillah sekarang udah ngga lagi. Bahkan persis ketika dia masuk ke usia 9 bulan jadwal mimik tengah malemnya yang jam 3.00 pagi berhenti dengan sendirinya alias udah ngga lagi (yay to long sleep!). Di hari pertama saya agak kawatir si, takutnya saya dan suami kebablasan dan ga denger kalo dia nangis. Tapi malam berikutnya begitu juga, jadi kami simpulkan kalo memang fabian sudah mulai punya sleeping habit baru.

Ada satu hal lucu yang kami notice akhir-akhir ini. Berhubung waktu subuh di Juni – Juli agak ekstrim, saya dan suami otomatis harus bangun lebih pagi, walau kemudian biasanya kita tidur lagi. Kadang nih ya kalo saya ga bisa tidur lagi, saya suka denger fabian nyoba manggil minta diambil haha. Bukan nangis loh ini, karna dia kaya teriak gitu, tapi abis itu berenti kaya dengerin ada orang yang denger ga nih wkwkwk. Mungkin juga dia ketiduran lagi. Trus nanti pas jam 7 anak-anak kan biasanya bangun dan turun dari kamar mereka tu, nah pas saat itu fabian pasti ikut teriak lagi hahaha. Ga mau ketinggalan lah pokonya. Ini lucu banget lah pokonya. Selama kita ga melongok kamarnya sebenernya dia ga akan nangis, tapi begitu dia liat salah satu dari kita, lihatlah tampangnya yang meringis minta diambil kaya foto di atas πŸ˜† manalah kita tega ga angkat si unyil satu itu yaaa 😊

 

All in all,  dari yang saya alami sampe sekarang, boleh dibilang tidur terpisah dengan anak yang dimulai sejak dini lumayan banyak memberikan manfaat kepada saya dan si bayi (juga suami tentunya). Bukannya mau bilang kalo bayi bobo bareng orang tua ga baik loh, tapi menurut saya dengan tidur terpisah kualitas tidur kami jadi masih lumayan tetep terjaga. Saya tau kalo tiap anak berbeda dan masing-masing ibu punya cara tersendiri untuk ngatur pola tidur anaknya. Intinya sebenarnya kan apa yang terbaik bagi orang tua dan anak ya ga. Jadi, apapun bentuk dan caranya paling penting adalah sang Ibu dan anak (tentu juga anggota keluarga lainnya) menikmati semua proses yang dijalankan bersama πŸ™‚

“Just because a baby cries, I discovered, doesn’t mean there’s always something wrong. Sometimes babies wake up for no real reason. They just want to check if they’re doing it right. “This is Sleeping, right?” “Exactly.” “I just lie here?” “That’s right.” “Okay.” Then back to sleep they go.” – Paul Reiser


30 Day Movie Challenge, Day 8.

Day 8: A Movie that makes You Sad

“Prayers should never depend upon the place or the people. It should depend only on your belief” 
– My Name is Khan

Kebanyakan film India yang saya tonton sukses bikin saya termehek-mehek loh hahaha (walo endingnya biasanya hepi).

my_name_is_khan_xlg

German version of the poster. Image via impawards.com


Salah satu yang lumayan masih saya inget dan bikin sedih adalah “My Name is Khan.” Dibintangi Shahrukh Khan dan Kajool, ceritanya sendiri tentang seorang pria autis dan penderita asperger syndrom yang menikah dengan seorang janda beranak satu. Awalnya kehidupan pernikahan mereka baik-baik aja sampai setelah kejadian 9/11 keluarga mereka di bully dan sang suami yang seorang muslim dianggap sebagai teroris. Anak mereka di sekolah di bully sampe akhirnya di satu kejadian meninggal. Setelah kejadian itu kehidupan rumah tangga mereka jadi berantakan. Merasa kalo kematian anaknya adalah salah dia, si suami bertekad buat ketemu presiden Amerika Serikat Barrack Obama untuk bilang kalo dia bukan teroris.

Plot pas mengejar presiden ini kadang menurut saya mirip kaya forest gump dan agak lebay (yah namanya juga film india yegaaa πŸ˜‚). Selebihnya filmnya bikin sedih lah. Untung endingnya bahagia – kaya film-film india lainnya haha (walo ga perfect happy endingnya).

Okeh, besok lanjut lagi ke tema berikutnya, cus!

30 Day Movie Challenge, Day 7

Day 7: A Movie that Makes You Happy.

“You know when I said I knew little about love? Well that wasn’t true. I know a lot about love. I’ve seen it. I’ve seen centuries and centuries of it. And it was the only thing that made watching your world bearable. All those wars. Pain and lies. Hate. Made me want to turn away and never look down again. But to see the way that mankind loves. I mean, you can search the furthest reaches of the universe and never find anything more beautiful. So, yes, I know that love is unconditional. But I also know that it can also be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable and, well, strangely easy to mistaken for loathing.” – Yvaine

Film yang bisa bikin saya hepi sebenernya banyak si, yang jelas selama ending filmnya ga sedih ya saya juga jadi happy biasanya ahahaha.

Sebelum milih satu film buat tema kali ini, saya browsing dulu buat cari inspirasi nih wkwk, dan akhirnya pilihan saya jatuh kepada film “Stardust”. Salah satu film favorit saya nih!

Image via impawards

Ceritanya (lagi-lagi) ringan, bergenre fantasi tentang dua dunia yang berbeda (dunia “normal” dan dunia “lain”), pemuda (yang ternyata cucunya raja di dunia lain), para putra raja yang semuanya jadi arwah gentayangan karna saling bunuh (dan ga bisa pergi dengan tenang kalo ga ada yang jadi raja), bintang jatuh (yang berbentuk seorang wanita), tiga penyihir bersaudara, dan seorang kapten kapal penangkap kilat (yang ternyata suka dandan jadi drag queen). Setting filmnya keren (saya baca kalo mereka syuting di Inggris dan Iceland), pemainnya unyu-unyu (Charlie Cox si pemeran utama prianya, Claire Danes yang jadi bintang jatuh, Sienna Miller si cewek yang disukai sang cucu mahkota, Michelle Pfeiffer sebagai salah satu penyihir, Robert de Niro si drag queen, dan banyak lagi deh), plus soundtrack-nya juga saya suka (terutama yang dinyanyiin take that hehe).

Sebagai penutup postingan kali ini, boleh lah ya saya sertakan video dari soundtrack yang saya maksud, semoga suka πŸ™‚ (sengaja saya pilih video yang ini supaya bisa liat sedikit cuplikannya juga hehe).

30 Day Movie Challenge, Day 6.

Day 6: A Favorite Comedy Movie

Maaf yaa udah mulai ngaret nih postingnya. Di sini udah beberapa hari cuaca lagi ga menentu, makanya saya lagi agak drop kondisinya, kemudian kemarin juga sibuk sama lebaran kan (halah, alesan wkwkwk). Anyway, buat film komedi favorit, lagi-lagi pilihan saya jatuh kepada film yang bertemakan agen rahasia nihh hahaha. Agak susah buat milih sebenernya karna lumayan banyak film bergenre komedi yang saya suka, tapi buat kali ini pilihan saya jatuhkan kepada film “Spy”. Drop lah nonton film ini, saya ga brenti ngakak, apalagi sama karakter Nancy (Miranda Hart) sahabatnya si karakter utamanya – Sarah Cooper (Melissa McCarthy). Belum lagi karakter Rick Ford (Jason Statham) yang hiperbolis parah sama apa-apa yang udah pernah dia lakuin selama jadi agen. Coba deh baca sedikit dari omongannya si Rick di bawah ini

“I once used defibrillators on myself. I put shards of glass in my fuckin’ eye. I’ve jumped from a high-rise building using only a raincoat as a parachute and broke both legs upon landing; I still had to pretend I was in a fucking Cirque du Soleil show! I’ve swallowed enough microchips and shit them back out again to make a computer. This arm has been ripped off completely and re-attached with *this* fuckin’ arm.

Parah kan ya hehe. Kalo belom nonton film ini boleh deh nonton, kali aja yanh lagi mellow jadi agak terhibur πŸ™‚

Cerita Lebaran.

“Eid is the combination of 3 meaningful words: E: Embrace with open heart I: Inspire with impressive attitude, D: Distribute pleasure to all.”

islamic-design-for-eid-mubarak-festival_1017-8724

image via freepik

I know I know, I still own lots of post for my movie challenge, tapi – as my defense – draft ini udah ngendap lama banget di WP saya, ya sejak lebaran idul fitri tahun lalu to be precised :D. Sampe harus edit opening-nya ini secara udah ga relevan lagi sama waktu postingnya wkwk. Anyway, berhubung hari ini juga pas idul fitri (walo tahunnya beda), saya mau lanjutin tulisannya ya. Kilas balik ceritanya hehe.

Seperti yang kita tau, lebaran kalo untuk orang Indonesia identik dengan kumpul bareng keluarga, terutama orang tua dan para sesepuh. Makanya tradisi mudik walau seberat, semumet apapun tetap dijalanin juga bahkan mungkin dinanti-nantikan. Kalo menurut saya, yang paling heboh dan seru untuk urusan mudik itu adalah mereka yang mudik ke daerah Jawa (baik Jawa Barat, Jawa Tengah, Timur, atopun Yogya). Sayang saya termasuk orang yang ga pernah ngerasain “serunya” mudik ini. Almarhum Bapak kampung halamannya di Aceh yang tentu kalo mau mudik ke sana lebih susah dan agak capek kali kalo via darat. Sementara Mama kampung halamannya di Bogor, itu si kedeketan ya buat dibilang mudik hihi. Waktu Kakek Nenek masih ada si kita tiap lebaran pasti ke sana. Saya pernah loh bercita-cita dapet suami orang Jawa biar bisa ikut ngerasain mudik hahaha (cita-cita yang aneh ya😝).

Tahun 2016 lalu pas perayaan Idul Adha di bulan September, mama dan satu keponakan saya (Echa) kebetulan sedang berkunjung ke sini dalam rangka nengokin cucu (dan sepupu) yang baru lahir :). Seneng banget rasanya ada yang nemenin (dan masakin hahaha). Suami sebenernya biasanya ikut ambil day off buat merayakan idul fitri, tapi rasanya tetep beda ya karna biar gimana juga bukan kultur di sini (khususnya untuk orang Belanda) untuk merayakan “suikerfeest” (idul fitri) dan “offerfeest” (idul adha). Saya sebenernya pengen nganter mereka sholat ied, tapi mama bilang ga usah karena kasian si bayi nanti malah ribet. Ya udah deh jadinya kami di rumah aja, makan lontong sayur bikinan sendiri hihi.

Berlebaran jauh dari orang tua dan di tempat dimana umat muslim bukan mayoritas penduduknya itu beda rasanya. Kaya ada sesuatu yang kurang aja. Tahun ini sebenernya bukan lebaran yang pertama saya jauh dari orang tua. Sepanjang hidup saya sampai hari ini, ada beberapa lebaran yang buat saya cukup terkenang di ingatan. Sebagian besar yang paling terkenang adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Tapi ada juga beberapa perayaan Idul Adha yang meninggalkan bekas di otak saya.

Idul Fitri tahun 2008 adalah pertama kalinya saya berlebaran jauh dari orang tua, karna beberapa minggu sebelumnya (pas puasa) saya baru aja berangkat ke Belanda untuk lanjut studi. Sedih banget deh rasanya. Udah sendiri (yaa ada temen-temen yang lain juga siii, tapi kan beda dengan ortu yaa), ga ada menu-menu khas lebaran, berasa kaya hari biasa aja lah pokonya. Satu hal yang bikin saya inget lebaran waktu itu juga karna ada kejadian yang agak-agak lucu dan bikin ngenes. Waktu itu persis tanggal 1 Syawal, saya dan beberapa temen udah rencana untuk sholat Ied di Mesjid Maroko yang ga jauh dari tempat kami tinggal. Pagi itu cuacanya agak memble, hujan walau ga deras. Kami ceritanya ke sana naik sepeda. Singkat cerita pergilah kami ke Mesjid, naik sepeda sambil akrobat pegang payung satu tangan haha. Begitu sampai di Mesjidnya, kami agak bingung. Kenapa bingung? karna kami ga liat ada wanita satupun di situ donggg. Usut punya usut ternyata emang di mesjid itu para wanitanya ga ikutan sholat di mesjid wkwk, terutama untuk sholat sunnah kaya sholat Ied gini. Yasudahlah akhirnya kita putar balik dan kembali ke rumah sambil ngikik. Kalo tau kaya gitu kan kita mungkin udah jalan ke Den Haag ya, sholat di sana sekalian halal bihalal juga di kedutaan (atau cari mesjid lain yang ada jemaah wanitanya).

Lebaran lain yang saya inget adalah pada saat perayaan Idul Adha di tahun 2010 sewaktu mama saya sedang di Mekkah untuk berhaji. Otomatis waktu itu mama berlebaran di sana. Yang bikin sedih lagi, kakak saya sehari sebelumnya baru aja operasi pengangkatan rahim. Jadilah di rumah ga ada yang masak masakan khas lebaran (saya mana pernah dulu masak hehe). Tapi karna kepepet akhirnya saya masak loh πŸ˜‚ saya bikin rendang berdasarkan petunjuk dari kakak saya. Pencapaian banget ini bisa bikin rendang waktu itu (sekarang kan udah naik dikit bisanya – bisa bikin soto! wkwkwk). Setelah sholat Ied, instead of keliling komplek untum bersilaturahmi, saya, bapak dan keponakan pergi ke rumah sakit buat nengokin kakak. Yah…alhamdulillah semua tetep berjalan lancar ya.

Salah satu lebaran lain yang buat saya lumayan membekas adalah lebaran idul fitri tahun 2014. Sedih banget rasanya, karena selain pertama kali berlebaran jauh dari keluarga setelah menikah dan pindah, tahun itu juga pertama kali keluarga kami berlebaran tanpa kehadiran Ayah kami. Tentu mama saya adalah salah satu yang paling merasa kehilangan. Di tahun-tahun sebelumnya, biasanya setelah sholat ied kami semua berkumpul di rumah, menunggu bapak pulang dari mesjid Istiqlal, begitu sampai langsung kami minta maaf ke mama dan bapak (juga kakak adik), kemudian menyantap masakan mama deh. Biasanya setelah itu kami langsung berangkat keliling untuk bersilaturahmi dengan tetangga komplek, kemudian berkunjung ke rumah saudara-saudara bapak dan mama. Di tahun 2014 itu, ndilalah saya juga kan sudah pindah for good ke sini. Belum lagi pas banget kakak saya yang perempuan berlebaran di Kalimantan Utara – tempat mertuanya. Supaya mama ga begitu merasa kesepian, kami gantian mencoba menghiburnya. Keluarga abang saya menginap di tempat mama dari malam terakhir Ramadhan, kemudian saya mengatur trip ke Yogya buat mama beserta adik saya yang bontot dan tante saya (adiknya mama). Kebetulan salah satu adik mama yang lain tinggal di Yogya, jadinya sekalian juga silaturrahim. Alhamdulillah mama merasa sedikit terhibur dan agak sibuk jadi waktu untuk bersedih lumayan berkurang.

Di tahun 2016 lalu, pada saat idul fitri satu hal yang saya inget banget adalah saya sholat Ied sendiri di mesjid An Nuur Waalwijk dengan perut besar ha! Eh, itu berarti saya ga sendiri ya ga si, saya berdua dengan bayi saya yang masih di dalam perut! πŸ˜€ Trus ya, walopun perut udah buncit saya masih sempet-sempetin masak masakan khas lebaran loh! Mulai dari rendang, opor ayam, sayur pepaya, sampe si lontongnya juga. Biar bener-bener ngerasain lebaran maksud hati hehe.

Untuk tahun 2017 ini, kebetulan perayaan idul fitri di Belanda jatuh di hari Minggu. Lumayan gampang buat saya karna berarti suami dan anak-anak ada di rumah. Sayang banget tahun ini saya ga bisa ikutan sholat Ied karna bertepatan dengan masa haid saya. Selain itu beberapa hari sebelumnya kondisi saya agak drop karna cuaca yang lumayan panas, jadi saya yang tadinya mau masak ini itu batal hehe. Cuma sempet bikin kue putri salju aja, itu juga sekalian karna ada beberapa pesanan dari temen. 

Beberapa hari sebelumnya anak-anak sudah merencanakan untuk pergi ke kebun binatang di Rhenen (nama zoo-nya Ouwehands), dengan tujuan pengen liat panda yang sekarang ini ada di kebun binatang Ouwehands. Tapi kita mikir lagi, kemungkinan besar suasananya bakal kaya cendol (alias banyak orang dempet-dempetan! BUKAN GUE BANGET), makanya akhirnya kami putar haluan dan memutuskan untuk pergi ke Burger’s Zoo di Arnhem saja. 

Burger’s Zoo ini adalah salah satu favorit tujuan jalan-jalan kami. Beruntung cuaca cukup bersahabat, walau di sini juga rame banget ternyata (cendoool wakaka). Sebelum pulang kami menyempatkan sebentar untuk melihat-lihat Arnhem Centrum dan sekitarnya. Kami tutup hari raya tahun ini dengan makan di restoran indonesia.

Bagaimana dengan lebaran teman-teman? Adakah lebaran yang paling berkesan buat kalian?

I wish you a very happy and peaceful Eid. May Allah accept our good deeds, forgive our transgressions and ease the suffering of all peoples around the Globe!