Tiga Tahun.

three-years-old-candle

image via 3dvision-blog

“Three simple rules in life: If you do not go after what you want, you’ll never have it. If you do not ask, the answer will always be no. If you do not step forward, you will always be in the same place.”
-Anonymous.

Kemarin saya dapet (achievement) message dari WordPress, ga berasa ternyata saya udah oret-oret di wordpress tiga tahun aja. Walaupun belum konsisten tapi kayanya kalo dibandingin sama yang dulu-dulu dari segi postingan jauh lebih produktif yang ini *tsahhh. Congrats to myself yang udah (mencoba) semangat buat nulis ala-ala biar kepala ga buntu-buntu banget hehe. Semoga ke depannya makin produktif dan kreatif nulisnya, dan mudah-mudahan tulisannya pun menarik dan bermanfaat buat yang baca. AAMIIN!

Advertisements

What’s in a Name?

What’s in a Name?
That which we call a rose by any other name would smell as sweet..
(Romeo & Juliet, W. Shakespeare).

Is that true?
a name is just a name..?
menurut gw..nama itu penting.
let me tell u…gw punya pengalaman gw bisa admire someone only bcoz of his/her name..!
ridiculous maybe, but it’s true..mmm..dua kali…noup..tiga kali (bayangin..!!tiga kali..) gw kepentok sama yang namanya which i think is very unique..
emang sii..cuma sekedar mengagumi..tapi coba klo nama tu tiga orang bukan itu..wuiihh..mungkiiin gw ga inget juga kali orangnya..ehehe…parah ya??
gini deh..ambil contoh mawar seperti yang Shakespeare bilang tadi..
lo bayangin kalo namanya bangkai (read: bunga bangkai) ..pasti belom apa2 lo ga akan mao nyium tu bunga kaaann…meski di bilang wangi?? ya iyyaaa laa haayy…orang kan dah ngbayangin bangkai sebelom nyium tu bunga..
well..all in all..menurut gw, nama itu bagian dari estetika seseorang..more or less..it gives us first impression..dari nama orang bisa jadi cantik loooh..(hihi..meskipun bwt ke depannya sei tetap ditentukan oleh personality-nya yaaa…but still..)

what ’bout my name?
sadly..my name is similar with one of bird species..had d same name with one of our boxer (huhu…opposite sex w/ me pulaa….), also d same with one of ‘dangdut’ singer..(wkwk…what a name huh…)…
the only person who said that i had a beautiful name is someone who is so far away from here..
well..at least ada yang bilang nama gw bagus, ya ga? =)
but u know..actually i had two nick name..one is like i told u above..
d other..mmm…dipake sama penjahat perang bo!!
hehe…my other nick name’s inong (bcoz I’m half Aceh)..kemaren pas Aceh lagi rusuh-rusuhnya..panggilan keren gw itu disalahgunakan mereka yang membentuk women’s troop..they called themselves as “inong bale”..beteeeee….

jadi..kesimpulannya, I disagree with mas Shakespeare said in Romeo n Juliet..
btw bisa ngbayangin ga klo nama Romeo diganti jadi Rhoma??
huahuaahaha……lucu tuh..pasti lo semua ngbayangin mas “romeo”-nya bejenggot plus bersorban…ya gaaa???
ngaku deeeh…ehehe…

 

wkwkwk tulisan di atas itu adalah salah satu postingan yang saya buat di blog saya di tahun 2007. Begitu saya baca lagi sekarang jadi mikir lagi, siapa aja ya tiga nama yang saya kagumi itu, dan siapa juga yang bilang kalo nama saya bagus :p

O iya, sedikit cerita dibalik darimana datangnya inspirasi nama saya yang ringkes dan kurang familiar ini (biasanya kan yang banyak Anisa ya, bukan Anis which is more like a male name). Jadi dulu pas mama saya melahirkan saya, ada satu suster yang baik dan perhatian banget sama mama, namanya Anis. Nah, terinspirasi dari situ dikasihlah nama anaknya seperti suster yang baik hati itu. Kalo yang Inong udah tau dong ya, karna bapak saya orang Aceh dipanggillah saya Inong. Ngga tau kenapa cuma saya yang dipanggil Inong, padahal ada 3 anak perempuan di keluarga saya.

Dulu saya selalu mikir, ih nama saya biasa amat si, kalah keren sama nama kakak-kakak dan adik saya. Tapi semakin ke sini saya ga gitu ambil pusing, dan mungkin juga karna nama ini yang membawa banyak berkah buat saya makanya saya bersyukur nama saya apa adanya (tsaaahhh hahhaha).

Beda sama jaman dulu yang kalo ngasih nama kebanyakan ga gitu rumit, kalo saya liat trend masa kini, para orang tua (at least di sekitaran yang saya kenal) kebanyakan nyari nama yang susaaaaaahhhh banget nyebutnya. Well ga semua si ya, tapi kebanyakan gituuu. Mungkin menurut mereka makin njlimet penyebutannya makin keren ya hehe. Saya gak men-judge koookk, asli. Cuma kadang saya ngerasa kasian sama anaknya.

Sebelum saya punya anak, saya sempet cita-cita kalo punya anak akan dinamain ini dan itu. Bukan yang ribet-ribet kok, nama yang saya cita-cita-in itu kebanyakan simpel tapi menurut saya punya arti yang indah. Entah kenapa tapi kebanyakan nama yang terlintas di kepala saya kebanyakan nama cewek (qadarallah dapetnya cowok :)). Salah dua nama yang saya suka adalah Nina (dari cerita seri bergambar jaman dulu) dan Sarah (dari Siti Sarah istri Nabi Ibrahim S.A). 

Kemarin pas saya dan suami nyari nama buat anak kita mikirnya ga gitu susah (walo ga gampang juga buat nemu yang pas). Pertimbangan pertama adalah huruf pertama si bayi harus beda dari nama-nama yang sudah ada di rumah. Ini penting supaya kalo ada korespondensi ga bingung dan rancu dengan yang lain. Saya dan suami dua-duanya berawalan A, tapi untung jenis kelamin beda jadi masih lumayan lah ga gitu bingung hihihi (plus suami punya nama depan lebih dari satu jadi biasanya singkatannya lebih panjang). Anak kami yang pertama berawalan D sementara anak kami yang kedua berawalan E. Nah berangkat dari situ kami putuskan (kalo bisa) nama untuk si bayi berawalan F (biar jadi D-E-F wkwkwk). Pertimbangan selanjutnya adalah dari sisi pengucapan. Kami mau supaya nama anak kami gampang diucapkan oleh keluarga Indonesia dan juga keluarga Belanda. Satu lagi yang juga jadi pertimbangan saya pribadi (suami sepertinya ga gitu ambil pusing) adalah arti dari nama yang akan kami berikan ke anak kami. Saya ga pengen nama anak saya punya makna yang kurang baik. Ga perlu extravagant yang penting pengertiannya baik dan positif – itu pertimbangan saya. Sementara satu syarat tambahan dari suami: kasih nama yang simpel dan ga ribet. Cukup kaya nama kakak-kakaknya yang cuma pake dua nama (nama depan dan nama keluarga), ga kaya bapaknya yang namanya udah kaya kereta api hahaha.

Sebelum kami tau jenis kelamin si bayi, saya dan anak-anak suka asal nyebut kira-kira nama apa yang dimulai dari huruf f yang bisa kita kasih ke si bayi. Banyak nama untuk perempuan yang kita sebut tapi herannya dari awal saya udah kaya kepincut sama nama “fabian” seandainya si jabang bayi nantinya adalah laki-laki (walo belum 100% yakin). Mungkin itu yang namanya qadar ya. Sebelum si bayi lahir saya nyoba cari arti dari nama”fabian” ini tapi kebetulan agak susah nemunya. Sepanjang pencarian saya alhamdulillah fabian memiliki arti yang cukup bagus. Begitu fabian lahir, ndilalah tantenya fabian kasih kartu ucapan dengan arti dari nama “fabian” donggg. Kartunya sendiri dalam bahasa Jerman (karna ternyata nama fabian ini banyak di Jerman). Beruntung papa-nya fabian bisa nerjemahin jadi saya ikut tau deh arti fabian ini apa menurut orang Jerman๐Ÿ˜Š.

Sekian dulu postingan (geje) dari saya hihi. Besok insya Allah posting lanjutan liburan summer kemarin. Agak ribet milih foto-fotonya, secara yang motret anak-anak, banyakan hasilnya kalo ga blur ya mencong ๐Ÿ˜‚

Stay Connected while You Fly.

The important thing about mobile is, everybody has a computer in their pocket. The implications of so many people connected to the Internet all the time from the standpoint of education is incredible. 

Ben Horowits

At this moment I am sitting on a plane departed from Amsterdam approximately 7 hours ago heading to Jakarta-Soekarno Hatta.

It’s amazing how the technology develop nowadays. I wouldn’t imagine I could talk (well, chat) with my husband and family while flying.

This is my first time using the service btw, and apparently (up to now) the connection works. My baby is now sleeping in the bassinet, that’s why I can write a bit here.

I actually wanted to finish the writing challenge (which was already few days too late from my actual target), but first let me post this one oke haha.

Back to the internet connection via wifi on the plane, if you have a long haul flight like what I have at this moment, I suggest you to get one (well – that is if you think watching tv on demand is not interesting, or in my case the TV got blocked by the bassinet๐Ÿ˜…).

In Garuda flight, there are three options to get connected: US$ 5 for 20MB or chat text only connection, US$ 11.95 for 1 hour unlimited connection, or US$ 24,95 for full flight/24 hours unlimited connection. I picked the last one since the difference between all of them were not significant I think.

It’s a bit of a challenge for me to travel with an infant by myself. In addition, he is now already eating (other than breastmilk) and its his first long haul and being far away from his papa and broer-zus for quite some time. We’ve been together to Paris also but at that moment I had my friend along with me so things were a bit easier than now. Well, I hope everything will be ok until we get back to Home again ๐Ÿ˜Š

Btw, if you are interesting to know how do we get the internet connection on the airplane, I found a nice post about this. You can read the post by clicking this (which will redirect you to the post ๐Ÿ˜‰)

How Old is Your Partner? (The Half Your Age Plus Seven Rule)

chart

“..This rules states that by dividing your own age by two and then adding seven you can find the socially-acceptable minimum age of anyone you want to date. The (lesser-applied) other side of the rule defines a maximum age boundary: Take your age, subtract 7, and double it. With some quick math, the rule provides a minimum and maximum partner age based on your actual age that, if you choose to follow it, you can use to guide your dating decisions.”

Ada yang pernah denger ga tentang aturan ini? Mungkin kalo dibandingkan, yang udah pernah denger lebih sedikit jumlahnya daripada yang belum pernah denger ya hehe. Sebelum nulis draft ini pun saya termasuk grup yang ga tau sama yang namanya the half your age plus seven rule ini.

Aturan ini adalah semacam aturan sosial yang bisa jadi patokan buat mereka yang baru mau mulai menjalin hubungan dengan seseorang (cowo ataupun cewe) tapi ragu apa jarak usia mereka kejauhan ato ga (kalo dilihat dari kepantasannya). Jadi menurut aturan ini, rumus untuk menentukan batas minimum usia pasangan adalah umur kita dibagi dua, kemudian ditambah 7. Sementara, untuk menentukan batas maksimum, rumus yang digunakan adalah umur kita dikurangi 7, kemudian dikali 2. Sebagai contoh, umur saya adalah 30 tahun. Umur pasangan saya 41 tahun. Apa pasangan saya termasuk dalam kategori socially acceptable atau ngga kalo diliat dari jarak usia kita?

kalo diliat dari sisi saya, karena pasangan saya lebih tua maka rumus yang dipake adalah yang kedua, maka usia maksimal pasangan saya adalah (30-7) x 2 = 46 tahun. Ini berarti pasangan saya masih masuk dalam kategori aman. Sementara kalo diliat dari sisi pasangan saya, maka usia minimum yang dianggap oke untuk dijadikan pasangan dia adalah (41:2) + 7 = 27,5 tahun (anggep aja 28 tahun). artinya saya juga masih masuk dalam kategori amannya dia.

Sebenernya postingan ini sendiri berawal dari keingintahuan saya, terutama ketika melihat akhir-akhir ini banyak pasangan yang kalo dari kasat mata keliatan jauh jarak usianya. Selain itu juga banyaknya reaksi dan jawaban orang-orang yang punya pasangan terutama orang asing (pasangan lokal juga walo mungkin ga gitu banyak) kalo dapet pertanyaan “beda berapa tahun dengan pasangannya”. Tau sendiri kan kalo di Indonesia orang-orangnya keponya parah banget, trus kalo pertanyaannya ini dijawab reaksinya biasanya suka judgmental. Makanya kebanyakan kalo saya liat dari jawaban atau reaksi dari orang-orang yang punya pasangan orang asing (well, sebagian besar perempuan tentunya), yang ditanya jadi bete karena orang menstereotipekan kalo cewe indonesia (asia) punya pasangan cowo orang asing pasti tu orang asingnya udah tua (bukan yang seumuranlah). Mereka mungkin ga sudi dibilang lakunya cuma sama yang tua juga ya hehe. Anyway.

Nah, dari sinilah saya jadi penasaran sampai seberapa jauh sebenernya jarak umur pasangan kita yang masih dianggap wajar atau normal (di mata masyarakat), dan mana yang dianggap ngga (kemudaan atau ketuaan gitu lah). Selain itu, tentu juga saya pengen tau apakah jarak umur antara saya dan suami masih termasuk “pantes” ato ga hehe. Btw sebelum ada yang nanya (ha!), suami saya umurnya 11 tahun lebih tua dari saya. Gapapa kok kalo mau komen ato mikir macem-macem hehe – whether it’s a good one or not ๐Ÿ™‚

Sebelum ketemu sama suami, saya ga pernah punya pacar yang lumayan jauh jarak umurnya dari saya. Saya ga punya mantan berderet kok, tapi kebetulan beberapa mantan temen deket saya (tsah, sok laku hahahak) umurnya memang berjarak ga jauh-jauh dari umur saya. Satu mantan dari negara tetangganya Belanda yang kerjaannya bolak-balik putus sambung jaraknya itu 3 tahun dari saya. Satu mantan lainnya malah cuma beda 4 bulan aja sama saya. Dan yang dari Afsel bedanya 2 tahun di atas saya. Eh…ini kok jadi kaya defense saya ya hahahaha, kalo saya juga laku sama yang muda๐Ÿ˜‚.

Dulu pas temen saya Titi nikah sama Aksan, saya dan temen-temen yang lain cukup kaget dan amazed, karena kita ngerasa jarak usia mereka kan cukup jauh (11 tahun – sama kaya yang saya alami sekarang hkhk). Mungkin juga karena waktu itu kami masih (lumayan) muda jadi begitu denger age gap sebesar itu langsung ngerasa waw (kalo ga salah pas mereka nikah Titi di usia 25-30an, sementara Aksan udah di usia 36-40an).

Lain dengan sahabat saya satunya lagi. Kebetulan kali ini sahabat saya usianya 6-7 tahun lebih tua dari suaminya. Seperti biasa ada aja orang yang iseng komentar, bilang kalo udah kaya tante-tante kawin sama keponakan aja. Gila ya komennya, tapi emang menurut saya mulutnya orang-orang indonesia kadang kelewat peres (cunihil, maaf saya ga tau bahasa bakunya apa :D) – yang ga penting dan bikin sakit hati orang tetep aja diomong.

Bicara mengenai usia kita sendiri, mungkin hal ini juga mempengaruhi pandangan kita sendiri terhadap age gap dengan pasangan. Sebelum usia saya masuk ke angka 30, having a relationship with someone over six years of gap from my age is really beyond my mind and I wouldn’t thought that it could happen to myself. Tapi pandangan ini berubah seiring usia bertambah. Pemikiran saya mungkin juga agak lebih mateng dan saya jadi lebih banyak berpikir tentang bagaimana suatu hubungan bisa berhasil dari berbagai aspek, bukan hanya dilihat dari jarak usia aja. Juga kalo menurut saya karena pilihan untuk memilih pasangan jadi semakin mengerucut kali ya (halah). Memiliki pasangan yang usianya sudah memasuki angka 40 pun pada saat kita udah masuk usia 30-an jadi ga gitu terasa aneh lagi (walau tetap ga menutup kemungkinan untuk punya pasangan yang lebih muda). Saya sendiri bersyukur memiliki keluarga yang ga pernah nge-push saya untuk segera menikah jadi sayanya juga ga gitu grasa grusu ngebet berat mau nikah. Biasa..kan kalo buat orang indonesia cewe diatas umur 30 belum nikah itu (hampir) masuk kategori perawan tua hehe.

Saya bukannya mau ngomong kalo punya suami lebih tua itu lebih baik dari yang seumuran atau lebih muda loh. Sebenernya yang harus digarisbawahi sebelum kita memulai suatu hubungan adalah sejauh mana orang itu mau berkomitmen dengan kita – terlepas dari apakah dia lebih muda, seumuran atau lebih tua. Ada orang yang umurnya sudah jauh dari cukup untuk punya hubungan serius, tapi ternyata berat bagi dia untuk berkomitmen ke satu orang. Banyak juga cowo yang usianya udah di angka 40-an (bahkan 50) tapi tetep ga siap untuk komit dan punya satu hubungan yang serius. Entah apa yang bikin mereka berat, mungkin memang belom ada yang sreg aja kali ya. Ada juga orang yang masih muda dan mungkin belum mapan tapi berani untuk berkomitmen dan siap untuk menanggung apa yang sebelumnya bukan tanggung jawab menjadi tanggung jawabnya dia (berkaca dari sahabat saya yang usia suaminya jauh lebih muda).

Balik lagi ke aturan half year your age plus seven rule, saya termasuk yang pro dengan aturan ini. Kalo menurut saya, sebebas apapun hak kita untuk memilih pasangan, jangan sampe kita melupakan logika kita sendiri. Mau dibilang semua hubungan didasari cinta terlepas dari jarak umur, tapi mbok ya sebelum memulai hubungan dilihat juga kepantasannya, dan menurut saya kalo kita pake rumus ini batasan age gap-nya masih terasa masuk akal. Saya ga nutup mata juga kalo pasti ada hubungan dengan beda usia yang sangat jauh yang dilandaskan pada cinta, tapi mungkin yang bener-bener tulus kaya gini tanpa embel-embel jumlahnya ga banyak (menurut saya loh).

Menurut saya yang namanya jodoh adalah rahasia Yang Di Atas. Mungkin orang berpikir kalo punya pasangan yang lebih tua akan lebih sebentar waktu untuk bersamanya, tapi mau berapapun usia pasangan kita, balik lagi berapa lama kita hidup di dunia juga Tuhan yang menentukan. Hubungan dengan yang lebih tua, seumuran, atau lebih muda, masing-masing pasti ada tantangannya. Selama komitmen yang kita bangun didasari dengan sesuatu yang baik, pasti ke depannya juga akan berjalan dengan baik, dan apa yang baik menurut kita belum tentu cukup baik menurut yang lain. Ah, intinya sih apapun pilihan seseorang kita harus menghargai pilihan orang itu.

So, bagaimana dengan kamu? no matter how much the gap between you and your partner is, I wish you (and your partner) to have a long and prosperous – happily ever after relationship ya =)

Blogging Hari ini dan 10 Tahun yang Lalu.

She logged in and read a few of her old posts, smiling at the issues she had raged about and shaking her head at how some of the rants now seemed pretentious and judgmental. She had grown so much without even realizing she had.

Shweta Ganesh Kumar, A Newlywedโ€™s Adventures in Married Land

Beberapa saat yang lalu saya baru aja dapat notifikasi dari team WP kalo tepat hari ini dua tahun yang lalu adalah pertama kalinya saya membuat blog ini. Bukannya mau sentimentil, tapi hal ini juga jadi ngingetin saya akan blog yang (pernah) saya buat sepuluh tahun yang lalu.

Iyes sodara-sodara, ga nyangka juga ternyata saya udah lumayan lama ngeblog (walopun ga aktif-aktif banget hehehe). Blog saya itu lokasinya bukan di WP melainkan di blogger.com (karna saya ga suka template-nya WP yang terlalu standar dan ga bisa dimacem-macemin – halah). Akhirnya saya kunjungi kembali blog tersebut, dan walaupun kadang ngerasa isinya kenapa bisa konyol gitu ya, ternyata ada beberapa post yang menurut saya masih cukup relevan dan berbobot (hasek).

Kalo saya liat, postingan pertama saya di blog tersebut adalah di bulan Agustus 2006 dan postingan terakhir yang saya bikin adalah di bulan Februari tahun 2012. Saya inget kalo settingan itu blog saya ganti jadi private dan invisible karna isinya udah mulai mellow dan keakuan bener wakakakaa. Malu cin kalo ada yang tau betapa cupunya saya waktu itu hihi. Tapi ada satu yang saya sadar. Semakin bertambah umur, konten yang saya tulis pun mengalami perubahan. Kalo dulu isinya kaya diary, intinya aku lah (yah namanya juga blog ya cin) sekarang sebisa mungkin kalo nulis ada sharing info buat orang lain juga. Bener apa yang dibilang di quote yang saya cantumkan di atas. Dulu mungkin cara penulisan saya cenderung lebih emosional. Sekarang juga si kadang, tapi jelas beda lah sama yang dulu hehe.

Dari semua postingan yang ada di blog itu, ada beberapa yang saya suka terutama yang quote of the day (iya, saya suka sama topik ini hehe). Makanya di lain waktu beberapa postingan tersebut akan saya share kembali di sini, tapi jangan harap saya kasih link ke blog itu deh hahaha, maluuuuu (geer kaya ada yang mau liat aja :p).

Kembali ke masa kini, saya akan mencoba untuk komit, nulis topik yang informatif dan menarik serta mem-publish hasil ketak-ketik saya lebih rutin lagi. Suka kagum kalo ngeliat orang bisa posting rutin dengan topik yang oke-oke deh. Emang dasar kali ya saya ga punya sense of writing makanya tulisannya amburadul juga. Bahkan reader pun ga banyak hahhaha. That’s not my first priority anyway, as long as I can take out some of the blurry shadows from my head hehe. I consider this blog as my pensieve to Dumbledore ๐Ÿ˜‰

Sebagai pembuka re-post saya, berhubung tulisan-tulisan dari Agustus 2006 sampe akhir Desember 2006 ga mutu semua (wkwkwk iyaaa saya ngaku!), monggo dibaca re-sharing saya dari sepenggal kisahnya Hamlet (W. Shakespeare). Cukup relevan lah dengan apa yang terjadi hari ini dan bikin heboh masyarakat sedunia (dunia mereka at least ya hihi) – Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke -45. Let’s pray to God and wishing all the best for everyone.

To be or not to be, that is the question.
Whether ’tis nobler in the mind to suffer,
The slings and arrows of outrageous fortune
Or to take arms against a sea of troubles,
And by opposing, end them.
To die, to sleep..
No more, and by a sleep to say we end,
The heartache and the thousand natural shocks,
That flesh is heir to, ’tis a consummation..
Devoutly to be wished.