Summer Trip ke Cinque Terre.

Salah satu tempat yang menjadi destinasi kami sewaktu liburan musim panas kemarin adalah Cinque Terre yang berlokasi di regio Liguria, Italia. Udah pada tau pasti dong ya kalo Cinque Terre atau secara harfiah berarti “lima desa” adalah deretan lima desa di bagian barat laut Italia yang termasuk dalam daftar warisan dunia-nya UNESCO. Kelima desa ini adalah Monterosso al Mare, Vernazza, Corniglia, Manarola dan Riomaggiore.

Sebenernya agak gambling juga kami mutusin untuk mampir ke sana, karna selain tau bakal banyak naik-turun medannya (gak banget buat anak yang masih pake buggy deh), Italia juga terkenal dengan “hot summer” alias cuaca panas yang menyengat selama musim panas. Banyak orang Eropa yang menghindari untuk berkunjung ke Italia di bulan Juli-Agustus.

Saya kebetulan pernah menulis tentang rencana perjalanan summer kami di sini dan kebetulan banget Deny yang udah pernah ke Cinque Terre baca postingan itu trus kasih info yang berguna banget buat kami mengenai di mana sebaiknya kami menginap kalo kami beneran jadi ke Cinque Terre. Jadi rencana semulanya kan kami akan menginap di Monterosso al Mare – yang merupakan desa “terbesar dan paling feasible dari sisi konturnya (apasih 😂)” dari kelima desa tersebut. Tapi saya sebel. Harga penginapan di sana bukan main tingginya. Bisa jadi karna selain memang hot destination (semua pada mau ke sana kayaknya deh!), waktu kami ke sana masih termasuk high season (apalagi di Italia baru mulai liburan musim panas di bulan Agustus). Beruntung banget Deny kasih saran kalo mendingan kami nginep di salah satu kota terdekat sebelum si Cinque Terre ini, yaitu La Spezia. Kata dia harga penginapannya jauh lebih masuk akal dan akses ke Cinque Terre-nya pun gampang.

Berdasarkan info ini saya pun mulai geser browsing tempat nginep ke sana, dan benar apa yang dikatakan Rudy eh Deny (jayus lagi😂 inget iklan ini gak? iya, saya udah tua -_-). Harga penginapannya jauhh lebih murah siiis! terutama kalo dibandingin sama penginapan-penginapan di lima desa itu ya. Dari sekian banyak yang masuk di list pencarian, akhirnya kami pilih satu apartemen yang kalo di foto keliatan kece banget, dan dari review score-nya nyaris 10.

Kami menuju ke La Spezia menggunakan kereta api cepatnya Italia “freccia bianca” dari stasiun Roma Termini. Kebetulan rutenya direct jadi kami ga perlu ganti-ganti kereta lagi sampe stasiun La Spezia. Jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih 3 jam, dengan pemandangan yang cukup bikin mata cerah (banyak pemandangan pinggir lautnyaaa).

Stasiun La Spezia sendiri termasuk kecil. Begitu sampai di sana, kami harus jalan kaki kurang lebih 500 meter ke tempat kami menginap (bisa juga naik taksi sih, tapi kalo liat petanya kayanya deket banget). Ternyata oh ternyata, lokasi yang keliatannya deket harus kami tempuh dengan naik turun dong hahaha. Dan kami waktu itu bawa bayi beserta buggy-nya, satu koper gede, satu koper kecil plus dua backpack. Emang ya, traveling dengan tiga anak dan traveling tanpa buntut itu jauh beda rasanya. Tapi yang jadi tantangan terberat itu sebenernya adalah cuaca yang masya Allah banget deh menyengatnya. Beruntung anak-anak saya bukan yang tukang ngeluh. Selain gembol si backpack, mereka juga kadang bantu kami narik/dorong si koper atau si bayi. Begitu sampe apartemennya tuh rasanya lega banget hahaha. Selain ada AC-nya (yay!), apartemennya lumayan sesuai dengan ekspektasi kami. Selain itu, si pemilik apartemennya pun ramah dan helpful ke kami.

Kami sampai di La Spezia udah lumayan sore dan kami putuskan buat langsung belanja kebutuhan untuk sarapan. Selesai belanja (dan sedikit liat-liat kotanya), kami kemudian pergi ke restoran yang direkomendasikan oleh si pemilik Apartemen untuk makan malam.

La Spezia sendiri menurut saya lumayan menarik, walau mungkin cukup sebagai tempat persinggahan aja (bukan sebagai destinasi utama). Lokasi kota ini termasuk strategis karna selain punya jalur khusus ke Cinque Terre di stasiun kereta apinya, dari pelabuhannya kita bisa mengunjungi beberapa destinasi wisata yang lebih dikenal orang macam Portofino atau tentu si Cinque Terre.

P1070877.JPG

Restoran yang kami kunjungi ini adalah semacam pizzeria/trattoria gitu. Sewaktu kami makan di sana ga gitu banyak yang makan di tempat, tapi saya lihat banyak yang order take away. Pilihan menunya ga gitu banyak, dengan tentu yang dominan adalah pizza dengan berbagai variasi topping. Pizza yang mereka sajikan ini menurut saya lumayan enak loh. Cuma saya baru paham kalo di sana restoran baru buka jam 19.00 wkwk. Mereka terbiasa makan malam lebih telat daripada orang-orang di Belanda kayanya (ato setidaknya kami haha).

Besok paginya setelah sarapan kami pun langsung pergi menuju stasiun kereta. Ada dua pilihan untuk pergi ke Cinque Terre, yaitu via kereta api atau menggunakan ferry. Menurut kami kereta api adalah cara yang paling praktis (karna memiliki jadwal keberangkatan yang lebih banyak) dan kami juga khawatir kalo anak-anak akan mabuk laut kalo kelamaan berada di kapal ferry. Oleh karna itu kami menggunakan kereta api untuk bolak balik ke La Spezia.

Desa terdekat dari stasiun La Spezia adalah Riomaggiore yang dengan kereta api ditempuh dalam waktu sekitar 9 menit. Untuk tiketnya sendiri kita bisa beli langsung di mesin tiket yang tersedia di stasiun atau beli secara online di situs resmi taman nasional Cinque Terre atau di situs kereta api resmi Italia.

Berdasarkan pada pengalaman kami kemarin, satu saran saya adalah sebaiknya sebelum pergi beli tiket dahulu secara online. Bukannya apa-apa, mesin tiket yang tersedia di stasiun sangat terbatas dan kalo pas rame kita harus antri lumayan lama sebelum dapet tiketnya yang ujung-ujungnya bisa bikin kita jadi ketinggalan kereta (bear in mind, kebanyakan yang ada di situ adalah turis dan mereka bisa jadi ga bisa bahasa Italia dan ga gitu paham sistem yang ada di mesin tiket itu).

Satu lagi, di situs resmi taman nasional Cinque Terre ditawarkan semacam pass/kartu akses yang memperbolehkan si pemegang kartu untuk masuk ke area taman nasional termasuk jalur hiking-nya, dan penggunaan wifi plus shuttle bus yang bisa mengantarkan sampai ke titik tertentu. Selain itu mereka juga menawarkan pass yang juga termasuk full access ke kereta api di jalur Levanto – Cinque Terre – La Spezia ini selama satu sampai tiga hari (tergantung jumlah hari berlaku yang kita pilih).

Kami sendiri sebelumnya mikir kalo akan gampang buat beli tiket di stasiun aja. Pertimbangannya? Karna kami pikir ga akan rame-rame banget mengingat suasana sewaktu kami sampe di stasiun sehari sebelumnya yang cukup sepi. Ternyata perkiraan kami meleset jauh. Sewaktu kami sampe sana ternyata di setiap mesin udah panjang banget antriannya. Antrian yang sama panjangnya juga keliatan di Cinque Terre information office-nya. Ditambah salah satu anak saya yang tiba-tiba mimisan (karna cuaca dan memang dia cukup sering mimisan), kami pun mulai spanning hahahaha. Stress karna selain ga punya tiket, udara panas, anak mimisan pula. Setelah beres sama mimisan, kami pun nyoba beli tiket secara online. Kami pilih yang kombinasi taman nasional plus kereta (Cinque Terre Rail Card) dengan alasan lebih kepada sisi praktisnya. Alhamdulillah setelah gagal beberapa kali akhirnya kami sukses membeli tiket pass ini.

Udah saya bilang kan yaa kalo di stasiun udah numpuk orang yang juga mau pergi ke Cinque Terre. Suasananya ini ngingetin saya sama suasana nunggu kereta api di stasiun Sudirman pas jam pulang kerja sodara-sodara. Ampe segitu padetnya. Sewaktu kereta dateng hampir semua pada berebutan naik. Udah hampir dipastikan kalo kita ga bakalan dapet seat lah pokonya. Berdiri sempurna aja udah alhamdulillah wkwkwk. Mana kami bawa si kecil beserta buggy 😂. Beruntung kami masih lumayan dapet posisi berdiri yang enak dan kereta apinya walaupun dari luar keliatan memble dalemnya pake AC (macem KRL ekonomi AC gitulah).

Kami turun di desa pertama yaitu Riomaggiore. Kalo menurut saya Riomaggiore ini adalah desa yang terindah dari kelima desa. Well, a bit unfair mungkin ya, karna jujur saya ga singgah ke Vernazza dan Corniglia. Kami stay paling lama dan eksplor paling lama di Riomaggiore ini. Dengan kekuatan bulan (bapaknya dorong buntelan buggy plus bayi) kami sukses berkeliling mendaki bukit menuruni lembah sampe hampir sampe ke desa sebelah si Manarola. Berhubung kami takut nyasar (kami ga rencana hiking kali), kami pun lanjut jalan kembali menuju ke stasiun kereta Riomaggiore.

20180804_113313290710370-e1543844116995.jpg

Pertama sampe, saking haus akan kesegaran kami langsung beli strawberry di toko ini 😂

P1070884

Riomaggiore

P1070901.JPG

P1070910

Gereja dilihat dari atas bukit.

Pemandangan si sekitar stasiun kereta dilihat dari kejauhan. Bagus ya!

Kami makan siang di salah satu restoran yang ada di sana. Nama restorannya Il Maggiore dan kalo saya liat review-nya di google termasuk jelek ratingnya. Kalo berdasarkan pengalaman sendiri menurut saya mereka oke-oke aja deh. Kami kebetulan ga pesen pizza-nya (yang rata-rata di-complain di review). Waktu itu suami pesen foccacia dan saya dan anak-anak pesen pasta. Untuk pastanya sendiri dua-duanya lumayan enak, tapi yang jadi highlight buat saya adalah si foccacia-nya. Simpel dan enak!

20180804_132413858931694.jpg

Fettucini mushroom

20180804_1324172108582837.jpg

Foccacia bread with mozarella and pesto sauce. Yum!

Sebelum lanjut jalan, karna saya penasaran sama seafoodnya yang memang jadi ciri khas di wilayah ini akhirnya saya pesen fried squid/calamari campur anchovies juga di tempat makan berikutnya dong hahaha. Dan rasanya memang top deh. Emang ya seafood itu kalo fresh cukup dimasak simpel, pasti enak.

Fried Calamari and Anchovies. Yum!

Kami sempet berpikiran kalo mungkin pas kami kembali ke stasiun di sana ga akan begitu rame seperti sebelumnya. Ternyata perkiraan kami salah. Sesampainya kami di stasiun ternyata kerumunan yang ada keliatan jauh lebih banyak dari sewaktu kami di La Spezia. Bisa jadi karna stasiunnya lebih kecil dan posisi peron yang sebagian ada di terowongan dan cuaca yang makin bikin mateng, jadi orang lebih terkonsentrasi berdiri di tempat tertentu.

Kebetulan kami ikut nunggu di bagian terowongan dan karna ga gitu banyak orang yang nunggu di situ, kami beruntung bisa dapet duduk begitu kereta dateng. Karna melihat kondisi yang gila-gilaan gini jumlah orangnya kami pun mutusin untuk skip turun di desa berikutnya dan lanjut terus sampa ke desa terakhir dari kelima desa yaitu Monterosso al Mare.

Begitu sampe di Monterosso al Mare, kami agak sedikit shock ngeliat jubelan orang di sepanjang pantai hahaha. Emang kan dari segi kontur Monterosso al Mare menang dalam urusan pantai. Bentuk pantainya lebih feasible dan memungkinkan buat orang-orang untuk bisa berjemur atau berenang di sana. Kalo di desa lain walau ada aja yang nekat, kondisi alamnya jauh lebih sulit untuk diakses atau untuk tempat berenang.

Cendol di Monterosso al Mare 😂

Setelah melihat kondisi yang rame banget, ditambah cuaca yang makin nyengat panasnya, kami jadi agak males mo ke sekitar pantai. Akhirnya kami cuma jalan di sepanjang boulevard aja, sambil nyari lokasi dermaga dan tempat beli tiket ferry. Suami bilang supaya anak-anak juga nambah pengalaman kita akan naik ferry untuk hop on hop off dari Monterosso al Mare ke desa lain yang terdekat. Karena anak saya yang paling besar gampang mabuk, jadi kami putusin untuk berhenti di satu desa di tengah-tengah, kemudian lanjut lagi dengan kereta buat kembali ke La Spezia.

monterosso al mare 1.jpg

P1070976.jpg

P1070988

Suami awalnya usul untuk berhenti di Vernazza aja kemudian dari situ kita jalan ke stasiun kereta kemudian pulang ke apartemen. Saya mikir mending sekalian berhenti di Manarola karna dari situ udah ga gitu jauh lagi dari La Spezia dan desa ini konon punya view yang paling indah (banyak foto di internet kalo nyebut Cinque Terre yang keluar ya desa ini – salah satu foto desktop saya juga fotonya desa ini nih hehehe). Suami akhirnya ikut apa yang saya bilang dan kami pun naik ferry sampe ke Manarola.

Nyantai di pinggir dermaga sambil nunggu kapal berangkat.
P1080028.JPG

nemu krat nganggur, dia dorong trus masuk deh ke dalemnya wkwkwk

Bersyukur kami cuma sampe Manarola deh. Anak saya bener aja hampir ga kuat dan mulai agak mabok pas kami mau turun. Goyangannya emang agak lumayan (walau saya pernah naik ferry dengan gelombang jauh lebih parah). Pas kami mau turun dari kapal nih ya, antrian penumpang yang mau naik ke ferry udah mengular dong. Mana jalur keluar dari (mini) dermaganya sempit, sampe-sampe kami beberapa kali harus gantian jalannya. Pokonya karna kondisi begitu kami udah kehilangan semangat menjelajah lah dan akhirnya langsung menuju ke stasiun buat nunggu kereta kembali ke La Spezia.

Ada beberapa highlight yang perlu saya sebut juga dari perjalanan ke Cinque Terre kemarin. Yang pertama saya bersyukur ga jadi ambil penginapan di salah satu desa Cinque Terre. Saya liat banyak turis yang keliatan kepayahan dan ribet harus geret-geret koper sambil jalan menanjak dan menurun karna kontur desa-desa di Cinque Terre yang memang naik turun berbukit. Yang kedua yaitu alhamdulillah banyak keran air atau tap water yang tersebar di beberapa lokasi (hiking trail) di setiap desa yang kami kunjungi. Jadi walaupun panas terik menyengat ga usah khawatir dehidrasi karna kekurangan air deh. Makanya penting banget untuk bawa botol yang bisa diisi ulang. Yang terakhir, saya pikir saya udah nekad maksa pergi ke sana walau gambling dengan kondisi anak-anak dan si kecil yang masih perlu pake buggy. Tapi yaaa ternyata di sana banyak pengunjung yang juga bawa bayi dan toddler dooong. Okelah kalo toddler ya karna kan mereka ga gitu tergantung banget sama stroller, lah ini bayi loh. Bayi yang umurnya belum satu tahun, yang stroller-nya segede-gede apa tau. Ga kebayang deh orang tuanya susah payah harus gotong-gotong stroller, plus kasian banget si bayi yang mungkin kegerahan dan kepanasan karna cuaca yang nyengat. Yah, mungkin mereka memang niatnya mau latihan kekuatan kali ya makanya tetep pergi walo ada bayi 😀

p1080107-02297273757.jpeg

Corniglia taken from the ferry

Vernazza taken from the ferry

Well, overall it was still a nice (although tiring) visit for us. Bersyukur anak-anak ga ngeluh banyak sama keadaan (kebayang kan gimana tantangannya buat mereka). Mereka terlihat tetep menikmati perjalanan walo kondisinya kurang ideal. Tapi, seandainya kami tau kalo kondisinya akan serame kemarin mungkin kami akan skip Cinque Terre dan memilih untuk pergi ke lokasi lain aja. Bukannya ga suka sama Cinque Terre loh ya, cuma kami bukan keluarga yang begitu suka dengan keramaian. Mungkin di waktu yang akan datang kami akan pergi ke sana lagi, tapi yang jelas ga akan pergi di musim panas kaya kemarin lah 😁

Advertisements

3 Rekomendasi Tempat Makan di Berlin, Jerman

Walaupun saya dan keluarga cuma berkesempatan untuk stay di Berlin selama tiga hari (dua malam) saja, kota ini meninggalkan kesan yang cukup positif dan mendalam buat saya. Bukan cuma fasilitas umumnya (terutama transportasi publik) yang cukup lengkap dan ramah, makanannya juga enak-enak dan variatif.

Sebelum kami memulai summer trip kemarin memang saya sempetin untuk browsing di beberapa kota yang akan kami singgahi, kira-kira restoran atau tempat makan apa saja yang review-nya bagus, harga masuk akal dan menyajikan makanan yang pas dengan selera saya, suami dan anak-anak. Bukannya apa-apa, saya ga pengen terjebak sama menu fast food doang si hahaha. Makanya bela-belain deh hehe.

Dari hasil browsing ini, saya baru tau kalo Berlin itu untuk soal makanan cukup variatif. Maksudnya ga cuma makanan lokal yang banyak bertebaran di mana-mana, tapi juga restoran yang menyajikan masakan internasional seperti Vietnam, Turki, Jepang juga Italia. Ada juga yang menyajikan menu fusion. Konsepnya sendiri kebanyakan casual dan ga perlu reservasi sebelumnya. Well, setidaknya yang kami datengin hehe.

Selama di Berlin kami menginap di Hotel Ibis Style yang berlokasi di Mitte area (recommended btw). Di wilayah ini yang memang adalah pusat kotanya Berlin (mitte kalo saya cek di google translate berarti “pusat”) banyak restoran dan kafe yang highly recommended alias mendapat review yang bagus dan pengen banget saya cobain. Sayang karna keterbatasan waktu (dan gerak karna bawa tiga krucil), akhirnya kami pun cuma sempet ke tiga tempat aja. Makanya dari pengalaman kemarin itu hampir bisa dipastikan kalo kunjungan kemarin adalah bukan untuk yang terakhir kalinya 😁.

Ketiga tempat makan yang mau saya highlight di tulisan ini adalah:

  • Shiso Burger

konsep restoran ini menurut saya lebih kepada fusion burger. Menu andalan mereka – selain berbagai macam burger spesial – adalah sweet potato fries. Waktu itu kami order tiga jenis burger (dua cheeseburger untuk anak-anak, chilli lemon burger buat saya dan bulgogi burger buat suami) beserta si sweet potato chips itu dan home made french fries-nya. O ya kami juga pesan coleslaw sebagai menu pembuka (which was quite refreshing with the extra black sesame seeds on top of it).

Rotinya sendiri menurut saya ok tapi not that special si, walo mereka pake sedikit taburan black sesame di bagian luar atas permukaannya.

Ada yang mau numpang mejeng :))

Coleslaw

Sweet potato fries

Home made fries

Bulgogi burger

Cheese burger

Chilli Lemon burger

Restoran ini berlokasi di Auguststraße 29c, 10119 Berlin Mitte (u-bahn terdekat: U Rosenthalerplatz). Setau saya si ga bisa reservasi ya, tapi buat amannya mungkin bisa ditelpon dulu ke restorannya. Website resmi mereka bisa diklik di sini.

  • Halal Currywürst @ Döner Turm

Buat para muslim yang juga kepingin nyoba salah satu makanan khas orang Jerman ini boleh coba mampir ke sini. Mungkin juga ada tempat lain yang menjual bratwürst yang halal, tapi kebetulan setelah beberapa kali browsing, döner stall ini lah yang nyangkut di search result saya.

Lokasinya sendiri persis di depan salah satu pintu keluar/exit dari u-bahn Turmstraße (yang ke arah Turmstraße, lokasi tepatnya Wilhelmshavener Str. 1, 10551 Berlin).

Yang jual kayanya keturunan Turki (liat dari mukanya dan tentu aja karna jual döner ya, duh). Sewaktu kesana, selain pesan curry wurst kami juga pesan saladnya. Agak sedikit nyesel ga nyobain döner-nya karna keliatan seksi bener sis. O ya, selain itu mereka juga nawarin mie dan nasi ala wok di sana (kebetulan juga lokasi si Döner ini deket dengan toko/supermarket asia). Dengan porsi yang lumayan besar (plus kualitas dan rasa yang enak), harga yang mereka bandrol termasuk murah menurut saya (lebih murah dari di Belanda). Selain itu rasa penasaran saya akan si curry wurst pun jadi terpuaskan (halah😂). Btw si curry sauce-nya sendiri ternyata sama kaya rasa saus curry yang suka dipake buat makan patat alias french fries di sini hehe.

Kios donernya.

Menu offered in 2018

Curry wurst

The taste of this mix salad is much better than it looks btw 🙂

  • Monsieur Vuong

Tempat makan terakhir di Berlin yang sempat kami kunjungi adalah restoran yang menyajikan masakan Vietnam bernama “Monsieur Vuong” yang literally berarti Tuan Vuong. Jadi si mister Vuong ini adalah kokinya, beliau masih lumayan muda loh (kalo diliat dari fotonya). Kayanya si dia juga nerbitin buku resep gitu deh, saya juga kurang ngerti (ato males nyari tau lebih jauh sebenernya wkwk). Anyway, restoran ini menyajikan berbagai macam masakan otentik Vietnam. Masakan Vietnam sebenernya kurang lebih sama kaya masakan Thailand, cuma mungkin lebih ringan lagi dalam hal bumbunya ya.

Restoran ini tidak menerima reservasi dan lebih memilih konsep first come first served. Area tempat makannya sendiri sedikit lebih besar dan lebih teratur dari Shiso Burger. Yang bikin menarik di sini adalah selain menu tetap yang ada di daftar menu, mereka selalu menyajikan menu khusus yang setiap harinya berubah-ubah. Untuk menu minumannya sendiri juga boleh dibilang sedikiiiiit lebih baik dari shiso. Well, konsep kedua restoran ini juga sedikit beda sih ya, jadi saya juga ga bisa bandingin mereka as apple to apple.

Pada saat berkunjung ke sana kami termasuk yang beruntung karena bisa langsung duduk dan order segera. Menu yang kami pesan hari itu adalah prawn spring roll sebagai appetizer, Beef Pho ukuran small (yang menurut aku dan suami porsinya bukan small itu si hehe, pokonya cukuplah pesen ini kalo kamu ga lapar binasa), menu special of the day (see picture below aja ya cin, saya bingung namanya apaan 😂 kalo ga salah chicken with orange sauce), dan mango sticky rice sebagai dessert. Verdict-nya tentu aja semua enak lah! Alhamdulillah kami ga salah milih restoran hehe. Cuma satu yang agak kurang pas menurut saya, yaitu si sticky rice-nya yang agak kekerasan (mungkin kelamaan disimpen di pendingin). Selebihnya bener deh enak, apalagi menu of the day-nya. Rasa si ayam kari yang digabung dengan irisan jeruk sunkist/orange jadi lebih seger. Plus sayuran yang dicampur bikin rasanya makin meriah.

Monsieur Vuong – Berlin Mitte. Image via gessato.com

Appetizer

Mangkok yang di depan adalah menu of the day.

Beef Pho.

Mango sticky rice

Restoran ini berlokasi di Alte Schönhauser Str. 46, 10119 Berlin, Germany. S-bahn yang terdekat adalah S Hackescher Markt trus jalan kurang lebih 600 meter. Sementara kalo pake U-bahn bisa stop di stasiun U Rosenthalerplatz atau U Weinmeisterstraße (kalo diliat dari peta di google hehe).

Demikianlah sedikit pengalaman kuliner saya selama numpang nginep di Berlin (tsah 🤣). Buat yang punya rekomendasi tempat makan lain yang spesial di kota Berlin (atau kota manapun), monggo yaa saya tunggu infonya di sini 🙂

Mudik Lebaran 2018: Yogyakarta.

“Pergi ke Jogja adalah caraku menertawakan kesibukan orang-orang Jakarta.”

– Sudjiwo Tejo

Maaf ya men-temen, walo mungkin udah agak basi tapi postingan saya kali ini masih berkisar tentang mudik lebaran saya kemaren. Cerita ini adalah bagian terakhir dan melengkapi cerita sebelumnya (tsaaah hahaha). Kali ini saya mau cerita tentang perjalanan saya bersama keluarga ke Yogyakarta.

Udah lama sebenernya saya pengen liburan ke Yogya bareng-bareng dengan keluarga besar (dengan mama, kakak-kakak dan adik beserta keluarganya masing-masing), cuma kebetulan selain tiap pulang sok sibuk dan banyak urusan lainnya makanya belum sempet terwujud. Alhamdulillah pas mudik kemarin akhirnya rencana ini terlaksana. Walau awalnya cuma saya dan mama beserta kakak saya, akhirnya pas diujung waktu semua bisa berangkat. Karna saya udah eneg sama pesawat, saya minta ke kakak saya buat booking tiket kereta api saja. Kami pergi ke Yogya di minggu kedua setelah lebaran, dengan pertimbangan rombongan yang mudik sudah banyak yang kembali ke rumahnya masing-masing (dan tuslah tiket kereta api udah ga ada – peliiit hahaha). Kami berangkat naik kereta api eksekutif Argo Dwipangga dengan stasiun keberangkatan di Gambir, sementara pulang menggunakan kereta api ekonomi premium Jayakarta dengan stasiun pemberhentian terakhir di Pasar Senen (selain waktunya menurut kami paling pas, saya juga pengen coba kereta api baru dari PT. KAI ini yang katanya lumayan jauh kalo dibandingkan dengan kereta bisnis fajar/senja utama).

Untuk perginya alhamdulillah semua berjalan lancar. Selain kereta api kelas eksekutif memang cukup oke pelayanan dan kondisi stasiun gambir yang lumayan bagus dan lengkap jadi segala sesuatunya aman-aman aja. Lain urusannya dengan pas kami pulang dari Yogya ke Jakarta. Selain suasana di dalem keretanya yang agak berbeda, juga kondisi stasiun Pasar Senen yang kurang “greng” lah menurut saya. Ga kebayang deh mereka yang udah tua atau para penyandang disabilitas harus bolak balik naik turun tangga (di sana saya ga liat ada eskalator ataupun lift, mungkin sayanya yang agak oon ya). Belom lagi harus geret-geret koper tas atau barang bawaan lainnya.

Kereta api Jayakarta Premium ini kalo dilihat dari harganya sebenernya ga beda jauh dengan harga tiket kereta api eksekutif di kelas beli J (kalo ga salah). Jayakarta Premium rute Yogyakarta – St. Pasar Senen per orangnya dibandrol seharga Rp 275,000, sementara pas berangkat harga tiket kereta api eksekutif Argo Dwipangga yang saya tumpangi waktu itu saya beli seharga Rp 285,000. Bedanya ga banyak kann. Cuma memang buat kereta eksekutif seharga ini biasanya cepet banget abisnya. Untung-untungan lah istilahnya. Kalo untuk Jayakarta Premium sendiri juga ga selalu ada, karna katanya memang si kereta api ini hanya dipakai sebagai kereta api jadwal tambahan.

Kami menginap di Hotel Harper jalan Mangkubumi Yogya. Dengan harga yang lumayan murah dan lokasi yang di pusat kota, hotel ini boleh lah jadi tempat sementara keluarga kami berkumpul. Abang saya yang biasanya suka susah karna jadwalnya yang super ketat untuk trip kali ini sampe sempet-sempetnya bikin itinerary dan booklet gitu loh hahahhaa. Kami juga udah atur untuk transportasi selama di sana menyewa mobil minibus yang muat untuk 15 orang. Jadi seru dan bisa bareng terus selama di Yogya. Karna jadwal kerja yang ga klop dengan hari terakhir kami di Yogya, adik saya beserta suaminya berangkat dari rumah menggunakan mobil pribadi dan pulang sedikit lebih dulu.

Di hari pertama kami cuma jalan dan cari makan di sepanjang jalan di sekitar hotel kami. Karna sampenya juga udah sore juga si hehe. Ada satu makanan yang adik saya incar waktu itu, yaitu sate taichan Sumoo. Lokasinya ga jauh dari hotel Grand Zuri yang juga ada di jalan yang sama dengan hotel kami. Jadilah kami malam itu ke sana. Jadi tempat makan di sini adalah kumpulan para pedagang dan ada lokasi tempat makannya di tengah-tengah. Selain nyicipin si sate ayam taichan, adik saya juga nyicip kerang apa gitu saya lupa yang juga dijual di situ. Kami juga nyicip beberapa jenis dari abang aneka ketan yang juga mangkal di sana. Di tempat ini juga ada warung angkringan yang menawarkan nasi kucing beserta teman-temannya, dan beberapa jenis makanan lainnya. Si sate ayam taichan ini ya Allah sambelnya itu loh, udah kaya setan pedesnya hahahha. Saya ga kuat! Satenya sendiri si enakk, jadi waktu itu saya makan si sate aja. Selain sate saya juga pesen nasi ayam kriuk. Enak dan murah si Sumoo ini kok, dan buat selingan selain masakan Jogja yang terkenal seperti gudeg dan mie godog boleh lah dicoba.

Gambar di atas adalah menu kerang yang dipesen sama adik saya. Gila tampilannya ya hahaha.

View this post on Instagram

HQQ👌❤

A post shared by Sate Taichan Sumoo Jogja (@taichansumoo) on

Ayam krispy pake lontong (maaf fotonya kurang kece ya secara ini cuma foto via whatsapp hehe)

Ketan susu nangka.

Berhubung rombongan kami bawa anak kecil dan nenek-nenek, akhirnya rencana semula yang tadinya kepengen ke Alun-alun buat naik becak lampu batal karna mereka pada tepar hahaha. Malam itu akhirnya beberapa dari kami (termasuk saya) mutusin untuk ikut nyobain Kopi Joss pak Hendrix yang udah lama pengen dicoba sama adik ipar saya. Jadi kopi joss ini adalah kopi yang didalamnya dicemplungin arang panas. Ada dua jenis kopi joss, yaitu kopi item joss dan kopi susu joss. Saya nyobain si kopi susu joss (karna takut kepaitan wkwkwk). Rasanya lumayan kok dan ternyata ga gitu pahit karna memang si kopi (susu) juga dikasih gula ya.

Besoknya setelah sarapan, kami memulai tur dengan mengunjungi museum Ulen Sentalu. Museum ini bertemakan sejarah kekeratonan dengan konsep yang lumayan menarik. Cukup recommended menurut saya, karna selain menarik untuk diikuti (terutama buat mereka yang mau tau sejarah kesultanan di sekitaran Solo dan Yogyakarta), tempatnya juga indah.

Museum Ulen Sentalu

Selepas sholat Jum’at, kami pun pergi menuju tempat makan incaran yang sebelumnya memang udah direncanakan. Tempat makan ini namanya Kopi Klotok, lokasinya bukan di kota dan ga gitu jauh dari museum Ulen Sentalu. Kopi Klotok ini lagi hits di kalangan wisatawan lokal dan para pesohor di Indonesia kayanya. Padahal kalo diliat cuma rumah makan biasa aja loh. Selain lokasinya yang agak ke dalem, menunya juga cuma menu masakan rumah aneka sayur lodeh beserta kawan-kawan lauknya aja. Salah satu cemilan favoritnya mereka adalah pisang goreng. Tapi yaaa, yang dateng itu dari mana-mana dan kebanyakan ya bawa mobil (sampe susah cari tempat parkir kalo pas jam makan siang). Kami sendiri pas ke sana lumayan beruntung karna masih dapet tempat parkir walo begitu masuk ke dalam buat cari tempat duduk dan ambil makanan harus antri lumayan panjang.

Beberapa pesohor yang kasih komen di kopi klotok.

Antrian di Kopi Klotok.

View this post on Instagram

Yang lagi happening di #jogja – buat dapetin ini harus antri panjang mak! Warung kopi klotok yang lokasinya lumayan jauh dari kota menawarkan konsep masakan rumahan dengan dua macam nasi (putih dan sego megono), aneka ragam sayur lodeh (ada lodeh terong, lodeh kluwih, dan lodeh tempe kalo gak salah), lauk-pauk seperti tempe, tahu (bacem), ikan asin goreng, dan yang laris banget yaitu telur dadar crispy. Selain itu tentu ada si kopi dan temen minum kopi yang juga laris banget di sini – si pisang goreng. Kesan setelah makan di sini: enak dan home-y, si lodeh dan telur dadarnya mengingatkan kami dengan masakan mama di rumah😁 . . . #latepost #wisatakuliner #holiday #kopiklotok #yogyakarta #instatravel #nofilters

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

Simpel tapi nikmat!

Selesai makan siang kami pun lanjut untuk ikut tur merapi menggunakan jeep. Sempet ada isu ada yang jatuh dari jeep, karna diyakini kalo itu cuma hoax (atau bukan dari travel yang sama) kami tetep pergi. Cuma mama dan kakak ipar saya ga ikutan karna takut ga kuat kondisinya dan akhirnya mereka menunggu di tempat start/finish tur. Awalnya saya agak ragu karna takut anak saya ga dibolehin ikut (masih piyik kaaan). Tapi alhamdulillah boleh jadinya saya juga bisa ikutan deh (dan anaknya malah tidur pas di jalan hahaha).

Ada tiga pilihan durasi yang bisa kami pilih, 1 jam, 2 jam atau 3 jam. Harganya kalo ga salah bervariasi dari 350 ribu (untuk yang 1 jam) sampai 450 ribu rupiah (durasi 3 jam). Kalo yang 3 jam kita juga akan melewati sungai (yang ternyata pada waktu kami ke sana sedang kering atau tidak bisa dilewati). Kami memilih yang durasi 2 jam dan menggunakan 3 jeep (1 mobil maksimal boleh 4 orang – 1 di depan 3 di belakang). Sepanjang tur ada beberapa tempat pemberhentian; yang pertama di tengah-tengah tebing – spot untuk berfoto, pemberhentian kedua adalah museum peninggalan korban merapi. Kemudian pemberhentian selanjutnya adalah lokasi batu alien (batu besar yang karena letusan gunung merapi jadi berpindah tempat) dan tebing apa gitu saya lupa namanya wkwkwk. Pemberhentian berikutnya adalah bunker tempat berlindung seandainya terjadi erupsi lagi. Pemberhentian terakhir adalah rumah almarhum mbah Maridjan, kuncen terakhir gunung merapi yang pada erupsi terakhir ikut jadi korban.

Selesai Tur Merapi kami langsung menuju ke rumah makan Raminten. Rumah makan ini lumayan terkenal karna selain termasuk murah dan enak, juga para pelayannya berkostum lain dari yang lain (yang punya laki-laki berdandan kaya perempuan, terakhir saya ke sana para pelayannya yang wanita memakai kemben sementara yang laki-laki pake jarik dan blangkon). Satu yang saya kurang suka adalah bau kemenyan yang ngecrong banget di sana. Sebelumnya kami sudah reservasi tempat karna kalo ngga reservasi lebih dulu harus nunggu lama buat dapet tempat duduk (ngantrinya udah kaya lagi ngantri ke dokter, nunggu panggilan cin!). Sayangnya kalo reservasi kita udah harus ambil paket makanan yang udah ditentuin jadi kita ga bisa pilih menu lain selain yang udah kita pesen (padahal kalo pesen di tempat lebih banyak macemnya). Rasanya si ya oke ya, cuma kalo dibilang istimewa ya ngga juga.

Keesokan paginya selesai sarapan kami langsung check out dari hotel dan lanjut ke alun-alun, keraton dan sekitarnya. Saya yang udah beberapa kali ikut turnya mutusin untuk ga ikut dan berjalan-jalan di sekitar keraton aja (baca: jajan hahaha). Sempet beli siomay dan cendol, kami yang tadinya mau ke taman sari akhirnya membatalkan rencana untuk pergi ke sana karna sudah terlanjur ada janji untuk bikin foto bersama di foto studio bertemakan vintage costume. Adik saya dan suaminya yang punya jadwal kerja keesokan harinya tidak ikut ke keraton dan setelah check out langsung pulang ke Jakarta (pake mobil).

iseng-iseng ambil foto abang becak yang lagi tugas hehe. Btw sekarang udah banyak juga loh becak yang pake motor buat ngejalaninnya – bukan dikayuh lagi.

Tadinya kami pengen foto keluarga ala jadul di studio Sinten (lagi hits nih katanya), tapi berhubung mereka masih belum buka (karna masih dalam suasana lebaran zz) akhirnya kami foto di studio yang lainnya, yaitu kencana studio. Kami liat dari harga di brosur mereka lumayan menarik dan jarang-jarang kami bisa kumpul berfoto bareng makanya kami sempetin buat foto bareng di sana. Sayangnya ternyata begitu sampe ke foto studio, kenyataan kurang berbanding dengan apa yang diharapkan. Selain prop mereka yang ala kadarnya (ga lengkap), ternyata perhitungan biaya yang ada di brosur juga kurang jelas dan transparan. Karena ada salah pengertian akhirnya kami cuma ambil dua pose foto bareng dari sebelumnya yang seharusnya tiga.

Selesai foto bareng kami pun pergi sowan ke rumah adiknya mama atau tante dan om kami yang tinggal di daerah Piyungan/arah Wonosari. Walaupun ga bisa lama tapi alhamdulillah masih sempat silaturahmi sebentar dan rame-rame makan siang bareng (yang kesorean) di sana.

Sebelum kami diantar ke stasiun kereta api, kami sempat mampir ke satu tempat lagi yang juga katanya lagi hits di Yogya, yaitu Tempo Gelato. Saya si udah denger-denger selentingan kalo es krim mereka enak dan lumayan variatif rasanya. Begitu sampe di sana waduh bener aja kalo tempatnya ternyata rame. Akhirnya karna waktu yang agak mepet dengan jadwal keberangkatan kereta (plus tempat yang rame), kami pun akhirnya beli untuk dibawa dan dimakan di jalan aja. Rasa es krim/sorbet di tempat ini kalo menurut saya bolehlah dibandingkan sama es krim di Italia haha. Enak kok! Udah gitu murah dan si mbak/masnya ga pelit nyendokin. Untuk satu cone boleh dua rasa dan harganya cuma 20 ribu rupiah saja. Cucok kannn hahaha. Kalo pake cup pun boleh dua rasa, trus di atasnya dikasih crispy crepe gitu.

Mejeng dulu di depan toko 😆 btw, es krim sebanyak itu (yang saya pegang) harganya cuma 20 ribu rupiah loh!

Ini bukan di gelateria di Itali sodara-sodara, tapi di Yogya!

Selesai makan es krim (dan beli oleh-oleh kilat di Mirota), kami langsung menuju ke stasiun Yogya. Liburan yang cukup singkat tapi buat kami cukup berkesan. Saya seneng banget bisa terlaksana setelah sekian kali rencana hehe. Memang si ga gitu banyak tempat yang bisa kami kunjungi, tapi yang paling penting kami sempet refreshing dan juga bisa bareng-bareng (walau ga lengkap semuanya). Dan utamanya adalah (mudah-mudahan) mama kami happy 🙂 Semoga di lain kesempatan kami masih bisa kumpul (lengkap semuanya) dan liburan senang bareng-bareng lagiiii (aamiin).

Mudik Lebaran 2018: Bogor.

Hampir setiap tahun kalo saya ke Indonesia selalu saya sempatkan untuk berkunjung (dan menginap) di Bogor. Selain kakak saya yang kebetulan tinggal di sana, ada salah satu sahabat saya yang sejak lahir tinggal di sana, Erina. Kami pertama kali kenal di kampus ketika sama-sama mengambil program kekhususan yang sama. Selain dengan dia, ada tiga cewek lagi yang dekat dengan kami. Trus karena latar belakang kami yang berbeda-beda (setengah Jepang-Batak, Cina Bangka, NTT-Jawa dengan orang tua beda agama, Padang-Gorontalo, dan saya sendiri Aceh-Sunda) kami suka nyebut persahabatan kami dengan sebutan benetton sistas hahaha. Kalo dihitung dalam tahun, persahabatan kami alhamdulillah sudah berjalan hampir 20 tahun. Sekarang salah satu dari kami menetap di California, sementara saya sendiri udah pindah juga, satu di Bogor dan dua di Jakarta. Walo makin susah untuk ketemu, saya masih bersyukur karna kami masih saling kontak dan ketemu setiap ada kesempatan untuk berkumpul. Cuma sedihnya saya masih belum ketemu waktu mudik yang bareng dengan yang di California nih hiks, mudah-mudahan di tahun mendatang kami semua bisa kumpul bareng lengkap lagi (kumplit dengan krucils dan pasangan) aamiin.

Tahun lalu kami sempat kumpul bareng di Pesona Alam Resort yang berlokasi di Puncak (recommended btw), sementara tahun ini kami menginap satu malam di rumah Erina dan suami, dan satu malam menginap di hotel deket rumah dia (pake voucher member, on weekdays pula wkwk, ngirit!).

Sayang hari pertama di Bogor agak meleset dari rencana. Karena berganti jadwal ketemu dengan geng kuliah lainnya (seharusnya hari lain, tapi karna satu dan lain hal akhirnya bergeser ke hari yang sama dengan rencana ke Bogor) plus cuaca dan kondisi jalanan yang diluar dugaan, saya dan di kecil sampe di rumah Erina pas malam hari. Semula kami berencana untuk makan malam di cafe yang ada di komplek perumahan (Lotus namanya kalo ga salah), tapi karna badan saya mulai berasa greges-greges akhirnya kami pesan makanan dari sana untuk dikirim ke rumah. Berhubung udah ga semangat untuk makan, saya pun akhirnya cuma pesen mango salad aja. Teman saya pesen nasi kastrol (nasi liwet yang dimasak di panci kastrol – sebel ga sempet nyobain) beserta lauk pauknya dan pasta untuk Erina dan anaknya. Selain itu kami juga pesan martabak blackforest isi keju dari martabak pecenongan (cabang Bogor 😂). Sayang karna masih masa lebaran si tukang martabak cuma jual yang manis aja karna pegawainya takut kewalahan, dan yang bikin kurang puas adalah martabak manisnya ga pake wijsman huhu. Walau tetep enak tapi rasanya ga seenak yang pertama kali saya cicipin tahun lalu jadinya.

Nasi kastrol (foto courtesy of Erina).

Besok paginya kami pergi ke Kebun Raya Bogor, ceritanya sekalian olahraga (halah). Tuan rumah udah menyiapkan sarapan buat kita untuk dibawa dan makan bareng di sana (piknik ceritanya 😁). Ada lontong sayur, nasi uduk, roti, sampe jambu air Semarang pun siap untuk disantap. Cuma sayang karna sedikit gerimis (dan juga dari sisa hujan malamnya) kami ga bisa gelar tikar di rumput. Untung aja ada pondokan yang bisa jadi markas kita.

Menu sarapan di Kebun Raya Bogor. Rame! 😁 (foto courtesy of Erina).

Selesai sarapan, karna ada yang perlu dibeli kamipun mampir ke Botani Square. Di sana sempet nyicipin minuman avocado blended dengan topping nangka dan kelapa muda (my fave!). Setelah itu kami pergi ke restoran Kluwih untuk makan siang di sana. Restoran yang lumayan lagi hits ini menyajikan masakan tradisional sunda dengan konsep “cucurak” atau “ngaliwet” (ga tau mana yang bener istilahnya, maaf ya saya sunda boongan hahaha) alias makan dengan alas daun pisang, dengan segala lauk pauk ditaro ditengah dan dimakan bareng-bareng. Kalo dari segi rasa masakannya lumayan enak, walo menurut saya masakan di rumah makan warung ngariung (restoran sunda langganan kami tiap kali ke Bogor) jauh lebih enak daripada di sini. Anyway, dari segi suasana dan interior yang kalo kata orang sana “instagrammable” mereka dapet lah, makanya restoran ini lumayan ramai pengunjung. Saya juga ga nolak kok kalo diajak ke sana lagi hihi.

Menu makan siang kami di Kluwih

Karedok.

Minumnya cukup teh tawar. Nikmat!

Setelah beres makan siang, kami pun pergi ke hotel untuk check in. Walopun udah agak sore, rombongan anak-anak tetep maksa buat berenang (termasuk anak saya!). Akhirnya mau ga mau saya juga ikutan nyemplung ke air (karna si kecil ga mau dipegang sama yang lain huhuu). Sempet ga mau diajak keluar dari air, akhirnya dengan sedikit bujuk rayu akhirnya saya sukses mengajak si kecil untuk kembali ke kamar (dan mandi). Setelah mandi kami beristirahat sebentar di kamar, lalu keluar untuk cari makan malam. Awalnya kami berencana buat makan di restoran yang ada di hotel, tapi berhubung salah satu keluarga udah kekenyangan dan masih jetlag (mereka baru pulang mudik dari Gorontalo sehari sebelumnya) akhirnya kami putusin buat cari tempat makan lainnya. Pilihan pun jatuh ke masakan India. Out of the blue si ini sebenernya, cuma karna pas lewat di deketnya pas temen saya bilang masakan India di tempat makan itu enak, kami pun akhirnya menepi dan makan di sana. Walo ga seenak restoran India di Hamburg (masih paling pas buat lidah saya), tapi rasa masakan india di rumah makan ini lumayan lah. Dari segi bumbu cukup ringan menurut saya (kecuali kambingnya yang bau kambing banget wkwkwk – saya bukan pecinta kambing makanya sensitif jadinya).

Untuk sarapan keesokan harinya kami pilih untuk makan di restoran hotel aja. Selain banyak pilihan, juga dari segi kepraktisan. Buat saya hotel ini termasuk salah satu yang menyediakan menu sarapan bervariatif dan enak. Sewaktu kami sarapan di sana kebetulan salah satu menu spesialnya adalah mie ayam dong. Pagi-pagi disuguhin mie ayam, berat sis! 😂

Selesai sarapan anak-anak liat-liat kelinci dan (beserta para bapak) main bola, setelah itu kami pun check out dari hotel dan lanjut makan siang.

Kali ini kami makan siang di Shabu Hachi. Ini restoran shabu-shabu dan yakiniku dengan konsep all you can eat dan masak sendiri. Walopun salah satu dari kami tidak makan binatang berkaki empat dan harga per pax-nya lumayan mahal, tapi restoran ini termasuk salah satu favorit kami. Selain dari segi rasa yang enak, mereka juga nyediain makanan tradisional sebagai menu pelengkap seperti rujak dan bubur kacang hijau beserta ketan hitam (enak banget menurut saya).

Shabu Hachi Bogor.

Selesai makan siang saya pun kemudian pesen taksi online dan kembali ke rumah mama dengan perut kenyang hahaha.

Mudik Lebaran 2018: Rumah Mama, seputar Tangsel dan Jakarta.

Kami tiba di Jakarta persis sehari sebelum lebaran. Agak gambling juga si sebenernya karna pas booking tiket, hari raya idul fitrinya masih belum ditentuin secara pasti hahaha. Yah, saya si pasrah aja, kalo emang idul fitri jatuh pas saya sampe ya gapapa juga.

Berharap bisa ikut sholat Ied di lapangan bola dekat rumah bareng mama dan keponakan, apalah daya si kecil ga bisa diajak kompromi. Selain jetlag juga dia masih harus menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Saya pun akhirnya ga ikut sholat ied karna ga keburu. Selesai sholat kami kumpul bersama di rumah. Adik saya yang paling kecil pergi ke Bandung bareng suaminya untuk sholat Ied di sana. Kakak saya yang tinggal di Bogor dari pagi buta udah di rumah mama dong haha. Sementara abang saya selepas sholat Ied datang ke rumah mama. Walaupun ga lengkap, kami sempatkan untuk berfoto bersama. Selepas sholat jumat, kerabat keluarga dari mama dan almarhum bapak mulai berdatangan. Anak saya yang ga biasa dengan kondisi serame ini (plus jetlag) agak cranky jadinya. Sepanjang kami di Indonesia si kecil juga ga bisa jauh dari saya. Baru pas minggu terakhir kami di sana dia mulai dekat sama nenek dan tante-tantenya.

Sepanjang mudik kemarin kalo lagi ga ada janji atau perlu beli susu (dan kebutuhan lain) kami jadi rajin ke mall hahaha. Selain nyari adem, juga supaya si kecil ga gitu bosen di rumah (mamanya kalii 😆). Kalo dulu mal favorit alias yang paling sering saya kunjungi adalah mal pondok indah, mudik kemarin saya lebih sering ke AEON mall di BSD dan Bintaro Xchange. Alasan utamanya si karna saya agak skeptis buat ke daerah Jakarta, takut macet! Sempet juga si main ke Plaza Senayan dan Kuningan City (plus ITC Kuningan buat urus sesuatu), alhamdulillah perjalanan kami pulang pergi termasuk bebas macet (walau sedikit tersendat di beberapa titik).

Salah satu hal yang harus saya urus terkait dengan (mantan) kantor pas kemarin pun alhamdulillah sudah terselesaikan. Nah, pas saya kunjungan ke kantor itu ga disangka-sangka saya ketemu sama neng Bijo donggg! Saya pas lagi di lobby kantor bareng si kecil dan temen-temen, tiba-tiba ada yang manggil saya trus entah kenapa kok saya berasa familiar ajaaa hahaha. Bijo ngeh kalo itu saya karna ngenalin Fabian. Sayang ketemunya cuma sebentar ya bijo (barengan di lift doangg wkwkwk). Mudah-mudahan lain waktu kamu bisa kunjungan ke rumah kami di sini ya 😉

Saya juga sempet ikut arisan keluarga mama saya yang sengaja dilaksanakan lebih awal di rumah om di Cibinong. Namanya kumpul keluarga mah seru ya, dari yang ngobrol ngalor ngidul, sampe bungkus-bungkus makanan juga rame 😆.

Ngomong-ngomong soal makanan, mungkin karna saya bareng anak kicik ya jadi saya ga gitu ngoyo dan banyak kepengenan selama saya di Indonesia. Selain pesen ga usah repot bikin masakan khas lebaran, saya udah jauh-jauh hari ngomong ke mama kalo nanti kita sediain bakso aja untuk keluarga dan kerabat yang dateng. Selain ga gitu repot, pun seger buat mereka yang mungkin udah eneg liat ketupat beserta kawannya itu. Alhamdulillah juga kan jadinya dua pulau terlampaui hahaha. Saya ikut menikmati bakso (plus bakso tahu dan kawannya), yang dateng ke rumah kami pun ikut hepi 😄. Kakak-kakak dan adik saya pun perhatian banget. Apa yang saya tanya mereka langsung cari dan beliin buat saya. Alhamdulillah bersyukur banget punya keluarga perhatian. Alhamdulillahnya lagi, setiap kumpul dan ketemu sahabat mereka juga hampir selalu mikirin saya lagi kangen atau maunya makan apa. Jadi ga usah repot cari-cari kannn. Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan 🙂

Ngomongin teman dan sahabat, memang ada beberapa “geng” dari tiap fase kehidupan saya (tsah) yang hampir ga absen untuk kumpul dan ketemuan tiap saya pulang ke Indonesia. Mulai dari geng jaman SMP (a.k.a. geng zombies 😂), geng SMA (a.k.a. TR alias Tim Rumpi 😂), geng jaman kuliah (G13 omdo karna hobinya kumpul tapi omdo alias ga jadi mulu kalo ga ada saya hahaha dan geng sistas minus satu orang yang udah pindah ke Amerika), sampe geng di kantor (temen seangkatan dan temen seperjuangan😁).

This slideshow requires JavaScript.

Saya bersyukur banget dengan adanya taksi online di Jabotabek deh. Memudahkan mobilitas saya banget. Apalagi dengan anak kecil, agak susah kan ya buat naik ojek ato angkot berdua aja. Bawaannya itu lohhh. Eh tapi saya dan anak sempet naik kereta loh pas ke kantor di kuningan hahaha. Ga berdua aja si, tapi bareng dengan abang saya. Kayanya kalo cuma berdua doang saya bisa ga sampe ke kuningan deh, cukup sekian aja dan terima kasih 😂

Makanya I cannot wait for the upcoming MRT nih, kali aja bener-bener bisa bikin Jakarta tambah nyaman yaaa 😉

Mudik Lebaran 2018: Cerita di Perjalanan.

Setelah empat tahun berturut-turut merasakan “indah”nya idul fitri di tempat rantau, alhamdulillah untuk tahun ini saya dikasih kesempatan untuk merayakan idul fitri bersama mama dan keluarga di Indonesia.

Bisa dibilang mendadak mudik sih, karna memang rencana awal adalah pulang sekeluarga ke Indonesia di bulan Juli. Bermula dari saya yang suka iseng cek ombak (🤣) dan mengaktifkan notifikasi untuk tracking harga tiket pesawat Amsterdam-Jakarta di internet. Satu waktu saya lihat ada notifikasi kalo harga tiket pesawat untuk rute tersebut ada yang ga sampe €300-an untuk pulang pergi donggg, dari Singapore Airlines pula! Saya langsung sumringah tapi deg-degan mau ngomong sama suami hahahaha, secara kan berarti kita harus ubah rencana lagi (macam tahun lalu dan tahun sebelumnya). Dasar saya impulsif banget ya! Beruntung setelah saya kasih berbagai macam pertimbangan, suami pun mengizinkan saya untuk mudik pas lebaran idul fitri aja hehe. Tentu berdua dengan si kecil ya.

Setelah mengantongi izin suami, saya pun mulai serius nyari tiketnya. Beruntung harga tiket dengan jadwal yang paling memungkinkan harganya masih di kisaran €400-an aja. Lumayan amazed sebenernya, mengingat Singapore Airlines (SQ) udah terkenal dengan harganya yang biasanya lebih mahal dari maskapai lain. Semula saya mau beli seat buat si kecil, cuma karna dia belum 2 tahun saya harus kontak ke layanan customer service setempat untuk mengubah infant seat alias bassinet menjadi child seat. Setelah beberapa kali korespondensi (yang lumayan bikin saya kesel dan bete), akhirnya saya putusin untuk tetep pake infant ticket i.e. menggunakan bassinet aja. Alhamduliah ternyata keputusan ini menjadi blessing in disguise buat saya. Di barisan tempat kami duduk ini, di setiap flight yang kami ambil bangku di sebelahnya kosong dong. SEMUA FLIGHT loh (total 4 kali pesawat). Malah pas pulang sebaris pol ga ada orangnya haha. Tapi pas flight Singapura-Amsterdam satu penumpang yang duduk di baris belakang kami pindah ke depan. Kayanya si alesan utama kenapa seat ini kosong karna ada charge tambahan (lumayan mahal ini) kalo penumpang mau duduk di barisan depan ini (kecuali penumpang dengan infant yang memang harus duduk di depan karna bassinet).

Jadi saya mau kasih tips buat yang mau traveling dengan bayi menggunakan SQ. Pilih row/baris tengah deh, jangan baris pinggir kanan atau kiri (untuk seri A350 kalo ga 41D atau 41F, buat seri A330-300 pilih 31D), karna selain space lebih luas, kemungkinan besar orang ga mau bayar ekstra trus duduk deket-deket bayi; makanya seat yang tengah pun biasanya akan kosong hehe.

Satu tips lagi, kalo memang kebetulan cuma bisa pergi berdua dengan si bayi (alias ga ada yang bisa nemenin), jangan ragu untuk minta bantuan atau asistensi ke maskapai. Kebetulan banget pas saya perlu kejelasan mengenai meal untuk si kecil selama di pesawat, pihak maskapai (customer service) noticed kalo saya pergi cuma berdua dengan bayi dan mereka kemudian nawarin apa saya perlu bantuan sewaktu transit dan sampai di tempat tujuan. Saya ditawarin begitu ya oke aja dong. Lumayan banget terutama pas transit di Singapura, karna jarak antara gate arrival sampe dengan gate untuk flight berikutnya lumayan jauh.

Salah satu nilai minus dari SQ adalah jadwal terbangnya yang berangkat di pagi/siang hari dari Schiphol. Awalnya saya pikir ga akan masalah buat anak saya. Tapi ternyata tetooot dong. Si kecil selama di pesawat hampir on terus alias ga ngantuk (karna memang bukan waktunya dia tidur kan). Begitu sampai Singapura untuk transit, dia pun udah mulai mabok alias ngantuk. Main pun udah sempoyongan dan maunya digendong aja (sama mamanya). Alhasil mulai dari sebelum boarding di Singapura sampai mendarat di Jakarta saya harus gendong si kecil. Oh sama satu lagi pengalaman yang kurang ngenakin, saya agak kesel sama ground officers di Schiphol. Mereka bisa dibilang kurang kooperatif dan kaku. Mereka juga yang bikin saya buggyless selama transit di Singapura (karna buggy-nya anak saya dikirim direct ke Jakarta zz).

Jadwal pesawat sampe di Jakarta adalah pagi hari dan karena saya sampe sehari sebelum lebaran, berbahagialah saya karna ga ketemu macet hihihi. Waktu tempuh ke rumah mama pun kurang lebih cuma satu jam aja. Selama mudik pun saya lumayan beruntung karna waktu cuti bersama yang panjang dan masa liburan anak-anak sekolah jadi jalanan masih relatif bebas macet hehe.

Sesaat sebelum turbulence dan saya harus mengangkat si kecil dari bassinet.

Kalo waktu berangkat banyak drama, alhamdulillah pas kembali ke Belanda perjalanan kami cukup lancar. Anak saya hampir sepanjang perjalanan tidur (karna kebetulan jadwal terbangnya di malam hari juga). Walau bassinet udah kekecilan buat dia, tapi masih lumayan lah untuk dia tidur (dan lengan saya istirahat 🤣). Fyi, ukuran bassinet dari SQ panjangnya sekitar 77 cm dan maksimal berat si infant adalah 14 kg. Beberapa kali sempat harus diangkat dari bassinet karna turbulence, selain main atau makan (ngemil) bareng saya, selebihnya si kecil tidur dengan suksesnya. Saya pun juga sempat tidur (walau dengan posisi yang kurang nyaman). Perjalanan pulang kami ternyata juga lebih cepat setengah jam dari jadwal. Saya jadinya keluar lebih cepat dibanding suami dan anak-anak yang sempet kena macet juga di jalan haha.

Bahkan dengan lampu menyala anak ini tetep pules dong 😁

He wants to do everything by himself, including fasting the seatbelt.

All in all, saya cuma mo bilang kalo mudik berdua dengan anak usia satu setengah-dua tahun kaya yang saya lakukan kemarin jauh lebih banyak tantangannya dibanding sewaktu si kecil masih bayi tahun lalu. Selain karna pas bayi juga gampang untuk urusan perbekalan (ASI masih jadi asupan utama), juga karna keinginan si anak untuk eksplorasi dan beraktivitas selama di pesawat juga masih belum sekuat umur sekarang. Kalo tahun lalu saya kuat-kuat aja gendong si kecil, sekarang dengan berat 12kg saya encok sis kalo kelamaan gendong😂. Oh well, alhamdulillah tantangan demi tantangan itu terlewati dengan baik (walo juga melelahkan haha) sehingga saya bisa lebaran bersama mama dan keluarga besar di Jakarta. Its worth to be done every year as long you still have your parent(s), family and friends to meet after the long journey.

Summer besok mau kemana?

Image via Pixabay

I don’t want to go to Peru.”
How do you know? You’ve never been there.”
I’ve never been to hell either and I’m pretty sure I don’t want to go there.
~ Richard Paul Evans, the Sunflower.

Azek gaya yang tinggalnya di negara empat musim hakakka. Maaap ya bukan mau gegayaan, tapi harap maklum berhubung dua buntut dan satu kepala punya waktu terbatas liburnya, jadilah saya sebagai satu ekor perlu memikirkan kira-kira gimana bisa memaksimalkan waktu libur mereka juga bikin cerita yang setidaknya bisa nambah cerita dalam lembaran hidup mereka (halah).

Tahun ini kembali kami putuskan untuk ga bedol desa mudik ke Indonesia. Salah satu pertimbangan kami ya karna waktu liburan yang ga bisa milih selain pas peak season dimana kalo kami pergi semua bikin hati (dan dompet suami) kembang kempes wkwkwk. Insya allah saya jadinya rencana mudik sama si kecil aja pas lebaran nanti, kangen sama suasana dan paling pasti kumpul keluarga.

Kembali ke topik semula. Sebagai pengganti mudik di kala summer, kamipun bikin rencana buat keliling di sekitar sini aja. Kalo tahun lalu kami udah ngerasain road trip pake mobil, kali ini saya pengen nyoba kita keliling pake kereta hahaha. Saya penasaran bagaimana nanti di perjalanan! Walo belom bener-bener final, saya udah kasih “presentasi” (literally😂) ke suami dan anak-anak, dan sepertinya mereka cukup tertarik hehe. Saya sendiri udah sibuk nyari-nyari (dan booking) para hotel dan apartemen dong hahaha. Ga mau sampe shock liat harga kalo bookingnya deket-deket ah!

Jadi rencana perjalanan kami akan makan waktu kurang lebih 13 hari. Kemana aja destinasinya dan gimana transportasinya? Walo masih rencana boleh dong ya mau berbagi juga, kali aja dapet masukan yang lebih bagus kannn:))

Pertama yang saya pikirkan adalah starting point dari rumah menuju stasiun yang punya akses ke negara tetangga. Ada dua kota yang jadi pertimbangan saya, yaitu via Utrecht atau Nijmegen. Saya pilih Nijmegen dengan beberapa pertimbangan. Selain lumayan deket sama tempat kami tinggal, biaya parkir di situ masih lebih murah dibanding kalo kami start dari Utrecht (emak cheapskate😂).

Dari Nijmegen kita akan naik kereta menuju Berlin. Waktu tempuhnya adalah kurang lebih 6 jam (kalo kita start dari Utrecht pun kurang lebih sama). Tinggal di Berlin 3 hari, kemudian kita akan lanjut ke Praha. Jarak tempuh kereta dari Berlin ke Praha ini kalo saya baca di internet sekitar 3 jam. Rencananya kami juga akan tinggal di sana selama 3 hari. Dari Praha kami akan lanjut ke Vienna, juga pake kereta. Waktu tempuhnya kurang lebih 4 jam. Setelah itu kami akan lanjut ke Italia – tepatnya Roma – dengan menggunakan coach/night train. Waktu tempuhnya kurang lebih sekitar 12 jam lah. Dari Roma kami (well, saya si sebenernya) pengen mampir juga ke Cinque Terre dan stay di salah satu kota di sana selama 2 atau 3 hari. Cuma satu si kendalanya, harga kamar di sana yang masum kriteria saya mahal-mahal banget! Ini belom nyoba cari air bnb gitu si, tapi saya agak pesimis juga karna selain saya bawa anak piyik, jadwal pergi kami bisa dibilang masih pas musim liburan jadi pasti peminatnya banyak ya kan.

Salah satu desa di Cinque Terre yang fotonya ikut mejeng di wallpaper laptop saya hehe. Image via pixabay.

Oke balik lagi ke rencana. Setelah Cinque Terre, kami akan cus ke Milan, atau Bergamo tepatnya. Alesannya jelas, biar deket sama bandara hehehe. Berhubung ada tiket murah dari bandara di situ menuju bandara deket Nijmegen, makanya menurut saya ga ada salahnya untuk nginep di sana semalam. Kali aja malah menemukan hidden gem ya kan.

Dari bandara Orio apa gitu namanya di Bergamo, kami akan terbang menuju bandara Weeze di Jerman (deket Dusseldorf, tapi ini bandara khusus untuk LCC aja kayanya). Dari Weeze udah ga gitu jauh ke Nijmegen dan dari Nijmegen kembali ke rumah naik mobil deh.

Udah sih gitu aja :)))

Dua (apa tiga ya?) hal yang bikin deg-degan dari rencana ini adalah harga tiket transportasi dan akomodasi yang makin menjerit, mood si kecil dan suhu/temperatur di Itali yang konon katanya kalo pas summer panas tak terkira😩. Semoga aja kalo bener jadi perjalanan ini bikin si kecil seneng dan ga bosen trus cranky. Mudah-mudahan juga dese ga lempar tantrum sepanjang waktu liburan yes, biar semua hepi 😉

Nah kalo plan di atas ga feasible, mungkin kami akan lari ke utara, gatau tapi mau ke mana hahahaha (bikin satu rencana gini aja udah ribed, apalagi kalo harus bikin cadangannya. Mamah tepok jidat ajalah *sambil kirim email cancellation ke tempat yang mau dituju hiks*)

Temen-temen udah ada yang punya rencana belom buat musim liburan mendatang? Semoga aja terlaksana dan berjalan lancar dan menyenangkan yaa!