30 Day Movie Challenge, Day 1.

“We love films because they makes us feel something. They speak to our desires, which are never small. They allow us to escape and to dream and to gaze into the eyes that are impossibly beautiful and huge. They fill us with longing. But also. they tell us to remember; they remind us of life. Remember, they say, how much it hurts to have your heart broken.” ― Nina LaCour, Everything Leads to You

Per hari ini akhirnya tergiur untuk ikutan juga sama movie challenge-nya Mba Fe, Ka Non dan Inly hahahaha, doakan semoga syukses yaaa =)

Day 1: The last movie you watched

passengers-1

via trilbee.com

Kemarin malem saya baru aja nonton “Passengers”, dibintangi Chris Pratt dan Jennifer Lawrence. Semata-mata karna belom ngantuk aja dan kebetulan film ini dan satu lagi dari koleksi film saya yang belum ditonton (satunya lagi Sleepless, yang mana saya lupa siapa pemainnya wkwkwk). Filmnya bergenre Sci-Fi, ceritanya sendiri berawal dari gagal/rusaknya kapsul si Chris Pratt yang menyebabkan dia kebangun dari hibernasinya dalam perjalanan menuju kota baru di planet baru. Mereka harus dalam kondisi hibernasi karna untuk sampe ke sana masih harus menempuh jangka waktu selama 90 tahun (atau berapalah lupa). Setelah setahun hidup sendiri (well dia bareng 5ribu penumpang lain yang sedang berhibernasi alias ditidurkan sii), akhirnya dia membangunkan salah satu penumpang yang masih dalam kondisi hibernasi dengan merusak kapsul tidurnya (diperankan J-Law). Awalnya J-Law mikir kalo kapsul dia juga mengalami kerusakan, dan mereka jadi semakin dekat seiring waktu (duhh, mereka cuma berdua yang alive gitu loh), tapi di suatu waktu J-Law tau kalo Chris merusak kapsulnya dan jadi marah. Sebenernya pada saat itu ternyata ada masalah pada kapalnya karena ada semacam “meteor” menembus ke pesawat yang kemungkinan besar fatal akibatnya kalo ga segera diperbaiki. Ga lama berselang ternyata ada satu orang lagi yang terbangun dari hibernasinya, yaitu si kapten kapal ini (diperanin Lawrence Fishburn kalo ga salah). Sayang kondisi si kapten lemah dan ga bisa membantu mencari permasalahan yang terjadi pada kapal luar angkasanya ini. Sekarang semua keputusan ada pada kedua orang yang melek ini, apakah bisa menyelamatkan 5ribu penumpang lainnya, atau membiarkannya saja, karna toh mereka ga akan bisa mencapai ke lokasi tujuannya (karna jarak yang mencapai 90 tahun.

Satu hal yang saya highlight dan bikin jealous dari film ini adalah kolam renang dengan pemandangan luar angkasa-nya! Seandainya in real life exist, people would really love to go there I guess 🙂 Btw I am not a big fan of J-Law, tapi di film ini dia cakep banget menurut saya deh hahaha. Link di bawah adalah trailer-nya.

See you tomorrow for the 2nd one!

Inked96a1ec78bf82c2731c7a255815514cb5_LI

Advertisements

How Old is Your Partner? (The Half Your Age Plus Seven Rule)

chart

“..This rules states that by dividing your own age by two and then adding seven you can find the socially-acceptable minimum age of anyone you want to date. The (lesser-applied) other side of the rule defines a maximum age boundary: Take your age, subtract 7, and double it. With some quick math, the rule provides a minimum and maximum partner age based on your actual age that, if you choose to follow it, you can use to guide your dating decisions.”

Ada yang pernah denger ga tentang aturan ini? Mungkin kalo dibandingkan, yang udah pernah denger lebih sedikit jumlahnya daripada yang belum pernah denger ya hehe. Sebelum nulis draft ini pun saya termasuk grup yang ga tau sama yang namanya the half your age plus seven rule ini.

Aturan ini adalah semacam aturan sosial yang bisa jadi patokan buat mereka yang baru mau mulai menjalin hubungan dengan seseorang (cowo ataupun cewe) tapi ragu apa jarak usia mereka kejauhan ato ga (kalo dilihat dari kepantasannya). Jadi menurut aturan ini, rumus untuk menentukan batas minimum usia pasangan adalah umur kita dibagi dua, kemudian ditambah 7. Sementara, untuk menentukan batas maksimum, rumus yang digunakan adalah umur kita dikurangi 7, kemudian dikali 2. Sebagai contoh, umur saya adalah 30 tahun. Umur pasangan saya 41 tahun. Apa pasangan saya termasuk dalam kategori socially acceptable atau ngga kalo diliat dari jarak usia kita?

kalo diliat dari sisi saya, karena pasangan saya lebih tua maka rumus yang dipake adalah yang kedua, maka usia maksimal pasangan saya adalah (30-7) x 2 = 46 tahun. Ini berarti pasangan saya masih masuk dalam kategori aman. Sementara kalo diliat dari sisi pasangan saya, maka usia minimum yang dianggap oke untuk dijadikan pasangan dia adalah (41:2) + 7 = 27,5 tahun (anggep aja 28 tahun). artinya saya juga masih masuk dalam kategori amannya dia.

Sebenernya postingan ini sendiri berawal dari keingintahuan saya, terutama ketika melihat akhir-akhir ini banyak pasangan yang kalo dari kasat mata keliatan jauh jarak usianya. Selain itu juga banyaknya reaksi dan jawaban orang-orang yang punya pasangan terutama orang asing (pasangan lokal juga walo mungkin ga gitu banyak) kalo dapet pertanyaan “beda berapa tahun dengan pasangannya”. Tau sendiri kan kalo di Indonesia orang-orangnya keponya parah banget, trus kalo pertanyaannya ini dijawab reaksinya biasanya suka judgmental. Makanya kebanyakan kalo saya liat dari jawaban atau reaksi dari orang-orang yang punya pasangan orang asing (well, sebagian besar perempuan tentunya), yang ditanya jadi bete karena orang menstereotipekan kalo cewe indonesia (asia) punya pasangan cowo orang asing pasti tu orang asingnya udah tua (bukan yang seumuranlah). Mereka mungkin ga sudi dibilang lakunya cuma sama yang tua juga ya hehe. Anyway.

Nah, dari sinilah saya jadi penasaran sampai seberapa jauh sebenernya jarak umur pasangan kita yang masih dianggap wajar atau normal (di mata masyarakat), dan mana yang dianggap ngga (kemudaan atau ketuaan gitu lah). Selain itu, tentu juga saya pengen tau apakah jarak umur antara saya dan suami masih termasuk “pantes” ato ga hehe. Btw sebelum ada yang nanya (ha!), suami saya umurnya 11 tahun lebih tua dari saya. Gapapa kok kalo mau komen ato mikir macem-macem hehe – whether it’s a good one or not 🙂

Sebelum ketemu sama suami, saya ga pernah punya pacar yang lumayan jauh jarak umurnya dari saya. Saya ga punya mantan berderet kok, tapi kebetulan beberapa mantan temen deket saya (tsah, sok laku hahahak) umurnya memang berjarak ga jauh-jauh dari umur saya. Satu mantan dari negara tetangganya Belanda yang kerjaannya bolak-balik putus sambung jaraknya itu 3 tahun dari saya. Satu mantan lainnya malah cuma beda 4 bulan aja sama saya. Dan yang dari Afsel bedanya 2 tahun di atas saya. Eh…ini kok jadi kaya defense saya ya hahahaha, kalo saya juga laku sama yang muda😂.

Dulu pas temen saya Titi nikah sama Aksan, saya dan temen-temen yang lain cukup kaget dan amazed, karena kita ngerasa jarak usia mereka kan cukup jauh (11 tahun – sama kaya yang saya alami sekarang hkhk). Mungkin juga karena waktu itu kami masih (lumayan) muda jadi begitu denger age gap sebesar itu langsung ngerasa waw (kalo ga salah pas mereka nikah Titi di usia 25-30an, sementara Aksan udah di usia 36-40an).

Lain dengan sahabat saya satunya lagi. Kebetulan kali ini sahabat saya usianya 6-7 tahun lebih tua dari suaminya. Seperti biasa ada aja orang yang iseng komentar, bilang kalo udah kaya tante-tante kawin sama keponakan aja. Gila ya komennya, tapi emang menurut saya mulutnya orang-orang indonesia kadang kelewat peres (cunihil, maaf saya ga tau bahasa bakunya apa :D) – yang ga penting dan bikin sakit hati orang tetep aja diomong.

Bicara mengenai usia kita sendiri, mungkin hal ini juga mempengaruhi pandangan kita sendiri terhadap age gap dengan pasangan. Sebelum usia saya masuk ke angka 30, having a relationship with someone over six years of gap from my age is really beyond my mind and I wouldn’t thought that it could happen to myself. Tapi pandangan ini berubah seiring usia bertambah. Pemikiran saya mungkin juga agak lebih mateng dan saya jadi lebih banyak berpikir tentang bagaimana suatu hubungan bisa berhasil dari berbagai aspek, bukan hanya dilihat dari jarak usia aja. Juga kalo menurut saya karena pilihan untuk memilih pasangan jadi semakin mengerucut kali ya (halah). Memiliki pasangan yang usianya sudah memasuki angka 40 pun pada saat kita udah masuk usia 30-an jadi ga gitu terasa aneh lagi (walau tetap ga menutup kemungkinan untuk punya pasangan yang lebih muda). Saya sendiri bersyukur memiliki keluarga yang ga pernah nge-push saya untuk segera menikah jadi sayanya juga ga gitu grasa grusu ngebet berat mau nikah. Biasa..kan kalo buat orang indonesia cewe diatas umur 30 belum nikah itu (hampir) masuk kategori perawan tua hehe.

Saya bukannya mau ngomong kalo punya suami lebih tua itu lebih baik dari yang seumuran atau lebih muda loh. Sebenernya yang harus digarisbawahi sebelum kita memulai suatu hubungan adalah sejauh mana orang itu mau berkomitmen dengan kita – terlepas dari apakah dia lebih muda, seumuran atau lebih tua. Ada orang yang umurnya sudah jauh dari cukup untuk punya hubungan serius, tapi ternyata berat bagi dia untuk berkomitmen ke satu orang. Banyak juga cowo yang usianya udah di angka 40-an (bahkan 50) tapi tetep ga siap untuk komit dan punya satu hubungan yang serius. Entah apa yang bikin mereka berat, mungkin memang belom ada yang sreg aja kali ya. Ada juga orang yang masih muda dan mungkin belum mapan tapi berani untuk berkomitmen dan siap untuk menanggung apa yang sebelumnya bukan tanggung jawab menjadi tanggung jawabnya dia (berkaca dari sahabat saya yang usia suaminya jauh lebih muda).

Balik lagi ke aturan half year your age plus seven rule, saya termasuk yang pro dengan aturan ini. Kalo menurut saya, sebebas apapun hak kita untuk memilih pasangan, jangan sampe kita melupakan logika kita sendiri. Mau dibilang semua hubungan didasari cinta terlepas dari jarak umur, tapi mbok ya sebelum memulai hubungan dilihat juga kepantasannya, dan menurut saya kalo kita pake rumus ini batasan age gap-nya masih terasa masuk akal. Saya ga nutup mata juga kalo pasti ada hubungan dengan beda usia yang sangat jauh yang dilandaskan pada cinta, tapi mungkin yang bener-bener tulus kaya gini tanpa embel-embel jumlahnya ga banyak (menurut saya loh).

Menurut saya yang namanya jodoh adalah rahasia Yang Di Atas. Mungkin orang berpikir kalo punya pasangan yang lebih tua akan lebih sebentar waktu untuk bersamanya, tapi mau berapapun usia pasangan kita, balik lagi berapa lama kita hidup di dunia juga Tuhan yang menentukan. Hubungan dengan yang lebih tua, seumuran, atau lebih muda, masing-masing pasti ada tantangannya. Selama komitmen yang kita bangun didasari dengan sesuatu yang baik, pasti ke depannya juga akan berjalan dengan baik, dan apa yang baik menurut kita belum tentu cukup baik menurut yang lain. Ah, intinya sih apapun pilihan seseorang kita harus menghargai pilihan orang itu.

So, bagaimana dengan kamu? no matter how much the gap between you and your partner is, I wish you (and your partner) to have a long and prosperous – happily ever after relationship ya =)

Thank you 2016, Welcome 2017!

“Year’s end is neither an end nor a beginning but a going on, with all the wisdom that experience can instill in us.”
Hal Borland

Beberapa saat lagi di tempat kami tahun akan berganti.
Tahun 2016 banyak cerita yang udah kita lalui. Kalau mau dihitung ga tau deh berapa banyak berkah yang udah Allah kasih kepada kami. Ga ada hentinya kami bersyukur kepada Allah SWT untuk segala yang terjadi. Semoga kami selalu ingat untuk bersyukur, atas nikmat dan segala yang sudah dilimpahkan kepada kami.

Dari dulu walaupun ga bener-bener strict dan bikin target, saya suka bikin semacam mental list di kepala saya apa aja yang udah saya capai selama setahun, yang saya mau capai untuk setahun ke depan. Selain bagus sebagai pengingat, hal ini juga bisa menjadi semacam dorongan buat saya dan apa yang saya kerjain ke depan jadi bisa lebih terarah.

Saya mau share sedikit beberapa highlight buat saya di tahun 2016 ini. Banyakan yang indah-indah si hehe, saya ga suka (dan ga mau) begitu mendayu-dayu dengan sesuatu yang bikin saya sedih atau kecewa. intinya bersyukur dan move on, ya ga? 😀

  • Yang paling utama tentunya kehadiran anggota baru di keluarga kami. Alhamdulillah walaupun sedikit berjuang di akhir-akhir masa kehamilan, semua dilalui dengan lancar. Lahiran lancar (health system dan penanganan yang superb buat saya dan suami – bener-bener pengalaman yang bikin kami puas dan grateful deh pokonya), bayi sehat sempurna, masa recovery yang cukup sebentar, anak-anak dan suami juga oma di sini sayang dan ga henti-hentinya memberikan support, bener-bener Alhamdulillah lah pokonya (big time).
  • Seneng bisa pulang ke Indonesia di tengah masa kehamilan, didoain sama semuanya, ketemu mama, abang, kakak, adik dan keponakan, juga sempet ketemu sama temen-temen kesayangan.
  • Alhamdulillah mama dan echa juga bisa nengokin kami di sini selama sebulan ga lama setelah saya melahirkan, jadi bisa sharing cerita, dapet bala bantuan dan bikin rumah jadi makin rame.
  • Seneng denger temen-temen deket saya juga di tahun ini barengan hamil (dan nyusul hamil! hihi). Ada Neneng Mbem yang lebih dulu melahirkan dan akhirnya jadi sering berbagi info buat saya perihal macem-macem yang berhubungan dengan persiapan melahirkan dan anything about baby, jeung R yang cuma beda 5 hari aja waktu bersalinnya sama saya, mbak I yang awal Januari kemarin akhirnya officially menikah dan kemudian November kemarin melahirkan baby boy juga, my sistas Inge dan Lia yang sekarang expecting dan masih berjuang sampai waktunya nanti bersalin (sehat terus ya ayang-ayang!), Mami F di Berkel-Enschot yang semua orang bilang agak gak mungkin pun sekarang lagi expecting! juga temen-temen lain yang saya kenal di sekeliling saya yang mungkin saya lupa atau ga kesebut di sini, saya ikut seneng deh pokonya.
  • Beberapa temen deket saya mampir ke Belanda dan kita sempet jalan bareng. This is priceless for me. Yang pertama, saya ketemuan dengan sahabat saya semasa SMA di sini. Kebetulan emang dia tiap tahunnya bolak-balik Jakarta – Madrid karena suaminya kerja di Madrid. Dia liburan ke sini bareng suami dan dua anaknya, dan alhamdulillah saya sempet nemenin mereka buat jalan-jalan ke Volendam dan Zaanse Schans (waktu itu saya bela-belain nyetir dengan perut besar demi ketemu lah haha). Yang kedua, saya beserta baby F dan bareng sahabat saya semasa SMP yang kebetulan ada business trip ke Roma punya kesempatan buat liburan singkat ke Paris (thanks to hubby yang pengertian ;)), dan kemudian dia nginep di tempat kami. Really glad we can make it happen.
  • Beberapa temen saya yang udah saya kenal lama dan tinggal di Belanda harus kembali ke tanah air, satu karna Phd-nya udah selesai, dan yang satunya lagi karna masa tugasnya di kedutaan sudah selesai. Yang Phd dulu kami kuliah bareng S2 di sini (dia lulus cum laude, saya CUMa lulus aja wkwkwk), sementara yang diplomat kami kuliah bareng S1 di FHUI dulu. Sedih tapi senang si sebetulnya hehe, karna dua-duanya pulang karena sesuatu yang positif, bukan negatif. Semoga kita masih dikasih kesempatan (kesehatan dan juga rejeki) untuk ketemu lagi ya temen-temen.
  • Renovasi rumah yang walaupun berjalan lama tapi sedikit-sedikit menuju ke arah yang lebih baik. Terutama sebelum Fabian lahir, kami harus ngebut bikin kamar buat anak-anak (sekalian juga merapikan tempat cuci dan setrika) di atas. Thank God it was finished on time, karena ternyata persis seminggu setelah kamar Fabian selesai, saya dijadwalkan untuk lahiran wkwk. Saya bersyukur juga rumah mama di Indonesia bisa ikutan direnovasi (dan dicat ulang!). Walau mungkin masih banyak yang harus dibetulin (maklum rumah tua) tapi setidaknya sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik lagi hehe.
  • On sosmed point of view (halah), seneng punya temen baru (dan bacaan dikala senggang) lewat blog ini =) terima kasih sudah mengisi waktu-waktu saya dengan cerita serunya yaa (maapin tapi kadang abis baca trus mau komen udah nulis tapi abis itu suka lupa mencet send hahahaha). Begitupun dengan instagram. Saya jadi semangat untuk posting di situ hehe. Saya pun kembali aktif posting di facebook (via path atau instagram), walaupun ya ga seberapa.
  • Banyak berita heboh yang dateng dari Indonesia, dari kopi sianida, pilkada DKI, cerita-cerita lama berbau SARA, mewabahnya sinetron india (apa turki ya? lupa :p), sistem kurikulum yang katanya mau berubah, masalah dwi kewarganegaraan dan menteri instan, dan terakhir heboh pilot mabuk. Sedih juga dengan banyaknya musibah yang terjadi (khususnya yang dibuat oleh manusia) yang dimulai dari bombing di mana-mana, juga perang di Syria.
  • masih banyak lagi yang maunya ditulis di sini, tapi nanti kepanjangan tau-tau tahun barunya lewat lagi hahaha. sementara udah sampe sini aja lah highlightnya ya guys. udah banyak juga ini buat setahun!

Harapan di tahun ke depan, semoga saya bisa mengelola waktu dengan lebih baik lagi, lebih rajin ibadahnya, semakin sabar dan bisa handle segala urusan rumah tangga dan juga anak-anak serta suami. Semoga juga di waktu ke depan saya bisa lebih baik lagi bahasa belandanya, saya pengen ikut (dan lulus) NT2 examen supaya bisa dapet kerja yang sesuai dengan pendidikan saya dan mungkin jadi lebih gampang ke depannya (aamiin). Semoga suami dan anak-anak beserta keluarga besar saya dan suami selalu diberikan berkah sehat, kebahagiaan, kesuksesan di dunia (dan akhirat). Semoga kami semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya, pribadi yang tidak lupa bersyukur, rendah hati (bukan rendah diri), dan ramah serta menyenangkan (at least ga bikin kesel orang hehe).

Satu lagi, semoga adik saya diberikan kemudahan untuk mewujudkan keinginannya untuk menikah dengan pria pilihannya. semoga juga tahun depan kami bisa berkumpul semuanya di Jakarta. AAMIIN =)

Sekali lagi, selamat tahun baru semuanya! I leave with another one nice quote taken from brainyquote.com:
Let our New Year’s resolution be this: we will be there for one another as fellow members of humanity, in the finest sense of the word. ~ Goran Persson

Long Haul Flight, Mudik dan Hamil (2).

DSC_2224

Kamboja yang sedang mekar di rumah mama. Such a beauty 🙂

“You can kiss your family and friends good-bye and put miles between you, but at the same time you carry them with you in your heart, your mind, your stomach, because you do not just live in a world but a world lives in you.”
― Frederick Buechner

Memang ya, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan (hampir) selalu memberikan a certain kind of feeling. It will always be a part of you. Rasa nyaman, homey, terutama kalo keluarga dan sahabat yang kita miliki masih bisa kita temui dan ada di sekeliling kita, best feeling deh pokonya.

Sesampai di rumah, seneng banget akhirnya bisa ketemu mama, kakak adik dan keponakan. Saya langsung teler tapi hihi, secara perjalanan dari bandara ke rumah mama hampir sama aja lamanya kaya terbang dari jakarta ke aceh! tapi alhamdulillah kami tiba dengan selamat. Pengen cerita-cerita akhirnya ditunda besoknya supaya saya lebih fresh. Bersyukur banget, saya yang biasanya jetlag – terutama masalah jam tidur – kalo balik dari eropa, kemarin hampir ga gitu berasa.

Hari pertama sarapan, so pasti pake nasi uduk langganan hahaha. Jadi ada ibu-ibu yang jual nasi uduk di deket rumah, rasanya itu pas banget sama lidah saya. Bukan yang jenis nasi uduk betawi, tapi kalo yang ini lauknya pake telur dadar iris dan tempe kering plus sambal goreng dan kerupuk. Simpel tapi enak banget. Setelah sarapan, saya dan kakak-adik olah raga ke taman kota BSD. Cuma jalan santai aja si ikutin track, tapi lumayan lah daripada ga olah raga sama sekali yah. Abis itu jajan deh hahaha :p

Sebelum mudik, saya udah bikin semacam itinerary kasar (kali ini di otak aja tapi :p) kira-kira apa atau siapa aja yang mau saya lakukan/temui selama di Indonesia. Kali ini karna berangkat sendiri jadi lebih santai dan ga banyak rencana. Cuma karna ada beberapa prioritas dan yang akan saya temui ini agak sibuk jadwalnya jadilah kami harus bikin rencana sebelum saya tiba. Minggu pertama praktis hanya kumpul di Bogor bareng sahabat saya sewaktu kuliah dan persiapan acara syukuran/pengajian 4 bulanan kehamilan saya di rumah (pas acara sebenernya udah lewat 4 bulan si hehe). Tanggal yang kami pilih untuk syukuran/pengajian bersamaan dengan 2 tahun meninggalnya almarhum bapak, jadi pas saat acara juga sekaligus mendoakan almarhum bapak. Rencana awal cuma pengen ngundang tetangga sekitar aja, tapi akhirnya kita putuskan untuk ngundang keluarga juga (adik-adik mama dan almarhum bapak beserta anak-anaknya).

Untuk selebihnya saya tidak bikin rencana apa-apa lagi. Kalo biasanya setiap liburan bareng suami dan anak-anak kita pergi keluar kota supaya anak-anak ga gitu bosen, kali ini saya cuma stay di rumah aja. Sempet juga pengen ajak mama dan lainnya untuk weekend getaway karna kebetulan persis sebelum jadwal flight pulang mama saya berulang tahun. Tapi akhirnya gagal karna keponakan saya terkena demam berdarah dan harus dirawat 😦

Di minggu pertama saya dan sahabat saya (kami berlima, cuma sayang yang satu (Inge) pindah ke LA dan kita ga bisa dapet tanggal mudik yang sama – pas dia pulang seminggu kemudian saya baru mudik huhu) rencana untuk stay di Bogor. Sahabat-sahabat saya ini sampe ambil cuti dong supaya bisa nemenin saya hari Seninnya. Salah satu sahabat saya, Erina, dari lahir memang tinggal di Bogor, dan sebelum saya dan Inge pindah kami sering menghabiskan waktu bareng-bareng nginep di sana. Tapi sayangnya lagi, salah satu sahabat saya, Lia, mendadak ga bisa ambil cuti hari Seninnya karna ada kerjaan yang ga bisa ditinggal. Akhirnya cuma saya dan sahabat saya satunya lagi, Melissa, yang nginep di tempat Erina. Bicara tentang teman dan sahabat, mungkin di lain waktu saya akan cerita tentang mereka di postingan terpisah hehe.

Back to the story, jadi seperti biasa tujuan utama kalo berkunjung ke Bogor adalah wisata kuliner dong haha (selain tentu nengokin Erina dan keluarga). Enaknya punya sahabat yang orang lokal itu kita jadi bisa tau tempat mana yang rekomen untuk dikunjungi, dan biasanya tempat-tempatnya itu bukan yang orang banyak tau ato terkenal karna omongan mulut ke mulut.

Rumah makan pertama yang kami kunjungi untuk makan siang adalah Restoran Yama Masu di Sentul City (Ruko Plaza Niaga 1). Resto ini menyajikan masakan Jepang yang cukup otentik (ini penting secara Erina agak rewel sama masakan Jepang karna dia setengah jepang hehe). Koki resto ini menurut info dari Erina dulu kerja di restoran Sakura yang ada di lebak bulus (resto Jepang favorit kami sebelumnya, tapi range harganya lumayan tinggi). Buat kami ini recommended deh, rasanya memang enakk dan harganya lumayan ga gila. Malah Erina suka request menu modifikasi alias yang ga ada di menu dan sama mereka dibikinin dong. Kemarin pas kami ke sana saya pesen set menu (teishoku) yang isinya beef teriyaki, rice, miso soup, side dish dan japanese pickles. Selain itu kami juga pesen side dish edamame, salmon salad, dan chuka kurage (jelly fish). Sayang banget ga nyoba sushinya karna yakin ga bakalan kemakan kalo pesen – porsinya gede ternyata! Temen-temen yang lain ada yang pesan ramen (Lia), nasi goreng salmon untuk O (Erina’s son), Chicken Katsu Curry (Erina’s hubby), Chicken katsu teishoku (Melissa’s), dan menu modifikasi untuk Erina (something with sushi rice and a lot of toppings on top).

Selesai makan kami meluncur ke rumah Erina. Well, ga langsung ke sana si tapi mampir dulu beli martabak hehehe. Kalo biasanya kami beli martabak di daerah tajur (martabak air mancur), kali ini kami beli martabak pecenongan. Untuk rasanya juga kali ini beda. Biasanya kami pasti pesen martabak keju-nangka dan coklat nutella, kali ini kami pesen martabak rasa Black Oreo-Cheese, Red Velvet-Cheese, dan mini Nutella. Dan so pasti martabak telornya hahhaha (kalap bener ya:p). Ujung-ujungnya si sebenernya ga dimakan langsung juga. Akhirnya ini martabak(s) kami makan pas sarapan besoknya. Di jalan kami juga sempet beli duku (senengnyaaa karna lagi musim). Sampai di rumah Erina dukunya langsung diserbu donggg, terutama sama anak-anak. Ga nyangka mereka suka duku (dan bisa makannya!).

Untuk makan malam, tadinya kami rencana mau makan di rumah makan jawa timuran (seafood), tapi karna udah kemaleman trus kehabisan jadinya kami putar haluan dan makan di Lemon Grass, resto yang lagi ngehits banget di Bogor. Dimana-mana di social media banyak banget yang posting foto dan rekomen resto ini. Kalo kata Erina, ini resto ga pernah sepi (kalo liat dari parkirannya yang penuh melulu). Mau weekdays ato weekend sama aja, makanya Erina yang orang bogor pun belum pernah kesana.

Kami sampai di Lemon Grass udah jam 9 malem, tempat masih lumayan full, tapi beruntung pas kami sampe ada spot yang muat untuk kami semua (walau di bagian smoking area). Kalo menurut saya, tempat ini memang ditujukan untuk nongkrong, bukan untuk bener-bener makan. Suasananya enak, interiornya keren, tapi kalo untuk makan beneran agak susah. Bangkunya banyakan lebih untuk santai. Untuk makanannya sendiri not that bad kok. Lumayan enak malah, cuma untuk harga yaa harga cafe lah ya, agak lebih tinggi dari rumah makan biasa. But again, all in all its not that bad.

pixlr_20160411230925760

cornucopia of food I had on the first day in Bogor 😀

pixlr_20160411232529107

Us 🙂

Keesokan harinya, tadinya kami rencana mau cari-cari makanan yang seru di pasar pagi Sentul (makanan tradisional kaya nasi kuning ambon, panada, gorengan dan lain-lain), tapi kita bangun kesiangan dong hahaha. Ya udahlah jadinya kita makan apa yang ada di tempat Erina aja, abis itu kita meluncur ke baby shop sebentar, mampir ke roti unyil venus, beli asinan bogor dan menuju rumah makan favorit kami lainnya, Warung Ngariung (ngetik namanya aja udah bikin saya ngeces niih hahhaha). Tiap ke Bogor sebenernya pengennya ke sini, tapi karna lokasi dan rame tiap weekend makanya kami ga bisa juga selalu ke sini. Untungnya pas kami ke sana kan hari Senin, jadi aman hehe. Menu favorit kami di sini Ayam bakar bekakak dan sambal dadaknya. Duh ini dua enaknya bikin stress soalnya jadi maunya nambah nasi terus hahahha. Selain menu ini, gurame goreng terbangnya juga enak, sayur asemnya juga, tempe mendoannya, dan sambal-sambal lainnya (sambal mangga juga rekomen). Pokonya selera saya banget lah. Mulut kampung banget ya hihi. Dan udah segitu banyaknya kami makan, kami cuma perlu bayar ga sampai setengahnya dari billing order kami di Lemon Grass! makanya cinta banget sama rumah makan ini 😀

pixlr

Our meals at Warung Ngariung. Slurp!

Selesai makan siang kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Melissa pake gojek trus naik kereta dari stasiun bogor ke stasiun terdekat dengan Rawamangun, sementara saya pake Uber dari rumah Erina ke rumah mama saya. Berhubung pertama kali pake Uber, saya bisa pake voucher potongan harga dari Erina’s hubby, dan you know what, saya dong ga perlu bayaaar alias di charge nol!. Karna kasian (dan surprised banget wkwk) akhirnya saya kasih tip lebih aja ke pak supirnya.

Di hari minggunya, kami mengadakan syukuran dan pengajian di rumah. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Banyak doa-doa dan wejangan yang diberikan dari keluarga dan tetangga. Yang bikin seru ya tebak-tebakan jenis kelamin dari rasa rujak hehe. Hampir semua yang nebak sesuai dengan hasil USG loh! hebat ya 😀

IMG-20160417-WA0001

Mom and I.

Di minggu kedua saya lumayan banyak ketemu dengan teman-teman. Mulai dari Bas si nederlander temen kuliah di Tilburg yang sekarang kerja di Jakarta, geng di kantor, geng jaman kuliah, geng masa SMA, geng dari SMP, sampe geng komplek hahahha. Seru! Ampun ya, saya gangster banget ternyata :p Alhamdulillah mereka masih perhatian dan nyempetin untuk ketemu di sela-sela kesibukan mereka. Walau cuma sebentar tapi buat saya itu berarti.

Untuk hari-hari selebihnya semasa saya di sana saya habiskan bareng mama dan keponakan. Kakak dan adik saya kan kerja, jadi ga bisa juga diajak kumpul sering-sering. Belum lagi kakak saya yang harus ekstra jaga anaknya yang dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah sebelum saya pulang kondisi keponakan sudah membaik, dan waktu saya tiba di Belanda dia sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Di hari saya harus kembali terbang ke Belanda, mama saya berulang tahun. Karena situasi dan kondisi akhirnya kami tidak ada acara khusus untuk merayakan. Tapi saya dan adik saya bikin surprise dengan memesan cake spesial untuk mama. Ga pake tiup lilin ataupun potong kue, yang paling penting berdoa semoga mama selalu diberikan berkah kebahagiaan, kesehatan, kesabaran dan ketenangan dalam hidupnya. Alhamdulillah saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dan kumpul dengan mama, semoga mama diberikan kesehatan dan Insya Allah mudah-mudahan nanti bisa kunjungan ke Belanda pada saat saya melahirkan nanti. Aamiin.

collageTR.jpg

Geng semasa SMA, sayang ga semuanya bisa kumpul. Btw tau ga nama gengnya apa? TR alias Tim Rumpi dong wkwk. Namanya ini yang kasih bukan kami, tapi temen-temen cowo yang mungkin tiap kumpul bareng suka rumpi yah hihi. 

collageKomplek.jpg

temen-temen masa kecil di komplek. syari’ah semua ya kecuali saya :p semoga segera menyusul, aamiin.

13043403_10153700038449405_1958056048051220126_n

kalo yang ini geng jaman SMP dulu. Nama gengnya lebih parah dong, Zombie kemudian ganti nama jadi Da PinkPeppers hahahhaa (duh) 

collageG13

Geng susah seneng selama kuliah S1 dulu di UI. Dijulukin G13 karna jumlah kita ada 13 orang.

collageOFFICE

Kalo yang ini temen-temen seperjuangan di kantor HKI. 

DSC_2237(1)

Blackforest Cake yang kami beli untuk mama 🙂

collageFAM

Parts of mi familia. Too bad I forgot to take any photo with the whole fam grrr.

Sedikit mengenai perjalanan kembali ke Belanda, menurut saya untuk trip yang ini alhamdulillah lebih lancar dan terasa lebih smooth dibanding waktu berangkat. Selain kayanya karna persiapan saya yang udah lebih mateng (berdasarkan pengalaman sebelumnya), juga karna faktor penerbangan yang cukup tenang alias sedikit turbulensi deh. Saya bisa tidur dengan nyenyak di leg pertama (sebelum terbang saya nenggak paracetamol :D), waktu transit yang lebih masuk akal (ga terasa terburu-buru), dan saya sendiri yang mungkin udah bisa cope up dengan kondisi yang ada. Sesampai di Schiphol trus ngeliat suami dan anak-anak duh senengnyaaa. Anak-anak langsung minta peluk, bapaknya cuma kebagian koper ajah :p

Satu yang bikin saya ngerasa jetlag adalah bahasa, sepanjang jalan menuju tempat parkir (sampe rumah) anak-anak langsung cerita segala macam nyerocos pake bahasa belanda (mereka seneng cerita ke kami, dan memang kami biasakan untuk selalu bercerita). Rasanya aneh setelah dua minggu penuh cuma denger orang lain ngomong dan ngoceh pake bahasa indo doang sis. Untungnya ga lama-lama jadi langsung tune in deh sama apa yang diceritain sama mereka hehe.

Cuma…sepulang dari Indonesia perasaan kok saya makin berat bawa badan dan perutnya semakin keliatan buncitnya. Usut punya usut (tsaah) ternyata selama dua minggu liburan itu saya naik 2 kilo dooong hahaha. Oh ya, juga selama di Indonesia itu beberapa kali kaki saya bengkak hiks. Pola makan yang ga beraturan (yaiyalaaah, banyak makanan enak di sana!), plus cuaca dan banyak jalan kayanya yang jadi penyebabnya. Begitu saya di Belanda, alhamdulillah kaki kembali normal (ga bengkak lagi). Kalo makan si ya otomatis menyesuaikan ya. Tapi perut tetep makin buncit ahahaha. Alhamdulillaah lah ya, mudah-mudahan si dedek bayi sehat terus dan ga nyusahin mamanya 🙂 (aamiin).

Seperti Barbara Bush bilang, cherish your human connections – your relationships with friends and family. Dan satu lagi, enjoy life while you live 🙂 Sekian dulu cerita mudiknya ya kawan-kawan. Lain waktu nanti saya mau cerita tentang kehamilan saya boleh yaa :).

ps. all photos were taken with mobile phones, or received via WA, thus sorry for the lousy result 🙂

Long Haul Flight, Mudik dan Hamil (1).

“Life takes you to unexpected places. Love brings you home.”
~ Melissa McClone.

ps.
Draft ini pertama kali saya buat di sela-sela waktu penerbangan Amsterdam – Doha karna udah matgay alias gatau mo ngapain lagi hehe. Dan saya lanjutin nulisnya (ngetiknya) pas jetlag melanda. Ato pas terserang insomnia dadakan selama di Indonesia. Diselesaikan setelah saya kembali ke rumah di Belanda. Panjang amat sejarahnya ya wkwkwk.

Jadi ceritanya setelah saya dan suami tau kalo saya (alhamdulillah) mengandung, di kepala saya udah kebayang langsung, berarti juli-agustus besok kami ga bakal bisa mudik ke indonesia secara di bulan tersebut saya (Insya Allah) sedang hamil tua. So pasti udah ga bisa terbang jauh dong ya, sementara hati agak sedih kalo taun ini ga pulang ke indonesia.

Selang beberapa waktu (biar ga keliatan banget ngebetnya hahaha) saya konsultasi ke suami, gimana kalo kira-kira kita pulang pas anak-anak libur akhir april – awal mei aja. Memang waktunya ga banyak si, cuma dua minggu, tapi lumayan menurut saya. Selain itu, kalo diitung dari usia kandungan masih memungkinkan juga untuk terbang. Sayangnya ternyata suami ga ikutan libur kaya anak-anak, daaan anak-anak so pasti ga mau ikut kalo cuma sama saya doang ato sama papa aja (penonton kuciwa :((). Mereka prefer tinggal di rumah daripada harus pergi jauh. Saya bilang ke suami kalo saya aja sendiri yang berangkat kira-kira gimana. Alhamdulillah suami ga keberatan, cuma kita harus atur untuk urusan anak-anak terutama dengan oma, karna suami udah pasti ga bisa full taking care mereka terutama selama jam kerja. Saya kan mikirnya kalo libur lebih gampang ya, ternyata oma minta kalo bisa pas anak-anak masih masuk sekolah aja, jadi dia juga cuma perlu jemput mereka dan ga perlu jaga mereka sepanjang waktu.

Akhirnya setelah konsultasi jadwal, ketemu deh tanggal berangkat dan pulang yang kurang lebih pas buat semua. Saya sempet cek beberapa flight yang kira-kira akan paling convenient buat saya. Suami sempet nyaranin ambil direct flight aja biar lebih cepet, tapi saya kok ya jiper juga 13 jam ga keluar dari pesawat. Mungkin juga karna pernah ada pengalaman kurang mengenakkan (udah terbang sampe atas india harus return to base alias balik ke jakarta karna ada salah satu penumpang yang sakit – dan kemudian meninggal hiks). Akhirnya saya putusin buat cari flight yg paling pendek dan masuk akal waktu transitnya. Kalo saya pergi ada temennya si ga masalah deh transit agak lama. Anyway, setelah nyari-nyari di semua website maskapai yang saya inget, akhirnya ketemu formula yang lumayan enak dan waktu transit yg singkat tapi ga grasa grusu: berangkat via Brussels dan pulang via Amsterdam Schiphol. Waktu transit di Doha kalo berangkat dari Brussels setengah jam lebih lama kalo dibandingin berangkat dari Amsterdam Schiphol, sementara jarak dari rumah ke bandara baik ke Schiphol atau Brussels Zaventem ga beda jauh.

Tiket udah di-booking, persiapan penjemputan di Jakarta udah di atur, ndilalah terjadi musibah (suicide) bombing di bandara Zaventem Brussels, beberapa minggu sebelum jadwal terbang yang saya pilih. Awalnya saya tenang-tenang aja, karna saya pikir masih lumayan ada waktu lah untuk mereka buka lagi bandaranya. Hampir setiap hari saya cek via customer service (CS) Qatar Airways kapan kira-kira bandara akan dibuka. Sampai akhirnya saya lihat di airport update status kalo flight saya dibatalkan (dang). Begitu saya telepon ke CS mereka, diinformasikan kalo saya harus ubah jadwal penerbangan. Yang bikin saya agak stress adalah flight dari Amsterdam untuk tanggal yang sama udah fully booked semua. Either saya harus terbang dari Frankfurt atau Paris (dikira jaraknya selemparan batu apa ya, huh!), atau saya pilih terbang di hari lain. dan info ini baru saya dapet 2 hari sebelum berangkat. Kezel! Suami nyaranin kalo saya berangkat sehari kemudian aja, dengan pertimbangan agar saya ga terlalu stress dan keburu-buru untuk packing. Sementara saya lebih prefer sehari lebih awal karna jauh hari sebelumnya saya udah bikin rencana sehari sesudah saya sampai Jakarta. Dilema, tapi akhirnya suami ok buat saya berangkat sehari lebih awal (fiuhh). Jadilah saya berangkat dari Amsterdam sehari lebih awal dari jadwal semula.

Lamanya penerbangan Amsterdam-Doha sekitar 7 jam. Pesawatnya penuhh (saya dapet pesawat jenis Triple 7 alias 777-300ER kalo ga salah), dan selama perjalanan lumayan banyak guncangan alias turbulence (jarang-jarang flight batch ini saya alami banyak turbulence. Biasanya lumayan smooth). Tapi alhamdulillah kehamilan ga mengganggu perjalanan. I tried to take it as easy as I can. Cuma perut sedikit agak tegang aja kalo udah mulai goyang hehe.

O ya, pas berangkat ini umur kehamilan saya adalah 19 minggu (menuju 5 bulan), sebelum keberangkatan saya dan suami kontrol dulu dan dari hasil USG janin alhamdulillah terlihat sehat dan normal. Dari Bidan tempat saya kontrol juga tidak ada masalah dan kehamilan dengan usia kandungan sekian minggu cukup aman untuk melakukan perjalanan jauh. Cuma ya itu, berhubung terbangnya di kelas ekonomi, jadi ya ruang untuk kaki bergerak cukup terbatas. Mungkin lain ceritanya kalo terbang di kelas bisnis. Bisa jadi akan lebih nyaman ya hehe. Anyway, not complaining here!

Sesampai di Doha, saya harus sesegera mungkin pindah pesawat. Waktu transit di Doha cuma sekitar 1 jam, jadi saya harus jalan cepat begitu pintu pesawat dibuka. Di sini kaki saya mulai agak terasa sakit, terutama bagian telapak kaki sebelah kiri. Mungkin karna harus jalan cepet-cepet ya, ditambah posisi duduk saya selama di pesawat, mungkin juga karna terlalu lama ditekuk ya. Begitu saya sampai di gate, boarding sudah berjalan. Untung ga perlu sampe last call baru sampe. Saya bukan tipe orang yang suka dateng di waktu-waktu akhir soalnya, bikin stress!

Di batch kedua (Doha – Jakarta) lama perjalanan adalah sekitar 9 jam. Couple hours longer than the first one. Lebih sedih lagi karna jenis pesawat yang saya dapet adalah Airbus seri A330 kalo ga salah. Space untuk kaki sedikit lebih tight daripada boeing jenis triple 7 (atau boeing Dreamliner ataupun Airbus seri A380) – kaki saya ga bisa dilurusinnn, ditambah di samping saya satu keluarga dengan 3 anak yang salah satunya ga berenti nangis ato ngambek hiks. Beruntung flight kali ini lebih smooth daripada batch sebelumnya. Alhamdulillah saya survived dan selamat sampai Jakarta :p

Sebenernya saya bukan tipe orang yang pengen ngerepotin orang dan suka minta dijemput segala. Dari dulu tiap pulang dari manapun saya biasanya pake damri aja ke tempat terdekat dengan rumah trus naik taksi (ato janjian sama alm. bapak di titik terdekat kita bisa bareng semisal pas hari kerja), ato kalo lagi tajir ya naik taksi dari bandara hahahha. Untuk kali ini, berhubung saya lagi tidak dalam kondisi normal, mintalah saya dijemput sama kakak saya hehe. Saya pun ga berani angkat koper gede dari baggage belt – yang bisa diselesaikan dengan nyewa porter. Buat jemput sebelumnya abang dan kakak saya sudah available jadi saya pikir aman lah ya. Ndilalahnya, berhubung saya sampenya bukan sabtu seperti semula tapi jumat sore (pas jam macret2nya!) si abang saya kejebak macet donggg ga sampe-sampe ke bandara. Saya secara kebetulan landing lebih cepat setengah jam. Begitupun dengan bagasi yang biasanya bisa lebih dari setengah jam nunggu ini paling cuma 5 menit terus nongol tu bagasi. Alhamdulillah kakak saya ternyata udah sampe (bela-belain mau ikut jemput bumil katanya walopun harus naik Damri dari kantornya 😀 lop yu pul sis!). Awalnya kami rencana nunggu si abang sampai, tapi karna liat situasinya yang bikin keki (abang saya itu masih di tol dalam kota dongss zz), akhirnya kami putusin untuk naik taksi aja dari bandara dan biar dia putar balik aja daripada makan waktu lebih lama lagi. Lamanya perjalanan dari bandara ke rumah mama di Pamulang? yukkk 2,5 – 3 jam ajah cin.

Sebelum nyambung ke posting berikutnya, saya mau share beberapa tips buat ibu hamil sebelum memutuskan untuk traveling jarak jauh menggunakan pesawat (long haul flight – penerbangan 6 sampai 12 jam dan ultra long haul flight – penerbangan lebih dari 12 jam):

  • Yang paling utama tentunya pastikan kalo kondisi kita (ibu hamil beserta cabang bayinya) sehat dan tidak ada keluhan khusus. Konsultasikan terlebih dahulu kondisi kesehatan kita dengan dokter atau bidan yang menangani kita selama kehamilan. Jangan lupa minta surat rekomendasi dari dokter atau bidan karena sebagian besar mensyaratkan ini (terutama untuk usia kehamilan tertentu).
  • Cari dan pilih jadwal penerbangan yang paling nyaman (terutama dalam memutuskan apakah akan ambil flight yang direct – dengan konsekuensi kita akan lebih lama berada di dalam pesawat dalam satu kali perjalanan, atau ambil flight dengan transit – dengan resiko seating di flight berikutnya tidak senyaman atau malah lebih nyaman dari flight sebelumnya hehe. Menggunakan direct flight tentu ada untungnya – terutama dari segi durasi secara keseluruhan. Kalo dengan transit durasi perjalanan Amsterdam – Jakarta paling cepat sekitar 15-16 jam, sementara dengan direct flight bisa ditempuh dengan waktu sekitar 13-14 jam. Berdasarkan pengalaman saya, sebaiknya pilih flight dengan transit, jadi kita ada waktu untuk sedikit meluruskan kaki dan bergerak lebih leluasa sebelum kembali ke dalam pesawat. Seandainya memilih jadwal dengan transit usahakan pilih jadwal yang punya waktu transit yang cukup – tidak terlalu lama tapi juga tidak terlalu cepat (sekitar 1,5 jam – 3 jam adalah yang paling ideal). Waktu transit yang mepet akan bikin kita sedikit stress karena takut ketinggalan pesawat berikutnya. Lebih nyaman lagi kalo kita bisa duduk di kelas yang lebih tinggi dari ekonomi si, tapi ya kita harus keluar uang ekstra yang kadang bisa lebih dari dua kali lipat dari harga tiket ekonomi (emak-emak pelit hahak!).
  • Usahakan agar barang bawaan kita (koper dan pernak-perniknya) bisa seefisien mungkin. Ga usah mikirin oleh-oleh buat yang akan dikunjungi, toh mereka juga (Insya Allah) pasti akan ngerti dan ga akan mau ngerepotin ibu hamil ya hehe. Secara umum, bawaan bisa berupa 1 koper ukuran besar (untuk dimasukkan ke bagasi), 1 koper kecil (ukuran kabin, untuk dibawa ke dalam pesawat), dan 1 tas serba guna (lebih baik menggunakan ransel dengan ukuran kecil-medium untuk memudahkan membawanya). Jangan lupa minta bantuan seseorang (bisa petugas atau suami/partner kita) untuk mengangkat koper besar ke timbangan di check-in/desk counter ya. Kalo ada servis porter bisa juga dimanfaatkan (seperti di bandara Soekarno Hatta Cengkareng).
  • Pakai pakaian dan sepatu senyaman mungkin (tapi bukan piyama ya hehe). Untuk sepatu, saya ga punya saran salah satu jenis sepatu tok, karna balik lagi semua tergantung kenyamanan masing-masing orang ya. Yang pasti jangan pake high heels (matik ajalah kalo mau terbang pake high heels cin :p). Sebelum saya hamil, hampir di setiap penerbangan saya selalu pake loafer karna gampang untuk slip on dan slip off. Biasanya selama di pesawat sepatu akan saya lepas dan saya gunakan kaos kaki yang agak tebal. Untuk penerbangan kemarin saya pake sepatu sport/sneakers karna saya pikir mungkin akan lebih nyaman digunakan untuk jalan. Untuk pakaian, kalo ga mau ribet ga usah pake jaket yang super tebel atau yang riweuh banyak pernak-perniknya. Juga untuk celana, saya ga anjurkan buat pake jeans (lebih baik gunakan legging) dan disarankan untuk pake baju yang agak longgar – terutama di bagian perut. Kalo takut dingin selama di pesawat, lebih baik pake baju berlapis atau minta selimut ekstra ke pramugari aja.
  • Kalo maskapainya punya fasilitas online check-in, jangan lupa untuk dipergunakan. Selain menghemat waktu antri di bandara, kita juga bisa memilih seating position yang kita inginkan (terutama kalo kita melakukan online check-in cukup awal). Biasanya maskapai sudah membuka online check-in 48 atau 24 jam sebelum waktu terbang. Jangan lupa pilih seat di lorong/aisle, supaya ruang gerak kita lebih gampang.
  • Selama di pesawat, jangan lupa banyak minum air putih dan banyak jalan/bergerak. Ga usah nunggu haus, kalo liat mbak/mas flight attendant-nya bawa minuman comot aja langsung hehe. Usahakan juga makan ya (ga perlu dihabiskan seluruhnya) walaupun mungkin menunya tidak sesuai selera kita. Untuk jaga-jaga bisa juga kita bawa sedikit cemilan ekstra di tas kita. Untuk berdiri dan meluruskan kaki pun ga perlu nunggu sampai kita mau pipis aja hihi, kalo badan udah terasa pegal sebaiknya segera berdiri atau mondar-mandir aja di lorong. Kalo saya kemarin suka jalan ke pantry, minta minum trus berdiri deh di situ. Paling susah memang kalo kondisi cuaca ga kondusif dan kita diharuskan duduk di tempat aja. Turbulensi juga bikin badan kita jadi lebih tegang dan stress.
  • Kalo ada keluarga, kerabat atau teman yang bisa dimintakan bantuan, jangan sungkan untuk minta tolong jemput di Bandara ya. Mungkin kadang sungkan tapi dengan kondisi kita yang agak khusus boleh lah sesekali ngerepotin orang hehe.

Untuk sementara kurang lebih segitu dulu tipsnya ya. Nanti di batch kedua saya mau sharing cerita mudik seru-serunya dan juga tips lain terkait mudik yah 😉

Welcome to Jakarta ya Nak! =)

share

pardon moi for the blurred image (taken by my lil sis at Taman Kota BSD)

The Happiest Countries in the World

30202269-01

 

Mumpung bulan Maret belum berakhir, saya mau share postingan saya yang ini. Pada tanggal 16 Maret kemarin di Roma, beberapa hari menjelang perayaan United Nations (UN) World Happiness Day yang jatuh pada tanggal 20 Maret, UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) kembali meluncurkan The World Happiness Report untuk tahun 2016. Report-nya sendiri berisi peringkat negara-negara di dunia berdasarkan tingkat kebahagiaan di negara tersebut. Juga didalamnya terdapat beberapa tulisan dari para pakar, data dan analisa terkait dengan happiness.

Laporan ini bukan yang pertama kali dibuat. Di tahun-tahun sebelumnya The World Happiness Report juga pernah di-publish (tiga kali, tahun ini adalah yang keempat). Peringkat kebahagiaan negara-negara ini didasarkan pada survey yang diselenggarakan di 157 negara selama 3 tahun (2013-2015) dengan enam variabel utama: Pendapatan perkapita dari negara tersebut (GDP), healthy life expectancy, dukungan sosial (terutama terkait dengan adanya seseorang yang bisa diandalkan), kebebasan untuk memilih dalam hidup, tingkat kepercayaan (corruption free di pemerintahan dan dunia bisnis), dan tingkat kedermawanan (generousity). Dalam laporan tahun ini para researchers juga melihat dari sisi lain dalam menentukan tingkatan kebahagiaan ini. Mereka tidak hanya melihat dari bagaimana orang-orang tersebut bahagia, tapi juga bagaimana kebahagiaan tersebut terdistribusi secara merata (atau tidak) di seluruh individu (di negara tersebut). Dengan kata lain, mereka juga melihat bagaimana ketidakmerataan (kebahagiaan) mempengaruhi tingkat kesejahteraan di tingkat nasional.

Para peneliti menyimpulkan bahwa negara-negara yang tingkat kebahagiaannya berada di peringkat atas memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih merata hampir di seluruh penduduknya. Mereka juga menyimpulkan bahwa seseorang lebih bahagia apabila berada di dalam masyarakat yang memiliki tingkat kebahagiaan lebih merata.

Survey kebahagiaan ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem Cantril Ladder.

“Please imagine a ladder, with steps numbered from 0 at the bottom to 10 at the top. The top of the ladder represents the best possible life for you and the bottom of the ladder represents the worst possible life for you. On which step of the ladder would you say you personally feel you stand at this time?”
*the Cantril ladder question, text derived from World Happiness Report 2016 – Volume I.

Dibilang penting banget juga ngga si, tapi sebenernya report ini lumayan berguna buat pemerintah, organisasi, komunitas atau pihak lain untuk mengambil kebijakan yang bisa meningkatkan kebahagiaan warganya atau kebijakan yang bisa mendukung kehidupan yang lebih baik (ideal banget ya hehe).

Untuk tahun 2016 ini Denmark kembali menempati peringkat teratas dari 157 Negara. Kembali karena di tahun 2013 dan 2014 Denmark juga berada di peringkat pertama dari negara-negara dengan tingkat “kebahagiaan” tertinggi. Di tahun 2015 Swiss adalah negara yang berada di peringkat teratas, sementara Denmark menduduki peringkat ke-3.

Bagaimana dengan Belanda? Cukup lumayan lah hehe, masih masuk sepuluh besar (peringkat ke-7), sementara Amerika Serikat (AS) berada di peringkat ke-13, Inggris di peringkat ke-23 dan Perancis di peringkat ke-32.

Ada satu komen yang cukup menarik yang saya baca di salah satu artikel terkait dengan peringkat kebahagiaan ini di Reuters. Profesor Jeffrey Sachs (Head of SDSN dan penasehat khusus Sekjen PBB) yang merupakan warga AS menyebutkan bahwa walaupun tingkat kekayaan AS jauh meningkat selama 50 tahun terakhir, namun hal ini tidak membuat (masyarakatnya) menjadi lebih bahagia. Beliau berpendapat bahwa masyarakat yang hanya mengejar uang (seperti yang terjadi di AS) telah melakukan suatu kesalahan. tingkat sosial dan kepercayaan termasuk dengan pemerintah menjadi semakin berkurang.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-79. It’s not that bad lah ya kalo dilihat dari 156 negara (we are quite in the middle). Tapi kalo saya lihat peringkat Singapura yang berada di peringkat 22, Thailand di peringkat 33, dan Malaysia di peringkat 47, saya jadi agak syedih karna kita lumayan jauh dari mereka. Untungnya tingkat kebahagiaan kita masih diatas Filipina, Laos, Vietnam, Myanmar, bahkan Portugal. Yang lumayan nolong peringkat Indonesia dari enam variabel yang disurvey adalah tingkat kedermawanan kita yang cukup besar.

Sementara, tiga negara dengan peringkat kebahagiaan paling buruk adalah Togo, Suriah dan Burundi. Burundi yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia (dengan tingkat GDP yang rendah), dengan tingkat korupsi yang tinggi, kurangnya akses pendidikan dan kesehatan (banyak warganya yang terjangkit AIDS dan HIV), serta akibat dari perang saudara (civil wars) yang terus berkecamuk di negara ini unfortunately menjadikan negara ini (dengan warga) yang paling kurang bahagia di dunia. Mungkin dulu Suriah termasuk salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan yang cukup tinggi, tapi sekarang karena kondisi di dalam negara nya yang saat ini lagi sangat ga kondusif para masyarakatnya menjadi less happy 😦

Untuk list lengkapnya bisa dilihat berikut.

ranking of happines1-1ranking of happines2-1ranking of happines3-1

Trus sebenarnya apa yang bikin Denmark the happiest country in the world? Boleh kan yaa kita mimpi, kali aja bisa belajar dari Denmark dan ke depannya Indonesia akan lebih banyak diisi oleh orang-orang bahagia dibanding sekarang dan bisa menduduki at least 10 besar di list negara paling bahagia 🙂

Mengutip dari website resminya Visit Denmark, ada beberapa hal yang (mungkin) menjadikan Denmark sebagai negara paling bahagia di dunia.

Danish work-life balance
Di Denmark jam kerja normal per minggu adalah 37 jam dan para pekerja di Denmark mendapatkan (setidaknya) 5 minggu waktu libur setiap tahunnya (coba bandingin dengan jatah cuti normal (PNS) di Indonesia yang cuma 12 hari per tahun! dohhh).

Dengan banyaknya “waktu bebas” yang dimiliki para penduduknya, makin gampang juga buat mereka untuk lebih menikmati hidup. Bahkan dibilang kalo leisure time merupakan bagian penting dari kebudayaan para penduduk Denmark. Pulang kerja tepat waktu, bersepeda atau menggunakan transportasi umum, jemput anak dan makan bareng keluarga adalah bentuk kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga di Denmark.

Leisure time and the Danish art of ‘hygge’
Masyarakat Denmark senang menghabiskan waktunya bersama-sama dengan keluarga dan teman-teman. Istilah “hygge” berarti nyaman, atau cozy, menggambarkan kalo orang Denmark senang berkumpul dalam lingkup yang nyaman dan intim, alias ga formal. “Hygge” di musim semi dan musim panas (atau musim lain selama matahari bersinar) biasanya lebih kepada kumpul-kumpul di taman, pantai, atau cafe-cafe. Intinya kumpul-kumpul santai lah ya hehe. Bandingin sama masyarakat Indonesia sekarang-sekarang ini yang (walau ga semuanya, tapi menurut saya sebagian besar) kalo mau kumpul harus hits lah dandanannya, pokonya ga mau kalah sama temen lainnya.

Ekspektasi yang “tidak berlebihan”
Nah poin yang ini menurut saya cukup menarik. Penulis di situs menyamakan kehidupan masyarakat Denmark dengan kehidupan para Hobbit di Lord of the Ring hehe. Mereka tidak terlalu ambisius dan tidak suka menyombongkan diri. Bisa jadi hal ini dilatarbelakangi dari the Janteloven (Jante-law) yang pada intinya menyebutkan kalo kamu tidaklah lebih baik dari yang lain (you’re no better than anybody else). Ga ada seorangpun yang akan men-judge kita atas pilihan hidup, karir atau kurangnya ambisi kita buat itu. Kalo kita bahagia dengan apa yang kita lakukan, maka nikmatilah. Kira-kira begitulah intinya 🙂

Dengan ekspektasi yang tidak terlalu besar, tentu lebih gampang buat para warga Denmark untuk mencapai kebahagiaan. “Simplicity” dan “small” merupakan kata kunci mereka. Mereka benar-benar menikmati hal-hal sederhana dan juga hidup yang simpel (bisa kita lihat dari desain khas Denmark dan dekorasi rumahnya yang simpel).

Sistem Kesejahteraan di Denmark
Denmark dianggap sebagai salah satu negara yang paling egaliter di dunia, dimana baik pria maupun wanita di sana (kebanyakan) sama-sama memiliki karir. Pajak di Denmark termasuk tinggi, tapi masyarakat memperoleh fasilitas kesehatan gratis dari pemerintah (akses bebas ke rumah sakit dan juga biaya operasi). Sekolah-sekolah dan universitas juga gratis, bahkan para mahasiswa juga mendapatkan “uang saku” bulanan. Banyak skema yang membantu para pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan para penggangguran juga diberikan insentif (atau bantuan lain). Pengeluaran pemerintah Denmark yang ditujukan untuk anak-anak dan para manula juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jadi bisa dikatakan kalo sistem kesejahteraan di Denmark memberikan rasa aman bagi masyarakat(nya) sehingga mereka lebih tenang dan percaya bahwa walaupun mereka sakit atau ga punya pekerjaan pun, sistem yang ada akan mendukung mereka.

(Tingkat) Kepercayaan dan Keamanan
Kepercayaan juga merupakan salah satu faktor dari deskripsi orang Denmark atas kebahagiaan. Kepercayaan pada pemerintah, tempat kerja, TK dan sekolah yang (akan) “mengurus” anak-anak mereka, percaya kalo mereka aman dengan tingkat kriminal dan korupsi yang rendah, kepolisian yang dapat diandalkan dan juga lingkungan yang ramah. Para orang tua (khususnya ibu) bisa meninggalkan bayinya di stroller di luar cafe tanpa rasa khawatir, dan orang mungkin saja meninggalkan rumahnya tidak terkunci.

 

Beberapa poin di atas in a way juga saya rasakan di Belanda. Hanya saja dari sisi tingkatannya memang sedikit di bawah Denmark. Jadi wajar kalo Belanda tidak berada di peringkat teratas walau masih masuk di sepuluh besar.

Di Belanda banyak orang-orang yang lebih memilih bersepeda, berkendara umum atau jalan kaki daripada naik mobil sendiri. Setau saya, para istri yang tidak bekerja juga berhak atas tunjangan tiap bulannya (besarannya  kalo ga salah sekitar 250 Euro). Anak-anak juga memperoleh tunjangan yang diberikan kepada orang tuanya sampai umur tertentu (dalam setahun dibagi menjadi beberapa termin), biaya pokok sekolah juga gratis (atau student loan ya? ada yang bisa share info tentang ini?) sampai tingkat universitas (dalam prakteknya orang tua masih perlu membayar beberapa keperluan untuk anak lainnya, walau tidak banyak).

Dari tingkat keamanan, Belanda masih termasuk negara dengan tingkat keamanan yang lumayan. Mungkin sedikit lebih tinggi di kota besar seperti Amsterdam, tapi kita bisa lihat dari banyaknya penjara yang kekurangan penghuni sampai harus ditutup atau menyewakannya untuk menampung narapidana dari negara lain 😀

Agak sedikit dibawah dari sistem di Denmark, dengan sistem wajib asuransi bagi para warganya, tergantung dari skema asuransi yang dipilih, masyarakat Belanda bisa mengakses rumah sakit secara gratis (well, ga gratis juga karna kita tetep harus bayar premi ya hehe). Terkait dengan asuransi – khususnya untuk kesehatan, kita bisa memilih sampai sejauh mana coverage yang kita inginkan. Di lain waktu Insyaa Allah saya akan coba sharing khususnya untuk sistem asuransi dan kesehatan di Belanda ya 🙂

Oh ya, saya juga nemu di situsnya Elle.uk yang membahas secara ringan kenapa Denmark adalah negara paling bahagia di dunia. Beberapa memang serius, tapi ada juga yang seru-seruan kaya orang-orang Denmark itu cakep-cakep, mereka sangat well-dressed, di sana ada yang namanya “open sandwich” – what they call as Smørrebrød, atau desain interior mereka keren-keren.

 

Terkait dengan International day of Happiness tahun ini, saya nemu satu poster yang menarik. Kayanya poster ini terinspirasi dari banyaknya makanan yang terbuang sia-sia, sementara di sisi lain masih banyak yang kelaparan. Anyway, saya akhiri postingan kali ini dengan poster tersebut ya, and may you have a happy day (everyday) kawan 🙂

cdtdalbvaaayiia

Kebijakan Plastik Berbayar

Akhir-akhir ini saya liat di beberapa media (termasuk media sosial) di Indonesia lumayan banyak orang yang memperdebatkan kebijakan plastik berbayar yang baru aja diterapkan sebulan terakhir ini. Berhubung saya background-nya hukum, jadi yang pertama saya coba browse ya apa dasar pemberlakuan aturan ini hehe. Saya nemu kalo yang menjadi dasar kebijakan ini adalah Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Nomor: SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang Langkah Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern dan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Dalam Surat Edaran yang saya sebutkan pertama, sebagaimana saya kutip dari situs hukum online, dijelaskan bahwa salah satu arah kebijakan Pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong plastik, adalah penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Kebijakan kantong plastik berbayar merupakan salah satu strategi guna menekan laju timbunan sampah kantong plastik yang selama ini menjadi bahan pencemar bagi lingkungan hidup.

Pemberlakuan aturan ini secara serentak dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia per Februari kemarin (cukup banyak deh kalo ga salah, lebih dari 20-an kota). Masing-masing kota (melalui surat edaran Gubernur atau Walikota masing-masing) boleh menentukan besaran harga untuk per-plastiknya. Misalnya di DKI Jakarta, Gubernur Ahok menetapkan harga sebesar 200 Rupiah per kantong plastik. Sementara di Maluku, untuk satu kantong plastik dikenakan harga 5000 Rupiah.  Kalo dari yang Surat Edarannya sendiri, disebutkan untuk satu kantong plastik pembeli/konsumen harus membayar minimal sebesar 200 rupiah. Untuk besaran biaya plastik ini ke depannya akan ditinjau ulang (pertiga bulan) oleh Kementerian dan ada kemungkinan ada perubahan.

Tanggapan masyarakat untuk kebijakan baru ini lumayan beragam. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Saya kurang tau, apakah kebijakan plastik berbayar ini hanya berlaku di supermarket-supermarket saja atau juga di department store, pasar tradisional atau toko retail lainnya (ada yang bisa berbagi info mungkin?). Kalo dilihat dari kutipan hukum online, sasaran utama aturan ini adalah pasar modern. Tapi tetep ya, saya kurang tau juga sejauh mana penerapannya.

Mereka yang pro sebagian besar beralasan kalo plastik itu sangat tidak ramah lingkungan, dan susah untuk didaur ulang (butuh waktu lama), jadi alangkah baiknya kalo penggunaan plastik ini dikurangi atau bahkan dihilangkan. Sementara mereka yang kontra lebih memasalahkan kalo penyediaan wadah untuk barang belanjaan yang mereka beli adalah kewajiban dari penjual, dan mereka mempertanyakan penggunaan/pengalokasian duit 200 rupiah hasil penjualan plastik tersebut (kalo diperhitungkan total hasil penjualan plastik dari ratusan juta penduduk Indonesia yang bisa lumayan besar jumlahnya).

Di Belanda sendiri per Januari 2016 kebijakan plastik berbayar untuk toko-toko retail juga secara efektif mulai berlaku. Dari jaman saya kuliah dulu (tahun 2008-2009) kalo saya belanja di supermarket memang tidak pernah disediakan plastik gratis (kecuali kalo kita belanja di toko asia atau toko turki). Supermarket-supermarket tersebut menyediakan kardus-kardus bekas packaging produk untuk dipergunakan para pembeli/consumer mereka untuk membawa barang belanjaan. Atau kalo mau bisa juga beli tas plastik seharga 25 sen (dan sedikit lebih mahal lagi kalo mau yang lebih besar dan lebih tahan lama). Kebanyakan para pembeli membawa tas atau wadah sendiri dari rumah (kalo dulu berhubung flat saya deket banget sama supermarket, saya suka pake kardus atau ditenteng gitu aja hehe. Kalo sekarang berhubung kalo belanja agak banyak, kami pakai crate sebagai wadah belanjaan).

Trus apa yang berbeda dengan sekarang? Seperti yang saya bilang, di toko-toko retail lainnya (selain supermarket yang “in a way” memang sudah memberlakukan kebijakan ini). Misalnya di toko-toko baju yang menggunakan plastik sebagai wadah belanjaannya seperti H&M, Forever 21, atau C&A; toko retail seperti Kruidvat, Hema, atau Department Store seperti Bijenkorf, atau V&D (yang udah bangkrut :p). Nah sekarang kalo kita belanja di Toko Asia ataupun Toko Turki kita juga harus bayar untuk plastiknya. Kalo kita belanja di toko retail yang menggunakan paper bag seperti Zara atau primark kita ga dikenakan charge kok. Oh iya, untuk per plastic bag biasanya kita akan dikenakan charge 5 sampai 10 sen tergantung besarnya (sekitar 750 sampai 1500 rupiah).

Kebijakan plastik berbayar ini ternyata juga baru mulai diberlakukan di Inggris per 5 Oktober tahun lalu. Inggris adalah yang paling terakhir memberlakukan kebijakan ini di antara negara-negara Inggris Raya lainnya (Wales di tahun 2011, Skotlandia dan Irlandia Utara di tahun 2014). Untuk per kantong plastik, para consumer harus membayar 5 pence atau sekitar 1000 rupiah kalo mau menggunakan plastik sekali pakai ini. Kebijakan ini juga hanya diterapkan bagi para retailer yang memiliki jumlah pekerja full time sebanyak 250 orang atau lebih, yang ditentukan dari besarnya perusahaan tersebut (bukan dari cabangnya saja). Untuk usaha-usaha yang lebih kecil juga boleh men-charge kalo mau, atau juga memilih skema lainnya yang lebih praktis.

Saya juga baca di satu artikel di BBC UK mengenai alokasi uang dari hasil penjualan plastik tersebut. Jadi disebutkan kalo uang hasil penjualan plastik tentunya akan masuk ke kantong supermarket atau toko retail bersangkutan. Uang tersebut bukanlah pajak, jadi tidak akan diserahkan ke pemerintah. Para retailer boleh memilih apa yang akan dilakukan dengan perolehan uang tersebut, tapi diharapkan hasil penjualan plastik tersebut akan didonasikan untuk sesuatu yang baik. Para retailer ini harus melaporkan apa saja yang telah mereka lakukan dengan uang tersebut kepada pemerintah, dan nantinya pemerintah akan mempublikasikan informasi tersebut setiap tahunnya.

Selain kebijakan plastik berbayar, ada juga beberapa negara yang secara tegas melarang penggunaan plastik sekali pakai ini loh. Yang pertama kali menerapkan larangan ini adalah Bangladesh (di tahun 2002) setelah sampah plastik ini menghambat drainage system selama musim banjir di negara ini. Beberapa negara lain yang juga memberlakukan larangan ini adalah Afrika Selatan, Rwanda, Kenya, China, dan Italia. Sementara di Chicago, per Agustus 2015 larangan penggunaan plastik sekali pakai (yang tipis) mulai diberlakukan.

Sebenarnya, kenapa penggunaan kantong plastik sebagai wadah lebih populer dan banyak digunakan oleh para retailer bila dibandingkan penggunaan kantong kertas bisa kita lihat dari contoh perbandingan di bawah ini.

Bisa kita lihat dari segi cost-efficient (yang pastinya penting buat retailer) penggunaan plastik jauh lebih murah kalo dibandingkan dengan penggunaan paper bag. Bahkan untuk para consumer kantong plastik dianggap lebih durable bila dibandingkan dengan paper bag. Tapi begitu kita lihat dari sisi recyclable atau tidaknya, jelas-jelas plastik bukan sesuatu yang recycled-friendly bila dibandingkan dengan si kantong kertas.

Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk orang yang pro ataupun kontra dengan kebijakan ini. Istilahnya, kalo ada aturannya, ya kita ikuti, kalo ga setuju ya ga usah ngotot nolak juga, toh masih banyak solusi lain yang bisa kita jalanin. Intinya, penggunaan kantong plastik bukan satu-satunya solusi lah. Selain penggunaan paper bag, kita juga bisa menggunakan tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali, atau crate seperti yang kami pakai kalo perlu belanja banyak. Makanya di sini hampir semua orang yang pergi ke supermarket bawa kantong sendiri (atau tas, termasuk yang bersepeda dengan tas sepeda atau keranjang di depan sepedanya).

Tapi to be honest, saya termasuk orang yang pro paper bag. Memang dari segi daya tahan “agak” kalah sama plastik – walo saya juga beberapa kali ngalamin kantong plastik robekkk alias ga tahan juga menampung belanjaan -, tapi menurut saya kantong kertas terkesan lebih gimanaaa gitu, apalagi kalo desainnya lucu – ato dari toko retail yang bagus punya hehe (tapi kalo untuk wadah gorengan tetep aja dua-duanya ga oke ya hihi).

Jeleknya dengan Indonesia, kalo menurut saya pemerintah kita senengnya mengatur sesuatu setengah-setengah alias ga tuntas dan jelas. Mungkin itu sebabnya masyarakat ada yang kontra dengan kebijakan ini. Mereka yang kontra ini merasa kalo pemerintah malah membebankan sesuatu yang seharusnya bukan menjadi beban konsumen (walaupun 200 Rupiah, ini masalah prinsip bung! hihi). Coba kalo dijelaskan kaya di Inggris, akan dikemanakan si uang tersebut, atau apalah yang bisa lebih menjelaskan kenapa begini kenapa begitu, mungkin akan lebih banyak yang mendukung kebijakan ini.

Penggunaan plastik ini dalam kehidupan memang ga bisa dihindari ya. Paling banter ya mengurangi penggunaannya (makanya namanya “diet” kantong plastik hehehe). Saya sempat baca (dan lihat) kalo sebenernya ada beberapa plastik bisa didaur ulang. Nah, apa ga dimungkinkan ya kalo kita ganti aja semua kantong plastik yang beredar dengan kantong plastik yang bisa didaur ulang? just my pure curiosity 🙂

0223-city-plastic-bags

Now what do you think about this policy, is it a yay or a nay?