Summer Trip ke Cinque Terre.

Salah satu tempat yang menjadi destinasi kami sewaktu liburan musim panas kemarin adalah Cinque Terre yang berlokasi di regio Liguria, Italia. Udah pada tau pasti dong ya kalo Cinque Terre atau secara harfiah berarti “lima desa” adalah deretan lima desa di bagian barat laut Italia yang termasuk dalam daftar warisan dunia-nya UNESCO. Kelima desa ini adalah Monterosso al Mare, Vernazza, Corniglia, Manarola dan Riomaggiore.

Sebenernya agak gambling juga kami mutusin untuk mampir ke sana, karna selain tau bakal banyak naik-turun medannya (gak banget buat anak yang masih pake buggy deh), Italia juga terkenal dengan “hot summer” alias cuaca panas yang menyengat selama musim panas. Banyak orang Eropa yang menghindari untuk berkunjung ke Italia di bulan Juli-Agustus.

Saya kebetulan pernah menulis tentang rencana perjalanan summer kami di sini dan kebetulan banget Deny yang udah pernah ke Cinque Terre baca postingan itu trus kasih info yang berguna banget buat kami mengenai di mana sebaiknya kami menginap kalo kami beneran jadi ke Cinque Terre. Jadi rencana semulanya kan kami akan menginap di Monterosso al Mare – yang merupakan desa “terbesar dan paling feasible dari sisi konturnya (apasih 😂)” dari kelima desa tersebut. Tapi saya sebel. Harga penginapan di sana bukan main tingginya. Bisa jadi karna selain memang hot destination (semua pada mau ke sana kayaknya deh!), waktu kami ke sana masih termasuk high season (apalagi di Italia baru mulai liburan musim panas di bulan Agustus). Beruntung banget Deny kasih saran kalo mendingan kami nginep di salah satu kota terdekat sebelum si Cinque Terre ini, yaitu La Spezia. Kata dia harga penginapannya jauh lebih masuk akal dan akses ke Cinque Terre-nya pun gampang.

Berdasarkan info ini saya pun mulai geser browsing tempat nginep ke sana, dan benar apa yang dikatakan Rudy eh Deny (jayus lagi😂 inget iklan ini gak? iya, saya udah tua -_-). Harga penginapannya jauhh lebih murah siiis! terutama kalo dibandingin sama penginapan-penginapan di lima desa itu ya. Dari sekian banyak yang masuk di list pencarian, akhirnya kami pilih satu apartemen yang kalo di foto keliatan kece banget, dan dari review score-nya nyaris 10.

Kami menuju ke La Spezia menggunakan kereta api cepatnya Italia “freccia bianca” dari stasiun Roma Termini. Kebetulan rutenya direct jadi kami ga perlu ganti-ganti kereta lagi sampe stasiun La Spezia. Jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih 3 jam, dengan pemandangan yang cukup bikin mata cerah (banyak pemandangan pinggir lautnyaaa).

Stasiun La Spezia sendiri termasuk kecil. Begitu sampai di sana, kami harus jalan kaki kurang lebih 500 meter ke tempat kami menginap (bisa juga naik taksi sih, tapi kalo liat petanya kayanya deket banget). Ternyata oh ternyata, lokasi yang keliatannya deket harus kami tempuh dengan naik turun dong hahaha. Dan kami waktu itu bawa bayi beserta buggy-nya, satu koper gede, satu koper kecil plus dua backpack. Emang ya, traveling dengan tiga anak dan traveling tanpa buntut itu jauh beda rasanya. Tapi yang jadi tantangan terberat itu sebenernya adalah cuaca yang masya Allah banget deh menyengatnya. Beruntung anak-anak saya bukan yang tukang ngeluh. Selain gembol si backpack, mereka juga kadang bantu kami narik/dorong si koper atau si bayi. Begitu sampe apartemennya tuh rasanya lega banget hahaha. Selain ada AC-nya (yay!), apartemennya lumayan sesuai dengan ekspektasi kami. Selain itu, si pemilik apartemennya pun ramah dan helpful ke kami.

Kami sampai di La Spezia udah lumayan sore dan kami putuskan buat langsung belanja kebutuhan untuk sarapan. Selesai belanja (dan sedikit liat-liat kotanya), kami kemudian pergi ke restoran yang direkomendasikan oleh si pemilik Apartemen untuk makan malam.

La Spezia sendiri menurut saya lumayan menarik, walau mungkin cukup sebagai tempat persinggahan aja (bukan sebagai destinasi utama). Lokasi kota ini termasuk strategis karna selain punya jalur khusus ke Cinque Terre di stasiun kereta apinya, dari pelabuhannya kita bisa mengunjungi beberapa destinasi wisata yang lebih dikenal orang macam Portofino atau tentu si Cinque Terre.

P1070877.JPG

Restoran yang kami kunjungi ini adalah semacam pizzeria/trattoria gitu. Sewaktu kami makan di sana ga gitu banyak yang makan di tempat, tapi saya lihat banyak yang order take away. Pilihan menunya ga gitu banyak, dengan tentu yang dominan adalah pizza dengan berbagai variasi topping. Pizza yang mereka sajikan ini menurut saya lumayan enak loh. Cuma saya baru paham kalo di sana restoran baru buka jam 19.00 wkwk. Mereka terbiasa makan malam lebih telat daripada orang-orang di Belanda kayanya (ato setidaknya kami haha).

Besok paginya setelah sarapan kami pun langsung pergi menuju stasiun kereta. Ada dua pilihan untuk pergi ke Cinque Terre, yaitu via kereta api atau menggunakan ferry. Menurut kami kereta api adalah cara yang paling praktis (karna memiliki jadwal keberangkatan yang lebih banyak) dan kami juga khawatir kalo anak-anak akan mabuk laut kalo kelamaan berada di kapal ferry. Oleh karna itu kami menggunakan kereta api untuk bolak balik ke La Spezia.

Desa terdekat dari stasiun La Spezia adalah Riomaggiore yang dengan kereta api ditempuh dalam waktu sekitar 9 menit. Untuk tiketnya sendiri kita bisa beli langsung di mesin tiket yang tersedia di stasiun atau beli secara online di situs resmi taman nasional Cinque Terre atau di situs kereta api resmi Italia.

Berdasarkan pada pengalaman kami kemarin, satu saran saya adalah sebaiknya sebelum pergi beli tiket dahulu secara online. Bukannya apa-apa, mesin tiket yang tersedia di stasiun sangat terbatas dan kalo pas rame kita harus antri lumayan lama sebelum dapet tiketnya yang ujung-ujungnya bisa bikin kita jadi ketinggalan kereta (bear in mind, kebanyakan yang ada di situ adalah turis dan mereka bisa jadi ga bisa bahasa Italia dan ga gitu paham sistem yang ada di mesin tiket itu).

Satu lagi, di situs resmi taman nasional Cinque Terre ditawarkan semacam pass/kartu akses yang memperbolehkan si pemegang kartu untuk masuk ke area taman nasional termasuk jalur hiking-nya, dan penggunaan wifi plus shuttle bus yang bisa mengantarkan sampai ke titik tertentu. Selain itu mereka juga menawarkan pass yang juga termasuk full access ke kereta api di jalur Levanto – Cinque Terre – La Spezia ini selama satu sampai tiga hari (tergantung jumlah hari berlaku yang kita pilih).

Kami sendiri sebelumnya mikir kalo akan gampang buat beli tiket di stasiun aja. Pertimbangannya? Karna kami pikir ga akan rame-rame banget mengingat suasana sewaktu kami sampe di stasiun sehari sebelumnya yang cukup sepi. Ternyata perkiraan kami meleset jauh. Sewaktu kami sampe sana ternyata di setiap mesin udah panjang banget antriannya. Antrian yang sama panjangnya juga keliatan di Cinque Terre information office-nya. Ditambah salah satu anak saya yang tiba-tiba mimisan (karna cuaca dan memang dia cukup sering mimisan), kami pun mulai spanning hahahaha. Stress karna selain ga punya tiket, udara panas, anak mimisan pula. Setelah beres sama mimisan, kami pun nyoba beli tiket secara online. Kami pilih yang kombinasi taman nasional plus kereta (Cinque Terre Rail Card) dengan alasan lebih kepada sisi praktisnya. Alhamdulillah setelah gagal beberapa kali akhirnya kami sukses membeli tiket pass ini.

Udah saya bilang kan yaa kalo di stasiun udah numpuk orang yang juga mau pergi ke Cinque Terre. Suasananya ini ngingetin saya sama suasana nunggu kereta api di stasiun Sudirman pas jam pulang kerja sodara-sodara. Ampe segitu padetnya. Sewaktu kereta dateng hampir semua pada berebutan naik. Udah hampir dipastikan kalo kita ga bakalan dapet seat lah pokonya. Berdiri sempurna aja udah alhamdulillah wkwkwk. Mana kami bawa si kecil beserta buggy 😂. Beruntung kami masih lumayan dapet posisi berdiri yang enak dan kereta apinya walaupun dari luar keliatan memble dalemnya pake AC (macem KRL ekonomi AC gitulah).

Kami turun di desa pertama yaitu Riomaggiore. Kalo menurut saya Riomaggiore ini adalah desa yang terindah dari kelima desa. Well, a bit unfair mungkin ya, karna jujur saya ga singgah ke Vernazza dan Corniglia. Kami stay paling lama dan eksplor paling lama di Riomaggiore ini. Dengan kekuatan bulan (bapaknya dorong buntelan buggy plus bayi) kami sukses berkeliling mendaki bukit menuruni lembah sampe hampir sampe ke desa sebelah si Manarola. Berhubung kami takut nyasar (kami ga rencana hiking kali), kami pun lanjut jalan kembali menuju ke stasiun kereta Riomaggiore.

20180804_113313290710370-e1543844116995.jpg

Pertama sampe, saking haus akan kesegaran kami langsung beli strawberry di toko ini 😂

P1070884

Riomaggiore

P1070901.JPG

P1070910

Gereja dilihat dari atas bukit.

Pemandangan si sekitar stasiun kereta dilihat dari kejauhan. Bagus ya!

Kami makan siang di salah satu restoran yang ada di sana. Nama restorannya Il Maggiore dan kalo saya liat review-nya di google termasuk jelek ratingnya. Kalo berdasarkan pengalaman sendiri menurut saya mereka oke-oke aja deh. Kami kebetulan ga pesen pizza-nya (yang rata-rata di-complain di review). Waktu itu suami pesen foccacia dan saya dan anak-anak pesen pasta. Untuk pastanya sendiri dua-duanya lumayan enak, tapi yang jadi highlight buat saya adalah si foccacia-nya. Simpel dan enak!

20180804_132413858931694.jpg

Fettucini mushroom

20180804_1324172108582837.jpg

Foccacia bread with mozarella and pesto sauce. Yum!

Sebelum lanjut jalan, karna saya penasaran sama seafoodnya yang memang jadi ciri khas di wilayah ini akhirnya saya pesen fried squid/calamari campur anchovies juga di tempat makan berikutnya dong hahaha. Dan rasanya memang top deh. Emang ya seafood itu kalo fresh cukup dimasak simpel, pasti enak.

Fried Calamari and Anchovies. Yum!

Kami sempet berpikiran kalo mungkin pas kami kembali ke stasiun di sana ga akan begitu rame seperti sebelumnya. Ternyata perkiraan kami salah. Sesampainya kami di stasiun ternyata kerumunan yang ada keliatan jauh lebih banyak dari sewaktu kami di La Spezia. Bisa jadi karna stasiunnya lebih kecil dan posisi peron yang sebagian ada di terowongan dan cuaca yang makin bikin mateng, jadi orang lebih terkonsentrasi berdiri di tempat tertentu.

Kebetulan kami ikut nunggu di bagian terowongan dan karna ga gitu banyak orang yang nunggu di situ, kami beruntung bisa dapet duduk begitu kereta dateng. Karna melihat kondisi yang gila-gilaan gini jumlah orangnya kami pun mutusin untuk skip turun di desa berikutnya dan lanjut terus sampa ke desa terakhir dari kelima desa yaitu Monterosso al Mare.

Begitu sampe di Monterosso al Mare, kami agak sedikit shock ngeliat jubelan orang di sepanjang pantai hahaha. Emang kan dari segi kontur Monterosso al Mare menang dalam urusan pantai. Bentuk pantainya lebih feasible dan memungkinkan buat orang-orang untuk bisa berjemur atau berenang di sana. Kalo di desa lain walau ada aja yang nekat, kondisi alamnya jauh lebih sulit untuk diakses atau untuk tempat berenang.

Cendol di Monterosso al Mare 😂

Setelah melihat kondisi yang rame banget, ditambah cuaca yang makin nyengat panasnya, kami jadi agak males mo ke sekitar pantai. Akhirnya kami cuma jalan di sepanjang boulevard aja, sambil nyari lokasi dermaga dan tempat beli tiket ferry. Suami bilang supaya anak-anak juga nambah pengalaman kita akan naik ferry untuk hop on hop off dari Monterosso al Mare ke desa lain yang terdekat. Karena anak saya yang paling besar gampang mabuk, jadi kami putusin untuk berhenti di satu desa di tengah-tengah, kemudian lanjut lagi dengan kereta buat kembali ke La Spezia.

monterosso al mare 1.jpg

P1070976.jpg

P1070988

Suami awalnya usul untuk berhenti di Vernazza aja kemudian dari situ kita jalan ke stasiun kereta kemudian pulang ke apartemen. Saya mikir mending sekalian berhenti di Manarola karna dari situ udah ga gitu jauh lagi dari La Spezia dan desa ini konon punya view yang paling indah (banyak foto di internet kalo nyebut Cinque Terre yang keluar ya desa ini – salah satu foto desktop saya juga fotonya desa ini nih hehehe). Suami akhirnya ikut apa yang saya bilang dan kami pun naik ferry sampe ke Manarola.

Nyantai di pinggir dermaga sambil nunggu kapal berangkat.
P1080028.JPG

nemu krat nganggur, dia dorong trus masuk deh ke dalemnya wkwkwk

Bersyukur kami cuma sampe Manarola deh. Anak saya bener aja hampir ga kuat dan mulai agak mabok pas kami mau turun. Goyangannya emang agak lumayan (walau saya pernah naik ferry dengan gelombang jauh lebih parah). Pas kami mau turun dari kapal nih ya, antrian penumpang yang mau naik ke ferry udah mengular dong. Mana jalur keluar dari (mini) dermaganya sempit, sampe-sampe kami beberapa kali harus gantian jalannya. Pokonya karna kondisi begitu kami udah kehilangan semangat menjelajah lah dan akhirnya langsung menuju ke stasiun buat nunggu kereta kembali ke La Spezia.

Ada beberapa highlight yang perlu saya sebut juga dari perjalanan ke Cinque Terre kemarin. Yang pertama saya bersyukur ga jadi ambil penginapan di salah satu desa Cinque Terre. Saya liat banyak turis yang keliatan kepayahan dan ribet harus geret-geret koper sambil jalan menanjak dan menurun karna kontur desa-desa di Cinque Terre yang memang naik turun berbukit. Yang kedua yaitu alhamdulillah banyak keran air atau tap water yang tersebar di beberapa lokasi (hiking trail) di setiap desa yang kami kunjungi. Jadi walaupun panas terik menyengat ga usah khawatir dehidrasi karna kekurangan air deh. Makanya penting banget untuk bawa botol yang bisa diisi ulang. Yang terakhir, saya pikir saya udah nekad maksa pergi ke sana walau gambling dengan kondisi anak-anak dan si kecil yang masih perlu pake buggy. Tapi yaaa ternyata di sana banyak pengunjung yang juga bawa bayi dan toddler dooong. Okelah kalo toddler ya karna kan mereka ga gitu tergantung banget sama stroller, lah ini bayi loh. Bayi yang umurnya belum satu tahun, yang stroller-nya segede-gede apa tau. Ga kebayang deh orang tuanya susah payah harus gotong-gotong stroller, plus kasian banget si bayi yang mungkin kegerahan dan kepanasan karna cuaca yang nyengat. Yah, mungkin mereka memang niatnya mau latihan kekuatan kali ya makanya tetep pergi walo ada bayi 😀

p1080107-02297273757.jpeg

Corniglia taken from the ferry

Vernazza taken from the ferry

Well, overall it was still a nice (although tiring) visit for us. Bersyukur anak-anak ga ngeluh banyak sama keadaan (kebayang kan gimana tantangannya buat mereka). Mereka terlihat tetep menikmati perjalanan walo kondisinya kurang ideal. Tapi, seandainya kami tau kalo kondisinya akan serame kemarin mungkin kami akan skip Cinque Terre dan memilih untuk pergi ke lokasi lain aja. Bukannya ga suka sama Cinque Terre loh ya, cuma kami bukan keluarga yang begitu suka dengan keramaian. Mungkin di waktu yang akan datang kami akan pergi ke sana lagi, tapi yang jelas ga akan pergi di musim panas kaya kemarin lah 😁

Advertisements

Schoen zetten, Sinterklaas, dan Pakjesavond

Hampir tiga tahun lalu saya pernah nulis sedikit cerita tentang Sinterklaas di sini. Kali ini saya mau share tentang apa aja yang anak-anak buat selama periode Sinterklaas kali ini. Jadi walaupun kami gak merayakan beneran, tapi di rumah kami juga tetep heboh dan semangat kalo Desember mulai mendekat. Buat saya (dan suami serta anak-anak), Sinterklaas beserta pernak-perniknya lebih kepada tradisi yang ada di Belanda, bukan dari segi religi.

Mengulang sedikit, kalo dalam ceritanya anak-anak, Sinterklaas beserta para asistennya (Piet Hitam) datang dari Spanyol ke Belanda menggunakan kapal uap. Mereka dateng ke sini untuk bagi-bagi kado buat anak-anak yang selama setahun udah bersikap baik alias gak nakal. Kalo mereka nakal ga akan dapet kado dari Sinterklaas. Sinterklaas beserta rombongannya tiba di Belanda di sekitar awal bulan Nopember. Biasanya akan ada intocht atau pawai Sinterklaas di tiap kota yang menandai kedatangan si Sinterklaas ini. Pas pawai kemarin kami kecepetan ke centrum-nya. Ujung-ujungnya karna kelamaan nunggu trus si kecil udah masuk waktu tidur akhirnya kita pulang ke rumah persis pas pawai baru mulai 😁

Nunggu pawai sambil foto-foto 😂

Begitu Sinterklaas ada di Belanda, dimulai deh tradisi schoen zetten. Anak-anak akan bikin semacam prakarya yang kemudian ditaro di sepatu mereka yang diletakkan di depan pintu (atau di depan perapian kalo di rumah ada) dengan harapan besoknya si prakarya akan berganti (ditukar dengal) hadiah (kecil). Kadang mereka juga memasukkan wortel, gula atau jerami ke dalam sepatu untuk kudanya Sinterklaas – Amerigo.

Di rumah kami kegiatan schoen zetten ini udah berlangsung sejak dua minggu yang lalu. Anak saya yang paling besar awalnya udah males untuk bikin-bikin sesuatu buat schoen zetten, sementara adik-adiknya masih semangat bikin. Rencana mereka semula adalah sehari bikin sehari ngga, tapi karna seneng dapet kado walo cuma yang kecil-kecil aja akhirnya berubah jadi setiap hari. Tinggal mama papanya yang pusing ngumpulin pernik-pernik kado buat ditaro ke dalem sepatu buat dituker sama prakarya mereka hahaha.

Yang paling seru sebenernya adalah anak saya yang paling kecil. Kalo tahun sebelumnya kakaknya yang cewek tiap kali ikut bikin gambar buat ditaro di sepatu si kecil (dan juga jadi bisa buka kado dua kali – punyanya dia dan punya adiknya 😂), kali ini untuk pertama kalinya si kecil bikin prakarya sendiri (yang hampir sebagian besar coret-coretan doang wkwkwk), ikut masukin si prakarya ke sepatu, ikut ambil si kado dari sepatu dan kemudian buka kadonya sendiri.

Di sekolah mereka juga mengangkat tema Sinterklaas untuk aktivitas di sekolah. Misalnya group peuterspeelzal si kecil. Minggu kemarin mereka membuat prakarya wortel dan sepatu, sementara minggu ini mereka sibuk membuat zak Sinterklaas beserta gambar kado yang dipengen (semacam wishlist lah ya).

Kalo kakak-kakaknya si kecil kemarin diminta untuk membuat yang namanya “surprise”. Intinya si anak diminta untuk membuat semacam display/packaging yang extravagant (ukuran jumbo) berdasarkan petunjuk (hint) yang dikasih oleh nantinya yang akan nerima. Mereka diacak dan ga tau siapa bikin buat siapa. Kadonya sendiri si sebenernya cuma kado kecil (tahun ini harga maksimal untuk kado aslinya adalah €3). Jadi seru karna mereka ga tau apa yang akan mereka dapat hehe.

Het worteltje in het schoentje voor Amerigo (wortel di dalam sepatu untuk Amerigo) – prakarya fabian di sekolah

De zak van Sinterklaas – karungnya Sinterklaas (gambar kadonya dipilih sendiri oleh si kecil 😂)

Kalo ini adalah hasil prakarya anqak-anak untuk schoen zetten

Schoen zetten ini akan berakhir pada tanggal 4 Desember malem, karna tanggal 5 Desember ceritanya adalah malam terakhirnya Sinterklaas di Belanda dan pada malam itu Sinterklaas akan bagi-bagi kado untuk anak-anak yang selama setahun udah berperilaku baik. Malam ini disebut juga dengan Pakjesavond ato secara harfiah berarti “malam kado”. Biasanya sebelum pakjesavond anak-anak akan bikin semacam wishlist kira-kira apa aja yang mereka pengen pas pakjesavond nanti. Makanya kado-kado yang mereka dapet biasanya adalah mainan atau barang yang udah lama diidam-idamkan oleh si anak. Trus apakah anak-anak percaya kalo kadonya dapet dari Sinterklaas? Ngga lah ya hehehe. Mereka paham kalo yang beliin kado adalah mama papa sama omanya. Cuma kadang mereka belaga gak tau aja 😁 Kalo si kecil manalah dia ngerti, satu yang dia ngerti adalah dapet kado! Mau isinya satu buah krayon atau mobil-mobilan punyanya dia juga udah hepi hehe.

Btw kalo di rumah kami ga matok harus tanggal 5 Desember malem untuk ngadain pakjesavond. Biasanya kami sesuaikan aja dengan waktunya Oma dan Papa mereka (kalo saya kan hampir dipastikan bakalan ada di rumah 😁). Pernah juga pakjesavond tapi ngelaksanainnya pagi atau siang hehe, pernah juga malam sebelumnya, dan juga pernah karna deket dengan wiken kita ngadainnya pas wiken. Yang utama kalo buat anak-anak (terutama yang paling besar) adalah bisa secepatnya main dengan kadonya. Jadi buat mereka lebih cepat lebih baik hahaha (walo mereka juga ga mau kalo ga deket tanggal pakjesavond). Untuk tahun ini, karna si Oma udah dipantek sama keluarga adiknya suami saya pas tanggal 5 Nopember malam dan anak-anak prefer kalo pas bapaknya juga ada di rumah (tapi mereka juga mau main cepet-cepet sama kadonya 😅), jadi kami atur kalo anak-anak boleh buka satu kado pas rabu tanggal 5 besok, dan sisanya tanggal 6 malam supaya bisa kumpul bareng-bareng.

Jadi begitulah kira-kira cerita saya kali ini, semoga menghibur ya (apasih 😋). Mohon maap kalo tulisannya ga sesuai aturan, saya lagi agak males ngedit (udah syukuur tulisan ini bisa terbit hahaha, secara draft saya udah numpuk akibat ribet sama ngeditnya plus mentok mulu di tengah jalan!)

Hari Pertama si Kecil ke Peuterspeelzal (Playgroup).

My little one’s first masterpiece 😁

Udah dari beberapa bulan yang lalu, tepatnya setelah anak saya yang paling kecil genap berusia 2 tahun, saya mulai sibuk cari-cari tempat untuk dia bersekolah. Walau mungkin di beberapa kota sedikit beda, tapi pada umumnya anak-anak di Belanda sudah boleh mulai sekolah setelah berusia 2 tahun. Mereka bisa ikut gabung di “Peuterspeelzal“. Peuterspeelzal ini bisa disamakan tingkatannya dengan playgroup. Jadi bukan sekolah beneran yang serius banget gitu hehe.

Kebetulan di lingkungan saya ini ada beberapa peuterspeelzal yang bisa saya pilih. Ada dua yang jaraknya kurang lebih 400 meter dari rumah kami, yang satu bergabung dengan Kinderopvang/Child Care (namanya De Carousel) dan salah satunya gabung dengan sekolah anak-anak saya lainnya (nama tempatnya De Vennerakkers). Kalo dari pengalaman temen-temen saya yang anaknya udah lebih dulu sekolah, biasanya kita (orang tua) harus daftar cepet-cepet (minimal setahun sebelumnya) supaya bisa masuk dalam waiting list-nya si sekolah. Bahkan ada orang tua yang udah daftarin anaknya sebelum tu anak lahir loh. Lah saya jadi agak jiper dong karna saya ga ikut-ikut daftarin si kecil dari jauh hari. Saya pikir ya liat aja dulu gimana kira-kira nanti perkembangannya.

Singkat kata saya pikir perlu lah dia ikut sekolah, pertimbangan saya yang utama adalah untuk mengembangkan kemampuan dia dalam bersosialisasi dan berbagi. Perkara dia ga bisa mulai langsung saya pikir pun ga masalah, karna anaknya toh juga baru 2 tahun (walo banyak juga yang nanya di sini kapan Fabian mulai sekolah).

Dari dua tempat yang terdekat dengan rumah, saya putusin untuk nyoba daftar di de Carousel. Pertimbangannya adalah takut yang satunya udah penuh (secara lokasinya gabung dengan sekolah dasar dan kebetulan juga waktu saya nyari info gimana daftar di situ ga nemu-nemu). Setelah sempet ga dapet kabar di satu waktu mereka telepon kami dan kasi info kalo untuk hari yang kami pilih ga bisa dan kalo kami setuju dipindah ke hari lain bisa tapi itupun belum tau kapan mulainya. Intinya kami harus nunggu kabar dari mereka.

Karna ga ada kepastian sayapun langsung coba browsing lagi kali aja ada pilihan tempat lain, dan ndilalah saya ketemu juga si website-nya Peuterspeelzal yang satunya lagi. Saya pun langsung coba daftar aja, mikir ya udah kalo mereka masih ada spot kosong alhamdulillah, kalo harus masuk waiting list pun kami gapapa.

Btw kalo di Belanda untuk biaya Peuterspeelzal ini ada beberapa cara yang intinya tergantung dengan kondisi kita/orang tua si anak. Kalo kedua orang tua si anak bekerja (dan memenuhi syarat-syarat lainnya), untuk iurannya dapet subsidi atau “toeslag” dari Pemerintah pusat Belanda (perhitungan biaya per jam-nya jadi lebih murah). Sementara kalo orang tuanya cuma salah satu yang kerja, maka biayanya ditanggung oleh orang tua. Si orang tua ini bisa juga dapet pengurangan biaya dan sebagian biayanya akan ditanggung oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat Kecamatan (kayanya 😁)). Tapi besaran biaya yang ditanggung ini juga bisa beda-beda per orang tua. Saya juga kurang tau gimana perhitungannya tapi intinya semakin besar pendapatan pertahun si orang tua, makin besar juga biaya yang harus dibayarkan pribadi. Untuk selisihnya Gemeente akan menanggungnya (kayanya dengan sistem reimbursement atau langsung dikurangi per bulan).

Untuk kondisinya kami, karna saya ga kerja otomatis kami ga masuk kualifikasi penerima subsidi/toeslag maka kami pun (mau ga mau) harus pilih biaya tanpa subsidi dari Pemerintah pusat. Untuk dapet bantuan dari Gemeente setempat kami harus menyerahkan pernyataan bahwa kami tidak memenuhi kualifikasi penerima subsidi (karna salah satu atau kedua orang tua ga kerja) dan harus melampirkan laporan pendapatan tahun sebelumnya.

Nah balik lagi ke cerita anak saya. Singkat kata ternyata emang udah jalannya juga kali ya. Dua hari setelah daftar di de Vennerakkers, saya dapet telepon kalo anak saya bisa mulai sekolah per tanggal yang saya isi di registrasi. Jadi persis seminggu setelah daftar (ini cepet banget loh itungannya!) anak saya udah bisa sekolah. Di hari rabu-nya kedua juf/guru yang in charge di kelas yang anak saya nantinya gabung dateng ke rumah kami sekalian untuk kasih beberapa info tentang Peuterspeelzal ini kepada kami, plus beberapa hal yang harus disiapkan untuk fabian di hari pertamanya. Begitu tau kalo udah definitif si bungsu minggu berikutnya mulai sekolah, saya-nya jadi deg-degan dong hahaha. Seneng campur deg-deg nyes lebih tepatnya. Maklum, pengalaman pertama sis hehe.

Sebelum masuk ke hari H-nya, hampir tiap hari saya coba ngobrol ke si kecil kalo dia Senin besok akan mulai sekolah, dan saya jelaskan juga kondisinya nanti kaya gimana, kalo nanti mama akan pergi sebentar, trus nanti dia sama ibu guru dan temen-temen lain, dan nanti mama akan dateng lagi jemput dia. Kalo pas diajak ngobrol anaknya itu kaya mikir beneran, makanya saya jadi rajin ngomongin segala kondisi yang kira-kira akan terjadi di depan, dan supaya dia jadi lebih siap.

Pas hari H kemarin tiba, suami saya juga ikut nemenin berangkat bareng (walau kemudian cuma sebentar di sana kemudian cus buat kerja). Anak saya seneng banget (jarang-jarang kan ya bisa sama Papa pergi ke sekolah). Begitu di ruang kelas, anaknya langsung ngibrit sendiri menuju ke tumpukan mobil-mobilan dong. Gak pake takut ato apalah, langsung main sendiri hahaha. Oke, first impression lulus ya. Impresi berikutnya adalah pas perpisahan dengan mama/papa. Jadi sebelum pisah, ibu guru akan memutar lagu perpisahan dan anak-anak diminta dansa bareng dalam bentuk lingkaran. Kemudian satu-satu mereka diminta untuk say goodbye (kasih peluk atau cium atau wave/melambai) ke mama/papa. Di bagian ini lumayan banyak anak-anak yang ga kuat trus nangis karna harus pisah sama mama/papanya. Trus anak saya? Dengan pede-nya say goodbye trus dadah-dadah aja gitu sama saya, kemudian sibuk sendiri lagi. Karna takut mungkin dia belum sadar kalo saya pergi, jadilah saya coba intip dari jendela. Pas saya intip itu ternyata anak saya aman alias ga keliatan takut atau kawatir ato lagi nangis dong. Duh hati saya lega liatnya, walo tetep kawatir akan dapet telepon dari sekolah karna tau-tau si fabian nangis atau apalah.

Perasaan tuh nunggu sampai waktunya jemput lamaaa banget. Padahal mah cuma tiga jam ajaaah. Di sela-sela waktu itu ternyata gurunya fabian sempet kirim foto ke suami saya. Di foto keliatan kalo dia lagi sibuk konsentrasi sama satu mainan. Dalam hati saya, alhamdulillah anaknya so far masih keliatan anteng. Aman dan kemudian saya berdoa semoga berlanjut sampe waktunya dijemput nanti hehe.

Pas waktu saya jemput, anaknya pun ga nangis dong! Horeee😄 trus dapet kabar dari gurunya kalo fabian untuk hari pertamanya did good! Ga nangis, buah yang dibawa dimakan sampe habis, cuma minumnya ga banyak, dan karna fabian pup di sekolah, ibu guru harus gantiin popoknya (udah diwanti-wanti sama saya tapi apa daya, anaknya belum dapet feel buat potty training-nya kayanya). Not bad for a 2-year-3-month-old-kid eh! Bahkan sepanjang jalan menuju rumah pun dia masih terlihat happy dan seperti biasa, menyebutkan nomor tiap rumah yang kami lewati sepanjang jalan😅

I’m super proud of you boy. Hoping that you have more of happy and joyful days at school to come!

Our little brave one 😊

Screen Time buat Anak.

The fear of ‘screen time’ is so deeply ingrained in our collective imagination that an irrational opposition between outdoor play and media consumption is taken for granted.”*

Mama and the kids during the previous summer holiday☺

Semenjak menikah dan harus ngurus dua orang anak (sekarang tiga), pertanyaan “am I being a good mom” lumayan sering menggelitik di otak saya. Bukannya apa-apa, saya yang sebelumnya ga punya buntut begitu menikah (alhamdulillah) dikasih kepercayaan (oleh Allah) bareng dengan suami membesarkan dua anak yang masih piyik sekaligus. Waktu itu sebelum mantap untuk say yes to get married kadang terlintas dalam pikiran, apa saya mampu, apa mereka akan bahagia dengan kehadiran saya, is everything going to be ok, dan lain lain yang intinya saya meragukan kemampuan saya sendiri. Bersyukur saya dapet full support dari suami (masih calon waktu itu mah) dan keluarga, dan dukungan terpenting datang dari kedua anak yang nantinya akan sekarang manggil saya mama.

Perkara meragukan diri sendiri ini juga muncul kalo saya abis baca postingan atau artikel orang tentang sesuatu yang berhubungan dengan bagaimana membesarkan anak yang baik, masalah orang tua yang terlalu sering sharing tentang anak-anaknya di dunia maya atau apa yang sebaiknya ga dilakukan oleh para orang tua, yah yang macem begitulah. Seperti masalah anak-anak dan akses ke TV dan internet (termasuk penggunaan gadget) yang suka juga disebut “screen time”. Banyak yang saya baca (juga yang cerita) kalo mereka yang punya anak kecil kebanyakan ga ngebolehin anak-anaknya nonton TV dan melarang penggunaan PC, tablet atau smartphone karna khawatir dengan konten yang ada. Sementara saya beserta suami? Di rumah ini saya dan suami termasuk yang lumayan longgar untuk hal ini.

Sejak saya hadir di rumah, selain rutinitas yang sudah berjalan, anak-anak setiap harinya kami biasakan untuk disiplin khususnya dengan waktu (well, dari sebelumnya juga udah si, cuma emang pas saya hadir sayanya yang paling cerewet hehe).

Jadi begini gambaran sehari-hari mereka. Untuk bangun pagi, setiap harinya (kecuali hari libur) anak-anak bangun jam 7 pagi. Setelah sikat gigi dan cuci muka, mereka kemudian sarapan, nyiapin bekal sekolah sendiri, main PC/tablet sambil nunggu waktu berangkat sekolah jam 8.15 (mereka ke sekolah jalan kaki). Sekolah dimulai jam 8.30 pagi dan selesai jam 14.30 siang. Sepulang dari sekolah mereka saya haruskan untuk istirahat sebentar. Jam 15.00 sore mereka baru boleh main dengan komputer atau tablet (karna sebelumnya sempet ribut gara-gara siapa yang boleh pake apa, jadi saya atur aja pemakaian PC dan tablet tiap sehari sekali gantian. Misal hari ini yang satu pake PC, besok dia harus pake tablet, begitu seterusnya). Biasanya kami makan malam sekitar jam 17.30 sore. Kalo udah waktunya makan malam, maka waktu main mereka pun berhenti. Setelah makan malam biasanya kalo cuaca pas bagus (dan langit masih terang) mereka akan keluar main sebentar. Kalo ngga, mereka akan nonton TV (mereka ga mau banget lewatin jeugdjournaal!). Kemudian jam 19.15 mereka naik ke atas untuk siap-siap mandi (kecuali kalo pas besoknya libur, mereka boleh stay sampe jam 19.30). Kalo pas mereka mandi di bathtub, kami batesin maksimal jam 20.15 udah di kamar mama papa. Kalo dulu sebelum tidur papanya suka bacain cerita, sekarang biasanya kalo ga nonton tv ya ngobrol atau main dan becanda sebentar. Kalo besoknya hari sekolah, mereka harus ke kamar masing-masing pas jam 20.30. Sementara kalo pas weekend, mereka boleh stay sampai jam 21.00. Begitu seterusnya rutinitas mereka.

Mengenai aksesibilitas mereka cukup kami bebaskan dan beri kepercayaan. Kebebasan di sini tentu aja bukan asal blas ya, karna sebelum kami memberikan kepercayaan kepada mereka, kami juga kasih tau mengenai segala konsekuensi, mana yang menurut kami baik atau buruk buat mereka, bahaya apa saja yang bisa mereka temuin (khususnya di dunia maya), intinya si sebelum dilempar ke “medan perang” kami cukupi dulu ransumnya mereka hehe.

Aturan mengenai screen time anak-anak ini ga plek saya dan suami doang yang bikin loh ya. Sebelum kami terapkan kami juga ajak anak-anak untuk diskusi bareng dan tanya apakah mereka keberatan atau tidak. Jadi yang kami jalani sekarang juga berdasarkan kesepakatan dengan anak-anak).

Sementara untuk weekend aturan main ini jadi agak sedikit berbeda. Untuk sabtu mereka boleh main sampai jam 12 siang, setelah itu stop dan hari minggu adalah hari gadget free dimana mereka ga boleh main sama sekali baik dengan PC, tablet, ataupun dengan game console. Mereka masih boleh nonton TV si, tapi tetep dengan catatan ga sepanjang hari manteng terus juga.

Despite a gadget freak, luckily both are also a bookworm 🙂

Walopun masih jauh dari ideal, setidaknya saya lihat kalo mereka masih cukup seimbang aktivitas indoor dan outdoor-nya. Kalopun disuruh stop atau dimintakan tolong mereka akan dengerin dan nurut kok (walo mungkin pas disuruh nanya “waroom” alias kenapa trus bisa jadi setelahnya ada yang kecewa trus menitikkan air mata wkwk).

Lalu bagaimana dengan si bungsu?

Untuk si kecil aturan mainnya jelas berbeda. Yah gimana juga usia-nya beda jauh ya. Ada satu momen yang bikin kebiasaan si kecil berubah cukup signifikan untuk hal ini, yaitu pada saat kami berdua mudik lebaran idul fitri Juni yang lalu. Kalo sebelumnya di rumah dia paling cuma sebentar nonton kids programa di TV lokal Belanda (atau via youtube) dengan durasi yang ga gitu lama, begitu di Indonesia dia jadi suka nonton (youtube) lewat handphone zz. Saya ga bisa salahin dia juga si, karna mungkin pada saat itu nonton video atau mendengar sesuatu yang dia kenal bikin stress-nya dia berkurang. Cuma jadinya begitu kembali ke Belanda saya jadi extra effort harus langsung koreksi kebiasaan dia ini. Trus berhasilkah jadi gak sama sekali pegang Hp? Sayangnya ngga sodara-sodara, tapi saya bersyukur karna kontrol masih tetap kami (saya dan suami) yang pegang. Anak ini btw untuk jam tidurnya sama kaka kakak-kakaknya ya, cuma dia ga ikut mandi bareng hehe, sempit kata kakak-kakaknya 😁

Biasanya di malam hari sebelum dia minum susu dan gosok gigi, saya bolehin dia nonton video selama 10-15 menit maksimal. Saya tentuin sampe angka berapa di jam, jadi begitu memang waktunya si kecil ngerti dan langsung matiin layar Hp-nya. Begitu juga dengan nonton TV/video. Tiap mau nonton saya kasih tau sampe kapan, kalo udah waktunya TV harus mati. Kadang dia ga terima si (trus ngambek menjurus tantrum wkwk), tapi dia ngerti aturan yang saya buat dan lama-kelamaan diterima juga dan lebih sering diturutin daripada ngganya hehe.

Terlalu kiyut untuk ga difoto (dasar emak!😂), walo setelahnya saya marahin karna nontonnya ga dalam posisi duduk.

Sepanjang liburan kemarin walo bawa gadget mereka ga bisa tiap hari akses. Begitu dapet akses dan dibolehin sama mama-papa, langsung deh tiga-tiganya sibuk sendiri.

Ada beberapa aturan tentang screen time ini yang juga kami terapkan dalam keluarga kami.

Setiap waktu makan, di meja makan no gadget and TV (walo kadang suka kelupaan matiin TV jadi blas tetep ketonton).

Kalo pergi ke restoran, kami hampir ga pernah kasih/bawa hp atau tablet supaya mereka sibuk. Walo sering dapet muka bosen ato pertanyaan redundan (wanneer gaan we naar huis alias kapan pulang?😂), tapi mereka biasanya suka cari kesibukan sendiri. Kalo dulu buat antisipasi si bungsu tantrum ato gelisah ga betah saya suka bawa puzzle atau buku kecil buat dia main. Ini lumayan ampuh buat dia. Terakhir karna si anak makin “complicated” saya jadinya suka “bribe” dia dengan toetje/dessert kesukaan dia (coklat atau es krim). Bersyukur juga si selama ini pengalaman kami makan di luar bareng anak-anak terbilang aman dari “kejutan yang mencekam” 😆.

Jadi begitulah cara kami mengatur screen time-nya anak-anak. Walau mungkin jauh dari ideal, setidaknya aturan ini berjalan dengan baik di rumah kami. Saya juga ngerti dan paham banget ga akan mungkin mengurangi waktu interaksi mereka dengan gadget dan TV secara drastis, wong bapaknya tiap hari pasti di depan laptop atau Hp-nya juga (saya juga lumayan lengket sama hp sis, walo ga gitu sering nempel sama TV dan laptop hehe). Makanya membekali mereka dengan pengetahuan dan self defense di dunia maya jadi kunci gimana juga mereka nantinya akan bersikap atau menanggapi segala sesuatu yang ada di di dunia Internet.

ps. maaf kalo jadinya kepanjangan ya 😁

*Jordan Shapiro, Research Says Screen Time Can Be Good for your Kids, published on Forbes website, 17 July 2013. Full article can be read via this link.

Buggy Andalan saat Traveling dengan si Kecil

Disclaimer:
Tulisan ini sama sekali bukan endorse-an ya. Ini murni pengalaman saya pribadi dan ga ada embel-embel promosi (tapi kalo yang kebetulan saya sebut berminat mengendorse saya dengan senang hatii menerima loh hahaha). Pengalaman saya dengan yang lain pun belum tentu sama, jadi mon maap kalo ga sesuai sama pengharapan ya sis.

Jadi critanya nih saya mau berbagi pengalaman kepada ibu-ibu (dan bapak-bapak) yang kali aja mau traveling dengan anaknya, trus bingung stroller atau buggy apa yang harus dibawa/disewa. Kebetulan udah beberapa kali saya traveling dengan si kecil sejak dia masih bayi, baik cuma berdua ataupun bareng-bareng dengan suami dan kakak-kakaknya.

Kami sendiri udah dua kali ganti buggy buat si kecil. Yang pertama adalah Quinny Zapp xtra 2, dan yang terakhir adalah Good Baby atau GB Pockit. Dari segi harga, kedua buggy ini ga begitu jauh beda dan ada di kisaran harga yang sama. Saya beli GB Pockit setelah sebelumnya pake yang Quinny untuk anak saya. Si Quinny saya jual dengan alesan kurang compact dan berat sodara-sodara. Dari segi kenyamanan si quinny ini lebih oke sebenernya, cuma waktu itu saya dihadapkan pada pilihan harus nyari buggy yang lebih ringkes dan gampang dilipat-buka tanpa bantuan orang lain (saya harus mudik cuma berdua sama si bayi). Satu syarat lain yang harus terpenuhi adalah bukan stroller umbrella karna saya ga suka kalo pas dilipet masih bulky gitu juga hahaha (dohh rempong amaaat emak ini ya).

Dari beberapa buggy yang udah pernah saya coba dan naksir (sempet mikir mau beli Recaro easylife dan GB Qbit), akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada GB Pockit. Bukan yang plus ya ibu-ibu, tapi yang reguler. Bedanya GB Pockit yang plus dan tidak plus adalah kalo plus bagian sandarannya bisa diluruskan sampai hampir datar (untuk posisi tidur), sementara yang tidak plus sandarannya fixed alias ga bisa di-recline (dan harganya sedikit lebih murah). Dulu nih ya padahal saya ga suka banget sama bentuk si pockit yang menurut saya aneh dan ga kece ini. Ditambah lagi harganya juga lumayan kan. Keliatannya ga sebanding lah sama si buggy yang keliatan rapuh gitu.

Tapi ya ibu-ibu, setelah dua kali saya bawa si buggy pas traveling yang lumayan menantang medannya, saya bisa dibilang puasss sama performa dese haha. Selain beratnya yang cuma sekitar 5 kg (jauhh lebih ringan dibandingkan buggy lain yang tersedia pas saya beli), walaupun keliatan ringkih ternyata si buggy termasuk kuat loh. Trus untuk melipat dan membukanya juga gampang dan cepat. Posisi terlipat juga kecil, yang tentunya jadi bikin lebih gampang buat nyimpennya ya (handy banget pas kita traveling by train). Satu lagi, keranjang di bawah dudukan buggy ini juga lumayan gede dan bisa nampung maksimal 5kg barang si kecil atau barang belanjaan kita.

Cuma emang sayang sun canopy si pockit ini basa-basi banget. Jauh sama yang Quinny punya. Ga kepake lah kalo kita pas di tengah-tengah sinar matahari atau pas lagi hujan. Dari segi diameter ban juga saya kurang suka karna kecil (walau pada prakteknya masih sufficient-lah). Selebihnya beneran rekomen deh, terutama kalo buggy bukan alat utama si kecil dan cuma sebagai “tempat ngaso” ya. O ya, satu alesan kenapa saya lebih milih yang pockit biasa dan bukan yang plus adalah karna menurut saya yang plus bentuknya keliatan berantakan kaya orang make baju yang ga pas gitu wkwkwk. Sebel saya liatnya. Plus anak saya termasuk yang ga rewel kalo kebetulan ketiduran (di buggy), dalam posisi duduk pun gapapa, makanya saya pikir ya udah lah yang biasa aja, toh kita ga mau si kecil kebiasaan tidur di buggy juga hehe. Dan terbukti dari sepanjang perjalanan summer kemarin, mau sepanas apapun, se-uncomfortable dan serempong apa juga si kecil kalo emang udah maunya tidur ya dia mah tidur aja, ga pake cranky ato ngeluh buggy-nya ga enak (daripada gendong sepanjang dese tidur kan ya boook, guna bener lah si buggy ini).

3 Rekomendasi Tempat Makan di Berlin, Jerman

Walaupun saya dan keluarga cuma berkesempatan untuk stay di Berlin selama tiga hari (dua malam) saja, kota ini meninggalkan kesan yang cukup positif dan mendalam buat saya. Bukan cuma fasilitas umumnya (terutama transportasi publik) yang cukup lengkap dan ramah, makanannya juga enak-enak dan variatif.

Sebelum kami memulai summer trip kemarin memang saya sempetin untuk browsing di beberapa kota yang akan kami singgahi, kira-kira restoran atau tempat makan apa saja yang review-nya bagus, harga masuk akal dan menyajikan makanan yang pas dengan selera saya, suami dan anak-anak. Bukannya apa-apa, saya ga pengen terjebak sama menu fast food doang si hahaha. Makanya bela-belain deh hehe.

Dari hasil browsing ini, saya baru tau kalo Berlin itu untuk soal makanan cukup variatif. Maksudnya ga cuma makanan lokal yang banyak bertebaran di mana-mana, tapi juga restoran yang menyajikan masakan internasional seperti Vietnam, Turki, Jepang juga Italia. Ada juga yang menyajikan menu fusion. Konsepnya sendiri kebanyakan casual dan ga perlu reservasi sebelumnya. Well, setidaknya yang kami datengin hehe.

Selama di Berlin kami menginap di Hotel Ibis Style yang berlokasi di Mitte area (recommended btw). Di wilayah ini yang memang adalah pusat kotanya Berlin (mitte kalo saya cek di google translate berarti “pusat”) banyak restoran dan kafe yang highly recommended alias mendapat review yang bagus dan pengen banget saya cobain. Sayang karna keterbatasan waktu (dan gerak karna bawa tiga krucil), akhirnya kami pun cuma sempet ke tiga tempat aja. Makanya dari pengalaman kemarin itu hampir bisa dipastikan kalo kunjungan kemarin adalah bukan untuk yang terakhir kalinya 😁.

Ketiga tempat makan yang mau saya highlight di tulisan ini adalah:

  • Shiso Burger

konsep restoran ini menurut saya lebih kepada fusion burger. Menu andalan mereka – selain berbagai macam burger spesial – adalah sweet potato fries. Waktu itu kami order tiga jenis burger (dua cheeseburger untuk anak-anak, chilli lemon burger buat saya dan bulgogi burger buat suami) beserta si sweet potato chips itu dan home made french fries-nya. O ya kami juga pesan coleslaw sebagai menu pembuka (which was quite refreshing with the extra black sesame seeds on top of it).

Rotinya sendiri menurut saya ok tapi not that special si, walo mereka pake sedikit taburan black sesame di bagian luar atas permukaannya.

Ada yang mau numpang mejeng :))

Coleslaw

Sweet potato fries

Home made fries

Bulgogi burger

Cheese burger

Chilli Lemon burger

Restoran ini berlokasi di Auguststraße 29c, 10119 Berlin Mitte (u-bahn terdekat: U Rosenthalerplatz). Setau saya si ga bisa reservasi ya, tapi buat amannya mungkin bisa ditelpon dulu ke restorannya. Website resmi mereka bisa diklik di sini.

  • Halal Currywürst @ Döner Turm

Buat para muslim yang juga kepingin nyoba salah satu makanan khas orang Jerman ini boleh coba mampir ke sini. Mungkin juga ada tempat lain yang menjual bratwürst yang halal, tapi kebetulan setelah beberapa kali browsing, döner stall ini lah yang nyangkut di search result saya.

Lokasinya sendiri persis di depan salah satu pintu keluar/exit dari u-bahn Turmstraße (yang ke arah Turmstraße, lokasi tepatnya Wilhelmshavener Str. 1, 10551 Berlin).

Yang jual kayanya keturunan Turki (liat dari mukanya dan tentu aja karna jual döner ya, duh). Sewaktu kesana, selain pesan curry wurst kami juga pesan saladnya. Agak sedikit nyesel ga nyobain döner-nya karna keliatan seksi bener sis. O ya, selain itu mereka juga nawarin mie dan nasi ala wok di sana (kebetulan juga lokasi si Döner ini deket dengan toko/supermarket asia). Dengan porsi yang lumayan besar (plus kualitas dan rasa yang enak), harga yang mereka bandrol termasuk murah menurut saya (lebih murah dari di Belanda). Selain itu rasa penasaran saya akan si curry wurst pun jadi terpuaskan (halah😂). Btw si curry sauce-nya sendiri ternyata sama kaya rasa saus curry yang suka dipake buat makan patat alias french fries di sini hehe.

Kios donernya.

Menu offered in 2018

Curry wurst

The taste of this mix salad is much better than it looks btw 🙂

  • Monsieur Vuong

Tempat makan terakhir di Berlin yang sempat kami kunjungi adalah restoran yang menyajikan masakan Vietnam bernama “Monsieur Vuong” yang literally berarti Tuan Vuong. Jadi si mister Vuong ini adalah kokinya, beliau masih lumayan muda loh (kalo diliat dari fotonya). Kayanya si dia juga nerbitin buku resep gitu deh, saya juga kurang ngerti (ato males nyari tau lebih jauh sebenernya wkwk). Anyway, restoran ini menyajikan berbagai macam masakan otentik Vietnam. Masakan Vietnam sebenernya kurang lebih sama kaya masakan Thailand, cuma mungkin lebih ringan lagi dalam hal bumbunya ya.

Restoran ini tidak menerima reservasi dan lebih memilih konsep first come first served. Area tempat makannya sendiri sedikit lebih besar dan lebih teratur dari Shiso Burger. Yang bikin menarik di sini adalah selain menu tetap yang ada di daftar menu, mereka selalu menyajikan menu khusus yang setiap harinya berubah-ubah. Untuk menu minumannya sendiri juga boleh dibilang sedikiiiiit lebih baik dari shiso. Well, konsep kedua restoran ini juga sedikit beda sih ya, jadi saya juga ga bisa bandingin mereka as apple to apple.

Pada saat berkunjung ke sana kami termasuk yang beruntung karena bisa langsung duduk dan order segera. Menu yang kami pesan hari itu adalah prawn spring roll sebagai appetizer, Beef Pho ukuran small (yang menurut aku dan suami porsinya bukan small itu si hehe, pokonya cukuplah pesen ini kalo kamu ga lapar binasa), menu special of the day (see picture below aja ya cin, saya bingung namanya apaan 😂 kalo ga salah chicken with orange sauce), dan mango sticky rice sebagai dessert. Verdict-nya tentu aja semua enak lah! Alhamdulillah kami ga salah milih restoran hehe. Cuma satu yang agak kurang pas menurut saya, yaitu si sticky rice-nya yang agak kekerasan (mungkin kelamaan disimpen di pendingin). Selebihnya bener deh enak, apalagi menu of the day-nya. Rasa si ayam kari yang digabung dengan irisan jeruk sunkist/orange jadi lebih seger. Plus sayuran yang dicampur bikin rasanya makin meriah.

Monsieur Vuong – Berlin Mitte. Image via gessato.com

Appetizer

Mangkok yang di depan adalah menu of the day.

Beef Pho.

Mango sticky rice

Restoran ini berlokasi di Alte Schönhauser Str. 46, 10119 Berlin, Germany. S-bahn yang terdekat adalah S Hackescher Markt trus jalan kurang lebih 600 meter. Sementara kalo pake U-bahn bisa stop di stasiun U Rosenthalerplatz atau U Weinmeisterstraße (kalo diliat dari peta di google hehe).

Demikianlah sedikit pengalaman kuliner saya selama numpang nginep di Berlin (tsah 🤣). Buat yang punya rekomendasi tempat makan lain yang spesial di kota Berlin (atau kota manapun), monggo yaa saya tunggu infonya di sini 🙂

Five down, Forever to go.

True love is spending one day getting married and the rest of your life feeling glad you did.

Ga berasa, tanggal 7 September kemarin perkawinan saya dengan suami genap berusia 5 tahun. Sebenernya kalo ditanya kapan beneran nikahnya saya agak bingung si wkwk, karna kan memang tanggal 7 September itu kami menikah secara agama di Indonesia, kemudian tanggal 27 Septembernya baru deh menikah secara formal alias resmi di sini. Biar adil saya biasanya celebrate di kedua tanggal itu (ngarep dapet kado spesial dua kali hahaha).

Anyway, perasaan baru kemarin si suami berijab kabul di hadapan alm. bapak saya, tau-tau sekarang kami udah berlima aja. Sepanjang lima tahun berjalan ini, banyak hal dan kebiasaan suami yang masih harus saya mengerti dan maklumi (dan vice versa tentunya). Yah namanya juga kami ga pacaran lama ye kan. Beberapa bulan pedekate langsung jebret lamaran, ijab kabul alias nikah secara agama, trus officially married di sini, jadi pasutri long distance beberapa bulan, kemudian saya pindah for good ke sini. Panjang tapi kalo dipikir ya ga panjang juga ya.

Lima tahun bareng ga berarti kami selalu akur tiap hari loh. Yah namanya juga dua manusia dengan latar belakang dan keluarga yang berbeda, pasti ada aja kebiasaan atau sesuatu hal yang bikin kita beda pendapat. Alhamdulillahnya, ga pernah sampe lempar piring sih wkwkwk. Malu sama anak-anak sis kalo sampe kaya gitu.

Kalo ditanya enakan udah nikah ato pas masih single, saya akan jawab enakan nikah lah. Walo tanggung jawab makin besar, tapi ada seseorang yang juga jalan bareng sama kita buat ikut urun menopang tanggung jawab itu. Lah trus enaknya apa? Selain ada yang bisa dipeluk tiap bobo (hihiyyy) – kecuali kalo orangnya pas keluar kota – , kita jadi punya tempat curhat pribadi yang hampir bisa dipastikan ga ember cin. Ada sandaran untuk berkeluh kesah, berbagi kebahagiaan – apapun itu bentuknya, dan juga bisa bikin kita semakin bersyukur. Ih saya ngomongnya berat ya hahaha. Eh tapi ini pemikiran saya yang memang dalam beberapa prinsip termasuk cewe kuno loh hehe.

Dulu jauh sebelum saya kebayang bakal nikah sama siapa, saya pernah berucap kalo saya ga mau punya suami yang keras dan sukanya pake baju kemeja melulu. Traits dan kebiasaan ini adalah dua hal yang saya kurang demen dari almarhum bapak saya. Alesannya sih simpel (khususnya yang say no to kemeja). Saya ga mau nyetrika baju kemeja karna susah dan ribet hahahha. Kalo untuk urusan keras, walo memang kadang ada bagusnya tapi saya suka sebel dulu kalo udah berhadapan dengan kerasnya bapak saya.

Dan kemudian apa yang terjadi? Alhamdulillah Allah memberikan kedua hal ini kepada suami saya wkwkwkk. Dia keras (dalam arti strict to his own opinion and principle) dan hobinya adalah TIAP HARI PAKE KEMEJA 😂. Makjan banget ya sis hahaha. Apakah kemudian saya menyesal? Alhamdulillah ngga dong. Mungkin Allah kirim dia ke saya supaya saya bisa meningkatkan skill menyetrika kemeja saya (positive thinking🤣), dan alhamdulillah walo sekeras apapun dia, dalam beberapa hal dia sangat fleksibel, bisa diajak kerja bareng dan untuk urusan tertentu dia pun mendengar saya.

Ada beberapa hal yang berubah dari kami kalo dibandingin dengan pas tahun pertama menikah. Kalo dulu saya suka mewek-mewek sedih karna kadang nelongso sama perubahan status pekerja kantoran menjadi ibu rumah tangga (baca: dari tiap bulan dapet transferan gaji menjadi menunggu kesadaran suami untuk mentrasfer biaya buat beli berlian ke tabungan saya wkwkwkwk), alhamdulillah sekarang udah mulai terbiasa dengan kondisi sekarang (dan sedikit ga malu lagi buat minta ke suami kalo pas saldo tabungan udah tipis hahahah).

Dulu di awal nikah suami masih sering masak untuk kami, sekarang hampir tiap hari saya yang masak huhuhu (kecuali wiken kadang-kadang). Ya gapapa si, untungnya dia (dan anak-anak) ga pernah protes mau dimasakin apa juga (indomie rebus aja dia happy hehe) dan kadang kami juga suka order atau makan di luar.

Dengan kehadiran si kecil dua tahun lalu, ritme perkawinan kami juga kurang lebih ikut berubah. Kalo di awal-awal nikah kami masih bisa weekend trip pergi berdua keluar kota atau setidaknya nonton film dan makan malem berdua, semenjak dese lahir duhhh boro-boro keluar kota deh, mo nonton film bareng aja ga bisaaa. Well, memang resiko si ya kalo punya bayi begitu, apalagi kalo si bayinya ASI. Alhamdulillah masa-masa ini kan kurang lebih udah terlewati, si kecil selain udah ga ASI lagi pun juga udah lebih gampang ditinggal dengan Oma-nya. Mudah-mudahan di waktu ke depan kami bisa curi-curi waktu lagi untuk hanimun ala-ala berdua aja hehe.

All in all, harus saya akui banyak banget hal positif yang saya dapet dari pernikahan saya ini dengan pak suami. Saya banyak nambah skill baru dan pengalaman di sini. Mungkin kalo saya ga nikah sama dia, saya selamanya ga akan bisa nyetir mobil, ga bisa masak macem-macem kecuali indomie dan telor ceplok, ga bisa bahasa Belanda (walo sekarang juga masih ngepas hihi), ga bakal mau bercocok tanam atau bebersih kebun, ga pede ngurus anak dan ga bakal berani ngelahirin normal. Semua ini semata adalah karena the power of kepaksa 😂. I may lose one, but I receive thousands. Itulah nikmat Tuhan yang ga bisa saya dustakan 🙂

Semoga dalam setiap langkah kami selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, semoga juga Allah memberikan berkah kesehatan, kebahagiaan, a content life, bersama-sama selalu sampai tua dan maut memisahkan kami, serta semoga di tahun-tahun mendatang kami bisa semakin dewasa dan mengerti satu sama lainnya, juga makin bertambah iman islam kami, aamiin.

7 September 2013.