Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

Blogging Hari ini dan 10 Tahun yang Lalu.

She logged in and read a few of her old posts, smiling at the issues she had raged about and shaking her head at how some of the rants now seemed pretentious and judgmental. She had grown so much without even realizing she had.

Shweta Ganesh Kumar, A Newlywed’s Adventures in Married Land

Beberapa saat yang lalu saya baru aja dapat notifikasi dari team WP kalo tepat hari ini dua tahun yang lalu adalah pertama kalinya saya membuat blog ini. Bukannya mau sentimentil, tapi hal ini juga jadi ngingetin saya akan blog yang (pernah) saya buat sepuluh tahun yang lalu.

Iyes sodara-sodara, ga nyangka juga ternyata saya udah lumayan lama ngeblog (walopun ga aktif-aktif banget hehehe). Blog saya itu lokasinya bukan di WP melainkan di blogger.com (karna saya ga suka template-nya WP yang terlalu standar dan ga bisa dimacem-macemin – halah). Akhirnya saya kunjungi kembali blog tersebut, dan walaupun kadang ngerasa isinya kenapa bisa konyol gitu ya, ternyata ada beberapa post yang menurut saya masih cukup relevan dan berbobot (hasek).

Kalo saya liat, postingan pertama saya di blog tersebut adalah di bulan Agustus 2006 dan postingan terakhir yang saya bikin adalah di bulan Februari tahun 2012. Saya inget kalo settingan itu blog saya ganti jadi private dan invisible karna isinya udah mulai mellow dan keakuan bener wakakakaa. Malu cin kalo ada yang tau betapa cupunya saya waktu itu hihi. Tapi ada satu yang saya sadar. Semakin bertambah umur, konten yang saya tulis pun mengalami perubahan. Kalo dulu isinya kaya diary, intinya aku lah (yah namanya juga blog ya cin) sekarang sebisa mungkin kalo nulis ada sharing info buat orang lain juga. Bener apa yang dibilang di quote yang saya cantumkan di atas. Dulu mungkin cara penulisan saya cenderung lebih emosional. Sekarang juga si kadang, tapi jelas beda lah sama yang dulu hehe.

Dari semua postingan yang ada di blog itu, ada beberapa yang saya suka terutama yang quote of the day (iya, saya suka sama topik ini hehe). Makanya di lain waktu beberapa postingan tersebut akan saya share kembali di sini, tapi jangan harap saya kasih link ke blog itu deh hahaha, maluuuuu (geer kaya ada yang mau liat aja :p).

Kembali ke masa kini, saya akan mencoba untuk komit, nulis topik yang informatif dan menarik serta mem-publish hasil ketak-ketik saya lebih rutin lagi. Suka kagum kalo ngeliat orang bisa posting rutin dengan topik yang oke-oke deh. Emang dasar kali ya saya ga punya sense of writing makanya tulisannya amburadul juga. Bahkan reader pun ga banyak hahhaha. That’s not my first priority anyway, as long as I can take out some of the blurry shadows from my head hehe. I consider this blog as my pensieve to Dumbledore 😉

Sebagai pembuka re-post saya, berhubung tulisan-tulisan dari Agustus 2006 sampe akhir Desember 2006 ga mutu semua (wkwkwk iyaaa saya ngaku!), monggo dibaca re-sharing saya dari sepenggal kisahnya Hamlet (W. Shakespeare). Cukup relevan lah dengan apa yang terjadi hari ini dan bikin heboh masyarakat sedunia (dunia mereka at least ya hihi) – Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke -45. Let’s pray to God and wishing all the best for everyone.

To be or not to be, that is the question.
Whether ’tis nobler in the mind to suffer,
The slings and arrows of outrageous fortune
Or to take arms against a sea of troubles,
And by opposing, end them.
To die, to sleep..
No more, and by a sleep to say we end,
The heartache and the thousand natural shocks,
That flesh is heir to, ’tis a consummation..
Devoutly to be wished.

‘t Kwekkeltje Rosmalen

Back then when the kids were still in group 2, they had a school trip to a public founded playground called ‘t Kwekkeltje. It is located in Rosmalen, a city close by to our place (around 15-20 KM). They really enjoyed it they asked me if we can go there by ourselves during their autumn break.
Finally on the last day of their holiday we managed to go there. It was my first time visiting the place. The entrance to the playground is completely free. It has quite big space and you can play with many things (sand, water, climbing, what kids not to like huh). My husband said that usually this place is completely packed, especially when the weather is nice. But luckily on that day we had quite reasonable crowd: not too full, although not that empty either. The weather was just like typical autumn weather: a bit gloomy and cold. Other than that, everything was just fine. Our youngest one also didn’t complain much although it was quite cold for someone at his age. We only put double layers of clothes and an extra blanket to cover him while sitting at maxi cosi car seat (we didn’t bring his bassinet).

The kids were reaaally enjoyed it! The minute we arrived they went directly to the tree house and just disappeared from our sight. After that, they went to the sling where they can sit on and then let it run from one side to the other. Afterwards they started to make a stream for water in the zandbak (sandbox). We forgot to ask them to just wear their boots instead of daily shoes (and old clothes instead of netjes one). I don’t really care actually as long as they’re having fun. But still..looking at them I couldn’t stop but think “sniff..must double time washing for their clothes. And not to forget to ask kids to clean up their shoes before going inside.

Now, back to the playground topic. So, as I mentioned above, this playground is completely free. Its a self-funding park – so to say. Some people gave donation to build some of its attractions. Other than that, they also have a kind of spaarpot (piggybank) not so far from the entrance/exit door where all the visitors can put in a bit of their money (or a lot if you are a coin collector for example :p). The place has several public WC (two if i’m not mistake), and one special for handicap and baby changing room. There is also a small room next to the entrance, for the volunteer(s) to get some warm when the day is cold (I guess). The playground can also be booked for special occasion like birthday party or school trip, by advanced reservation. They only will charged €1,5 per child for those kind of occasion (for maintenance cost I think). I find this place is quite good, considering the fact that its a self funding park. They took care of it quite well. Only kids said that the restroom was quite smelly. Oh ya, they didn’t provide any toilet paper or whatsoever there, so in case someone wanna go there it would be handier if they also bring their own toilet paper (and wet tissue when necessary). Also there are no food stall or cafe that sells consignment around, so it is better to bring at least a bottle of water and some snacks if you bring your kid(s) there.

If you wanna know more about this playground, you can check their personal website on this web address.

For the rest I will leave you with some photos of the playground which I took by my phone.
See ya on my next post!

the entrance (and exit)

list of the sponsors and donors of the playground.

bicycle parking space.

the restroom.

special restroom and baby changing room.

a part of the tree house.

a special bridge that can be used as a seesaw.

the other side of the tree house

climbing stuff.

the sling (I dunno how its called hehe)

water parkour

rabbit hole.

sandbox

the kids were busy with the digging

waterpump.

the spaarpot where you can put in some coins inside.

Kebijakan Plastik Berbayar

Akhir-akhir ini saya liat di beberapa media (termasuk media sosial) di Indonesia lumayan banyak orang yang memperdebatkan kebijakan plastik berbayar yang baru aja diterapkan sebulan terakhir ini. Berhubung saya background-nya hukum, jadi yang pertama saya coba browse ya apa dasar pemberlakuan aturan ini hehe. Saya nemu kalo yang menjadi dasar kebijakan ini adalah Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun KLHK Nomor: SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang Langkah Antisipasi Penerapan Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Pada Usaha Ritel Modern dan Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Dalam Surat Edaran yang saya sebutkan pertama, sebagaimana saya kutip dari situs hukum online, dijelaskan bahwa salah satu arah kebijakan Pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong plastik, adalah penerapan kebijakan kantong plastik berbayar di seluruh gerai pasar modern di Indonesia. Kebijakan kantong plastik berbayar merupakan salah satu strategi guna menekan laju timbunan sampah kantong plastik yang selama ini menjadi bahan pencemar bagi lingkungan hidup.

Pemberlakuan aturan ini secara serentak dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia per Februari kemarin (cukup banyak deh kalo ga salah, lebih dari 20-an kota). Masing-masing kota (melalui surat edaran Gubernur atau Walikota masing-masing) boleh menentukan besaran harga untuk per-plastiknya. Misalnya di DKI Jakarta, Gubernur Ahok menetapkan harga sebesar 200 Rupiah per kantong plastik. Sementara di Maluku, untuk satu kantong plastik dikenakan harga 5000 Rupiah.  Kalo dari yang Surat Edarannya sendiri, disebutkan untuk satu kantong plastik pembeli/konsumen harus membayar minimal sebesar 200 rupiah. Untuk besaran biaya plastik ini ke depannya akan ditinjau ulang (pertiga bulan) oleh Kementerian dan ada kemungkinan ada perubahan.

Tanggapan masyarakat untuk kebijakan baru ini lumayan beragam. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Saya kurang tau, apakah kebijakan plastik berbayar ini hanya berlaku di supermarket-supermarket saja atau juga di department store, pasar tradisional atau toko retail lainnya (ada yang bisa berbagi info mungkin?). Kalo dilihat dari kutipan hukum online, sasaran utama aturan ini adalah pasar modern. Tapi tetep ya, saya kurang tau juga sejauh mana penerapannya.

Mereka yang pro sebagian besar beralasan kalo plastik itu sangat tidak ramah lingkungan, dan susah untuk didaur ulang (butuh waktu lama), jadi alangkah baiknya kalo penggunaan plastik ini dikurangi atau bahkan dihilangkan. Sementara mereka yang kontra lebih memasalahkan kalo penyediaan wadah untuk barang belanjaan yang mereka beli adalah kewajiban dari penjual, dan mereka mempertanyakan penggunaan/pengalokasian duit 200 rupiah hasil penjualan plastik tersebut (kalo diperhitungkan total hasil penjualan plastik dari ratusan juta penduduk Indonesia yang bisa lumayan besar jumlahnya).

Di Belanda sendiri per Januari 2016 kebijakan plastik berbayar untuk toko-toko retail juga secara efektif mulai berlaku. Dari jaman saya kuliah dulu (tahun 2008-2009) kalo saya belanja di supermarket memang tidak pernah disediakan plastik gratis (kecuali kalo kita belanja di toko asia atau toko turki). Supermarket-supermarket tersebut menyediakan kardus-kardus bekas packaging produk untuk dipergunakan para pembeli/consumer mereka untuk membawa barang belanjaan. Atau kalo mau bisa juga beli tas plastik seharga 25 sen (dan sedikit lebih mahal lagi kalo mau yang lebih besar dan lebih tahan lama). Kebanyakan para pembeli membawa tas atau wadah sendiri dari rumah (kalo dulu berhubung flat saya deket banget sama supermarket, saya suka pake kardus atau ditenteng gitu aja hehe. Kalo sekarang berhubung kalo belanja agak banyak, kami pakai crate sebagai wadah belanjaan).

Trus apa yang berbeda dengan sekarang? Seperti yang saya bilang, di toko-toko retail lainnya (selain supermarket yang “in a way” memang sudah memberlakukan kebijakan ini). Misalnya di toko-toko baju yang menggunakan plastik sebagai wadah belanjaannya seperti H&M, Forever 21, atau C&A; toko retail seperti Kruidvat, Hema, atau Department Store seperti Bijenkorf, atau V&D (yang udah bangkrut :p). Nah sekarang kalo kita belanja di Toko Asia ataupun Toko Turki kita juga harus bayar untuk plastiknya. Kalo kita belanja di toko retail yang menggunakan paper bag seperti Zara atau primark kita ga dikenakan charge kok. Oh iya, untuk per plastic bag biasanya kita akan dikenakan charge 5 sampai 10 sen tergantung besarnya (sekitar 750 sampai 1500 rupiah).

Kebijakan plastik berbayar ini ternyata juga baru mulai diberlakukan di Inggris per 5 Oktober tahun lalu. Inggris adalah yang paling terakhir memberlakukan kebijakan ini di antara negara-negara Inggris Raya lainnya (Wales di tahun 2011, Skotlandia dan Irlandia Utara di tahun 2014). Untuk per kantong plastik, para consumer harus membayar 5 pence atau sekitar 1000 rupiah kalo mau menggunakan plastik sekali pakai ini. Kebijakan ini juga hanya diterapkan bagi para retailer yang memiliki jumlah pekerja full time sebanyak 250 orang atau lebih, yang ditentukan dari besarnya perusahaan tersebut (bukan dari cabangnya saja). Untuk usaha-usaha yang lebih kecil juga boleh men-charge kalo mau, atau juga memilih skema lainnya yang lebih praktis.

Saya juga baca di satu artikel di BBC UK mengenai alokasi uang dari hasil penjualan plastik tersebut. Jadi disebutkan kalo uang hasil penjualan plastik tentunya akan masuk ke kantong supermarket atau toko retail bersangkutan. Uang tersebut bukanlah pajak, jadi tidak akan diserahkan ke pemerintah. Para retailer boleh memilih apa yang akan dilakukan dengan perolehan uang tersebut, tapi diharapkan hasil penjualan plastik tersebut akan didonasikan untuk sesuatu yang baik. Para retailer ini harus melaporkan apa saja yang telah mereka lakukan dengan uang tersebut kepada pemerintah, dan nantinya pemerintah akan mempublikasikan informasi tersebut setiap tahunnya.

Selain kebijakan plastik berbayar, ada juga beberapa negara yang secara tegas melarang penggunaan plastik sekali pakai ini loh. Yang pertama kali menerapkan larangan ini adalah Bangladesh (di tahun 2002) setelah sampah plastik ini menghambat drainage system selama musim banjir di negara ini. Beberapa negara lain yang juga memberlakukan larangan ini adalah Afrika Selatan, Rwanda, Kenya, China, dan Italia. Sementara di Chicago, per Agustus 2015 larangan penggunaan plastik sekali pakai (yang tipis) mulai diberlakukan.

Sebenarnya, kenapa penggunaan kantong plastik sebagai wadah lebih populer dan banyak digunakan oleh para retailer bila dibandingkan penggunaan kantong kertas bisa kita lihat dari contoh perbandingan di bawah ini.

Bisa kita lihat dari segi cost-efficient (yang pastinya penting buat retailer) penggunaan plastik jauh lebih murah kalo dibandingkan dengan penggunaan paper bag. Bahkan untuk para consumer kantong plastik dianggap lebih durable bila dibandingkan dengan paper bag. Tapi begitu kita lihat dari sisi recyclable atau tidaknya, jelas-jelas plastik bukan sesuatu yang recycled-friendly bila dibandingkan dengan si kantong kertas.

Saya sendiri sebenarnya bukan termasuk orang yang pro ataupun kontra dengan kebijakan ini. Istilahnya, kalo ada aturannya, ya kita ikuti, kalo ga setuju ya ga usah ngotot nolak juga, toh masih banyak solusi lain yang bisa kita jalanin. Intinya, penggunaan kantong plastik bukan satu-satunya solusi lah. Selain penggunaan paper bag, kita juga bisa menggunakan tas belanja yang bisa dipakai berkali-kali, atau crate seperti yang kami pakai kalo perlu belanja banyak. Makanya di sini hampir semua orang yang pergi ke supermarket bawa kantong sendiri (atau tas, termasuk yang bersepeda dengan tas sepeda atau keranjang di depan sepedanya).

Tapi to be honest, saya termasuk orang yang pro paper bag. Memang dari segi daya tahan “agak” kalah sama plastik – walo saya juga beberapa kali ngalamin kantong plastik robekkk alias ga tahan juga menampung belanjaan -, tapi menurut saya kantong kertas terkesan lebih gimanaaa gitu, apalagi kalo desainnya lucu – ato dari toko retail yang bagus punya hehe (tapi kalo untuk wadah gorengan tetep aja dua-duanya ga oke ya hihi).

Jeleknya dengan Indonesia, kalo menurut saya pemerintah kita senengnya mengatur sesuatu setengah-setengah alias ga tuntas dan jelas. Mungkin itu sebabnya masyarakat ada yang kontra dengan kebijakan ini. Mereka yang kontra ini merasa kalo pemerintah malah membebankan sesuatu yang seharusnya bukan menjadi beban konsumen (walaupun 200 Rupiah, ini masalah prinsip bung! hihi). Coba kalo dijelaskan kaya di Inggris, akan dikemanakan si uang tersebut, atau apalah yang bisa lebih menjelaskan kenapa begini kenapa begitu, mungkin akan lebih banyak yang mendukung kebijakan ini.

Penggunaan plastik ini dalam kehidupan memang ga bisa dihindari ya. Paling banter ya mengurangi penggunaannya (makanya namanya “diet” kantong plastik hehehe). Saya sempat baca (dan lihat) kalo sebenernya ada beberapa plastik bisa didaur ulang. Nah, apa ga dimungkinkan ya kalo kita ganti aja semua kantong plastik yang beredar dengan kantong plastik yang bisa didaur ulang? just my pure curiosity 🙂

0223-city-plastic-bags

Now what do you think about this policy, is it a yay or a nay?

Nostalgia ala Facebook

“and, oh! what beautiful years were these..
when our hearts clung each to each;
when life was filled and our senses thrilled..
in the first paint dawn of speech,
thus life by life and love by love,
we passed through the cycles strange.
and breath by breath and death by death,
we followed the chain of change..”

~ L. Smith.

Udah lama banget ternyata saya ga liat page facebook sendiri, trus tiba-tiba ada notifikasi komen temen saya di salah satu notes yang saya pernah buat dulu. Akhirnya saya jadi baca-baca notes cupu yang dulu pernah saya buat deh hahahhaa. Ya ampun dulu saya amazing banget ih 😂

Saya nulis notes ini terutama si pas saya kuliah di sini. Maklum, kadang bosen ngerjain tugas ato tesis, trus di-tag temen buat ngerjain notes yang isinya lucu-lucuan, ya saya milih yang terakhir dong hehe.
Ada juga beberapa yang “agak” serius, isinya lebih kepada curahan hati anak cupu yang lagi kangen seseorang, atau kangen suasana pas kuliah di sini (salah satu note-nya yang serius dibikin tahun 2010, setahun persis setelah saya balik ke Indonesia, isinya adalah quotation yang saya tulis di awal postingan ini :)).

Salah satu note yang saya buat itu di-publish persis hari ini 7 tahun yang lalu (yes..1 Februari 2009). Judulnya? 25 Random Things About Me :p
Mau tau isinya? monggo dibaca di bawah ya hehe.

Capture1Capture2

kalo dipikir-pikir, some of these random things are actually still quite relevant with my current situation. Kecuali yang bagian mimpi jadi istri diplomat (bacanya malu ih hahaha, bukan jadi istri diplomat tapi jadinya istri juragan mesin :p), nonton sports-nya makin kurang sekarang, berat badan sekarang Alhamdulillah ga kurang lagi (mudah-mudahan ga berlebih juga ya Allah!), bagian ga bisa nyetir (I can drive now, yay!), mudik (akhirnya kesampaian walau jarak mudiknya lebih “parah” dari kampung halaman alm.bapak hahhaha), dan secuil icemint itu (sudah lamaaa banget saya ciggy free, so pasti yang ini udah gak relevan lagi ya hehe).

Poin terakhir adalah favorit saya =). Mudah-mudahan saya selalu ingat untuk selalu bersyukur kepada Allah dan dijauhkan dari sifat kufur nikmat, aamiin.

Some Dutch Songs that Lingered (on My Mind)

As a non native Dutch speaker, sometimes it is hard for me to enjoy a song sang in Dutch. Either the words are too strange or just the melody doesn’t click to my ear. However, I found nowadays (thanks to music channel – ziggo xite on my TV wkwk) Dutch songs can also be interesting hahaha.

During my study in Tilburg, my Dutch friend – Bram – used to make a joke about a Dutch singer Marco Borsato. His name sounded like Italian eh, but he is a Dutch (well, I guess he also has some Italian blood) and he is VERY FAMOUS here. Back then when I did my Dutch Course in Jakarta, there was a competition there at the Netherlands Embassy where the theme was to cover one of the song of Marco Borsato. That means we must listen to Marco Borsato’s songs in the class. First impression: DISLIKE. hahaha. It sounds weeeird, too much melancholy. Actually he is not that bad (good even – for his genre I guess), but it’s just not for me.

When my friends and I went to the funeral of Bram’s mother in Middelburg, we also followed the ceremony in the church where the family shared their memories and they played some music in between. During the ceremony, they played this one song and I fell in love with it. The song is in English, but the singer is a Dutch. It’s just so fit with the situation there, and without realising the tears were just dropped from my eyes. I guess it was the first time I think that Dutch singers are not that bad after all =)

So, the first song I wanna share here is this song. The title is “Sweet Goodbyes”, by Krezip.

Then, after I moved here I got more often hearing Dutch songs. Of course as I said before, because of the TV Channel, as well as music played on the radio (my morning wake up alarm is radio on and every time I drive I have my radio on. I’m just too old school for this :)).

Well, some of them I like, some of them not. It’s normal I guess ya. Just a matter of taste also. Some songs that still lingering in my brain. Wanna hear them also?

First one, is Nielson’s song, “Sexy als Ik Dans”. The song has a catchy melody and makes you wanna dance. Even the King (King Willem) and his family couldn’t just stand and moved their body when they watched the singer singing the song live on Koningsdag =)

Another song by Nelson titled Hier met Jou is also quite nice, I think.

The next song is “Parijs” by Kenny B. I looove this song hahaha. Again, the music is so nice. This Surinamese blood singer was previously a soldier and a peace negotiator (according to Wikipedia NL). The song itself tells a story about someone who has a business trip in Paris and then met a nice lady. Well, sort of hahaha (the latter is just my interpretation).

And then there is this one song. It’s a weird one, also the video clip (absurd and the people in the video looked like got possessed or “high”). The title of the song is “Drank & Drugs” by Lil Kleine and Ronnie Flex. It’s a Dutch Rap. The lyrics are quite explicit an d rough, talking about alcohol and drugs (including MDMA/Ecstasy -XTC). The rhythm is just hit the right spot for me I guess (especially when the song was a total hit and played quite often). I am not going to put the video directly here, but if you wanna see it you can click this link =)

I still have another one to be posted here. So, during my Dutch Course class here in February-March this year I had to bring one Dutch song to be played in the class and then I have to share and re-telling to the class about the singer, the main idea of the song, and some questions related to it. I remembered this one particular song that usually sang by my friend’s dad. I didn’t know the exact title at that time but in Indonesia they call it as “Nasi Goreng” song. After I did some searching on Google, then I found out that the title was “Geef Mij Maar Nasi Goreng”, sang by Wieteke van Dort. She sang it in Keroncong style and thick Javanese accent. Btw, she is famous for her role as Tante Lien and had a kind of talkshow back then in National TV called “The Late Late Lien Show”. The main idea of the show centered at Tante Lien where she usually host a cozy gathering (called Koempoelan) at her home in which she and her guests snack on Indo food and reminisce about life back in the good old days (tempo doeloe) of the Dutch Indies Companies (Hindia – Belanda).

She was born in Surabaya and spent her childhood until teenager there. When she was thirteen years old, the Van Dort family went on vacation to The Netherlands. At that time Indonesia declared its Independence and began to nationalize the ownership of things owned by foreigners (Dutch mostly I think). Because of the Nationalization, the van Dort family lost everything they have back in Indonesia. They then decided to settled in Den Haag (The Hague).

As for the song, it pictured how she missed her living in Indonesia, especially for the food. It was so different in taste and varieties (the food here to her was “smaakloos” or tasteless – at least compared to Indonesian food). I guess it was also because at the time she wrote this song there were not that much Indonesian living here, thus not much options to get some Asian (Indonesian) food around. Luckily nowadays things are changed (to a good direction!) and now we can get Asian (Indonesian) food and ingredients easily in almost every city in Holland 🙂

So, I leave you all with the old song of Tante Lien here, the Nasi Goreng song. Enjoy! =)

 

ps. sorry I didn’t attach Armin or Tiesto here. Anyway, they didn’t have that many Dutch song I guess hehe.

Thing(s) you (probably) gonna miss when you’re not in Holland

Dulu pertama kali datang ke Belanda, ada beberapa hal di sini yang buat saya baru sama sekali dan ga pernah saya temukan di Indonesia, khususnya makanan. Ada juga beberapa kebiasaan yang buat saya sampai saat ini juga termasuk unik.

Postingan ini tidak membahas tentang delft blauw, klompen, bunga tulip (di beberapa negara lain juga banyak tulip kok), atau kincir angin ataupun keju =) pasti udah banyak juga yang membahas itu ya.
Ketika saya kembali ke Indonesia for good tahun 2009 lalu, ada beberapa hal yang bikin saya kangen Belanda. Saya bukan pencinta keju ataupun penggila coklat (yah masih dalam kadar normal aja lah :)) jadi bukan itu yang saya kangenin banget-banget. Masih banyak hal lain yang menurut saya lebih menarik dan bikin kangen dari Belanda.

Mungkin aja buat orang lain yang saya tulis di sini ga penting banget, tapi buat yang pernah ke Belanda dan pengen bernostalgia semoga aja postingannya bisa bikin sedikit hepi dan ikut mengiyakan😉

Rencana awal si tulisan ini cukup dibuat dalam satu postingan, tapi banyak banget ide yang bermunculan di kepala. Jadi besar kemungkinan suatu saat nanti saya akan tulis satu postingan lagi dengan topik yang sama hehe =) untuk sementara monggo dinikmati dulu yang ini yaaa

1. Kapsalon

No, in this case it’s not a place where you can cut your hair. It’s a sort of meal you can find here (i guess only here) in Holland.

image

photo taken from Wikipedia

Sebagaimana dikutip dari wikipedia, kapsalon ini bermula dari seorang hairdresser di Rotterdam yang meminta döner shop di dekat salonnya untuk meng-combine semua ingredients favorit dia ke dalam satu wadah.

Mau tau ga isi kapsalon apa aja?
Seperti yang terlihat di gambar berikut, kapsalon adalah gabungan dari french fries, shoarma (daging kebab), salad, ketimun dan kol (juga onion kadang-kadang), kemudian keju, dan garlic sauce (khas döner) – plus sambal bagi yang suka pedas.
image

guilty pleasure banget deh kalo makan ini. You know, jumlah kalori dalam satu kali serving kapsalon adalah approx.1800 kcal! Parah ya hahahaha, makanya ga boleh makan sering-sering yang beginian!

Menurut info yang saya dapat dari teman, ada beberapa tempat döner yang boleh men-subtitute french fries dengan nasi. Nah, pas banget kan sama lidahnya orang Indonesia 😉

2. Nasi untuk dessert (a.k.a. Rijstevlaai😁)

Cake ini bagian tengahnya adalah nasi (umm ga seperti nasi biasa si, tapi lebih ke bubur padat), kemudian diberi topping whipped cream dan shreded chocolate.

Rasanya? Buat saya ini enak banget! Bagian dasar cake ini agak mirip dengan pie, kemudian isinya (si nasi) lembut tapi padat. Belum lagi ekstra rasa dari si cream dan coklatnya. Hmmm..a must try kalo sedang berkunjung ke Belanda deh.

Menurut informasi dari suami, rijstevlaai ini adalah salah satu makanan khas yang berasal dari daerah Limburg (dan Brabant).

3. Slagroomijs

Ini mungkin ga begitu spesial, tapi buat saya agak lucu aja, ada istilah slagroomijs disini (which litteraly means whipped ice cream). Istilah ini dipake untuk jenis es krim lembut (soft ice cream) semacam ice cream cone yang dijual oleh McDonalds.

Slagroomijs yang cukup terkenal adalah yang ada di Amsterdam. Nama tempatnya banketbakkerij van der Linde. Kadang kalo lagi rame (terutama di musim panas pastinya ya) antriannya bisa panjang banget! Tapi emang enak si hehe.

image

image

4. Naik sepeda ala orang Belanda

Pasti udah pada tau ya kalo di Belanda cycling is so popular. Dua video di bawah ini sedikit banyak menggambarkan bagaimana orang Belanda bersepeda. I have experienced few of them (one to mention: bersepeda sambil payungan!). Satu yang saya kurang setuju (dari cuplikan video di bawah ya) adalah berdiri di boncengan. It’s too dangerous man.

Pernah saya punya pengalaman minta dibonceng sama teman kuliah saya yang orang Belanda. Dia jalan terus dan saya disuruh ngejar trus lompat ke boncengan. Ya saya bete dong, kenapa jugaaa disuruh ngejar-ngejar gitu. Biasanya kan kalo di Indonesia kita langsung nangkring di boncengan yaaa, ternyata kalo di sini caranya beda hahaha. Mau tau caranya? Liat video di bawah ini ya😉

5. Efteling

the newest ride from efteling in 2015, Baron 1898

Efteling adalah pretpark kebanggaan Belanda yang paling hits di antara orang-orang Belanda, bahkan mungkin lebih tenar daripada Disneyland ataupun Legoland. Anak-anak saya aja udah berkali-kali ke sana setiap pergi selalu excited. Memang, menurut saya efteling bisa dibilang lebih “ramah” bila dibandingkan dengan disneyland dan legoland. Mengapa? pertama, pengunjung boleh bawa makanan atau minuman sendiri (kalo mau sedikit repot), dan apabila ga bawa harga makanan dan minuman di efteling masih cukup bersahabat.

Mungkin Legoland masih lumayan ya, tapi kalo Disneyland ampun deh. Untung agak jauh jadi kalo mau ke sana berkali-kali agak mikir juga haha (mami peliiit .*p)

the entrance of efteling during winter. so pretty!

 

Oh ya, salah satu atraksi terbaru di Efteling as I mentioned earlier di atas adalah rollercoaster yang cukup ekstrim bernama “Baron 1898”. Kurang tau juga sejarahnya, tapi rollercoaster ride ini menukik ke bawah hampir 180 derajat, masuk terowongan underground, kemudian going upside down dengan kecepatan yang wuihhh, cepet!

kalo saya disuruh naik ini, mungkin saya harus mabok dulu berbotol-botol sampe tidur dan ga sadar kalo naik ya alias its a NO NO for me. yaya you can call me een watje (sissy:p) for this one..udah tua ga suka atraksi yang terlalu menantang (hihi alesan deh yaaa).

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di link di bawah ini.

So, there you go 🙂 some things that would make me miss Holland if I’m not here. Sebenernya si masih banyak yang mau ditulis, tapi saya coba rangkum di lain waktu dan lain postingan aja ya biar ga kepanjangan.

feel free to share your idea(s) on what you miss from Holland here!

tot volgende keer.