First Stop: Hamburg, Jerman.

A Hamburg saying, referring to its anglophile nature, is “Wenn es in London anfängt zu regnen, spannen die Hamburger den Schirm auf.” … “When it starts raining in London, people in Hamburg open their umbrellas.”

The flying men. #latepost #street #performer #hamburg #germany #summer #holiday #august #2017

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam (dengan break sekali di rest area untuk makan siang), akhirnya kami sampai di hotel tempat kami menginap di Hamburg, Jerman. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 10 pagi, dengan perkiraan kita akan sampe pas waktu check in di hotel. Hotel tempat kami menginap namanya Bundt’s Garten Restaurant. Hotel ini bukan pilihan awal saya si. Sebelumnya saya udah booking kamar di Novotel Hamburg untuk tanggal lain, tapi rencana awal kami berubah dan Novotel udah fully book. Saya harus cari akomodasi lain dan kebetulan waktu itu yang masih tersedia (dan cukup bagus review dan masuk akal harganya) adalah hotel ini. Kalo diliat dari kamarnya, bisa dibilang hotel ini termasuk hotel lama (feel-nya ga modern lah setidaknya).

Lokasi si hotel deket sama Hamburg airport, sementara untuk ke pusat kota sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Di sekeliling hotel ini banyak perkebunan apel. Salah satu nilai tambah untuk hotel ini adalah sarapannya enak! Selai dan jus yang disediakan fresh dan kayanya home made gitu, makanya jadi spesial.

Begitu sampai kami ga langsung ke city center tapi jalan-jalan di sekitar hotel, dan karena waktu yang agak tanggung, kami akhirnya makan malam di restoran di hotel aja. Makanan yang kami pesan cukup lumayan, walau juga ga begitu spesial. Suami waktu itu pesen bebek dengan persik dan saus cranberry, sementara saya pesen ikan (anak-anak standar kids menufries dan nugget). Cuma karna ketidaktauan kami sayang banget kentang yang ada di piring saya ternyata ada potongan ham-nya, yang berarti saya ga bisa makan. Untungnya si ikan (salmon dan white fish – lupa jenis apa) ga semuanya nempel, jadi masih ada beberapa bagian yang bisa saya makan. Sementara bebeknya suami aman.

Beautiful view on the road heading to the hotel.

The hotel.

The entrance of the hotel.

They have a midget golf here!

The interior in front of reception desk.

Apple tree field located accross to the hotel.

Pedestrian path.

Cute farmer house in the middle of nowhere.

The church close by to the hotel.

During the walk we spotted an airplane just took off from the airport 🙂

the fish menu.

the duck together with cranberry sauce and peaches. Other veggies and french fries were not in the picture bcos it came separately.

Di hari berikutnya kami baru menjelajah (halah) pusat kota Hamburg. Dengan pertimbangan dari segi kepraktisan, kami putuskan untuk memarkir mobil di sekitar pusat kota. Di malam sebelumnya kami sudah browsing kira-kira di mana kami bisa parkir dengan lokasi dan biaya paling efisien (tidak di pinggir jalan tapi di dalam gedung – dengan pertimbangan dari segi keamanan) dan kami putuskan untuk parkir di gedung pusat kebudayaan Jepang. Lokasinya cukup strategis dan biaya per harinya juga lumayan masuk akal.

Setelah memarkir mobil, kami menuju ke stasiun metro (u-bahn) untuk membeli Hamburg Pass. Walaupun beberapa tempat turistik di Hamburg lumayan saling berdekatan dan masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, buat kami yang bawa bayi dan dua anak kecil kadang lebih efisien kalo kita naik transportasi publik aja. Hamburg pass ini semacam tiket transportasi publik yang bisa dipergunakan untuk metro, bis dan kereta di sekitar Hamburg untuk jangka waktu tertentu (24 atau 72 jam). Saya kurang paham sebenernya untuk transportasi publik di Hamburg gimana walau setau saya di beberapa kota di Jerman transportasi publiknya gratis. Hamburg pass ini ada 2 jenis: yang single atau yang group. Kalo single masa berlaku 24 jam harganya €9,90 berlaku untuk satu orang, sementara untuk yang group masa berlaku 24 jam harganya €18,5 dan bisa dipergunakan untuk 5 orang dewasa. Untuk anak-anak sampai usia 12 tahun kalo mereka bareng dewasa ga perlu bayar alias gratis. Selain itu, kalo kita tunjukin si hamburg pass ini kita juga bisa dapet potongan harga di beberapa tempat. Fyi, selama kami mondar-mandir naik metro di sana ga ada yang meriksa tiket kami sama sekali lohh (dan mereka ga pake sistem gate di metro station-nya). Cuma emang kalo mau naik bis kita harus tunjukin si tiket ke supirnya si biar aman.

Stasiun metro terdekat dari tempat kami parkir adalah Rathaus station, di deket Rathaus/Town Hall-nya Hamburg. Sebelum ke stasiun kita sambil liat-liat juga di sekitar Rathaus square yang punya view bagus juga. Suasana di sekitar situ sewaktu kami ke sana ga gitu sibuk jadi kami masih bisa menikmati walau cuaca sedikit mendung. Dari Rathaus kami menuju ke stasiun yang jaraknya paling dekat dengan dermaga pelabuhan/pier karna kami berencana untuk ikut salah satu tour river cruise-nya. Alasannya si simpel, karna Hamburg adalah kota pelabuhan (kedua terbesar di Eropa setelah Rotterdam) dan memang lumayan banyak yang merekomendasikan untuk ikut tur ini. Lamanya tur adalah kurang lebih satu jam dan kita bisa milih untuk ikut di kapal yang menggunakan bahasa apa (kami ikut di kapal dengan tour guide berbahasa inggris).

Kami turun di stasiun St. Pauli dan kemudian jalan sedikit ke arah pier. Di sekitar sini baru mulai terasa turisnya (baca: rame cin! haha). Kayanya ini salah satu spot utama para turis ya, dan udah pasti mereka juga mau ikutan cruise-nya (ato setidaknya sightseeing di sekitar pier lah).

Selesai tur, kami menyempatkan diri untuk turun dan melihat the old elbe tunnel. Terowongan ini umurnya udah tua banget lohh, dibangun pada tahun 1911! Keren ya, di tahun segitu udah bikin konstruksi serumit ini dan bikinnya di bawah sungai (elbe) lagi. Untuk turun ke terowongan penyeberangan ini kita bisa lewat lift atau tangga (kalo kuat hahaha). Terowongan ini sendiri khusus diperuntukkan bagi para pejalan kaki dan pesepeda.

Puas melihat konstruksi si terowongan (ngga sis, kami ga nyebrang. Saya nyerah kalo disuruh nyebrang sambil gendong unyil hahah, begitu sampe di seberang langsung pengsan kayanya 😂), kami makan siang di Hard Rock Cafe yang lokasinya di sekitar pier juga. Pengunjung cafe-nya termasuk ramai tapi alhamdulillah kami cepet dapet tempat. Tapi abis pesen, makanannya lama banget datengnyaaa. Untungnya anak-anak ga complain dan sibuk main berdua (sementara si kecil sibuk teriak dan bikin repot papa mamanya). Setelah makan siang kami berencana untuk berkunjung ke Miniatur Wunderland yang katanya adalah tempat wisata dengan miniatur model kereta terbesar dan terlengkap di dunia (bener ga sih?). Awalnya saya pikir miniatur wunderland ini kaya madurodam gitu, jadi di luar atau outdoor attraction, tapi ternyata showcase-nya semua di dalam ruangan alias indoor. Begitu sampe di pintu masuk, loket tiket antriannya udah panjang, dan pas giliran kita ternyata mereka bilang tiket untuk jam kita dateng udah sold out dan mereka nawarin untuk dateng jam 18.30 – 20.30 atau jam 19.30. 21.30. Kami baru tau kalo mereka membatasi pengunjung dengan menjual tiket dengan slot jam kaya gini. Wajar si ya, kalo ga yang ada ga nyaman banget di dalam. Anyway, karna kami pikir jam 18.30 tanggung (karna pas waktunya makan malam dan kami sudah reservasi di salah satu restoran untuk jam 17.30), akhirnya kami pilih opsi yang jam 19.30 dan nanti kembali lagi ke sana setelah makan malam.

Berhubung ada jeda waktu dan kami (well, saya dan anak-anak si hehe) udah ngerasa cape, saya usul untuk cari taman aja biar si kecil bisa agak bebas bergerak (at least ga digendongan aja). Setelah ngulik sedikit di peta kami lihat taman terdekat adalah Alter Elb Park, dan ke sanalah kami berjalan kaki menuju dan beristirahat sebentar (lempengin pinggang sis 😂).

Rathaus alias Town Hall-nya Hamburg.

Sisi lain Rathaus/Town Hall Hamburg.

Pemandangan dari atas Landungsbrücken.

Pemandangan dari Landungsbrücken.

Another bridge of locks? Lokasi di Landungsbrücken keluar dari stasiun metro St. Pauli, deket pelabuhan.

Ferry cruise yang kita tumpangi.

Pasar ikannya Hamburg. Sepi karna udah siang, tukang ikannya udah pulang semua kayanya hehehe

“komplek”nya para sosialita Hamburg 😜

Salah satu condominium termahal di eropa. Bentuk gedungnya lucu ya.

Elbphilharmonie Hamburg.

Cranes at the port of Hamburg.

the old elbe tunnel yang melintas di bawah sungai Elbe. Untuk sampai ke ujung lainnya menempuh waktu kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki.

Makan siang kami di Hard Rock Hamburg.

Sisi lain kota Hamburg. Ternyata masih ada juga mereka yang tidur di bawah jembatan di sana.

Patung raksasa yang ada di Elb Park.

Setelah “ngadem” plus istirahat sebentar di taman, kami lanjut jalan lagi ke bus halte terdekat untuk pergi menuju restoran yang sudah kami pesan. Sebelum mutusin untuk makan di restoran ini kami juga menyempatkan untuk browsing sedikit dan kebetulan ketemu satu restoran india yang lumayan bagus review-nya dan lokasinya sendiri juga ga begitu “aneh” (makluuum, kita kan modal peta doang hihi). Setelah anak-anak oke, langsung kami reservasi di sana (takut penuh soalnya). Hasilnya? Ga nyesel deh makan di situ! Saya kan termasuk orang yang picky eater dan biasanya sama Indian cuisine ga gitu doyan-doyan amat, tapi sama yang ini duh beneran deh enak nyosss, terutama untuk para curry-nya.

These are our dinner menu at Ashoka Restaurant. Really recommended if you’re a fan of authentic Indian dish!

salah satu entrance-nya Dommarkt yang kami lewati waktu menuju restoran.

Selesai makan malam, kami kembali lagi ke miniatur wunderland (setelah sebelumnya sedikit diskusi dengan suami sebaiknya langsung bawa mobil aja dan parkir di tempat parkir terdekat di sekitar miniatur wunderland supaya kita ga perlu bolak-balik lagi). Begitu masuk ke lokasi, waduh saya agak stress euy. Ternyata udah jam segitu aja masih penuh! Mana kami bawa buggy/stroller, tiap mau maju dikit mentok sama kaki orang (ga tiap kali si cuma lumayan sering aja, ini hiperbolis sedikit hahah). Akhirnya kami mencar-mencar deh biar pada bisa lihat juga. Saya juga ikut keliling walau ga semuanya saya liat. Abis itu saya duduk aja sambil kasih mimik si bayi yang ga lama kemudian bobo (karna emang udah waktunya). Btw si Miniatur Wunderland ini buka sampe tengah malem booo. Poll banget nyari duitnya ya.

Setelah cukup puas lirak lirik si model train dan kawan-kawannya, akhirnya kami pun kembali ke hotel.

Tipikal bangunan yang saya temuin di sekitar Hamburg. Menurut saya kesan industrialnya kental banget, ya ga si?

parts of Michaelis bridge. They put a very nice tiles here 😉 and look at the love padlocks on the left!

Salah satu spot karyawan di Miniatur Wunderland.

Kalo ga salah ini adalah miniatur dari salah satu event konser penggalangan dana. Kebayang ga itu miniatur orangnya ditaroin satu-satu secara manual. Kalo ga salah juga kita bisa ikut donasi dan nanti miniatur kita akan ditaro di situ 🙂

Miniaturnya the Spanish Step di Roma.

Kalo ini miniatur railtrack yang ada di Swiss (ato Austria ya? Lupa sodara-sodara maap :p)

Jumlah pengunjung Miniatur Wunderland dari berbagai negara.

Yay, we are on TV! 😄

All in all, Hamburg for us is not dissapointing at all. Walaupun ga semua spot kami datengin tapi kami cukup menikmati dan untuk ukuran satu hari kami sudah lihat lumayan banyak tempat menarik di Hamburg.

Selepas sarapan dan selesai packing, berangkatlah kami menuju pemberhentian berikutnya, yaitu Billund – the home of Lego 🙂

Pardon for mama’s messy hair 😅

Ps: berhubung anak-anak yang pegang kamera, sebagian besar foto saya motret pake hp jadinya. O iya, maaf juga kalo fotonya terlalu banyak yaa. Sengaja wkwkwk

Advertisements

Road-Tripping with the Kids.

“When traveling with someone, take large doses of patience and tolerance with your morning coffee.”
– Helen Hayes

Duh kayanya kutipan di atas cukup relevan terutama buat yang jalan bareng anak-anak ya ga siiik. Summer holiday tahun ini saya beserta suami dan anak-anak mengisi liburan dengan road trip ke beberapa kota di beberapa negara yang ga jauh dari Belanda. Setelah rencana awal buat mudik ke Indonesia ga jadi (karna saya udah pulang di bulan April bareng si bayi), buat nyenengin anak-anak (dan juga tentu menambah pengalaman kami) saya usul ke suami untuk jalan-jalan pake mobil alias road trip ke negara yang deket-deket aja. Suami setuju dan setelah berembuk akhirnya kami sepakat untuk menjelajah sedikit ke wilayah scandinavia. Alasan awalnya adalah Legoland yang berlokasi di Billund, Denmark. Anak-anak walaupun udah agak besar (dibanding tahun-tahun lalu) mereka masih suka dengan tempat-tempat kaya gini. Kebetulan juga kami sudah pernah berkunjung ke Legoland di Johor Bahru dan  Günzburg, Jerman, makanya saya kepikiran untuk nyoba juga yang ada di Billund. Tapi trus saya pikir kenapa ga sekalian aja ke Copenhagen dan Malmö – toh jaraknya ga jauh-jauh amat (dari Billund) dan kita udah setengah jalan jadi sayang juga kalo ga sekalian dikunjungi. Suami pun setuju, karena dia juga belum pernah ke kedua kota tersebut, jadi buat dia ini juga pengalaman pertama berkunjung ke sana.

Dengan pertimbangan jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke Billund (perjalanan non stop Belanda-Billund memakan waktu kurang lebih 8 sampai 9 jam), kami juga akhirnya menambah stop dan sekalian sight-seeing di Hamburg pada saat perjalanan pergi, dan menginap semalam di satu kota kecil di Jerman (Lütjenburg) pada saat perjalanan pulang. Jadi, untuk road trip kami kali ini rutenya adalah Rumah-Hamburg-Billund-Copenhagen-Malmö-Lütjenburg-Rumah. Lumayan panjang ya hihi.

Rute berangkat (viamichelin.com)

Rute pulang (viamichelin.com)

Rencana awalnya kan suami dan saya bakal gantian nyetir, tapi sayang banget mobil suami yang sudah dipesan ke dealer langganan dia dari jauh hari belum selesai, akhirnya si dealer pinjemin mobil dengan jenis yang sama tapi dengan persneling manual (saya kan supir gadungan, jadi saya ga bisa nyetir pake manual hahaha), alhasil suami deh yang harus nyetir sepanjang perjalanan.

Di tiap kota kami menghabiskan waktu 3 hari, kecuali di Lütjenburg yang memang tujuan utamanya supaya yang nyetir bisa istirahat aja. Buat ukuran berlima (termasuk bayi) dengan lama perjalanan selama 10 hari, bawaan kami bisa dibilang masih masuk akal (at least kalo dibandingin sama mobil-mobil lain yang papasan sama kita di jalan). Selain tentu buggy/stroller plus baby carrier (bawaan wajib), kami bawa satu koper ukuran besar, satu koper kabin, satu tas ransel, satu diaper bag, plus satu tas belanjaan berisi makanan dan minuman untuk anak-anak dan saya beserta suami selama di perjalanan. Agak susah memang kalo liburan dengan jumlah hari yang nanggung kaya gini, terutama buat nentuin berapa baju yang harus dibawa. Saya sendiri kalo untuk pergi-pergian kaya kemarin selalu mengusahakan untuk bawa baju ekstra – terutama underwear dan kaos kaki anak-anak (untuk saya dan suami juga). Selebihnya kami rileks aja, toh kita kan bukan berkunjung ke pedalaman jadi pasti ada supermarket atau toko yang jual barang kebutuhan kita in case kita lupa. Eh tapi ada satu barang yang khusus dibawa anak-anak di perjalanan kali ini, yaitu hagelslag alias meses 😂. Buat jaga-jaga kata mereka, kali aja ga ada yang mereka suka di menu sarapannya hahaha.

Alhamdulillaah perjalanan berjalan cukup lancar (dengan beberapa titik kemacetan di highway-nya Jerman, terutama pas perjalanan pulang), fabian juga lumayan tenang sepanjang jalan. Beruntung anaknya banyak tidur di jalan walau beberapa kali sempat nangis dan merengek sebentar.

Berdasarkan info dari suami, total kilometer yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2200 KM. Banyak ya haha. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak banget jembatan, termasuk Øresundbron yang menghubungkan Denmark dan Swedia, serta Storebælt bridge yang menghubungkan Zealand dan Funen (dengan Sprogø island di tengah-tengahnya) di Denmark. Kedua jembatan ini adalah jembatan berbayar. Biaya tol sekali jalan di Øresundbron adalah sebesar €56 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter dan di Storebælt bridge adalah DKK 240 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter.

Storebælt bridge dari kejauhan (foto dok. pribadi)

Øresundbron – aerial view (image via pfnphoto.com)

Sementara untuk perjalanan pulang dari Malmö kami memilih alternatif lain dengan menggunakan ferry untuk pulang (dengan menyeberang via Jerman). Kami nyebrang dua kali: dari Helsingborg – Swedia ke Helsingör – Denmark, dan Rødby – Puttgarden. Harga tiket ferry ini lumayan juga ternyata sis 😂. Buat yang Helsingborg-Helsingör sekali jalan harga tiketnya sekitar €55 (untuk jenis mobil pribadi yang panjangnya kurang dari 6 meter, durasi nyebrang sekitar 15 menit), sementara Rødby-Puttgarden harga one way ticket-nya adalah sekitar €107 (durasi nyebrang sekitar 45 menit). Jadi kesimpulannya sodara-sodara, kalo punya waktu banyak dan mau agak hemat, dari Denmark ke Jermannya ga usah nyebrang pake ferry tapi muter aja hehe. Ato ambil ferry yang dari Helsingborg – Swedia langsung ke Lübeck – Jerman (lama perjalanan di ferry-nya 8 jam-an tapi wkwk).

Kira-kira beginilah ferry yang kami tumpangi (image via scandlines.com)

Btw, sebelum trip (seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya) saya udah bikin semacam itinerary kasar (banget) dan cost estimation (iya, saya sedetail itu semenjak bekeluarga😂). Walaupun ga mengikat, tapi si itin dan cost estimation ini lumayan bikin perjalanan kami jadi cukup efektif loh, dan untuk estimasi pengeluaran ini bisa kami jadikan patokan kalo nanti di liburan-liburan mendatang kami mau road tripping lagi (ke negara lain deket-deket sini). Yang bikin hepi adalah estimasi saya lumayan tepat, cuma beda €0,01 sis! Dan so pasti jumlahnya jauh lebih kecil kalo dibandingin sama biaya mudik ke Indonesia sekeluarga. 

Anyway, sementara udah dulu yaa. Nanti di postingan selanjutnya insya allah kita cerita tentang Hamburg okeh. Tot zo!

Us ❤ . . . #latepost #family #holiday #copenhagen #littlemermaid #denmark #nofilter #instatravel

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on


“If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness and fears.”
– Cesare Pavese

Throwback Time: Holiday in London.

bigben2

“Nothing is certain in London but expense.” – William Shenstone.

Pengennya si nulis lebih cepet biar ga basi-basi banget gitu ceritanya hehe, tapi apa daya baru sekarang deh bisa kesampaian. Well, better late than never ya =)

We went visiting London last year, during Christmas holiday (on December 24th and return to Holland on December 29th). At first we were a little bit worried actually, because based on some info I have read on internet, during Christmas holiday – especially on the 25th of December – (almost) all London transportation does not operate. This means that there’s a possibility that we could be abandoned and only able to spend the whole holiday in the hotel. That would be sooo zzz. Luckily after spending some time searching again on internet (and a little bit of gambling), we could find a good solution to solve the issue.

We departed from Eindhoven Airport. There are several budget/low cost airlines depart from this airport to London. This is handy for us since the airport is closer to our place. We took a flight offered by Ryan Air and the duration from Holland to London (London Stansted) took around an hour and five minutes. We have arranged for car park close to the airport (we used valet parking from Eazzypark for 2 nights and found a nice offer from Groupon) and from London Stansted Airport to the hotel we used Airport Coach/ Bus Shuttle from Terravision (around an hour drive). We ordered the tickets via internet (the price of one way trip from the Stansted Airport to Liverpool Street (in front of the Liverpool station) is £6 for adult and £3 for child between 5 – 12 years). From Liverpool Street (the distance is approximately 1,2 km) to the hotel we took a short drive by taxi.

During in London we stayed at the Premier Inn London Aldgate. The closest tube station from the hotel is Aldgate East (around 300-500 m), and it is located not very far from the Tower Hill (approx. 1 km). Thus, although it’s not really in the center, the hotel has a nice location to travel around. Plus, they also had family room options, so it’s a very good bargain for us to stay there for the holiday.

We didn’t make any plan to go for sightseeing right away after we arrived. Despite the arrival time we also didn’t want to make the kids feel stressed out and not enjoying the holiday. In the evening we walked a bit to fast food restaurant nearby (KFC – food that taste “friendly” and familiar for the kids) and bought meals there for our dinner. Again we didn’t want to make things too complicated for the kids. Btw, KFC here had other sort of menus than one in Holland, where they also offered rice.

On the second day of the trip (25th), we have booked hop on hop off tour bus. Yes…We were really becoming a tourist on that day :p. It’s not that bad actually, but this was mainly because we didn’t have that many options. Either you walk, or you go with this bus. As I said before, all public transports were not operating on that day (well except Taxis, with double tariff – even triple I think – than normal, and you have to order them in advance). In normal days, there are 3 companies operating hop on hop off tour bus, but on the 25th there were only one operated: one from Golden Tours. The ticket price was twice than normal (around £35 for adult and £15 for child). Crazy, I know..but we didn’t have many options as I told you before, so yeah. The closest bus stop from our hotel was at the Tower Hill. So we walked first from the hotel to the bus stop. The weather on this day was not that friendly. In the beginning it was only cloudy, but the minute we sat in the bus it began to rain. Well, you cannot expect much from London weather during winter eh. Anyway, we stopped at several point of interests, and took some photos from the bus.

Oh, have I told you that most of stores and restaurants were also closed on Christmas day? well there you go. But as far as I know, some pubs and restaurants at Leicester Square or Trafalgar Square were open. We had our lunch also at one of restaurants there. The kids were quite enjoying the day although they got wet and received extra cold from the rain. In the evening we had the Christmas Dinner at the restaurant in the Hotel. The food was not that bad, but also not that special.

famketels1

hello from us =)

bigben3

a closer look to the famous Big Ben.

westminster abbey1

The queue to enter Westminster Abbey. LONG!

StPauls Church

St. Paul Church. Looks grande =)

DSC_1261-1

The Shard on a distance.

On the next day (the 26th), the initial plan was to visit the London Eye. There were not so many options to be done on the 2nd day of Christmas in London, because most of attractions or public interests such as museums or historical places were still closed for public. However that didn’t happen. Before we went to London, I actually have suggested my husband to buy the ticket in advance via internet. However, he thought that we could just buy on the spot, because he didn’t want to be attached on one date only (the ticket date is fixed and cannot be changed). I agreed to this and thus we went to the London Eye and went to get the ticket there. When we reached the London Eye, the queue on the ticket booth was already looong, and when we reached the booth the officer told us that apparently we couldn’t buy family ticket (valid for 2 adults and 2 children) there and instead they only offered us the individual ticket. The price difference between family ticket and individual ticket was quite significant, and because of this we then decided to just go back the next day and buy the ticket online.

What did we do then on that day? After having a quick lunch at Subway nearby to the London Eye (my kids and husband are a fan of Subway btw hehe), we then went to watch Starwars VII at Leicester Square. After the movie we just strolling around the China Town, Trafalgar Square and of course Leicester Square :D. Btw, I didn’t recommend to watch movies at cinemas in London. It’s freaking expensive! For the four of us we had to pay like almost £100 for 3D movie. That’s crazily expensive even if you compare to the price in Holland (apalagi dibanding sama harga di Indonesia ya..jauh!). Before we went back to the hotel we took dinner at a Chinese Restaurant in the surrounding of Leicester Square.

O ya, on the second day of Christmas the public transports were already available, but with a holiday schedule (longer waiting time). The advantage of using public transport in London is that for any children up to 16 years who travel with adult(s) are free of charge. There are several options if you happen to be a tourist here: pay per trip, using travel card (with some options of validity period), or using Oyster Card (refillable). We used Oyster Card for transportation instead of Travel card, because we think that its the most efficient one for us. I still have my old Oyster with some credits in (from my previous visit in 2012 for work), thus we only need to buy another one for my husband. It was handy indeed 😉

chinatown1

The Gate to Chinatown.

leicester square1

Leicester Square.

trafalgar square

The front part of the National Gallery, located in front of Trafalgar Square.

DSC_1096

Super tall Christmas tree at the Trafalgar Square.

On the 27th, we went back again to the London Eye, this time with the entrance tickets in hand ;). It was nice to see some parts of London from above. The London Eye is similar with the Singapore Flyer, only the size is a bit smaller. The technology they use here is also the same, and made by the same engineer (if I’m not mistaken). The duration for one round (standard ticket) is approximately 30 minutes. It’s pity that during our turn the weather was again not that friendly for us: quite gloomy with some drizzles pouring down a bit. But anyway, it still nice for the kids (and my husband and I) to have the experience 🙂

A short info, I just checked the official London Eye website, apparently the family ticket has no longer being offered. The standard ticket for adult if you buy online is around £21 and for a child is around £16-17 (if you buy on the spot the price is around £28 for adult and £20ish for child).

Afterwards, we then went by the subway (they called it as “tube”) to the Tower of London. We had prepared our tickets and bought them via internet before we flew to London. The Tower is quite big, but still can be visited within a day. One of the interesting part of the Tower is of course the Crown Jewels Room where the Royalty kept the royal regalia, including jewels, plate, and symbols of royalty such as the crown, sceptre, and sword there. No guests are allowed to take any picture inside (due to security reason I guess).

DSC_1398-1

The Emblem of King George VI, Royal Fortress of The Tower of London

DSC_1403-1

One side of the Tower of London.

DSC_1302-1

A raven seen at the Tower of London. Why does the Tower of London have ravens? A guide told that the ravens are part of an old superstition that, if the ravens leave, the tower will fall down, and there will no longer be a king or queen.

DSC_1199-1

The White Tower

guards tower of london

The Guards and the canon in front of the Crown Jewel Room.

DSC_1253.JPG

You have to queue for quite some time to enter the Crown Jewel Room.

DSC_1386-1

The Tower Bridge in a closer look.

After the visit, we went back to hotel. For our dinner, my husband and I went for a walk to grab a take away of Fish and Chips at a restaurant nearby. We tried the very typical english(y) meal at its own original place for the sake of curiousity (and hunger of course =)). I did a bit of research on internet to find a recommended fish and chips resto around our location and I found this one resto called Poppie’s. The taste was quite good although it’s not exceeded my expectation.

poppies-fish-chips

Nice interesting box eh (ignore the oily part :p)

On the 28th, finally major musea were open for public. London I think is famous for their museum, and as some of you might already know, the entrance to most of musea in London are free of charge (unlike other attractions where you have to pay like crazy). That is why I think many people (tourists as well as the Londoners) like to come there. O ya, most parks (gardens) here are also free to visit, but then I would suggest to come preferably NOT in the winter season (find a time with the least chance of raining :p).

One of the most acknowledged museum here is of course the British Museum, located in Bloomsburry area (if I’m not mistaken). Another famous one(s) among them are the Science Museum, The Natural History Museum, and the Victoria & Albert Museum of Art and Design (V&A Museum). The nice thing with these three museums are that they located closely one to each other (at Exhibition Road – South Kensington). We actually planned to go to the British Museum after we visit the three museums, but by the end of the day we couldn’t make it. O ya, be prepare for a long queue, especially when you want to enter the Science Museum and The Natural History Museum. But probably it was also because of holidays then the museums were quite full.

street musician

A street musician we found in the tunnel from the Underground stop (South Kensington) heading to Museum area.

The first museum we visited was the Science Museum. According to wikipedia, the Science Museum was founded in 1857 and today has become one of the city’s major tourist attractions, attracting 3.3 million visitors annually.

The museum also has several areas dedicated to children where they can explore and play. On the ground level you’ll find a sensory exploration area that’s fun for younger kids and a few floors up there are also area for older kids where they can experiment, play and discover.

DSC_1417-1

part of Making the Modern World Gallery inside the Science Museum, ground floor.

DSC_1411

I see Indonesia here 😉

After the Science Museum, due to the intimidating queue at the entrance of the Natural History Museum, we then went to the V&A Museum located across the street of the Science Museum. It was a very short visit, because the kids were complaining and the museum was not as they expected. In their mind, the museum was a place where they would find toys and other interesting stuff related to toys and playing. Apparently it was more serious than what they have thought. We only strolled around on the ground floor, took a bit of photos and then decided to just go to one of the oldest toy store in the world, Hamleys, located at the Oxford Street. But again, the store was so crowded it gave us a headache even to just look around. The kids also were not too excited because of this. So we just did a round from first floor to the last (it has five storeys) and then went back to South Kensington to try our luck of getting into the Natural History Museum.

ceiling V&A museum

The ceiling at the entrance of V&A Museum

O ya, at V&A Museum you can find various art pieces from (almost) all over the world, with many kind of forms such as statues, calligraphy, books, or even a carved tusk.

V&A1

One of interesting piece of art found at V&A Museum

hamleys-toy-store-355729

The very busy Toy Shop. I think during holidays the situation is always like these. image via http://www.express.co.uk

DSC_1520

Lego version of the Imperial State Crown.

DSC_1523-1

Lego version of the Queen, together with her dog. This lego can be found at Hamleys – Oxford Street.

DSC_1524-1

Typical of coffee shop you can find around London.

When we got back to museum area, the queue in front of the Natural History Museum was not as long as the first time we arrived. And since the kids didn’t mind to wait in line, we decided to join the queue. If you are a Dino fan I think you will like this museum. It has alot of things related to Dinos. They have a special section for displaying all the dinos and “the living” T-Rex. Even in front of the entrance of the museum you will be welcomed by a giant dino skeleton :p. Bear in mind that you have to queue again inside to enter this special section. Beside dinos, this museum also have many other interesting displays, including animals from around the world (they have a stuffed dodo!), also various kind of stones from the earth. The building itself is very extravagant (typical old big buildings in the UK). You can really see that this museum has been there for quite a while.

DSC_1532-1

Interesting dinosaurs skeleton you can see at front part of the Natural History Museum.

DSC_1586-1

Super nice and extravagant exterior of the Natural History Museum.

DSC_1587-1

Merry go Round in front of the Natural History Museum.

We stayed at the Museum until closed (around 7 p.m. if I’m not mistaken). And then we went to Leicester Square again to look out for dinner. Since it’s weekend, most of the restaurants were quite full. Luckily we could get a table at Pizza Express (without reservation) although we had to wait for 30 minutes at the bar to be seated. This Pizza Express Resto is the same like one in Indonesia (previously called as Pizza Marzano – and then changed name into Pizza Express). We liked all the food here, as well as the drinks. And before we were done, they gave chocolate praline for each of us. Lekker klein toetje voor ons 🙂

Finally we went back to Holland on the next day. We had our breakfast at the hotel, took a taxi to the Liverpool Street, and then went to the Stansted Airport by the same shuttle service as before. All in all it was quite a nice holiday for us (although for some days we had quite lousy weather). Just too bad we didn’t have a chance to visit Harry Potter Studio (all were fully booked!), the Stonehenge, the British Museum or other touristic things in the surrounding. I guess we just have to visit UK one more time in the future. And moreover, preferably combine the visit to other cities around London as well.

The Kid’s-Friendly NEMO Science Museum, Amsterdam

Sebulan lalu, sewaktu anak-anak sedang liburan musim gugur kami memutuskan untuk berkunjung ke NEMO Museum yang berlokasi di Amsterdam. Sebenernya rencana pergi ke NEMO ini udah cukup lama, sejak mereka sedang liburan musim panas, dan kebetulan waktu itu sedang ada offer dari emté buy 1 get 1 untuk entrance-nya (semacam itulah kira-kira). Tapi apa mau dikata, rencana berubah karna ternyata saya harus melahirkan lebih awal. Anyway bersyukur anak-anak cukup mengerti dengan kondisi kami saat itu dan ga merengek ato jadi bete karna ketunda perginya.

NEMO di sini beda sama yang ada di film ya hehe. Ini bukan akuarium, bukan juga museum tentang ikan. Jadi NEMO itu kepanjangan dari New Metropolis (correct me if I’m wrong), ini semacam pusat sains dan teknologi dimana kita bisa ikut terlibat dan ikut nyoba hal-hal yang berbau sains dan teknologi di “proof garden” mereka ini. Selain bentuk gedungnya yang unik, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana juga cukup seru.

Harga tiket masuk ke Museum ini adalah sebesar €15 per orang (untuk pengunjung usia 4 tahun keatas). Buat yang punya student card harga tiketnya adalah €7,5. Sementara untuk mereka yang punya kartu khusus seperti IAMsterdam card atau Museumkaart entrance-nya gratis. Kebetulan kami memang udah lama rencana mau buat museumkaart dan anak-anak juga sekarang sudah cukup besar untuk bisa menikmati museum-museum yang jumlahnya buanyak banget di sini, maka akhirnya kami sekalian daftar di sana.

Museumkaart ini lumayan banyak benefit-nya dan tentu handy buat yang suka dengan museum. Fyi, museumkaart bisa digunakan untuk akses masuk ke sekitar 400 musea yang tersebar di seluruh Belanda (beberapa museum yang termasuk dalam list antara lain Anne Frank Stichting, Rijksmuseum Amsterdam, Van Gogh Museum, Museum Het Rembrandthuis, NEMO, Space Expo, Openlucht Museum di Arnhem, dan masih banyak lagi lainnya). Untuk info lebih lanjut tentang museumkaart bisa klik link ini ya (the link is in Dutch, tapi cukup gampang untuk diikuti kok, ato ga cukup aktifkan google translate seandainya berminat hehe).

Sekarang kembali ke NEMO. Museum ini terdiri dari 5 lantai plus satu lantai di bawah untuk tempat penitipan jas, ticket box dan beberapa display yang cukup menarik (ada jam raksasa di bawah ini hehe). Di depan museum ada semacam fountain ato kolam gitu beserta ember-ember membentuk kincir dan berputar.

nemo_museum_entrance

the entrance (image via http://www.mikimedia.org)

Di setiap lantai tema yang diangkat  berbeda-beda. Oh ya, satu hal lain di luar konteks museumnya sendiri yang bikin tempat ini nyaman untuk dikunjungi adalah adanya cafe corner di setiap lantai (kalo restroom si hampir pasti lah ya). Jadi kalo udah cape jalan, bisa istirahat sebentar sambil jajan-jajan hehe.

Lantai 1 museum ini bertemakan “Fenomena”. Di lantai ini kita bisa belajar mengenai bagaimana sains bekerja. Kita bisa ikut melihat (dan merasakan) bagaimana cahaya, suara dan listrik statis bekerja, juga bagaimana menghasilkannya. Beberapa aktivitas yang cukup diminati di lantai ini termasuk the plasma ball (yang kalo kita sentuh trus kita terhubung dengan electricity light), giant bubble forming (balon yang dibuat pake sabun/busa tapi dalam versi raksasa), belajar tentang suara dengan menggunakan dua audiophone raksasa yang ditempatkan jauh terpisah, belajar tentang cahaya melalui cermin dua refleksi, dan juga aktivitas yang menggunakan magnet. Di lantai ini juga setiap harinya di atrium hall yang juga terletak di lantai ini ada special event yang biasanya juga melibatkan para pengunjung. Pada waktu kami berkunjung kami sempat ikut menyaksikan apa yang mereka sebut “chain reaction”, semacam domino effect tapi menggunakan peralatan yang tidak biasa seperti bola, kursi, bahkan balon dan roket mini.

dsc_3253-2

The plasma ball (photo: private collection)

nemogroup

The Chain Reaction (image via http://www.bilimgezi.com)

Lantai 2 bertemakan “Technium”. Sesuai namanya, di lantai ini lebih kepada aktivitas (dan display) yang terkait dengan teknologi. Kalo kata website-nya, dengan teknologi maka kita bisa memperbaiki dan membentuk dunia. Di lantai ini ada ruang khusus yang disebut “the maker space” dimana anak-anak bisa ikut merancang, membuat, mengetes dan memperbaiki produk teknik sederhana yang bisa mereka bawa pulang sebagai souvenir. Di lantai ini juga terdapat erasmus bridge mini dan satu section khusus untuk mengetahui tentang pengelolaan air dan bagaimana cara mencegah banjir di Belanda. Selain itu ada juga mesin logistik dengan permainan interaktif mengirim barang ke seluruh dunia. Ada juga spinning wheel raksasa dengan pecahan segitiga dimana kita bisa membentuk sesuatu sambil belajar matematika. Sebenernya masih banyak lagi yang menarik di lantai ini, tapi saya bingung mau jelasinnya haha. Menurut saya aktivitas di lantai ini adalah yang paling menarik di antara lantai-lantai lainnya (walaupun juga gak kalah menariknya).

dsc_3263

The mini Erasmus Bridge (photo: private collection)

nemo-site-header-974x584

The world of form (image via http://www.studiolouter.nl)

DD332727

The Optical Illusion (image via studiolouter.nl)

water-world-nemo-amsterdam

Part from the water world (image via http://www.mikestravelguide.com)

dsc_3261-2

You can find this useful information in one of the restrooms :p (photo from private collection)

Di lantai 3 tema yang diangkat adalah “Elementa”. Di sini kita bisa belajar tentang hal-hal yang terkait dengan elemen yang ada di jagad raya ini. Di lantai ini ada juga ruang teater dimana kita bisa ikut nonton semacam 3D documentary movie tentang ruang angkasa. Durasinya kurang lebih selama 15 menit dan jumlah kursi yang tersedia cukup banyak (sebenernya saya agak ragu apakah teater ini adanya di lantai 2 ato 3 si haha, maafkan ya kalo ternyata saya salah kasih info :D). Selain itu, di lantai ini anak-anak bisa ikut belajar dan bereksperimen di ruang laboratorium yang khusus dibuat dan terbuka untuk pengunjung. Jangan khawatir, di sana lumayan banyak lab guide-nya kok, jadi kalo kitanya ga tau mau ngapain mereka akan bantu.

dsc_3275-2

Our young scientists 😉 (photo from private collection)

dsc_3274-2

The view of Amsterdam taken from inside the Museum (photo: private collection)

Lantai selanjutnya yaitu lantai 4 bertemakan “Humania”. Di sini pengunjung belajar tentang siapa diri kita, perubahan yang terjadi pada anak-anak yang beranjak remaja, bagaimana otak kita bekerja, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, rupa wajah, motorik, dan emosi. Selain itu di lantai ini juga ada ruang khusus yang berisi display perkembangan sains dan teknologi beserta proyeksi masa depan khususnya di Belanda.

wlanl_-_petertf_-_brein_boom

Image via wikipedia

dsc_3278-2

Berbagai macam jenis lampu dari Philips – salah satu sponsor Museum ini (photo: private collection)

Lantai teratas mengangkat tema “Energetica”. Di lantai ini di dalam gedung sendiri adalah restoran dengan konsep cafetaria. Sementara untuk proof activities nya sendiri berlokasi di luar gedung, tepatnya di rooftop square. Rooftop square ini sebenernya bisa diakses secara gratis loh. Jadi dari lantai 5 rooftop ini ada tangga menuju ke bawah sampai ke trotoar jalan dan semua orang bisa naik tanpa perlu tiket (mereka baru akan mengecek tiket di dalam gedung dekat lift dan tangga turun). Rooftop square ini keren banget menurut saya (lebih keren dari rooftop view di SkyLounge Hilton Hotel). Mereka mengkombinasikan sains dan teknologi (terutama yang berkaitan dengan energi di sekitar kita seperti angin, air dan surya) dengan sesuatu yang bikin kita betah stay di sana. Selain ada panorama spot (kamu bisa bikin foto panorama pemandangan kota Amsterdam yang keren di spot ini), ada juga sundial yang berinteraksi dengan bayangan tubuh kita, kursi-kursi dengan solar panel, dan spot untuk bermain dengan air di water fountain dan water wheel.

nemo-energetica-2

The Sundial with your shadow as the face (image via http://www.energy-floors.com)

dsc_3279-2

(photo: private collection)

dsc_3281-2

The moving sculptures (photo: private collection)

dsc_3285-2

The scheepvaartmuseum seen from the rooftop (photo: private collection)

dsc_3286-2

(photo: private collection)

dsc_3287

(photo: private collection)

dsc_3288-2

(photo: private collection)

Overall, museum ini sangat layak untuk dikunjungi baik untuk dewasa maupun anak-anak. Cuma aja perlu diinget kalo weekend biasanya museum ini lumayan padat. Hal ini bisa sedikit diakali dengan datang lebih awal kali ya hehe. Satu tip lagi buat yang mau berkunjung ke sini pake kendaraan pribadi (mobil). Udah pada tau dong ya kalo parkir di Amsterdam itu lumayan mahal tarifnya. Dari situs NEMO saya baca kalo mereka memberikan potongan harga buat biaya parkir kalo kita parkir di tempat parkir tertentu. Tapi sebaiknya si menurut saya mobil diparkir di P+R Parking Area Amsterdam Arena (apalagi kalo kita mau jalan-jalan di sekitar Amsterdam central juga), dan dari situ cukup naik Metro ke Amsterdam Central Station (atau bisa juga turun di Niewmarkt station). Dari Amsterdam Central Station kita tinggal jalan sedikit (sekitar 1 KM lah). Tarif parkir di sini sekitar €8 dan ini udah termasuk maksimal 7 tiket GVB (tiket buat tram, bus dan metro) yang bisa dipake seharian (1 jam dari aktivasi tiket pada saat pertama kali tap untuk rute pergi/keluar dari tempat parkir, dan ketentuan yang sama untuk tiket kembali ke tempat parkir). Tiket ini jangan dibuang, karna akan diperlukan pada saat kita bayar parkir nantinya.

Okeee, sekian dulu cerita kali ini ya, sampai jumpa di postingan lainnya :p

ps.
mohon maaf ya, berhubung saya agak repot sama bayi dan anak-anak yang tiap waktu minta mamanya ikut liat aktivitas mereka, saya cuma bisa ambil foto beberapa kali. Selebihnya saya ambil dari berbagai sumber di internet kurang lebih sebagai referensi temen-temen aja.

Reminiscing the Trip To Alsace Region, France

Alsace is the Germanic region of France. It is a region lying on the west bank of the river Rhine, between the Rhine and the Vosges mountains. To the north and east it shares a border with Germany; to the south with German-speaking Switzerland, and to the west with Lorraine and Franche Comté.

From 1982 until January 2016, Alsace was the smallest of 22 administrative regions in metropolitan France, consisting of the Bas-Rhin and Haut-Rhin departments. Territorial reform passed by the French legislature in 2014 resulted in the merger of the Alsace administrative region with Champagne-Ardenne and Lorraine to form Alsace-Champagne-Ardenne-Lorraine.

Historically speaking, Alsace was part of the German-speaking area of central Europe, and to this day a large proportion of the population, of all generations, speak or understand Alsacian, a dialectal form of German closely resembling the German spoken in Switzerland.

In the last two centuries, Alsace has passed from Germany to France and back , and back again; consequently, it is a region that was not part of France at the time of the makings of the modern-day nation, and has held on to a number of institutional differences, particularly concerning religious affairs. For example, Good Friday is a public holiday in Alsace, but not in the rest of France; and in Alsace, priests are paid by the state.
*information partly derived from wikipedia and about-france.com.*

Back in 2011, right after a work-related thing I have done in Durban, South Africa, I decided to continue my trip and have a bit of a break, went to Europe for couple of days to meet my friend who lives in Brussels instead of going back straight to my homeland, Indonesia. Although it was not recent, I think the experience is still worth to share here. However I’m sorry if the post is a bit too long, it’s just that so many things I can share from the region. I hope you will enjoy it anyway 🙂

It was in October, and the weather was pretty decent and not too cold at that time (although at one point we had a 0°c in the middle of the night). We have made a plan to make a short getaway to a place where we both never been visited before. We wanted to do the trip by car, because we thought that would be more convenient for us, thus we sorted out few options where we could go with reasonable amount of driving time yet still interesting for us to visit. Both of us like nature, some kind of gothic-medieval architectures, and castle thingy stuff. After some research, we then decided to go visit Alsace area, with a stop by at Luxembourg.

The driving duration from Brussels to Alsace (Strasbourg) is around 5 hours non stop. We went from Brussels in the evening around 6-7 p.m after my friend finished his work. It was a rush hour thus we got a bit of a traffic in order to get out from the city center. The driving time from Brussels to Luxembourg itself is around 2,5 hours. A bit out of the topic, Luxembourg is also an interesting place to visit. But in order to make this post a bit less longer (which already long due to the photos) I will share it some other time in another post 🙂

Three biggest cities in Alsace region are Strasbourg, Mulhouse, and Colmar. Strasbourg and Colmar are quite known for their beautiful old town and its historical places. The distance between both cities is quite reasonable and for those reasons we then decided to visit both the cities. Of course with the visit to the famous Chateau Du Haut-Koenigsbourg (the Chateau is located in between).

Strasbourg

Strasbourg is the capital of Alsace region. Situated on the banks of the river Rhine, Strasbourg is known for its historical and cultural sights, as well as its specific, picturesque ambiance. Strasbourg is also known as a capital of Europe – with the Council of Europe and the Eurocorps, as well as the European Parliament and the European Ombudsman of the European Union located there. The city is also the seat of the Central Commission for Navigation on the Rhine and the International Institute of Human Rights.

From the first time we arrived, we got instantly amazed with how beautiful the surrounding was. After checked in at the hotel, we then right away started to explore the surrounding.

CIMG2379-1

Typical buildings you find in Strasbourg, especially around the city center. It’s very lovely with those colorful flowers isn’t it?

CIMG2381-1

A hospital in the city center.

We also had a chance to visit Strasbourg Cathedral or the Cathedral of Our Lady of Strasbourg (French: Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg, or Cathédrale de Strasbourg, German: Liebfrauenmünster zu Straßburg or Straßburger Münster), also known as Strasbourg Minster. It is a Roman Catholic cathedral with some part of the cathedral still in Romanesque architecture. However the cathedral also widely considered to be among the finest examples of high, or late, Gothic architecture.

The Cathedral, as any other cathedrals I have visited, has a very beautiful architecture and surrounding. The main hall in my opinion was almost similar to the Kolner Dom in Cologne, Germany. In this Cathedral there is an astronomical clock which has been built since 1843 (this was the third one built since the first clock built in 14th century). Its main features, besides the automata, are a perpetual calendar (including a computus), an orrery (planetary dial), a display of the real position of the Sun and the Moon, and solar and lunar eclipses (wikipedia).

It was pity that I couldn’t capture any decent pictures to be displayed here. It was mainly because when we got there it was already almost dark. I posted here some of the images I got from wikimedia to give a little glimpse of the Cathedral.

CIMG2407-1

During our visit, there were an exhibition about Climate with some displays as above at the plaza around city center. I found one of them that interest me, mainly because of “Indonesia” word in it 😀

On the second day we continued our city exploration to the Petite France district which famous for their black (or dark brown) and white timber-framed buildings.

Petite France forms part of the UNESCO World Heritage Site of Grande Île (an old quarter that exemplifies medieval cities), designated in 1988. It is located at the western end of the Grande Île (it is literally means “large island” which derived from the fact that it is surrounded on one side by the main channel of the River Ill and on the other side by the Canal du Faux-Rempart). Here in Petite France, the River Ill splits up into a number of channels that cascade through an area that was, in the Middle Ages, home to the city’s tanners, millers and fishermen, and is now one of Strasbourg’s main tourist attractions.(wikipedia).

CIMG2432-1

CIMG2418-1

The Maison des Tanneurs, Petite France.

CIMG2421-1

Place Benjamin-Zix, Petite France

CIMG2424-1

Half-timbered houses and the Ill river bank as the background with younger version me 😉

There were still lots of things to be seen here in Strasbourg actually, but after having lunch we decided to just go heading to our next destination. It was a very nice visit, and for sure I would love to go here again some other time 🙂

Chateau Du Haut-Koenigsbourg

Our second destination of our trip (well, the third if you also count Luxembourg actually) was the Chatau Du Haut-Koenigsbourg. We started our trip after having a short lunch in Strasbourg. The scenery during the road trip was very stunning. We passed by a village that has a very beautiful corner and instantly we decided to stop and took some pictures there :p

The village was very quiet. I don’t think we met any living person there except some cars parked as seen in pictures.

CIMG2442-1

CIMG2444-1

CIMG2447-1

After driving passed the village, we again served with another amazing view. This time was a series of vineyards. It was so beautiful again we decided to just stopped by and took some pictures as well. It became even more magical because of the mist presented in the air. Correct me if I´m wrong, but I think these vineyards are parts of The Alsatian Vineyard Route.

CIMG2452-1

CIMG2454-1

The road we need to pass to reach the Chateau / the Castle was quite hilly. It reminded me a bit to the road around Lembang, Bandung. With pine trees on the surrounding as well as its winding road (just a tiny bit colder here hehe). The moment we reached the Castle, we had to park the car a bit further from the Castle. And then, when we walked to the Castle I got this magical view (again!) in front of my eyes. Its almost like surreal how it look ya. Those hills are vineyards by the way.

CIMG2458-1

Based on the information I read from several websites, the Chateau Du Haut-Koenigsbourg (or Haut-Koenigsbourg Castle) was built in a very specific manner, in a way, it was carved in into the rocks standing on the top of the mountain as to preserve its natural strategic and defensive position (at that time). On a glimpse, it was built somewhere around 1147 by Frédéric le Borgne, duke of Souabe and a member of the Hohenstaufens family who wanted to reinforce his power in Alsace by building a defence line made of castles placed all over the region. During the Thirty Years’ War (1618-1648) the Castle was conquered by the Swedish army and was burnt to the ground. After that, the Castle was left abandoned for more than 200 years until in 1865 bought by the nearby town of Sélestat. In 1871 Alsace became a part of Germany and the city of Sélestat offered the castle ruins to Kaiser Wilhelm II. The German Emperor decided to continue the restoration (which already being done partly by the city of Sélestat). After the Treaty of Versailles in 1919, the castle was once again in possession of France.

If you are interested to know more about the Castle including the complete history of it, you can check this link or their official website.

Pictures I attached here mostly (or all) were taken from inside the Castle. I didn’t put much photos of the inside parts of the Castle because I think the view we got from inside the Castle were more breathtaking and worth to share than the details of the rooms. It’s not that the inside not special, but I guess you will be able to picture how a Castle along with its rooms look like :).

chakoe

Aerial view of Château Du Haut Koenigsbourg (image from http://www.destination-haute-alsace.com)

CIMG2475-1

CIMG2477-1

CIMG2503-1

CIMG2507-1

CIMG2509-1

We were quite lucky during our visit the Castle was not that crowded with visitors. I guess it was a bit too cold for some people visiting the Castle at that time. But because of this I was able to take some picturesque scenes without any disturbance from other tourists :p

O ya, one thing to mention, in the entrance of the Castle you can find a miniature of the Castle, complete with some explanations (if I’m not mistaken).

Colmar

After we were done exploring the Castle, we continued our trip to our last destination – Colmar. The distance between the Castle and Colmar was not that far (around 26-30 kilometers). Although the view on the road was not as interesting as the trip from Strasbourg to the Castle, not that far from the Castle we found a nice scenery of a church located in the middle of a hill. It is actually a bit typical French (with their beautiful small villages spread across the hilly land – so different with the Netherlands who only has flat view hehe), but we stopped by anyway to capture some of the sight as well.

CIMG2523-1

CIMG2532-1

The moment we entered city of Colmar, I found one interesting thing there. They apparently also have their own Statue of Liberty =). The size is not that big, it’s more of the mini liberty, just like the one I saw in Odaiba, Japan.

Apparently according to Colmar Tourisme website, it was sculpted to commemorate the 100th death anniversary of the sculptor Auguste Batholdi, who was born in Colmar and created the “Liberty lightening the world” (The Statue of Liberty in New York). The Municipality of Colmar has placed the replica in the northern entrance to the town.

CIMG2542-1

the 12-meter high replica of the statue of liberty

Colmar has rather a lot of more recent development around the edges, but at the center you will see a lovely view of the old town with street after narrow street of half-timbered, half-painted houses (almost similar to the old town of Strasbourg).

If Strasbourg has Petite France, then Colmar has Petite Venise (The little Venice). This name probably came from the original line of the houses on both sides of the river, which serves the southeast of the city. (tourisme-colmar)

P1100585-1

The Tanner’s District is constituted from high wood framing houses and half timbered houses, mostly dating back to the 17th and 18th centuries. The houses were used by tanners who worked and lived there with their families. They were also used for drying out their skins on the upper floors, often with an openwork design. The tanner’s district was renovated between 1698 and 1974. The renovation gave back its beauty to this village in the heart of the city.

P1100582-1 colmar

P1100581-1 colmar

Musée d’Unterlinden (Unterlinden Museum)

CIMG2573-1 colmar

CIMG2570-1 colmar

CIMG2567-1

One of the most interesting buildings in Colmar: the Saint Martin Church. Built between 1235 and 1365 the Saint Martin’s collegiate church is an important example of Gothic architecture in Alsace. Because of a fire in the south tower in 1572 the framework and all the roofs were destroyed. The tower was replaced three years later by the original lantern bulb (a construction on the top of the dome which has the form of a lantern) which gives the Church its characteristic silhouette. The church has been restored several times. In 1982 during the most recent restoration, foundations of a church from the year 1000 and traces of extensions from the 11th and the 12th centuries were found (Colmar Tourisme).

CIMG2576-1
The Koïfhus or the former customs house. It is the older public local building and had from its creation a double function. The ground floor was used as a warehouse and as a place of taxation for imported and exported goods. The floor was used for the meetings of the deputies of the Décapole, the federation of the 10 imperial cities of Alsace, which was created in 1534. The Magistrate also met there. The revolution abolished commercial privileges and the building was used for other uses. Around 1840 a theatre took place there and in 1848 the first office of the discount bank. The Koïfhus was occupied by the Chamber of Commerce and Industry from 1870 to 1930 and by a catholic boy school and an Israelite school in the late 19th century. Today many manifestations and public activities take place here (Colmar Tourisme).

It’s pity that we couldn’t explore Colmar as much as Strasbourg. I guess we were already quite tired from the trip and with the driving hours back to Brussels taken into account, we decided that it was about time for us to go. I think it was also because most parts of Colmar were almost look alike what we saw in the old town of Strasbourg, we got less wow-ed with what Colmar offered to us. We didn’t regret it though (not at all!), because we still got some superb view of the city. I just have to revisit the city one more time and explore the city again more thoroughly 😉

 

Mengurus UK Entry Permit (For Family of EEA Citizen)

Berhubung masih lumayan fresh, saya mau sharing pengalaman saya awal Desember kemarin mengurus entry permit ke Inggris (UK) bagi keluarga (yang berstatus sebagai warga negara Non-Uni Eropa) dari warga negara anggota EEA (European Economy Area).

Yang termasuk ke dalam EEA adalah negara-negara anggota European Union (28 negara), dan tiga negara yang tergabung dalam European Free Trade Association/EFTA (Islandia, Liechtenstein dan Norwegia). Sementara Swiss walaupun tidak tergabung dalam EEA, warga negaranya (Swiss Nationals) memiliki hak yang sama dengan warga negara anggota EEA.

image taken from http://www.dw.com

Sebenarnya peraturan ini agak aneh menurut saya, mengingat adanya aturan tentang freedom of movement yang merupakan salah satu prinsip dasar EU. Tapi bisa juga dilihat dari gambar di atas, kalo Irlandia dan Inggris tidak ambil bagian dalam perjanjian Schengen. Saya nemu artikel menarik dari BBC yang menjelaskan secara singkat tentang Schengen dan free movement. Selengkapnya bisa klik link ini.

Memang untuk warga negara EU-nya (atau lebih luas lagi, EEA plus Swiss) sendiri bebas keluar masuk wilayah Inggris (termasuk pindah dan kerja di sana tanpa perlu mengurus working permit lagi), tapi lain halnya dengan pasangan (atau anak atau orang tua) dari warga negara EEA dan Swiss yang statusnya bukan warga negara mereka (Non-EEA or Swiss citizen). Untuk bisa melewati perbatasan Inggris, mereka perlu ijin masuk (entry permit) yang sebelumnya sudah disetujui dan diberikan oleh pemerintah Inggris. Entry Permit ini pada dasarnya hampir sama dengan visa, hanya beberapa hal aja yang berbeda, plus kita tidak perlu bayar apa-apa alias gratis. Ribetnya? sama juga kaya ngurus visa hehe, walaupun sedikit lebih longgar dari sisi kelengkapan dokumen yang diperlukan. Jadi bagi mereka yang mungkin perlu mengurus visa UK juga bisa lihat prosesnya di sini.

O ya, kita bisa mengurus entry permit ini sendiri tanpa perlu bantuan agen ya. Lamanya juga ga begitu jauh beda (dengan kalo diurusin agen). Jadi kalo masih ada jarak waktu yang lumayan (kita bisa apply 3 bulan sebelum waktu keberangkatan) saya saranin untuk urus sendiri aja. Lumayan juga untuk nambah pengetahuan dan pengalaman 🙂

Lamanya pengurusan mulai dari pertama kali aplikasi di-submit secara online hingga visa/entry permit sampai di tangan adalah sekitar 2-3 minggu. Lumayan lama ya hehe. Di tahun 2012 saya juga pernah mengurus visa UK, bukan di Belanda tapi di Jakarta. Seingat saya proses pengurusannya lebih cepat, tapi mungkin juga karena keperluannya untuk urusan kantor pemerintahan. Fyi, pengajuan visa/entry permit UK bukan di Kedutaan atau Konsulat Inggris ya, melainkan di agen tertentu (sebagian besar VFS Global) yang ditunjuk secara khusus oleh pemerintah Inggris. Untuk Indonesia, proses pengurusan visa dikelola oleh VFS Global – Indonesia, sementara di Belanda dikelola oleh TLS Contact. Intinya mereka bertindak sebagai perantara antara pemerintah Inggris dan para pemohon.

Saya sempet baca di website resmi mereka, kalo biaya untuk standard visit visa adalah £85. Sekali lagi, kalo untuk entry permit kita ga perlu bayar sama sekali alias gratis ya.

Pertama-tama, yang harus kita lakukan adalah membuat akun (registrasi) dan mengisi aplikasi secara online di website UK Visas & Immigration. Walaupun per 2014 mereka hanya menerima aplikasi secara online, tapi mereka masih menyediakan link untuk form aplikasi yang bisa kita print di website-nya (you can click this link). Ini lumayan buat corat-coret kalo kita masih belum yakin dan mau tau apa aja yang harus kita isi di aplikasi online mereka. Juga untuk pedoman pengisiannya agak lebih jelas daripada yang di online. Fyi, dari satu akun yang sama, kita bisa membuat aplikasi untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Informasi yang harus kita berikan di sini lumayan banyak, mulai dari data pribadi seperti nama lengkap tanggal lahir alamat, riwayat pekerjaan, perjalanan luar negeri yang pernah dilakukan, data lengkap warga negara EEA (kayanya kalo untuk visa ga ada bagian ini), asuransi, estimasi biaya perjalanan dan jumlah uang yang akan kita bawa sampai apa saja yang akan kita lakukan selama di Inggris.

Satu hal yang buat saya agak ganggu adalah pertanyaan mereka yang terlalu detail tentang hubungan WN Non-EEA (saya) dengan WN EEA nya (suami saya). Mereka sampai nanya kapan pertama kali ketemu (HARUS diisi sampai tanggal-tanggalnya), bagaimana kita berkomunikasi, status kami sebelumnya, daaan kapan terakhir kita ketemu lohhh (peres ya mau tau banget semuanya wkwk). Buat saya ini terlalu personal dan ga berhubungan dengan apakah kita eligible untuk diberikan ijin atau tidak. Tapi kalo ga diisi kita ga bisa submit aplikasi kita karena dianggap belum lengkap (sigh). Jadinya walaupun berat hati saya isi juga seluruh data yang diminta.

Setelah selesai mengisi aplikasi (dan menandatangani secara digital), langkah selanjutnya adalah menentukan jadwal wawancara dan pengambilan data biometrik di lokasi yang sudah ditentukan. Untuk Entry Permit kemarin, saya melakukan wawancara dan biometrik di UK Visa Application Center di Amsterdam Sloterdijk (alamat lengkapnya: Regus Amsterdam Sloterdijk, Teleport Towers, Kingsfordweg 151 1043GR Amsterdam). Kalo di Jakarta, dulu pas saya mengurus visa untuk urusan kantor VFS Global masih berlokasi di Plaza Asia – Sudirman Jakarta. Sekarang mereka sudah pindah ke lokasi yang menurut saya lebih nyaman (kerasa lebih luas dan lega, dan kalo perlu nunggu lama bisa ngopi atau makan di lokasi yang sama hehe) yaitu di Kuningan City (mal persis disamping the Manhattan Hotel). Oh ya, jangan lupa di-print form konfirmasi jadwal wawancara yang dikirim via email ya (bisa juga diakses dari page kita).

Sekarang, dokumen-dokumen yang perlu kita persiapkan:

  • paspor (yang pada saat kita apply masih memiliki masa berlaku minimal 6 bulan dari tanggal expired)
  • pasfoto berwarna terbaru (yang dibuat paling lama satu bulan dari saat mendaftar) ukuran 45 mm x 35 mm. Jangan lupa latar belakangnya berwarna terang (biasanya putih) dan komposisinya sesuai dengan aturan ini ya.
  • fotocopy resident permit (verblijf) kita di negara anggota EEA atau Swiss.
  • bukti hubungan kita dengan warga negara EEA atau Swiss yang bersangkutan, misalnya marriage certificate, civil partnership certificate, birth certificate atau bukti lainnya (apabila belum menikah) yang menyatakan kalo keduanya sudah tinggal bersama selama 2 tahun. One important note on this point: semua sertifikat yang dipergunakan sebagai bukti harus dalam Bahasa Inggris atau Welsh (di website disebutkan in English and Welsh). Jadi kalo sertifikat atau buktinya dalam bahasa lain harus diterjemahkan secara resmi terlebih dahulu ya.
  • bukti identitas atau paspor dari warga negara EEA atau Swiss yang bersangkutan.
  • paspor-paspor kita sebelumnya (apabila ada), terutama yang ada label visa UK yang pernah diberikan sebelumnya (apabila pernah ke UK).
  • di website mereka disebutkan kalo juga harus dilampirkan bukti “ketergantungan (dependency)” kalo kita adalah tanggungan (dependent) dari warga negara EEA atau Swiss bersangkutan.
  • formulir aplikasi online yang sudah di-print, dibubuhi tanggal aplikasi dan tanda tangan.

Saya tidak melampirkan sama sekali bukti finansial saya (baik rekening tabungan saya dan suami ataupun slip gaji suami, soalnya dia kan ga punya slip gaji hehe), juga tidak menyertakan itinerary perjalanan saya (bukti tiket pesawat atau kereta, ataupun tempat saya akan menginap selama di Inggris – walaupun di aplikasi tetep ditanya juga hehe).

Pada saat tiba jadwal wawancara, pastikan jangan telat datang ya! usahakan sudah tiba di lokasi wawancara minimal 15 menit sebelumnya. Kalo telat kita ga bisa proses aplikasi kita pada hari itu dan harus bikin janji lagi soalnya, dan biasanya jadwal paling cepat yang bisa kita pilih sekitar seminggu setelah har itu (atau bahkan lebih kalo kondisinya kaya di Indonesia ya). Proses wawancara dan pengambilan data biometrik berjalan cukup efektif dan efisien. Petugas akan memanggil para pemohon sesuai jadwal appointment secara sekaligus (semacam dirangkum untuk pemohon yang memilih waktu yang sama atau satu jam sebelum dan setelah – tergantung jumlah pemohon pada saat itu kayanya). Kemudian petugas langsung memproses dokumen pemohon satu-persatu, sambil kita diminta untuk mengisi formulir yang akan dipakai untuk mengembalika paspor dan dokumen pendukung pemohon. Pada dasarnya wawancara tidak dilakukan sama sekali si, petugas yang akan mengambil data biometrik kita juga bertindak sebagai pewawancara. Untuk data biometrik, pertama kita harus mengucapkan nama kita di depan kamera, kemudian sidik jari seluruh jari tangan, dan terakhir foto wajah (foto ini nantinya yang akan terpampang di label entry permit ya, so make sure hari itu jangan begitu acak-acakan ya! hehe).

Setelah wawancara dan  biometrik, posisi kita adalah menunggu. Petugas biometrik akan menginfokan ke kita kalo hasilnya akan dikirim paling cepat dua minggu dan paling lambat tiga minggu dari saat itu. Dan itu memang benar adanya. Kalo ngarep hasilnya bisa selesai lebih cepat siap-siap kecewa deh hehe. Saya kemarin wawancara tanggal 1 Desember, dan dokumen sampai di rumah tanggal 16 Desember (paspor yang sudah ditempel entry permit beserta dokumen yang saya lampirkan waktu itu – sertifikat menikah (versi multilingual) dan paspor dinas dengan visa UK didalamnya).

Masa berlaku entry permit adalah 6 bulan (dari tanggal di-issued) dan bisa dipergunakan berulang kali (multiple entry) sampai masa berlakunya habis.

Jadi begitulah proses mengurus si entry permit ini.Mudah-mudahan postingan ini bisa sedikit membantu. As I said, kayanya untuk permohonan visa dokumen yang diperlukan ga begitu jauh beda, cuma memang ada beberapa dokumen tambahan lain yang harus dilampirkan sepertinya. Mungkin untuk lebih lengkapnya bisa dicek di link ini.

sekarang saya mau urus suami dulu ya, kasian lagi flu berat dia =).

Good evening peeps!

Photographing Heusden (Belajar Motret Pt. 1)

il_fullxfull-637433632_ljxp

picture taken from www.etsy.com

“In a world and a life that moves so fast, photography just makes the sound go out and it makes you stop and take a pause. Photography calms me.”
– Drew Barrymore

Weekend kemarin saya dan suami berkunjung ke kota Heusden. Tujuan utama kami adalah agar saya bisa sedikit belajar fotografi (baca: motret :p). Cuma sharing knowledge aja sebenernya si dari suami ke saya, karena kebetulan ternyata dia lumayan berpengalaman megang kamera pro (at least daripada saya :p) .

Saya dari dulu memang suka dengan yang namanya fotografi (motret deh hehe, ga enak ngomong fotografi terlalu canggih kesannya :D). Tapi sampe sekarang (well, minggu lalu) belum sempet kesampaian untuk punya kamera pro (DSLR) yang bisa captured scene lebih mantap. Makanya setiap saya beli handphone yang pertama dilihat adalah kualitas kamera nya hehe. Dulu pernah pake Sony Ericsson yang kameranya 8mp (seri C905 kalo ga salah, ini udah keren banget deh jaman dulu hihi). Sekarang saya juga masih setia pake hp keluaran Sony tapi yang seri Xperia Z (Sony-nya udah cerai sama Ericsson ya hehe).

Beberapa waktu lalu saya bilang ke suami kalo saya mau beli kamera DSLR karna saya mau belajar bikin foto yang bagus. Eh ternyata suami ngomong kalo dia (well, his family company si sebenernya) punya kamera DSLR lengkap dengan semua aksesorisnya. Memang kameranya itu tipe lama, tapi masih bagus kalo untuk belajar motret aja. Kamera yang mereka punya adalah Nikon seri D70. Perusahaan beli kamera untuk kepentingan dokumentasi mesin-mesin produksi mereka. Kamera ini dibeli di tahun 2003 (pas seri ini baru aja di-launching). Gila ya! udah lebih dari 10 tahun ternyata. Bahkan suami bilang pas beli mata uang yang dipake masih Gulden hahaha (eh…2003 masih pake Gulden kan ya? seinget saya Euro mulai diperkenalkan per tahun 2002. Tapi bisa juga suami saya yang pelupis hehehe. Anyway).

Kondisi kameranya itu masih bagus loh, mungkin juga karena jarang dipake. Memang untuk pixelnya ga seberapa kalo dibandingkan dengan kamera jaman sekarang (maksimal 6 sekian megapixel – lah kamera di hp saya malahan lebih besar, 20 megapixel), tapi ternyata hasil jepretannya bagus juga kok. Thanks to the (big) lens. Nikon D70 ini di jamannya termasuk salah satu kamera DSLR yang lumayan affordable (dibandingkan dengan kamera pro lainnya yang waktu itu harganya masih selangittt) dengan spesifikasi yang cukup oke. Waktu beli, kameranya itu satu set lengkap beserta lensa 50mm, tele lens, macro lens, flash, dan tripod dari kayu. komplit banget kan! saya hepi dong ngedengernya hehe. Akhirnya punya kesempatan untuk belajar moto beneran deh. Makanya semangat nyari obyek yang masih lumayan gampang untuk difoto hihi.

Oh iya, a glimpse of info about Heusden (I write them in English, who knows maybe someone who doesn’t speak Bahasa would also love to know it :))

Heusden is a fortress town in Heusden Municipality (Gemeente Heusden) located on Bergsche Maas (a canal that was constructed in 1904 to be a branch of the Maas River). The town is surprisingly (for me) a worth-seeing. It has many historic places and nice old buildings.

But don’t get confused with Oudheusden (Old Heusden). They are two different cities, although close to each other (and both in the same Municipality). It’s a bit strange but actually the Old Heusden is the newer one than Heusden (at least from the look). The surrounding in Old Heusden is more modern compare to Heusden. They have built new houses there. While in Heusden, the surrounding is more interesting – more appropriate if they called Heusden as Old Heusden because they look old =). 

keychain disney

foto pertama using Nikon D70 (dari beberapa kali percobaan yang ‘busuk’ hasilnya hahhaha). A bit low on the light, since I took it indoor – and in the evening

orchids

testing foto kedua. kebetulan anggrek di rumah masih pada berbunga. foto diambil siang hari. exposure cahayanya masih kurang bagus, tapi lumayan bisa fokus ke bunganya hehe.

Pada saat kami ke Heusden, cuaca sedang mendung mendayu. Makanya pencahayaan di foto agak kurang dan terlihat gloomy. Sempet hujan rintik tapi Alhamdulillah ga makin deras. Karena memang niat pengen nyoba kamera beserta kelengkapannya, makanya kami tetep jalan terus hehehe. Dan di bawah ini adalah beberapa hasilnya.

Heusden1

first walk from the parking place. I used the default lens, and picked “p” for the photo program for almost all my photos (hubby said that’s a bit better than picking “auto” program :p)

Heusden2

this fort-look building is actually a glass design store.

Heusden3

This is a part of Heusden Stadshaven. Took the photo with the default lens.

Tele1

I used the tele lens to take this picture (almost maximum distance). I am glad that my hands are steady enough to make it less fuzzy 😉

Tele2

I used tele lens as well for this photo. I think I should’ve taken the object a bit closer.

Tele3

I also captured this one with tele lens. I didn’t realise until I saw on the result that the old guy on the boat was smiling =)

Tele4

Also taken with tele lens. Although the exposure was not perfect but I like this one. I didn’t know that I even could see the bird’s feet underwater!

Tele5

the last one taken with tele lens. my focus was on the blue flag in front. this photo also makes me happy, it looks alive =)

50mm2

this photo was taken using 50mm lens. love it!

50mm3

also taken with 50mm lens. hubby said when you use 50mm, you will get a result just like what you see with your eyes.

50mm4

foto ini juga diambil menggunakan lensa 50 mm. yang agak susah dari lensa 50mm adalah jangkauan fotonya yang cukup terbatas. 

50mm5

also taken with 50mm lens. I think the idea was quite good, but maybe if it was taken by a professional the result would be so much better ya :p

Heusden4

yang ini kembali lagi ke default lens. walaupun jangkauannya lebih luas tapi di sini minim cahaya jadi agak susah dapet exposure yang pas (makanya kelihatan lebih gelap).

Heusden5

foto ini sedikit lebih terang, thanks to the green grass that popped out from the dark hehe

Kami ga sempat nyoba lensa makro di Heusden karena sudah keburu hujan juga. Makanya mumpung tadi siang ada sedikit cahaya saya coba-coba aja sendiri motret pake lensa makro hehe. Hasilnya? bisa dilihat di bawah ini. Kebetulan bunga anggrek di rumah masih mekar dengan ceria, jadi bisa deh dijadikan sebagai obyek foto saya =)

DSC_0596

using macro lens is heel erg moeilijk! terutama karena kamera saya kalo ga nemu fokus ga bisa dipencet saya harus tahan-tahan supaya ga goyang dan dapet hasil yang lumayan tajam kaya foto ini. tapi pencahayaannya di sini kurang bagus ya 😦

DSC_0606.JPG

foto terakhir untuk postingan kali ini (juga percobaan terakhir hari ini hehe). masih harus ngulik lagi supaya hasil makro nya lebih tajam dan kece. yang ini lumayan ok untuk lighting-nya, tapi masih ga gitu pas fokusnya.

Emang bener apa yang dikatakan bapak Martin Parr, photography is the simplest thing in the world, but it is incredibly complicated to make it really work.

Saya masih harus terus belajar dan terus motret supaya hasil foto saya akan semakin tajam dan fokus. Jangan bosen kalo ke depannya saya posting banyak foto ya 🙂 *sambil mikir gimana ngatasin kendala kapasitas storage di WP yang terbatas wkwk*