Summer besok mau kemana?

Image via Pixabay

I don’t want to go to Peru.”
How do you know? You’ve never been there.”
I’ve never been to hell either and I’m pretty sure I don’t want to go there.
~ Richard Paul Evans, the Sunflower.

Azek gaya yang tinggalnya di negara empat musim hakakka. Maaap ya bukan mau gegayaan, tapi harap maklum berhubung dua buntut dan satu kepala punya waktu terbatas liburnya, jadilah saya sebagai satu ekor perlu memikirkan kira-kira gimana bisa memaksimalkan waktu libur mereka juga bikin cerita yang setidaknya bisa nambah cerita dalam lembaran hidup mereka (halah).

Tahun ini kembali kami putuskan untuk ga bedol desa mudik ke Indonesia. Salah satu pertimbangan kami ya karna waktu liburan yang ga bisa milih selain pas peak season dimana kalo kami pergi semua bikin hati (dan dompet suami) kembang kempes wkwkwk. Insya allah saya jadinya rencana mudik sama si kecil aja pas lebaran nanti, kangen sama suasana dan paling pasti kumpul keluarga.

Kembali ke topik semula. Sebagai pengganti mudik di kala summer, kamipun bikin rencana buat keliling di sekitar sini aja. Kalo tahun lalu kami udah ngerasain road trip pake mobil, kali ini saya pengen nyoba kita keliling pake kereta hahaha. Saya penasaran bagaimana nanti di perjalanan! Walo belom bener-bener final, saya udah kasih “presentasi” (literally😂) ke suami dan anak-anak, dan sepertinya mereka cukup tertarik hehe. Saya sendiri udah sibuk nyari-nyari (dan booking) para hotel dan apartemen dong hahaha. Ga mau sampe shock liat harga kalo bookingnya deket-deket ah!

Jadi rencana perjalanan kami akan makan waktu kurang lebih 13 hari. Kemana aja destinasinya dan gimana transportasinya? Walo masih rencana boleh dong ya mau berbagi juga, kali aja dapet masukan yang lebih bagus kannn:))

Pertama yang saya pikirkan adalah starting point dari rumah menuju stasiun yang punya akses ke negara tetangga. Ada dua kota yang jadi pertimbangan saya, yaitu via Utrecht atau Nijmegen. Saya pilih Nijmegen dengan beberapa pertimbangan. Selain lumayan deket sama tempat kami tinggal, biaya parkir di situ masih lebih murah dibanding kalo kami start dari Utrecht (emak cheapskate😂).

Dari Nijmegen kita akan naik kereta menuju Berlin. Waktu tempuhnya adalah kurang lebih 6 jam (kalo kita start dari Utrecht pun kurang lebih sama). Tinggal di Berlin 3 hari, kemudian kita akan lanjut ke Praha. Jarak tempuh kereta dari Berlin ke Praha ini kalo saya baca di internet sekitar 3 jam. Rencananya kami juga akan tinggal di sana selama 3 hari. Dari Praha kami akan lanjut ke Vienna, juga pake kereta. Waktu tempuhnya kurang lebih 4 jam. Setelah itu kami akan lanjut ke Italia – tepatnya Roma – dengan menggunakan coach/night train. Waktu tempuhnya kurang lebih sekitar 12 jam lah. Dari Roma kami (well, saya si sebenernya) pengen mampir juga ke Cinque Terre dan stay di salah satu kota di sana selama 2 atau 3 hari. Cuma satu si kendalanya, harga kamar di sana yang masum kriteria saya mahal-mahal banget! Ini belom nyoba cari air bnb gitu si, tapi saya agak pesimis juga karna selain saya bawa anak piyik, jadwal pergi kami bisa dibilang masih pas musim liburan jadi pasti peminatnya banyak ya kan.

Salah satu desa di Cinque Terre yang fotonya ikut mejeng di wallpaper laptop saya hehe. Image via pixabay.

Oke balik lagi ke rencana. Setelah Cinque Terre, kami akan cus ke Milan, atau Bergamo tepatnya. Alesannya jelas, biar deket sama bandara hehehe. Berhubung ada tiket murah dari bandara di situ menuju bandara deket Nijmegen, makanya menurut saya ga ada salahnya untuk nginep di sana semalam. Kali aja malah menemukan hidden gem ya kan.

Dari bandara Orio apa gitu namanya di Bergamo, kami akan terbang menuju bandara Weeze di Jerman (deket Dusseldorf, tapi ini bandara khusus untuk LCC aja kayanya). Dari Weeze udah ga gitu jauh ke Nijmegen dan dari Nijmegen kembali ke rumah naik mobil deh.

Udah sih gitu aja :)))

Dua (apa tiga ya?) hal yang bikin deg-degan dari rencana ini adalah harga tiket transportasi dan akomodasi yang makin menjerit, mood si kecil dan suhu/temperatur di Itali yang konon katanya kalo pas summer panas tak terkira😩. Semoga aja kalo bener jadi perjalanan ini bikin si kecil seneng dan ga bosen trus cranky. Mudah-mudahan juga dese ga lempar tantrum sepanjang waktu liburan yes, biar semua hepi 😉

Nah kalo plan di atas ga feasible, mungkin kami akan lari ke utara, gatau tapi mau ke mana hahahaha (bikin satu rencana gini aja udah ribed, apalagi kalo harus bikin cadangannya. Mamah tepok jidat ajalah *sambil kirim email cancellation ke tempat yang mau dituju hiks*)

Temen-temen udah ada yang punya rencana belom buat musim liburan mendatang? Semoga aja terlaksana dan berjalan lancar dan menyenangkan yaa!

Advertisements

Malmö, Sweden and Lütjenberg, Germany.

Malmö, Swedia.

Kota tujuan kami setelah Copenhagen dalam rangkaian liburan musim panas 2017 kemarin adalah Malmö, Swedia. Rencana awalnya kami cuma nginep semalam aja di sana, karna saya sama sekali blank sama Malmö walo dulu temen saya pernah cerita kalo Malmö bagus (saya kasih ide buat sekalian ke Malmö aja karna penasaran sama jembatan lintas laut yang menghubungi Copenhagen sama Malmö sebenernya haha). Jadilah saya dateng berkunjung ke sana tanpa ekspektasi dan rencana apa-apa kecuali keliling sekitar city center aja.

Perjalanan dari Copenhagen ke Malmö via jembatan Øresund cuma memakan waktu sekitar 45 menit aja dong. Kita pun bisa melihat kota Malmö dari atas jembatan. Begitu masuk ke wilayah Malmö, saya punya feeling kalo saya bakalan suka dengan kota ini. Kotanya ga sebesar dan sesibuk Copenhagen. Suasananya lebih “hijau” dan rimbun. Dan yang utama, ga banyak rombongan turis yang saya temui di sini hehe. Tranquil!

Kami menginap di Scandic Malmo City yang lokasinya kebetulan berseberangan dengan city center. Walaupun mereka ga menyediakan parkir secara gratis, saya tetep suka dengan konsep hotelnya yang memang family-friendly. Selain inclusive breakfast dan wifi, kamarnya pun besar, lengkap dengan kitchenette beserta cuttleries-nya dan meja makan beserta empat buah kursi. Bahkan mereka nyediain baby chair di kamar kami hehe.

Scandic Malmö City

Entrance-nya (lobby-nya kecil!)

Art work di sekitar restoran di hotel

Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami pun memutuskan untuk keliling di sekitar city center. O ya, pas kami check in resepsionisnya kasih info ke kami kalo mulai jumat malam sampai hari minggu di sana akan ada “Malmö Festival.” Festival ini kayanya lumayan gede karna saya liat persiapannya juga besar-besaran dan udah keliatan bahkan beberapa hari sebelumnya. Pas kami keliling di sana udah berdiri panggung besar di tengah-tengah atrium city center-nya, dan juga beberapa food truck dan wahana-wahana khas kermis/night fair udah nangkring dengan manisnya (walau belum pada beroperasi pas kami di sana). Sayang banget kami baru tau pas udah di sana karna kami cuma stay di sana sampe Jumat siang.

Boat for rent

Kami keliling sampe ke Malmö central station. Stasiun keretanya lumayan besar dan nyaman. Yang bikin stasiun ini cukup menarik menurut saya adalah adanya restaurant row yang lokasinya agak terpisah di bagian samping stasiun (well, masih di dalam stasiun tapi lokasinya di samping gitu). Variasi makanannya pun cukup banyak, mulai dari fast food macam Subway, Japanese food, Chinese, Italian, Vietnamese, Middle Eastern, sampai Bakery tersedia di sana.

Kereta yang melintas jembatan Øresund (kayanya 😁)

Platform stasiun

Restaurant row.

Locker/storage for rent di stasiun

Karna anak-anak sedari di Copenhagen ngidam subway, jadilah untuk makan malam mereka minta itu. Saya sama suami milih pesen masakan vietnam (Beef Pho) untuk makan malam. Untung rasanya lumayan ga mengecewakan. Setelah makan, sebelum balik ke hotel saya beserta anak-anak dan suami beli cake Tradisional dari Swedia – princestarta atau princess tart – sebagai dessert dan merayakan bareng ulang tahun saya yang kebetulan bertepatan pada hari itu.

Keesokan harinya selesai sarapan dan main di kids room, kami kembali menjelajahi kota Malmö. Di malam harinya saya nyempetin sedikit browsing apa saja yang menarik untuk dikunjungi di sana. Sepanjang kami di sana, kami tidak menggunakan transportasi publik dan memilih untuk jalan aja. Sebenernya jarak yang kita tempuh lumayan jauh tapi karna cuaca yang sangat bersahabat dan beberapa kali istirahat, anak-anak pun hampir ga kedengeran mengeluh sepanjang perjalanan. Mamanya cukup amazed haha.
Trus apa aja yang menarik di Malmö? Untuk kota yang ga gitu besar, lumayan banyak spot bagus dan menarik yang ada di sini.

Yang pertama, tentu aja pengalaman ga terlupakan melewati Øresund bridge yaaa hehe. Kalo udah sampe ke Kopenhagen menurut saya si sayang banget kalo ga mampir ke Malmö via jembatan ini. It’s really worth to visit lah menurut saya. Foto (dan video) ga cukup menggambarkan pemandangan dan kecanggihan yang bisa kita saksiin dari jembatan dan sekelilingnya ini (tsaah😂). Btw, dari jembatan ini kita juga bisa liat sekelumit Malmö dari kejauhan loh.

Chillin’ on the couch. Lucu ya!

Bronze statues at city center

Kemudian ada satu gedung yang menarik yaitu Turning Torso. Gedung ini merupakan salah satu gedung (skyscraper) tertinggi di wilayah Skandinavia yang selesai dibangun pada tahun 2002 dan digunakan sebagai tempat tinggal dan perkantoran. Bentuknya unik, menyerupai orang kalo lagi berputar (makanya disebut turning torso). Lokasinya ga jauh dari selat Øresund dan sekitar 2,5 KM dari Malmö Central Station. Trus ada lagi Old Light House yang lokasinya ada di tengah kota. Kalo ga salah mercu suarnya sendiri udah ga dipake lagi, tapi mereka tetap mempertahankan si mercu suar ini. O ya, di deket stasiun ada semacam art work yang sangat colorful yang disebut “Spectral Self Container.” Anak-anak sempet manjat itu art work dong (yang kayanya ga dilarang si, karna ada anak lain yang juga lagi nangkring di sana haha).

Spectral Self Container.

Old light house from distance.

Old light house at a closer look

The Turning Torso

View at harbour close by Ribersborg beach.

They also have floating houses like in Amsterdam 🙂

Lanjut, ga jauh dari city center-nya Malmö (kurang lebih 20 menit jalan kaki) kita pun akan sampai di pantai Ribersborg (Ribersborgsstranden). Di tengah-tengah si pantai dan jalan raya terbentang luas (sepanjang mata memandang) taman terbuka dengan view keren jembatan Øresund di kejauhan.

Øresund bridge captured from distance.

Btw, ga jauh dari Turning Torso, banyak perumahan-perumahan baru dan ada playground yang cukup besar dan lumayan lengkap permainannya. Mulai dari tempat khusus untuk para anjing, perosotan besar dengan bentuk yang unik, ayunan, sampai jembatan goyang juga ada.

Kompleks perumahan/apartemen di sekitar turning torso.

Ini perosotan loh, bentuknya lucu banget ya

Satu yang saya ngeh di Malmö ini adalah mereka punya banyak taman dan tempat terbuka. Mungkin karna kota ini juga belum begitu banyak penghuninya (juga turisnya) makanya bahkan di city center-nya sendiri saya ga liat banyak orang bertebaran di mana-mana (lalet kali wkwk). Satu lagi yang saya tangkep dari kota ini adalah orang-orangnya yang cenderung rileks dan lebih laid back kalo dibandingkan dengan orang-orang yang saya temuin di Copenhagen. Entah yaaa, ini cuma perasaan seorang turis yang berkunjung di sana beberapa hari doang loh hahaha, jadi bisa jadi feeling kaya gini berubah kalo saya disuruh tinggal di sana. Dari segi bahasa, mereka juga ga gitu masalah kayanya untuk ngomong dalam bahasa Inggris. Sapaan khas warga di sana kalo mau say hello (dan goodbye) adalah “Hej”. Unyu ya hahaha. Sayang banget kita ga bisa stay di sana pas festival berlangsung (kalo iya bisa makin panjang postingannya si tapi hihi). Mungkin pas festival baru banyak keliatan orang di sana 😜.

Some spots at Slottsträdgården/Slottsparken.

Nemu kincir angin lagi hehehe

Dapet shot keren di Kungsparken.

Signage untuk Malmö Festival

Food trucks

Hari berikutnya kami pun check out dan siap-siap untuk looong trip lagi. Karena kita mau ngerasain sesuatu yang berbeda dan baru untuk anak-anak, pas pulang kami putusin ga lewat Øresund bridge lagi tapi via Ferry untuk nyebrang dari Swedia ke Denmark dan dari Denmark ke Jerman. Btw, dari segi biaya dua pilihan rute ini ga beda jauh sebenernya (via Ferry sedikiiit lebih murah), sementara dari segi waktu kalo lewat Øresund bridge lumayan motong waktu sedikit lebih cepat. Btw ferry-nya ini sejenis Ro-Ro kaya yang dipake di Bakauheni-Merak itu loh, cuma emang lebih terawat dan sedikit lebih keren hehe.

Lütjenburg, Jerman.

Begitu sampe Jerman, kami langsung disambut sama macet. Ini lagi yang beda dari negara Skandinavia yang kita kunjungi sama Jerman bagian yang kita lewatin – Hamburg dan sekjtarnya (macet free vs macet everywhere). Dari pelabuhan (Puttgarden Harbour) ke kota Lütjenburg – tempat kami menginap – sebenernya ga begitu jauh (sekitar 55KM) dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit aja, tapi karna macetnya yang ga kira-kira kami baru sampe ke hotel tempat kami nginep setelah di perjalanan lebih dari 3 jam. Kata suami, sumber utama kemacetan di Jerman adalah road construction yang banyakan barengan dan ga cepet dituntaskan. Selain itu tentu aja banyaknya caravan melintas (maklum musim liburan).

Interior kamar kami.

Kami sama sekali ga kemana-mana di Lütjenburg karna memang niat dari awal adalah supaya yang nyetir bisa istirahat. Cuma karna kami perlu beli makanan makanya saya dan suami (beserta unyil) belanja di Lidl supermarkt yang untung lokasinya deket banget dari hotel.

Btw, kami nginep di hotel Das Ostseeblick. Saya reservasi kamar via booking.com. Harganya ga gitu murah sebenernya, tapi fasilitas yang ditawarin juga lumayan mewah si. Selain ada private walk track, mini golf dan outdoor playground, mereka juga ada kolam renang indoor (dan jacuzzi kalo ga salah). Interior-nya juga keren, bikin saya inget game design home wakakaka. Cumaaa mereka ga punya lift ciin, syedih! Kasian bener deh suami saya, harus ngangkat koper (untung cuma 1 walo gede) ke kamar kami. 

Interior reception – lounge area.

Kolam renang indoor-nya.

Lounge room di lantai 2.

Saya suka sama piring-piring ini 😆

Konon kata suami saya Lütjenburg dulu termasuk salah satu tujuan wisata yang lumayan hits. Kota ini memang deket sama garis pantai, cuma ga sekeren Lübeck yang punya situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dia agak menjorok ke dalam, makanya orang prefer ke kota lain di sekitar situ kali ya. Saya juga sebenernya nyari hotel di sekitar Lübeck, cuma karna pas summer makanya hotel di sekitar situ (yang familyfriendlyfull booked semua. Untung suami ga masalah, makanya jadilah kami stay di Lütjenburg.

Besokannya setelah sarapan santai (full service dan enak sarapannya!), kami pun check out dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Dengan beberapa titik kemacetan yang lumayan di wilayah Hamburg, alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah juga road trip pertama kami dengan si kecil bisa dibilang lulus dengan memuaskan hehe. Si unyil lumayan anteng sepanjang jalan dan anak-anak (hampir) sepanjang perjalanan juga enjoy dan menikmati. Road trip ini hampir dipastikan ga akan jadi road trip terakhir kami. Di lain kesempatan insya allah kami akan pergi lagi dengan rute yang berbeda.