Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

The Kid’s-Friendly NEMO Science Museum, Amsterdam

Sebulan lalu, sewaktu anak-anak sedang liburan musim gugur kami memutuskan untuk berkunjung ke NEMO Museum yang berlokasi di Amsterdam. Sebenernya rencana pergi ke NEMO ini udah cukup lama, sejak mereka sedang liburan musim panas, dan kebetulan waktu itu sedang ada offer dari emté buy 1 get 1 untuk entrance-nya (semacam itulah kira-kira). Tapi apa mau dikata, rencana berubah karna ternyata saya harus melahirkan lebih awal. Anyway bersyukur anak-anak cukup mengerti dengan kondisi kami saat itu dan ga merengek ato jadi bete karna ketunda perginya.

NEMO di sini beda sama yang ada di film ya hehe. Ini bukan akuarium, bukan juga museum tentang ikan. Jadi NEMO itu kepanjangan dari New Metropolis (correct me if I’m wrong), ini semacam pusat sains dan teknologi dimana kita bisa ikut terlibat dan ikut nyoba hal-hal yang berbau sains dan teknologi di “proof garden” mereka ini. Selain bentuk gedungnya yang unik, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana juga cukup seru.

Harga tiket masuk ke Museum ini adalah sebesar €15 per orang (untuk pengunjung usia 4 tahun keatas). Buat yang punya student card harga tiketnya adalah €7,5. Sementara untuk mereka yang punya kartu khusus seperti IAMsterdam card atau Museumkaart entrance-nya gratis. Kebetulan kami memang udah lama rencana mau buat museumkaart dan anak-anak juga sekarang sudah cukup besar untuk bisa menikmati museum-museum yang jumlahnya buanyak banget di sini, maka akhirnya kami sekalian daftar di sana.

Museumkaart ini lumayan banyak benefit-nya dan tentu handy buat yang suka dengan museum. Fyi, museumkaart bisa digunakan untuk akses masuk ke sekitar 400 musea yang tersebar di seluruh Belanda (beberapa museum yang termasuk dalam list antara lain Anne Frank Stichting, Rijksmuseum Amsterdam, Van Gogh Museum, Museum Het Rembrandthuis, NEMO, Space Expo, Openlucht Museum di Arnhem, dan masih banyak lagi lainnya). Untuk info lebih lanjut tentang museumkaart bisa klik link ini ya (the link is in Dutch, tapi cukup gampang untuk diikuti kok, ato ga cukup aktifkan google translate seandainya berminat hehe).

Sekarang kembali ke NEMO. Museum ini terdiri dari 5 lantai plus satu lantai di bawah untuk tempat penitipan jas, ticket box dan beberapa display yang cukup menarik (ada jam raksasa di bawah ini hehe). Di depan museum ada semacam fountain ato kolam gitu beserta ember-ember membentuk kincir dan berputar.

nemo_museum_entrance

the entrance (image via http://www.mikimedia.org)

Di setiap lantai tema yang diangkat  berbeda-beda. Oh ya, satu hal lain di luar konteks museumnya sendiri yang bikin tempat ini nyaman untuk dikunjungi adalah adanya cafe corner di setiap lantai (kalo restroom si hampir pasti lah ya). Jadi kalo udah cape jalan, bisa istirahat sebentar sambil jajan-jajan hehe.

Lantai 1 museum ini bertemakan “Fenomena”. Di lantai ini kita bisa belajar mengenai bagaimana sains bekerja. Kita bisa ikut melihat (dan merasakan) bagaimana cahaya, suara dan listrik statis bekerja, juga bagaimana menghasilkannya. Beberapa aktivitas yang cukup diminati di lantai ini termasuk the plasma ball (yang kalo kita sentuh trus kita terhubung dengan electricity light), giant bubble forming (balon yang dibuat pake sabun/busa tapi dalam versi raksasa), belajar tentang suara dengan menggunakan dua audiophone raksasa yang ditempatkan jauh terpisah, belajar tentang cahaya melalui cermin dua refleksi, dan juga aktivitas yang menggunakan magnet. Di lantai ini juga setiap harinya di atrium hall yang juga terletak di lantai ini ada special event yang biasanya juga melibatkan para pengunjung. Pada waktu kami berkunjung kami sempat ikut menyaksikan apa yang mereka sebut “chain reaction”, semacam domino effect tapi menggunakan peralatan yang tidak biasa seperti bola, kursi, bahkan balon dan roket mini.

dsc_3253-2

The plasma ball (photo: private collection)

nemogroup

The Chain Reaction (image via http://www.bilimgezi.com)

Lantai 2 bertemakan “Technium”. Sesuai namanya, di lantai ini lebih kepada aktivitas (dan display) yang terkait dengan teknologi. Kalo kata website-nya, dengan teknologi maka kita bisa memperbaiki dan membentuk dunia. Di lantai ini ada ruang khusus yang disebut “the maker space” dimana anak-anak bisa ikut merancang, membuat, mengetes dan memperbaiki produk teknik sederhana yang bisa mereka bawa pulang sebagai souvenir. Di lantai ini juga terdapat erasmus bridge mini dan satu section khusus untuk mengetahui tentang pengelolaan air dan bagaimana cara mencegah banjir di Belanda. Selain itu ada juga mesin logistik dengan permainan interaktif mengirim barang ke seluruh dunia. Ada juga spinning wheel raksasa dengan pecahan segitiga dimana kita bisa membentuk sesuatu sambil belajar matematika. Sebenernya masih banyak lagi yang menarik di lantai ini, tapi saya bingung mau jelasinnya haha. Menurut saya aktivitas di lantai ini adalah yang paling menarik di antara lantai-lantai lainnya (walaupun juga gak kalah menariknya).

dsc_3263

The mini Erasmus Bridge (photo: private collection)

nemo-site-header-974x584

The world of form (image via http://www.studiolouter.nl)

DD332727

The Optical Illusion (image via studiolouter.nl)

water-world-nemo-amsterdam

Part from the water world (image via http://www.mikestravelguide.com)

dsc_3261-2

You can find this useful information in one of the restrooms :p (photo from private collection)

Di lantai 3 tema yang diangkat adalah “Elementa”. Di sini kita bisa belajar tentang hal-hal yang terkait dengan elemen yang ada di jagad raya ini. Di lantai ini ada juga ruang teater dimana kita bisa ikut nonton semacam 3D documentary movie tentang ruang angkasa. Durasinya kurang lebih selama 15 menit dan jumlah kursi yang tersedia cukup banyak (sebenernya saya agak ragu apakah teater ini adanya di lantai 2 ato 3 si haha, maafkan ya kalo ternyata saya salah kasih info :D). Selain itu, di lantai ini anak-anak bisa ikut belajar dan bereksperimen di ruang laboratorium yang khusus dibuat dan terbuka untuk pengunjung. Jangan khawatir, di sana lumayan banyak lab guide-nya kok, jadi kalo kitanya ga tau mau ngapain mereka akan bantu.

dsc_3275-2

Our young scientists 😉 (photo from private collection)

dsc_3274-2

The view of Amsterdam taken from inside the Museum (photo: private collection)

Lantai selanjutnya yaitu lantai 4 bertemakan “Humania”. Di sini pengunjung belajar tentang siapa diri kita, perubahan yang terjadi pada anak-anak yang beranjak remaja, bagaimana otak kita bekerja, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, rupa wajah, motorik, dan emosi. Selain itu di lantai ini juga ada ruang khusus yang berisi display perkembangan sains dan teknologi beserta proyeksi masa depan khususnya di Belanda.

wlanl_-_petertf_-_brein_boom

Image via wikipedia

dsc_3278-2

Berbagai macam jenis lampu dari Philips – salah satu sponsor Museum ini (photo: private collection)

Lantai teratas mengangkat tema “Energetica”. Di lantai ini di dalam gedung sendiri adalah restoran dengan konsep cafetaria. Sementara untuk proof activities nya sendiri berlokasi di luar gedung, tepatnya di rooftop square. Rooftop square ini sebenernya bisa diakses secara gratis loh. Jadi dari lantai 5 rooftop ini ada tangga menuju ke bawah sampai ke trotoar jalan dan semua orang bisa naik tanpa perlu tiket (mereka baru akan mengecek tiket di dalam gedung dekat lift dan tangga turun). Rooftop square ini keren banget menurut saya (lebih keren dari rooftop view di SkyLounge Hilton Hotel). Mereka mengkombinasikan sains dan teknologi (terutama yang berkaitan dengan energi di sekitar kita seperti angin, air dan surya) dengan sesuatu yang bikin kita betah stay di sana. Selain ada panorama spot (kamu bisa bikin foto panorama pemandangan kota Amsterdam yang keren di spot ini), ada juga sundial yang berinteraksi dengan bayangan tubuh kita, kursi-kursi dengan solar panel, dan spot untuk bermain dengan air di water fountain dan water wheel.

nemo-energetica-2

The Sundial with your shadow as the face (image via http://www.energy-floors.com)

dsc_3279-2

(photo: private collection)

dsc_3281-2

The moving sculptures (photo: private collection)

dsc_3285-2

The scheepvaartmuseum seen from the rooftop (photo: private collection)

dsc_3286-2

(photo: private collection)

dsc_3287

(photo: private collection)

dsc_3288-2

(photo: private collection)

Overall, museum ini sangat layak untuk dikunjungi baik untuk dewasa maupun anak-anak. Cuma aja perlu diinget kalo weekend biasanya museum ini lumayan padat. Hal ini bisa sedikit diakali dengan datang lebih awal kali ya hehe. Satu tip lagi buat yang mau berkunjung ke sini pake kendaraan pribadi (mobil). Udah pada tau dong ya kalo parkir di Amsterdam itu lumayan mahal tarifnya. Dari situs NEMO saya baca kalo mereka memberikan potongan harga buat biaya parkir kalo kita parkir di tempat parkir tertentu. Tapi sebaiknya si menurut saya mobil diparkir di P+R Parking Area Amsterdam Arena (apalagi kalo kita mau jalan-jalan di sekitar Amsterdam central juga), dan dari situ cukup naik Metro ke Amsterdam Central Station (atau bisa juga turun di Niewmarkt station). Dari Amsterdam Central Station kita tinggal jalan sedikit (sekitar 1 KM lah). Tarif parkir di sini sekitar €8 dan ini udah termasuk maksimal 7 tiket GVB (tiket buat tram, bus dan metro) yang bisa dipake seharian (1 jam dari aktivasi tiket pada saat pertama kali tap untuk rute pergi/keluar dari tempat parkir, dan ketentuan yang sama untuk tiket kembali ke tempat parkir). Tiket ini jangan dibuang, karna akan diperlukan pada saat kita bayar parkir nantinya.

Okeee, sekian dulu cerita kali ini ya, sampai jumpa di postingan lainnya :p

ps.
mohon maaf ya, berhubung saya agak repot sama bayi dan anak-anak yang tiap waktu minta mamanya ikut liat aktivitas mereka, saya cuma bisa ambil foto beberapa kali. Selebihnya saya ambil dari berbagai sumber di internet kurang lebih sebagai referensi temen-temen aja.