3 Rekomendasi Tempat Makan di Berlin, Jerman

Walaupun saya dan keluarga cuma berkesempatan untuk stay di Berlin selama tiga hari (dua malam) saja, kota ini meninggalkan kesan yang cukup positif dan mendalam buat saya. Bukan cuma fasilitas umumnya (terutama transportasi publik) yang cukup lengkap dan ramah, makanannya juga enak-enak dan variatif.

Sebelum kami memulai summer trip kemarin memang saya sempetin untuk browsing di beberapa kota yang akan kami singgahi, kira-kira restoran atau tempat makan apa saja yang review-nya bagus, harga masuk akal dan menyajikan makanan yang pas dengan selera saya, suami dan anak-anak. Bukannya apa-apa, saya ga pengen terjebak sama menu fast food doang si hahaha. Makanya bela-belain deh hehe.

Dari hasil browsing ini, saya baru tau kalo Berlin itu untuk soal makanan cukup variatif. Maksudnya ga cuma makanan lokal yang banyak bertebaran di mana-mana, tapi juga restoran yang menyajikan masakan internasional seperti Vietnam, Turki, Jepang juga Italia. Ada juga yang menyajikan menu fusion. Konsepnya sendiri kebanyakan casual dan ga perlu reservasi sebelumnya. Well, setidaknya yang kami datengin hehe.

Selama di Berlin kami menginap di Hotel Ibis Style yang berlokasi di Mitte area (recommended btw). Di wilayah ini yang memang adalah pusat kotanya Berlin (mitte kalo saya cek di google translate berarti “pusat”) banyak restoran dan kafe yang highly recommended alias mendapat review yang bagus dan pengen banget saya cobain. Sayang karna keterbatasan waktu (dan gerak karna bawa tiga krucil), akhirnya kami pun cuma sempet ke tiga tempat aja. Makanya dari pengalaman kemarin itu hampir bisa dipastikan kalo kunjungan kemarin adalah bukan untuk yang terakhir kalinya 😁.

Ketiga tempat makan yang mau saya highlight di tulisan ini adalah:

  • Shiso Burger

konsep restoran ini menurut saya lebih kepada fusion burger. Menu andalan mereka – selain berbagai macam burger spesial – adalah sweet potato fries. Waktu itu kami order tiga jenis burger (dua cheeseburger untuk anak-anak, chilli lemon burger buat saya dan bulgogi burger buat suami) beserta si sweet potato chips itu dan home made french fries-nya. O ya kami juga pesan coleslaw sebagai menu pembuka (which was quite refreshing with the extra black sesame seeds on top of it).

Rotinya sendiri menurut saya ok tapi not that special si, walo mereka pake sedikit taburan black sesame di bagian luar atas permukaannya.

Ada yang mau numpang mejeng :))

Coleslaw

Sweet potato fries

Home made fries

Bulgogi burger

Cheese burger

Chilli Lemon burger

Restoran ini berlokasi di Auguststraße 29c, 10119 Berlin Mitte (u-bahn terdekat: U Rosenthalerplatz). Setau saya si ga bisa reservasi ya, tapi buat amannya mungkin bisa ditelpon dulu ke restorannya. Website resmi mereka bisa diklik di sini.

  • Halal Currywürst @ Döner Turm

Buat para muslim yang juga kepingin nyoba salah satu makanan khas orang Jerman ini boleh coba mampir ke sini. Mungkin juga ada tempat lain yang menjual bratwürst yang halal, tapi kebetulan setelah beberapa kali browsing, döner stall ini lah yang nyangkut di search result saya.

Lokasinya sendiri persis di depan salah satu pintu keluar/exit dari u-bahn Turmstraße (yang ke arah Turmstraße, lokasi tepatnya Wilhelmshavener Str. 1, 10551 Berlin).

Yang jual kayanya keturunan Turki (liat dari mukanya dan tentu aja karna jual döner ya, duh). Sewaktu kesana, selain pesan curry wurst kami juga pesan saladnya. Agak sedikit nyesel ga nyobain döner-nya karna keliatan seksi bener sis. O ya, selain itu mereka juga nawarin mie dan nasi ala wok di sana (kebetulan juga lokasi si Döner ini deket dengan toko/supermarket asia). Dengan porsi yang lumayan besar (plus kualitas dan rasa yang enak), harga yang mereka bandrol termasuk murah menurut saya (lebih murah dari di Belanda). Selain itu rasa penasaran saya akan si curry wurst pun jadi terpuaskan (halah😂). Btw si curry sauce-nya sendiri ternyata sama kaya rasa saus curry yang suka dipake buat makan patat alias french fries di sini hehe.

Kios donernya.

Menu offered in 2018

Curry wurst

The taste of this mix salad is much better than it looks btw 🙂

  • Monsieur Vuong

Tempat makan terakhir di Berlin yang sempat kami kunjungi adalah restoran yang menyajikan masakan Vietnam bernama “Monsieur Vuong” yang literally berarti Tuan Vuong. Jadi si mister Vuong ini adalah kokinya, beliau masih lumayan muda loh (kalo diliat dari fotonya). Kayanya si dia juga nerbitin buku resep gitu deh, saya juga kurang ngerti (ato males nyari tau lebih jauh sebenernya wkwk). Anyway, restoran ini menyajikan berbagai macam masakan otentik Vietnam. Masakan Vietnam sebenernya kurang lebih sama kaya masakan Thailand, cuma mungkin lebih ringan lagi dalam hal bumbunya ya.

Restoran ini tidak menerima reservasi dan lebih memilih konsep first come first served. Area tempat makannya sendiri sedikit lebih besar dan lebih teratur dari Shiso Burger. Yang bikin menarik di sini adalah selain menu tetap yang ada di daftar menu, mereka selalu menyajikan menu khusus yang setiap harinya berubah-ubah. Untuk menu minumannya sendiri juga boleh dibilang sedikiiiiit lebih baik dari shiso. Well, konsep kedua restoran ini juga sedikit beda sih ya, jadi saya juga ga bisa bandingin mereka as apple to apple.

Pada saat berkunjung ke sana kami termasuk yang beruntung karena bisa langsung duduk dan order segera. Menu yang kami pesan hari itu adalah prawn spring roll sebagai appetizer, Beef Pho ukuran small (yang menurut aku dan suami porsinya bukan small itu si hehe, pokonya cukuplah pesen ini kalo kamu ga lapar binasa), menu special of the day (see picture below aja ya cin, saya bingung namanya apaan 😂 kalo ga salah chicken with orange sauce), dan mango sticky rice sebagai dessert. Verdict-nya tentu aja semua enak lah! Alhamdulillah kami ga salah milih restoran hehe. Cuma satu yang agak kurang pas menurut saya, yaitu si sticky rice-nya yang agak kekerasan (mungkin kelamaan disimpen di pendingin). Selebihnya bener deh enak, apalagi menu of the day-nya. Rasa si ayam kari yang digabung dengan irisan jeruk sunkist/orange jadi lebih seger. Plus sayuran yang dicampur bikin rasanya makin meriah.

Monsieur Vuong – Berlin Mitte. Image via gessato.com

Appetizer

Mangkok yang di depan adalah menu of the day.

Beef Pho.

Mango sticky rice

Restoran ini berlokasi di Alte Schönhauser Str. 46, 10119 Berlin, Germany. S-bahn yang terdekat adalah S Hackescher Markt trus jalan kurang lebih 600 meter. Sementara kalo pake U-bahn bisa stop di stasiun U Rosenthalerplatz atau U Weinmeisterstraße (kalo diliat dari peta di google hehe).

Demikianlah sedikit pengalaman kuliner saya selama numpang nginep di Berlin (tsah 🤣). Buat yang punya rekomendasi tempat makan lain yang spesial di kota Berlin (atau kota manapun), monggo yaa saya tunggu infonya di sini 🙂

Advertisements

Mudik Lebaran 2018: Bogor.

Hampir setiap tahun kalo saya ke Indonesia selalu saya sempatkan untuk berkunjung (dan menginap) di Bogor. Selain kakak saya yang kebetulan tinggal di sana, ada salah satu sahabat saya yang sejak lahir tinggal di sana, Erina. Kami pertama kali kenal di kampus ketika sama-sama mengambil program kekhususan yang sama. Selain dengan dia, ada tiga cewek lagi yang dekat dengan kami. Trus karena latar belakang kami yang berbeda-beda (setengah Jepang-Batak, Cina Bangka, NTT-Jawa dengan orang tua beda agama, Padang-Gorontalo, dan saya sendiri Aceh-Sunda) kami suka nyebut persahabatan kami dengan sebutan benetton sistas hahaha. Kalo dihitung dalam tahun, persahabatan kami alhamdulillah sudah berjalan hampir 20 tahun. Sekarang salah satu dari kami menetap di California, sementara saya sendiri udah pindah juga, satu di Bogor dan dua di Jakarta. Walo makin susah untuk ketemu, saya masih bersyukur karna kami masih saling kontak dan ketemu setiap ada kesempatan untuk berkumpul. Cuma sedihnya saya masih belum ketemu waktu mudik yang bareng dengan yang di California nih hiks, mudah-mudahan di tahun mendatang kami semua bisa kumpul bareng lengkap lagi (kumplit dengan krucils dan pasangan) aamiin.

Tahun lalu kami sempat kumpul bareng di Pesona Alam Resort yang berlokasi di Puncak (recommended btw), sementara tahun ini kami menginap satu malam di rumah Erina dan suami, dan satu malam menginap di hotel deket rumah dia (pake voucher member, on weekdays pula wkwk, ngirit!).

Sayang hari pertama di Bogor agak meleset dari rencana. Karena berganti jadwal ketemu dengan geng kuliah lainnya (seharusnya hari lain, tapi karna satu dan lain hal akhirnya bergeser ke hari yang sama dengan rencana ke Bogor) plus cuaca dan kondisi jalanan yang diluar dugaan, saya dan di kecil sampe di rumah Erina pas malam hari. Semula kami berencana untuk makan malam di cafe yang ada di komplek perumahan (Lotus namanya kalo ga salah), tapi karna badan saya mulai berasa greges-greges akhirnya kami pesan makanan dari sana untuk dikirim ke rumah. Berhubung udah ga semangat untuk makan, saya pun akhirnya cuma pesen mango salad aja. Teman saya pesen nasi kastrol (nasi liwet yang dimasak di panci kastrol – sebel ga sempet nyobain) beserta lauk pauknya dan pasta untuk Erina dan anaknya. Selain itu kami juga pesan martabak blackforest isi keju dari martabak pecenongan (cabang Bogor 😂). Sayang karna masih masa lebaran si tukang martabak cuma jual yang manis aja karna pegawainya takut kewalahan, dan yang bikin kurang puas adalah martabak manisnya ga pake wijsman huhu. Walau tetep enak tapi rasanya ga seenak yang pertama kali saya cicipin tahun lalu jadinya.

Nasi kastrol (foto courtesy of Erina).

Besok paginya kami pergi ke Kebun Raya Bogor, ceritanya sekalian olahraga (halah). Tuan rumah udah menyiapkan sarapan buat kita untuk dibawa dan makan bareng di sana (piknik ceritanya 😁). Ada lontong sayur, nasi uduk, roti, sampe jambu air Semarang pun siap untuk disantap. Cuma sayang karna sedikit gerimis (dan juga dari sisa hujan malamnya) kami ga bisa gelar tikar di rumput. Untung aja ada pondokan yang bisa jadi markas kita.

Menu sarapan di Kebun Raya Bogor. Rame! 😁 (foto courtesy of Erina).

Selesai sarapan, karna ada yang perlu dibeli kamipun mampir ke Botani Square. Di sana sempet nyicipin minuman avocado blended dengan topping nangka dan kelapa muda (my fave!). Setelah itu kami pergi ke restoran Kluwih untuk makan siang di sana. Restoran yang lumayan lagi hits ini menyajikan masakan tradisional sunda dengan konsep “cucurak” atau “ngaliwet” (ga tau mana yang bener istilahnya, maaf ya saya sunda boongan hahaha) alias makan dengan alas daun pisang, dengan segala lauk pauk ditaro ditengah dan dimakan bareng-bareng. Kalo dari segi rasa masakannya lumayan enak, walo menurut saya masakan di rumah makan warung ngariung (restoran sunda langganan kami tiap kali ke Bogor) jauh lebih enak daripada di sini. Anyway, dari segi suasana dan interior yang kalo kata orang sana “instagrammable” mereka dapet lah, makanya restoran ini lumayan ramai pengunjung. Saya juga ga nolak kok kalo diajak ke sana lagi hihi.

Menu makan siang kami di Kluwih

Karedok.

Minumnya cukup teh tawar. Nikmat!

Setelah beres makan siang, kami pun pergi ke hotel untuk check in. Walopun udah agak sore, rombongan anak-anak tetep maksa buat berenang (termasuk anak saya!). Akhirnya mau ga mau saya juga ikutan nyemplung ke air (karna si kecil ga mau dipegang sama yang lain huhuu). Sempet ga mau diajak keluar dari air, akhirnya dengan sedikit bujuk rayu akhirnya saya sukses mengajak si kecil untuk kembali ke kamar (dan mandi). Setelah mandi kami beristirahat sebentar di kamar, lalu keluar untuk cari makan malam. Awalnya kami berencana buat makan di restoran yang ada di hotel, tapi berhubung salah satu keluarga udah kekenyangan dan masih jetlag (mereka baru pulang mudik dari Gorontalo sehari sebelumnya) akhirnya kami putusin buat cari tempat makan lainnya. Pilihan pun jatuh ke masakan India. Out of the blue si ini sebenernya, cuma karna pas lewat di deketnya pas temen saya bilang masakan India di tempat makan itu enak, kami pun akhirnya menepi dan makan di sana. Walo ga seenak restoran India di Hamburg (masih paling pas buat lidah saya), tapi rasa masakan india di rumah makan ini lumayan lah. Dari segi bumbu cukup ringan menurut saya (kecuali kambingnya yang bau kambing banget wkwkwk – saya bukan pecinta kambing makanya sensitif jadinya).

Untuk sarapan keesokan harinya kami pilih untuk makan di restoran hotel aja. Selain banyak pilihan, juga dari segi kepraktisan. Buat saya hotel ini termasuk salah satu yang menyediakan menu sarapan bervariatif dan enak. Sewaktu kami sarapan di sana kebetulan salah satu menu spesialnya adalah mie ayam dong. Pagi-pagi disuguhin mie ayam, berat sis! 😂

Selesai sarapan anak-anak liat-liat kelinci dan (beserta para bapak) main bola, setelah itu kami pun check out dari hotel dan lanjut makan siang.

Kali ini kami makan siang di Shabu Hachi. Ini restoran shabu-shabu dan yakiniku dengan konsep all you can eat dan masak sendiri. Walopun salah satu dari kami tidak makan binatang berkaki empat dan harga per pax-nya lumayan mahal, tapi restoran ini termasuk salah satu favorit kami. Selain dari segi rasa yang enak, mereka juga nyediain makanan tradisional sebagai menu pelengkap seperti rujak dan bubur kacang hijau beserta ketan hitam (enak banget menurut saya).

Shabu Hachi Bogor.

Selesai makan siang saya pun kemudian pesen taksi online dan kembali ke rumah mama dengan perut kenyang hahaha.