The Kid’s-Friendly NEMO Science Museum, Amsterdam

Sebulan lalu, sewaktu anak-anak sedang liburan musim gugur kami memutuskan untuk berkunjung ke NEMO Museum yang berlokasi di Amsterdam. Sebenernya rencana pergi ke NEMO ini udah cukup lama, sejak mereka sedang liburan musim panas, dan kebetulan waktu itu sedang ada offer dari emté buy 1 get 1 untuk entrance-nya (semacam itulah kira-kira). Tapi apa mau dikata, rencana berubah karna ternyata saya harus melahirkan lebih awal. Anyway bersyukur anak-anak cukup mengerti dengan kondisi kami saat itu dan ga merengek ato jadi bete karna ketunda perginya.

NEMO di sini beda sama yang ada di film ya hehe. Ini bukan akuarium, bukan juga museum tentang ikan. Jadi NEMO itu kepanjangan dari New Metropolis (correct me if I’m wrong), ini semacam pusat sains dan teknologi dimana kita bisa ikut terlibat dan ikut nyoba hal-hal yang berbau sains dan teknologi di “proof garden” mereka ini. Selain bentuk gedungnya yang unik, aktivitas yang bisa kita lakukan di sana juga cukup seru.

Harga tiket masuk ke Museum ini adalah sebesar €15 per orang (untuk pengunjung usia 4 tahun keatas). Buat yang punya student card harga tiketnya adalah €7,5. Sementara untuk mereka yang punya kartu khusus seperti IAMsterdam card atau Museumkaart entrance-nya gratis. Kebetulan kami memang udah lama rencana mau buat museumkaart dan anak-anak juga sekarang sudah cukup besar untuk bisa menikmati museum-museum yang jumlahnya buanyak banget di sini, maka akhirnya kami sekalian daftar di sana.

Museumkaart ini lumayan banyak benefit-nya dan tentu handy buat yang suka dengan museum. Fyi, museumkaart bisa digunakan untuk akses masuk ke sekitar 400 musea yang tersebar di seluruh Belanda (beberapa museum yang termasuk dalam list antara lain Anne Frank Stichting, Rijksmuseum Amsterdam, Van Gogh Museum, Museum Het Rembrandthuis, NEMO, Space Expo, Openlucht Museum di Arnhem, dan masih banyak lagi lainnya). Untuk info lebih lanjut tentang museumkaart bisa klik link ini ya (the link is in Dutch, tapi cukup gampang untuk diikuti kok, ato ga cukup aktifkan google translate seandainya berminat hehe).

Sekarang kembali ke NEMO. Museum ini terdiri dari 5 lantai plus satu lantai di bawah untuk tempat penitipan jas, ticket box dan beberapa display yang cukup menarik (ada jam raksasa di bawah ini hehe). Di depan museum ada semacam fountain ato kolam gitu beserta ember-ember membentuk kincir dan berputar.

nemo_museum_entrance

the entrance (image via http://www.mikimedia.org)

Di setiap lantai tema yang diangkat  berbeda-beda. Oh ya, satu hal lain di luar konteks museumnya sendiri yang bikin tempat ini nyaman untuk dikunjungi adalah adanya cafe corner di setiap lantai (kalo restroom si hampir pasti lah ya). Jadi kalo udah cape jalan, bisa istirahat sebentar sambil jajan-jajan hehe.

Lantai 1 museum ini bertemakan “Fenomena”. Di lantai ini kita bisa belajar mengenai bagaimana sains bekerja. Kita bisa ikut melihat (dan merasakan) bagaimana cahaya, suara dan listrik statis bekerja, juga bagaimana menghasilkannya. Beberapa aktivitas yang cukup diminati di lantai ini termasuk the plasma ball (yang kalo kita sentuh trus kita terhubung dengan electricity light), giant bubble forming (balon yang dibuat pake sabun/busa tapi dalam versi raksasa), belajar tentang suara dengan menggunakan dua audiophone raksasa yang ditempatkan jauh terpisah, belajar tentang cahaya melalui cermin dua refleksi, dan juga aktivitas yang menggunakan magnet. Di lantai ini juga setiap harinya di atrium hall yang juga terletak di lantai ini ada special event yang biasanya juga melibatkan para pengunjung. Pada waktu kami berkunjung kami sempat ikut menyaksikan apa yang mereka sebut “chain reaction”, semacam domino effect tapi menggunakan peralatan yang tidak biasa seperti bola, kursi, bahkan balon dan roket mini.

dsc_3253-2

The plasma ball (photo: private collection)

nemogroup

The Chain Reaction (image via http://www.bilimgezi.com)

Lantai 2 bertemakan “Technium”. Sesuai namanya, di lantai ini lebih kepada aktivitas (dan display) yang terkait dengan teknologi. Kalo kata website-nya, dengan teknologi maka kita bisa memperbaiki dan membentuk dunia. Di lantai ini ada ruang khusus yang disebut “the maker space” dimana anak-anak bisa ikut merancang, membuat, mengetes dan memperbaiki produk teknik sederhana yang bisa mereka bawa pulang sebagai souvenir. Di lantai ini juga terdapat erasmus bridge mini dan satu section khusus untuk mengetahui tentang pengelolaan air dan bagaimana cara mencegah banjir di Belanda. Selain itu ada juga mesin logistik dengan permainan interaktif mengirim barang ke seluruh dunia. Ada juga spinning wheel raksasa dengan pecahan segitiga dimana kita bisa membentuk sesuatu sambil belajar matematika. Sebenernya masih banyak lagi yang menarik di lantai ini, tapi saya bingung mau jelasinnya haha. Menurut saya aktivitas di lantai ini adalah yang paling menarik di antara lantai-lantai lainnya (walaupun juga gak kalah menariknya).

dsc_3263

The mini Erasmus Bridge (photo: private collection)

nemo-site-header-974x584

The world of form (image via http://www.studiolouter.nl)

DD332727

The Optical Illusion (image via studiolouter.nl)

water-world-nemo-amsterdam

Part from the water world (image via http://www.mikestravelguide.com)

dsc_3261-2

You can find this useful information in one of the restrooms :p (photo from private collection)

Di lantai 3 tema yang diangkat adalah “Elementa”. Di sini kita bisa belajar tentang hal-hal yang terkait dengan elemen yang ada di jagad raya ini. Di lantai ini ada juga ruang teater dimana kita bisa ikut nonton semacam 3D documentary movie tentang ruang angkasa. Durasinya kurang lebih selama 15 menit dan jumlah kursi yang tersedia cukup banyak (sebenernya saya agak ragu apakah teater ini adanya di lantai 2 ato 3 si haha, maafkan ya kalo ternyata saya salah kasih info :D). Selain itu, di lantai ini anak-anak bisa ikut belajar dan bereksperimen di ruang laboratorium yang khusus dibuat dan terbuka untuk pengunjung. Jangan khawatir, di sana lumayan banyak lab guide-nya kok, jadi kalo kitanya ga tau mau ngapain mereka akan bantu.

dsc_3275-2

Our young scientists 😉 (photo from private collection)

dsc_3274-2

The view of Amsterdam taken from inside the Museum (photo: private collection)

Lantai selanjutnya yaitu lantai 4 bertemakan “Humania”. Di sini pengunjung belajar tentang siapa diri kita, perubahan yang terjadi pada anak-anak yang beranjak remaja, bagaimana otak kita bekerja, hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan, rupa wajah, motorik, dan emosi. Selain itu di lantai ini juga ada ruang khusus yang berisi display perkembangan sains dan teknologi beserta proyeksi masa depan khususnya di Belanda.

wlanl_-_petertf_-_brein_boom

Image via wikipedia

dsc_3278-2

Berbagai macam jenis lampu dari Philips – salah satu sponsor Museum ini (photo: private collection)

Lantai teratas mengangkat tema “Energetica”. Di lantai ini di dalam gedung sendiri adalah restoran dengan konsep cafetaria. Sementara untuk proof activities nya sendiri berlokasi di luar gedung, tepatnya di rooftop square. Rooftop square ini sebenernya bisa diakses secara gratis loh. Jadi dari lantai 5 rooftop ini ada tangga menuju ke bawah sampai ke trotoar jalan dan semua orang bisa naik tanpa perlu tiket (mereka baru akan mengecek tiket di dalam gedung dekat lift dan tangga turun). Rooftop square ini keren banget menurut saya (lebih keren dari rooftop view di SkyLounge Hilton Hotel). Mereka mengkombinasikan sains dan teknologi (terutama yang berkaitan dengan energi di sekitar kita seperti angin, air dan surya) dengan sesuatu yang bikin kita betah stay di sana. Selain ada panorama spot (kamu bisa bikin foto panorama pemandangan kota Amsterdam yang keren di spot ini), ada juga sundial yang berinteraksi dengan bayangan tubuh kita, kursi-kursi dengan solar panel, dan spot untuk bermain dengan air di water fountain dan water wheel.

nemo-energetica-2

The Sundial with your shadow as the face (image via http://www.energy-floors.com)

dsc_3279-2

(photo: private collection)

dsc_3281-2

The moving sculptures (photo: private collection)

dsc_3285-2

The scheepvaartmuseum seen from the rooftop (photo: private collection)

dsc_3286-2

(photo: private collection)

dsc_3287

(photo: private collection)

dsc_3288-2

(photo: private collection)

Overall, museum ini sangat layak untuk dikunjungi baik untuk dewasa maupun anak-anak. Cuma aja perlu diinget kalo weekend biasanya museum ini lumayan padat. Hal ini bisa sedikit diakali dengan datang lebih awal kali ya hehe. Satu tip lagi buat yang mau berkunjung ke sini pake kendaraan pribadi (mobil). Udah pada tau dong ya kalo parkir di Amsterdam itu lumayan mahal tarifnya. Dari situs NEMO saya baca kalo mereka memberikan potongan harga buat biaya parkir kalo kita parkir di tempat parkir tertentu. Tapi sebaiknya si menurut saya mobil diparkir di P+R Parking Area Amsterdam Arena (apalagi kalo kita mau jalan-jalan di sekitar Amsterdam central juga), dan dari situ cukup naik Metro ke Amsterdam Central Station (atau bisa juga turun di Niewmarkt station). Dari Amsterdam Central Station kita tinggal jalan sedikit (sekitar 1 KM lah). Tarif parkir di sini sekitar €8 dan ini udah termasuk maksimal 7 tiket GVB (tiket buat tram, bus dan metro) yang bisa dipake seharian (1 jam dari aktivasi tiket pada saat pertama kali tap untuk rute pergi/keluar dari tempat parkir, dan ketentuan yang sama untuk tiket kembali ke tempat parkir). Tiket ini jangan dibuang, karna akan diperlukan pada saat kita bayar parkir nantinya.

Okeee, sekian dulu cerita kali ini ya, sampai jumpa di postingan lainnya :p

ps.
mohon maaf ya, berhubung saya agak repot sama bayi dan anak-anak yang tiap waktu minta mamanya ikut liat aktivitas mereka, saya cuma bisa ambil foto beberapa kali. Selebihnya saya ambil dari berbagai sumber di internet kurang lebih sebagai referensi temen-temen aja.

Advertisements

#TBT: Tokyo, Japan – 2007.

“I’ve never really wanted to go to Japan. Simply because I don’t like eating fish. And I know that’s very popular out there in Africa.” ~ Britney Spears

I don’t know where Spears got her Geography lesson, but that quote is quite something eh😜 and it relates to the post I’m about to write here =)

Back then in 2007, during the first years of my work, my boss had appointed me to join in a three week training held by the Government of Japan through their agency, JICA (stands for Japan International Cooperation Agency). The training was held in Tokyo, Japan. I got quite excited because it was the first time for me traveling abroad. At that time, never across in my mind that I could go traveling outside Indonesia. Besides the cost, I also never been far from my family for such a long time.

The flight from Jakarta (Soekarno-Hatta Airport) to Tokyo took around 7 hours direct and non-stop. I went there with other two office colleagues (from different Division). We landed at Narita Airport early in the morning. Luckily the Agency had arranged the transportation for us (by taxi) from the airport to the place we were staying. The place where we stayed called JICA “Tokyo International Center” or TIC – Tokyo. From the TIC there are two metro stations that quite close by: Hatagaya and Yoyogi-Uehara station. The facilities at the TIC was quite complete. The place itself was almost like a dorm actually. The room was a bit compact, it has private bathroom inside (with a small bathtub), standard hotel room equipment such as bed (single size), wardrobe, TV, AC/heater. In the building they provide washing room, shared kitchen (including water cooker and ice block machines), karaoke room, lounge, dining room (which provide halal food as well), and computer room. A bit out of the topic, during the tsunami and big earth quake in Japan not so long ago, TIC was being used as one of the victim base-camp.

On a short note about the training, it was mainly about Intellectual Property System (IP System). The participants got a chance also to see how the Japan Patent Office handled the IP management system, including how they did the IP awareness campaign with young generation as their target and how the Japan Custom Office tackled the IP infringement.

For a first timer, and considering that during that time was the start of Ramadhan fasting moment, I think my visit at that time was not that bad. I had a chance to visit some Japanese’s landmarks such as the Imperial Palace, Tokyo Tower, Asakusa temple, City of Odaiba, Ueno park, Ginza as well as few other places. Oh, and just like typical (first timer) tourists do, I also took a ride on a hop on hop off bus there :p

Since this trip was completely arranged by the organization, I don’t think I have any tips or useful thing to share for a traveler here hehe. If I had another chance, I would love to visit Japan again someday, but preferably only for holiday =)

100_1685

The history of Customs in Japan explained in a beautiful painting

100_1687

(Miniature of) The Liberty Statue in Odaiba, Japan

100_1537

the view of Imperial Palace in Tokyo, Japan

100_1699

Team F1 – Panasonic in that year=)

100_1495

Plopped atop Tokyo’s Asahi Beer building is the famous kin no unchi, Japanese for “Golden Turd.” (Locals also call it the unchi biru, aka “poop building.”) The 300-ton stainless steel sculpture designed by French architect Philippe Stark was meant to look like foam rising from a beer mug (information derived from http://www.cnn.com)

100_1502

View from Ueno Park

In Ueno Park, there are some handprints and signature of very famous Japanese people who contributed to each field like sports and performing arts in Japan. I tried to look up on internet whose handprint this one below is, but I couldn’t find it. I guess I picked the wrong one hehe. There were few others also which has some info, for example the handprints of a former Judoka who won a gold medal with a world record in 1984 Los Angeles Olympic – YAMASHITA, Yasuhiro, and OH, Sadaharu – a former baseball player who held a world record of the total 868 home run and has not been broken by anymone else until now.

100_1503

does anyone know whose handprint is this? – taken at ueno park.

100_1528

the Swan swimming on the lake nearby Imperial Palace

100_1633

Lekker Shabu-shabu!

100_1663

Seeing these display of crepes which not (yet) available in Indonesia during that time made my eyes drooled :p

In Asakusa, there is an ancient Buddhist temple called Sensō-ji (Kinryū-zan Sensō-ji). It is Tokyo’s oldest temple, and one of its most significant. Formerly associated with the Tendai sect of Buddhism, it became independent after World War II. Adjacent to the temple is a Shinto shrine, called the Asakusa Shrine.

100_1488

The Hozōmon (“Treasure-House Gate”) is the inner of two large entrance gates that ultimately leads to the Sensō-ji (the outer being the Kaminarimon) in Asakusa, Tokyo. A two-story gate (nijūmon), the Hōzōmon’s second story houses many of the Sensō-ji’s treasures. The first story houses two statues, three lanterns and two large sandals. It stands 22.7 metres (74 ft) tall, 21 metres (69 ft) wide, and 8 metres (26 ft) deep. (Information taken from http://www.wikipedia.org)

100_1485

Nakamise dōri in Autumn

The Nakamise-dōri is a street on the approach to the temple. It is said to have come about in the early 18th century, when neighbors of Sensō-ji were granted permission to set up shops on the approach to the temple. However, in May 1885 the government of Tokyo ordered all shop owners to leave. In December of that same year the area was reconstructed in Western-style brick. During the 1923 Great Kantō earthquake many of the shops were destroyed, then rebuilt in 1925 using concrete, only to be destroyed again during the bombings of World War II.

The length of the street is approximately 250 meters and contains around 89 shops.

DSC00340

The Indonesian group who stayed in TIC during the time of my visit posed in front of an interesting art on the ceramic painting located in one of the gate at the Ueno Station

DSC00398

celebrating the Autumnal Equinox Day at the TIC =)