Malmö, Sweden and Lütjenberg, Germany.

Malmö, Swedia.

Kota tujuan kami setelah Copenhagen dalam rangkaian liburan musim panas 2017 kemarin adalah Malmö, Swedia. Rencana awalnya kami cuma nginep semalam aja di sana, karna saya sama sekali blank sama Malmö walo dulu temen saya pernah cerita kalo Malmö bagus (saya kasih ide buat sekalian ke Malmö aja karna penasaran sama jembatan lintas laut yang menghubungi Copenhagen sama Malmö sebenernya haha). Jadilah saya dateng berkunjung ke sana tanpa ekspektasi dan rencana apa-apa kecuali keliling sekitar city center aja.

Perjalanan dari Copenhagen ke Malmö via jembatan Øresund cuma memakan waktu sekitar 45 menit aja dong. Kita pun bisa melihat kota Malmö dari atas jembatan. Begitu masuk ke wilayah Malmö, saya punya feeling kalo saya bakalan suka dengan kota ini. Kotanya ga sebesar dan sesibuk Copenhagen. Suasananya lebih “hijau” dan rimbun. Dan yang utama, ga banyak rombongan turis yang saya temui di sini hehe. Tranquil!

Kami menginap di Scandic Malmo City yang lokasinya kebetulan berseberangan dengan city center. Walaupun mereka ga menyediakan parkir secara gratis, saya tetep suka dengan konsep hotelnya yang memang family-friendly. Selain inclusive breakfast dan wifi, kamarnya pun besar, lengkap dengan kitchenette beserta cuttleries-nya dan meja makan beserta empat buah kursi. Bahkan mereka nyediain baby chair di kamar kami hehe.

Scandic Malmö City

Entrance-nya (lobby-nya kecil!)

Art work di sekitar restoran di hotel

Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami pun memutuskan untuk keliling di sekitar city center. O ya, pas kami check in resepsionisnya kasih info ke kami kalo mulai jumat malam sampai hari minggu di sana akan ada “Malmö Festival.” Festival ini kayanya lumayan gede karna saya liat persiapannya juga besar-besaran dan udah keliatan bahkan beberapa hari sebelumnya. Pas kami keliling di sana udah berdiri panggung besar di tengah-tengah atrium city center-nya, dan juga beberapa food truck dan wahana-wahana khas kermis/night fair udah nangkring dengan manisnya (walau belum pada beroperasi pas kami di sana). Sayang banget kami baru tau pas udah di sana karna kami cuma stay di sana sampe Jumat siang.

Boat for rent

Kami keliling sampe ke Malmö central station. Stasiun keretanya lumayan besar dan nyaman. Yang bikin stasiun ini cukup menarik menurut saya adalah adanya restaurant row yang lokasinya agak terpisah di bagian samping stasiun (well, masih di dalam stasiun tapi lokasinya di samping gitu). Variasi makanannya pun cukup banyak, mulai dari fast food macam Subway, Japanese food, Chinese, Italian, Vietnamese, Middle Eastern, sampai Bakery tersedia di sana.

Kereta yang melintas jembatan Øresund (kayanya 😁)

Platform stasiun

Restaurant row.

Locker/storage for rent di stasiun

Karna anak-anak sedari di Copenhagen ngidam subway, jadilah untuk makan malam mereka minta itu. Saya sama suami milih pesen masakan vietnam (Beef Pho) untuk makan malam. Untung rasanya lumayan ga mengecewakan. Setelah makan, sebelum balik ke hotel saya beserta anak-anak dan suami beli cake Tradisional dari Swedia – princestarta atau princess tart – sebagai dessert dan merayakan bareng ulang tahun saya yang kebetulan bertepatan pada hari itu.

Keesokan harinya selesai sarapan dan main di kids room, kami kembali menjelajahi kota Malmö. Di malam harinya saya nyempetin sedikit browsing apa saja yang menarik untuk dikunjungi di sana. Sepanjang kami di sana, kami tidak menggunakan transportasi publik dan memilih untuk jalan aja. Sebenernya jarak yang kita tempuh lumayan jauh tapi karna cuaca yang sangat bersahabat dan beberapa kali istirahat, anak-anak pun hampir ga kedengeran mengeluh sepanjang perjalanan. Mamanya cukup amazed haha.
Trus apa aja yang menarik di Malmö? Untuk kota yang ga gitu besar, lumayan banyak spot bagus dan menarik yang ada di sini.

Yang pertama, tentu aja pengalaman ga terlupakan melewati Øresund bridge yaaa hehe. Kalo udah sampe ke Kopenhagen menurut saya si sayang banget kalo ga mampir ke Malmö via jembatan ini. It’s really worth to visit lah menurut saya. Foto (dan video) ga cukup menggambarkan pemandangan dan kecanggihan yang bisa kita saksiin dari jembatan dan sekelilingnya ini (tsaah😂). Btw, dari jembatan ini kita juga bisa liat sekelumit Malmö dari kejauhan loh.

Chillin’ on the couch. Lucu ya!

Bronze statues at city center

Kemudian ada satu gedung yang menarik yaitu Turning Torso. Gedung ini merupakan salah satu gedung (skyscraper) tertinggi di wilayah Skandinavia yang selesai dibangun pada tahun 2002 dan digunakan sebagai tempat tinggal dan perkantoran. Bentuknya unik, menyerupai orang kalo lagi berputar (makanya disebut turning torso). Lokasinya ga jauh dari selat Øresund dan sekitar 2,5 KM dari Malmö Central Station. Trus ada lagi Old Light House yang lokasinya ada di tengah kota. Kalo ga salah mercu suarnya sendiri udah ga dipake lagi, tapi mereka tetap mempertahankan si mercu suar ini. O ya, di deket stasiun ada semacam art work yang sangat colorful yang disebut “Spectral Self Container.” Anak-anak sempet manjat itu art work dong (yang kayanya ga dilarang si, karna ada anak lain yang juga lagi nangkring di sana haha).

Spectral Self Container.

Old light house from distance.

Old light house at a closer look

The Turning Torso

View at harbour close by Ribersborg beach.

They also have floating houses like in Amsterdam 🙂

Lanjut, ga jauh dari city center-nya Malmö (kurang lebih 20 menit jalan kaki) kita pun akan sampai di pantai Ribersborg (Ribersborgsstranden). Di tengah-tengah si pantai dan jalan raya terbentang luas (sepanjang mata memandang) taman terbuka dengan view keren jembatan Øresund di kejauhan.

Øresund bridge captured from distance.

Btw, ga jauh dari Turning Torso, banyak perumahan-perumahan baru dan ada playground yang cukup besar dan lumayan lengkap permainannya. Mulai dari tempat khusus untuk para anjing, perosotan besar dengan bentuk yang unik, ayunan, sampai jembatan goyang juga ada.

Kompleks perumahan/apartemen di sekitar turning torso.

Ini perosotan loh, bentuknya lucu banget ya

Satu yang saya ngeh di Malmö ini adalah mereka punya banyak taman dan tempat terbuka. Mungkin karna kota ini juga belum begitu banyak penghuninya (juga turisnya) makanya bahkan di city center-nya sendiri saya ga liat banyak orang bertebaran di mana-mana (lalet kali wkwk). Satu lagi yang saya tangkep dari kota ini adalah orang-orangnya yang cenderung rileks dan lebih laid back kalo dibandingkan dengan orang-orang yang saya temuin di Copenhagen. Entah yaaa, ini cuma perasaan seorang turis yang berkunjung di sana beberapa hari doang loh hahaha, jadi bisa jadi feeling kaya gini berubah kalo saya disuruh tinggal di sana. Dari segi bahasa, mereka juga ga gitu masalah kayanya untuk ngomong dalam bahasa Inggris. Sapaan khas warga di sana kalo mau say hello (dan goodbye) adalah “Hej”. Unyu ya hahaha. Sayang banget kita ga bisa stay di sana pas festival berlangsung (kalo iya bisa makin panjang postingannya si tapi hihi). Mungkin pas festival baru banyak keliatan orang di sana 😜.

Some spots at Slottsträdgården/Slottsparken.

Nemu kincir angin lagi hehehe

Dapet shot keren di Kungsparken.

Signage untuk Malmö Festival

Food trucks

Hari berikutnya kami pun check out dan siap-siap untuk looong trip lagi. Karena kita mau ngerasain sesuatu yang berbeda dan baru untuk anak-anak, pas pulang kami putusin ga lewat Øresund bridge lagi tapi via Ferry untuk nyebrang dari Swedia ke Denmark dan dari Denmark ke Jerman. Btw, dari segi biaya dua pilihan rute ini ga beda jauh sebenernya (via Ferry sedikiiit lebih murah), sementara dari segi waktu kalo lewat Øresund bridge lumayan motong waktu sedikit lebih cepat. Btw ferry-nya ini sejenis Ro-Ro kaya yang dipake di Bakauheni-Merak itu loh, cuma emang lebih terawat dan sedikit lebih keren hehe.

Lütjenburg, Jerman.

Begitu sampe Jerman, kami langsung disambut sama macet. Ini lagi yang beda dari negara Skandinavia yang kita kunjungi sama Jerman bagian yang kita lewatin – Hamburg dan sekjtarnya (macet free vs macet everywhere). Dari pelabuhan (Puttgarden Harbour) ke kota Lütjenburg – tempat kami menginap – sebenernya ga begitu jauh (sekitar 55KM) dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit aja, tapi karna macetnya yang ga kira-kira kami baru sampe ke hotel tempat kami nginep setelah di perjalanan lebih dari 3 jam. Kata suami, sumber utama kemacetan di Jerman adalah road construction yang banyakan barengan dan ga cepet dituntaskan. Selain itu tentu aja banyaknya caravan melintas (maklum musim liburan).

Interior kamar kami.

Kami sama sekali ga kemana-mana di Lütjenburg karna memang niat dari awal adalah supaya yang nyetir bisa istirahat. Cuma karna kami perlu beli makanan makanya saya dan suami (beserta unyil) belanja di Lidl supermarkt yang untung lokasinya deket banget dari hotel.

Btw, kami nginep di hotel Das Ostseeblick. Saya reservasi kamar via booking.com. Harganya ga gitu murah sebenernya, tapi fasilitas yang ditawarin juga lumayan mewah si. Selain ada private walk track, mini golf dan outdoor playground, mereka juga ada kolam renang indoor (dan jacuzzi kalo ga salah). Interior-nya juga keren, bikin saya inget game design home wakakaka. Cumaaa mereka ga punya lift ciin, syedih! Kasian bener deh suami saya, harus ngangkat koper (untung cuma 1 walo gede) ke kamar kami. 

Interior reception – lounge area.

Kolam renang indoor-nya.

Lounge room di lantai 2.

Saya suka sama piring-piring ini 😆

Konon kata suami saya Lütjenburg dulu termasuk salah satu tujuan wisata yang lumayan hits. Kota ini memang deket sama garis pantai, cuma ga sekeren Lübeck yang punya situs yang dilindungi oleh UNESCO. Dia agak menjorok ke dalam, makanya orang prefer ke kota lain di sekitar situ kali ya. Saya juga sebenernya nyari hotel di sekitar Lübeck, cuma karna pas summer makanya hotel di sekitar situ (yang familyfriendlyfull booked semua. Untung suami ga masalah, makanya jadilah kami stay di Lütjenburg.

Besokannya setelah sarapan santai (full service dan enak sarapannya!), kami pun check out dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. Dengan beberapa titik kemacetan yang lumayan di wilayah Hamburg, alhamdulillah kami sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah juga road trip pertama kami dengan si kecil bisa dibilang lulus dengan memuaskan hehe. Si unyil lumayan anteng sepanjang jalan dan anak-anak (hampir) sepanjang perjalanan juga enjoy dan menikmati. Road trip ini hampir dipastikan ga akan jadi road trip terakhir kami. Di lain kesempatan insya allah kami akan pergi lagi dengan rute yang berbeda.

Advertisements

2nd Stop: Billund, Denmark.

“If there was no Lego in Billund, there will almost be no Billund… Lego is Billund, and Billund is Lego.” Jorgen Vig Knudstorp

Kami berangkat menuju Billund dari Hamburg sekitar jam 11 siang. Di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk makan siang di rest area yang kebetulan pas kami lewati pada saat jam makan siang. Salah satu kelemahan cara kita ini adalah makanan yang kita dapet akhirnya ya apa adanya deh.

Setelah menyetir selama kurang lebih 3 jam lebih, akhirnya kami sampai juga di Billund, Denmark. Udah pada tau kan yaa, tujuan utama kami ke sini adalah Legoland hehe. Kalo dulu pas di Legoland Günzburg kami menginap di Legoland Resort-nya, kali ini kami menginap di Bed & Breakfast Gregersminde (well, actually we didn’t get breakfast, that’s just how they call it 😛) yang lokasinya ga jauh dari Legoland. Saya sempat kepikir untuk stay di Legoland Resort-nya juga si, tapi begitu saya cek harganya langsunglah saya mundur teratur. Udah ini tempat turis kumpul, pun letaknya di Denmark – which is known as one of the expensive countries to live!. Untung aja saya masih bisa booking si B&B ini, secara sebelumnya setiap saya nyari tempat buat stay dengan harga yang agak masuk akal (dengan lokasi yang ga begitu jauh plus kondisi yang cukup nyaman) mesti semuanya either fully book ato ga harganya bikin saya urut dada hahaha.

Tempat kami stay ini lumayan melebihi ekspektasi kami. Saya pikir lokasinya bakalan agak ke dalem di tengah hutan dan kabinnya banyak kaya di tempat-tempat outdoor camping dengan holiday hut gitu. Tapi ternyata si B&B ini cuma ada satu kabin yang terpisah, selain itu mereka ada kamar yang lokasinya di rumah utama dan beberapa kabin model rumah susun gitu. Mereka nyediain sepeda yang bisa kita pakai gratis, tempat parkir kendaraannya juga lumayan. Selain itu di sana ada juga playground dan lapangan futsal.

Kabin kami sendiri bisa dibilang compact, efisien dan lengkap. Kamarnya ada 2 (satu kamar dengan double bed dan satu kamar dengan bunk bed). Di kabin juga tersedia dapur beserta peralatan makan dan kelengkapan memasak lainnya (bahkan bread toaster dan coffee maker juga ada), kamar mandi (shower) lengkap dengan hair dryer, plus sesuai request kami juga disediakan baby cot dan baby chair.

Billund  sebenernya kota yang ga begitu besar – tapi juga ga kecil. Seperti yang saya kutip di atas, kalo Lego ga pertama kali dibuat di sini, mungkin orang-orang ga akan kenal dengan Billund. Sepanjang perjalanan menuju Billund yang kami lewati hampir ga ada gangguan dan bebas dari macet (jauh beda dengan jalan menuju Hamburg – baru nginjek gas ehh di depan ada perbaikan jalan lagi yang berarti ngantri lagi wkwk). Trus, entah kaminya yang bego atau emang ini kenyataan ya, tapi menurut kami city center-nya Billund itu kecil banget! perasaan kampung tempat kami tinggal lebih lengkap dan lebih gede deh wkwk. Suami bahkan nyeletuk, “Kayanya Legoland jauh lebih besar dan rame kalo dibandingkan sama Centrum Billund-nya sendiri deh.” Jadi center of crowd-nya Billund ya si Legoland ini lah (dan Billund Airport yang lokasinya berseberangan dengan Legoland).

Ada satu lagi yang lumayan mencolok yang kita liat di centrum-nya. Hampir sebagian besar restoran yang kita temuin di sana menawarkan menu yang sama: pizza, pasta and grill. Apa ini trik mereka untuk ngurangin persaingan ato kurang kreatif saya kurang tau deh hihi. Tapi kalo dari pengalaman kami makan di salah satu restorannya si rasanya cukup enak (kami waktu itu cuma pesan beberapa jenis pizza dan salad aja).

Keesokannya setelah sarapan (di kabin – kami belanja di supermarket yang lokasinya selemparan batu dari tempat kami nginep) kami berangkat menuju Legoland. Lokasinya cuma 5 menit dengan mobil dari tempat kami menginap. Legoland sendiri menyediakan tempat parkir di beberapa lokasi, dengan lokasi paling dekat ada di seberang legolandnya. Harga tiket masuk Legoland bisa dibilang masih lumayan masuk akal kalo dibandingin sama Disneyland. Kebetulan saya nemu promo yang cakep banget di Groupon, dimana buat family ticket (open date, maksimal 2 dewasa dan 2 anak) harganya sekitar 40% lebih murah dari harga aslinya.

Main entrance Legoland Billund.

Legoland Billund bisa dibilang ga jauh beda dengan legoland-legoland lain yang udah pernah kami kunjungi (baru yang di Johor Bahru Malaysia sama di Günzburg Jerman aja si hahaha). Tapi ada satu yang bikin mereka beda: miniland-nya. Di sini mereka punya miniatur dari gedung-gedung tertinggi di dunia, plus miniatur kota-kota di Denmark dan beberapa kota besar di Eropa. Sebenernya saya motret lumayan banyak miniatur land-nya, tapi saya cuma upload beberapa aja di sini hehe.

Ga seperti Disneyland dan Efteling, Legoland ga sepanjang tahun buka. Mulai bulan November sampai bulan Maret di tahun berikutnya mereka tutup dan baru buka kembali di bulan April. Ga kaya Disneyland yang ga membolehkan pengunjungnya untuk bawa makanan dan minuman dari luar, legoland punya konsep “terbuka” alias pengunjungnya boleh bawa makanan dan minuman sendiri (di efteling juga sama). Di sana sendiri lumayan banyak pilihan makanan yang bisa kita pilih (mulai dari kebab, wok to go, dan makanan standar seperti burger, fries and steak). Rasanya (dan porsinya) juga sangat bikin kenyang dan harganya cukup masuk akal.

Setelah anak-anak puas main (plus sudah hampir waktunya park tutup), kami kembali ke tempat kami menginap. Sewaktu kami jalan menuju ke tempat parkir di langit sedang menyembul segaris pelangi. Cantik!

Lego version of Nyhavn, Copenhagen.

Lego version of the White House.

The Clock Tower Mecca, Shanghai Tower China, and Burj Al-Khalifa UAE.

The rainbow!

Besok paginya anak-anak setelah sarapan main di playground dan trampolin di B&B, dan setelah makan siang kamipun berangkat menuju ke Kopenhagen.

A Visit to Durban, South Africa

Umhlanga beachfront

“Durban is South Africa’s own Monaco, and it is appropriate that the event should take the form of a Monaco-style street race along one of the most beautiful beachfronts in the world.” – S’BU NDEBELE

Back then in April 2011 when I had a training in Stockholm, I knew there would be a follow up session (of the training) for all participants to be attended six months afterwards in one of participants’ country. We were excited enough with any of the options (among others, two strong candidates were China and South Africa). In September we received an email from the host, they informed us that the follow up session will be held in Durban, South Africa. Although China would be great as well, but going to South Africa (or any countries in Africa continent) by any chance would be more difficult for me to be fulfilled. That’s why I was very excited for having this one time experience.

I know a bit about Cape Town, Johannesburg, Pretoria or Port Elisabeth (one of my friends is from this city), but I never heard Durban before. Thats why after we received confirmation about the place, I then began to browse and tried to look any information I can find about Durban online.

According to Wikipedia, Durban is the largest city in the province of KwaZulu-Natal, and the third in South Africa. It was originally called Port Natal, and was founded by British settlers. There are quite a lot of Indians live here, makes it as one of the largest population centers of Indians in the world, outside of India. It’s mainly because of the history where Indian workers were brought in to work the sugar cane plantations. Zulu and English are the most common languages in Durban.

There are several ways to enter Durban. Most flights from other countries usually fly to Johannesburg, Cape Town or Pretoria. From those cities then you can take domestic flight heading to King Shaka International Airport in Durban. Another way is to fly to Durban directly, although there were not so many scheduled flight options you can choose. If you happen to be from Jakarta, you can use Emirates with one stopover in Dubai, United Arab Emirates. This was the flight that I and another Indonesian participant (Bu Ina) used to reach Durban. In Dubai airport we also met other participants from other countries (Ukraine, Bangladesh and Philippines) at the airport. Apparently we had the same (connecting) flight from Dubai to Durban. The flying duration from Jakarta to Dubai took around 8 hours, and then we had 4-5 hours lay-over time in Dubai Airport. Further we had to fly from Dubai to Durban for approximately 9 hours.

anis durban dubai2

tired faces waiting for the next flight to Durban.

We stayed in Protea Hotel (now managed by Marriott) located in Umhlanga Rocks area, a place faces the warm waters of the Indian Ocean. Btw, the name Umhlanga means ‘place of reeds’ in the Zulu language. The hotel is located next to a shopping mall, and only a stone away from the umhlanga beach and its (famous?) light house. When you’re lucky, sometimes if you go by boat a bit further from the beach you can see some whales (and dolphins) swimming around.

The view of the hotel and the surrounding. Image via marriott.com

The room. Image via booking.com

The rooftop. Image via hotels.com

Durban hotel view

The view from my hotel room.

During my stay there, almost every morning I went for light jogging or just a walk together with some of other friends. The view around the beach was so pretty and they made a special jogging track so people can enjoy the surrounding. My friend said that Durban seaside is one of the elite area where mostly rich people live there. No wonder you can find lots of big houses in this area (complete with high wall and (barb)wire protection – just like rumah gedong in Jakarta :)). Umhlanga Rocks also has a big mall where you can find almost anything, including local souvenirs as well as diamond.

CIMG1994

View of the Umhlanga beach (Anis’ image).

warning sharks

Warning Sign about sharks on the beach (Anis’ image).

joydurban

Almost all activities are not allowed on the beach lol (image courtesy of Joy).

durban1chowdhury

The other side of the beach (image courtesy of Chowdhury).

In contrast, the situation in the City Center was less interesting (in other words: not that pretty). It was more like a side of Jakarta where you can find some pedagang kaki lima. I guess here you can see the real Durban – and not a touristic place like Umhlanga area. We also went to the market there to get some typical souvenirs from Africa.

durban4chowdhury

(image courtesy of Chowdhury)

chowdurban1

The van we used to go around the city (image courtesy of Chowdhury).

chowdurban3

One of statues we found in the city center (image courtesy of Chowdhury).

durban7iolanda

The view of the market (image courtesy of Iolanda).

durban2iolanda

One of the souvenir store close by to our hotel (image courtesy of Iolanda).

Regarding the food, you can see that Indian cuisine has a big influence here. No wonder I guess since lots of Indians live here. Other than that, they also have other options including fast food (there was KFC not that far from the hotel 😂). At the big mall, they have a food court that offers variety of foods. I only had a chance to taste typical African food at the hotel during breakfast and dinner reception btw (and I didn’t quite enjoy it since it’s not really my cup of tea 😅).

As an add-up to the training session, we also had a chance to have some visits to several interesting places around, including a visit to local village of Zulu tribes. Fyi, the name of the Durban Airport was taken from the (once) leader of this tribe – King Shaka. At the village, they told us about how they live, what are things that important for them, how things worked there, and made us involved in some of their activities.

road trip to shakaland

The view on the road to Shakaland.

CIMG2061

Information about Zulu (Anis’ image).

CIMG2059

The (tour) guide at the Shakaland – Zulu Village (Anis’ image).

anisdurban2

In front of the entrance to the Village (Anis’ image).

CIMG2070

(Anis’ image)

durban5iolanda

(image courtesy of Iolanda)

durban4iolanda

(image courtesy of Iolanda)

durban3iolanda

The two ladies posing for us (image courtesy of Iolanda)

CIMG2074

One “ingusan” kid lol (Anis’ image)

durbanina1

They did a special performance for us 🙂 (image courtesy of Bu Ina)

Another interesting place we have been visited was the soccer stadium. Soccer is actually less popular than Rugby here in South Africa. This stadium was especially built during the world cup in 2010 (correct me if I am wrong). We can go to the top part of the stadium using cable car.

chowdurban2

The Moses Mabhida Soccer Stadium, seeing from Botanical Garden (image courtesy of Chowdhury)

CIMG2131

The ticket price to go up at the stadium using cable car at that time (Anis’ image)

durban3chowdhury

The view of Durban harbor seeing from above the stadium (image courtesy of Chowdhury)

CIMG2140

A Colombian, An Indonesian, and A Brazillian 🙂 (Anis’ image)

There are so many other interesting things you can do here actually (sea aquarium, safari). Too bad I didn’t have a chance to go to the wild (safari) since we only stayed there for a week (and I already arranged another plan afterwards at that time). I guess I just have to visit South Africa one (or more) more time to get the real feel of being in Africa 🙂

anisdurban

Doei ! 😀 (image courtesy of Chowdhury)

The Happiest Countries in the World

30202269-01

 

Mumpung bulan Maret belum berakhir, saya mau share postingan saya yang ini. Pada tanggal 16 Maret kemarin di Roma, beberapa hari menjelang perayaan United Nations (UN) World Happiness Day yang jatuh pada tanggal 20 Maret, UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) kembali meluncurkan The World Happiness Report untuk tahun 2016. Report-nya sendiri berisi peringkat negara-negara di dunia berdasarkan tingkat kebahagiaan di negara tersebut. Juga didalamnya terdapat beberapa tulisan dari para pakar, data dan analisa terkait dengan happiness.

Laporan ini bukan yang pertama kali dibuat. Di tahun-tahun sebelumnya The World Happiness Report juga pernah di-publish (tiga kali, tahun ini adalah yang keempat). Peringkat kebahagiaan negara-negara ini didasarkan pada survey yang diselenggarakan di 157 negara selama 3 tahun (2013-2015) dengan enam variabel utama: Pendapatan perkapita dari negara tersebut (GDP), healthy life expectancy, dukungan sosial (terutama terkait dengan adanya seseorang yang bisa diandalkan), kebebasan untuk memilih dalam hidup, tingkat kepercayaan (corruption free di pemerintahan dan dunia bisnis), dan tingkat kedermawanan (generousity). Dalam laporan tahun ini para researchers juga melihat dari sisi lain dalam menentukan tingkatan kebahagiaan ini. Mereka tidak hanya melihat dari bagaimana orang-orang tersebut bahagia, tapi juga bagaimana kebahagiaan tersebut terdistribusi secara merata (atau tidak) di seluruh individu (di negara tersebut). Dengan kata lain, mereka juga melihat bagaimana ketidakmerataan (kebahagiaan) mempengaruhi tingkat kesejahteraan di tingkat nasional.

Para peneliti menyimpulkan bahwa negara-negara yang tingkat kebahagiaannya berada di peringkat atas memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih merata hampir di seluruh penduduknya. Mereka juga menyimpulkan bahwa seseorang lebih bahagia apabila berada di dalam masyarakat yang memiliki tingkat kebahagiaan lebih merata.

Survey kebahagiaan ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem Cantril Ladder.

“Please imagine a ladder, with steps numbered from 0 at the bottom to 10 at the top. The top of the ladder represents the best possible life for you and the bottom of the ladder represents the worst possible life for you. On which step of the ladder would you say you personally feel you stand at this time?”
*the Cantril ladder question, text derived from World Happiness Report 2016 – Volume I.

Dibilang penting banget juga ngga si, tapi sebenernya report ini lumayan berguna buat pemerintah, organisasi, komunitas atau pihak lain untuk mengambil kebijakan yang bisa meningkatkan kebahagiaan warganya atau kebijakan yang bisa mendukung kehidupan yang lebih baik (ideal banget ya hehe).

Untuk tahun 2016 ini Denmark kembali menempati peringkat teratas dari 157 Negara. Kembali karena di tahun 2013 dan 2014 Denmark juga berada di peringkat pertama dari negara-negara dengan tingkat “kebahagiaan” tertinggi. Di tahun 2015 Swiss adalah negara yang berada di peringkat teratas, sementara Denmark menduduki peringkat ke-3.

Bagaimana dengan Belanda? Cukup lumayan lah hehe, masih masuk sepuluh besar (peringkat ke-7), sementara Amerika Serikat (AS) berada di peringkat ke-13, Inggris di peringkat ke-23 dan Perancis di peringkat ke-32.

Ada satu komen yang cukup menarik yang saya baca di salah satu artikel terkait dengan peringkat kebahagiaan ini di Reuters. Profesor Jeffrey Sachs (Head of SDSN dan penasehat khusus Sekjen PBB) yang merupakan warga AS menyebutkan bahwa walaupun tingkat kekayaan AS jauh meningkat selama 50 tahun terakhir, namun hal ini tidak membuat (masyarakatnya) menjadi lebih bahagia. Beliau berpendapat bahwa masyarakat yang hanya mengejar uang (seperti yang terjadi di AS) telah melakukan suatu kesalahan. tingkat sosial dan kepercayaan termasuk dengan pemerintah menjadi semakin berkurang.

Indonesia sendiri berada di peringkat ke-79. It’s not that bad lah ya kalo dilihat dari 156 negara (we are quite in the middle). Tapi kalo saya lihat peringkat Singapura yang berada di peringkat 22, Thailand di peringkat 33, dan Malaysia di peringkat 47, saya jadi agak syedih karna kita lumayan jauh dari mereka. Untungnya tingkat kebahagiaan kita masih diatas Filipina, Laos, Vietnam, Myanmar, bahkan Portugal. Yang lumayan nolong peringkat Indonesia dari enam variabel yang disurvey adalah tingkat kedermawanan kita yang cukup besar.

Sementara, tiga negara dengan peringkat kebahagiaan paling buruk adalah Togo, Suriah dan Burundi. Burundi yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia (dengan tingkat GDP yang rendah), dengan tingkat korupsi yang tinggi, kurangnya akses pendidikan dan kesehatan (banyak warganya yang terjangkit AIDS dan HIV), serta akibat dari perang saudara (civil wars) yang terus berkecamuk di negara ini unfortunately menjadikan negara ini (dengan warga) yang paling kurang bahagia di dunia. Mungkin dulu Suriah termasuk salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan yang cukup tinggi, tapi sekarang karena kondisi di dalam negara nya yang saat ini lagi sangat ga kondusif para masyarakatnya menjadi less happy 😦

Untuk list lengkapnya bisa dilihat berikut.

ranking of happines1-1ranking of happines2-1ranking of happines3-1

Trus sebenarnya apa yang bikin Denmark the happiest country in the world? Boleh kan yaa kita mimpi, kali aja bisa belajar dari Denmark dan ke depannya Indonesia akan lebih banyak diisi oleh orang-orang bahagia dibanding sekarang dan bisa menduduki at least 10 besar di list negara paling bahagia 🙂

Mengutip dari website resminya Visit Denmark, ada beberapa hal yang (mungkin) menjadikan Denmark sebagai negara paling bahagia di dunia.

Danish work-life balance
Di Denmark jam kerja normal per minggu adalah 37 jam dan para pekerja di Denmark mendapatkan (setidaknya) 5 minggu waktu libur setiap tahunnya (coba bandingin dengan jatah cuti normal (PNS) di Indonesia yang cuma 12 hari per tahun! dohhh).

Dengan banyaknya “waktu bebas” yang dimiliki para penduduknya, makin gampang juga buat mereka untuk lebih menikmati hidup. Bahkan dibilang kalo leisure time merupakan bagian penting dari kebudayaan para penduduk Denmark. Pulang kerja tepat waktu, bersepeda atau menggunakan transportasi umum, jemput anak dan makan bareng keluarga adalah bentuk kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga di Denmark.

Leisure time and the Danish art of ‘hygge’
Masyarakat Denmark senang menghabiskan waktunya bersama-sama dengan keluarga dan teman-teman. Istilah “hygge” berarti nyaman, atau cozy, menggambarkan kalo orang Denmark senang berkumpul dalam lingkup yang nyaman dan intim, alias ga formal. “Hygge” di musim semi dan musim panas (atau musim lain selama matahari bersinar) biasanya lebih kepada kumpul-kumpul di taman, pantai, atau cafe-cafe. Intinya kumpul-kumpul santai lah ya hehe. Bandingin sama masyarakat Indonesia sekarang-sekarang ini yang (walau ga semuanya, tapi menurut saya sebagian besar) kalo mau kumpul harus hits lah dandanannya, pokonya ga mau kalah sama temen lainnya.

Ekspektasi yang “tidak berlebihan”
Nah poin yang ini menurut saya cukup menarik. Penulis di situs menyamakan kehidupan masyarakat Denmark dengan kehidupan para Hobbit di Lord of the Ring hehe. Mereka tidak terlalu ambisius dan tidak suka menyombongkan diri. Bisa jadi hal ini dilatarbelakangi dari the Janteloven (Jante-law) yang pada intinya menyebutkan kalo kamu tidaklah lebih baik dari yang lain (you’re no better than anybody else). Ga ada seorangpun yang akan men-judge kita atas pilihan hidup, karir atau kurangnya ambisi kita buat itu. Kalo kita bahagia dengan apa yang kita lakukan, maka nikmatilah. Kira-kira begitulah intinya 🙂

Dengan ekspektasi yang tidak terlalu besar, tentu lebih gampang buat para warga Denmark untuk mencapai kebahagiaan. “Simplicity” dan “small” merupakan kata kunci mereka. Mereka benar-benar menikmati hal-hal sederhana dan juga hidup yang simpel (bisa kita lihat dari desain khas Denmark dan dekorasi rumahnya yang simpel).

Sistem Kesejahteraan di Denmark
Denmark dianggap sebagai salah satu negara yang paling egaliter di dunia, dimana baik pria maupun wanita di sana (kebanyakan) sama-sama memiliki karir. Pajak di Denmark termasuk tinggi, tapi masyarakat memperoleh fasilitas kesehatan gratis dari pemerintah (akses bebas ke rumah sakit dan juga biaya operasi). Sekolah-sekolah dan universitas juga gratis, bahkan para mahasiswa juga mendapatkan “uang saku” bulanan. Banyak skema yang membantu para pengangguran untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan para penggangguran juga diberikan insentif (atau bantuan lain). Pengeluaran pemerintah Denmark yang ditujukan untuk anak-anak dan para manula juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jadi bisa dikatakan kalo sistem kesejahteraan di Denmark memberikan rasa aman bagi masyarakat(nya) sehingga mereka lebih tenang dan percaya bahwa walaupun mereka sakit atau ga punya pekerjaan pun, sistem yang ada akan mendukung mereka.

(Tingkat) Kepercayaan dan Keamanan
Kepercayaan juga merupakan salah satu faktor dari deskripsi orang Denmark atas kebahagiaan. Kepercayaan pada pemerintah, tempat kerja, TK dan sekolah yang (akan) “mengurus” anak-anak mereka, percaya kalo mereka aman dengan tingkat kriminal dan korupsi yang rendah, kepolisian yang dapat diandalkan dan juga lingkungan yang ramah. Para orang tua (khususnya ibu) bisa meninggalkan bayinya di stroller di luar cafe tanpa rasa khawatir, dan orang mungkin saja meninggalkan rumahnya tidak terkunci.

 

Beberapa poin di atas in a way juga saya rasakan di Belanda. Hanya saja dari sisi tingkatannya memang sedikit di bawah Denmark. Jadi wajar kalo Belanda tidak berada di peringkat teratas walau masih masuk di sepuluh besar.

Di Belanda banyak orang-orang yang lebih memilih bersepeda, berkendara umum atau jalan kaki daripada naik mobil sendiri. Setau saya, para istri yang tidak bekerja juga berhak atas tunjangan tiap bulannya (besarannya  kalo ga salah sekitar 250 Euro). Anak-anak juga memperoleh tunjangan yang diberikan kepada orang tuanya sampai umur tertentu (dalam setahun dibagi menjadi beberapa termin), biaya pokok sekolah juga gratis (atau student loan ya? ada yang bisa share info tentang ini?) sampai tingkat universitas (dalam prakteknya orang tua masih perlu membayar beberapa keperluan untuk anak lainnya, walau tidak banyak).

Dari tingkat keamanan, Belanda masih termasuk negara dengan tingkat keamanan yang lumayan. Mungkin sedikit lebih tinggi di kota besar seperti Amsterdam, tapi kita bisa lihat dari banyaknya penjara yang kekurangan penghuni sampai harus ditutup atau menyewakannya untuk menampung narapidana dari negara lain 😀

Agak sedikit dibawah dari sistem di Denmark, dengan sistem wajib asuransi bagi para warganya, tergantung dari skema asuransi yang dipilih, masyarakat Belanda bisa mengakses rumah sakit secara gratis (well, ga gratis juga karna kita tetep harus bayar premi ya hehe). Terkait dengan asuransi – khususnya untuk kesehatan, kita bisa memilih sampai sejauh mana coverage yang kita inginkan. Di lain waktu Insyaa Allah saya akan coba sharing khususnya untuk sistem asuransi dan kesehatan di Belanda ya 🙂

Oh ya, saya juga nemu di situsnya Elle.uk yang membahas secara ringan kenapa Denmark adalah negara paling bahagia di dunia. Beberapa memang serius, tapi ada juga yang seru-seruan kaya orang-orang Denmark itu cakep-cakep, mereka sangat well-dressed, di sana ada yang namanya “open sandwich” – what they call as Smørrebrød, atau desain interior mereka keren-keren.

 

Terkait dengan International day of Happiness tahun ini, saya nemu satu poster yang menarik. Kayanya poster ini terinspirasi dari banyaknya makanan yang terbuang sia-sia, sementara di sisi lain masih banyak yang kelaparan. Anyway, saya akhiri postingan kali ini dengan poster tersebut ya, and may you have a happy day (everyday) kawan 🙂

cdtdalbvaaayiia