Kids’ Favorite: Sosis berselimut Puff Pastry (Sausage in a Blanket)

Pertama kali ketemu resep cemilan super simpel ini saya agak ragu karna nama si cemilan ini dalam bahasa inggris nyebutin satu ingredient yang saya ga bisa makan. Tapii setelah saya cek semua bahan yang diperlukan saya jadi lega karna ga ada hubungannya sama sekali sama yang disebut hehehe. Trus begitu nyoba bikin, anak-anak kasih respon super positif dan minta mamanya lebih sering bikin ini lagi 😁

Kalo penasaran boleh intip resepnya di bawah ya.

Sausage in a Blanket (a.k.a sosis berselimut)

Bahan-bahan:

  • Sosis 12 buah (atau lebih sesuai kebutuhan)
  • Kulit puff pastry siap pakai (saya pakai yang sudah dalam ukuran kotak/bujur sangkar berukuran kecil. Kalo menggunakan kulit pastry yang lebar bisa terlebih dahulu dipotong menjadi 9 bagian)
  • 1 butir telur
  • 1 sdm susu putih cair

Metode:

Pertama-tama panaskan oven hingga ke suhu 220°c. Kemudian potong sosis menjadi 3 bagian. Setelah itu, potong kulit pastry menjadi 4 bagian secara diagonal (terlebih dahulu dibagi dua, kemudian masing-masing bagian dibelah secara diagonal).

Lilit kulit pastry yang sudah dipotong ke sosis kemudian letakkan ke baki untuk memanggang yang sudah dialasi dengan kertas roti. Ulang sampai sosis dan kulit pastry habis.

Kocok telur beserta susu cair, kemudian oleskan di permukaan sosis yang sudah dibalut dengan pastry tersebut.

Masukkan baki panggang ke dalam oven, panggang kurang lebih selama 20-25 menit. Setelah kulit pastry terlihat matang dan bagian atas kecoklatan, matikan oven dan pindahkan sosis ke piring.

Sosis berselimut pastry siap disantap.

Advertisements

One of those days.

Senyum lagi abis ngambek!

Ketika si kecil seharian rewel, harinya mamak pun terasa berat. WHEW.

Hari ini kan jadwalnya dia untuk sekolah, berangkatlah kami seperti biasa walo salju masih tebel dan suhu udara dibawah 0°C. Alhamdulillah pagi aman terkendali tanpa drama apa-apa.

Begitu waktunya jemput si kecil, mulailah drama empat babak kami hari ini.

Pertama, bukannya nurut langsung pake jaket, syal, topi dan sarung tangan ehhh dia malah gegoleran di lantai kelas, trus ga mau pulang. Untung masih bisa dibujuk-bujuk dan dipake juga si jaket, syal dan topinya (sarung tangan ditolak mentah-mentah).

Di tengah jalan dia mulai bertingkah lagi dooong. Mulailah cerita babak kedua 😂. Dia minta jalan ke arah yang berlawanan dengan rute menuju rumah (bukannya deket malah makin jauh malih). Saya ga turutin kan ya, eh dia ngadat dan berhenti diem di tempat. Kezel rasanya pengen saya gendong aja itu anak, tapi saya ga kuat hahahah (anaknya udah berat 😭). Saya pura-pura jalan aja ninggalin dia (tapi saya ga berani jauh-jauh, takut dia malah ngucluk sendiri). Saya berhenti dan agak ngumpet di balik pepohonan gitu. Dia sempet bergerak nyari si, tapi begitu liat saya masih ada lah dia diem lagi wkwkwk. Dem mama kalah pinter! Akhirnya saya japit aja tangannya trus agak saya paksa jalan. Untungnya ga lama dia mau jalan lagi. Aman nih sementara, sampe di rumah mulai lagi rewel minta sesuatu dengan merengek . Karna udah perjanjian kalo dia merengek akan kita kasih straf, akhirnya saya kasih dia penalti (straf) untuk diam di gang pintu masuk rumah selama dua menit. Setelah straf selesai anaknya kembali normal, saya pun jadi tenang.

Drama kemudian berlanjut ke babak ketiga. Karna anak saya yang kedua perlu nyari kado, kami pun pergi ke toko mainan deket di Centrum deket rumah. Perginya kami ikut Papanya anak-anak, pulangnya kami jalan kaki. Sebelum anaknya minta macem-macem saya udah kasih tau kalo kita cuma liat-liat aja. Cuma saya sempet liat ada Thomas the train yang lagi diskon, saya tawarin dong ke dia, anaknya ga mau loh. Dia cuma minta Thomas mini pack aja. Okelah saya beliin. Begitu semua beres dan kita jalan pulang, mulai deh ini anak bertingkah. Minta thomasnya dibukalah, yang minta digendong sama saya, merengek-rengek di jalan, sampe kembali lagi diem di tempat. Untung karna ada kakaknya jadi dia masih mau jalan sambil becanda. Sesampai di rumah kami malah keasikan main salju hehe. Padahal idung dia udah meler maksimal wkwkwkwk.

Drama terakhir berlangsung ga lama setelah dia selesai main. Anak ini biasanya kalo sebelum bobo siang kan minum susu, biasanya dia minum pas di kamarnya sambil posisi tidur. Lah ini pas saya bilang ayo bobo, dia minta mimiknya di bawah aja dan keukeuh ngamuk pas saya bilang mimik di atas ajaaa. Tapi akhirnya saya akalin dia minum seteguk di bawah trus kita ke atas bareng (DIA MINTA DIGENDONG PAS NAIK TANGGA😭). Bobonya alhamdulillah seperti biasa gampang, cuma pas bangun lagi-lagi dese mewek dooong. Saya lagi syibuk di bawah baru aja mulai masak, begitu nyamperin ke atas lah dia malah makin kejer. Saya gantiin popoknya dia malah nendang-nendang saya. Karna perlakuan kaya gini ga dibolehin di rumah kami, maka si kecil sekali lagi kena straf dari saya. Time out dua menit kembali berulang. Setelah hukuman selesai, alhamdulillah anaknya kembali lurus dan semuanya aman terkendali.

Setelah makan malam suami bantu urus si kecil, mulai dari mandiin, sikat gigi, sampe nganter dia bobo (anaknya rikues Papa yang anter 🤣).

Fiuh. Seandainya kita bisa menebak apa yang sedang terjadi di anak kita, apa mungkin akan lebih gampang buat kita untuk memilih apa yang harus kita lakukan ya..entahlah.

*postingan tertunda dari akhir bulan Januari 2019, sayang kalo ga diposting 😁*

Paris Memories.

Although I live quite close to Paris , I’ve only been there (not just drove by) two times. Nevertheless, both trip gave some special memories to me.

My first visit was back in 2008. I went to Paris with my fellow students. We took a bus and stayed in a dorm. With a limited budget (the trip was arranged by young student – a guy btw) our goal was being able to visit every landmark in Paris within 3 days. Semacam Roro Jonggrang ya 😂.

Actually the itinerary he made was not that bad. Within three days, we could visit Eiffel Tower (they had blue lights on it, since at that time was France time as the head of EU), Louvre Museum (not inside tho 😆), La Défense, Palace of Versailles, and even La Vallée Village (temenku beli tas long champ cuma €20 aja! sungguh nyesel ga ikut beli hiks).

Eiffel Tower in blue. Mooi!

However things went wrong when we wanted to visit Notre Dame. Since we were a bit lost, we went to ask two people we met on the road: a drunk guy and an old man with a suit. Both of them couldn’t (or didn’t want to) speak english. So we had to guess what they were talking about by looking at their body gesture.

Problem came when they gave us different information on where we should go. One person directed us to one side, the other one pointed the opposite direction. Well, you might guess it right, instead of trusting the drunk guy, we followed the old man’s direction. At first we said that the drunk guy is crazy. Plus, we found small building (a church as well if i’m not mistake, but small one) that captivated us, and due to our lack of knowledge, we thought that it was notre dame lol.

Front of the church we falsely thought was Notre Dame (photo credit: S.K.)

At one point, one of us turned back and saw the two tower of Notre Dame seeing so far from where we stood hahaha. Then we realised that we made a BIG mistake by trusting people only by the outer appearance. Lesson learned rite people: don’t judge the book by its cover!

Notre Dame from where we stood (photo credit: S.K)

The second time I visited Paris was in December 2016, when my juniorhigh bestie came to Europe for work (she extended the stay to see me and Paris 😁). At first I had a bit of doubt since my baby was just 3 months old (well, he’s almost 4 months at that time) and he needed a passport to be able to go with me (he was full breastfeeding at that moment thus I couldn’t leave him). Luckily the passport is finished on time so we could go to Paris the next day.

We went by train (grateful for Thalys!) and stayed in a hotel not far from Gare du Nord. Since I was with a baby, we took things easily. Meaning no goals or whatsoever. We took hop on hop off bus (yes, we were THAT tourist 😁), and went back to hotel by taxi (we still got reasonable price btw).

We had a chance to visit Eiffel Tower (this time the color of the lights were yellow), got chased by key chain sellers (duh), joined River Seine Cruise, and then went to Louvre again (we arrived late in the evening there so again no entrance zz), eating in Indonesian restaurant – located not very far from le jardin du luxembourg (the food was lekker btw!), eating breakfast in a cafe close to the hotel, and took photos around Arc de Triomphe.

And thanks to hop on hop off, I finally can see (and took few pictures around) Notre Dame from close. After Eight years pending 🤣.

I’m glad I did the trip and stepped out from the bus to go see the Notre Dame from close. Last week they were on fire and the fire ruined some part of this historical church. They were quite lucky that not long after it happened, people already started to gather some funding for its restoration. The number they have reached up to now was quite a lot (around €500m – LV has donated €200m for the fund) and the president of France has made a commitment that they will restore the church within five years.

Oh, I’ve heard as well that at the same time Notre Dame caught on fire, the holy Mosque Al-Aqsa was also caught on fire. But some people said that its not Al Aqsa but the other mosque located not far from Al Aqsa. Wallahuallam.

Btw, while Notre Dame is under reconstruction, I wonder where is Quasimodo now and, could it be happened that the fire was coming from him? *mamakhalu😁

Pendidikan (Dasar) Anak-anak di Belanda

many-books-hd-wallpaper

“Do not train a child to learn by force or harshness; but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.”
~ Plato.

disclaimer: cerita di sini sebatas pengalaman pribadi dan pengetahuan saya yang masih seadanya, jadi mohon dimaafkan kalo kurang komprehensif ya. Akan lebih senang apabila ada temen-temen yang bisa ikut sharing info dan pengalaman seputar hal yang sama di sini 😊.

Walaupun sudah agak terlupakan karna muncul isu-isu baru, beberapa waktu yang lalu di Indonesia sempat heboh dengan isu usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang full day school bagi anak-anak. Banyak yang langsung menentang usulan ini (gak tau apakah mereka tau betul atau belum mengenai konsep yang diusulkan secara detail oleh bapak Menteri), walau ada sebagian kecil yang mendukung usulan ini (secara sembunyi-sembunyi sii – takut dikeroyok sama massa yang tidak pro kayanya wkwk) . Nah, berhubung anak-anak saya saat ini sedang duduk di bangku sekolah dasar (plus berdasarkan pengalaman suami semasa kecil), saya mau share info seputar pendidikan dasar anak-anak di Belanda. Mungkin kalo di-browse di internet tulisan tentang ini udah lumayan banyak, tapi tetep saya mau nulis gapapa ya hahaha (maksa😝)

Di Belanda anak-anak mulai diwajibkan untuk sekolah pada saat mereka memasuki usia 4-5 tahun. Untuk anak-anak yang usianya lebih muda (2-3 tahun), walaupun belum diwajibkan tapi tetap diarahkan (dan dipantau) oleh Gemeente (pemerintah lokal setingkat kecamatan) dan Biro Konsultasi Kesehatan atau GGD untuk diikutsertakan ke peuterschool (semacam playgroup gitu) atau ke tempat penitipan anak (namanya kinderopvangen atau children daycare) dengan jumlah jam tertentu (kecuali ada kendala atau kondisi khusus yang tidak memungkinkan). Pemerintah pusat memberikan subsidi untuk keluarga yang menitipkan anak-anaknya di kinderopvangen atau peuterspeelzal, dengan syarat kedua orang tuanya bekerja. Subsidi ini berupa pengurangan biaya iuran perjam si anak. Sementara kalo salah satunya aja yang bekerja, biasanya dari pihak Gemeente (tidak semua Gemeente memberikan subsidi, hal ini tergantung pengaturan masing-masing) yang akan memberikan bantuan biaya yang besarannya ditentukan berdasarkan setoran pajak penghasilan orang tua per tahun.

Tingkat pertama pendidikan wajib (sekolah) di Belanda disebut Basisschool (Sekolah Dasar). Anak-anak duduk di tingkat dasar ini selama 8 tahun (tiap tingkatannya disebut “groep”). Untuk tahun pertama dan kedua (groep 1 dan 2) biasanya digabung menjadi satu. Mungkin kalo di Indonesia groep 1 dan 2 ini bisa disamakan dengan TK A dan B. Kalo menurut info dari suami, untuk anak-anak yang masih dibawah 6 tahun (4-5 tahun) jam wajib belajarnya masih sedikit jumlahnya. Mereka pada intinya lebih diarahkan untuk bisa beradaptasi pada perubahan dari yang sebelumnya bentuk belajarnya lebih ke bermain menjadi bener-bener belajar membaca dan menulis secara perlahan-lahan. Anak-anak masih cukup diberikan kelonggaran untuk tidak ikut sekolah terus-menerus selama jumlah jam belajar tersebut terpenuhi. Begitu anak memasuki usia 6 tahun, mereka sudah ga bisa lagi seenaknya libur alias harus ikut aturan kalender pendidikan di Belanda.

Setelah menyelesaikan Basisschool, mereka akan lanjut ke sekolah lanjutan yang biasanya disebut Middelbare school. Lamanya waktu belajar di tingkat middelbare school tergantung dengan pilihan dan kemampuan masing-masing anak. Mereka punya beberapa pilihan sekolah lanjutan: VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), HAVO (Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs), VMBO (Voorbereidend Middelbaar Beroepsonderwijs), atau Praktijkonderwijs. Mereka biasanya diarahkan sesuai kemampuan (akademis) dan minat masing-masing anak. Di lain waktu saya akan sharing tentang pendidikan lanjutan ini dalam postingan selanjutnya.

Satu hal yang saya sadari di sini adalah kualitas dari tiap sekolah (termasuk para gurunya) di tiap kota – besar maupun kecil – bisa dibilang ga ada bedanya. Hal ini bisa jadi karna pemerintah Belanda cukup ketat dalam mengontrol kualitas para guru dan mereka juga rutin diberikan waktu khusus untuk mendalami kurikulum atau program mengajarnya (mereka nyebutnya “studiedag” yang berarti pada hari itu anak-anak libur dan guru-gurunya belajar lagi deh hehe). Kalo di Indonesia kita sering denger para orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah favorit, selama saya tinggal di sini (dan kuliah dulu) hampir ga pernah saya dengar yang kaya gitu. Kayanya si khususnya untuk basisschool ada semacam aturan (atau kebiasaan) kalo para orang tua akan menyekolahkan anaknya di sekolah yang paling dekat lokasinya dengan rumah mereka. Hal ini wajar banget kan ya karna tentu dengan anak disekolahkan di lokasi yang dekat maka waktu mereka ga akan habis di jalan. Walaupun ada beberapa anak yang diantar ke sekolah dengan mobil, hampir sebagian besar anak- anak berangkat dengan sepeda atau berjalan kaki. Karna kebetulan lokasi rumah kami ga lebih dari 500 meter aja, anak-anak lebih senang berjalan kaki ke sekolah.
Waktu belajar basisschool untuk beberapa tahun terakhir adalah pukul 08.30 – 14.30, dengan waktu istirahat sebanyak dua kali (satu kali kleine/fruitpauze/small break selama kurang lebih 15 menit dan satu kali lunchpauze/lunch break selama kurang lebih 30 menit). Anak-anak wajib membawa bekal sendiri dari rumah (walau kadang pada event atau acara khusus sekolah menyediakan). Untungnya bekal makanan dan minuman di sini cukup simpel, jadi kami juga ga ribet-ribet amat tiap pagi harus masak atau bikin sesuatu yang spesial buat bekal mereka hehe. Bahkan anak- anak sejak 2 tahun lalu udah mulai nyiapin bekal makan siang mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam tas sekolah masing-masing (walaupun awalnya untuk minum dan buah mama atau papa masih harus bantu 😊).

Walaupun waktu mereka di sekolah lumayan panjang durasinya, hampir tidak pernah saya dengar kalo mereka lelah karena belajar di sekolah. Alhamdulillah sejauh ini kami lihat mereka cukup antusias dan senang mengikuti kegiatan di sekolah. Keduanya sempet merasa agak bosan sewaktu mereka duduk di grup 4 karena menurut mereka pelajaran yang diberikan gurunya agak terlalu mudah. Kami anggap wajar karena memang grup 4 menurut kami adalah semacam grup transisi. Untuk muatan ajaran dari segi kurikulum masih tidak jauh berbeda dengan grup 3, walau tentu aja pasti tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi. Bisa jadi karena kurikulum yang diberikan cukup ringan dan tidak membuat anak-anak merasa terbebani kali ya.

Sejak di Groep 6, anak-anak juga mulai mendapatkan pekerjaan rumah alias PR satu kali dalam seminggu (sebagai info tambahan, ga semua sekolah memberikan PR untuk para muridnya, hal ini tergantung pada kebijakan di tiap-tiap sekolah). Setiap siswa diminta untuk menyiapkan map/folder khusus untuk PR dan wajib dibawa setiap rabu. Bentuk PR-nya sendiri bervariasi. Kadang hitung-hitungan, kadang hafalan, kadang juga hanya disuruh membaca.

Dalam setahun, anak-anak memperoleh cukup banyak waktu libur. Hampir di tiap musim mereka punya waktu libur setidaknya satu minggu. Biasanya, di musim gugur anak-anak libur seminggu. Kemudian di musim dingin/akhir tahun mereka libur selama dua minggu (Kerstvakantie). Selama waktu carnaval (khusus di Belanda bagian selatan – sekitar Noord Brabant dan Limburg – kalo ga salah ya) mereka juga libur selama seminggu. Setelah itu di bulan April-Mei mereka akan libur lagi (Meivakantie) selama dua minggu. Dan terakhir di musim panas mereka mendapat jatah libur musim panas selama kurang lebih enam minggu. Libur-libur ini di luar libur studiedag dan libur resmi nasional lainnya seperti pinksterdag (pantekosta) atau hemelvaart (kenaikan Isa Almasih) loh ya. Lumayan jauh kalo dibandingin sama jumlah libur anak-anak sekolah di Indonesia – ya gak si?

Kurikulum dan program yang ditentukan oleh pemerintah di sini menurut saya cukup bagus, menarik dan variatif. Di setiap bulan atau di waktu-waktu tertentu biasanya mereka punya tema khusus yang dibahas atau dikerjakan oleh anak-anak. Selain itu pada perayaan-perayaan tertentu seperti Koningsdag (King’s day), Carnaval, Paskah, Sinterklaas atau Christmas biasanya mereka juga akan ikut serta memeriahkannya di sekolah. Biasanya hari-hari khusus tersebut juga dijadikan sebagai subyek atau tema belajar mereka.

Orang tua juga banyak dilibatkan dalam kegiatan sekolah. Kadang para orang tua diperlukan untuk masalah transportasi (kalo pas lagi ada jadwal ekskursi ke luar sekolah), atau membantu mengontrol rambut anak-anak dari kutu rambut (iya, di sini ada yang namanya luizenmoeder atau nit mother 😁), kadang mereka juga dateng ke sekolah untuk membacakan cerita (voorlezen).

Dari sekian banyak yang diajarkan di sekolah, berikut adalah beberapa program yang ditawarkan di sekolah anak-anak yang menurut saya cukup bagus dan mungkin bisa dijadikan masukan dalam menyusun kurikulum sekolah dasar di Indonesia (kali aja loooh hehehe).

Kanjer.

Kalo nyari pengertian bener-bener, kata “kanjer” (dibaca “kanyer”) ini susah dicari padanan katanya. Mungkin kanjer ini bisa diartikan sebagai (sesuatu yang) besar atau luar biasa, atau top, intinya sesuatu yang positif lah. Kalo dilekatkan ke seseorang, pengertiannya bisa jadi seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang baik budi pekertinya (khususnya dalam konteks hubungan sosial). Nah sekolahnya anak-anak kebetulan mengedepankan ini dalam pola pembelajarannya. Jadi biasanya (hampir) setiap minggu mereka ada waktu khusus untuk kegiatan dalam rangka pembentukan pribadi yang “kanjer”. Metodenya yang dipergunakan juga ga begitu rumit. Para murid diajarkan untuk bagaimana menghargai diri sendiri, bagaimana menghargai orang lain – termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan yang lain, membangun kepercayaan atas diri sendiri juga terhadap orang lain, serta tindakan apa saja yang “kanjer” dan yang bukan. Kemudian guru beserta orang tua murid yang secara sukarela diminta untuk membantu akan mengilustrasikan tema yang diangkat ini ke dalam satu aktivitas yang tentu aja melibatkan para murid. Mereka kemudian akan memberikan nilai sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Selain itu mereka juga mendapat nilai dari teman-temannya dan juga guru dan wali murid yang membantu. Jadi kegiatan kanjer ini lebih seperti evaluasi mereka terhadap diri sendiri dan juga berperilaku terhadap orang lain terutama lingkungan sekitarnya.

Cultuurproject (proyek kebudayaan).

Melalui program ini, selama beberapa minggu para guru akan membahas tentang satu tema khusus yang terkait dengan kebudayaan kepada murid-muridnya. Tingkat kesulitan dan sejauh mana konten yang diberikan biasanya disesuaikan dengan tingkatannya. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu sekolah mereka mengangkat tema mengenai Mesir (Egypte). Jadi selama beberapa minggu para guru memberikan semacam pemaparan mengenai kebudayaan Mesir kepada muridnya, mengajarkan mereka menulis nama sendiri dalam huruf hieroglyph, bagaimana mummy dibuat, kemudian membuat berbagai macam prakarya bertemakan Mesir. Sementara di tahun lainnya mereka belajar tentang pelukis terkenal dari Belanda – Vincent van Gogh. Mereka belajar tentang riwayat hidup sang pelukis dan juga membuat prakarya yang terinspirasi dari karya-karyanya van Gogh. Tahun ajaran yang terakhir kemarin (2017 – draft ini udah bersemedi lama di WP saya ibu-ibu🤣) anak-anak belajar tentang tema “fairy tales” (sprookjes). Setelah selama beberapa minggu anak-anak belajar dan membuat prakarya, di pekan terakhir project sekolah akan mengadakan yang namanya “cultuuravond” atau malam kebudayaan di mana hasil prakarya anak-anak yang sudah dibuat dipamerkan di kelasnya masing-masing dan para orang tua (atau kakek, nenek dan para kerabat lain) diperbolehkan untuk berkunjung dan ikut melihat karya-karya mereka.

piramida dan mummy kucing hasil karya para murid grup 4

potret diri dalam bentuk lukisan dan nama murid dalam huruf hieroglyph.

De Week van De Lentekriebels.
Program lain yang menurut saya menarik adalah “De Week van De Lentekriebels.” Secara harfiah, lentekriebels berarti “spring fever” atau demam musim semi. Tapi de week van de lentekriebels di sini sedikit berbeda pengertiannya. Mungkin lebih kepada arti kiasan dari istilah ini sendiri ya. De week van de lentekriebels merupakan satu proyek mingguan yang diselenggarakan secara nasional (di seluruh basisschool/sekolah dasar di Belanda) dimana pada minggu ini para murid (anak-anak) mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk hubungan/relasi dan seksual (jenis kelamin). Anak-anak ini diberikan pengertian mengenai perkembangan seksual mereka, perbedaan laki-laki dan perempuan, bagaimana seorang bayi lahir, penghargaan/respek terhadap pilihan dan perbedaan tiap individu, dan belajar untuk hidup bersama dengan suasana yang aman dan nyaman. Tiap grup diberikan penjelasan dengan bobot yang berbeda-beda, dan menggunakan bahasa dan contoh yang cukup menarik dan mudah untuk dimengerti.

Schoolfruit.

Di lain waktu (seperti 2 tahun ajaran sebelumnya), setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis selama kurang lebih 20 minggu sekolah menyediakan buah-buahan (dan kadang sayuran seperti paprika atau wortel) untuk diberikan kepada anak-anak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melaksanakan program EU-Schoolfruit, yang bertujuan untuk menstimulasi anak-anak untuk lebih sering mengkonsumsi buah-buahan dan sayur. Intinya si supaya anak-anak mengkonsumsi sesuatu yang sehat. Selain itu juga biasanya akan diadakan semacam kompetisi di mana anak-anak harus membuat sesuatu sekreatif mungkin dari buah-buahan.

Sportsdag.

Setiap tahunnya, sekolah juga mengadakan yang namanya sportsdag. Di satu hari ini mereka (seluruh grup – mulai dari grup 1 sampai groep 8) ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga – sebagian besar cabang-cabang atletik – yang sudah diatur oleh para guru (dibantu orang tua murid juga). Dengan adanya kegiatan ini otomatis anak-anak harus berada di luar ruangan, berbaur dengan anak-anak dari groep dan kelas lainnya, dan juga aktif bergerak sampai waktu pulang tiba (biasanya dari jam 8.30 sampai dengan waktu pulang sekolah – yaitu sekitar jam 14.30).

Techniek

Yang saya suka juga dari kurikulum yang diajarkan di sekolah dasar di sini adalah banyaknya aktivitas yang berhubungan dengan teknik. Teknik di sini mungkin bisa lebih diartikan ke praktik ya. Misalnya, kegiatan membuat mainan (binatang) dari kayu, melukis dengan menggunakan berbagai macam kanvas dan pewarna, membuat perahu dari karton susu bekas, membuat “puppet show” beserta panggungnya, atau membuat binatang dari buku bekas. Intinya bukan cuma belajar membaca dan berhitung, mereka juga diajarkan dan dilibatkan untuk membuat sesuatu yang menjadi hasil karya mereka sendiri.

Outdoor Learning dan Kunjungan ke Perpustakaan dan tempat-tempat khusus.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ajaran, selain anak-anak hampir setiap tahunnya memiliki jadwal belajar-mengajar di luar ruangan, atau juga dalam bentuk kunjungan kegiatan ke tempat-tempat tertentu seperti kunjungan ke Museum Sepatu dan Kulit yang kebetulan lokasinya ga begitu jauh dari lokasi sekolah, atau kunjungan ke kebun binatang khusus reptil, juga jalan-jalan ke hutan dan de Loonse en Drunense Duinen untuk belajar tentang alam.

Muziekproject.

Pada project ini anak-anak akan diperkenalkan kepada berbagai macam instrumen musik, seperti misalnya alat musik tiup, petik dan perkusi. Dua tahun lalu sewaktu anak gadis saya masih duduk di Groep 6 diperkenalkan dengan alat musik tiup, seperti terompet, saxophone, tuba dan klarinet. Mereka diperbolehkan untuk mencoba alat musik tersebut secara bergantian. Di waktu lain mereka diperkenalkan dengan sambuca, tamborine dan gendang.

Di tahun terakhir basisschool (atau group 8), anak-anak dari group 8 wajib ikut serta dalam drama musikal yang khusus dipersembahkan untuk para orang tua murid sebagai ungkapan terima kasih. Selain itu mereka juga akan melaksanakan kemping selama 3-5 hari. Tahun ini anak saya yang pertama akan sibuk dengan dua kegiatan tersebut (selain tentu dengan pemilihan sekolah selanjutnya dan juga ujian-ujian akhir tahun ajaran).

Ngomong-ngomong soal ujian, walau ada aja kontroversi, di sekolah anak saya juga tiap semesternya dilaksanakan yang namanya ujian. Ini sebenernya lebih kepada tes kemampuan si anak, sampai sejauh mana mereka bisa menangkap apa yang sudah diajarkan oleh guru mereka. Ujiannya dikenal dengan nama CITO toets (kepanjangan dari Centraal Instituut voor Toets Ontwikkeling). Bentuk ujiannya sendiri cukup simpel, subyek yang diuji setau saya adalah kemampuan berhitung (rekenen), kemampuan membaca dan menganalisa (spelling en technisch lezen, dan begrijpen lezen; ).

Untuk group 8 sendiri juga ada yang namanya ujian akhir atau eindexamen. Pihak sekolah diberikan kebebasan oleh pemerintah untuk memilih dari beberapa metode ujian akhir untuk diterapkan bagi para muridnya. Jadi selain dari hasil rapport mereka tiap tahun, hasil ujian akhir juga akan menjadi masukan bagi para guru/wali kelas untuk menentukan ke program/jurusan mana si murid bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat middelbare.

Catatan:

Tulisan ini ditulis pertama kali tahun 2015 😂. Berhubung belum yakin dan informasinya terasa kurang, ngendaplah dia sebagai draft selama beberapa tahun. Setelah disesuaikan sedikit sana sini, akhirnya berani juga posting hehe. Mohon maaf apabila informasinya terasa kurang atau ga update ya. Feel free to ask or sharing some thoughts on the comment section!☺

Beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Belanda

Rute penerbangan dari Amsterdam ke Batavia jaman dahulu kala. Lamanya perjalanan bisa sampe 2-3 bulan! (lokasi: Aviodrome, Lelystad).

Setelah beberapa tahun menetap dan lumayan sering berkomunikasi dengan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari (ya iyeala secara anak-anak ngomongnya pake boso Londo😅), saya baru sadar kalo ternyata lumayan banyak kata-kata yang saya kenal dalam bahasa Indonesia mirip-mirip dengan bahasa Belanda loh. Kadang penulisannya yang beda tapi pelafalannya sama, atau sebaliknya, tulisannya sama tapi pelafalan berbeda. Kalo tulisan mungkin bahasa Belanda lebih banyak yang mirip dengan ejaan lama sebelum ada EYD ya.

Pelafalan alfabet dalam bahasa Belanda juga hampir semua hurufnya sama dengan bahasa Indonesia loh. Ada beberapa huruf yang dilafalkan secara beda. Huruf “G” dalam bahasa Belanda diucapkan seperti orang yang sakit tenggorokannya hahhaha “kh(é)”, trus “J” yang dilafalkan “yé”, “Q” dilafalkan “ku’h” (short u), huruf “Y” yang diucapkan “éy” (kadang disebut igrek😁). Saya agak ragu tapi kayanya huruf “U” juga kedengerannya beda deh.

Saya mau list kata-kata apa aja yang saya ingat di sini, supaya nanti kalo pas kebetulan lagi berkunjung ke sini jadi pede (lah hubungannya apa ya🤣).

  • Jas; dalam bahasa Belanda dibaca “yas” (“a” pendek), sementara dalam bahasa Indonesia adalah “jas” (kurang lebih artinya sama, yaitu jaket).
  • Koetsir; dalam bahasa Belanda dibaca “kutsir” (“i” pendek), kata ini sama dengan “kusir” (atau supirnya delman🤣) dalam bahasa Indonesia.
  • Velg; ini udah pada tau lah yaa apa artinya 😁.
  • Knalpoot; dalam bahasa Indonesia dibaca knalpot.
  • Gratis; yak, arti dalam bahasa Belanda dan Indonesia sama, cuma kalo dalam bahasa Belanda pelafalannya “khratis” hahaha.
  • Korting; atau diskon. Saya baru tau ternyata istilah ini datengnya dari bahasa Belanda wkwk.
  • Spekkoek; kue spekuk alias lapis legit. Bedanya kalo kue spekuk di sini pasti berempah, beda dengan lapis legit yang ada di Indonesia.
  • Tas; baik dalam bahasa Belanda dan bahasa Indonesia dibaca sama dan bermakna sama.
  • Horloge; artinya jam tangan, dibaca kurang lebih “horloosje”, mirip dengan kata “arloji” dalam bahasa Indonesia 😁
  • Vulpen; kurang lebih dibaca “voulpen”, mirip sama kata “pulpen” dalam bahasa Indonesia.
  • Potlood; alias pensil. Kalo bahasa orang dulu pensil suka disebut potlot kaaan hihi.
  • Beha; (dibaca “béha) artinya BH atau bra. Cukup jelas kan 😂.
  • Versnelling; bahasa Indonesianya adalah persneling kalo ga salah ya? Ituloh, yang buat ganti gigi di mobil.
  • Rotonde; kalo dalam bahasa Inggris disebut “round about”, saya ga tau istilah bahasa Indonesia lainnya (bundaran kayanya ya), cuma seingat saya kalo lewat bundaran mama saya suka bilang rotonde wkwkwk.
  • Te laat; dibaca telaaat alias telat alias terlambat! Hahaha.
  • Klaar; artinya selesai, macem orang betawi ngomong “kalo dia udah turun tangan, pasti kelar urusannya”
  • Precies; artinya sama dengan kata “persis” dalam bahasa Indonesia.
  • Slot; berarti “mengunci”, mirip sama istilah “selot” yang suka dipake sama orang tua jaman dulu (setidaknya ortu saya haha) kalo nanya “pintu udah diselot belom?” 🤣.
  • Kasteel; atau kastil.
  • Kantoor; dalam bahasa Indonesia penulisannya aja yang beda (kantor), artinya sama.
  • Kapot; alias rusak 😁.
  • Kapper; saya suka denger kalo di indonesia yang tukang potong rambut suka dipanggil kaper kan ya?
  • Tegel; dibaca “tékhel” yang berarti ubin. Di indonesia juga dipake kan ya kata “tegel” ini?
  • Gordijn; dibaca “khordain” atawa gorden ibu-ibu 😂.
  • Straf; berarti dihukum/hukuman. Kalo bahasa Indonesianya suka dieja “setrap” haha (kayanya si bahasa lokal aja ini hihi).

Duh kayanya kalo saya mau terusin bakalan panjang banget ini tulisan hahaha. Sementara udah dulu yaa, kalo ada yang mau nambahin boleh loooh ditulis di kolom komen 😊

Kalo Orang Belanda Ulang Tahun*. .

  • Hampir bisa dipastikan bukan cuma yang ulang tahun aja yang dapet ucapan selamat, tapi juga orang-orang yang deket sama dia, termasuk mereka yang mungkin ga saling kenal tapi kebetulan barengan. Jadi misalnya nih, saya ulang tahun, trus mertua saya ngucapin selamat (ulang tahun) ke saya, plus ngucapin selamat ke suami juga anak-anak. Kalo yang kaya gini si ga gitu aneh ya. Cuma jadi bikin kagok kalo pas kita dateng diundang ke tempat orang lain. Kagok karna kita kudu ngucapin selamat ke semua orang yang dateng ke pesta ulang tahun itu wkwk.
  • Kado yang didapet akan langsung dibuka di depan orang yang ngasih. Kalo buat kita ini kadang kan berasa ga enak ya, takutnya yang ngasih kesinggung kalo kita ga suka kadonya (atau ga enak hati takut ketauan harganya hahaha). Kalo di sini biasa kaya gitu sis. Maksudnya mereka ga gitu masalah sama yang “shallow“kaya gini hehe. Mereka bahkan kadang kasih kita bon kado-nya supaya kalo memang kurang berkenan atau kitanya dapet dobel (atau udah punya) bisa kita tuker ke tokonya dengan barang lain.
  • O ya, selain buka kado di depan mata, yang berulang tahun juga biasanya bikin semacam wish list gitu kira-kira apa yang mereka mau sebagai hadiah. Ini handy sih menurut saya. Selain kita jadi tau kalo kado kita pasti disukai yang ulang tahun, kita juga bisa kira-kira yang mana yang pas dengan kantong kita (atau kalo perlu patungan dengan yang lain).
  • Jangan banyak berharap pulang ke rumah dengan perut kenyang. Kecuali orang Indonesia/Asia, ulang tahun di sini kalo bukan umur-umur tertentu biasanya ga dirayakan secara besar-besaran. Besar-besaran di sini dalam arti ngasih makan berat trus ngundang sekian puluh orang gitu lah. Kalo kamu ulang tahun trus mau ngundang-ngundang, biasanya cuma buat orang-orang terdekat aja. Seandainya mereka ngadain pesta ulang tahun, hampir bisa dipastikan kalo makanan yang disediain bukan makanan berat alias makanan ringan misalnya kaya chips, temen ngemil pas minum/kacang-kacangan (mereka nyebutnya “borrelnootjes), keju yang dipotong kubus, dan crackers beserta spread-nya. Paling ultimate kalo tamunya dikasih potongan kue ultahnya juga. Buat minum biasanya mereka nyediain kopi, teh, jus-jus atau minuman kemasan dan bersoda gitu, dan tentu saja beer.
  • Jangan heran kalo yang ulang tahun cowo suka dipanggil “jarige job” atau kalo cewe dipanggil “jarige jet”; dan pas ulang tahun ke-50 tiba-tiba yang ulang tahun namanya jadi “Sarah” atau “Abraham” 😂. Kadang mereka naro boneka trus ditempelin muka yang ulang tahun dan dihias kaya opa-opa atau oma-oma. Banyak juga yang pasang dekor lebih gila lagi, nempelin poster-poster lucu yang intinya ngerjain yang ulang tahun di sepanjang depan rumahnya.
  • Khusus buat anak-anak, biasanya selain tentu dengan keluarga inti, mereka akan merayakan ulang tahunnya juga di sekolah. Jangan ngebayangin yang mewah-mewah ya. Ngerayain di sini sebenernya cuma dalam artian mereka boleh kasih traktiran yang bisa berupa “snoepjes” alias sesuatu yang manis kaya cupcake dan permen atau yang bentuknya kecil seperti chips atau pop corn. Kalo sekarang suka ada juga yang bikin traktiran buah atau sayuran biar lebih sehat 😁

Saya nemu chart ini di twitter, kurang lebih begitulah alurnya kalo kita dateng ke pesta ulang tahun orang Belanda😆

Image via twitter/rspruijt

*berdasarkan pengalaman pribadi aja yaa, belum tentu orang Belanda merayakan ulang tahunnya kaya gini hehe.

Cerita Malam Tahun Baru.

Image via pixabay.

Youth is when you’re allowed to stay up late on New Year’s Eve. Middle age is when you’re forced to.
~ Bill Vaughan.

Sepanjang tiga puluhan tahun dalam hidup saya, walo sebagian besar pergantian tahun ini terlewati dengan suksesnya (baca: tidur 😂), ada lah beberapa kali saya ikut merayakan lucu-lucuan dengan teman dan keluarga. Macem-macem perayaan tahun baru yang pernah saya alami yang saya inget antara lain:

  • Keliling ikutan para tetangga komplek pawai ke bunderan HI (walo ga sampe karna keburu kejebat macet!)
  • Ngerayain bareng temen SMA di sekitar bintaro (ada petasan nyasar ke kolong mobil temen saya haha)
  • Bakar-bakaran (ayam, jagung) bareng keluarga di rumah
  • Bakar-bakaran ayam beserta kawannya bareng tetangga komplek di rumah tetangga
  • Itikaf (ato muhasabah ya) di Mesjid Raya Pondok Indah bareng temen
  • Nginep di UGD karna kena DBD
  • Tahun baruan bareng temen kuliah di rumah temen di Sentul (bareng keluarga dia dan temen-temen adeknya)
  • Tahun baruan di Pisa, Italia bareng temen (sambil parno takut dilemparin kembang api sama warga setempat)
  • Tahun baruan di Singapura (walo cuma di kamar hotel doang wkwkwk)
  • Tahun baruan di Kuta, Bali bareng pacar waktu itu (dan kena apes karna jidat ketimpuk sisa petasan dooong)

Nah untuk malam tahun baru selebihnya ya itulah, either saya kebablasan tidur, ato ga nonton tipi ikut countdown di rumah aja hihi.

Pas pindah ke Belanda pun saya dan suami ga pernah bener-bener spesial ngerayain tahun baru. Ga pernah kita secara khusus pergi ke satu tempat ato event buat ngerayain tahun baru. Paling kita cuma beli champagne (pasca hamil saya ga bisa minum lagi, alergi!) dan snack-snack gitu aja. Trus pas pukul 00:00 kita toast, trus buka jendela deh liat pemandangan petasan dan kembang api di sekililing kita. Lumayanlah ga pake dingin, aman dan gratis hihi (emak pelit😂).

Pergantian malam tahun baru kemarin anak-anak spesial request buat nonton The Nun bareng dong 😂. Baru tahun ini mereka kami perbolehkan begadang sampai jam 12 malam. Sebelum-sebelumnya paling mereka kami bolehin untuk stay satu jam lebih lama dari waktu tidur mereka (si kecil mah tetep tidur sesuai waktunya). Kami mulai nonton agak telat setelah saya dan suami beres bikin kue. Anak-anak malah becanda dan ngakak-ngakak dong pas liat hantunya the Nun zz. Mungkin juga karna udah banyak meme-nya ya, tapi menurut saya emang The Conjuring jauh lebih horor dari the Nun.

Salah satu ciri khasnya malam tahun baru di sini: olie/krentebollen 🙂

Btw balik ke quote yang saya tulis di atas, bener banget ya kalo stay late until midnight itu buat anak-anak sangat menyenangkan (walo banyakan ga sukses alias bablas ketiduran haha). Dulu pas masih kecil saya seneng banget kalo nyokap sama alm. bokap ngebolehin kita begadang ikut nunggu detik-detik pergantian tahun. Biasanya kita ketiduran di depan TV si haha, tapi tetep aja rasanya excited banget. Trus ujung-ujungnya kebangun pas jam 2 pagi cuma buat pindah lokasi tidur abis itu lanjut zz sampe pagi hahaha.