Road-Tripping with the Kids.

“When traveling with someone, take large doses of patience and tolerance with your morning coffee.”
– Helen Hayes

Duh kayanya kutipan di atas cukup relevan terutama buat yang jalan bareng anak-anak ya ga siiik. Summer holiday tahun ini saya beserta suami dan anak-anak mengisi liburan dengan road trip ke beberapa kota di beberapa negara yang ga jauh dari Belanda. Setelah rencana awal buat mudik ke Indonesia ga jadi (karna saya udah pulang di bulan April bareng si bayi), buat nyenengin anak-anak (dan juga tentu menambah pengalaman kami) saya usul ke suami untuk jalan-jalan pake mobil alias road trip ke negara yang deket-deket aja. Suami setuju dan setelah berembuk akhirnya kami sepakat untuk menjelajah sedikit ke wilayah scandinavia. Alasan awalnya adalah Legoland yang berlokasi di Billund, Denmark. Anak-anak walaupun udah agak besar (dibanding tahun-tahun lalu) mereka masih suka dengan tempat-tempat kaya gini. Kebetulan juga kami sudah pernah berkunjung ke Legoland di Johor Bahru dan  Günzburg, Jerman, makanya saya kepikiran untuk nyoba juga yang ada di Billund. Tapi trus saya pikir kenapa ga sekalian aja ke Copenhagen dan Malmö – toh jaraknya ga jauh-jauh amat (dari Billund) dan kita udah setengah jalan jadi sayang juga kalo ga sekalian dikunjungi. Suami pun setuju, karena dia juga belum pernah ke kedua kota tersebut, jadi buat dia ini juga pengalaman pertama berkunjung ke sana.

Dengan pertimbangan jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke Billund (perjalanan non stop Belanda-Billund memakan waktu kurang lebih 8 sampai 9 jam), kami juga akhirnya menambah stop dan sekalian sight-seeing di Hamburg pada saat perjalanan pergi, dan menginap semalam di satu kota kecil di Jerman (Lütjenburg) pada saat perjalanan pulang. Jadi, untuk road trip kami kali ini rutenya adalah Rumah-Hamburg-Billund-Copenhagen-Malmö-Lütjenburg-Rumah. Lumayan panjang ya hihi.

Rute berangkat (viamichelin.com)

Rute pulang (viamichelin.com)

Rencana awalnya kan suami dan saya bakal gantian nyetir, tapi sayang banget mobil suami yang sudah dipesan ke dealer langganan dia dari jauh hari belum selesai, akhirnya si dealer pinjemin mobil dengan jenis yang sama tapi dengan persneling manual (saya kan supir gadungan, jadi saya ga bisa nyetir pake manual hahaha), alhasil suami deh yang harus nyetir sepanjang perjalanan.

Di tiap kota kami menghabiskan waktu 3 hari, kecuali di Lütjenburg yang memang tujuan utamanya supaya yang nyetir bisa istirahat aja. Buat ukuran berlima (termasuk bayi) dengan lama perjalanan selama 10 hari, bawaan kami bisa dibilang masih masuk akal (at least kalo dibandingin sama mobil-mobil lain yang papasan sama kita di jalan). Selain tentu buggy/stroller plus baby carrier (bawaan wajib), kami bawa satu koper ukuran besar, satu koper kabin, satu tas ransel, satu diaper bag, plus satu tas belanjaan berisi makanan dan minuman untuk anak-anak dan saya beserta suami selama di perjalanan. Agak susah memang kalo liburan dengan jumlah hari yang nanggung kaya gini, terutama buat nentuin berapa baju yang harus dibawa. Saya sendiri kalo untuk pergi-pergian kaya kemarin selalu mengusahakan untuk bawa baju ekstra – terutama underwear dan kaos kaki anak-anak (untuk saya dan suami juga). Selebihnya kami rileks aja, toh kita kan bukan berkunjung ke pedalaman jadi pasti ada supermarket atau toko yang jual barang kebutuhan kita in case kita lupa. Eh tapi ada satu barang yang khusus dibawa anak-anak di perjalanan kali ini, yaitu hagelslag alias meses 😂. Buat jaga-jaga kata mereka, kali aja ga ada yang mereka suka di menu sarapannya hahaha.

Alhamdulillaah perjalanan berjalan cukup lancar (dengan beberapa titik kemacetan di highway-nya Jerman, terutama pas perjalanan pulang), fabian juga lumayan tenang sepanjang jalan. Beruntung anaknya banyak tidur di jalan walau beberapa kali sempat nangis dan merengek sebentar.

Berdasarkan info dari suami, total kilometer yang kami tempuh kurang lebih sekitar 2200 KM. Banyak ya haha. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak banget jembatan, termasuk Øresundbron yang menghubungkan Denmark dan Swedia, serta Storebælt bridge yang menghubungkan Zealand dan Funen (dengan Sprogø island di tengah-tengahnya) di Denmark. Kedua jembatan ini adalah jembatan berbayar. Biaya tol sekali jalan di Øresundbron adalah sebesar €56 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter dan di Storebælt bridge adalah DKK 240 untuk mobil dengan panjang tidak lebih dari 6 meter.

Storebælt bridge dari kejauhan (foto dok. pribadi)

Øresundbron – aerial view (image via pfnphoto.com)

Sementara untuk perjalanan pulang dari Malmö kami memilih alternatif lain dengan menggunakan ferry untuk pulang (dengan menyeberang via Jerman). Kami nyebrang dua kali: dari Helsingborg – Swedia ke Helsingör – Denmark, dan Rødby – Puttgarden. Harga tiket ferry ini lumayan juga ternyata sis 😂. Buat yang Helsingborg-Helsingör sekali jalan harga tiketnya sekitar €55 (untuk jenis mobil pribadi yang panjangnya kurang dari 6 meter, durasi nyebrang sekitar 15 menit), sementara Rødby-Puttgarden harga one way ticket-nya adalah sekitar €107 (durasi nyebrang sekitar 45 menit). Jadi kesimpulannya sodara-sodara, kalo punya waktu banyak dan mau agak hemat, dari Denmark ke Jermannya ga usah nyebrang pake ferry tapi muter aja hehe. Ato ambil ferry yang dari Helsingborg – Swedia langsung ke Lübeck – Jerman (lama perjalanan di ferry-nya 8 jam-an tapi wkwk).

Kira-kira beginilah ferry yang kami tumpangi (image via scandlines.com)

Btw, sebelum trip (seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya) saya udah bikin semacam itinerary kasar (banget) dan cost estimation (iya, saya sedetail itu semenjak bekeluarga😂). Walaupun ga mengikat, tapi si itin dan cost estimation ini lumayan bikin perjalanan kami jadi cukup efektif loh, dan untuk estimasi pengeluaran ini bisa kami jadikan patokan kalo nanti di liburan-liburan mendatang kami mau road tripping lagi (ke negara lain deket-deket sini). Yang bikin hepi adalah estimasi saya lumayan tepat, cuma beda €0,01 sis! Dan so pasti jumlahnya jauh lebih kecil kalo dibandingin sama biaya mudik ke Indonesia sekeluarga. 

Anyway, sementara udah dulu yaa. Nanti di postingan selanjutnya insya allah kita cerita tentang Hamburg okeh. Tot zo!

Us ❤ . . . #latepost #family #holiday #copenhagen #littlemermaid #denmark #nofilter #instatravel

A post shared by anis ketels (@anis.ketels) on


“If you wish to travel far and fast, travel light. Take off all your envies, jealousies, unforgiveness, selfishness and fears.”
– Cesare Pavese

Berkunjung ke Perpustakaan.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him.” – Maya Angelou

Dua minggu yang lalu saya dan anak-anak (termasuk si bayi) pergi berkunjung ke perpustakaan umum yang ada di deket tempat tinggal kami. Kami sebenernya lumayan sering ke sana (jaraknya kurang lebih 300 meter aja dari rumah kami), tapi kebetulan pas kemarin saya kepikiran mau share gimana kerennya (menurut saya yaa) perpustakaan ini walo lokasinya di kota kecil hehe. Maksud awal kunjungan kami kemarin adalah untuk mengembalikan buku yang dipinjam anak saya dari perpustakaan. Kunjungan kali ini pun jadi agak spesial karna ini pertama kali saya stay agak lebih lama di sini dan membiarkan fabian meng-explore kids corner yang memang khusus disediakan untuk para bayi dan batita. Gak gitu besar si emang baby corner-nya, tapi menurut saya they did a good effort to make children think that reading is fun and eventually can make them like to read as early as they can

Ngomong-ngomong soal early start, fabian semenjak lahir udah punya kartu perpustakaan sendiri loh hahaha. Jadi seinget saya pas saya lagi hamil, saya liat (biasaaa, nyari susuatu yang gretongan wakaka) di mana gitu kalo fabian bisa dapet buku gratis dan koper kecil (semacam lunch box kalo menurut saya si) dari perpustakaan setempat. Yah mama denger gratisan ga mau melewatkan laaaahhh. Dan terdaftarlah jadinya fabian sebagai anggota perpustakaan di kampung kami hihi. Btw souvenir yang kami dapat lumayan loh. Ada friemeltjes dieren boek, short story book (with image), membership card-nya fabian, dan tentunya si koffer mini nan unyu itu hehe. Berhubung fabian dulu masih belum ngerti apa-apa jadinya saya cuma kasih main pake friemel boek-nya. Jadi inti membership ini si sebenernya supaya mama papa (atau anggota keluarga lainnya) bisa voorlezen (membaca – bercerita) untuk fabian buku-buku khusus untuk bayi yang bisa dipinjam dari perpustakaan. Semua berawal dari baby step ya gak, supaya tepat pada waktunya tumbuhlah minat fabian untuk membaca (cieee😂).

Paket boekstart, minus friemelboekje-nya 🙂

Di PC yang ada di foto ini, kita bisa cari buku yang kita mau. Di Gemeente kami ada tiga lokasi perpustakaan: di Heusden, Vlijmen dan Drunen (tempat kami tinggal). Jadi kalo kita nyari satu buku misalnya, harus dilihat juga di keterangannya si buku ada di perpustakaan yang mana.

Spot ini bisa dipake anak-anak untuk duduk kalo mereka mau baca di tempat.

Giant lego blocks corner. Salah satu spot favorit fabian 😉

Koleksi buku untuk anak-anak usia 5 tahun sampai dengan usia kurang lebih 12 tahun (basisschool atau elementary)

Section-nya di sini dibagi berdasarkan tema (dan usia). Kaya foto di sini, spot ini diperuntukkan untuk bacaan dengan tema kasih sayang dan kehidupan (love and life)

Keranjang penuh dengan buku untuk bayi dan batita.

“surga” banget buat fabian. Di sini dia bisa bolak balik halaman di buku, lempar buku dari keranjang trus masukin lagi, atau banting-banting si boneka buaya hahaha

Tempat minjem dan balikin buku dari perpustakaan. Semuanya self service – walau ada petugas yang siap membantu kalo kita ga tau gimana caranya minjem atau balikin buku.

Ada kuda-kudaan juga di sini! Kuda goyang ini kalo dalam bahasa Belanda disebut “hobbelpaard”

Beberapa koleksi buku untuk anak-anak usia 2 – 5 tahun.

Di sini juga tersedia beberapa PC yang bisa dipergunakan secara gratis. Selain itu juga tersedia free wifi yang bisa diakses oleh pengunjung perpustakaan.

Fyi, biaya membership untuk anak -anak mulai dari 0 sampai usia 18 tahun di perpustakaan ini adalah gratis. Saya kurang tau tiap anak bisa minjem buku berapa banyak maksimal, tapi seingat saya anak-anak pernah minjem 3 buku sekaligus dalam satu waktu. Lamanya waktu peminjaman sekitar 3 minggu, dan denda keterlambatan pengembalian adalah sekitar 25 sen per hari. O ya, di sini kalo ga salah juga ada koleksi DVD, tapi kalo mau pinjem harus bayar (termasuk member anak-anak).

Sementara untuk dewasa keanggotaannya gak gratis (untuk berkunjung dan baca di tempat ga perlu jadi member kok. (Hampir) semua koleksi bacaan bisa diakses langsung dan gratis). Ada beberapa tipe abonemen yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan masing-masing. Besar iurannya (per tahun) bervariasi dari yang paling rendah (€29,50 untuk tahun ini) dengan akses terbatas sampai yang paling tinggi (€65 untuk tahun ini) dengan akses tanpa batas.

Perpustakaan ini lumayan lengkap untuk koleksi buku anak-anaknya menurut saya. Juga koleksi bacaan untuk para dewasanya. Cuma sayang kalo dari yang saya lihat untuk koleksi buku berbahasa Inggrisnya agak terbatas (kebanyakan koleksi lama kayanya). Bisa jadi peminat bacaan dalam bahasa Inggris agak kurang, makanya mereka ga menyediakan bacaan dalam bahasa Inggris begitu banyak. Hal ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa saya sendiri sampe sekarang belum jadi anggota perpustakaan ini wkwk.

All in all, saya lumayan salut dengan dukungan pemerintah dalam memajukan minat warganya (terutama anak-anak dan remaja) untuk membaca. Ga gitu sulit sebenarnya menurut saya (ya ga si), cukup kasih akses dan buat lingkungan di sekitarnya menarik serta kasih ambience yang nyaman ke mereka, insya allah mereka jadi lebih tertarik dan suka membaca deh.

Pengalaman saya dengan perpustakaan umum dulu sewaktu sekolah dan kuliah di Jakarta gak gitu menarik siiih makanya ga gitu worth it untuk di-share (lah jadi curhat hahaha). Selain mungkin karna akses ke perpustakaan umum (dari tempat saya tinggal) ga gitu gampang, mungkin juga karna memang kondisi di perpustakaannya sendiri yang ga gitu mendukung (baca: kurang nyaman dan akses terbatas) makanya saya jarang pergi ke perpustakaan umum. Seinget saya dari beberapa perpustakaan umum yang pernah saya kunjungi di Indonesia (dulu) menggunakan sistem katalog tertutup, yang artinya pengunjung (atau anggota) cuma bisa nyari buku yang dibutuhkan di search engine atau katalog perpustakaan, trus kalo mau liat, baca atau pinjam harus minta ke petugasnya untuk diambilkan. Saya ngerti si kenapa sistem ini yang dipakai ( kebanyakan warga Indonesia menurut saya masih cenderung vandalisme – mereka ga menjaga sesuatu (yang bukan milik sendiri) secara baik- baik dan bahkan cenderung merusak), cuma sayang aja jadinya kita yang kadang cuma mau browsing di perpustakaan (kali aja ada bacaan yang menarik kan) jadi males duluan. Dulu, salah satu perpustakaan di Jakarta yang menurut saya patut di kunjungi adalah perpustakaan yang ada di gedung British Council Jakarta. Koleksinya banyak yang menarik dan aksesnya juga terbuka untuk pengunjung. 

Btw saya baru aja browsing dan kebetulan nemu link menarik seputar perpustakaan apa aja yang rekomen untuk dikunjungi di Jakarta. Buat (warga Jakarta) yang suka baca, kali aja info di link ini bisa membantu ya :).

Saya jadi penasaran dengan kondisi perpustakaan di negara/kota lain deh. Gimana pengalaman temen-temen dengan perpustakaan? 

A Visit to Durban, South Africa

Umhlanga beachfront

“Durban is South Africa’s own Monaco, and it is appropriate that the event should take the form of a Monaco-style street race along one of the most beautiful beachfronts in the world.” – S’BU NDEBELE

Back then in April 2011 when I had a training in Stockholm, I knew there would be a follow up session (of the training) for all participants to be attended six months afterwards in one of participants’ country. We were excited enough with any of the options (among others, two strong candidates were China and South Africa). In September we received an email from the host, they informed us that the follow up session will be held in Durban, South Africa. Although China would be great as well, but going to South Africa (or any countries in Africa continent) by any chance would be more difficult for me to be fulfilled. That’s why I was very excited for having this one time experience.

I know a bit about Cape Town, Johannesburg, Pretoria or Port Elisabeth (one of my friends is from this city), but I never heard Durban before. Thats why after we received confirmation about the place, I then began to browse and tried to look any information I can find about Durban online.

According to Wikipedia, Durban is the largest city in the province of KwaZulu-Natal, and the third in South Africa. It was originally called Port Natal, and was founded by British settlers. There are quite a lot of Indians live here, makes it as one of the largest population centers of Indians in the world, outside of India. It’s mainly because of the history where Indian workers were brought in to work the sugar cane plantations. Zulu and English are the most common languages in Durban.

There are several ways to enter Durban. Most flights from other countries usually fly to Johannesburg, Cape Town or Pretoria. From those cities then you can take domestic flight heading to King Shaka International Airport in Durban. Another way is to fly to Durban directly, although there were not so many scheduled flight options you can choose. If you happen to be from Jakarta, you can use Emirates with one stopover in Dubai, United Arab Emirates. This was the flight that I and another Indonesian participant (Bu Ina) used to reach Durban. In Dubai airport we also met other participants from other countries (Ukraine, Bangladesh and Philippines) at the airport. Apparently we had the same (connecting) flight from Dubai to Durban. The flying duration from Jakarta to Dubai took around 8 hours, and then we had 4-5 hours lay-over time in Dubai Airport. Further we had to fly from Dubai to Durban for approximately 9 hours.

anis durban dubai2

tired faces waiting for the next flight to Durban.

We stayed in Protea Hotel (now managed by Marriott) located in Umhlanga Rocks area, a place faces the warm waters of the Indian Ocean. Btw, the name Umhlanga means ‘place of reeds’ in the Zulu language. The hotel is located next to a shopping mall, and only a stone away from the umhlanga beach and its (famous?) light house. When you’re lucky, sometimes if you go by boat a bit further from the beach you can see some whales (and dolphins) swimming around.

The view of the hotel and the surrounding. Image via marriott.com

The room. Image via booking.com

The rooftop. Image via hotels.com

Durban hotel view

The view from my hotel room.

During my stay there, almost every morning I went for light jogging or just a walk together with some of other friends. The view around the beach was so pretty and they made a special jogging track so people can enjoy the surrounding. My friend said that Durban seaside is one of the elite area where mostly rich people live there. No wonder you can find lots of big houses in this area (complete with high wall and (barb)wire protection – just like rumah gedong in Jakarta :)). Umhlanga Rocks also has a big mall where you can find almost anything, including local souvenirs as well as diamond.

CIMG1994

View of the Umhlanga beach (Anis’ image).

warning sharks

Warning Sign about sharks on the beach (Anis’ image).

joydurban

Almost all activities are not allowed on the beach lol (image courtesy of Joy).

durban1chowdhury

The other side of the beach (image courtesy of Chowdhury).

In contrast, the situation in the City Center was less interesting (in other words: not that pretty). It was more like a side of Jakarta where you can find some pedagang kaki lima. I guess here you can see the real Durban – and not a touristic place like Umhlanga area. We also went to the market there to get some typical souvenirs from Africa.

durban4chowdhury

(image courtesy of Chowdhury)

chowdurban1

The van we used to go around the city (image courtesy of Chowdhury).

chowdurban3

One of statues we found in the city center (image courtesy of Chowdhury).

durban7iolanda

The view of the market (image courtesy of Iolanda).

durban2iolanda

One of the souvenir store close by to our hotel (image courtesy of Iolanda).

Regarding the food, you can see that Indian cuisine has a big influence here. No wonder I guess since lots of Indians live here. Other than that, they also have other options including fast food (there was KFC not that far from the hotel 😂). At the big mall, they have a food court that offers variety of foods. I only had a chance to taste typical African food at the hotel during breakfast and dinner reception btw (and I didn’t quite enjoy it since it’s not really my cup of tea 😅).

As an add-up to the training session, we also had a chance to have some visits to several interesting places around, including a visit to local village of Zulu tribes. Fyi, the name of the Durban Airport was taken from the (once) leader of this tribe – King Shaka. At the village, they told us about how they live, what are things that important for them, how things worked there, and made us involved in some of their activities.

road trip to shakaland

The view on the road to Shakaland.

CIMG2061

Information about Zulu (Anis’ image).

CIMG2059

The (tour) guide at the Shakaland – Zulu Village (Anis’ image).

anisdurban2

In front of the entrance to the Village (Anis’ image).

CIMG2070

(Anis’ image)

durban5iolanda

(image courtesy of Iolanda)

durban4iolanda

(image courtesy of Iolanda)

durban3iolanda

The two ladies posing for us (image courtesy of Iolanda)

CIMG2074

One “ingusan” kid lol (Anis’ image)

durbanina1

They did a special performance for us 🙂 (image courtesy of Bu Ina)

Another interesting place we have been visited was the soccer stadium. Soccer is actually less popular than Rugby here in South Africa. This stadium was especially built during the world cup in 2010 (correct me if I am wrong). We can go to the top part of the stadium using cable car.

chowdurban2

The Moses Mabhida Soccer Stadium, seeing from Botanical Garden (image courtesy of Chowdhury)

CIMG2131

The ticket price to go up at the stadium using cable car at that time (Anis’ image)

durban3chowdhury

The view of Durban harbor seeing from above the stadium (image courtesy of Chowdhury)

CIMG2140

A Colombian, An Indonesian, and A Brazillian 🙂 (Anis’ image)

There are so many other interesting things you can do here actually (sea aquarium, safari). Too bad I didn’t have a chance to go to the wild (safari) since we only stayed there for a week (and I already arranged another plan afterwards at that time). I guess I just have to visit South Africa one (or more) more time to get the real feel of being in Africa 🙂

anisdurban

Doei ! 😀 (image courtesy of Chowdhury)

Resep Spekkoek (Lapis Legit)

Spekkoek atau biasa disebut Lapis Legit (Spekuk) adalah salah satu kue favorit keluarga kami. Resep yang saya share di sini resep andalan suami kalo pas bikin kue ini hehe, saya sendiri ga pernah bikin spekkoek atau lapis legit sendiri. Yang saya suka dari resep ini adalah kuenya ga begitu manis, rasa rempahnya berasa tapi ga begitu kenceng, dan lembut banget.

Buat mbak Irny yang sempet nanya di IG (dan kali aja ada temen lain yang mau nyoba juga) monggo diliat resepnya di bawah ini yaaa =)

SPEKKOEK
Untuk 2 kg (2 loyang)

Bahan:
350gr kuning telur (+ 20 butir)
7 butir telur (@50 gr per butir)
650gr mentega (bisa juga 325gr mentega – 325gr margarin, atau diganti margarin seluruhnya)
370gr gula pasir halus
1/2 sdt garam
40gr susu cair (UHT tawar)
200gr tepung terigu

Bumbu spekkoek:
10gr kayu manis bubuk
3gr pala bubuk
3gr cardamom (kapulaga) bubuk
3gr cengkeh halus ( bubuk cengkeh)

Buat variasi bisa juga di tambahkan 60 gr almond yg sudah di gerus halus (atau tepung almond siap pakai)

Cara membuat:

Panaskan oven di suhu sekitar 180°C. Siapkan 2 loyang bulat ukuran diameter 24 cm, bagian bawahnya dialasi dengan kertas roti kemudian olesi dengan mentega/margarin secara tipis dan merata.

Kocok telur dan gula halus sampai kaku dan lembut, tambahkan susu cair sambil dikocok sampai rata. Ayak tepung terigu dan bumbu spekkoek beserta garam di atas adonan telur sambil diaduk rata.

Dalam wadah terpisah, kocok mentega sampai lembut. Kemudian tuang adonan telur ke dalam kocokan mentega sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.

Tuang sekitar 2 sendok makan adonan ke dalam loyang (tergantung besar kecilnya loyang) ratakan dan masukkan ke dalam oven dg api atas selama kurang lebih 5 menit (sampai berwarna kecoklatan). Tiap kali adonan sudah terlihat coklat tambahkan lagi 1 atau 2 sendok makan adonan di atas adonan yg sudah berwarna coklat. Kemudian masukkan lagi ke dalam oven dan tunggu sampai adonan berwarna kecoklatan. Lakukan terus sampai adonan habis (tiap lapisan perlu waktu kurang lebih 5 menit untuk mendapatkan warna kecoklatan).

Catatan:
Spekkoek harus dipanggang dalam oven dengan api atas saja agar nantinya terbentuk lapisan-lapisan tipis (kalo pake oven gas/listrik, untuk lapisan kedua dan seterusnya oven di-set pada posisi grill 5).
Membuat spekkoek perlu kesabaran saat memanggangnya dan harus selalu dicek setiap lima menit apakah sudah berwarna coklat atau belum. Kalo kita mau buat lapisan terlihat lebih tebal, pada saat penambahan adonan di tiap lapisannya bisa ditambahkan agak banyak (mungkin sekitar 3-5 sendok makan) dan waktu pemanggangan tiap lapisan otomatis jadi agak lebih lama dari 5 menit.

Selamat mencoba yaa!

Sleep Training for Baby

“Sleep when your baby sleeps. Everyone knows this classic tip, but I say why stop there? Scream when your baby screams. Take Benadryl when your baby takes Benadryl. And walk around pantless when your baby walks around pantless.” – Tina Fey

Oke, tiba-tiba pengen nulis tema ini karna (selain pas pertama kali bikin draft insomnia saya lagi kambuh😭) saya pengen berbagi pengalaman saya (yang bagai debu di padang pasir – halah) tentang gimana saya ngatur waktu tidur bayi saya sejak baru lahir sampe sekarang si bayi sebentar lagi masuk ke usia 11 bulan.

Semenjak hamil, banyak orang-orang terdekat (dan yang ga gitu dekat wkwk) bilang ke saya buat siap-siap (setelah si bayi lahir) untuk begadang, badan pegel-pegel, tangan mati rasa, mata berkantung, dan lain-lain yang kalo dibayangin berat amat rasanya punya bayi. Saya waktu itu si dengerin aja dan positive thinking. Mudah-mudahan pada waktunya bayi saya akan bisa diajak kerja sama.

Kemudian tibalah waktunya si bayi terlahir ke dunia (tsah). Malam itu juga saya dan bayi langsung pulang dan bermalam di rumah. Kami pulang udah lewat tengah malam dan waktu itu ada suster yang ngecek kebutuhan kami. Malam pertama saya udah ga gitu inget lagi berapa kali bayi saya kebangun, karena yang saya inget malem itu saya kontraksi parah sampe menggigil (di sini udah kaya gitu cuma disuruh minum paracetamol aja sis). Anyway, lima hari pertama ASI saya belum keluar. Sejak kami di rumah sakit begitu si bayi lahir langsung proses inisiasi ASI, jadi walaupun belum keluar dia tetep menyusui tiap 3 jam sekali. Tiga hari pertama mungkin buat fabian ASI saya masih cukup aman buat asupan makanannya, tapi per hari ketiga berat badannya masih tetap turun dan hampir mencapai 10% dari berat badan lahir, makanya suster kraamzorg langsung inisiatif untuk menelepon bidan kami dan kemudian menyarankan untuk sementara dibantu dengan susu formula (cair) disamping menyusui sendiri. ASI saya sendiri sampe hari ke-8 baru bener-bener lancar keluar.

O ya, sejak malam pertama fabian sudah kami coba taro di kamar sendiri, tapi masih pake bassinet, jadi kalo dia nangis kita bisa pindahin ke kamar kami. Di bulan-bulan pertama karena fabian masih harus menyusui tiap 3 jam sekali, maka dia harus saya bangunin beberapa kali di malam hari. Biasanya jam dia mimik pada malam hari adalah sekitar jam 18.30-19.00, kemudian 21.00-21.30, lalu jam 23.30-00, setelah itu jam 03.00-03.30, dan terakhir jam 06.00-07.00. Ini skema yang dikasi sama suster kraamzorg saya, tapi pada kenyataannya kadang agak meleset walo ga jauh-jauh amat. Biar gimana juga karna saya ga menggunakan sufor alias mengandalkan ASI aja, otomatis harus diperhitungkan juga permintaan si bayi alias based on demand.

Buat ibu-ibu baru kaya saya, pemberian ASI pake skema waktu ini sangat menolong, terutama buat mengontrol demand si bayi dan juga untuk menentukan lamanya pemberian ASI yang pada akhirnya berimbas kepada waktu istirahat si ibu (dan anak serta pasangan kita tentunya ya). Skema ini besar kemungkinan bisa berjalan kalo si bayi tidur terpisah dari ibu dan bapak. Emang berat buat kebanyakan ibu-ibu untuk pisah langsung dengan bayinya. Saya juga gitu bu. Rasa kawatir pasti ada. Tapi satu hal yang saya percaya, kalo Allah pasti akan selalu melindungi anak saya, meskipun kami ga tidur bareng dia. Itu yang bikin saya kuat. Selain itu, beruntung saya punya suami yang terus kasih support ke saya, dan terus kasih pengertian kalo hal ini akan baik untuk kami (baik orang tua maupun si anak) terutama untuk ke depannya.

Tidur misah dengan bayi itu agak perjuangan buat saya sebenernya, karena kan lagi enak-enaknya tidur trus tiba-tiba denger ada suara nangis kita kaget kan. Iya kalo langsung bangun, lah kalo ngga, kan kasian bayinya nangis lama. Selain itu, sedihnya kalo full ASI adalah saya ga bisa gantian sama suami saya 😂 otomatis saya yang harus bangun buat nyusuin kaaan, walo tetep suami bangun buat gantiin popok (jadi dia harusss bangun juga, biasanya dia pertama gantiin popoknya, kemudian baru saya nyusuin deh).

Oke, kembali ke per-tidur-an. Walau menurut kami fabian terbilang bayi yang gak rewel dan gak rajin nangis (Thank God he’s not a cry baby), pasti ada hari-hari dimana dia juga nangis dan gelisah dalam tidurnya. Biasanya kalo udah kaya gitu kami bawa dia ke kamar kami dan boleh bobo bareng kami. Skema pemberian ASI seperti yang di atas saya jalankan selama kurang lebih 2 sampai 3 bulan, kemudian setelah itu saya mulai membiasakan fabian dengan skema baru dengan menghilangkan beberapa jadwal menyusuinya. Dari beberapa jadwal ASI di atas, yang saya hilangkan adalah menyusui pada jam 21.00 dan 00.00. Untuk yang pertengahan pagi (03.00) lumayan lama baru saya bisa skip (pas 9 bulan kemarin fabian baru bisa memulai long sleep habit).

Pada saat bayi masih berusia 0 sampai 3 atau 4 bulan (bahkan 6 bulan) terdapat kemungkinan terjadinya kram perut pada bayi (buikkraam atau kadang suka disebut kolik). Hal ini normal sebenernya, karna organ bayi dalam hal ini usus dan lambung sedang berkembang dan menyesuaikan asupan yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Nah biasanya kalo lagi terjadi si bayi akan rewel dan susah tidur (ga usah bayi, orang dewasa kalo lagi sakit perut juga ga bisa tidur yekan). Ga usah panik ya ibu-ibu, sebisa mungkin si bayi kita susuin aja (ato kalo yang biasa pake pacifier alias empeng boleh dikasih). Kalo menurut artikel-artikel yang saya baca di sini, gerakan menyedot itu membantu mengurangi rasa tidak nyaman di perut dan usus mereka. Selain itu, kita bisa juga mengompres bagian perut mereka dengan kruik (botol yang diisi air panas/hangat). Kalo buat orang Indonesia, biasanya suka juga dibalur pake minyak telon atau minyak kayu putih, atau minyak yang dicampur dengan irisan bawang merah.

Ciri-ciri yang cukup jelas menurut kami untuk membedakan apakah si bayi mengalami kram perut (atau rasa sakit lainnya) adalah biasanya si bayi pada saat menangis akan menghentak-hentakkan kakinya (kaya menendang) dan tiap kali dikasih ASI anaknya nangis. At least itu yang kami sadari pada saat fabian ga bisa tidur. Solusinya ya kami biarkan dia bobo bareng kami, sambil terus saya coba kasih mimik aja. Alhamdulillah sakitnya ga bertahan lama, sehingga dia bisa balik lagi ke sleeping habit-nya seperti biasa.

Setelah fabian menginjak umur 4 bulan kalo ga salah, kebiasaan menyusuinya agak bergeser untuk waktunya. Biasanya dia bangun sekitar jam 02.30-3.00, waktu bangun dia bergeser sedikit menjadi ke jam 4.00-5.00. Pergeseran waktu ini lumayan banget buat saya, karna jadi saya bisa punya durasi waktu yang agak lebih lama untuk tidur di malam hari (jam 4 atau 5 masih lumayan lah ya dibanding waktu tidur terpenggal ditengah wkwk).

Ada satu hal juga si yang menjadi guilty pleasure buat saya. Yah namanya juga ibu yaa, pada saat anak nangis pengen deket bareng mamanya pasti ada rasa gimanaaa gitu deh. Plus, kadang rasa males juga muncul hehe. Makanya, kadang setelah menyusui yang pagi itu saya suka biarin aja fabian bobo bareng kami. Jadi pola tidur fabian selama beberapa bulan menjadi pukul 20.00-21.00 mulai bobo di kamar sendiri, trus jam 04.00-05.00 bangun mimik dan lanjut bobo di kamar kami sampe jam 07.00 pagi (ini waktu kami semua memulai aktivitas di rumah). Biasanya begitu semua bangun, fabian juga ikut bangun. Kadang kalo masih tidur saya ga ganggu dan dia tetep di kamar kami, kadang saya pindahin ke kamar dia.

Nah, setelah fabian udah terbiasa bobo di kamar sendiri, timbul tantangan baru buat kami sepulangnya saya dan fabian dari Indonesia. Fabian ga mau tidur terpisah dengan saya dong. Kami berdua ke Indonesia pada saat fabian berumur 7-8 bulan. Selama kami di Indonesia hampir setiap malam fabian bobo bareng saya (awalnya saya mau sewa baby cot tapi akhirnya batal karna ga nemu rental yang pas). Mungkin dia merasa nyaman (namanya juga bayi ya ga) dan di usia-usia sekian memang katanya bayi mulai mengenal orang, terutama orang-orang terdekatnya. Jadilah dia merasa saya satu-satunya yang familiar dan dia merasa aman dengan saya. Begitu kembali ke rumah, di malam pertama dia sama sekali ga mau bobo sendiri di kamarnya loh. Setiap kami bawa ke sana dia langsung kebangun dan nangis kejer sekejer-kejernya. Satu-satunya cara ya dia sementara kami biarkan bobo bareng di kamar kami.

Menurut artikel yang pernah saya baca, bayi yang memasuki usia 8-12 bulan akan mengalami yang namanya separation anxiety, literally means ketakutan/kekawatiran untuk berpisah. Biasanya hal ini terjadi antara bayi dengan mamanya, dimana setiap si mama bergerak menjauh, si bayi langsung nangis karna merasa ketakutan akan ditinggal. Inilah yang terjadi pada fabian sebulan yang lalu. Biasanya pada fase ini bayi akan jadi clingy dan nagging ke mamanya. Selain itu, pada usia segini bayi juga lagi mengalami fase pertumbuhan gigi, yang otomatis semakin memperkeruh suasana kaan hahhaa. Kita sebagai ibu harus kuat ya ibu-ibu. Kesabaran kita diuji banget dan lagi-lagi yang paling penting adalah adanya support dari suami dan orang-orang terdekat. Setiap malam kami coba terus untuk kembali membiasakan fabian bobo di kamarnya sendiri. Selain itu kami juga coba biasakan untuk menghilangkan waktu menyusui tengah malamnya. Salah satu upaya yang kami coba adalah dengan menata ulang letak kasur dan furniture di kamarnya, serta menempatkan beberapa boneka dan mainan kesukaan fabian di kasurnya.

Did it work? Alhamdulillah trik ini lumayan berhasil buat kami. Kurang lebih seminggu setelah kami pulang dari Indonesia, akhirnya fabian mau bobo di kamarnya lagi. Pada awalnya dia masih kejer kalo kebangun tengah malam, tapi alhamdulillah sekarang udah ngga lagi. Bahkan persis ketika dia masuk ke usia 9 bulan jadwal mimik tengah malemnya yang jam 3.00 pagi berhenti dengan sendirinya alias udah ngga lagi (yay to long sleep!). Di hari pertama saya agak kawatir si, takutnya saya dan suami kebablasan dan ga denger kalo dia nangis. Tapi malam berikutnya begitu juga, jadi kami simpulkan kalo memang fabian sudah mulai punya sleeping habit baru.

Ada satu hal lucu yang kami notice akhir-akhir ini. Berhubung waktu subuh di Juni – Juli agak ekstrim, saya dan suami otomatis harus bangun lebih pagi, walau kemudian biasanya kita tidur lagi. Kadang nih ya kalo saya ga bisa tidur lagi, saya suka denger fabian nyoba manggil minta diambil haha. Bukan nangis loh ini, karna dia kaya teriak gitu, tapi abis itu berenti kaya dengerin ada orang yang denger ga nih wkwkwk. Mungkin juga dia ketiduran lagi. Trus nanti pas jam 7 anak-anak kan biasanya bangun dan turun dari kamar mereka tu, nah pas saat itu fabian pasti ikut teriak lagi hahaha. Ga mau ketinggalan lah pokonya. Ini lucu banget lah pokonya. Selama kita ga melongok kamarnya sebenernya dia ga akan nangis, tapi begitu dia liat salah satu dari kita, lihatlah tampangnya yang meringis minta diambil kaya foto di atas 😆 manalah kita tega ga angkat si unyil satu itu yaaa 😊

 

All in all,  dari yang saya alami sampe sekarang, boleh dibilang tidur terpisah dengan anak yang dimulai sejak dini lumayan banyak memberikan manfaat kepada saya dan si bayi (juga suami tentunya). Bukannya mau bilang kalo bayi bobo bareng orang tua ga baik loh, tapi menurut saya dengan tidur terpisah kualitas tidur kami jadi masih lumayan tetep terjaga. Saya tau kalo tiap anak berbeda dan masing-masing ibu punya cara tersendiri untuk ngatur pola tidur anaknya. Intinya sebenarnya kan apa yang terbaik bagi orang tua dan anak ya ga. Jadi, apapun bentuk dan caranya paling penting adalah sang Ibu dan anak (tentu juga anggota keluarga lainnya) menikmati semua proses yang dijalankan bersama 🙂

“Just because a baby cries, I discovered, doesn’t mean there’s always something wrong. Sometimes babies wake up for no real reason. They just want to check if they’re doing it right. “This is Sleeping, right?” “Exactly.” “I just lie here?” “That’s right.” “Okay.” Then back to sleep they go.” – Paul Reiser


30 Day Movie Challenge, Day 8.

Day 8: A Movie that makes You Sad

“Prayers should never depend upon the place or the people. It should depend only on your belief” 
– My Name is Khan

Kebanyakan film India yang saya tonton sukses bikin saya termehek-mehek loh hahaha (walo endingnya biasanya hepi).

my_name_is_khan_xlg

German version of the poster. Image via impawards.com


Salah satu yang lumayan masih saya inget dan bikin sedih adalah “My Name is Khan.” Dibintangi Shahrukh Khan dan Kajool, ceritanya sendiri tentang seorang pria autis dan penderita asperger syndrom yang menikah dengan seorang janda beranak satu. Awalnya kehidupan pernikahan mereka baik-baik aja sampai setelah kejadian 9/11 keluarga mereka di bully dan sang suami yang seorang muslim dianggap sebagai teroris. Anak mereka di sekolah di bully sampe akhirnya di satu kejadian meninggal. Setelah kejadian itu kehidupan rumah tangga mereka jadi berantakan. Merasa kalo kematian anaknya adalah salah dia, si suami bertekad buat ketemu presiden Amerika Serikat Barrack Obama untuk bilang kalo dia bukan teroris.

Plot pas mengejar presiden ini kadang menurut saya mirip kaya forest gump dan agak lebay (yah namanya juga film india yegaaa 😂). Selebihnya filmnya bikin sedih lah. Untung endingnya bahagia – kaya film-film india lainnya haha (walo ga perfect happy endingnya).

Okeh, besok lanjut lagi ke tema berikutnya, cus!

30 Day Movie Challenge, Day 7

Day 7: A Movie that Makes You Happy.

“You know when I said I knew little about love? Well that wasn’t true. I know a lot about love. I’ve seen it. I’ve seen centuries and centuries of it. And it was the only thing that made watching your world bearable. All those wars. Pain and lies. Hate. Made me want to turn away and never look down again. But to see the way that mankind loves. I mean, you can search the furthest reaches of the universe and never find anything more beautiful. So, yes, I know that love is unconditional. But I also know that it can also be unpredictable, unexpected, uncontrollable, unbearable and, well, strangely easy to mistaken for loathing.” – Yvaine

Film yang bisa bikin saya hepi sebenernya banyak si, yang jelas selama ending filmnya ga sedih ya saya juga jadi happy biasanya ahahaha.

Sebelum milih satu film buat tema kali ini, saya browsing dulu buat cari inspirasi nih wkwk, dan akhirnya pilihan saya jatuh kepada film “Stardust”. Salah satu film favorit saya nih!

Image via impawards

Ceritanya (lagi-lagi) ringan, bergenre fantasi tentang dua dunia yang berbeda (dunia “normal” dan dunia “lain”), pemuda (yang ternyata cucunya raja di dunia lain), para putra raja yang semuanya jadi arwah gentayangan karna saling bunuh (dan ga bisa pergi dengan tenang kalo ga ada yang jadi raja), bintang jatuh (yang berbentuk seorang wanita), tiga penyihir bersaudara, dan seorang kapten kapal penangkap kilat (yang ternyata suka dandan jadi drag queen). Setting filmnya keren (saya baca kalo mereka syuting di Inggris dan Iceland), pemainnya unyu-unyu (Charlie Cox si pemeran utama prianya, Claire Danes yang jadi bintang jatuh, Sienna Miller si cewek yang disukai sang cucu mahkota, Michelle Pfeiffer sebagai salah satu penyihir, Robert de Niro si drag queen, dan banyak lagi deh), plus soundtrack-nya juga saya suka (terutama yang dinyanyiin take that hehe).

Sebagai penutup postingan kali ini, boleh lah ya saya sertakan video dari soundtrack yang saya maksud, semoga suka 🙂 (sengaja saya pilih video yang ini supaya bisa liat sedikit cuplikannya juga hehe).