Bunga-bunga di Rumah.

Last batch of tulips in our backyard πŸ’œ

Semenjak kebun belakang rumah kami sudah selesai dirapikan, saya jadi seneng eksperimen sama tanaman. Well lebih ke bunga-bunga sih ya, karna pada dasarnya saya memang suka bunga. Ada juga kepengen nanam sayur-sayuran sebenernya, cuma masih belum begitu pede untuk eksekusinya hehe. Bunga yang saya pilih hampir sebagian besar yang minim perawatan hahaha. Maklum, saya agak pemalas orangnya (ngaku hihi).

Saya baru tau kalo posisi rumah juga menentukan bunga mana yang sebaiknya ditanam loh haha. Maklum bukan tukang kebun (temen aja sampe amazed denger saya bercocok tanam πŸ˜‚) jadinya bener-bener awam sama beginian. Posisi depan rumah saya menghadap ke selatan, yang otomatis hampir setiap saat ga kena sinar matahari langsung, sementara kebun belakang menghadap utara. Dulu sebelum halaman belakang direnovasi, di sederetan pinggir pagar yang berbatasan dengan tetangga ada kurang lebih 6 pohon sejenis pohon pinus (conifer) yang ukurannya udah terlalu besar dan makan tempat. Selain itu ada beberapa bunga mawar liar dan bunga hydrangea yang udah cukup besar volumenya. Di dekat gudang juga ada pohon blackberry liar (yang buahnya asyem bangett) dan beberapa bunga crocus liar.

Beberapa jenis bunga yang sudah tereksekusi (alias ditanam) dan alhamdulillah sukses sampe berbunga dan kemudian layu antara lain:

Tulip.

Bunga ini periode tanamnya kalo di sini adalah sekitar pertengahan bulan Oktober sampai awal bulan November (periode akhir musim gugur), dan mulai keluar tunas di sekitar bulan april dan berbunga biasanya di akhir Maret dan April (awal musim semi). Bentuk bibitnya berupa bulbs (dalam bahasa Belanda berarti bollen atau umbi). Kalo pas lagi di periode Oktober-November harganya bisa murah banget (kecuali kalo beli di bandara dan yang jenis khusus ya). Cara nanemnya termasuk gampang, cukup ditanam di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 5-8 cm, dan supaya nanti pas bunganya mekar terlihat cantik sebaiknya si tulip ini ditanam secara berkelompok atau bergerombol. Setelah si umbi ditanam kita ga perlu ngapa-ngapain lagi deh, tinggal tunggu waktunya mereka mulai bersemi dan berbunga.

Tulip jenis ini tingginya lumayan dan berbunga sedikit lebih telat dari jenis yang lain.

First batch of tulips in our backyard.

When all tulips on the row are blossoming ❀

Hydrangea atau Hortensia.

Picture was taken end of spring last year.

Kalo bunga ini kebetulan saya nanemnya di pot dan diletakkan di depan rumah. Kebetulan bunga hortensia ini bisa tumbuh dan berkembang di tempat teduh dan ga begitu perlu sinar matahari langsung. Penting juga si bunga dapat cukup air tapi juga gak terlalu banyak (yang mengalir alias akarnya tidak terendam). Pot yang bisa dipergunakan adalah yang ada lubang di bagian bawahnya, supaya air dari pot bisa mengalir.

Bunga hortensia yang dulu saya beli adalah yang sudah berbunga penuh, dengan beberapa yang masih belum berwarna (alias masih hijau). Belinya bisa di supermarket, bisa juga di toko khusus tanaman. Harganya bervariasi tergantung banyaknya bunga dan jenisnya juga. Si bunga mulai berkembang di sekitar April (musim semi) dan bertahan lumayan lama, kalo beruntung bisa sampe sekitar September (awal musim gugur). Setelah itu biasanya si bunga mulai berubah dan menjadi kering. Kalo si bunga sudah jelek sebaiknya dipotong. Sisanya cukup dibiarkan aja di pot (tapi jangan sampe ada air berlebih di pot). Biasanya di akhir musim dingin si bunga yang sebelumnya keliatan menyedihkan akan mulai bertunas lagi.

They just start to blossom again this year 😊

Picture was also taken end of spring last year.

Cannot wait to see them in full blossom again!

Daffodils atau Narcissen.

Saya sebenernya tau nama si bunga ini daffodils gara-gara Inly hahaha. Di sini kan disebutnya Narcissen makanya saya ga ngeh kalo mereka adalah satu jenis bunga yang sama. Daffodils ini juga banyak jenisnya, yang paling banyak dan sering ditemui adalah yang berwarna kuning. Kebetulan si daffodils kuning ini saya ga punya di kebun sendiri tapi di kebunnya mama mertua. Saya sendiri dapet daffodils warna putih dari charity event-nya anak-anak untuk sekolah. Lumayan banget lah buat nambah koleksi bunga di kebun kami hehe. Kami dapet si bunga di sekitar bulan April dan sudah dalam bentuk umbi bertunas alias siap pindah ke tanah atau pot besar. Anak-anak pun ikut bantu nanem dan merawat si calon bunga hehe.

Lavender.

Bunga ini memang salah satu jenis yang pengen saya tanem kalo kebun udah beres. Selain wangi, bunga ini juga tahan dingin dan ga gitu sulit ngerawatnya. Saya beli si lavender sudah berbunga di pot-pot kecil. Setelah keliatan merana dan kering selama musim dingin, sekarang si lavender udah berbunga lagi dan tambah banyak.

Rombongan lavender di ujung terdepan halaman kami 😁

Look at the bee!

Lily of the Valley.

Saya nanam bunga ini adalah hasil provokasi dari temen saya hahaha. Jadi sewaktu nikah dulu princess Kate Middleton pake lily of the valley sebagai wedding bouquet-nya. Selain itu wanginya juga cukup kenceng kata temen. Makanya saya jadi penasaran hehe. Saya beli si lily of the valley ini dalam bentuk akar yang sudah muncul tunasnya sedikit. Karena juga penasaran dengan yang warna pink-nya, jadilah walau agak mahal tetep saya beli juga lily pink-nya. Alhamdulillah yang lily of the valley warna putihnya udah sempet berbunga, sementara yang pink saya sempet kawatir karna tunasnya ga ada yang keluar. Makanya begitu kemarin liat ada pucuk tunas yang keliatan saya jadi hepi hehehehe. Mudah-mudahan aja nanti sampe berbunga ya.

Fresias.

Barisan fresia

Setelah masa berbunga tulip sudah selesai, saya pun mulai cari-cari bunga mana yang bisa mewarnai kebun kami (halah). Temen saya nyaranin untuk nanam fresia aja, karna selain bagus juga harum. Akhirnya saya nanem fresia ini dan milih warna putih dan biru di ruang dekat sepanjang pagar. Saya baru tanem bunga ini di akhir-awal mei, beli bulbs-nya secara online (fresia termasuk bunga yang cukup murah) dan sekarang daun-daunnya udah mulai bermunculan hehe.

Calla Lily.

Pucuk daun si calla lily.

Calla lily in progress.

Sama kaya fresia, calla lily ini juga saya tanem atas saran temen saya. Waktu tanamnya juga berbarengan dengan fresia, cuma untuk harga bulbs-nya agak lebih mahal dari fresia. So far si hampir semua calla-nya udah keluar daunnya, cuma masih ada satu spot yang masih belum keliatan sibuk hehe. Mudah-mudahan aja si bonggol gak mati ya.

Gladiols.

Daun-daun bunga gladiol yang sudah mulai meninggi πŸ˜‰

Bunga ini saya beli semata karna lagi diskon pas nemu hahahaha. Saya ga gitu penasaran sama gladiol, walau sebenernya bunga ini bagus juga. Kata temen saya bunga ini adalah favoritnya para nenek-nenek wkwkwk. Sama kaya fresia, bunga ini juga harus ditanam di bulan Mei. Sewaktu saya nanem fresia, karna udah kebanyakan nanem fresia jadinya nunda nanem gladiolnya. Ujung-ujungnya mertua saya yang nanem karna dia ga sabaran orangnya hahaha. Sekarang gladiolnya juga sudah mulai keluar daunnya.

Allium.

Saya beli bulbs bunga ini barengan dengan tulip. Waktu nanemnya juga bareng, cuma saya ga beli banyak dan nanem si allium di pot. Begitu daunnya pada keluar saya masih mikir kalo bunga yang saya tanam tulip, tapi lama-kelamaan bingung kok daunnya beda dan lama banget berbunganya hahaha. Begitu si kuncup bunga keluar saya baru sadar kalo bunga ini bukan tulip (duhh bentuknya beda banget kalii). Dari sepuluh bulbs yang ditanam, yang jadi bunga ada empat. Saya juga baru tau namanya adalah Allium setelah saya kasih liat foto si bunga ke temen saya πŸ˜‚. Kata dia allium ini termasuk ke dalam genus bawang-bawangan. Pantes aja kalo si bunga dicium, bukannya wangi harum khas bunga, ini lebih ke wangi bawang hahaha.

Semoga postingan ini bisa bikin seger mata ya.

Advertisements

Sayur Godog Pepaya ala Mama

Setiap lebaran idul fitri, biasanya mama di rumah suka masak besar. Besar karena kayanya hampir semua dimasak hehe. Bahkan ketupatnya kita bikin dari nol, kulitnya nganyam sendiri (tapi semenjak alm. bapak ga ada kita beli kulit ketupat jadi). Menu lebaran di rumah kami yang pasti ada adalah ketupat (tentunya), rendang daging dengan kacang merah, opor ayam, semur daging, sayur godog pepaya, dan sayur buncis udang.

Salah satu menu yang saya suka kangenin adalah sayur godog pepaya buatan mama. Lebaran tahun lalu saking pengennya saya akhirnya minta resepnya sama mama dan alhamdulillah hasilnya lumayan ngilangin rasa kangen saya (plus suami suka banget jadi bikin tambah hepi hehe).

Selain untuk contekan saya, kali aja ada temen-temen yang mau nyoba bikin buat lebaran nanti πŸ˜‰ ga gitu susah kok bikinnya. Buat resepnya boleh diintip di sini yaa πŸ™‚

Sayur Godog Pepaya

Bahan-bahan:

  1. Pepaya muda/yang masih hijau, parut/iris halus, campurkan garam sambil dibejek-bejek, kemudian bilas beberapa kali sambil diperas sampai airnya berkurang.
  2. Kacang panjang, iris kecil-kecil (tergantung selera, bisa sepanjang 1 – 3 cm)
  3. Tahu putih, potong kotak-kotak kecil kemudian digoreng
  4. Santan kental +500 ml (atau lebih, tergantung selera)
  5. Air putih secukupnya
  6. Daun bawang, iris halus (boleh di skip)
  7. Lengkuas/Laos + satu ruas ibu jari (+ 3 cm), geprek
  8. Daun salam 2 atau 3 lembar, disobek supaya aromanya lebih keluar
  9. Garam secukupnya
  10. Gula pasir secukupnya
  11. Minyak goreng untuk menumis secukupnya

Bumbu (haluskan):

  • Cabe merah besar 8 pcs (kalo ga tahan pedes jangan lupa buang biji dan bagian tengahnya)
  • Bawang merah ukuran besar 4 pcs (kalo medium boleh 6 pcs)
  • Bawang putih 3 pcs
  • Sedikit lada (hitam) bubuk
  • Ebi/Udang kering sekitar 5 pcs

Cara membuat:

Panaskan minyak dalam wajan dengan api besar. Masukkan bumbu yang sudah dihaluskan beserta lengkuas/laos dan daun salam ke dalam wajan. Tumis hingga bumbu matang (ciri dari bumbu yang sudah matang adalah bumbu dan minyak akan terpisah). Setelah bumbu matang (boleh dipindahkan ke panci atau tetap lanjut menggunakan wajan yang sama), masukkan irisan pepaya dan kacang panjang, aduk hingga tercampur rata. Tambahkan air sedikit (untuk memudahkan mengaduknya). Setelah bumbu dan sayuran tercampur rata, masukkan santan ke dalam wajan/panci, jangan lupa aduk sesekali supaya santan tidak pecah. Setelah santan mendidih, masukkan potongan tahu yang sudah digoreng dan irisan daun bawang ke dalam wajan/panci. Tambahkan garam dan gula sampai rasanya seimbang dan pas sesuai selera (jangan lupa dicicipi). Kecilkan api, kemudian masak sayur sampai matang (biasanya aroma dari si pepaya dan kacang panjang menghilang dan tekstur sayur menjadi agak lembut). Sayur pepaya siap untuk disajikan.

Btw si pepaya bisa juga diganti dengan labu siam ya, prosesnya sama aja cuma si labu siam ini ga perlu ditaburi dan dibejek dengan garam (saya bingung bahasa bakunya bejek apaan hahaha). Kalo suka dengan aromanya, bisa juga ditambahkan petai ke dalam sayur.

Dari si bumbu sampe sayurnya jadi (agak surem karna asap hihi)

Kalo lagi pas males bikin lontong atau ketupat (atau pas mau beli keabisan), sayur ini juga enak kok dimakan pake nasi putih hangat. Biasanya saya suka tambah rendang (kalo pas lagi punya), atau ayam goreng, atau tempe goreng atau telor ceplok buat temen makannya. Makin lengkap kalo pake kerupuk atau emping. Aduh saya jadi lapar kan sekarang πŸ˜‚

Lontong sayur tambah rendang dan kerupuk kampung, super yumm!

Summer besok mau kemana?

Image via Pixabay

I don’t want to go to Peru.”
How do you know? You’ve never been there.”
I’ve never been to hell either and I’m pretty sure I don’t want to go there.
~ Richard Paul Evans, the Sunflower.

Azek gaya yang tinggalnya di negara empat musim hakakka. Maaap ya bukan mau gegayaan, tapi harap maklum berhubung dua buntut dan satu kepala punya waktu terbatas liburnya, jadilah saya sebagai satu ekor perlu memikirkan kira-kira gimana bisa memaksimalkan waktu libur mereka juga bikin cerita yang setidaknya bisa nambah cerita dalam lembaran hidup mereka (halah).

Tahun ini kembali kami putuskan untuk ga bedol desa mudik ke Indonesia. Salah satu pertimbangan kami ya karna waktu liburan yang ga bisa milih selain pas peak season dimana kalo kami pergi semua bikin hati (dan dompet suami) kembang kempes wkwkwk. Insya allah saya jadinya rencana mudik sama si kecil aja pas lebaran nanti, kangen sama suasana dan paling pasti kumpul keluarga.

Kembali ke topik semula. Sebagai pengganti mudik di kala summer, kamipun bikin rencana buat keliling di sekitar sini aja. Kalo tahun lalu kami udah ngerasain road trip pake mobil, kali ini saya pengen nyoba kita keliling pake kereta hahaha. Saya penasaran bagaimana nanti di perjalanan! Walo belom bener-bener final, saya udah kasih “presentasi” (literallyπŸ˜‚) ke suami dan anak-anak, dan sepertinya mereka cukup tertarik hehe. Saya sendiri udah sibuk nyari-nyari (dan booking) para hotel dan apartemen dong hahaha. Ga mau sampe shock liat harga kalo bookingnya deket-deket ah!

Jadi rencana perjalanan kami akan makan waktu kurang lebih 13 hari. Kemana aja destinasinya dan gimana transportasinya? Walo masih rencana boleh dong ya mau berbagi juga, kali aja dapet masukan yang lebih bagus kannn:))

Pertama yang saya pikirkan adalah starting point dari rumah menuju stasiun yang punya akses ke negara tetangga. Ada dua kota yang jadi pertimbangan saya, yaitu via Utrecht atau Nijmegen. Saya pilih Nijmegen dengan beberapa pertimbangan. Selain lumayan deket sama tempat kami tinggal, biaya parkir di situ masih lebih murah dibanding kalo kami start dari Utrecht (emak cheapskateπŸ˜‚).

Dari Nijmegen kita akan naik kereta menuju Berlin. Waktu tempuhnya adalah kurang lebih 6 jam (kalo kita start dari Utrecht pun kurang lebih sama). Tinggal di Berlin 3 hari, kemudian kita akan lanjut ke Praha. Jarak tempuh kereta dari Berlin ke Praha ini kalo saya baca di internet sekitar 3 jam. Rencananya kami juga akan tinggal di sana selama 3 hari. Dari Praha kami akan lanjut ke Vienna, juga pake kereta. Waktu tempuhnya kurang lebih 4 jam. Setelah itu kami akan lanjut ke Italia – tepatnya Roma – dengan menggunakan coach/night train. Waktu tempuhnya kurang lebih sekitar 12 jam lah. Dari Roma kami (well, saya si sebenernya) pengen mampir juga ke Cinque Terre dan stay di salah satu kota di sana selama 2 atau 3 hari. Cuma satu si kendalanya, harga kamar di sana yang masum kriteria saya mahal-mahal banget! Ini belom nyoba cari air bnb gitu si, tapi saya agak pesimis juga karna selain saya bawa anak piyik, jadwal pergi kami bisa dibilang masih pas musim liburan jadi pasti peminatnya banyak ya kan.

Salah satu desa di Cinque Terre yang fotonya ikut mejeng di wallpaper laptop saya hehe. Image via pixabay.

Oke balik lagi ke rencana. Setelah Cinque Terre, kami akan cus ke Milan, atau Bergamo tepatnya. Alesannya jelas, biar deket sama bandara hehehe. Berhubung ada tiket murah dari bandara di situ menuju bandara deket Nijmegen, makanya menurut saya ga ada salahnya untuk nginep di sana semalam. Kali aja malah menemukan hidden gem ya kan.

Dari bandara Orio apa gitu namanya di Bergamo, kami akan terbang menuju bandara Weeze di Jerman (deket Dusseldorf, tapi ini bandara khusus untuk LCC aja kayanya). Dari Weeze udah ga gitu jauh ke Nijmegen dan dari Nijmegen kembali ke rumah naik mobil deh.

Udah sih gitu aja :)))

Dua (apa tiga ya?) hal yang bikin deg-degan dari rencana ini adalah harga tiket transportasi dan akomodasi yang makin menjerit, mood si kecil dan suhu/temperatur di Itali yang konon katanya kalo pas summer panas tak terkira😩. Semoga aja kalo bener jadi perjalanan ini bikin si kecil seneng dan ga bosen trus cranky. Mudah-mudahan juga dese ga lempar tantrum sepanjang waktu liburan yes, biar semua hepi πŸ˜‰

Nah kalo plan di atas ga feasible, mungkin kami akan lari ke utara, gatau tapi mau ke mana hahahaha (bikin satu rencana gini aja udah ribed, apalagi kalo harus bikin cadangannya. Mamah tepok jidat ajalah *sambil kirim email cancellation ke tempat yang mau dituju hiks*)

Temen-temen udah ada yang punya rencana belom buat musim liburan mendatang? Semoga aja terlaksana dan berjalan lancar dan menyenangkan yaa!

Life Lately.

Get busy living or get busy dying.”

– Stephen King.

Asik banget judulnya ya hahaha. Saya lagi kena sindrom males nulis (well, males nyelesaiin draft yg udah numpuk sebenernya), senengnya baca blog orang dan kadang komen kalo sempet (sok shibuk!πŸ˜†).

Udah ampir sebulan kurang lebih saya dan anggota keluarga lain di rumah gantian sakit. Emang di Belanda dari akhir tahun lalu lagi dilanda epidemi flu. Mama mertua saya yang biasanya ga (ngerasain) sakit kali ini ikut ngerasain flu juga. Kondisinya lumayan berat sampe dia harus check up semuanya karna takut ada apa-apa. Alhamdulillah sekarang beliau udah makin membaik dan hasil check up semua normal dan ga ada yang aneh. Mama mertua umurnya 77 tahun btw (dan dia masih nyetir sendiri, naik sepeda kemana-mana, beberes segala sendiri, masih aktif ngelukis, ikut klub kartu klub dansa, bantuin orang jompo (nenek-nenek ngurus nenek-nenek dan kakek-kakek umur 80-90an wkwkwkwk), pokonya jauh lebih sibuk dari saya deh).

Saya sendiri juga udah berapa kali kena flu. Gejala flu yang keliatan di saya itu biasanya sakit kepala sebelah (migrain) kaya orang sinus, badan pada ngilu semua, kadang tulang yang berasa sakit, kadang juga demam. Rasanya beda sama flu yang biasa nyerang saya pas masih di Indonesia. Obatnya apa? Obat sapu jagad doang alias paracetamol sis πŸ˜‚. Di sini kalo ngga bener-bener yang tepar ga bisa ngapa-ngapain berhari-hari ke dokter pun bakalan dikasih paracetamol doang. Paling banter apa ya, saya sendiri selama sakit kemarin ga ke dokter si jadi ga tau dikasih obat apa lagi. Yang hampir pasti adalah mereka ga akan kasih antibiotik ke pasiennya yang terdiagnosa flu (jadi inget statement WHO yang nyebutin kalo sebaiknya mereka yang terkena flu ga dikasih antibiotik, karena penyebab flu adalah virus sementara antibiotik bekerja untuk membunuh bakteri. Begitu kira-kira).

Suami walopun juga keliatannya ada kena flu juga tapi alhamdulillah badan dan pikirannya masih lebih kuat dari si virus (mungkin juga karna badan dia udah lebih terbiasa dengan virus yang sama ya wkwkwk). Anak-anak juga walau sempet sakit alhamdulillah ga pake lama. Mudah-mudahan dengan makin menghangatnya cuaca di sini makin berkurang dan hilang si virus flu ini deh (aamiin).

Update lainnya, tulip saya hampir sebagian besar udah mekar doong hihi. Seneng banget ngeliatnya, secara pas nanam tahun lalu kita cuma coba-coba aja. Bahkan warnanya apa aja kita lupa hahaha. Sekarang tinggal yang warna gelap yang belum keluar bunganya. Semoga aja makin meriah lagi kebun kami deh. O ya, juga berhubung musim semi baru bener-bener terasa (mataharinya baru singgah ke sini dari minggu lalu), si pohon cherry blossoms di samping rumah baru mekar merekah awal minggu ini. Seneng banget ngeliatnya, serasa di Jepang lah 😁 (cuma sayang di bawah pohonnya itu banyak pup anj*ng πŸ˜₯. Kalo ga kan bisa pura-pura piknik di situ ya gak *disangka gila sama tetangga yang ada hahaha).

Daffodils alias narcissen hasil bloemenactie-nya anak-anak 😊

Acara TV yang sekarang lagi saya tonton adalah tak lain dan tak bukan acara The Voice US season 14 dan ANTM season 24 yang minggu ini masuk episode terakhir (download via torrents – maap mantan kantor, saya melanggar hak komersil (dari hak ciptanya) orang kayanya nihπŸ˜‚). Penting ya dikasi tau? Ga juga si, biar panjang aja postingannya wkwkwk.

Cerita lainnya, insya allah sahabat saya beserta keluarganya (suami dan 2 anak kicik) bakal berkunjung akhir bulan ini. Jadi inget, dua tahun terakhir saya selalu pulang pas bulan April, karna kebetulan memang April adalah bulan yang berarti bagi saya. Dulu di tahun 2016 saya pulang karna kebetulan pas banget di bulan april adalah 3 tahun meninggalnya ayah saya dan juga pas usia kandungan saya masuk bulan ke-4. Selain itu mama saya juga ulang tahun di bulan april, jadi waktu kembali ke Belandanya saya pas-in setelah ulang tahunnya mama. Tahun berikutnya kebetulan lagi adik saya satu-satunya ketemu jodoh dan nikah di bulan April juga. Jadi deh tahun lalu saya bareng si kecil mudik berdua (waktunya ga memungkinkan buat yang lain untuk ikutan, plus biayanya kalo berlima pulang alhamdulillah banget ya). Untuk tahun ini insya allah saya mau lebaran di Indonesia bareng mama dan keluarga beserta anak saya yang paling kecil, karena kakak-kakaknya dan si papa belum libur hiks. Mudah-mudahan lancar semuanya ya.

Saya masih tetep di rumah aja, ga kerja kecuali ngurus anak dan suami, ngurus kebon (kadang-kadang), ngurus rumah (kadang-kadang juga πŸ˜…), yaa gitu gitu deh. Boring banget ya hidup saya ga ada menarik-menariknya hahaha. Tapi alhamdulillah I am quite seldom feeling bored. Kalo berasa capek iya wkwk (saya ga tahan liat rumah berantakan. Toddler and clean tidy house is not a perfect match you know😭).

Apa kabar masak? BaekπŸ˜‚. Terakhir dua hari yang lalu saya baru aja bikin lemon blueberry cake with lemon cheese frosting. Enak! Resepnya saya nyontek dari sini, kali aja ada yang lagi punya blueberries dan cream cheese (yang udah kelamaan di kulkas kaya punya saya hihi) bisa banget dicoba resepnya.

img-20180406-wa00551753062554.jpeg

Ini nih si salmon berlapis saus instannya IKEA kesukaannya anak-anak! Pasangannya itu kentang yang sebelumnya udah direbus sebentar kemudian siap dipanggang.

img-20180404-wa00151242104331.jpeg

Boleh ya pamer telor ceplok di sini hahaha

Pempek kakap merah hasil prakarya sendiri nih! Rasanya okelah, cuma kayanya kalo disuruh bikin lagi perlu pikir panjang πŸ˜‚

Yang ini adalah sambel goreng kentang pete ampela ala saya πŸ™‚ ditaro di kotak-kotak gitu karna emang bikin untuk dikasih ke temen hehe.

Dan yang terakhir, saya dan suami masih les dansa dong hahaha. Awet juga nih kami (walo banyak bolongnya). So far kami udah belajar foxtrot, cha cha, rumba, salsa, jive, disco dan english waltz. Ih banyak yaaa. Sebentar lagi jadi dance master kayanya (ngarang🀣).

Jadi, how’s your life lately?

(*yang lain pada update blog kali, jij doang yang ngga wkwkwk)

Menu Andalan di Rumah.

“Food tastes better when you eat it with your family.”

Anak-anak saya itu bisa dibilang termasuk yang gampang-gampang susah makannya. Beruntung walaupun lahir di Belanda lidah mereka cukup biasa dengan masakan dengan bumbu yang lumayan kuat. Semakin besar mereka pun makin tahan dengan pedas. Kalo suami si jangan ditanya hehe. Bahkan dia lebih tahan pedes daripada saya loh. Masakan favoritnya suami? tumis kangkung dan tempe goreng (tepung) sist hahaha.

Walaupun berani nyoba sesuatu yang baru, ada beberapa masakan yang sering jadi menu makan malam kami (pagi dan siang hampir selalu roti yang jadi menu kami). Kalo saya bikin masakan ini hampir bisa dipastikan anak-anak akan lahap makannya. Kalo liat anak dan suami makan lahap kan kitanya jadi hepi ya gak hehe. Berasa ga sia-sia gituu masakinnya. Biasanya setiap kali makan pasti akan ditemenin sama sayuran, entah itu simple salad (ketimun, daun selada, tomat dan paprika) atau sauteed veggies (brokoli, wortel, champignon, buncis dan bawang bombay). Anak-anak juga hobi makan bakwan haha. Si bakwan menjadi salah satu trik supaya anak kami yang pertama makan sayur selain brokoli, ketimun dan daun selada.

Nasi Goreng.

Anak-anak seneng banget kalo saya bikin nasi goreng. Biasanya saya bikin nasi goreng kalo kebetulan ada sisa nasi (walau sering juga khusus masak nasi untuk bikin nasi goreng). Bumbunya gampang dan semuanya cukup diiris aja. Selain kadang saya masukkan potongan wortel, saya juga suka masukkan potongan sosis atau salami. Trik utamanya adalah penggunaan mentega yang bikin si nasi goreng jadi lebih gurih. Biasanya kami makan si nasi goreng bareng dengan bakwan goreng. Cocok lah ini! 😁

dsc_17411415929717.jpg

kalo nasi goreng ini bumbunya pake sisa sambal di rumah hahaha :))

Soto Ayam dan Soto Betawi.

Kalo untuk kedua soto ini anak-anak paling suka sama kuahnya. Beberapa tahun lalu mana mau mereka makan soto (mulut mereka masih cukup standar dan ga mau banget nyoba sesuatu yang baru), tapi saya bersyukur semakin ke sini mereka pun jadi semakin terbiasa dan bilang kalo soto itu enak hehe. Kalo buat saya dan suami isi si soto kan lengkap ya, kalo buat anak-anak biasanya saya cuma masukin daging dan irisan kol (untuk soto ayam) atau kentang (untuk soto betawi).

Sate Ayam.

Bikin sate ayam versi saya gampang aja bumbunya hihi. Setelah dipotong kecil-kecil, biasanya saya marinade si daging dengan bumbu kacang khusus untuk sate yang siap pakai (merek belanda yang paling lumayan rasanya untuk bumbu sate adalah wijko) dicampur dengan sedikit minyak zaitun, kecap manis, garam dan perasan jeruk nipis/lemon. Setelah itu tusuk-tusuk trus masukin oven deh. Biasanya saya mulai di posisi biasa kemudian setelah agak kering saya ganti ke posisi grill. Panggang sampe si daging matang agak kecoklatan, abis itu santap deh.

Ikan Salmon.

Satu kali pas kami lagi pergi ke IKEA, saya iseng beli saus instan campuran lemon dan dill (citroen en dill) untuk dipasangkan dengan ikan salmon. Cara memasaknya sendiri juga tertulis di bungkusnya. Gampangnya hampir kebangetan sebenernya hahaha. Cukup beli ikan salmon filet yang sudah dipotong per porsi (dengan atau tanpa kulit), letakkan di dalam wadah tahan panas, kemudian tuang si saus ke atas si ikan, sebisa mungkin seluruh ikan terlumuri saus. Biasanya sebelum saus dituang saya suka taburi si ikan dengan garam dan bubuk lada hitam. Setelah itu diamkan si ikan yang sudah berlumuran saus selama kurang lebih setengah jam (kalo mepet juga gapapa sebenernya tanpa didiamkan dan langsung dimasak). Panaskan oven 180oC, masukkan ikan ke dalam oven, masak selama 20-25 menit, kemudian keluarkan dari oven (ini penting supaya si ikan ga overcooked. Abis itu disantap deh si ikan. Anak-anak kalo udah tau saya bakal masak ini langsung excited banget dan mereka hampir pasti akan minta lebih dari porsi biasa mereka πŸ˜€ Makanya sekarang kami pun siap saus ini selalu di rumah.

dsc_00381111194072.jpg

ikan salmon ini saya pan seared pake minyak zaitun, sementara sausnya adalah lemon butter dan dill. Setelah ketemu saus siap pakai dari IKEA saya udah lama ga bikin ini lagi :))

Steak dan Pasta.

Masak steak dan pasta versi saya ga ribet bikinnya hahaha. Selain saya suka pake saus pasta siap pakai (versi yang fresh tapi), si steak pun ga aneh-aneh marinade-nya: cukup ditaburi garam, lada hitam dan minyak zaitun aja (kalo kebetulan lagi inget kadang suka saya olesin rosemary sedikit buat aroma). Abis itu si steak dipanggang di grilled pan sampe tingkat kematangan sesuai keinginan (sambil masak si pasta di api lain). Semua beres tinggal hap sampe ludes deh haha.

dsc_4646114790850.jpg

bagian dari sapi yang paling sering kami konsumsi adalah entrecote/sirloin dan round (kogelbiefstuk).

Spaghetti Bolognaise/Meatball.

Kalo dulu saya masih rajin bikin saus tomatnya sendiri, makin ke sini saya jadi makin males dan lebih sering pake basis saus pasta siap pakai wkwkwk. Tapi si saus ini biasanya saya sesuaikan rasanya dengan menambah sedikit garam atau gula. Kalo lagi pengen saus bolognaise, biasanya saya masak daging cincangnya dulu (dicampur garam, gula pasir, sedikit penyedap dan pala bubuk) kemudian dicampur dengan basis saus tomat yang siap pakai. Kalo lagi sedikit rajin, saya akan bikin si bola-bola daging sebagai temen makan pastanya hehe.

dsc_00411372120651.jpg

Semur Daging (dan Kentang).

Semur daging akhir-akhir ini juga menjadi salah satu masakan favoritnya anak-anak. Cuma memang kalo mau si daging sampe empuk banget saya harus masak agak lebih awal (atau pake panci tekan/pressure cooker). Biasanya saya suka campur kentang juga ke dalam si semur. Bumbunya bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karna semua tinggal diblender trus ditumis sampe harum. Susahnya karna lumayan banyak campurannya. Kalo mau tau resep semur daging versi saya, bumbu-bumbunya adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, sedikit ketumbar, sedikit bubuk lada hitam, sejumput bubuk pala, sejumput bubuk cengkeh, dan cabe merah 1 buah dibuang bijinya. Jangan lupa kecap manis (cap bango andalan saya hehe) dan garam tentunya. Setelah bumbu ditumis hingga harum dan matang, langsung masukkan potongan daging ke dalam bumbu, tuang kecap manis ke dalam wajan kemudian aduk rata. Tambahkan air secukupnya, masak dengan api kecil hingga daging empuk dan kuah mengental. Kalo mau pake kentang, biasanya saya suka goreng terlebih dahulu, kemudian sesaat sebelum api dimatikan masukkan kentang ke dalam semur. Biasanya kami makan semur dengan nasi putih hangat dan sayuran yang sudah direbus/dikukus.

Sayur Kembang Kol.

Sayur kembang kol ini adalah salah satu sayur favorit saya dan almarhum bapak saya. Biasanya makannya bareng ayam goreng ato sambel goreng teri. Duh sedap banget deh. Suatu kali saya dan suami mempersilakan anak-anak untuk nyoba. Saya sendiri pesimis mereka bakal suka, tapi ternyata pada suka dongg. Saya jadi hepi karna nambah lagi repertoir masakan kami wkwkwk. Buat yang mau nyoba masak sayur kembang kol ini gampang kok masaknya. Semua bumbu cukup diiris (bawang merah 1 pc, bawang putih 1-2 pcs, cabe merah (tanpa biji kalo ga mau pedes) 1-2 pcs, kemudian batang sereh 1-2 pcs. Kadang saya tambahkan daun salam selembar, tapi di skip pun ga apa apa. Sebagai bahan campuran boleh ditambah tahu yang sudah dipotong dadu dan digoreng, dan kentang yang juga sudah dipotong dadu dan digoreng. Semua bumbu ditumis sampe harum, trus masukin si kembang kol, tambah garam dan gula sedikit, kemudian tuang + 250ml santan, masukin campuran sayur lainnya, trus masak sampe kembang kol empuk. Setelah empuk si sayur siap disantap deh 😊.

Chicken Schnitzel.

Bikin chicken schitzel sebenernya gampang-gampang ribet. Paling bete itu pas proses coating-nya plus udahannya (piring kotor bekas coating plus minyaknya itu loh!). Selebihnya si ga gitu susah ya. Setelah si ayam filet dipukul-pukul sampe gepeng, taburkan garam dan lada di dua sisi. Kalo ga suka amis boleh juga dilumuri jeruk nipis/jeruk lemon sedikit. Setelah itu diamkan selama kurang lebih satu jam. Untuk lapisan luarnya, biasanya saya pake tepung panir/roti. Lapisan pertama saya pake tepung terigu yang sudah diberi garam dan lada sedikit. Kemudian si ayam dicelupkan ke kocokan telur yang sudah dicampur dengan susu cair sedikit, kemudian potongan ayamnya digulingkan ke tepung panir/roti yang sebelumnya sudah dicampur dengan sedikit parutan keju parmesan, garam, gula pasir, lada dan oregano. Kalo ga pede dengan sekali coating, boleh sekali lagi dicelup ke dalam kocokan telur dan kemudian digulingkan lagi di tepung panir. Setelah itu goreng sampe kecoklatan deh. Hasilnya (hampir) pasti bikin anak-anak (dan bapaknya) hepi hehe.

Martabak Telor.

Nah kalo untuk yang ini agak ribet prosesnya. Tapi karna saya suka martabak, makanya buat saya sesekali bikin ini ga masalah. Walau jauh dari martabak telor abang-abang, tapi untuk urusan rasa alhamdulillah lumayan lah hehe. Dulu awalnya karna saya mau ngakalin anak saya yang pertama yang ga suka wortel sama sekali. Makanya biasanya adonan martabak telornya saya campur dengan wortel yang dipotong kecil-kecil. Selain wortel, campuran lain yang saya masukkan ke dalam adonan martabak ini adalah daun bawang yang sudah dipotong-potong, daging cincang campur bawang bombay yang sudah dimasak sebelumnya, telur orak-arik yang sudah dimasak setengah matang, dan dua atau tiga butir telur mentah. Kemudian adonan ini dikocok sampe tercampur rata. Untuk bumbunya saya cuma tambahkan garam, gula pasir dan lada hitam (juga sedikit penyedap/maggi block kalo pas lagi inget wkwk). Untuk kulitnya saya cukup pake kulit pangsit/spring roll siap pakai (frozen). Karena saya ga pake kulit yang selebar tampah kaya tukang martabak, alhasil saya harus melipat si martabak satu persatu. Kenapa saya bilang ribet ya inilah. Tapi kalo dikerjain si ya selesai juga. Apalagi kalo pas liat yang makan pada semangat, worth it deh prakarya melipat ini jadinya.

This slideshow requires JavaScript.

Mungkin ada masakan lain yang terlupa sama saya, tapi kalo saya masak masakan di atas ini hampir ga pernah mengecewakan lah hasilnya.

Masakan-masakan di atas ada di meja makan kami kalo pas saya lagi rajin ato ada waktu buat masak. Kalo pas lagi males ato ga sempet masak ya kami makan di luar aja haha, ato ga pesen online via thuisbezorg wkwkwk.

Perihal Bahasa.

“Dutch is not so much a language as an ailment of the throat.”
– John Green.

Masalah bahasa ini sebenernya udah saya perkirakan akan jadi salah satu tantangan buat saya begitu memutuskan untuk nikah sama orang Belanda dan kemudian pindah ke sini. Dulu pas kuliah si saya aman-aman aja, wong kelas yang saya ambil adalah kelas internasional, otomatis bahasa yang dipake juga bahasa Inggris. Bahkan mahasiswa Belandanya pun wajib pake bahasa Inggris kalo pas di kelas. Beberapa kolega, kerabat serta kenalan saya banyak yang ngira karna saya kuliah di Belanda so pasti pulang-pulang jago bahasa belanda juga. Begitu balik ya saya tetep bego bahasa Belandanya kali hahaha. Dulu selama di sini entahlah saya ngerasa bahasa Belanda ga gitu dibutuhin. Well, oke saya bisa beberapa kata (dan ngerti sedikit banyak) karna saya sempet ikut kelas bahasa Belanda selama satu semester. Tapi begitu semester selesai saya lupa cin, secara saya juga ga gitu banyak ngobrol pake bahasa Belanda (iya, i’m that person who likes to mingle with fellow Indonesian – though I also have some other foreigners including Dutch as my friends as well ☺). Otak saya keburu sibuk mikirin tesis dan ngejar deadline kuliah wkwk. Menurut saya waktu itu cukuplah saya lancarkan bahasa Inggris saya aja, secara temen-temen saya yang lain pun ngomong bahasa Inggrisnya pada lancar. Ribet kalo harus mikir bahasa lain lagi ah! Nyesel pun dateng belakangan yeees. Begitu pulang sempet terlintas kenapa dulu ga lancarin juga bahasa Belandanya siii. Untung ada temen saya di kantor yang bosen di kantor trus pengen ambil kursus bahasa trus ngajak saya buat kursus bareng (thank you Bella :)). Sempet kepikiran mau ambil kursus bahasa Perancis, tapi karna lokasi dan waktu akhirnya kami pun terjerembab ke dalam bahasa “tengkhorokhan” (tenggorokan pake lafal bahasa BelandaπŸ˜‚). We took the class merely just for fun. Ga ada pikiran bakal kawin sama bule Belanda (pas waktu itu pas break juga sama si mantan yang orang Belgia), juga ga ada pikiran buat lanjut kuliah lagi di sini. Blas kita mikir, yang penting kita punya ilmu baru. Ndilalah ga lama selesai kursus basis, kok saya ketemu si suami dan kemudian berjodoh, kemudian wajib ikut dan harus lulus inburgeringexamen sebelum bisa apply izin tinggal di sini. Ini yang namanya takdir kayanya ya. Bener-bener ga nyangka kalo apa yang saya tanem sedikit banyak tertuai hasilnya (tsahhh). Walo tetep stres ga terkira, alhamdulillah ujian saya lewati dengan sukses, kemudian saya boleh dateng ke sini dan menjemput si kartu ijin tinggal di gemeente tempat saya tinggal sekarang.

Begitu pindah pasti mikir udah aman dong. Saya pikir mungkin dengan bekal bahasa Inggris saya bisa survive lah (walau tentu sambil sedikit-sedikit belajar bahasa Belanda juga). Kenyataannya ngga bisa begitu cin. Saya kan TETEP belum bisa bahasa Belanda ya (secara inburgeringexamen banyakan hafalan), sementara ibu mertua dan anak-anak saya waktu itu cuma bisa ngomong bahasa Belanda zz. Anak-anak sebenernya dulu pas kecil sempet lancar bahasa Indonesia, cuma setelah mamanya wafat mereka jadi ga punya counterpart untuk ngomong lagi dan kebetulan banget pas waktu itu adalah pas mereka baru mulai belajar bener-bener bahasa Belanda. Makanya pas ketemu saya pertama kali pun mereka udah ga bisa ngomong bahasa Indonesia lagi (walau masih mengerti sedikit-sedikit). Jadilah saya yang harus catch up mereka. Ga bakal kekejar kalo saya ga belajar cepat, yang ada komunikasi di rumah bakalan susah. Untungnya bahasa Belanda anak-anak juga masih level awal alias masih banyak salahnya juga (lah mereka waktu itu masih umur 4 sama 5 tahun πŸ˜‚), makanya saya berani-beraniin aja ngomong asal nyeblak wkwkwk. Sebodo deh salah-salah, yang penting mereka ngerti (walo mereka banyak bengongnya karna ga ngerti hahhaha). Kalo udah ga dapet titik temu biasanya kita berdua (saya dan anak-anak) cuma kasih ekspresi ato bilang “nevermind” ato ya udahlah let it go aja wkwkwk. Sama mama mertua juga begitu. Kalo ga ngerti ya udah lupakan saja, ato ga pake bahasa isyarat bergerak trus tunjuk sana sini haha.

Saya kurang tau kenapa, tapi (alhamdulillah) sampe sekarang saya ga dapet surat dari gemeente maupun DUO yang menyebutkan kalo saya di sini harus belajar bahasa Belanda lagi dan lulus ujian (minimal inburgeringexamen lagi dengan tingkatan yang lebih tinggi) di sini. Entah mungkin karna nilai inburgeringexamen saya pas di jakarta sudah mencukupi, atau karna saya dianggap sudah lama tinggal di sini (saya masih menggunakan nomor identitas kependudukan atau BSN yang sama dengan sewaktu kuliah dulu. Jadi BSN saya itu kaya mati suri, karna mereka menganggap kalo keberadaan saya tidak diketahui sampe pas 2014 balik ke sini dan di”hidup”kan lagi :)). Semoga aja gapapa si. Kalo dihitung soalnya batas waktu yang harus saya penuhi udah kadaluarsa soalnya.

Walaupun saya ga dapet surat bukan berarti saya ongkang-ongkang kaki juga tapinya. Memang saya rencana pengen ambil examen untuk bahasa Belanda di sini (walau untuk tingkatannya saya masih ragu). Makanya dua tahun lalu sebelum si kecil hadir saya juga sempet ikut kursus bahasa Belanda di sini. Ga begitu lama si, sekitar 3-4 bulan, tapi kursus yang saya ambil lumayan banget bantu saya jadi lebih mengerti bahasa Belanda. Dulu pas kursus di Jakarta sebenernya saya juga udah dapet beberapa ilmu-ilmunya, cuma karna banyakan becandanya jadi banyak juga yang ternyata kelewat sama saya. Makanya dengan kursus yang di Belanda sini pikiran saya jadi bisa lebih nangkep juga apa yang dijelaskan sama si dosennya. Rencananya si saya mau ambil kursus bahasa Belanda lagi setelah saya rela si kecil udah bisa ditinggal dengan Omanya (atau dititipkan di Day Care/Kinderopvang). Saya pengen mulai nyari kerja lagi, dan kalo saya mau kerja yang decent, mau ga mau saya harus membekali diri saya dengan skill (bahasa Belanda) ini. Satu lagi, beruntung karna saya “terpaksa” harus ngomong bahasa Belanda, alhamdulillah kalo denger komentar orang-orang sekitar (Oma, kerabat dan famili, para orang tua temennya anak-anak, juga temen-temennya Oma (saya GA PUNYA temen orang Belanda yang deket di sini hihi)) mereka bilang kalo saya bisa ngomong bahasa Belanda dengan baik dan jelas (hihiyyyyyy). Senengnyaa dapet reaksi positif kaya gitu. Cuma jeleknya adalah semenjak saya sering menggunakan bahasa Belanda, saya ngerasa kalo bahasa Inggris saya makin ancur ahahaha. Sedih banget rasanya, karna dulu juga sebenernya ya ga bagus-bagus amat juga wkwkwk. Emang si, kalo pas lagi ngebahas sesuatu sama suami trus mentok ato ga ngerti apa yang dia jelasin, saya langsung minta dia switch ke bahasa Inggris aja. Selain itu saya juga coba akalin, supaya bahasa Inggris tetep nempel di otak kadang saya nulis postingan di sini dalam bahasa Inggris. Makanya maapin ya temen-temen kalo postingan bahasa Inggrisnya kadang acak-adut juga hahaha.

Trus gimana sekarang dengan anak-anak?

Dua anak saya yang dulunya pernah bisa bahasa Indonesia sekarang sama sekali udah ga bisa ngomong bahasa Indonesia. Ada si beberapa kata yang masih mereka inget, tapi ini pun harus dipancing dulu baru ngeh artinya apa. Sempet di awal-awal pas saya baru pindah ke sini kita setiap weekend belajar bahasa Indonesia. Tapi ya itu, karna mereka juga mulai sibuk dengan bahasa Belanda, akhirnya saya putuskan untuk stop sementara belajar bahasa Indonesianya. Pelajaran bahasa Belanda yang mereka dapet di sekolah cukup intensif menurut saya. Saya kalo ngomong bahasa Belanda suka dikoreksi sama mereka sekarang hahaha. Buat saya dapet koreksi dari anak-anak ga masalah. Bahkan kadang saya suka tanya sama mereka hehe. Simbiosis mutualisme!

Selain bahasa Belanda, sekarang di sekolah mereka juga mulai sibuk dengan pelajaran bahasa Inggris yang sudah mulai sejak mereka duduk di grup 5 (setara dengan kelas 3 SD). Ini juga yang menjadi salah satu alasan saya untuk sementara biar mereka fokus dulu ke dua bahasa ini. Lagian kalo mereka bahasa Inggris kemungkinan besar mereka juga akan bisa komunikasi dengan keluarga di Jakarta ya.

Sebenernya si saya yakin mereka mampu buat belajar kesemuanya, cuma saya kan bukan emak ambisius makanya saya ga gitu dorong banget kalo memang bukan satu keharusan (apa sebenernya males ya? wakakaka). Alesan saya? Karna sebagian besar waktu dan hidup mereka (hampir pasti) akan dihabiskan di Belanda. Okelah mereka mungkin akan liburan atau berkunjung ke kerabat dan famili di Indonesia, tapi saya pikir yang namanya anak-anak kalo emang mau komunikasi pasti akan nemuin jalan deh. Salah satu caranya? Google translet dong ah wkwkwk. Walo terjemahannya ga akurat tapi setidaknya si translet ini lumayan ngebantu kok.

Saya juga banyak nerima pertanyaan dari temen atau kerabat perihal bahasa yang dipake sama saya dan keluarga. Sebenernya kalo cuma nanya sebatas nanya tanpa menekankan ke satu hal si saya fine-fine aja. Saya juga bukan tipe orang yang gampang irritant sama pertanyaan kepo kok. Karna saya juga jawabnya kadang sekenanya aja hahaha (males juga ngeladenin pertanyaan yang sifatnya personal kan). Cuma saya kadang suka kesel kalo ada orang yang ngomongnya kaya ngajarin gitu. “Anak-anak harus bisa bahasa Indonesia Nis, karna kan mereka setengah Indonesia.”, begitu contohnya kira-kira. Apalagi pas anak saya yang ketiga lahir. Wuih, tekanan makin gencar dong ya. Ayoo, ajarin si kecil bahasa Indonesia biar nanti kalo mudik bisa ngobrol sama nenek sama tante dan om. Lucunya, tekanan dateng bukan dari keluarga inti saya hehe. Tapi ya itu, saya mah ga ambil pusing. Kasih senyum aja trus bilang “Iya dong pastinya” πŸ˜€ Eh, tapi menurut saya lebih lucu lagi dengan fenomena yang ada di Indonesia. Bisa dibilang masih wajarlah ya kalo anak saya ga bisa bahasa Indonesia karna mereka memang ga hidup dan tinggal di Indonesia. Yang bikin bingung itu anak-anak Indonesia yang hidup dan tinggal di kota-kota besar di Indonesia. Dari yang saya tau, makin ke sini semakin banyak anak-anak Indonesia (bahkan yang masih piyik banget) mulai lebih memilih untuk ngomong dalam bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya. Boleh disurvei kali ya, berapa banyak anak-anak dan remaja di Indonesia yang ngerti bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Trus yang bikin saya agak kurang suka, sekarang malah mereka make istilah bahasa Inggris dan menggabungkannya ke dalam istilah bahasa Indonesia (kids jaman NOW – oh no, tepok jidat ajalah saya) atau dengan sengaja pake ejaan bahasa Inggris atau ejaan yang suka ditemuin dalam bahasa orang-orang Skandinavia ke dalam bahasa Indonesia (ebook (maksudnya ibuk), tercyduk (terciduk), lyfe (life) atau mylk (milk alias susu)). Bener-bener deh, kayanya orang Indonesia udah kebanyakan micin makanya jadi demen segala sesuatu yang hiperbolis (kemudian diseruduk berjamaah – ampuuuuuuun!)

Anyway, saya sendiri mencoba untuk ga gitu ngoyo untuk urusan per-bahasaan ini. Bukannya apa-apa, menurut saya masih banyak urusan lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Anak saya sekarang (termasuk si kecil) menggunakan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-harinya. Saya juga kadang berbicara dengan si kecil dalam bahasa Indonesia. Apakah si kecil mengerti? mungkin, karna kalo saya liat dia pun bereaksi kalo saya ngomong sesuatu dalam bahasa Indonesia. Cuma saya perhatiin kalo saya (atau papa dan kakak-kakaknya) berbicara dalam bahasa Belanda, dia bereaksi lebih cepat atau lebih tanggap. Apakah saya kecewa? Duh ngga lah. Buat saya apapun itu yang paling penting adalah si anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik (juga cerdas emosional dan intelektual). Nanti pada saatnya insya allah saya akan coba ajarkan si kecil juga kakak-kakaknya (dan bapaknya) untuk ngomong bahasa Indonesia.

Buat yang lagi berjuang dan belajar bahasa lain selain bahasa ibu kalian, semangat ya, kamu pasti bisa! There’s no such thing as wasting your time in learning (new) things. And don’t forget, kalo udah mepet biasanya kemampuan kita bakal jadi berlipat ganda kok wkwk, the power of kepaksa!

“Economics is like the Dutch language – I’m told it makes sense, but I have my doubts.”

– John Oliver

Saya (Ibu) Sharent?

“Sharent: A parent who regularly uses social media to communicate a lot of detailed information about their child.”

Macmillandictionary.com

I admit, dalam urusan persosmed-an saya termasuk yang lumayan aktif. Facebook saya punya (dari Oktober 2007 coba!), Instagram saya ada (walau paling telat gabung – baru punya pas tahun 2014 kalo ga salah, itupun lupa password dan akhirnya 2015 bikin akun baru lagi πŸ˜… – yang saya tautkan di blog ini), Path pun walau akhir-akhir ini makin jarang tapi sempet lumayan sering juga saya share aktivitas anak-anak saya di sana. Suami saya sendiri kebalikan dari saya. Dia ga punya akun medsos apapun (pake WA aja gara-gara kenal saya hehe).

Setelah beberapa kali baca mengenai sharent atau sharing parent di beberapa artikel dan tulisan di blog, saya kadang jadi mikir, apa anak-anak saya ga masalah kalo saya posting kegiatan atau foto mereka di medsos saya.

b5d47d0dcca0b2e3ffa28b9f0d986679

Saya kayanya termasuk tipe Curator nih. Kalo suami jelas Anonymous πŸ™‚

Satu waktu saya pernah tanya ke mereka, apa mereka keberatan kalo saya posting foto-foto mereka di sosmed saya ( yang paling kecil mah ya belom bisa jawab ya hahaha). Yang paling besar langsung jawab “ngga kok mama, it’s ok. Toh mama juga posting fotonya bukan yang aneh-aneh. Lagian kan aku juga jadi dikenal orang (diem-diem narsis πŸ˜…).” Sementara yang nomor dua apa kata yang pertama dia setuju aja wkwkwk. Yang nomor tiga belum bisa protes jadi ya terima aja (maafin mama ya nak kalo kamu ga suka mama posting fotonya kamu πŸ€—). Setelah denger jawaban mereka seketika hati saya jadi lega. At least ga ada pertentangan antara saya dan anak-anak. Suami sendiri menyerahkan pertimbangan masalah beginian sepenuhnya ke saya, karna sebagai orang dewasa sudah sepatutnya saya tau segala konsekuensi dan tanggung jawab dibalik perpostingan saya dimanapun (termasuk di blog ini).

Sebenernya alesan saya posting anak-anak cukup sederhana si, lebih karena banyak kerabat dan sahabat suka nanya gimana keadaan anak-anak. Klise ya hehe. Kalo keluarga inti si ga perlu liat medsos deh, tiap hari saya kirimin foto mereka haha (bosen-bosen dehhh).

Tujuan saya membuat akun di sosmed sendiri bukan untuk merahasiakan pribadi saya. Maksudnya gini. Kalo kalian ketemu saya aslinya dengan apa yang saya posting atau bilang di profil di medsos ya sama aja. Tapi bukan berarti saya obral data pribadi saya, ini lebih kepada kepribadian saya sendiri. Lagian nama legal saya bukan yang saya pake buat ID juga.

Begitu juga dengan lokasi. Kecuali pas lagi di luar negeri baru deh saya mau sharing lokasi saya huahahaha (norak bin belagu, padahal alesannya kalo share loc rumah sendiri takut ketauan kalo tinggalnya di kampung! hihihi). Kadang pas posting foto di instagram suka juga saya tautkan lokasinya. Cuma biasanya kalo saya posting foto dengan lokasi itu bukan real time alias postingnya suka belakangan. Sharing location menurut saya agak riskan (terutama kalo kita punya akun medsos yang bisa diakses sama siapa aja). Gini-gini saya kan masih penakut dan parno-an hehe.

Kembali ke sharent dan non sharent. Saya si salut sama mereka yang tahan untuk mencoba tidak berbagi informasi mengenai anak atau keluarganya. Saya sendiri ga tau ke depannya masih akan cerita mengenai anak-anak atau ngga. Mungkin aja suatu waktu nanti anak-anak datang ke saya dan bilang “mama, jangan posting foto aku lagi di sini” atau “jangan tulis segala sesuatu tentang aku di blog ya ma”. Atau kalo dateng keluhan dari suami, maka saya pun akan manut sama kemauan mereka πŸ™‚ Toh apa yang saya lakuin sekarang bukan sesuatu yang wajib hukumnya. Kalo saya ga sharing ya ga mati juga wkwkwk. Untuk sementara, selama belom ada komplen dari pihak mana pun terutama keluarga inti, saya akan nikmati privilege ini dan mencoba untuk ga melewati batas kewajaran biar mata yang ngeliat (atau membaca) juga ga sakit-sakit amat dan perut ga mules sampe pengen muntah ya :)))

*featured image, credit: michiganradio.org