daily stuff · life · personal · Random Thought

Sibuk Apa selama Pandemi?

Semenjak Covid ditetapkan sebagai pandemi beberapa bulan lalu (sejak Maret bukan ya?), banyak negara yang mulai menerapkan karantina wilayah atau istilah populernya “lockdown”. Belanda sebagai salah satu negara yang lumayan tinggi tingkat penularannya dari awal – walaupun menerapkan aturan yang cukup ketat – tidak pernah menerapkan yang namanya full lockdown. Perbatasan Belanda dengan negara tetangga tidak pernah ditutup, penerbangan walaupun berkurang drastis pada prinsipnya juga tetap jalan.

Belanda tidak full lockdown bukan berarti warganya serta-merta bebas berkeliaran seenaknya aja ya. Pas awal-awal pandemi, kecuali mereka yang bekerja di tempat-tempat vital dan dalam rangka belanja keperluan dasar, kami para warga diminta (istilahnya ini sunnah muakad kalo dalam islam kali ya wkwk) untuk sebanyak mungkin beraktivitas dari rumah, terutama mereka yang bekerja dan bersekolah. Walo sempet masuk selama beberapa waktu, pada akhirnya sekolah-sekolah juga ditutup dan kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui dunia maya. Kegiatan sekolah secara fisik kembali dibuka awal Juni lalu, dengan beberapa penyesuaian aturan berdasarkan protokol pencegahan covid.

Pada awalnya, buat saya sendiri pandemi ga begitu mempengaruhi sebagian besar kegiatan sehari-hari saya. Maklum, sebagai stay at home mom kesibukan saya ya sebagian besar terkonsentrasi di rumah. Tapi ada beberapa rutinitas yang jadinya juga ga bisa saya kerjakan lagi, seperti belanja ke supermarket (groceries shopping is my therapy hahaha) dan sesekali kumpul ato jalan-jalan bareng temen. Walo sebenernya jumlah waktu lowong saya ya sama aja kaya pas sebelum pandemi, ga tau kenapa di masa pandemi saya jadi ikut-ikutan mau sibuk. Segala macem saya coba hahaha. Dari semua ikut-ikutan ini, yang paling-paling adalah ikutan sibuk belajar bikin roti pake ragi alami :)))

Dari bikin donat isi, kue sus, gyoza, apple cake, churros, butter cookies, pangsit, sampe kembang goyang saya jabanin πŸ˜‚
Aneka ria roti dengan ragi alami dengan berbagai resep. Dari yang memble sampe sukses membuncah. Ada yang pake yeast water walo sebagian besar menggunakan levain standar
Roti abon (garpu cuma hiasan🀣
Brioche bun
Lebaran paripurna, lengkap kue keringnya πŸ˜…

Saya beruntung, walaupun anak-anak sempet sekolah via daring, saya hampir ga perlu bener-bener yang standby dan jadi full tutor buat mereka (kecuali buat si bungsu). Selain usia yang sudah lumayan (anak pertama usia 13 tahun di SMP dan anak kedua usia 11 tahun di kelas 6 SD, dan anak ketiga usia 3 tahun di Playgroup 2x dalam seminggu), guru-guru mereka termasuk kreatif dan lumayan siap dengan berbagai macam metode yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Cuma satu yang saya kerjakan waktu itu: bikin jadwal tetap buat anak untuk sehari-harinya. Saya mencoba untuk mengakali supaya mereka ga seharian di depan layar dan tetap cukup bergerak dan beraktivitas di luar rumah (di halaman belakang rumah). Suami saya sendiri selama masa pandemi masih tetap bekerja seperti biasa, karna jumlah orang yg bekerja di kantor dia ya cuma tiga orang termasuk dia.

Jadwal kegiatan tiap hari.

Salah satu hal yang kami jaga waktu itu: frekuensi kontak langsung dengan Oma-nya anak-anak, karna usia beliau yang masuk dalam kategori rentan. Kalo biasanya tiap minggu siang Oma datang ke rumah kami untuk makan pancake bareng, selama pandemi kami anjurkan untuk tidak datang terlebih dahulu.

Selama pandemi itu juga banyak kejadian-kejadian yang bikin bingung. Macam kehabisan tepung lah, tisu toilet, sampe hand gel segala. Oh ya, sama susahnya buat dapet slot belanja online di supermarket! itu ya, mau nge-block waktu antarnya udah kaya mau main war of lords (ato apalah yang perlu mikirin strategi). Kalo terpaksa harus ke supermarket, suami yang bakal jalan. Semua barang belanjaan kemudian dilap pake tisu disinfectan hahaha.

Selain kegiatan masak-memasak dan per-baking-an yang heboh, selama pandemi ini banyak juga mulai bercocok tanam dan berkebun. Saya sendiri kebetulan udah dari tahun sebelumnya mulai coba-coba (belagu πŸ˜‚). Tahun ini malah termasuk keteteran dan kurang perhitungan. Kegiatan bercocok tanam ini insya allah memang bakalan rutin si. Selain bunga-bungaan, saya juga selipkan beberapa jenis tanaman dan sayuran yang bisa dikonsumsi. Dua tahun lalu sempat mabok Courgette atau zucchini saking melimpah ruah hasilnya. Selain courgette, kami juga waktu itu menanam ketimun. Di tahun berikutnya kami menanam strawberry dan tomat. Inipun sampe kewalahan sama hasilnya. Tahun ini si strawberry kembali berbuah, dengan hasil lebih banyak dari tahun sebelumnya, plus pokchoi, buncis dan tomat yang tumbuh sendiri. Sebenernya saya juga nanam kangkung, tapi gatau kenapa hasilnya ga seindah foto yang ada di bungkus bibitnya wkwkwk. Alhamdulillah walaupun cuma sepetak wadahnya masih dikasih rejeki dari Yang Diatas πŸ™‚

Kangkung, pokchoi, tomat, stoberi beserta buncis dan wortel.
Rombongan bunga di kebun belakang.

Baking udah, bercocok tanam udah, kemudian menjahit. Kalo saya punya mesin jahit di rumah, hampir bisa dipastikan ada kalanya saya akan sibuk menjahit masker. Sayangnya saya ga punya. Sempet terpikir untuk minjam sama Oma, tapi akhirnya terkalahkan oleh berbagai kegiatan lainnya (plus malu dan ribet). Jadinya semua bahan yang udah saya kumpulkan untuk menjahit masker masih terlipat dengan rapi di sudut walk-in closet saya πŸ™‚ Eh tapi saya sempet bikin satu masker pake jahit tangan untuk anak saya loh. And I’m proud to say that its not that bad. Bagus malah (eaaaaa). Cuma karna kecerobohan dan kebodohan, masker itu yang seharusnya ikut kami selama liburan malah tertinggal di rumah. Nasip ya.

Masker buat si kecil.
Tidak lupa praktek gaya rambut trend masa pandemi 🀣

Yang juga ikutan naik daun sepanjang pandemi adalah TikTok dan Zoom. Untuk TikTok, saya sempet install app-nya, trus bikin akun, trus bingung mo ngapain, trus uninstall lagi tu app hahahah. Sementara untuk Zoom saya manfaatkan untuk video call dengan teman dan sahabat serta kerabat yang ada di Indonesia (dan di lokasi lainnya). Sebenernya ya, saya sering video call-an tapi ya cuma terbatas sama mama dan saudara kandung saya aja. Biasanya saya pake whatsapp VC aja, tapi memang jumlah caller terbatas maksimal dengan 4 orang aja. Kenapa zoom jadi populer ya karna aplikasi ini mendukung fasilitas video call dengan jumlah caller yang lumayan banyak. Selain itu bisa untuk webinar-an pula kan. Untung sekarang udah ga musim lagi wkwkwk. Zuzur saya kurang suka VC-an soalnya. Muka saya butek di layar, pusing liat muka sendiri hahaha.

Ada lagi yang juga kembali ngetren, yaitu segala challenge-challenge-an. Dari yang until tomorrow, challenge posting foto travel, posting foto selfie, posting makanan, posting album artis yang menginspirasi, posting buku favorit, trus apa lagi deh kayanya banyak. Trus akhir-akhir ini banyak juga yang posting di sosmed kegiatan yang berhubungan sama olahraga, termasuk rute sepedaan atau rute lari mereka. Oh ya, khusus di Indonesia, akhir-akhir ini banyak yang keranjingan Brompton sampe pada berani bayar tinggi. Sepeda pokoknya di Indonesia semakin digemari deh. Banyak yang posting bareng si sepeda, dari yang mejeng di depannya, duduk di sampingnya, ato pas pergi ke toko sepedanya 🀭.

Eh ga disangka cuap-cuap saya panjang juga ya hahaha. Udah lama ga update jadi gini deh.

Satu lagi update dari saya yang mau saya ceritain. Alhamdulillah per akhir Juni kemarin saya mulai bekerja di salah satu perusahaan chemical coating di deket rumah. Buat saya pekerjaan ini bener-bener rejeki ga terduga dari Allah. Qadarallah durasi dari melamar sampai mulai bekerja lumayan singkat (dalam waktu 2 minggu aja), lokasi kantor yang deket rumah (cuma berjarak kurang lebih 7KM dari rumah), waktu bekerja 32 jam dalam seminggu (4 hari kerja), bidang pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan, mertua yang alhamdulillah masih dikasih sehat buat jaga anak bontot (yang minggu depan akan mulai masuk sekolah di Group 1 Basisschool), dan masih banyak lagi yang lainnya. God is good indeed. Walaupun sekarang status saya masih bekerja di bawah agensi, saya bersyukur di masa yang sulit ini saya masih dikasih rejeki dari Allah pekerjaan, kesehatan, termasuk juga untuk suami, anak-anak dan keluarga besar.

Keadaan memang hampir ga mungkin bisa kembali seperti sebelum masa pandemi (kecuali Allah berkehendak demikian), tapi semoga hal ini ga akan membuat kita putus asa dan berhenti berikhtiar. Semoga kita semua bisa bertahan, beradaptasi, dan mengatasi apapun kesulitan yang dihadapi pada saat ini ya. Walaupun ga mudah, insya allah kita bisa. Tetap semangat, ikuti aturan yang ada di tempatmu dan selalu jaga kebersihan ya kisanak (ketauan deh umurnya berapa wwkwk).

10 thoughts on “Sibuk Apa selama Pandemi?

  1. congrats atas kerjaan barunya! Corona bawa rejeki juga ya?

    Aku sibuk seperti biasa sih, kerja juga seperti biasa, bedanya waktu di lockdown, ya ngga bisa ngegym, ga bisa ngafe, udah dari bulan Juni kmaren untungnya dibuka lagi, jadi sekarang aktivitas seperti biasa, bedanya cuman lebih banyak peraturan ini itu demi mencegah penyebaran penyakit.

    Like

    1. Makasih mba, iyaaa ga nyangka bs dapet secepet ini, karna ini lamaran kerjaku yg pertama yg CV dan CL-nya pake bahasa Belanda 🀣

      Di sini baru aja ada perscon yg memberlakukan aturan baru, tiap household hanya boleh terima tamu maksimal 6 dewasa, kalo lebih silakan ke horeca alias makan di luar πŸ˜ƒ

      Like

  2. Hai Anis, klo di Jerman pandeminya sdh dari Desember 2019, Januri mulai rame, trus pertengahan maret barulah himbauan utk dirumah saja, pertengahan maret TK ditutup, 2 bocah dirumah aja bikin puyeng sih, lama2 terbiasa, ga terasa 3 bulan dirumah aja. Dulu belanja bikin saya senang sama anak2 juga oke aja senang berlama-lama di supermarket, sejak pandemi pengen belanja cepat2 aja, klo lagi maret itu bawaannya kuatir bangett klo papasn org atau ke supermarket, lama2 ya biasa aja jadinya, tp tetap ikut aturan dan ga takut berlebihan lagi πŸ˜† . Btw selmat ya sudah mulai bekerja, masa pandemi begini makin susah cari kerja, beruntung klo bisa dapat yg sesuai keinginan πŸ˜‰ .

    Like

    1. Hahaha sama Kak Nella, akupun kalo pas di supermarket pas papasan sama orang langsung balik badan ke arah berlawanan biar ga papasan🀣
      Terima kasih ya kak, puji Tuhan banget krn bisa dapet kesempatan kerja😊

      Like

  3. Mbak Anis, salam kenal. Ikutan komen di sini ya. Kalau tissue toilet itu diborong sampai habis untuk apa mbak? Soalnya lihat di berita TV , awal pandemi juga di USA pun terjadi hal yg sama (borong tissue toilet). Kalo di Indonesia yang diburu dan langka kan masker dan hand sanitizer (walau sekarang alhamdulilah sudah banyak lagi di pasaran)

    Like

    1. halo mbak Imelda, salam kenal jugaaa, makasih udah mampir dan follow yah πŸ™‚

      saya sendiri juga kurang paham kenapa mereka borong tisu toilet, tapi kayanya si lebih karna panik dan ikut-ikutan jadinya pada nimbun barang-barang kering yang bisa disimpan lama (kaya pasta juga sempet langka), plus mereka ga kenal “cebok” mba jadi pada pusing kalo abis BAB gada tisu wkwkwk

      Hand sanitizer dan masker di sini juga sempat langka mba, tapi untung sekarang semua udah normal lagi. Mudah-mudahan di sana juga semua stok udah kembali normal yaaa

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s